Sepasang Naga Penakluk Iblis Jilid 20

Liong-li kini menyadari betapa hebat ilmu datuk sesat yang seperti iblis itu dan lebih aman kalau ia berkelahi di dekat Cin Hay sehingga mereka berdua dapat saling bantu dan saling melindungi. Diam-diam Liong-li harus mengakui bahwa tanpa bantuan Cin Hay yang menyadarkannya tadi, ia tentu sudah roboh menjadi korban sihir Hek-sim Lo-mo! Ia berhutang budi, bahkan mungkin nyawa kepada pemuda berpakaian putih itu, dan hal ini diam-diam ia catat di dalam lubuk hatinya.

Empat orang pengeroyok Cin Hay itu sudah gentar menghadapi kelihaian Cin Hay yang memegang pedang pusaka ampuh, kini nampak sinar hitam berkelebatan menyerang mereka. Gan Siang, orang pertama dari He-nan Siang-mo, melihat ada sinar hitam menyambar ke arah kepalanya dari belakang, segera membalik dan menangkis dengan golok besarnya sambil mengerahkan tenaga. Maksudnya agar dengan tenaganya yang besar itu dia akan mampu menangkis pedang Liong-li agar terlepas dari pegangan gadis itu.

“Trakkkk!!” Gan Siang terkejut setengah mati ketika goloknya yang ujungnya sudah rompal oleh pedang Cin Hay tadi, begitu bertemu dengan pedang hitam di tangan Liong-li, seketika patah di tengah-tengah! Saking kagetnya, dia terhuyung ke belakang dan pada saat itu, sinar putih menyambar seperti kilat.

Sepasang mata di wajah yang bulat itu terbelalak, mulutnya ternganga, golok yang tinggal sepotong terlepas dari pegangan, tubuhnya tergetar dan Gan Siang roboh terkulai, kedua tangan mendekap dada yang telah ditembusi Pek-liong-kiam dan diapun tewas! Adiknya, Gan Siong, menjadi pucat seketika dan dalam kemarahan yang berkobar, dia menjadi nekat. Dengan goloknya, dia menyerang Cin Hay yang telah menewaskan kakak kembarnya itu. Golok menyambar ganas ke arah leher Cin Hay.

Pemuda ini melihat betapa lawan ini telah dibikin mabok oleh kemarahan dan kedukaan, dengan mudah dia merendahkan dirinya dan dari bawah, sinar putih berkilat menyambar. Dada Gan Siong juga dimasuki pedang pusaka itu dan jantungnya tertembus. Dia roboh di samping kakak kembarnya, tewas seketika.

Liong-li mengamuk dan pedangnya menyambar-nyambar ganas. Yauw Ban dan Kiu-bwe Mo-li menjadi gentar sekali melihat robohnya dua orang kembar itu. Dalam gugupnya, Kiu-bwe Mo-li menangkis dengan cambuk ekor sembilan, lupa bahwa pedang dalam tangan gadis berpakaian hitam itu adalah sebatang pedang yang luar biasa ampuhnya.

“Pratttt!” Semua ujung cambuk yang sembilan ekor itupun terbabat buntung. Dalam kagetnya, Kiu-bwe Mo-li menggerakkan kepalanya. Rambutnya terlepas dari ikatan dan menyambar ke arah muka Liong-li.

Gadis ini kaget bukan main. Tidak ada waktu lagi untuk mengelak, maka tangan kanannya cepat menyambar dan di lain saat, rambut nenek itu telah digenggamnya, pedangnya membabat dan pinggang Kiu-bwe Mo-li dibabat pedang sampai hampir putus!

Yauw Ban yang melihat robohnya Kiu-bwe Mo-li, terkejut dan hendak melarikan diri, namun sekali berkelebat, Liong-li sudah berada di depannya dan menyerang dengan pedang hitamnya. Yauw Ban melawan mati-matian. Pembantu nomor satu dari Hek-sim Lo-mo ini merupakan pembantu yang paling lihai dan selain ilmu pedangnya amat kuat, juga dia memiliki gin-kang yang membuat dia mampu bergerak cepat bukan main.

Namun, sekali ini dia berhadapan dengan Liong-li, dan hatinya sudah gentar pula. Dia mengharapkan bantuan dari pemimpinnya, akan tetapi pada waktu itu, Hek-sim Lo-mo juga sibuk sendiri memanggil bala bantuan karena melihat betapa para pembantunya roboh seorang demi seorang di tangan dua orang muda yang lihai itu.

Apa yang dilakukan oleh Hek-sim Lo-mo? Kakek tinggi besar bermuka hitam ini mengeluarkan sebatang suling yang bentuknya aneh, dengan perut yang besar dan mulai meniup suling itu. Terdengarlah suara melengking aneh pula, lengking panjang yang tiada berkeputusan, tinggi rendah dan menggetar.

Melihat ini, Cin Hay menjadi ragu-ragu dan diapun siap-siap karena menduga bahwa tentu kakek yang lihai itu hendak mempergunakan ilmu sihir atau ilmu hitam. Diapun melihat betapa Liong-li telah berhasil menewaskan Kiu-bwe Mo-li dan kini hanya tinggal bertanding melawan seorang lawan saja, yaitu Yauw Ban. Melihat kesempatan baik ini, selagi Hek-sim Lo-mo sibuk dengan sulingnya yang aneh dan melihat betapa Liong-li sudah mendesak Yauw Ban dengan keras, Cin Hay lalu meloncat dan menggerakkan pedangnya, membantu Liong-li menyerang Yauw Ban!

Tok-gan-liong Yauw Ban sudah repot sekali menghadapi desakan Liong-li, kini tiba-tiba datang Cin Hay yang menyerangnya, tentu saja dia menjadi semakin sibuk. Dia sedang mencari-cari kesempatan untuk melarikan diri, akan tetapi kini, setelah pemuda berpakaian putih itu masuk ke dalam gelanggang perkelahian, kesempatan untuk itu tertutup sama sekali. Maka diapun menjadi nekat dan dia memutar pedangnya yang tinggal sepotong dan menyambut Cin Hay dengan terkaman nekat! Melihat kenekatan lawan ini, Cin Hay cepat meloncat ke samping, pedangnya menjadi sinar putih menyambut pedang buntung itu.

“Krakkk!” Pedang itu patah dan yang tinggal di tangan Yauw Ban hanyalah gagang pedang saja! Dan pada saat itu, sinar hitam menyambar dan robohlah tubuh Yauw Ban dengan leher yang hampir putus terbabat oleh pedang Hek-liong-kiam di tangan Liong-li!

Kini dua orang muda itu menoleh dan memandang ke arah Hek-sim Lo-mo. Dan ke- duanya terbelalak, bahkan Liong-li bergidik melihat betapa kakek itu dikelilingi oleh ratusan ekor ular besar kecil! Bahkan kini dari jauh masih berdatangan ular-ular yang agaknya terpanggil dan tertarik oleh suara sulingnya yang masih terus berbunyi! Sekarang baru mengertilah Cin Hay bahwa kakek itu meniup sulingnya yang aneh untuk memanggil pasukan ular yaitu semua ular yang tinggal di hutan dan di daerah itu, yang dapat menerima panggilan suara sulingnya!

Kakek itu sudah melihat pula betapa pembantunya yang terakhir, Yauw Ban, telah tewas. Dia mulai merasa gentar dan sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong penuh kemarahan, kebencian, dendam akan tetapi juga ketakutan. Tak disangkanya bahwa dua orang yang demikian mudanya mampu membasmi habis semua pembantunya!

Kini dia hanya mengandalkan diri sendiri dan juga ular-ularnya yang diharapkannya akan dapat membantu dia membunuh kedua orang muda itu. Melihat betapa Liong-li menjadi agak pucat dan bergidik melihat ular-ularnya, Hek-sim Lo-mo menjadi semakin bersemangat dan kini dia merobah suara sulingnya, penuh dengan nada tinggi yang mendesak dan memerintah.

Dan sungguh hebat sekali pengaruh suara suling itu. Ratusan ekor ular itu bergerak dengan cepat dan ular-ular besar kecil kini mengepung Cin Hay dan Liong-li! Mereka kelihatan marah sekali, mendesis-desis dan di antara ular-ular itu terdapat banyak yang berbisa! Ada pula ular-ular sejenis cobra yang mengangkat tubuh depan ke atas, dengan leher berkembang dan menyekung, lidah keluar masuk dan desisnya mengeluarkan uap kehitaman!

Melihat ini, Liong-li merasa jijik dan juga gentar sekali. Biarpun ia seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan tidak takut menghadapi lawan yang bagaimanapun juga, namun ia tetap seorang wanita dan binatang seperti ular memang mendatangkan rasa jijik dan takut dalam hati seorang wanita.

“Tenanglah dan mari kita basmi ular-ular ini. Hati-hati, tahan pernapasanmu kalau ada uap hitam mendekat!” bisik Cin Hay dan diapun tahu betapa temannya itu gentar menghadapi pengepungan ular-ular itu, maka dia memberi contoh dengan menggerakkan pedangnya, membabat ke arah ular-ular itu.

Senjata-senjata tajam dari baja dan besi saja terbabat buntung oleh Pek-liong-kiam, apa lagi binatang ular yang lunak. Begitu sinar putih itu menyambar-nyambar, banyak ular terbabat buntung dan darahpun mengucur keluar. Bau amis yang memuakkan menyerang dua orang muda itu.

Liong-li juga menjadi lebih berani dan ia mencontoh perbuatan temannya, menggerakkan Hek-liong-kiam yang menyambar-nyambar dan membuntungi banyak ular. Akan tetapi, bau amis itu membuat mereka berdua menjadi terkejut dan mereka meloncat keluar dari kepungan ular-ular itu.

Namun, ular-ular itu terus mengejar, agaknya mereka tidak memperdulikan teman-teman yang telah mati dan ular-ular itu sungguh nekat, dimabokkan suara suling yang terus mendorong dan menggairahkan binatang-binatang itu dan membuat mereka seperti gila. Ular-ular itu, ada yang kecil sekali seperti kelingking tangan dengan panjang belasan sentimeter, akan tetapi ada pula beberapa ekor yang besarnya melebihi paha manusia dan ular sebesar itu, dengan panjang sampai hampir sepuluh meter, akan mampu menelan seekor kerbau!

Dua orang muda itu terus mengamuk, dan selalu mencoba berloncatan agar jangan terkepung karena mereka berdua maklum betapa besar bahayanya kalau sampai mereka itu keracunan hawa dan bau amis. Akan tetapi, berapa banyakpun ular yang mereka bunuh, dan ke manapun mereka pergi, ular-ular itu terus mengejar mereka. Liong-li kembali diserang perasaan jijik dan ngeri. Ia sudah hampir melarikan diri, ketika tiba-tiba Cin Hay berseru kepadanya.

“Liong-li, mari kita serang saja iblis itu!”

Mendengar seruan ini, Liong-li pun sadar. Sejak tadi, mereka berdua hanya mencurahkan perhatian kepada ular-ular itu sehingga mereka melupakan musuh utama mereka. Lupa bahwa ular-ular itu sebenarnya dikendalikan, digerakkan atau dituntun oleh suara suling itu. Yang penting adalah menghentikan sumber suara itu, dan hal ini hanya dapat terlaksana kalau mereka mengalihkan perhatian mereka dan menyerang peniup suling!

Seperti dikomando saja, dua orang muda itu kini meloncat dan menggunakan pedang mereka untuk menyerang Hek-sim Lo-mo! Menghadapi serangan dua orang muda yang amat lihai itu, Hek-sim Lo-mo terkejut sekali dan tentu saja dia tidak mungkin dapat melanjutkan tiupan sulingnya. Dan diapun cepat mencabut sepasang pedangnya dan timbul kembali semangatnya. Dia masih mempunyai andalan, yaitu sepasang pedang yang terbuat dari Kim-san Liong-cu yang ampuh.

Tiba-tiba, dibesarkan hatinya oleh sepasang pedang yang amat diandalkan itu, diapun tertawa sehingga dua orang muda itu terkejut dan menahan senjata mereka karena menduga bahwa tentu kakek iblis itu akan mempergunakan siasat lain yang keji. Akan tetapi kakek itu hanya berdiri memegang sebatang pedang putih di tangan kanan dan sebatang pedang hitam yang lebih pendek di tangan kiri, mengamangkan kedua pedang itu sambil tertawa.

“Ha-ha-ha, kalian dua orang muda yang sudah bosan hidup! Lihat, di tanganku ini apa? Sepasang pedang dari Kim-san Liong-cu dan kini tidak ada lagi yang akan dapat menyelamatkan nyawa kalian!”

Berkata demikian, kakek ini menggerakkan dua batang pedangnya dengan gerakan yang amat dahsyat sehingga nampak dua gulung sinar hitam putih bersilangan dan terdengar deru angin menyambar-nyambar amat dahsyatnya.

Memang tepat perhitungan Cin Hay. Begitu suara suling itu berhenti berbunyi, ular-ular itu menjadi kacau balau dan bingung tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, bahkan mereka itu kemudian seperti menjadi marah-marah melihat banyak kawan mereka yang tewas, ada yang masih menggeliat-geliat karena tubuhnya putus dan akhirnya mereka kini dengan buas saling serang sendiri! Atau mereka seperti berpesta pora setelah perkelahian tadi, yang besar menelan yang kecil!

Menghadapi sepasang pedang di tangan Hek-sim Lo-mo, tentu saja Cin Hay dan Liong-li sama sekali tidak merasa khawatir, bahkan mereka itu tersenyum geli karena mereka tahu bahwa sepasang pedang di tangan datuk iblis itu hanyalah pedang palsu. Pedang pusaka yang aseli, yang terbuat dari Kim-san Liong-cu, berada di tangan mereka!

Memang bentuk dan warna pedang mereka itu serupa dengan sepasang pedang yang dipegang di tangan Hek-sim Lo-mo dan diam-diam mereka memuji keahlian Thio Wi Han membuat pedang-pedang itu. Kini dua orang muda itu menyambut serangan Hek-sim Lo-mo dengan pedang mereka, pedang pusaka Pek-liong-kiam dan Hek-liong-kiam yang aseli!

Melihat ini, Hek-sim Lo-mo tersenyum menyeringai, dalam hati mentertawakan dua orang muda itu karena pedang mereka tentu akan patah-patah bertemu dengan pedang pusakanya. Maka diapun terus melanjutkan serangannya sambil mengerahkan seluruh tenaga sin-kangnya, bermaksud mengadu pedang di kedua tangannya dengan pedang dua orang muda itu. Dan agaknya, menurut penglihatannya, dua orang muda itu sedemikian tololnya untuk berani mengadu senjata mereka dengan sepasang pedang yang dibuat dari Kim-san Liong-cu

“Sing-singgg... trang-trak-trakkk!!!”

Wajah yang tadinya menyeringai itu berubah seketika. Matanya terbelalak, matanya ternganga dan wajah yang berkulit hitam itu agak pucat, dan cepat sekali membuang tubuhnya ke belakang lalu bergulingan, dan ketika dia meloncat berdiri, wajah Hek-sim Lo-mo berubah sama sekali!

Seperti orang melihat setan di siang hari, Hek-sim Lo-mo memandang kepada dua gagang pedang yang masih dipegangnya. Sepasang pedang pusakanya itu patah-patah ketika bertemu dengan pedang kedua orang lawannya! Pedang-pedang yang dibuat oleh Thio Wi Han dari bahan Kim-san Liong-cu itu patah oleh pedang lawan. Bagaimana mungkin ini? Dia kini memandang kepada dua orang lawannya, terutama kepada pedang di tangan mereka, dua batang pedang yang serupa benar dengan sepasang pedangnya yang patah-patah tadi.

“Pedang... pedang...!” Dia tidak mampu mengeluarkan kata-kata lagi saking bingung, penasaran, menyesal dan saking terkejutnya melihat betapa pedangnya, sepasang pedang yang amat dibanggakan itu, sekali beradu dengan kedua pedang lawan, menjadi patah.

Cin Hay dan Liong-li melangkah maju menghampiri kakek itu dan Cin Hay tersenyum. “Hek-sim Lo-mo, perbuatan jahat tidak akan dilindungi Tuhan! Engkau telah melakukan terlalu banyak dosa. Dengan kejam sekali engkau membunuh Pouw Sianseng untuk merampok Kim-san Liong-cu, bahkan dengan keji engkau membunuh pula puterinya. Kemudian, engkau memaksa kakek Thio Wi Han untuk membuatkan sepasang pedang dari Kim-san Liong-cu rampokan itu, dan akhirnya, Thio Wi Han suami isteri juga tidak terhindar dari kekejamanmu dibantu anak buahmu. Engkau tidak tahu bahwa sepasang pedang pusaka dari bahan Kim-san Liong-cu itu, yaitu Pek-liong-kiam dan Hek-liong-kiam, oleh mendiang kakek Thio Wi Han telah diberikan kepada kami. Yang berada di tanganmu itu hanyalah pedang-pedang palsu. Inilah Pek-liong-kiam!” kata Cin Hay sambil mengangkat pedangnya ke atas kepala.

“Dan ini Hek-liong-kiam!” kata pula Liong-li sambil mengangkat pedang hitamnya ke atas.

Sepasang mata Hek-sim Lo-mo menjadi liar dan kemerahan. Kini mengertilah dia bahwa dia telah dikhianati dan dipermainkan oleh Thio Wi Han. Kemarahannya membuat dia lupa bahwa dia berhadapan dengan dua orang lawan yang amat tangguh. Apa lagi dua orang muda itu memegang sepasang pedang yang luar biasa ampuhnya. Dan barisan ularnya sudah tidak ada artinya lagi, bahkan kini ular-ular itu sudah saling serang seperti gila!

Kemarahan yang mendatangkan kelengahan membuat kakek itu menjadi nekat. Selama puluhan tahun Hek-sim Lo-mo menjadi datuk hitam yang amat tinggi kedudukannya. Dia adalah seorang di antara Kiu Lo-mo (Sembilan Iblis tua) yang di dunia persilatan dianggap sebagai datuk-datuk sesat yang paling tinggi kedudukannya.

Kurang lebih sepuluh tahun lamanya, Kiu Lo-mo menghilang dari dunia persilatan karena mereka ditentang oleh sekelompok pendekar yang sakti, di antara mereka adalah mendiang Pek I Lo-jin guru Cin Hay. Selama sepuluh tahun menghilang, Kiu Lo-mo menyembunyikan diri di pegunungan-pegunungan, di dalam guha-guha dan mereka itu bukan bersembunyi karena takut kepada para pendekar, melainkan diam-diam mereka itu menggembleng diri, menyusun kembali kekuatan mereka setelah dicerai-beraikan oleh para pendekar.

Dan kini, Kiu Lo-mo telah kembali terjun ke dunia ramai. Mereka bukan Kiu Lo-mo sepuluh tahun yang lalu. Mereka telah menjadi lebih lihai dari pada dahulu. Dan mereka itu terjun ke dalam dunia kang-ouw secara terpisah, mengusai beberapa daerah masing-masing dan menyusun kekuatan sendiri dengan menalukkan para tokoh sesat yang berkepandaian tinggi dan menarik mereka menjadi para pembantu dan anak buah seperti yang dilakukan Hek-sim Lo-mo.

Karena selama ini selalu mendapatkan kemenangan, Hek-sim Lo-mo terlalu mengagulkan diri sendiri dan memandang rendah orang lain sehingga di luar dugaannya, hari ini dia harus berhadapan dengan dua orang muda yang ternyata amat lihai, membuat dia kehilangan sepasang pedang dan semua pembantu utamanya, bahkan yang menggagalkan dia memperoleh sepasang pedang yang dibuat dari mustika Kim-san Liong-cu. Maka, dapat dimengerti betapa marah dan sakit hati Hek-sim Lo-mo yang kini harus menghadapi dua orang lawan itu.

“Keparat, jangan kira aku takut kepada kalian!” Dan ketika tangan kanannya bergerak ke arah pinggangnya, dia telah melolos sebatang sabuk rantai baja hitam yang panjangnya ada dua meter, tebal dan nampak berat sekali. Dia memutar benda itu dan nampaklah sinar hitam bergulung-gulung, mengeluarkan suara bercuitan dan angin mendesir menyambar-nyambar ke depan.

Cin Hay dan Liong-li maklum akan kelihaian kakek ini, maka merekapun tidak berani memandang ringan walaupun kakek itu telah kehilangan sepasang pedangnya. Mereka lalu meloncat ke kanan kiri untuk mengeroyok Iblis Tua Berhati Hitam itu, memutar pedang masing-masing sehingga kini ada gulungan sinar putih dan hitam yang terang menyambar dari kanan kiri.

Kakek iblis itu memiliki banyak macam ilmu silat dan kini dia mainkan sabuk rantai bajanya dengan dahsyat. Tubuhnya kadang-kadang membuat gerakan seperti ular, dan yang amat berbahaya adalah ketika lengannya kadang-kadang mulur sampai dua meter sehingga senjatanya menjadi semakin jauh jangkauannya, dan disamping sambaran rantai baja itu, juga tangan kirinya membantu dengan tamparan atau cengkeraman yang tidak kalah berbahayanya dibandingkan rantai bajanya.

Cin Hay dan Liong-li bersikap waspada. Mereka tahu bahwa tanpa pedang pusakapun, kakek ini masih berbahaya bukan main, lebih berbahaya dari binatang buas apapun. Bahkan mereka harus mengakui bahwa selamanya belum pernah mereka bertemu lawan selihai Hek-sim Lo-mo dan andaikata mereka itu harus menghadapi kakek itu seorang diri saja, akan amat sukar bagi mereka untuk memperoleh kemenangan, bahkan besar kemungkinan mereka akan roboh di tangan kakek iblis yang amat lihai itu.

Hek-sim Lo-mo memang lihai bukan main. Tidak mengherankan kalau dia setelah turun gunung, berhasil menjadi beng-cu, sebutan bagi seorang pemimpin karena dia memang dianggap sebagai pemimpin oleh semua golongan sesat, menjadi beng-cu yang menguasai seluruh wilayah He-nan dan Shan-tung. Sebagai seorang datuk sesat di dunia persilatan, dia merupakan seorang yang sudah matang. Dia berhasil menghimpun tenaga khi-kang yang amat kuat sehingga dengan tenaga itu dia mampu melakukan sihir.

Di samping tenaga sinkang yang besar, yang membuat tubuhnya kebal, dia juga memiliki ginkang yang tinggi, yaitu ilmu meringankan tubuh yang dapat membuat dia bergerak seperti seekor burung saja. Semua ini ditambah lagi ilmu silat yang bermacam-macam dan penuh daya muslihat, dan ilmunya membuat kedua lengannya mulur juga amat berbahaya bagi lawan.

Akan tetapi, sekali ini dia menghadapi dua orang lawan yang biarpun masih muda, namun memiliki kepandaian yang tinggi. Tan Cin Hay telah mewarisi ilmu kepandaian mendiang Pak I Lojin yang amat sakti, apa lagi kini dia memegang Pek-liong-kiam. Dari gurunya, di antara ilmu-ilmu silat lain, dia mempelajari ilmu yang hebat, yaitu Pek-liong Sin-kun (Silat Sakti Naga Putih) dan kini, dengan pedang di tangan, dia mainkan ilmu silat itu yang dapat dimainkan dengan pedang.

Dan ternyata, pedang Pek-liong-kiam itu sungguh cocok sekali untuk dimainkan dengan ilmu silat Pek-liong Sin-kun dan dalam perkelahian ini, terciptalah ilmu pedang Pek-liong Kiam-sut yang kelak akan semakin disempurnakan oleh Cin Hay, ilmu silat pedang berdasarkan ilmu silat tangan kosong Pek-liong Sin-kun.

Adapun lawan kedua dari kakek iblis itu adalah Hek-liong-li, seorang wanita muda yang telah mewarisi ilmu-ilmu yang ampuh dari Huang-ho Kui-bo, seorang nenek tua renta yang dahulunya juga merupakan tokoh besar di dunia persilatan. Huang-ho Kui-bo, walaupun julukannya Kui-bo (Biang Iblis), namun ia tidak dapat digolongkan penjahat, juga bukan seorang pendekar yang menentang para penjahat.

Ia berdiri di antara dua golongan itu dan kalau ia dijuluki Kui-bo adalah karena kesaktiannya dan karena keganasannya tidak pernah mau memberi ampun kepada orang yang berani menentangnya. Dari gurunya itu, Liong-li menerima banyak macam ilmu silat yang hebat, dahsyat dan ada pula yang keji. Kini, dengan pedang Hek-liong-kiam di tangan, ia seperti seekor harimau yang memiliki sayap!

Dua kali sudah ujung rantai baja yang panjang itu buntung ujungnya sehingga panjangnya berkurang banyak, walaupun ketika ujung rantai bertemu pedang, saking kuatnya tenaga yang berada pada rantai itu, Cin Hay dan Liong-li terhuyung ke belakang.

“Haiiiiiittt!” Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan teriakan nyaring, matanya mencorong lalu disambungnya dengan mulut berkemak-kemik dan diapun berteriak lagi, “Lihat, aku telah berubah menjadi dua orang!”

Cin Hay dan Liong-li terkejut ketika tiba-tiba mereka melihat kakek itu berubah menjadi dua. Akan tetapi Liong-li mengeluarkan bentakan melengking dan Cin Hay berkata dengan suara yang mengandung khi-kang.

“Tak perlu bermain sulap, Lo-mo. Kami tidak dapat kau pengaruhi!”

Dan dengan pengerahan tenaga khi-kang, dua orang muda itu dapat membuyarkan ilmu sihir lawan dan mereka melihat bahwa kakek itu hanya seorang saja, bukan dua seperti tadi.

“Haaaaaahhhh! Berlutut kalian! Berlutut kataku...!” kembali kakek itu membentak, di dalam suaranya terkandung getaran yang amat hebat dan kuat sekali sehingga Liong-li merasa betapa kedua kakinya lemas!

Akan tetapi Cin Hay yang sudah siap siaga, dapat menahan serangan gelombang getaran sihir itu dan pada saat Hek-sim Lo-mo menggerakkan rantai untuk melancarkan serangan maut terhadap Liong-li yang masih termangu karena kedua kakinya seperti tiba-tiba menjadi lemas yang memaksanya untuk berlutut akan tetapi ia pertahankan, Cin Hay yang tidak terpengaruh, cepat meloncat ke depan dan menggunakan pedangnya untuk menangkis rantai yang menyambar ke arah kepala Liong-li itu.

“Tranggg...!” Kembali ujung rantai itu putus dan Cin Hay terhuyung kebelakang.

Hek-sim Lo-mo marah sekali. Dia sudah mulai lelah setelah lebih dari seratus jurus mereka berkelahi dan dia selalu berada di pihak yang terdesak dan repot. Dan pada saat dia hampir memperoleh kemenangan, hampir dapat membunuh gadis berpakaian hitam itu, Cin Hay menggagalkan serangannya, bahkan membuat rantainya kembali putus ujungnya. Kemarahan yang meluap-luap membuat dia menjadi mata gelap. Rantai bajanya tinggal pendek dan dengan sekuat tenaga dia melontarkan sisa rantai baja itu ke arah kepala Cin Hay yang sedang terhuyung ke belakang.

Cin Hay yang tetap waspada itu mengangkat pedangnya untuk menangkis dan kembali lengannya terasa gemetar saking kuatnya lontaran rantai itu, namun dia berhasil menangkis sehingga rantai itu terlempar ke samping. Akan tetapi pada saat itu, tubuh yang tinggi besar itu sudah menerkamnya dari depan dengan dahsyatnya! Kiranya, begitu melontarkan rantainya, Hek-sim Lo-mo yang sudah mata gelap itu langsung menubruk dan menerkam ke arah Cin Hay.

Terkaman itu dilakukan tanpa diduga-duga oleh Cin Hay bahwa lawannya akan senekat itu. Dia tidak mungkin mengelak kecuali meloncat ke belakang dan menusukkan pedangnya ke depan pula, selain untuk melindungi tubuhnya, juga untuk menyerang. Kalau kakek itu melanjutkan terkamannya, sebelum terkaman berhasil, tentu dadanya akan ditembusi Pek-liong-kiam yang ditusukkan ke depan. Betapa heran dan kagetnya hati Cin Hay ketika melihat bahwa kakek itu tidak menarik kembali terkamannya!

“Cappp... Pedang Pek-liong-kiam memasuki dada Hek-sim Lo-mo, akan tetapi tiba-tiba Cin Hay merasa betapa dua buah tangan yang berjari panjang dan kuat, bagaikan dua jepitan baja telah mencekik lehernya! Samar-samar dia teringat bahwa kakek itu tentu menggunakan ilmunya yang dapat membikin kedua lengan kakek itu mulur sampai panjang!

Namun, terlambat dia teringat akan kemungkinan ini karena kedua tangan itu telah mencekiknya dengan kekuatan yang luar biasa dan biarpun Cin Hay sudah mengerahkan seluruh tenaga sin-kang untuk melindungi lehernya, tetap saja jari-jari tangan itu menekan sedemikian kuatnya sehingga dia tidak mampu bernapas lagi!

Matanya terasa panas, kepalanya berdenyut seperti akan meledak karena agaknya semua jalan darah yang menuju ke kepala, terhenti dileher, tertahan oleh cekikan yang amat kuat itu. Dalam keadaan setengah kehilangan kesadaran itu, Cin Hay masih memegang gagang pedangnya dengan erat karena dia tidak ingin pedangnya itu terampas lawan.

Sementara itu, Liong-li sudah dapat membebaskan diri dari keadaan termangu karena kedua kakinya merasa lemas sebagai akibat pengaruh ilmu sihir Hek-sim Lo-mo. Begitu sadar, ia melihat betapa Cin Hay berada dalam keadaan gawat dan terancam bahaya maut. Liong-li dapat menduga bahwa orang sejahat Hek-sim Lo-mo, sampai bagaimanapun juga tidak akan mau melepaskan cengkeraman kedua tangannya dari leher Cin Hay yang tercekik. Buktinya, jelas betapa Pek-liong-kiam telah tertanam ke dalam dada kakek itu, namun dengan wajah beringas dan mata merah, kakek itu tetap mencekik dengan pengerahan tenaga terakhir. Agaknya dia hendak mengajak Cin Hay mati bersama!

Dan Cin Hay tidak dapat berbuat sesuatu dengan tangan kirinya karena tubuh kakek itu cukup jauh, jarak yang hanya dapat dicapai oleh kedua lengan kakek itu yang memanjang. Usaha Cin Hay untuk melepaskan cekikan itu dengan tangan juga sia-sia dan tenaga pemuda itu semakin lemah karena dia membutuhkan hawa yang tertutup oleh cekikan. Liong-li maklum bahwa kalau ia tidak cepat turun tangan, tentu nyawa Cin Hay terancam bahaya maut. Maka iapun bergerak maju, pedang Hek-liong-kiam di tangannya menyambar dua kali.

“Crok! Crokk!!” Kedua lengan Hek-sim Lo-mo terbabat buntung sebatas siku dan ketika kaki Liong-li menendang, tubuh kakek yang sudah tidak berlengan dan yang dadanya sudah ditembusi Pek-liong-kiam itu terlempar dan menimpa empat ekor ular besar yang sedang mengamuk di antara ular-ular kecil.

Begitu tertimpa tubuh yang mandi darah itu, empat ekor ular besar itu dan belasan ekor ular kecil menjadi marah dan mereka semua segera menyerang tubuh Hek-sim Lo-mo yang masih berkelojotan!

Kakek ini memang memiliki tubuh yang kuat dan nyawa yang ulet sekali. Biarpun dadanya sudah ditembusi pedang Pek-liong-kiam dan kedua lengannya sudah buntung, akan tetapi dia masih sadar sepenuhnya. Melihat dirinya yang sudah tidak berdaya itu dikeroyok ular, dia terbelalak dan ketakutan!

Sungguh aneh sekali. Datuk iblis yang biasanya suka menyiksa orang, bahkan entah berapa orang korbannya yang mati dikeroyok oleh ular-ularnya, kini menghadapi serangan ular-ularnya, dia menjadi ketakutan dan mulailah dia berteriak-teriak!

Dia hendak bangkit dan hendak melarikan diri, akan tetapi kedua kakinya digigit ular besar dan dia roboh kembali, meronta-ronta dan memekik-mekik, kemudian, seekor ular besar membuka moncongnya lebar-lebar dan mencaplok kepala Hek-sim Lo-mo. Barulah pekikan yang mengerikan itu terhenti dan hanya tubuh itu yang masih bergerak-gerak, akan tetapi hanya sebentar.

Liong-li membuang muka dan cepat menghampiri Cin Hay. Pemuda ini duduk memegangi pedang, terengah-engah dan mengurut lehernya dengan tangan kiri. Leher itu membengkak dan membiru, akan tetapi ketika Liong-li membantunya mengurut dan memijat, sebentar saja kesehatannya sudah pulih kembali.

“Liong-li, terima kasih... engkau telah menyelamatkan nyawaku,” kata Cin Hay.

Liong-li tersenyum. “Sudahlah, aku hanya membayar hutangku kepadamu. Lebih baik kita memikirkan Tek Hin...”

“Ah, celaka! Mudah-mudahan aku tidak terlambat!” Cin Hay terkejut ketika teringat akan temannya itu dan dia lalu meloncat dan berlari cepat menuju ke kota Lok-yang.

Sambil tersenyum Liong-li juga berlari cepat, akan tetapi sekali ini ia harus mengakui keunggulan Cin Hay. Kini pemuda itu tidak berpura-pura lagi dan benar-benar mengerahkan seluruh kepandaiannya berlari cepat dan ternyata Liong-li tidak mampu menandinginya. Tahulah ia kini bahwa dahulu Cin Hay telah mengalah kepadanya! Ia menjadi semakin kagum.

********************

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis jilid 20 karya kho ping hoo

Jai-hwa Kongcu Lui Teng memondong tubuh yang hangat itu dengan senyum cerah di bibirnya. Gadis baju hijau yang selama ini dirindukannya kini telah berada dalam pondongannya. Hong Ing tidak berdaya. Tubuhnya lemas tak mampu bergerak sehingga ketika Lui Teng yang memondongnya dan membawanya pergi itu beberapa kali menciumnya, iapun hanya dapat memejamkan mata saja karena tidak mampu mengelak atau meronta. Hanya pandang matanya saja bernyala penuh kebencian.

Sementara itu, Tek Hin yang juga tertotok lemas, dibawa oleh anak buah penjahat. Mereka membawa lari Hong Ing dan Tek Hin, membawa mereka kembali ke Lok-yang seperti yang diperintahkan Hek-sim Lo-mo. Jai-hwa Kongcu Lui Teng maklum bahwa dia dan anak buah penjahat disuruh menyingkirkan dua orang tawanan itu agar jangan sampai diselamatkan oleh Tan Cin Hay dan Hek-liong-li.

Dua orang tawanan ini masih ada gunanya, setidaknya sebagai sandera dan kalau perlu untuk memaksa dua orang muda yang lihai itu untuk menyerah. Dan dia melihat kesempatan baik terbuka baginya. Gadis baju hijau itu sepenuhnya berada di dalam kekuasaannya.

Ketika dia dan anak buahnya tiba di gedung besar tempat tinggal Hek-sim Lo-mo, dia menyuruh anak buahnya melemparkan tubuh Tek Hin yang masih tertotok itu ke atas lantai dalam kamar di mana kedua orang itu biasanya ditahan. Kemudian dia menyuruh para anak buahnya melakukan penjagaan ketat di luar gedung dan dia sendiri membawa tubuh Hong Ing yang masih dipondongnya ke atas pembaringan!

Dan tanpa malu-malu, tanpa menghiraukan Tek Hin yang rebah di atas lantai dan memandang dengan mata melotot, Jai-hwa Kong-cu Lui Teng lalu membelai-belai dan menciumi wajah Hong Ing yang masih tidak berdaya dan tidak mampu bergerak.

“Jahanam keparat! Anjing busuk hina dina. Awas kau, akan kulaporkan kepada Hek-sim Lo-mo agar engkau dihajar sampai mampus kalau kau tidak menghentikan perbuatanmu yang kotor ini!”

Hong Ing hanya dapat berkata dan memaki-maki tanpa mampu mengelak ketika Jai-hwa Kongcu Lui Teng mencium mulutnya sampai lama sekali dan yang membuatnya terengah-engah. Melihat itu, Tek Hin marah bukan main, juga timbul kekhawatiran di dalam hatinya kalau-kalau penjahat cabul itu akan berbuat lebih jauh lagi dan memperkosa Hong Ing yang tidak berdaya.

“Anjing kotor! Akupun akan melapor kepada Hek-sim Lo-mo dan hendak kulihat bagaimana engkau akan melawan dia nanti!” katanya mengancam.

Akan tetapi yang diancam itu bahkan tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, boleh saja kalian mengoceh dan mengancam. Tahukah kalian bahwa kalau dua orang bocah sombong itu sudah berhasil dibunuh, kalian berdua akan diserahkan kepadaku? Aku akan menyerahkan engkau kepada Kiu-bwe Mo-li, Tek Hin. Dan engkau, manis, engkau akan kuajak bersenang-senang sampai sepuasmu, ha-ha-ha! Sekarang akan keselidiki apakah mereka sudah berhasil membunuh dua orang bocah sombong itu!”

Jai-hwa Kongcu Lui Teng lalu berteriak memanggil penjaga. Dua orang berlari mendatangi dan dengan suara lantang Lui Teng berkata kepada mereka. “Suruh sediakan arak dan daging ke sini untukku, dan seorang lagi pergilah cepat ke tempat perkelahian tadi. Lihat apakah dua orang bocah sombong itu telah mampus, dan cepat laporkan kepadaku!”

Dua orang penjaga itu mengangguk lalu meninggalkan kamar tawanan. Tak lama kemudian, Jai-hwa Kongcu Lui Teng sudah menghadapi hidangan yang mengepul panas dan seguci arak yang wangi.

“Manis, engkau lapar, bukan? Mari kita makan, kutemani engkau atau engkau menemani aku? Ha-ha-ha, katakan engkau mau makan dan aku akan membebaskan totokanmu.”

“Tidak sudi! Lebih baik aku mati kelaparan dari pada harus makan bersamamu!” kata Hong Ing, menahan turunnya air matanya karena sesungguhnya ia merasa ngeri, takut dan juga malu terhadap Tek Hin yang tadi melihat betapa ia dibelai dan diciumi penjahat itu, jantungnya berdebar penuh ketegangan dan ketakutan yang ditahan-tahan dan hendak disembunyikan, karena ia tidak ingin penjahat yang dibencinya itu melihat bahwa ia ketakutan.

Jawaban Hong Ing itu hanya disambut oleh Lui Teng dengan senyum-senyum saja. Dia membayangkan betapa akan manisnya kalau gadis yang kini melawan dan marah-marah, membencinya ini, kelak akan menyerahkan diri kepadanya. Makin besar kebencian dan perlawanannya, kalau kelak menyerah akan semakin terasa manis! Diapun lalu duduk menghadapi meja dan makan minum dengan lahapnya, sengaja mengeluarkan suara untuk membikin kedua orang itu tersiksa.

Akan tetapi, baik Tek Hin maupun Hong Ing sama sekali tidak mau menengok ke arah dia duduk, Tek Hin diam-diam membayangkan apa akan jadinya dengan dirinya dan Hong Ing kalau sampai Cin Hay dan Liong-li benar-benar dapat dikalahkan oleh Hek-sim Lo-mo dan para pembantunya. Dia memutar otak bagaimana agar dapat terbebas dari totokan sehingga dia dapat melakukan perlawanan. Andaikan sampai dia dan Hong Ing harus mati sekalipun dia tidak akan merasa penasaran. Akan tetapi kalau harus mati dan mengalami penghinaam tanpa melawan sedikitpun juga, sungguh matinya akan penasaran sekali.

Tak lama kemudian, tepat setelah Jai-hwa Kongcu Lui Teng selesai makan minum, sisa makanan disingkirkan dan yang ditinggalkan hanya seguci arak dan cawan arak, muncullah seorang penjaga yang tadi bertugas melakukan penyelidikan ke luar kota melihat keadaan mereka yang berkelahi. Dengan wajah pucat dan napas terengah-engah karena baru saja berlari cepat-cepat, orang itu melaporkan bahwa dua orang muda itu masih dikeroyok, akan tetapi dua orang saudara kembar He-nan Siang-mo telah tewas, dan kini Beng-cu sedang memanggil banyak sekali ular!

“Saya... takut sekali dan segera lari untuk memberi kabar ke sini, akan tetapi seorang kawan masih tinggal di sana dan mengintai untuk nanti memberi laporan susulan,” katanya mengakhiri laporannya, lalu dia mengundurkan diri keluar dari kamar itu.

Song Tek Hin sengaja tertawa bergelak dan siasat ini memang sudah sejak tadi dia rencanakan. “Ha-ha-ha, dua orang dari temanmu sudah mampus dan sebentar lagi yang lain-lain pasti akan tewas di tangan Tan-taihiap dan Hek-liong-li! Engkau sendiri, kalau saja bukan seorang pengecut dan penakut besar, kalau saja engkau berani membebaskan aku dari totokan, sudah sejak tadi tulang-tulangmu kupatah-patahkan dan kepalamu kuhancurkan, isi perutmu kukeluarkan. Ha-ha-ha!”

Wajah Jai-hwa Kongcu Lui Teng menjadi merah padam. Dia adalah seorang penjahat besar yang sudah banyak pengalamannya dan cerdik pula. Dia dapat menduga bahwa Song Tek Hin sengaja mengeluarkan ucapan menghina itu untuk memancing kemarahannya dan agar dia suka membebaskan totokan itu. Akan tetapi perasaan malu membuat dia marah besar dan tidak dapat menahan dirinya. Kalau saja Tek Hin tidak mengeluarkan ucapan itu di depan Hong Ing, tentu dia akan mentertawakan saja tawanan itu, atau akan menyiksanya atau membunuhnya tanpa membebaskan totokannya.

Akan tetapi, dia diejek dan dihina di depan gadis yang membuatnya tergila-gila, maka dia merasa malu kalau tidak memperlihatkan keberaniannya, agar makian pengecut dan penakut itu dapat dihapusnya di depan gadis manis itu. Apa lagi dia tahu benar bahwa biarpun Tek Hin pandai ilmu silat, namun bagi dia masih terlalu rendah sehingga andaikata ada lima orang dengan tingkat kepandaian seperti Tek Hin mengeroyoknya sekalipun, dia tidak akan kalah. Maka, diapun dengan sekali loncat sudah mendekati Tek Hin yang menggeletak tak mampu bergerak di alas lantai...

Thanks for reading Sepasang Naga Penakluk Iblis Jilid 20 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »