Social Items

Han Sin maklum bahwa dua orang itu menyerangnya dengan pukulan yang dahsyat, yang tidak mungkin dapat di elakkannya. Maka diapun memasang kuda-kuda dengan kedua kaki terpentang, mengerahkan tenaga sakti dari ilmu Bu-tek-cin-keng lalu mengembangkan kedua lengannya mendorong ke kanan kiri, menyambut dua pukulan lawan itu.

“Desss…!” pertempuran dua tenaga sinkang raksasa itu hebat sekali, menggetarkan bumi dan membuat semua yang menonton terguncang. Tian-Ciang dan Swat-ciang tiba dengan berbareng, di sambut kedua tangan Han Sin yang di penuhi tenaga dari ilmu Bu-tek-cin-keng. Dan akibatnya, kedua orang kakek itu terlempar ke belakang seperti di dorong tenaga raksasa yang tidak nampak. Mereka terbanting karena tenaga mereka tadi membalik, akan tetapi Han Sin juga berdiri terhuyung dan darah mengalir dari bibirnya, tanda bahwa dia menderita luka dalam yang hebat.

Melihat ini, dua orang kakek itu melompat berdiri, akan tetapi mereka juga terhuyung dengan muka pucat. Melihat keadaan Han Sin, Pak-te-ong berseru kepada anak buahnya sambil menudingkan telunjuknya kearah Han Sin,

“Bunuh dia...!”

Para anak buah Te-kwi-pai sudah berlompat ke depan mengepung Han Sin dengan senjata di tangan, akan tetapi pada saat itu ma Goat meloncat ke depan Han Sin, suling hitamnya ditangan dan matanya berkilat penuh ancaman.

“Siapa berani menyentuhnya akan di bunuh!” bentaknya dan semua anak buah Te-kwi-pai menjadi terkejut dan tidak berani bergerak.

“Goat-ji…!” Pak-te-ong membentak marah, dan menghampiri anaknya.

Akan tetapi Ma Goat melintangkan suling di depan dada dan menentang pandang mata ayahnya dengan sinar mata berkilat. “Ayah, Han Sin ini tidak bersalah. Dia hanya ingin menolongku dari bahaya maka sampai terlibat dalam urusan ini dan diapun dipaksa untuk berkelahi. Kalau aku yang pernah dia selamatkan sekarang diam saja melihat dia terancam bahaya, aku akan menjadi seorang yang paling tidak mengenal budi. Aku akan membelanya dengan taruhan nyawaku, ayah!”

Melihat sikap putrinya, Pak-te-ong menahan langkahnya. Dia mengenal benar watak putrinya yang tidak berbeda jauh dengan wataknya sendiri, yaitu keras hati dan tak mengenal takut. Melihat ayahnya berhenti menghampirinya, Ma Goat lalu memegang tangan Han Sin yang masih berdiri terengah-engah, lalu menariknya,

“Han Sin, mari kita pergi!” gadis itu lalu menggandeng tangan Han Sin, diajak pergi dari situ sambil siap melindunginya dari serangan.

Tidak ada anak buah Te-kwi-pai berani bergerak, dan See-thian-mo sendiri juga tidak mau menyerang karena dia merasa tidak enak kalau harus menyerang puteri rekannya. Apalagi dia sendiri juga sudah menderita luka dalam, walaupun tidak parah karena tadi dia menyerang Han Sin saling Bantu dengan tenaga Pak-te-ong.

Pak-te-ong juga mengetahui bahwa See-thian-mo menderita luka dalam seperti dia sendiri, maka dia lalu berkata, “See-thian-mo, mari kita ke rumah dan menyembuhkan luka kita sebelum bicara...“

“Baik, Pak-te-ong...“ kata kakek gendut pendek itu dan bersama dua orang muridnya dia lalu mengikuti Pak-te-ong mendaki puncak bukit Kwi-san.

********************

Cerita silat serial sepasang naga lembah iblis episode pedang naga hitam jilid 26 karya kho ping hoo

Ma Goat menggandeng tangan Han Sin yang berjalan terhuyung-huyung. Han Sin merasa tubuhnya lemah dan nyeri karena didalam tubuhnya seperti ada dua kekuatan hawa yang saling berebutan. Kadang tubuhnya seperti dibakar api di sebelah dalam, terkadang seperti direndam dalam salju yang dingin sekali. Setelah menguatkan diri melangkah cepat ketika diajak melarikan diri oleh ma Goat, akhirnya dia mengeluh dan tentu roboh terpelanting kalau saja Ma Goat tidak cepat merangkulnya.

“Han Sin, bagaimana keadaanmu?” Ma Goat bertanya sambil memeluk tubuh pemuda itu.

Han Sin memejamkan matanya...“…Panas… dingin…“ dia mengeluh lalu lehernya terkulai, pingsan.

Ma Goat lalu memodong tubuh itu dan di bawa lari menuju ke tepi sungai. Setelah tiba di tepi sungai, dia merebahkan tubuh pemuda itu di atas rumput. Dikeluarkannya sebuah botol kecil dari dalam bajunya, kemudian ia membuka mulut Han Sin. Pemuda itu dalam keadaan setengah sadar dapat menelan obat itu.

Ma Goat menanti dengan hati gelisah melihat pengaruh obat yang diminumkannya. Ia merasa yakin bahwa obatnya itu pasti akan dapat menyembuhkan luka beracun akibat pukulan Tian-ciang karena ia sendiri juga sudah mempelajari Tangan halilintar itu. Obat itu adalah buatan ayahnya yang khas untuk mengobati luka akibat pukulan ilmu itu.

Tak lama kemudian, nampak reaksi obat itu. Akan tetapi sungguh di luar dugaan Ma Goat ketika ia melihat pemuda itu mengeluh, membuka mata lalu tubuh itu menggigil kedinginan dan muka serta seluruh badannya berubah pucat kebiruan!

“Han Sin… bagaimana rasanya tubuhmu…?” Ma Goat memegang lengan pemuda itu dengan khawatir. Dan alangkah kagetnya ketika ia memegang lengan itu, terasa lengan itu dingin seperti es! Dan tak lama kemudian, Han Sin sudah tidak menggigil atau bergerak lagi, melainkan telentang diam dan kaku seperti mayat yang dingin sekali.

“Han Sin… Han Sin… Ahhh!” Ma Goat menjadi kebingungan, tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ingin rasanya ia menangis karena merasa begitu tidak berdaya.

Tiba-tiba terdengar langkah orang yang ringan dan lembut sekali menghampirinya. Ma Goat cepat menoleh dan siap menyerang karena dalam keadaan bingung dan khawatir itu mudah sekali bangkit kemarahannya. Akan tetapi ketika ia memandang, yang datang adalah seorang gadis berusia kurang lebih delapan belas tahun. Gadis ini melangkah ringan dan gerak-geriknya lembut, pakaiannya yang serba putih bersih itu terbuat dari sutera.

Wajahnya bulat telur, dagunya meruncing dan rambutnya yang panjang itu di gelung ke atas, sebagian di kuncir dan dibiarkan bergantung di depan pundaknya. Alisnya melengkung hitam dan matanya indah dengan pandang mata lembut dan tenang sekali, mulutnya mengarah senyum dengan bibir merah basah, lesung pipit nampak di kedua pipinya. Tubuhnya sedang dan pinggangnya ramping, Ma Goat sendiri sampai tertegun. Belum pernah ia melihat seorang wanita secantik dan anggun seperti itu.

“Enci yang baik, engkau nampak gelisah. Dapatkah aku membantumu...?“ Gadis yang bukan lain adalah Kim Lan itu bertanya dengan halus.

Ia kebetulan lewat di situ dan melihat Ma Goat nampak kebingungan dan gelisah sedangkan di depan gadis yang berlutut itu menggeletak seorang pria yang telentang. Kim Lan baru kembali dari sebuah dusun di lembah huang-ho dimana berjangkit penyakit menular. Mendengar ini ia lalu pergi ke dusun itu dan dengan kepandaiannya mengobati, ia berhasil menyelamatkan banyak orang dari cengkraman maut. Setelah penyakit itu berhasil dibasminya, ia lalu kembali ke selatan dan dalam perjalanan ke selatan inilah ia kebetulan melihat Ma Goat di tepi sungai itu dan menghampirinya.

Ma Goat sedang gelisah dan jengkel melihat keadaan Han Sin yang mengkhawatirkan, maka ia menganggap kedatangan gadis berpakaian serba putih itu sebagai gangguan. “Pergilah dan jangan ganggu aku!” katanya ketus. “Engkau tidak akan dapat menolongku!”

Akan tetapi, Kim Lan atau yang biasa di sebut Lan Lan itu sudah memandang wajah Han Sin. Ia terkejut sekali ketika mengenal wajah itu akan tetapi kekagetannya itu sama sekali tidak kelihatan. Hanya kerut alisnya saja yang menunjukkan kekagetannya. Tanpa diminta iapun berlutut di samping ma Goat dan meletakkan jari-jari tangan kirinya di atas dahi yang mengepulkan uap dingin itu.

“Hemm..., dia keracunan hawa dingin yang hebat sekali. kalau terlambat menolongnya, dalam waktu empat lima jam lagi dia tidak akan tertolong lagi...“ katanya sambil memegang nadi tangan pemuda itu.

Ma Goat kini memandang dengan penuh harapan. “Engkau… engkau mengerti ilmu pengobatan?” tanyanya.

Dengan tenang sambil tersenyum manis Kim Lan mengangguk. “Sedikit, akan tetapi jangan khawatir. Aku akan mencoba menyembuhkannya. Akan tetapi tempat ini kurang layak untuk mengobatinya. Aku melihat di sana ada sebuah pondok kosong, kita bawa saja dia ke sana!”

Ketika Kim Lan hendak membantu menggotong tubuh pemuda itu, Ma Goat menolaknya. “Tidak usah, biar kupondong sendiri...“ Dan ia pun sudah mengangkat dan memondong tubuh Han Sin yang terasa luar biasa dinginnya itu.

Kim Lan memandang dengan sinar kelembutan membayang di matanya. Sekali pandang saja tahulah ia bahwa gadis itu amat mencinta Han Sin. Pondok itu adalah sebuah pondok yang didirikan oleh mereka yang membutuhkannya, yaitu para pemburu dan para nelayan yang kemalaman di daerah ini dan menggunakan pondok itu sebagai tempat melewatkan malam. Sebuah pondok kayu dan bambu sederhana, akan tetapi lantainya bersih dan terdapat banyak jerami kering.

“Rebahkan dia di sini,..“ kata Lan Lan menunjuk ke tengah ruangan yang penuh jerami.

Ma Goat dengan hati-hati sekali merebahkan Han Sin di atas jerami dan ia memandang penuh perhatian ketika Lan Lan mulai melakukan pemeriksaan. Menekan nadi, dada dan leher Han Sin, kemudian ia menoleh kepada Ma Goat.

“Coba ceritakan, apa yang telah terjadi padanya agar aku dapat menentukan obatnya...“

Ma Goat berkata dengan harap-harap cemas. “Dia terkena pukulan ayahku, yaitu pukulan tangan halilintar yang panas. Akan tetapi dia pada saat yang sama juga terkena pukulan See-thian-mo. Dalam keadaan panas dingin dia kubawa ke sini dan tadi sudah ku obati dengan obat penangkal racun akibat pukulan halilintar. Panasnya memang hilang, akan tetapi tubuhnya menjadi dingin seperti es…“

Lan Lan mengangguk-angguk. “Dia terkena pukulan See-thian-mo? Hemm, aku pernah mendengar bahwa See-thian-mo memiliki ilmu pukulan Swat-ciang. Dia keracunan hawa dingin pukulan itu, kemudian dia minum obat mu. Obat itu melawan pengaruh pukulan halilintar, tentu mengandung hawa dingin pula. Maka, racun hawa dingin itu menjadi berlipat ganda. Untung dia memiliki sinkang yang kuat, kalau tidak, dia tentu sudah mati...“

“Kau… kau tentu dapat mengobatinya dan menyembuhkannya, bukan...?” Tanya Ma Goat.

“Jangan khawatir, akan ku coba...“ Lan Lan mengeluarkan bungkusan jarum-jarumnya dan segera minta kepada Ma Goat agar menanggalkan baju bagian atas pemuda itu, kemudian ia menancapkan jarum-jarumnya di beberapa jalan darah. Setelah itu, ia lalu menggunakan jari tangannya untuk menotok jalan darah di dada, pundak dan punggung, kemudian menempelkan tangan kirinya ke atas dada Han Sin dan menyalurkan tenaga sinkangnya.

Ma Goat memandang penuh perhatian dan alangkah girang hatinya melihat betapa perlahan-lahan wajah Han Sin menjadi normal kembali, warna pucat kebiruan itu lenyap dan terganti warna kemerahan. Pernapasan Han Sin juga tidak lemah seperti tadi. Kemudian terdengar dia mengeluh dan bergerak. Lan Lan menarik kembali tangannya, dan bangkit berdiri. Dahi dan lehernya yang putih basah oleh keringat. Ia menghapus keringat itu dengan ujung lengan bajunya lalu berkata lirih,

“Dia akan sembuh, racunnya sudah meninggalkan tubuhnya...“

Ma Goat merasa girang sekali dan pada saat itu, Han Sin mengeluh lirih. Ma Goat cepat berlutut lagi dan ia melihat pemuda itu sudah membuka matanya dan mata itu di tujukan kepada gadis berpakaian putih yang telah menolongnya tadi.

“Lan-moi…!” Han Sin berkata lemah dan mencoba hendak bangkit duduk, akan tetapi dia mengeluh dan roboh telentang lagi, memejamkan mata karena merasa pening.

“Dia harus beristirahat sebentar dan jangan banyak bergerak dulu selama satu jam...“ kata Lan Lan.

Ma Goat segera bangkit berdiri dan memegang tangan Lan Lan, menariknya menjauhi Han Sin. “Sobat yang baik, terima kasih banyak atas pertolonganmu ini. Siapakah namamu agar aku tidak akan melupakanmu. Aku sendiri bernama Ma Goat...“

Kim Lan tersenyum. “Namaku Lan, she Kim. Panggil saja Lan Lan...“

“Lan-Lan, aku sudah berterima kasih kepadamu, mudah-mudahan lain waktu aku dapat membalas kebaikanmu. Sekarang kuharap engkau suka meninggalkan kami...“

Sesaat pandang mata Lan Lan bertemu dengan pandang mata Ma Goat dan ia maklum. Gadis yang bersenjata suling ini tidak ingin Han Sin melihatnya kalau sudah sadar nanti! Ia pun mengangguk sambil tersenyum, lalu meninggalkan tempat itu dengan langkah lembut seenaknya.

Ma Goat adalah seorang gadis yang sejak kecil hidup di tengah-tengah kekerasan kehidupan seorang datuk kang-ouw. Ia menjadi keras akan tetapi jujur mengeluarkan apa saja yang menjadi isi hatinya. Ia merasa khawatir setelah melihat betapa Lan Lan yang cantik jelita itu berhasil menyelamatkan Han Sin. Khawatir kalau Han Sin sadar lalu melihat Lan Lan akan jatuh hati kepada gadis cantik jelita itu. Maka terang-terangan ia minta agar Lan Lan meninggalkan tempat itu.

Akan tetapi ia tidak tahu bahwa tadi Han Sin sudah sadar dan membuka matanya dan dia mengenali Lan Lan. Bahkan ketika dia terpaksa memejamkan mata karena pening, telinganya dapat mendengar dan mengenal dengan baik suara Lan Lan. Diapun mendengar ucapan Lan Lan yang mengharuskan dia istirahat dulu dan jangan banyak bergerak, maka diapun merebahkan diri dan melemaskan seluruh urat syaraf di tubuhnya. Dia merasa tenang dan nyaman. Setelah dia merasa kesehatannya telah pulih kembali, dibukanya matanya dan dia tidak merasa pening lagi. Dengan perlahan dia lalu bangkit duduk.

“Han Sin, jangan banyak bergerak dulu…“ kata Ma Goat sambil mendekatinya dan memegang pundaknya, “Bagaimana rasanya sekarang? sudah baikkah...?“

Akan tetapi Han Sin tidak menjawab melainkan memandang ke kanan kiri, mencari-cari. "Dimana ia? Ma Goat, kemana perginya...?”

Ma Goat mengerutkan alisnya. “Siapa? Engkau mencari siapa...?”

“Lan-moi, kemana ia pergi...?”

“Lan-moi siapa? Tidak ada siapa-siapa di sini kecuali aku dan engkau, Han Sin...“ kata Ma Goat.

Han Sin sekali lagi memandang ke kanan kiri. Setelah melihat bahwa memang tidak ada Lan Lan di sekitar tempat itu, diapun bangkit dan berdiri. Dia menggerakkan kedua lengannya dan sudah merasa sehat.

“Ma Goat, harap jangan membohongi aku. Tadi aku melihat Lan Lan di sini, bahkan mendengar suaranya. Kemana ia pergi?” tanyanya sambil memandang tajam wajah gadis itu.

Ma Goat menjadi jengkel. Ia bersusah payah menolong Han Sin dan begitu sembuh pemuda itu menanyakan wanita lain! “Sudah kukatakan tidak ada siapa-siapa selain aku dan engkau. Tidak ada yang bernama Lan Lan!”

“Hemmm, Ma Goat. Aku ingat bahwa aku telah terkena pukulan ayahmu dan see-thian-mo sehingga aku terluka parah. Kemudian engkau membawaku ke sini. Akan tetapi siapa yang mengobatiku sampai sembuh...?”

“Siapa lagi yang menyembuhkanmu kecuali aku? Aku yang telah mengobatimu, Han Sin. Dan aku yang membelamu, mencegah mereka membunuhmu. Lihat, ini botol obat ku yang sudah habis kuminumkan padamu tadi...“

Han Sin lalu mengangkat kedua tangan depan dada. “Ma Goat, engkau baik sekali kepadaku. Aku masih ingat betapa engkau melawan ayahmu sendiri dan see-thian-mo untuk menyelamatkanku dan membawaku ke sini untuk mengobatiku. Aku mengucapkan terima kasih dan mudah-mudahan lain waktu aku akan dapat membalasmu. Sekarang aku hendak melanjutkan perjalanan...“

“Engkau hendak pergi meninggalkan aku? Tidak, Han Sin. Kalau engkau pergi, kemanapun aku harus ikut denganmu...!” kata gadis itu dengan suara tegas.

Han Sin terkejut dan memandang heran. Sejenak pandang mata mereka bertemu, Han Sin penuh selidik dan gadis itu kukuh dan keras. “Ma Goat, apa maksudmu? Tidak mungkin engkau pergi mengikutiku...!”

“Kalau engkau tidak mau membawaku, engkaulah yang harus ikut dengan aku menghadap ayahku...!”

“Ehhh...? Apa yang kau maksudkan? Aku tidak mengerti sikap dan ucapanmu ini!”

“Maksudku sudah jelas. Engkau harus mempunyai dua pilihan. Yang pertama, engkau membawaku kemanapun engkau pergi dan yang kedua, kalau engkau tidak dapat membaw aku, engkau harus ikut aku menghadap ayah dan tinggal bersamaku di Kwi-san...“

“Akan tetapi mengapa begitu...? Apa artinya ini?” Han Sin benar-benar merasa terkejut, heran dan tidak mengerti.

“Artinya sudah jelas, Han Sin. Engkau menjadi pilihan hatiku dan aku sudah memutuskan untuk memilihmu sebagai jodohku. Sekarang tinggal engkau pilih. Hidup sebagai suamiku di Kwi-san, atau engkau membawa aku kemanapun engkau pergi. Aku akan menjadi pendampingmu yang setia selama hidupmu...“

Han Sin terbelalak kaget dan mengamati wajah cantik itu penuh selidik. Teringatlah dia kepada Kui Ji, gadis dari keluarga gila itu. Apakah Ma Goat inipun gila seperti Kui Ji? Akan tetapi sikap dan kata-katanya tidak menunjukkan bahwa ia gila. Kemudian dia melihat kenyataannya yang menggelisahkan hatinya. Gadis ini tidak gila akan tetapi jatuh cinta kepadanya dan hendak memaksanya untuk menjadi suaminya! Sungguh suatu cara pemaksaan jodoh yang tidak banyak bedanya dengan cara yang di pakai si gadis gila Kui Ji.

“Menyesal sekali aku tidak dapat memenuhi permintaanmu​ Ma Goat. Maafkan aku. Aku belum mempunyai keinginan untuk mengikatkan diri dengan perjodohan. Aku tidak mau tinggal di Kwi-san sebagai suamimu, juga tidak mau membawamu dalam perjalananku...“ katanya tegas.

Alis itu berkerut dan sepasang mata yang indah itu berkilat. Ma Goat menggerakkan tangannya dan suling hitamnya sudah dicabutnya dari ikat pinggang. “Kalau begitu, terpaksa aku harus menawanmu, han Sin...!” katanya sambil mengamangkan sulingnya.

“Engkau sungguh tidak mengenal budi. Engkau pernah menyelamatkan aku, sebaliknya aku pun sudah menyelamatkan nyawamu. Mengapa engkau menolak keinginanku untuk hidup bersamamu...?”

“Ma Goat, ketika aku menolongmu, sama sekali tidak ada pamrih dalam hatiku. Akan tetapi engkau menolongku dengan pamrih mendapatkan imbalan yang tidak dapat aku memenuhinya...“

“Sudahlah, engkau harus menjadi suamiku, apapun yang terjadi...!” Gadis itu sudah menggerakkan sulingnya untuk menotok pundak Han Sin.

Akan tetapi Han Sin cepat mengelak. Ia tidak ingin berkelahi dengan gadis ini, apalagi tenaganya belum pulih seluruhnya, maka dia lalu mempergunakan ginkang untuk melompat jauh dari tempat itu lalu melarikan diri...!

“Han sin, tunggu! Jangan tinggalkan aku!” Ma Goat berteriak lalu mengejar. Akan tetapi larinya kalah cepat dan sebentar saja ia sudah kehilangan bayangan Han Sin. Akhirnya ia berhenti dan membanting-banting kaki, kemudian ia berlari pulang sambil menangis di sepanjang jalan.

Pak-te-ong sedang bersama tamunya, See-thian-mo, dalam sebuah ruangan. Mereka berdua bercakap-cakap dengan rahasia, tidak seorangpun boleh ikut mendengarkan. Akan tetapi mendadak terdengar suara gaduh diluar pintu dan ketika mereka menengok, ternyata para anak buah Te-kwi-pai yang sedang berjaga diluar, roboh terpelanting. Dua orang kakek itu terkejut akan tetapi Pak-te-ong tersenyum lega ketika melihat bahwa yang mengamuk dan merobohkan para penjaga itu bukan lain adalah ma Goat, puterinya.

Kiranya Ma Goat mengamuk dan memukuli mereka ketika ia di larang oleh para penjaga pada saat ia hendak memasuki ruangan itu. Ma Goat berlari masuk ruangan itu dengan kedua mata merah, karena menangis, melihat ayahnya, ia lari menghampiri ayahnya.

“Ayah… Han Sin…!“ Ia menangis dalam rangkulan ayahnya. Sikapnya sungguh seperti seorang anak kecil yang manja sekali.

Pa-tek-ong tertawa dan menepuk-nepuk pundak puterinya. “ha-ha-ha, Goat-ji. Maksudmu Cian Han Sin itu telah mampus...?”

“Ah, tidak, ayah. Dia tidak mati, dia melarikan diri. Ayah carilah dia, tangkaplah dia untukku…”

“Apa...? Dia tidak mati?” See-thian-mo yang bertanya ini sambil bangkit berdiri dari tempat duduknya. Dia terkejut dan saling pandang dengan Pak-te-ong.

“Tapi, dia telah terkena Tangan Halilintar ku!” kata Pak-te-ong.

“Aku telah memberinya obat penawarnya ayah...“ kata Ma Goat.

“Akan tetapi dia telah kupukul dengan Tangan Saljuku!” kata pula See-thian-mo.

“Obat penawarku itu mengandung inti hawa dingin, maka tentu akan membuat akibat pukulan Tangan Salju See-thian-mo lebih hebat lagi. Bagaimana dia dapat bertahan dan hidup...?” Pak-te-ong bertanya heran.

“Mula-mula juga begitu, ayah. Setelah kuberi obat penawar, Han Sin terserang dingin dan kukira dia telah mati. Akan tetapi lalu muncul seorang gadis, dan gadis cantik itulah yang telah mengobatinya hingga sembuh. Akan tetapi setelah sembuh dia pergi meninggalkan aku, ayah...“

“Hemm, bukankah engkau sendiri yang minta agar kami tidak mengganggunya dan membebaskannya? Setelah kini dia sembuh dan bebas pergi, mengapa engkau rewel lagi?” Pak-te-ong menegur puterinya dengan heran.

“Ayah…“ kata Ma Goat dan suaranya bernada manja sekali. “Aku melarang dia di bunuh karena aku ingin melihat dia hidup di sampingku selamanya. Hatiku telah memilihnya sebagai jodohku dan dia… dia lari meninggalkan aku…“

“Apa...?” kini mata Pak-tek-ong melotot. “Dia berani menolakmu? Anakku, bawa anak buah dan carilah dia, tangkap dan seret ke sini. Dia harus mau menjadi suamimu kalau engkau sudah memilihnya...!”

Dia bertepuk tangan sebagai isyarat memanggil para anak buahnya. Anak buah Tee-kwi-pai lari berdatangan dan Pak-te-ong memerintahkan dua puluh orang anak buah untuk membantu Ma Goat mencari Han Sin yang melarikan diri.

“Cepat kejar dia, anakku. Jangan sampai dia lari jauh dan lolos...!”

Ma Goat lalu berlari keluar, memberi isyarat kepada dua puluh orang itu dan segera mengikutinya. Setelah Ma Goat dan anak buahnya pergi, See-thian-mo tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha! Anaknya sama keras kepala dengan bapaknya. Kalau engkau dapat memiliki mantu seperti pemuda tadi, pak-te-ong, kedudukanmu tentu akan semakin kuat...“

Pak-te-ong tertawa sambil mengelus jenggotnya dan mengangguk-angguk...“ Mudah-mudahan Goat-ji dapat menangkapnya, sekarang marilah kita lanjutkan percakapan kita tadi. Aku amat tertarik, See-thian-mo...“

Dua orang kakek itu masuk kembali kedalam rumah dan melanjutkan percakapan mereka yang tadi terputus. Mereka duduk berhadapan dalam ruangan tertutup itu.

“See-thian-mo, coba jelaskan lagi, tugas rahasia apakah yang di berikan oleh Lui ciangkun untuk kita...?“ Tanya Pak-te-ong. “Kau tadi mengatakan bahwa kita harus membunuh Kaisar Yang Ti...?”

“Benar, pak-te-ong. Kita di tugaskan membunuh Kaisar Yang Ti dan sebagai imbalannya kalau kita berhasil, dia akan memberi seribu tail emas dan mengusahakan agar kita berdua menjadi pimpinan di dunia kang-ouw...“

“Hemm, imbalan yang amat menarik. Akan tetapi, pekerjaan itupun amat sukar, bahkan kuanggap tidak mungkin di lakukan. Kaisar berada di istana yang terjaga oleh pasukan pengawal dengan ketat, bahkan di istana terdapat jagoan-jagoan istana yang berilmu tinggi. Bagaimana mungkin kita berdua melaksanakan tugas itu...? Seperti memasuki lautan api. Jangankan berhasil, kita berdua bahkan akan terbakar hangus...!”

“Ah, Pak-tek-ong, kalau seperti yang kau sangka itu, aku sendiri tentu tidak akan mau menyanggupi, akan tetapi ketahuilah bahwa Kaisar yang Ti dalam bulan depan akan memimpin pasukan sendiri melakukan pembersihan dan penyerangan ke daerah utara. Terbuka kesempatan baik bagi kita untuk turun tangan. Ketika Kaisar Yang Ti sedang memimpin pasukannya, kita membawa anak buah menyamar dengan pakaian pasukan Sui, menyusup mendekati Kaisar dan dengan mudah akan membunuhnya...“

Pak-te-ong mengangguk-angguk. “Hemm, kalau demikian halnya menjadi lain lagi dan siasat itu baik sekali. Akan tetapi aku merasa heran. Bukankah Lui-ciangkun kini telah memperoleh kedudukan baik sebagai seorang panglima besar Kenapa dia menghendaki kematian Kaisar Yang Ti...?”

“Sebabnya mudah diduga, Pak-tek-ong. Dia amat membenci Kaisar dan dia pula yang banyak membantu sehingga kaisar terjerumus ke dalam keadaan yang sekarang, berfoya-foya menghamburkan uang Negara. Semua itu masih belum memuaskan hati Lui Couw. Dia menghendaki Kaisar itu mati...“

“Akan tetapi, mengapa dia demikian membenci Kaisar...?”

“Sederhana saja, Dendam sakit hati. Ketahuilah bahwa Lui Couw itu adalah putera mendiang Toat Beng Giam Ong...“

“Ahhh...! Kok-su dari Kerajaan Toba yang di jatuhkan oleh Kerajaan Sui...?” Tanya Pak-te-ong.

“Benar, karena itu Lui-ciangkun memiliki banyak peninggalan ayahnya berupa harta benda yang berhasil di selamatkan, juga warisan ilmu silatnya sehingga dia dapat memperoleh kedudukan tinggi sebagai panglima besar. Dalam usahanya membunuh kaisar, bukan semata untuk membalas dendam. Akan tetapi juga demi masa depannya. Dia sudah mencalonkan pangeran yang akan mendukungnya menggantikan kedudukan kaisar sehingga dia akan dapat menguasai kaisar baru dan memperoleh kedudukan yang lebih tinggi. Dan dia tentu tidak akan melupakan jasa kita, Pak-te-ong...“

“Baik, See-thian-mo, akan ku pertimbangkan penawaran Lui-ciangkun itu. Akan tetapi aku akan mengurus lebih dahulu puteriku yang manja itu. Mudah-mudahan ia telah berhasil menangkap calon mantuku, ha-ha-ha!”

See-thian-mo lalu berpamit setelah berjanji akan mengadakan pertemuan lagi untuk mendengar kepastian jawaban ketua Te-kwi-pai itu...

********************

Pedang Naga Hitam Jilid 26

Han Sin maklum bahwa dua orang itu menyerangnya dengan pukulan yang dahsyat, yang tidak mungkin dapat di elakkannya. Maka diapun memasang kuda-kuda dengan kedua kaki terpentang, mengerahkan tenaga sakti dari ilmu Bu-tek-cin-keng lalu mengembangkan kedua lengannya mendorong ke kanan kiri, menyambut dua pukulan lawan itu.

“Desss…!” pertempuran dua tenaga sinkang raksasa itu hebat sekali, menggetarkan bumi dan membuat semua yang menonton terguncang. Tian-Ciang dan Swat-ciang tiba dengan berbareng, di sambut kedua tangan Han Sin yang di penuhi tenaga dari ilmu Bu-tek-cin-keng. Dan akibatnya, kedua orang kakek itu terlempar ke belakang seperti di dorong tenaga raksasa yang tidak nampak. Mereka terbanting karena tenaga mereka tadi membalik, akan tetapi Han Sin juga berdiri terhuyung dan darah mengalir dari bibirnya, tanda bahwa dia menderita luka dalam yang hebat.

Melihat ini, dua orang kakek itu melompat berdiri, akan tetapi mereka juga terhuyung dengan muka pucat. Melihat keadaan Han Sin, Pak-te-ong berseru kepada anak buahnya sambil menudingkan telunjuknya kearah Han Sin,

“Bunuh dia...!”

Para anak buah Te-kwi-pai sudah berlompat ke depan mengepung Han Sin dengan senjata di tangan, akan tetapi pada saat itu ma Goat meloncat ke depan Han Sin, suling hitamnya ditangan dan matanya berkilat penuh ancaman.

“Siapa berani menyentuhnya akan di bunuh!” bentaknya dan semua anak buah Te-kwi-pai menjadi terkejut dan tidak berani bergerak.

“Goat-ji…!” Pak-te-ong membentak marah, dan menghampiri anaknya.

Akan tetapi Ma Goat melintangkan suling di depan dada dan menentang pandang mata ayahnya dengan sinar mata berkilat. “Ayah, Han Sin ini tidak bersalah. Dia hanya ingin menolongku dari bahaya maka sampai terlibat dalam urusan ini dan diapun dipaksa untuk berkelahi. Kalau aku yang pernah dia selamatkan sekarang diam saja melihat dia terancam bahaya, aku akan menjadi seorang yang paling tidak mengenal budi. Aku akan membelanya dengan taruhan nyawaku, ayah!”

Melihat sikap putrinya, Pak-te-ong menahan langkahnya. Dia mengenal benar watak putrinya yang tidak berbeda jauh dengan wataknya sendiri, yaitu keras hati dan tak mengenal takut. Melihat ayahnya berhenti menghampirinya, Ma Goat lalu memegang tangan Han Sin yang masih berdiri terengah-engah, lalu menariknya,

“Han Sin, mari kita pergi!” gadis itu lalu menggandeng tangan Han Sin, diajak pergi dari situ sambil siap melindunginya dari serangan.

Tidak ada anak buah Te-kwi-pai berani bergerak, dan See-thian-mo sendiri juga tidak mau menyerang karena dia merasa tidak enak kalau harus menyerang puteri rekannya. Apalagi dia sendiri juga sudah menderita luka dalam, walaupun tidak parah karena tadi dia menyerang Han Sin saling Bantu dengan tenaga Pak-te-ong.

Pak-te-ong juga mengetahui bahwa See-thian-mo menderita luka dalam seperti dia sendiri, maka dia lalu berkata, “See-thian-mo, mari kita ke rumah dan menyembuhkan luka kita sebelum bicara...“

“Baik, Pak-te-ong...“ kata kakek gendut pendek itu dan bersama dua orang muridnya dia lalu mengikuti Pak-te-ong mendaki puncak bukit Kwi-san.

********************

Cerita silat serial sepasang naga lembah iblis episode pedang naga hitam jilid 26 karya kho ping hoo

Ma Goat menggandeng tangan Han Sin yang berjalan terhuyung-huyung. Han Sin merasa tubuhnya lemah dan nyeri karena didalam tubuhnya seperti ada dua kekuatan hawa yang saling berebutan. Kadang tubuhnya seperti dibakar api di sebelah dalam, terkadang seperti direndam dalam salju yang dingin sekali. Setelah menguatkan diri melangkah cepat ketika diajak melarikan diri oleh ma Goat, akhirnya dia mengeluh dan tentu roboh terpelanting kalau saja Ma Goat tidak cepat merangkulnya.

“Han Sin, bagaimana keadaanmu?” Ma Goat bertanya sambil memeluk tubuh pemuda itu.

Han Sin memejamkan matanya...“…Panas… dingin…“ dia mengeluh lalu lehernya terkulai, pingsan.

Ma Goat lalu memodong tubuh itu dan di bawa lari menuju ke tepi sungai. Setelah tiba di tepi sungai, dia merebahkan tubuh pemuda itu di atas rumput. Dikeluarkannya sebuah botol kecil dari dalam bajunya, kemudian ia membuka mulut Han Sin. Pemuda itu dalam keadaan setengah sadar dapat menelan obat itu.

Ma Goat menanti dengan hati gelisah melihat pengaruh obat yang diminumkannya. Ia merasa yakin bahwa obatnya itu pasti akan dapat menyembuhkan luka beracun akibat pukulan Tian-ciang karena ia sendiri juga sudah mempelajari Tangan halilintar itu. Obat itu adalah buatan ayahnya yang khas untuk mengobati luka akibat pukulan ilmu itu.

Tak lama kemudian, nampak reaksi obat itu. Akan tetapi sungguh di luar dugaan Ma Goat ketika ia melihat pemuda itu mengeluh, membuka mata lalu tubuh itu menggigil kedinginan dan muka serta seluruh badannya berubah pucat kebiruan!

“Han Sin… bagaimana rasanya tubuhmu…?” Ma Goat memegang lengan pemuda itu dengan khawatir. Dan alangkah kagetnya ketika ia memegang lengan itu, terasa lengan itu dingin seperti es! Dan tak lama kemudian, Han Sin sudah tidak menggigil atau bergerak lagi, melainkan telentang diam dan kaku seperti mayat yang dingin sekali.

“Han Sin… Han Sin… Ahhh!” Ma Goat menjadi kebingungan, tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ingin rasanya ia menangis karena merasa begitu tidak berdaya.

Tiba-tiba terdengar langkah orang yang ringan dan lembut sekali menghampirinya. Ma Goat cepat menoleh dan siap menyerang karena dalam keadaan bingung dan khawatir itu mudah sekali bangkit kemarahannya. Akan tetapi ketika ia memandang, yang datang adalah seorang gadis berusia kurang lebih delapan belas tahun. Gadis ini melangkah ringan dan gerak-geriknya lembut, pakaiannya yang serba putih bersih itu terbuat dari sutera.

Wajahnya bulat telur, dagunya meruncing dan rambutnya yang panjang itu di gelung ke atas, sebagian di kuncir dan dibiarkan bergantung di depan pundaknya. Alisnya melengkung hitam dan matanya indah dengan pandang mata lembut dan tenang sekali, mulutnya mengarah senyum dengan bibir merah basah, lesung pipit nampak di kedua pipinya. Tubuhnya sedang dan pinggangnya ramping, Ma Goat sendiri sampai tertegun. Belum pernah ia melihat seorang wanita secantik dan anggun seperti itu.

“Enci yang baik, engkau nampak gelisah. Dapatkah aku membantumu...?“ Gadis yang bukan lain adalah Kim Lan itu bertanya dengan halus.

Ia kebetulan lewat di situ dan melihat Ma Goat nampak kebingungan dan gelisah sedangkan di depan gadis yang berlutut itu menggeletak seorang pria yang telentang. Kim Lan baru kembali dari sebuah dusun di lembah huang-ho dimana berjangkit penyakit menular. Mendengar ini ia lalu pergi ke dusun itu dan dengan kepandaiannya mengobati, ia berhasil menyelamatkan banyak orang dari cengkraman maut. Setelah penyakit itu berhasil dibasminya, ia lalu kembali ke selatan dan dalam perjalanan ke selatan inilah ia kebetulan melihat Ma Goat di tepi sungai itu dan menghampirinya.

Ma Goat sedang gelisah dan jengkel melihat keadaan Han Sin yang mengkhawatirkan, maka ia menganggap kedatangan gadis berpakaian serba putih itu sebagai gangguan. “Pergilah dan jangan ganggu aku!” katanya ketus. “Engkau tidak akan dapat menolongku!”

Akan tetapi, Kim Lan atau yang biasa di sebut Lan Lan itu sudah memandang wajah Han Sin. Ia terkejut sekali ketika mengenal wajah itu akan tetapi kekagetannya itu sama sekali tidak kelihatan. Hanya kerut alisnya saja yang menunjukkan kekagetannya. Tanpa diminta iapun berlutut di samping ma Goat dan meletakkan jari-jari tangan kirinya di atas dahi yang mengepulkan uap dingin itu.

“Hemm..., dia keracunan hawa dingin yang hebat sekali. kalau terlambat menolongnya, dalam waktu empat lima jam lagi dia tidak akan tertolong lagi...“ katanya sambil memegang nadi tangan pemuda itu.

Ma Goat kini memandang dengan penuh harapan. “Engkau… engkau mengerti ilmu pengobatan?” tanyanya.

Dengan tenang sambil tersenyum manis Kim Lan mengangguk. “Sedikit, akan tetapi jangan khawatir. Aku akan mencoba menyembuhkannya. Akan tetapi tempat ini kurang layak untuk mengobatinya. Aku melihat di sana ada sebuah pondok kosong, kita bawa saja dia ke sana!”

Ketika Kim Lan hendak membantu menggotong tubuh pemuda itu, Ma Goat menolaknya. “Tidak usah, biar kupondong sendiri...“ Dan ia pun sudah mengangkat dan memondong tubuh Han Sin yang terasa luar biasa dinginnya itu.

Kim Lan memandang dengan sinar kelembutan membayang di matanya. Sekali pandang saja tahulah ia bahwa gadis itu amat mencinta Han Sin. Pondok itu adalah sebuah pondok yang didirikan oleh mereka yang membutuhkannya, yaitu para pemburu dan para nelayan yang kemalaman di daerah ini dan menggunakan pondok itu sebagai tempat melewatkan malam. Sebuah pondok kayu dan bambu sederhana, akan tetapi lantainya bersih dan terdapat banyak jerami kering.

“Rebahkan dia di sini,..“ kata Lan Lan menunjuk ke tengah ruangan yang penuh jerami.

Ma Goat dengan hati-hati sekali merebahkan Han Sin di atas jerami dan ia memandang penuh perhatian ketika Lan Lan mulai melakukan pemeriksaan. Menekan nadi, dada dan leher Han Sin, kemudian ia menoleh kepada Ma Goat.

“Coba ceritakan, apa yang telah terjadi padanya agar aku dapat menentukan obatnya...“

Ma Goat berkata dengan harap-harap cemas. “Dia terkena pukulan ayahku, yaitu pukulan tangan halilintar yang panas. Akan tetapi dia pada saat yang sama juga terkena pukulan See-thian-mo. Dalam keadaan panas dingin dia kubawa ke sini dan tadi sudah ku obati dengan obat penangkal racun akibat pukulan halilintar. Panasnya memang hilang, akan tetapi tubuhnya menjadi dingin seperti es…“

Lan Lan mengangguk-angguk. “Dia terkena pukulan See-thian-mo? Hemm, aku pernah mendengar bahwa See-thian-mo memiliki ilmu pukulan Swat-ciang. Dia keracunan hawa dingin pukulan itu, kemudian dia minum obat mu. Obat itu melawan pengaruh pukulan halilintar, tentu mengandung hawa dingin pula. Maka, racun hawa dingin itu menjadi berlipat ganda. Untung dia memiliki sinkang yang kuat, kalau tidak, dia tentu sudah mati...“

“Kau… kau tentu dapat mengobatinya dan menyembuhkannya, bukan...?” Tanya Ma Goat.

“Jangan khawatir, akan ku coba...“ Lan Lan mengeluarkan bungkusan jarum-jarumnya dan segera minta kepada Ma Goat agar menanggalkan baju bagian atas pemuda itu, kemudian ia menancapkan jarum-jarumnya di beberapa jalan darah. Setelah itu, ia lalu menggunakan jari tangannya untuk menotok jalan darah di dada, pundak dan punggung, kemudian menempelkan tangan kirinya ke atas dada Han Sin dan menyalurkan tenaga sinkangnya.

Ma Goat memandang penuh perhatian dan alangkah girang hatinya melihat betapa perlahan-lahan wajah Han Sin menjadi normal kembali, warna pucat kebiruan itu lenyap dan terganti warna kemerahan. Pernapasan Han Sin juga tidak lemah seperti tadi. Kemudian terdengar dia mengeluh dan bergerak. Lan Lan menarik kembali tangannya, dan bangkit berdiri. Dahi dan lehernya yang putih basah oleh keringat. Ia menghapus keringat itu dengan ujung lengan bajunya lalu berkata lirih,

“Dia akan sembuh, racunnya sudah meninggalkan tubuhnya...“

Ma Goat merasa girang sekali dan pada saat itu, Han Sin mengeluh lirih. Ma Goat cepat berlutut lagi dan ia melihat pemuda itu sudah membuka matanya dan mata itu di tujukan kepada gadis berpakaian putih yang telah menolongnya tadi.

“Lan-moi…!” Han Sin berkata lemah dan mencoba hendak bangkit duduk, akan tetapi dia mengeluh dan roboh telentang lagi, memejamkan mata karena merasa pening.

“Dia harus beristirahat sebentar dan jangan banyak bergerak dulu selama satu jam...“ kata Lan Lan.

Ma Goat segera bangkit berdiri dan memegang tangan Lan Lan, menariknya menjauhi Han Sin. “Sobat yang baik, terima kasih banyak atas pertolonganmu ini. Siapakah namamu agar aku tidak akan melupakanmu. Aku sendiri bernama Ma Goat...“

Kim Lan tersenyum. “Namaku Lan, she Kim. Panggil saja Lan Lan...“

“Lan-Lan, aku sudah berterima kasih kepadamu, mudah-mudahan lain waktu aku dapat membalas kebaikanmu. Sekarang kuharap engkau suka meninggalkan kami...“

Sesaat pandang mata Lan Lan bertemu dengan pandang mata Ma Goat dan ia maklum. Gadis yang bersenjata suling ini tidak ingin Han Sin melihatnya kalau sudah sadar nanti! Ia pun mengangguk sambil tersenyum, lalu meninggalkan tempat itu dengan langkah lembut seenaknya.

Ma Goat adalah seorang gadis yang sejak kecil hidup di tengah-tengah kekerasan kehidupan seorang datuk kang-ouw. Ia menjadi keras akan tetapi jujur mengeluarkan apa saja yang menjadi isi hatinya. Ia merasa khawatir setelah melihat betapa Lan Lan yang cantik jelita itu berhasil menyelamatkan Han Sin. Khawatir kalau Han Sin sadar lalu melihat Lan Lan akan jatuh hati kepada gadis cantik jelita itu. Maka terang-terangan ia minta agar Lan Lan meninggalkan tempat itu.

Akan tetapi ia tidak tahu bahwa tadi Han Sin sudah sadar dan membuka matanya dan dia mengenali Lan Lan. Bahkan ketika dia terpaksa memejamkan mata karena pening, telinganya dapat mendengar dan mengenal dengan baik suara Lan Lan. Diapun mendengar ucapan Lan Lan yang mengharuskan dia istirahat dulu dan jangan banyak bergerak, maka diapun merebahkan diri dan melemaskan seluruh urat syaraf di tubuhnya. Dia merasa tenang dan nyaman. Setelah dia merasa kesehatannya telah pulih kembali, dibukanya matanya dan dia tidak merasa pening lagi. Dengan perlahan dia lalu bangkit duduk.

“Han Sin, jangan banyak bergerak dulu…“ kata Ma Goat sambil mendekatinya dan memegang pundaknya, “Bagaimana rasanya sekarang? sudah baikkah...?“

Akan tetapi Han Sin tidak menjawab melainkan memandang ke kanan kiri, mencari-cari. "Dimana ia? Ma Goat, kemana perginya...?”

Ma Goat mengerutkan alisnya. “Siapa? Engkau mencari siapa...?”

“Lan-moi, kemana ia pergi...?”

“Lan-moi siapa? Tidak ada siapa-siapa di sini kecuali aku dan engkau, Han Sin...“ kata Ma Goat.

Han Sin sekali lagi memandang ke kanan kiri. Setelah melihat bahwa memang tidak ada Lan Lan di sekitar tempat itu, diapun bangkit dan berdiri. Dia menggerakkan kedua lengannya dan sudah merasa sehat.

“Ma Goat, harap jangan membohongi aku. Tadi aku melihat Lan Lan di sini, bahkan mendengar suaranya. Kemana ia pergi?” tanyanya sambil memandang tajam wajah gadis itu.

Ma Goat menjadi jengkel. Ia bersusah payah menolong Han Sin dan begitu sembuh pemuda itu menanyakan wanita lain! “Sudah kukatakan tidak ada siapa-siapa selain aku dan engkau. Tidak ada yang bernama Lan Lan!”

“Hemmm, Ma Goat. Aku ingat bahwa aku telah terkena pukulan ayahmu dan see-thian-mo sehingga aku terluka parah. Kemudian engkau membawaku ke sini. Akan tetapi siapa yang mengobatiku sampai sembuh...?”

“Siapa lagi yang menyembuhkanmu kecuali aku? Aku yang telah mengobatimu, Han Sin. Dan aku yang membelamu, mencegah mereka membunuhmu. Lihat, ini botol obat ku yang sudah habis kuminumkan padamu tadi...“

Han Sin lalu mengangkat kedua tangan depan dada. “Ma Goat, engkau baik sekali kepadaku. Aku masih ingat betapa engkau melawan ayahmu sendiri dan see-thian-mo untuk menyelamatkanku dan membawaku ke sini untuk mengobatiku. Aku mengucapkan terima kasih dan mudah-mudahan lain waktu aku akan dapat membalasmu. Sekarang aku hendak melanjutkan perjalanan...“

“Engkau hendak pergi meninggalkan aku? Tidak, Han Sin. Kalau engkau pergi, kemanapun aku harus ikut denganmu...!” kata gadis itu dengan suara tegas.

Han Sin terkejut dan memandang heran. Sejenak pandang mata mereka bertemu, Han Sin penuh selidik dan gadis itu kukuh dan keras. “Ma Goat, apa maksudmu? Tidak mungkin engkau pergi mengikutiku...!”

“Kalau engkau tidak mau membawaku, engkaulah yang harus ikut dengan aku menghadap ayahku...!”

“Ehhh...? Apa yang kau maksudkan? Aku tidak mengerti sikap dan ucapanmu ini!”

“Maksudku sudah jelas. Engkau harus mempunyai dua pilihan. Yang pertama, engkau membawaku kemanapun engkau pergi dan yang kedua, kalau engkau tidak dapat membaw aku, engkau harus ikut aku menghadap ayah dan tinggal bersamaku di Kwi-san...“

“Akan tetapi mengapa begitu...? Apa artinya ini?” Han Sin benar-benar merasa terkejut, heran dan tidak mengerti.

“Artinya sudah jelas, Han Sin. Engkau menjadi pilihan hatiku dan aku sudah memutuskan untuk memilihmu sebagai jodohku. Sekarang tinggal engkau pilih. Hidup sebagai suamiku di Kwi-san, atau engkau membawa aku kemanapun engkau pergi. Aku akan menjadi pendampingmu yang setia selama hidupmu...“

Han Sin terbelalak kaget dan mengamati wajah cantik itu penuh selidik. Teringatlah dia kepada Kui Ji, gadis dari keluarga gila itu. Apakah Ma Goat inipun gila seperti Kui Ji? Akan tetapi sikap dan kata-katanya tidak menunjukkan bahwa ia gila. Kemudian dia melihat kenyataannya yang menggelisahkan hatinya. Gadis ini tidak gila akan tetapi jatuh cinta kepadanya dan hendak memaksanya untuk menjadi suaminya! Sungguh suatu cara pemaksaan jodoh yang tidak banyak bedanya dengan cara yang di pakai si gadis gila Kui Ji.

“Menyesal sekali aku tidak dapat memenuhi permintaanmu​ Ma Goat. Maafkan aku. Aku belum mempunyai keinginan untuk mengikatkan diri dengan perjodohan. Aku tidak mau tinggal di Kwi-san sebagai suamimu, juga tidak mau membawamu dalam perjalananku...“ katanya tegas.

Alis itu berkerut dan sepasang mata yang indah itu berkilat. Ma Goat menggerakkan tangannya dan suling hitamnya sudah dicabutnya dari ikat pinggang. “Kalau begitu, terpaksa aku harus menawanmu, han Sin...!” katanya sambil mengamangkan sulingnya.

“Engkau sungguh tidak mengenal budi. Engkau pernah menyelamatkan aku, sebaliknya aku pun sudah menyelamatkan nyawamu. Mengapa engkau menolak keinginanku untuk hidup bersamamu...?”

“Ma Goat, ketika aku menolongmu, sama sekali tidak ada pamrih dalam hatiku. Akan tetapi engkau menolongku dengan pamrih mendapatkan imbalan yang tidak dapat aku memenuhinya...“

“Sudahlah, engkau harus menjadi suamiku, apapun yang terjadi...!” Gadis itu sudah menggerakkan sulingnya untuk menotok pundak Han Sin.

Akan tetapi Han Sin cepat mengelak. Ia tidak ingin berkelahi dengan gadis ini, apalagi tenaganya belum pulih seluruhnya, maka dia lalu mempergunakan ginkang untuk melompat jauh dari tempat itu lalu melarikan diri...!

“Han sin, tunggu! Jangan tinggalkan aku!” Ma Goat berteriak lalu mengejar. Akan tetapi larinya kalah cepat dan sebentar saja ia sudah kehilangan bayangan Han Sin. Akhirnya ia berhenti dan membanting-banting kaki, kemudian ia berlari pulang sambil menangis di sepanjang jalan.

Pak-te-ong sedang bersama tamunya, See-thian-mo, dalam sebuah ruangan. Mereka berdua bercakap-cakap dengan rahasia, tidak seorangpun boleh ikut mendengarkan. Akan tetapi mendadak terdengar suara gaduh diluar pintu dan ketika mereka menengok, ternyata para anak buah Te-kwi-pai yang sedang berjaga diluar, roboh terpelanting. Dua orang kakek itu terkejut akan tetapi Pak-te-ong tersenyum lega ketika melihat bahwa yang mengamuk dan merobohkan para penjaga itu bukan lain adalah ma Goat, puterinya.

Kiranya Ma Goat mengamuk dan memukuli mereka ketika ia di larang oleh para penjaga pada saat ia hendak memasuki ruangan itu. Ma Goat berlari masuk ruangan itu dengan kedua mata merah, karena menangis, melihat ayahnya, ia lari menghampiri ayahnya.

“Ayah… Han Sin…!“ Ia menangis dalam rangkulan ayahnya. Sikapnya sungguh seperti seorang anak kecil yang manja sekali.

Pa-tek-ong tertawa dan menepuk-nepuk pundak puterinya. “ha-ha-ha, Goat-ji. Maksudmu Cian Han Sin itu telah mampus...?”

“Ah, tidak, ayah. Dia tidak mati, dia melarikan diri. Ayah carilah dia, tangkaplah dia untukku…”

“Apa...? Dia tidak mati?” See-thian-mo yang bertanya ini sambil bangkit berdiri dari tempat duduknya. Dia terkejut dan saling pandang dengan Pak-te-ong.

“Tapi, dia telah terkena Tangan Halilintar ku!” kata Pak-te-ong.

“Aku telah memberinya obat penawarnya ayah...“ kata Ma Goat.

“Akan tetapi dia telah kupukul dengan Tangan Saljuku!” kata pula See-thian-mo.

“Obat penawarku itu mengandung inti hawa dingin, maka tentu akan membuat akibat pukulan Tangan Salju See-thian-mo lebih hebat lagi. Bagaimana dia dapat bertahan dan hidup...?” Pak-te-ong bertanya heran.

“Mula-mula juga begitu, ayah. Setelah kuberi obat penawar, Han Sin terserang dingin dan kukira dia telah mati. Akan tetapi lalu muncul seorang gadis, dan gadis cantik itulah yang telah mengobatinya hingga sembuh. Akan tetapi setelah sembuh dia pergi meninggalkan aku, ayah...“

“Hemm, bukankah engkau sendiri yang minta agar kami tidak mengganggunya dan membebaskannya? Setelah kini dia sembuh dan bebas pergi, mengapa engkau rewel lagi?” Pak-te-ong menegur puterinya dengan heran.

“Ayah…“ kata Ma Goat dan suaranya bernada manja sekali. “Aku melarang dia di bunuh karena aku ingin melihat dia hidup di sampingku selamanya. Hatiku telah memilihnya sebagai jodohku dan dia… dia lari meninggalkan aku…“

“Apa...?” kini mata Pak-tek-ong melotot. “Dia berani menolakmu? Anakku, bawa anak buah dan carilah dia, tangkap dan seret ke sini. Dia harus mau menjadi suamimu kalau engkau sudah memilihnya...!”

Dia bertepuk tangan sebagai isyarat memanggil para anak buahnya. Anak buah Tee-kwi-pai lari berdatangan dan Pak-te-ong memerintahkan dua puluh orang anak buah untuk membantu Ma Goat mencari Han Sin yang melarikan diri.

“Cepat kejar dia, anakku. Jangan sampai dia lari jauh dan lolos...!”

Ma Goat lalu berlari keluar, memberi isyarat kepada dua puluh orang itu dan segera mengikutinya. Setelah Ma Goat dan anak buahnya pergi, See-thian-mo tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha! Anaknya sama keras kepala dengan bapaknya. Kalau engkau dapat memiliki mantu seperti pemuda tadi, pak-te-ong, kedudukanmu tentu akan semakin kuat...“

Pak-te-ong tertawa sambil mengelus jenggotnya dan mengangguk-angguk...“ Mudah-mudahan Goat-ji dapat menangkapnya, sekarang marilah kita lanjutkan percakapan kita tadi. Aku amat tertarik, See-thian-mo...“

Dua orang kakek itu masuk kembali kedalam rumah dan melanjutkan percakapan mereka yang tadi terputus. Mereka duduk berhadapan dalam ruangan tertutup itu.

“See-thian-mo, coba jelaskan lagi, tugas rahasia apakah yang di berikan oleh Lui ciangkun untuk kita...?“ Tanya Pak-te-ong. “Kau tadi mengatakan bahwa kita harus membunuh Kaisar Yang Ti...?”

“Benar, pak-te-ong. Kita di tugaskan membunuh Kaisar Yang Ti dan sebagai imbalannya kalau kita berhasil, dia akan memberi seribu tail emas dan mengusahakan agar kita berdua menjadi pimpinan di dunia kang-ouw...“

“Hemm, imbalan yang amat menarik. Akan tetapi, pekerjaan itupun amat sukar, bahkan kuanggap tidak mungkin di lakukan. Kaisar berada di istana yang terjaga oleh pasukan pengawal dengan ketat, bahkan di istana terdapat jagoan-jagoan istana yang berilmu tinggi. Bagaimana mungkin kita berdua melaksanakan tugas itu...? Seperti memasuki lautan api. Jangankan berhasil, kita berdua bahkan akan terbakar hangus...!”

“Ah, Pak-tek-ong, kalau seperti yang kau sangka itu, aku sendiri tentu tidak akan mau menyanggupi, akan tetapi ketahuilah bahwa Kaisar yang Ti dalam bulan depan akan memimpin pasukan sendiri melakukan pembersihan dan penyerangan ke daerah utara. Terbuka kesempatan baik bagi kita untuk turun tangan. Ketika Kaisar Yang Ti sedang memimpin pasukannya, kita membawa anak buah menyamar dengan pakaian pasukan Sui, menyusup mendekati Kaisar dan dengan mudah akan membunuhnya...“

Pak-te-ong mengangguk-angguk. “Hemm, kalau demikian halnya menjadi lain lagi dan siasat itu baik sekali. Akan tetapi aku merasa heran. Bukankah Lui-ciangkun kini telah memperoleh kedudukan baik sebagai seorang panglima besar Kenapa dia menghendaki kematian Kaisar Yang Ti...?”

“Sebabnya mudah diduga, Pak-tek-ong. Dia amat membenci Kaisar dan dia pula yang banyak membantu sehingga kaisar terjerumus ke dalam keadaan yang sekarang, berfoya-foya menghamburkan uang Negara. Semua itu masih belum memuaskan hati Lui Couw. Dia menghendaki Kaisar itu mati...“

“Akan tetapi, mengapa dia demikian membenci Kaisar...?”

“Sederhana saja, Dendam sakit hati. Ketahuilah bahwa Lui Couw itu adalah putera mendiang Toat Beng Giam Ong...“

“Ahhh...! Kok-su dari Kerajaan Toba yang di jatuhkan oleh Kerajaan Sui...?” Tanya Pak-te-ong.

“Benar, karena itu Lui-ciangkun memiliki banyak peninggalan ayahnya berupa harta benda yang berhasil di selamatkan, juga warisan ilmu silatnya sehingga dia dapat memperoleh kedudukan tinggi sebagai panglima besar. Dalam usahanya membunuh kaisar, bukan semata untuk membalas dendam. Akan tetapi juga demi masa depannya. Dia sudah mencalonkan pangeran yang akan mendukungnya menggantikan kedudukan kaisar sehingga dia akan dapat menguasai kaisar baru dan memperoleh kedudukan yang lebih tinggi. Dan dia tentu tidak akan melupakan jasa kita, Pak-te-ong...“

“Baik, See-thian-mo, akan ku pertimbangkan penawaran Lui-ciangkun itu. Akan tetapi aku akan mengurus lebih dahulu puteriku yang manja itu. Mudah-mudahan ia telah berhasil menangkap calon mantuku, ha-ha-ha!”

See-thian-mo lalu berpamit setelah berjanji akan mengadakan pertemuan lagi untuk mendengar kepastian jawaban ketua Te-kwi-pai itu...

********************