Social Items

DENGAN sikap jengkel Ouwyang Sek melangkah ke arah kamar puterinya dan sekali ini dia bertekad untuk memaksa Hui Hong keluar menemui kedua orang tamunya. Kui-siauw Giam-ong Suma Koan dan puteranya, Tok-siauw-kui suma Hok yang hendak pamit. Akan tetapi ketika dengan kasar dia mendorong daun pintu kamar itu terbuka, dia hanya mendapatkan isterinya yang sedang menangis di atas pembaringan Hui Hong.

"Hem, kenapa engkau menangis di sini dan di mana Hui Hong?" tanya datuk itu dengan suara yang ketus karena dia masih marah kepada isterinya yang membuka rahasia tentang ayah kandung Hui Hong.

Dia telah banyak mengalah terhadap wanita ini, yang memang amat dicintanya. Dia memenuhi permintaan Pouw Cu Lan dan tidak mengganggunya sama tekali sebelum Hui Hong terlahir, kemudian, dia menyayang Hui Hong seperti anak kandungnya sendiri walaupun dia tahu bahwa anak itu bukan keturunannya. Dan kini tahu-tahu wanita itu sendiri yang membuka rahasia berkata di depan Hui Hong bahwa gadis itu bukan anaknya!

Mendengar suara suaminya, Pouw Cu Lan bangkit duduk dan menghadapi suaminya. Kedua matanya merah membengkak karena tangis. Kedua pipinya yang menjadi pucat basah air mata dan kedua mata itu mengeluarkan sinar marah. Melihat pria tinggi besar bermuka hitam itu berdiri di situ dan teringat akan kepergian Hui Hong, timbul sakit hati dan kemarahan yang hebat di dalam hati wanita itu. Teringat ia betapa selama bertahun-tahun, demi keselamatan Hui Hong, ia rela dijadikan benda permainan oleh pria yang sebetulnya amat dibencinya ini. Kini baru ia menyadari sepenuhnya betapa ia amat muak dan benci kepada wajah yang kasar hitam dan bengis itu. Maka, Pouw Cu Lan lalu bangkit berdiri dan dengan tangan gametar ia menudingkan telunjuknya ke arah muka itu dan suaranya terdengar lantang,

"Ouwyang Sek, engkan manusia jahat! Engkaulah yang membuat anakku pergi, tak dapat kucegah lagi! Engkau hendak memaksanya menikah dengan seorang pemuda yang tidak disukainya!”

Ouwyang Sek mengerutkan alisnya yang tebal. "Apa Hui Hong pergi? ia berani minggat? Anak bedebah itu!”

"Engkau yang bedebah! Engkau tidak berhak menentukan jodohnya akan tetapi engkau memaksanya menjadi calon Isteri orang yang tidak disukainya!”

"Cu Lan, engkau tidak tahu diri! Bukankah selama ini aku selalu baik dan mencintamu? Bukankah selama ini aku amat menyayang Hui Hong seperti anakku sendiri? Akan tetapi engkau malah yang membuka rahasia itu, tentu membuat Hui Hong menjadi bingung. Dan aku memilihkan jodoh yang amat baik, kenapa kau ribut-ribut? Suma Hok adalah seorang pemuda yang tampan, gagah perkasa dan kaya raya. Kurang Apalagi? Ayahnya juga seorang sahabatku, seorang yang memiliki tingkat yang sama denganku!”

"Huh, pemuda jahat itu kau puji-puji? Padahal, dia nyaris memperkosa Hui Hong! Sepatutnya engkau marah dan membunuh pemuda itu, bukannya malah hendak manariknya sebagai mantu."

"Perbuatannya itu wajar saja, karena cintanya kepada Hui Hong..."

"Busuk! Jahat! Tentu saja engkau tidak menyalahkan dia yang hendak memperkosa anakku, karena engkau sendiri juga jahat seperti dia, karena engkau juga telah memperkosaku!”

"Cu Lan...!" Wajah yang hitam itu menjadi semakin hitam karena marah. "Engkau perempuan tak mengenal budi! Kalau tidak ada aku, kini tentu engkau telah mati bersama anak dalam kandunganmu, atau menjadi seorang nenek terlantar, mungkin menjadi jembel, minta-minta bersama anakmu, mungkin anak perempuanmu menjadi pelacur karena tidak ada yang menjamin kehidupannya. Engkau kini menjadi wanita terhormat dan hidup mewah, anakmu menjadi seorang gadis yang berilmu dan dihormati temua orang. Semua itu berkat jasaku, mengerti? Dan engkau berani bersikap seperti ini kepadaku?”

Cu Lan merasa terpukul karena apa yang diucapkan pria itu memang tidak bohong. Karena mengingat akan budi itulah ia rela menyerahkan hati dan tubuhnya kepada Ouwyang Sek, sekedar membalas budi, demi kebahagiaan putrinya. Kalau kini ia marah adalah karena melihat anaknya dipaksa untuk berjodoh dengan orang yang tidak disukai anaknya sehingga anaknya sekarang nekat pergi untuk mencari ayah kandungnya.

"Bagaimanapun juga, engkau yang memaksa ia menerima laki-laki yang bahkan dibencinya dan sekarang ia melarikan diri, ia pergi tanpa dapat kucegah." Cu Lan menangis dengan sedihnya.

Ouwyang Sek mengepal tinju, dia marah sekali. "Anak itu sungguh tak tahu diri! Sejak kecil kusayang dan kurawat, kudidik akan tatapi sekarang bukan saja berani membantahku bahkan pergi tanpa pamit. Tentang perjodohannya, bukan aku memaksanya! Bukankah ia telah mengajukan syarat yang cukup berat, yaitu pertama agar yang menjadi calon suaminya menemukan kembali mustika Akar Bunga Guruu Pasir, dan kedua agar calon suaminya dapat mengalahkannya dalam pertandingan? Nah, dengan adanya syarat itu, apakah itu berarti aku memaksanya?”

Cu Lan juga tarpaksa membenarkan ucapan suaminya ini. Ia tahu bahwa suaminya memang sungguh menyayang Hui Hong seperti anak sendiri, dan syarat yang diajukan Hui Hong itupun diterima, kecuali syarat ke tiga, yaitu agar calon jodohnya dapat mempertemukannya dengan Bun Houw untuk minta maaf tidak dipenuhi oleh Ouwyang Sek. Dilain hal itu, berarti suaminya memang sudah memberi kelonggaran kepada Hui Hong,

"Syarat itu harus ditambah, sekarang syarat dari aku sendiri! Kalau syaratku itu tidak dipenuhi, sampai mati aku akan menentang perjodohan anakku!”

"Hemm, syarat apalagi? Dua syarat Hui Hong itu sudah cukup berat!" Ouwyang Sek mengomel.

"Syaratku adalah bahwa siapa yang dapat mengembalikan Hui Hong kepadaku, ialah yang patut menjadi mantuku!”

Ouwyang Sek dapat menerima syarat isterinya, karena diapun maklum betapa akan duka hati isterinya kalau Hui Hong tidak kembali lagi kepadanya. Akan tetapi tentu saja dia merasa sungkan kepada rekannya, datuk dari Bukit Bayangan Iblis (Kui-eng-san). "Baik, kau katakan sendiri kepada ayah dan anak itu agar tidak disangka aku yang sengaja mempersulit mereka."

"Huh, di mana kegagahanmu yang selama ini kau sombongkan? Demi membela anak, kenapa engkau tidak berani menentang mereka? Baik, aku akan menemui mereka dan mengatakannya sendiri!” kata Pouw Cu Lan.

Dan diam-diam Ouwyang Sek memandang heran dan kagum, isterinya ini, bekas selir kaisar dan bekas kekasih Pangeran Tiauw Sun Ong, selama ini bersikap sebagai seorang wanita lemah yang suka melakukan segala perintahnya dengan patuh. Akan tetapi saat ini telah berubah menjadi seorang wanita pemberani, bahkan berani untuk menentang keluarga Suma. Dan diapun menyadari bahwa semua kelemahan dan kepatuhan Cu Lan ternyata hanya demi puterinya. Kini begitu puterinya terganggu, iapun dapat berubah sebagai seekor harimau betina yang melindungi anaknya!”

Kui-siauw Giam-ong Suma Koan dan puteranya, Tok-siauw-kwi suma Hok telah siap untuk pergi dan mereka berdua menanti di ruangan depan untuk berpamit dari keluarga Ouwyang, terutama sekali Suma Hok ingin bertemu lagi dengan Hui Hong dan pamit kepada gadis yang dianggapnya sebagai tunangan atau calon isterinya itu. Tentu saja mereka merasa heran, dan terutama Suma Hok merasa kecewa ketika mereka melihat Ouwyang Sek muncul kembali hanya bersama isterinya. Tidak nampak Hui Hong bersama mereka, juga tidak nampak Ouwyang Toan!

Tidak munculnya Ouwyang Toan tidak diambil pusing oleh Suma Hok, akan tetapi tidak adanya Hui Hong membuat dia merasa kecewa sekali dan saking tidak dapat menahan kekecewaan hatinya, diapun menyambut Ouwang Sek dengan pertanyaan tanpa sungkan lagi,

"Paman Ouwyang, mana Hui Hong? Aku ingin berpamit kepada tunanganku yang tercinta itu!”

Sebelum Ouwyang Sek yang merasa malu dapat menjawab, isterinya telah mendahului dan dengan suara lantang Pouw Cu Lan berkata, "Orang muda. dengarlah baik-baik. Anakku Hui Hong telah pergi tanpa pamit, entah ke mana kamipun tidak tahu, aku sebagai ibunya, kini menambahkan syarat sebagai sayembara untuk menjadi calon suami anakku. Anakku Hui Hong sudah mengajukan tyarat bahwa calon suami harus dapat menemukan kembali mustika Akar Bunga Gurun Pasir, dan harus pula dapat mengalahkan ia dalam pertandingan. Sekarang kutambah dengan sebuah syarat lagi, yaitu siapa yang dapat menemukan Hui Hong dan dapat mengajaknya pulang ke sini, dialah calon suami anakku, calon mantuku!”

Tiba-tiba terdengar suara orang dari luar, "Bagus sekali! Syarat yang tiga itu cukup adil dan kami sanggup memenuhi ketiganya!"

Tentu saja semua orang terkejut, terutama Ouwyang Sek dan Suma Koan karena kedua orang datuk ini tidak dapat mengetahui atau mendengar kedatangan orang yang mengeluarkan suara itu. Tahu-tahu orang itu telah berada di situ dan ketika mereka menengok, ternyata di pekarangan itu telah berdiri seorang pemuda dan seorang kakek buta! Mereka itu bukan lain adalah Bun Houw dan gurunya, bekas Pangeran Tiauw Sun Ong.

Sejenak semua orang memandang ke arah guru dan murid itu dan suasana menjadi sunyi sekali, sunyi yang menegangkan. Akan tetapi tiba-tiba kesunyian itu dipecahkan oleh isak tangis dari Pouw Cu Lan sudah menjatuhkan diri berlutut menghadap kepada Tiauw Sun Ong dan terdengar di antara isaknya ia berkata lemah.

"Pangeran...!” Dapat dibayangkan betapa hancur hati wanita itu. Dahulu, ketika ia menjadi selir terkasih kaisar, ia telah saling jatuh cinta dengan Pangeran Tiauw Sun Ong. Adik suaminya. Mereka berdua telah lupa diri, berdua sehingga akhirnya tertangkap basah dan biarpun kaisar tidak menghukum adiknya, namun Pangeran Tiauw Sun Ong yang merasa berdosa dan malu, membutakan matanya sendiri di depannyal Pangeran itu telah menjadi seorang buta karena iapun ketika itu tidak mengharapkan hidup lagi, dihukum buang dan akhirnya dirampas oleh Ouwyang Sek. Andaikata Ia tidak mengandung, tentu ia akan membunuh diri! Kini, setelah kesemuanya itu hanya tinggal kenangan belaka, tiba-tiba ia berhadapan dengan Pangeran Tiauw Sun Ong, satu-satunya pria yang dicintanya, akan tetapi juga yang menderita sengsara karenanya!

"Pangeran...!” Kembali ia memanggil dengan suara merintih, diiringi tangis mengguguk.

"Ha-ha-ha-ha!" Kui-siauw Giam-ong tertawa bergelak. "Saudara Ouwyang Sek. sungguh pertunjukan ini lucu sekali, seperti di atas panggung wayang dan engkau membiarkan saja badut ini datang disambut sembah dan tangis isterimu? Kalau perlu, aku dapat membantumu mengirimnya ke neraka!"

Ouwyang Sek yang mukanya hitam itu kini memandang kepada Tiauw Sun Ong dengan mata melotot marah. "Tiauw Sun Ong, mau apa engkau datang ke sini?" Sungguh sama sekali tidak ramah ucapannya itu.

Namun Tiauw Sun Ong menyambutnya dengan senyum. Kakek buta ini juga sama sekali tidak memperdulikan bekas kekasihnya yang kini telah menjadi isteri datuk Bukit Siluman itu. Seperti orang yang dapat melihat saja, dia mengangkat muka ke arah dua orang datuk itu dan suaranya terdengar lembut namun berwibawa.

"Suma Koan, kebetulan sekali aku bertemu denganmu di sini. Dan Ouwyang Sek, aku juga girang bahwa engkau berada di rumah sehingga aku dapat bertemu dengan kalian dua orang datuk besar. Aku ingin menyampaikan terima kasih kepada kalian yang telah memukul muridku dengan pukulan beracun, karena perbuatan kalian itu mendatangkan untung yang teramat besar dan tak ternilai harganya bagi muridku."

Mendengar ucapan itu wajah kadua orang datuk itu berubah kemerahan karena tentu saja mereka mengira bahwa ucapan bekas pangeran itu merupakan ejekan atau sindiran, sama sekali mereka tidak tahu bahwa ucapan itu memang sungguh sungguh!

"Tiauw Sun Ong, tidak perlu banyak cakap. Cepat katakan mau apa kau ke sini sebelum kuusir engkau yang tidak kuundang!" bentak Ouwyang Sek yang menjadi semakin marah karena mara ia diejek.

Bekas pangeran itu tetap tersenyum. "Ouwyang Sek, kami telah mendengar sayembara untuk pencalonan suami bagi anakmu Hui Hong. Nah, aku datang bersama muridku untuk mengajukan pinangan agar Hui Hong dapat menjadi jodoh muridku Bun Houw..."

"Tidak boleh!" bentak Ouwyang Sek memotong.

"Ouwyang Sek, engkau tidak berhak bercakap begitu. Dengarkan dulu apa yang dikatakan pangeran!" bentak Cu Lan dan kembali Ouwyang Sek merasa heran. Wanita ini sekarang sungguh amat berani! "Hui Hong adalah anakku dan aku berhak pula memutuskan!” sambung pula Pouw Cu Lan.

"Kami sudah mendengar tentang tiga macam syarat itu. Pertama, menemukan Akar Bunga Gurun Pasir, ke dua menandingi Hui Hong dalam ilmu silat, dan ke tiga, membawa kembali Hui Hong yang sekarang pergi entah ke mana. Dan juga pedang Lui-kong-kiam milik muridku telah berada di tanganmu, Ouwyang Sek, biarlah kami menganggap itu sebagai Ikatan jodoh!”

"Tidak, aku tidak menerima pinangan itu! Hui Hong telah kujodohkan dengan putera saudara Suma Koan! Andaikata belum juga, aku tidak akan menjodohkan anakku dengan murid seorang buta!”

"Ouwyang Sek, engkau tidak berhak bicara seperti itu!” Pouw Cu Lan berteriak, lalu ia bangkit, lari ke depan kaki Tiauw Sun Ong, menjatuhkan diri berlutut lagi dan berkata, "Pangeran, Hui Hong adalah puteri pangeran, anak kita, dan saya setuju kalau ia dijodohkan dengan muridmu..."

"Diam kau, perempuan binal!" bentak Ouwyang Sek marah, kemudian dia berkata kepada bekas pangeran itu dengan pandang mata penuh kebencian karena cemburu. "Tiauw Sun Ong, pargilah engkau dari sini atau terpaksa aku akan melakukan kekerasan!”

Akan tetapi bekas pangeran itu kini tidak memperdulikannya lagi. Dia menunduk dan memalingkan muka ke arah bekas kekasihnya. "Cu Lan, aku menysal sekali telah menyebabkan engkau menderita dalam hidupmu. Aku pun cukup menderita dan agaknya memang Tuhan telah menghukum kita berdua karena perbuatan kita yang tidak benar. Cu Lan, aku telah tahu tentang anak kita Hui Hong, sekarang katakan, ke mana ia pergi?"

"Pangeran, saya menceritakan kepadanya tentang kita, dan ia... ia pergi bersama seorang wanita yang katanya mengetahui di mana engkau berada. Saya tidak dapat mencegahnya..."

"Siapa wanita itu?" tanya Tiauw Sun Ong, sedangkan Ouwyang Sek juga mendengarkan dengan penuh perhatian karena baru sekarang dia mendengar bahwa anaknya pergi bersama seorang wanita.

"Saya tidak melihatnya, hanya mendengar suaranya, dan menurut Hui Hong, ia seorang wanita cantik yang usianya sekitar tiga puluhan. Pangeran, tolong carikan ia, carilah anakku, cari anak kita karena aku merasa khawatir sekali..."

"Ha-ha-ha, saudara Ouwyang, sebetulnya bagaimanakah ini? Hui Hong yang hendak diperisteri putraku itu anak siapa! Anakmu, anak si buta ini, ataukah anak haram?" Suma Toan yang tidak sabar kini berseru dengan suara mengejek.

"Tiauw Sun Ong, dengar baik-baik!" Ouwyang Sek kini membentak marah. "Engkau dan perempuan binal ini sama sekali tidak berhak atas diri Hui Hong! Lihat perempuan ini. Ia selir kaisar yang telah memberi segala-galanya, kedudukan dan kemewahan, akan tetapi apa yang ia lakukan? Ia melakukan penyelewengan, berkhianat dan berjina denganmu, adik suaminya sendiri. Setelah tertangkap basah, kalian berpisah dan apa yang ia lakukan? Ia mau menjadi isteriku dan Ìa melayaniku dengan sepenuh hati sampai sekarang. Perempuan macam ini apakah berhak untuk menjadi seorang ibu yang berhak penuh atas diri Hui Hong? Dan lihat dirimu sendiri! Engkau telah mengkhianati kakak sendiri, berjina dengan isteri kakakmu. Setelah ketahuan, engkau tidak bertanggung jawab, malah melarikan diri, tidak perduli kekasih gelapmu telah mengandung. Orang macam engkan ini apakah pantas menjadi ayah Hui Hong? Sebaliknya, sejak kecil, sejak lahir, Hui Hong kupelihara, kudidik sampai menjadi seorang gadis seporti sekarang keadaannya. Tidakkah sudah sepatutnya kalau aku yang berhak menentukan jodohnya? Hayo jawab!"

Terdengar rintihan dan tangis keluar dari mulut Pouw Cu Lan. Wanita ini merasa betapa ucapan suaminya itu seperti pedang beracun menancap di ulu hatinya. Ia tidak mampu membantahnya walaupun semua itu ia lakukan demi Hui Hong! Juga bekas pangeran itu berdiri menunduk dan berulang kali menghela napas panjang. Biarpun kasar dan keji, ucapan dari datuk sesat itu memang benar. diapun mempunyai alasan, yaitu bahwa dia tidak tahu bahwa kekasihnya itu telah mengandung ketika dia meninggalkannya. Andaikata dia tahu, mnngkin tidak akan begini jadinya. Akan tetapi alasan itupun amat lemah dan dia tidak mau mengeluarkannya.

"Ouwyang Sek, aku datang bukan untuk merampas hakmu sebagai ayah atas diri Hui Hong. Bahkan aku mengakui engkau sebagai ayahnya. Buktinya, aku datang sebagai wakil muridku ini untuk melakukan pinangan atas diri Hui Hong sebagai puterimu. Dan kami akan memenuhi tiga syarat tadi, juga pedang Lui-kong-kiam itu boleh kau simpan sebagai tanda ikatan jodoh atau tanda bahwa kami telah meminang puterimu."

"Pedang Lui-kong-kiam ini kuambil dari tangan muridmu dengan kekerasan. Kalau memang dia mempunyai kemampuan, boleh merampasnya kembali dari tanganku!" kata Ouwyang Sek sambil menepuk pedang dengan sarungnya yang seperti tongkat dan yang tergantung di punggungnya itu.

Serial Pedang Kilat Karya Kho Ping Hoo

Sementara itu Suma Koan juga melangkah maju menghampiri Tiauw Sun Ong dan tertawa dengan nada mengejek. "Heii, orang buta. Sungguh lancang sekali engkau, berani meminang Ouwyang Hui Hong. Anak perempuan itu telah menjadi calon mantuku, tahu? Siapa yang meminang calon mantuku, berarti menghinaku. Engkau boleh mengajukan pinanganmu kalau mampu menghadapi suling mautku!"

Ditantang olah kedua orang datuk itu, Tiauw Sun Ong menoleh ke arah muridnya. "Bun Houw, tidak ada jalan lain lagi. Kau rampaslah kembali Lui-kong-kiam dari Ouwyang Sek, dan biar aku yang akan melayani Iblis Suling Maut ini."

Bun Houw yang merasa kasihan sekali kepada ibu kandung Hui Hong, mengangguk, lalu diapun melangkah maju mengbampiri Ouwyang Sek. Bagaimaupun juga, dia tetap memandang kakek tinggi besar muka hitam ini sebagai ayah Hui Hong. Maka diapun bersikap sopan. "Lo-cian-pwe, aku menerima tantanganmu untuk mencoba mengambil kembali Lui-kong-kiam yang kau dapat."

"Heh, bocah yang bosan hidup. Kebetulan sekali karena akupun ingin menyelesaikan niatku yang tidak kulaksanakan dahulu, yaitu membunuhmu. Nah, majulah untuk menerima kematian!" Kakek itu menggerakkan tangannya dan dia sudah menyerang dengan dahsyat, kedua tangannya menyambar dari kanan kiri sehingga mendatangkan suara menyambar-nyambar ke arah tubuh Bun Houw.

Pemuda ini sudah maklum akan kelihaian lawan, maka dia pun sudah bersikap waspada, cepat dia meloncat ke belakang untuk mengelak dan mencari tempat yang lebih luat agar jangan mengganggu gurunya. Juga agar tidak terlalu dekat dengan ibu Hui Hong yang masih berlutut sambil menangis sedih.

Sementara itu, Suma Koan sudah menggunakan sulingnya untuk menyerang Tiauw Sun Ong Datuk dari Bukit Bayangan Iblis ini berjuluk Kui-siauw Giam-ong (Iblis Suling Maut), tentu saja senjata sulingnya itu dahsyat bukan main. Suling itu selain dapat dipergunakan sebagai senjata yang kokoh kuat karena terbuat dari baja yang pilihan, juga ujungnya mengandung racun, dan suling itupun dapat dipergunakan untuk meniupkan jarum-jarum beracun ke arah lawan. Senjata inilah yang mengangkat Suma Koan dan membuat dia dijuluki Suling Maut.

Namun sekali ini, majikan Kui-eng-san itu berhadapan dengan Tiauw Sun Ong. Tadinya dia memang memandang rendah kepada kakek buta itu karena diapun baru pernah mendengar saja nama bekas pangeran ini. namun belum membuktikan sendiri kelihaiannya. Bagaimanapun juga, dia hanya seorang buta,’ demikian pikir Suma Koan dan serangan-serangannya yang dahsyat itu, dia mengira akan mampu merobohkan lawan buta itu dalam beberapa gebrakan saja.

Akan tetapi, begitu Tiauw Sun Ong menggerakkan tangannya, sebatang pedang berkilauan telah berada di tangannya dan dia melemparkan tongkat yang menjadi sarung pedang itu kepada muridnya sambil berseru, "Bun Houw, kau pergunakan ini!”

Tiauw Sun Ong menggerakkan pedangnya dan nampak sinar bergulung-gulung, menangkis suling dan begitu kedua senjata itu bertemu, Kui-siauw Giam-ong Suma Koan terkejut bukan main karena dia merasa betapa tetapak tangannya yang memegang suling tergetar hebat, tanda bahwa lawan buta itu memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat, tidak berada di sebelah bawahnya! Maka, diapun berseru keras dan sulingnya melakukan serangkaian serangan yang lebih dahsyat lagi. disambut dengan tenang oleh Tiauw Sun Ong yang juga maklum bahwa dia melawan seorang datuk yang lihai.

Bun Houw menyambut sarung pedang berbentuk tongkat butut yang dilemparkan suhunya, akan tetapi melihat betapa Ouwyang Sek menyerangnya dengan tangan kosong, diapun hanya menyelipkan tongkat itu di ikat pinggangnya dan menghadapi serangan datuk Bukit Siluman itu dengan tangan kosong pula. Sampai belasan jurus dia hanya mengelak dengan berloncatan dan dengan menggeser kedua kakinya secara ringan dan lincah sekali sehingga semua serangan kakek itu hanya mengenai tempat kosong.

Bu-eng-kiam Ouwyang Sek menjadi penasaran bukan main, rasa penasaran yang mendatangkan kemarahan. Belasan jurus dia menyerang dan pemuda itu hanya mengelak, akan tetapi tidak pernah pukulannya mengenai sasaran. Diam-diam dia terkejut di samping kemarahannya. Pemuda ini dahulu telah dia pukul dengan pukulan yang mengandung hawa beracun mematikan. Akan tetapi, kini bukan saja pemuda itu sama sekali tidak kelihatan menderita oleh pukulannya, bahkan kini pemuda itu sedemikian mudahnya menghindarkan diri dari belasan kali serangannya yang dahsyat.

"Bocah sombong, mampuslah!" Tiba-tiba dia membentak dan dia mengirim serangan dengan kedua tangannya yang menghadang dari kanan kiri dengan cepat dan kuat. tidak memungkinkan pemuda itu untuk mengelak lagi. Andaikata lawannya meloncat ke belakangpun tentu akan dilanda hawa pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga sin-kang dan hawa beracun itu.

Melihat serangan maut ini. Bun Houw tidak mau mengelak lagi. Diapun diam-diam mengerahkan tenaga yang didapatnya dari latihan Im-yang Bu-tek Cin-keng, hanya dia mengatur dan membatasi tenaganya, hanya untuk melindungi dirinya saja, tanpa niat untuk menyerang atau mencelakai lawan.

"Wuuuuttt, desss...!”

Kedua telapak tangan Bu-eng-kiam Ouwyang Sek bertemu dengan dinding yang tidak nampak dan demikian kuatnya benturan pada dinding tak nampak itu sehingga tubuh datuk itu terdorong ke belakang. Dia tidak mampu menguasai kuda-kudanya lagi sehingga terpaksa kakinya terhuyung melangkah ke belakang sampai lima langkah! Dan yang membuat dia terbelalak adalah melihat pemuda itu masih berdiri tegak dengan sikap tenang!

Ilmu apa ini, pikirnya kaget dan karena maklum bahwa dengan tangan kosong dia tidak akan mampu menandingi pemuda yang memiliki tenaga mujijat yang tidak dikenalnya itu, Ouwyang Sek lalu menggerakkan tangan kanan ke punggungnya dan di lain saat, nampak kilat berkelebat menyambar ketika dia telah mencabut Lui-kong-kiam (Pedang Kilat) yang dahulu dirampasnya dari tangan Bun Houw!

Melihat pedangnya sendiri kini dipergunakan lawan untuk menyerangnya, Bun Houw segera mencabut tongkat sarung pedang gurunya yang dia selipkan di pinggang. Dia tentu saja mengenal keampuhan Lui-kong-kiam, dan biarpun dia belum pernah melihat ilmu pedang datuk itu, namun mengingat bahwa datuk itu berjuluk Bu-eng-kiam (Pedang Tanpa Bayangan), dia dapat menduga bahwa Ouwyang Sek tentu seorang ahli pedang yang amat lihai.

"Singgg... wuuuut, singgg...!”

Lui-kong-kiam di tangan Ouwyang Sek diputar-putar di atas kepalanya membentuk gulungan sinar yang menyilaukan mata. "Bocah sombong, biar pedangmu sendiri menghirup darahmu!"

Pedang yang kalau digerakkan menimbulkan sinar berkilat itu menyambar ke arah leher Bun Houw. Memang pantas Ouwyang Sek dijuluki Bu-eng-kiam karena dia memang seorang ahli pedang yang mampu menggerakkan pedang dengan kecepatan luar biasa sehingga seolah-olah pedang itu tidak mempunyai bayangan, tahu-tahu telah tiba disasaran yang dituju.

Namun Bun Houw adalah murid tersayang dari Tiauw Sun Ong yang memiliki ilmu pedang yang ampuh, yaitu ilmu pedang yang mengandalkan ketajaman pendengaran dan perasaan naluri seorang buta. Gerakan pedang yang betapapun dapat ditangkap oleh pendengaran dan perasaan itu, maka begitu pedang itu menyambar ke arah lehernya, Bun Houw, sudah dapat menangkisnya dengan tongkat sarung pedang gurunya.

“Trangg...!” Pedang terpental lalu menukik ke bawah, menusuk ke arah perut Bun Houw.

"Trangg...!” Kembali pedang yang terpental itu membuat gerakan membalik dan kini sudah menyambar lagi menusuk dada.

"Trangg...!” Dan kini Bun Houw melanjutkan tangkisannya dengan serangan balasan yang meubuat Ouwyang Sek harus cepat memutar pedangnya untuk membuat perisai gulungan sinar melindungi dirinya karena dia dapat merasakan sambaran angin dahsyat ketika tongkat itu menyambar-nyambar ke arah dirinya.

Terjadi perkelahian yang amat hebat antara Ouwyang Sek dan Bun Houw, dan makin lama, Ouwyang Sek menjadi semakin terkejut dan terheran-heran. Belum lama, ketika dia untuk pertama kalinya bertemu dengan pemuda ini, Bun Houw belumlah sepandai ini walaupun tingkat pemuda ini sudah sedikit lebih tinggi dari pada tingkat Ouwyang Toan dan Hui Hong. Akan tetapi sekarang, bagaimana mungkin pemuda ini sudah menjadi sedemikian lihainya sehingga dia sendiri selalu kalah kalau beradu tenaga, dan ilmu pedangnyapun tidak mampu mendesak pemuda yang hanya bersenjatakan tongkat pendek ini?

Sementara itu, perkelahian antara Tiauw Siauw Ong dan Suma Koan juga terjadi dengan hebatnya. Namun, setelah beberapa kali meniupkan jarum beracun tanpa hasil karena selalu dapat dipukul runtuh oleh gulungan sinar pedang di tangan lawan yang buta itu. mulailah Suma Koan terdesak oleh gulungan sinar pedang yang dimainkan Tiauw Sun Ong.

Melihat betapa ayahnya tidak mampu menang bahkan terdesak oleh orang buta yang tadinya mereka pandang rendah itu. Suma Hok juga mencabut sulingnya dan dia tanpa banyak cakap lagi sudah terjun ke dalam perkelahian membantu ayahnya mengeroyok Tiauw Sun Ong! Sang ayah juga diam saja dan agaknya mereka tidak merasa malu harus mengeroyok seorang lawan yang buta!

Mengelahui bahwa dia dikeroyok oleh dua orang lawan tangguh. Tiauw Sun Ong memutar pedangnya semakin cepat dan membentuk benteng pertahanan dari gulungan sinar pedang yang berkilauan untuk melindungi dirinya.

Bun Houw hanya mengimbangi permainan Ouwyang Sek karena bagaimanapun juga, dia tidak ingin membuat datuk yang menjadi ayah tiri Hui Hong ini merasa terhina kalau dia kalahkan. Akan tetapi, kini dia melihat keadaan gurunya yang dikeroyok secara curang oleh ayah dan anak Suma, dia harus membantu gurunya, pikir Bun Houw dan untuk dapat melakukan itu. Dia harus menyudahi perkelahiannya melawan Ouwyang Sek.

Tiba-tiba Bun Bouw mengeluarkan bentakan nyaring, bentakan yang membuat Ouwyang Sek merasa betapa jantungnya terguncang dan saat itu, pedang Lui-kong-kiam di tangannya bertemu dengan tongkat di tangan Bun Houw dan melekat! Dia berusaha menarik kembali pedang itu, namun tidak dapat dan karena marah dia lalu menghantamkan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka ke arah muka Bun Houw. Hantaman ini dilakukan sekuat tenaga dengan kandungan hawa beracun dan kalau sampai terkena pukulan ini. betapapun lihainya, tentu pemuda itu akan roboh dan tewas.

Melihat pukulan tangan kiri ini, Bun Houw maklum betapa besar bahayanya, maka diapun mengerahkan tenaga dari Im-yang Bu-tek Cin-keng dan menggerakkan tangan kiri menyambut hantaman ke arah mukanya itu.

"Plakkk!" Dua telapak tangan bertemu dan akibatnya, Ouwyang Sek mengeluarkan seruan kaget dan tubuhnya gemetar, terhuyung ke belakang. Kesempatan ini dipergunakan oleh Bun Houw untuk secepat kilat melepaskan lekatan tongkatnya dari pedang, dan ujung tongkatnya sudah menotok pergelangan tangan kanan Ouwyang Sek sehingga pedang itu terlepas dan dilain detik, Lui-kong-kiam telah kembali kepada pemiliknya!

Ouwyang Sek yang terhuyung ke belakang, terbelalak melihat pedang itu sudah terampas oleh Bun Houw. Dia merata malu, penasaran dan kemarahannya memuncak. Dengan mengeluarkan gerengan seperti seekor binatang buas dia menyambar sarung pedang yang masih tergantung di punggungnya, lalu dia meloncat ke depan, dengan buas menerkam dan menggerakkan sarung pedang berbentuk tongkat itu ke arah Bun Houw, menyerang dengan membabi-buta.

Bun Houw menyambut serangan sarung pedang itu. Melihat betapa Ouwyang Sek memegang ujung sarung pedang sehingga bagian yang berlubang menghadap ke arahnya, diapun mengelebatkan Lui-kong-kiam yang sudah dirampasnya, menarik ke depan dan tepat sekali Lui-kong-kiam masuk ke dalam sarung pedang itu! Dan pada saat itu, sarung pedang milik gurunya yang masih dipegang tangan kirinya, membuat gerakan menyerang ke arah leher Ouwyang Sek. Datuk ini terkejut, berusaha menarik sarung pedang itu, namun sia-sia dan kalau dia tidak cepat mengelak, serangan sarung pedang lawan tentu akan mengenai lehernya. Diapun dengan nekat menggunakan tangan kiri menangkap sarung pedang itu.

"Desss!” pada saat itu, Bun Houw sudah menendang, tepat mengenai perutnya dan biar pun dalam menendang ini Bun Houw membatasi tenaganya, tetap saja Ouwyang Sek terlempar ke belakang dan terpaksa melepaskan kedua sarung pedang tadi. Dia terbanting jatuh dan sakit di hatinya lebih hebat dari pada rasa nyeri di pinggulnya yang terbanting.

Sementara itu, Bun Houw sudah meloncat ke arah gurunya dan sekali pedang Lui-kong-kiam menyambar suling di tangan Suma Hok patah menjadi dua! Pemuda tampan pesolek itu tentu saja terkejut bukan main, akan tetapi juga jerih. Dia meloncat ke belakang dan ayahnya yang bukan orang bodoh, maklum bahwa kalau dilanjutkan dia akan kalah, cepat meloncat ke belakang pula, dekat puteranya. Ayah dan anak ini selamat dari keadaan yang lebih memalukan, yaitu jatuh di tangan si buta dan muridnya.

Suma Koan memberi hormat ke arah Ouwyang Sek dan berkata. "Saudara Ouwyang, kami berpamit. Kalau kami sudah memenuhi tiga syarat puterimu, kami akan kembali membicarakan urusan perjodohan."

Setelah berkata demikian, ayah dan anak itu pergi tanpa menengok lagi kepada Tiauw Sun Ong dan Bun Houw yang juga tidak memperdulikan mereka.

Dengan tenang Tiauw Sun Ong mengangkat mukanya ke arah Ouwyang Sek dan diapun berkata dengan mara tegai. "Nah, muridku telah memenuhi tantanganmu dan berhasil mendapatkan kembali Lui-kong-kiam dari tanganmu. Kami berdua menyanggupi sayembara itu dan kalau kami yang dapat memenuhinya, maka Bun Houw yang berhak untuk menjadi suami Hui Hong. Harap engkau sebagai seorang datuk tidak akan menjilat ludah sendiri, Ouwyang Sek."

Ouwyang Sek yang sudah bangkit berdiri dengan kedua kaki gemetar saking marah dan tak berdaya, kini melotot dan wajahnya yang hitam itu menyeramkan sekali, "Tidak! Lebih baik melihat Hui Hong mati dari pada harus menjadi isteri muridmu! Lebih baik aku kawinkan Hui Hong dengan seorang jembel busuk tanpa nama dari pada harus menikah dengan muridmu! Engkau tidak patut dan tidak berhak menjadi ayahnya, dan Cu Lan juga hanya seorang perempuan hina, tidak berhak menentukan nasibnya. Hanya aku seorang yang berhak, dan aku akan mempertahankan Hui Hong dengan nyawaku!"

"Ouwyang Sek, engkau tidak berhak berbicara demikian!" tiba-tiba terdengar suara Cu Lan memekik. Wanita ini sudah berdiri dengan marah sekali. Wajahnya yang biasanya segar kemerahan, kini menjadi pucat, rambutnya awut-awutan, matanya merah membengkak, pipinya masih basah air mata dan mulutnya membayangkan kedukaan dan kemarahan yang teramat besar. "Aku rela menjadi isterimu, rela menjadi barang permainanmu hanya untuk Hui Hong! Engkau tentu masih ingat bahwa aku mengancam akan membunuh diri kalau engkau menjamah tubuhku sebelum Hui Hong terlahir. Kemudian, akupun menyerahkan diri hanya dengan syarat bahwa engkau akan memperlakukan Hui Hong sebagai anak sendiri dan bersikap baik kepadanya. Semua derita itu kupertahankan demi Hui Hong. Sekarang, engkau hendak memaksakan kehendakmu atas diri Hui Hong, hendak kau jodohkan dengan orang yang tidak disukainya. Akupun tidak sudi lagi menjadi isterimu, dan sekarang karena Hui Hong telah mengetahui siapa ayah kandungnya yang sebenarnya, maka aku menyerahkan Hui Hong kepada ayah kandungnya. Aku rela meninggalkannya karena ada ayah kandungnya yang akan melindungi dan membelanya. Pangeran, aku pasrah anak kita kepadamu dan aku setuju kalau akan kaujodohkan dengan muridmu. Selamat tinggal...!”

“Cu Lan...!” Tiauw Sun Ong berseru.

“Cu Lan...!“ Ouwyang Sek juga berteriak sambil meloncat ke arah isterinya. Namun terlambat, karena Cu Lan sudah menusukkan pisau yang tajam runcing itu ke dadanya, di bawah iga kiri dan iapun roboh dalam rangkulan Ouwong Sek.

"Cu Lan...! Cu Lan isteriku...! Aihh, Cu Lan...!” Ouwyang Sek mengguncang-guncang tubuh isterinya dalam pelukannya, namun Cu Lan tidak dapat menjawab lagi karena ia sudah tewas seketika.

Mengingat ini. Pangeran Tiauw Sun Ong menghela napas panjang. Dia tahu bahwa bagaimanapun juga, Ouwyang Sek mencinta isterinya, dan kini tentu Ouwyang Sek akan menderita tekanan batin dan kedukaan besar yang akan menyiksa hidupnya. Diapun merasa iba kepada datuk itu yang akan kehilangan pula anak tiri yang dianggap anaknya sendiri dan disayangnya, telah kehilangan pula isterinya, walaupun kesayangan dan kecintaan datuk ini penuh dengan nafsu mementingkan diri sendiri.

"Ouwyang Sek, engkau memetik buah dari hasil tanamanmu sendiri," katanya lirih.

Ouwyang Sek menghentikan keluhannya dan mengangkat muka memandang kepada bekas pangeran itu dengan sinar mata penuh kebencian. "Tiauw Sun Ong aku akan membalas semua ini! Aku bersumpah akan membalas semua ini kepada kalian berdua!”

Akan tetapi Tiauw Sun Ong tidak memperdulikannya. "Bun Houw, mari kita pergi."

Guru dan murid itupun pergi meninggalkan Lembah Bukit Siluman. Biarpun di situ terdapat banyak anak buah Ouwyang Sek, namun tidak ada seorangpun berani bergerak untuk menentang mereka karena selain mereka tidak berani. Juga tidak ada perintah dari majikan mereka. Ouwyang Sek dengan sedih memondong jenazah isterinya, dibawa masuk ke dalam runah dan keluarga itu berkabung. Akan tetapi, Hui Hong tidak berada di situ, bahkan Ouwyang Toan juga tidak ada karena pemuda ini setelah mengetahui bahwa Hui Hong pergi tanpa pamit, segera pergi pula untuk mencarinya...

********************

Pedang Kilat Membasmi Iblis Jilid 02

DENGAN sikap jengkel Ouwyang Sek melangkah ke arah kamar puterinya dan sekali ini dia bertekad untuk memaksa Hui Hong keluar menemui kedua orang tamunya. Kui-siauw Giam-ong Suma Koan dan puteranya, Tok-siauw-kui suma Hok yang hendak pamit. Akan tetapi ketika dengan kasar dia mendorong daun pintu kamar itu terbuka, dia hanya mendapatkan isterinya yang sedang menangis di atas pembaringan Hui Hong.

"Hem, kenapa engkau menangis di sini dan di mana Hui Hong?" tanya datuk itu dengan suara yang ketus karena dia masih marah kepada isterinya yang membuka rahasia tentang ayah kandung Hui Hong.

Dia telah banyak mengalah terhadap wanita ini, yang memang amat dicintanya. Dia memenuhi permintaan Pouw Cu Lan dan tidak mengganggunya sama tekali sebelum Hui Hong terlahir, kemudian, dia menyayang Hui Hong seperti anak kandungnya sendiri walaupun dia tahu bahwa anak itu bukan keturunannya. Dan kini tahu-tahu wanita itu sendiri yang membuka rahasia berkata di depan Hui Hong bahwa gadis itu bukan anaknya!

Mendengar suara suaminya, Pouw Cu Lan bangkit duduk dan menghadapi suaminya. Kedua matanya merah membengkak karena tangis. Kedua pipinya yang menjadi pucat basah air mata dan kedua mata itu mengeluarkan sinar marah. Melihat pria tinggi besar bermuka hitam itu berdiri di situ dan teringat akan kepergian Hui Hong, timbul sakit hati dan kemarahan yang hebat di dalam hati wanita itu. Teringat ia betapa selama bertahun-tahun, demi keselamatan Hui Hong, ia rela dijadikan benda permainan oleh pria yang sebetulnya amat dibencinya ini. Kini baru ia menyadari sepenuhnya betapa ia amat muak dan benci kepada wajah yang kasar hitam dan bengis itu. Maka, Pouw Cu Lan lalu bangkit berdiri dan dengan tangan gametar ia menudingkan telunjuknya ke arah muka itu dan suaranya terdengar lantang,

"Ouwyang Sek, engkan manusia jahat! Engkaulah yang membuat anakku pergi, tak dapat kucegah lagi! Engkau hendak memaksanya menikah dengan seorang pemuda yang tidak disukainya!”

Ouwyang Sek mengerutkan alisnya yang tebal. "Apa Hui Hong pergi? ia berani minggat? Anak bedebah itu!”

"Engkau yang bedebah! Engkau tidak berhak menentukan jodohnya akan tetapi engkau memaksanya menjadi calon Isteri orang yang tidak disukainya!”

"Cu Lan, engkau tidak tahu diri! Bukankah selama ini aku selalu baik dan mencintamu? Bukankah selama ini aku amat menyayang Hui Hong seperti anakku sendiri? Akan tetapi engkau malah yang membuka rahasia itu, tentu membuat Hui Hong menjadi bingung. Dan aku memilihkan jodoh yang amat baik, kenapa kau ribut-ribut? Suma Hok adalah seorang pemuda yang tampan, gagah perkasa dan kaya raya. Kurang Apalagi? Ayahnya juga seorang sahabatku, seorang yang memiliki tingkat yang sama denganku!”

"Huh, pemuda jahat itu kau puji-puji? Padahal, dia nyaris memperkosa Hui Hong! Sepatutnya engkau marah dan membunuh pemuda itu, bukannya malah hendak manariknya sebagai mantu."

"Perbuatannya itu wajar saja, karena cintanya kepada Hui Hong..."

"Busuk! Jahat! Tentu saja engkau tidak menyalahkan dia yang hendak memperkosa anakku, karena engkau sendiri juga jahat seperti dia, karena engkau juga telah memperkosaku!”

"Cu Lan...!" Wajah yang hitam itu menjadi semakin hitam karena marah. "Engkau perempuan tak mengenal budi! Kalau tidak ada aku, kini tentu engkau telah mati bersama anak dalam kandunganmu, atau menjadi seorang nenek terlantar, mungkin menjadi jembel, minta-minta bersama anakmu, mungkin anak perempuanmu menjadi pelacur karena tidak ada yang menjamin kehidupannya. Engkau kini menjadi wanita terhormat dan hidup mewah, anakmu menjadi seorang gadis yang berilmu dan dihormati temua orang. Semua itu berkat jasaku, mengerti? Dan engkau berani bersikap seperti ini kepadaku?”

Cu Lan merasa terpukul karena apa yang diucapkan pria itu memang tidak bohong. Karena mengingat akan budi itulah ia rela menyerahkan hati dan tubuhnya kepada Ouwyang Sek, sekedar membalas budi, demi kebahagiaan putrinya. Kalau kini ia marah adalah karena melihat anaknya dipaksa untuk berjodoh dengan orang yang tidak disukai anaknya sehingga anaknya sekarang nekat pergi untuk mencari ayah kandungnya.

"Bagaimanapun juga, engkau yang memaksa ia menerima laki-laki yang bahkan dibencinya dan sekarang ia melarikan diri, ia pergi tanpa dapat kucegah." Cu Lan menangis dengan sedihnya.

Ouwyang Sek mengepal tinju, dia marah sekali. "Anak itu sungguh tak tahu diri! Sejak kecil kusayang dan kurawat, kudidik akan tatapi sekarang bukan saja berani membantahku bahkan pergi tanpa pamit. Tentang perjodohannya, bukan aku memaksanya! Bukankah ia telah mengajukan syarat yang cukup berat, yaitu pertama agar yang menjadi calon suaminya menemukan kembali mustika Akar Bunga Guruu Pasir, dan kedua agar calon suaminya dapat mengalahkannya dalam pertandingan? Nah, dengan adanya syarat itu, apakah itu berarti aku memaksanya?”

Cu Lan juga tarpaksa membenarkan ucapan suaminya ini. Ia tahu bahwa suaminya memang sungguh menyayang Hui Hong seperti anak sendiri, dan syarat yang diajukan Hui Hong itupun diterima, kecuali syarat ke tiga, yaitu agar calon jodohnya dapat mempertemukannya dengan Bun Houw untuk minta maaf tidak dipenuhi oleh Ouwyang Sek. Dilain hal itu, berarti suaminya memang sudah memberi kelonggaran kepada Hui Hong,

"Syarat itu harus ditambah, sekarang syarat dari aku sendiri! Kalau syaratku itu tidak dipenuhi, sampai mati aku akan menentang perjodohan anakku!”

"Hemm, syarat apalagi? Dua syarat Hui Hong itu sudah cukup berat!" Ouwyang Sek mengomel.

"Syaratku adalah bahwa siapa yang dapat mengembalikan Hui Hong kepadaku, ialah yang patut menjadi mantuku!”

Ouwyang Sek dapat menerima syarat isterinya, karena diapun maklum betapa akan duka hati isterinya kalau Hui Hong tidak kembali lagi kepadanya. Akan tetapi tentu saja dia merasa sungkan kepada rekannya, datuk dari Bukit Bayangan Iblis (Kui-eng-san). "Baik, kau katakan sendiri kepada ayah dan anak itu agar tidak disangka aku yang sengaja mempersulit mereka."

"Huh, di mana kegagahanmu yang selama ini kau sombongkan? Demi membela anak, kenapa engkau tidak berani menentang mereka? Baik, aku akan menemui mereka dan mengatakannya sendiri!” kata Pouw Cu Lan.

Dan diam-diam Ouwyang Sek memandang heran dan kagum, isterinya ini, bekas selir kaisar dan bekas kekasih Pangeran Tiauw Sun Ong, selama ini bersikap sebagai seorang wanita lemah yang suka melakukan segala perintahnya dengan patuh. Akan tetapi saat ini telah berubah menjadi seorang wanita pemberani, bahkan berani untuk menentang keluarga Suma. Dan diapun menyadari bahwa semua kelemahan dan kepatuhan Cu Lan ternyata hanya demi puterinya. Kini begitu puterinya terganggu, iapun dapat berubah sebagai seekor harimau betina yang melindungi anaknya!”

Kui-siauw Giam-ong Suma Koan dan puteranya, Tok-siauw-kwi suma Hok telah siap untuk pergi dan mereka berdua menanti di ruangan depan untuk berpamit dari keluarga Ouwyang, terutama sekali Suma Hok ingin bertemu lagi dengan Hui Hong dan pamit kepada gadis yang dianggapnya sebagai tunangan atau calon isterinya itu. Tentu saja mereka merasa heran, dan terutama Suma Hok merasa kecewa ketika mereka melihat Ouwyang Sek muncul kembali hanya bersama isterinya. Tidak nampak Hui Hong bersama mereka, juga tidak nampak Ouwyang Toan!

Tidak munculnya Ouwyang Toan tidak diambil pusing oleh Suma Hok, akan tetapi tidak adanya Hui Hong membuat dia merasa kecewa sekali dan saking tidak dapat menahan kekecewaan hatinya, diapun menyambut Ouwang Sek dengan pertanyaan tanpa sungkan lagi,

"Paman Ouwyang, mana Hui Hong? Aku ingin berpamit kepada tunanganku yang tercinta itu!”

Sebelum Ouwyang Sek yang merasa malu dapat menjawab, isterinya telah mendahului dan dengan suara lantang Pouw Cu Lan berkata, "Orang muda. dengarlah baik-baik. Anakku Hui Hong telah pergi tanpa pamit, entah ke mana kamipun tidak tahu, aku sebagai ibunya, kini menambahkan syarat sebagai sayembara untuk menjadi calon suami anakku. Anakku Hui Hong sudah mengajukan tyarat bahwa calon suami harus dapat menemukan kembali mustika Akar Bunga Gurun Pasir, dan harus pula dapat mengalahkan ia dalam pertandingan. Sekarang kutambah dengan sebuah syarat lagi, yaitu siapa yang dapat menemukan Hui Hong dan dapat mengajaknya pulang ke sini, dialah calon suami anakku, calon mantuku!”

Tiba-tiba terdengar suara orang dari luar, "Bagus sekali! Syarat yang tiga itu cukup adil dan kami sanggup memenuhi ketiganya!"

Tentu saja semua orang terkejut, terutama Ouwyang Sek dan Suma Koan karena kedua orang datuk ini tidak dapat mengetahui atau mendengar kedatangan orang yang mengeluarkan suara itu. Tahu-tahu orang itu telah berada di situ dan ketika mereka menengok, ternyata di pekarangan itu telah berdiri seorang pemuda dan seorang kakek buta! Mereka itu bukan lain adalah Bun Houw dan gurunya, bekas Pangeran Tiauw Sun Ong.

Sejenak semua orang memandang ke arah guru dan murid itu dan suasana menjadi sunyi sekali, sunyi yang menegangkan. Akan tetapi tiba-tiba kesunyian itu dipecahkan oleh isak tangis dari Pouw Cu Lan sudah menjatuhkan diri berlutut menghadap kepada Tiauw Sun Ong dan terdengar di antara isaknya ia berkata lemah.

"Pangeran...!” Dapat dibayangkan betapa hancur hati wanita itu. Dahulu, ketika ia menjadi selir terkasih kaisar, ia telah saling jatuh cinta dengan Pangeran Tiauw Sun Ong. Adik suaminya. Mereka berdua telah lupa diri, berdua sehingga akhirnya tertangkap basah dan biarpun kaisar tidak menghukum adiknya, namun Pangeran Tiauw Sun Ong yang merasa berdosa dan malu, membutakan matanya sendiri di depannyal Pangeran itu telah menjadi seorang buta karena iapun ketika itu tidak mengharapkan hidup lagi, dihukum buang dan akhirnya dirampas oleh Ouwyang Sek. Andaikata Ia tidak mengandung, tentu ia akan membunuh diri! Kini, setelah kesemuanya itu hanya tinggal kenangan belaka, tiba-tiba ia berhadapan dengan Pangeran Tiauw Sun Ong, satu-satunya pria yang dicintanya, akan tetapi juga yang menderita sengsara karenanya!

"Pangeran...!” Kembali ia memanggil dengan suara merintih, diiringi tangis mengguguk.

"Ha-ha-ha-ha!" Kui-siauw Giam-ong tertawa bergelak. "Saudara Ouwyang Sek. sungguh pertunjukan ini lucu sekali, seperti di atas panggung wayang dan engkau membiarkan saja badut ini datang disambut sembah dan tangis isterimu? Kalau perlu, aku dapat membantumu mengirimnya ke neraka!"

Ouwyang Sek yang mukanya hitam itu kini memandang kepada Tiauw Sun Ong dengan mata melotot marah. "Tiauw Sun Ong, mau apa engkau datang ke sini?" Sungguh sama sekali tidak ramah ucapannya itu.

Namun Tiauw Sun Ong menyambutnya dengan senyum. Kakek buta ini juga sama sekali tidak memperdulikan bekas kekasihnya yang kini telah menjadi isteri datuk Bukit Siluman itu. Seperti orang yang dapat melihat saja, dia mengangkat muka ke arah dua orang datuk itu dan suaranya terdengar lembut namun berwibawa.

"Suma Koan, kebetulan sekali aku bertemu denganmu di sini. Dan Ouwyang Sek, aku juga girang bahwa engkau berada di rumah sehingga aku dapat bertemu dengan kalian dua orang datuk besar. Aku ingin menyampaikan terima kasih kepada kalian yang telah memukul muridku dengan pukulan beracun, karena perbuatan kalian itu mendatangkan untung yang teramat besar dan tak ternilai harganya bagi muridku."

Mendengar ucapan itu wajah kadua orang datuk itu berubah kemerahan karena tentu saja mereka mengira bahwa ucapan bekas pangeran itu merupakan ejekan atau sindiran, sama sekali mereka tidak tahu bahwa ucapan itu memang sungguh sungguh!

"Tiauw Sun Ong, tidak perlu banyak cakap. Cepat katakan mau apa kau ke sini sebelum kuusir engkau yang tidak kuundang!" bentak Ouwyang Sek yang menjadi semakin marah karena mara ia diejek.

Bekas pangeran itu tetap tersenyum. "Ouwyang Sek, kami telah mendengar sayembara untuk pencalonan suami bagi anakmu Hui Hong. Nah, aku datang bersama muridku untuk mengajukan pinangan agar Hui Hong dapat menjadi jodoh muridku Bun Houw..."

"Tidak boleh!" bentak Ouwyang Sek memotong.

"Ouwyang Sek, engkau tidak berhak bercakap begitu. Dengarkan dulu apa yang dikatakan pangeran!" bentak Cu Lan dan kembali Ouwyang Sek merasa heran. Wanita ini sekarang sungguh amat berani! "Hui Hong adalah anakku dan aku berhak pula memutuskan!” sambung pula Pouw Cu Lan.

"Kami sudah mendengar tentang tiga macam syarat itu. Pertama, menemukan Akar Bunga Gurun Pasir, ke dua menandingi Hui Hong dalam ilmu silat, dan ke tiga, membawa kembali Hui Hong yang sekarang pergi entah ke mana. Dan juga pedang Lui-kong-kiam milik muridku telah berada di tanganmu, Ouwyang Sek, biarlah kami menganggap itu sebagai Ikatan jodoh!”

"Tidak, aku tidak menerima pinangan itu! Hui Hong telah kujodohkan dengan putera saudara Suma Koan! Andaikata belum juga, aku tidak akan menjodohkan anakku dengan murid seorang buta!”

"Ouwyang Sek, engkau tidak berhak bicara seperti itu!” Pouw Cu Lan berteriak, lalu ia bangkit, lari ke depan kaki Tiauw Sun Ong, menjatuhkan diri berlutut lagi dan berkata, "Pangeran, Hui Hong adalah puteri pangeran, anak kita, dan saya setuju kalau ia dijodohkan dengan muridmu..."

"Diam kau, perempuan binal!" bentak Ouwyang Sek marah, kemudian dia berkata kepada bekas pangeran itu dengan pandang mata penuh kebencian karena cemburu. "Tiauw Sun Ong, pargilah engkau dari sini atau terpaksa aku akan melakukan kekerasan!”

Akan tetapi bekas pangeran itu kini tidak memperdulikannya lagi. Dia menunduk dan memalingkan muka ke arah bekas kekasihnya. "Cu Lan, aku menysal sekali telah menyebabkan engkau menderita dalam hidupmu. Aku pun cukup menderita dan agaknya memang Tuhan telah menghukum kita berdua karena perbuatan kita yang tidak benar. Cu Lan, aku telah tahu tentang anak kita Hui Hong, sekarang katakan, ke mana ia pergi?"

"Pangeran, saya menceritakan kepadanya tentang kita, dan ia... ia pergi bersama seorang wanita yang katanya mengetahui di mana engkau berada. Saya tidak dapat mencegahnya..."

"Siapa wanita itu?" tanya Tiauw Sun Ong, sedangkan Ouwyang Sek juga mendengarkan dengan penuh perhatian karena baru sekarang dia mendengar bahwa anaknya pergi bersama seorang wanita.

"Saya tidak melihatnya, hanya mendengar suaranya, dan menurut Hui Hong, ia seorang wanita cantik yang usianya sekitar tiga puluhan. Pangeran, tolong carikan ia, carilah anakku, cari anak kita karena aku merasa khawatir sekali..."

"Ha-ha-ha, saudara Ouwyang, sebetulnya bagaimanakah ini? Hui Hong yang hendak diperisteri putraku itu anak siapa! Anakmu, anak si buta ini, ataukah anak haram?" Suma Toan yang tidak sabar kini berseru dengan suara mengejek.

"Tiauw Sun Ong, dengar baik-baik!" Ouwyang Sek kini membentak marah. "Engkau dan perempuan binal ini sama sekali tidak berhak atas diri Hui Hong! Lihat perempuan ini. Ia selir kaisar yang telah memberi segala-galanya, kedudukan dan kemewahan, akan tetapi apa yang ia lakukan? Ia melakukan penyelewengan, berkhianat dan berjina denganmu, adik suaminya sendiri. Setelah tertangkap basah, kalian berpisah dan apa yang ia lakukan? Ia mau menjadi isteriku dan Ìa melayaniku dengan sepenuh hati sampai sekarang. Perempuan macam ini apakah berhak untuk menjadi seorang ibu yang berhak penuh atas diri Hui Hong? Dan lihat dirimu sendiri! Engkau telah mengkhianati kakak sendiri, berjina dengan isteri kakakmu. Setelah ketahuan, engkau tidak bertanggung jawab, malah melarikan diri, tidak perduli kekasih gelapmu telah mengandung. Orang macam engkan ini apakah pantas menjadi ayah Hui Hong? Sebaliknya, sejak kecil, sejak lahir, Hui Hong kupelihara, kudidik sampai menjadi seorang gadis seporti sekarang keadaannya. Tidakkah sudah sepatutnya kalau aku yang berhak menentukan jodohnya? Hayo jawab!"

Terdengar rintihan dan tangis keluar dari mulut Pouw Cu Lan. Wanita ini merasa betapa ucapan suaminya itu seperti pedang beracun menancap di ulu hatinya. Ia tidak mampu membantahnya walaupun semua itu ia lakukan demi Hui Hong! Juga bekas pangeran itu berdiri menunduk dan berulang kali menghela napas panjang. Biarpun kasar dan keji, ucapan dari datuk sesat itu memang benar. diapun mempunyai alasan, yaitu bahwa dia tidak tahu bahwa kekasihnya itu telah mengandung ketika dia meninggalkannya. Andaikata dia tahu, mnngkin tidak akan begini jadinya. Akan tetapi alasan itupun amat lemah dan dia tidak mau mengeluarkannya.

"Ouwyang Sek, aku datang bukan untuk merampas hakmu sebagai ayah atas diri Hui Hong. Bahkan aku mengakui engkau sebagai ayahnya. Buktinya, aku datang sebagai wakil muridku ini untuk melakukan pinangan atas diri Hui Hong sebagai puterimu. Dan kami akan memenuhi tiga syarat tadi, juga pedang Lui-kong-kiam itu boleh kau simpan sebagai tanda ikatan jodoh atau tanda bahwa kami telah meminang puterimu."

"Pedang Lui-kong-kiam ini kuambil dari tangan muridmu dengan kekerasan. Kalau memang dia mempunyai kemampuan, boleh merampasnya kembali dari tanganku!" kata Ouwyang Sek sambil menepuk pedang dengan sarungnya yang seperti tongkat dan yang tergantung di punggungnya itu.

Serial Pedang Kilat Karya Kho Ping Hoo

Sementara itu Suma Koan juga melangkah maju menghampiri Tiauw Sun Ong dan tertawa dengan nada mengejek. "Heii, orang buta. Sungguh lancang sekali engkau, berani meminang Ouwyang Hui Hong. Anak perempuan itu telah menjadi calon mantuku, tahu? Siapa yang meminang calon mantuku, berarti menghinaku. Engkau boleh mengajukan pinanganmu kalau mampu menghadapi suling mautku!"

Ditantang olah kedua orang datuk itu, Tiauw Sun Ong menoleh ke arah muridnya. "Bun Houw, tidak ada jalan lain lagi. Kau rampaslah kembali Lui-kong-kiam dari Ouwyang Sek, dan biar aku yang akan melayani Iblis Suling Maut ini."

Bun Houw yang merasa kasihan sekali kepada ibu kandung Hui Hong, mengangguk, lalu diapun melangkah maju mengbampiri Ouwyang Sek. Bagaimaupun juga, dia tetap memandang kakek tinggi besar muka hitam ini sebagai ayah Hui Hong. Maka diapun bersikap sopan. "Lo-cian-pwe, aku menerima tantanganmu untuk mencoba mengambil kembali Lui-kong-kiam yang kau dapat."

"Heh, bocah yang bosan hidup. Kebetulan sekali karena akupun ingin menyelesaikan niatku yang tidak kulaksanakan dahulu, yaitu membunuhmu. Nah, majulah untuk menerima kematian!" Kakek itu menggerakkan tangannya dan dia sudah menyerang dengan dahsyat, kedua tangannya menyambar dari kanan kiri sehingga mendatangkan suara menyambar-nyambar ke arah tubuh Bun Houw.

Pemuda ini sudah maklum akan kelihaian lawan, maka dia pun sudah bersikap waspada, cepat dia meloncat ke belakang untuk mengelak dan mencari tempat yang lebih luat agar jangan mengganggu gurunya. Juga agar tidak terlalu dekat dengan ibu Hui Hong yang masih berlutut sambil menangis sedih.

Sementara itu, Suma Koan sudah menggunakan sulingnya untuk menyerang Tiauw Sun Ong Datuk dari Bukit Bayangan Iblis ini berjuluk Kui-siauw Giam-ong (Iblis Suling Maut), tentu saja senjata sulingnya itu dahsyat bukan main. Suling itu selain dapat dipergunakan sebagai senjata yang kokoh kuat karena terbuat dari baja yang pilihan, juga ujungnya mengandung racun, dan suling itupun dapat dipergunakan untuk meniupkan jarum-jarum beracun ke arah lawan. Senjata inilah yang mengangkat Suma Koan dan membuat dia dijuluki Suling Maut.

Namun sekali ini, majikan Kui-eng-san itu berhadapan dengan Tiauw Sun Ong. Tadinya dia memang memandang rendah kepada kakek buta itu karena diapun baru pernah mendengar saja nama bekas pangeran ini. namun belum membuktikan sendiri kelihaiannya. Bagaimanapun juga, dia hanya seorang buta,’ demikian pikir Suma Koan dan serangan-serangannya yang dahsyat itu, dia mengira akan mampu merobohkan lawan buta itu dalam beberapa gebrakan saja.

Akan tetapi, begitu Tiauw Sun Ong menggerakkan tangannya, sebatang pedang berkilauan telah berada di tangannya dan dia melemparkan tongkat yang menjadi sarung pedang itu kepada muridnya sambil berseru, "Bun Houw, kau pergunakan ini!”

Tiauw Sun Ong menggerakkan pedangnya dan nampak sinar bergulung-gulung, menangkis suling dan begitu kedua senjata itu bertemu, Kui-siauw Giam-ong Suma Koan terkejut bukan main karena dia merasa betapa tetapak tangannya yang memegang suling tergetar hebat, tanda bahwa lawan buta itu memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat, tidak berada di sebelah bawahnya! Maka, diapun berseru keras dan sulingnya melakukan serangkaian serangan yang lebih dahsyat lagi. disambut dengan tenang oleh Tiauw Sun Ong yang juga maklum bahwa dia melawan seorang datuk yang lihai.

Bun Houw menyambut sarung pedang berbentuk tongkat butut yang dilemparkan suhunya, akan tetapi melihat betapa Ouwyang Sek menyerangnya dengan tangan kosong, diapun hanya menyelipkan tongkat itu di ikat pinggangnya dan menghadapi serangan datuk Bukit Siluman itu dengan tangan kosong pula. Sampai belasan jurus dia hanya mengelak dengan berloncatan dan dengan menggeser kedua kakinya secara ringan dan lincah sekali sehingga semua serangan kakek itu hanya mengenai tempat kosong.

Bu-eng-kiam Ouwyang Sek menjadi penasaran bukan main, rasa penasaran yang mendatangkan kemarahan. Belasan jurus dia menyerang dan pemuda itu hanya mengelak, akan tetapi tidak pernah pukulannya mengenai sasaran. Diam-diam dia terkejut di samping kemarahannya. Pemuda ini dahulu telah dia pukul dengan pukulan yang mengandung hawa beracun mematikan. Akan tetapi, kini bukan saja pemuda itu sama sekali tidak kelihatan menderita oleh pukulannya, bahkan kini pemuda itu sedemikian mudahnya menghindarkan diri dari belasan kali serangannya yang dahsyat.

"Bocah sombong, mampuslah!" Tiba-tiba dia membentak dan dia mengirim serangan dengan kedua tangannya yang menghadang dari kanan kiri dengan cepat dan kuat. tidak memungkinkan pemuda itu untuk mengelak lagi. Andaikata lawannya meloncat ke belakangpun tentu akan dilanda hawa pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga sin-kang dan hawa beracun itu.

Melihat serangan maut ini. Bun Houw tidak mau mengelak lagi. Diapun diam-diam mengerahkan tenaga yang didapatnya dari latihan Im-yang Bu-tek Cin-keng, hanya dia mengatur dan membatasi tenaganya, hanya untuk melindungi dirinya saja, tanpa niat untuk menyerang atau mencelakai lawan.

"Wuuuuttt, desss...!”

Kedua telapak tangan Bu-eng-kiam Ouwyang Sek bertemu dengan dinding yang tidak nampak dan demikian kuatnya benturan pada dinding tak nampak itu sehingga tubuh datuk itu terdorong ke belakang. Dia tidak mampu menguasai kuda-kudanya lagi sehingga terpaksa kakinya terhuyung melangkah ke belakang sampai lima langkah! Dan yang membuat dia terbelalak adalah melihat pemuda itu masih berdiri tegak dengan sikap tenang!

Ilmu apa ini, pikirnya kaget dan karena maklum bahwa dengan tangan kosong dia tidak akan mampu menandingi pemuda yang memiliki tenaga mujijat yang tidak dikenalnya itu, Ouwyang Sek lalu menggerakkan tangan kanan ke punggungnya dan di lain saat, nampak kilat berkelebat menyambar ketika dia telah mencabut Lui-kong-kiam (Pedang Kilat) yang dahulu dirampasnya dari tangan Bun Houw!

Melihat pedangnya sendiri kini dipergunakan lawan untuk menyerangnya, Bun Houw segera mencabut tongkat sarung pedang gurunya yang dia selipkan di pinggang. Dia tentu saja mengenal keampuhan Lui-kong-kiam, dan biarpun dia belum pernah melihat ilmu pedang datuk itu, namun mengingat bahwa datuk itu berjuluk Bu-eng-kiam (Pedang Tanpa Bayangan), dia dapat menduga bahwa Ouwyang Sek tentu seorang ahli pedang yang amat lihai.

"Singgg... wuuuut, singgg...!”

Lui-kong-kiam di tangan Ouwyang Sek diputar-putar di atas kepalanya membentuk gulungan sinar yang menyilaukan mata. "Bocah sombong, biar pedangmu sendiri menghirup darahmu!"

Pedang yang kalau digerakkan menimbulkan sinar berkilat itu menyambar ke arah leher Bun Houw. Memang pantas Ouwyang Sek dijuluki Bu-eng-kiam karena dia memang seorang ahli pedang yang mampu menggerakkan pedang dengan kecepatan luar biasa sehingga seolah-olah pedang itu tidak mempunyai bayangan, tahu-tahu telah tiba disasaran yang dituju.

Namun Bun Houw adalah murid tersayang dari Tiauw Sun Ong yang memiliki ilmu pedang yang ampuh, yaitu ilmu pedang yang mengandalkan ketajaman pendengaran dan perasaan naluri seorang buta. Gerakan pedang yang betapapun dapat ditangkap oleh pendengaran dan perasaan itu, maka begitu pedang itu menyambar ke arah lehernya, Bun Houw, sudah dapat menangkisnya dengan tongkat sarung pedang gurunya.

“Trangg...!” Pedang terpental lalu menukik ke bawah, menusuk ke arah perut Bun Houw.

"Trangg...!” Kembali pedang yang terpental itu membuat gerakan membalik dan kini sudah menyambar lagi menusuk dada.

"Trangg...!” Dan kini Bun Houw melanjutkan tangkisannya dengan serangan balasan yang meubuat Ouwyang Sek harus cepat memutar pedangnya untuk membuat perisai gulungan sinar melindungi dirinya karena dia dapat merasakan sambaran angin dahsyat ketika tongkat itu menyambar-nyambar ke arah dirinya.

Terjadi perkelahian yang amat hebat antara Ouwyang Sek dan Bun Houw, dan makin lama, Ouwyang Sek menjadi semakin terkejut dan terheran-heran. Belum lama, ketika dia untuk pertama kalinya bertemu dengan pemuda ini, Bun Houw belumlah sepandai ini walaupun tingkat pemuda ini sudah sedikit lebih tinggi dari pada tingkat Ouwyang Toan dan Hui Hong. Akan tetapi sekarang, bagaimana mungkin pemuda ini sudah menjadi sedemikian lihainya sehingga dia sendiri selalu kalah kalau beradu tenaga, dan ilmu pedangnyapun tidak mampu mendesak pemuda yang hanya bersenjatakan tongkat pendek ini?

Sementara itu, perkelahian antara Tiauw Siauw Ong dan Suma Koan juga terjadi dengan hebatnya. Namun, setelah beberapa kali meniupkan jarum beracun tanpa hasil karena selalu dapat dipukul runtuh oleh gulungan sinar pedang di tangan lawan yang buta itu. mulailah Suma Koan terdesak oleh gulungan sinar pedang yang dimainkan Tiauw Sun Ong.

Melihat betapa ayahnya tidak mampu menang bahkan terdesak oleh orang buta yang tadinya mereka pandang rendah itu. Suma Hok juga mencabut sulingnya dan dia tanpa banyak cakap lagi sudah terjun ke dalam perkelahian membantu ayahnya mengeroyok Tiauw Sun Ong! Sang ayah juga diam saja dan agaknya mereka tidak merasa malu harus mengeroyok seorang lawan yang buta!

Mengelahui bahwa dia dikeroyok oleh dua orang lawan tangguh. Tiauw Sun Ong memutar pedangnya semakin cepat dan membentuk benteng pertahanan dari gulungan sinar pedang yang berkilauan untuk melindungi dirinya.

Bun Houw hanya mengimbangi permainan Ouwyang Sek karena bagaimanapun juga, dia tidak ingin membuat datuk yang menjadi ayah tiri Hui Hong ini merasa terhina kalau dia kalahkan. Akan tetapi, kini dia melihat keadaan gurunya yang dikeroyok secara curang oleh ayah dan anak Suma, dia harus membantu gurunya, pikir Bun Houw dan untuk dapat melakukan itu. Dia harus menyudahi perkelahiannya melawan Ouwyang Sek.

Tiba-tiba Bun Bouw mengeluarkan bentakan nyaring, bentakan yang membuat Ouwyang Sek merasa betapa jantungnya terguncang dan saat itu, pedang Lui-kong-kiam di tangannya bertemu dengan tongkat di tangan Bun Houw dan melekat! Dia berusaha menarik kembali pedang itu, namun tidak dapat dan karena marah dia lalu menghantamkan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka ke arah muka Bun Houw. Hantaman ini dilakukan sekuat tenaga dengan kandungan hawa beracun dan kalau sampai terkena pukulan ini. betapapun lihainya, tentu pemuda itu akan roboh dan tewas.

Melihat pukulan tangan kiri ini, Bun Houw maklum betapa besar bahayanya, maka diapun mengerahkan tenaga dari Im-yang Bu-tek Cin-keng dan menggerakkan tangan kiri menyambut hantaman ke arah mukanya itu.

"Plakkk!" Dua telapak tangan bertemu dan akibatnya, Ouwyang Sek mengeluarkan seruan kaget dan tubuhnya gemetar, terhuyung ke belakang. Kesempatan ini dipergunakan oleh Bun Houw untuk secepat kilat melepaskan lekatan tongkatnya dari pedang, dan ujung tongkatnya sudah menotok pergelangan tangan kanan Ouwyang Sek sehingga pedang itu terlepas dan dilain detik, Lui-kong-kiam telah kembali kepada pemiliknya!

Ouwyang Sek yang terhuyung ke belakang, terbelalak melihat pedang itu sudah terampas oleh Bun Houw. Dia merata malu, penasaran dan kemarahannya memuncak. Dengan mengeluarkan gerengan seperti seekor binatang buas dia menyambar sarung pedang yang masih tergantung di punggungnya, lalu dia meloncat ke depan, dengan buas menerkam dan menggerakkan sarung pedang berbentuk tongkat itu ke arah Bun Houw, menyerang dengan membabi-buta.

Bun Houw menyambut serangan sarung pedang itu. Melihat betapa Ouwyang Sek memegang ujung sarung pedang sehingga bagian yang berlubang menghadap ke arahnya, diapun mengelebatkan Lui-kong-kiam yang sudah dirampasnya, menarik ke depan dan tepat sekali Lui-kong-kiam masuk ke dalam sarung pedang itu! Dan pada saat itu, sarung pedang milik gurunya yang masih dipegang tangan kirinya, membuat gerakan menyerang ke arah leher Ouwyang Sek. Datuk ini terkejut, berusaha menarik sarung pedang itu, namun sia-sia dan kalau dia tidak cepat mengelak, serangan sarung pedang lawan tentu akan mengenai lehernya. Diapun dengan nekat menggunakan tangan kiri menangkap sarung pedang itu.

"Desss!” pada saat itu, Bun Houw sudah menendang, tepat mengenai perutnya dan biar pun dalam menendang ini Bun Houw membatasi tenaganya, tetap saja Ouwyang Sek terlempar ke belakang dan terpaksa melepaskan kedua sarung pedang tadi. Dia terbanting jatuh dan sakit di hatinya lebih hebat dari pada rasa nyeri di pinggulnya yang terbanting.

Sementara itu, Bun Houw sudah meloncat ke arah gurunya dan sekali pedang Lui-kong-kiam menyambar suling di tangan Suma Hok patah menjadi dua! Pemuda tampan pesolek itu tentu saja terkejut bukan main, akan tetapi juga jerih. Dia meloncat ke belakang dan ayahnya yang bukan orang bodoh, maklum bahwa kalau dilanjutkan dia akan kalah, cepat meloncat ke belakang pula, dekat puteranya. Ayah dan anak ini selamat dari keadaan yang lebih memalukan, yaitu jatuh di tangan si buta dan muridnya.

Suma Koan memberi hormat ke arah Ouwyang Sek dan berkata. "Saudara Ouwyang, kami berpamit. Kalau kami sudah memenuhi tiga syarat puterimu, kami akan kembali membicarakan urusan perjodohan."

Setelah berkata demikian, ayah dan anak itu pergi tanpa menengok lagi kepada Tiauw Sun Ong dan Bun Houw yang juga tidak memperdulikan mereka.

Dengan tenang Tiauw Sun Ong mengangkat mukanya ke arah Ouwyang Sek dan diapun berkata dengan mara tegai. "Nah, muridku telah memenuhi tantanganmu dan berhasil mendapatkan kembali Lui-kong-kiam dari tanganmu. Kami berdua menyanggupi sayembara itu dan kalau kami yang dapat memenuhinya, maka Bun Houw yang berhak untuk menjadi suami Hui Hong. Harap engkau sebagai seorang datuk tidak akan menjilat ludah sendiri, Ouwyang Sek."

Ouwyang Sek yang sudah bangkit berdiri dengan kedua kaki gemetar saking marah dan tak berdaya, kini melotot dan wajahnya yang hitam itu menyeramkan sekali, "Tidak! Lebih baik melihat Hui Hong mati dari pada harus menjadi isteri muridmu! Lebih baik aku kawinkan Hui Hong dengan seorang jembel busuk tanpa nama dari pada harus menikah dengan muridmu! Engkau tidak patut dan tidak berhak menjadi ayahnya, dan Cu Lan juga hanya seorang perempuan hina, tidak berhak menentukan nasibnya. Hanya aku seorang yang berhak, dan aku akan mempertahankan Hui Hong dengan nyawaku!"

"Ouwyang Sek, engkau tidak berhak berbicara demikian!" tiba-tiba terdengar suara Cu Lan memekik. Wanita ini sudah berdiri dengan marah sekali. Wajahnya yang biasanya segar kemerahan, kini menjadi pucat, rambutnya awut-awutan, matanya merah membengkak, pipinya masih basah air mata dan mulutnya membayangkan kedukaan dan kemarahan yang teramat besar. "Aku rela menjadi isterimu, rela menjadi barang permainanmu hanya untuk Hui Hong! Engkau tentu masih ingat bahwa aku mengancam akan membunuh diri kalau engkau menjamah tubuhku sebelum Hui Hong terlahir. Kemudian, akupun menyerahkan diri hanya dengan syarat bahwa engkau akan memperlakukan Hui Hong sebagai anak sendiri dan bersikap baik kepadanya. Semua derita itu kupertahankan demi Hui Hong. Sekarang, engkau hendak memaksakan kehendakmu atas diri Hui Hong, hendak kau jodohkan dengan orang yang tidak disukainya. Akupun tidak sudi lagi menjadi isterimu, dan sekarang karena Hui Hong telah mengetahui siapa ayah kandungnya yang sebenarnya, maka aku menyerahkan Hui Hong kepada ayah kandungnya. Aku rela meninggalkannya karena ada ayah kandungnya yang akan melindungi dan membelanya. Pangeran, aku pasrah anak kita kepadamu dan aku setuju kalau akan kaujodohkan dengan muridmu. Selamat tinggal...!”

“Cu Lan...!” Tiauw Sun Ong berseru.

“Cu Lan...!“ Ouwyang Sek juga berteriak sambil meloncat ke arah isterinya. Namun terlambat, karena Cu Lan sudah menusukkan pisau yang tajam runcing itu ke dadanya, di bawah iga kiri dan iapun roboh dalam rangkulan Ouwong Sek.

"Cu Lan...! Cu Lan isteriku...! Aihh, Cu Lan...!” Ouwyang Sek mengguncang-guncang tubuh isterinya dalam pelukannya, namun Cu Lan tidak dapat menjawab lagi karena ia sudah tewas seketika.

Mengingat ini. Pangeran Tiauw Sun Ong menghela napas panjang. Dia tahu bahwa bagaimanapun juga, Ouwyang Sek mencinta isterinya, dan kini tentu Ouwyang Sek akan menderita tekanan batin dan kedukaan besar yang akan menyiksa hidupnya. Diapun merasa iba kepada datuk itu yang akan kehilangan pula anak tiri yang dianggap anaknya sendiri dan disayangnya, telah kehilangan pula isterinya, walaupun kesayangan dan kecintaan datuk ini penuh dengan nafsu mementingkan diri sendiri.

"Ouwyang Sek, engkau memetik buah dari hasil tanamanmu sendiri," katanya lirih.

Ouwyang Sek menghentikan keluhannya dan mengangkat muka memandang kepada bekas pangeran itu dengan sinar mata penuh kebencian. "Tiauw Sun Ong aku akan membalas semua ini! Aku bersumpah akan membalas semua ini kepada kalian berdua!”

Akan tetapi Tiauw Sun Ong tidak memperdulikannya. "Bun Houw, mari kita pergi."

Guru dan murid itupun pergi meninggalkan Lembah Bukit Siluman. Biarpun di situ terdapat banyak anak buah Ouwyang Sek, namun tidak ada seorangpun berani bergerak untuk menentang mereka karena selain mereka tidak berani. Juga tidak ada perintah dari majikan mereka. Ouwyang Sek dengan sedih memondong jenazah isterinya, dibawa masuk ke dalam runah dan keluarga itu berkabung. Akan tetapi, Hui Hong tidak berada di situ, bahkan Ouwyang Toan juga tidak ada karena pemuda ini setelah mengetahui bahwa Hui Hong pergi tanpa pamit, segera pergi pula untuk mencarinya...

********************