Social Items

PADA keesokan harinya Boan Ki bangun kesiangan karena semalam dia hampir tidak tidur. Ketika dia membuka matanya, Akauw tidak berada di sampingnya. Dia tahu bahwa Akauw pagi-pagi sekali tentu sudah bangun dan kini tentu sedang mencari buah atau berburu kelinci, karena dia sudah melihat api unggun di bawah pohon. Dia lalu merayap turun dan membuat minuman air dengan mencampurkan semacam daun pengganti teh yang cukup sedap di dalam air yang sudah mendidih itu.

Selama ini dia sudah membuat semacam periuk dari tanah untuk memasak air dan membuat masakan dari daging buruan dan sayuran yang dapat di temukan di hutan itu. Tak lama kemudian, benar saja Akauw datang membawa buah-buahan dan seekor kelinci yang dapat di tangkap dengan melemparnya dengan batu.

“Aki, aku berhasil menangkap seekor kelinci gemuk!” katanya gembira ketika melihat Aki sedang membuat minuman.

”Bagus, Akauw...“ kata Aki sambil tertawa.

Akauw yang tidak mencurigai sesuatu segera mengguliti kelinci seperti yang di ajarkan kepadanya oleh Boan Ki. Dengan sangat asyik die mengerjakan ini, menggunakan goloknya, tidak tahu bahwa Boan Ki mendekatinya dari belakang. Tiba-tiba saja Boan Ki mengerahkan tenaganya dan menghantam tengkuk anak itu dari belakang.

“Dukk!” tanpa dapat mengeluarkan suara Akauw terpelanting dan tak sadarkan diri lagi. Hantaman itu keras sekali, dilakukan dengan tangan terbuka miring. Kalau tengkuk orang lain yang dihantam Boan Ki seperti itu, tentu tulangnya akan patah. Akan tetapi, hantaman itu tidak mematahkan tulang tengkuknya, akan tetapi guncangan hebat pada kepalanya membuat ia roboh pingsan.

Boan Ki mengambil pedangnya dan hendak mengayun pedang itu memenggal batang leher Akauw. Akan tetapi perbuatan ini tidak jadi dilakukan. Akan mengotori tempat ini dan merepotkan harus mengurus mayatnya, pikirnya. Lebih baik dia dikirim ke dalam jurang menyusul mayat-mayat temannya dulu. Maka, diapun tenang-tenang saja mengikat kedua tangan Akauw ke belakang tubuhnya, lalu melanjutkan mengguliti kelinci dengan golok milik Akauw. Boan Ki adalah bekas penjahat besar yang entah sudah berapa puluh kali membunuh manusia. Maka apa yang dilakukannya terhadap Akauw merupakan perbuatan yang baginya kecil artinya.

Tak lama kemudian Akauw mengeluarkan suara rintihan. Kepalanya bagian belakang terasa nyeri sekali, mengentak-entak rasanya dan pening. Ketika dia membuka matanya, dia melihat Boan Ki sedang memandangnya dengan senyum aneh. Akauw berusaha untuk bangkit akan tetapi terguling kembali. Dia tidak mampu menggerakkan kedua tangannya yang di telikung ke belakang dan di ikat!

“Aki...! Kenapa tanganku ini? Lepaskan…! Katanya

Boan Ki tersenyum menyerengai. “Akauw, engkau harus pergi dari sini. Aku tidak mau lagi tinggal bersamamu“

“Pergi? Kemana?“ Tanya Akauw heran dan kini, setelah tahu kedua tangannya terikat, dia mampu bangkit dan berdiri.

“Ke neraka!” kata pula Boan Ki sambil tertawa.

“Neraka? Dimana itu?”

“Ha-ha-ha, mari ku tunjukkan engkau dimana neraka itu. Hayo jalan...“

Dengan golok yang berlumuran darah kelinci di tangan, Boan Ki menodong dan mendorong Akauw untuk berjalan. Akauw tidak dapat membantah karena golok itu menusuk punggungnya. Terpaksa dia melangkah maju dengan penuh keheranan. Dia masih belum mengerti apa yang di maukan oleh kawannya itu.

“Hayo, terus maju, jangan menengok ke belakang!” hardik Boan Ki.

Akauw maju terus sampai di tepi jurang yang amat dalam itu. Dia berhenti.

“Hayo terus jalan, di bawah sana itulah neraka. Engkau harus pergi ke sana!”

Lebih banyak nalurinya daripada pikirannya yang memberitahu Akauw apa yang sesungguhnya terjadi. Aki hendak membunuhnya! Dia membalik dan terdengar gerengan dikerongkongannya.

“Engkau… engkau jahat!” katanya berkali-kali dan kini dia meronta-ronta dan kedua kakinya menendang-nendang kea rah Boan Ki.

Boan Ki tidak tahu bahwa kalau tadinya Akauw menurut saja, bukan karena Akauw takut, melainkan karena dia tidak tahu apa yang dikehendaki Boan Ki, bahkan belum menyangka jelek. Baru sekarang dia tahu bahwa Boan Ki hendak membunuhnya, maka dia melawan. Hal ini tentu dilakukan sejak tadi kalau dia sudah mengetahuinya. Dia mengeluarkan teriakna-teriakan seperti kera marah ketika menendang–nendang. Boan Ki terkejut dan cepat menggerakkan goloknya menangkis tendangan itu.

“Craackk!” kaki kanan Akauw terkena golok dan terluka pahanya berdarah-darah dan diapun roboh terpelanting. Namun dia bangkit berdiri lagi dengan loncatan sigap. Kalau hanya luka kecil itu saja, tidak mungkin dapat membuat Akauw menyerah. Kembali golok menyambar.

“Trangg…!” golok itu di tangkis sebatang pedang di tangan seseorang kakek tua yang usianya tentu sudah tujuh puluh tahunan. Namun, ketika pedang menangkis, golok terpental dan Boan Ki merasa tangannya tergetar.

“Eh, siapa engkau? Jangan mencampuri urusanku!” bentak Boan Ki marah.

Sementara itu, seorang anak laki-laki berusia kurang lebih lima belas tahun, cepat melepaskan ikatan tangan Akauw yang terluka paha kirinya. Kakek itu berkata, “Sobat, engkau hendak membunuh anak itu, bagaimana kami tidak akan mencampuri?”

“Kalau begitu, aku akan membunuhmu lebih dulu!” Dia menyabitkan golok yang berlumuran darah kelinci itu kepada si kakek yang cepat menangkis dengan pedangnya. Kemudian Boan Ki mencabut pedangnya dan menyerang kakek itu dengan ganasnya.

Kakek itu berpakaian seperti sastrawan, dan walaupun gerakan pedangnya amat indah, namun dia sudah terlalu tua, gerakannya sudah amat lambat sehingga Boan Ki yang keras dan kasar itu menyerang bertubi-tubi, kakek itu mulai terdesak.

Sementara Akauw yang sudah bebas tangannya, menjadi marah sekali kepada Boan Ki. Dia mengeluarkan gerengan seperti kera kalau marah, mendesis-desis dan melihat goloknya terlempar ketika di sabitkan Boan Kid an di tangkis kakek itu, dia lalu melompat, menyambar goloknya dan melompat ke atas pohon dengan kecepatan seekor kera. Kemudian dari atas pohon itu dia terjun dengan cepat menukik ke bawah, menyerang Boan Ki yang sedang mendesak kakek itu.

Ketika mendengar gerengan yang menakutkan dari atas, Boan Ki mengangkat pedangnya menangkis. Golok itu dengan amat kerasnya bertemu pedang, akibatnya pedang dan golok menjadi patah-patah dan Akauw sudah menerkam kepala Boan Ki.

Boan Ki terkejut sekali ketika tahu-tahu tubuh Akauw sudah berada di atas punggungnya dan dia menronta-ronta, akan tetapi tiba-tiba dia merasa ada gigitan dilehernya dan kepalanya di putar sekuatnya oleh Akauw. Terdengar bunyi “kreek-krekk!” tulang leher itu patah. Setelah Akauw melepaskannya, tubuh Boan Ki terpelanting dengan kepala miring dan leher terobek gigi Akauw. Akauw berdiri di atas dada Boan Kid an menepuk-nepuk dadanya sambil menggereng-gereng seperti lagak kera yang menang dalam pertandingan.

Kakek dan pemuda remaja itu memandang dengan bengong, juga ngeri. Setelah melampiaskan kemarahannya seperti seekor kera, Akauw melihat dua orang itu dan baru ia teringat bahwa dia adalah seorang manusia, bukan seekor kera. Maka dia lalu turun dari dada mayat Boan Kid an menghampiri kakek itu.

“Kalian telah menolongku. Kalian orang-orang baik, tidak jahat seperti Aki“ Dia menuding kearah mayat itu.

“Siapakah dia? Dan mengapa dia hendak membunuhmu dan siapakah engkau?” kakek itu bertanya dengan suaranya yang lembut.

“Dia Aki dan aku Akauw. Dia orang jahat, dulu kuselamatkan sekarang dia malah hendak membunuhku. Jahat... Jahat… seperti ular!” Akauw menuding-nuding mayat itu.

Kakek itu menghampiri Akauw. “Mari kita kuburkan dulu Aki itu, baru kita bicara. Yang Cien, mari bantu aku menggali lubang“

“Nanti dulu, apa yang akan kau lakukan? Menggali lubang? Untuk apa?“ Tanya Akauw heran, dan penuh curiga. Setelah apa yang dia alami dari Aki, dia menjadi curiga pada manusia.

“Dia telah mati, Akauw. Kita harus mengubur mayatnya“

“Mengubur? Apa itu, dan bagaimana?”

“Mengubur mayar adalah menanam mayat itu dibawah tanah, memasukkan kedalam galian dan menimbuni dengan tanah agar tidak membusuk dan tidak di makan binatang buas“

Akauw mengangguk-angguk. “Akan tetapi, Aki dahulu menyuruh aku membuang mayat-mayat itu ke dalam jurang. Dan dia tadi menyuruhku melompat ke dalam jurang pula“

“Itu jahat sekali, Akauw. Kalau orang mati haruslah dikubur, kalau tidak mayatnya akan dimakan oleh binatang buas dan membusuk, mendatangkan penyakit disekitarnya“

Akauw mengangguk-angguk mengerti lalu dengan tekun dia membantu mereka menggali lubang. Setelah cukup dalam, jenazah itu dimasukkan dalam lubang dan di timbuni tanah, barulah kakek itu mengajak cucunya dan Akauw duduk dibawah pohon tempat tinggal Akauw.

“Akauw, perkenalkanlah. Aku adalah Yang Kok It dan ini cucuku bernama Yang Cien. Kami kakek dan cucu baru saja memasuki daerah ini dan tidak mengenal jalan di tempat yang amat liar ini. Tadi kami melihat betapa orang yang kau sebut Aki itu hendak membunuhmu, maka kami turun tangan menolongmu. Sebetulnya siapakah engkau? Dimana rumahmu dan siapa pula orang tuamu?” kakek itu dan cucunya memandang penuh perhatian.

Sebelum menjawab Akauw memperhatikan kedua orang itu. Yang Kok It seorang kakek tua sekali dengan pakaian sastrawan, kurus tinggi dan nampak lemah, sedangkan Yang Cien adalah seorang pemuda remaja yang sebaya dengannya, bertubuh tinggi tegap dan berwajah tampan. Pakaiannya juga seperti seorang sastrawan, dan pandang matanya tajam sekali.

“Namaku Akauw, dan rumahku di sana“ Dia menunjuk ke atas pohon besar itu dimana terdapat sebuah gubuk dari ranting dan daun kering, seperti sarang burung yang besar sekali. “Orang tuaku? Aku tidak tahu siapa orang tuaku. Aku di besarkan di sini, di antara kera-kera itu dan setelah Aki tiba di sini, barulah aku di ajari bicara oleh Aki, memakai pakaian dan banyak hal lain“

Kakek dan cucunya itu saling pandang, merasa aneh bahwa ada anak hidup di antara kera dan sekarang gerak-geriknya, kegesitannya, masih seperti kera.

“Siapa yang memberi nama Akauw itu?”

“Juga Aki, sebelum dia datang, kera-kera itu menyebut namaku Kercak“ Ketika mengucapkan kata Kercak itu, dia persis monyet mengeluarkan suara mirip suara Kercak.

Kakek itu melihat kalung di leher Akauw, dan melihat betapa kalung itu terukir dengan huruf Cian. “Ku kira orang tuamu bermarga Cian, Akauw dan tentu namamu yang lengkap Cian Kauw“ Dia tidak mengatakan bahwa Aki menyebutnya Akauw karena dia di anggap monyet atau sebangsa kera. Kauw berarti kera.

“Aku tidak tahu, aku menemukan benda ini di antara tulang-tulang manusia“

“Dan bagaimana datangnya Aki itu ke sini? Apakah dia mengatakan siapa dirinya dan darimana dia datang?”

“Tidak pernah. Dia datang bersama belasan orang, lalu diserang oleh puluhan orang. Semua temannya mati dan dia terluka berat. Aku merawatnya sampai dia sembuh dan selanjutnya dia tinggal di sini bersamaku“

“Kapan terjadinya itu?”

“Kurang lebih tiga empat tahun yang lalu“

Biarpun cara bicara Akauw kagok dan tidak beraturan, namun cukup jelas dan dapat dimengerti. “Dan kau bilang tadi mayat-mayat semua temannya itu tidak di kubur melainkan dibuang ke dalam jurang?“

“Ya, Aki yang menyuruh demikian“

Dari penuturan ini saja kakek itu sudah dapat menduga bahwa Aki itu bukan orang baik-baik, seperti kemudian ternyata betapa dia hendak membunuh Akauw yang pernah merawatnya ketika dia terluka. “Akauw, kami berdua ingin tinggal di tempat ini bersamamu. Apakah engkau menyetujui?”

Akauw memandang kepada kakek itu, lalu kepada Yang Cien. “Apakah engkau tidak akan berbuat jahat seperti Aki?” tanyanya meragu.

“Tentu saja tidak, Akauw. Ketahuilah bahwa di dunia ini memang banyak sekali orang jahat, akan tetapi kami selalu menentang kejahatan. Bahkan kami sembunyi dan hendak tinggal di sini adalah karena kami dikejar-kejar orang jahat. Kami akan tinggal di sini bersamamu, menjadi sahabatmu, bahkan kalau kau suka, engkau boleh memanggil aku kakek dan engkau menjadi cucuku, menjadi saudara Yang Cien. Maukah engkau?”

Akauw tersenyum. Dari wajah kedua orang ini saja, nalurinya mengatakan bahwa wajah mereka sama sekali berbeda dari wajah Aki. Sinar mata Aki liar dan keras, sedangkan kedua orang ini bersinar mata lembut dan tajam. “Aku mau, kakek. Dan Yang Cien menjadi kakakku“

Demikianlah, sejak hari itu, kakek Yang Kok It dan cucunya, Yang Cien, tinggal di situ bersama Akauw yang nama lengkapnya Cian Kauw Cu atau nama monyetnya Kercak. Kakek itu merasa tidak ada gunanya menceritakan tentang riwayat dia dan cucunya kepada Akauw, karena pemuda yang peradabannya sangat terbelakang itu tentu tidak akan mengerti.

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo

Sesungguhnya Yang Kok It adalah bekas jendral yang sudah mengundurkan diri karena sudah tua. Puteranya yang bernama Yang Koan mewarisi kepandaiannya, baik kepandaian silat, ilmu pedang maupun kesusastraaan dan seperti juga ayahnya, Yang Koan ikut membela Negara dari serbuan para suku Toba dari barat dan utara. Sebagai seorang panglima, Yang Koan amat tangguh dan besar jasanya. Akan tetapi diapun seorang pemberani jujur dan adil. Seringkali, kalau dia melihat rekannya menyeleweng, berkoropsi atau melakukan penindasan terhadap rakyat mengandalkan kekuasaanya, dia akan menentangnya.

Dengan ilmunya yang tinggi dan kedudukannya yang cukup berwibawa, dia merobohkan banyak pejabat tinggi yang menyalah-gunakan kewenangan dan kekuasaannya. Dengan demikian, dia mempunyai banyak musuh. Pada suatu hari, rumah penglima Yang Koan di kepung orang-orang berkedok yang berilmu tinggi dan mereka itu mengahncurkan rumah , membakar dan membunuh. Yang Koan dan isterinya melawan mati-matian namun karena banyaknya pihak pengeroyok, akhirnya setelah merobohkan banyak pengeroyok, suami isteri inipun roboh dan tewas.

Untung sekali bagi Yang Cien yang berusia sepuluh tahun, ketika penyerbuan terjadi, dia sedang berada di rumah kakeknya. Seorang anak buah ayahnya berlari memberi kabar tentang penyerbuan itu dan Yang Kok It maklum bahwa nyawa cucunya berada di dalam bahaya. Maka, diapun mengajak cucunya untuk melarikan diri.

Memang benar dugaanya, pihak musuh, yaitu mereka yang bekas pejabat dan mendendam kepada Yang Koan, melakukan pengejaran dan pencarian. Banyak jagoan di sebar untuk mencari dimana adanya kakek dan cucunya itu sehingga kakek Yang Kok It yang sudah tua itu terpaksa harus lari ke sana kemari, berpindah-pindah tempat dan berganti nama untuk menyingkir dari pengejaran musuh-musuhnya. Sementara itu, tak lupa kakek itu melatih Yang Cien dengan ilmu silat dan ilmu sastra. Dalam kedua ilmu ini, ternyata Yang Cien berbakat sekali sehingga dia memperoleh banyak kemajuan“

“Kong-kong“ Kata Yang Cien ketika dia berusia empat belas tahun dan sudah tahu akan keadaan mereka yang dikejar-kejar musuh. “Sungguh tidak enak kalau kita harus berpindah-pindah dan melarikan diri. Hidup ini rasanya tidak tenang selalu. Kenapa kita berdua tidak menanti sampai mereka datang dan melawan merwka saja, kong-kong?”

Kakeknya menghela napas panjang. “Semangatmu untuk melawan itu memang baik sekali, Yang Cien. Akan tetapi kalau hanya dengan semangat dan keberanian saja, maka akhirnya akan mati konyol. Tidak, engkau harus tetap hidup untuk melanjutkan cita-cita ayahmu yang ingin mempersatukan seluruh negeri dan mengusir bangsa Toba dari tanah air“

“Hemmm, engkau tidak tahu. Musuh ayahmu banyak sekali dan musuh utamanya adalah Bong Ji Kun, bekas menteri yang dipecat oleh Raja karena koropsinya di bongkar ayahmu. Bong Ji Kun itu kaya raya dan mampu membayar jagoan yang berilmu tinggi dengan upah besar. Menurut kabar terakhir, dia telah berhasil membujuk Toat Beng Giam Ong untuk melakukan pengejaran terhadap kita dan untuk melawan Toat-beng Giam Ong, tenaga kita tidak akan mampu. Dahulupun ketika aku masih kuat dan muda, belum tentu aku mampu menandingi Toat-beng Giam-ong (Malaikat Maut pencabut nyawa), apalagi sekarang aku sudah tua“

“Kalau kita berdua mengeroyoknya, apakah kita tidak akan mampu mengalahkannya, kek?”

“Aih, kita berdua juga tidak akan menang. Apalagi, datuk sesat itu tentu memiliki banyak anak buah. Sudahlah, hilangkan pikiranmu yang hendak melakukan perlawanan kepada para pengejar dan pencari kita“

“Akan tetapi aku sudah bosan berlari-lari seperti ini. Bagaimana kalau kita mencari tempat yang sepi, yang rahasia yang tidak akan lagi di datangi orang? Disana kita dapat hidup tenang dan aku dapat mempelajari dan memperdalam ilmu silatku tanpa gangguan“

“Tempat tersembunyi dan rahasia yang tidak akan di datangi orang? Ahhh, aku jadi teringat akan sebuah tempat yang ku rasa cocok dengan yang kau maksud itu, Yang Cien. Akan tetapi kurasa tempat itu juga mengandung bahaya, walaupun bahayanya lain dari bahaya pengejaran musuh-musuh kita“

“Dimana tempat itu, kong-kong?”

“Sebetulnya sudah tidak jauh lagi dari sini, di sebuah puncak di antara puncak-puncak yang banyak terdapat di Thaisan, yang berada dibawah puncak itu dan di sebut Lembah Iblis“

“Lembah Iblis?“ Yang Cien bertanya heran. “Kenapa disebut Lembah Iblis?”

“Entahlah, sudah ratusan tahun lamanya lembah itu di sebut Lembah Iblis dan menurut kepercayaan orang di situ, memang tempat tinggal iblis dan setan sehingga tidak pernah ada orang berani naik ke sana. Bahkan seorang kangouw sekalipun akan berpikir seratus kali lebih dulu sebelum berani naik ke sana. Hutannya lebat, binatang hutannya banyak dan buas“

“ Ah, agaknya baik sekali untuk kita bersembunyi, Kek. Aku lebih senang menghadapi ancaman binatang buas atau iblis sekalipun dari pada ancaman pengejaran yang tidak ada hentinya selama empat tahun ini“

Demikianlah, untuk menghindari pengejaran Toat-beng Giam-ong Lui Tat dan anak buahnya, kakek Yang kok It akhirnya menuruti permintaan Yang Cien dan mereka masuk ke Lembah Iblis. Dan ketika mereka menyusup-nyusup ke dalam hutan lebat itulah mereka melihat betapa Akauw akan di bunuh oleh Boan Ki. Akan tetapi, semua ini tidak diceritakannya kepada Akauw. Dan sejak hari itu, kakek dan cucunya menjadi pengganti Boan Ki, tinggal bersama Akauw.

Sungguh hal ini amat menguntungkan Akauw, karena barulah dia tahu bahwa bangsanya ada yang berwatak baik sekali seperti kakek dan cucunya ini. Mereka mengajarkan dia sehingga bahasanya menjadi semakin teratur dan semakin lengkap. Bahkan kakek Yang Kok It yang melihat tenaga alam yang ada pada tubuh Akauw cekatan dan kuat seperti kera besar, lalu dia mulai mengajarkan ilmu silat kepada Akauw.

Dan ketika dia mengajarkan Kauw-kun (Silat Monyet) kepadanya, Akauw dapat melakukannya dengan baik sekali, bahkan lebih baik dari kakek itu sendiri! Dan memang gerakan-gerakan silat ini inti sarinya atau dasarnya di ambil dari gerakan seekor monyet sudah dimiliki oleh Akauw. Bahkan Yang Cien sendiri yang sudah belajar sejak kecil, tidak mungkin dapat menandingi Akauw dalam hal kegesitan dan tenaga otot.

Setelah hidup bersama kakek dan cucu ini, Akauw mempelajari banyak tata cara kehidupan manusia dan sopan santun. Banyak pula tahu tentang kesusilaan. Hanya satu hal yang tidak di sukai Akauw, yaitu belajar membaca. Dia merasa sukar sekali dan akhirnya dia menolak untuk belajar membaca dan menulis. Dianggapnya pelajaran itu terlalu mengikat dan memaksa dia mengingat-ingat terus sampai kepalanya terasa puyeng!

Dari Yang Cien, dia dapat mendengar banyak tentang kehidupan bangsanya, bangsa manusia, di kota-kota besar. Di gambarkan oleh Yang Cien tentang rumah-rumah, tentang pakaian yang indah-indah dan lain-lain dan semua itu amat menarik perhatian Akauw. Biarpun dia lebih banyak bergaul dengan Yang Cien, namun dia tidak pernah melupakan kawan-kawan keranya.

Yang Cien sampai melongo terheran-heran melihat Akauw bergelut dan bermain-main dengan para kera itu jauh tinggi di atas pohon, berayun-ayun, berlompatan, bahkan cecowetan bercakap-cakap!

Dari keterangan Akauw bahwa empat lima tahun yang lalu dia bertemu dengan Boan Ki sebagai manusia pertama yang di jumpainya, maka Yang Cien dapat menduga bahwa Akauw hidup sejak bayi diantara kera sampai berusia kurang lebih sepuluh tahun. Sungguh merupakan hal yang luar biasa sekali. Dan Yang Cien yang dekat dengan Akauw ini mulai berkenalan dengan kera-kera besar itu dan suka ikut bermain-main pula.

Kalau sedang melakukan latihan ilmu silat dengan Akauw, biarpun tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi, namun dia merasa betapa cepatnya gerakan pemuda yang kini di sebut sute (adik seperguruan) itu. Akauw juga di ajari untuk menyebut suheng (kakak seperguruan) kepadanya. Bahkan agak sukar baginya untuk mengalahkan Akauw saking cekatannya sutenya itu, kecuali kalau dia mengerahkan sin-kang, barulah dia mampu mengatasi tenaga otot adiknya itu.

Di samping ilmu silat, yang kebanyakan dilatih oleh Yang Cien, kakek Yang Kok It juga mengajari Akauw untuk menghimpun siu-lan (bermeditasi). Akan tetapi, Akauw juga tidak sabar dengan latihan Samadhi itu, maka dia sukar memperoleh kemajuan dalam hal ini.

Tanpa terasa, mereka tinggal di dalam lembah itu selama lima tahun! Dan tak pernah sekalipun ada orang yang melakukan pencarian sampai ke tempat itu. Mereka benar-benar hidup tentram dan penuh damai, akan tetapi juga terasing, tidak pernah bergaul dengan manusia lain.

Pada suatu pagi, ketika Yang Cien dan Kauw Cu terbangun dari tidurnya, mereka terheran melihat kakek Yang Kok It masih belum bangun. Biasanya, kakek itu pagi-pagi sekali sudah bangun.

Melihat Yang Cien menangis, Akauw tidak kuat menahan dan diapun mengalirkan air mata, akan tetapi dia belum tahu mengapa suhengnya menangis, dan apa artinya meninggalkan mereka itu. Kakeknya akan pergi kemana?

“Kong-kong, engkau hendak pergi kemanakah, kong-kong?”

“Cucu-cucuku, bahkan para Nabi pun mengalami sakit dan kematian. Aku tidak menyesal, telah mendidik kalian dan ku rasa kalian sekarang sudah memiliki bekal untuk menjaga diri. Yang Cien sutemu masih belum berpengalaman, juga ilmunya tidak sematang engkau. Jangan membiarkan dia seorang diri, akan tetapi biarkan dia bersamamu. Anggaplah dia itu adikmu sendiri, Yang Cien“

“Baik, kong-kong...“

“Kauw Cu, engkau harus memenuhi pesanku ini. Engkau jangan memisahkan diri dari kakakmu, dalam segala hal engkau harus menaati kata-kata kakakmu. Kalau aku sudah tidak ada, maka anggaplah suhengmu sebagai penggantiku“

“Ah, engkau belum mengerti, Akauw? Agaknya... sudah tiba saatnya aku meninggalkan kalian, meninggalkan dunia ini… Sudah tiba saatnya aku... mati…“

“Kong-kong…!“ Kini baru Akauw mengerti dan dia berteriak sambil menubruk kakeknya, merangkul dan menangis. “Jangan mati, kong, jangan mati...!”

Melihat ini, Yang Cien memegang pundak sutenya. “Tenanglah, sute dan kita biarkan kong-kong beristirahat“, mereka lalu membantu kakek itu merebahkan diri.

Kakek itu mendapat serangan penyakit mendadak, penyakit tua dan pada malam hari itu juga meninggal dunia dengan tenang. Yang Ciean menangis dan Akauw keluar dari gubuk, berayun-ayun dari dahan ke dahan sambil menjerit-jerit seperti kera yang sedang marah.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, kakek itu berpesan kepada Yang Cien, “sekarang sudah tiba saatnya engkau meninggalkan tempat ini, Yang Cien. Ajaklah Kauw Cu memasuki dunia ramai. Musuh tentu sudah melupakan engkau yang kini telah dewasa, dan usahakan agar cita-cita ayahmu menyatukan seluruh Negara menjadi kenyataan“

Semalam itu mereka berdua tidak tidur, menunggui jenazah kakek Yang Kok It sambil menangis tanpa suara. Keduanya merasa kehilangan sekali. Kehilangan kakek, kehilangan guru, juga pengganti orang tua yang baik sekali.

Sepasang Naga Lembah Iblis Jilid 02

PADA keesokan harinya Boan Ki bangun kesiangan karena semalam dia hampir tidak tidur. Ketika dia membuka matanya, Akauw tidak berada di sampingnya. Dia tahu bahwa Akauw pagi-pagi sekali tentu sudah bangun dan kini tentu sedang mencari buah atau berburu kelinci, karena dia sudah melihat api unggun di bawah pohon. Dia lalu merayap turun dan membuat minuman air dengan mencampurkan semacam daun pengganti teh yang cukup sedap di dalam air yang sudah mendidih itu.

Selama ini dia sudah membuat semacam periuk dari tanah untuk memasak air dan membuat masakan dari daging buruan dan sayuran yang dapat di temukan di hutan itu. Tak lama kemudian, benar saja Akauw datang membawa buah-buahan dan seekor kelinci yang dapat di tangkap dengan melemparnya dengan batu.

“Aki, aku berhasil menangkap seekor kelinci gemuk!” katanya gembira ketika melihat Aki sedang membuat minuman.

”Bagus, Akauw...“ kata Aki sambil tertawa.

Akauw yang tidak mencurigai sesuatu segera mengguliti kelinci seperti yang di ajarkan kepadanya oleh Boan Ki. Dengan sangat asyik die mengerjakan ini, menggunakan goloknya, tidak tahu bahwa Boan Ki mendekatinya dari belakang. Tiba-tiba saja Boan Ki mengerahkan tenaganya dan menghantam tengkuk anak itu dari belakang.

“Dukk!” tanpa dapat mengeluarkan suara Akauw terpelanting dan tak sadarkan diri lagi. Hantaman itu keras sekali, dilakukan dengan tangan terbuka miring. Kalau tengkuk orang lain yang dihantam Boan Ki seperti itu, tentu tulangnya akan patah. Akan tetapi, hantaman itu tidak mematahkan tulang tengkuknya, akan tetapi guncangan hebat pada kepalanya membuat ia roboh pingsan.

Boan Ki mengambil pedangnya dan hendak mengayun pedang itu memenggal batang leher Akauw. Akan tetapi perbuatan ini tidak jadi dilakukan. Akan mengotori tempat ini dan merepotkan harus mengurus mayatnya, pikirnya. Lebih baik dia dikirim ke dalam jurang menyusul mayat-mayat temannya dulu. Maka, diapun tenang-tenang saja mengikat kedua tangan Akauw ke belakang tubuhnya, lalu melanjutkan mengguliti kelinci dengan golok milik Akauw. Boan Ki adalah bekas penjahat besar yang entah sudah berapa puluh kali membunuh manusia. Maka apa yang dilakukannya terhadap Akauw merupakan perbuatan yang baginya kecil artinya.

Tak lama kemudian Akauw mengeluarkan suara rintihan. Kepalanya bagian belakang terasa nyeri sekali, mengentak-entak rasanya dan pening. Ketika dia membuka matanya, dia melihat Boan Ki sedang memandangnya dengan senyum aneh. Akauw berusaha untuk bangkit akan tetapi terguling kembali. Dia tidak mampu menggerakkan kedua tangannya yang di telikung ke belakang dan di ikat!

“Aki...! Kenapa tanganku ini? Lepaskan…! Katanya

Boan Ki tersenyum menyerengai. “Akauw, engkau harus pergi dari sini. Aku tidak mau lagi tinggal bersamamu“

“Pergi? Kemana?“ Tanya Akauw heran dan kini, setelah tahu kedua tangannya terikat, dia mampu bangkit dan berdiri.

“Ke neraka!” kata pula Boan Ki sambil tertawa.

“Neraka? Dimana itu?”

“Ha-ha-ha, mari ku tunjukkan engkau dimana neraka itu. Hayo jalan...“

Dengan golok yang berlumuran darah kelinci di tangan, Boan Ki menodong dan mendorong Akauw untuk berjalan. Akauw tidak dapat membantah karena golok itu menusuk punggungnya. Terpaksa dia melangkah maju dengan penuh keheranan. Dia masih belum mengerti apa yang di maukan oleh kawannya itu.

“Hayo, terus maju, jangan menengok ke belakang!” hardik Boan Ki.

Akauw maju terus sampai di tepi jurang yang amat dalam itu. Dia berhenti.

“Hayo terus jalan, di bawah sana itulah neraka. Engkau harus pergi ke sana!”

Lebih banyak nalurinya daripada pikirannya yang memberitahu Akauw apa yang sesungguhnya terjadi. Aki hendak membunuhnya! Dia membalik dan terdengar gerengan dikerongkongannya.

“Engkau… engkau jahat!” katanya berkali-kali dan kini dia meronta-ronta dan kedua kakinya menendang-nendang kea rah Boan Ki.

Boan Ki tidak tahu bahwa kalau tadinya Akauw menurut saja, bukan karena Akauw takut, melainkan karena dia tidak tahu apa yang dikehendaki Boan Ki, bahkan belum menyangka jelek. Baru sekarang dia tahu bahwa Boan Ki hendak membunuhnya, maka dia melawan. Hal ini tentu dilakukan sejak tadi kalau dia sudah mengetahuinya. Dia mengeluarkan teriakna-teriakan seperti kera marah ketika menendang–nendang. Boan Ki terkejut dan cepat menggerakkan goloknya menangkis tendangan itu.

“Craackk!” kaki kanan Akauw terkena golok dan terluka pahanya berdarah-darah dan diapun roboh terpelanting. Namun dia bangkit berdiri lagi dengan loncatan sigap. Kalau hanya luka kecil itu saja, tidak mungkin dapat membuat Akauw menyerah. Kembali golok menyambar.

“Trangg…!” golok itu di tangkis sebatang pedang di tangan seseorang kakek tua yang usianya tentu sudah tujuh puluh tahunan. Namun, ketika pedang menangkis, golok terpental dan Boan Ki merasa tangannya tergetar.

“Eh, siapa engkau? Jangan mencampuri urusanku!” bentak Boan Ki marah.

Sementara itu, seorang anak laki-laki berusia kurang lebih lima belas tahun, cepat melepaskan ikatan tangan Akauw yang terluka paha kirinya. Kakek itu berkata, “Sobat, engkau hendak membunuh anak itu, bagaimana kami tidak akan mencampuri?”

“Kalau begitu, aku akan membunuhmu lebih dulu!” Dia menyabitkan golok yang berlumuran darah kelinci itu kepada si kakek yang cepat menangkis dengan pedangnya. Kemudian Boan Ki mencabut pedangnya dan menyerang kakek itu dengan ganasnya.

Kakek itu berpakaian seperti sastrawan, dan walaupun gerakan pedangnya amat indah, namun dia sudah terlalu tua, gerakannya sudah amat lambat sehingga Boan Ki yang keras dan kasar itu menyerang bertubi-tubi, kakek itu mulai terdesak.

Sementara Akauw yang sudah bebas tangannya, menjadi marah sekali kepada Boan Ki. Dia mengeluarkan gerengan seperti kera kalau marah, mendesis-desis dan melihat goloknya terlempar ketika di sabitkan Boan Kid an di tangkis kakek itu, dia lalu melompat, menyambar goloknya dan melompat ke atas pohon dengan kecepatan seekor kera. Kemudian dari atas pohon itu dia terjun dengan cepat menukik ke bawah, menyerang Boan Ki yang sedang mendesak kakek itu.

Ketika mendengar gerengan yang menakutkan dari atas, Boan Ki mengangkat pedangnya menangkis. Golok itu dengan amat kerasnya bertemu pedang, akibatnya pedang dan golok menjadi patah-patah dan Akauw sudah menerkam kepala Boan Ki.

Boan Ki terkejut sekali ketika tahu-tahu tubuh Akauw sudah berada di atas punggungnya dan dia menronta-ronta, akan tetapi tiba-tiba dia merasa ada gigitan dilehernya dan kepalanya di putar sekuatnya oleh Akauw. Terdengar bunyi “kreek-krekk!” tulang leher itu patah. Setelah Akauw melepaskannya, tubuh Boan Ki terpelanting dengan kepala miring dan leher terobek gigi Akauw. Akauw berdiri di atas dada Boan Kid an menepuk-nepuk dadanya sambil menggereng-gereng seperti lagak kera yang menang dalam pertandingan.

Kakek dan pemuda remaja itu memandang dengan bengong, juga ngeri. Setelah melampiaskan kemarahannya seperti seekor kera, Akauw melihat dua orang itu dan baru ia teringat bahwa dia adalah seorang manusia, bukan seekor kera. Maka dia lalu turun dari dada mayat Boan Kid an menghampiri kakek itu.

“Kalian telah menolongku. Kalian orang-orang baik, tidak jahat seperti Aki“ Dia menuding kearah mayat itu.

“Siapakah dia? Dan mengapa dia hendak membunuhmu dan siapakah engkau?” kakek itu bertanya dengan suaranya yang lembut.

“Dia Aki dan aku Akauw. Dia orang jahat, dulu kuselamatkan sekarang dia malah hendak membunuhku. Jahat... Jahat… seperti ular!” Akauw menuding-nuding mayat itu.

Kakek itu menghampiri Akauw. “Mari kita kuburkan dulu Aki itu, baru kita bicara. Yang Cien, mari bantu aku menggali lubang“

“Nanti dulu, apa yang akan kau lakukan? Menggali lubang? Untuk apa?“ Tanya Akauw heran, dan penuh curiga. Setelah apa yang dia alami dari Aki, dia menjadi curiga pada manusia.

“Dia telah mati, Akauw. Kita harus mengubur mayatnya“

“Mengubur? Apa itu, dan bagaimana?”

“Mengubur mayar adalah menanam mayat itu dibawah tanah, memasukkan kedalam galian dan menimbuni dengan tanah agar tidak membusuk dan tidak di makan binatang buas“

Akauw mengangguk-angguk. “Akan tetapi, Aki dahulu menyuruh aku membuang mayat-mayat itu ke dalam jurang. Dan dia tadi menyuruhku melompat ke dalam jurang pula“

“Itu jahat sekali, Akauw. Kalau orang mati haruslah dikubur, kalau tidak mayatnya akan dimakan oleh binatang buas dan membusuk, mendatangkan penyakit disekitarnya“

Akauw mengangguk-angguk mengerti lalu dengan tekun dia membantu mereka menggali lubang. Setelah cukup dalam, jenazah itu dimasukkan dalam lubang dan di timbuni tanah, barulah kakek itu mengajak cucunya dan Akauw duduk dibawah pohon tempat tinggal Akauw.

“Akauw, perkenalkanlah. Aku adalah Yang Kok It dan ini cucuku bernama Yang Cien. Kami kakek dan cucu baru saja memasuki daerah ini dan tidak mengenal jalan di tempat yang amat liar ini. Tadi kami melihat betapa orang yang kau sebut Aki itu hendak membunuhmu, maka kami turun tangan menolongmu. Sebetulnya siapakah engkau? Dimana rumahmu dan siapa pula orang tuamu?” kakek itu dan cucunya memandang penuh perhatian.

Sebelum menjawab Akauw memperhatikan kedua orang itu. Yang Kok It seorang kakek tua sekali dengan pakaian sastrawan, kurus tinggi dan nampak lemah, sedangkan Yang Cien adalah seorang pemuda remaja yang sebaya dengannya, bertubuh tinggi tegap dan berwajah tampan. Pakaiannya juga seperti seorang sastrawan, dan pandang matanya tajam sekali.

“Namaku Akauw, dan rumahku di sana“ Dia menunjuk ke atas pohon besar itu dimana terdapat sebuah gubuk dari ranting dan daun kering, seperti sarang burung yang besar sekali. “Orang tuaku? Aku tidak tahu siapa orang tuaku. Aku di besarkan di sini, di antara kera-kera itu dan setelah Aki tiba di sini, barulah aku di ajari bicara oleh Aki, memakai pakaian dan banyak hal lain“

Kakek dan cucunya itu saling pandang, merasa aneh bahwa ada anak hidup di antara kera dan sekarang gerak-geriknya, kegesitannya, masih seperti kera.

“Siapa yang memberi nama Akauw itu?”

“Juga Aki, sebelum dia datang, kera-kera itu menyebut namaku Kercak“ Ketika mengucapkan kata Kercak itu, dia persis monyet mengeluarkan suara mirip suara Kercak.

Kakek itu melihat kalung di leher Akauw, dan melihat betapa kalung itu terukir dengan huruf Cian. “Ku kira orang tuamu bermarga Cian, Akauw dan tentu namamu yang lengkap Cian Kauw“ Dia tidak mengatakan bahwa Aki menyebutnya Akauw karena dia di anggap monyet atau sebangsa kera. Kauw berarti kera.

“Aku tidak tahu, aku menemukan benda ini di antara tulang-tulang manusia“

“Dan bagaimana datangnya Aki itu ke sini? Apakah dia mengatakan siapa dirinya dan darimana dia datang?”

“Tidak pernah. Dia datang bersama belasan orang, lalu diserang oleh puluhan orang. Semua temannya mati dan dia terluka berat. Aku merawatnya sampai dia sembuh dan selanjutnya dia tinggal di sini bersamaku“

“Kapan terjadinya itu?”

“Kurang lebih tiga empat tahun yang lalu“

Biarpun cara bicara Akauw kagok dan tidak beraturan, namun cukup jelas dan dapat dimengerti. “Dan kau bilang tadi mayat-mayat semua temannya itu tidak di kubur melainkan dibuang ke dalam jurang?“

“Ya, Aki yang menyuruh demikian“

Dari penuturan ini saja kakek itu sudah dapat menduga bahwa Aki itu bukan orang baik-baik, seperti kemudian ternyata betapa dia hendak membunuh Akauw yang pernah merawatnya ketika dia terluka. “Akauw, kami berdua ingin tinggal di tempat ini bersamamu. Apakah engkau menyetujui?”

Akauw memandang kepada kakek itu, lalu kepada Yang Cien. “Apakah engkau tidak akan berbuat jahat seperti Aki?” tanyanya meragu.

“Tentu saja tidak, Akauw. Ketahuilah bahwa di dunia ini memang banyak sekali orang jahat, akan tetapi kami selalu menentang kejahatan. Bahkan kami sembunyi dan hendak tinggal di sini adalah karena kami dikejar-kejar orang jahat. Kami akan tinggal di sini bersamamu, menjadi sahabatmu, bahkan kalau kau suka, engkau boleh memanggil aku kakek dan engkau menjadi cucuku, menjadi saudara Yang Cien. Maukah engkau?”

Akauw tersenyum. Dari wajah kedua orang ini saja, nalurinya mengatakan bahwa wajah mereka sama sekali berbeda dari wajah Aki. Sinar mata Aki liar dan keras, sedangkan kedua orang ini bersinar mata lembut dan tajam. “Aku mau, kakek. Dan Yang Cien menjadi kakakku“

Demikianlah, sejak hari itu, kakek Yang Kok It dan cucunya, Yang Cien, tinggal di situ bersama Akauw yang nama lengkapnya Cian Kauw Cu atau nama monyetnya Kercak. Kakek itu merasa tidak ada gunanya menceritakan tentang riwayat dia dan cucunya kepada Akauw, karena pemuda yang peradabannya sangat terbelakang itu tentu tidak akan mengerti.

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo

Sesungguhnya Yang Kok It adalah bekas jendral yang sudah mengundurkan diri karena sudah tua. Puteranya yang bernama Yang Koan mewarisi kepandaiannya, baik kepandaian silat, ilmu pedang maupun kesusastraaan dan seperti juga ayahnya, Yang Koan ikut membela Negara dari serbuan para suku Toba dari barat dan utara. Sebagai seorang panglima, Yang Koan amat tangguh dan besar jasanya. Akan tetapi diapun seorang pemberani jujur dan adil. Seringkali, kalau dia melihat rekannya menyeleweng, berkoropsi atau melakukan penindasan terhadap rakyat mengandalkan kekuasaanya, dia akan menentangnya.

Dengan ilmunya yang tinggi dan kedudukannya yang cukup berwibawa, dia merobohkan banyak pejabat tinggi yang menyalah-gunakan kewenangan dan kekuasaannya. Dengan demikian, dia mempunyai banyak musuh. Pada suatu hari, rumah penglima Yang Koan di kepung orang-orang berkedok yang berilmu tinggi dan mereka itu mengahncurkan rumah , membakar dan membunuh. Yang Koan dan isterinya melawan mati-matian namun karena banyaknya pihak pengeroyok, akhirnya setelah merobohkan banyak pengeroyok, suami isteri inipun roboh dan tewas.

Untung sekali bagi Yang Cien yang berusia sepuluh tahun, ketika penyerbuan terjadi, dia sedang berada di rumah kakeknya. Seorang anak buah ayahnya berlari memberi kabar tentang penyerbuan itu dan Yang Kok It maklum bahwa nyawa cucunya berada di dalam bahaya. Maka, diapun mengajak cucunya untuk melarikan diri.

Memang benar dugaanya, pihak musuh, yaitu mereka yang bekas pejabat dan mendendam kepada Yang Koan, melakukan pengejaran dan pencarian. Banyak jagoan di sebar untuk mencari dimana adanya kakek dan cucunya itu sehingga kakek Yang Kok It yang sudah tua itu terpaksa harus lari ke sana kemari, berpindah-pindah tempat dan berganti nama untuk menyingkir dari pengejaran musuh-musuhnya. Sementara itu, tak lupa kakek itu melatih Yang Cien dengan ilmu silat dan ilmu sastra. Dalam kedua ilmu ini, ternyata Yang Cien berbakat sekali sehingga dia memperoleh banyak kemajuan“

“Kong-kong“ Kata Yang Cien ketika dia berusia empat belas tahun dan sudah tahu akan keadaan mereka yang dikejar-kejar musuh. “Sungguh tidak enak kalau kita harus berpindah-pindah dan melarikan diri. Hidup ini rasanya tidak tenang selalu. Kenapa kita berdua tidak menanti sampai mereka datang dan melawan merwka saja, kong-kong?”

Kakeknya menghela napas panjang. “Semangatmu untuk melawan itu memang baik sekali, Yang Cien. Akan tetapi kalau hanya dengan semangat dan keberanian saja, maka akhirnya akan mati konyol. Tidak, engkau harus tetap hidup untuk melanjutkan cita-cita ayahmu yang ingin mempersatukan seluruh negeri dan mengusir bangsa Toba dari tanah air“

“Hemmm, engkau tidak tahu. Musuh ayahmu banyak sekali dan musuh utamanya adalah Bong Ji Kun, bekas menteri yang dipecat oleh Raja karena koropsinya di bongkar ayahmu. Bong Ji Kun itu kaya raya dan mampu membayar jagoan yang berilmu tinggi dengan upah besar. Menurut kabar terakhir, dia telah berhasil membujuk Toat Beng Giam Ong untuk melakukan pengejaran terhadap kita dan untuk melawan Toat-beng Giam Ong, tenaga kita tidak akan mampu. Dahulupun ketika aku masih kuat dan muda, belum tentu aku mampu menandingi Toat-beng Giam-ong (Malaikat Maut pencabut nyawa), apalagi sekarang aku sudah tua“

“Kalau kita berdua mengeroyoknya, apakah kita tidak akan mampu mengalahkannya, kek?”

“Aih, kita berdua juga tidak akan menang. Apalagi, datuk sesat itu tentu memiliki banyak anak buah. Sudahlah, hilangkan pikiranmu yang hendak melakukan perlawanan kepada para pengejar dan pencari kita“

“Akan tetapi aku sudah bosan berlari-lari seperti ini. Bagaimana kalau kita mencari tempat yang sepi, yang rahasia yang tidak akan lagi di datangi orang? Disana kita dapat hidup tenang dan aku dapat mempelajari dan memperdalam ilmu silatku tanpa gangguan“

“Tempat tersembunyi dan rahasia yang tidak akan di datangi orang? Ahhh, aku jadi teringat akan sebuah tempat yang ku rasa cocok dengan yang kau maksud itu, Yang Cien. Akan tetapi kurasa tempat itu juga mengandung bahaya, walaupun bahayanya lain dari bahaya pengejaran musuh-musuh kita“

“Dimana tempat itu, kong-kong?”

“Sebetulnya sudah tidak jauh lagi dari sini, di sebuah puncak di antara puncak-puncak yang banyak terdapat di Thaisan, yang berada dibawah puncak itu dan di sebut Lembah Iblis“

“Lembah Iblis?“ Yang Cien bertanya heran. “Kenapa disebut Lembah Iblis?”

“Entahlah, sudah ratusan tahun lamanya lembah itu di sebut Lembah Iblis dan menurut kepercayaan orang di situ, memang tempat tinggal iblis dan setan sehingga tidak pernah ada orang berani naik ke sana. Bahkan seorang kangouw sekalipun akan berpikir seratus kali lebih dulu sebelum berani naik ke sana. Hutannya lebat, binatang hutannya banyak dan buas“

“ Ah, agaknya baik sekali untuk kita bersembunyi, Kek. Aku lebih senang menghadapi ancaman binatang buas atau iblis sekalipun dari pada ancaman pengejaran yang tidak ada hentinya selama empat tahun ini“

Demikianlah, untuk menghindari pengejaran Toat-beng Giam-ong Lui Tat dan anak buahnya, kakek Yang kok It akhirnya menuruti permintaan Yang Cien dan mereka masuk ke Lembah Iblis. Dan ketika mereka menyusup-nyusup ke dalam hutan lebat itulah mereka melihat betapa Akauw akan di bunuh oleh Boan Ki. Akan tetapi, semua ini tidak diceritakannya kepada Akauw. Dan sejak hari itu, kakek dan cucunya menjadi pengganti Boan Ki, tinggal bersama Akauw.

Sungguh hal ini amat menguntungkan Akauw, karena barulah dia tahu bahwa bangsanya ada yang berwatak baik sekali seperti kakek dan cucunya ini. Mereka mengajarkan dia sehingga bahasanya menjadi semakin teratur dan semakin lengkap. Bahkan kakek Yang Kok It yang melihat tenaga alam yang ada pada tubuh Akauw cekatan dan kuat seperti kera besar, lalu dia mulai mengajarkan ilmu silat kepada Akauw.

Dan ketika dia mengajarkan Kauw-kun (Silat Monyet) kepadanya, Akauw dapat melakukannya dengan baik sekali, bahkan lebih baik dari kakek itu sendiri! Dan memang gerakan-gerakan silat ini inti sarinya atau dasarnya di ambil dari gerakan seekor monyet sudah dimiliki oleh Akauw. Bahkan Yang Cien sendiri yang sudah belajar sejak kecil, tidak mungkin dapat menandingi Akauw dalam hal kegesitan dan tenaga otot.

Setelah hidup bersama kakek dan cucu ini, Akauw mempelajari banyak tata cara kehidupan manusia dan sopan santun. Banyak pula tahu tentang kesusilaan. Hanya satu hal yang tidak di sukai Akauw, yaitu belajar membaca. Dia merasa sukar sekali dan akhirnya dia menolak untuk belajar membaca dan menulis. Dianggapnya pelajaran itu terlalu mengikat dan memaksa dia mengingat-ingat terus sampai kepalanya terasa puyeng!

Dari Yang Cien, dia dapat mendengar banyak tentang kehidupan bangsanya, bangsa manusia, di kota-kota besar. Di gambarkan oleh Yang Cien tentang rumah-rumah, tentang pakaian yang indah-indah dan lain-lain dan semua itu amat menarik perhatian Akauw. Biarpun dia lebih banyak bergaul dengan Yang Cien, namun dia tidak pernah melupakan kawan-kawan keranya.

Yang Cien sampai melongo terheran-heran melihat Akauw bergelut dan bermain-main dengan para kera itu jauh tinggi di atas pohon, berayun-ayun, berlompatan, bahkan cecowetan bercakap-cakap!

Dari keterangan Akauw bahwa empat lima tahun yang lalu dia bertemu dengan Boan Ki sebagai manusia pertama yang di jumpainya, maka Yang Cien dapat menduga bahwa Akauw hidup sejak bayi diantara kera sampai berusia kurang lebih sepuluh tahun. Sungguh merupakan hal yang luar biasa sekali. Dan Yang Cien yang dekat dengan Akauw ini mulai berkenalan dengan kera-kera besar itu dan suka ikut bermain-main pula.

Kalau sedang melakukan latihan ilmu silat dengan Akauw, biarpun tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi, namun dia merasa betapa cepatnya gerakan pemuda yang kini di sebut sute (adik seperguruan) itu. Akauw juga di ajari untuk menyebut suheng (kakak seperguruan) kepadanya. Bahkan agak sukar baginya untuk mengalahkan Akauw saking cekatannya sutenya itu, kecuali kalau dia mengerahkan sin-kang, barulah dia mampu mengatasi tenaga otot adiknya itu.

Di samping ilmu silat, yang kebanyakan dilatih oleh Yang Cien, kakek Yang Kok It juga mengajari Akauw untuk menghimpun siu-lan (bermeditasi). Akan tetapi, Akauw juga tidak sabar dengan latihan Samadhi itu, maka dia sukar memperoleh kemajuan dalam hal ini.

Tanpa terasa, mereka tinggal di dalam lembah itu selama lima tahun! Dan tak pernah sekalipun ada orang yang melakukan pencarian sampai ke tempat itu. Mereka benar-benar hidup tentram dan penuh damai, akan tetapi juga terasing, tidak pernah bergaul dengan manusia lain.

Pada suatu pagi, ketika Yang Cien dan Kauw Cu terbangun dari tidurnya, mereka terheran melihat kakek Yang Kok It masih belum bangun. Biasanya, kakek itu pagi-pagi sekali sudah bangun.

Melihat Yang Cien menangis, Akauw tidak kuat menahan dan diapun mengalirkan air mata, akan tetapi dia belum tahu mengapa suhengnya menangis, dan apa artinya meninggalkan mereka itu. Kakeknya akan pergi kemana?

“Kong-kong, engkau hendak pergi kemanakah, kong-kong?”

“Cucu-cucuku, bahkan para Nabi pun mengalami sakit dan kematian. Aku tidak menyesal, telah mendidik kalian dan ku rasa kalian sekarang sudah memiliki bekal untuk menjaga diri. Yang Cien sutemu masih belum berpengalaman, juga ilmunya tidak sematang engkau. Jangan membiarkan dia seorang diri, akan tetapi biarkan dia bersamamu. Anggaplah dia itu adikmu sendiri, Yang Cien“

“Baik, kong-kong...“

“Kauw Cu, engkau harus memenuhi pesanku ini. Engkau jangan memisahkan diri dari kakakmu, dalam segala hal engkau harus menaati kata-kata kakakmu. Kalau aku sudah tidak ada, maka anggaplah suhengmu sebagai penggantiku“

“Ah, engkau belum mengerti, Akauw? Agaknya... sudah tiba saatnya aku meninggalkan kalian, meninggalkan dunia ini… Sudah tiba saatnya aku... mati…“

“Kong-kong…!“ Kini baru Akauw mengerti dan dia berteriak sambil menubruk kakeknya, merangkul dan menangis. “Jangan mati, kong, jangan mati...!”

Melihat ini, Yang Cien memegang pundak sutenya. “Tenanglah, sute dan kita biarkan kong-kong beristirahat“, mereka lalu membantu kakek itu merebahkan diri.

Kakek itu mendapat serangan penyakit mendadak, penyakit tua dan pada malam hari itu juga meninggal dunia dengan tenang. Yang Ciean menangis dan Akauw keluar dari gubuk, berayun-ayun dari dahan ke dahan sambil menjerit-jerit seperti kera yang sedang marah.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, kakek itu berpesan kepada Yang Cien, “sekarang sudah tiba saatnya engkau meninggalkan tempat ini, Yang Cien. Ajaklah Kauw Cu memasuki dunia ramai. Musuh tentu sudah melupakan engkau yang kini telah dewasa, dan usahakan agar cita-cita ayahmu menyatukan seluruh Negara menjadi kenyataan“

Semalam itu mereka berdua tidak tidur, menunggui jenazah kakek Yang Kok It sambil menangis tanpa suara. Keduanya merasa kehilangan sekali. Kehilangan kakek, kehilangan guru, juga pengganti orang tua yang baik sekali.