Social Items

KALAU Yang Cien sangat tekun melatih diri dengan pernapasan dan siulan begitu tekun sampai setahun lewat tanpa dia rasakan, adalah Akauw yang mulai uring-uringan karena bosan. Setiap hari dia hanya melihat suhengnya duduk bersila dan melakukan pernapasan yang aneh-aneh, kadang-kadang napasnya bersuara seperti orang mengorok, kadang-kadang seperti kuda meringkik, kadang tidak bersuara sama sekali.

Karena bosan dan iseng, mulailah dia memperhatikan gambar-gambar orang bersilat yang terdapat di dalam dinding itu. maka mulailah dia berlatih silat melalui gambar-gambar, menirukan setiap gerakan. Dasar dia memang berbakat baik sekali, telah memiliki kesigapan alami, maka tidak berapa sukar baginya untuk menirukan jurus-jurus itu.

Yang Cien melihat ini dan dia diam saja, dia tahu betapa jemunya sutenya itu berdiam diri saja di tempat itu, setiap hari hanya mempersiapkan segala keperluan untuk dirinya. Dia amat berterima kasih kepada sutenya yang setia, maka melihat sutenya giat berlatih silat, dia mendiamkan saja. Dan ternyata Akauw mendapatkan kesibukan tersendiri dan dia tekun sekali berlatih.

Setelah mempelajari siu-lan selama dua tahun, pada lembar-lembar berikutnya barulah ternyata olehnya bahwa latihannya itu adalah untuk persiapan mempelajari ilmu silat yang gambarnya terdapat pada dinding. Ilmu silat yang dilatih oleh sutenya itu ilmu Bu Tek Cin Keng. Dan sutenya telah mempelajarinya begitu saja, tanpa petunjuk kitab. Padahal, sutenya sudah melatihnya selama dua tahun, dan agaknya sudah menguasai semua jurus dari Bu Tek Cin Keng.

“Sute, tahan…!” Dia berseru ketika membaca lembaran kitabnya pada bagian itu. “Sute, engkau tidak boleh melatih ilmu silat itu begitu saja. Harus menurut peraturan yang terdapat dalam kitab ini. Mari ku bacakan. Dimulai dari jurus pertama dulu, sute. Ketika berdiri tegak dan merangkap kedua tangan depan dada, seluruh hati akan pikiran haruslah di tundukkan kearah kepasrahan kepada Thian, haruslah kosong dan biar terisi oleh kekuasaan Thian. Selaras dengan bunyi ujar-ujar Thian-beng-ci wi-seng (Anugerah Tuhan adalah yang dinamakan Aseng). Nah, kita mengosongkan hati akal pikiran itu, agar Seng (watak asli) kita bangkit, terbebas dari pengaruh segala nafsu, kembali murni seperti aslinya. Setelah itu, barulah kedua tangan yang di rangkap depan dada itu berpisah, yang kanan menuding keatas, yang kiri ke bawah, yang ini yang dinamakan pisah akan tetapi kumpul, seperti pisahnya bumi dan langit yang sebetulnya tidak pernah berpisah karena memang menjadi satu rangkaian. Gerakan pertama dari jurus pertama ini dilakukan dengan tarikan napas panjang, menyimpan di perut, baru pada gerakan kedua dihembuskan keluar dan bersuara aaahhhhh, kemudian pada gerakan ke tiga…“

“Wah, sudah, sudah. aku menjadi pening, suheng. Kau saja yang mempelajari dari kitab. Aku hanya ingin mempelajari segala gerakannya saja, tidak ingin mempelajari segala artinya, baru satu jurus saja sudah begitu panjang lebar belum juga selesai kau terangkan, bagaimana aku dapat mengerti dan ingat? Padahal semua ada tiga puluh enam jurus dank au tahu suheng? Semua jurus itu sudah hafal olehku. Nah, kau lihat ini...“

Akauw lalu mulai bersilat, dari jurus pertama sampai selesai tegapuluh enam jurus. Gerakannya gesit bukan main dan ilmu silat itu memang indah sekali seperti orang menari-nari. Akan tetapi setelah selesai bersilat, napas Akauw agak memburu dan dia tertawa bergelak-gelak saking girangnya.

Yang Cien mengerutkan alisnya. Dari suara ketawa sutenya itu saja tahulah dia bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam sikap Akauw. “Sute, engkau harus taat kepadaku, ingat? Aku katakan engkau mulai sekarang tidak boleh memainkan ilmu silat itu, kecuali kalau engkau mau mempelajari dari semual menurut petunjuk kitab ini. Mari kita mempelajari berdua, sute“

“Ah, sudah hafal di mulai lagi dari pertama, untuk apa? Aha, suheng, agaknya engkau iri kepadaku. Aku sudah hafal semua dan engkau baru mulai dari jurus satu. Suheng, aku sudah jemu di sini. Sekarang setelah tanganmu sembuh, marilah kita pergi dari sini, melanjutkan perjalanan kita“

“Sute, aku ingin mempelajari ilmu silat ini lebih dulu seperti pesan suhu“

“Suhu siapa?”

“Suhu Thian Beng Lojin. seperti yang tertulis di dalam kitabnya. Aku harus menaati pesannya, kalau tidak berarti aku bukan seorang murid yang baik. Kalau kakek masih hidup, tentu demikian pula pesannya kepadaku dan kepadamu. Tunggulah sampai aku selesai mempelajari kitab ini, baru kita pergi melanjutkan perjalanan kita, sute“

“Sampai kapan, suheng?”

“Sampai tiga tahun lagi, karena menurut kitab ini, aku harus berlatih selama lima tahun dan ini baru lewat dua tahun“

“Tiga tahun? Wah, terlalu lama, suheng. Kita pergi sekarang, kalau engkau tidak mau, biar aku pergi sendiri“

Jelas bahwa telah terjadi sesuatu pada diri Akauw, pikir Yang Cien. Apakah ini ada hubungannya dengan melatih ilmu Bu Tek Cin Keng tanpa tuntunan? Kalau dulu dia pernah menganjurkan sutenya untuk merantau dulu seorang diri, kini dia berbalik malah khawatir.

“Sute, jangan pergi dulu, tunggu sampai aku selesai melatih ilmu“

“Suheng, aku bukan anak kecil lagi. Suheng juga seringkali mengatakan bahwa aku telah dewasa, usiaku sudah dua puluh satu tahun. Aku sudah mempunyai bekal ilmu yang cukup untuk menjaga diri, dan juga bekal emas yang cukup untuk biaya hidup. Suheng biarlah aku merantau dulu, dan paling lama tiga tahun, sebelum engkau selesai melatih ilmu di sini, aku pasti akan datang menjemputmu“

Yang Cien menghela napas panjang. Kalau dia mencegah terus, sutenya bisa menduga bahwa dia terlalu memikirkan diri sendiri. Kini lukanya sudah sembuh, tinggal melatih ilmu saja untuk membuat semua racun lenyap dari tubuhnya. Dia dapat mencari makan sendiri, dapat mengatur keperluan dan memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bantuan sutenya.

“Baiklah kalau engkau berkeras, sute. Hanya jangan lupa di dunia banyak sekali terdapat orang jahat. Engkau tentu masih ingat akan semua pelajaran yang kau terima dari kakek atau dariku, dapat membedakan mana baik dan mana jahat. Dan sekali lagi, jangan engkau mudah melibatkan diri dalam perkelahian, dan terutama sekali, jangan membunuh orang tanpa sebab“

“Aku mengerti, suheng. Akan tetapi tentu engkau tidak keberatan kalau aku membunuh orang yang jahat sekali dan yang suka mencelakakan orang, bukan?”

Yang Cien menghela napas panjang, teringat akan dasar watak sutenya yang keras...“ Engkau tentu dapat memilih, pendeknya, jangan terlalu mudah membunuh orang, kecuali kalau engkau menjadi seorang prajurit yang bekerja untuk sebuah kerajaan . Akan tetapi engkau harus dapat memilih kerajaan macam apa, dibawah raja macam apa engkau mengabdi“

“Jangan khawatir, suheng. Aku tidak akan menjadi seorang prajurit kalau tidak bersama engkau. Nah, aku sudah mempersiapkan segalanya malam tadi, selamat tinggal suheng, aku berangkat“

“Sute, selamat jalan, jaga dirimu baik-baik, sute“

“Suheng...!” Akauw menghampiri suhengnya dan merangkulnya. Yang Cien balas merangkul dan saat itu dia merasa betapa sayangnya dia kepada sutenya ini yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri dan betapa besar dan kokoh tubuh sutenya sehingga tidak pantas kalau dia selalu menahan dan menjaganya“

“Sute, pergilah“

Dia mengikuti sutenya yang berloncatan dengan sigap sekali di antara batu-batu besar di luar guha. Setelah sutenya pergi, baru dia merasa betapa sepinya hidup ini. Dia merasa kehilangan sekali dan merasa kesepian

Dalam setiap perpisahan, selalu pihak yang di tinggalkan merasa lebih berat dan kehilangan, seolah-olah dalam hidupnya menjadi tidak lengkap lagi. Sebaliknya, yang meninggalkan tidaklah begitu merasa berat karena pikirannya penuh dengan hal-hal baru, yang akan dihadapinya dalam perjalanan.

Setelah dapat menentramkan batinnya yang terguncang dan merasa nelangsa di tinggalkan sutenya dan hidup sendiri di tempat terasing itu, mulailah Yang Cien melatih diri dengan ilmu silat yang gambarnya memenuhi dinding, menurut petunjuk dalam kitab. Dan bukan main kagumnya karena dia menemukan ilmu silat yang luar biasa sekali hebatnya. Dan juga menurut petunjuk kitab itu.

Setiap jurus haruslah digerakkan sesuai dengan peraturan pernapasan dan pencurahan perhatian di tujukan kepada suatu tertentu. Sehingga untuk melatih setiap jurus membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan! Dan untuk melatih dan menguasai semua tiga puluh enam jurus itu di butuhkan waktu tiga tahun! Akan tetapi sutenya telah menghafal dan melatih seluruh jurus itu hanya dalam waktu dua tahun.

Ketika sutenya pergi jauh dan dia memeriksa pedang yang berada di atas meja sembahyang, baru dia tahu bahwa sebatang di antara dua batang pedang itu telah lenyap. Sarung pedang itu kini hanya tinggal berisi sebatang pedang saja, yati pedang yang bersinar putih. Sedangkan pedang yang bersinar hitam tidak ada. Pasti sutenya yang membawanya. Pedang hitam itu memang biasa di pakai sutenya untuk berlatih silat.

Ketika dia menemukan kitab Bu-tek Cin-keng, di dekat kitab itu terdapat sepasang pedang itu. Ketika dia dan sutenya memeriksanya, ternyata sepasang pedang itu adalah pedang sinarnya berlainan sama sekali, bahkan berlawanan. Yang satu bersinar putih dan yang lain bersinar hitam. Namun bentuknya, panjangnya, beratnya sama benar. Dan karena pedang itu di hias ukiran naga, maka mereka berdua sepakat untuk menamakan pedang itu Pek-liong-kiam (Pedang Naga Putih) dan Hek-liong-kiam (Pedang Naga Hitam). Ternyata pedang itu terbuat dari logam yang aneh dan kuat bukan main. Batu karang saja dengan mudah terbelah oleh pedang-pedang itu.

Begitu melihat pedang itu, Akauw sudah merasa sangat suka kepada pedang yang hitam. Warna hitamnya seperti arang dan kalau di gerakkan dengan pengerahan tenaga sin-kang, pedang itu mengeluarkan suara mengaum seperti singa. Akauw selalu berlatih dengan pedang ini dan seringkali membawanya kalau dia keluar guha untuk melindungi dirinya.

Yang Cien tidak merasa aneh kalau sutenya membawa pedang Naga Hitam itu pergi. Bahkan dia tadi lupa, kalau tidak tentu diapun mengusulkan agar sutenya membawa pedang hitam itu. akan tetapi yang membuat dia merasa sayang, kenapa sutenya tidak bilang kepadanya. Padahal kalau mengatakan, tentu saja dia membolehkannya. Bagi Yang Cien, dia merasa lebih cocok dengan pedang Naga Putih. Pedang itu kalau di gerakkan mengeluarkan suara nyaring melengking seperti suara burung hong betina. Dan ilmu Bu-tek Cin-keng ternyata merupakan ilmu silat yang serba cocok untuk memainkannya dengan atau tanpa senjata.

Memang pada gambar-gambar itu, orangnya bersilat dengan tangan kosong, namun bagi orang yang sudah menguasai dasar-dasar ilmu pedang, maka dengan sedikit perkembangan, ilmu silat itu cocok sekali untuk di jadikan ilmu silat pedang. Maka, sambil melatih ilmu tangan kosong dari Bu-tek Cin-keng, Yang Cien kadang juga melakukan gerakan-gerakan itu dengan Pedang Naga Putih dan merangkai sebuah ilmu silat Pedang yang dia namakan Pek Liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Putih)!

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo

Keadaan di Cina utara pada waktu itu memang baru saja di landa perang saudara yang hebat. Seperti tercatat dalam sejarah, pada tahun 221–265, Cina di kuasai oleh tiga kerajaan dan masa itu di kenal sebagai Zaman Sam Kok (Tiga Negara). Sam Kok ini menyusul runtuhnya Kerajaan Han Timur. Negara Cina terpecah-pecah menjadi tiga kelompok.

Kerajaan Wei berkuasa di utara, yaitu di Shan-si, Shan-si utara dan daerah lain di utara. Kemudian di Barat daya berkuasa Kerajaan Shu yang kekuasaannya meliputi daerah Hupei, Huna, Se-cuan dan Yunan. Adapun di Tenggara berkuasa Kerajaan Wu. Dengan demikian, selama 221–265, Cina memiliki tiga orang Kaisar.

Tiga Kerajaan ini tiada hentinya berperang, saling bermusuhan sehingga rakyat menderita sengsara karena perang segi tiga yang tiada henti-hentinya. Akan tetapi akhirnya pada tahun 265, Kerajaan Wei keluar sebagai pemenangnya, menaklukan dua kerajaan yang lain dan Cina di kuasai dan dipersatukan oleh Kerajaan atau Dinasti Wei.

Namun apakah ini berarti bahwa keadaan Negara menjadi tentram? Jauh daripada itu! Keadaan Kerajaan Wei tetap saja lemah, Kesatuan tidak dapat dipelihara dengan baik. Para tuan tanah, pejabat daerah, jendral-jendral silih berganti berperang memperebutkan kekuasaan di daerah-daerah. Pertempuran kecil dan besar timbul di seluruh Cina, dari bagian utara sampai selatan. Kekuasaan berganti-ganti jatuh ke tangan pemenangnya, dari jendral ini di rebut kembali oleh jendral itu. Wangsa-wangsa baru berdiri jatuh-bangun, timbul tenggelam.

Itu semua masih belum hebat. Masih di tambah lagi penyerbuan suku-suku Nomad yang berebutan menduduki daerah-daerah luas di pinggiran. Suku Hsiung nu, Suku Tibet, Turki dan Bangsa Toba yang paling berpengaruh itu menyerbu dari utara dan barat, bahkan Bangsa Toba akhirnya mendirikan Kerajaan Toba yang berkuasa di seluruh Tiongkok utara. Tiongkok terpecah-belah dan kekacauan ini berlangsung terus sejak tahun 265 sampai sekarang, hampir tiga abad lamanya.

Di selatan juga banyak sekali raja-raja kecil timbul sebagai akibat dikuasainya daerah utara oleh Bangsa Toba dan di antara raja-raja kecil inipun selalu timbul perang memperebutkan wilayah. Bangsa Toba adalah suatu suku dari bangsa Mongol yang termasuk suku yang gagah perkasa, pandai menunggang kuda dan pandai menggunakan anak panah yang pada waktu itu merupakan senjata paling ampuh dalam perang.

Juga Bangsa ini sejak dari kampung halamannya si utara, sudah suka sekali akan kekerasan dan olah keperwiraan. Mereka itu ahli gulat dan juga memiliki semacam ilmu bela diri yang cukup ampuh karena mereka mendapatkannya dari bangsa India dan juga banyak orang Han yang mengajarkan ilmu silat mereka kepada bangsa ini.

Bagaimanapun juga, Kerajaan Toba ini tak dapat di bilang kuat. Kerajaan ini membagi-bagi daerah kepada sekutunya, yaitu kepada Bangsa Hsiung-nu, bangsa Tibet, Turki dan lain-lain. Karena daerah itu terpecah-pecah dan dibagi-bagikan, maka tentu saja kekuasaannya terbatas. Apalagi pada masa kisah ini terjadi, Kaisar Bangsa Toba yang terakhir adalah seorang pemabok dan tukang pelesir yang tidak ketulungan lagi. Dia berjuluk Julan Khan, berusia lima puluh tahun dan biarpun dia seorang yang memiliki ilmu silat dan ilmu perang yang ampuh.

Namun karena dia hanya bersenag-senang saja, maka dia dapat dibilang seorang kaisar yang lemah. Untuk mendapatkan seorang wanita saja, dia tidak segan untuk mengerahkan pasukannya menyerang daerah dimana wanita yang digandrunginya itu tinggal. Kalau wanita itu dengan baik-baik di serahkan, dia tidak akan sayang untuk menghujani hadiah kepada keluarganya atau kepada kepala daerahnya, akan tetapi kalau sampai di tolak, tentu daerah itu di gempur, banyak orang tewas dan akhirnya wanita itu dibawanya sebagai hasil menang perang!

Raja Julan Khan memilih Tiang-an sebagai kota raja dan di sini dia hidup serba mewah dan berenang dalam lautan kesenangan, tidak memperdulikan bahwa semua pejabat, dari pusat ke daerah, semua melakukan korupsi dan penindasan kepada rakyat jelata.

Mendiang kakek Yang Kok It adalah seorang yang setia kepada Kerajaan Han dan Wei, maka dia tidak mau bekerja lagi ketika Kerajaan Toba berdiri, apalagi dia sudah tua. Akan tetapi puteranya, Yang Koan, bekerja kepada Kerajaan Toba yang ketika itu masih di pimpin oleh ayah kaisar yang sekarang. Akan tetapi, mendiang Yang Koan paling membenci rekan-rekannya yang melakukan penindasan kepada rakyat.

Dan akhirnya karena berselisih paham, Yang Koan dan istrinya tewas ditangan saingannya, yaitu para pembesar yang korup, yang menggunakan seorang sakti untuk membunuhnya, bahkan lalu orang sakti yang bernama Toang-beng Kiam-ong Lui Tat itu mendapat tugas untuk mengejar dan mencari kakek Yang Kok It yang melarikan diri bersama cucunya yang bernama Yang Cien.

Akhirnya pengejaran dihentikan karena tidak terdengar lagi berita tentang kedua orang itu. Toat-beng Giam-ong Lui Tat yang berjasa membunuh Yang Koan sekeluarga, oleh para pejabat lalu dihadapkan kaisar dan diberi pujian sehingga kakek ini lalu di angkat menjadi penasehat militer yang tentu saja memiliki kedudukan yang tinggi di kota raja.

Pada suatu siang udara sangat panas karena musim panas sedang berada di tengah-tengah. Panasnya udara membuat orang segan keluar dan kedai-kedai minuman di penuhi tamu yang akan melepas dahaga. Seorang pemuda memasuki kedai minuman itu. Dia seorang pemuda tinggi besar, mukanya agak gelap seperti muka yang banyak terbakar matahari, pakaiannya seperti pakaian orang dusun namun bersih. Rambutnya yang panjang dibiarkan terjurai ke belakang punggung, di ikat dengan sehelai kain putih dan punggungnya yang lebar menggendong sebuah buntalan panjang.

Orang ini mendatangkan kesan kokoh kuat sehingga tidak ada yang berani untuk mencoba mengganggunya. baru kedua lengannya saja yang nampak tersembul keluar dari lengan bajunya yang di gulung, nampak kekar berotot sebesar jari tangan. Usianya sekitar dua puluh satu tahun dan begitu memasuki kedai minuman itu dia langsung memesan minuman kepada pelayan. Suaranya besar dan dalam, kata-katanya singkat saja. Pemuda ini bukan lain adalah Cian Kauw Cu atau Akauw.

Perantauannya membawa dia ke kota raja Tiang-an di siang hari itu dan biarpun dia amat menganggumi besarnya dan indahnya rumah-rumah di sepanjang jalan yang dilaluinya, namun dia tidak memperlihatkan kekaguman dan keheranannya. Kini dia sudah terbiasa melihat banyak orang, sungguh pada waktu pertama kali memasuki sebuah dusun dan melihat begitu banyaknya manusia, dia menjadi panik dan gentar juga. Apalagi ketika pertama kali melihat wanita muda, dia sampai melotot memandanginya dan wanita itu menjadi ketakutan lalu melarikan diri. Tak di sangkanya bahwa bangsanya ada juga betinanya, dan begitu mempesona!

Akan tetapi karena sebelumnya dia sudah banyak mendengar keterangan Yang Cien, maka keheranannya tidaklah begitu mengubah sikap dan wataknya. Dia harus sopan terhadap wanita, demikian ajaran suhengnya. Sopan itu berarti tidak menegur mereka kalau tidak kenal, tidak memandang terlalu lama, dan tidak mendekati mereka. Kecuali kalau sudah berkenalan.

“Pelayan, cepat sediakan teh dingin untukku! Aihh, panasnya!”

Suara nyaring ini menarik perhatian Cian Kauw Cu. Dia segera menengok dan hamper saja dia tertawa. Seorang pemuda, melihat bentuk tubuhnya yang ceking tentu masih remaja, akan tetapi sikapnya seperti seorang yang sudah dewasa saja, memasuki kedai itu lalu memilih tempat kosong, tak jauh dari tempat duduk Kauw Cu. Dan begitu teh yang dipesannya tiba, dia lalu mengangkat sebelah kakinya ke atas bangku dan minum dengan lahapnya.

Kauw Cu tersenyum dan kebetulan pemuda remaja itu juga memandang kepadanya. Mereka saling pandang dan Kauw Cu melihat betapa sepasang mata itu memiliki senar tajam penuh selidik dan manik matanya bergerak gerak amat cepatnya, menunjukkan kecerdasan otaknya.

“Hemm, kalau orang tersenyum-senyum sendiri tanpa sebab itu namanya orang gila. Ku harap engkau masih waras, sobat. Kenapa engkau tersenyum-senyum sendiri yang menatap aku seperti itu?”

Pertanyaan inipun di anggap lucu oleh Kauw Cu. “Aku tersenyum melihat engkau minum begitu lahapnya, sobat. Agaknya engkau sudah haus sekali“

“Siapa tidak haus dalam hawa sepanas ini?” kata pemuda itu dan selanjutnya dia tidak memperdulikan lagi kepada Kauw Cu yang juga sudah mengalihkan perhatiannya kepada minumannya.

Yang Cien menasehati bahwa dia tidak boleh usil, tidak boleh mencampuri urusan orang lain. Inipun demi menjaga kesopanan dan menjauhkan percekcokan. Dan melihat bahwa di meja lain duduk seorang yang melihat pakaiannya seperti seorang pembesar, bersama tiga orang yang berpakaian seperti ahli silat, mungkin tukang-tukang pukulnya.

Pembesar itu dengan alis berkerut melirik kearah pemuda yang nongkrong mengangkat sebelah kakinya sambil minum teh dengan suara berseruputan dan agaknya dia tidak senang sekali. Lalu dia berbisik kepada seorang pengawalnya yang bertubuh tinggi besar bermuka bopeng. Biarpun dia berbisik, namun Kauw Cu dapat mendengar bisikan itu. Telinganya sudah terlatih baik, bersatu dengan nalurinya.

“Beri hajaran kepada anak muda kurang ajar itu dan lempar dia keluar!” kata sang pembesar kepada tukang pukulnya yang bertubuh tinggi besar.

Tukang pukul ini lalu bangkit. Tubuhnya memang tinggi besar, lebih tinggi dibandingkan tubuh Kauw Cu sehingga mengingatkan Kauw Cu akan seekor biruang, musuh utamanya di hutan. Si Biruang itu lalu menghampiri pemuda tadi dan menghardik.

“bocah liar! Di sini terdapat seorang pembesar, dan engkau duduk nongkrong mengangkat kaki seperti monyet, minum berseruputan seperti babi!”

Pemuda itu sama sekali tidak nampak ketakutan di hardik dan dimaki seperti itu, malah membelalakkan matanya dan nampak keheranan. “Aih, aih... Engkau ini mabok, ya? Di sini tempat umum, aku boleh nongkrong, boleh duduk sesukaku, aku tidak merugikan orang lain kenapa ribut-ribut?”

Si muka bopeng menggerakkan tangannya, memegang leher baju bagian belakang pemuda remaja itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi, sehingga tubuh pemuda itu tergantung. “ Engkau banyak membantah, ya? Hayo pergi dari sini!”

Dia membawanya keluar dan hendak melemparkan tubuh pemuda itu ketika Akauw sudah datang menghadangnya. “Sobat, anak ini tidak bersalah apa-apa, tidak merugikan siapa-siapa, harap jangan diganggu“

Menghadapi pemuda yang membela anak itu, si muka bopeng menjadi marah sekali. Dia melepaskan anak muda itu yang segera lari ke belakang meja untuk berlindung. “Jahanam busuk, engkau tidak tahu aku siapa, ya? Aku pengawal Gu-taijin, jaksa di sini tahu?”

“Maaf, aku memang tidak mengenalmu, sobat. Dan aku tidak mencari keributan. Aku hanya minta agar engkau jangan memukul anak yang tidak bersalah itu“

“Baik, kalau aku tidak boleh memukul dia, aku akan memukulmu!“

Setelah berkata demikian, si muka bopeng menggerakkan tangan kanannya yang dikepal sebesar kepala anak-anak itu meluncur dan menghantam kearah muka Akauw. Dengan tenang Akauw menggerakkan tangan kirinya, menyambut kepalan tangan kanan lawan itu dan mencengkramnya.

“Auuwww…!” si muka bopeng berteriak kesakitan, akan tetapi dasar dia tidak tahu diri, kini tangan kirinya melayang kearah kepala Akauw.

Akauw menggunakan tangan kanannya menyambut dan menangkap kepalan kiri itu dan kini kedua tangan lawan itu berada dalam genggamannya dan si muka bopeng mengaduh-aduh karena dia merasa kedua kepalan tangannya remuk. Akauw lalu mendorongnya ke belakang karena pada saat itu, dua orang pengawal yang lain sudah menerjangnya. Akan tetapi kedua orang itu terbelalak ketika tiba-tiba saja orang yang mereka serang itu menghilang.

Kiranya Akauw melompat dengan cepat sekali ke atas dan bergantung kepada tiang, kemudian selagi kedua orang tukang pukul itu kebingungan, dia pun meloncat turun ke belakang mereka, kedua tangannya menjambak rambut kepala mereka dan mengadukan dua buah kepala itu, tidak terlalu keras akan tetapi cukup membuat kepala itu benjol dan bermunculan ribuan bintang yang membuat kedua orang itu pening dan terkulai. Untung Akauw masih ingat untuk tidak membunuh orang. Kalau terlalu keras dia mengadukan kepala itu sudah pecah dan tentu saja orangnya mati.

Geger di kedai minuman itu. Melihat ketiga tukang pukulnya sudah roboh, si tinggi besar masih berjingkrak karena kedua tangannya terasa nyeri, kiut miut rasanya dan kedua orang yang masih duduk memegangi kepala yang rasanya seperti berputar-putar. Jaksa itu pun tahu diri dan bangkit keluar dari kedai meinuman. Akan tetapi sebelum keluar, sesosok bayangan menyelinap dan pemuda remaja itu sudah berdiri di depannya.

“Heii, jaksa. mau kemana kau? sudah membikin kacau hendak menghina orang, kini mau pergi begitu saja?”

Jaksa yang gendut itu menjadi marah. Dia memang gentar menghadapi Akauw, akan tetapi bocah kurang ajar yang ceking ini tentu saja tidak membuatnya takut. “Minggir, bocah setan atau kupukul kepalamu!” bentaknya.

“Wah, malah mau pukul? Kepalan tahumu itu bisa memukul. Coba hendak kurasakan kepalan tahumu itu. Jangan-jangan untuk memukul kepalaku malah remuk...”

Di ejek begitu sang jaksa lalu mengerahkan seluruh tenaganya mengayun kepalan tangan kanannya memukul kepala anak itu, akan tetapi tiba-tiba bocah itu merendahkan tubuhnya sehingga pukulan itu luput dan tubuhnya terbawa oleh tenaga pukulan terhuyung ke depan. Tubuh yang perutnya gendut itu terhuyung, maka ketika kaki pemuda itu mengganjal kakinya, tanpa dapat di cegah lagi tubuhnya jatuh menubruk meja di depannya. Celakanya, tamu meja depan itu memesan semangkok besar bubur ayam yang masih panas dan ketika roboh menelungkup, muka si jaksa masuk ke dalam mangkok besar bubur ayam sehingga berlepotan bubur panas. Dia mengaduh-aduh dan menjerit-jerit seperti babi di sembelih.

Akauw merasa tangannya di pegang orang dan ternyata pemuda remaja itu yang memegang tangannya, “Hayo cepat kenapa bengong melulu? Apa engkau kepingin mati?”

“Kepengin mati? Tentu saja tidak!”

“Kalau tidak, hayo cepat ikut aku!”

Pemuda remaja itu lalu menggandeng tangannya dan menariknya berlari keluar dari kedai minuman itu. “Nanti dulu“ Akauw membantah. “Aku belum membayar harga minumanku“

“Alaa, biarkan pembesar gendut itu yang membayarnya. Hayo cepat kita lari“

Akauw membiarkan saja dirinya ditarik dan dibawa lari. Mereka pergi keluar kota dan memasuki sebuah kuil tua kosong yang berada diluar kota raja. Barulah pemuda remaja itu melepaskan tangannya dan dia terengah-engah, duduk di lantai bersandarkan dinding tua. Akauw juga ikut duduk di depannya, bersila.

“Eh, sobat cilik, kenapa kau bilang aku tadi kepengin mati? Apa yang kau maksudkan? Dan kenapa pula engkau mengajakku lari-lari seperti ini dan bersembunyi di tempat ini?”

“Wah, engkau tidak mengerti, ya? Kok Tolol benar sih kau ini? Tubuhmu saja besar akan tetapi engkau bodoh sekali“

Heran. Akauw tidak marah bahkan merasa geli. Biarpun dimaki, akan tetapi cara memaki pemuda itu terdengar lucu, karena sikapnya bukan seperti orang yang menghina atau merendahkan, melainkan seperti seorang nenek memarahi cucunya! “Memang aku bodoh. Nah, katakan mengapa?“

“Kau tahu? Orang gendut tadi seorang jaksa! Kau tahu apa itu jaksa?”

Akauw mengingat-ingat. Setahunya, jaksa itu seorang pembesar yang bekerja dipengadilan. “Seorang jaksa itu orang yang menuntut seseorang penjahat agar di adili dan di hukum. Seorang jaksa menentang kejahatan“

“Itu jaksa yang baik. Akan tetapi Gu-taijin itu bukan seorang jaksa yang baik. Dia malah menghukum orang baik-baik yang tidak bersalah, membenarkan orang jahat asal orang jahat itu memberinya uang. Dia sewenang-wenang menggunakan kekuasaannya, memaksakan kehendaknya seperti kau lihat tadi di kedai minuman. Dia mempunyai banyak tukang pukul untuk menyiksa orang, untuk memaksa orang yang tidak bersalah membuat pengakuan palsu.

“Hemmm, kalau begitu dia jahat sekali, sudah pantas diberi hajaran. Akan tetapi mengapa engkau membawa aku pergi melarikan diri?”

“Karena, seperti kataku tadi, dia berkuasa dan mempunyai banyak pengawal. Dia tentu tidak akan tinggal diam dan kalau kita tidak cepat lari, sampai dia memanggil banyak pengawalnya, kita dapat saja di fitnah sebagai pemberontak dan di hokum mati“

“Wah, kalau begitu kita tidak semestinya lari dari sana. Kita bahkan harus menghukum jaksa jahat itu sampai dia jera berbuat kejahatan lagi...“ Berkata demikian, Akauw mengepal kedua tinju tangannya dan mengamangkan tinjunya.

Pemuda remaja itu memandang kagum, lalu dengan kedua tangannya dia memegang dan menekan untuk mencoba kekerasan lengan Akauw yang berotot itu. “Hemm, engkau memang kuat. Bukan main, lenganmu seperti besi baja saja. Akan tetapi, engkau tadi mampu merobohkan tiga orang tukang pukul, apakah engkau mampu mengalahkan tiga puluh orang, atau bahkan tiga ratus orang. Engkau akan menghadapi ribuan atau puluhan ribu pasukan dan hendak kulihat engkau akan bisa berbuat apa“

“Apakah ada pemberontak-pemberontak seperti itu, sobat?”

“Kenapa tidak ada? Banyak sekali. Kenapa? Tentu untuk merebut kekuasaan. Dan satu antara lain sebabnya adalah pembesar-pembesar tidak becus seperti jaksa itu. Mereka berbuat tidak adil sehingga membuat orang menjadi penasaran dan memberontak. Pemberontakan seperti itu harus di basmi karena menimbulkan perang yang akan menyusahkan rakyat saja“

“Sobat, engkau ini masih kecil akan tetapi otakmu cerdas sekali, mengetahui banyak hal!” kata Akauw kagum.

“Dan engkau ini besar, kuat dan pandai silat akan tetapi lagakmu begini bodoh. Siapa sih namamu?“

“Namaku Cian Kauw Cu, akan tetapi engkau boleh menyebutku Akauw saja, seperti di sebut oleh orang-orang yang baik kepadaku. Dan siapa namamu?”

“Aku bermarga Bi namaku Soan“

“Bi Soan? Namamu indah, memang engkau tampan seperti bulan“ puji Akauw.

“Tampan seperti bulan? Mana ada seorang laki-laki tampan seperti bulan?”

“Tapi engkau memang tampan, aku suka sekali padamu, Bi Soan“ kata Akauw.

“Engkau pintar, tidak seperti aku yang bodoh“

“Hem, aku juga suka padamu, engkau kuat, pandai bersilat, dan juga jujur sekali. Terlalu jujur sehingga nampak bodoh. Akan tetapi aku tidak mengatakan engkau bodoh, engkau seperti orang yang berpura-pura bodoh saja“

“Sudahlah, Bi Soan. Sekarang aku harus pergi. Kalau kau anggap berbahaya kembali ke kota, aku akan pergi meninggalkan Tiang-an, aku tidak suka tempat itu karena terlalu ramai, terlalu bising“

“Engkau hendak kemana, Akauw?”

“Melanjutkan perantauanku. Sudah setahun aku merantau dan baru hari ini aku bertemu dengan seorang yang baik seperti engkau . Selamat tinggal“

“Selamat jalan, Akauw. Sampai berjumpa kembali…“

Akauw sudah meninggalkan kuil itu dan tidak kembali ke Tiang-an, melainkan melanjutkan perjalanan ke timur. Dia tidak tahu bahwa dari belakang kuil itu berkelebat bayangan hitam yang membayanginya dari jauh. Juga dia tidak tahu bahwa Bi Soan nampak melamun setelah dia pergi.

“Bukan main! Orang yang kuat dan mengagumkan sekali, sayang dia bodoh, kalau tidak... Hemmmm...“

Bi Soan lalu pergi dari kuil itu, kembali ke kota Tiang-an dengan sikap seenaknya, seolah dia sama sekali tidak takut kalau-kalau akan bertemu dengan tukang pukulnya Jaksa Gu.

********************

Sepasang Naga Lembah Iblis Jilid 04

KALAU Yang Cien sangat tekun melatih diri dengan pernapasan dan siulan begitu tekun sampai setahun lewat tanpa dia rasakan, adalah Akauw yang mulai uring-uringan karena bosan. Setiap hari dia hanya melihat suhengnya duduk bersila dan melakukan pernapasan yang aneh-aneh, kadang-kadang napasnya bersuara seperti orang mengorok, kadang-kadang seperti kuda meringkik, kadang tidak bersuara sama sekali.

Karena bosan dan iseng, mulailah dia memperhatikan gambar-gambar orang bersilat yang terdapat di dalam dinding itu. maka mulailah dia berlatih silat melalui gambar-gambar, menirukan setiap gerakan. Dasar dia memang berbakat baik sekali, telah memiliki kesigapan alami, maka tidak berapa sukar baginya untuk menirukan jurus-jurus itu.

Yang Cien melihat ini dan dia diam saja, dia tahu betapa jemunya sutenya itu berdiam diri saja di tempat itu, setiap hari hanya mempersiapkan segala keperluan untuk dirinya. Dia amat berterima kasih kepada sutenya yang setia, maka melihat sutenya giat berlatih silat, dia mendiamkan saja. Dan ternyata Akauw mendapatkan kesibukan tersendiri dan dia tekun sekali berlatih.

Setelah mempelajari siu-lan selama dua tahun, pada lembar-lembar berikutnya barulah ternyata olehnya bahwa latihannya itu adalah untuk persiapan mempelajari ilmu silat yang gambarnya terdapat pada dinding. Ilmu silat yang dilatih oleh sutenya itu ilmu Bu Tek Cin Keng. Dan sutenya telah mempelajarinya begitu saja, tanpa petunjuk kitab. Padahal, sutenya sudah melatihnya selama dua tahun, dan agaknya sudah menguasai semua jurus dari Bu Tek Cin Keng.

“Sute, tahan…!” Dia berseru ketika membaca lembaran kitabnya pada bagian itu. “Sute, engkau tidak boleh melatih ilmu silat itu begitu saja. Harus menurut peraturan yang terdapat dalam kitab ini. Mari ku bacakan. Dimulai dari jurus pertama dulu, sute. Ketika berdiri tegak dan merangkap kedua tangan depan dada, seluruh hati akan pikiran haruslah di tundukkan kearah kepasrahan kepada Thian, haruslah kosong dan biar terisi oleh kekuasaan Thian. Selaras dengan bunyi ujar-ujar Thian-beng-ci wi-seng (Anugerah Tuhan adalah yang dinamakan Aseng). Nah, kita mengosongkan hati akal pikiran itu, agar Seng (watak asli) kita bangkit, terbebas dari pengaruh segala nafsu, kembali murni seperti aslinya. Setelah itu, barulah kedua tangan yang di rangkap depan dada itu berpisah, yang kanan menuding keatas, yang kiri ke bawah, yang ini yang dinamakan pisah akan tetapi kumpul, seperti pisahnya bumi dan langit yang sebetulnya tidak pernah berpisah karena memang menjadi satu rangkaian. Gerakan pertama dari jurus pertama ini dilakukan dengan tarikan napas panjang, menyimpan di perut, baru pada gerakan kedua dihembuskan keluar dan bersuara aaahhhhh, kemudian pada gerakan ke tiga…“

“Wah, sudah, sudah. aku menjadi pening, suheng. Kau saja yang mempelajari dari kitab. Aku hanya ingin mempelajari segala gerakannya saja, tidak ingin mempelajari segala artinya, baru satu jurus saja sudah begitu panjang lebar belum juga selesai kau terangkan, bagaimana aku dapat mengerti dan ingat? Padahal semua ada tiga puluh enam jurus dank au tahu suheng? Semua jurus itu sudah hafal olehku. Nah, kau lihat ini...“

Akauw lalu mulai bersilat, dari jurus pertama sampai selesai tegapuluh enam jurus. Gerakannya gesit bukan main dan ilmu silat itu memang indah sekali seperti orang menari-nari. Akan tetapi setelah selesai bersilat, napas Akauw agak memburu dan dia tertawa bergelak-gelak saking girangnya.

Yang Cien mengerutkan alisnya. Dari suara ketawa sutenya itu saja tahulah dia bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam sikap Akauw. “Sute, engkau harus taat kepadaku, ingat? Aku katakan engkau mulai sekarang tidak boleh memainkan ilmu silat itu, kecuali kalau engkau mau mempelajari dari semual menurut petunjuk kitab ini. Mari kita mempelajari berdua, sute“

“Ah, sudah hafal di mulai lagi dari pertama, untuk apa? Aha, suheng, agaknya engkau iri kepadaku. Aku sudah hafal semua dan engkau baru mulai dari jurus satu. Suheng, aku sudah jemu di sini. Sekarang setelah tanganmu sembuh, marilah kita pergi dari sini, melanjutkan perjalanan kita“

“Sute, aku ingin mempelajari ilmu silat ini lebih dulu seperti pesan suhu“

“Suhu siapa?”

“Suhu Thian Beng Lojin. seperti yang tertulis di dalam kitabnya. Aku harus menaati pesannya, kalau tidak berarti aku bukan seorang murid yang baik. Kalau kakek masih hidup, tentu demikian pula pesannya kepadaku dan kepadamu. Tunggulah sampai aku selesai mempelajari kitab ini, baru kita pergi melanjutkan perjalanan kita, sute“

“Sampai kapan, suheng?”

“Sampai tiga tahun lagi, karena menurut kitab ini, aku harus berlatih selama lima tahun dan ini baru lewat dua tahun“

“Tiga tahun? Wah, terlalu lama, suheng. Kita pergi sekarang, kalau engkau tidak mau, biar aku pergi sendiri“

Jelas bahwa telah terjadi sesuatu pada diri Akauw, pikir Yang Cien. Apakah ini ada hubungannya dengan melatih ilmu Bu Tek Cin Keng tanpa tuntunan? Kalau dulu dia pernah menganjurkan sutenya untuk merantau dulu seorang diri, kini dia berbalik malah khawatir.

“Sute, jangan pergi dulu, tunggu sampai aku selesai melatih ilmu“

“Suheng, aku bukan anak kecil lagi. Suheng juga seringkali mengatakan bahwa aku telah dewasa, usiaku sudah dua puluh satu tahun. Aku sudah mempunyai bekal ilmu yang cukup untuk menjaga diri, dan juga bekal emas yang cukup untuk biaya hidup. Suheng biarlah aku merantau dulu, dan paling lama tiga tahun, sebelum engkau selesai melatih ilmu di sini, aku pasti akan datang menjemputmu“

Yang Cien menghela napas panjang. Kalau dia mencegah terus, sutenya bisa menduga bahwa dia terlalu memikirkan diri sendiri. Kini lukanya sudah sembuh, tinggal melatih ilmu saja untuk membuat semua racun lenyap dari tubuhnya. Dia dapat mencari makan sendiri, dapat mengatur keperluan dan memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bantuan sutenya.

“Baiklah kalau engkau berkeras, sute. Hanya jangan lupa di dunia banyak sekali terdapat orang jahat. Engkau tentu masih ingat akan semua pelajaran yang kau terima dari kakek atau dariku, dapat membedakan mana baik dan mana jahat. Dan sekali lagi, jangan engkau mudah melibatkan diri dalam perkelahian, dan terutama sekali, jangan membunuh orang tanpa sebab“

“Aku mengerti, suheng. Akan tetapi tentu engkau tidak keberatan kalau aku membunuh orang yang jahat sekali dan yang suka mencelakakan orang, bukan?”

Yang Cien menghela napas panjang, teringat akan dasar watak sutenya yang keras...“ Engkau tentu dapat memilih, pendeknya, jangan terlalu mudah membunuh orang, kecuali kalau engkau menjadi seorang prajurit yang bekerja untuk sebuah kerajaan . Akan tetapi engkau harus dapat memilih kerajaan macam apa, dibawah raja macam apa engkau mengabdi“

“Jangan khawatir, suheng. Aku tidak akan menjadi seorang prajurit kalau tidak bersama engkau. Nah, aku sudah mempersiapkan segalanya malam tadi, selamat tinggal suheng, aku berangkat“

“Sute, selamat jalan, jaga dirimu baik-baik, sute“

“Suheng...!” Akauw menghampiri suhengnya dan merangkulnya. Yang Cien balas merangkul dan saat itu dia merasa betapa sayangnya dia kepada sutenya ini yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri dan betapa besar dan kokoh tubuh sutenya sehingga tidak pantas kalau dia selalu menahan dan menjaganya“

“Sute, pergilah“

Dia mengikuti sutenya yang berloncatan dengan sigap sekali di antara batu-batu besar di luar guha. Setelah sutenya pergi, baru dia merasa betapa sepinya hidup ini. Dia merasa kehilangan sekali dan merasa kesepian

Dalam setiap perpisahan, selalu pihak yang di tinggalkan merasa lebih berat dan kehilangan, seolah-olah dalam hidupnya menjadi tidak lengkap lagi. Sebaliknya, yang meninggalkan tidaklah begitu merasa berat karena pikirannya penuh dengan hal-hal baru, yang akan dihadapinya dalam perjalanan.

Setelah dapat menentramkan batinnya yang terguncang dan merasa nelangsa di tinggalkan sutenya dan hidup sendiri di tempat terasing itu, mulailah Yang Cien melatih diri dengan ilmu silat yang gambarnya memenuhi dinding, menurut petunjuk dalam kitab. Dan bukan main kagumnya karena dia menemukan ilmu silat yang luar biasa sekali hebatnya. Dan juga menurut petunjuk kitab itu.

Setiap jurus haruslah digerakkan sesuai dengan peraturan pernapasan dan pencurahan perhatian di tujukan kepada suatu tertentu. Sehingga untuk melatih setiap jurus membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan! Dan untuk melatih dan menguasai semua tiga puluh enam jurus itu di butuhkan waktu tiga tahun! Akan tetapi sutenya telah menghafal dan melatih seluruh jurus itu hanya dalam waktu dua tahun.

Ketika sutenya pergi jauh dan dia memeriksa pedang yang berada di atas meja sembahyang, baru dia tahu bahwa sebatang di antara dua batang pedang itu telah lenyap. Sarung pedang itu kini hanya tinggal berisi sebatang pedang saja, yati pedang yang bersinar putih. Sedangkan pedang yang bersinar hitam tidak ada. Pasti sutenya yang membawanya. Pedang hitam itu memang biasa di pakai sutenya untuk berlatih silat.

Ketika dia menemukan kitab Bu-tek Cin-keng, di dekat kitab itu terdapat sepasang pedang itu. Ketika dia dan sutenya memeriksanya, ternyata sepasang pedang itu adalah pedang sinarnya berlainan sama sekali, bahkan berlawanan. Yang satu bersinar putih dan yang lain bersinar hitam. Namun bentuknya, panjangnya, beratnya sama benar. Dan karena pedang itu di hias ukiran naga, maka mereka berdua sepakat untuk menamakan pedang itu Pek-liong-kiam (Pedang Naga Putih) dan Hek-liong-kiam (Pedang Naga Hitam). Ternyata pedang itu terbuat dari logam yang aneh dan kuat bukan main. Batu karang saja dengan mudah terbelah oleh pedang-pedang itu.

Begitu melihat pedang itu, Akauw sudah merasa sangat suka kepada pedang yang hitam. Warna hitamnya seperti arang dan kalau di gerakkan dengan pengerahan tenaga sin-kang, pedang itu mengeluarkan suara mengaum seperti singa. Akauw selalu berlatih dengan pedang ini dan seringkali membawanya kalau dia keluar guha untuk melindungi dirinya.

Yang Cien tidak merasa aneh kalau sutenya membawa pedang Naga Hitam itu pergi. Bahkan dia tadi lupa, kalau tidak tentu diapun mengusulkan agar sutenya membawa pedang hitam itu. akan tetapi yang membuat dia merasa sayang, kenapa sutenya tidak bilang kepadanya. Padahal kalau mengatakan, tentu saja dia membolehkannya. Bagi Yang Cien, dia merasa lebih cocok dengan pedang Naga Putih. Pedang itu kalau di gerakkan mengeluarkan suara nyaring melengking seperti suara burung hong betina. Dan ilmu Bu-tek Cin-keng ternyata merupakan ilmu silat yang serba cocok untuk memainkannya dengan atau tanpa senjata.

Memang pada gambar-gambar itu, orangnya bersilat dengan tangan kosong, namun bagi orang yang sudah menguasai dasar-dasar ilmu pedang, maka dengan sedikit perkembangan, ilmu silat itu cocok sekali untuk di jadikan ilmu silat pedang. Maka, sambil melatih ilmu tangan kosong dari Bu-tek Cin-keng, Yang Cien kadang juga melakukan gerakan-gerakan itu dengan Pedang Naga Putih dan merangkai sebuah ilmu silat Pedang yang dia namakan Pek Liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Putih)!

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo

Keadaan di Cina utara pada waktu itu memang baru saja di landa perang saudara yang hebat. Seperti tercatat dalam sejarah, pada tahun 221–265, Cina di kuasai oleh tiga kerajaan dan masa itu di kenal sebagai Zaman Sam Kok (Tiga Negara). Sam Kok ini menyusul runtuhnya Kerajaan Han Timur. Negara Cina terpecah-pecah menjadi tiga kelompok.

Kerajaan Wei berkuasa di utara, yaitu di Shan-si, Shan-si utara dan daerah lain di utara. Kemudian di Barat daya berkuasa Kerajaan Shu yang kekuasaannya meliputi daerah Hupei, Huna, Se-cuan dan Yunan. Adapun di Tenggara berkuasa Kerajaan Wu. Dengan demikian, selama 221–265, Cina memiliki tiga orang Kaisar.

Tiga Kerajaan ini tiada hentinya berperang, saling bermusuhan sehingga rakyat menderita sengsara karena perang segi tiga yang tiada henti-hentinya. Akan tetapi akhirnya pada tahun 265, Kerajaan Wei keluar sebagai pemenangnya, menaklukan dua kerajaan yang lain dan Cina di kuasai dan dipersatukan oleh Kerajaan atau Dinasti Wei.

Namun apakah ini berarti bahwa keadaan Negara menjadi tentram? Jauh daripada itu! Keadaan Kerajaan Wei tetap saja lemah, Kesatuan tidak dapat dipelihara dengan baik. Para tuan tanah, pejabat daerah, jendral-jendral silih berganti berperang memperebutkan kekuasaan di daerah-daerah. Pertempuran kecil dan besar timbul di seluruh Cina, dari bagian utara sampai selatan. Kekuasaan berganti-ganti jatuh ke tangan pemenangnya, dari jendral ini di rebut kembali oleh jendral itu. Wangsa-wangsa baru berdiri jatuh-bangun, timbul tenggelam.

Itu semua masih belum hebat. Masih di tambah lagi penyerbuan suku-suku Nomad yang berebutan menduduki daerah-daerah luas di pinggiran. Suku Hsiung nu, Suku Tibet, Turki dan Bangsa Toba yang paling berpengaruh itu menyerbu dari utara dan barat, bahkan Bangsa Toba akhirnya mendirikan Kerajaan Toba yang berkuasa di seluruh Tiongkok utara. Tiongkok terpecah-belah dan kekacauan ini berlangsung terus sejak tahun 265 sampai sekarang, hampir tiga abad lamanya.

Di selatan juga banyak sekali raja-raja kecil timbul sebagai akibat dikuasainya daerah utara oleh Bangsa Toba dan di antara raja-raja kecil inipun selalu timbul perang memperebutkan wilayah. Bangsa Toba adalah suatu suku dari bangsa Mongol yang termasuk suku yang gagah perkasa, pandai menunggang kuda dan pandai menggunakan anak panah yang pada waktu itu merupakan senjata paling ampuh dalam perang.

Juga Bangsa ini sejak dari kampung halamannya si utara, sudah suka sekali akan kekerasan dan olah keperwiraan. Mereka itu ahli gulat dan juga memiliki semacam ilmu bela diri yang cukup ampuh karena mereka mendapatkannya dari bangsa India dan juga banyak orang Han yang mengajarkan ilmu silat mereka kepada bangsa ini.

Bagaimanapun juga, Kerajaan Toba ini tak dapat di bilang kuat. Kerajaan ini membagi-bagi daerah kepada sekutunya, yaitu kepada Bangsa Hsiung-nu, bangsa Tibet, Turki dan lain-lain. Karena daerah itu terpecah-pecah dan dibagi-bagikan, maka tentu saja kekuasaannya terbatas. Apalagi pada masa kisah ini terjadi, Kaisar Bangsa Toba yang terakhir adalah seorang pemabok dan tukang pelesir yang tidak ketulungan lagi. Dia berjuluk Julan Khan, berusia lima puluh tahun dan biarpun dia seorang yang memiliki ilmu silat dan ilmu perang yang ampuh.

Namun karena dia hanya bersenag-senang saja, maka dia dapat dibilang seorang kaisar yang lemah. Untuk mendapatkan seorang wanita saja, dia tidak segan untuk mengerahkan pasukannya menyerang daerah dimana wanita yang digandrunginya itu tinggal. Kalau wanita itu dengan baik-baik di serahkan, dia tidak akan sayang untuk menghujani hadiah kepada keluarganya atau kepada kepala daerahnya, akan tetapi kalau sampai di tolak, tentu daerah itu di gempur, banyak orang tewas dan akhirnya wanita itu dibawanya sebagai hasil menang perang!

Raja Julan Khan memilih Tiang-an sebagai kota raja dan di sini dia hidup serba mewah dan berenang dalam lautan kesenangan, tidak memperdulikan bahwa semua pejabat, dari pusat ke daerah, semua melakukan korupsi dan penindasan kepada rakyat jelata.

Mendiang kakek Yang Kok It adalah seorang yang setia kepada Kerajaan Han dan Wei, maka dia tidak mau bekerja lagi ketika Kerajaan Toba berdiri, apalagi dia sudah tua. Akan tetapi puteranya, Yang Koan, bekerja kepada Kerajaan Toba yang ketika itu masih di pimpin oleh ayah kaisar yang sekarang. Akan tetapi, mendiang Yang Koan paling membenci rekan-rekannya yang melakukan penindasan kepada rakyat.

Dan akhirnya karena berselisih paham, Yang Koan dan istrinya tewas ditangan saingannya, yaitu para pembesar yang korup, yang menggunakan seorang sakti untuk membunuhnya, bahkan lalu orang sakti yang bernama Toang-beng Kiam-ong Lui Tat itu mendapat tugas untuk mengejar dan mencari kakek Yang Kok It yang melarikan diri bersama cucunya yang bernama Yang Cien.

Akhirnya pengejaran dihentikan karena tidak terdengar lagi berita tentang kedua orang itu. Toat-beng Giam-ong Lui Tat yang berjasa membunuh Yang Koan sekeluarga, oleh para pejabat lalu dihadapkan kaisar dan diberi pujian sehingga kakek ini lalu di angkat menjadi penasehat militer yang tentu saja memiliki kedudukan yang tinggi di kota raja.

Pada suatu siang udara sangat panas karena musim panas sedang berada di tengah-tengah. Panasnya udara membuat orang segan keluar dan kedai-kedai minuman di penuhi tamu yang akan melepas dahaga. Seorang pemuda memasuki kedai minuman itu. Dia seorang pemuda tinggi besar, mukanya agak gelap seperti muka yang banyak terbakar matahari, pakaiannya seperti pakaian orang dusun namun bersih. Rambutnya yang panjang dibiarkan terjurai ke belakang punggung, di ikat dengan sehelai kain putih dan punggungnya yang lebar menggendong sebuah buntalan panjang.

Orang ini mendatangkan kesan kokoh kuat sehingga tidak ada yang berani untuk mencoba mengganggunya. baru kedua lengannya saja yang nampak tersembul keluar dari lengan bajunya yang di gulung, nampak kekar berotot sebesar jari tangan. Usianya sekitar dua puluh satu tahun dan begitu memasuki kedai minuman itu dia langsung memesan minuman kepada pelayan. Suaranya besar dan dalam, kata-katanya singkat saja. Pemuda ini bukan lain adalah Cian Kauw Cu atau Akauw.

Perantauannya membawa dia ke kota raja Tiang-an di siang hari itu dan biarpun dia amat menganggumi besarnya dan indahnya rumah-rumah di sepanjang jalan yang dilaluinya, namun dia tidak memperlihatkan kekaguman dan keheranannya. Kini dia sudah terbiasa melihat banyak orang, sungguh pada waktu pertama kali memasuki sebuah dusun dan melihat begitu banyaknya manusia, dia menjadi panik dan gentar juga. Apalagi ketika pertama kali melihat wanita muda, dia sampai melotot memandanginya dan wanita itu menjadi ketakutan lalu melarikan diri. Tak di sangkanya bahwa bangsanya ada juga betinanya, dan begitu mempesona!

Akan tetapi karena sebelumnya dia sudah banyak mendengar keterangan Yang Cien, maka keheranannya tidaklah begitu mengubah sikap dan wataknya. Dia harus sopan terhadap wanita, demikian ajaran suhengnya. Sopan itu berarti tidak menegur mereka kalau tidak kenal, tidak memandang terlalu lama, dan tidak mendekati mereka. Kecuali kalau sudah berkenalan.

“Pelayan, cepat sediakan teh dingin untukku! Aihh, panasnya!”

Suara nyaring ini menarik perhatian Cian Kauw Cu. Dia segera menengok dan hamper saja dia tertawa. Seorang pemuda, melihat bentuk tubuhnya yang ceking tentu masih remaja, akan tetapi sikapnya seperti seorang yang sudah dewasa saja, memasuki kedai itu lalu memilih tempat kosong, tak jauh dari tempat duduk Kauw Cu. Dan begitu teh yang dipesannya tiba, dia lalu mengangkat sebelah kakinya ke atas bangku dan minum dengan lahapnya.

Kauw Cu tersenyum dan kebetulan pemuda remaja itu juga memandang kepadanya. Mereka saling pandang dan Kauw Cu melihat betapa sepasang mata itu memiliki senar tajam penuh selidik dan manik matanya bergerak gerak amat cepatnya, menunjukkan kecerdasan otaknya.

“Hemm, kalau orang tersenyum-senyum sendiri tanpa sebab itu namanya orang gila. Ku harap engkau masih waras, sobat. Kenapa engkau tersenyum-senyum sendiri yang menatap aku seperti itu?”

Pertanyaan inipun di anggap lucu oleh Kauw Cu. “Aku tersenyum melihat engkau minum begitu lahapnya, sobat. Agaknya engkau sudah haus sekali“

“Siapa tidak haus dalam hawa sepanas ini?” kata pemuda itu dan selanjutnya dia tidak memperdulikan lagi kepada Kauw Cu yang juga sudah mengalihkan perhatiannya kepada minumannya.

Yang Cien menasehati bahwa dia tidak boleh usil, tidak boleh mencampuri urusan orang lain. Inipun demi menjaga kesopanan dan menjauhkan percekcokan. Dan melihat bahwa di meja lain duduk seorang yang melihat pakaiannya seperti seorang pembesar, bersama tiga orang yang berpakaian seperti ahli silat, mungkin tukang-tukang pukulnya.

Pembesar itu dengan alis berkerut melirik kearah pemuda yang nongkrong mengangkat sebelah kakinya sambil minum teh dengan suara berseruputan dan agaknya dia tidak senang sekali. Lalu dia berbisik kepada seorang pengawalnya yang bertubuh tinggi besar bermuka bopeng. Biarpun dia berbisik, namun Kauw Cu dapat mendengar bisikan itu. Telinganya sudah terlatih baik, bersatu dengan nalurinya.

“Beri hajaran kepada anak muda kurang ajar itu dan lempar dia keluar!” kata sang pembesar kepada tukang pukulnya yang bertubuh tinggi besar.

Tukang pukul ini lalu bangkit. Tubuhnya memang tinggi besar, lebih tinggi dibandingkan tubuh Kauw Cu sehingga mengingatkan Kauw Cu akan seekor biruang, musuh utamanya di hutan. Si Biruang itu lalu menghampiri pemuda tadi dan menghardik.

“bocah liar! Di sini terdapat seorang pembesar, dan engkau duduk nongkrong mengangkat kaki seperti monyet, minum berseruputan seperti babi!”

Pemuda itu sama sekali tidak nampak ketakutan di hardik dan dimaki seperti itu, malah membelalakkan matanya dan nampak keheranan. “Aih, aih... Engkau ini mabok, ya? Di sini tempat umum, aku boleh nongkrong, boleh duduk sesukaku, aku tidak merugikan orang lain kenapa ribut-ribut?”

Si muka bopeng menggerakkan tangannya, memegang leher baju bagian belakang pemuda remaja itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi, sehingga tubuh pemuda itu tergantung. “ Engkau banyak membantah, ya? Hayo pergi dari sini!”

Dia membawanya keluar dan hendak melemparkan tubuh pemuda itu ketika Akauw sudah datang menghadangnya. “Sobat, anak ini tidak bersalah apa-apa, tidak merugikan siapa-siapa, harap jangan diganggu“

Menghadapi pemuda yang membela anak itu, si muka bopeng menjadi marah sekali. Dia melepaskan anak muda itu yang segera lari ke belakang meja untuk berlindung. “Jahanam busuk, engkau tidak tahu aku siapa, ya? Aku pengawal Gu-taijin, jaksa di sini tahu?”

“Maaf, aku memang tidak mengenalmu, sobat. Dan aku tidak mencari keributan. Aku hanya minta agar engkau jangan memukul anak yang tidak bersalah itu“

“Baik, kalau aku tidak boleh memukul dia, aku akan memukulmu!“

Setelah berkata demikian, si muka bopeng menggerakkan tangan kanannya yang dikepal sebesar kepala anak-anak itu meluncur dan menghantam kearah muka Akauw. Dengan tenang Akauw menggerakkan tangan kirinya, menyambut kepalan tangan kanan lawan itu dan mencengkramnya.

“Auuwww…!” si muka bopeng berteriak kesakitan, akan tetapi dasar dia tidak tahu diri, kini tangan kirinya melayang kearah kepala Akauw.

Akauw menggunakan tangan kanannya menyambut dan menangkap kepalan kiri itu dan kini kedua tangan lawan itu berada dalam genggamannya dan si muka bopeng mengaduh-aduh karena dia merasa kedua kepalan tangannya remuk. Akauw lalu mendorongnya ke belakang karena pada saat itu, dua orang pengawal yang lain sudah menerjangnya. Akan tetapi kedua orang itu terbelalak ketika tiba-tiba saja orang yang mereka serang itu menghilang.

Kiranya Akauw melompat dengan cepat sekali ke atas dan bergantung kepada tiang, kemudian selagi kedua orang tukang pukul itu kebingungan, dia pun meloncat turun ke belakang mereka, kedua tangannya menjambak rambut kepala mereka dan mengadukan dua buah kepala itu, tidak terlalu keras akan tetapi cukup membuat kepala itu benjol dan bermunculan ribuan bintang yang membuat kedua orang itu pening dan terkulai. Untung Akauw masih ingat untuk tidak membunuh orang. Kalau terlalu keras dia mengadukan kepala itu sudah pecah dan tentu saja orangnya mati.

Geger di kedai minuman itu. Melihat ketiga tukang pukulnya sudah roboh, si tinggi besar masih berjingkrak karena kedua tangannya terasa nyeri, kiut miut rasanya dan kedua orang yang masih duduk memegangi kepala yang rasanya seperti berputar-putar. Jaksa itu pun tahu diri dan bangkit keluar dari kedai meinuman. Akan tetapi sebelum keluar, sesosok bayangan menyelinap dan pemuda remaja itu sudah berdiri di depannya.

“Heii, jaksa. mau kemana kau? sudah membikin kacau hendak menghina orang, kini mau pergi begitu saja?”

Jaksa yang gendut itu menjadi marah. Dia memang gentar menghadapi Akauw, akan tetapi bocah kurang ajar yang ceking ini tentu saja tidak membuatnya takut. “Minggir, bocah setan atau kupukul kepalamu!” bentaknya.

“Wah, malah mau pukul? Kepalan tahumu itu bisa memukul. Coba hendak kurasakan kepalan tahumu itu. Jangan-jangan untuk memukul kepalaku malah remuk...”

Di ejek begitu sang jaksa lalu mengerahkan seluruh tenaganya mengayun kepalan tangan kanannya memukul kepala anak itu, akan tetapi tiba-tiba bocah itu merendahkan tubuhnya sehingga pukulan itu luput dan tubuhnya terbawa oleh tenaga pukulan terhuyung ke depan. Tubuh yang perutnya gendut itu terhuyung, maka ketika kaki pemuda itu mengganjal kakinya, tanpa dapat di cegah lagi tubuhnya jatuh menubruk meja di depannya. Celakanya, tamu meja depan itu memesan semangkok besar bubur ayam yang masih panas dan ketika roboh menelungkup, muka si jaksa masuk ke dalam mangkok besar bubur ayam sehingga berlepotan bubur panas. Dia mengaduh-aduh dan menjerit-jerit seperti babi di sembelih.

Akauw merasa tangannya di pegang orang dan ternyata pemuda remaja itu yang memegang tangannya, “Hayo cepat kenapa bengong melulu? Apa engkau kepingin mati?”

“Kepengin mati? Tentu saja tidak!”

“Kalau tidak, hayo cepat ikut aku!”

Pemuda remaja itu lalu menggandeng tangannya dan menariknya berlari keluar dari kedai minuman itu. “Nanti dulu“ Akauw membantah. “Aku belum membayar harga minumanku“

“Alaa, biarkan pembesar gendut itu yang membayarnya. Hayo cepat kita lari“

Akauw membiarkan saja dirinya ditarik dan dibawa lari. Mereka pergi keluar kota dan memasuki sebuah kuil tua kosong yang berada diluar kota raja. Barulah pemuda remaja itu melepaskan tangannya dan dia terengah-engah, duduk di lantai bersandarkan dinding tua. Akauw juga ikut duduk di depannya, bersila.

“Eh, sobat cilik, kenapa kau bilang aku tadi kepengin mati? Apa yang kau maksudkan? Dan kenapa pula engkau mengajakku lari-lari seperti ini dan bersembunyi di tempat ini?”

“Wah, engkau tidak mengerti, ya? Kok Tolol benar sih kau ini? Tubuhmu saja besar akan tetapi engkau bodoh sekali“

Heran. Akauw tidak marah bahkan merasa geli. Biarpun dimaki, akan tetapi cara memaki pemuda itu terdengar lucu, karena sikapnya bukan seperti orang yang menghina atau merendahkan, melainkan seperti seorang nenek memarahi cucunya! “Memang aku bodoh. Nah, katakan mengapa?“

“Kau tahu? Orang gendut tadi seorang jaksa! Kau tahu apa itu jaksa?”

Akauw mengingat-ingat. Setahunya, jaksa itu seorang pembesar yang bekerja dipengadilan. “Seorang jaksa itu orang yang menuntut seseorang penjahat agar di adili dan di hukum. Seorang jaksa menentang kejahatan“

“Itu jaksa yang baik. Akan tetapi Gu-taijin itu bukan seorang jaksa yang baik. Dia malah menghukum orang baik-baik yang tidak bersalah, membenarkan orang jahat asal orang jahat itu memberinya uang. Dia sewenang-wenang menggunakan kekuasaannya, memaksakan kehendaknya seperti kau lihat tadi di kedai minuman. Dia mempunyai banyak tukang pukul untuk menyiksa orang, untuk memaksa orang yang tidak bersalah membuat pengakuan palsu.

“Hemmm, kalau begitu dia jahat sekali, sudah pantas diberi hajaran. Akan tetapi mengapa engkau membawa aku pergi melarikan diri?”

“Karena, seperti kataku tadi, dia berkuasa dan mempunyai banyak pengawal. Dia tentu tidak akan tinggal diam dan kalau kita tidak cepat lari, sampai dia memanggil banyak pengawalnya, kita dapat saja di fitnah sebagai pemberontak dan di hokum mati“

“Wah, kalau begitu kita tidak semestinya lari dari sana. Kita bahkan harus menghukum jaksa jahat itu sampai dia jera berbuat kejahatan lagi...“ Berkata demikian, Akauw mengepal kedua tinju tangannya dan mengamangkan tinjunya.

Pemuda remaja itu memandang kagum, lalu dengan kedua tangannya dia memegang dan menekan untuk mencoba kekerasan lengan Akauw yang berotot itu. “Hemm, engkau memang kuat. Bukan main, lenganmu seperti besi baja saja. Akan tetapi, engkau tadi mampu merobohkan tiga orang tukang pukul, apakah engkau mampu mengalahkan tiga puluh orang, atau bahkan tiga ratus orang. Engkau akan menghadapi ribuan atau puluhan ribu pasukan dan hendak kulihat engkau akan bisa berbuat apa“

“Apakah ada pemberontak-pemberontak seperti itu, sobat?”

“Kenapa tidak ada? Banyak sekali. Kenapa? Tentu untuk merebut kekuasaan. Dan satu antara lain sebabnya adalah pembesar-pembesar tidak becus seperti jaksa itu. Mereka berbuat tidak adil sehingga membuat orang menjadi penasaran dan memberontak. Pemberontakan seperti itu harus di basmi karena menimbulkan perang yang akan menyusahkan rakyat saja“

“Sobat, engkau ini masih kecil akan tetapi otakmu cerdas sekali, mengetahui banyak hal!” kata Akauw kagum.

“Dan engkau ini besar, kuat dan pandai silat akan tetapi lagakmu begini bodoh. Siapa sih namamu?“

“Namaku Cian Kauw Cu, akan tetapi engkau boleh menyebutku Akauw saja, seperti di sebut oleh orang-orang yang baik kepadaku. Dan siapa namamu?”

“Aku bermarga Bi namaku Soan“

“Bi Soan? Namamu indah, memang engkau tampan seperti bulan“ puji Akauw.

“Tampan seperti bulan? Mana ada seorang laki-laki tampan seperti bulan?”

“Tapi engkau memang tampan, aku suka sekali padamu, Bi Soan“ kata Akauw.

“Engkau pintar, tidak seperti aku yang bodoh“

“Hem, aku juga suka padamu, engkau kuat, pandai bersilat, dan juga jujur sekali. Terlalu jujur sehingga nampak bodoh. Akan tetapi aku tidak mengatakan engkau bodoh, engkau seperti orang yang berpura-pura bodoh saja“

“Sudahlah, Bi Soan. Sekarang aku harus pergi. Kalau kau anggap berbahaya kembali ke kota, aku akan pergi meninggalkan Tiang-an, aku tidak suka tempat itu karena terlalu ramai, terlalu bising“

“Engkau hendak kemana, Akauw?”

“Melanjutkan perantauanku. Sudah setahun aku merantau dan baru hari ini aku bertemu dengan seorang yang baik seperti engkau . Selamat tinggal“

“Selamat jalan, Akauw. Sampai berjumpa kembali…“

Akauw sudah meninggalkan kuil itu dan tidak kembali ke Tiang-an, melainkan melanjutkan perjalanan ke timur. Dia tidak tahu bahwa dari belakang kuil itu berkelebat bayangan hitam yang membayanginya dari jauh. Juga dia tidak tahu bahwa Bi Soan nampak melamun setelah dia pergi.

“Bukan main! Orang yang kuat dan mengagumkan sekali, sayang dia bodoh, kalau tidak... Hemmmm...“

Bi Soan lalu pergi dari kuil itu, kembali ke kota Tiang-an dengan sikap seenaknya, seolah dia sama sekali tidak takut kalau-kalau akan bertemu dengan tukang pukulnya Jaksa Gu.

********************