Kisah Si Pedang Kilat Jilid 12

Kisah Si Pedang Kilat Jilid 12

SEMENTARA itu, hari semakin gelap. Bun Houw mencoba bangkit berdiri, akan tetapi terpelanting lagi. Kepalanya pening, napasnya sesak dan kedua kakinya menggigil, tubuhnya sebentar panas sebentar dingin. Dia berusaha untuk meninggalkan tempat itu. Dia harus dapat mencapai dusun di depan. Sambil merangkak-rangkak, kadang-kadang harus berhenti terengah-engah, Bun Houw menuju ke dusun. Sudah nampak ada sinar lampu berkelap-kelip dan sinar itulah yang menjadi pedoman ke arah mana dia harus merangkak.

Malam tiba dengan cepatnya. Dengan susah payah, dalam keadaan setengah mati, akhirnya Bun Houw dapat mencapai depan pintu sebuah rumah sederhana yang terpencil, merupakan rumah pertama dari dusun yang kecil itu. Dia mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk mengetuk daun pintu.

Di dalam gubuk terdengar gerakan dan api penerangan yang tadi berkelap kelip ditiup padam. Di sebelah dalam, di kamar rumah sederhana itu, So Kian, pemburu yang tadi mengintai orang-orang kang-ouw bertempur, berpelukan dengan isterinya. Isterinya ketakutan setengah mati!

Sore tadi suaminya pulang dengan pakaian yang kotor penuh lumpur dan debu, dengan tubuh gemetar dan muka pucat. Dengan ketakutan So Kian menceritakan kepada isterinya apa yang dilihatnya di dalam hutan dekat puncak Bukit Merpati Hitam itu. Betapa banyak orang-orang kang-ouw yang menyeramkan dan berkepandaian tinggi sekali saling serang. Betapa akhirnya setelah mereka saling serang, dia dapat pula melarikan diri dan terus pulang.

Dalam keadaan tegang dan ketakutan, kini setelah malam tiba mendengar daun pintu di luar diketuk orang, tentu saja So Kian dan isterinya menjadi semakin ketakutan. So Kian adalah seorang pemburu yang biasa hidup di tengah hutan dan sering menghadapi bahaya dan kekerasan. Dia seorang pemberani. Akan tetapi sekali ini, setelah melihat banyak orang kang-ouw yang berilmu tinggi mengadu kepandaian, dia merasa dirinya kecil dan lemah, dan dia tahu bahwa kalau ada orang kang-ouw yang melihatnya dan menyerangnya, tentu dia akan tewas dan tidak berdaya melawannya.

Kini, dia dan isterinya saling peluk di atas pembaringan, dalam kamar mereka dan hanya berdoa agar orang di luar itu segera pergi. Ketukan itu terdengar beberapa kali, makin lama semakin lemah dan akhirnya tidak terdengar lagi. So Kian dan isterinya merasa lega. akan tetapi semalam itu mereka gelisah dan tidak berani keluar dari dalam kamar.

Baru pada keesokau harinya, pagi-pagi sekali So Kian suruh isterinya berindap-indap menuju ke depan dan mengintai dari celah-celah di balik pintu depan. Mereka berdua terkejut bukau main melihat seorang laki-laki muda, hanya bercawat, rebah terlentang di depan pintu. Muka pemuda itu pucat agak kebiruan, seperti muka mayat.

"Celaka...! Ada orang mati di sini...!" So Kian berbisik dengan suara gemetar. "Kita harus cepat minggat dari sini. Jangan ada yang menyangka kit yang membunuhnya. Celaka... ah, sungguh celaka...!” katanya kebingungan dan hendak lari ke dalam.

Akan tetapi, isterinya yang masih terus mengintai, memegang lenganuya. "Ihh, kenapa engkau sekarang menjadi seperti anak kecil ketakutan?" isterinya mengomel. "Lihat, orang itu belum mati. Dia kelihatan sakit keras dan membutuhkan pertolongan."

"Ah. aku tidak berani. Jangan-jangan iblis-iblis itu akan datang semua ke sini dan hancurlah kita..."

"Tolol kau! Mana ada iblis jahat seperti orang itu? Dia masih muda dan sedang menderita. Mau kita tolong dia!”

Wanita itu karena merasa kasihan, timbul keberaniannya dan ia membuka daun pintu. Terpaksa So Kian mengikuti isterinya dan mereka berlutut di dekat tubuh Bun Houw. Setelah dekat, baru mereka tahu bahwa pemuda yang hampir telanjang itu memang belum mati Bun Houw roboh pingsan setelah ketukan pintu itu dibukai orang.

“Dia pingsan. Mari kita angkat ke dalam. Kasihan sekali, dia membutuhkan pertolongan." kata isteri So Kian.

Kini So Kiao tidak takut lagi dan pada dasarnya dia seorang yang baik budi. Diangkatnya tubuh lunglai itu di kedua lengannya yang kuat dan dibawanya ke dalam kamar sebelah yang kosong. Dia meletakkan lubuh yang pingsan itu ke atas sebuah pembaringan.

"Cepat ambilkan pakaianku. Dia harus diberi pakaian agar tidak kedinginan." kata So Kian kepada isterinya.

Tak lama kemudian, Bun Houw sudah berpakaian dan diselimuti. Akan tetapi melihat wajah yang pucat kebiruan, dada dan punggung yang menghitam dan membengkak, napas terengah-engah, suami isteri itu menjadi bingung sekali.

"Cepat kau pergi mengundang tabib atau membeli obat. Aku akan menunggunya." kata isterinya dan So Kian mengangguk, kemudian diapun pergi karena dia tidak ingin orang itu mati di dalam rumahnya.

Belum lama So Kian pergi, Bun Houw merintih dan bergerak. Isteri So Kian yang tadi duduk, kini bangkit berdiri menghampiri. Bun Houw tidak membuka mata, akan tetapi bibirnya bergerak-gerak seperti orang mengigau.

"Akar... Akar Bunga Gurun Pasir... harus didapatkan mustika itu..."

Isteri So Kian membungkuk. "Akar Bunga Gurun Pasir apakah yang kau maksudkan, kong-cu (tuan muda)?"

Ia menyebut Bun Houw "kong-cu" karena ia mengira bahwa tentu pemuda itu seorang pemuda kota yang pantas disebut kongcu. Akan tetapi Bun Houw tidak menjawab, bahkan tidak pula membuka matanya, seperti orang tertidur. Isteri So Kian merasa lega melihat si sakit seperti tidur nyenyak, maka ia pun merasa tidak enak berdua saja dengan seorang pemuda. Ditinggalkannya Bun Houw ke belakang dan iapun hendak mencuci pakaian suaminya yang kotor berlumpur, yang ditanggalkannya kemarin sore dan belum sempat dicuci karena mereka sudah ketakutan mendengar cerita suaminya tentang orang-orang kang-ouw yang saling serang.

Ketika ia mencuci baju suaminya yang kotor, tiba-tiba tangannya memegang benda keras di saku baju itu. Diambilnya benda itu. Ternyata sebuah kantung sutera kecil yang terisi benda keras sebesar tangan. Diambilnya benda itu dan ia mengamatinya dengan heran. Seperti kayu atau akar, bentuknya seperti tangan, ada jari-jarinya dan akar rambut bergantungan. Nampaknya agak mengerikan seperti tangan manusia kering. Dimasukkannya kembali benda itu ke dalam kantung dan disimpannya. Setelah selesai mencuci pakaian dan dijemurnya, dibawanya kantung itu dan ia kembali ke kamar.

Bun Houw bergerak gelisah dalam tidurnya. "Akar... Akar Bunga Gurun Pasir... ah, di mana mustika itu? Aku harus mendapatkannya..." dia mengigau.

Mendengar ini, dan melihat betapa wajah pemuda itu menjadi kebiruan, napasnya terengah-engah, wanita itu mengambil benda dari dalam kantung dan mengamatinya. Akar Bunga Gurun Pasir? Inikah benda yang dicarinya Memang seperti akar, akar yang aneh. Orang yang sakit parah itu selalu menanyakan Akar Bunga Gurun Pasir, kalau benar ini barang yang dicarinya, tentu akar inilah obatnya! Karena melihat keadaan Bun Houw semakin parah, napasnya tinggal satu-satu dan mukanya biru kehitaman mengerikan, wanita itu takut kalau-kalau Bun Houw mati sebelum suaminya kembali. Dalam bingungnya, ia lalu membawa akar itu ke dapur dan memasaknya dengan air.

Ketika api mulai panas, ia terkejut mendengar ledakan-ledakan kecil dan akar itu bergerak-gerak dalam air seperti hidup. Dan lebih aneh lagi, air itu cepat sekali mendidih. Ia tidak tahu bahwa akar itu memang Akar Bunga Gurun Pasir, benda mustika yang langka sekali. Di dalam akar bunga yang dapat hidup di Gurun Pasir itu terdapat hawa dingin yang merupakan inti dingin sehingga dapat membuat tanaman itu bertahan di gurun yang panas. Darah atau getah akar itu mengandung hawa dingin akan tetapi karena luarnya terselubung hawa panas, maka ketika ditemukan dengan air panas, hawa dingin di dalam itu melawan sehingga terjadi ledakan-ledakan kecil. Setelah hawa dingin itu terserap oleh hawa panas dari api, maka air itu cepat sekali mendidih.

Seperti biasanya kalau ia menggodok obat, air itu dibiarkan sampai tinggal sepertiga bagian, baru ia tuangkan air yang kini menjadi kehijauan itu ke dalam mangkok dan terjadi keanehan lain. Air yang tadinya mendidih itu setelah diangkat dari atas api, sebentar saja menjadi dingin kembali. Isteri So Kian cepat membawa mangkok obat itu ke dalam kamar.

"Akar... ah. akar... Akar Bunga Gurun pasir..." Bun Houw masih mengerang dan mengeluh.

"Inilah obat akar itu. Minumlah." kata isteri So Kian sambil membantu Bu Houw bangkit duduk dan memberi minum obat dari dalam mangkok.

Dalam keadaan tidak sadar Bun Houw menelan air obat hijau itu sampai habis berteguk-teguk. Wanita itu lalu merebahkannya kembali dan ia melangkah hendak keluar dari dalam kamar, untuk mempersiapkan masakan di dapur. Tiba-tiba terdengar suara teriakan keras mengejutkan di belakangnya. Ketika ia membalik, ia terbelalak dan mangkok kosong itupun terlepas dari tangannya, terbanting pecah di atas lantai kamar. Ia memandang dengan mata terbalalak dan muka pucat, takut dan bingung.

Memang hebat akibat dari obat yang diminum habis oleh Bun Houw itu. Kini tubuhnya bergerak-gerak aneh, menegang, bergerak-gerak seperti sepotong benda aneh, tangan dan kakinya mencakar-cakar, memukul menendang dalam keadaan masih rebah, matanya terbelalak merah, mulutnya terbuka dan mengeluarkan suara yang aneh seperti seekor binatang disiksa, jari-jari tangannya terbuka, dan terdengar suara berkerotokan di tubuhnya, seolah-olah semua tulangnya hendak rontok, dan perlahan-lahan, tubuhnya menjadi kemerahan seperti kepiting direbus, dan mengeluarkan uap panas!

Agaknya teriakan-teriakan yang keluar dari mulut Bun Houw terdengar pula oleh So Kian yang datang berlari-lari. Dia mendengar suara aneh di dalam rumahnya, dan diapun lari memasuki rumah. Dilihatnya isterinya berdiri dengan muka pucat dan mata terbelalak di luar pintu kamar di mana tamu yang sakit itu berada.

"Apa yang terjadi...?” tanyanya sambil cepat menghampiri isterinya.

Wanita itu tadi tidak mampu bergerak saking kaget dan khawatir, juga takutnya. Kini mendengar suara suaminya ia membalik dan hampir pingsan roboh dalam rangkulan suaminya. Ia tidak mampu bicara, hanya menuding ke arah dipan dalam kamar.

So Kian cepat memandang dan diapun terbelalak. Sambil merangkul Isterinya, dia melangkah masuk ke dalam kanar itu, hendak menghampiri tamu mereka yang kini berkelonjotan dan menggeliat-geliat aneh. Akan tetapi, baru tiga langkah mereka mendekat, mereka terpaksa mundur lagi dengan cepat. Hawa panas yang menyerang mereka, yang keluar dari tubuh di atas dipan itu. sungguh tak tertahankan! Tamu mereka itu seperti dalam keadaan terbakar tanpa nampak ada apinya! Agaknya terbakar dari dalam oleh hawa panas yang melebihi api!

"Apa... apa yang telah terjadi...“ So Kian bertanya kepada isterinya.

Isterinya menggigil dan memandang ke arah tubuh yang berkelonjotan itu dengan hati ngeri. "Aku... aku meminumkan obat...“

"Obat? Obat apakah?" Suaminya bertanya. Kini mereka hanya berdiri di luar pintu kamar. Di tempat itu pun masih terasa panas yang keluar dari dalam kamar, seolah kamar itu kebakaran.

"Aku menggodok akar itu dan memberi minum. Dia selalu mengigau menanyakan akar itu. Maka, ketika aku menemukan akar dalam kantung itu di dalam saku bajumu, kukira itulah obat yang dicarinya, dan kugodok lalu kuminumkan."

"Akhh! Benda itukah?” So Kian termenung. Kemarin sore ketika dia bersembunyi menonton para tokoh kang-ouw bertempur hebat, ada benda yang jatuh menimpa pundaknya. Dia terkejut dan mengambil benda itu yang ternyata sebuah kantung sutera. Tanpa disadarinya, karena dalam keadaan tegang dan ngeri, dia mengantongi benda itu, tanpa mengetahui apakah benda itu dan kenapa pula dia mengantonginya. Kalau dia tahu bahwa benda itu yang dijadikan perebutan antara para tokoh kangouw yang lihai itu, tentu menjamahpun dia tidak berani. Kini baru dia teringat. Mereka memperebutkan Akar Bunga Gurun Pasir!

“Benda apakah itu?" tanya isterinya.

Suaminya menggeleng kepala. "Aku sendiri tidak tahu, akan tetapi agaknya benda itulah yang disebut Akar Bunga Gurun Pasir itu dan dijadikan rebutan, dan kenapa engkau menggodok dan meminumkannya? Lihat, dia sekarat mengerikan!”

Wanita itu menutupi mukanya dengan tangan. "Ah, kukira... dia mencari obat itu, dan aku... aku tidak tega melihat dia tersiksa... aku tidak tahu obat itu akan membunuhnya...“ Dan wanita itu menangis.

Suaminya merangkulnya. "Sudahlah, bukan kau sengaja. Maksudmu baik, dan aku sendiri tidak tahu benda apa Akar Bunga Gurun Pasir itu. Kebetulan saja kudapatkan dan dia sudah meminumnya. Sudahlah, kita harus cepat pergi dari sini. Cepat kumpulkan semua pakaian dan barang berhanga yang dapat kita bawa."

"Eh? Ke mana kita akan pergi? Dan kenapa harus pergi!”

"Sudahlah, cepat lakukan apa yang kuminta, bahaya maut mengancam kita. Kita pergi mengungsi untuk sementara, kalau kelak sudah aman kita kembali lagi."

"Tapi... tapi orang itu sakit..."

Suaminya menghela napas panjang. "Memang dia sakit, mungkin akan mati. Akan tetapi apa yang dapat kita lakukan? Akupun gagal mencari tabib, satu-satunya tabib sedang pergi untuk beberapa hari lamanya. Kita harus cepat mengungsi."

"Tapi... bagaimana kita dapat meninggalkan dia dalam keadaan seperti itu? Dia akan mati...!”

"Sudahlah! Kebaikan hatimu mungkin akan menyeret kita berdua ke dalam maut!” Suaminya membentak dan wanita inipun tidak berani membantah lagi. Tak lama kemudian, mereka pergi meninggalkan rumah itu sambil membawa buntalan pakaian.

Bun Houw dapat mendengar dan melihat semua itu! Dia mengalami hal amat aneh. Ketika dia ditemukan oleh So Kian dan Isterinya. dia benar-benar dalam keadaan pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi, tidak merasakan apa-apa lagi. Akan tetapi, pagi tadi, dia siuman dan merasa betapa tubuhnya nyeri-nyeri, kemudian perasaan panas dingin menyerangnya silih benganti. Ketika wanita itu datang membawa mangkok dan membantunya minum, dia masih sadar dan tahu bahwa wanita itu telah menolongnya dan kini berusaha mengobatinya. Karena dia memang membutuhkan obat. Obat apa saja untuk mengusir rasa nyeri yang menusuk-nusuk, tanpa membantah diapun menelan cairan yang dituangkan ke dalam mulutnya, meneguk sampai habis isi mangkok itu.

Dan mulailah dia terbakar! Terjadi kebakaran hebat di dalam tubuhnya. Rasa panas menyerangnya sedemikian hebatnya sehingga dia tidak mampu menguasai tubuhnya lagi. Tubuh itu meregang dan menggelepar, menggeliat dan berkelonjotan tanpa dapat dia kuasai lagi. Bahkan kerongkongannya mengeluarkan suara di luar kehendaknya, lepas dari pengendaliannya.

Anehnya, matanya yang melotot itu dapat melihat segala dengan jelas, dan juga telinganya dapat menangkap semua suara sehingga dia dapat melihat dan mendengar ketika suami isteri penolongnya itu bercakap-cakap. Akan tetapi dia tidak dapat bicara, tidak dapat membuat gerakan kecuali hanya menyerah saja dan membiarkan hawa panas yang teramat kuat di dalam tubuhnya itu menguasainya. Tubuhnya kini menjadi seperti medan perang di mana terjadi pertempuran hebat antara dua kekuatan yang menguasai dirinya. Kekuatan racun dan kekuatan obat.

Bun Houw tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya, tidak tahu obat apa yang telah diminumnya tadi. Dia masih teringat bahwa dua kali dirinya telah menjadi bulan-bulan pukulan orang-orang sakti, yaitu datuk sesat Bu-eng-kiam Ouwyang Sek, kemudian terjatuh ke tangan Kui-siauw Giam-ong Suma Koan dan menerima siksaan pula. Nyawanya sudah bergantung kepada sehelai rambut. Dan kini, setelah minum obat dari mangkok yang diberikan isteri orang yang menolongnya, tubuhnya kebakaran dari dalam!

Dan tadi dia masih mendengar percakapan mereka, akan tetapi dia masih belum mengerti benar. Mereka bicara tentang Akar Bunga Gurun Pasir! Benarkah dia telah diberi minum Akar bunga Gurun Pasir? Benarkah mustika yang dijadikan perebutan semua orang kang-ouw itu kini telah masuk ke dalam perutnya dan mengakibatkan tubuhnya kebakaran seperti itu? Dia tentu akan mati! Belum pernah selama hidupnya dia merasakan siksaan yang sedemikian hebatnya. Bahka siksaan dua orang datuk sesat itupun tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan kebakaran yang terjadi dalam tubuhnya setelah dia minum obat itu.

Saking panasnya. Bun Houw membuat gerakan untuk melepas bajunya. Terdengar suara berebrebetan dan baju itu koyak-koyak. Baru membuat sedikit gerakan saja, bajunya koyak-koyak. Untung dia masih teringat untuk tidak membuka celananya. Biarpun sudah bertelanjang baju, masih saja dia merasa terbakar. Dadanya seperti akan meledak rasanya dan ketika dia memandang ke arah dadanya, ternyata tanda menghitam bekas pukulan dua orang datuk itu telah lenyap! Kulit dadanya halus dan bersih, akan tetapi kini seluruh tubuhnya berwarna kemerahan seperti kepiting direbus!

Setelah berkelojotan selama setengah jam, akhirnya Bun Houw dapat mengendalikan kekuatan hebat yang mencengkeram dirinya dari dalam itu. Di dalam dirinya seperti ada gas yang hendak keluar, mencari jalan keluar dan bagaikan liar. Akan tetapi, setelah rasa nyeri di tubuhnya perlahan-lahan lenyap, yang ada hanyalah perasaan panas, dia mulai dapat mengendalikan hawa yang amat kuat itu. Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi yang pernah digembleng oleh orang sakti, diapun dapat merasakan betapa dirinya telah dikuasai oleh tenaga dalam yang amat dahsyat. Diapun dapat bangkit duduk, lalu bersila.

Kini dia dapat merasakan benar hawa yang dahsyat itu berputar-putar di seluruh tubuh melalui jalan darahnya. Mula-mula, memang kekuatan itu tak terkendalikan olehnya, berputar-putar liar dan tak menentu. Akan tetapi, akhirnya, perlahan-lahan dia dapat mengendalikannya. Ketika dia mengendalikan tenaga dahsyat itu dan membiarkan berputaran secara teratur, hampir saja dia pingsan. Begitu cepatnya hawa itu berputar sehingga dia merasa seperti akan terapung ke atas.

Setelah dia dapat membiarkan diri dengan keliaran tenaga dalam tubuh itu, dapat juga dia menghentikannya ke dalam pusar di perut bawah dan di situ, tenaga dahsyat itu masih berputar-putar dan beberapa kali sukar dikuasai, akan tetapi akhirnya dapat bergabung dengan tenaga sin-kang yang selama ini terhimpun di situ dan dapat diam.

Setelah tenaga itu tidak liar lagi, dia mulai dapat mempergunakan ingatannya. Mula-mula Hui Hong marah-marah dan cekcok dengan dia karena Hui Hong nampaknya cemburu kepada Ling Ay, menuduhnya masih mencinta bekas tunangannya itu yang telah menjadi isteri orang. Kemudian muncul Ouwyang Toan yang memaksanya untuk berkelahi, dan sesudah itu, ayah Hui Hong, datuk sesat Ouwyang Sek memaksanya berkelahi. Dan agaknya Ouwyang Sek telah mengenal gurunya, Tiauw Sun Oug, bahkan amat membenci gurunya itu.

Dalam perkelahian yang terpaksa dia layani itu, akhirnya dia terkena pukulan pada dadanya, pukulan keras mengandung racun yang amat hebat, dan Pedang Kilat, pedang pusaka bersarung tongkat yang dia peroleh dari gurunya itu, dirampas Ouwyang Sek. Kemudian, Hui Hong yang menyelamatkannya, ketika Ouwyang Sek hendak membunuhnya.

"Heran, bagaimanapun juga, ada pula perasaan iba dan sayang dalam hati Hui Hong kepadaku," keluh Bun Houw ketika mengenang, paristiwa itu. Dia melanjutkan lamunannya, mengingat-ingat.

Dalam keadaan terluka oleh pukulan Ouwyang Sek, dia diperbolehkan pergi dan dalam perjalanan itu, dia bertemu dengan datuk sesat yang lain, yaitu Suma Koan bersama puteranya Suma Hok. Dia pernah membebaskan Hui Hong dari cengkeraman Suma Hok yang nyaris memperkosanya. Tentu saja Suma Hok mendendam kepadanya. Ayah dan anak itu menuduh dia menyembunyikan Akar Bunga Gurun Pasir. Mereka menghinanya, menelanjanginya, bahkan menyiksanya, kemudian datuk sesat yang kejam itu sengaja memukulnya sehingga dia keracunan dan akan mati perlahan-lahan. Dalam keadaan tiga perempat mati itu dia merangkak-rangkak ke dusun dan akhirnya dia tiba di depan pintu sebuah pondok, lalu tidak ingat apa-apa lagi.

Dia memejamkan mata, lalu mengingat-ingat lagi. Dia kini tahu bahwa dia telah ditolong oleh wanita itu dan suaminya, dibawa masuk ke dalam rumah mereka. Kemudian, entah bagaimana, dia merasa seperti dalam mimpi, dalam keadaan setengah sadar dia merasa dibantu wanita itu bangkit duduk dan diberi minum dari sebuah mangkok. Minuman yang terasa amat dingin di mulut akan tetapi amat panas di perut. Dan setelah obat itu diminumnya sampai habis, mulailah dia kebakaran! Kemudian dia mendengar percakapan suami isteri itu, melihat pula mereka berdiri di ambang pintu. Mendengar mereka menyebut tentang Akar Bunga Gurun Pasir.

"Ah, tidak salah lagi. Orang itu telah menemukan Akar Bunga Gurun Pasir secara kebetulan dan Isterinya menemukan mustika itu, lalu memasaknya dan memberikan kepadaku sebagai obat! Mustika yang diperebutkan orang seluruh dunia kang-ouw itu secara aneh dan kebetulan, tidak disangka-sangka dan tidak disengaja, telah masuk ke dalam perutku!”

Dan tiba-tiba, karena merasa geli, Bun Houw tertawa dan begitu tertawa, dia terkejut bukan main karena hawa dahsyat yang tadi sudah agak jinak berdiam di dalam dian-tin (pusat bawah perut), kini bangkit lagi dan meliar, dan suara ketawanya tak terkendalikan lagi, bergelak-gelak menggelegar dan didorong oleh tenaga sakti yang dahsyat itu.

Akhirnya, setelah dengan susah payah, Bun Houw berhasil meredakan tawanya, mengembalikan tenaga itu ke dalam pusar dan diapun mengatur pernapasannya. Tenaga yang berdiam di dalam tubuhnya itu. Sungguh dahsyat akan tetapi juga liar dan berbahaya. Dia bisa bersikap seperti orang yang tidak waras pikirannya kalau tidak mampu mengendalikan hawa sakti itu. Kini dia dapat menduga bahwa itulah hawa yang ditimbulkan oleh mustika Akar Bunga Gurun Pasir! Dia tentu saja tidak tahu bahwa tenaga sekti itu menjadi liar setelah bengulat dan bercampur dengan hawa beracun di tubuhnya akibat pukulan dua orang datuk sesat. Tenaga bawa sakti itu menjadi semakin dahsyat, akan tetapi juga menjadi liar.

Kemudian dia teringat. Suami Isteri pemilik pondok ini telah melarikan diri. Dia tidak menyalahkan mereka. Tentu saja mereka ketakutan, bukan saja melihat keadaan dirinya, akan tetapi juga takut, kepada orang-orang kang-ouw. Dan ketakutan mereka itu beralasan. Besar sekali kemungkinannya, dia yang akan menjadi perebutan oleh orang-orang kang-ouw, kalau mereka tahu bahwa dia telah minum habis sari Akar Bunga Gurun Pasir! Dan suami isteri itu tentu saja takut kalau mereka menjadi korban kekejaman orang-orang kang-ouw.

"Aku tidak boleh berada di sini," pikirnya. "Jangan sampai para datuk menemukan aku di rumah ini. Suami isteri itu telah menanam budi kepadaku, bukan saja menolongku, memberi pakaian, bahkan juga wanita itu telah menyelamatkan nyawaku dengan memberi Akar Bunga Gurun Pasir, walaupun secara tidak disengaja. Aku harus pergi!”

Setelah berkata demikian kepada diri sendiri, Bun Houw lalu turun dari pembaringan. Begitu dia turun, kembali dia terkejut. Gerakannya demikian ringannya, seperti melayang-layang. Dia merasakan dirinya seperti sehelai bulu, ringan dan seperti akan terapung! Melihat betapa tubuh atasnya telanjang, dan di atas meja masih tersangkut sebuah baju milik tuan rumah yang agaknya tertinggal. Dipakainya baju itu dan Bun Houw keluar dari dalam rumah.

Matahari telah naik cukup tinggi dan keadaan di luar rumah itu sunyi saja. Agaknya dusun itu hanya kecil dan para penghuninya sudah pergi ke sawah ladang mereka. Bun Houw merasa lega bahwa tidak ada orang lain melihat dia berada di rumah itu. Dengan demikian, maka setelah dia meninggalkan rumah itu, pemiliknya akan terhindar dari bahaya tersangkut dalam urusan perebutan Akar Bunga Gurun Pasir. Setelah merasa yakin bahwa tidak ada orang melihatnya, Bun Houw lalu menyelinap keluar dari dusun itu dan pergi menuju ke sebuah bukit yang nampak tak jauh dari tempat itu.

********************

Serial Pedang Kilat Karya Kho Ping Hoo

Bun Houw memasuki hutan di lereng bukit itu. Perutnya terasa lapar sekali setelah dia terbebas dari siksaan rasa nyeri. Kini tubuhnya terasa enak, hangat dan nyaman. Ternyata setelah dia berjalan kaki dan tubuhnya berkeringat, rasa panas yang amat hebat itu makin lama semakin mereda, berubah menjadi rasa hangat. Dia merasa tubuhnya sehat sama sekali. Tidak ada lagi sisa rasa nyeri akibat pukulan dan siksaan dua orang datuk sesat itu. Dia telah sembuh sama sekali!

Hanya masih ada perasaan aneh karena tubuhnya kadang-kadang masih terasa ringan bukan main. seolah-olah kalau ada angin besar bertiup, tubuhnya akan dibawa melayang ke angkasa. Dan kini perutnya lapar bukan main. Sanggup rasanya dia untuk menghabiskan daging seekor kijang gemuk! Bun Houw mengharapkan untuk menemukan buah apa saja untuk mengisi perutnya yang amat lapar.

Akan tetapi, sampai jauh memasuki hutan, dia tidak melihat pohon buah, tidak pula bertemu dengan binatang buruan. Tidak bertemu manusia yang dapat dimintai tolong memberi makanan. Dan ketika dia menghentikan langkahnya dan menghapus keringat, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan lima orang muncul di depannya. Lima orang laki-laki tinggi besar dan kokoh kuat, antara tigapuluh sampai empatpuluh tahun usia mereka. Setiap orang memegang sebatang golok yang besar dan sikap mereka bengis, wajah mereka membayangkan kekerasan dan kejahatan.

Sialan, pikir Bun Houw. Dia mengharapkan bertemu makanan, malah bertemu lima orang penjahat! Mereka ini jelas penjahat, pikirnya. Dari sikap seseorang, kita dapat menduga wataknya. Dan sinar mata lima orang ini amat kejam dan bengis. Akan tatapi, dia pura-pura tidak perduli dan tidak melihat mereka lalu melanjutkan langkahnya ke kiri.

"Tunggu...!" Tiba-tiba terdengar bentakan dan lima orang itu, dengan gerakan cepat yang menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang pandai ilmu silat, lima orang itu telah mengepung Bun Houw dalam setengah lingkaran di depannya.

Bun Houw bersikap tenang. Ketika hendak membuka mulut bicara, dia merasa lagi betapa hawa yang amat kuat bergerak dari pusarnya, mendorong ke atas dan hampir saja dia mengeluarkan teriakan atau pekikan nyaring. Dia masih mampu menahan dirinya, menarik napas panjang untuk menenteramkan hawa liar yang masih mencengkeramnya dari dalam.

"Ngo wi (anda berlima) menahan parjalananku ada urusan apakah?"

"Tak perlu banyak tingkah. Engkau melanggar wilayah kekuasaan kami. Cepat serahkan segala yang kau miliki sebagai pajak jalan kepada kami, baru kami perbolehkan engkau melanjutkan perjalanan." bentak seorang di antara mereka yang codet (berbekas luka) pipi kanannya.

Tak salah dugaannya. Mereka ini penjahat, perampok! "Maafkan aku, sobat. Terus terang saja, aku orang miskin tidak mempunyai apa-apa, bahkan saat ini perutku lapar sekali karena sejak kemarin belum makan apa-apa." katanya tenang sambil mengerahkan kemauannya untuk mengendalikan hawa dahsyat dari pusarnya.

"Enak saja bicara!" bentak orang ke dua yang mukanya hitam. "Engkau tahu dengan siapa berhadapan? Kami adalah Hek-san Ngo-houw (Lima Harimau Bukit Hitam) yang menguasai wilayah ini. Kalan engkau tidak punya apa-apa, hayo tinggalkan semua pakaianmu berikut sepatu itu!”

Bun Houw tersenyum. Aneh mereka ini. Mengaku sebagai Hek-san Ngo-houw dan bersikap garang. Padahal, baru kemarin orang-orang kang-ouw, bahkan para datuk besar, muncul di Bukit Merpati Hitam. Apakah lima orang ini demikian beraninya memperlihatkan kekuasaannya pada saat seperti itu?

"Sobat, apakah Bukit Merpati Hitam juga merupakan daerah kekuasaan kalian?" pancingnya.

Lima orang itu saling pandang, kemudian mereka mengamati Bun Houw dengan penuh perhatian, pandang mata mereka menyelidik. Kemudian si codet melangkah maju, menatap wajah Bun Houw dan bertanya, "Apa hubunganmu dengan Bukit Merpati Hitam?"

"Tidak ada hubungan apa-apa. Sobat, mari kita baik-baikan saja. Punyaku hanya pakaian yang menempel di tubuh ini, pakaian sederhana yang tidak ada harganya. Kalau kalian memintanya, apakah aku harus bertelanjang dan tidak bersepatu? Harap jangan keterlaluan." kata Bun Houw dengan alis berkerut karena dia menganggap sikap para perampok ini keterlaluan. Mana ada perampok tega merampok seorang miskin yang tidak punya apa-apa?

"Cerewet amat sih engkau?" bentak orang ke tiga yang mukanya kekuningan. "Cepat tanggalkan pakaian dan sepatumu, atau terpaksa kubikin engkau menanggalkan kepalamu dari tubuhmu!" Orang itupun maju dan goloknya menempel di leher Bun Houw dengan sikap bengis mengancam.

Bun Houw menahan diri agar tidak sampai terbakar perasaan marah. Dia tahu bahwa dia berhadapan dengan penjahat-penjahat kecil .yang biasanya hanya berani menindas yang lemah, menggunakan gertakan dan memaksakan kehendak dengan menggunakan kekerasan. Tidak semestinya dia melayani orang-orang semacam ini.

"Sudahlah, aku tidak mempunyai banyak waktu untuk melayani orang-orang seperti kalian!" katanya sambil membalikkan tubuhnya, dan melanjutkan perjalanan dengan langkah lebar.

“Heh, kurang ajar! Engkau ingin mampus!” bentak mereka dan lima orang itu sudah menyerang sambil memaki-maki. menggerakkan golok mereka seperti hendak berlumba membunuh pemuda yang berani memandang rendah mereka.

Mendengar gerakan kaki mereka dan sambaran golok. Bun Houw membalikkan tubuh dan kedua tangannya bergerak seperti orang mengusir lalat. Akan tetapi akibatnya hebat. Dari kedua tangannya menyambar keluar hawa yang dahsyat dan panas dan lima orang itu seperti ditiup badai panas yang membuat mereka terjengkang dan terguling-guling dengan senjata mereka terlepas dari tangan. Mereka terkejut bukan main dan begitu dapat bangkit mereka segera melarikan diri tanpa di komando lagi, lintang pukang dan jatuh bangun.

Akan tetapi Bun Houw ingin memberi pelajaran kepada mereka agar jangan mereka melanjutkan perbuatan jahat itu mengganggu orang-orang yang tidak bersalah. Sekali lagi tangannya mendorong ke depan, ke arah orang yang terdekat dan orang itupun terpelanting roboh. Dengan beberapa langkah saja Bun Houw sudah menghampirinya dan menginjakkan kaki pada dadanya. Biarpun injakan itu tidak disertai pengerahan tenaga, namun orang itu merasa betapa dadanya tertindih benda yang amat berat.

"Am... pun... taihlap...“ Dia mencoba untuk berseru dengan napas terengah-engah.

Melihat seorang kawannya roboh dan tertawan, empat orang perampok yang sudah lari itu menoleh dan mereka pun kembali, menghampiri Bun Houw yang siap menghadapi pengeroyokan mereka. Akan tetapi setelah dekat, empat orang itu sama sekali tidak mengeroyok, melainkan menjatuhkan diri berlutut pula.

“Taihiap, ampunkan kawan kami." kata mereka berulang-ulang.

Tergerak perasaan Bun Houw. Bagaimanapun Juga, orang-orang itu masih mempunyai perasaan setia kawan, pikirnya. "Kalau kalian mengharapkan ampun, berjanjilah bahwa kalian tidak akan mengganggu orang tak berdosa, Apalagi kalau dia miskin."

"Kami berjanji... kami berjanji...“ kata mereka berulang-ulang.

Bun Houw melepaskan injakannya dan ternyata yang ditangkapnya tadi adalah pimpinan gerombolan itu. Mereka berlima menghaturkan terima kasih dan pimpinan perampok itu berkata dengan sungguh-sungguh.

"Percayalah, taihiap. Dahulu kami adalah pemburu-pemburu. Akan tetapi, setelah hasil baruan makin berkurang sehingga tidak cukup untuk makan kami sekeluarga, kami mulai minta sokongan kepada rombongan pedagang yang lewat. Akan tetapi, kemudian rombongan pedagang itu tidak lewat di sini lagi, semenjak banyak orang kang-ouw berkeliaran di sini dan mereka itu menjadi korban siluman Guha Setan."

Bun Houw mengerutkan alisnya. "Siluman Guha Setan? Apa dan siapakah itu?”

Kepala perampok itu mengeluarkan makanan dari buntalan mereka. "Marilah kita makan dulu, taihiap. Bukankah taihiap tadi mengatakan sejak kemarin belum makan? Kamipun lapar. Kita makan dan kami akan menceritakan tentang guha itu."

Melihat kesungguhan hari mereka, walaupun makanan dan minuman yang dikeluarkan hanya roti kering dan dendeng bersama seguci arak, Bun Houw tidak sungkan lagi. Dia mengangguk dan merekapun duduk di atas tanah berumput, makan makanan sederhana namun terasa nikmat dan lezat bagi perut yang lapar.

Sambil makan, mereka bercerita dan Bun Houw mendengarkan dengan mata penuh keheranan. Menurut cerita mereka, di puncak Bukit Hitam itu terdapat sebuah guha yang besar. Tadinya tak pernah ada orang berani memasuki guha itu yang menurut kepercayaan penduduk dusun di sekitar kaki bukit, guha itu dihuni setan, dan karenanya guha itu diberi nama Guha siluman. Akan tetapi akhir-akhir ini, semenjak beberapa bulan yang lalu. orang-orang kang-ouw berdatangan ke bukit itu, mendaki sampai ke guha di dekat puncak

"Yang mengerikan, setiap orang kang-ouw. betapapun tingginya ilmu kepandaiannya, setelah memasuki guha itu, tahu-tahu menjadi gila dan mati di depan guha. Di depan guha itu kini berserakan rangka manusia. Kami sendiri hanya berani nonton dari jauh, sama sekali tidak berani mendekat karena kami masih sayang nyawa," si kepala perampok mengakhiri ceritanya.

Biarpun tertarik dan heran, namun Bun Houw tidak mau menelan mentah-mentah cerita itu. Dianggapnya bahwa cerita itu hanya kepercayaan orang-orang tahynl belaka. "Ketika kalian melakukan pengintaian itu. apa yang kalian lihat? Apakah orang-orang-kang-ouw itu dibunuh oleh setan atau siluman?”

“Kami pernah melihat dua orang kang-ouw yang gagah keluar dari dalam guna itu setelah mereka bertapa beberapa minggu lamanya. Begitu keluar, mereka saling serang dengan ilmu silat yang gerakannya aneh sekali, entah mereka itu berkelahi ataukah latihan karena pertandingan itu bagi kami amat seru. Akan tetapi, keduanya roboh dan tewas tanpa terluka!”

Bun Houw semakin tertarik. "Dan kalian sudah melihat adanya siluman itu? Kalau tidak pernah melihatnya, bagaimana kalian dapat mengatakan bahwa orang-orang kang-ouw itu dibunuh siluman?"

"Memang tidak ada yang pernah melihatnya, taihiap. Akan tetapi kematian orang-orang itu aneh. Ada yang melihat seorang kang-ouw keluar dari guha, lalu bersilat seperti orang gila dan kemudian roboh sendiri dan mati. Siapalagi kalau bukan siluman yang membunuhnya? Guha itu memang dihuni siluman, siapa yang masuk ke sana tentu keluarnya akan menjadi gila dan mati konyol."

Bun Houw menjadi tertarik bukan main. "Sungguh menarik. Aku akan ke sana sekarang juga."

Mendengar ini, lima orang perampok itu terbelalak dan saling pandang, kemudian pimpinan mereka berkata, "Taihiap, jangan pergi ke sana! Biarpun ilmu kepandaian taihiap amat tinggi, akan tetapi bagaimana mungkin taihiap sunggup melawan siluman yang tidak kelihatan. Harap taihiap menjauhi tempat itu. Kami peringatkan karena kami berhutang nyawa kepada taihiap." Juga yang lain membujuk.

Akan tetapi Bun Houw hanya tersenyum. "Sudahlah, makin aneh kalian bercerita, semakin tertarik hatiku dan kalau kesempatan ini tidak kupergunakan untuk melihat tempat itu, aku akan selalu merasa menyesal dan kecewa. Nah, selamat tinggal, kawan-kawan, jangan melupakan janji kalian tadi."

Setelah berkata demikian, Bun Houw mempengunakan kepandaiannya. Sekali berkelebat dia lenyap dari depan lima orang itu. Setelah dia minum sari Akar Bunga Gurun Pasir, dia memiliki tenaga sin-kang yang demikian dahsyat dan kuatnya sehingga kadang-kadang dia belum mampu mengendalikannya. Seperti ketika dia melompat dari depan lima orang itu, tubuhnya melayang seperti terbang saja, bahkan lebih cepat lagi seolah-olah dia pandai menghilang!

Lima orang perampok itu terbelalak dan seorang di antara mereka berbisik, "Wah, dia pandai menghilang. Jangan-jangan...“ dan tidak berani melanjutkan.

"Jangan-jangan apa?" bentak kepala perampok dan mereka semua merasa betapa bulu tengkuk mereka meremang karena sebelum dijawab mereka sudah dapat menduga apa yang menjadi dugaan kawan mereka.

"Jangan-Jangan dia itu justeru penghuni guha siluman..."

Lima orang itu saling pandang, bengidik dan tidak berani banyak cakap lagi, melainkan segera pergi menuruni lereng, menjauhi puncak di mana terdapat guha yang mereka yakini menjadi tempat tinggal Iblis-iblis dan siluman itu.

Sementara itu, dengan cepat sekali Bun Houw mendaki bukit dan tak lama kemudian tibalah dia di depan guha yang dimaksudkan. Sebuah guha di puncak yang tandus itu, guha batu yang besar, mulut guha itu tidak kurang dari lima meter lebarnya dan tiga meter tingginya. Akan tetapi bukan guha itu yang menarik perhatian Bun Houw, melainkan benda-benda yang berserakan di depan guha yang merupakan tanah datar yang kering kerontang. Rangka-rangka manusia berserakan!

Bahkan ada mayat menghitam, sudah melewati masa membusuk akan tetapi kulitnya masih ada dan dagingnya belum habis semua. Mengerikan rangka dan mayat itu masih berpakaian! Dan senjata bermacam-macam berserakan pula di situ. Ada pedang, golok, tombak, toya dan bayak macam lagi. Suasana di situ sunyi senyap, hanya kadang diseling suara burung gagak yang menyeramkan. Pantas menjadi tempat iblis dan setan. Akan tetapi Bun Houw bukan seorang penakut. Kalau orang-orang itu, dia dapat menduga tentu orang-orang yang pandai Ilmu silat melihat banyaknya senjata di situ, sampai tewas di tempat ini, tentu ada yang membunuh mereka. Setidaknya, dia harus mencari tahu apa yang menyebabkan matinya orang-orang itu. Dan agaknya rahasianya terletak di dalam guha besar itu.

Dia bersikap hati-hati sekali. Untuk menyelidiki lebih dahulu kaadaan guha itu dari luar, Bun Houw memejamkan kedua matanya dan mengerahkan sin-kang kepada pendengarannya. Dia pernah dilatih gurunya yang buta untuk mengandalkan telinga atau pendengarannya yang kadang lebih tajam, lebih waspada dan lebih dapat diandalkan dari pada penglihatan. Kalau dia memejamkan kedua matanya, maka pendengarannya menjadi lebih tajam dan peka. Dan ternyata apa yang tidak mampu ditangkap penglihatannya, kini dapat dia tangkap dengan pendengarannya. Ada suara di dalam guha, suara orang bergerak!

Bila memang tidak dapat memastikan siapakah orang yang membuat gerakan di dalam guha itu, atau bukan. Yang jelas, ada sesuatu yang bergerak di sana. Setankah? Manusia? Hewankah? Dia tidak tahu dan diapun tidak berani lancang memasuki guha, Apalagi pendengarannya menangkap bahwa gerakan itu menuju ke mulut guha!

Bun Houw tetap mengintai dan akhirnya dia melihat apa yang tadi didengarnya lebih dahulu. Seorang laki-laki keluar dari dalam guha itu. Laki-laki ini berusia kurang lebih lima puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan bersikap gagah. Pakaiannya kumal, agaknya sudah beberapa lamanya tidak pernah diganti, rambutnya kusut akan tetapi wajahnya nampak gembira bukan main. Bahkan dia tersenyum lebar, lalu tertawa bergelak dan mencabut pedangnya, memandang kepada mayat dan rangka yang berserakan.

"Ha-ha-ha, akhirnya akulah yang menang. Aku yang menguasai Ilmu itu dan aku yang akan menjadi jago silat nomor satu di dunia ini, ha-ha-ha! Dengan Im-yang Bu-tek Cin-keng aku merajai dunia persilatan, semua datuk akan kutalukkan satu demi satu, ha-ha-ha!"

Dan orang itu lalu menggerakkan tubuh dan pedangnya, bersilat secara aneh sekali. Akan tetapi, yang membuat Bun Houw terkejut, hawa pedang yang menyambar-nyambar itu terasa olehnya padahal dia bersembunyi di balik batu besar yang jaraknya ada lima puluh meter! Sungguh hebat ilmu silat itu! Akan tetapi, belum ada sepuluh jurus orang itu bersilat, tiba-tiba dia mengeluh, terhuyung, pedangnya terlepas dan dengan susah payah dia mempertahankan diri agar tidak jatuh, kedua tangan memegangi kepala dan napasnya terengah-engah!

Bun Houw terkejut dan cepat dia meloncat keluar untuk menolong orang itu! Akan tetapi, begitu mendengar ada gerakan orang menghampiri dari arah kiri, tiba-tiba orang yang terhuyung itu membalikkan tubuh dan kedua tangan yang tadi memegangi kepala kini menyambar dengan dorongan ke arah Bun Houw! Bun Houw terkejut, mengenal pukulan ampuh ketika merasakan angin dahsyat menyambar. Diapun cepat mengerahkan tenaga dan menggerakkan kedua tangan menyambut karena sudah tidak mungkin dapat mengelak lagi tanpa membahayakan dirinya.

"Dess...!!"

Bun Houw merasa betapa tubuhnya tergetar, akan tetapi hawa dahsyat, timbul dari pusarnya menolak kekuatan aneh dari tangan lawan dan diapun dapat mempertahankan dirinya. Dan orang itupun terjengkang dan ketika dia melihat, ternyata orang itu telah tewas! Bun Houw tercengang. Jelas, bahwa orang itu memiliki ilmu yang hebat bukan main. Dan tangkisannya tadi sama sekali tidak mengandung daya serang. Akan tetapi kenapa orang ini tewas, diapun teringat akan keadaan orang itu sejak tadi keluar dari dalam guha.

Ketika baru kaluar, jelas dia sehat dan ketika bermain silat, gerakan-gerakannya luar biasa, sedikitpun tidak menunjukkan kelemahan, bahkan hawa sambaran pedangnya dapat mencapai tempat dia bersembunyi. Kemudian selagi bermain silat, orang itu terhuyung seperti terluka parah. Namun masih mampu melancarkan serangan sedemikian dahsyatnya, dan ketika dia menangkisnya, orang itu tewas! jelas bukan karena tangkisannya, melainkan karena orang itu sudah terluka lebih dahulu selagi berlatih silat.

Tentu saja dia merasa heran bukan main. Tentu ada rahasia yang amat eneh di dalam, guha yang dikenal dengan sebutan Guha Siluman itu! Benarkah orang itu tadi telah di lukai oleh setan penghuni guha? Melihat banyaknya senjata berserakan di situ, Bun Houw memungut sebatang padang yang cukup baik dan dengan pedang di tangan, diapun memasuki guha itu dengan hati-hati sekali, penuh kewaspadaan.

Ternyata guha itu selain lebat dan tinggi juga dalam dan ada terowongan besar di sebelah kiri. Dan di dinding guha itu segera nampak tulisan yang diukir pada batu, huruf-huruf besar yang indah bentuknya.

HANYA YANG BERJODOH DAN BERBAKAT SAJA MAMPU MEWARISI IM YANG BU TEK CIN KENG, YANG TIDAK AKAN MATI KONYOL.

Membaca tulisan itu, Bun Houw tertegun, teringat akan ucapan orang yang baru saja tewas di luar guha. Orang itupun mengatakan bahwa dia telah menguasai Im-yang Bu-tek Cin-keng dan akan merajai dunia persilatan. Akan tetapi tiba-tiba saja orang itu mati konyol. Seperti mereka yang mayat dan rangkanya berserakan di luar guha itukah yang dinamakan "mereka yang tidak berjodoh"? Ataukah ada rahasia lain di balik semua ini?

Karena merasa amat tertarik untuk memecahkan rahasia kematian begitu banyak orang gagah di depan guha, Bun Houw segera berindap memasuki lorong terowongan di sebelah kiri guha. Bagaimanapun juga, tempat itu menyeramkan dan membuat dia berhati-hati, dengan pedang yang diambil di luar guha tadi, siap di tangan kanan, pendengarannya memperhatikan dengan tajam ke arah depan dan belakang. Namun, terowongan itu sunyi saja tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Setelah melangkah sejauh kurang lebih seratus meter dalam kegelapan, akhirnya terowongan itu membawanya ke sebuah ruangan bawah tanah yang luas dan ada sinar masuk dari atas karena terdapat retakan-retakan yang lebar di atas.

Setelah merasa yakin bahwa di sana tidak ada orang, tidak ada mahluk bergerak, dia memperhatikan sekeliling. Ruangan itu merupakan kamar bawah tanah yang berbentuk bulat dan pada dindingnya penuh dengan ukiran huruf-huruf dan gambar-gambar orang yang membuat bermacam gerakan silat. Mengertilah Bun Houw bahwa rnangan itu menyembunyikan pelajaran silat rahasia, dengan tulisan dan gambar di dinding dan agaknya ilmu inilah yang disebut Im-yang Bu-tek-Cin-keng itu!

Sebagai seorang ahli silat yang pernah digembleng oleh orang sakti, tentu saja Bun Houw tertarik bukan main untuk mempelajari Ilmu di dinding itu. Apalagi mengingat bahwa dibandingkan dengan para datuk, kepandaiannya masih jauh. Melawan para datuk, kepandaiannya masih kalah jauh. Hampir saja dia tewas di tangan datuk Bu-eng-kiam Ouwyang Sek, kemudian di tangan Kui-siauw Giam-ong Suma Koan diapun tidak berdaya, disiksa hampir mati, belum bertemu para datuk lain. Kalau memang ilmu di dinding ini hebat, tentu dia akan dapat membela diri lebih baik kalau bertemu dengan orang-orang jahat seperti mereka itu.

Setelah memeriksa huruf-huruf dan gambar itu, dia tercengang. Ilmu silat yang diajarkan di dinding itu sungguh merupakan ilmu yang amat aneh! Nampaknya saling bertentangan, namun serasi! Dia mendapatkan tulisan huruf-huruf kecil di sudut bawah yang mengatakan bahwa yang berjodoh dan berbakat, boleh mewarisi ilmu itu, akan tetapi tidak boleh setengah-setengah, harus dipelajari dengan sempurna dan hal ini akan makan waktu bertahun-tahun! Tulisan itu memperingatkan bahwa kalau hal ini dilanggar, maka akan mendatangkan kegilaan atau kematian.

Hemm, kalau memang sudah ingin belajar kenapa harus setengah-setengah, pikir Bun Houw. Dia hidup sebatang kara, tidak mempunyai urusan apa-apa lagi, tidak mempunyai tempat tinggal. Mengapa dia tidak mempelajari ilmu di dinding ini sampai dapat menguasainya dan tinggal di guha ini?

Demikianlah, dengan hati yang tetap Bun Houw mulai hari itu tinggal di dalam guha yang dinamakan Guha Siluman itu. Ketika dia mulai berlatih samadhi menurut petunjuk tulisan dinding, cara bersamadhi dan melatih pernapasan yang aneh dan berbeda dengan yang pernah dipelajarinya, tiba-tiba dia merasa ada bentrokan tenaga sin-kang di dadanya. Akan tetapi, perasaan yang tidak enak itu akhirnya lenyap "ditelan” oleh hawa yang dahsyat, yang didapatnya dari minum sari Akar Bunga Gurun Pasir. Dan diapun mulai menghafalkan ilmu Im-yang Bu-tek Cin-keng.

Setelah berlatih selama beberapa bulan, baru dia tahu mengapa ada peringatan di bagian depan guha. Kiranya pelajaran itu memang diperuntukkan mereka yang memiliki sin-kang yang amat kuat sehingga bagi orang yang sin-kangnya tidak kuat, melatih diri dengan ilmu ini bisa mencelakai dirinya sendiri. Latihan itu menimbulkan hawa sin-kang yang aneh dan kuat, akan tetapi kalau tidak memiliki dasar yang kuat, bangkitnya sin-kang itu dapat membuat orang tidak kuat bertahan dan mengalami luka dalam yang hebat.

Tahulah dia mengapa orang-orang itu tewas di depan guha. Mereka semua datang mempelajari ilmu, akan tetapi tidak memenuhi syarat. Mungkin ada yang tidak kuat sin-kangnya sehingga luka dalam dan tewas, dan mungkin ada pula yang tidak sabar, tergesa-gesa sehingga menghentikan latihan sebelum sempurna benar, atau hanya mempelajari setengah-setengah sehingga menjadi korban ilmu aneh yang masih belum dikuasainya benar itu.

Beberapa bulan setelah dia berada di guha itu, pernah dia mendengar dari dalam guha betapa ada datang beberapa orang di luar guha. Akan tetapi agaknya mereka itu mengenal korban terakhir, laki-laki tinggi besar itu. Mereka berseru kaget.

"Ahh, bukankah ini Toat-beng Kiam-ong (Raja Pedang Pencabut Nyawa)? Lihat itu pedangnya!”

"Benar dia ini ikat pinggangnya dari baja yang dapat dipergunakan sebagai senjata pedang pula! Ahh, bagaimana seorang seperti dia menjadi korban pula di sini?"

"Kalau tokoh seperti dia saja tewas di sini, apalagi kita! Ikh, aku tidak mau berlama-lama disini. Aku mau pergi saja sebelum mati konyol di sini!”

"Aku juga mau pergi. Tingkat Ilmu kepandaian Toat-beng Kiam-ong lebih tinggi dari tingkat guruku, kalau dia saja gagal, apalagi aku!"

Merekapun pergi dan sejak itu, tidak pernah lagi Bun Houw mendengar ada orang datang ke guha itu. Agaknya, matinya orang yang berjuluk Toat-beng Kiam-ong itu membuat orang-orang kang-ouw menjadi gentar dan tidak ada lagi yang berani mencoba-coba untuk mempelajari ilmu dari guha itu. Makin mendalam dia mempelajari ilmu Im-yang Bu-tek Cin-keng, semakin tahulah dia bahwa para korban itu benar-benar menjadi korban kelalaian mereka sendiri. Ada yang memang tidak ada persiapan! Dia sendiri, kalau saja tidak secara aneh dan kebetulan mendapatkan kekuatan dahsyat dari pertemuan antara racun-racun dalam tubuhnya akibat pukulan para datuk dengan khasiat obat Akar Bunga Gurun Pasir belum tentu akan sanggup bertahan mempelajari ilmu yang aneh ini.

********************

Bukit itu memang pantas mendapat nama Hwa-san (Bukit Bunga). Apalagi kalau tiba musim bunga, sungguh tidak ada tempat yang lebih indah dari pada Hwa-san. Sebuah bukit penuh bunga! Dari jauh nampak seperti segunduk kain berkembang beraneka warna. Apalagi kalau orang berada di puncak bukit itu dan melihat ke bawah. Hamparan penuh bunga yang menghamburkan semerbak harum, menarik datangnya lebah dan kupu-kupu. Segala terdapat di sisi lain lereng bukit itu.

Kalau saja ada orang yang mampu mendaki bukit itu dan berada di puncaknya pada saat itu, ketika musim bunga sedang dalam puncak keindahannya, maka orang itu akan dapat menikmati segala keindahan melalui mata, telinga dan hidungnya. Karena bukan saja pemandangan amat indah dan udara dipenuhi keharuman bunga. Juga kicau burung-burung memenuhi tempat itu, berseling nada dan irama dengan gemercik air anak sungai yang mengalir turun dan menjadi air terjun kecil dengan dendang abadi.

Bahagialah orang yang dapat menikmati segala keindahan di dunia ini dengan batin yang bebas dari pengaruh nafsu. Karena keindahan yang dinikmati dengan batin bengelimang nafsu, akan berubah menjadi kesenangan dan keindahan itu akhirnya menjadi kebosanan. Dan kalau sudah bosan, maka keindahan itu tidak akan lagi karena nafsu selalu mengejar yang baru, yang tidak ada, yang belum dicapai atau dimilikinya.

Pria yang duduk diatas batu besar di puncak yang datar itu berusia enam puluh tahun. Namun dia masih nampak muda seperti baru limapuluh tahun saja, wajahnya segar dan belum banyak keriput, duduknya masih tegak dan baru sedikit uban menghias rambutnya. Wajah pria ini masih jelas meninggalkan sisa ketampanan di waktu muda. Wajah yang nampak gembira bukan main sehingga jelas mudah diduga bahwa orang itu sedang menikmati keindahan di sekelilingnya, dan yang terhampar di sebelah bawah sana.

Namun, kalau kita mendekatinya, akan nampak bahwa pria ini adalah seorang yang tidak dapat melihat lagi. Dia seorang buta! Tentu dia menikmati keindahan itu melalui telinga dan hidungnya saja. dan perasaannya yang menjadi amat peka karena kurangnya indra penglihatan yang paling penting bagi manusia itu.

Pria yang duduk bersila seperti patung dengan mulut tersenyum-senyum itu adalah Tiauw Sun Ong, bekas pangeran yang kini menjadi seorang yang sakti itu. Dalam menikmati kesegaran di puncak Hwa-san, mencium keharuman selaksa bunga, mendengar kicau burung dan dendang air terjun, terbayang dalam benaknya kehidupan yang lalu ketika dia masih dapat melihat dan menjadi seorang pangeran di istana.

Setiap musim bunga, diapun selalu berada di taman bunga Istana yang luas dan indah, minum arak, bersajak, bermain musik dan dalam suasana yang romantis itu, selalu saja terjadi pertemuan antara dia dengan wanita cantik yang disusul dengan hubungan mesra. Dia terkenal sebagai seorang pangeran yang tampan dan pandai, juga adik kaisar sehingga dia terpandang, dihormati dan dimuliakan, membuat banyak gadis bangsawan tergila-gila kepadanya.

Keharuman bunga itu membuat Tiauw Sun Ong teringat kembali betapa di waktu mudanya dia dihujani cinta kasih banyak wanita, walaupun di antara sekian banyaknya, yang masih teringat sampai sekarang, masih berkesan di hatinya hanya beberapa orang saja. Dan yang terakhir sekali adalah wanita yang amat dicintanya dan hubungannya dengan wanita itu mengakibatkan dia menjadi buta dan terasing dari keluarga kaisar.

"Cu Lan...!” Bibirnya bergerak memanggil nama ini tanpa bersuara. Wanita itu adalah selir kakaknya, selir kaisar yang paling disayang oleh kaisar. Memang amat cantik jelita.

Kebetulan saja dia bertemu dengan selir itu pada musim bunga seperti ini, di taman bunga. Dan peristiwa itu bukan hanya bertemunya dua pasang mata yang bertautan, melainkan juga dua buah hati. Mereka lupa segala, menjalin hubungan cinta yang mesra.

Ketika itu, Pouw Cu Lan selir kaisar itu berusia dua puluh tahun, telah tiga tahun menjadi selir kaisar dan belum mempunyai anak. Hubungan mesra mereka itu hanya berjalan kurang lebih tiga bulan. Para selir lain yang iri hati terhadap Cu Lan, melaporkan kepada kaisar. Mereka tertangkap basah di pondok taman dan dalam keadaan amat main. dia lalu membikin buta kedua matanya sendiri, kemudian pergi meninggalkan istana. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan diri kekasihnya itu, setelah dia pergi. Dia hidup terlunta-lunta sampai jauh ke utara. Ketika itu, dia berusia tiga puluh satu tahun. Hanya pertemuannya dengan seorang tosu yang sakti saja yang membuat dia bersemangat kembali untuk melanjutkan hidup. Dia menjadi murid tosu itu, mempelajari ilmu-ilmu sehingga menjadi seorang yang sakti, walaupun buta.

Masih ada beberapa orang wanita yang tak pernah dapat dia lupakan, namun tidak seperti Pouw Cu Lan yang benar-benar telah dapat merebut cinta hatinya. Namun, dia sungguh merasa bersalah kepada kakaknya, dan merasa malu sekali. Maka, biarpun hatinya selalu tersiksa apabila dia teringat kepada kekasihnya itu, dia menahan diri dan tidak pernah dia mau mencari tahu lagi tentang diri kekasihnya. Bahkan dia selalu menjauhkan diri dari kota raja, berkelana di gunung-gunung dan di tempat-tempat sunyi, seperti seorang terlantar, seperti pengemis walaupun dia tidak pernah minta-minta.

Dia pun mendengar akan kehancuran kerajaan kakaknya. Lima tahun yang lalu, Kerajaan Liu-sung yang dipimpin kakaknya, yaitu Kaisar Cang Bu telah jatuh ke tangan pemberontakan yang dipimpin oleh seorang pemberontak bernama Siauw Hui Kong bersama keluarga Siauw. Para pemberontak itu dapat merebut tahta kerajaan. Kaisar Cang Bu membunuh diri, dan para pemberontak yang berbaik dengan Kerajaan Wei di utara, mendirikan sebuah kerajaan baru yang dinamakan Kerajaan Chi.

Tiauw Sun Ong bersedih mendengar semua itu. Akan tetapi apa yang dapat dia lakukan? Dia tidak berdaya. Walaupun dia memiliki ilmu kepandaian yang membuat dia sakti, namun dia hanya seorang buta. Bagaimana dia akan mampu menyelamatkan kerajaan kakaknya! Setelah kerajaan kakaknya jatuh, dia semakin acuh terhadap urusan dunia dan kini dia berada di Hwa-san, menemukan tempat yang amat menyenangkan, tenang dan tenteram. Dia mengambil keputusan untuk tinggal di tempat indah itu sampai dia mati, tidak akan turun dari bukit itu.

Tiauw Sun Ong tidak tahu bahwa bagaimanapun besar keinginan manusia, kadang-kadang nasib menentukan lain. Dia tidak tahu bahwa pada saat dia termenung itu, terjadi peristiwa di kaki bukit yang merupakan awal perubahan kehidupannya, yang akan mengguncang kedamaian yang dia rasakan di puncak bukit itu. Jauh di kaki bukit Hwa-san, pagi hari itu seorang wanita memasuki sebuah dusun di kaki bukit.

Wanita itu hampir lima puluh tahun usianya, namun masih nampak cantik dan muda. Orang akan mengira ia berusia tigapuluh tahun lebih. Wajahnya yang manis itu berkulit putih kemerahan, hidungnya mancung dan mulutnya kecil penuh gairah. Akan tetapi orang akan bersikap hati-hati dan bahkan mungkin jerih kalau melihat matanya. Mata itu memang indah dan jeli, akan tetapi sinarnya kadang-kadang seperti mata harimau marah, menusuk dan berapi.

Pakaiannya sederhana seperti juga riasan wajahnya yang manis, akan tetapi cukup bersih dan karena potongannya ringkas dan ketat, maka bentuk tubuhnya yang ramping padat itu nampak nyata. Pakaian seorang wanita yang sering melakukan perjalanan jauh, bukan pakaian seorang ibu rumah tangga yang selalu sibuk dengan anak-anaknya dan pekerjaan rumahnya.

Setelah memasuki dusun itu, wanita cantik ini mencari-cari dengan pandang-matanya. Ia tidak perduli akan pandang mata orang-orang dusun, terutama prianya, yang memandang heran dan kagum kepadanya. Ia mencari kedai nasi atau rumah makan karena perutnya terasa lapar dan ia ingin sarapan...

Thanks for reading Kisah Si Pedang Kilat Jilid 12 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »