Social Items

Tangan Gledek Jilid 41

MENDENGAR ini, Pak-kek Sam-kui pertama menggereng marah dan mereka mulai menyerang. Ci Kui pertama menyerang kakaknya, demikian pula Ang Bouw dan Ang Louw. Pertempuran hebat terjadi, pertempuran aneh antara orang-orang kembar yan g aneh!

Memang membingungkan sekali melihat pertempuran antara orang-orang ganjil itu. Sabenarnya, tiga orang yang biasa disebut Pak-kek sam-kui yaitu yang sekarang menjadi Pak-kek Sam-kui pertama, adalah adik-adik kembar dari Pak kek Sam kui ke dua. Mereka adalah tiga pasang orang kembar dari daerah Mongol yang semenjak kecil menjadi sahabat.

Kemudian setelah mereka dewasa, mereka terpisah, merupakan dua kolompok. Yang tua melanjutkan ilmu mereka, menyembunyikan diri di gunung sedangkan yang muda. yaitu Pak-kek Sam-kui yang sudah banyak dikenal, membantu perjuangan Temu Cin atau Jengis Khan. Seperti telah dituturkan di bagian depan, Pak-kek Sam-kui ini terpikat oleh Li Kong Ji dan menjadi kaki tangannya.

Ketika saudara saudara tua mereka mendengar akan penyelewengan adik-adiknya ini mereka turun gunung, membantu Jengis Khan kemudian mereka menuju ke selatan untuk mencari adik-adik mereka yang mengikuti Li Kong Ji. Tidak mengherankan apabila kepandaian mereka lebih tinggi dari pada Pak-kek Sam-kui yang sudah dikenal Lie Kong.

Sekarang dapat menduga pula akan hal itu setelah mendengar percakapan tadi. Yang menggirangkan hatinya adalah berita tentang tempat tinggal Liok Kong Ji, akan tetapi berbareng juga membuatnya tidak mengerti. Ia sedang berusaha mencari Ui tiok lim tempat tinggal Liok Kong Ji untuk mencari kembali kitab Omei-san yang dirampas oleh dua orang gadis Ui-tiok-lim dari tangan Ceng Ceng. Mengapa sekarang Liok Kong Ji sudah ke Pek-houw-to?

Ketika ia memandang ke arah pertempuran, mudah saja ia menduga bahwa tak lama lagi Pak kek Sam-kui yang muda akan kalah. Pertempuran itu memang hebat, dilakukan dengan tangan kosong saja akan tetapi angin pukulan mereka membuat batang pohon bergoyang-goyang dan daun-daun rontok semua seperti ada enam ekor gajah mengamuk. Betul saja dugaannya, hampir berbareng tiga orang Pak-kek Sam-kui yang muda terpukul roboh dan pingsan. Masing-masing mengangkat adik sendiri, memanggulnya dan tanpa menoleh lalu lari pergi dari situ.

“Sam-bengcu, tunggu!" teriak Lie Kong sambil melompat mengejar. "Hendak kutanya sedikit, bukankah Liok Kong Ji berada di Ui tiok-lim? Mengapa sam-wi tadi mengatakan dia sudah pindah ke Pek-houw to?”

Si jangkung gundul yang memanggul tubuh Ci Kui menengok dan berkata, “Kami juga tadinya menyusul ke Ui-tiok-lim, ternyata di sana sudah rusak, dihancurkan oleh seorang pemuda perkasa bernama Tiang Bu. Sekarang Liok Kong Ji dan Cun Gi Tosu berada di Pek-houw-to, kedudukan mereka lebih kuat lagi!" Setelah berkata de mikian, bersama kawan-kawannya ia lari cepat sekali, sebentar saja sudah lenyap dari situ.

Lie Kong menarik napas panjang dan berkata kepada isterinya, "Benar benar banyak sekali orang pandai di dunia ini. Baiknya tiga orang saudara tua Pak-kek Sam kui itu tergolong orang orang baik, kalau mereka jahat seperti adik-adiknya, entah siapa yang dapat menghadapi mereka. Sekarang kita sudah tahu bahwa Liok Kong Ji berada di Pek houw to, tentu kitab Pat-sian-jut-bun juga ia bawa ke sana. Kita menanti kembalinya Ceng Ceng, kemudian kita harus mengejar ke Pek-houw to."

Suami isteri ini lalu kembali ke perahu mereka di Telaga Po-yang. Alangkah kaget dan girang hati mereka me lihat Ceng Ceng sudah tiba di situ, kudanya ditambatkan di pinggir telaga dan gadis itu sendiri duduk melamun di atas dek perahu.

"Ceng Ceng...!” ibunya berseru girang.

“Ayah...! Ibu...!" seru gadis itu, sadar dari lamunannya.

Setelah bertemu dengan ayah bundanya, Ceng Ceng mendapatkan kembali kelincahannya dan sebentar saja ia sudah sibuk manceritakan pengalaman perjalanannya kepada ayah bundanya. Diceritakannya keindahan alam yang dilihatnya di Tapie-san, tentang para petani dan tentang bagaimana ia membantu anak petani menangkap burung. Akhirnya ia berkata tentang Cui Kong setelah bicara tentang hal yang sepele-sepele,

"Ayah, Aku bertemu dengan seorang pemuda dan aku... aku kalah bertanding ilmu silat olehnya."

"Mengapa kau bertempur dengan orang?” kontan ayahnya menegur.

“Dia mengalahkanmu! Waah, tentu dia lihai sekali”. Siapa pemuda itu? Agaknya kau kagum padanya," komentar Ibunya. Memang wanita lebih tajam perasaannya dalam hal ini.

Ceng Ceng sekaligus menjawab pertanyaan ayah dan ibunya, “Aku salah kira, tadinya ia kusangka pencuri kudaku, tidak tahunya dia malah yang merampas kembali kudaku dari tangan pencuri. Dengan singkat dia menceri takan pengalamannya tentang kuda yang dicuri orang pada malam hari, lalu tentang pertemuannya dengan Cui Kong.

"Kami bertempur, mula-mula dengan senjata lalu bertangan kosong. Akan tetapi dua kali aku kalah. Dia she Kwee seorang yatim piatu...”

“Eh. eh. alangkah tak patutnya kau sampai berkenalan dengan orang asing!” tegur Lie Kong.

“Habis dia memperkenalkan diri, masa aku harus menutupi kedua telingaku," bantah Ceng Ceng manja. "Dia... dia bilang mau datang ke sini... mau berjumpa dengan ayah ibu...” Sampai di sini muka gadis itu menjadi merah sekali dan ia berlari memasuki kamarnya sambil berkata, “Ayah, aku lelah sekali hendak me ngaso."

Lie Kong saling pandang dengan isterinya, lalu keduanya mengangguk-angguk maklum. "Bagaimanapun juga, kita harus berlaku hati-hali dalam memilih calon jodohnya," kata Lie Kong dan untuk ini isterinya setuju.

Pada keesokan harinya, Cui Kong sudah tiba di tepi Telaga Po-yang karena ia telah me lakukan perjalanan cepat sekali. Banyak terdapat perahu-perahu besar di telaga yang luas itu. Akan tetapi tidak sukar untuk mencari perahu yang dimaksudkan oleh Ceng Ceng. Dari tepi pantai ia sudah melihat dua ekor burung, yang seekor hinggap di at ap perahu, yang seekor lagi beterbangan di atap perahu, berputaran. Burung-burung yang indah dan besar.

Berdebar hati Cui Kong. Ia sudah mendengar nama besar Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong, yang berilmu tinggi, juga kabarnya Lie adalah seorang pendekar wanita yang lihai. Ia tahu pula bahwa ayahnya tidak cocok dengan suami isteri pendekar ini dan bahwa dahulu ketika beramai-ramai menyerbu ke Omei-san suami isteri inipun mendapatkan sebuah kitab yang akhirnya terjatuh ke tangan ayah angkatnya. Ia harus berlaku hati-hati dan pandai beraksi.

Disewanya sebuah perahu kecil dan didayungnya perahu itu ke tengah telaga, mehampiri perahu cat putih yang kelihatannya tidak ada penghuninya. Akan tetapi setelah perahu kecilnya mendekati perahu besar cat putih itu, tiba-tiba terdengar suara bersuit dan burung pek thouw tiauw yang yadinya enak enak melengut di atas atap perahu mengulur kepala dan memandang ke arah perahu kecil kemudian ia terbang menyambar menyerang Cui Kong dengan ganasnya!

Cui Kong adalah seorang cerdik. ia dapat menduga bahwa perbuatan burung ini tentu ada yang mengaturnya. Kalau burung itu memang liar dan menyerang semua orang asing, sudah tentu telaga itu takkan aman. Setiap orang tentu akan diserang burung ini dan sebentar saja telaga itu akan kosong ditinggal pergi para pengunjung. Jadi jelas bahwa burung ini tentu ada yang meme rintah maka menyerangnya. Dan justeru dia yang diserang!

Pasti orang yang menyuruhnya itu hendak nenguji sepandaiannya. Dia tadi sudah mendengar suitan nyaring sebagai tanda, Ceng Ceng kah gerangan yang menyuruh burung itu menyerangnya? Tak mungkin, Gadis itu "ada hati" kepadanya, tak mungkin hendak mencelakainya dan untuk coba-coba, gedis itu sudah cukup tahu akan kepandaiannya. Tak bisa salah lagi, pikirnya, tentu pemilik burung itu, Pek-thouw-tiauw-ong sendiri atau isterinya yang menyuruh burung rajawali ini menyerangnya. Dan ini-pun tidak mungkin kalau tidak ada sebabnya. Pek-thouw.tiauw-ong dan isterinya belum mengenalnya, mengapa turun tangan?

Jawaban satu satunya, cukup mudah, tentu Ceng Ceng sudah menceritakan hal dirinya kepada ayah bundanya dan sekarang begitu tiba ia diuji oleh ayah gadis itu yang ingin melihat sendiri sampai di mana ke lihaian pemuda yang dibicarakan oleh anaknya!

Cui Kong memikirkan ini semua sambil mengelak. Sedikit saja miringkan tubuh patukan dan cakaran burung itu mengenai tempat kosong. Lewatnya tubuh burung besar itu membawa angin yang cukup santer, membuat ikat kepala Cui Kong berkibar-kibar.

Memang dugaan Cui Kong tepat sekali. Di balik dinding balik perahu, Lie Kong, isterinya dan Ceng Ceng mengintai ke luar dan tad Lie Kong yang memberi aba-aba kepada burung rajawalinya untuk "mencoba” kepandaia pemuda yang ditunjuk oleh puterinya. Melihat betapa mudahnya Cui Kong menghindarkan sambaran burungnya, kembali Lie Kong bersuit lebih keras. Sekarang tidak saja burung betina yang tadi menyerang pula, bahkan burung jantan yang beterbangan di atas ikut pula men yambar dan mengepung Cui Kong.

Cui Kong terkejut. Ia maklum bahwa burung itu kuat bukan main dan sekali kena disamhar, buarpun ia depat mengebalkan diri dan tidak terluka, akan tetapi ada bahayanya, ia akan terlempar dari perahu dan jatuh ke dalam air telaga! Tentu saja dengan pukulan tin-san-kang ia dapat memukul mampus dua burung itu, akan tetapi inipun tidak baik. Kalau ia membikin mati burung-burung kesayangan orang tua Ceng Ceng. Bukankah berarti ia akan mengecewakan dan membikin marah Pek-thouw tiauw ong Lie Kong? Kalau terjadi demikian, mana ada harapan baginya untuk meminang gadis itu?

Pada saat yang kritis ini, Cui Kong mendapat pikiran baik. Perahu itu adalah perahu nelayan dan di pojok perahu terdapat sebuah jala ikan. Cepat ia menyambar jala itu dan begitu dua ekor burung menyambar dekat, ia menggetarkan jala ikan ke atas memapaki. Jala itu milik seorang nelayan miskin, sudah robes-robek dan butut. Akan tetapi di dalam tangan Cui Kong yang memiliki lweekang tinggi, jala itu rupakan senjata hebat.

Sekali lempar saja ia telah berhasil menangkap dua ekor burung itu ia dalam jala. Cepat ia memutar-mutar jala itu sehingga tubuh dan kaki dua pek-thouw-tiauw itu tergubat sama sekali. Dua ekor burung itu meronta kuat, namun Cui Kong lebih kuat lagi. Dengan tenang Cui Kong lalu mengge njot tubuhnya dan melompat ke atas dek, jala terbuka dan dua ekor burung tadi terbang tinggi sambil berteriak-teriak ketakutan!

Lie Kong dan isterinya kagum sekali. Kini mereka percaya bahwa pemuda ini memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari pada Ceng Ceng. Cara yang dipergunakan untuk menghadapi dua ekor burung pek thouw-tiauw tadi saja sekaligus telah membuktikan adanya kecerdikan, kegesitan dan tenaga lweekang yang mengagumkan.

Muncullah Lie Kong den Souw Cui Eng dari dalam bilik perahu, diikuti oleh Ceng Ceng yang menundukkan muka kemalu-maluan dan mengerling dengan ekor matanya ke arah Cui Kong. Pemuda itu cepat-cepat menjatuhkan berlutut di depan Pek thouw-tiauw ong Lie Kong dan isterinya sambil berkata,

"Mohon locianpwe yang budiman sudi memaafkan boanpwe yang berlaku lancang. Tanpa diundang boanpwe Kwee Cui Kong berani lancang naik ke perabu Lo cianpwe, tidak lain oleh karena di tengah jalan boanpwe mendapat kehormatan bertemu dengan puteri locianpwe yang terhormat. Boanpwe sudah berjanji hendak datang ke sini menghadap locianpwe berdua."

Sow Cui Eng berseri girang melihat sikap yang amat sopan santun dan merendah dari pemuda ini. Benar-benar seorang pemuda yang pandai membawa diri, tepat sekali menjadi mantuku, pikirnya. Akan telapi Lie Kong mengerutkan alisnya. Hatinya tak senang melihat sikap berlebih-lebihan dan agak menjilat dari pemuda ini. Bukan sikap seorang gagah, pikirnya. Akan tetapi oleh karena orang sudah berlutut, tidak baik kalau tidak disambut. Ia lalu membungkuk dan berkata,

"Orang muda, jangan terlalu sungkan, bangunlah." Dipegangnya kedua pundak Cui Kong untuk ditarik bangun sambil dikerahkan sedikit tenaganya.

Merasa betapa dua tangan itu mengenai pundaknya seperti bukit karang menindihnya, Cui Kong cepat-cepat mengerahkan lweekangnya menahan sehingga Lie Kong memegang pundak yang lunak seperti tidak bertulang. Pek-thouw- tiauw-ong mengangpuk-angguk. Diam-diam ia agak terkejut karena dari sentuhan ini ia dapat menaksir babwa tenaga lweekang pemuda ini sudah hampir mengimbanginya.

"Bangunlah, aku sudah tahu akan kepandaianma yang tinggi.”

Setelah Cui Kong bangkit berdiri, kembali Lie Kong mengerutkan keningnya. Sepasang mata pemuda ini benar-benar tidak me nyenagkan perasaan batinya. Mata yang tajam liar, mengsndung sesuatu yang mangerikan seperti bukan mata manusia. Mata Ibl is! Sabaliknya, Souw Cui Eng memandang kagum kepada pemuda ini. Dia juga tahu betapa suaminya telah mencoba tenaga pemuda yang agaknya menjadi pilihan hati puterinya.

"Sekarang katakan apa kehendakmu mengunjungi kami," tanya Lie Kong, suaranya dingin dan tenang.

Hati Cui Kong berdebar. Suara ini nadanya tidak memberi banyak harapan, akan tetapi ia dapat menenteramkan hatinya, menarik napas panjang lalu berkata, "Maafkan, boanseng yang berani mati menghadap locianpwe mengandung maksud hati. Bososeng sudah bertemu dengan puteri locianpwe, tak disengaja mencoba kepandaian dan boanseng menganggap di dunia ini tidak ada gadis yang lebih sampurna dari pada puteri loeianpwe. Oleh karena itu, melupakan kerendahan diri sendiri, bounseng datang untuk mohon tangan puteri lo cianpwe...“

"Hemm, orang muda berani mati! Mana ada aturan orang meminang sendiri?” bentak Lie Kong.

“Boanpwe seorang yatim piatu, hidup sebatangkara di atas dunia tiada sanak kadang. siapa yang sudi menjadi wali boanpwe?”

“Menilik gerakanmu tadi, kau seorang ahli waris kepandaian dari utara, siapa gurumu dan mengapa gurumu tidak mewakilimu mengajukan pinangan?"

Cui Kong terkejut. Alangkah tajam pemandangan pendekar ini. Ketika ia mainkan dua ekor pek thouw tiauw tadi, ternyata pendekar ini sudah dapat melihatnya bahwa ia mewarisi ilmu silat utara. “Memang sesungguhnya boanpwe adalah murid seorang tosu perantau di perbatasan utara dan sekarang suhu telah meninggal dunia. Oleh karena tidak mempunyai wali lain, terpaksa boanpwe memberanikan diri menghadap locianpwe,” jawabnya sedih sekali. Ia dapat mengatur suaranya demikian berduka sehingga Ceng Ceng dan ibunya merasa terharu.

Akan tetapi Lie Kong memandang tajam penuh selidik ke arah pemuda di depannya itu, kemudian ia berkata, suaranya tetap tenang akan tetapi dingin dan berpengaruh, “Orang muda, tidak gampang mendapatkan tangan puteri tunggal kami secara begitu saja. Kepandaianmu memang memenuhi syarat, cukup tinggi. Akan tetapi kepandaian tidak akan ada artinya kalau orang tidak dapat mempergunakannya untuk maksud baik. Sekarang dangarlah syarat kami. Kami telah kehilangan sebuah kitab pelajaran ilmu Silat Pat-siat-jut-bun. Kitab itu dicuri oleh dua orang perempuan jahat dari Ui-tiok-lim, sarang penjahat iblis Liok Kong Ji. Kalau kau bisa merampas kembali kitab itu dan memberikannya kepada kami, nah, permintaanmu akan dapat kami pertimbangkan."

Mendengar ini, berseri wajah Cui Kong. Kalau hanya itu syaratnya, apa sih sukarnya? Kitab pelajaran Pat sian-jut-bun telah berada di tangan ayahnya, dan bukan hal yang sukar baginya untuk mencurinya. “Baiklah, lo cianpwe. Boanpwe sanggup dan paling lama dalam waktu satu bulan kitab itu pasti akan boanpwe haturkan di depan locianpwe. Selamat tinggal, boanpwe bermohon diri.”

Setelah berkata demikian, Cui Kong memberi hormat kepada Lie Kong suami isteri, mengerling diiringi senyum manis kepada Ceng Ceng, kemudian dengan sigapnya ia meloncat ke atas perahu kecilnya yang masih tarapung-apung tak jauh dari situ. Ini saja sudah membuktikan kelihaiannya. Perahu kecilnya terpisah empat tombak lebih dan meloncat ke atas perahu kecil ringan yang bergoyang-goyang. Itu merupakan kepandaian ginkang yang tinggi.

Karena terlampau girang mendengar syarat yang amat mudah baginya itu, Cui Kong berlaku kurang hati-hati. Ia tidak tahu betapa Lie Kong makin menaruh curiga kepadanya. Permintaan Lie Kong ini sebetulnya sama sekali tak boleh dibilang ringan. Bagi orang lain, merampas kembali kitab dari tangan Lie Kong Ji di Ui-tiok-lim, bukan hal semudah itu. Akan tetapi pemuda ini bahkan dengan muka berseri berani memastikan akan berhasil dalam satu bulan.

Hal ini sudah merupakan jawaban yang amat mencurigakan Pertama, kalau pemuda itu tidak pasti akan berhasil, tak mungkin dia begitu bergembira. Kedua. Bahkan dia berani memastikan dapat berhasil dalam satu bulan, itu berarti bahwa pemuda ini sudah tahu akan kepindahan Liok Kong Ji ke laut selatan. Karena, andaikata mencari kitab itu ke Ui-tiok-lim, perjalanan pulang pergi saja ke Ui tiok-lim akan mamakan waktu berbulan-bulan!

“Pemuda itu mencurigakan sekali,” kata pendekar yang cerdik dan waspada ini, "siapa tahu kalau-kalau dia itu mempunyai hubungan dengan penjahat iblis Liok Kong Ji."

"Akan tetapi sikapnya demikian sopan santun juga kepandaiannya demikian tinggi,” bantah isterinya.

“Kau tahu apa?” kata Lie Kong mencela. "Dahulu di waktu mudanya Liok Kong Ji si Iblis juga seorang pemuda sopan dan berkepandaian tinggi.”

"Ayah menurut pendapatku, dia bukan orang jahat. Buktinya dia telah merampaskan kembali kudaku dari tangan pencuri sela Ceng Ceng berani.

“Hem hem, apa kau melihat sendiri? Betul dia berkata demikian, akan tetapi kau tidak melihat sendiri ia bettempur melawan pencuri kuda.”

“Kau memang terlalu curiga,” mencela Souw Cui Eng kepada suaminya.

"Kita lihat saja. Mudah-mudahan kecurigaanku keliru."

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Apa yan g didengar oleh Pek-thouw- tiauw-ong Lie Kong dari percakapan Pek-kek Sam-kwi tentang Liok Kong Ji memang betul. Orang yang licin sekali itu setelah terlepas dari tangan Tiang Bu dapat menyelamatkan diri dan pindah ke selatan. Ia merasa tidak aman. Tadinya hanya Wan Sin Hong seorang yang ia takuti. Malah bel akangan ini ia tidak begitu jerih lagi terhadap Sin Hong setelah ia tinggal di Ui tiok-lim dan selain kepandaiannya sendiri sudah banyak maju, juga ia dilindungi oleh lima orang saudara angkatnya. Akan tetapi, sungguh tidak nyana sekali lima orang pembantunya itu tewas semua oleh Tiang Bu puteranya sendiri, putera keturunannya yang hanya satu-satunya.

Malah ia sendiri hanya dengan kecerdikannya saja dapat meloloskan diri. Sekarang merasa makin tidak aman lagi, tahu bahwa Tiang Bu takkan mau berhenti mencarinya untuk membalas dendam, untuk membunuhnya. Kalau Kong Ji teringat betapa putera keturunannya sendiri hendak membunuhnya, mau tak man hatinya menjadi perih sekali. Ia takut melawan Tiang Bu, maklum bahwa kesaktian pemuda itu sekarang bahkan jauh melebihi kepandaian Sin Hong atau kepandaian tokoh yang manapun juga yang pernah ia ketahui.

Kemudian ia teringat kepada Lo-thian-tung Cun Gi Tosu, kakek buntung yang amat lihai. Hanya kakek buntun g ini yang akan dapat membantunya. Dan kebetulan sekali, kakek itu sekarang sudah pindah ke selatan, tempat yang amat terpencil, di sebuah pulau kosong yang disebut Pek houw-to (Pulau Macan putih), Andai kata kakek itu masih berada di utara masih ada bahaya lain.

Di utara adalah tempat pasukan-pasukan Mongol, ia tahu bahwa diam-diam Jengis Khan tidak suka kepadanya. Raja besar itu memberi hadiah kepadanya karena memang tadinya ia membantu, akan tetapi setelah ia mengundurkan diri tidak mau membantu penyerbuan orang Mongol ke barat. Jengis Khan menjadi curiga dan tentu akan mencelakainya.

Demikian, Liok Kong Ji lalu pergi menyusul Cun Gi Tosu ke P ulau Pek-houw to. Ia diterima baik oleh kawannya ini yang maklum bahwa kedatangan Kong Ji berarti memperkuat kedudukannya. Kong Ji diam-diam lalu mendatangkan selir-selirnya yang ia sayang, lima orang jumlahnya dan sebentar saja pulau kosong itu berubah menjadi ramai dan indah, berkat pembiayaan Kong Ji yang masih mempunyai harta simpanan. Hanya Cui Kong yang tidak betah tinggat lama-lama di pulau itu dan pemuda ini sering kali pergi merantau ke luar pulau.

Di atas pulau ini, Liok King Ji memperdalam ilmu silatnya. Dengan tekun ia mempelari kitab-kitab dari Omei-san yang terjatuh ke dalam tangannya. Dia sendiri mendapatkan kitab Swat lian-kiam-coan-si yang sudah dilatih dengan baik, kemudian kitab silay Pat-sian-jut-bun yang didapatkan oteh Cui Lin din Cui Kim juga telah dipelajari sampai hafal benar. Akhirnya ia membuka-buka kitab Delapan Jalan Utama yang ia ambil dari mayat Toat-beng Kui bo. Tadinya Cun Gi Tosu yang mempelajari kitab ini, akan tetapi tosu ini terlalu bodoh sehingga mengira bahwa kitab ini hanya kitab pelajaran Buddha biasa saja.

Akan tetapi begitu Kong Ji melihatnya dengan girang ia dapat memecahkan rahasia kitab itu. Sama sekali bukan hanya sekedar pelajaran kebatinan dari Agama Buddha, melainkan pelajaran ilmu silat yang amat hebat. Akan tetapi di samping kehebatannya, juga sukarnya bukan main sehingga payah Kong Ji mempelajarinya. Isi kitab ini mengan dung delapan sari pelajaran lweekang dan penyatur hawa dalam tubuh, setiap pelajaran mempunyai pecahan-pecahan yang amat banyak.

Setiap huruf mengandung pelajaran tinggi dan Kong Ji bukanlah seorang ahli dalam ilmu sastera, maka dapat dibayangkan betapa ia memeras otaknya dan dalam waktu setengah tahun ia baru dapat memetik buahnya dua saja di antara delapan mata pelajaran itu. Sungguhpun begitu, yang dua ini sudah mendatangkan kepandaian yang mujijat, tenaga lweekangnya meningkat tinggi dan sinkang (hawa sakti) di dalam tubuh dapat ia salurkan sampai ke ujung pedang. Semua ini ia latih se cara diam-diam. Cun Gi Tosu sendiri sampai tidak mengetahuinya.

Demikianlah, sekali lagi Kong Ji mengalami hidup tenteram dan aman. Ia pikir, tak mungkin Sin Hong atau Tiang Bu dapat mencarinya. Andaikata mereka dapat mencarinya, ia juga tidak takut. Selain di sampingnya ada Cui Kong dan Cui Gi Tosu yang lihai, juga dia sendiri sanggup menghadapi mereka. Ia malah ingin se kali men coba kepandaian barunya dengan Sin Hong atau Tiang Bu.

Sementara itu, Wan Leng. puteri Sin Hong yang diculik oleh Cun Gi Tosu juga hidup di Pulau Pe k Houw-to, ia dirawat oleh para selir Liok Kong Ji yang rata-rata sayang kepada bocah mungil ini. Juga Cun Gi Tosu kelihatan sayang kepada calon muridnya.

********************

Kita ikuti perjalanan Pendekar Sakti Wan Sin Hong yang mencari jejak Can Gi Tosu, penculik puterinya. Seperti telah dituturkan di bagian depan, setelah mengurus pernikahan antara Wan Sun dan Coa Lee Goat. Wan Sin Hong lalu meninggalkan Kim bun-to untuk pergi mencari puterinya yang di culik oleh Lethian-tung Cun Gi Tosu. Ia sudah mendengar bahwa bala tentara Mongol kini menghentikan serangannya ke selatan dan mengalihkan perahatiannya ke barat.

Dan ia tahu bahwa musuh besarnya itu ialah pembantu orang Mongol, di samping Liok Kong Ji. Oleh karena itu, walaupun perjalanan ke utara amat berbahaya dan tidak sembarang orang berani ke sana, Sin Hong melupakan bahaya, merantau ke utara lewat perbatasan Tiongkok utara untuk mencari jejak musuh besar yang melarikan puterinya itu.

Tepat sekali keputusan yang diambil Sin Hong untuk melakukan perantauan seorang diri tampa membawa isterinya, karena perjalanan yang ditempuhnya ini memang amat berbahaya. Sungguh pun isterinya juga gagah perkasa dan jarang ada orang yang mampu menandinginya, namun memasuki wilayah Mongol yang rakyatnya sedang bergolak itu, apa lagi menghadapi Cun Gi Tosu dan Liok Kong Ji, benar-benar merupakan hal yang amat berbahaya. Baru saja memasuki wilayah Mongol, selagi enak berjalan di dalam hutan belukar, tiba-tiba dari kanan kiri menyambar belasan batang anak panah yang cepat sekali datangnya!

Baiknya Sin Hong bukan pendekar basa saja, melainkan seorang yang telah memiliki kepandaian tinggi dan kewaspadaan yang mengagumkan. Begitu mendengar bersiutnya anak panah dan melihat sinar berkelebat dari kanan kiri, cepat ia telah menggerakkan kedua tangannya ke kanan kiri dan ujung lengan bajunya dengan tepat mengibas runtuh belasan anak panah itu.

Melihat bentuknya anak panah yang bergerak laju, tahulah Sin Hong bahwa dia dikepung orang Mongol. Memang anak panah Mongol amat terkenal dan di dalam perang di selatan yang lalu, tentara Tiong-goan kewalahan menghadapi serangan anak panahya amat kuat dan laju ini. Benar saja dugaannya tempat yang tadinya sunyi itu tiba-tiba menjadi ramai dengan munculnya dua puluh orang Mongol dan terdengar suara kuda meringkik. Heran hati Sin Hong bagaimana kuda dapat dilatih sampai berdiam diri tanpa mengeluarkan suara apa-apa dalam pemasangan bai hok (barisan pendam) itu.

Sambil berteriak-teriak menyeramkan, dua puluh orang Mongol seorang di antaranya berpakaian sebagai perwira, menerjang dan mengeroyoknya tanpa bertanya lagi. Ini tidak aneh karena dalam masa seperti itu, kedatangan seorang berpakaian seperti orang Han tentu dianggap musuh atau mata-mata. Senjata senjata bermacam macam, ada pedang, golok dan tombak. Bagaikan hujan sekalian sanjata itu menyambar ke arah tubuh Wan Sin Hong dan kalau semuanya mengenai tubuh, tentu tubuh itu akan menjadi hancur.

Sin Hong tidak sudi hanyak bersoal jawab. Walaupun dia tidak perdulikan urusan negara dan perang, akan tetapi orang-orang Mongol sudah banyak merampok, membunuh dan membakari rumah rakyat, dengan demikian mereka menjadi juga musuhnya. Tampak sinar menyilaukan mata berkelebatan ke sana kemari, disusul jerit dan keluh kesakitan. Sebentar saja sembilan belas orang serdadu Mongol telah bergeletakan man di darah di atas tanah dan perwira tadipun sudah kehilangan pedangnya dan sekali totok perwira itu menjadi lemas.

Sin Hong sengaja tidak mau membunuh perwira itu. "Katakan di mana adanya thian-tung Cun Gi Tosu dan Liok Kong Ji.” Sin Hong mengancam dengan ujung pedangnya.

Semua perwira Mongol mempunyai kegagahan yang luar biasa. Mereka itu rata-rata tidak takut mati dan melakukan perjuangan sampai titik darah penghabisan. Inilah sebuah di antara rahasia kekuatan bala tentara Mongol, setia dan berdisiplin. Demikian pula perwira yang sudah terjatuh ke dalam tangan Wan Sin Hong ini. Dia sudah tertotok dan tubuhnya tak dapat bergerak pula. Akan tetapi ia masih dapat bicara dan mendengar pertanyaan serta ancaman musuhnya ini, ia tertawa besar.

"Aku seorang perajurit sejati, sudah terjatuh ke dalam tangan musuh, mau bunuh mau siksa, silahkan. Kau kira aku takut mati?” jawabnya gagah.

Diam-diam Sin Hong kagum sekali. Tadi pun ketika ia mengamuk, tak seorangpun antara para perajurit Mongol itu ketakutan atau melarikan diri, sungguhpun kawan-kawan mereka roboh seorang demi seorang oleh pedang pendekar sakti itu. Kalau saja bala tentara Kin demikian setia dan gagah berani tidak nanti Kerajaan Kin demikian mudah dibikin kocar kacir oleh Jengis Khan, pikir Sin Hong.

"Kau benar-benar seorang tai-tiang-bu (seorang gagah setia) tulen. Aku suka benar akan orang yang berhati jujur dan setia. Akan tetapi ketahuilah bahwa aku datang ke utara ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan perang, melainkan untuk urusan pribadi. Salahmu sendiri kau datang-datang menyerangku dengan anak buahmu sehingga terpaksa aku harus membela diri. Juga sedikitnya merupakan hukuman akan perbuatan terkutuk anak buahmu ketika menyerbu ke selatan. Aku menanyakan dua orang itu, terutama Lo-thian-tung Cun Gi Tosu, adalah karena urusan pribadi. Kau sudah pecundangku dan sudah menjadi hak yang menang untuk mengambil nyawa yang kalah. Akan tetapi melihat kesetiaan dan kegagahanmu, aku mau menukar nyawamu dengan keterangan di mana adanya dua orang itu, atau terutama sekali Lo-thian-tung Cun Gi Tosu. Agar kau tidak ragu-ragu, baik kau ketahui bahwa aku sedang mencarinya untuk merampas kembali puteriku yang ia culik.”

Sin Hong yang sudah banyak pengalaman dan amat cerdik itu tahu bahwa berhadapan dengan orang yang jujur dan setia seperti ini, lebih baik ia berterus terang.

"Mata-mata selatan memang pandai menipu dan membohong," jawab Perwira Mongol itu berkeras.

"Aku bukan mata-mata. Kalau aku mata-mata masa aku memasuki wilayah Mongol secara berterang begini?” Wan Sin Hong menjawab sabar.

"Bagaimana aku bisa yakin sebelum tahu betul siapa kau? Siapa namamu?"

Wan Sin Hong mulai jengkel. Dia menang dia yang menawan, akan tetapi sebaliknya dia malah "diperiksa" oleh tawanannya ini. Akan tetapi karena membutuhkaa keterangan di mana adanya musuh besarnya, ia menahan sabar dan menjawab, "Namaku Wan Sin Hong”

Perwira itu membelalakkan matanya. "Kau... Wan Sin Hong yang disebut Wan-bengcu? Raja besar kami sering kali menyebut-nyebut namamu sebagai seorang pendekar besar yang sakti, bukan pembela kerajaan selatan akan tetapi sayang tidak mau membantu pergerakan kami yang suci. Pantas saja aku dan sembilan belas orangku kalah! Ah, jadi kau Wan-bangcu...?"

“Apa kau sekarang mau menolongku?”

"Tentu saja! Manusia-manusia macam Cun Gi Tosu dan Liok Kong Ji itu mana ada harga kulindungi namanya!”

Sin Hong cepat membuka totokannya, membebaskan kembali orang itu. "Nah, ceritakanlah di mana mereka."

"Mereka tidak membantu kami lagi. Malah mereka itu diancam oleh raja besar kami karena mereka mengingkari janji, tidak mau membantu penyerbuan ke barat. Kalau kami mendapat kesempatan menyerbu ke wilayah selatan lagi, manusia-manusia macam itu pasti akan kami binasakan! Menurut keterangan para penyelidik kami, Liok Kong Ji sekarang bersembunyi di Ui-tiok-lim di lembah Sungai Luan-ho di luar tembok Kota Raja Kin, sedangkan Cun Gi Tosu katanya melarikan diri ke selatan dan kabarnya tinggal di sebuah pulau kosong di laut selatan, namanya Pulau Harimau Putih..."

Wan Sin Hong percaya penuh. Keterangan seorang setia seperti ini tak mungkin bohong. Ia mengangguk-angguk lalu berkata, "Terima kasih aku harus kembali ke selatan.”

Perwira itu memandang kepadanya dengan mulut celangap, “Kau... kau membebaskan aku? Tidak membunuhku?”

"Mengapa harus kubunuh? Kita tidak bermusuhan."

"Akan tetapi.. kalau aku menjadi engkau, setiap orang musuhku tentu akan kubunuh. Negara kita kan sedang saling berperang.” Saking jujurnya perwira itu malah menyatakan keheranannya mengapa ia tidak dibunuh!

Sin Hong tersenyum. Ia memang kagum sekali kepada orang ini, maka ia suka membuang waktu untuk memberi sedikit kuliah, "Perang adalah perjuangan bunuh membunuh di antara sesama manusia yang sama sekali tidak punya urusan pribadi, bahkan saling tidak mengenal! Memang seorang perajurit harus membunuh musuhnya selagi negara dalam perang bukan sekali-kali membunuh karena rasa benci perseorangan, melainkan membunuh agar jangan dibunuh dan membunuh untuk memenuhi kewajiban sebagai perajurit terhadap negara. Memang perjuangan dalam perang untuk membela nusa bangsa adalah tugas suci setiap orang gagah. Akan tetapi sekali saja kau membunuh tentara lawan dengan hati mengandung kebencian pribadi, maka sifat membunuh itu menjadi keji dan hina! Kau boleh membunuh seribu orang tentara lawan tanpa memperdulikan siapa lawan itu, tanpa rasa benci kepada orangnya, dengan pegangan bahwa dia itu musuh negara dan harus dibunuh. Akan tetapi, sekali-kali kau tidak boleh membunuh dengan rasa benci perseorangan. Kalau aku membunuhmu, apa alasanku? Aku tidak ada parmusuhan dengan kau, juga aku bukan tentara lawanmu. Kalau tadi aku membunuh anak buahmu adalah karena aku dikeroyok dan aku diserang lebih dulu sehingga aku harus membela diri. Dengan kau lain lagi, kau seorang gagah dan setia, kau telah memberi keterangan penting kepadaku, Nah, selamat tinggal.”

Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Sin Hong sudah lenyap dari depan mata perwira itu yang mula-mula melongo, kemudian ia berjingkrak seperti orang kemasukan setan.

“Ha ha ha. Aku sudah bertemu dengan Wan Sin Hong! Aku mengalami hal luar biasa yang dapat kudongengkan kepada anak cucuku! Baru kali ini aku mengalami kekalahan terhormat dari orang besar seperti Wan-bengcu!” Orang itu tertawa-tawa kemudian lari ke utara untuk mencari kawan-kawan guna merawat para korban pedang Wan Sin Hong.

Wan Sin Hong memutar perjalanannya sembilan puluh derajat. Ia kini memutar ke selatan. Ada keinginan hatinya untuk mencari Liok Kong Ji di Ui-tiok-lim untuk membuat perhitungan terakhir dengan musuh lama ini. Akan tetapi ia menekan keinginan ini karena perhatiannya tercurah kepada puterinya.

la harus mencari dan menolong dulu puterinya, baru kelak membereskan perhitungan dangan Kong Ji. Oleh karena itu ia tidak mencari ke Ui-tiok-lim, melainkan terus melakukan perjalanan ke selatan yang luar biasa jauhnya. Di dalam perjalanan ini, Wan Sin Hong teringat akan perjalanannya, ketika ia mencari Tiang Bu yang terculik oleh Hui-eng Niocu yang sekarang sudah menjadi isterinya.

Kalau saja ia lebih dulu pergi ke Ui-tiok- lim, ada kemunngkinan ia akan menjadi saksi betapa Tiang Bu mengobrak-abrik tempat persembunyian Liok Kong Ji ini. Dalam melaksanakan perjalanan ke selatan, Wan Sin Hong menuju ke barat lebih dulu sampai ia bertemu dengan Sungai Huang-ho, kemudian ia nyambung perjalanannya dengan sebuah perahu setelah lebih dulu ia singgah di Luliang-san untuk mengunjungi makam suhunya.

Perjalanan dengan perahu amat cepat karena selain perahu dibawa aliran sungai, juga Sin Hong menambah dengan dayungnya yang digerakkan dengan tenaga. Terjadi pertemuan dan peristiwa yang menarik hati ketika ia tiba di dekat kota Lok-yang, di mana air Sungai Huang-ho dari utara itu membelok ke timur. Memang Sin Hong hendak mendarat dan melanjutkan perjalanan darat lagi terus ke selatan. Akan tetapi sebelum ia mendarat, ketika perahunya tiba di daerah berhutan yang liar, tiba-tiba di depannya menghadang lima buah perahu kecil yang diatur berjajar, sengaja menghalangi perahunya.

Dari pengalamannya. Wan Sin Hong tahu bahwa penghadangnya tentulah golongan bajak. Akan tetapi ia tidak menjadi gentar. Empat buah perahu masing-masing hanya ditumpangi dua orang berpakaian hitam yang memegang golok, sedangkan perahu ke lima diduduki tiga orang, yaitu seorang kakek, seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik. Tiga orang ini lebih menarik perhatian Sin Hong karena mereka memperlihatkan sifat-sifat gagah.

Selagi Sin Hong hendak menegur mengapa ia dihadang, tiba tiba ia mendengar suara khim (alat musik) ditabuh oleh pemuda itu dan si gadis cantik bernyanyi, sedangkan kakek itu mengambil irama dengan ketokan dayungnya pada air, Sin Hong memasang telinga memperhatikan isi nyanyian.

"Serigala utara pergi menghilang.
Datang banjir dan belalang
Tinggalkan uang dan barang
Baru perahu takkan terhalang!

Hati siapa takkan risau?
Siapa pula akan hirau?
Membuka tangan membantu petani
Kalau bukan bangsa sendiri.


Suara gadis itu halus dan merdu, akan tetapi mengandung kekuatan dapat menembus angin dan mencapai telinga Sin Hong, demikian pula permainan khim. Ini semua selain merupakan pernyataan “minta barang dan uang", juga merupakan demonstrasi lweekang yang tinggi dari pemuda dan gadis itu. Akan tetapi, sudah tentu saja demonstrasi pemuda dan gadis itu merupakan permainan biasa bagi Sin Hong. Yang amat menarik perhatian Sin Hong adalah kakek yang memukul-mukulkan dayungnya ke air untuk menerbitkan suara berirama.

Dayung itu dipukul-pukulkan biasa saja akan tetapi perahu sedikitpun tidak bergoyang dan air sedikitpun tidak memercik ke atas. Namun, setiap kali dayung mengenai air terdengar bunyi “plak" yang keras dan air tertekan ke dalam sedangkan di sekitarnya menaik ke atas...!

Tangan Gledek Jilid 41

Tangan Gledek Jilid 41

MENDENGAR ini, Pak-kek Sam-kui pertama menggereng marah dan mereka mulai menyerang. Ci Kui pertama menyerang kakaknya, demikian pula Ang Bouw dan Ang Louw. Pertempuran hebat terjadi, pertempuran aneh antara orang-orang kembar yan g aneh!

Memang membingungkan sekali melihat pertempuran antara orang-orang ganjil itu. Sabenarnya, tiga orang yang biasa disebut Pak-kek sam-kui yaitu yang sekarang menjadi Pak-kek Sam-kui pertama, adalah adik-adik kembar dari Pak kek Sam kui ke dua. Mereka adalah tiga pasang orang kembar dari daerah Mongol yang semenjak kecil menjadi sahabat.

Kemudian setelah mereka dewasa, mereka terpisah, merupakan dua kolompok. Yang tua melanjutkan ilmu mereka, menyembunyikan diri di gunung sedangkan yang muda. yaitu Pak-kek Sam-kui yang sudah banyak dikenal, membantu perjuangan Temu Cin atau Jengis Khan. Seperti telah dituturkan di bagian depan, Pak-kek Sam-kui ini terpikat oleh Li Kong Ji dan menjadi kaki tangannya.

Ketika saudara saudara tua mereka mendengar akan penyelewengan adik-adiknya ini mereka turun gunung, membantu Jengis Khan kemudian mereka menuju ke selatan untuk mencari adik-adik mereka yang mengikuti Li Kong Ji. Tidak mengherankan apabila kepandaian mereka lebih tinggi dari pada Pak-kek Sam-kui yang sudah dikenal Lie Kong.

Sekarang dapat menduga pula akan hal itu setelah mendengar percakapan tadi. Yang menggirangkan hatinya adalah berita tentang tempat tinggal Liok Kong Ji, akan tetapi berbareng juga membuatnya tidak mengerti. Ia sedang berusaha mencari Ui tiok lim tempat tinggal Liok Kong Ji untuk mencari kembali kitab Omei-san yang dirampas oleh dua orang gadis Ui-tiok-lim dari tangan Ceng Ceng. Mengapa sekarang Liok Kong Ji sudah ke Pek-houw-to?

Ketika ia memandang ke arah pertempuran, mudah saja ia menduga bahwa tak lama lagi Pak kek Sam-kui yang muda akan kalah. Pertempuran itu memang hebat, dilakukan dengan tangan kosong saja akan tetapi angin pukulan mereka membuat batang pohon bergoyang-goyang dan daun-daun rontok semua seperti ada enam ekor gajah mengamuk. Betul saja dugaannya, hampir berbareng tiga orang Pak-kek Sam-kui yang muda terpukul roboh dan pingsan. Masing-masing mengangkat adik sendiri, memanggulnya dan tanpa menoleh lalu lari pergi dari situ.

“Sam-bengcu, tunggu!" teriak Lie Kong sambil melompat mengejar. "Hendak kutanya sedikit, bukankah Liok Kong Ji berada di Ui tiok-lim? Mengapa sam-wi tadi mengatakan dia sudah pindah ke Pek-houw to?”

Si jangkung gundul yang memanggul tubuh Ci Kui menengok dan berkata, “Kami juga tadinya menyusul ke Ui-tiok-lim, ternyata di sana sudah rusak, dihancurkan oleh seorang pemuda perkasa bernama Tiang Bu. Sekarang Liok Kong Ji dan Cun Gi Tosu berada di Pek-houw-to, kedudukan mereka lebih kuat lagi!" Setelah berkata de mikian, bersama kawan-kawannya ia lari cepat sekali, sebentar saja sudah lenyap dari situ.

Lie Kong menarik napas panjang dan berkata kepada isterinya, "Benar benar banyak sekali orang pandai di dunia ini. Baiknya tiga orang saudara tua Pak-kek Sam kui itu tergolong orang orang baik, kalau mereka jahat seperti adik-adiknya, entah siapa yang dapat menghadapi mereka. Sekarang kita sudah tahu bahwa Liok Kong Ji berada di Pek houw to, tentu kitab Pat-sian-jut-bun juga ia bawa ke sana. Kita menanti kembalinya Ceng Ceng, kemudian kita harus mengejar ke Pek-houw to."

Suami isteri ini lalu kembali ke perahu mereka di Telaga Po-yang. Alangkah kaget dan girang hati mereka me lihat Ceng Ceng sudah tiba di situ, kudanya ditambatkan di pinggir telaga dan gadis itu sendiri duduk melamun di atas dek perahu.

"Ceng Ceng...!” ibunya berseru girang.

“Ayah...! Ibu...!" seru gadis itu, sadar dari lamunannya.

Setelah bertemu dengan ayah bundanya, Ceng Ceng mendapatkan kembali kelincahannya dan sebentar saja ia sudah sibuk manceritakan pengalaman perjalanannya kepada ayah bundanya. Diceritakannya keindahan alam yang dilihatnya di Tapie-san, tentang para petani dan tentang bagaimana ia membantu anak petani menangkap burung. Akhirnya ia berkata tentang Cui Kong setelah bicara tentang hal yang sepele-sepele,

"Ayah, Aku bertemu dengan seorang pemuda dan aku... aku kalah bertanding ilmu silat olehnya."

"Mengapa kau bertempur dengan orang?” kontan ayahnya menegur.

“Dia mengalahkanmu! Waah, tentu dia lihai sekali”. Siapa pemuda itu? Agaknya kau kagum padanya," komentar Ibunya. Memang wanita lebih tajam perasaannya dalam hal ini.

Ceng Ceng sekaligus menjawab pertanyaan ayah dan ibunya, “Aku salah kira, tadinya ia kusangka pencuri kudaku, tidak tahunya dia malah yang merampas kembali kudaku dari tangan pencuri. Dengan singkat dia menceri takan pengalamannya tentang kuda yang dicuri orang pada malam hari, lalu tentang pertemuannya dengan Cui Kong.

"Kami bertempur, mula-mula dengan senjata lalu bertangan kosong. Akan tetapi dua kali aku kalah. Dia she Kwee seorang yatim piatu...”

“Eh. eh. alangkah tak patutnya kau sampai berkenalan dengan orang asing!” tegur Lie Kong.

“Habis dia memperkenalkan diri, masa aku harus menutupi kedua telingaku," bantah Ceng Ceng manja. "Dia... dia bilang mau datang ke sini... mau berjumpa dengan ayah ibu...” Sampai di sini muka gadis itu menjadi merah sekali dan ia berlari memasuki kamarnya sambil berkata, “Ayah, aku lelah sekali hendak me ngaso."

Lie Kong saling pandang dengan isterinya, lalu keduanya mengangguk-angguk maklum. "Bagaimanapun juga, kita harus berlaku hati-hali dalam memilih calon jodohnya," kata Lie Kong dan untuk ini isterinya setuju.

Pada keesokan harinya, Cui Kong sudah tiba di tepi Telaga Po-yang karena ia telah me lakukan perjalanan cepat sekali. Banyak terdapat perahu-perahu besar di telaga yang luas itu. Akan tetapi tidak sukar untuk mencari perahu yang dimaksudkan oleh Ceng Ceng. Dari tepi pantai ia sudah melihat dua ekor burung, yang seekor hinggap di at ap perahu, yang seekor lagi beterbangan di atap perahu, berputaran. Burung-burung yang indah dan besar.

Berdebar hati Cui Kong. Ia sudah mendengar nama besar Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong, yang berilmu tinggi, juga kabarnya Lie adalah seorang pendekar wanita yang lihai. Ia tahu pula bahwa ayahnya tidak cocok dengan suami isteri pendekar ini dan bahwa dahulu ketika beramai-ramai menyerbu ke Omei-san suami isteri inipun mendapatkan sebuah kitab yang akhirnya terjatuh ke tangan ayah angkatnya. Ia harus berlaku hati-hati dan pandai beraksi.

Disewanya sebuah perahu kecil dan didayungnya perahu itu ke tengah telaga, mehampiri perahu cat putih yang kelihatannya tidak ada penghuninya. Akan tetapi setelah perahu kecilnya mendekati perahu besar cat putih itu, tiba-tiba terdengar suara bersuit dan burung pek thouw tiauw yang yadinya enak enak melengut di atas atap perahu mengulur kepala dan memandang ke arah perahu kecil kemudian ia terbang menyambar menyerang Cui Kong dengan ganasnya!

Cui Kong adalah seorang cerdik. ia dapat menduga bahwa perbuatan burung ini tentu ada yang mengaturnya. Kalau burung itu memang liar dan menyerang semua orang asing, sudah tentu telaga itu takkan aman. Setiap orang tentu akan diserang burung ini dan sebentar saja telaga itu akan kosong ditinggal pergi para pengunjung. Jadi jelas bahwa burung ini tentu ada yang meme rintah maka menyerangnya. Dan justeru dia yang diserang!

Pasti orang yang menyuruhnya itu hendak nenguji sepandaiannya. Dia tadi sudah mendengar suitan nyaring sebagai tanda, Ceng Ceng kah gerangan yang menyuruh burung itu menyerangnya? Tak mungkin, Gadis itu "ada hati" kepadanya, tak mungkin hendak mencelakainya dan untuk coba-coba, gedis itu sudah cukup tahu akan kepandaiannya. Tak bisa salah lagi, pikirnya, tentu pemilik burung itu, Pek-thouw-tiauw-ong sendiri atau isterinya yang menyuruh burung rajawali ini menyerangnya. Dan ini-pun tidak mungkin kalau tidak ada sebabnya. Pek-thouw.tiauw-ong dan isterinya belum mengenalnya, mengapa turun tangan?

Jawaban satu satunya, cukup mudah, tentu Ceng Ceng sudah menceritakan hal dirinya kepada ayah bundanya dan sekarang begitu tiba ia diuji oleh ayah gadis itu yang ingin melihat sendiri sampai di mana ke lihaian pemuda yang dibicarakan oleh anaknya!

Cui Kong memikirkan ini semua sambil mengelak. Sedikit saja miringkan tubuh patukan dan cakaran burung itu mengenai tempat kosong. Lewatnya tubuh burung besar itu membawa angin yang cukup santer, membuat ikat kepala Cui Kong berkibar-kibar.

Memang dugaan Cui Kong tepat sekali. Di balik dinding balik perahu, Lie Kong, isterinya dan Ceng Ceng mengintai ke luar dan tad Lie Kong yang memberi aba-aba kepada burung rajawalinya untuk "mencoba” kepandaia pemuda yang ditunjuk oleh puterinya. Melihat betapa mudahnya Cui Kong menghindarkan sambaran burungnya, kembali Lie Kong bersuit lebih keras. Sekarang tidak saja burung betina yang tadi menyerang pula, bahkan burung jantan yang beterbangan di atas ikut pula men yambar dan mengepung Cui Kong.

Cui Kong terkejut. Ia maklum bahwa burung itu kuat bukan main dan sekali kena disamhar, buarpun ia depat mengebalkan diri dan tidak terluka, akan tetapi ada bahayanya, ia akan terlempar dari perahu dan jatuh ke dalam air telaga! Tentu saja dengan pukulan tin-san-kang ia dapat memukul mampus dua burung itu, akan tetapi inipun tidak baik. Kalau ia membikin mati burung-burung kesayangan orang tua Ceng Ceng. Bukankah berarti ia akan mengecewakan dan membikin marah Pek-thouw tiauw ong Lie Kong? Kalau terjadi demikian, mana ada harapan baginya untuk meminang gadis itu?

Pada saat yang kritis ini, Cui Kong mendapat pikiran baik. Perahu itu adalah perahu nelayan dan di pojok perahu terdapat sebuah jala ikan. Cepat ia menyambar jala itu dan begitu dua ekor burung menyambar dekat, ia menggetarkan jala ikan ke atas memapaki. Jala itu milik seorang nelayan miskin, sudah robes-robek dan butut. Akan tetapi di dalam tangan Cui Kong yang memiliki lweekang tinggi, jala itu rupakan senjata hebat.

Sekali lempar saja ia telah berhasil menangkap dua ekor burung itu ia dalam jala. Cepat ia memutar-mutar jala itu sehingga tubuh dan kaki dua pek-thouw-tiauw itu tergubat sama sekali. Dua ekor burung itu meronta kuat, namun Cui Kong lebih kuat lagi. Dengan tenang Cui Kong lalu mengge njot tubuhnya dan melompat ke atas dek, jala terbuka dan dua ekor burung tadi terbang tinggi sambil berteriak-teriak ketakutan!

Lie Kong dan isterinya kagum sekali. Kini mereka percaya bahwa pemuda ini memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari pada Ceng Ceng. Cara yang dipergunakan untuk menghadapi dua ekor burung pek thouw-tiauw tadi saja sekaligus telah membuktikan adanya kecerdikan, kegesitan dan tenaga lweekang yang mengagumkan.

Muncullah Lie Kong den Souw Cui Eng dari dalam bilik perahu, diikuti oleh Ceng Ceng yang menundukkan muka kemalu-maluan dan mengerling dengan ekor matanya ke arah Cui Kong. Pemuda itu cepat-cepat menjatuhkan berlutut di depan Pek thouw-tiauw ong Lie Kong dan isterinya sambil berkata,

"Mohon locianpwe yang budiman sudi memaafkan boanpwe yang berlaku lancang. Tanpa diundang boanpwe Kwee Cui Kong berani lancang naik ke perabu Lo cianpwe, tidak lain oleh karena di tengah jalan boanpwe mendapat kehormatan bertemu dengan puteri locianpwe yang terhormat. Boanpwe sudah berjanji hendak datang ke sini menghadap locianpwe berdua."

Sow Cui Eng berseri girang melihat sikap yang amat sopan santun dan merendah dari pemuda ini. Benar-benar seorang pemuda yang pandai membawa diri, tepat sekali menjadi mantuku, pikirnya. Akan telapi Lie Kong mengerutkan alisnya. Hatinya tak senang melihat sikap berlebih-lebihan dan agak menjilat dari pemuda ini. Bukan sikap seorang gagah, pikirnya. Akan tetapi oleh karena orang sudah berlutut, tidak baik kalau tidak disambut. Ia lalu membungkuk dan berkata,

"Orang muda, jangan terlalu sungkan, bangunlah." Dipegangnya kedua pundak Cui Kong untuk ditarik bangun sambil dikerahkan sedikit tenaganya.

Merasa betapa dua tangan itu mengenai pundaknya seperti bukit karang menindihnya, Cui Kong cepat-cepat mengerahkan lweekangnya menahan sehingga Lie Kong memegang pundak yang lunak seperti tidak bertulang. Pek-thouw- tiauw-ong mengangpuk-angguk. Diam-diam ia agak terkejut karena dari sentuhan ini ia dapat menaksir babwa tenaga lweekang pemuda ini sudah hampir mengimbanginya.

"Bangunlah, aku sudah tahu akan kepandaianma yang tinggi.”

Setelah Cui Kong bangkit berdiri, kembali Lie Kong mengerutkan keningnya. Sepasang mata pemuda ini benar-benar tidak me nyenagkan perasaan batinya. Mata yang tajam liar, mengsndung sesuatu yang mangerikan seperti bukan mata manusia. Mata Ibl is! Sabaliknya, Souw Cui Eng memandang kagum kepada pemuda ini. Dia juga tahu betapa suaminya telah mencoba tenaga pemuda yang agaknya menjadi pilihan hati puterinya.

"Sekarang katakan apa kehendakmu mengunjungi kami," tanya Lie Kong, suaranya dingin dan tenang.

Hati Cui Kong berdebar. Suara ini nadanya tidak memberi banyak harapan, akan tetapi ia dapat menenteramkan hatinya, menarik napas panjang lalu berkata, "Maafkan, boanseng yang berani mati menghadap locianpwe mengandung maksud hati. Bososeng sudah bertemu dengan puteri locianpwe, tak disengaja mencoba kepandaian dan boanseng menganggap di dunia ini tidak ada gadis yang lebih sampurna dari pada puteri loeianpwe. Oleh karena itu, melupakan kerendahan diri sendiri, bounseng datang untuk mohon tangan puteri lo cianpwe...“

"Hemm, orang muda berani mati! Mana ada aturan orang meminang sendiri?” bentak Lie Kong.

“Boanpwe seorang yatim piatu, hidup sebatangkara di atas dunia tiada sanak kadang. siapa yang sudi menjadi wali boanpwe?”

“Menilik gerakanmu tadi, kau seorang ahli waris kepandaian dari utara, siapa gurumu dan mengapa gurumu tidak mewakilimu mengajukan pinangan?"

Cui Kong terkejut. Alangkah tajam pemandangan pendekar ini. Ketika ia mainkan dua ekor pek thouw tiauw tadi, ternyata pendekar ini sudah dapat melihatnya bahwa ia mewarisi ilmu silat utara. “Memang sesungguhnya boanpwe adalah murid seorang tosu perantau di perbatasan utara dan sekarang suhu telah meninggal dunia. Oleh karena tidak mempunyai wali lain, terpaksa boanpwe memberanikan diri menghadap locianpwe,” jawabnya sedih sekali. Ia dapat mengatur suaranya demikian berduka sehingga Ceng Ceng dan ibunya merasa terharu.

Akan tetapi Lie Kong memandang tajam penuh selidik ke arah pemuda di depannya itu, kemudian ia berkata, suaranya tetap tenang akan tetapi dingin dan berpengaruh, “Orang muda, tidak gampang mendapatkan tangan puteri tunggal kami secara begitu saja. Kepandaianmu memang memenuhi syarat, cukup tinggi. Akan tetapi kepandaian tidak akan ada artinya kalau orang tidak dapat mempergunakannya untuk maksud baik. Sekarang dangarlah syarat kami. Kami telah kehilangan sebuah kitab pelajaran ilmu Silat Pat-siat-jut-bun. Kitab itu dicuri oleh dua orang perempuan jahat dari Ui-tiok-lim, sarang penjahat iblis Liok Kong Ji. Kalau kau bisa merampas kembali kitab itu dan memberikannya kepada kami, nah, permintaanmu akan dapat kami pertimbangkan."

Mendengar ini, berseri wajah Cui Kong. Kalau hanya itu syaratnya, apa sih sukarnya? Kitab pelajaran Pat sian-jut-bun telah berada di tangan ayahnya, dan bukan hal yang sukar baginya untuk mencurinya. “Baiklah, lo cianpwe. Boanpwe sanggup dan paling lama dalam waktu satu bulan kitab itu pasti akan boanpwe haturkan di depan locianpwe. Selamat tinggal, boanpwe bermohon diri.”

Setelah berkata demikian, Cui Kong memberi hormat kepada Lie Kong suami isteri, mengerling diiringi senyum manis kepada Ceng Ceng, kemudian dengan sigapnya ia meloncat ke atas perahu kecilnya yang masih tarapung-apung tak jauh dari situ. Ini saja sudah membuktikan kelihaiannya. Perahu kecilnya terpisah empat tombak lebih dan meloncat ke atas perahu kecil ringan yang bergoyang-goyang. Itu merupakan kepandaian ginkang yang tinggi.

Karena terlampau girang mendengar syarat yang amat mudah baginya itu, Cui Kong berlaku kurang hati-hati. Ia tidak tahu betapa Lie Kong makin menaruh curiga kepadanya. Permintaan Lie Kong ini sebetulnya sama sekali tak boleh dibilang ringan. Bagi orang lain, merampas kembali kitab dari tangan Lie Kong Ji di Ui-tiok-lim, bukan hal semudah itu. Akan tetapi pemuda ini bahkan dengan muka berseri berani memastikan akan berhasil dalam satu bulan.

Hal ini sudah merupakan jawaban yang amat mencurigakan Pertama, kalau pemuda itu tidak pasti akan berhasil, tak mungkin dia begitu bergembira. Kedua. Bahkan dia berani memastikan dapat berhasil dalam satu bulan, itu berarti bahwa pemuda ini sudah tahu akan kepindahan Liok Kong Ji ke laut selatan. Karena, andaikata mencari kitab itu ke Ui-tiok-lim, perjalanan pulang pergi saja ke Ui tiok-lim akan mamakan waktu berbulan-bulan!

“Pemuda itu mencurigakan sekali,” kata pendekar yang cerdik dan waspada ini, "siapa tahu kalau-kalau dia itu mempunyai hubungan dengan penjahat iblis Liok Kong Ji."

"Akan tetapi sikapnya demikian sopan santun juga kepandaiannya demikian tinggi,” bantah isterinya.

“Kau tahu apa?” kata Lie Kong mencela. "Dahulu di waktu mudanya Liok Kong Ji si Iblis juga seorang pemuda sopan dan berkepandaian tinggi.”

"Ayah menurut pendapatku, dia bukan orang jahat. Buktinya dia telah merampaskan kembali kudaku dari tangan pencuri sela Ceng Ceng berani.

“Hem hem, apa kau melihat sendiri? Betul dia berkata demikian, akan tetapi kau tidak melihat sendiri ia bettempur melawan pencuri kuda.”

“Kau memang terlalu curiga,” mencela Souw Cui Eng kepada suaminya.

"Kita lihat saja. Mudah-mudahan kecurigaanku keliru."

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Apa yan g didengar oleh Pek-thouw- tiauw-ong Lie Kong dari percakapan Pek-kek Sam-kwi tentang Liok Kong Ji memang betul. Orang yang licin sekali itu setelah terlepas dari tangan Tiang Bu dapat menyelamatkan diri dan pindah ke selatan. Ia merasa tidak aman. Tadinya hanya Wan Sin Hong seorang yang ia takuti. Malah bel akangan ini ia tidak begitu jerih lagi terhadap Sin Hong setelah ia tinggal di Ui tiok-lim dan selain kepandaiannya sendiri sudah banyak maju, juga ia dilindungi oleh lima orang saudara angkatnya. Akan tetapi, sungguh tidak nyana sekali lima orang pembantunya itu tewas semua oleh Tiang Bu puteranya sendiri, putera keturunannya yang hanya satu-satunya.

Malah ia sendiri hanya dengan kecerdikannya saja dapat meloloskan diri. Sekarang merasa makin tidak aman lagi, tahu bahwa Tiang Bu takkan mau berhenti mencarinya untuk membalas dendam, untuk membunuhnya. Kalau Kong Ji teringat betapa putera keturunannya sendiri hendak membunuhnya, mau tak man hatinya menjadi perih sekali. Ia takut melawan Tiang Bu, maklum bahwa kesaktian pemuda itu sekarang bahkan jauh melebihi kepandaian Sin Hong atau kepandaian tokoh yang manapun juga yang pernah ia ketahui.

Kemudian ia teringat kepada Lo-thian-tung Cun Gi Tosu, kakek buntung yang amat lihai. Hanya kakek buntun g ini yang akan dapat membantunya. Dan kebetulan sekali, kakek itu sekarang sudah pindah ke selatan, tempat yang amat terpencil, di sebuah pulau kosong yang disebut Pek houw-to (Pulau Macan putih), Andai kata kakek itu masih berada di utara masih ada bahaya lain.

Di utara adalah tempat pasukan-pasukan Mongol, ia tahu bahwa diam-diam Jengis Khan tidak suka kepadanya. Raja besar itu memberi hadiah kepadanya karena memang tadinya ia membantu, akan tetapi setelah ia mengundurkan diri tidak mau membantu penyerbuan orang Mongol ke barat. Jengis Khan menjadi curiga dan tentu akan mencelakainya.

Demikian, Liok Kong Ji lalu pergi menyusul Cun Gi Tosu ke P ulau Pek-houw to. Ia diterima baik oleh kawannya ini yang maklum bahwa kedatangan Kong Ji berarti memperkuat kedudukannya. Kong Ji diam-diam lalu mendatangkan selir-selirnya yang ia sayang, lima orang jumlahnya dan sebentar saja pulau kosong itu berubah menjadi ramai dan indah, berkat pembiayaan Kong Ji yang masih mempunyai harta simpanan. Hanya Cui Kong yang tidak betah tinggat lama-lama di pulau itu dan pemuda ini sering kali pergi merantau ke luar pulau.

Di atas pulau ini, Liok King Ji memperdalam ilmu silatnya. Dengan tekun ia mempelari kitab-kitab dari Omei-san yang terjatuh ke dalam tangannya. Dia sendiri mendapatkan kitab Swat lian-kiam-coan-si yang sudah dilatih dengan baik, kemudian kitab silay Pat-sian-jut-bun yang didapatkan oteh Cui Lin din Cui Kim juga telah dipelajari sampai hafal benar. Akhirnya ia membuka-buka kitab Delapan Jalan Utama yang ia ambil dari mayat Toat-beng Kui bo. Tadinya Cun Gi Tosu yang mempelajari kitab ini, akan tetapi tosu ini terlalu bodoh sehingga mengira bahwa kitab ini hanya kitab pelajaran Buddha biasa saja.

Akan tetapi begitu Kong Ji melihatnya dengan girang ia dapat memecahkan rahasia kitab itu. Sama sekali bukan hanya sekedar pelajaran kebatinan dari Agama Buddha, melainkan pelajaran ilmu silat yang amat hebat. Akan tetapi di samping kehebatannya, juga sukarnya bukan main sehingga payah Kong Ji mempelajarinya. Isi kitab ini mengan dung delapan sari pelajaran lweekang dan penyatur hawa dalam tubuh, setiap pelajaran mempunyai pecahan-pecahan yang amat banyak.

Setiap huruf mengandung pelajaran tinggi dan Kong Ji bukanlah seorang ahli dalam ilmu sastera, maka dapat dibayangkan betapa ia memeras otaknya dan dalam waktu setengah tahun ia baru dapat memetik buahnya dua saja di antara delapan mata pelajaran itu. Sungguhpun begitu, yang dua ini sudah mendatangkan kepandaian yang mujijat, tenaga lweekangnya meningkat tinggi dan sinkang (hawa sakti) di dalam tubuh dapat ia salurkan sampai ke ujung pedang. Semua ini ia latih se cara diam-diam. Cun Gi Tosu sendiri sampai tidak mengetahuinya.

Demikianlah, sekali lagi Kong Ji mengalami hidup tenteram dan aman. Ia pikir, tak mungkin Sin Hong atau Tiang Bu dapat mencarinya. Andaikata mereka dapat mencarinya, ia juga tidak takut. Selain di sampingnya ada Cui Kong dan Cui Gi Tosu yang lihai, juga dia sendiri sanggup menghadapi mereka. Ia malah ingin se kali men coba kepandaian barunya dengan Sin Hong atau Tiang Bu.

Sementara itu, Wan Leng. puteri Sin Hong yang diculik oleh Cun Gi Tosu juga hidup di Pulau Pe k Houw-to, ia dirawat oleh para selir Liok Kong Ji yang rata-rata sayang kepada bocah mungil ini. Juga Cun Gi Tosu kelihatan sayang kepada calon muridnya.

********************

Kita ikuti perjalanan Pendekar Sakti Wan Sin Hong yang mencari jejak Can Gi Tosu, penculik puterinya. Seperti telah dituturkan di bagian depan, setelah mengurus pernikahan antara Wan Sun dan Coa Lee Goat. Wan Sin Hong lalu meninggalkan Kim bun-to untuk pergi mencari puterinya yang di culik oleh Lethian-tung Cun Gi Tosu. Ia sudah mendengar bahwa bala tentara Mongol kini menghentikan serangannya ke selatan dan mengalihkan perahatiannya ke barat.

Dan ia tahu bahwa musuh besarnya itu ialah pembantu orang Mongol, di samping Liok Kong Ji. Oleh karena itu, walaupun perjalanan ke utara amat berbahaya dan tidak sembarang orang berani ke sana, Sin Hong melupakan bahaya, merantau ke utara lewat perbatasan Tiongkok utara untuk mencari jejak musuh besar yang melarikan puterinya itu.

Tepat sekali keputusan yang diambil Sin Hong untuk melakukan perantauan seorang diri tampa membawa isterinya, karena perjalanan yang ditempuhnya ini memang amat berbahaya. Sungguh pun isterinya juga gagah perkasa dan jarang ada orang yang mampu menandinginya, namun memasuki wilayah Mongol yang rakyatnya sedang bergolak itu, apa lagi menghadapi Cun Gi Tosu dan Liok Kong Ji, benar-benar merupakan hal yang amat berbahaya. Baru saja memasuki wilayah Mongol, selagi enak berjalan di dalam hutan belukar, tiba-tiba dari kanan kiri menyambar belasan batang anak panah yang cepat sekali datangnya!

Baiknya Sin Hong bukan pendekar basa saja, melainkan seorang yang telah memiliki kepandaian tinggi dan kewaspadaan yang mengagumkan. Begitu mendengar bersiutnya anak panah dan melihat sinar berkelebat dari kanan kiri, cepat ia telah menggerakkan kedua tangannya ke kanan kiri dan ujung lengan bajunya dengan tepat mengibas runtuh belasan anak panah itu.

Melihat bentuknya anak panah yang bergerak laju, tahulah Sin Hong bahwa dia dikepung orang Mongol. Memang anak panah Mongol amat terkenal dan di dalam perang di selatan yang lalu, tentara Tiong-goan kewalahan menghadapi serangan anak panahya amat kuat dan laju ini. Benar saja dugaannya tempat yang tadinya sunyi itu tiba-tiba menjadi ramai dengan munculnya dua puluh orang Mongol dan terdengar suara kuda meringkik. Heran hati Sin Hong bagaimana kuda dapat dilatih sampai berdiam diri tanpa mengeluarkan suara apa-apa dalam pemasangan bai hok (barisan pendam) itu.

Sambil berteriak-teriak menyeramkan, dua puluh orang Mongol seorang di antaranya berpakaian sebagai perwira, menerjang dan mengeroyoknya tanpa bertanya lagi. Ini tidak aneh karena dalam masa seperti itu, kedatangan seorang berpakaian seperti orang Han tentu dianggap musuh atau mata-mata. Senjata senjata bermacam macam, ada pedang, golok dan tombak. Bagaikan hujan sekalian sanjata itu menyambar ke arah tubuh Wan Sin Hong dan kalau semuanya mengenai tubuh, tentu tubuh itu akan menjadi hancur.

Sin Hong tidak sudi hanyak bersoal jawab. Walaupun dia tidak perdulikan urusan negara dan perang, akan tetapi orang-orang Mongol sudah banyak merampok, membunuh dan membakari rumah rakyat, dengan demikian mereka menjadi juga musuhnya. Tampak sinar menyilaukan mata berkelebatan ke sana kemari, disusul jerit dan keluh kesakitan. Sebentar saja sembilan belas orang serdadu Mongol telah bergeletakan man di darah di atas tanah dan perwira tadipun sudah kehilangan pedangnya dan sekali totok perwira itu menjadi lemas.

Sin Hong sengaja tidak mau membunuh perwira itu. "Katakan di mana adanya thian-tung Cun Gi Tosu dan Liok Kong Ji.” Sin Hong mengancam dengan ujung pedangnya.

Semua perwira Mongol mempunyai kegagahan yang luar biasa. Mereka itu rata-rata tidak takut mati dan melakukan perjuangan sampai titik darah penghabisan. Inilah sebuah di antara rahasia kekuatan bala tentara Mongol, setia dan berdisiplin. Demikian pula perwira yang sudah terjatuh ke dalam tangan Wan Sin Hong ini. Dia sudah tertotok dan tubuhnya tak dapat bergerak pula. Akan tetapi ia masih dapat bicara dan mendengar pertanyaan serta ancaman musuhnya ini, ia tertawa besar.

"Aku seorang perajurit sejati, sudah terjatuh ke dalam tangan musuh, mau bunuh mau siksa, silahkan. Kau kira aku takut mati?” jawabnya gagah.

Diam-diam Sin Hong kagum sekali. Tadi pun ketika ia mengamuk, tak seorangpun antara para perajurit Mongol itu ketakutan atau melarikan diri, sungguhpun kawan-kawan mereka roboh seorang demi seorang oleh pedang pendekar sakti itu. Kalau saja bala tentara Kin demikian setia dan gagah berani tidak nanti Kerajaan Kin demikian mudah dibikin kocar kacir oleh Jengis Khan, pikir Sin Hong.

"Kau benar-benar seorang tai-tiang-bu (seorang gagah setia) tulen. Aku suka benar akan orang yang berhati jujur dan setia. Akan tetapi ketahuilah bahwa aku datang ke utara ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan perang, melainkan untuk urusan pribadi. Salahmu sendiri kau datang-datang menyerangku dengan anak buahmu sehingga terpaksa aku harus membela diri. Juga sedikitnya merupakan hukuman akan perbuatan terkutuk anak buahmu ketika menyerbu ke selatan. Aku menanyakan dua orang itu, terutama Lo-thian-tung Cun Gi Tosu, adalah karena urusan pribadi. Kau sudah pecundangku dan sudah menjadi hak yang menang untuk mengambil nyawa yang kalah. Akan tetapi melihat kesetiaan dan kegagahanmu, aku mau menukar nyawamu dengan keterangan di mana adanya dua orang itu, atau terutama sekali Lo-thian-tung Cun Gi Tosu. Agar kau tidak ragu-ragu, baik kau ketahui bahwa aku sedang mencarinya untuk merampas kembali puteriku yang ia culik.”

Sin Hong yang sudah banyak pengalaman dan amat cerdik itu tahu bahwa berhadapan dengan orang yang jujur dan setia seperti ini, lebih baik ia berterus terang.

"Mata-mata selatan memang pandai menipu dan membohong," jawab Perwira Mongol itu berkeras.

"Aku bukan mata-mata. Kalau aku mata-mata masa aku memasuki wilayah Mongol secara berterang begini?” Wan Sin Hong menjawab sabar.

"Bagaimana aku bisa yakin sebelum tahu betul siapa kau? Siapa namamu?"

Wan Sin Hong mulai jengkel. Dia menang dia yang menawan, akan tetapi sebaliknya dia malah "diperiksa" oleh tawanannya ini. Akan tetapi karena membutuhkaa keterangan di mana adanya musuh besarnya, ia menahan sabar dan menjawab, "Namaku Wan Sin Hong”

Perwira itu membelalakkan matanya. "Kau... Wan Sin Hong yang disebut Wan-bengcu? Raja besar kami sering kali menyebut-nyebut namamu sebagai seorang pendekar besar yang sakti, bukan pembela kerajaan selatan akan tetapi sayang tidak mau membantu pergerakan kami yang suci. Pantas saja aku dan sembilan belas orangku kalah! Ah, jadi kau Wan-bangcu...?"

“Apa kau sekarang mau menolongku?”

"Tentu saja! Manusia-manusia macam Cun Gi Tosu dan Liok Kong Ji itu mana ada harga kulindungi namanya!”

Sin Hong cepat membuka totokannya, membebaskan kembali orang itu. "Nah, ceritakanlah di mana mereka."

"Mereka tidak membantu kami lagi. Malah mereka itu diancam oleh raja besar kami karena mereka mengingkari janji, tidak mau membantu penyerbuan ke barat. Kalau kami mendapat kesempatan menyerbu ke wilayah selatan lagi, manusia-manusia macam itu pasti akan kami binasakan! Menurut keterangan para penyelidik kami, Liok Kong Ji sekarang bersembunyi di Ui-tiok-lim di lembah Sungai Luan-ho di luar tembok Kota Raja Kin, sedangkan Cun Gi Tosu katanya melarikan diri ke selatan dan kabarnya tinggal di sebuah pulau kosong di laut selatan, namanya Pulau Harimau Putih..."

Wan Sin Hong percaya penuh. Keterangan seorang setia seperti ini tak mungkin bohong. Ia mengangguk-angguk lalu berkata, "Terima kasih aku harus kembali ke selatan.”

Perwira itu memandang kepadanya dengan mulut celangap, “Kau... kau membebaskan aku? Tidak membunuhku?”

"Mengapa harus kubunuh? Kita tidak bermusuhan."

"Akan tetapi.. kalau aku menjadi engkau, setiap orang musuhku tentu akan kubunuh. Negara kita kan sedang saling berperang.” Saking jujurnya perwira itu malah menyatakan keheranannya mengapa ia tidak dibunuh!

Sin Hong tersenyum. Ia memang kagum sekali kepada orang ini, maka ia suka membuang waktu untuk memberi sedikit kuliah, "Perang adalah perjuangan bunuh membunuh di antara sesama manusia yang sama sekali tidak punya urusan pribadi, bahkan saling tidak mengenal! Memang seorang perajurit harus membunuh musuhnya selagi negara dalam perang bukan sekali-kali membunuh karena rasa benci perseorangan, melainkan membunuh agar jangan dibunuh dan membunuh untuk memenuhi kewajiban sebagai perajurit terhadap negara. Memang perjuangan dalam perang untuk membela nusa bangsa adalah tugas suci setiap orang gagah. Akan tetapi sekali saja kau membunuh tentara lawan dengan hati mengandung kebencian pribadi, maka sifat membunuh itu menjadi keji dan hina! Kau boleh membunuh seribu orang tentara lawan tanpa memperdulikan siapa lawan itu, tanpa rasa benci kepada orangnya, dengan pegangan bahwa dia itu musuh negara dan harus dibunuh. Akan tetapi, sekali-kali kau tidak boleh membunuh dengan rasa benci perseorangan. Kalau aku membunuhmu, apa alasanku? Aku tidak ada parmusuhan dengan kau, juga aku bukan tentara lawanmu. Kalau tadi aku membunuh anak buahmu adalah karena aku dikeroyok dan aku diserang lebih dulu sehingga aku harus membela diri. Dengan kau lain lagi, kau seorang gagah dan setia, kau telah memberi keterangan penting kepadaku, Nah, selamat tinggal.”

Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Sin Hong sudah lenyap dari depan mata perwira itu yang mula-mula melongo, kemudian ia berjingkrak seperti orang kemasukan setan.

“Ha ha ha. Aku sudah bertemu dengan Wan Sin Hong! Aku mengalami hal luar biasa yang dapat kudongengkan kepada anak cucuku! Baru kali ini aku mengalami kekalahan terhormat dari orang besar seperti Wan-bengcu!” Orang itu tertawa-tawa kemudian lari ke utara untuk mencari kawan-kawan guna merawat para korban pedang Wan Sin Hong.

Wan Sin Hong memutar perjalanannya sembilan puluh derajat. Ia kini memutar ke selatan. Ada keinginan hatinya untuk mencari Liok Kong Ji di Ui-tiok-lim untuk membuat perhitungan terakhir dengan musuh lama ini. Akan tetapi ia menekan keinginan ini karena perhatiannya tercurah kepada puterinya.

la harus mencari dan menolong dulu puterinya, baru kelak membereskan perhitungan dangan Kong Ji. Oleh karena itu ia tidak mencari ke Ui-tiok-lim, melainkan terus melakukan perjalanan ke selatan yang luar biasa jauhnya. Di dalam perjalanan ini, Wan Sin Hong teringat akan perjalanannya, ketika ia mencari Tiang Bu yang terculik oleh Hui-eng Niocu yang sekarang sudah menjadi isterinya.

Kalau saja ia lebih dulu pergi ke Ui-tiok- lim, ada kemunngkinan ia akan menjadi saksi betapa Tiang Bu mengobrak-abrik tempat persembunyian Liok Kong Ji ini. Dalam melaksanakan perjalanan ke selatan, Wan Sin Hong menuju ke barat lebih dulu sampai ia bertemu dengan Sungai Huang-ho, kemudian ia nyambung perjalanannya dengan sebuah perahu setelah lebih dulu ia singgah di Luliang-san untuk mengunjungi makam suhunya.

Perjalanan dengan perahu amat cepat karena selain perahu dibawa aliran sungai, juga Sin Hong menambah dengan dayungnya yang digerakkan dengan tenaga. Terjadi pertemuan dan peristiwa yang menarik hati ketika ia tiba di dekat kota Lok-yang, di mana air Sungai Huang-ho dari utara itu membelok ke timur. Memang Sin Hong hendak mendarat dan melanjutkan perjalanan darat lagi terus ke selatan. Akan tetapi sebelum ia mendarat, ketika perahunya tiba di daerah berhutan yang liar, tiba-tiba di depannya menghadang lima buah perahu kecil yang diatur berjajar, sengaja menghalangi perahunya.

Dari pengalamannya. Wan Sin Hong tahu bahwa penghadangnya tentulah golongan bajak. Akan tetapi ia tidak menjadi gentar. Empat buah perahu masing-masing hanya ditumpangi dua orang berpakaian hitam yang memegang golok, sedangkan perahu ke lima diduduki tiga orang, yaitu seorang kakek, seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik. Tiga orang ini lebih menarik perhatian Sin Hong karena mereka memperlihatkan sifat-sifat gagah.

Selagi Sin Hong hendak menegur mengapa ia dihadang, tiba tiba ia mendengar suara khim (alat musik) ditabuh oleh pemuda itu dan si gadis cantik bernyanyi, sedangkan kakek itu mengambil irama dengan ketokan dayungnya pada air, Sin Hong memasang telinga memperhatikan isi nyanyian.

"Serigala utara pergi menghilang.
Datang banjir dan belalang
Tinggalkan uang dan barang
Baru perahu takkan terhalang!

Hati siapa takkan risau?
Siapa pula akan hirau?
Membuka tangan membantu petani
Kalau bukan bangsa sendiri.


Suara gadis itu halus dan merdu, akan tetapi mengandung kekuatan dapat menembus angin dan mencapai telinga Sin Hong, demikian pula permainan khim. Ini semua selain merupakan pernyataan “minta barang dan uang", juga merupakan demonstrasi lweekang yang tinggi dari pemuda dan gadis itu. Akan tetapi, sudah tentu saja demonstrasi pemuda dan gadis itu merupakan permainan biasa bagi Sin Hong. Yang amat menarik perhatian Sin Hong adalah kakek yang memukul-mukulkan dayungnya ke air untuk menerbitkan suara berirama.

Dayung itu dipukul-pukulkan biasa saja akan tetapi perahu sedikitpun tidak bergoyang dan air sedikitpun tidak memercik ke atas. Namun, setiap kali dayung mengenai air terdengar bunyi “plak" yang keras dan air tertekan ke dalam sedangkan di sekitarnya menaik ke atas...!