Social Items

PENGAKUAN terakhir dari hwesio itu membuat Siauw-bin Ciu-kwi tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, sungguh manjur sekali cara memaksa orang mengaku dengan air menetes itu, ha-ha-ha!”

Kemudian suara ketawanya berhenti dan dia mengerutkan alisnya, memandang kepada para pembantunya, “Dermawan Thio? Siapakah itu? Cin Si, kuserahkan tugas ini kepadamu! Carilah orang yang disebut dermawan Thio itu sampai dapat!”

Tok-sim Nio-cu tersenyum manis. “Jangan khawatir, Beng-cu. Kau serahkan urusan ini kepadaku dan tentu beres! Kalau memang benar ada orang yang dimaksudkan itu, tentu akan segera dapat kutemukan!”

Pertemuan itu berakhir dengan masuknya Siauw-bin Ciu-kwi ke dalam kamarnya sendiri, ditemani oleh enam orang dayangnya dan malam itu Tok-sim Nio-cu Lui Cin Si meninggalkan sarang itu untuk melaksanakan tugas vang diberikan kepadanya.

Mayat hwesio itu dikubur tanpa upacara oleh anak buah Siauw-bin Ciu-kwi dan tak seorangpun di antara penduduk di sekitar daerah itu yang mengetahui apa yang terjadi dengan kepala kuil yang biasanya hidup tenteram dan damai itu dan ke mana dia menghilang. Para hwesio lainnya dalam kuil itupun hanya dapat bercerita bahwa kepala kuil itu diculik empat orang yang tidak mereka kenal!

********************

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis jilid 23 karya kho ping hoo

Bintangnya memang sedang terang cemarlang! Dengan lenggang yang ringan dan hati penuh kegembiraan, Thio Kee San meninggalkan rumah judi itu dan pergi menuju ke Rumah Merah, yaitu sebuah rumah pelesir di sudut kota Nan-cang. Senja telah mendatang dan dia tidak mau terlambat. Dia harus tiba di rumah pelesir itu sebelum Bi Hwa, bunga Rumah Merah itu dipesan laki-laki lain! Baru saja dia meninggalkan rumah judi dengan kemenangan yang cukup banyak di dalam saku bajunya. Bi Hwa tentu akan girang bukan main!

Thio Kee San adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun. Hidupnya membujang dan dia memiliki sebuah perahu pelesir di Telaga Po-yang di mana dia menyewakan perahu dan memperoleh nafkahnya dari pekerjaan itu. Hasil pekerjaannya itu cukup memadai, bahkan lebih dari cukup untuk keperluan hidupnya yang hanya membujang. Bahkan kelebihannya dapat dia pakai untuk memuaskan kesenangannya, yaitu berjudi dan bersenang-senang dengan wanita pelacur di Rumah Merah!

Baru beberapa bulan ini, dia akrab sekali dengan Bi Hwa, bunga Rumah Merah. Hubungan mereka bukan sekedar hubungan seorang pelacur dan langganannya. Sama sekali bukan. Lebih mendalam dari pada sekedar pelesir. Agaknya ada perasaan kasih sayang di antara mereka dan bagi Bi Hwa.

Thio Kee San adalah seorang pria yang amat mencintanya, yang memberikan apa saja kepadanya! Dan memang Kee San seorang bujangan yang tak pernah menyimpan uang. Kalau ada kelebihan uangnya, dia hamburkan dan berikan kepada siapa saja yang disukanya. Bahkan sering sekali dia mendermakan uangnya kepada kuil yang dipimpin oleh Loan Khi Hwesio, kuil di dekat Telaga Po-yang di mana dia pernah memperoleh pertolongan.

Ketika dia menderita penyakit payah dan semua temannya sudah mengira bahwa dia tentu akan mati karena segala macam obat tidak ada yang dapat menyembuhkannya, kuil itulah yang menolongnya. Dia minta obat ke kuil itu dan menerima semacam obat sederhana yang kemudian ternyata mampu menyembuhkannya!

Karena itu, setiap kali dia mempunyai kelebihan uang, kalau tidak dipakai untuk bersenang-senang, tentu akan didermakan kepada Loan Khi Hwesio. Karena perbuatan inilah, maka Loan Ki Hwesio dan para hwesio di kuil itu menganggapnya sebagai orang yang amat budiman, dan menyebut dia “Dermawan Thio”!

Tentu saja hati Kee San pada sore hari itu gembira bukan main. Sudah beberapa hari dia tidak mengunjungi Bi Hwa yang menjadi kekasihnya. Bukan karena Bi Hwa enggan menerimanya kalau dia tidak membawa uang, sama sekali tidak. Akan tetapi dia sendiri yang merasa malu. Beberapa hari ini dia memang tidak memiliki uang dan nasibnya baru sial, kalah melulu dalam perjudian.

Dia malu kalau harus berkunjung ke Rumah Merah tanpa uang yang cukup di sakunya. Malu karena tidak akan dapat mengajak Bi Hwa berpesta, malu pula kepada Bibi Ciang yang mengurus Rumah Merah itu, biarpun Bi Hwa tidak akan segan-segan dan tidak akan merasa sayang untuk mengeluarkan uangnya sendiri untuk mereka berdua.

Dan hari ini dia menang cukup banyak! Dapat dia pergunakan untuk bersenang-senang dengan Bi Hwa yang sudah amat dirindukannya. Bukan uang kemenangan yang cukup banyak itu saja yang akan dihamburkan bersama Bi Hwa dan sisanya akan diberikan kepada Bi Hwa semua, akan tetapi di samping itu ada sebuah benda lain yang akan dia berikan kepada kekasihnya itu.

Seperti yang sudah dibayangkannya, Bi Hwa menyambut kedatangannya dengan gembira sekali. Biarpun dia belum memberitahu akan kemenangannya, wanita itu sudah menyambutnya dengan wajah cerah, dengan senyum manis, pandang mata penuh kasih, dan dengan rangkulan dan cumbuan yang menyatakan betapa rindunya wanita itu kepadanya. Sikap ini saja sudah mengayun perasaan Kee San ke sorgaloka, karena baginya sikap ini menunjukkan bahwa wanita pelacur itu sungguh-sungguh mencinta dirinya, bukan sekedar mengharapkan uangnya!

Kegembiraan Bi Hwa bertambah ketika kekasihnya itu menceritakan tentang kemenangannya yang cukup banyak di meja judi. Mereka lalu berpesta, menghadapi hidangan yang lezat dan anggur yang sedap. Dan malam itu mereka saling melepas rindu, dan Bi Hwa berhasil membuat Kee San berjanji bahwa pria itu akan mengumpulkan uang agar dapat menebus diri kekasihnya dari Bibi Ciang sehingga mereka dapat menjadi suami isteri yang sah.

“Koko, percayalah bahwa hatiku selalu tersiksa setiap kali ada pria meniduriku dan aku teringat kepadamu. Aku benci pekerjaan ini setelah aku bertemu denganmu, koko. Aku ingin menjadi isterimu, ingin menjadi... ibu anak-anakmu...”

Kee San merasa terharu. Sampai berusia empat puluh tahun, dia sendiri tidak pernah memikirkan berumah tangga, akan tetapi kini wanita ini, biar hanya seorang pelacur, namun sungguh amat menarik hatinya dan dia akan merasa berbahagia kalau dapat hidup bersama Bi Hwa selamanya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka sudah bangun dari tidur dan mereka bercakap-cakap. Agaknya berat bagi Bi Hwa untuk melepas kekasihnya pergi, dan berat pula bagi Kee San untuk meninggalkan kekasihnya. Akan tetapi, dia harus pergi, harus ke telaga untuk mencari nafkah karena hari itu kabarnya banyak pengunjung datang berpesiar ke telaga. Dia mengeluarkan seluruh isi kantungnya dan diberikannya semua sisa uangnya kepada Bi Hwa. Wanita ini menjadi terharu.

“Koko, semua uang pemberianmu kusimpan dan kutabung agar kelak dapat kita pergunakan untuk menebus diriku. Harap engkau jangan lagi bermain judi, koko. Hari ini engkau menang akan tetapi hari esok berturut-turut engkau akan kalah. Demikianlah perjudian, sekali menang lima kali kalah. Engkau kumpulkan uang agar cepat dapat membebaskan diriku, koko.”

Kee San mengangguk-angguk, membenarkan ucapan kekasihnya. “Baik, Bi Hwa, mulai hari ini aku akan rajin mencari uang dan menyerahkannya kepadamu agar cepat terkumpul jumlah untuk menebus dirimu. Ah, benar, aku masih mempunyai sebuah benda yang amat berharga. Biar engkau saja yang menyimpan benda itu.”

“Benda berharga apakah itu, koko?” tanya Bi Hwa sambil memandang penuh perhatian ketika kekasihnya mengeluarkan sebuah gulungan kain kuning dari saku bajunya.

“Isi gulungan kain ini adalah sebuah potongan peta kuno yang kuterima dari Loan Khi Hwesio, kepala kuil di dekat telaga sana. Karena terima kasihnya kepadaku yang sudah banyak memberi derma kepada kuil, maka dia menyerahkan peta ini kepadaku.”

“Peta kuno? Untuk apa, koko? Mengapa pula amat berharga?”

“Aku sendiri tidak tahu peta apa, akan tetapi menurut Loan Khi Hwesio, banyak sekali orang memperebutkan peta ini. Kalau mereka tahu bahwa peta ini ada padaku, mereka akan berebut untuk membelinya dariku dan harganya cukup untuk menebus kebebasan dirimu!”

Mata yang indah itu terbelalak. “Sepuluh tail emas?”

“Ya, bahkan lebih dari itu! Peta ini merupakan rahasia tempat persembunyian harta karun dan ini merupakan setengah dari peta yang lengkap. Yang setengah lagi entah berada di tangan siapa. Demikian kata Loan Khi Hwesio, aku sendiri belum pernah membukanya.”

“Kenapa dia memberikan kepadamu dan tidak menjualnya saja sendiri?”

Kee San tersenyum dan merangkul kekasihnya. “Loan Khi Hwesio adalah seorang pendeta, bukan seorang pedagang. Dia menyerahkannya kepadaku, tentu merasa yakin bahwa aku akan menyerahkan sebagian hasil penjualannya untuk kuil.”

“Lalu bagaimana engkau akan menjualnya?”

“Kalau ada yang mencarinya, akan kutemui orangnya dan kutawarkan... dan kita akan memiliki modal untuk berdagang, setelah kau kutebus dari Bibi Ciang. Nah, kau simpan ini baik-baik, Bi Hwa dan jangan beritahukan kepada siapapun juga tentang peta kuno ini.”

Bi Hwa menerima gulungan kain itu dan menyimpannya di tempat yang aman. Dengan penuh harapan Bi Hwa menyongsong hari baik itu, yaitu hari di mana ia dibebaskan sebagai pelacur, menjadi isteri Kee San dan mereka memulai hidup baru, dengan memiliki uang modal hasil penjualan peta kuno dan hidup berbahagia!

Sementara itu, dengan hati penuh kegembiraan karena kenangan yang amat manis dari Bi Hwa masih melekat di hati dan masih terasa di badan, Kee San menuju ke Telaga Po-yang untuk bekerja menyewakan perahunya kepada para pelancong. Seperti juga Bi Hwa, harinya penuh harapan masa depan yang amat cerah, memiliki modal berdagang, dan wanita yang dicintanya setiap hari siang malam menemaninya!

Bi Hwa akan menjadi miliknya sendiri, tidak perlu lagi dia harus membagi kekasihnya itu dengan pria-pria lain yang berani membeli, atau menyewa diri Bi Hwa seperti sekarang ini. Ingatan ini selalu menghantuinya, selalu mengganggu perasaannya. Setiap kali perahunya disewa orang, dia pasti teringat kepada Bi Hwa, yang seperti juga perahunya, dapat dipakai siapa saja yang sanggup membayar dan menyewanya!

Benar seperti telah didengarnya, hari itu telaga yang indah, Telaga Po-yang didatangi banyak tamu. Kee San tidak perlu menanti lama. Perahunya adalah sebuah di antara perahu-perahu terindah di telaga itu, dengan bentuk yang kokoh, tempat duduk yang bersih dan dicat baru, dengan layar yang belum ada tambalannya lagi.

Di antara para tamu yang memenuhi bandar di tepi telaga, terdapat pula seorang wanita cantik yang pakaiannya indah. Wajahnya yang manis itu dirias sehingga nampak semakin cerah, senyumnya memikat dan sepasang matanya memiliki kerling yang tajam sehingga tidak ada pria yang bertemu dengan wanita ini yang tidak memandang dengan penuh pesona dan beberapa kali menengok. Wanita berusia tigapuluh tahun dan yang memiliki daya tarik kuat ini bukan lain adalah Lui Cin Si atau Tok-sim Nio-cu (Nona Berhati Racun)!

Tidak sukar bagi wanita yang berpengalaman ini untuk mencari dermawan Thio! Ia menerima tugas dari Siauw-bin Ciu-kwi dan langsung saja ia pergi ke kuil di mana mendiang Loan Khi Hwesio menjadi ketuanya. Untung bahwa ketika anak buah Beng-cu menculik Loa Khi Hwesio dari kuil ini dan melukai lima orang hwesio di situ, ia tidak ikut sehingga para hwesio itu tidak mengenalnya.

Ia beraksi sebagai seorang ibu rumah tangga yang bersembahyang mohon berkah di kuil itu, dan dengan royal ia memberi uang sumbangan kepada hwesio penjaga yang masih kelihatan pucat karena luka pukulan yang dideritanya belum sembuh benar. Tentu saja hwesio itu merasa girang dan mendoakan kepada Lui Cin Si agar semua permintaannya dalam sembahyangan itu akan terkabul.

Kesempatan inilah yang dipergunakan oleh Tok-sim Nio-cu Lui Cin Si untuk bertanya di mana tempat tinggal dermawan Thio yang pernah didengarnya sebagai seorang yang berbudi dan suka menderma kepada kuil. Hwesio yang sama sekali tidak menduga buruk itu menerangkan bahwa dermawan Thio bernama Thio Kee San, pemilik perahu yang suka menyewakan perahu di Telaga Po-yang.

Begitu mendengar keterangan ini, Tok-sim Nio-cu bergegas pergi meninggalkan kuil dan langsung saja ia pergi ke Telaga Po-yang dan pada pagi hari itu iapun berada di antara banyak pelacong yang memenuhi bandar Telaga Po-yang. Di tempat ini, tidak sukar pula baginya untuk memperoleh keterangan tentang Thio Kee San. Akan tetapi karena perahu milik Kee San telah disewa orang, terpaksa ia menyewa sebuah perahu lain, sebuah perahu kecil yang didayung sendiri ke tengah telaga. Karena sudah memperoleh keterangan yang cukup jelas tentang bentuk, warna cat dan warna layar dari perahu milik Kee San, maka iapun mulai mencari perahu yang dimaksudkan itu.

Akhirnya, setelah bersusah payah mendayung perahu menyusup di antara banyak perahu di telaga, ia melihat warna perahu dan layar milik Kee San itu berada di ujung telaga yang sunyi. Tidak ada perahu lain di sana, hanya sebuah perahu itu, maka dengan cepat didayungnya perahu kecilnya itu mengejar ke sana.

Kebetulan, pikirnya, di tempat yang sepi itu ia segera dapat bertindak, tanpa diketahui orang lain, kecuali tentu saja mereka yang menyewa perahu Kee San itu. Akan tetapi itu merupakan persoalan yang mudah saja. Apa artinya beberapa orang melihat ia menculik Kee San? Kalau perlu, bunuh saja mereka dan habis perkara! Soal bunuh membunuh ini merupakan makanan sehari-hari bagi seorang tokoh, sesat seperti Tok-sim Nio-cu!

Akan tetapi, alangkah terkejut rasa hati tokoh sesat ini ketika perahunya sudah mendekati perahu besar milik Kee San, ia melihat seorang laki-laki dihajar oleh tiga orang laki-laki yang tinggi besar seperti raksasa! Laki-laki itu dijadikan bulan-bulan pukulan dan tendangan mereka dan dari jauh Tok-sim Nio-cu melihat betapa laki-laki yang dipukuli itu sama sekali bukan lawan mereka, dan agaknya tiga orang tinggi besar itu memaki-maki sedangkan yang dipukuli menjerit-jerit kesakitan!

Tok-sim Nio-cu tidak tahu siapa mereka, akan tetapi melihat sikap tiga orang laki-laki tinggi besar itu, dengan mudah ia mengetahui bahwa mereka adalah ahli-ahli silat yang pandai. Oleh karena itu, tidak sukar baginya untuk menduga bahwa yang dipukuli itu tentulah orang yang dicarinya, yaitu Thio Kee San!

Wanita perkasa itu mengerahkan tenaganya dan perahu kecilnya meluncur dengan amat cepatnya. Ketika tiba di dekat perahu besar, sekali menggerakkan tubuhnya, ia telah meloncat ke atas perahu besar. Akan tetapi, bukan main marahnya hati Tok-sim Nio-cu ketika melihat bahwa laki-laki yang dipukuli itu telah tewas.

Ia memandang kepada tiga orang laki-laki tinggi besar seperti raksasa itu yang juga memandang kepadanya dengan terkejut dan heran. Siapa yang tidak heran melihat betapa tiba-tiba saja muncul seorang wanita cantik di perahu itu, muncul seperti setan saja?

Melihat tiga orang laki-laki yang berwajah bengis dan bertubuh raksasa ini, Tok-sim Nio-cu mengerutkan alisnya. Ia sudah pernah mendengar tentang mereka ini walaupun belum pernah saling jumpa.

“Hemm, kiranya Po-yang Sam-liong (Tiga Naga dari Po-yang) yang berada di sini!” katanya dengan nada suara mengejek, senyumnya manis namun mengandung pandang mata merendahkan.

Tiga orang tinggi besar itu memang menyeramkan. Tubuh mereka hampir satu setengah, kali tubuh laki-laki normal dan tubuh itu kokoh kekar penuh otot-otot menggelembung. Mereka kini saling pandang, merasa heran betapa wanita cantik ini telah mengenal mereka.

“Heh-heh, Leng-te (adik Leng), apakah diam-diam engkau mempunyai simpanan wanita begini cantiknya dan kini ia menyusul ke sini?” berkata seorang di antara mereka yang berewok. Dia adalah Poa Seng, orang tertua di antara tiga bersaudara yang dijuluki Po-yang Sam-liong itu.

Poa Leng yang berkepala botak itu menggaruk botaknya sambil menyeringai, “Uwah, sayang aku tidak kenal dengannya. Mungkin Teng-te yang diam-diam mempunyai peliharaan yang cantik ini?”

Poa Teng yang mulutnya ompong tertawa, akan tetapi segera menutupi mulutnya yang ompong agar tidak kelihatan oleh wanita cantik itu. “Tidak, akupun tidak kenal dengannya. Sayang sekali! Akan tetapi sekarang kita berkesempatan untuk mengenalnya, bukan?”

Dua orang kakaknya tertawa dan si berewok Poa Seng yang menjadi orang tertua, memandang kepada wanita itu dengan penuh selidik.

“Nona cantik, siapakah engkau yang telah mengenal kami? Dan mau apa engkau datang ke sini?”

Tiga orang ini tidak begitu heran bahwa wanita ini mengenal mereka. Mereka adalah tiga orang tokoh yang seolah-olah menguasai Telaga Po-yang. Semua pedagang dan pemilik perahu setiap bulan membayar “pajak” kepada mereka melalui kaki tangan mereka. Walaupun mereka sendiri jarang turun tangan ke lapangan, hanya mengutus anak buah, namun nama mereka dikenal semua orang di daerah telaga itu.

Yang membuat mereka heran adalah bahwa wanita cantik itu seorang diri berani menemui mereka dengan cara yang cukup mengejutkan, yaitu meloncat dari perahu kecil ke atas perahu besar, membuktikan bahwa wanita ini memiliki kepandaian. Anehnya, mereka bertiga belum pernah mengenalnya!

“Aku datang untuk mencari Thio Kee San!” jawab Tok-sim Nio-cu sambil lalu dan memandang kepada tubuh laki-laki yang menggeletak tak bernyawa lagi di atas papan perahu. Ia tidak memperkenalkan diri, seolah merasa terlalu tinggi untuk memperkenalkan nama besarnya kepada orang-orang rendahan!

Kembali tiga orang raksasa itu saling pandang dan si berewok tertawa bergelak. “Mencari Thio Kee San? Nah, itu dia orangnya!”

Biarpun tadinya sudah menduga bahwa tentu orang yang disiksa itu Thio Kee San yang dicarinya, ketika mendengar hal ini Tok-sim Nio-cu terkejut dan marah sekali. Celaka, tugasnya menjadi kacau karena ulah tiga orang ini. Akan tetapi, tiga orang ini adalah tokoh-tokoh besar Telaga Po-yang, tentu mereka membunuh Thio Kee San bukan tanpa alasan! Jangan-jangan merekapun menghendaki peta kuno itu dari tangan Thio Kee San, dan siapa tahu mereka telah merampas peta itu! Dengan sinar mata mencorong, ia menghadapi tiga orang raksasa itu.

“Kalian berani membunuh orang yang sedang kubutuhkan?”

Mendengar ucapan itu, si botak tertawa. “Ha-ha-ha, dia sudah mati, nona! Akan tetapi jangan khawatir, masih ada kami bertiga yang kiranya lebih dari cukup untuk menemanimu sepuasmu. Betul tidak, Seng-ko dan Teng-te?”

Dua orang itu tertawa membenarkan. Tok-sim Nio-cu sudah marah sekali. Ingin rasanya sekali serang ia membunuh mereka itu. Akan tetapi ia adalah seorang wanita yang amat cerdik. Tidak, ia harus menahan kemarahannya. Tidak boleh ia membunuh mereka. Pertama, mereka itu masih amat berguna baginya apalagi setelah Thio Kee San tewas. Tentu rahasia itu telah berpindah tangan, ke tangan mereka!

Ia harus dapat menyelidiki hal ini dan kalau benar peta itu telah berada di tangan mereka, ia harus merampasnya dari mereka. Dan menyerang mereka di perahu ini, sungguh tidak baik. Mereka terkenal sebagai tiga orang tokoh telaga, sedikit banyak mereka tentu pandai berenang, jauh lebih pandai dari ia sendiri yang hampir tidak pandai renang.

Kalau berkelahi di situ dan mereka itu menggulingkan perahu, ia akan celaka! Ia harus memancing mereka mendarat, baru ia merasa aman untuk bertanding melawan mereka. Pula ia tidak boleh membunuh mereka, setidaknya seorang di antara mereka harus dibiarkan hidup sebelum peta itu dapat ia temukan. Dengan menekan kemarahannya, Tok-sim Nio-cu kini tersenyum. Manis sekali.

“Hemm, aku tertarik kepada orang she Thio ini karena dia menjanjikan banyak uang kepadaku. Dia sudah berjanji akan menanti di bandar, akan tetapi meninggalkan aku, maka aku menyusulnya. Sekarang, dia sudah mampus, kalau kalian bertiga sejantan dia dan juga seroyal dia, tentu saja akupun lebih menyukai yang hidup dari pada yang mati.” Ia memainkan bibirnya dengan pandai sekali sehingga ketika bicara, mulutnya seperti menantang penuh gairah.

Tiga orang raksasa itu tentu saja menjadi gembira sekali. Si berewok langsung saja menggunakan lengannya yang besar dan panjang untuk merangkul pinggaug Tok-sim Nio-cu dan mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu mencium bibir itu dengan kasar! Tok-sim Nio-cu membalas ciuman itu penuh gairah dan memang ia adalah seorang wanita yang sudah berpengalaman. Walaupun hatinya merasa mendongkol sekali, namun ia dapat memperlihatkan sikap yang memikat. Ia meronta manja.

“Lepaskan...! Lepaskan aku, aku tidak mau kalau di sini... lepaskan...!”

Sambil tertawa, si berewok yang sudah mulai panas itu melepaskan wanita yang meronta manja. “Kenapa, manis? Bukankah engkau juga suka?”

“Tentu saja aku suka, akan tetapi tidak di sini. Aku... aku ngeri dan suka mabuk air. Pula, dengan adanya mayat itu, bagaimana mungkin hatiku bisa tenteram? Marilah kita ke darat dan di sana baru kita benar-benar dapat menikmati kesenangan. Asalkan kalian benar jantan dan royal seperti orang she Thio itu!” Berkata demikian, Tok-sim Nio-cu mengerling dengan sikap menantang.

Tiga orang bersaudara itu girang sekali. “Mari kita ke darat,” kata si berewok kepada dua orang adiknya. “Kita tinggalkan saja mayat itu di sini. Takkan ada yang menyangka kita yang melakukan.”

“Andaikata ada yang menyangkapun, perduli apa?” kata si botak.

“Benar,” kata yang ompong. “Kita katakan saja bahwa dia tidak membayar pajak dan melawan kita, lalu terpaksa kita membunuhnya!”

“Mari kita cepat pergi, kita pergunakan perahuku!” kata Tok-sim Nio-cu kepada mereka.

Mereka berempat lalu berloncatan ke atas perahu kecil itu dan melihat cara mereka meloncat dan tiba di perahu tanpa menimbulkan banyak guncangan mengertilah Tok-sim Nio-cu bahwa tiga orang ini memang lihai dan tidak boleh dipandang rendah. Nio-cu mendayung perahunya dengan cepat, menuju ke pantai yang sepi, pantai yang merupakan sebuah hutan kecil.

Setelah tiba di darat, iapun meloncat ke atas daratan dengan gerakan yang demikian cekatan sehingga mengejutkan tiga orang raksasa itu. Mereka bertiga pun berloncatan ke darat dan kini sikap Tok-sim Nio-cu berubah. Ia berdiri sambil bertolak pinggang menanti mereka bertiga mendarat dan kini ia menghadapi mereka dengan sikap angkuh.

“Po-yang Sam-liong, sekarang dengarlah baik-baik. Kalian telah berlancang tangan membunuh Thio Kee San! Oleh karena itu kalian harus mempertanggung-jawabkan perbuatan itu dan katakan kepadaku, mengapa kalian membunuhnya? Dengan alasan apa kalian membunuh orang she Thio itu?”

Melihat perubahan sikap ini, dan jelas kelihatan betapa wanita itu tidak menghormati mereka bahkan memandang rendah, si berewok Poa Seng marah sekali. “Haiii, nona! Ketahuilah bahwa kami sudah biasa memberi hadiah besar kepada orang yang menyenangkan hati kami, akan tetapi akan kami bunuh orang yang membikin kami marah! Kenapa sikapmu berubah-ubah dan engkau ternyata palsu? Awas, jangan membikin aku marah karena engkau tentu akan mengalami siksaan hebat!”

Tok-sim Nio-cu yang berniat untuk menundukkan tiga orang ini agar ia dapat merampas peta yang dikehendaki, menjebikan bibirnya yang merah dan yang tadi membalas ciuman si berewok dengan panas penuh gairah. “Huh, apa artinya srigala-srigala membentak seekor singa betina? Kalian yang mencari mampus kalau kalian berani berlagak di depanku!”

Tiga orang itu terkejut dan marah bukan main. “Seng-ko, serahkan saja perempuan ini padaku. Aku akan membekuknya dan kita perkosa dia lalu serahkan kepada anak buah agar ia dipermainkan sampai mati!”

Poa Teng yang ompong membentak, dan biarpun gigi ompongnya membuat kata-katanya tidak begitu jelas, namun cukup dimengerti oleh Nio-cu yang menghadapinya dengan mata bernyala. Tanpa menanti persetujuan kakaknya, Poa Teng sudah menubruk dengan mengembangkan kedua lengannya yang panjang dan kokoh kuat itu untuk memeluk Nio-cu, gerakannya seperti seekor biruang menyerang seekor kijang muda. Akan tetapi, tubrukan itu mengenai tempat kosong dan hampir tidak nampak olehnya ketika tubuh Nio-cu berkelebat amat cepat, meloloskan diri melalui, bawah lengan kanannya.

Poa Teng cepat membalik dan untung dia tidak terlambat karena saat itu, Nio-cu sudah membalas dengan tendangan kakinya yang cepat dan kuat. Poa Teng miringkan tu-buhnya dan lengannya yang panjang bergerak cepat ketika tangannya berusaha menangkap kaki yang menendangnya itu. Namun, kaki itu sudah ditarik kembali dan sebelum Poa Teng sempat menyerang lagi, tangan kiri Nio-cu sudah menyambar. Demikian cepatnya sambaran tangan itu sehingga tahu-tahu pipi kanan Poa Teng terkena tamparan keras.

“Plakkk!” Poa Teng terbatuk-batuk dan melangkah mundur, mukanya menjadi merah sekali. Giginya yang tinggal beberapa buah itu, kini copot lagi dua buah yang di kanan oleh tamparan tadi, dan sialnya, dua buah gigi itu copot dan meloncat ke dalam memasuki perutnya!

“Perempuan keparat, kubunuh kau!” bentaknya marah dan diapun menyerang kalang kabut, kedua lengannya yang panjang itu menyambar-nyambar dan jari-jari tangannya mencengkeram, kakinya yang panjang dan besar menendang-nendang.

Namun semua itu dapat dielakkan oleh Nio-cu dengan amat mudahnya karena memang ia memiliki tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi. Apa lagi wanita ini memang memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang sudah matang, membuat ia mampu bergerak seperti seekor burung walet saja. Kalau Tok-sim Nio-cu menghendaki, agaknya tidak sukar baginya untuk merobohkan lawannya, bahkan membunuhnya. Akan tetapi ia tidak bermaksud membunuh mereka sebelum peta itu berada di tangannya. Tiga orang ini merupakan jejak terakhir untuk menemukan peta setelah orang she Thio itu tewas.

“Plak-plakk!” Kini tubuh Poa Teng terpelanting dan terbanting keras oleh tamparan yang disusul tendangan itu. Sambil bergulingan, Poa Teng sudah mencabut senjatanya, yaitu seutas rantai baja yang tadi melibat pinggangnya. Dari mulutnya mengalir darah, yaitu dari bekas dua buah gigi yang copot tadi.

“Teng-te, tahan dulu!” Si berewok Poa Seng membentak dan dia melangkah maju menghadapi Tok-sim Nio-cu, mengamati wanita itu dengan penuh selidik. “Nona, bukankah engkau ini yang berjuluk Tok-sim Nio-cu?”

Wanita itu mengangguk dan bertolak pinggang. “Benar, akulah Tok-sim Nio-cu!”

Tiga orang laki-laki raksasa itu terkejut bukan main mendengar nama ini. Sudah lama mereka mendengar akan nama Tok-sim Nio-cu, seorang di antara para tokoh sesat yang terkenal lihai di Propinsi Kiang-si. “Ah, kiranya Tok-sim Nio-cu yang sudah lama kami dengar nama besarnya! Akan tetapi, sepanjang ingatan kami, kami Po-yang Sam-liong selamanya belum pernah bermusuhan denganmu! Kenapa hari ini engkau sengaja hendak menentang kami, Nio-cu?” kembali si berewok berkata, sikapnya jauh berbeda dari tadi, kini jelas agak jerih. Bukan hanya nama besar wanita itu yang membuatnya jerih, akan tetapi kenyataan betapa adiknya tadi sama sekali tidak berdaya menghadapi kelihaian Nio-cu.

“Po-yang Sam-liong, dengarlah baik-baik. Aku diutus oleh Beng-cu untuk menangkap Thio Kee San. Akan tetapi ternyata kalian telah lancang membunuhnya!”

“Beng-cu...? Kaumaksudkan... yang terhormat Siauw-bin Ciu-kwi?” Si berewok berkata dan jelas bahwa dia dan adik-adiknya kini merasa gentar sekali. Tentu saja mereka sudah mendengar akan nama besar datuk yang menguasai hampir seluruh dunia kang-ouw di Propinsi Kiang-si!

“Benar sekali!”

“Tapi... tapi... kami bertiga tidak pernah mengganggu beliau... kami tahu diri dan kami hanya melakukan pekerjaan kecil di Po-yang...”

“Hemm, kamipun tidak perduli akan pekerjaan kalian di sini. Akan tetapi kalian sudah lancang membunuh orang yang dikehendaki Beng-cu, itu berarti menentangnya! Untuk itu kalian harus bertanggung jawab. Nah, katakan terus terang, mengapa kalian membunuh Thio Kee San?”

Tiga orang raksasa itu saling pandang, dan si berewok Poa Seng berkata lantang, “Itu urusan kami, tidak ada sangkut-pautnya denganmu, Nio-cu. Kami tidak bermaksud menentangmu atau Beng-cu yang mulia. Dia kami bunuh karena urusan kami sendiri!”

Nio-cu mengerutkan alisnya. “Hemm, tidak perlu kau sembunyikan lagi. Kalian membunuhnya dan merampas sebuah peta kuno, bukan?”

Tiga orang itu kelihatan terkejut sekali. “Tidak, kami tidak merampas peta darinya!” kata Poa Seng.

Nio-cu kecewa sekali mendengar ini dan dia memandang wajah penuh berewok itu dengan tajam menyelidik. “Kalau bukan untuk merampas selembar peta, lalu mengapa kalian membunuhnya? Hayo jawab!”

“Nio-cu, bagaimanapun juga, kami bukanlah anak buahmu, bukan anak buah Beng-cu. Kami berhak hidup dan bekerja sendiri tanpa mengganggumu. Urusan kami dengan Thio Kee San adalah urusan kami sendiri dan tidak dapat kami ceritakan kepadamu.”

“Bagus! Kalau begitu, jelas kalian menantangku!”

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya pula si berewok yang memang sudah merasa jerih.

“Kalau kalian tidak mau berterus terang, terpaksa aku akan membunuh dua orang di antara kalian, dan menyeret yang seorang lagi ke depan Beng-cu!”

Tiga orang itu nampak jerih, akan tetapi Poa Seng merasa betapa kehormatan dia dan adik-adiknya diinjak-injak. Bagaimanapun juga, mereka bertiga merupakan kelompok yang paling berkuasa di Po-yang, ditakuti lawan disegani lawan. Karena merasa betapa mereka kuat dan berkuasa, maka biarpun mendengar akan munculnya Siauw-bin Ciu-kwi yang mengangkat diri menjadi Beng-cu, mereka tidak mau tunduk dan tidak merasa menjadi bawahan datuk itu walaupun tentu saja mereka tidak berani menentang dengan berterang.

Kini, muncul seorang pembantu Beng-cu itu, seorang wanita lagi dan mereka dipandang rendah sekali. Namun, dia juga bukan orang bodoh. Dia sudah mendengar banyak sekali tentang Beng-cu, seorang yang kabarnya memiliki kesaktian seperti dewa, dengan banyak pembantunya yang lihai. Menentang dengan berterang sama saja dengan mencari penyakit, bahkan dapat mati konyol.

“Nio-cu, engkau tahu bahwa selama ini kami sama sekali tidak berani dan tidak pernah menentang kekuasaan Beng-cu. Hanya kami menjauhkan diri dan bekerja sendiri di telaga ini. Sekarang, karena engkau memaksa kami untuk membuka rahasia kami sendiri yang tidak ada hubungannya denganmu, marilah kita berjanji begini saja. Kalau engkau seorang diri dapat memenangkan kami bertiga, maka kami akan menceritakan segalanya kepadamu, tanpa ada yang kami rahasiakan lagi tentang Thio Kee San itu. Akan tetapi kalau sebaliknya engkau tidak mampu menangkan kami bertiga, harap engkau tidak lagi mengganggu kami. Bagaimana?”

Nio-cu tahu bahwa sebetulnya tiga orang raksasa itu takut kepada Beng-cu. Akan tetapi karena ia hanya seorang diri, mereka melihat kesempatan untuk lolos, atau melakukan penentangan dengan aman. Kalau mereka kalah, mereka akan mengaku dan tidak akan terancam nyawa mereka. Dan kalau mereka menang, tentu mereka dapat berbuat apa saja, mungkin membunuhnya dan menghilangkan jejaknya. Beng-cu tidak akan mengetahuinya! Nio-cu tersenyum mendengar usul itu.

“Kalian masih berhuntung bertemu dengan aku. Kalau kalian berhadapan dengan Beng-cu sendiri atau pembantunya yang lain, tentu kalian akan mati konyol! Baiklah, aku menerima tantanganmu!” berkata demikian, Nio-cu yang maklum akan kelihaian tiga orang itu, meloncat ke belakang sambil mengeluarkan senjatanya, yaitu sebatang pedang di tangan kanan dan sebuah kipas di tangan kiri!

Melihat wanita cantik itu telah siap siaga dengan sepasang senjata di tangan, Po-yang Sam-liong juga tidak sungkan-sungkan lagi. Poa Seng yang berewok mengeluarkan senjatanya yang menyeramkan, yaitu sebatang golok besar yang lebar dan mengkilap tajam, dengan punggung golok berbentuk gigi gergaji. Poa Leng yang berkepala botak memegang sebatang tombak pendek, sedangkan si ompong Poa Teng memegang rantai bajanya. Mereka bertiga segera menggerakkan kaki mengepung wanita itu dari tiga jurusan, membentuk Sha-kak-tin (Barisan Segi Tiga), satu di depan, seorang di kanan dan seorang lagi di kiri.

Tok-sim Nio-cu yang cerdik maklum akan ketangguhan tiga orang lawannya, maka iapun tidak mau keduluan. “Lihat senjata!” bentaknya dan tubuhnya sudah berkelebat cepat sekali, pedang di tangan kanannya menyerang Poa Seng yang berada di depannya, kemudian kipasnya juga menyambar dengan tertutup dan gagangnya menotok ke arah dada Poa Leng di sebelah kirinya.

Dua orang itu cepat mengelak sambil menangkis dan pada saat itu, Poa Teng yang tadi berada di sebelah kanan Nio-cu sudah memutar rantai bajanya dan senjata itu menyambar ke arah kepala wanita itu. Akan tetapi Nio-cu sudah memperhitungkan bahwa kalau ia menyerang dua orang lawannya, tentu seorang pengeroyok yang tidak diserangnya akan menyerang.

Cepat ia membalik ke kanan dan pedangnya meluncur ke arah perut Poa Teng sambil merendahkan tubuh menekuk lutut. Poa Teng terkejut bukan main. Rantainya menyambar lewat di atas kepala lawan dan tahu-tahu pedang wanita itu sudah menyelonong ke arah perutnya!

“Uhhh...!” Dia berseru kaget dan melempar tubuh ke belakang. Untung ada dua orang saudaranya yang cepat menyerang Nio-cu sehingga wanita ini tidak dapat mendesak Poa Teng yang terhuyung ke belakang ketika melempar tubuh ke belakang itu. Nio-cu sudah memutar pedangnya, menangkis dua senjata lawan yang menyerangnya, kemudian begitu tangan kirinya mengebut, sinar-sinar lembut menyambar ke arah Poa Seng dan Poa Leng...!

Sepasang Naga Penakluk Iblis Jilid 23

PENGAKUAN terakhir dari hwesio itu membuat Siauw-bin Ciu-kwi tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, sungguh manjur sekali cara memaksa orang mengaku dengan air menetes itu, ha-ha-ha!”

Kemudian suara ketawanya berhenti dan dia mengerutkan alisnya, memandang kepada para pembantunya, “Dermawan Thio? Siapakah itu? Cin Si, kuserahkan tugas ini kepadamu! Carilah orang yang disebut dermawan Thio itu sampai dapat!”

Tok-sim Nio-cu tersenyum manis. “Jangan khawatir, Beng-cu. Kau serahkan urusan ini kepadaku dan tentu beres! Kalau memang benar ada orang yang dimaksudkan itu, tentu akan segera dapat kutemukan!”

Pertemuan itu berakhir dengan masuknya Siauw-bin Ciu-kwi ke dalam kamarnya sendiri, ditemani oleh enam orang dayangnya dan malam itu Tok-sim Nio-cu Lui Cin Si meninggalkan sarang itu untuk melaksanakan tugas vang diberikan kepadanya.

Mayat hwesio itu dikubur tanpa upacara oleh anak buah Siauw-bin Ciu-kwi dan tak seorangpun di antara penduduk di sekitar daerah itu yang mengetahui apa yang terjadi dengan kepala kuil yang biasanya hidup tenteram dan damai itu dan ke mana dia menghilang. Para hwesio lainnya dalam kuil itupun hanya dapat bercerita bahwa kepala kuil itu diculik empat orang yang tidak mereka kenal!

********************

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis jilid 23 karya kho ping hoo

Bintangnya memang sedang terang cemarlang! Dengan lenggang yang ringan dan hati penuh kegembiraan, Thio Kee San meninggalkan rumah judi itu dan pergi menuju ke Rumah Merah, yaitu sebuah rumah pelesir di sudut kota Nan-cang. Senja telah mendatang dan dia tidak mau terlambat. Dia harus tiba di rumah pelesir itu sebelum Bi Hwa, bunga Rumah Merah itu dipesan laki-laki lain! Baru saja dia meninggalkan rumah judi dengan kemenangan yang cukup banyak di dalam saku bajunya. Bi Hwa tentu akan girang bukan main!

Thio Kee San adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun. Hidupnya membujang dan dia memiliki sebuah perahu pelesir di Telaga Po-yang di mana dia menyewakan perahu dan memperoleh nafkahnya dari pekerjaan itu. Hasil pekerjaannya itu cukup memadai, bahkan lebih dari cukup untuk keperluan hidupnya yang hanya membujang. Bahkan kelebihannya dapat dia pakai untuk memuaskan kesenangannya, yaitu berjudi dan bersenang-senang dengan wanita pelacur di Rumah Merah!

Baru beberapa bulan ini, dia akrab sekali dengan Bi Hwa, bunga Rumah Merah. Hubungan mereka bukan sekedar hubungan seorang pelacur dan langganannya. Sama sekali bukan. Lebih mendalam dari pada sekedar pelesir. Agaknya ada perasaan kasih sayang di antara mereka dan bagi Bi Hwa.

Thio Kee San adalah seorang pria yang amat mencintanya, yang memberikan apa saja kepadanya! Dan memang Kee San seorang bujangan yang tak pernah menyimpan uang. Kalau ada kelebihan uangnya, dia hamburkan dan berikan kepada siapa saja yang disukanya. Bahkan sering sekali dia mendermakan uangnya kepada kuil yang dipimpin oleh Loan Khi Hwesio, kuil di dekat Telaga Po-yang di mana dia pernah memperoleh pertolongan.

Ketika dia menderita penyakit payah dan semua temannya sudah mengira bahwa dia tentu akan mati karena segala macam obat tidak ada yang dapat menyembuhkannya, kuil itulah yang menolongnya. Dia minta obat ke kuil itu dan menerima semacam obat sederhana yang kemudian ternyata mampu menyembuhkannya!

Karena itu, setiap kali dia mempunyai kelebihan uang, kalau tidak dipakai untuk bersenang-senang, tentu akan didermakan kepada Loan Khi Hwesio. Karena perbuatan inilah, maka Loan Ki Hwesio dan para hwesio di kuil itu menganggapnya sebagai orang yang amat budiman, dan menyebut dia “Dermawan Thio”!

Tentu saja hati Kee San pada sore hari itu gembira bukan main. Sudah beberapa hari dia tidak mengunjungi Bi Hwa yang menjadi kekasihnya. Bukan karena Bi Hwa enggan menerimanya kalau dia tidak membawa uang, sama sekali tidak. Akan tetapi dia sendiri yang merasa malu. Beberapa hari ini dia memang tidak memiliki uang dan nasibnya baru sial, kalah melulu dalam perjudian.

Dia malu kalau harus berkunjung ke Rumah Merah tanpa uang yang cukup di sakunya. Malu karena tidak akan dapat mengajak Bi Hwa berpesta, malu pula kepada Bibi Ciang yang mengurus Rumah Merah itu, biarpun Bi Hwa tidak akan segan-segan dan tidak akan merasa sayang untuk mengeluarkan uangnya sendiri untuk mereka berdua.

Dan hari ini dia menang cukup banyak! Dapat dia pergunakan untuk bersenang-senang dengan Bi Hwa yang sudah amat dirindukannya. Bukan uang kemenangan yang cukup banyak itu saja yang akan dihamburkan bersama Bi Hwa dan sisanya akan diberikan kepada Bi Hwa semua, akan tetapi di samping itu ada sebuah benda lain yang akan dia berikan kepada kekasihnya itu.

Seperti yang sudah dibayangkannya, Bi Hwa menyambut kedatangannya dengan gembira sekali. Biarpun dia belum memberitahu akan kemenangannya, wanita itu sudah menyambutnya dengan wajah cerah, dengan senyum manis, pandang mata penuh kasih, dan dengan rangkulan dan cumbuan yang menyatakan betapa rindunya wanita itu kepadanya. Sikap ini saja sudah mengayun perasaan Kee San ke sorgaloka, karena baginya sikap ini menunjukkan bahwa wanita pelacur itu sungguh-sungguh mencinta dirinya, bukan sekedar mengharapkan uangnya!

Kegembiraan Bi Hwa bertambah ketika kekasihnya itu menceritakan tentang kemenangannya yang cukup banyak di meja judi. Mereka lalu berpesta, menghadapi hidangan yang lezat dan anggur yang sedap. Dan malam itu mereka saling melepas rindu, dan Bi Hwa berhasil membuat Kee San berjanji bahwa pria itu akan mengumpulkan uang agar dapat menebus diri kekasihnya dari Bibi Ciang sehingga mereka dapat menjadi suami isteri yang sah.

“Koko, percayalah bahwa hatiku selalu tersiksa setiap kali ada pria meniduriku dan aku teringat kepadamu. Aku benci pekerjaan ini setelah aku bertemu denganmu, koko. Aku ingin menjadi isterimu, ingin menjadi... ibu anak-anakmu...”

Kee San merasa terharu. Sampai berusia empat puluh tahun, dia sendiri tidak pernah memikirkan berumah tangga, akan tetapi kini wanita ini, biar hanya seorang pelacur, namun sungguh amat menarik hatinya dan dia akan merasa berbahagia kalau dapat hidup bersama Bi Hwa selamanya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka sudah bangun dari tidur dan mereka bercakap-cakap. Agaknya berat bagi Bi Hwa untuk melepas kekasihnya pergi, dan berat pula bagi Kee San untuk meninggalkan kekasihnya. Akan tetapi, dia harus pergi, harus ke telaga untuk mencari nafkah karena hari itu kabarnya banyak pengunjung datang berpesiar ke telaga. Dia mengeluarkan seluruh isi kantungnya dan diberikannya semua sisa uangnya kepada Bi Hwa. Wanita ini menjadi terharu.

“Koko, semua uang pemberianmu kusimpan dan kutabung agar kelak dapat kita pergunakan untuk menebus diriku. Harap engkau jangan lagi bermain judi, koko. Hari ini engkau menang akan tetapi hari esok berturut-turut engkau akan kalah. Demikianlah perjudian, sekali menang lima kali kalah. Engkau kumpulkan uang agar cepat dapat membebaskan diriku, koko.”

Kee San mengangguk-angguk, membenarkan ucapan kekasihnya. “Baik, Bi Hwa, mulai hari ini aku akan rajin mencari uang dan menyerahkannya kepadamu agar cepat terkumpul jumlah untuk menebus dirimu. Ah, benar, aku masih mempunyai sebuah benda yang amat berharga. Biar engkau saja yang menyimpan benda itu.”

“Benda berharga apakah itu, koko?” tanya Bi Hwa sambil memandang penuh perhatian ketika kekasihnya mengeluarkan sebuah gulungan kain kuning dari saku bajunya.

“Isi gulungan kain ini adalah sebuah potongan peta kuno yang kuterima dari Loan Khi Hwesio, kepala kuil di dekat telaga sana. Karena terima kasihnya kepadaku yang sudah banyak memberi derma kepada kuil, maka dia menyerahkan peta ini kepadaku.”

“Peta kuno? Untuk apa, koko? Mengapa pula amat berharga?”

“Aku sendiri tidak tahu peta apa, akan tetapi menurut Loan Khi Hwesio, banyak sekali orang memperebutkan peta ini. Kalau mereka tahu bahwa peta ini ada padaku, mereka akan berebut untuk membelinya dariku dan harganya cukup untuk menebus kebebasan dirimu!”

Mata yang indah itu terbelalak. “Sepuluh tail emas?”

“Ya, bahkan lebih dari itu! Peta ini merupakan rahasia tempat persembunyian harta karun dan ini merupakan setengah dari peta yang lengkap. Yang setengah lagi entah berada di tangan siapa. Demikian kata Loan Khi Hwesio, aku sendiri belum pernah membukanya.”

“Kenapa dia memberikan kepadamu dan tidak menjualnya saja sendiri?”

Kee San tersenyum dan merangkul kekasihnya. “Loan Khi Hwesio adalah seorang pendeta, bukan seorang pedagang. Dia menyerahkannya kepadaku, tentu merasa yakin bahwa aku akan menyerahkan sebagian hasil penjualannya untuk kuil.”

“Lalu bagaimana engkau akan menjualnya?”

“Kalau ada yang mencarinya, akan kutemui orangnya dan kutawarkan... dan kita akan memiliki modal untuk berdagang, setelah kau kutebus dari Bibi Ciang. Nah, kau simpan ini baik-baik, Bi Hwa dan jangan beritahukan kepada siapapun juga tentang peta kuno ini.”

Bi Hwa menerima gulungan kain itu dan menyimpannya di tempat yang aman. Dengan penuh harapan Bi Hwa menyongsong hari baik itu, yaitu hari di mana ia dibebaskan sebagai pelacur, menjadi isteri Kee San dan mereka memulai hidup baru, dengan memiliki uang modal hasil penjualan peta kuno dan hidup berbahagia!

Sementara itu, dengan hati penuh kegembiraan karena kenangan yang amat manis dari Bi Hwa masih melekat di hati dan masih terasa di badan, Kee San menuju ke Telaga Po-yang untuk bekerja menyewakan perahunya kepada para pelancong. Seperti juga Bi Hwa, harinya penuh harapan masa depan yang amat cerah, memiliki modal berdagang, dan wanita yang dicintanya setiap hari siang malam menemaninya!

Bi Hwa akan menjadi miliknya sendiri, tidak perlu lagi dia harus membagi kekasihnya itu dengan pria-pria lain yang berani membeli, atau menyewa diri Bi Hwa seperti sekarang ini. Ingatan ini selalu menghantuinya, selalu mengganggu perasaannya. Setiap kali perahunya disewa orang, dia pasti teringat kepada Bi Hwa, yang seperti juga perahunya, dapat dipakai siapa saja yang sanggup membayar dan menyewanya!

Benar seperti telah didengarnya, hari itu telaga yang indah, Telaga Po-yang didatangi banyak tamu. Kee San tidak perlu menanti lama. Perahunya adalah sebuah di antara perahu-perahu terindah di telaga itu, dengan bentuk yang kokoh, tempat duduk yang bersih dan dicat baru, dengan layar yang belum ada tambalannya lagi.

Di antara para tamu yang memenuhi bandar di tepi telaga, terdapat pula seorang wanita cantik yang pakaiannya indah. Wajahnya yang manis itu dirias sehingga nampak semakin cerah, senyumnya memikat dan sepasang matanya memiliki kerling yang tajam sehingga tidak ada pria yang bertemu dengan wanita ini yang tidak memandang dengan penuh pesona dan beberapa kali menengok. Wanita berusia tigapuluh tahun dan yang memiliki daya tarik kuat ini bukan lain adalah Lui Cin Si atau Tok-sim Nio-cu (Nona Berhati Racun)!

Tidak sukar bagi wanita yang berpengalaman ini untuk mencari dermawan Thio! Ia menerima tugas dari Siauw-bin Ciu-kwi dan langsung saja ia pergi ke kuil di mana mendiang Loan Khi Hwesio menjadi ketuanya. Untung bahwa ketika anak buah Beng-cu menculik Loa Khi Hwesio dari kuil ini dan melukai lima orang hwesio di situ, ia tidak ikut sehingga para hwesio itu tidak mengenalnya.

Ia beraksi sebagai seorang ibu rumah tangga yang bersembahyang mohon berkah di kuil itu, dan dengan royal ia memberi uang sumbangan kepada hwesio penjaga yang masih kelihatan pucat karena luka pukulan yang dideritanya belum sembuh benar. Tentu saja hwesio itu merasa girang dan mendoakan kepada Lui Cin Si agar semua permintaannya dalam sembahyangan itu akan terkabul.

Kesempatan inilah yang dipergunakan oleh Tok-sim Nio-cu Lui Cin Si untuk bertanya di mana tempat tinggal dermawan Thio yang pernah didengarnya sebagai seorang yang berbudi dan suka menderma kepada kuil. Hwesio yang sama sekali tidak menduga buruk itu menerangkan bahwa dermawan Thio bernama Thio Kee San, pemilik perahu yang suka menyewakan perahu di Telaga Po-yang.

Begitu mendengar keterangan ini, Tok-sim Nio-cu bergegas pergi meninggalkan kuil dan langsung saja ia pergi ke Telaga Po-yang dan pada pagi hari itu iapun berada di antara banyak pelacong yang memenuhi bandar Telaga Po-yang. Di tempat ini, tidak sukar pula baginya untuk memperoleh keterangan tentang Thio Kee San. Akan tetapi karena perahu milik Kee San telah disewa orang, terpaksa ia menyewa sebuah perahu lain, sebuah perahu kecil yang didayung sendiri ke tengah telaga. Karena sudah memperoleh keterangan yang cukup jelas tentang bentuk, warna cat dan warna layar dari perahu milik Kee San, maka iapun mulai mencari perahu yang dimaksudkan itu.

Akhirnya, setelah bersusah payah mendayung perahu menyusup di antara banyak perahu di telaga, ia melihat warna perahu dan layar milik Kee San itu berada di ujung telaga yang sunyi. Tidak ada perahu lain di sana, hanya sebuah perahu itu, maka dengan cepat didayungnya perahu kecilnya itu mengejar ke sana.

Kebetulan, pikirnya, di tempat yang sepi itu ia segera dapat bertindak, tanpa diketahui orang lain, kecuali tentu saja mereka yang menyewa perahu Kee San itu. Akan tetapi itu merupakan persoalan yang mudah saja. Apa artinya beberapa orang melihat ia menculik Kee San? Kalau perlu, bunuh saja mereka dan habis perkara! Soal bunuh membunuh ini merupakan makanan sehari-hari bagi seorang tokoh, sesat seperti Tok-sim Nio-cu!

Akan tetapi, alangkah terkejut rasa hati tokoh sesat ini ketika perahunya sudah mendekati perahu besar milik Kee San, ia melihat seorang laki-laki dihajar oleh tiga orang laki-laki yang tinggi besar seperti raksasa! Laki-laki itu dijadikan bulan-bulan pukulan dan tendangan mereka dan dari jauh Tok-sim Nio-cu melihat betapa laki-laki yang dipukuli itu sama sekali bukan lawan mereka, dan agaknya tiga orang tinggi besar itu memaki-maki sedangkan yang dipukuli menjerit-jerit kesakitan!

Tok-sim Nio-cu tidak tahu siapa mereka, akan tetapi melihat sikap tiga orang laki-laki tinggi besar itu, dengan mudah ia mengetahui bahwa mereka adalah ahli-ahli silat yang pandai. Oleh karena itu, tidak sukar baginya untuk menduga bahwa yang dipukuli itu tentulah orang yang dicarinya, yaitu Thio Kee San!

Wanita perkasa itu mengerahkan tenaganya dan perahu kecilnya meluncur dengan amat cepatnya. Ketika tiba di dekat perahu besar, sekali menggerakkan tubuhnya, ia telah meloncat ke atas perahu besar. Akan tetapi, bukan main marahnya hati Tok-sim Nio-cu ketika melihat bahwa laki-laki yang dipukuli itu telah tewas.

Ia memandang kepada tiga orang laki-laki tinggi besar seperti raksasa itu yang juga memandang kepadanya dengan terkejut dan heran. Siapa yang tidak heran melihat betapa tiba-tiba saja muncul seorang wanita cantik di perahu itu, muncul seperti setan saja?

Melihat tiga orang laki-laki yang berwajah bengis dan bertubuh raksasa ini, Tok-sim Nio-cu mengerutkan alisnya. Ia sudah pernah mendengar tentang mereka ini walaupun belum pernah saling jumpa.

“Hemm, kiranya Po-yang Sam-liong (Tiga Naga dari Po-yang) yang berada di sini!” katanya dengan nada suara mengejek, senyumnya manis namun mengandung pandang mata merendahkan.

Tiga orang tinggi besar itu memang menyeramkan. Tubuh mereka hampir satu setengah, kali tubuh laki-laki normal dan tubuh itu kokoh kekar penuh otot-otot menggelembung. Mereka kini saling pandang, merasa heran betapa wanita cantik ini telah mengenal mereka.

“Heh-heh, Leng-te (adik Leng), apakah diam-diam engkau mempunyai simpanan wanita begini cantiknya dan kini ia menyusul ke sini?” berkata seorang di antara mereka yang berewok. Dia adalah Poa Seng, orang tertua di antara tiga bersaudara yang dijuluki Po-yang Sam-liong itu.

Poa Leng yang berkepala botak itu menggaruk botaknya sambil menyeringai, “Uwah, sayang aku tidak kenal dengannya. Mungkin Teng-te yang diam-diam mempunyai peliharaan yang cantik ini?”

Poa Teng yang mulutnya ompong tertawa, akan tetapi segera menutupi mulutnya yang ompong agar tidak kelihatan oleh wanita cantik itu. “Tidak, akupun tidak kenal dengannya. Sayang sekali! Akan tetapi sekarang kita berkesempatan untuk mengenalnya, bukan?”

Dua orang kakaknya tertawa dan si berewok Poa Seng yang menjadi orang tertua, memandang kepada wanita itu dengan penuh selidik.

“Nona cantik, siapakah engkau yang telah mengenal kami? Dan mau apa engkau datang ke sini?”

Tiga orang ini tidak begitu heran bahwa wanita ini mengenal mereka. Mereka adalah tiga orang tokoh yang seolah-olah menguasai Telaga Po-yang. Semua pedagang dan pemilik perahu setiap bulan membayar “pajak” kepada mereka melalui kaki tangan mereka. Walaupun mereka sendiri jarang turun tangan ke lapangan, hanya mengutus anak buah, namun nama mereka dikenal semua orang di daerah telaga itu.

Yang membuat mereka heran adalah bahwa wanita cantik itu seorang diri berani menemui mereka dengan cara yang cukup mengejutkan, yaitu meloncat dari perahu kecil ke atas perahu besar, membuktikan bahwa wanita ini memiliki kepandaian. Anehnya, mereka bertiga belum pernah mengenalnya!

“Aku datang untuk mencari Thio Kee San!” jawab Tok-sim Nio-cu sambil lalu dan memandang kepada tubuh laki-laki yang menggeletak tak bernyawa lagi di atas papan perahu. Ia tidak memperkenalkan diri, seolah merasa terlalu tinggi untuk memperkenalkan nama besarnya kepada orang-orang rendahan!

Kembali tiga orang raksasa itu saling pandang dan si berewok tertawa bergelak. “Mencari Thio Kee San? Nah, itu dia orangnya!”

Biarpun tadinya sudah menduga bahwa tentu orang yang disiksa itu Thio Kee San yang dicarinya, ketika mendengar hal ini Tok-sim Nio-cu terkejut dan marah sekali. Celaka, tugasnya menjadi kacau karena ulah tiga orang ini. Akan tetapi, tiga orang ini adalah tokoh-tokoh besar Telaga Po-yang, tentu mereka membunuh Thio Kee San bukan tanpa alasan! Jangan-jangan merekapun menghendaki peta kuno itu dari tangan Thio Kee San, dan siapa tahu mereka telah merampas peta itu! Dengan sinar mata mencorong, ia menghadapi tiga orang raksasa itu.

“Kalian berani membunuh orang yang sedang kubutuhkan?”

Mendengar ucapan itu, si botak tertawa. “Ha-ha-ha, dia sudah mati, nona! Akan tetapi jangan khawatir, masih ada kami bertiga yang kiranya lebih dari cukup untuk menemanimu sepuasmu. Betul tidak, Seng-ko dan Teng-te?”

Dua orang itu tertawa membenarkan. Tok-sim Nio-cu sudah marah sekali. Ingin rasanya sekali serang ia membunuh mereka itu. Akan tetapi ia adalah seorang wanita yang amat cerdik. Tidak, ia harus menahan kemarahannya. Tidak boleh ia membunuh mereka. Pertama, mereka itu masih amat berguna baginya apalagi setelah Thio Kee San tewas. Tentu rahasia itu telah berpindah tangan, ke tangan mereka!

Ia harus dapat menyelidiki hal ini dan kalau benar peta itu telah berada di tangan mereka, ia harus merampasnya dari mereka. Dan menyerang mereka di perahu ini, sungguh tidak baik. Mereka terkenal sebagai tiga orang tokoh telaga, sedikit banyak mereka tentu pandai berenang, jauh lebih pandai dari ia sendiri yang hampir tidak pandai renang.

Kalau berkelahi di situ dan mereka itu menggulingkan perahu, ia akan celaka! Ia harus memancing mereka mendarat, baru ia merasa aman untuk bertanding melawan mereka. Pula ia tidak boleh membunuh mereka, setidaknya seorang di antara mereka harus dibiarkan hidup sebelum peta itu dapat ia temukan. Dengan menekan kemarahannya, Tok-sim Nio-cu kini tersenyum. Manis sekali.

“Hemm, aku tertarik kepada orang she Thio ini karena dia menjanjikan banyak uang kepadaku. Dia sudah berjanji akan menanti di bandar, akan tetapi meninggalkan aku, maka aku menyusulnya. Sekarang, dia sudah mampus, kalau kalian bertiga sejantan dia dan juga seroyal dia, tentu saja akupun lebih menyukai yang hidup dari pada yang mati.” Ia memainkan bibirnya dengan pandai sekali sehingga ketika bicara, mulutnya seperti menantang penuh gairah.

Tiga orang raksasa itu tentu saja menjadi gembira sekali. Si berewok langsung saja menggunakan lengannya yang besar dan panjang untuk merangkul pinggaug Tok-sim Nio-cu dan mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu mencium bibir itu dengan kasar! Tok-sim Nio-cu membalas ciuman itu penuh gairah dan memang ia adalah seorang wanita yang sudah berpengalaman. Walaupun hatinya merasa mendongkol sekali, namun ia dapat memperlihatkan sikap yang memikat. Ia meronta manja.

“Lepaskan...! Lepaskan aku, aku tidak mau kalau di sini... lepaskan...!”

Sambil tertawa, si berewok yang sudah mulai panas itu melepaskan wanita yang meronta manja. “Kenapa, manis? Bukankah engkau juga suka?”

“Tentu saja aku suka, akan tetapi tidak di sini. Aku... aku ngeri dan suka mabuk air. Pula, dengan adanya mayat itu, bagaimana mungkin hatiku bisa tenteram? Marilah kita ke darat dan di sana baru kita benar-benar dapat menikmati kesenangan. Asalkan kalian benar jantan dan royal seperti orang she Thio itu!” Berkata demikian, Tok-sim Nio-cu mengerling dengan sikap menantang.

Tiga orang bersaudara itu girang sekali. “Mari kita ke darat,” kata si berewok kepada dua orang adiknya. “Kita tinggalkan saja mayat itu di sini. Takkan ada yang menyangka kita yang melakukan.”

“Andaikata ada yang menyangkapun, perduli apa?” kata si botak.

“Benar,” kata yang ompong. “Kita katakan saja bahwa dia tidak membayar pajak dan melawan kita, lalu terpaksa kita membunuhnya!”

“Mari kita cepat pergi, kita pergunakan perahuku!” kata Tok-sim Nio-cu kepada mereka.

Mereka berempat lalu berloncatan ke atas perahu kecil itu dan melihat cara mereka meloncat dan tiba di perahu tanpa menimbulkan banyak guncangan mengertilah Tok-sim Nio-cu bahwa tiga orang ini memang lihai dan tidak boleh dipandang rendah. Nio-cu mendayung perahunya dengan cepat, menuju ke pantai yang sepi, pantai yang merupakan sebuah hutan kecil.

Setelah tiba di darat, iapun meloncat ke atas daratan dengan gerakan yang demikian cekatan sehingga mengejutkan tiga orang raksasa itu. Mereka bertiga pun berloncatan ke darat dan kini sikap Tok-sim Nio-cu berubah. Ia berdiri sambil bertolak pinggang menanti mereka bertiga mendarat dan kini ia menghadapi mereka dengan sikap angkuh.

“Po-yang Sam-liong, sekarang dengarlah baik-baik. Kalian telah berlancang tangan membunuh Thio Kee San! Oleh karena itu kalian harus mempertanggung-jawabkan perbuatan itu dan katakan kepadaku, mengapa kalian membunuhnya? Dengan alasan apa kalian membunuh orang she Thio itu?”

Melihat perubahan sikap ini, dan jelas kelihatan betapa wanita itu tidak menghormati mereka bahkan memandang rendah, si berewok Poa Seng marah sekali. “Haiii, nona! Ketahuilah bahwa kami sudah biasa memberi hadiah besar kepada orang yang menyenangkan hati kami, akan tetapi akan kami bunuh orang yang membikin kami marah! Kenapa sikapmu berubah-ubah dan engkau ternyata palsu? Awas, jangan membikin aku marah karena engkau tentu akan mengalami siksaan hebat!”

Tok-sim Nio-cu yang berniat untuk menundukkan tiga orang ini agar ia dapat merampas peta yang dikehendaki, menjebikan bibirnya yang merah dan yang tadi membalas ciuman si berewok dengan panas penuh gairah. “Huh, apa artinya srigala-srigala membentak seekor singa betina? Kalian yang mencari mampus kalau kalian berani berlagak di depanku!”

Tiga orang itu terkejut dan marah bukan main. “Seng-ko, serahkan saja perempuan ini padaku. Aku akan membekuknya dan kita perkosa dia lalu serahkan kepada anak buah agar ia dipermainkan sampai mati!”

Poa Teng yang ompong membentak, dan biarpun gigi ompongnya membuat kata-katanya tidak begitu jelas, namun cukup dimengerti oleh Nio-cu yang menghadapinya dengan mata bernyala. Tanpa menanti persetujuan kakaknya, Poa Teng sudah menubruk dengan mengembangkan kedua lengannya yang panjang dan kokoh kuat itu untuk memeluk Nio-cu, gerakannya seperti seekor biruang menyerang seekor kijang muda. Akan tetapi, tubrukan itu mengenai tempat kosong dan hampir tidak nampak olehnya ketika tubuh Nio-cu berkelebat amat cepat, meloloskan diri melalui, bawah lengan kanannya.

Poa Teng cepat membalik dan untung dia tidak terlambat karena saat itu, Nio-cu sudah membalas dengan tendangan kakinya yang cepat dan kuat. Poa Teng miringkan tu-buhnya dan lengannya yang panjang bergerak cepat ketika tangannya berusaha menangkap kaki yang menendangnya itu. Namun, kaki itu sudah ditarik kembali dan sebelum Poa Teng sempat menyerang lagi, tangan kiri Nio-cu sudah menyambar. Demikian cepatnya sambaran tangan itu sehingga tahu-tahu pipi kanan Poa Teng terkena tamparan keras.

“Plakkk!” Poa Teng terbatuk-batuk dan melangkah mundur, mukanya menjadi merah sekali. Giginya yang tinggal beberapa buah itu, kini copot lagi dua buah yang di kanan oleh tamparan tadi, dan sialnya, dua buah gigi itu copot dan meloncat ke dalam memasuki perutnya!

“Perempuan keparat, kubunuh kau!” bentaknya marah dan diapun menyerang kalang kabut, kedua lengannya yang panjang itu menyambar-nyambar dan jari-jari tangannya mencengkeram, kakinya yang panjang dan besar menendang-nendang.

Namun semua itu dapat dielakkan oleh Nio-cu dengan amat mudahnya karena memang ia memiliki tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi. Apa lagi wanita ini memang memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang sudah matang, membuat ia mampu bergerak seperti seekor burung walet saja. Kalau Tok-sim Nio-cu menghendaki, agaknya tidak sukar baginya untuk merobohkan lawannya, bahkan membunuhnya. Akan tetapi ia tidak bermaksud membunuh mereka sebelum peta itu berada di tangannya. Tiga orang ini merupakan jejak terakhir untuk menemukan peta setelah orang she Thio itu tewas.

“Plak-plakk!” Kini tubuh Poa Teng terpelanting dan terbanting keras oleh tamparan yang disusul tendangan itu. Sambil bergulingan, Poa Teng sudah mencabut senjatanya, yaitu seutas rantai baja yang tadi melibat pinggangnya. Dari mulutnya mengalir darah, yaitu dari bekas dua buah gigi yang copot tadi.

“Teng-te, tahan dulu!” Si berewok Poa Seng membentak dan dia melangkah maju menghadapi Tok-sim Nio-cu, mengamati wanita itu dengan penuh selidik. “Nona, bukankah engkau ini yang berjuluk Tok-sim Nio-cu?”

Wanita itu mengangguk dan bertolak pinggang. “Benar, akulah Tok-sim Nio-cu!”

Tiga orang laki-laki raksasa itu terkejut bukan main mendengar nama ini. Sudah lama mereka mendengar akan nama Tok-sim Nio-cu, seorang di antara para tokoh sesat yang terkenal lihai di Propinsi Kiang-si. “Ah, kiranya Tok-sim Nio-cu yang sudah lama kami dengar nama besarnya! Akan tetapi, sepanjang ingatan kami, kami Po-yang Sam-liong selamanya belum pernah bermusuhan denganmu! Kenapa hari ini engkau sengaja hendak menentang kami, Nio-cu?” kembali si berewok berkata, sikapnya jauh berbeda dari tadi, kini jelas agak jerih. Bukan hanya nama besar wanita itu yang membuatnya jerih, akan tetapi kenyataan betapa adiknya tadi sama sekali tidak berdaya menghadapi kelihaian Nio-cu.

“Po-yang Sam-liong, dengarlah baik-baik. Aku diutus oleh Beng-cu untuk menangkap Thio Kee San. Akan tetapi ternyata kalian telah lancang membunuhnya!”

“Beng-cu...? Kaumaksudkan... yang terhormat Siauw-bin Ciu-kwi?” Si berewok berkata dan jelas bahwa dia dan adik-adiknya kini merasa gentar sekali. Tentu saja mereka sudah mendengar akan nama besar datuk yang menguasai hampir seluruh dunia kang-ouw di Propinsi Kiang-si!

“Benar sekali!”

“Tapi... tapi... kami bertiga tidak pernah mengganggu beliau... kami tahu diri dan kami hanya melakukan pekerjaan kecil di Po-yang...”

“Hemm, kamipun tidak perduli akan pekerjaan kalian di sini. Akan tetapi kalian sudah lancang membunuh orang yang dikehendaki Beng-cu, itu berarti menentangnya! Untuk itu kalian harus bertanggung jawab. Nah, katakan terus terang, mengapa kalian membunuh Thio Kee San?”

Tiga orang raksasa itu saling pandang, dan si berewok Poa Seng berkata lantang, “Itu urusan kami, tidak ada sangkut-pautnya denganmu, Nio-cu. Kami tidak bermaksud menentangmu atau Beng-cu yang mulia. Dia kami bunuh karena urusan kami sendiri!”

Nio-cu mengerutkan alisnya. “Hemm, tidak perlu kau sembunyikan lagi. Kalian membunuhnya dan merampas sebuah peta kuno, bukan?”

Tiga orang itu kelihatan terkejut sekali. “Tidak, kami tidak merampas peta darinya!” kata Poa Seng.

Nio-cu kecewa sekali mendengar ini dan dia memandang wajah penuh berewok itu dengan tajam menyelidik. “Kalau bukan untuk merampas selembar peta, lalu mengapa kalian membunuhnya? Hayo jawab!”

“Nio-cu, bagaimanapun juga, kami bukanlah anak buahmu, bukan anak buah Beng-cu. Kami berhak hidup dan bekerja sendiri tanpa mengganggumu. Urusan kami dengan Thio Kee San adalah urusan kami sendiri dan tidak dapat kami ceritakan kepadamu.”

“Bagus! Kalau begitu, jelas kalian menantangku!”

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya pula si berewok yang memang sudah merasa jerih.

“Kalau kalian tidak mau berterus terang, terpaksa aku akan membunuh dua orang di antara kalian, dan menyeret yang seorang lagi ke depan Beng-cu!”

Tiga orang itu nampak jerih, akan tetapi Poa Seng merasa betapa kehormatan dia dan adik-adiknya diinjak-injak. Bagaimanapun juga, mereka bertiga merupakan kelompok yang paling berkuasa di Po-yang, ditakuti lawan disegani lawan. Karena merasa betapa mereka kuat dan berkuasa, maka biarpun mendengar akan munculnya Siauw-bin Ciu-kwi yang mengangkat diri menjadi Beng-cu, mereka tidak mau tunduk dan tidak merasa menjadi bawahan datuk itu walaupun tentu saja mereka tidak berani menentang dengan berterang.

Kini, muncul seorang pembantu Beng-cu itu, seorang wanita lagi dan mereka dipandang rendah sekali. Namun, dia juga bukan orang bodoh. Dia sudah mendengar banyak sekali tentang Beng-cu, seorang yang kabarnya memiliki kesaktian seperti dewa, dengan banyak pembantunya yang lihai. Menentang dengan berterang sama saja dengan mencari penyakit, bahkan dapat mati konyol.

“Nio-cu, engkau tahu bahwa selama ini kami sama sekali tidak berani dan tidak pernah menentang kekuasaan Beng-cu. Hanya kami menjauhkan diri dan bekerja sendiri di telaga ini. Sekarang, karena engkau memaksa kami untuk membuka rahasia kami sendiri yang tidak ada hubungannya denganmu, marilah kita berjanji begini saja. Kalau engkau seorang diri dapat memenangkan kami bertiga, maka kami akan menceritakan segalanya kepadamu, tanpa ada yang kami rahasiakan lagi tentang Thio Kee San itu. Akan tetapi kalau sebaliknya engkau tidak mampu menangkan kami bertiga, harap engkau tidak lagi mengganggu kami. Bagaimana?”

Nio-cu tahu bahwa sebetulnya tiga orang raksasa itu takut kepada Beng-cu. Akan tetapi karena ia hanya seorang diri, mereka melihat kesempatan untuk lolos, atau melakukan penentangan dengan aman. Kalau mereka kalah, mereka akan mengaku dan tidak akan terancam nyawa mereka. Dan kalau mereka menang, tentu mereka dapat berbuat apa saja, mungkin membunuhnya dan menghilangkan jejaknya. Beng-cu tidak akan mengetahuinya! Nio-cu tersenyum mendengar usul itu.

“Kalian masih berhuntung bertemu dengan aku. Kalau kalian berhadapan dengan Beng-cu sendiri atau pembantunya yang lain, tentu kalian akan mati konyol! Baiklah, aku menerima tantanganmu!” berkata demikian, Nio-cu yang maklum akan kelihaian tiga orang itu, meloncat ke belakang sambil mengeluarkan senjatanya, yaitu sebatang pedang di tangan kanan dan sebuah kipas di tangan kiri!

Melihat wanita cantik itu telah siap siaga dengan sepasang senjata di tangan, Po-yang Sam-liong juga tidak sungkan-sungkan lagi. Poa Seng yang berewok mengeluarkan senjatanya yang menyeramkan, yaitu sebatang golok besar yang lebar dan mengkilap tajam, dengan punggung golok berbentuk gigi gergaji. Poa Leng yang berkepala botak memegang sebatang tombak pendek, sedangkan si ompong Poa Teng memegang rantai bajanya. Mereka bertiga segera menggerakkan kaki mengepung wanita itu dari tiga jurusan, membentuk Sha-kak-tin (Barisan Segi Tiga), satu di depan, seorang di kanan dan seorang lagi di kiri.

Tok-sim Nio-cu yang cerdik maklum akan ketangguhan tiga orang lawannya, maka iapun tidak mau keduluan. “Lihat senjata!” bentaknya dan tubuhnya sudah berkelebat cepat sekali, pedang di tangan kanannya menyerang Poa Seng yang berada di depannya, kemudian kipasnya juga menyambar dengan tertutup dan gagangnya menotok ke arah dada Poa Leng di sebelah kirinya.

Dua orang itu cepat mengelak sambil menangkis dan pada saat itu, Poa Teng yang tadi berada di sebelah kanan Nio-cu sudah memutar rantai bajanya dan senjata itu menyambar ke arah kepala wanita itu. Akan tetapi Nio-cu sudah memperhitungkan bahwa kalau ia menyerang dua orang lawannya, tentu seorang pengeroyok yang tidak diserangnya akan menyerang.

Cepat ia membalik ke kanan dan pedangnya meluncur ke arah perut Poa Teng sambil merendahkan tubuh menekuk lutut. Poa Teng terkejut bukan main. Rantainya menyambar lewat di atas kepala lawan dan tahu-tahu pedang wanita itu sudah menyelonong ke arah perutnya!

“Uhhh...!” Dia berseru kaget dan melempar tubuh ke belakang. Untung ada dua orang saudaranya yang cepat menyerang Nio-cu sehingga wanita ini tidak dapat mendesak Poa Teng yang terhuyung ke belakang ketika melempar tubuh ke belakang itu. Nio-cu sudah memutar pedangnya, menangkis dua senjata lawan yang menyerangnya, kemudian begitu tangan kirinya mengebut, sinar-sinar lembut menyambar ke arah Poa Seng dan Poa Leng...!