Sepasang Naga Penakluk Iblis Jilid 25

KAKEK itu menghela napas, hidungnya kembang kempis dan diapun duduk di atas batu dekat Liong-eng, menikmati kehangatan api unggun yang mengusir nyamuk dan hawa dingin.

“Sejak pagi tadi pinto (aku) belum makan apapun. Perut ini terasa lapar dan tiba-tiba saja hidung ini mencium bau sedap ikan dipanggang sehingga perutku terasa semakin lapar dan tersiksa. Karena engkau yang membakar ikan, bukankah berarti engkau telah menggoda pinto dan menyiksa perut pinto? Alangkah besar dosamu, orang muda, kalau engkau tidak menebusnya dengan mengajak pinto makan malam.”

Hampir Liong-eng tertawa bergelak mendengar ucapan itu, akan tetapi dia tidak mau bersikap tidak sopan mentertawakan seorang tosu (pendeta Agama To). Dengan hormat dia lalu berkata, “Kalau memang totiang merasa lapar seperti juga aku, mari silakan makan malam bersamaku, totiang.”

“Siancai...! Kalau begitu, tadi engkau bukannya menggoda, orang muda, melainkan sengaja memancing dan mengundang pinto makan malam. Terima kasih, terima kasih!”

Dengan segala senang hati Liong-eng lalu mempersilakan kakek itu duduk di dekat api unggun. Panggang ikan itu sudah matang dan diapun mengeluarkan buntalan roti kering. “Silakan, totiang, mari kita makan seadanya!”

“Siancai... terima kasih. Roti kering dan ikan panggang, diantar anggur dari He-nan. Sedaaap!”

“Sayang anggurnya tidak ada, totiang.”

“Jangan khawatir, pinto masih menyimpan anggurnya, cukup untuk kita berdua. Anggur aseli He-nan, manis dan harum!”

Tosu itupun mengeluarkan sebuah guci anggur dari dalam buntalannya dan memang benar anggur itu mengeluarkan bau harum ketika dibuka tutupnya. Isinya masih hampir penuh, lebih dari cukup untuk mereka berdua. Begitu menggigit roti kering lalu disusul secuwil daging ikan yang masih panas, mengunyahnya, tosu itu berseru,

“Terima kasih kepada Tuhan! Sungguh Tuhan Maha Pengasih dan Pemurah! Belum pernah pinto makan selezat ini...!”

Kembali Liong-eng tertawa, akan tetapi diapun melirik ke kanan karena kembali pendengarannya menangkap gerakan orang dari sana. Cuaca sudah mulai gelap dan sinar api unggun itu terbatas sekali, tidak cukup menembus kegelapan malam yang tebal.

“Omitohud! Dua orang makan minum seenaknya tanpa memperdulikan seorang lain yang kelaparan. Apakah itu bukan suatu dosa besar? Semoga dosa besar itu diampuni, omitohud...”

Liong-eng menengok dan diapun tersenyum. Kiranya yang bicara itu seorang hwesio yang usianya sebaya dengan pendeta tosu yang sedang duduk di dekatnya. Hanya bedanya, kalau tosu itu menggelung rambutnya ke atas, hwesio ini mencukur gundul rambutnya. Kalau tosu itu tinggi kurus, hwesio ini agak pendek dan gendut perutnya. Keduanya sama-sama memakai pakaian pendeta yang sederhana. Liong-eng cepat bangkit berdiri dan memberi hormat.

“Selamat malam, lo-suhu. Kalau lo-suhu lapar, silakan duduk dan makan malam bersama kami, makan malam seadanya, hanya roti kering, ikan panggang dan... anggur manis milik totiang ini.”

“Silakan, hwesio kelaparan! Ikan panggangnya lezat bukan main dan anggur pinto inipun manis dan enak. Silakan makan dan minum bersama!"

“Omitohud, terima kasih... terima kasih, semoga Sang Buddha memberkahi anda berdua!”

Hwesio gendut itupun duduk di dekat api unggun, dan perut gendutnya itu agaknya tidak menjadi penghalang ketika dia duduk, bahkan dia lalu bersila dengan bentuk teratai, yaita kedua kaki di atas kedua paha. Tanpa rikuh lagi, hwesio itu lalu mengambil roti kering dan memasukkannya ke mulutnya, dikunyah perlahan-lahan.

“Ini ikan panggangnya, lo-suhu. Silakan!”

Hwesio itu menggeleng kepalanya. “Omitohud... pinceng berpantang melakukan kekejaman dan kekerasan, apa lagi membunuh. Lebih-lebih makan daging! Tidak, pinceng cukup dengan ini saja!” Dia mengeluarkan sebuah bungkusan yang ternyata adalah sayur asin! Dia makan roti kering dan sayur asin itu, nampak nikmat sekali.

“Hwesio, mari kau minum anggur pinto. Ini anggur He-nan aseli, enak segar dan manis!” tosu itu menawarkan anggurnya.

Akan tetapi hwesio itu menolak sambil tersenyum ramah. “Omitohud...! Pinceng berpantang minuman keras yang akan mengeruhkan pikiran. Pinceng minum ini saja, heh-heh!” Dia mengeluarkan sebuah guci terisi air jernih dan minum air itu.

Mereka makan minum tanpa berkata-kata lagi dan akhirnya mereka merasa kenyang. Hwesio itu mengelus perutnya yang gendut.

“Omitohud, pinceng mengucap syukur kepada Sang Buddha yang telah memberkahi kita semua!”

Tosu itupun menengadah, memandang langit yang dipenuhi bintang cemerlang. “Pinto berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberkahi kita semua dengan segala keindahan dan kenikmatan dalam hidup ini! Sian-cai... sungguh jarang ada manusia yang dapat menikmati hidup yang begini indah!”

Liong-eng diam-diam tertarik sekali. Tanpa disangkanya, dalam perantauannya yang santai ini, dia bertemu dengan dua orang pendeta yang nampaknya sama-sama bijaksana, akan tetapi memiliki cara hidup yang berlainan sama sekali. Karena itu, timbul suatu akal di dalam hatinya untuk mempertemukan keduanya ini dalam suatu percakapan atau perdebatan yang tentu akan menarik sekali.

Dia seorang yang cerdik dan dia tadi melihat bagaimana dua orang pendeta itu memiliki kebiasaan yang amat berbeda, bahkan berlawanan ketika mereka makan dan minum. Tosu itu makan daging ikan dan minum anggur sebaliknya, hwesio itu tidak makan daging dan tidak minum minuman keras. Akan tetapi keduanya sama-sama menikmati makanan dan minuman mereka, dan keduanya tetap bijaksana dan tidak saling mencela.

“Tempat inipun indah sekali untuk melewatkan malam,” kata Liong-eng. “Enak sekali melepaskan lelah di atas batu-batu yang rata ini, terlindung oleh pohon-pohon besar. Membuat api unggun juga amat mudah karena banyak terdapat kayu kering.”

“Omitohud, engkau betul, orang muda. Pinceng ingin beristirahat di sini untuk semalam ini.”

“Pinto juga ingin menikmati malam ini di sini. Bertilamkan rumput, berdinding pohon¬pohon, beratap langit dan berlampu sejuta bintang. Siancai... adakah yang lebih nikmat dari pada ini?”

Liong-eng tertawa, “Dan aku ingin sekali menambah pengetahuan tentang hidup ini dari totiang dan losuhu berdua, yakni kalau ji-wi (anda berdua) berkenan memberi wejangan kepadaku.”

“Omitohud... sudah sepatutnya yang kuat membantu yang lemah, yang pandai menuntun yang bodoh, yang tua menasihati yang muda.”

“Siancai... kalau pinto dapat memberikan sesuatu kepadamu, orang muda yang baik, pinto akan senang sekali. Daging ikan panggangmu tadi jauh lebih bermanfaat dari pada seratus wejangan kosong hampa, ha-ha!”

Mereka bertiga duduk di atas batu yang jaraknya ada dua meter satu sama lain sehingga mereka dapat bercakap-cakap dengan santai. Liong-eng lalu memulai dengan pancingannya.

“Ji-wi suhu adalah dua orang pendeta yang telah mengenakan jubah pendeta dan karena itu tentu telah memiliki kebijaksanaan dan keadaan hidupnya lain dari pada manusia biasa.”

“Siancai... apa bedanya pinto dengan orang lain? Pinto juga manusia biasa!”

“Omitohud... benar apa yang dikatakan to-yu (sahabat) ini. Pinceng juga hanya manusia biasa.”

“Akan tetapi, ji-wi (anda berdua) adalah seorang tosu dan seorang hwesio. Biarpun manusia biasa, telah memiliki pengetahuan luas tentang kehidupan dan kebatinan. Yang kuherankan adalah melihat perbedaan yang saling bertolak belakang antara ji-wi ketika kita bersama-sama makan dan minum tadi. Kulihat bahwa totiang makan daging ikan dan minum anggur, akan tetapi kulihat bahwa losuhu tidak makan daging dan tidak minum-minuman keras. Nah, yang ingin saya ketahui, mengapa ada perbedaan ini?”

Dua orang pendeta itu saling pandang. Api anggun masih bernyala besar sehingga hawa menjadi hangat dan sinar api cukup menerangi tempat itu sehingga mereka dapat saling melihat.

“Omitohud...! Hidup penuh penderitaan karena ulah manusia sendiri. Kami tidak makan daging karena melihat kenyataan bahwa daging mengandung rangsangan kepada tubuh, memperbesar nafsu hewani. Selain itu, kami pantang menyiksa, pantang menyakiti dan pantang kekerasan. Dengan demikian, mana mungkin kami harus membunuh binatang hanya untuk memuaskan selera dan nafsu hewani? Adapun minum-minuman keras amat tidak baik untuk ketenangan batin, karena minuman keras merangsang otak, membuat orang menjadi mabok dan juga terikat. Kalau sudah melihat bahwa daging dan arak itu buruk untuk badan dan batin, mengapa kita harus memakannya dan meminumnya?”

Sambil berkata demikian, hwesio itu memandang kepada tosu di depannya, akan tetapi dengan senyum yang lebar dan ikhlas, sama sekali tidak mengejek atau menyalahkan walaupun mengandung tantangan untuk berdebat. Liong-eng mendengarkan dengan gembira. Pancingannya mengena dan dia menanti jawaban tosu itu.

“Siancai... memang benar bahwa hidup penuh penderitaan karena ulah manusia sendiri! Alam sudah mempunyai aturan sendiri, sehingga aturan yang diadakan manusia kadang-kadang malah berlawanan dengan aturan alam dan ini menimbulkan kekacauan pada alam yang hanya merugikan manusia sendiri! Pinto makan daging karena memang daging itu sudah diatur alam untuk menjadi makanan manusia. Alam juga mengatur bahwa ada beberapa macam daging yang tidak boleh dimakan, yang beracun dan yang berbahaya bagi kesehatan badan manusia. Kekerasan dan kebencian berada di dalam hati. Makan daging belum tentu berarti menyiksa atau berkeras hati! Apakah makan sayur juga tidak berarti membunuh? Siapa berani mengatakan bahwa pada sayur-sayuran itu tidak terdapat benda-benda hidup dan bernyawa? Makan sayur berarti juga membunuh dan makan banyak sekali mahluk hidup dan bernyawa! Jadi sama saja! Yang penting adalah di dalam hati! Yang penting adalah kebijaksanaan dalam memilih daging apa yang patut dimakan untuk mengenyangkan perut dan mempertahankan hidup. Adapun tentang anggur... ha-ha, alangkah bodohnya kalau tidak mau meminumnya! Anggur merupakan minuman yang amat menyehatkan. Tentu saja kalau terlalu banyak menjadi racun dan amat tidak baik. Segala sesuatu yang kita makan atau minum, betapapun baiknya, kalau terlalu banyak tentu menjadi tidak baik! Minuman keras, kalau sedikit, menjadi obat, kalau terlalu banyak menjadi racun. Tergantung kepada kebijaksanaan kita sendiri, bukan? Bukan salah minumannya atau makanannya! Pinto sudah puluhan tahun minum arak atau anggur akan tetapi tidak pernah mabok dan tidak pernah kecanduan!”

“Omitohud... apa yang dikatakan to-yu memang benar!” kata hwesio itu menyambut sehingga Liong-eng makin gembira, mendengarkan dengan penuh perhatian. “Tak dapat disangkal bahwa di dalam sayur, di dalam air, bahkan di dalam hawa udara ini terdapat banyak mahluk hidup dan bernyawa dan kalau kita makan sayur dan minum air, bahkan menghirup udara, kita sudah membunuh dan makan mahluk-mahluk hidup bernyawa yang amat kecil sehingga tidak nampak oleh mata. Akan tetapi, setidaknya kita membunuh mahluk kecil tak nampak, yang berarti kita melakukan pembunuhan tanpa disengaja. Tidak seperti kalau menyembelih sapi, babi atau ayam, sengaja kita sembelih dan kita makan dagingnya. Biarpun demikian, pinceng membenarkan pendapat to-yu bahwa segalanya yang menentukan adalah kebijaksanaan batin. Akan tetapi, bagaimana batin dapat menjadi bijaksana kalau batin dibiarkan menjadi hamba nafsu hewani? Nafsu akan menyeret batin sehingga batin selalu menjadi haus akan kesenangan badani! Tepat sekali ucapan itu, to-yu! Ada dua macam dasar ketika kita makan daging, yang pertama dasarnya adalah kebutuhan hidup, dan yang kedua dasarnya adalah mencari kenikmatan atau keenakan. Orang yang mengejar kenikmatan, baik melalui makan daging atau melalui pertapaan sekalipun, keduanya menyimpang dari jalan kebenaran!”

Liong-eng mendengarkan dengan wajah berseri. Biarpun dua orang pendeta ini bicara ramah dan agaknya seperti saling membenarkan, namun pada dasarnya, terdapat perbedaan cara atau pandangan dalam mengatur langkah hidup menuju kebenaran. Dia ingin menyelidiki lebih mendalam lagi dan melihat betapa mereka seperti hendak menghentikan perdebatan itu, diapun melempar umpan lagi.

“Maafkan saya, ji-wi suhu. Saya adalah seorang yang masih bodoh dan tidak mengerti tentang kehidupan. Kalau mendengar uraian ji-wi tadi, saya dapat menarik kesimpulan bahwa yang menyeret manusia ke dalam kesengsaraan adalah perbuatan yang ditunggangi nafsu rendah. Begitukah?”

“Siancai, benar sekali, orang muda.”

“Omitohud, memang demikianlah adanya,” sambung hwesio itu.

Liong-eng mengangguk-angguk. “Kalau begitu, biang keladi kesengsaraan manusia adalah nafsu-nafsu itu! Dari manakah datangnya nafsu-nafsu ini, ji-wi suhu?”

“Nafsu? Ha-ha, nafsu terlahir bersama kita, orang muda. Bukankah demikian, to-yu?”

“Omitohud, benar sekali. Nafsu terlahir bersama kita!”

Liong-eng mengerutkan alisnya. “Totiang dan suhu, bukankah kita dilahirkan di dunia, sebagai manusia ini atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa?”

“Benar sekali!” kata dua orang pendeta itu hampir berbareng.

“Dan bukankah Tuhan Maha Kasih dan Maha Adil?”

“Benar sekali!” kembali keduanya mengangguk.

“Kalau begitu, mengapa Tuhan melahirkan kita disertai nafsu yang hanya akan menyeret kita ke dalam perbuatan jahat dan yang akibatnya membuat kehidupan penuh kesengsaraan?”

“Omitohud... orang muda, buanglah jauh-jauh pikiran menyalahkan Tuhan itu!”

“Siancai... Tuhan Maha Kasih. Tuhan telah mengatur segalanya dengan tertib, dengan sempurna. Segala sesuatu datang dari Dia dan kembali kepada Dia! Tuhan Maha Sempurna, tidak ada kesalahan setitik debupun, orang muda! Segala yang diciptakannya adalah sempurna, seperti Sang Penciptanya sendiri!”

“Tapi... tapi... mengapa Dia menyertakan pula nafsu kepada kita? Bukankah nafsu hanya akan menyeret kita ke dalam kesengsaraan?” Liong-eng membantah untuk memancing.

“Nafsu adalah nafsu, seperti juga benda dan mahluk lain. Tidak jahat dan tidak baik! Kalau bisa disebut buruk, sudah pasti ada kebaikannya. Di sinilah letaknya rahasia Im-yang. Mana bisa ada sebutan buruk kalau tidak ada sebutan baik? Kalau kita sudah mengatakan bahwa nafsu itu buruk, maka sudah pasti di lain pihak nafsu itu juga baik!” kata tosu itu.

“Akan tetapi, di mana letak kebaikannya, totiang?” Liong-eng mengejar.

“Lihat, orang muda. Tanpa adanya nafsu, bagaimana mungkin kita dapat hidup di dunia ini? Ketika manusia terlahir sebagai bayi, dia belum mampu mempergunakan alat pikiran yang sudah ada padanya, karena itu, hanya nafsu yang membimbingnya agar dapat hidup. Dia sudah dapat membedakan mana enak mana tidak enak tanpa menggunakan pikirannya. Setelah dia mulai memiliki kemampuan menggunakan alat berupa akal pikirannya, maka nafsu menyusup dan bersatu dengan pikiran, membentuk si aku yang selalu ingin enak menurut apa yang pernah dialaminya. Dan kalau orang sudah diperhamba nafsu, maka dia akan selalu mengejar keenakan tanpa memusingkan hal-hal lain, dan pengejaran terhadap keenakan atau kesenangan inilah yang membuahkan perbuatan-perbuatan jahat, penyelewengan dan kejahatan!”

“Kalau begitu, nafsu itu jahat sekali!” seru Liong-eng. “Dan tidak ada gunanya!”

“Siancai...! Jangan bilang begitu, orang muda. Tanpa ada nafsu, bagaimana mungkin kita hidup? Ingat, apa yang menyebabkan kita dapat merasakan enak kalau makan? Kalau mendengarkan sesuatu, melihat sesuatu, mencium sesuatu, apa yang membuat kita memperoleh kenikmatan dari pancaindera kita kalau bukan nafsu? Yang mendorong kita untuk hidup adalah nafsu. Tanpa nafsu, mana mungkin kita dapat hidup?"

“Omitohud... ucapan itu benar sekali. Nafsu hanya menjadi buruk kalau menjadi majikan dan memperhamba kita, akan tetapi menjadi suatu rahmat dan nikmat kalau kita yang memperhambanya. Nafsu seperti air dan api dan angin, menjadi hamba yang baik sekali akan tetapi menjadi raja yang amat bengis! Nafsu bagaikan kuda-kuda penarik kereta, kalau terkendali dapat membawa kereta kepada kemajuan, sebaliknya kalau tak terkendali dan kabur, dapat membawa kereta terjun ke dalam jurang!” kata hwesio itu.

Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih) itu tersenyum dan hatinya merasa girang bukan main. Tidak percuma dia menjamu dua orang pendeta ini dengan hidangan yang amat bersahaja, akan tetapi sebagai imbalannya dia telah mendengarkan percakapan yang amat mendalam dan amat penting bagi pengertian hidupnya. Dia memandang kedua orang pendeta itu dan tiba-tiba saja dia tertawa geli, tak tertahankan sehingga dua orang pendeta itu memandang kepadanya dengan mata bertanya-tanya.

“Eh, orang muda, apanya yang lucu?” tanya si tosu.

“Omitohud, engkaulah yang lucu, orang muda. Kami bicara serius tentang soal-soal kehidupan yang mendalam, engkau malah tertawa seperti melihat dan mendengarkan celoteh dua orang badut di panggung!” sambung si hwesio dengan senyum polos, sama sekali tidak merasa tersinggung.

Pendekar Naga Putih adalah seorang yang bukan saja gagah perkasa, memiliki ilmu silat yang tinggi, akan tetapi dia juga pandai dalam ilmu sastra dan sudah banyak mempelajari buku-buku suci dan tahu tentang tata susila dan kebudayaan. Maka diapun menginsyapi sikapnya yang kurang patut itu maka cepat dia berdiri dan memberi hormat dengan bersoja kepada mereka berdua.

“Harap ji-wi (kalian berdua) suka memaafkan sikap saya yang lancang dan kurang patut. Akan tetapi entah mengapa, tiba-tiba saja saya ingin tertawa dan merasa geli, yaitu setelah melihat keadaan tubuh ji-wi.”

“Siancai...! Ada apakah dengan tubuhku yang tinggi kurus ini?”

“Omitohud, agaknya tubuh pinceng yang pendek gendut ini yang nampak lucu?” sambung si hwesio.

“Sekali lagi maaf, ji-wi losuhu dan totiang, karena entah bagaimana, melihat bentuk tubuh ji-wi, mendadak saya menjadi geli dan ingin sekali tertawa. Totiang suka makan daging akan tetapi bertubuh kurus sebaliknya losuhu yang tidak makan daging, hanya makan sayur, mengapa malah gemuk? Sungguh keadaan yang amat terbalik dan lucu!” Akan tetapi sekali ini Pek-liong-eng Tan Cin Hay tidak tertawa lagi karena dia sudah mampu menguasai perasaan hatinya.

Tosu itu tertawa. “Ha-ha-ha, apanya yang aneh, orang muda? Memang sudah semestinya begitu. Lihat saja, harimau yang suka makan daging itu tubuhnya kuat dan perutnya kecil, termasuk kurus. Sebaliknya kerbau yang hanya makan rumput dan daun-daunan, perutnya gendut! Ha-ha-ha!”

Hwesio itupun tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, omitohud! Engkau hendak memaki pinceng seperti kerbau, to-yu? Kalau ingin memaki, langsung saja, kenapa harus berbelok-belok? He, orang muda, mengapa engkau tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Lihat saja. Semua binatang yang makan sayur dan rumput saja merupakan binatang yang memenuhi segala segi kebaikan. Yang paling kuat di antara binatang? Gajah dan gajah pemakan rumput dan sayur, tak pernah makan daging! Yang paling tangkas dan cepat? Kuda, juga pemakan sayur dan rumput, tidak makan daging. Yang paling berguna bagi manusia? Kerbau, lembu, kambing, kesemuanya tidak makan daging, hanya rumput dan daun-daunan. Burung apa yang paling indah dan paling merdu suaranya? Burung-burung yang tidak pernah makan daging, melainkan makan biji-bijian. Semua binatang yang tidak makan daging pada umumnya lembut dan baik, jinak dan tidak pernah buas. Sekarang lihat binatang yang makan daging! Paling buas dan liar? Harimau, pemakan daging. Paling licik dan menjijikkan? Ular, pemakan daging. Dan burung-burung pemakan daging amat buruk dan suaranya mengerikan, seperti burung gagak, burung pemakan bangkai, dan lain-lain!”

Tosu itu tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, memang engkau ini pandai sekali to-yu. Tapi bagaimanapun juga, pinto lebih suka menjadi seekor harimau yang perkasa dari pada seekor babi gemuk!”

Melihat suasana menjadi panas dan tidak enak. Pek-liong-eng cepat melerai dan memberi hormat. “Sudahlah, harap ji-wi suka menghentikan percakapan mengenai makan daging dan makan sayur ini. Saya yang tadi bersalah menyinggung soal itu. Akan tetapi, kita bertiga sudah makan minum bersama, bercakap-cakap dengan akrab, akan tetapi belum saling mengenal nama...”

“Siancai...! Apa sih artinya nama, kedudukan dan penggolongan perorangan? Semua itu hanya mendatangkan garis pemisah di antara manusia!”

“Omitohud, tepat sekali ucapan itu! Begitu ada nama, maka si anu bermusuhan dengan si anu, golongan dengan golongan, bangsa dengan bangsa. Penggunaan nama adalah suatu kebodohan!” sambung si hwesio sambil tersenyum lebar.

Pek-liong-eng juga tersenyum. “Biarlah saya masuk ke dalam golongan yang bodoh saja karena saya ingin sekali mengenal nama ji-wi agar saya tahu dengan siapa saya berhadapan. Saya sendiri bernama Tan Cin Hay, tinggal di dusun luar kota Hang-kouw dekat Telaga See-ouw...”

“Omitohud, kiranya engkau adalah Pek-liong-eng, pendekar besar itu?” seru si hwesio.

“Tak salah lagi,” sambung si tosu. “Pinto (aku) pun sudah mendengar akan nama besar pendekar muda yang telah menghancurkan gerombolan Hek-sim Lo-mo!”

Pek-liong-eng tersenyum. Tak disangkanya bahwa namanya yang sebenarnya belum begitu dikenal itu telah menjadi terkenal karena sepak terjangnya membasmi Hek-sim Lo-mo bersama Hek-liong-li! Diapun memberi hormat dengan sikap merendah. “Saya yang muda dan belum banyak pengalaman masih mengharapkan banyak petunjuk dari ji-wi. Kalau boleh saya mengetahui, siapakah nama dan julukan totiang?” tanyanya kepada si tosu.

“Omitohud, siapa lagi tosu rakus ini kalau bukan Tiong Tosu?” seru si hwesio gendut.

Tosu itu tertawa. “Memang benar pinto di-sebut Tiong Tosu tanpa julukan apapun, dan hwesio gendut pemakan rumput ini tentulah Yong Hwesio!”

Hwesio itupun tertawa dan diam-diam Pek-liong-eng Tan Cin Hay terkejut. Biarpun dua nama itu sederhana saja, namun pernah dia mendengar akan nama mereka sebagai orang-orang yang amat pandai, sambil beribadah mereka berkelakar, sambil berkelakar mereka menentang kejahatan dan membikin gentar nama para penjahat di sepanjang pantai utara sampai ke selatan! Cepat dia memberi hormat kepada kedua orang pendeta itu.

“Ah, kiranya saya berhadapan dengan dua orang locianpwe yang nama besarnya menggetarkan kolong langit!” katanya dengan kagum.

Dua orang pendeta itu saling pandang dan tertawa geli. Tiong Tosu yang tinggi kurus itu memandang kepada Pek-liong-eng dengan penuh perhatian, mengamati dari kepala sampai ke kaki, agaknya terheran dan sukar dapat percaya bahwa pemuda ini mampu membasmi seorang datuk besar seperti Hek-sim Lo-mo yang merupakan seorang di antara Kiu Lo-mo atau Sembilan Iblis Tua yang merupakan datuk-datuk besar sakti.

“Tidak ada gunanya kita saling puji dan saling merendah. Taihiap adalah seorang yang gagah perkasa dan berhasil menumbangkan kekuasaan Hek-sim Lo-mo yang amat jahat dan sakti. Pinto kagum dan tunduk. Kalau boleh kami ketahui, urusan apakah yang membawa taihiap dari Telaga See-ouw datang ke Telaga Po-yang ini?”

“Pinceng (aku) juga ingin sekali tahu, karena kalau muncul seorang pendekar seperti Tan Taihiap, tentu akan terjadi urusan besar!” sambung Yong Hwesio yang gendut.

Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih) atau disingkat Pek-liong (Si Naga Putih) terse-nyum. “Terus terang saja, ji-wi lo-cianpwe. Saya tidak mempunyai urusan tertentu di Telaga Po-yang ini. Saya sedang menganggur di rumah dan merasa kesal, maka saya melakukan perjalanan merantau dan setiba saya di tempat ini, hati saya tertarik dan saya berperahu mencari ikan. Tiada kepentingan khusus dan kalau tidak terjadi sesuatu, besok pagi saya akan melanjutkan perjalanan meninggalkan telaga ini. Nah, saya sudah berterus terang. Tidak tahu apakah ji-wi juga mau berterus terang? Tentu kalau dua orang tokoh besar seperti ji-wi datang ke telaga ini, dapat dipastikan ada sesuatu yang menarik.”

Tiong Tosu menghela napas panjang dan dia memandang ke arah tengah telaga. Bulan telah menerangi permukaan telaga. Air telaga itu tenang dan sama sekali tidak bergerak, memantulkan bulan dan sinarnya, nampak indah bukan main, sunyi dan juga penuh rahasia. “Telaga ini menyembunyikan rahasia besar,” kata Tiong Tosu, suaranya dalam dan penuh kesungguhan, matanya tak pernah berkedip memandang ke tengah telaga, seolah dia mengharapkan munculnya mahluk aneh dari sana dengan tiba-tiba. “Pinto mendengar dongeng menarik sekali tentang telaga ini dan untuk itulah maka pinto kini datang ke sini.”

“Nanti dulu, Tiong Tosu! Apakah dongengmu itu ada hubungannya dengan Patung Emas?”

Tosu itu terbelalak memandang kepada hwesio gendut. “Yong Hwesio, jadi engkau sudah tahu?”

“Omitohud, tentu saja. Justeru untuk itulah pinceng datang ke sini. Akan tetapi lanjutkan ceritamu, nanti giliran pinceng bercerita.”

Tosu itu mulai bercerita, didengarkan penuh perhatian oleh Pek Liong dan Yong Hwesio. Dongeng itu menceritakan tentang Kerajaan Cin pada kurang lebih delapan ratus tahun yang lalu. Raja besar Cin Si Huang-ti adalah seorang raja yang keras dan aneh, yang suka dan percaya akan ilmu-ilmu gaib dan kesaktian-kesaktian. Bahkan dia berguru kepada banyak pertapa sakti dengan maksud untuk mencari ilmu menentang maut, yaitu ingin hidup abadi di dunia ini!

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis jilid 25 karya kho ping hoo

Menurut dongeng itu, pada suatu hari dia mendaki Gunung Thai-san di Shan-tung, dan di situ dia bertemu dengan seorang pertapa yang memberikan beberapa butir pel panjang usia kepadanya! Menurut dongeng, siapa yang minum pel itu, setiap butir, usianya akan bertambah empatpuluh tahun! Cin Si Huang-ti menerima duapuluh butir, berarti dia akan dapat menambah umurnya selama delapanratus tahun! Akan tetapi, menurut pertapa itu, pel itu baru ada khasiatnya dan manjur kalau dibiarkan menghisap sari air Telaga Po-yang selama sepuluh tahun!

Cin Si Huang-ti lalu kabarnya menyembunyikan obat-obat penentang maut itu dalam sebuah patung emas dan kabarnya patung emas itu disembunyikan di sekitar telaga, atau mungkin di dalam telaga! Dan ada berita angin pula bahwa selain obat itu, disimpan pula harta karun yang amat besar jumlahnya. Akan tetapi seperti diketahui dari sejarah, Cin Si Huang-ti meninggal dunia sebelum minum obat itu, bahkan dia meninggal dalam usia yang masih belum tua benar, di bawah lima puluh tahun!

“Dongeng itulah yang membawa pinto datang ke sini,” Tiong Tosu mengakhiri ceritanya. “Dan ada berita lagi bahwa setelah raja itu mati, muncul sebuah peta yang katanya menunjukkan di mana adanya patung emas yang disembunyikan itu.”

Pek-liong mendengarkan dengan hati tertarik. Dongeng yang nampak menarik dan bagus karena diceritakan di tepi Telaga Po-yang, pada hal dalam dongeng itu disebutkan bahwa harta dan obat sakti itu disembunyikan di sekitar Telaga Po-yang!

“Omitohud... sungguh kebetulan sekali! Kedatangan pinceng ke sini justeru ada hubungannya pula dengan peta rahasia penyembunyian patung emas itu!”

“Eh, bagaimana bisa serba kebetulan itu. Ceritakan, Yong Hwesio!” kata Tiong Tosu dan Pek-liong mendengarkan semakin tertarik.

“Tak jauh dari telaga ini terdapat sebuah kuil kecil. Pinceng mengenal baik ketuanya. yaitu Loan Khi Hwesio. Baru-baru ini pinceng kedatangan seorang hwesio dari kuil itu yang minta pertolongan pinceng untuk mencari Loan Khi Hwesio yang katanya diculik orang jahat!”

“Wah? Untuk apa orang jahat menculik seorang hwesio tua?” Tiong Tosu berseru kaget dan heran, hampir tidak percaya.

“Menurut keterangan para hwesio, pada suatu hari datang empat orang penjahat ke kuil mereka dan dengan paksa membawa Loan Khi Hwesio. Para hwesio di kuil itu, sebanyak lima orang, melawan akan tetapi mereka semua roboh terluka. Loan Khi Hwesio mereka culik dan tidak pernah kembali ke kuil.”

“Eh, Yong Hwesio, apa hubungannya ceritamu tentang penculikan Loan Khi Hwesio itu dengan urusan peta patung emas?” tanya Tiong Tosu, mengerutkan alisnya.

“Hubungannya dekat sekali karena Loan Khi Hwesio itulah yang tadinya menjadi pemilik peta patung emas.”

“Siancai...!”

“Ahhh...!” Pek-liong menjadi semakin tertarik sedangkan Tiong Tosu terbelalak memandang kepada Yong Hwesio. “Sungguh suatu kebetulan yang menarik sekali!”

“Siapakah orang-orang jahat yang menculik Loan Khi Hwesio itu?” tanya Tiong Tosu.

“Tidak ada yang mengetahuinya, hanya para hwesio itu menceritakan bahwa mereka itu orang-orang kasar yang amat lihai dan mereka mengatakan bahwa mereka membawa Loan Khi Hwesio untuk dihadapkan kepada Beng-cu mereka..."

“Dan... peta itu...?” Pek-liong bertanya.

“Sabarlah, Tan Taihiap. Akan pinceng ceritakan semua. Menurut keterangan para hwesio kuil itu, Loan Khi Hwesio yang memiliki peta itu tidak lagi membawa peta itu dengannya, karena peta itu telah dia berikan kepada orang lain, seorang dermawan yang suka menderma kepada kuil. Dan sekarang berita yang paling aneh dan amat mengguncang perasaan pinceng. Yaitu, selagi Loan Khi Hwesio sendiri belum diketahui bagaimana nasibnya, dermawan itu telah kedapatan mati terbunuh di atas perahu sewaannya di Telaga Po-yang!”

“Siancai...!” Tiong Tosu berseru dan Pek-liong juga terkejut. Sungguh amat menarik dan penuh rahasia.

“Dermawan itu bernama Thio Kee San, seorang pemilik perahu sewaan di Telaga Po-yang. Pada suatu pagi dia kedapatan tewas terbunuh di atas perahunya. Tidak ada yang tahu siapa yang membunuhnya, hanya ada kabar bisik-bisik bahwa malam itu perahunya dipakai oleh Po-yang Sam-liong, yaitu tiga orang jagoan yang menguasai Po-yang.”

“Dan peta patung emas itu tadinya berada pada Thio Kee San?” tanya Pek-liong.

“Hal itu siapa yang mengetahuinya, taihiap? Mungkin dia bawa, mungkin pula tidak. Akan tetapi, para hwesio itu menceritakan hal lain yang lebih aneh, yaitu bahwa di kota Nan-cang, tak jauh dari sini, terjadi keributan di rumah pelacuran yang bernama Rumah Merah. Po-yang Sam-liong di rumah pelesir itu, mengamuk dan menangkap seorang pelacur bernama Bi Hwa, menyiksanya kemudian membawa pergi entah ke mana. Menurut keterangan para penghuni rumah pelesir itu, Po-yang Sam-liong bertanya apakah Bi Hwa itu kekasih dari mendiang Thio Kee San.”

“Siancai, tentu ada hubungannya dengan peta rahasia itu! Agaknya mereka tidak dapat menemukan peta itu pada Thio Kee San, lalu mereka mencari orang yang paling disayang oleh Thio Kee San, maka mereka menyangka bahwa peta itu disimpan oleh pelacur Bi Hwa..."

"Aih, lalu apa yang terjadi dengan Bi Hwa?”

“Sampai kini tidak ada yang tahu. Bi Hwa lenyap seperti juga Loan Khi Hwesio,” kata Yong Hwesio. “Ini menurut penuturan para hwesio di kuil itu.”

Tiba-tiba Pek-liong memberi isyarat kepada dua orang pendeta itu untuk menghentikan percakapan. Sebuah perahu besar meluncur di tepi telaga itu, dan di atas perahu itu kelihatan ada lima orang laki-laki tinggi besar yang agaknya mengamati mereka bertiga yang duduk di daratan tepi telaga.

Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan seekor kuda tinggi besar yang ditunggangi seorang laki-laki muda lewat pula dekat mereka. Penunggang kuda ini tentu mahir sekali menunggang kuda. Di malam hari begini dia berani menunggang kuda dengan cepat dan cara dia duduk tegak di atas pelana kuda juga membuktikan kemahirannya.

Di bawah sinar bulan yang cukup terang, Pek-liong melihat bahwa penunggang kuda itu seorang laki-laki muda yang tampan dan gagah, berpakaian serba putih seperti dia, hanya bedanya, kalau dia berpakaian secara sederhana saja, pria itu mengenakan pakaian putih dari sutera tersulam dan sepatunya mengkilat. Juga sebatang pedang tergantung di punggungnya, seperti juga lima orang laki-laki tinggi besar yang naik perahu itu, si penunggang kuda juga menoleh ke arah mereka dan mengamati mereka penuh perhatian dengan pandang matanya yang bersinar tajam.

Tiong Tosu dan Yong Hwesio saling pandang. “Agaknya kebetulan saja mereka itu lewat,” kata Tiong Tosu dan Yong Hwesio mengangguk.

“Bagaimanapun juga, pinceng tidak dapat mendiamkan saja Loan Khi Hwesio lenyap diculik orang. Pinceng mendapat perasaan buruk bahwa dia sudah tewas.”

“Siancai... agaknya engkau benar, Yong Hwesio. Pinto juga mempunyai perasaan bahwa pelacur bernama Bi Hwa yang lenyap dibawa orang itupun agaknya telah tewas. Lalu, apa yang akan kaulakukan?”

“Omitohud, pinceng harus menyelidiki. Bukan hanya untuk merebut peta itu, karena pinceng tidak membutuhkan semua harta benda itu, melainkan terutama sekali untuk menyelidiki bagaimana nasib Loan Khi Hwesio. Biarpun para hwesio tidak mengenal empat orang penyerbu itu dan mereka itu bukan Po-yang Sam-liong, namun jelas bahwa Po-yang Sam-liong, mempunyai kaitan dengan peristiwa itu. Maka, pinceng hendak mencari Po-yang Sam-liong dan minta keterangan dari mereka!”

“Siancai...! Itu bagus sekali dan pinto akan membantumu, Yong Hwesio. Kita berdua adalah orang-orang tua yang tidak membutuhkan harta benda, akan tetapi demi menentang kejahatan dan kekejaman, kita harus bertindak.”

“Bagus, Tiong Tosu. Pinceng sudah lama mendengar akan sepak terjangmu, dan senang sekali bekerja sama denganmu sekali ini!” kata Yong Hwesio dengan gembira sekali.

Melihat kegembiraan dua orang tua itu, diam-diam Pek-liong merasa kagum, akan tetapi juga khawatir. “Saya harap ji-wi locianpwe (kedua orang tua perkasa) suka berhati-hati. Menurut pendapat saya, lima orang dalam perahu dan si penunggang kuda bukan kebetulan saja lewat di sini. Cara mereka memandang ke arah kita sungguh tidak sewajarnya. Saya juga mempunyai perasaan bahwa ada kekuatan besar tersembunyi di balik semua peristiwa itu dan mungkin saja mereka yang disebut Po-yang Sam-liong itu hanyalah anak buah belaka.”

“Hemm, bagaimana taihiap bisa memperoleh pendapat seperti itu?” tanya Yong Hwesio.

“Seperti yang locianpwe ceritakan tadi, Loan Khi Hwesio diculik dan tidak nampak kembali„ demikian pula Bi Hwa diculik oleh Po-yang Sam-liong dan tidak pernah kembali, sedangkan orang she Thio itu dibunuh di atas perahunya. Andaikata yang mengejar peta itu empat orang penyerbu kuil atau juga Po-yang Sam-liong, tentu mereka tidak akan menculik orang. Kalau mereka menculik, itu hanya berarti bahwa mereka tidak dapat mengambil keputusan sendiri dan membawa para korban ttu kepada atasan mereka!”

“Siancai...! Ada benarnya juga keterangan Tan Taihiap ini!” kata Tiong Tosu.

“Ini hanya perkiraan saya saja, belum tentu benar. Betapapun juga, saya hanya mengharap agar ji-wi suka berhati-hati.”

“Bagaimana dengan engkau sendiri, Taihiap? Bagaimana kalau engkau suka pula bergabung dengan kami dan melakukan penyelidikan bersama?”

Pek-liong memang sudah tertarik sekali. Akan tetapi dia tidak pernah bekerja sama dengan orang lain, kecuali tentu saja dengan Hek-liong-li. “Terima kasih, saya kira ji-wi berdua sudah lebih dari cukup untuk membongkar rahasia itu. Saya... ah, mungkin saya akan memperpanjang tinggal saya di daerah ini. Telaga ini memang menarik sekali, banyak rahasianya,” katanya.

Tiba-tiba ketiganya berloncatan bangun dari tempat duduk di atas batu dan rumput. Sambil melompat mereka sudah mengelak dan ternyata ada tiga batang piauw, yaitu senjata rahasia runcing menyambar ke arah mereka. Untung bahwa mereka bertiga adalah ahli-ahli silat yang sudah lihai, maka dengan mudah mereka mampu menghindari dari serangan gelap itu...

Thanks for reading Sepasang Naga Penakluk Iblis Jilid 25 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »