Kisah Si Pedang Kilat Jilid 08

Kisah Si Pedang Kilat Jilid 08

KETIKA menerima laporan dari penjaga pintu gerbang bahwa ada dua orang wanita cantik membawa tawanan seorang pembunuh minta menghadap, Souw Ciangkun merasa heran akan tetapi cepat menyuruh pengawalnya mempersilakan dua orang wanita dengan tawanannya itu untuk datang menghadapnya dalam ruangan kantor. Tadinya dia mengira bahwa seorang di antara dua wanita cantik itu tentulah pendekar wanita Ouwyang Hui Hong yang sudah dikenalnya.

Maka, dia merasa heran sekali ketika melihat bahwa tamunya itu bukan lain adalah Cia Ling Ay atau yang pernah dikenalnya sebagai Nyonya Cun Hok Seng, mantu dari Cun Tai jin Dia sudah berjanji kepada Kwa Bun Houw bahwa wanita ini tidak akan dituntut sebagai anggauta keluarga Cun. Maka tentu saja dia merasa heran bagaimana wanita ini sekarang muncul menghadapnya. Dan diapun tidak mengenal wanita cantik setengah tua yang datang bersama Ling Ay.

Akan tetapi, sebagai komandan pasukan di Nan-ping, dia segera mengenal Hek-coa yang kedua lengannya tengantung lumpuh itu. Setelah memberi hormat dan mempersilakan dua orang tamunya duduk sedangkan Bi Moli membentak dengan suara halus agar Hek-coa berlutut di lantai, Souw Ciangkun lalu bertanya akan maksud kunjungan itu.

"Souw Ciangkun tentu masih mengenal saya. Saya adalah mantu Cun Tai-Jin dan selain saya datang untuk menyerahkan diri sebagai mantu seorang pemberontak, juga saya hendak melaporkan akan peristiwa yang menimpa keluarga ayah saya."

"Kami sudah menerima laporan pagi ini tentang peristiwa menyedihkan di rumah orang tuamu itu, Cun Hujin (Nyonya Cun). Ayah dan ibumu terbunuh dan engkau lenyap. Akan tetapi kami tidak tahu siapa yang melakukan pembunuhan itu dan ke mana engkau pergi." kata Souw Ciangkun, nada suaranya mengandung iba.

Nyonya muda ini memang bernasib malang, pikirnya. Baru saja keluarga suaminya ditangkapi karena memberontak, disusul pembunuhan terhadap ayah dan ibu kandungnya. Ling Ay menarik napas panjang. "Dia inilah pembunuh ayah Ibuku, Ciangkun, dan dia pula yang menculik saya. Untung saya ditolong oleh Bibi Kwan ini yang juga menangkapnya."

"Hek-coa, si keparat! Sekali ini engkau tidak akan lolos dari hukuman!” Souw Ciangkun membentak marah.

"Saya menyerahkan kepada Ciangkun untuk menghukumnya, akan tetapi dia ini tidak begitu penting, Ciangkun. Ternyata yang meryuruh dia membasmi keluarga Cia adalah Poa Ku Seng, pejabat pemungut pajak itu dan dalihnya karena dia takut rahasianya terbongkar. Dia adalah sekutu dari ayah mertuaku. Karena itulah saya menghadap Ciangkun, agar semua sisa pemberontak dapat dibersihkan, juga untuk menyerahkan diri untuk ditangkap."

Souw Ciangkun memandang kagum, lalu bangkit berdiri dan begitu dia bertepuk tangan, beberapa orang pengawalnya datang menghadap. Souw Ciangkun bangkit berdiri dan berkata kepada mereka, "Cepat panggil Tan Ciangkun datang menghadap. Sekarang juga!”

Tan Ciangkun adalah wakilnya dan tinggal di dalam benteng itu juga, maka sebentar saja Tan Ciangkun, seorang perwira yang usianya sekitar empat puluh tahun. Tan Ciangkun masuk dan memandang dengan penuh pertanyaan kepada dua orang wanita dan seorang laki-laki yang berlutut itu.

"Tan Ciangkun, suruh seret Hek-coa ini dan jebloskan ke dalam tahanan, dijaga ketat jangan sampai lolos atau bunuh diri. Dia akan menjadi saksi penting. Dan kerahkan pasukan, tangkap seluruh keluarga pejabat Poa Kit Seng, jangan ada yang sampai melarikan diri. Sekarang juga! Dia adalah sekutu dari pemberontak Cun!"

Tan Ciangkun memberi hormat, lalu memerintahkan dua orang pengawal untuk menyeret Hek-coa pergi dan dia sendiri lalu keluar untuk melaksanakan perintah penangkapan terhadap keluarga pembesar Poa Kit Seng.

Setelah ruangan itu sunyi kembali dan hanya mereka bertiga yang berada di situ, Ling Ay lalu berkata kepada Bi Moli, "Bibi, untuk yang terakhir kalinya, saya menghaturkan banyak terima kasih kepada bibi, bukan saja karena bibi telah menyelamatkan saya, terutama sekali karena bibi telah dapat menangkap pembunuh orang tuaku dan membongkar sekutu pemberontakan." Setelah berkata demikian, Ling Ay memberi hormat kepada wanita cantik itu lalu menghadap Souw Ciangkun sambil berkata, "Ciangkun, saya sudah siap untuk ditangkap dan dituntut. Silakan.” Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di atas lantai sambil menundukkan mukanya.

Bi Moli sejak tadi hanya melihat dan mendengarkan saja akan tetapi diam-diam ia merasa kagum dan suka kepada wanita muda yang tabah itu walaupun mengalami nasib yang buruk sekali. Ia ingin tahu apa yang akan dikatakan panglima itu, akan tetapi diam-diam ia mengambil keputusan dalam hatinya untuk mencegah kalau Ling Ay akan dihukum.

Souw Ciangkun melangkah maju mendekat dan membungkuk, lalu dengan sikap kebapakan dia memegang lengan Ling Ay dan ditariknya wanita itu agar bangkit berdiri, dengan sikap lembut. "Tidak, engkau tidak akan dituntut. Kami telah mendengar semua tentang dirimu dari Kwa Tai-hiap (pendekar besar Kwa) dan kami sudah bersepakat dengan dia untuk tidak menuntutmu atau keluarga orang tuamu. Kami harus memegang janji terhadap pendekar yang berjasa banyak dalam pembongkaran rahasia pemberontakan Cun Tai-jin itu."

Mendengar ini, Ling Ay tertegun. "Ah, kembali Houw-toako yang telah menolongku... aih, dia melimpahkan budi kebaikan kepadaku, sedangkan aku... aku hanya menyakiti hatinya... " katanya lirih dan tak terasa lagi kedua matanya menjadi basah.

"Sudahlah, Ling Ay. Hal yang lalu sudah lewat, tiada gunanya dipikirkan lagi," tiba-tiba Bi Moli berkata sambil memegang tangan Ling Ay. "Setelah selesai urusan kita dengan Souw Ciangkun, mari kita pergi dan sini." Wanita itu menggandeng tangan Ling Ay dan menariknya.

"Pergi? Bibi, pergi ke manakah? Aku tidak mempunyai tempat tinggal lagi, aku tidak mau pulang ke rumah orang tuaku. Aku hanya ingin melihat jenazah mereka, mengurus pemakaman mereka, kemudian... aku tidak tahu harus pergi ke mana. Tinggal di rumah itu hanya akan mengingatkan aku akan segala hal yang mengerikan." Ia menahan tangisnya karena maklum betapa Bi Moli tidak suka melihat kecengengan.

"Baik, mari kuantar engkau mengurus jenazah orang tuamu. Setelah itu, engkau ikut denganku."

"Ke mana?”

"Kau lihat saja nanti."

Dua orang wanita itu pergi dan Souw Ciangkun hanya mengantar dengan pandang mata yang penuh iba. Akan tetapi perwira gagah yang banyak pengalaman ini maklum bahwa di tangan seorang wanita sakti yang cantik itu, tentu keselamatan Cia Ling Ay terjamin.

Ketika Ling Ay dan Bi Moli tiba di rumahnya, jenazah ayah Ibunya telah diurus oleh para tetangga dan telah dimasukkan peti. Ia hanya dapat menangisi ayah ibunya di depan kedua peti mati dan semua tetangga memandang dengan hati terharu. Akan tetapi begitu Bi Moli mendekatinya dan menyentuh pundaknya. Ling Ay menghentikan tangisnya.

"Bibi Kwan. Maafkan kelemahanku." bisiknya kepada wanita cantik yang tersenyum akan tetapi yang memandang dengan mata tajam penuh teguran itu.

Dengan sederhana, jenazah Cia Kun Ti dan isterinya dimakamkan. Kemudian, Ling Ay menyerahkan rumah orang tuanya kepada seorang tetangga yang baik, membawa pakaian dan perhiasannya, dan pergilah ia mengikuti Bi Moli Kwan Hwe Li. Dan mulai saat itu, Cia Ling Ay, wanita muda yang tadinya lemah, tumbuh menjadi seorang wanita yang digembleng ilmu silat tinggi dan juga ilmu sihir!”

Ada satu hal yang menggelisahkan hati Ling Ay selama ia mengurus pemakaman kedua orang tuanya. Kenapa Kwa Bun Houw tidak pernah muncul? Kalau pemuda itu tahu bahwa ayah ibunya dibunuh orang, ia merasa yakin pemuda itu pasti datang melayat. Ia teringat bahwa pemuda itu akan mencari Ouwyang Hui Hong yang katanya sedang melakukan pengejaran terhadap Pek I Mo-ko. Bahkan ia dan ayah ibunya malam itu sedang menanti kembalinya, karena Bun Houw sudah berjanji akan mengantar mereka pergi pindah ke dusun. Apakah yang terjadi dengan pemuda itu? Walaupun ia kini sudah ikut Bi Moli Kwan Hwe Li. Namun setiap teringat kepada Bun Houw, masih saja ia merasa terharu dan khawatir.

********************

Serial Pedang Kilat Karya Kho Ping Hoo

Kekhawatiran Ling Ay memang beralasan. Kenapa perginya Kwa Bun Houw sehingga dia tidak sempat tahu akan kematian Cia Kun Ti dan isterinya, dan tidak datang melayat? Dia bukan seorang pemuda yang suka melanggar janji, Apalagi janjinya terhadap bekas tunangannya!

Seperti kita ketahui, pada waktu diadakan penyerbuan oleh pasukan terhadap keluarga Cun Tai-jin yang diakhiri dengan tewasnya para jagoan pemberontak itu dan ditangkapnya semua anggauta keluarga pemberontak, Pek I Mo-ko berhasil melarikan diri dan dikejar oleh Ouwyang Hui Hong. Bun Houw yang mendengar dari Souw Ciangkun bahwa gadis perkasa itu mengejar Pek I Mo-ko. segera mencari dan melakukan pengejaran.

Namun, selama semalam suntuk dia mencari-cari dengan sia-sia. Dia tidak berhasil menemukan jejak Hui Hong ataupun Pek I Mo-ko. Ketika dia pergi ke rumah Cia Kun Ti. dia mengatakan bahwa dia akan mengantar keluarga Cia pindah ke dusun setelah dia berhasil menemnkan Hui Hong. Maka, pergilah dia meninggalkan rumah keluarga Cia untuk mencari Hui Hong.

Sampai seminggu lamanya Bun Houw mencari-cari tanpa hasil. Tentu saja dia menjadi gelisah bukan main. Di satu fihak, dia harus mencari Hui Hong sampai dapat karena gadis itu melakukan pengejaran terhadap seorang datuk sesatl yang lihai dan penuh tipu muslihat. Mungkin dalam hal ilmu silat, Hui Hong tidak kalah dan mampu menandingi kepandaian datuk sesat itu. Akan tetapi, gadis itu masih muda dan kurang pengalaman, maka mengejar seorang seperti Pek I Mo-ko yang amat curang, sungguh berbahaya sekali.

Di lain pihak, dia teringat akan janjinya kepada keluarga Cia di Nan-ping yang akan dia amankan pindah ke dusun. Akan tetapi, urusan mengantar keluarga Cia ke dusun tidaklah penting benar dibandingkan urusan mercari Hui Hong karena hal ini ada hubungannya dengan keselamatan Hui Hong. Maka, biarpun dengan berat hati karena dia harus melanggar janjinya kepada keluarga Cia, terpaksa Buo Houw yang sudah melakukan perjalanan jauh itu tidak dapat kembali ke Nan-ping.

Akhirnya dia menemukan jejak mereka pada hari ke delapan. Ketika dia tiba di sebuah dusun di sebelah utara kota Nan-ping, dia mendengar dari seorang penjual air teh atau semacam kedai minuman dan makanan kecil yang berdagang di tepi jalan perempatan dusun bahwa dua orang yang dicarinya itu kebetulan sekali singgah dan minum teh di situ.

"Empat hari yang lalu kakek berpakaian putih seperti yang sicu (tuan) gambarkan itu lewat di sini, bahkan singgah sebentar untuk minum teh dan makan bakpauw. Dia nampak tergesa-gesa, kemudian dia melanjutkan perjalanan ke utara. Dan dua hari kemudian, kemarin dulu, pagi-pagi seorang nona lewat dan singgah pula di sini. Orangnya cantik muda dan galak, pakaiannya sederhana dan di punggungnya memang nampak sepasang pedang. Ia galak sekali. Ketika seorang tuan muda yang menjadi tamu di sini menegurnya dengan ramah karena tertarik oleh kecantikannya, kongcu itu ditampar sampai giginya copot dua buah dan pipinya bengkak. Huh, Ia seperti harimau betina!”

Bukan main girang rasa hati Bun Houw. Tak salah lagi, mereka itu tentu Pek I Mo-ko dan Hui Hong. Kiranya Hui Hong masih tertinggal jauh oleh Pek I Mo-ko. "Engkau tahu ke mana perginya nona itu.?" tanyanya sambil mengeluarkan uang untuk memberi hadiah kepada pelayan yang suka mengobrol itu.

Melihat uang ini, si pelayan menjadi girang, menerimanya dan menceritakan apa saja yang diketahuinya. "Kami semua tidak tahu, sicu, Akan tetapi saya berani bertaruh bahwa ia tentu mencari kakek baju putih itu dan melakukan pengejaran ke utara."

"Eh? Bagaimana engkau bisa tahu bahwa nona itu mengejar si kakek baju putih?”

"Tentu saja saya tahu!" kata si pelayan dengan sikap bangga. "Kebetulan sekali saya yang melayani nona itu dan ia banyak bertanya tentang seorang kakek berpakaian putih. Setelah mendengar bahwa dua hari yang lalu kakek itu lewat di sini dan menuju ke utara, iapun segera membayar minuman dan tergesa-gesa menuju ke utara!"

Girang rasa hati Bun Houw, akan tetapi juga khawatir. Girang karena dia yakin bahwa memang Pek I Mo-ko dan Hui Hong lewat di dusun itu. Gelisah karena tak jauh lagi di utara merupakan daerah Kerajaan Wei yang menguasai seluruh daerah utara, sebuah kerajaan yang besar dan kuat, dipimpin oleh suku Bangsa Toba atau Tartar! dan agaknya Pek I Mo-ko melarikan diri ke daerah itu, dikejar oleh Hui Hong. Sungguh berbahaya. Diapun cepat membayar harga minuman dan melanjutkan perjalanannya ke utara.

Pada waktu itu, Cina terbagi menjadi dua kerajaan. Di bagian utara, daerah Sungai Huang-ho ke utara, dikuasai oleh Kerajaan Wei atau Dinasti Wei (386-532) dan pada waktu itu (sekitar 473) yang menjadi kaisar Kerajaan Wei adalah Kaisar Wei Ta Ong. Kota rajanya di Lok-yang. Dinasti Wei ini di pimpin oleh suku bangsa Toba atau yang lebih dikenal dengan Bangsa Tartar.

Namun, sejak pemerintahan pertama, keluarga kerajaan itu yang ingin disebut maju dan tidak ketinggalan jaman, selalu menyesuaikan diri dengan bahasa, kebudayaan dan pakaian Bangsa Han, yaitu bangsa pribumi terbesar di Cina, Berkali-kali Kerajaan Wei ini mengadakan penyerangan ke selatan, namun kerajaan lain di bagian selatan selalu memberi perlawanan gigih sehingga gagallah usaha Kerajaan Wei untuk menguasai kerajaan di selatan.

Adapun di bagian selatan, yaitu daerah Yang-ce-kiang ke selatan, pada waktu itu dikuasai oleh kerajaan atau Dinasti Sung atau lengkapnya Kerajaan Liu Sung (420-477) dan pada waktu cerita ini terjadi, baru saja Kaisar Cang Bu (473-477) atau kaisar terakhir Kerajaan Liu Sung menduduki tahta kerajaan.

Karena selalu terjadi permusuhan di antara kedua kerajaan ini, maka di daerah tapal batas antara keduanya, yaitu di antara Sungai Huang-ho dan Sungai Yang-tse, selalu terjadi bentrokan senjata antara pasukan kedua kerajaan. Daerah yang cukap luas di antara mereka ini menjadi daerah tak bertuan, daerah liar yang tentu saja dimanfaatkan oleh para penjahat dan golongan sesat untuk di jadikan tempat persembunyian.

Kerajaan Wei yang barpusat di Lok-yang sebagai kota raja itu, kini diperintah oleh Kaisar Wei Ta Ong yang terkenal keras dalam melaksanakan pemerintahannya. Kerajaan Wei sudah berusia hampir satu abad dan kini orang luar sukar membedakan bahwa keluarga kerajaan itu adalah orang-orang Tartar. Selama seabad ini, keluarga mereka telah menyesuaikan diri dengan kebudayaan Han, bahkan banyak di antara mereka yang menikah dengan orang Han sehingga anak keturunan mereka sukar dibedakan dari orang Han aseli.

Kalaupun ada sedikit perbedaannya, hal itu mungkin hanya karena sikap orang-orang Tartar yang menjadi penguasa itu bersikap sebagai golongan yang lebih tinggi dari pada orang Han aseli, dan biarpun pakaian dan bahasa mereka sudah sama dengan Bangsa Han, namun kesukaan mereka mengenakan bulu burung untuk menghias rambut atau penutup kepala, merupakan ciri khas orang Tartar yang masih melekat kepada mereka.

Pada waktu Bangsa Tartar suku Toba ini menyerbu dari daerah Mongolia ke selatan, mereka masih merupakan suku yang liar dan buas, seperti biasa menjadi watak orang-orang Nomad yang hidupnya menentang banyak kesukaran, membuat mereka keras dan cerdik. juga pemberani. Namun sekarang, setelah menjajah dengan mendirikan Dinasti Wei selama seabad, keluarga kaisar telah berubah. Mereka kini terpelajar, bangsawan, walaupun sifat keras tak mengenal ampun, cerdik dan pemberani masih ada pada mereka.

Kaisar Wei Ta Ong mempunyai banyak jagoan, bukan saja para panglimanya yang memimpin pasukan-pasukan yang kuat, akan tetapi juga di kota raja Lok-yang, terutama di istananya, terdapat banyak jagoan yang setia kepadanya. Kaisar Wei Ta Ong memang seorang kaisar yang suka akan olah kesaktian, suka belajar ilmu silat dan gulat, dan dalam usia lima puluh tahun dia masih gagah perkasa dan kuat. Juga dia penggemar wanita cantik. Di haremnya, yaitu kumpulan wanita yang menjadi selirnya, terkumpul tidak kurang dari lima puluh orang wanita berbagai suku bangsa dengan bermacam corak kecantikan. Selain suka akan ilmu silat dan wanita. Juga Kaisar Wei Ta Ong mempunyai satu kesukaan lain, yaitu ilmu-ilmu yang aneh dari para pendeta To. Terutama sekali dia ingin mempelajari ilmu yang akan membuat dia mampu memperpanjang usia sampai seribu tahun!

Kesukaan yang terakhir inilah yang memungkinkan Pek I Mo-ko diterima menghadap kaisar besar itu! Memang luar biasa sekali. Seorang yang tidak dikenal di daerah utara itu, seorang rakyat biasa, bahkan yang datang dari selatan, dapat diterima sendiri oleh Kaisar Wei Ta Ong! Dan para menteri rendahan saja tidak diperbolehkan hadir! Yang ikut hadir dalam pertemuan itu hanyalah para menteri tertinggi dan para kepala jagoan istana.

Tentu berita yang teramat penting dibawa oleh Pek I Mo-ko maka Kaisar Wei Ta Ong berkenan menerimanya seperti itu. Dan sesungguhnya demikianlah. Pek I Mo-ko mohon menghadap Kaisar Kerajaan Wei itu untuk menawarkan sebuah benda yang amat langka, sebuah benda yang akan diperebutkan oleh seluruh tokoh kang-ouw kalau mereka mengetahuinya, Pek I Mo-ko menawarkan Akar Bunga Gurun Pasir!

Tanaman bunga ini teramat langka. Belum tentu ada sepuluh batang di seluruh padang pasir Gobi yang amat luas itu! Dan inipun tidak setiap waktu ada karena bunga ini hanya akan tumbuh puluhan tahun sekali. Entah proses alam bagaimana yang membuat tanaman yang mempunyai bunga amat indah dan harum itu dapat tumbuh di gurun pasir yang kering gersang! Kalaupun berbunga, maka umur bunga dan tanaman itu sendiri setelah berbunga hanya beberapa hari saja. Segera menjadi layu dan kering.

Akar pohon itulah yang agak tahan lama, dan kalau orang dapat mengambil akar ini selagi belum rusak membusuk, maka akar itu dapat dikeringkan dan menjadi semacam obat yang kabarnya memiliki khasiat yang luar biasa! Menurut kabar yang seperti dongeng namun dipercaya oleh mereka yang memang tahyul, akar ini bisa dipengunakan sebagai obat untuk menyembuhkan segala macam penyakit, menawarkan segala macam racun, bahkan lebih hebat lagi, dapat membuat orang menjadi panjang usia sampai seribu tahun!

Mendengar bahwa Pek I Mo-ko mohon menghadap untuk menawarkan Akar Bunga Gurun Pasir, tentu saja Kaisar Wei Ta Ong menjadi gembira bukan main. Sudah lama dia menginginkan obat panjang usia. Sudah banyak para tosu diundang untuk memberinya rahasia panjang usia, namun semuanya tidak meyakinkan hatinya. Apa artinya kedudukan mulia, berenang di lautan kemewahan dan kekayaan, tenggelam dalam kesenangan dan kehormatan mempunyai banyak selir yang cantik, kalau akhirnya semua itu terhenti karena dia harus mati dalam waktu yang singkat. Mencapai usia seratus tahun saja sedikit sekali kemungkinannya. Maka, kalau ada obat yang membuat dia bertahan hidup sampai seribu tahun, alangkah senangnya! Demikianlah jalan pikiran kaisar itu.

Karena merasa amat tertarik, tidak seperti biasanya, kini Kaisar Wei Ta Ong sendiri yang menghadapi tamu biasa itu dan kaisar sendiri yang menanyainya, "Siapa namamu?" Suara kaisar itu ramah.

Pek I Mo-ko yang berlutut itu menyembah. "Nama hamba Ciong Kui Le. Hamba berasal dari daerah Nan-ping di Kerajaan Liu Sung."

"Ciong Kui Le, benarkah laporan dari petugas bahwa engkau mohon menghadap kepada kami untuk menawarkan Akar Bunga Gurun Pasir?”

"Benar sekali. Yang Mulia. Hamba menawarkan benda mustika itu kepada paduka yang mulia."

Wajah kaisar itu berseri dan diapun menggerakkan tangan kanannya. "Ciong Kui Le, bangkitlah dan duduklah di kursi itu agar kita dapat bicara lebih baik. Jangan takut, bangkit dan duduklah,"

Seorang Jagoan menyodorkan sebuah kursi kepada tamu itu dan Pek I Mo-ko segera duduk di atas kursi, berhadapan dengan kaisar dalam jarak yang cukup aman bagi keselamatan kaisar. Para kepala jagoan setiap saat mengamati dengan waspada sehingga betapapun lihainya Pek I Mo-ko, andaikata dia berniat buruk terhadap kaisar, tentu dia akan gagal.

"Ciong Kui Le. engkau sendiri mengaku bahwa engkau tinggal di daerah Kerajaan Liu Sung, mengapa setelah mendapatkan mustika itu, engkau membawanya ke sini dan menawarkannya kepada kami!” Pertanyaan ini jelas menggambar kecurigaan sang kaisar, juga sekaligus memberi peringatan kepada Pek I Mo-ko bahwa yang dihadapinya adalah seorang yang cerdik.

"Tentu saja ada sebabnya yang kuat. Yang Mulia, Tadinya, hamba memang hendak mempersembahkan mustika itu kepada Kaisar Cang Bu di Kerajaan Liu Sung. Akan tetapi, hamba yang hanya menghendaki imbalan yang pantas, bahkan dicurigai, hamba akan ditangkap dan mustika itu akan dirampas. Tentu saja hamba melawan, meloloskan diri dan lari ke utara, menghadap paduka dan menawarkan mustika itu kepada paduka yang hamba dengar amat adil dan bijaksana, tidak seperti kaisar di Kerajaan Liu Sung."

Manusia manakah di dunia ini yang tidak suka dipuji? Biarpun dia seorang kaisar. Kaisar Wei Ta Ong juga hanya seorang manusia yang tidak lepas dari kesenangan ini, maka mendengar ucapan Pek I Mo-ko, dia mengangguk-angguk senang.

"Hmmm, keputusan yang kau ambil itu tidak keliru, Ciong Kui Le, Kami berjanji, kalau mustika itu benar langka dan bermanfaat bagi kami, tentu engkau akan menerima Imbalan yang cukup pantas. Harta benda atau kedudukan, boleh kau pilih. Nah, kami ingin melihat dulu bagaimana rupanya. Perlihatkan Akar Bunga Ourun Pasir itu kepada kami sebagai bukti."

"Ampun, Yang Mulia. Mustika itu tidak ada pada hamba, tidak hamba bawa."

Kaisar Wei Ta Ong mengerutkan alisnya. "Ciong Kui Le, apakah engkau hendak mempermainkan kami?" Nada suaranya penuh ancaman dan sikapnya berubah galak. "Di mana mustika itu?"

"Ampun, Yang Mulia. Seperti telah hamba ceritakan tadi, hamba dikejar-kejar oleh para jagoan istana Kaisar Kerajaan Sung. Hamba melarikan diri ke utara lewat perbatasan yang menjadi daerah tak bertuan. Karena khawatir kalau sampai Akar Bunga Gurun Pasir itu terampas, hamba menyembunyikannya di suatu tempat yang aman."

"Di mana?" tanya kaisar penasaran.

"Di lereng Bukit Fu-niu-san, akan tetapi tempat itu tersembunyi dan tanpa petunjuk hamba, tak seorangpun akan mampu menemukannya,"

"Ciong Kui Le, karena engkau tidak mampu memperlihatkan mustika itu kepada kami, tentu saja kami mencurigaimu dan belum percaya benar akan ceritamu itu. Bagaimana mungkin engkau dapat meloloskan diri dari pengejaran para jagoan istana Kerajaan Liu Sung ? Pengawal, coba dan uji dia!”

Pek I Mo-ko terkejut sekali karena tiba tiba nampak bayangan berkelebat dan dua orang pria tinggi besar seperti raksasa telah menghadapinya. Diapun tahu bahwa kaisar hendak mengujinya, maka diapun memberi hormat kepada kaisar.

"Harap paduka mengampuni hamba, akan tetapi sungguh hamba tidak berbohong,"

"Ciong Kui Le, tidak perlu banyak cakap lagi!” kata seorang di antara dua pria tinggi besar itu. "Yang Mulia telah memerintahkan kami untuk mengujimu. Bersiaplah untuk menandingi kami!”

Pek I Mo-ko memberi hormat lagi kepada kaisar, lalu bangkit dan menghadapi dua orang itu sambll memandang dengan penuh perhatian. Mereka itu dua orang pria raksasa berkulit hitam. Dia harus mengangkat muka untuk memandang wajah mereka karena tingginya hanya rampai di pundak mereka. Sungguh dua orang pria tinggi besar yang nampak kokoh kuat, dan wajah mereka serupa benar, pakaian merekapun sama sehingga mudah diketahui bahwa mereka itu kakak beradik atau saudara kembar.

Diam-diam Pek I Mo-ko merasa khawatir dan menyesal mengapa dia menghadap Kaisar Kerajaan Wei ini. Agaknya kaisar ini hendak memaksanya dengan kekerasan untuk menyerahkan mustika itu! Dia harus mempertahankan diri, dan kalau kaisar berniat buruk, dia akan mencoba untuk membunuhnya!

Sebelum diperkenan menghadap kaisar, tadi di luar para penjaga keamanan telah minta agar dia meninggalkan pedangnya. Kini senjata yang ada padanya hanya sebuah kipas. Para penjaga tidak meminta kipas ini yang masih terselip di pinggangnya. Akan tetapi, dia melihat dua orang raksasa kembar itupun, bertangan kosong, maka dia tidak akan menggunakan kipasnya kalau tidak terpaksa sekali untuk melindungi diri. Dengan sikap tenang diapun memasang kuda-kuda kedua kakinya terpentang lebar, lutut ditekuk dan kedua tangan menyembah di depan dada.

"Silakan Ji-wi (kalian) menyerang!” katanya menantang.

Dua orang pengawal pribadi Kaisar Wei Ta Ong itu adalah dua orang kembar berbangsa Tartar yang amat terkenal sebagai jago-jago silat merangkap jago gulat. Mereka memiliki tenaga yang besar dan sukarlah dicari tandingan mereka di antara para jagoan lain. Mereka termasuk jagoan Istana kelas dua yang sudah dipercaya kaisar. Jagoan tingkat satu adalah panglima dan komandan pasukan keamanan dan pasukan pengawal. Melihat orang yang harus mereka uji itu sudah siap, mereka lalu mulai menyerang dari kanan kiri dengan terkaman biruang, kedua lengan dikembangkan dan kedua tangan menyambar dari kanan kiri dengan cepat dan kuat sekali.

Empat buah tangan itu bersiutan menyambar dari kanan kiri. Akan tetapi keempat tangan itu hanya menyambar udara kosong karena orang yang dicengkeram itu berkelebat menjadi bayangan putih dan dapat mengelak dengan cepat sekali. Si kembar menjadi terkejut, apa lagi ketika bayangan putih itu meloncat melewati kepala mereka. Mereka juga tidak bodoh dan cepat membalikkan tubuh dan benar saja, Pek I Mo-ko telah berada di belakang mereka dan sedang membalas dengan putaran ke arah dada mereka.

Liauw Gu dan Liauw Bu, si kembar itu, tidak mengelak melainkan cepat menangkap tangan Pek I Mo-ko yang memukul ke arah dada mereka.

"Buk! Bukk!” Dada mereka terkena pukulan, akan tetapi mereka mengandalkan kekebalan mereka dan kini kedua tangan Pek I Mo-ko telah dapat mereka tangkap di bagian pergelangannya. Pek I Mo-ko terkejut dan merasa menyesal mengapa tadi dia membatasi tenaga ketika memukul, tanpa menduga bahwa dua orang lawan memiliki tubuh yang amat kuat dan kebal. Akan tetapi, biarpun kadua tangannya sudah tertangkap, dia tidak menjadi gugup. Cepat bagaikan sekor burung, menggunakan kekuatan dari kedua tangan yang dipegang lawan, kedua kakinya melayang ke atas mengirim tendangan dengan ujung sepatunya ke arah siku tangan kedua lawan yang mencengkeram pergelangan tangannya.

Dua orang raksasa ini mengeluarkan seruan kaget dan terpaksa melepaskan cengkeraman pada pergelangan tangan Pek I Mo-ko karena tiba-tiba lengan mereka yang tertendang bagian siku itu menjadi lumpuh selama beberapa detik. Marahlah dua orang kembar itu dan kini mereka maju menyerang dengan terkaman, pukulan atau tendangan. Serangan mereka merupakan perpaduan dari ilmu silat dan ilmu gulat.

Pek I Mo-ko melayani mereka dengan mengandalkan kegesitan tubuhnya. Dia tahu bahwa dalam hal ilmu silat, dia tidak perlu takut. Walaupun dua orang lawan itu memiliki tenaga gajah, namun dia menang cepat. Yang dikhawatirkan hanyalah Ilmu gulat mereka. Dia tahu bahwa belum tentu dia akan dapat seberuntung tadi, mampu melepaskan diri kalau sudah dicengkeram tangan-tangan yang kuat itu. Kini, setelah tahu bahwa dalam hal gin-kang (ilmu meringankan tubuh) dia menang jauh, dia mengandalkan Ilmu itu untuk mempermainkan mereka.

Bagaikan seekor burung walet yang gesit, dia sukar ditangkap. Tubuhnya menjadi bayangan putih yang berkelebat ke sana sini, selalu terlepas dari jangkauan tangan dua orang lawannya dan sebaliknya, serangan balasannya yang cepat itu beberapa kali sempat membuat dua orang raksasa itu terpelanting atau terjengkang. Biarpun mereka kebal dan kuat sehingga pukulan dan tendangan Pek I Mo-ko tidak membuat mereka luka, namun mereka tidak dapat mencegah tubuh mereka terpelanting.

Terdengar kaisar beberapa kali memuji dan mendengar ini, legalah hati Pek I Mo-ko. Agaknya kaisar itu memang benar hendak mengujinya, maka diapun tidak ingin membunuh dua orang lawannya. Apalagi membunuh kaisar itu karena kalau hal itu dia lakukan, sudah pasti dia akan mati konyol.

Setelah pertandingan yang seru itu berlangsung selama tiga puluh jurus, tiba-tiba Pek I Mo-ko mengeluarkan suara bentakan nyaring dan dua orang raksasa itu kembali berturut-turut roboh, akan tetapi sekali ini tidak dapat segera bangkit karena mereka roboh oleh totokan ujung kipas yang dicabut oleh Pek I Mo-ko! Liauw Gu dan Liauw Bu rebah untuk beberapa lamanya. Ketika mereka akhirnya dapat bangkit, mereka meraba gagang golok.

"Cukup, mundurlah kalian!” bentak Kaisar Wei Ta Ong.

Dua orang kembar itu memberi hormat dan mundur. Kaisar tersenyum memandang kepada Pek I Mo-ko, sebaliknya orang yang dipandang itu merasa penasaran sekali walaupun tidak berani memperlihatkan kedongkolan hatinya dengan sikap atau kata-kata. Dia memberi hormat.

"Yang Mulia, hamba datang menghadap paduka untuk menawarkan mustika, akan tetapi paduka malah menyuruh jagoan Istana untuk mengeroyok hamba. Apakah paduka masih belum percaya kepada hamba!"

Kaisar Wei Ta Ong tertawa. "Ha-ha, jangan salah sangka, Ciong Kui Le. Kami percaya akan keteranganmu. Kalau kami percaya akan keteranganmu. Kalau kami berhasil mendapatkan Akar Bunga Gurun Pasir, tentu engkau akan kami beri pangkat. Akan tetapi, sebelum melihat samapi dimana kemampuanmu, bagaimana kami dapat memberi pangkat yang sesuai untukmu? Sekarang, kami telah melihat kepandaianmu dan kami puas. Kami akan mengutus serombongan pembantu kami untuk menemanimu menuju ke selatan dan mengambil mustika itu. Berangkatlah sekarang juga, lebih cepat lebih baik. Jangan ragu, kalau berhasil, engkau akan kami beri kedudukan tinggi dan harta benda!”

Pek I Mo-ko girang bukan main dan setelah memberi hormat dengan berlutut, diapun berangkat meninggalkan kota raja Lok-yang bersama serombongan jagoan istana sebanyak dua-belas orang. Dua orang raksasa kembar itu tidak diikutsertakan, karena keadaan mereka itu akan menarik perhatian orang, padahal daerah Pegunungan Fu-niu-san merupakan daerah tak bertuan di mana berkeliaran banyak orang kang-ouw dan juga orang-orang Kerajaan Sung.

********************

Ternyata bukan hanya Kaisar Wei Ta Ong dari Kerajaan Wei di utara yang kini menginginkan mustika berupa Akar Bunga Gurun Pasir itu setelah menerima penawaran dari Pek I Mo-ko. Juga Kaisar Cang Bu dari Kerajaan Liu Sung mendengar akan adanya Akar Bunga Gurun Pasir dan ingin sekali mendapatkannya.

Berita itu terdengar oleh Kaisar Cang Bu karena rahasia itu bocor ketika terjadi penyerbuan pasukan dirumah keluarga Cun Taijin yang memberontak di Nan-ping. Ketika Ouwyang Hui Hong membentak kepada Pek I Mo-ko dan menuntut dikembalikannya Akar Bunga Gurun Pasir, ada perajurit yang mendengar. Dia menceritakan hal itu kepada kawan-kawannya sehingga sebentar saja berita tentang Akar Bunga Gurun Pasir yang dilarikan Pek I Mo-ko itu tersiar luas dan sampai kepada Kaisar Cang Bu.

Kaisar Cang Bu mendengar pula tentang mustika itu. Kaisar yang masih muda ini mendengar bahwa mustika itu dapat membuat seseorang menjadi kuat, bahkan dapat berusia panjang sampai seribu tahun! Segera dia mengumpulkan penasihat dan para jagoan Istana, dan hasil dari pertemuan ini, serombongan jagoan Istana dari Nan-king berangkat melakukan pengejaran terhadap Pek I Mo-ko yang kabarnya lari ke utara.

Kerajaan Liu Sung ini biarpun memiliki wilayah yang amat luas, namun selalu diganggu oleh pemberontakan-pemberontakan sehingga menjadi semakin lemah. Apalagi ketika itu yang menjadi kaisar adalah Kaisar Cang Bu yang masih amat muda dan yang selalu mengumbar nafsu mengejar kesenangan dan tidak bijaksana. Maka di mana-mana timbul pemberontakan. Hanya karena adanya para menteri dan panglima tua saja maka kerajaan ini masih mampu mempertahankan diri walaupun menjadi lemah. Di barat, selatan dan timur terjadi pemberontakan dan gangguan para bajak laut, terutama di bagian timur.

Sedangkan di bagian utara terdapat musuh mereka yang sejak dahulu menjadi musuh besar, yaitu Kerajaan Wei. Daerah antara Kerajaan Liu Sung dan Wei sejak bertahun-tahun menjadi daerah pertikaian dan daerah tak bertuan. Dalam keadaan seperti itu. Kaisar Cang Bu yang masih muda itu belum juga menyadari, tidak begitu memperhatikan pemerintahan, bahkan lebih mementingkan pengejaran kesenangan. Inilah sebabnya ketika mendengar tentang mustika Akar Bunga Gurun Pasir, dia bertekad untuk mendapatkannya dan mengirim rombongan orang pandai untuk mencarinya sampai dapat.

Tentu saja rombongan Jagoan istana ini lebih mudah mendapatkan keterangan tentang Pek I Mo-ko dibandingkan Kwa Bun Houw yang juga sedang mencari jejak Pek I Mo-ko yang dikejar oleh Ouwyang Hui Hong. Rombongan itu memiliki surat kuasa dan setiap pejabat daerah yang mereka lewati, siap membantu dan mereka lebih mudah mengumpulkan keterangan tentang Pek I Mo-ko dari pada hasil penyelidikan Kwa Bun Houw yang kadang-kadang malah dibohongi orang atau dicurigai orang. Maklum bahwa daerah perbatasan antara Kerajaan Wei di utara dan Kerajaan Liu Sung di selatan merupakan daerah liar dan di situ terdapat tokoh-tokoh sesat yang masing-masing ingin menjadi orang yang paling berkuasa sehingga daerah itu amat tidak aman.

Banyak terjadi kejahatan macam apapun karena tidak ada alat negara yang menjamin keamanan bagi rakyat jelata. Yang ada ialah hukum rimba. Dan para tokoh sesat di wilayah tak bertuan itupun jarang ada yang jujur atau setia kepada satu di antara dua kerajaan itu. Mereka pada umumnya curang dan licik, hanya membantu demi keuntungan diri sendiri belaka, maka tidak segan untuk berkhianat ke kanan atau ke kiri, demi keuntungan pribadi. Tentu saja rakyat hidup tercekam ketakutan, tertindas dan menjadi penakut atan nekat, dan tidak ada orang yang berani memberi keterangan sejujurnya kepada Bun Houw yang bertanya-tanya tentang Pek I Mo-ko.

Seunggunnya, berita tentang mustika Akar Bunga Gurun Pasir yang membocor di kedua kerajaan itu, bukan hanya menjadi perhatian dua orang kaisar yang haus akan khasiat benda langka itu. Bahkan begitu para datuk besar dunia persilatan mendengarnya, maka mereka, pun menjadi gempar dan mereka itu tentu saja ingin sekali ikut memperebutkan dan memiliki benda wasiat atau jimat itu.

Dahulunya, benda itu dianggap dongeng saja, apalagi ketika ada berita bahwa yang beruntung memiliki benda itu adalah datuk besar Bu-eng-kiam Ouwyang Sek, tidak ada orang yang berani mati untuk mencoba merampas di tempat tinggal datuk besar itu, yaitu di Lembah Bukit Siluman. Kini, begitu tersiar kabar bahwa benda ajaib itu dicuri dan dilarikan Pek I Mo-ko, murid dan juga pelayan dari Bu-eng-kiam Ouwyang Sek, majikan Lembah Bukit Siluman, tentu saja para datuk dan tokoh sesat mempunyai keberanian dan keinginan untuk mencari Pek I Mo-ko dan merampas mustika itu.

Sungai Huai merupakan sebuah di antara sungai-sungai yang mengalir di daerah tak bertuan itu dan di sepanjang sungai ini paling terkenal sebagai tempat yang rawan di mana seringkali timbul pertentangan, pertempuran antara para pengikut Kerajaan Wei dan Kerajaan Liu Sung, antara gerombolan penjahat yang saling berebutan kekuasaan, padahal daerah di sepanjang lembah Sungai Huai ini sesungguhnya merupakan daerah pertanian yang amat subur.

Setelah meninggalkan sumbernya di Pegunungan Tapie-san, air sungai itu lalu melewati tanah datar ke timur dan membuat tanah yang dilewatinya itu menjadi tanah yang subur dan tak pernah kekurangan air. Rakyat di sepanjang lembah Sungai Huai semestinya dapat hidup makmur kalau saja daerah itu tidak menjadi daerah rawan di mana yang berlaku hanyalah hukum rimba, siapa kuat dia menang dan siapa kuat menindas yang lemah.

Kalau dilihat kenyataan, hukum rimba ini memang berlaku di dunia ini, di manapun juga, bahkan di kota besar atau di kota raja sekalipun. Di mana-mana manusia menjadi permainan nafsu, dan di mana nafsu memperhamba manusia, maka sudah pasti hukum rimba berjalan. Yang berkedudukan tinggi menginjak yang rendah, yang kaya memeras yang miskin, yang pandai mempermainkan yang bodoh dan sebagainya lagi. Namun, hukum rimba umum di kota itu selalu terselubung oleh hukum-hukum yang justeru biasanya menjadi senjata bagi yang kuat untuk menindas yang lemah!

Hukum rimba yang berlaku di kota bermuka munafik. Sebaliknya, hukum rimba di daerah sungai Huai itu mentah dan keras, liat dan ganas, tanpa pura-pura lagi. Orang yang berani menjelajahi daerah itu, harus memiliki kekuatan yang dapat diandalkan. Apakah dia ahli silat pandai, atau setidaknya berkawan banyak, atau yang memang miskin sama sekali sehingga tidak ada sesuatu pada dirinya yang menimbulkan keinginan di hati orang lain untuk merebutnya.

Pada suatu pagi yang cerah, pemandangan alam amatlah indahnya di sepanjang lembah sungai Huai. Musim semi baru sebulan usianya sehingga di sepanjang lembah sungai nampak warna-warni yang amat indah menyedapkan penglihatan. Daun-daunan yang hijau muda, kuning diseling bunga-bunga warna-warni, berlatar belakang tanah yang dihiasi permadani rumput hijau. Air sungai nampak mengalir tenang dan tidaklah sekotor di musim penghujan, dan di musim seperti itu, air sungai itu kaya dengan ikan barbagai macam.

Hanya ada beberapa orang buruh tani miskin yang bekerja di sawah ladang milik mereka yang mempunyai kekuasaan. Para buruh tani yang bekerja di sawah tanpa baju, hanya bercelana hitam sampai ke bawah lutut yang telah berlumpur-lumpur itu nampaknya tidak lebih makmur dari pada kerbau-kerbau yang dipekerjakan untuk meluku sawah. Kerbau-kerbau itu setidaknya lebih gemuk dari pada mereka. Dan para buruh tani itu bukan merupakan pekerja bebas, melainkan lebih pantas disebut budak belian. Mereka telah tertekan di bawah semacam "kontrak". Mereka telah tenggelam atau terbelenggu oleh semacam hutang kepada majikan mereka, hutang uang yang mereka perlukan, entah untuk keperluan berobat, atau keperluan sandang dan makan untuk keluarga mereka di musim rontok dan musim salju.

Kini, dengan hutang yang terus anak beranak sampai ke leher, mereka terbenam dan terbelenggu sehingga mungkin hutang itu tidak akan terbayar oleh tenaga yang mereka berikan untuk bekerja selama mereka hidup! Dan anak-anak mereka, yang laki-laki akan mewarisi keadaan ayah ini, yang perempuan, itupun kalau wajahnya menarik, akan menjadi penghibur atau pelacur, paling untuk menjadi selir, kalau buruk rupanya, akan menjadi wanita yang diperas tenaganya di rumah tangga majikan mereka. Hanya orang-orang seperti inilah yang tidak merasa ngeri tinggal di daerah rawan ini, karena apa yang perlu ditakutkan? Mereka tidak mempunyai apa-apa, bahkan mereka sekeluarga dapat dikatakan adalah "kepunyaan" majikan mereka.

Tiba-tiba, kesunyian yang nampaknya saja amat hening penuh kedamaian itu, terisi oleh suara suling yang merdu dan melengking-lengking. Keadaan yang memang amat sunyi itu, yang kadang hanya diseling dengus kerbau dan suara pekerja sawah bicara singkat, dilatarbelakangi suara lembut air yang mengalir tenang, kini dapat menampung sepenuhnya suara tiupan suling yang merdu itu, sehingga terdengar amatlah indahnya seperti suara suling yang turun dari angkasa.

Padahal, kalau yang pada saat itu mendengarkan suara suling itu seorang ahli musik atau setidaknya yang mengenal sifat suara suling, tentu akan terkejut dan bergidik ngeri. Suara suling itu memang merdu, tanda bahwa peniupnya memang ahli. Namun, di balik kelembutan suara suling yang melengking itu terkandung nada-nada yang selain ganjil juga keras dan penuh kekejaman, seperti suara suling yang ditiup oleh mulut yang dipenuhi perasaan hati yang penuh kebencian!

Sebuah perahu kecil yang ujungnya runcing meluncur terbawa arus sungai, perlahan-lahan dan dengan tenang sekali, tak jauh dari tepi sebelah selatan. Di atas perahu itu nampak seorang pemuda yang kepalanya tertutup sebuah caping iebar sehingga wajahnya terlindung dari sinar matahari pagi yang menyongsong perahu yang meluncur ke timur. Pemuda inilah yang meniup suling itu, sebatang suling yang agak panjang terbuat dari pada logam, bukan suling bambu. Warna suling itu hitam legam sehingga jari-jari tangannya yang bermain di atas lubang-lubang suling itu nampak putih seperti jari tangan wanita saja.

Pemuda itu memang tampan sekali. Usianya sekitar dua puluh dua tahun. Pakaiannya pesolek dan indah, terbuat dari sutera biru putih yang mahal. Tubuhnya sedang dan ramping, dan bentuk pakaiannya seperti seorang pemuda bangsawan atau hartawan yang terpelajar. Capingnya terbuat dari bambu, namun anyamannya halus sekali dan pinggirnya diberi hiasan rumbai-rumbai hitam. Sepasang matanya tajam kadang mencorong, hidungnya mancung dan mulutnya selalu tersenyum mengejek, dengan lekukan yang membayangkan watak mata keranjang.

Sungguh amat mengherankan melihat seorang pemuda yang jelas bukan orang dusun miskin itu berani mendatangi tempat seperti itu, berperahu seorang diri saja dan meniup suling sedemikian santainya, seolah dia memasuki daerah yang paling aman dan tenteram di dunia ini. Dia sama sekali tidak tahu bahwa sejak satu jam yang lalu. dari kedua tepi pantai sungai itu, banyak pasang mata yang buas mengikuti gerak-geriknya dan banyak orang menyusuri pantai untuk membayangi perahunya yang meluncur perlahan mengikuti arus sungai yang tenang itu.

Para buruh tani yang bekerja di sawah ladang melihat berkelebatnya bayangan puluhan orang yang menyusup di balik semak-semak belukar dan pohon pohon di sepanjang tepi sungai dan merekapun mendengar suara suling. melihat pula meluncurnya sebuah perahu yang ditumpangi pemuda bercaping lebar. Mereka tahu apa yang akan terjadi. Tentu para bajak dan perampok tidak akan membiarkan perahu lewat begitu saja tanpa diganggu. Andaikata panumpangnya tidak mempunyai sesuatu yang berharga, setidaknya perahu itu pun sudah merupakan benda yang berguna bagi mereka, yang "pantas" untuk dirampas!

Seperti juga kalau ada orang berani menunggang kuda melintasi daerah itu, si kuda itu saja sudah menjadi alasan kuat bagi perampok untuk turun tangan mengganggu penunggangnya, kalau perlu membunuhnya untuk merampas kudanya! Akan tetapi karena maklum bahwa mereka tidak berdaya, maka para buruh tani itu hanya saling pandang, menggerakkan pundak dan melanjutkan pekerjaan mereka, walaupun diam-diam mereka juga sering menengok ke arah perahu di sungai itu.

Pemuda bercaping itu agaknya sama sekali tidak tahu akan adanya bahaya yang mengancamnya. Dia enak-enak meniup suling dan baru setelah dari empat penjuru muncul empat buah perahu besar yang masing-masing terisi enam orang, empat buah perahu hitam yang meluncur ke arahnya dan nampak rantai berujung kaitan menyambar dari perahu-perahu itu dan mengait perahunya yang berada di tengah-tengah sehingga perahunya terhenti, dia menghentikan tiupan sulingnya dan menyingkap sutera tipis di depan muka, sutera yang tengantung dari capingnya, untuk melihat apa yang terjadi.

Dia melihat empat buah perahu itu. Di masing-masing perahu, lima orang duduk dengan golok di tangan, seorang berdiri bertolak pinggang dengan sikap memimpin. di semua ada empat orang pemimpin bajak air dengan duapuluh orang anak buahnya. Dan perahunya sendiri sudah terkait dan tidak dapat bergerak lagi.

"Hemm, apakah artinya semua ini? Siapakah kalian dan apa maksud kalian mengepungku dan mengait perahuku?" terdengar pemuda itu bertanya, suaranya halus dan sopan, juga ramah walaupun sepasang matanya kini mencorong mengintai dari balik caping lebarnya.

Seorang di antara empat pemimpin itu, yang berdiri di perahu yang berhadapan dengan perahu pemuda itu dan yang tubuhnya tinggi besar bermuka hitam, tertawa bergelak mendengar pertanyaan itu.

"Ha-ha-ha-ha-ha, orang muda. Melihat engkau seorang pemuda tampan yang bersikap halus, biarlah kami tidak akan membunuhmu. Cepat engkau tanggalkan seluruh pakaianmu, seluruhnya! Kemudian, tanpa membawa apapun, engkau tinggalkan perahumu dan meloncat ke dalam air! Ha-ha!”

Tiga orang kepala bajak yang lain tertawa, disusul anak buah mereka yang sudah dapat membayangkan pemandangan yang amat lucu kalau mereka nanti meiihat pemuda bercaping itu dengan ketakutan dan bertelanjang bulat melempar diri ke dalam air sungai dan menjadi mangsa buaya-buaya yang banyak terdapat di air sungai itu.

"Ah, begitukah kiranya?" pemuda itu berkata perlahan, lalu dengan tenang dia melepaskan ikatan tali capingnya dari bawah dagu seolah dia sudah mulai untuk menanggalkan semua pakaiannya dimulai dari capingnya dulu. Setelah caping dibuka dan diletakkan di atas lantai perahunya, semua bajak air melihat wajahnya yang memang tampan sekali.

"Aduh sayang dia laki-laki! Kalau perempuan, tentu akan menyenangkan sekali, ha-ha-ha!” seorang di antara empat kepala bajak itu tertawa, disambut oleh teman-temannya pula.

Kini pemuda itu bangkit berdiri, memandang ke sekeliling, kemudian bertanya dengan suara yang tetap halus, tenang dan ramah, "Sebelum aku mati, aku ingin tahu siapa pembunuhku. Siapakah kalian ini?”

Si raksasa hitam yang menjadi pemimpin utama itu kembali tertawa. "Engkau ini pemuda yang sungguh tolol, berani memasuki daerah ini tanpa mengenal kami. Dengarlah! Kami adalah Empat Buaya Sungai Huai bersama anak buah kami. Nah, cepat taati perintah kami tadi! Buka semua pakaianmu, tinggalkan di perahu dan engkau loncat ke air dalam keadaan telanjang bulat!"

Akan tetapi pemuda itu tidak menanggalkan bajunya, hanya mengangguk-angguk dan mendekatkan suling di mulutnya. "Aih, kiranya ini Empat Ekor Bangkai Buaya bersama bangkai buaya buaya kecil di sungai ini!” Dan kini dia menempelkan ujung suling di mulutnya, mempengunakan suling itu sebagai sebuah senjata tutup (alat meniupkan jarum) dan empat kali dia meniup ke arah empat orang kepala bajak di depan, belakang dan kanan kiri.

Terdengar pekik empat orang itu dan merekapun terjungkal roboh ke dalam perahu masing-masing! Tentu saja dua puluh orang anak buah bajak menjadi terkejut dan marah, akan tetapi pada saat itu terdengar bunyi melengking yang aneh dari suling yang ditiup oleh pemuda itu. Mula-mula lengking suara itu seperti benda tajam menusuk telinga para anak buah bajak. Mereka terbelalak, akan tetapi makin lama belalak mereka makin tidak normal dan mereka mencoba untuk menutupi kadua telinga dengan jari tangan. Namun, terlambat. Darah mengalir keluar dari telinga mereka. Mereka roboh ke perahu mereka, merintih-rintih, merasa telinga mereka seperti dimasuki benda tajam dan akhirnya mereka berkelojotan sekarat!

Setelah melihat semua pengepungnya yang berjumlah dua puluh empat orang itu roboh semua di perahu masing-masing, baru pemuda itu menghentikan tiupan sulingnya yang melengkingkan suara aneh. Senyum melebar, dan kini wajahnya yang tampan itu mengandung sesuatu yang mengerikan, seperti topeng Iblis yang tampan.

Seorang di antara empat pemimpin bajak yang tadi roboh lebih dahulu disambar jarum yang ditiupkan melalui suling, agaknya belum tewas dan dia mencoba untuk bangkit duduk. Tangan kirinya diangkat ke arah pemuda itu, menuding dan terdengar suaranya parau, mulut itu hanya bergerak kaku karena mukanya sudah menjadi biru menghitam keracunan.

"Kau... Tok... siauw... kwi...?" Dan diapun roboh terkulai.

Pemuda itu memperlebar senyumnya yang mampu meluluhkan hati setiap orang wanita, lalu mendengus melalui hidungnya dengan sikap sombong. "Baru engkau tahu, ya! Menentang Tok-siauw-kwi (Iblis Suling Beracun) Suma Hok sama dengan rindu akan kematian Ha-ha-hal!”

Kini, dengan tangan kanan, dia melepaskan setiap besi pengait dan sekali dia mengerahkan tenaga, rantai itu melambung dan perahu terisi enam orang di depannya ikut melambung lalu jatuh terbalik. Enam orang yang sudah mati atau sedang sekarat itupun berjatuhan ke air dan perahunya jatuh pula terbalik. Tiga perahu yang lain dia balikkan seperti itu sehingga kini empat buah perahu itu semua terbalik dan dua puluh empat orang, ada yang sudah menjadi mayat ada yang masih sekarat, semua jatuh ke dalam air.

"Huh... mengotori air sungai saja!” pemuda itu mengomel dan diapun menggunakan dayungnya, mendayung perahu kecilnya meluncur ke depan lalu ke kanan, ke arah darat di tepi sungai yang datar.

Dengan wajah membayangkan rasa jijik pemuda itu lalu mendayung perahunya menjauhi mayat-mayat itu dan akhirnya dia mendarat di sebelah selatan sungai. Sekali tarik rantai di ujung perahunya, dia membuat perahu itu terlempar ke darat dan jatuh ke dalam semak-semak. Kalau ada yang melihat ini, tentu akan kagum bukan main karena perbuatan itu saja sudah membuktikan bahwa pemuda yang nampaknya tampan dan lemah lembut ini ternyata memiliki tenaga yang dahsyat.

Kalau sebelum menyerang tadi, para pimpinan bajak sungai itu tahu siapa yang mereka hadapi, seperti diserukan oleh seorang di antara empat pimpinan mereka sebelum tewas, tentu hari itu akan ada dua puluh empat orang bajak yang mati konyol. Pemuda ini memang bukan orang biasa saja. Namanya, yaitu nama julukannya, akan membuat gentar seluruh dunia kang-ouw, yaitu nama julukan Tok-siauw-kwi (Iblis Suling Beracun). Namanya adalah Suma Hok dan dia merupakan putera tunggal dari Suma Koan yang berjuluk Kai-siauw Giam-ong (Raja Maut Suling Iblis), seorang datuk besar rimba persilatan berusia lima puluh lima tahun yang menjadi majikan dari bukit yang disebut Kui-eng-san (Bukit Bayangan Iblis). Dalam hal kebesaran namanya, Kui-siauw Giam-ong Suma Koan ini tidak kalah tersohornya dibandingkan Bu-eng-kiam Ouwyang Sek majikan Lembah Bukit Siluman.

Suma Hok yang berjuluk Tok-siauw-kwi ini, biarpun baru berusia dua puluh dua tahun, namun namanya sudah amat terkenal, terutama sekali di selatan, di wilayah Kerajaan Liu-sung karena pernah dia menggegerkan kota raja Nan-king dengan perbuatannya yang berani mencuri masuk ke istana hanya karena dia tergila-gila kepada seorang dayang istana! Biarpun akhirnya dia terpaksa melarikan diri menghadapi pengeroyokan puluhan orang jagoan istana kaisar, namun namanya menjadi terkenal sekali dan ditakuti.

Kemudian, Kaisar Cang Bu sendiri, atas nasihat para jagoannya, bahkan mengirim utusan mengundang pemuda ini agar suka bekerja sebagai jago istana dan dijanjikan bahwa dayang itu akan diserahkan kepadanya untuk menjadi isterinya. Namun, penawaran kaisar itu ditolaknya! Pertama, karena dia tidak ingin terikat menjadi pejabat, dan ke dua, diapun tidak Ingin memperisteri dayang itu, hanya ingin melampiaskan nafsunya saja, seperti seekor kumbang yang akan terbang pergi meninggalkan kembang yang sudah dihisap madunya. Penolakan ini membuat dia semakin terkenal, karena jarang ada orang berani menolak perintah kaisar, Apalagi perintah ini merupakan undangan untuk menerima anugerah!

Suma Hok sudah mendarat karena dari sungai tadi, setelah membunuh dua puluh empat orang bajak sungai, dia melihat beberapa orang buruh tani bekerja di sawah. Maksudnya hanya untuk bertanya-tanya kepada mereka tentang Pek I Mo-ko karena sesungguhnya, yang membuat dia melakukan perjalanan ke daerah itu sekali ini adalah karena diapun mendengar tentang Akar Bunga Gurun Pasir yang kabarnya telah berada di tangan Pek I Mo-ko dan diapun, seperti para tokoh kang-ouw lainnya, ingin mencoba untuk merampas dan memilikinya.

Begitu mendarat, dia mengebut-ngebutkan bajunya, mengeluarkan sebatang sisir dari saku jubahnya dan menyisir rambut yang agak kacau terkena angin, menyisipkan sulingnya di ikat pinggang, mengenakan lagi capingnya untuk melindungi rambut dari angin dan debu, yang melindungi muka dari terik matahari, lalu diapun melangkah menuju ke sawah ladang di mana terdapat beberapa orang sedang bekerja meluku sawah.

Akan tetapi, tiba-tiba dia berhenti dan mulutnya membayangkan senyum yang khas, senyum seperti tadi ketika dia menghadapi pengepungan para bajak. Biarpun matanya belum melihat apa-apa yang mencurigakan, namun pendengarannya yang terlatih dan amat tajam itu tudah menangkap gerakan banyak orang.

"Tikus-tikus busuk, keluarlah dari balik semak kalau memang ada keperluan dengan aku?" katanya sambil memandang ke kanan kiri di mana terdapat semak belukar.

Dan nampaklah bayangan orang berkelebat dan berloncatan keluar. Kiranya mereka adalah lima belas orang yang rata-rata mamiliki wajah bengis dan tubuh yang kokoh, tanda bahwa mereka adalah orang-orang yang suka mengandalkan kekuatan untuk memaksakan kehendak mereka untuk menang sendiri. Biar pun dikepung lima belas orang yang tanpa bicarapun sudah mudah ditebak bahwa mereka tidak mempunyai niat baik, namun Suma Hok hanya tersenyum saja dengan sikap tenang sekali.

"Hemm, kalian ini tikus-tikus busuk, apakah ingin berubah menjadi bangkai-bangkai tikus?"

Seorang di antara mereka, yang tubuhnya jangkung kurus bermuka kuning melangkah maju selangkah. Di kedua tangannya terdapat sepasang pedang dan sambil menyilangkan kedua pedang yang tajam mengkilat di depan dadanya, dia berkata, "Bocah sombong! Di air boleh jadi engkau jaya, akan tetapi di daratan ini, kami akan mencincang badanmu menjadi bakso, kecuali kalau engkau mau berlutut dan minta ampun, menyerahkan seluruh pakaianmu dan juga perahu yang kau tarik ke darat itu. Hayo berlutut dan minta ampun kepada aku Si Harimau Muka Kuning!”

Suma Hok tersenyum, "Baiklah, aku akan berlutut kepadamu untuk menghormati arwahmu!” Dan dia benar benar melangkah maju kedepan si jangkung muka kuning, lalu berlutut di depannya. Akan tetapi pada saat dia berlutut, sulingnya meluncur ke depan mematuki pusar si muka kuning yang terbelalak, pedang-pedang di kedua tangannya terlepas dan ketika suling itu dicabut, diapun terjengkang dan tewas seketika!”

Tentu saja empat belas orang anak buah Si Harimau Muka Kuning menjadi terkejut bukan main. Mereka adalah orang-orang yang biasa merampok, memperkosa, menyiksa dan membunuh. Biarpun pemimpin mereka telah roboh dan tewas, mereka bahkan merasa penasaran dan marah sekali. Bagaikan sekawanan serigala liar yang haus darah, mereka lalu mengepung dan mengeroyok Suma Hok dengan berbagai senjata yang menjadi andalan mereka. Bagaimanapun juga, musuh itu hanya seorang saja dan tadi mungkin pemimpin mereka tewas karena diserang secara mendadak...

Thanks for reading Kisah Si Pedang Kilat Jilid 08 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »