Tangan Gledek Jilid 52

Tangan Gledek Jilid 52

LEE TAI boleh jadi dogol dan agak bodoh, akan tetapi ia tidak mau dihina. “Selamanya aku tidak membohong! Lebih baik aku mati dari pada membohong!" jawabnya tegas.

Diam-diam ada sinar girang dan kagum berpancar keluar dari mata Ang Lian, dan gadis ini berkata agak halus, "Boleh jadi kau tidak membohong, akan tetapi sudah pasti orang itu membohongimu. Mengapa kau tidak mau Mengapa kau tidak mau bilang siapa dia? Di dalam pulau ini mana ada orang lain?"

"Adik Ang Lian, aku... aku tidak bisa mengatakan siapa dia."

"Hemmm, kau agaknya melindungi dia,” Ang Lian berkata marah. "Hayo enci, kita pergi, jangan perdulikan si tolol ini." ia melompat ke dalam perahu, juga Pek Lian naik ke dalam perahu dan mereka mendayung perahu itu ke tengah.

"Tunggu dulu! Aku ikut pulang!"

"Orang sedogol kau lebih baik jalan kaki,” Ang Lian berkata dan mendayung perahu makin cepat.

"Ang Lian... aku tidak tahu ke mana aku harus pergi untuk pulang ke tempat rombongan kita!” Lee Tai mengeluh.

Ang Lian dan Pek Lian tidak menjawab. Lee Tai makin bingung. Akan tetapi akhirnya timbul juga ingatannya bahwa tentu dua orang gadis itupun hendak pulang. Melihat perahu mereka itu menuju ke kanan, iapun melanjutkan perjalanannya karena yakin bahwa tantu di jurusan itu letaknya tempat rombongan mereka. Dalam hal ini memang ia berpikir tepat. Ternyata tempat berkumpulnya rombongan itu hanya lima belas li lebih dari tempat pertemuannya dengan dua orang gadis itu.

********************

Dari manakah dua orang gadis itu? Mereka ini bertugas untuk membawa perahu mengelilingi Pulau Pek-houw-to untuk menjaga dan mengawasi kalau-kalau Liok Kong Ji berusaha minggat dari pulau itu. Dua orang gadis inipun seperti Lee Tai menyimpan sebuah rahasia. Rahasia hati masing-masing. Diam-diam mereka sering kali bercakap-cakap tentang Tiang Bu dan Lee Tai.

Setelah melihat watak dan gerak gerik Lee Tai, biarpun pemuda tampan itu bodoh namun amat jujur dan bernyali besar. Hal ini membuat Ang-Lian yang centil dan lincah itu tertarik hatinya dan ia mengaku terus terang kepada encinya. Sebaliknya, biarpun di hadapan orang lain tak pernah membuka mulut, terhadap adiknya, Pek Lian juga berterus terang bahwa ia jatuh hati kepada Tiang Bu yang gagah perkasa.

Tentu saja berita yang diterima oleh mereka dari Lee Tai itu amat menggelisahkan hati mereka. Pek Lian gelisah sekali karena kalau hal itu betul-betul, Tiang Bu tentu akan dimusuhi oleh Wan Sin Hong dan tokoh-tokoh lain sebagai seorang pengkhianat. Sebaliknya Ang Lian menjadi gelisah karena Lee Tai membawa berita buruk ini.

Setelah tiba di tempat rombongan, Pek Lian dan Ang Lian menemui ayah mereka dan kepada kakek ini mereka bercerita tentang berita buruk yang mereka dengar dari Lee Tai.

Huang-ho San jin terkejut dan kakek ini mengangguk-angeuk. "Sungguh berita ini agak tak masuk di akal, akan tetapi Lee Tai itu boleh dipercaya omongannya. Baiknya bukan dia sendiri yang melihat pertemuan antara Tiang Bu dan Liok Kong Ji, sehingga masih banyak sekali kemungkinan ia mendengar berita bohong. Anehnya, siapakah orang di dalam pulau yang menyampaikan berita itu kepadanya?"

"Mungkin seorang pelayan Liok Kong Ji yang masih berkeliaran dan belum tertangkap," kata Pek Lian.

"Akan tetapi, semua selir dan pelayan sudah kita suruh keluar dari pulau ini dan kita membiarkan mereka membawa harta benda Liok Kong Ji. Andaikata ada seorang pelayan yang masih berkeliaran, mengapa kita tak pernah melihatnya? Padahal kita sudah mencari Liok Kong Ji di seluruh pulau," kata Ang Lian.

Huang-ho Sian jin menepuk nepuk jidatnya. "Betul juga! Orang macam Liok Kong Ji mana kuat hidup menderita, seorang diri bersembunyi dari kejaran kita. Tentu ia sudah berhasil membawa seorang pelayan untuk melayaninya di dalam tempat persembunyian itu. Bagus sekali! Kalau begitu, Lee Tai tentu dapat membawa kita ke tempat persembunyian Liok Kong Ji.”

"Akan tetapi, ayah. Agaknya si dogol itu tidak mau memberi tahu tentang orang yang menyampaikan berita itu kepadanya, lebih baik menanti sampai dia sendiri menyampaikan berita itu kepada Wan-bengcu. Nanti kita baru menyampaikan pandangan ayah ini."

Huang-ho Sian-jin mengangguk-angguk. Kakek ini bermata awas dan sebagai seorang ayah yang sudah usia lanjut dan banyak pengalamannya, tentu saja ia dapat mengetahui hati anak-anaknya. Tanpa diberi tahu oleh siapapun juga, ia tahu babwa Pek Lian jatuh hati kepada Tiang Bu dan bahwa Ang Lian juga tertarik pada Lee Tai. Ia mengerti pula akan maksud ucapan Ang Lian tadi, yaitu agar supaya Ang Lian tidak dianggap mendahului Lee Tai dan melaporkan halnya kepada Wan Sin Hong. Terhadap kedua orang pemuda pilihan dua orang puterinya itu, memang Huan ho Sian-jin sudah penuju sekali, tinggal menanti perantara.

Dengan bersungut-sungut karena tidak dibawa oleh Pek Lian dan Ang Lian, Lee Tai tiba di tempat berkumpulnya rombongan itu. Kedatangannya disambut oleh senyuman Wan Sin Hong yang bertanya,

"Bagaimana hasil penyelidikanmu, Lee Tai?”

Merah muka Lee Tai. "Wan bengcu, biarpun teecu belum bertemu muka dengan Liok Kong Ji, namun teecu membawa berita yang amat penting sekali.”

Pek Lian, dan Ang Lian saling lirik dan Huang-ho Sian-jin menatap wajah pemuda pilihan Ang Lian ini dengan penuh perhatian untuk melihat apakah pemuda ini membohong atau tidak. Akan tetapi wajah yang tampan itu polos saja, sama sekali tidak membayangkan kebohongan. Juga ketika berkata demikian Lee Tai melirik kepada Pek Lian dan Ang Lian. Ia girang juga bahwa ternyata dua orang gadis itu tidak mengadu sesuatu di depan Wan Sin Hong.

“Berita penting apa? Coba ceritakan. Apakah kau melihat jejak Liok Kong Ji?”

"Tidak, Wan bengcu. Hanya aku mendengar dari orang yang tak kukenal bahwa Tian Bu telah mengadakan pertemuan dengan Liok Kong Ji. dan Tiang Bu telah membantu ayahnya bersembunyi. Kalau hendak mengetahui di mana adanya Liok Kong Ji, mudah saja, tanya kepada Tiang Bu dan dia tentu akan dapat memberi tahu, kalau dia tidak melindungi ayabnya!"

Wajah Sin Hong berubah. Berita ini hebat. Seketika itu juga ia meragukan kebenaran berita ini.

"Aku mendengar dari orang lain yang tidak kukenal dan tidak dapat kuceritakan kepada siapupun juga, Wan-bungcu," jawab Lee Tai terus terang sambil menundukkan mukanya.

“Lee Tai, kau jangan berlaku sembrono, dan pikirlah baik-baik. Beritamu ini merupakan dakwaan yang amat berat bagi Tiang Bu. Kalau kau melihat Tiang Bu benar mengadakan sekongkol dengan Kong Ji, melihat dengan mata sendiri, tentu aku percaya dan akan kutanyai Tiang Bu. Akan tetapi mendengar dari orang lain, ini masih meragukan. Apa lagi kau tidak mau menceritakan siapa adanya orang pembawa barita buruk itu. Kalau beritamu itu tidak betul, bukankah berarti menanam permusuhan dengan Tiang Bu?”

Lee Tai diam saja. Terbayang wajah orang sakti itu yang melihat sikap dan kesaktiannya tak mungkin membohong. Dengan berani maka ia lalu berkata. "Berita itu tidak bohong. Biarpun teecu tidak melihat dengan mata sendiri namun teecu menanggung kebenarannya!”

Semua orang melengak, juga Wan Sin Hong. Pendekar ini sudah mengenal watak Lee Tai yang jujur sekali dan tidak pernah membohong, dan melihat sikap pemuda ini, benar-benar mencurigakan.

"Lee Tai, kau kelihatan sudah amat percaya kepada orang itu dan kau melindungi dia, kau tidak mau menceritakan dia itu siapa, sedikitnya kau bisa mengatakan mengapa kau tidak berani mengaku siapa dia.”

"Hal itupun menyesal sekali teecu tidak dapat menceritakan. Yang terpenting adalah tentang Liok Kong Ji. Setelah kita mengetahui bahwa Tiang Bu mengerti tempat sembunyi mengapa kita tidak bertanya kepadanya?”

Sin Hong diam saja, menjadi bingung. Isterinya Siok Li Hwa yang amat cerdik berkata, "Lee Tai tentu telah berjanji kapada orang itu untuk merahasiakan keadaannya. Kalau tidak demikian, tidak nanti Lee Tai bersikap seperti ini. Hemm, menarik sekali orang ini..."

Mendengar ini, Lee Tai makin menundukkan mukanya dan menjawab, “Tepat sekali apa yang dikatakan oleh toanio. Dan bagi Lee Tai, memegang janji lebih berharga dari pada nyawa!”

Huangho Sian-jin berkata keras, "Pertemuan Ciu sicu dengan orang yang membawa berita itu sungguh baik sekali. Menurut dugaanku, orang itu tentulah seorang pelayan dari Liok Kong Ji. Buktinya, ketika kita mengusir semua pelayan, di pulau sudah tidak ada siapa-siapa lagi dan ketika kita mencari-cari Liok Kong Ji, juga tidak melihat seorangpun manusia di pulau. Sekarang muncul orang ini, tentu dia itu pelayan yang dibawa bersembunyi oleh Liok Kong Ji dan sengaja menjual obrolan kosong. Kalau sekarang Ciu-sicu mau membawa kita menemui orang itu dan menangkapnya, tentu kita dapat menemukau Liok Kong Ji!"

“Tidak... tidak...!" Lee Tai capat menjawab. "Tak mungkin dia itu pelayan Liok Kong Ji, tak mungkin! Dan lebih baik aku dipulkul dari pada harus membuka rahasia orang itu.” Setelah berkata demikian, pemuda ini pergi dari situ, menuju ke tempat sunyi di tepi pantai dan duduk di atas batu karang.

Peng Soan tojin, tosu gemuk dari Te lng san pai adalah seorang yang suka akan kejujuran. Ia dapat memaklumi isi hati Lee Tai, maka ia berkata, "Betapapun juga, kira harus menghargai kejujuran Ciu-sicu. Kalau dia bermaksud jelek dengan sikapnya merahasiakan orang itu, tentu dia sama sekali tidak akan bercerita dan kita pun tidak akan tahu akan pertemuannya dengan orang itu. Juga kecurigaannya terhadap Tiang Bu, beralasan. Kita semua sudah mengenal Tiang Bu sebagai seorang pemuda gagah perkasa dan budiman. Bukan tak masuk pada akal apabila dalam pertemuannya dengan Liok Kong Ji hati pemuda itu menjadi lemah dan teringat akan hubungan antara anak dan ayah."

Semua orang berdiam lagi, kata-kata inipun amat beralasan. Akhirnya Wan Sin Hong berkata tenang? "Sukar sekali mengadakan dugaan-dugaan dari sebuah berita yang tidak dilihat sendiri oleh Lee Tai. Karena untuk memaksa Lee Tai juga tidak mungkin, lebih baik kita menanti kembalinya Tiang Bu dan aku sendiri yang akan bertanya kepadanya tentang berita ini."

Menjelang senja, Tiang Bu datang. Semua orang keluar dari tempat istirahat masing-masing dan menyambutnya. Wajah pemuda ini tampak keruh dan muram. Ini tidak mengherankan karena ia masih selalu mengabungi kematian Bi Li dan lebih sedih lagi hatinya karena penyelidikannya sehari penuh itupun tidak membawa hasil. Karena kesedihan hatinya inilah maka ia tidak pandang mata penuh perhatian dari semua orang yang menyambut kedatangannya.

"Tiang Bu, bagaimana hasil penyelidikanmu ? Dapatkah kau menemukan jejak Liok Kong Ji?” tanya Sin Hong.

Tiang Bu menggeleng kepala dengan lemah. "Belum berhasil, pek-pek. Akan tetapi aku akan berusaha terus, biar untuk itu aku harus tinggal selama hidup di pulau. Aku tidak akan berhenti mencari sebelum dapat menemukan iblis itu..."

Tiang Bu masih belum insaf berapa semua mata memandang ke arahnya dengan penuh selidik dan penuh perhatian.

“Tiang Bu, kau tentu tahu bahwa aku menganggap kau bukan orang lain. Ibumu kuanggap sebagai saudara sendiri, juga ayah angkatmu selalu menjadi saudara-saudaraku yang terkasih. Kau seperti keponakan atau anakku sendiri."

Baru sekarang Tiang Bu merasa bahwa tentu ada sesuatu. Ia mendengar suara yang terdengar demikian sungguh-sungguh dan aneh. Ketika mengangkat muka, baru ia melihat betapa semua orang memandangnya dengan sinar mata penuh selidik.

“Oleh karena itu, kuharap kau suka berterus-terang dan jangan menyembunyikan sesuatu dari aku. Apakah benar kau tidak bertemu dengan Liok Kong Ji dan tidak tahu tempat sembunyinya?”

Tiang Bu yang tadinya duduk di atas batu karang, sekarang bangkit berdiri memandang kepada Wan Sin Hong dengan mata penuh pertanyaan. “Wan pek-pek, apa artinya pertanyaan itu? Kalau siauwtit bertemu dengan iblis itu, tentu dia atau siauwtit yang menggeletak tanpa nyawa lagi. Apakah pek-pek mencurigai sesuatu kepadaku? Ada apakah?”

"Tiang Bu, sebetulnya, kami di sini mendengar berita bahwa kau telah berjumpa dengan Liok Kong Ji..."

Hening sejenak. Semua mata memandang Tiang Bu yang menjadi pucat mukanya. Kemudian dengan nada suara penasaran Tiang Bu bertanya. “Dan Wan-pek pek percaya akan berita itu?”

"Belum, karenanya aku sengaja bertanya kepadamu sendiri!”

"Kalau aku berjumpa dengan iblis itu mengapa aku diam saja? Ataukah orang mengira aku bersekongkol dengan dia sengaja menyembunyikan dia? Pek-pek, siapakah orangnya yang menyampaikan berita itu?”

"Tak perlu kami terangkan, Tiang Bu. Kami tidak menduga sesuatu, hanya minta penjelasan darimu apakah betul kau bertemu dengan dia atau tidak,” kata Sin Hong tegas.

“Tidak, Wan-pek-pek. Aku heran...” Tiang Bu memandang ke sekeliling, menatap wajah tiap orang yang hadir di situ untuk sejenak, “mengapa orang menuduhku demikian... mengapa!"

Wan Sin Hong hanya menarik napas panjang, Juga yang lain-lain tidak mengeluarkan suara. Pek Lian menahan matanya yang menjadi panas hendak menitikkan air mata. Ia merasa amat kasihan melihat pemuda gagah yang telah merebut hatinya itu.

"Wan-pek-pek, jawablah. Mengapa orang tidak menaruh kepercayaan kepadaku? Mengapa orang menuduh aku mengadakan pertemuan dengan Liok Kong Ji?"

Sampai lama Sin Hong diam saja, akhirnya ia berkata dengan perlahan. “Agaknya... karena kau putera Liok Kong Ji itulah. Umum menganggap sepantasnya kalau sekiranya kau membantu ayah kandungmu sendiri untuk menyelamatkan diri."

Wajah Tiang Bu pucat sekali. Ia berdiri bengong sampai lama, kemudian ia menundukkan mukanya menyembunyikan dua titik air mata yang melompat keluar. Kemudian ia mengangguk-angguk. “Memang... memang aku anak Liok. Kong Ji... memang aku anak seorang jahat seperti iblis. Ayahnya jahat tentu anaknya jahat pula, seperti... Bi Li. Dia puteri Kwan Kok Sun yang jahat, maka ia tewas... akupun anak orang jahat, patut saja tidak dipercaya... aku telah kotor dan cemar karena menjadi anaknya... tidak seperti kalian...!” Ia mengangkat mukanya dan menatap wajah orang-orang itu dengan mata berkilat. "Kalian anak orang baik-baik, keturunan orang-orang gagah, tentu saja patut dianggap orang gagah! Tak patut orang macam aku dekat dengan dekat dengan kalian, tak patut mendapat kepercayaan kalian! Betapapun juga kita sama lihat saja siapa yang akan mampu membasmi Liok Kong Ji. Biar aku tinggal dalam kerendahanku!” Setelah berkata demikian, ia melompat bangun dan berlari pergi.

"Tiang Bu! Jangan salah paham...!" teriak Sin Hong, akan tetapi Tiang Bu tidak perduli lagi dan berlari terus.

Diam-diam Pek Lian juga berlari mengejar sambil menangis. Hati Pek Lian seperti di iris-iris melihat keadaan orang yang dikasihinya itu. Huang-ho Sian- jin terdengar batuk-batuk.

“Hemm, semua ini gara-gara Ciu Lee Tai. Pemuda dogol itu terlalu percaya orang lain...!”

Mendengar ucapan ayahnya ini, Ang Lian bangkit berdiri dan berjalan pergi tanpa pamit. Hatinya tertusuk dan ia marah sekali kepada Lee Tai yang menjadi gara-gara semua keributan itu. Selain marah, juga ia penasaran mengapa ayahnya mencela Lee Tai.

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

“Coa-taihiap, percayalah bahwa aku tidak menganggap kau sebagai orang jahat. Akulah yang tidak percaya sedikitpun juga bahwa Coa Tiang Bu yang kutahu seorang jantan sejati melakukan pengkhianatan. Harap saja kau suka memaafkan mereka itu karena sesungguhnya merekapun tidak percaya begitu saja akan berita yang terdengar oleh mereka." Kata-kata ini adalah ucapan hiburan yang dikeluarkan oleh Pek Lian kepada Tiang Bu.

Tiang Bu duduk di atas batu karang. Kedua tangannya menutupi mukanya dan ia diam tidak bergerak seperti patung. Pek Lian berdiri didepannya dan gadis ini dengan suara gemetar menyampaikan isi hatinya, dalam usahanya menghibur hati pemuda yang sedang dirundung duka nestapa itu.

Melihat betapa pemuda itu berdiam saja dan tak bergerak seperti patung. Pek Lian menjadi makin kasihan dan juga khawatir. Ia takut kalau-kalau saking sedihnya, pemuda ini mengambil keputusan pendek dan nekat. membunuh diri atau bagaimana! Hatinya seperti diremas-remas dan tanpa disadari tangannya bergerak dan jarinya menyentuh pundak Tiang Bu dengan halus.

"Coa taihiap... harapkan jangan terlalu berduka... orang lain di dunia ini boleh membencimu, akan tetapi aku tidak! Sampai mati aku takkan membencimu, takkan berubah pandanganku terhadapmu, kau seorang yang paling jantan di dunia ini. Taihiap... aku bersedia membantumu dalam segala hal... katakanlah, dapatkah aku membantumu... menghiburmu...?”

Tentu saja Tiang Bu yang sedang terbenam dalam kesedihan itu sejak tadi tahu akan kedatangan Pek Lian, akan tetapi ia tidak perduli, semua ucapan gadis itu tidak dapat mengobati luka di hatinya. Memang Tiang Bu berturut-turut menerima serangan hebat pada hatinya, pertama-tama karena Bi Li, kemudian sangkaan bahwa ia bersekongkol dengan ayahnya yang jahat. Setelah ia lari dari rombongan Wan Sin Hong ia tidak kuat berlari jauh, menjatuhkan diri di atas batu karang di tepi pantai dan menangis seperti anak kecil.

"Bi Li..." bisiknya, "Bi Li... hanya kau seorang yang percaya kepadaku, kau seorang yang menjadi kawanku sejati... sekarang kau pergi meninggalkan aku pula...”

Kemudian datang Pek Lian yang menghiburnya, maka Tiang Bu hanya menutupi mukanya dan semua ucapan Pek Lian tak dapat masuk perhatiannya. Akan tetapi, ucapan terakhir yang dikeluarkan dengan suara tergetar dan mesra, dibarengi sentuhan pada pundaknya, mendatangkan getaran aneh dalam tubuhnya. Seakan-akan Bi Li hidup dan muncul lagi, seakan akan Bi Li yang bicara kepadanya. Hampir dia tidak dapat percaya bahwa ada lain gadis yang bicara kepadanya dengan suara seperti Bi Li. Penuh kasib sayang!

Tak terasa ia mengangkat muka dan menurunkan kedua tangannya. Sinar mata itu seperti sinar mata Bi Li benar, penuh kemesraan dan penuh cinta! Mungkinkah ini? "Pek Lian cici, mengapa... mengapa kau sebaik ini terhadap aku? Mengapa...? tanyanya lembut.

"Karena... bagiku engkaulah orang termulia di dunia ini, taihiap," jawab Pek Lian kedua pipinya merah sekali akan tetapi suaranya mengandung ketetapan hatinya.

"Ya Tuhan... kau... kau suka kepadaku?”

Pek Lian men gangguk. "Kalau saja kau tidak memandang hina kepadaku...”

Tiba-tiba tubuh Tiang Bu bergerak dan tahu-tahu ia telah meloncat sejauh empat tombak lebih dari dekat Pek Lian. “Pek Lian cici... jangan! Jangan kau menambah dosaku, jangan kau menambah beban hidupku! Aku takkan mau mengganggu hati orang lain lagi. Aku... setelah selesai urusan di pulau ini... aku akan bertapa, menjadi seorang pertapa dan selama hidup takkan mencampuri urusan dunia lagi. Aku akan bertapa untuk mencuci noda atas nama keluargaku, yang dikotori oleh manusia she Liok...! Maafkan aku. Pek Lian cici... maafkan!” Dengan suara berubah menjadi isak tertahan, tubuh Tiang Bu berkelebat lenyap dari depan Pek Lian.

Gadis ini berdiri mematung, mukanya pucat sekali. Kemudian ia tersenyum pahit dan menghadap ke arah menghilangnya Tiang Bu, berkata keras. “Tiang Bu, akupun bersumpah takkan menikah dengan orang lain dan mulai saat ini aku Pek Lian menjadi seorang pendeta!" ia mengeluarkan pedangnya dan... membabat habis rambut kepalanya yang hitam, halus dan panjang itu! Setelah itu. Pek Lian lari ke pinggir pantai di mana ia menaruh perahunya dan meloncat ke dalam perahu, terus mendayungnya perahu itu pergi dari Pulau Pek-houw-to.

Ang Lian tampak berlari-lari di tepi pantai sambil bersungut-sungut. “Dasar tolol tetap tolol!” gerutunya berkali-kali. Tiba-tiba ia melihat perahu yang didayung pergi oleh Pek Lian, "Pek cici, kau kemanakah?" teriaknya heran melihat cicinya itu mendayung pergi menjauhi pulau.

Pek Lian menengok dan kagetlah Ang Lian melihat cicinya itu kepalanya telah hampir gundul. Hanya tinggal sedikit rambutnya, pendek saja.

“Ang-moi, aku hendak pergi dulu, sampaikan hormatku kepada ayah!" hanya demikian Pek Lian berseru dan sebentar saja perahunya jauh meninggalkan pulau.

Tentu saja Ang Lian menjadi keheran-heran dan gelisah, Cepat ia berlari memberitahukan hal ini kepada ayahnya. Huang-ho Sian-jin mengerutkan kening. Memang semenjak kecil Pek Lian memiliki watak yang aneh. Baru pakaiannya saja selalu mengenakan pakaian pria, orangnya pendiam, hatinya sukar dijajaki. Tidak seperti Ang Lian yang genit, lincah dan jujur.

“Kalau dia hendak pergi dulu, biarlah. Tentang dia mamotong rambut, hemm, kita lihat saja nanti, tentu ada sebabnya.”

Ang Lian termenuug mendengar ucapan ayahnya ini. Tentu ada hubungan dengan Tiang Bu pikirnya”. Mungkinkah cicinya menjadi korban asmara? Ia teringat akan keadaan diri sendiri dengan Lee Tai. Tadi sebelum melihat perahu Pek Lian, ia baru saja meninggalkan Lee Tai dengan marah dan gemas. Ia sengaja mencari Lee Tai untuk menegurnya tentang gara-gara yang ditimbulkan si dogol itu tentang Tiang Bu. Ia mendapatkan Lee Tai berada di dekat pantai seorang diri, sedang berlatih silat dengan goloknya. Akan tetapi gerakan goloknya itu lucu dan canggung, lebih menyerupai gerakan pedang, maka banyak gerakan menusuk daripada membacok berlawanan dengan ilmu golok.

Melihat Ang Lian datang, si dogol gembira dan menghentikan permainan, berkata senyum lebar di bibir. “Adik Ang Lian, kau lihat. Aku tekun berlatih silat untuk merobohkan si laknat Liok Kong Ji.”

Ang Lian menjebikan bibirnya yang merah. "Lee Tai, belum juga kau memenuhi syarat-syaratku mengalahkan Liok Kong Ji, kau sudah mengecewakan hatiku."

“Aku mengecewakan kau? Lho, apa salahku. manis?"

"Hussh, bicara jangan seperti orang gila! Kau mendatangkan keributan dengan berita busukmu tentang Tiang Bu. Apa otakmu sudah miring? Lee Tai, aku sendiri tidak pernah akan dapat memaafkan kau kalau kau memfitnah Tiang Bu secara pengecut dan curang. Betulkah kau tidak bohong tentang Tiang Bu?”

Muka Lee Tai menjadi sungguh-sungguh. “Biar aku mampus disambar geledek kalau aku membobong, Ang Lian. Berita itu memang betul, aku mendengar dengan kedua telingaku seadiri.”

“Tidak kau lihat dengan kedua mata sendiri...?"

“Tidak, akan tetapi betul-betul kudengarkan dengan kedua telingaku ini," jawabnya sambil menjewer kedua telinganya.

“Siapa itu orangnya yang begitu kau percaya?” Ang Lian memancing. Gadis itu berusaha supaya Lee Tai mengaku agar ia dapat memindahkan kesalahan pemuda ini kepada sumber berita. Akan tetapi Lee Tai tentu saja tidak mengerti akan usaha gadis yang hendak menolongnya ini.

"Hal ini... tak dapat kuceritakan, Ang-Lian...“

Ang Lian menjadi marah dan membanting-banting kakinya. "Kepada akupun kau tidak mau mengalah?”

Lee Tai menarik napas panjang dan kelihatan sedih sekali. “Apa boleh buat, biarpun untuk kau aku sanggup terjun ke laut api, akan tetapi, aku telah bersumpah takkan membuka rahasia orang itu dan biar kau pukul mati padaku, aku tak dapat mengaku, Ang Lian.”

“Kau... kau tolol!” Ang Lian marah-marah dan membalikkan tubuh terus pergi berlari-lari. Hatinya mendongkol sekali biar pun pada dasar hatinya terdapat rasa kagum kepada pemuda yang setia ini. Kegelisahannya karena Lee Tai merupakan biang keladi gara-garanyalah yang membuat ia merasa gemas bahwa pemuda itu tetap tidak mau mengaku dari siapa ia mendengar berita buruk itu. Akhirnya seperti diceritakan di atas, dalam berlari-lari ini ia malihat Pek Lian yang mendayung perahu pergi dari Pulau Pek-houw-to.

Lee Tai juga berduka sekali. Orang-orang lain boleh marah kepadanya, akan tetapi kalau Ang Lian yang marah, ini hebat! Saking sedih dan bingungnya, pemuda ini tidak mau pulang ke tempat rombongan, melainkan terus sampai malam tinggal di tepi pantai itu dan melatih ilmu pedang dari kitab Soat-lian-kiam-coan-si. Dengan tekun ia mempelajari isi kitab dan saban-saban bermain silat untuk mempraktekkan pelajaran itu.

Pemandangan malam itu indah sekali. Bulan yang besar, merah, dan bundar timbul dari permukaan air laut sebelah timur. Bukan main indah dan megahnya alam di waktu itu. Cahaya bulan merah di atas air benar-benar menakjubkan dan sukarlah dilukiskan betapa indahnya bulan timbul di permukaan air ini. Hanya parenung-perenung yang berperasaan halus kiranya akan dapat menangkap keindahan ini.

Akan tetapi Lee Tai sama sekali tidak dapat merasakan keindahan alam itu. Menengok pun tidak. Ia hanya girang karena ada cahaya bulan sehingga ia dapat membaca huruf dalam kitab ilmu pedang itu. Setelah meneliti bunyi huruf-huruf dalam kitab, ia lalu melakukan gerakannya, membaca lagi, bersilat lagi. Demikian berulang-ulang ia melatih diri dengan amat tekunnya karena pemuda ini memang berhasrat besar untuk segera menguasai ilmu silat ini untuk merohohkan penjahat besar Liok Kong Ji!

Demikian asyik ia berlatih sampai-sampai ia tidak sadar bahwa semenjak tadi ada sepasang mata tajam mengintai dan memperhatikan gerak geriknya dengan penuh perhatian. Pengintai ini adalah Tiang Bu. Pemuda ini tanpa mengenal lelah mencari Liok Kong Ji untuk membalas dendamnya yang bertumpuk-tumpuk. Bahkan ia mendapat dugaan bahwa fitnahan yang orang-orang jatuhkan kapadanya, bahwa dia bersekongkol dengan Li ok Kong Ji, tentulah juga hasil muslihat orang jahat yang amat licin itu. Entah bagaimana jalannya, tentu Liok Kong Ji yang menjadi biang keladi sehingga dia difitnah dan dibenci orang. Ia dapat menduga pula bahwa hal ini direncanakan oleh Liok Kong Ji dengan maksud memecah belah fihak musuh. Tipu muslihat yang licin dan licik sekali.

Ketika melihat Ciu Lee Tai, ia hanya memandang sepintas lalu dengan acuh tak acuh. Pemuda itu tidak ada artinya baginya dan dalam keadaan seperti itu, ia tidak ada nafsu untuk bertemu dengan anggauta rombongan. Akan tetapi selagi ia hendak pergi mengambil jalan lain pandang matanya tertarik sekali oleh gerakan golok dan kaki pemuda yang sedang berlatih silat ini. Gerakan-gerakan itu amat dikenalnya karena mengandung dasar ilmu silat Omei-san! Ia menunda maksudnya meninggalkan Lee Tai, sebaliknya diam-diam ia menyelinap dan menghampiri lalu mengintai dari balik batang pohon.

Alangkah kagetnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa betul-betul pemuda dogol itu sedang berlatih Ilmu Pedang Soat Kiam hoat dari Omei-san! Di samping kekagetannya, ia juga merasa heran bukan main. Akan tetapi semua perasaan ini berubah menjadi kemarahan ketika ia melihat Lee Tai mengeluarkan sebuah kitab dan mambaca kitab ilmu silat itu di bawah penerangan bulan. Sekilas pandang saja Tiang Bu mengenal kitab dari Omei-san itu. Ia tidak dapat menduga dari mana Lee Tai mendapatkan kitab itu akan tetapi ia tidak perduli. Siapa yang mempunyai kitab Omei-san, berarti musuhnya dan kitab itu harus dirampasnya kembali, sesuai dengan perintah suhu-suhunya ketika hendak menutup mata. Cepat ia melompat dan membentak,

"Dari mana kauperole h kitab itu?”

Bukan alang kepalang kagetnya Lee Tai mendengar bentakan ini dan melihat orang tiba-tiba melompat keluar. Akan tetapi ketika Lee Tai melihat bahwa yang muncul adalah Tiang Bu, ia teringat akan pesan orang sakti pemberi kitab bahwa ia harus berhati-hati terhadap Tiang Bu karena pemuda itu suka merampas kitab orang lain. Maka ia cepat menjauh sambil menyimpan kitabnya.

“Kau anak iblis perduli apakah?”

Tiang Bu marah sekali. “Berikan kitab itu!”

Lee Tai juga marah. Cocok benar kata-kata orang sakti itu, pikirnya. Begitu berjumpa Tiang Bu sudah hendak merampas kitab. Ia lihai, lebih baik aku mendahuluinya. Tanpa banyak cakap lagi Lee Tai membacokkan goloknya ke arah leher Tiang Bu. Ia bertenaga besar dan gerakan goloknya cepat. Serangannya itu bukan serangan ringan, dan amat berbahaya bagi lawannya. Akan tetapi ia menghadapi Tiang Bu dan lebih hebat lagi, Tiang Bu sedang marah. Sekali Tiang Bu mengulur tangan memapaki goloknya, golok itu sudah terpukul dari samping dan terpental lepas dari tangan Lee Tai!

Sebelum Lee Tai sempat menyembunyikan kitabnya. Tiang Bu yang marah itu sudah melompat dan menerkamnya dengan tangan kiri menyampuk tangan kanan Lee Tai sehingga kitab Soat lian-kiam-coan-si terlempar, jari tangan kanannya menyambar dengan totokan istimewa ke arah pundak Lee Tai. Si dogol merintih lemah dan roboh dengan tubuh lemas tak berdaya, lumpuh dari kepala sampai ke kaki.

Tiang Bu mengambil kitab itu dan mendapat kenyataan bahwa itulah kitab Soat-lian-kiam-coan-si, sebuah di antara kitab-kitab Omei-san yang lenyap dicuri orang ketika Omei-san diserbu beramai-ramai oleh orang-orang kang-ouw. Ia menyimpan kitab itu di dalam saku bajunya dan hendak meninggalkan Lee Tai. Akan tetapi ia teringat bahwa Lee Tai adalah anggauta rombongan. Akan tidak enak sekali terhadap Wan Sin Hong kalau ia morobohkan Lee Tai tanpa mengakui alasan-alasannya. Pula keadaan pemuda ini mencurigakan sekali. Bagaimana kitab Omei-san itu bisa terjatuh ke dalam tangannya. Dan mengapa pemuda ini mengasingkan diri dari rombongan untuk mempelajari kitab secara diam-diam?

Pikiran ini membuat ia tanpa ragu lagi menyambar tubuh Lee Tai yang sudah seperti kain lapuk lemasnya, mengempit tubuh itu dan membawanya lari ke tempat rombongan berkumpul. Kedatangannya disambut oleh rombongan dengan penuh pertanyaan dalam pandang masa mereka. Ang Lian lari maju ketika melihat Lee Tai dikempit oleh Tiang Bu. Gadis ini merasa khawatir melihat keadaan Lee Tei yang sudah seperti orang tak bertulang itu. Ia me ngira bahwa Lee Tai sudah bertempur melawan Liok Kong Ji dan dikalahkan.

"Apa dia dilukai oleh Liok Kong Ji?” tanya Ang Lian.

Melihat Ang Lian, Tiang Bu teringat kepada Pek Lian dan menjadi tidak enak sekali. Ia hanya menggeleng kepala dan hatinya agak lega ketika melihat ke kanan kiri, ia tidak melihat gadis berpakaian pria itu. Dengan langkah lebar ia menghampiri Wan Sin Hong yang berdiri tegak sambil memandangnya penuh perhatian. Di depan Wan Sin Hong, Tiang Bu melepaskan tubuh Lee Tai yang masih segar namun tak dapat bergerak itu.

“Dia kenapa, Tiang Bu?” tanya Sin Hong, matanya tajam memandang.

"Maaf, Wan pek-pek. Aku melibat dia berlatih ilmu Omei-san dan melihat pula dia membawa-bawa kitab ini.” Tiang Bu mengeluarkan kitab Soan-lian-kiam-coan-si dari sakunya. “Ketika kutegur, dia menyerang. Terpaksa aku merobohkannya dan merampas kitabnya. Tentu pek-pek tahu akan tugas siau-tit, siapa yang membawa kitab Omei-san dialah musuh, dan kitab Omei-san harus kurampas kembali. Sekarang terserah kepada pek-pek.”

Cepat Tiang Bu menggerakkan tangan dan dalam sekejap mata Lee Tai terbebas dari totokan. Pemuda dogol ini merayap bangun dan mengeluh perlahan. Wan Sin Hong menerima kitab itu, memeriksanya dan keningnya berkerut. Tanpa diketahui oleh orang lain karena pendekar ini pandai sekali menekan perasaannya, di dalam hati ia terkejut bukan main. Bagaimana Lee Tai bisa mendapatkan kitab Omei-san? Dari siapakah mendapatkannya?

“Lee Tai! Sekarang kau harus bicara terus terang, sesuai dengan kejujuranmu. Darimana kau mendapatkan kitab ini?" tegurnya, suaranya keren berpengaruh.

Lee Tai sudah merayap bangun dan berdiri dengan kepala menunduk, sikapnya mendatangkan rasa kasihan dalam hati Ang Lian. Mendengar bentakan Wan Sin Hong ini, ia menjawab lirih.

"Wan-bengcu, teecu mendapat kannya dari lo-cianpwe itu…”

“Locianpwe yang mana?” hati Sin Hong makin tidak enak karena ia sudah hampir dapat menduganya. Kekhawatirannya terbukti ketika pemuda itu menjawab

"Locian pwe yang teecu jumpai...”

“Aha Kau maksudkan orang yang berjumpa denganmu, yang bercerita sepadamu akan persekutuan Tiang Bu dengan Liok Kong Ji?”

Dengan muka merah Lee Tai mengangguk. Sekarang tahulah Tiang Bu bahwa yang membawa berita yang memfitnahnya itu bukan lain adalah Ciu Lee Tai inilah! Ia menggigit bibir menahan kegemasan hatinya. Ingin ia menampar muka pemuda dogol itu.

"Dan selain menceritakan berita itu iapun memberi hadiah kepadamu kitab ilmu pedang ini?" tanya pula Sin Hong mendesak.

"Dia berkasihan kepada teecu memberikan kitab Ilmu pedang agar teecu dapat mengalahkan Liok Kong Ji. Teeeu ingin sekali merobohkan Liok Kong Ji dengan kedua tangan teecu sendiri, Wan-bengcu."

Lee Tai melirik ke arah Ang Lian yang memandang dengan hati tidak karuan. Ada rasa mendongkol, gemas, dan juga girang. Untuk kesekian kalinya, pemuda dogol ini membuktikan kesetiaan dan cinta kasih kepadanya.

Mendengar ini, Wan Sin Hong membanting kakinya. "Bodoh betul! Kalau begitu, orang itu adalah Liok Kong Ji...!"

Lee Tai terkejut sekali seperti disambar petir. “Tidak mungkin...” bantahnya perlahan.

"Bukankah dia itu lebih tua sedikit dari pada aku, bertubuh kurus tinggi, pakaiannya mewah, jenggotnya sedikit dan meruncing, matanya mengandung sinar aneh?"

Makin pucat muka Lee Tai mendengar ini dan ia hanya bisa mengangguk-angguk, bingung dan takut.

"Betul Liok Kong Ji orang itu" Sin Hong berseru, "Lee Tai, kau telah tertipu oleh Liok Kong Ji yang menyebar berita perpecahan melalui kau dan telah menyuapmu dengan kitab ilmu pedang. Lee Tai, sekarang kau harus memberi tahu di mana tempat sembunyinya penjahat itu...”

Thanks for reading Tangan Gledek Jilid 52 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »