Sepasang Naga Penakluk Iblis Jilid 34

SETELAH tiba di lereng bukit berbatu itu, Siauw-bin Ciu-kwi berhenti, memberi isyarat kepada semua orang untuk duduk dan tidak boleh berkeliaran ke mana-mana. Dia sendiri mengeluarkan peta dan memeriksa dengan seksama, keningnya berkerut dan telunjuknya menunjuk ke sana-sini.

“Nio-cu, dan engkau Pek-liong, coba periksa mana di antara guha-guha itu yang dalamnya tertutup oleh batu-batu sebesar kepala orang,” katanya.

Tok-sim Nio-cu dan Pek-liong yang sejak tadi, seperti yang lain, memandang dengan penuh perhatian dan hati tegang, segera bangkit dan melakukan pemeriksaan. Para pekerja yang sudah siap itu, sebagian tidak mengerti pekerjaan apa yang harus mereka lakukan, dan mereka menanti dengan sabar. Yang penting bagi mereka bekerja dan mendapatkan upah besar.

Sebaliknya, mereka yang menjadi anak buah Yang-ce Ngo-kwi diam-diam merasa tegang. Mereka sudah diberitahu bahwa mereka menyamar sebagai tenaga pekerja dari dusun yang akan membongkar tempat harta karun, dan mereka harus mentaati isyarat yang diberikan oleh Po-yang Sam-liong.

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis jilid 34 karya kho ping hoo

Sebuah perahu kecil meluncur di tengah telaga. Yang berada di atas perahu itu adalah Kam Sun Ting dan Kam Cian Li. Kemarin dulu mereka berada di dalam perahu, di tepi telaga sambil meneliti kalau-kalau ada perahu penjahat berlayar. Pada saat mereka mulai gelisah karena tidak pernah mendengar berita dari Liong-li maupun Pek-liong, tiba-tiba saja ada seorang laki-laki muka buruk lewat dan laki-laki itu melemparkan sesuatu ke dalam perahu mereka. Ketika Sun Ting memungut benda itu, ternyata sebuah batu yang dibungkus surat.

“Lusa kalau ada rombongan lima puluh orang mengikuti Beng-cu dan kawan-kawannya, kalian bayangi dari jauh. Kemudian persiapkan perahu di tempat terdekat. Jangan sekali-sekali mendekati mereka. Berbahaya.”

Surat itu tanpa tanda tangan dan mereka berdua merasa heran sekali, tidak tahu siapa pemuda muka buruk totol-totol hitam yang mengirim surat itu, dan tidak tahu pula siapa penulis surat. Namun melihat nadanya, tentu penulis surat itu Liong-li. Ataukah Pek-liong? Siapapun juga penulis surat itu, jelas bukan pihak lawan. Bukankah mereka diperingatkan agar jangan mendekati Beng-cu dan rombongannya karena berbahaya?

“Kita ikuti saja petunjuk dalam surat ini,” kata Sun Ting kepada adiknya dan demikianlah, pada hari itu, pagi-pagi sekali mereka sudah siap siaga dengan perahu mereka. Mereka bersembunyi di balik pohon-pohon, di kaki Bukit Merak. Tak lama kemudian mereka melihat rombongan itu menuruni Bukit Merak. Kakak beradik ini merasa heran. Banyak sekali rombongan itu. Dan merekapun melihat Pek-liong berjalan di depan bersama Siauw-bin Ciu-kwi dan melihat Tok-sim Nio-cu berjalan di samping Pek-liong, Cian Li mengepal tangannya.

“Perempuan hina itu lagi...!”

“Sssttt... bukan waktunya untuk ribut dan cemburu, Li-moi. Mari kita bayangi dari jauh.”

Dengan hati-hati sekali mereka membayangi dari jauh dan tidak sukar membayangi rombongan orang sebanyak itu. Akhirnya, rombongan itu berhenti di bukit kecil dekat pantai dan kakak beradik inipun cepat mengambil perahu mereka dan kini mereka mendayung perahu hilir mudik sambil tetap melihat ke arah orang-orang yang berada di bukit kecil berbatu itu. Mereka merasa heran sekali. Mau apa para penjahat itu membawa banyak orang ke bukit berbatu-batu yang jarang dikunjungi orang itu?

Sementara itu, Tok-sim Nio-cu sudah menemukan guha yang penuh dengan batu-batu sebesar kepala orang, Dengan girang ia lalu melapor kepada Beng-cu yang segera mendekati guha itu, diikuti oleh para pembantunya. Juga Pek-liong yang mendengar seruan Tok-sim Nio-cu, cepat mendekat.

“Inilah tempatnya. Tidak salah lagi, ini tempatnya!” kata Siauw-bin Ciu-kwi berulang kali dengan mata berkilat-kilat dan wajah berseri.

Dia memeriksa kembali peta di tangannya, mulutnya berkemak-kemik, dan dia memandang ke empat penjuru, “Dari depan guha dapat dilihat puncak Bukit Merak di belakang guha, telaga di depan guha, padang rumput di kiri guha dan dinding batu di kanan guha. Tepat, inilah! Po-yang Sam-liong, kerahkan orang-orang itu untuk membongkar batu-batu dan mengeluarkannya dari dalam guha. Akan tetapi hati-hati, tidak perlu tergesa-gesa. Kalau sudah nampak sebuah batu panjang seukuran manusia berdiri menyangga langit-langit guha, berhenti dan lapor kepadaku!”

Po-yang Sam-liong lalu memberi aba-aba dan lima puluh orang itu mulai bekerja. Tentu saja tidak semua orang dapat memasuki guha yang lebarnya hanya kurang lebih tiga tombak itu. Mereka bekerja dengan berbaris keluar, dan batu-batu sebesar kepala orang itu diangkut keluar dari tangan ke tangan. Ternyata batu-batu itu banyak sekali dan setelah bekerja setengah hari lamanya, barulah batu-batu di mulut guha itu bersih dan mereka terus membongkar batu-batu yang berada di dalam guha.

Makin ke dalam, guha itu makin melebar dan agaknya dalam sekali, hanya tertutup oleh banyak sekali batu besar kecil. Menjelang sore, barulah nampak batu seperti yang dimaksudkan Beng-cu tadi, yaitu batu yang berukuran manusia berdiri dan batu itu seperti menyangga langit-langit guha karena mengganjal dan tidak dapat diambil. Segera Siauw-bin Ciu-kwi diberi laporan dan bersama para pembantunya, dia memasuki guha yang lebar itu.

“Bagus, tidak salah lagi. Akan tetapi ingat jangan ada yang mendorong batu ini. Biarkan saja batu ini berdiri di sini dan mulai besok pagi, kalian terus mengeluarkan batu-batu yang berada di dalam itu. Kalau bertemu batu yang tertanam dan melekat, harus dibongkar!”

Seperti juga siang tadi, para pekerja mendapat ransum makanan yang dipersiapkan oleh para pelayan wanita dan belasan orang anak buah Beng-cu. Setelah makan malam, mereka semua diperbolehkan mengaso dan malam itu mereka tidur di dalam tenda-tenda yang dipasang di sekitar guha yang dibongkar. Penjagaan dilakukan dengan ketat.

Siang tadi, ada orang yang tertarik melihat demikian banyaknya orang membongkar batu di situ, akan tetapi setelah melihat bahwa di situ ada Po-yang Sam-liong yang menghardik, orang-orang yang hendak menonton lari ketakutan dan tidak ada lagi orang berani mendekati bukit kecil itu.

Malam itu, biarpun mereka semua harus tidur di tempat yang demikian sederhana dan seadanya, tetap saja tidak dilewatkan dengan sia-sia oleh Tok-sim Nio-cu. Ia memilih seorang pekerja yang cukup tampan dan berkulit bersih, dan dibawanya pemuda itu ke balik sebuah batu besar di mana ia mendirikan sebuah tenda kecil, bertilamkan rumput kering yang dikumpulkannya.

Pemuda dusun itu ternyata tidak kelihatan bodoh seperti yang lain, dan dengan gembira dia melayani wanita cantik yang penuh gairah itu. Akan tetapi, menghadapi seorang wanita selihai Tok-sim Nio-cu, sebentar saja pemuda itu jatuh ke dalam rayuannya dan menjadi lunak seperti lilin, menurut apa saja yang dikehendaki Tok-sim Nio-cu dan menjadi permainannya.

Pemuda yang kurang pengalaman itu merasa yakin bahwa wanita itu benar-benar mencintanya, maka diapun tidak lagi dapat menyimpan rahasia! Apa lagi ketika dengan suara manja, Tok-sim Nio-cu menyatakan cintanya, bahwa ia tidak lagi dapat berpisah dari pemuda itu, bahwa ia akan suka men jadi isterinya, pemuda itu mabok kepayang!

“Nio-cu, kekasihku, dengar baik-baik. Kalau engkau benar mencintaiku seperti aku cinta padamu, kita dapat menjadi suami isteri, bahkan kita dapat hidup bersama dalam keadaan yang kaya raya. Akan tetapi, engkau harus bersiap-siap dan begitu selesai pekerjaan ini, engkau harus lebih dulu melarikan diri dan bersembunyi...”

“Eh, apa maksudmu?” tanya Tok-sim Nio-cu sambil memperkuat rangkulannya.

“Kami akan merampas harta karun itu. Tentu akan terjadi pertempuran besar maka sebaiknya engkau menyingkir. Setelah nanti selesai dan aku mendapatkan bagianku, kita dapat menikah dan hidup senang!”

“Ih, apa sih yang kau maksudkan? Ceritakan dulu yang jelas agar aku dapat mentaati pesanmu. Aku harus tahu keadaannya agar tidak kebingungan...” Dengan pandainya Tok-sim Nio-cu mempergunakan kepandaiannya untuk membelai dan merayu sehingga pemuda itu makin menjadi lupa daratan!

Maka, diceritakanlah semua rencana yang diatur oleh Po-yang Sam-liong dan Yang-ce Ngo-kwi. Dia mengaku bahwa dia bersama dua puluh empat orang anggauta atau anak buah Yang-ce Ngo-kwi menyelundup bersama para pekerja dari dusun, dan betapa Yang-ce Ngo-kwi dengan banyak anak buahnya juga sudah siap dan mengepung tempat itu. Kalau sudah tiba saatnya, mereka semua akan bangkit dan menyerang rombongan Siauw-bin Ciu-kwi, dan merampas harta karun.

Mendengar cerita ini, tentu saja Tok-sim Nio-cu terkejut setengah mati. Akan tetapi, ia tidak memperlihatkan kekagetannya. Menurutkan hatinya, ingin sekali pukul ia membunuh pemuda pengkhianat ini. Akan tetapi ia terlampau cerdik untuk melakukan hal itu. Bahkan ia memperhebat permainan cintanya yang membuat pemuda itu semakin mabok dan keluarlah semua rahasia dari mulutnya, betapa Po-yang Sam-liong yang hendak berkhianat itu yang menghubungi Yang-ce Ngo-kwi. Dengan cerdiknya Tok-sim Nio-cu bersumpah bahwa ia mencinta pemuda itu, dan memesan agar jangan sampai “rahasia” mereka yang akan menikah itu diketahui orang lain.

“Aku akan menanti sampai tiba saat itu. Kalau sekutumu sudah berhasil merampas harta karun dan terjadi pertempuran, aku akan lari menyembunyikan diri, menanti sampai engkau keluar sebagai pemenang, lalu kita kawin dan hidup berbahagia,” katanya pada keesokan harinya ketika pagi-pagi ia melepas pemuda itu meninggalkan tendanya.

Tentu saja Tok-sim Nio-cu cepat pergi menemui Siauw-bin Ciu-kwi di dalam tendanya. Sepagi itu Siauw-bin Ciu-kwi sudah minum arak sampai mukanya menjadi merah sekali. Hal ini menunjukkan bahwa hatinya gembira bukan main. Dia telah membayangkan hasil pembongkaran guha itu, membayangkan harta karun yang dijanjikan oleh peta itu.

Harta karun yang menjadi simpanan Raja Cin-si Huang Ti, raja dari Dinasti Cin, delapanratus tahun lebih yang lalu! Dia membayangkan bahwa dia akan menjadi seorang yang memiliki kekayaan berlimpah dan dengan kekayaan itu dia akan mampu membeli kedudukan raja muda sekalipun! Ketika Tok-sim Nio-cu menceritakan rahasia yang dibocorkan oleh pemuda yang dijadikan teman tidurnya semalam, Siauw-bin Ciu-kwi terbelalak.

“Brakkk!” Guci arak itu dicengkeram dan hancur lebur! “Jahanam busuk Po-yang Sam-liong!” bentaknya marah.

“Kuhancurkan kepala mereka seperti guci ini...!”

“Beng-cu, sabarlah. Jangan menuruti hati yang marah. Kalau kau lakukan itu, tentu timbul pemberontakan sekarang. Hal itu memang tidak mengapa karena kita akan mampu membasmi mereka. Akan tetapi pekerjaanmu menjadi terbengkalai dan tertunda. Sebaiknya kita pura-pura tidak tahu dan membiarkan mereka bekerja sampai harta karun itu didapatkan, baru kita mendahului mereka turun tangan.”

Siauw-bin Cu-kwi memandang kepada wanita itu dengan sinar mata mencorong, lalu tiba-tiba dia tertawa. Lengannya dijulurkan dan biarpun Tok-sim Nio-cu duduk agak jauh, namun lengan kanannya itu dapat mulur dan tahu-tahu tangan itu telah memegang lengan Tok-sim Nio-cu dan sekali tarik, tubuh wanita itu telah terjatuh ke atas pangkuannya. Diam-diam Tok-sim Nio-cu terkejut dan kagum. Bukan main beng-cu ini, memiliki ilmu yang amat tinggi.

“Engkau memang manis dan pantas menjadi pembantu utamaku, engkau pandai dan cerdik!” kata Siauw-bin Ciu-kwi sambil mencium pipi Tok-sim Nio-cu yang tertawa genit.

“Ih, Beng-cu. Apakah engkau telah minum terlalu banyak?” katanya dengan manja.

Akan tetapi kedua lengan beng-cu itu memeluknya dengan sikap menyayang. “Engkau memang manis, dan kegilaanmu terhadap laki-laki sekali ini ada gunanya. Untung engkau dapat membongkar rahasia itu, Nio-cu. Dan usulmu tadi memang baik sekali. Kita pergunakan mereka, pura-pura tidak tahu, dan pada saat terakhir, aku akan membasmi mereka! Ya, aku tahu bagaimana aku akan membasmi mereka, mengubur mereka hidup-hidup!” Dia tertawa bergelak dan kembali menciumi Tok-sim Nio-cu untuk memperlihatkan kegirangan dan terima kasihnya.

Pekerjaan menggali batu-batu itu dilanjutkan dan ternyata guha itu dalam sekali, merupakan terowongan yang makin ke dalam menjadi semakin lebar! Sehari itu mereka bekerja keras, namun masih tetap saja belum sampai di bagian terakhir, dan masih ada saja sisa batu-batu besar yang harus dikeluarkan dari dalam guha itu. Baru pada hari ketiga, batu-batu habis dikeluarkan dan Siauw-bin Ciu-kwi sendiri memasuki guha itu, diikuti semua pembantunya termasuk Po-yang Sam-liong.

Sesuai dengan petunjuk dalam peta, beng-cu itu memeriksa keadaan bagian guha yang paling dalam. Dia lalu memerintahkan agar semua pekerja menanti di luar guha dan dia hanya bersama para pembantunya.

Diam-diam Pek-liong memperhatikan para pekerja selama tiga hari itu dan diapun akhirnya atas bantuan Liong-li yang memberi isyarat, tahu bahwa pemuda muka totol-totol hitam hitam buruk itulah Liong-li! Hatinya menjadi besar, apa lagi ketika Liong-li, dengan isyarat, memberitahu bahwa pedang mereka disembunyikan di bawah tumpukan batu di dasar guha, sebelah kiri, dia merasa tenang.

Siauw-bin Ciu-kwi yang berdiri di tengah ruangan terakhir itu, lalu melangkah ke kiri dan menghitung langkahnya. Kemudian, dia berhenti dan berjongkok, meraba-raba dengan jari tangannya. “Po-yang Sam-liong, kalian ambil linggis itu dan coba kalian bertiga gali lantai ini!”

Tiba-tiba dia berkata kepada tiga orang pembantunya itu. Seperti para pembantu yang lain, pada saat itu hati tiga orang ini merasa tegang dan mendengar perintah itu, dengan senang hati mereka segera mengambil linggis dan mulai menggali lantai yang berbatu-batu.

Begitu linggis menggempur batu, semua orang sudah memandang dengan hati tegang karena jelas terdengar bahwa lantai itu bawahnya ada ruangannya. Batu yang terpukul linggis itu berbunyi nyaring. Penggalian dilanjutkan dan tak lama kemudian, setelah beberapa buah batu dibongkar, nanpaklah sebuah peti hitam! Semua orang mengeluarkan seruan girang, dan kini semua orang membantu pembongkaran batu.

Ternyata di bawah batu terdapat lubang yang cukup lebar dan di situ terdapat sebuah peti hitam yang besarnya ada satu meter persegi. Peti hitam segera diangkat naik, dan Siauw-bin Ciu-kwi menggunakan linggis untuk mencokel penutup peti yang berkarat. Terdengar bunyi berkeratak dan tutup itupun terbuka. Kembali semua orang mengeluarkan seruan kagum.

Begitu tutup dibuka, semua mata seperti menjadi silau oleh barang-barang yang berada di dalam peti itu. Emas permata yang amat indah, berkilauan dan batu-batu permata itu seperti hidup berkedip-kedip. Akan tetapi Siauw-bin Ciu-kwi segera menutupkan peti itu.

“Harap kalian tenang. Peti ini baru yang kecil. Ada sebuah lagi yang lebih besar dan isinya lebih banyak menurut petunjuk peta. Tempatnya di balik dinding sebelah kanan. Dinding itu harus dibongkar. Menurut petunjuk peta, batu-batu dinding yang harus dibongkar setebal dua meter. Harus mengerahkan tenaga mereka yang di luar. Po-yang Sam-liong, kalian kuserahi tugas untuk memimpin para pekerja membongkar dinding itu sampai peti besar itu terdapat. Aku menanti di luar.” Berkata demikian, Siauw-bin Ciu-kwi memberi isyarat kepada para pembantu lainnya untuk mengangkat peti hitam itu keluar.

Lim-kwi Sai-kong yang bertenaga besar lalu mengangkat peti hitam itu, dinaikkan ke atas pundaknya dan diapun melangkah keluar diikuti oleh Siauw-bin Ciu-kwi dan para pembantunya. Juga Po-yang Sam-liong melangkah keluar paling akhir dan mereka sempat saling berbisik bahwa sebaiknya mereka menanti sampai “peti besar” itu dapat dikeluarkan, baru mereka akan turun tangan dan memberi isyarat kepada Yang-ce Ngo-kwi yang bersembunyi di luar bersama anak buah mereka.

Setelah Lim-kwi Sai-kong tiba di luar guha, para pekerja yang sejak tadi menanti dengan hati tegang, bersorak sorai penuh kegembiraan melihat peti hitam yang dipanggul keluar itu. Tentu saja mereka bersorak gembira karena pekerjaan mereka berhasil baik dan mereka tinggal menanti upah dan hadiah. Akan tetapi, Po-yang Sam-liong melangkah maju dan mereka mengangkat tangan menyuruh para pekerja tenang, kemudian terdengar suara Poa Seng. Dia sengaja berteriak lantang karena dia bermaksud agar suaranya dapat pula didengar oleh Yang-ce Ngo-kwi.

“Saudara sekalian, dengar baik-baik! Pekerjaan kita belum selesai! Memang sudah ditemukan sebuah peti, akan tetapi itu hanya peti kecil, dan masih harus ditemukan lagi sebuah peti yang jauh lebih besar. Untuk itu, kita harus membongkar dinding guha yang dua meter tebalnya. Oleh karena itu, marilah kita masuk kembali ke dalam guha dan kita kerahkan tenaga untuk membongkar dinding itu agar pada hari ini juga kita akan dapat menemukan peti besar itu. Setelah ditemukan peti besar itu, barulah pekerjaan selesai dan saudara sekalian akan diberi upah dan hadiah secukupnya!”

Mendengar teriakan ini, semua pekerja bersorak gembira dan merekapun berbondong- bondong mengikuti Po-yang Sam-liong memasuki guha. Diam-diam Pek-liong memperhatikan dan dia tidak melihat pemuda bermuka totol-totol hitam. Hemm, Liong-li tidak ikut masuk, pikirnya. Tentu ada alasannya yang kuat dan dia semakin waspada.

“Jaga peti ini baik-baik,” kata Siauw-bin Ciu-kwi kepada lima orang pembantunya.

Lima orang itu merasa heran karena seolah-olah beng-cu itu mengkhawatirkan peti harta karun itu, akan tetapi mereka tidak bertanya dan dengan senjata siap di tangan, mereka berlima mendekati peti hitam. Pek-liong juga berdiri dekat peti sambil memegang sebatang pedang yang dia dapat dari beng-cu. Pedang yang cukup baik walaupun bukan senjata pusaka ampuh seperti Pek-liong-kiam.

Setelah melihat lima orang pembantunya itu berdiri mengelilingi peti harta karun, Siauw-bin Ciu-kwi lalu memasuki mulut guha. Di depan guha, dia mengangkat sebuah batu yang besar sekali, sebesar perut kerbau. Batu itu tentu berat bukan main, namun dengan tenaganya yang hebat datuk sesat itu mengangkat batu itu ke atas kepalanya, kemudian melemparkan batu ke arah batu seukuran orang yang berdiri menyangga langit-langit guha di mulut guha sebelah dalam.

“Darrrr...!” Batu seukuran manusia itu pecah berantakan ketika dihantam batu besar yang dilontarkan Siauw-bin Ciu-kwi dan ledakan nyaring itu diikuti suara gemuruh. Kiranya langit-langit yang tadi disangga oleh batu seukuran manusia itu runtuh dan batu-batu besar jatuh dari atas, kemudian menggelinding masuk ke terowongan guha karena memang terowongan itu menurun.

Ratusan batu besar menggelundung masuk dan segera suara gemuruh itu diikuti suara teriakan-teriakan mengerikan dari mereka yang berada di sebelah dalam terowongan guha karena mereka itu tiba-tiba diserang oleh ratusan batu-batu besar yang menggelinding dari luar!

Tok-sim Nio-cu tersenyum dan diam-diam ia kagum bukan main. Kiranya itu yang dimaksudkan beng-cu untuk membasmi Po-yang Sam-liong dan anak buahnya yang hendak berkhianat! Mereka itu dikubur hidup-hidup dalam himpitan batu-batu besar! Dan iapun tahu bahwa pemberitahuan tentang peti besar tadi hanya suatu siasat belaka agar memancing Po-yang Sam-liong dan semua pekerja ke dalam terowongan untuk dikubur hidup-hidup!

Pek-liong terkejut sekali melihat peristiwa itu. Dia belum dapat menduga akan adanya pengkhianatan yang dilakukan Po-yang Sam-liong, maka tentu saja dia merasa heran. Mengapa beng-cu melakukan itu? Tidak mungkin karena merasa sayang atau karena kikir membayar lima puluh orang itu. Apa lagi di dalam terdapat pula Po-yang Sam-liong, tiga orang pembantunya.

Apakah beng-cu sengaja membunuh mereka dan akan membunuh semua pembantunya untuk dapat memiliki sendiri harta karun dalam peti itu? Harta karun itu amat besar jumlahnya, tak mungkin dapat dinilai berapa besarnya. Apakah harta karun itu membuat beng-cu menjadi tamak? Para pembantu lainnya juga merasa terheran-heran, kecuali Tok-sim Nio-cu, Siauw-bin Ciu-kwi tertawa bergelak lalu berkata,

“Ha-ha-ha, kalian ketahuilah bahwa Po-yang Sam-liong berkhianat dan bersama anak buah yang diselundupkan di antara para pekerja, mereka hendak merampas harta karun ini, Ha-ha-ha, mereka terbasmi habis di dalam guha yang sudah kosong ini!”

Pada saat itu, terdengar sorak-sorai dan puluhan orang dari berbagai penjuru datang berlari-lari ke tempat itu dengan sikap mengancam, dan dengan senjata di tangan. Mereka itu adalah Yang-ce Ngo-kwi dan kurang lebih limapuluh orang anak buah pilihan mereka. Mereka tadi masih menanti tanda dari Po-yang Sam-liong. Ketika mendengar suara gemuruh dan tahu bahwa Po-yang Sam-liong dan anak buah mereka itu terjebak di dalam terowongan guha, Yang-ce Ngo-kwi yang sejak tadi sudah berliur melihat peti hitam itu, segera mengajak anak buah mereka menyerbu!

“Nah, itu sekutu Po-yang Sam-liong datang menyerbu. Mereka adalah Yang-ce Ngo-kwi dan anak buah mereka!” kata Tok-sim Nio-cu.

“Hemm, kalian semua basmi mereka. Aku akan menjaga peti ini. Habiskan anjing-anjing itu!” bentak Siauw-bin Ciu-kwi dan dia sendiri duduk di atas peti dengan sikap tenang.

Pek-liong, Tok-sim Nio-cu, Lim-kwi Sai-kong, Pek I Kongcu, dan Hek-giam-ong dengan senjata di tangan lalu menyambut para penyerbu. Lima orang Yang-ce Ngo-kwi memecah pasukan menjadi lima bagian dan masing-masing memimpin sepuluh orang mengeroyok seorang pembantu Siauw-bin Ciu-kwi. Terjadilah pertempuran yang mati-matian.

Pek-liong diserang oleh Coa Kun, orang pertama dari Yang-ce Ngo-kwi yang dibantu sepuluh orang anak buahnya. Coa Kun yang tinggi kurus itu memegang sebatang golok yang lebar dan tipis, gerakan goloknya cepat bukan main sehingga yang nampak hanya sinar putih bergulung-gulung ketika Pek-liong menggunakan kegesitan tubuhnya untuk mengelak dengan berloncatan.

Namun, gulungan sinar golok itu mengejar terus dan terdengar suara berdesing-desing. Dan pada saat itu, sepuluh orang anak buah Coa Kun juga sudah mengeroyok bagaikan serombongan semut, mempergunakan senjata mereka yang bermacam-macam dan ternyata mereka itupun semua memiliki ilmu silat yang lumayan.

Pek-liong menjadi agak ragu karena dia tidak mengenal siapa mereka dan apa sebenarnya maksud mereka menyerang Siauw-bin Ciu-kwi dan para pembantunya. Dia sendiri hanya merupakan pembantu pura-pura saja dari beng-cu itu, bukan seorang yang benar-benar membelanya, bahkan dia siap menentang Siauw-bin Ciu-kwi, seorang datuk besar kaum sesat, seorang di antara Kiu Lo-mo yang terkenal amat jahat. Maka, menghadapi pengeroyokan sebelas orang itu, dia lebih banyak mengelak dan menangkis, dan belum pernah membalas. Oleh karena itu, maka dia nampak terdesak oleh pengeroyokan mereka.

Pada saat itu, nampak bayangan orang berkelebat dan pemuda yang mukanya totol-totol telah menerjang memasuki medan pertempuran, dan begitu ia melompat masuk, dua kali tubuhnya bergerak dan dua orang pengeroyok Pek-liong roboh terpelanting. Orang itu bukan lain adalah Hek-liong-li dan ia segera melemparkan sebatang pedang kepada Pek-liong sambil berkata cepat.

“Mereka ini Yang-ce Ngo-kwi dan anak buah mereka yang membantu pengkhianatan Po-yang Sam-liong. Kita basmi mereka dulu, baru nanti menghadapi beng-cu dan kaki tangannya!”

Ucapan ini cukup bagi Pek-liong untuk mengusir keraguan hatinya. Kini dia tahu bahwa apa yang dikatakan Beng-cu tadi memang benar. Po-yang Sam-liong rupanya mempergunakan kesempatan ketika mengumpulkan pekerja itu, untuk mengadakan persekutuan dengan Yang-ce Ngo-kwi untuk melakukan pengkhianatan dan mencoba untuk merampas harta karun!

Kalau Liong-li sampai dapat mengetahui rahasia mereka, sudah tentu Beng-cu, dengan satu dan lain cara, dapat pula mengetahui rahasia itu maka Beng-cu telah menghadapi pemberontakan itu dengan caranya yang amat kejam, yaitu membasmi anak buah itu bersama Po-yang Sam-liong di dalam guha!

Setelah kini merasa yakin bahwa yang dihadapinya adalah para penjahat yang mencoba untuk merampas harta karun, Pek-liong yang kini sudah memegang pedangnya sendiri, lalu memutar pedangnya dengan cepat. Nampak di situ kini dua sinar yang bergulung-gulung dahsyat, sinar putih dan sinar hitam dari pedang pusaka Pek-liong-kiam di tangan Pek-liong dan pedang pusaka Hek-liong-kiam di tangan Liong-li!

Dan dalam waktu beberapa menit saja, Coa Kun yang sedang menyerang Pek-liong dengan sabetan goloknya, telah roboh ketika Pek-liong menangkis dengan Pek-liong-kiam. Golok itu patah menjadi dua dan sinar Pek-liong-kiam masih terus menyambar ke depan setelah menangkis.

Coa Kun yang terkejut melihat goloknya patah, tidak sempat lagi mengelak dan pedang Pek-liong-kiam hampir saja membabat lehernya menjadi buntung. Dia roboh dengan luka hebat di lehernya, dan tewas tak lama kemudian. Sepuluh orang anak buahnya juga roboh malang melintang diamuk oleh pemuda yang mukanya totol-totol hitam dan Pek-liong. Setelah semua pengeroyoknya roboh, Pek-liong dan Liong-li lalu mengamuk, membantu para pembantu Siauw-bin Ciu-kwi yang lain.

Para pembantu itu sebetulnya tanpa dibantu oleh Pek-liong dan Liong-li sekalipun tidak akan kalah menghadapi pengeroyokan seorang di antara Yang-ce Ngo-kwi dan sepuluh orang anak buahnya. Para pembantu itu rata-rata memiliki kepandaian yang tinggi, lebih tinggi dari pada kepandaian Yang-ce Ngo-kwi. Maka, begitu Pek-liong dan Liong-li membantu, sebentar saja kelima orang Yang-ce Ngo-kwi roboh tewas dan lima puluh orang anak buah mereka itu, sebagian besar roboh tewas atau terluka sedangkan sisanya melarikan diri cerai berai ketakutan!

Melihat betapa semua musuh sudah roboh atau melarikan diri, Siauw-bin Ciu-kwi tertawa bergelak dengan gembira. Diapun melihat sepak terjang pemuda muka totol-totol itu yang membantu anak buahnya, maka diapun berkata kepada mereka.

“Bagus sekali! Mari kita cepat menyingkir dari sini karena tentu akan menarik perhatian banyak orang. Kita pergi dengan perahu agar lebih cepat dan engkaupun ikutlah, orang muda. Engkau telah membantu kami dan aku akan memberimu hadiah secukupnya!”

Akan tetapi, sebelum ada yang menjawab, tiba-tiba pemuda yang mukanya totol-totol dan yang di punggungnya tergantung sebatang pedang itu telah meloncat ke depan Siauw-bin Ciu-kwi dan terdengar bentakannya nyaring.

“Siauw-bin Ciu-kwi, sudah terlalu lama aku menanti saat ini. Serahkan harta karun itu kepadaku!”

Tentu saja semua orang menjadi kaget dan memandang pemuda itu dengan penuh perhatian. Demikian hebat penyamaran Liong-li sehingga tidak ada petunjuk sedikitpun bahwa pemuda itu adalah Liong-li. Bahkan suaranya pun berbeda! Kalau para pembantu Beng-cu, kecuali Pek-liong, memandang heran. Siauw-bin Ciu-kwi sendiri mengerutkan alisnya dan dia membentak marah.

“Eh, bocah buruk, sudah gilakah engkau? Siapakah engkau berani berkata demikian kepadaku?”

Pemuda itu menggunakan tangan kiri untuk mengusap mukanya. Semacam kulit tipis sekali terkelupas dan begitu tangannya turun, maka kini nampaklah wajah yang amat elok, dengan kulit muka halus, putih kemerahan, dan ketika ia tersenyum, nampak dua lekuk lesung pipit di kanan kiri mulutnya.

“Hek-liong-li...!” Siauw-bin Ciu-kwi berseru kaget bukan main, juga para pembantunya terkejut karena mereka semua telah melihat betapa Liong-li terkena sambitan pedang dan terjatuh ke dalam air telaga, tidak nampak muncul kembali.

Tiba-tiba Pek-liong bergerak meloncat ke dekat Liong-li dan diapun tersenyum. “Siauw-bin Ciu-kwi, sudah terlalu lama kami menanti dan terlalu banyak kami berkorban. Serahkan harta karun itu kepada kami, baru kami akan mempertimbangkan apakah engkau dapat diperbolehkan hidup atau tidak!”

Kemarahan Siauw-bin Ciu-kwi memuncak. Baru sekarang dia tahu bahwa semua sikap Pek-liong selama ini adalah suatu permainan sandiwara saja! Dan kedua orang musuh besar ini, yang sudah membunuh seorang rekannya yaitu Hek-sim Lo-mo, ternyata menunggu sampai dia mendapatkan harta karun, baru turun tangan hendak membunuhnya dan merampas harta karun!

“Keparat!” dia memaki. “Kau kira kami tidak berani melawan kalian? Tok-sim Nio-cu, Lim-kwi Sai-kong, Pek I Kongcu, dan Hek-giam-ong, sekaranglah saatnya untuk melihat apakah kalian ini benar-benar setia kepadaku atau tidak, apakah kalian pantas menerima masing-masing sepersepuluh bagian harta karun ini atau tidak, dan untuk melihat apakah kalian berempat memiliki kegagahan untuk membunuh dua orang muda yang sombong ini. Kepung dan bunuh mereka!”

Empat orang pembantu utama Siauw-bin Ciu-kwi itu mengepung Pek-liong dan Liong-li yang sambil tersenyum tenang berdiri saling membelakangi. Mereka berdua nampak tenang sekali, namun seluruh urat syaraf dan otot dalam tubuh mereka tegang dan siap siaga karena mereka maklum bahwa mereka menghadapi orang-orang yang lihai. Pedang pusaka masing-masing masih tergantung di punggung, belum mereka cabut.

Empat orang pembantu utama itupun merasa tegang. Mereka sudah merasakan kelihaian Pek-liong, dan mereka sudah mendengar bahwa ilmu kepandaian Hek-liong-li juga amat tinggi, tidak kalah oleh Pek-liong. Namun, mereka tidak merasa gentar karena mereka akan maju berempat, bahkan di situ masih ada Siauw-bin Ciu-kwi yang mereka percaya akan mampu menandingi dua orang muda yang perkasa itu.

“Singgg... Wuuuttt...!”

Tok-sim Nio-cu Lui Cin Si sudah mencabut pedang dan kipasnya yang tadi sudah disimpannya. Wanita cantik berusia tiga puluh tahun lebih yang tubuhnya masih padat dan dengan lekuk lengkung menggairahkan ini memasang kuda-kuda, tangan kanan yang memegang pedang diangkat di atas kepala, pedangnya melintang ke kiri, tangan kiri yang memegang kipas berada di depan dada dengan kipasnya berkembang, kedua kaki ditekuk lututnya dan pinggulnya yang besar bulat itu menonjol ke belakang. Matanya yang jeli dan penuh daya pikat itu kini nampak berkilat penuh kemarahan dan mulutnya yang biasanya membayangkan nafsu penuh kegenitan yang menantang itu kini merapat dan mengeras.

Dalam keadaan seperti itu, Tok-sim Nio-cu berbahaya sekali. Ia marah dan sakit hati, bukan saja karena melihat Pek-liong berkhianat dan hendak merampas harta karun, akan tetapi iapun teringat bahwa cintanya ditolak Pek-liong, hal yang amat menyakitkan hati karena belum pernah ada pria menolak rayuan mautnya. Rasa suka dan cintanya kepada Pek-liong kini berubah menjadi kebencian besar dan hanya kematian Pek-liong di ujung pedang dan kipasnya sajalah yang akan memuaskan hatinya pada saat itu!

Lim-kwi Sai-kong juga merasa penasaran. Kakek tinggi besar seperti raksasa yang bermuka singa ini memandang dengan mata melotot lebar dan wajahnya yang ditumbuhi cambang bauk sehingga mirip muka singa itu membayangkan kemarahan yang buas. Tadipun dia mengamuk seperti seekor singa buas dan sepasang senjatanya masih berada di kedua tangannya. Sebatang golok besar yang masih berlepotan darah di tangan kanan dan sebatang rantai baja di tangan kiri.

Baju yang berlengan pendek berwarna hitam itu memperlihatkan dua buah lengan yang memiliki otot yang besar dan melingkar-lingkar, menunjukkan bahwa kakek ini memiliki tenaga yang amat kuat. Dan memang demikianlah, Lim-kwi Sai-kong terkenal sebagai seorang yang memiliki tenaga otot yang amat besar, dan juga memiliki ilmu mengaum seperti singa yang mengandung getaran dahsyat dapat melumpuhkan lawan, ilmu yang disebut Sai-cu Ho-kang (Tenaga Auman Singa), di samping pandai memainkan golok dan rantai yang merupakan kombinasi senjata yang amat berbahaya bagi lawan.

Pembantu ketiga adalah Pek I Kongcu Ciong Koan, pria berusia tiga puluh lima tahun yang tampan dan pesolek itu. Pakaiannya serba putih namun terbuat dari sutera halus dan mahal, dengan hiasan renda berkembang di tepinya. Sebatang pedang telah berada di tangan kanannya. Sikapnya tenang dan dia bahkan tersenyum-senyum, namun pandang matanya berkilat, tanda bahwa dia juga marah. Bekas murid Kun-lun-pai yang menyeleweng ini dan yang terkenal sebagai seorang penjahat cabul, sudah siap pula untuk merobohkan dan membunuh Pek-liong dan Hek-liong-li dan dia percaya bahwa dengan bekerja sama, mereka berempat akan mampu mengalahkan dua orang muda yang hendak merampas harta karun itu. Apa lagi di situ terdapat Beng-cu yang dia tahu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi.

Orang keempat yang menjadi pembantu Siauw-bin Ciu-kwi juga telah siap siaga. Dia adalah Hek-giam-ong Lok Hun. Pria berusia empat puluh lima yang bertubuh tinggi kurus dengan kulit muka dan lengan tangan menghitam ini memiliki wajah yang mengerikan. Wajah yang seperti topeng. Bukan hanya karena kulitnya hitam, akan tetapi wajah itu seperti wajah mati, dingin dan membayangkan kekejaman luar biasa. Memang Hek-giam-ong ini sesuai dengan julukannya, adalah seorang algojo yang selalu menerima tugas untuk menyiksa atau membunuh orang sesuai dengan perintah Siauw-bin Ciu-kwi. Hek-giam-ong Lok Hun sudah mengamang-amangkan senjatanya yang dahsyat, yaitu sebatang ruyung besar yang berat.

Melihat betapa empat orang itu telah mengepung mereka, Pek-liong dan Liong-li juga bersiap. Mereka berdiri saling membelakangi, posisi yang terbaik untuk menghadapi pengeroyokan sehingga tidak akan ada lawan yang dapat membokong dari belakang. Dengan kedudukan seperti itu, mereka dapat saling melindungi.

Apa lagi di antara kedua orang jagoan ini memang sudah terdapat saling pengertian yang luar biasa, seolah-olah ada kontak batin yang demikian kuatnya sehingga mereka seperti dapat membaca pikiran masing-masing dan dapat saling menduga dengan tepat segala gerakan mereka. Memang terdapat hubungan yang amat erat di antara kedua orang ini, maka, begitu mereka berdiri saling membelakangi, mereka demikian tenang dan saling percaya, seolah-olah mereka merupakan dua badan satu hati dan satu pikiran.

Tok-sim Nio-cu Lui Cin Si bersama Pek I Kongcu Ciong Koan menghadapi Pek-liong, sedangkan Lim-kwi Sai-kong dan Hek-giam-ong Lok Hun menghadapi Hek-liong-li. Dua orang pendekar itu telah siap siaga dan mereka sudah mencabut pedang mereka. Pek-liong-eng Tan Cin Hay nampak tenang sekali, dengan wajahnya yang tampan, tubuh sedang, pakaian serba putih. Wajahnya nampak jantan dengan dagunya yang berlekuk di tengah-tengah dan di tangan kanannya nampak sebatang pedang yang bersinar putih seperti perak.

Adapun Hek-liong-li Lie Kim Cu, dengan wajahnya yang bulat telur, dagu meruncing manis, mulutnya yang kecil itu berbibir merah basah dengan lesung pipi yang menambah kejelitaannya, tahi lalat kecil di bawah mata kiri juga menjadi pemanis. Ia tenang dan tersenyum manis. Rambutnya digelung ke atas dan dihias tusuk konde perak berbentuk naga kecil di atas setangkai bunga teratai. Seperti Pek-liong, ia juga sudah siap dengan pedang pusaka Hek-liong-kiam di tangan kanan.

Tok-sim Nio-cu yang memimpin pengeroyokan itu mengeluarkan teriakan melengking nyaring sebagai tanda dimulainya penyerangan, dan suara yang melengking ini segera disusul suara mengaum yang menggetarkan jantung keluar dari mulut Lim-kwi Sai-kong! Kalau, orang lain yang menghadapi lengkingan suara Tok-sim Nio-cu dan auman suara Lim-kwi Sai-kong, tentu akan merasakan jantung mereka terguncang hebat yang dapat membuat semangat melayang atau mendatangkan perasaan takut dan gentar.

Lengkingan dan auman itu sudah merupakan serangan yang mempergunakan tenaga khi-kang amat kuat. Namun, Pek-liong dan Liong-li menghadapi suara itu sambil tersenyum saja. Diam-diam mereka telah mengerahkan tenaga sakti untuk melindungi diri mereka sehingga suara itu lewat tanpa bekas dan tidak mempengaruhi mereka sama sekali.

“Haiiittt...!” Tiba-tiba Tok-sim Nio-cu sudah menggerakkan pedang dan kipasnya, pedangnya menusuk ke arah dada sedangkan kipasnya dikebutkan ke arah muka Pek-liong.

Pemuda ini dengan tenangnya mengelak ke kanan dan dia disambut bacokan pedang di tangan Pek I Kongcu. Bacokan pedang amat cepat datangnya, menyambar bagaikan kilat saja! Pek-liong menggerakkan Pek-liong-kiam menyambut. Akan tetapi, agaknya Pek I Kongcu sudah pernah mendengar akan keampuhan Pek-liong-kiam, maka sebelum pedangnya tertangkis, dia sudah menahan bacokannya, dan mengubah pedangnya yang kini menusuk perut!

Sungguh cepat dan tidak terduga sama sekali gerakan pemuda bekas murid Kun-lun-pai ini, maka Pek-liong cepat meloncat kembali ke kiri. Mulailah pertandingan yang amat seru antara Pek-liong yang dikeroyok dua orang lawan tangguh itu...

Thanks for reading Sepasang Naga Penakluk Iblis Jilid 34 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »