Kisah Si Pedang Kilat Jilid 14

Kisah Si Pedang Kilat Jilid 14

RUMAH yang berdiri megah di Lembah Bukit Siluman itu amat besar dan angker. Gedung kuno itu mempunyai banyak arca dan ukir-ukiran, seperti istana raja saja di antara bangunan-bangunan lain yang nampak kecil sederhana yang terdapat di sekitar lembah itu. Gadung itu milik Bu-eng-kiam Ouwyang Sek, majikan Lembah Bukit Siluman. Seluruh sawah ladang yang berada di bukit itu adalah milik datuk ini, dan para petani yang tinggal di sekitar tempat itu merupakan buruh tani penggarap sawah ladangnya. Bu-eng-kiam Ouwyang Sek terkenal sebagai daluk persilatan yang ditakuti, besar pengaruhnya, dan kaya raya.

Pada pagi hari itu, para pelayan laki-laki dan perempuan yang jumlahnya belasan orang di gedung itu nampak sibuk. Pihak tuan rumah sekeluarga, yaitu Ouwyang Sek, isterinya, dan kedua anaknya, yaitu Ouwyang Toan pemuda berusia dua puluh delapan tahun, dan Ouwyang Hui Hong gadis berusia dua puluh satu tahun, sedang menerima kunjungan tamu-tamu yang agaknya dihormati oleh keluarga tuan rumah.

Memang jarang terjadi dan agak aneh kalau keluarga Ouwyang yang terkenal angkuh dan memandang rendah orang lain itu sekali ini menerima kunjungan tamu yang dihormati. Akan tetapi, tidak akan mengherankan lagi kalau diketahui siapa yang datang berkunjung. Tamu tamu kehormatan itu adalah datuk besar Kui-siauw-giam-ong Suma Koan, majikan Bukit Bayangan Setan bersama putera tunggalnya, Tok-siauw-kwi Suma Hok. Datuk yang datang sebagai tamu ini mempunyai kedudukan dan tingkat yang sama dengan pihak tuan rumah, dan kunjungannya adalah kunjungan kehormatan, membawa segerobak barang-barang hadiah amat berharga.

Tentu saja Ouwyang Sek merasa terhormat dan girang sekali, dan disambutlah rekan setingkat itu dengan gembira dan penuh kehormatan pula. Dia mengarahkan isteri dan dua orang anaknya untuk ikut menyambut! Tentu saja hal ini menggirangkan pihak tamu, karena kedatangan mereka mempunyai maksud untuk mengajukan pinangan!

Setelah para pengawal dan pengikutnya menghamparkan semua barang hadiah di atas meja besar di ruangan tamu yang luas itu, dipandang dengan kagum oleh Ouwyang Sek dan keluarganya, Suma Koan dengan wajah berseri bangga lalu mamberi hormat kepada tuan rumah.

“Sahabatku Ouwyang, sudah puluhan tahun antara kita terdapat ikatan yang akrab, bukan saja sebagai saingan dalam dunia persilatan, juga sebagai orang setingkat dan sederajat. Biarpun kadang-kadang keadaan membuat kita saling berhadapan sebagai saingan maupun lawan, namun di lubuk hatiku selalu ada perasaan kagum terhadapmu, sobat! Dan karena rasa kagum itulah, maka hari ini kami datang, bukan saja membawa sakedar oleh-oleh sebagai tanda persahabatan dan penghormatan. Juga membawa iktikad baik untuk lebih mempererat hubungan di antara keluarga kita."

Ouwyang Sek yang berusia lima puluh tiga tahun, bertubuh tinggi besar bermuka hitam dan gagah perkasa itu, tertawa bergelak sambil memandang kepada tamunya yang usianya limapuluh delapan tahun, dan biarpun tubuh datuk itu kecil kurus, namun Ouwyang Sek tidak memandang rendah kepadanya karena dia tahu bahwa tubuh yang kecil itu memiliki kemampuan luar biasa dan dia sendiri tidak akan mampu mengalahkan Suma Koan dengan mudah.

"Ha-ha-ha-ha, engkau selalu merupakan orang yang kukagumi, sobat Suma! Baik sebagai saingan, lawan maupun kawan. Aku dan keluargaku menghargai kunjungan persahabatan ini, dan marilah engkau dan puteramu menerima hidangan kami seadanya!"

Langsung saja dua orang tamu itu dipersilakan memasuki ruangan dalam, di mana telah diatur meja yang penuh hidangan. Tamu ayah dan anak itu bersama pihak tuan rumah yang terdiri dari ayah, ibu dan dua orang anak duduk mengelilingi meja hidangan.

Sejak tadi, setelah diberi kesempatan memberi hormat kepada pihak tuan rumah, Suma Hok yang tampan dan pesolek berulang kali melepas pandang mata yang penuh kagum dan sayang ke arah Ouwyang Hui Hong. Namun gadis ini pura-pura tidak tahu saja walaupun ia bersikap ramah terhadap dua orang tamu itu demi ayahnya. Dalam lubuk hatinya Hui Hong tak pernah dapat melupakan peristiwa tiga tahun yang lalu ketika ia nyaris diperkosa olah pemuda tampan pesolek itu.

Kedua pihak saling memberi hormat dan selamat melalui pengangkatan cawan arak dan mereka makan minum dengan gembira seperti layaknya tamu dan tuan rumah yang menjadi sahabat akrab dan saling menghormati. Sungguh luar biasa sekali kalau diingat betapa dua orang datuk ini pernah beberapa kali berhadapan sebagai lawan dan saling serang mati-matian!

Setelah mereka makan minum sampai kenyang. Pihak tuan rumah mempersilakan dua orang tamunya ke ruangan dalam yang lebih luas. di mana mereka dapat bercakap-cakap dengan leluasa dan gembira. Ouwyang Toan dan Ouwyang Hui Hong tetap disuruh menemani ayahnya menyambut tamu-tamu itu dan melayani mereka bercakap-cakap.

Melihat sikap yang ramah dan senang hati dari Ouwyang Sek, Suma Koan melihat kesempatan baik sekali untuk menyampaikan isi hatinya. "Sahabat Ouwyang, sesungguhnya kedatangan kami ini mempanyai niat yang amat baik, yaitu kami ingin sekali agar keluarga antara kita terjalin hubungan yang lebih baik. bahkan dua keluarga dapat menjadi satu!"

Ouwyang Sek adalah seorang yang keras hati dan keras kepala, kasar dan terbuka, maka dia masih belum mengerti apa yang dimaksudkan tamunya. "Ha-ha-ha, sahabat Suma kunjunganmu ini saja sudah mempererat hubungan antara kita. Niat baik apalagi yang kau miliki terhadap kami?"

"Sahabat Ouwyang, engkau tahu bahwa aku hanya mempunyai seorang anak, yaitu puteraku Suma Hok ini, biarpun dia bodoh akan tetapi namanya cukup dikenal di dunia kang-ouw dan aku sudah bersusah payah untuk mewariskan seluruh kepandaian dan milikku kepadanya. Tahun ini, usianya sudah duapuluh lima tahun dan setelah mencari-cari sampai beberapa lama, aku tidak melihat seorangpun gadis yang pantas menjadi jodohnya, kecuali puterimu yang cantik jelita dan pandai ini. Kami datang untuk meminang puterimu!”

Ouwyang Sek terbelalak mendengar ini, menoleh ke arah puterinya yang mengerutkan alis dan mukanya menjadi merah sekali, dan diapun tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, aku sampai lupa bahwa aku mempunyai seorang anak perempuan yang sudah dewasa!” Dia tertawa-tawa lagi.

"Ayah, aku belum ingin menikah!” Tiba-tiba Hui Hong berkata dengan suara tegas.

Ouwyang Sek menghentikan tawanya. "Ehhh!” Dia menggerak-gerakkan alisnya yang tebal. "Hui Hong, ingat, usiamu sekarang sudah dua puluh satu tahun, dan pelamarmu sekali ini adalah putera datuk besar Suma Koan, majikan Bukit Bayangan Setan!”

Suma Koan tertawa. "Ha-ha, sahabat Ouwyang, harap jangan terlalu memuji. Keadaanku tidak lebih besar dari pada keadaanmu, akan tetapi kalau keluarga Ouwyang menjadi satu dengan keluarga Suma, bukankah kita berdua menjadi yang terbesar dan siapa yang akan berani menentang kita!"

"Benar... benar... ah, pinanganmu ini akan kami pertimbangkan baik-baik...!” kata Ouwyang Sek sambil tertawa lagi.

"Ayah! Aku tidak sudi menjadi jodoh jahanam yang tiga tahun lalu nyaris memperkosaku ini!” kata Hui Hong dan iapun bangkit berdiri lalu lari meningalkan ruangan itu menuju ke kamarnya.

"Hui Hong...!” ibunya berseru dan lari mengejar.

Ouwyang Sek bersungut-sungut, merasa tidak senang melihat sikap puterinya dan merasa tidak enak kepada tamunya. "Sobat Suma Koan, engkau dan puteramu duduklah dulu, aku akan membujuk anak bandel itu. Percayalah, dia pasti akan taat kepada ayahnya," Katanya dan diapun lari mengejar anak dan isterinya.

Suma Koan tersenyum dan minum araknya, tidak memperdulikan putranya yang kelihatan kecewa. Dia sudah merasa yakin bahwa tentu Ouwyang Sek akan menerima pinangannya. Dia tahu betapa rekannya itu terlalu mementingkan diri sendiri dan akan menggunakan siapapun, termasuk anak sendiri, demi keuntungan diri pribadi. Kalau keluarga Ouwyang menerima pinangannya, berarti dua keluarga datuk itu menjadi satu dan kedudukan masing-masing menjadi semakin kuat. Mana mungkin penawaran yang demikian menguntungkan akan ditolak oleh Ouwyang Sek.

Ouwyang Toan yang kini duduk sendiri bersama dua orang temannya, sejak tadi memang sudah merasa canggung dan tidak suka. Diapun ikut merasa tidak suka mendengar pinangan itu, mengingat bahwa adiknya pernah akan diperkosa Suma Hok yang menjadi saingannya sebagai putera datuk yang bersaingan. Maka, melihat ayahnya lari mengejar, diapun baugkit dan mengaagguk kepada dua orang tamunya, dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu, juga menyusul adiknya.

Hui Hong duduk di tepi pembaringannya, alisnya berkerut, mukanya merah dan mulutnya cemberut. Ibunya kini duduk di dekatnya sambil merangkul pundak puterinya.

"Hui Hong. kenapa engkau bersikap seperti itu? Usiamu sudah dua puluh satu tahun dan ayahmu benar, engkau sudah cukup dewasa untuk berumah tangga. Dan biarpun aku belum mengenal pemuda itu, akan tetapi aku tidak melihat keburukan pada dirinya, Dia tampan, halus dan sopan..."

"Ibu! Ibu tahu apa? Jahanam itu pernah menawan aku dan nyaris memperkosaku, ibu! Kalau tidak ada Kwa Bun Houw yang menyelamatkan aku, tentu anakmu ini sekarang sudah mati membunuh diri karena dinodai jahanam busuk itu. Bagaimana mungkin aku dapat menjadi isterinya!”

"Omong kosong!" Tiba-tiba ayahnya memasuki kamar dan membentak marah. “Perbuatannya itu bukan berarti dia jahat dan busuk, melainkan karena dia cinta padamu, Hui Hong. Buktinya, sekarang dia datang bersama ayahnya dan mengajukan pinangan secara resmi. Dan kau lihat sendiri, hadiah yang dibawanya lebih besar dari pada kalau engkau dipinang putera seorang bangsawan tinggi. Ini berarti bahwa keluarga Suma menghargaimu, Hui Hong. Kalau engkau menjadi mantu Suma Koan, engkau akan menjadi seorang nyonya yang terhormat kaya raya, mulia dan terlindung."

"Tidak, aku tidak sudi, ayah!" Hui Hong berseru, juga dengan suara keras penuh kemarahan.

"Engkau harus mau, ini perintahku!" ayahnya membentak pula.

Pouw Cu Lan, ibu Hui Hong, segera menengahi. "Aih, kalian ini ayah dan anak sama-sama keras kepala. Kenapa urusan ini tidak dibicarakan dengan tenang saja? Keduanya suka mengalah, serta mempertimbangkan pendapat masing-masing dan kita rundingkan, mana yang benar dan baik."

Hui Hong adalah seorang gadis yang cerdik walaupun ia keras hati. Ia juga mengenal ayahnya sebagai seorang yang berhati baja dan sukar sekali untuk mengubah apa yang sudah diputuskan ayahnya. Maka, tadi ia sudah memutar otak dan kini ia turun dari pembaringan, berdiri tegak menghadapi ayahnya yang sudah mulai marah.

"Ayah, dongeng-dongeng jaman dahulu menyatakan bahwa setiap orang gadis yang terhormat harus dapat menjaga harga dirinya, dan setiap orang puteri kalau dipinang orang selalu mengajukan syarat. Aku pun ingin menjadi puteri terhormat dan siapapun yang meminangku, harus memenuhi syarat yang kuajukan!"

Mendengar ini, agak berkurang kemarahan Ouwyang Sek. "Hemm, sekarang engkau bicara dengan sehat. Memang engkau berhak mengajukan syarat. Nah, syarat apa yang kau ajukan itu, cepat katakan agar dapat kusampaikan kepada keluarga Suma."

"Aku mempunyai dua macam syarat yang harus dipenuhi." kata gadis itu dengan suara tegas. "Pertama aku minta agar mustika Akar Bunga Gurun Pasir yang hilang dari tangan ayah itu dapat ditemukan kembali dan diserahkan kepadaku. Hal ini menyangkut kehormatan keluarga kami, ayah."

Ouwyang Sek memandang puterinya dengan wajah yang cerah dan dia menganggukkan kepala. "Bagus! Syarat itu memang pantas dan aku sendiri memperkuat syarat itu. Keluarga Suma harus bisa mendapatkan kembali mustika itu dan menyerahkannya kepada kita!” katanya gembira.

"Masih ada syarat ke dua dan ke tiga, ayah."

"Hemm, katakan dua yang lain!”

“Syarat ke dua, aku hanya mau menjadi isteri seorang yang dapat menandingi dan mengalahkan aku. Hal inipun kulakukan untuk mengangkat nama dan kehormatan ayah."

Pria tinggi besar itu kini tersenyum dan mengangguk-angguk. "Baik sekali. Memang putera Suma Koan itu harus belajar yang rajin dan harus dapat mengunggulimu dalam ilmu silat. Syarat ke dua itupun akan kusampaikan kepada mereka."

"Syarat yang ke tiga adalah untuk menebus penyesalanku, ayah. Syarat itu adalah bahwa sebelum aku menerima pinangan itu, harus diusahakan agar aku dapat bertemu dengan Kwa Bun Houw dalam keadaan sehat!”

Terbelalak sepasang mata itu dan kulit muka yang kehitaman itu menjadi semakin hitam. Datuk itu kembali marah. "Hui Hong, apakah engkau gila? Syaratmu yang ke tiga itu tidak mungkin!”

"Kenapa tidak, ayah? Ketika aku nyaris diperkosa jahanam Suma Hok, aku diselamatkan oleh Kwa Bun Houw. Akan tetapi ayah tidak membalas budi itu. sebaliknya ayah bahkan memukulnya dan melukainya. Aku merasa menyesal sekali, maka aku ingin bertemu dengan dia dan minta maaf."

"Huh, mana bisa begitu? Kalau dia sudah mampus?"

"Kalau dia sudah mati, aku tidak mau menikah!”

"Heiii?" Gilakah engkau? Celaka, anak ini jatuh cinta kepada setan itu!”

"Memang aku cinta kepada Houw-ko, ayah. Dia baik, berbudi, gagah perkasa dan aku berhutang nyawa dan kehormatan kepadanya. Aku..."

"Cukup! Syarat gila itu tidak dapat diterima."

"Kalau begitu, akupun tidak sudi menikah dengan siapapun!”

"Aku akan memaksamu!”

Sepasang mata gadis itu mencorong penuh kemarahan. “Ayah keras hati dan hendak memaksaku? Apa ayah kira akupun tidak dapat berkeras hati? Dengan kekerasan ayah dapat memaksaku, akan tetapi, akupun dapat membalas. Aku akan membunuh diri ketika pernikahan dirayakan dan jahanam itu hanya akan mengawini mayatku dan ayah akan mendapat malu besar di depan para tamu!"

"Anak setan! Kalau begitu lebih baik sekarang saja engkan mati!” Datuk itu sudah mengangkat tangan dan hendak menyerang Hui Hong yang sama sekali tidak kelihatan takut. Melihat ini.

Pouw Cu Lan menubruk suaminya. "Jangan...!” teriaknya.

Akan tetapi sekali dorong, tubuh wanita itu terlempar ke atas pembaringan. Dorongan yang terarah ini menunjukkan betapa sayangnya Ouwyang Sek kepada isterinya, walau dalam keadaan marah sekalipun. Dia melangkah maju hendak melanjutkan serangannya membunuh Hui Hong.

"Ouwyang Sek, engkau tidak berhak membunuh anakku! Ia bukan anakmu, engkau tidak berhak membunuhnya!” Wanita itu berteriak, nadanya lantang.

Dan mendengar ini, Ouwyang Sek seperti tersentak, tangan yang sudah diangkat itu turun dan perlahan-lahan dia memutar tubuhnya, menghadapi isterinya yang masih terduduk di atas pembaringan. "Cu Lan... kau... kau membuka rahasia itu...!” kata Ouwyang Sek, semua kekerasan lenyap dari suaranya.

"Tidak perduli! Engkau tidak berhak membunuh anakku. Bukankah selama dua puluh tahun ini aku memegang janji, menyerahkan segalanya kepadamu, bahkan mencoba untuk belajar mencintamu? Akan tetapi, hari ini engkau hendak memaksanya menikah dengan orang yang tidak disukainya, hendak membunuhnya. Ia bukan anakmu!”

Diserang dengan ucapan seperti itu oleh Isterinya, Ouwyang Sek tertegun, mukanya berkerut seperti menahan rasa nyeri di dalam dadanya, kemudian dia menarik napas panjang dan mengangguk-angguk. "Baik... baik, Cu Lan. aku tidak akan membunuhnya... " Dan dia menoleh ke arah Hui Hong. "Aku akan minta mereka memenuhi syarat pertama dan ke dua, akan tetapi aku tidak perduli akan syaratmu yang ke tiga. Kalau dua syarat itu telah dipenuhi engkau harus menikah dengan Suma Hok, mau atau tidak mau! Kalau engkau akan membunuh diripun silakan, akan tetapi engkau harus menikah dengan putera Kui-siauw Giam-ong kalau dia dapat memenuhi dua syaratmu!"

Setelah berkata demikian, datuk besar ini keluar dari dalam kamar puterinya dan membanting daun pintu. Ketika tiba di luar, dia melihat puteranya, Ouwyang Toan berada di situ dan tahulah dia bahwa puteranya tadi juga ikut mendengarkan semua percakapan dalam kamar. "Mau apa kau di sini?" tegur Ouwyang Sek yang masih marah.

Wajah pemuda tinggi besar dan gagah itu nampak tegang dan sinar matanya berseri. "Ayah... kalau begitu... adik Hui Hong bukanlah adik tiriku, bukan anak kandung ayah? Kalau begitu... antara ia dan aku tidak ada hubungan darah sama sekali..."

"Hemm, kalau sudah begitu kenapa?" ayahnya membentak dengan suara lirih agar jangan terdengar isterinya yang berada di kamar puterinya, sambil terus melangkah meninggalkan tempat itu diikuti puteranya.

"Kalau begitu aku dapat mengawininya, ayah! Aku... sejak dulu aku... cinta kepada Hui Hong."

Kembali Ouwyang Sek tertegun, akan tetapi karena hatinya sedang risau dan mendongkol, dia cemberut." Masa bodoh ia mau menikah dengan siapa, asal dapat mamenuhi syarat-syaratnya."

"Apakah syarat-syaratnya, ayah? Aku masih kurang begitu jelas. Ia menyebut-nyebut Kwa Bun Houw..."

"Itu tidak masuk hitungan! Syaratnya hanya dua, pertama harus dapat menemukan kembali mustika Akar bunga Gurun Pasir, ke dua harus mampu mengalahkannya."

"Akan kucoba, ayah."

Ayahnya menoleh dan memandang kepadanya, lalu mendengus marah. "Agaknya engkau pun sudah gila!"

Mereka memasuki ruangan tamu dan dua orang tamu mereka segera bangkit menyambut. Suma Koan tersenyum lebar. "Aha, sobat Ouwyang Sek, aku percaya engkau tentu telah berhasil membujuk puterimu, dan menerima pinangan kami."

Ouwyang Sek duduk, juga Ouwyang Toan mengambil tempat duduk semula. Setelah memandang kepada kedua orang tamu itu, dia lalu berkata. "Aih. puteriku memang manja sekali. Ia tidak lagi menolak, akan tetapi mengajukan syarat-syarat!"

"Aihh! Syarat-syarat apakah yang diajukan adinda Ouwyang Hui Hong itu, paman!” terdengar Suma Hok bertanya, suaranya penuh gairah karena dia merasa yakin akan mampu memenuhi syarat yang diajukan gadis yang membuatnya tak nyenyak tidur tak enak makan itu.

"Syarat ini bukan hanya untuk keluarga Suma, melainkan syarat umum terhadap siapa saja yang ingin memperisteri Hui Hong. Pertama, pemuda itu harus mampu mencari sampai dapat mustika Akar Bunga Gurun Pasir kami yang hilang dan menyerahkan kepada Hui Hong, dan ke dua, pemuda itu harus mampu menandingi dan mengalahkan Hui Hong?”

Suma Hok mengerutkan alisnya. Syarat syarat itu, terutama yang pertama, terasa berat olehnya dan dia memandang kepada ayahnya. Akan tetapi Suma Koan tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, syarat-syarat itu cukup sukar, akan tetapi untuk mendapatkan seorang gadis sehebat Ouwyang Hui Hong. syarat itu masih terlalu lunak. Sobat Ouwyang, kami menyanggupi syarat-syarat itu. Pertama akan kami coba penuhi syarat pertama menemukan kembali mustikamu itu, baru kemudian kami memenuhi syarat ke dua. Nah, kami minta diri, akan segera melaksanakan syarat pertama."

Ouwyang Sek bangkit dan mengantar kedua orang tamunya sampai ke pintu depan, ditemani oleh Ouwyang Toan. Diam-diam Ouwyang Toan merasa lega dan girang. Tadi ayahnya mengajukan di depan dua orang tamunya bahwa syarat-syarat itu ditujukan kepada siapa saja yang hendak memperisteri Hui Hong! Berarti dia pula berhak memperisteri gadis itu kalau dapat memenuhi dua syarat itu. Dia harus lebih dulu mendapatkan kembali Akar Bunga Gurun Pasir, jangan sampai keduluan Suma Hok!

Akan tetapi Suma Hok merasa tidak puas sama sekali. Biarpun ayahnya telah menyanggupi dan menerima dua syarat itu, akan tetapi dia merasa seperti dipersukar, apalagi dia tidak mendapat kesempatan untuk berpamit kepada Hui Hong sehingga dapat bertemu lagi dengan gadis itu. Maka, sebelum ayahnya meninggalkan pintu gerbang keluarga Ouwyang, dia berhenti dan memberi hormat kepada Ouwyang Sek.

"Maafkan saya, paman Ouwyang, Karena syarat itu cukup berat dan entah sampai kapan saya akan dapat membawa ke sini mustika itu untuk dihaturkan kepada paman dan adinda Ouwyang Hui Hong, maka perkenankanlah saya untuk berpamit kepada puteri paman yang amat saya cinta itu."

Mendengar ini, Suma Koan cepat berkata untuk membela puteranya, "Ha-ha-ha, dasar orang muda. Sobat Ouwyang, kurasa permintaan anakku itu pantas saja. Pula, sebagai tamu, aku sendiri merasa kurang enak kalau tidak pamit dari semua keluargamu yang tadi menyambut kami. Akupun ingin berpamit kepada isterimu dan puterimu."

Ouwyang Sek baru teringat akan sopan santun. Keluarganya telah menyambut tamu, bagaimana sekarang tidak muncul ketika tamu-tamunya pulang. "Ha-ha-ha, memang sulit mengatur wanita. Toan-Ji (anak Toan), kau cepat minta ibumu dan adikmu keluar mengantar tamu!"

Biarpun hatinya merasa tidak senang, Ouwyang Toan pergi juga ke kamar adiknya. Dia mengetuk pintu kamar dan yang keluar adalah ibu tirinya. Akan tetapi dia dapat mendengar suara adiknya menangis! Adiknya menangis! Sungguh hal yang teramat aneh. Gadis yang keras hati dan gagah berani itu menangis! Dan dia teringat akan rahasia yang dibuka ayahnya tadi. Agaknya itulah yang membuat Hui Hong menangis.

Ketika mendengar Ouwyang Toan menyampaikan permintaan suaminya, Pouw Cu Lan mengerutkan alisnya. "Katakan pada ayahmu bahwa saat ini adikmu tidak mungkin dapat keluar mengantar tamu pulang,"

"Tapi ayah akan marah..."

"Katakan saja kepada ayahmu bahwa kalau besok para tamu mendatang lagi, aku tentu sudah dapat membujuk Hui Hong untuk keluar dan mengantar mereka pulang." Ia lalu masuk lagi dan menutupkan daun pintu kamar anaknya.

Terpaku Ouwyang Toan menyampaikan jawaban ibunya itu kepada ayahnya yang menjadi bingung, tak tahu bagaimana harus bersikap atau bicara kepada tamunya. Akan tetapi mendengar laporan Ouwyang Toan itu. Suma Hok yang cerdik segera berkata dengan gembira.

"Kalau begitu, biarlah kita menanti semalam di sini, ayah! Kesempatan ini dapat kupergunakan untuk melihat-lihat keindahan bukit ini."

"Ha-ha-ha, boleh saja kalau sobat Ouwyang Sek tidak berkeberatan menerima kita bermalam di sini semalam, agar besok aku dapat berpamit dari semua keluarganya." kata Suma Koan.

Tentu saja Ouwyang Sek tidak dapat berbuat lain kecuali menerima mereka, dan mereka semua masuk kembali. Hanya Ouwyang Toan yang diam-diam mendongkol kepada Suma Hok yang mulai saat itu dianggap sebagai saingannya untuk memperisteri Hui Hong yang sudah disayangnya sejak kecil. Rasa sayang sebagai kakak terhadap adik yang makin lama berkembang menjadi asmara, Apalagi setelah diketahui bahwa Hui Hong bukan adiknya, melainkan orang lain!

********************

Serial Pedang Kilat Karya Kho Ping Hoo

Ouwyang Toan tidak salah dengar. Ketika dia menyampaikan pesan ayahnya kepada ibu tirinya, dia memang mendengar adiknya sedang menangis. Dan memang hal ini amat aneh. Hui Hong sejak kecil hidup dalam keluarga Ouwyang Sek, digembleng sehingga menjadi seorang gadis yang berani, keras hati dan seolah-olah pantang menangis, seperti seorang laki-laki gagah perkasa saja. Akan tetapi ketika itu, ia menangis terisak-isak, tak tertahankan sampai sesenggukan.

Kemarahan ayahnya yang hendak memaksanya menerima pinangan Suma Hok tidak membuat ia menangis walaupun ia marah, kecewa dan penasaran sekali. Akan tetapi, ketika mendengar ucapan ayah dan ibunya, ketika ibunya mengatakan bahwa ia bukan anak kandung ayahnya, hal itulah yang menikam ulu hatinya. Setelah ayahnya pergi, ia menubruk ibunya, bahkan mengguncang kedua pundak Ibunya.

"Ibu, apa artinya semua itu? Aku bukan-anak kandung ayah? Ibu, apa artinya ini? Ayah bilang ibu telah membuka rahasia. Ibu, rahasia apakah yang terkandung di balik kehidupan ibu dan ayah? Kalau aku bukan anak kandung ayah, lalu siapakah ayahku? Ibu, ceritakan semua kepadaku!”

Dan berceritalah Pouw Cu Lan. Wanita cantik berusia empat puluh dua tahun kita berceritera dengan suara gemetar menahan perasaan yang menusuk-nusuk. "Tahukah engkau siapa ibumu ini, anakku?”

"Bukankah ayah sering membanggakan bahwa ibu adalah bekas selir kaisar? Apakah kalau begitu ayahku adalah... kaisar?"

Wanita itu menggeleng kepalanya. Sungguh berat rasanya membuka rahasianya, rahasia yang penuh keaiban terhadap anak kandungnya sendiri. "Memang benar, aku adalah seorang yang pernah menjadi selir mendiang Kaisar Cang Bu di Nan-king. kaisar Kerajaan Liu-sung yang telah jatuh dan digantikan Kerajaan Chi yang sekarang ini, anakku. Dengan mendiang kaisar, aku tidak mempunyai anak. Akan tetapi, dua puluh dua tahun yang lalu, sebagai selir kaisar aku bertemu dengan seorang pangeran. Kami... saling jatuh hati, saling mencinta dan kami... mengadakan hubungan gelap."

Hui Hong yang mendengar cerita itu mengerutkan alisnya, akan tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. Ia hanya tahu bahwa ibunya terpaksa menjadi selir kaisar tidak mencinta kaisar dan bertemu dengan pangeran yang di cintanya.

"Akan tetapi, hubungan kami ketahuan kaisar. Pangeran itu merasa malu dan... membutakan kedua matanya sendiri, lalu minggat dari Istana, dan aku... aku menerima hukuman dari kaisar. Aku dihukum buang... " Kini Pouw Cu Lin tidak dapat menahan tangisnya lagi karena ia teringat akan kekasihnya, pangeran itu.

"Lalu bagaimana, ibu?" Karena penasaran dan ingin tahu, Hui Hong mendesak ibunya yang sedang menangis.

"Ketika aku sedang dikawal menuju ke tempat pembuangan, Ouwyang Sek menghadang, membunuh para pengawal dan membebaskan aku dari kerangkeng, lalu dia... dia mengambil aku sebagai isterinya.

Hui Hong mengerutkan alisnya. Cerita ibunya sungguh membuat ia tidak merasa senang. Ibunya seorang yang demikian cantik, dan pria yang selama ini dianggap sebagai ayahnya demikian buruk dan kasar. "Dan ibu mau?" komentarnya yang mengandung teguran karena penasaran.

Wanita itu terisak, kepalanya tunduk dan ia mengangguk. "Aku... aku terpaksa mau karena... karena hendak menyelamatkan... engkau, Hui Hong."

Sekali ini Hui Hong terlonjak kaget. "Ibu, apa artinya ini! Apa maksud ibu?"

"Hui Hong, apakah engkau kira ibumu ini demikian rendah sehingga rela begitu saja dipisahkan dari pangeran itu, satu-satunya orang yang kukasihi dengan badan dan batinku. Demi engkaulah maka aku terpaksa menerima paksaan derita lahir batin. Kalau tidak ada engkau, tentu sebelum dihukum buang, aku sudah membunuh diri mencuci aib dan duka karena dipisahkan dari pangeranku."

"Demi aku, Ibu, jelaskanlah!" Hui Hong semakin penasaran.

"Ketika aku dan pangeran itu dipisahkan dengan paksa. Aku dalam keadaan mengandung, anakku. Mengandung... engkau! Baru tiga bulan kandunganku itu. Aku tidak ingin kehilangan engkau, karena engkaulah satu-satunya peninggalan kekasihku itu kepadaku. Aku rela dihukum buang, bahkan ketika aku diselamatkan Ouwyang Sek, aku rela diperisteri dengan syarat bahwa aku baru mau menjadi isterinya setelah engkau terlahir dan setelah dia berjanji bahwa dia akan menganggapmu sebagai anak sendiri, akan memperlakukanmu dengan kasih sayang seperti anak sendiri."

"Aihhhh, ibu...!” Mulai saat itulah Hui Hong menangis, merangkul ibunya. Ia dapat membayangkan betapa hebat penderitaan ibunya, derita lahir batin demi untuk menyelamatkan dirinya, puterinya! Semua itu dilakukan ibunya karena amat besar cinta ibunya, terhadap ayah kandungnya, pangeran itu, sehingga rela berkorban perasaan, menderita lahir batin asal dapat menyelamatkan keturunan pangeran itu. Sampai lama dua orang wanita itu saling rangkul dan bertangis-tangisan.

"Menangislah anakku... menangislah karena engkau adalah manusia biasa, dari ayah yang luhur budi bukan anak seorang datuk sesat yang keras kepala dan keras hati... menangislah, anakku sayang..." Belaian Ibunya itu membuat Hui Hong makin mengguguk dalam tangisnya.

Setelah tangis itu mereda, Hui Hong hanya terisak-isak, dan pada saat itu Ouwyang Toan muncul di pintu memanggil ibunya. Ia mendengar percakapan mereka dan matanya terbelalak, kemudian dia tersenyum-senyum dan batinnya bersorak. Hui Hong bukan adik kandungnya, bukan adik tirinya, bukan apa-apa, orang lain. Ini berarti bahwa dia boleh mengawini gadis itu!”

Setelah pemuda itu pergi, Hui Hong telah dapat menguasai dirinya, tidak terisak lagi. Ada perasaan aneh dalam hatinya. Ia bukan putri Ouwyang Sek! Sungguh aneh sekali perasaan ini membuat ia merasa lega dan bahkan bangga! Seringkali diam-diam ia merasa tidak suka akan sifat dan watak ayahnya itu. Terlalu keras, terlalu kejam, dan kadang terlalu licik. Kini bahkan ia merasa lega bahwa yang berbuat jahat dan keji terhadap Kwa Bun Houw bukanlah ayah kandungnya, bukan pula sanak saudara, melainkan orang lain. Tidak ada sedikitpun darah datuk itu mengalir di tubuhnya. Ayah kandungnya seorang pangeran! Perasaan bangga timbul dan ia merasa betapa harga dirinya melambung tinggi!

"Ibu, siapakah nama pangeran itu, ayah kandungku itu?" akhirnya ia bertanya.

Tiba-tiba terdengar suara lembut menyelinap masuk kamar itu. Datang dari arah jendela kamar. “Namanya Pangeran Tiauw Sun Ong!”

“Ehh? Siapa itu...?" Pouw Cu Lan terkejut dan terbelalak memandang ke arah jendela.

Akan tetapi, reaksi Hui Hong sudah lebih cepat lagi. Sekali berkelebat, gadis itu telah meloncat keluar dari dalam kamar sambil mendorong daun jendela kamar terbuka. Ia masih sempat melihat berkelebatnya bayangan seorang wanita berlari cepat sekali meninggalkan taman bunga di luar kamarnya. Tanpa mengeluarkan suara, iapun mengerahkan ilmunya berlari cepat dan melakukan pengejaran.

Bayangan itu mampu bertari secepat terbang. Hui Hong merasa penasaran sekali melihat bayangan itu melesat amat cepatnya menuruni bukit melalui bagian belakang yang sunyi dan juga amat sukar dilalui. Ia tidak mau kalah, mengerahkan ilmunya berlari cepat, meloncat bagaikan seekor kijang melakukan pengejaran. Namun, sampai tiba di kaki bukit yang sudah amat jauh dari rumah Ouwyang Sek, belum juga ia mampu menyusulnya. Akan tetapi, setelah mereka tiba di tepi hutan yang amat sunyi, wanita itu berhenti dan membalikkan tubuhnya, menanti pengejarnya sambil tersenyum.

Dan begitu berhadapan, Hui Hong, tertegun. Wanita itu cantik manis dengan kulit muka yang putih dan tubuh yang ramping, padat. Nampaknya baru berusia tiga puluhan tahun, dan ia sama sekali tidak mengenalnya, bahkan belum pernah merasa berjumpa dengan wanita itu. Suara wanita inikah yang tadi menjawab pertanyaannya tentang nama ayah kandungnya?

"Bibi, engkaulah yang tadi menjawab pertanyaanku dari luar kamar?" tanya Hui Hong, sambil memandang dengan penuh perhatian.

Wanita itu tersenyum dan nampak deretan giginya yang putih, Ia hanya mengangguk tanpa menjawab, akan tetapi pandang matanya juga mengamati wajah dan bentuk tubuh Hui Hong yang merupakan seorang gadis yang cantik jelita, nampak gagah dan anggun, seorang gadis yang sudah matang, bagaikan setangkai bunga sedang mekarnya.

Melihat wajah yang cantik itu tersenyum ramah, Hui Hong merasa tidak enak kalau bersikap kasar, maka iapun merangkap kedua tangan di depan dada, lalu bertanya, "Kalau boleh aku mengetahui, siapakah bibi dan mengapa pula bersikap seaneh ini?"

"Engkau tentu Tiauw Hui Hong, bukan?" Wanita itu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan pula.

Hui Hong mengerutkan alisnya. "Tiauw...?" ia menegaskan.

"Tentu saja," wanita itu tersenyum. "Ayah kandungmu adalah Pangeran Tiauw Sun Ong, engkau tentu she Tiauw, bukan she Ouwyang."

"Siapakah engkau, bibi? Kenapa engkau mengetahui tentang ayah kandungku?"

"Hemm, hanya akulah yang tahu di mana adanya ayah kandungmu sekarang. Ibumu sendiri mana tahu? Sejak pangeran meninggalkan istana, ibumu tak pernah bertemu lagi dengan ayahmu, apalagi ia lalu menjadi isteri datuk iblis itu."

"Bibi, siapa nama bibi?"

“Belum waktunya engkau mengenal namaku. Kalau sekarang engkau suka ikut dengan aku, tentu aku akan dapat mengusahakan pertemuan antara engkau dan ayahmu. Nah, marilah engkau ikut pergi denganku."

Hui Hong mengerutkan alisnya. "Bibi, bagaimana mungkin aku pergi bagitu saja? Ibuku tentu tahu di mana adanya ayah kandungku dan aku dapat mencarinya sendiri."

Wanita itu memandang kepadanya dengan senyum mengejek. "Hemm, keras hati dan sombong seperti ayahnya. Kalau tidak percaya kepadaku, boleh kau tanya sekarang juga kepada Ibumu. Akan tetapi ingat, tanpa aku engkau takkan dapat tahu di mana adanya ayahmu itu. Nah, aku tunggu di sini, akan tetapi tidak sampai malam. Tanyalah kepada ibumu."

Hui Hong mengangguk dan cepat ia mempergunakan Ilmu berlari cepat mendaki bukit, diikuti pandang mata wanita itu yang tersenyum-senyum.

"Pangeran, kalau aku menahan puterimu, engkau pasti akan datang kepadaku." kata wanita itu seorang diri.

Kwan Im Sianli Bwe Si Ni merasa senang karena ia memperoleh akal yang baik. Tidak ada gunanya membunuh puteri kandung pangeran itu, karena hal itu tentu membuat pangeran itu makin benci kepadanya. Padahal ia menghendaki pangeran yang dicintanya itu akan membalas cintanya dan menghabiskan sisa hidup di sampingnya.

Pouw Cu Lan masih berada di kamar puterinya dengan bingung, menduga-duga siapa suara wanita tadi yang mengenal nama Pangeran Tiauw Sun Ong! Iapun merasa khawatir karena sudah agak lama puterinya melakukan pengejaran belum juga kembali. Namun, ia percaya akan kelihaian puterinya, dan menanti di situ sampai puterinya kembali. Ketika Hui Hong meloncat masuk melalui jendela. Pouw Cu Lau memandang dengan gembira.

"Bagaimana, Hui Hong. Siapakah orang yang bicara tadi?"

"Nanti dulu, ibu. Aku ingin kepastian, benarkah nama ayah kandungku Tiauw Sun Ong?”

"Benar, anakku. Akan tetapi siapakah ia tadi...?”

"Dan ibu tahu, di mana sekarang ayah kandungku itu? Di mana Pangeran Tiauw Sun Ong sekarang?"

Ibunya menggeleng kepala dengan sedih. “Bagaimana aku tahu, anakku? Sejak peristiwa itu terjadi, aku ditangkap lalu dihukum buang, dan sejak itu aku tidak pernah lagi bertemu dangan dia, bahkan tidak pernah mendengar di mana ia berada. Aku yakin bahwa ayahmu... ah maksudku, Ouwyang Sek, dia tentu tahu di mana adanya Pangeran Tiauw Sun Ong, akan tetapi dia tidak pernah mau bicara tentang pangeran itu."

“Benar juga ucapan perempuan cantik tadi.” pikir Hui Hong. “Ibunya sendiri tidak tahu di mana adanya ayah kandungnya! "Ibu, aku akan pergi mencari ayah kandungku."

"Tapi, di mana engkau akan mencarinya! Dan belum kauceritakan, siapa wanita yang tadi menyebut nama ayahmu?"

"Aku tidak mengenalnya, ibu. Ia seorang wanita cantik yang usianya sekitar tiga puluh tahun lebih. Ia tahu di mana ayahku berada dan aku akan diajaknya pergi mencari ayah."

"Tapi... tapi, apakah ia? Aku khawatir sekali, anakku. Jangan engkau pergi kalau belum mengenal benar wanita itu."

Akan tetapi Hui Hong tidak perduli. Cepat ia mengambil beberapa potong pakaian dan berkemas, dibuntalnya pakaian itu dan setelah membawa bekal, tidak lupa membawa siang-kiam (sepasang pedang) yang menjadi senjatanya, iapun pergi meninggalkan ibunya walaupun wanita itu menangis dan mencegahnya

Di kaki bukit itu, ia melihat wanita cantik tadi masih menantinya dan tanpa banyak cakap lagi Hui Hong lalu pergi bersamanya, meninggalkan Bukit Siluman.

Sampai di sini, selesailah sudah KISAH SI PEDANG KILAT, semoga para pencinta cersil karya Kho Ping Hoo semua terhibur...

T A M A T

Thanks for reading Kisah Si Pedang Kilat Jilid 14 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »