Tangan Gledek Jilid 21

Tangan Gledek Jilid 21

“ORANG muda, kau dari perguruan mana dan tiam hoat apakah yang kau gunakan untuk menotok Fei Lan tadi?" katanya lupa menyebut “mantuku" saking herannya bahwa ia seorang tokoh besar dalam dunia persilatan, sampai tidak becus memulihkan akibat totokan seorang pelonco seperti bocah itu!

“Lopek, dari perguruan mana tak perlu kupamerkan, juga tiam-hoat yang kulakukan tadi biasa saja. Kau lihat saja, aku akan memulihkan puterimu.” Setelah berkata demikian dengan tenang Tiang Bu menghampiri Fei Lan, tangan kanannya meraba leher tangan kiri mengurut punggung tiga kali dan gadis itu sudah dapat bergerak lagi!

Penebang kayu itu makin terheran-heran. Tadi ia sudah melakukan gengobatan macam itu akan tetapi tidak ada hasilnya. Bagai mana pemuda ini sekali bergerak terus berhasil? Namun ia menjadi girang sekali karena mendapat kenyataan bahwa pemuda itu ternyata bukan orang sembarangan.

"A-Lan, bagaimana pikiranmu sekarang? Tidak betulkah omonganku bahwa mencari jodoh baik tak boleh diukur dari panjangnya hidung?"

Diam-diam Tiang Bu makin gemas karena sudah beberapa kali hidungnya disinggung-singgung orang. Betul demikian pesekkah hidungnya? Tak terasa lagi tangan kanannya diangkat ke arah hidung untuk meraba daging menonjol di atas mulut itu.

Fei Lan kini sudah takluk betul-betul, mengerling ke arah Tiang Bu mengeluarkan suara ketawa tertahan, lalu dengan penuh aksi memutar tubuh membelakangi pemuda itu, muka ditundukkan ditutup kedua tangan dan ujung kaki utak-utik tanah.

“Ha-ha-ha-ha! Anakku yang biasanya tabah dan berani sekarang tak sanggup mengucapkan kata-kata di depan calon suaminya. Ha-ha ha-ha! Orang muda, kau bahagia sekali. Sudah seratus dua belas orang pemuda ditolak mentah-mentah oleh anakku yang cantik dan gagah ini dan sekarang pilihannya terjatuh kepadamu! Kau mimpi apakah semalam? Ha-ha-ha! Anak mantuku, ketahuilah bahwa aku bernama Lai Fu Fat berjuluk Lim-song (Raja Hutan)! Dan ini puteri tunggalku Lai-Fei Lan. Kau benar-benar kejatuhan bulan menjadi mantu keluarga Lai. Eh, kau tadi bernama Tiang Bu, siapa orang tuamu, apa shemu dan kau tinggal di mana?"

Biarpun hatinya mendongkol bukan main, Tiang Bu masih bersikap sabar dan menjura berkata lemah. lembut. "Lopek, harap suka maafkan aku dan sungguh menyesal bahwa aku tak dapat menerima budi kecintaan kalian. Aku datang jauh-jauh ke selatan ini sama sekali bukan untuk urusan perjodohan, aku masih terlalu muda untuk itu...”

"Ha ha-ha, malu-malu kucing. Berapa sih usiamu?" tanya Lai Fu Fat sambil tertawa.

Merah muka Tiang Bu. Celaka, pikirnya. Orang ini benar-benar patut mendapat julukan Lim-song (Raja Hutan) karena kelakuannya memang seperti orang hutan! "Usiaku baru lima belas tahun kurang." Ia menjawab juga.

"Aha! Lima belas tahun? Sudah terlalu-besar! Dulu dalam usia empat belas tahun aku sudah menikah. Heh-heh-heh!"

"Aku jauh lebih mula diri pada anakmu!” Saking jengkelnya Tiang Bu tak terasa lagi mengeluarkan kata-kata ini untuk membuka mata orang bah wa dia tidak patut menjadi jodoh Fei Lan.

“Lebih muda empat tahun. Bagus! Laki-laki memang harus lebih muda dari isterinya, baru bisa saling mengasuh. Selisih empat tahun bagus, bagus. Ini jodoh namanya, selisih empat tahun namanya kaki meja, jadi kokoh kuat tidak goyah tidak ganjil.

Tiang Bu me nggigit bibirnya yang tebal. Ia marah sekarang. "Lai-lopek, aku tidak mau menikah dengan anakmu!”

Lim-song Lai Fu Fat yang sedang tertawa bergelak gelak itu tiba-tiba menghentikan tawanya dan memandang kepada Tiang Bu seakan-akan tidak percaya apa yang telah didengarnya tadi. "Apa kau bilang? Coba bilang satu kali lagi."

"Aku tidak mau kawin dengan anakmu!” Tiang Bu mengulang.

Lai Fu Fat melongo, juga Fei Lan memandang dengan muka pucat ke arah pemuda itu. "Orang muda, apakah pi kiranmu waras? Tidak gila?"

"Lopek, apakah kau sengaja mau menghina aku orang muda?"

"Hanya orang berotak miring yang akan menolak Fei Lan! Seratus dua belas orang muda gagah-gagah dan tampan-tampan ditolak Fei Lan, pada hal mereka mau men yembah-nyembah asal di terima menjadi suaminya. Dan kau... kau si hidung pesek, Si muka monyet, kau... menolaknya...?" Saking herannya Lai Fu Fat sampai tak dapat marah. Ia benar-benar heran melihat ada orang muda berani menolak Fei Lan! Juga gadis itu saking marah dan merasa terhina, mulai menangis terisak-isak!

"Aku tahu bahwa aku tidak berharga, buruk rupa, miskin dan bodoh lopek. Akan tetapi aku sama sekali tidak ingin kawin, biar dengan puterimu sekalipun. Harap maafkan.” Akhirnya Tiang Bu berkata, kewalahan melihat sikap mereka itu.

“Maafkan...? Maafkan…? Sebetulnya kau harus mampus kalau saja aku tidak kasihan pada anakku yang akan kehilangan kau! Kau harus menikah dengan Fei Lan. Tidak boleh tidak. Apa kau biasa melanggar peraturan?”

Tiang Bu terheran. "Peraturan apa yang telah kulanggar?"

"Bocah gendeng, jangan kau berpura-pura, ya? Kau sudah menerima bertanding dengan Fei Lan bahkan sudah mengalahkannya. berarti bahwa kau telah memasuki sayembara anakku yang hanya mau menikah dengan mareka yang dapat mengalahkan dua kapaknya! Bukan itu saja, kau telah sudah menotoknya, bahkan sudah membuka lagi totokanmu."

"Kalau demikian mengapa gerangan?”

“Tolol! kau sudah menyent uh badannya dan tadi kau membebaskan totokan dengan meraba-rabanya. Setelah melakukan pelanggaran kurang ajar ini, kau masih mau nyangkal dan tidak mau menjadi suaminya!”

Tiang Bu melongo den sampai lama tidak dapat menjawab. "Itu… itu... aku tidak tahu...” ia berkata gagap-gugup.

"Bagaimanapun juga, kau harus menjadi suaminya, dan sekarang juga!" kata Lai Fat bersitegang.

“Aku tetap tak dapat menerimanya, lopek.”

“Kau menolak?"

"Terpaksa kutolak karena aku tidak ada niatan untuk kawin." Terdengar jerit tertahan dan Fei Lan berlari pergi dengan kaki limbung.

"Bocah, kau telah menghina kami. Kalau aku menggunakan kerasan, apakah kau juga masih berani menolak?"

“Aku tetap menolak," jawab Tiang Bu penasaran.

Kembali Lai Fa Fat terheran dan ia kagum juga. "Kau gagah dan berani, patut menjadi suami anakku. Mari kita bertanding, kalau kau kalah, kau mau tidak mau harus mengawini Fei Lan."

"Dan kalau kau yang kalah, kau harus menunjukkan kepadaku di mana adan ya Ban-mo-tong.” jawab Tiang Bu menantang, sedikitpun tidak gentar.

"Bersiaplah dan keluarkan senjatamu!"

Tiang Bu berdiri tegak, sikapnya tenang, “Lopek, aku tidak bisa menggunakan senjata, cukup dua tangan dan dua kaki ini."

Lai Fu Fat memandang ke arah kapaknya yang besar, lalu menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal dan berkata, “Masa aku harus melawan kau yang bertangan kosong dengan kapak wasiatku? Ke mana akan kutaruh mukaku?”

"Terserah mau lopek taruh ke mana muka itu tetap tidak akan menggunakan senjata kecuali kaki tanganku."

Biarpun tadi bersikap dan berkata sungkan-sungkan, kini sekali menyerang si penebang pohon yang aneh itu ternyata menggunakan kapakn ya dengan dahsyat, melakukan serangan maut yang amat berbahaya. Kapak yang besar dan lebar itu menyambar ce pat me rupakan gulungan maut yang amat berbahaya. Kapak yang besar dan lebar itu menyambar cepat merupakan gulungan sinar perak, berubah ubah serangannya seperti naga sakti yang sedang memilih tempat yang baik untuk menerkam.

Alangkah jauh bedanya serangan ini dengan serangan Fai Lan tadi, sungguhpun gadis itu tadi menggunakan dua buah kapak. Kapak di tangan Lai Fu Fat ini be nar-benar lihai sekali dan Tiang Bu merasa sambaran angin yang dingin mengiris kulit. Namun pemuda in i sama sekali tidak gugup. Dan tenang sekali, tak pernah berkedi p dan kedua kakinya digeser ke kanan kiri belakang.

“Sett... sett...” semua sambaran sinar kapak itu memukul angin!

Lim song Lai Fu Fat menjadi penasaran sekali. Ia mengerahkan tenaga dan kapak melayang dengan gerakan menyilang dan nyerong.

"Wirr! Wirr! Siuuuutt...!

Hebat gerakan ini, kapak sampai berubah menjadi kilat menyambar-nyambar sungguh pun hari itu tidak akan turun hujan. Tiang Bu cepat mengelak terhadap serangan kilat tadi, namun kapak itu sinarnya mengikuti ke manapun juga ia mengelak, menyambar-nyambar di atas kepala dan lewat demikian cepat dan kerasnya di atas telinga sehingga anak muda ini mendengar suara, “ngung… ngung…” yang menakutkan, seolah-olah kapak sudah dekat benar hendak memancung lehernya. Lai Fu Far melanjutkan serangan-serangannya dengan tiga kali pukulan tadi, dan suara, “wirr... siuutt...!” terdengar berulang-ulang.

Inilah ilmu serangan de ngan gerakan men ebang batang pohon-pohon yang besar itu. Tiang Bu terkejut sekali. Sarangan ini benar-benar hebat. Hawa pukulan yang keluar dari tiga kali serangan ini susul-menyusul dan makin kuat. Pantas saja pohon-pohon bes ar itu rebah setelah tiga kali bacok, ternyata begini hebatnya serangan itu.

Setelah mempelajari isi kitab suci Seng-thian-to, tanpa disadarinya, ginkang atau ilmu ringankan tubuh dari Tiang Bu telah meningkat tinggi sekali, juga ilmu silatnya sudah menjadi luar biasa setelah ia mempelajari beberapa bait sajak dalam kitab Thian-te-sinkeng. Ane hnya, menghadapi serangan tiga serangkai yang dahsyat dari penebang pohon itu, tiba tiba saja Tiang Bu teringat akan bunyi sajak yang telah dibacanya dalam kitab thian-te Si-keng itu. Bunyi sajak itu seperti berikut;

Ada mulia tentu ad a yang hina sebag ai imbangan. Ada yang tinggi tentu ada yang rendah sebagai dasar.

Sajak-sajak di dalam kitab Thian to Si-keng itu terisi sajak-sajak pelajaran Nabi-nabi Buddha, Locu, Khong-cu dan lain-lain. Yang teringat oleh Tiang Bu ini sebetulnya adalah dua bait dari sajak dalam kitab To-tek-keng dari Agama Tao. Akan tetapi, anehnya, bagi seorang yang sudah memiliki dasar ilmu silat tinggi, isi dari pada sajak-sajak ini merupakan tipu-tipu silat yang hebat.

Demikian pula, teringat akan bunyi sajak ini Tiang Bu segera mendapat akal untuk mengalahkan lawannya dengan mudah. Begitu kapak itu menyambar di atas kepala. ia tertawa, kedua tangan bergerak menangkis dengan hawa pukulan lwe ekang ke arah pergelangan tangan kedua kakinya bergerak dan... di lain saat kapak itu telah terpental dari pegangan Lai Fu Fat dan orang itu sendiri roboh dengan lutut le mas dan lumpuh karena sambungan lututnya telah kena dibikin terlepas oleh Tiang Bu!

"Aneh... luar biasa... kata Lai Fa Fat dengan nada seperti Fei Lan ketika ia dikalahkan dan menyebut “sulap dan sihir.” Ia benar-benar tidak tahu bagaimana ia dikalahkan lawannya. Ini benar-benar tak masuk diakal. Lim-ong Lai Fa Fat sudah puluhan tahun tak pernah dikalahkan orang, jangan kata dirobohkan tanpa ia mengetahui bagaimana caranya! Ia mulai percaya akan sangkaan Fei Lan tadi bahwa bocah ini tentu seorang ahli sulap atau dukun sihir.

"Sicu lihai sekali. Tidak tahu sicu mencari Ban-mo-tong ada keperluan apakah?" tanyanya meringis menahan sakit dan tangannya mulai memijit-mijit lutut untuk membetulkan letak tulang yang keseleo.

"Aku hendak mencari Toat-beng Kui-bo si pemelihara kelelawar!" jawab Tiang Bu kuran g perduli, karena ia tidak banyak mengharapkan keterangan lengkap dari orang seperti penebang aneh ini. Akan tetapi, dami mendengar ucapannya, Lai Fu Fat dengan susah payah berdiri dan menjura dengan hormat.

"Aha, kiranya tamu agung dari Ban-mo-tong yang hendak bertemu dengan Nio nio. Selamat datang, sicu. Ketahuilah bahwa ini sudah termasuk daerah Nio-nio, akan tetapi tentu saja aku sudah mendapat ijinnya untuk menebang pohon di sini. Kalau sicu hendak bertemu dengan Nio-nio, kauambillah jalan lulus ke selatan. Kurang lebih tiga puluh li lagi kau akan bertemu dengan sebatang sungai. Nah, di sana sicu carilah Cia Nam si nelayan yang tentu akan suka mengantar sicu ke Ban-mo-tong. Selain Cia N am, tak ada orang di dunia ini yang akan dapat mengantar sicu ke sana."

Tiang Bu girang sekali. Tak disangkanya bahwa dari penebang ini ia akan mendapat keterangan demikian jelas. Ia me nyesal telah melukai orang ini. Cepat ia me luruskan kembali tulang-tulang kaki itu. “Lai lopek, kau baik sekali, terima kasih katanya sambil menjura lalu pergi dari situ.

"Hee, sicu yang gagah. Bagaimana dengan anakku ?” penebang itu berteriak, akan tetapi Tiang Bu pura-pura tidak mendengar melainkan mempercepat larinya menuju selatan. Ketika ia lari sejauh lima li, eh tahu-tahu Fei Lan telah berdiri di tengah jalan, men ghadangnya! "Cici Fei Lan, kau mau apa di sini?"

"Tiang Bu ko-ko (kakanda Tiang Bu) ten tu saja aku mau ikut denganmu...” jawab Fei Lan dengan suara merdu merayu dan tersenyum manis sekali.

Tiang Bu gelagapan. "Ikut ke mana...?”

"Ke mana saja kau pergi, aku ikut. Ke neraka sekalipun aku suka ikut, koko yang baik...”

Tiang Bu melongo. Wah, runyam nih, pikirnya. Disangkanya ia telah bebas dari ayah dan anak yang aneh itu, kiranya sekarang masih dirong-rong oleh gadis ayu ini. "Tidak boleh, cici. Aku tidak bisa pergi membawa orang lain. Perjalananku penuh bahaya, laginya... tak pant as dilihat orang kalau seorang gadis seperti engkau ini pergi berdua-dua saja dengan seorang laki laki...”

"Iiih, siapa bilang tidak patut ? Seorang isteri pergi mengikuti suaminya yang terkas ih, bagaimana tidak patut?" sahut Fei Lan sambil mengerling.

“Isteri siapa suami mana? Jangan main-main, tidak ada suami di sini. Aku tak pernah mengambil kau sebagai isteriku!”

"Akan tetapi aku sudah menyerahkan jiwa-raga menjadi isterimu, koko...” Fei Lan merayu dan melingkah dekat.

"Gila...! Tidak, aku tidak mau. Sudah, aku pergi...! Tiang Bu melompat melewati gadis itu. "Koko, aku bunuh diri...!”

Tiang Bu cepat menggunakan gerakan berjungkir balik dalam lompatannya ketika melihat betapa gadis itu betul-betul mengangkat kapak dibacokkan ke arah leher sendiri ! Cepat gerakan Tiang Bu ini. Biarpun tubuhnya di udara, berkat ginkang dan lweekangnya yang tinggi ia dapat memutar balik tubuhnya dan sekali tangannya terayun memukul, hawa pukulan yan g dahsyat telah memukul atau mendorong tangan Fei Lan, membuat kapak itu terlepas dan tubuh gadis itu terhuyung-huyung.

"Fei Lan, apa kau sudah gila?" tegur Tiang Bu, marah sekali sambil berdiri bertolak pinggang di depan gadis itu.

"Kalau aku jadi gilapun, kau yang berdosa." jawab Fei Lan bersungut-sungut sambil mendekati pemuda itu.

“Cici Fei Lan, kau dengarlah omonganku baik-baik. Aku masih kanak-kanak, aku belum suka menikah, bahkan aku sama sekali tidak ada pikiran tentang jodoh. Kau bersabarlah, dalam urusan perjodohan, mana boleh dilakukan paksaan? Tun ggu sampai lima tahun lagi, kalau aku sudah berusia dua puluh tahun nah, nanti kita bicarakan lagi. Sementara jangan kauganggu aku kau boleh mencari calon suami lain.”

“Kalau kau menolak, aku akan bunuh diri saja," kembali Fei Lan mengancam.

"Aduh, kau ini terlalu sakali. Siapa yang menolak? Aku hanya minta tempo. S ekarang aku masih terlalu kecil. Lima tahun lagi baru kita bicara tentang jodoh. Bagaimana? Kalau kau tidak menerima usul ini masa bodoh, kau bo leh berbuat sesukamu aku takkan menghalangimu lagi. Akan tetapi kalau kau bunuh diri, jangan arwahmu nanti menganggap aku sama sekali tidak memberi kelonggaran dan kesempatan. Aku bukan menolak hanya minta waktu untuk kelak berunding lagi.”

Wajah Fei Lan yang tadinya merengut itu kini tersenyum kembali. "Begitukah? Sebetulnya... sekarang lebih baik... akan tatapi biarlah, asal kau tidak berbohong. Biarlah sebagai tanda mata agar kau tidak lupa kelak, kaubawa ini..." Gadis itu merogoh balik bajunya dan keluarlah sehelai saputangan berwarna merah muda yang harum. "Kau simpanlah, koko..."

Akan tetapi tiba-tiba gadis itu mengebutkan saputangan merah muda itu dan bau yang harum luar biasa memasuki hidung Tiang Bu. Bau wangi ini begitu kerasnya sampai terasa menjalar ke dahi pemuda itu. Tiang Bu meramkan matanya, kepalanya terasa pening akan tetapi hanya sebentar saja. Ketika ia membuka mata... aneh bin ajaib... gadis di depannya itu telah berubah sama sekali dalam pandang matanya.

Kalau tadinya Fei Lan merupakan gadis yang cantik manis, sekarang gadis itu berubah menjadi seorang yang cantik jelita seperti bidadari Kayangan, ayu tiada bandingannya dan menggairahkan. Ane hnya, Tiang Bu merasai sesuatu berdebar-debar dalam dadanya, merasai gejolak hati yang selama hidupnya belum pernah ia alami. Ia merasa ada nafsu binatang yang amat panas menguasai hati dan pikirannya, membuat darahnya mendidih, dan senyum Fei Lan seakan-akan merupakan lambaian dan tantangan. Nafsu jahat dalam dirinya mendorong-dorongn ya agar ia menubruk dan memeluk gadis jelita di depannya itu.

Namun, Tiang Bu telah menjadi murid orang-orang sakti. Biarpun ia marasai adanya nafsu iblis yang entah dari mana datangnya menguasai hatinya, namun nuraninya masih bekerja kuat. Dan dia telah mempelajari kitab Seng-thian-to, maka cepat ia meramkan mata mengerahkan seluruh perasaan dan tenaga batinnya untuk menyelidiki diri sendiri. Ke tika ia memeriksa keadaan pernapasannya maka dengan kaget tahulah ia bahwa hawa kotor pe nuh keharuman yang mempengaruhi pere daran darah, membuat darah menjadi cepat jalannya.

Ketika ia meneliti perjalanan darahnya untuk mengetahui dari mana datangnya itu, ia men jadi lebih kaget karena ia dapat merasai bahwa nafsu itu memang sudah ada dalam darahnya! Hanya biasanya tidak ban gkit dan baru sekarang nafsu itu memberontak setelah "dibangunkan" oleh hawa yang harum dari luar, dan setelah memberontak demikian hebatnya hendak mempengaruhi jiwa raganya, Tiang Bu cepat menggunakan hawa murni untuk menekan semua gelombang ini dan dengan khikangnya yang tinggi ia dapat “menangkap" dan “mengumpulkan" semua hawa yang mengandung keharuman beracun yang disedotnya tadi.

Setelah tenang, ia membuka matanya dan baru sekarang ia melihat bahwa gadis itu kini telah merangkul lehernya dan menyandarkan kepala dengan rambut harum semerbak di atas dadanya sambil matanya meram melek.

"Tarima kembali racunmu...!" Tiang Bu be rbisik dan dengan pengerahan khikang ia meniupkan hawa harum yang memabukkan tadi seluruhnya ke arah muka gadis yang berada dekat dengan mukanya.

Fei Lan gelagapan seperti kepalanya dibenamkan ke dalam air, Tanpa dapat ia cegah lagi ia telah kena hisap hawa yang harum, yang keluar dari mulut dan hidung Tiang Bu, hawa harum yan g tadinya berasal dari sapu tangan merahnya! Gadis itu terhuyung huyung, lalu roboh di atas tanah. Mukanya marah sekali, matanya berkilat-kilat dan dengan penuh nafsu sepetti seekor binatang liar ia menubruk Tiang Bu.

"Koko...!" Akan tetapi Tiang Bu telah melompat pergi, meninggalkan gadis itu yang kini menjadi korban dari racunnya sendiri. Beberapa lama kemudian, Lai Fu Fat si penebang pohon mendapatkan puterinya itu dal am keadaan menyedihkan. Pakaiannya robek-robek menjadi setengah telanjang, mulutnya mengingau tidak karuan dan tubuhnya panas sekali.

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Tiang Bu beberapa kali bergidik dan merasa ngeri kalau ia teringat akan pengalamannya yang amat berbahaya tadi. Kalau diingat-ingat, ia menganggap pengalamannya dengan Fei Lan tadi yang paling berbahaya mengerikan dari pada semua peristiwa yang pernah ia alami. Terutama sekali yang membuat ia gelisah dan ketakutan adalah keinsyafannya bahwa di dalam dirinya sebenarnya hidup semacam nafsu iblis yang seakan-akan naga jahat sedang tidur di dasar hatinya untuk sewaktu-waktu bangkit dan mengamuk apabila batinnya terganggu dan lemah.

Nafsu ini te rletak di dalam darahnya. Warisan keturunan...? Dengan ngeri hati Tiang Bu makin tekun melatih diri dengan samadhi seperti yang diajarkan dalam kitab suci Se-thian-to agar hawa murni dalam dirinya menjadi kuat betul untuk melawan naga jahat dalam diri itu dan menjaga agar jangan sampai naga itu bangkit!

Karena ia tidak ingin tersusul oleh Lai Fu Fat dan Lai Fei Lan, Tiang Bu berlari cepat sekali sehingga tak lama kemudian sampai ia di sungai seperti yang dituturkan oleh Lai Fu Fat tadi. Sungai itu cukup lebar, airnya jernih dan alirannya tenang menuju ke selatan. Karena tidak melihat seorangpun manusia dan tidak melihat sebuahpun perahu di situ, Tiang Bu melanjutkan perjalanannya mengikuti aliran air sungai ke selatan.

Kurang lebih lima li ia mengikuti sungai, sampailah ia di sebuah dusun yang subur sekali tanahnya. Dari jauh sudah terlihat,perahu-perahu tukang ikan hilir mudik membawa muatan ikan seperahu penuh. Wajah orang-orang nampak gembira, rumah-rumah nampak bagus biarpun sederhana dan orang-o rang yang berada di desa itu gemuk-gemuk dan be rpakaian utuh. Ini semua menjadi bukti bahwa dusun ini tentu merupakan dusun makmur dan murah sandang pangan.

Karena hari sudah mulai gelap, Tiang Bu mencari rumah penginapan. Akan tetapi alangkah kecewanya ketika mendapat keterangan bahwa di dusun itu tidak ada rumah penginapan. Lebih baik kucari nelayan yang bernama Cia Nam itu, pikirnya, dan aku dapat bermalam di rumahnya. Segera ia kembali lagi ke tepi sungai di mana tadi ia melihat banyak perahu diikat di situ. la melihat beberapa orang nelayan sibuk membongkari muatan dari perahu-perahu mereka. Ada yang menurunkan barang dagangan para pedagang yang me ngangkut dagangan dari lain kota melalui sungai itu, ada yang menurunkan ikan-ikan hasil menjala dan mancing.

Di tepi sungai banyak pula yang membetulkan jala yang robek, ada yang duduk bergerombol mengelilingi api unggun sambiI be rcakap-cakap dan ada pula yan g duduk seorang diri termenung di tepi sungai. Tiang Bu menghampiri segerombolan orang yang tengah bercakap-cakap itu. Mere ka ini adalah nelayan-nelayan yang kasar, bermuka kehitaman karena setiap hari mandi cahaya matahari yang panas terlihat de ngan kerut merut dalam dalam pada muka mereka sebagai tanda bahwa mereka tidak asing dengan pengalaman pengalaman sukar dan hebat.

"Maaf, saudara-saudara sekalian kalau mengganggu, aku hendak mencari orang nama Cia Nam si nelayan. Apakah dia berada di sini?"

Orang-orang itu tertarik akan langgam bicara Tiang Bu yang berbeda dengan orang selatan, akan tetapi ketika mendengar bahwa pemuda ini mencari Cia Nam, mereka membuang muka. Seorang nelayan tua berkata padanya.

"Sungguh aku tidak tahu apa keperluan mencari Cia Nam, orang muda. Akan tetapi kalau kau mencari si gila itu, nah, tuh di sana ia sedang melenggut." Telunjuknya ditudingkan ke arah gelap.

Tiang Bu menoleh, akan tetapi tidak melihat sesuatu di dalam gelap hanya ia tahu bahwa yang dituding itu adalah sungai. Akan tetapi melihat sikap mereka seperti tidak senang ketika ia menanyakan Cia Nam. Tiang Bu tidak mau be rtanya lagi mengucapkan terima kasih lalu pergi ke arah yang ditunjuk oleh nelayan tua tadi. Ia menyusuri pantai sungai dan akhirnya di tempat sunyi ia melihat seorang laki-laki bertopi caping lebar tengah jongkok di atas sebuah perahu kecil yang butut.

Di ujung atau kepala perahu itu dipasangi sebuah lampu teng yang tidak berapa terang namun cukup memperlihatkan lantai perahu yang selalu basah seperti telah bocor. Orang itu seorang laki-laki, sukar ditaksir usianya karena mukanya berada dibagian yang gelap, sedang menongkrong sambil memegangi ujung tangkai pancing dari bambu.

"Sahabat yang di atas perahu! Apakah kau kenal orang bernama Cia Nam dan di mana tempat tinggalnya, lahukah kau?” seru Tiang Bu dari pinggir sungai.

Orang itu tertawa mengikik tanpa menoleh, lalu berkata, "Setan she Cia itu adalah iblis penjaga sungai dan rumahnya di dasar sungai ini!" Ia melanjutkan pekerjaannya memancing tanpa menoleh sama sekali. "Loncat saja ke air, tentu kau akan bertemu dengan dia!'

Tiang Bu mendongkol sekali. Akan tetapi ia juga girang karena boleh jadi orang itu sendirilah Cia Nam. Kalau tidak, mana ada orang begitu keterlaluan mempermainkannya? Kalau CiaN am sendiri, mungkin, karena jarang yang diperkenalkan oleh seorang aneh seperti penebang kayu itu, tentulah seorang aneh pula. Berpikir demikian, ia lalu berkata,

“Aku mau bertemu dengan dia!" dan lompatlah ia ke arah perahu kecil yang jauhnya ada tiga tombak dari daratan itu. Tentu saja amat mudah bagi Tiang Bu untuk melompat hanya tiga tombak jauhnya. Akan tetapi aneh sekali, tiba-tiba perahu itu meluncur pergi seperti didorong atau didayung padahal orang itu masih tetap nongkrong dan tdak melakukan sesuatu.

Hampir saja Tiang Bu celaka. Siapa orangnya yang takkan bingung kalau sedang melompat ke perahu, lalu perahunya itu berpindah tempat? Orang lain tidak akan ampun lagi pasti akan tercebur ke dalam sungai. Akan tetapi Tiang Bu dapat menggerakkan kedua kaki dan tangannya sehingga tubuhnya yang sudah menurun itu terpental kembali keatas dan secepat kilat ia telah menutulkan kaki di atas geladak peruhu.

"Berbahaya sekali...!” katanya perlahan. Kemudian ia berkata kepada orang itu keras-keras. “He, sobat, mengapa kau main-main seperti itu? Kalau aku terce bur ke dalam sungai bukankah berbahaya sekali? Aku tidak bisa berenang, tahu!”

Sebagai jawaban, orang itu menyambar lampu teng di kepala perahu kemudian dengan tubuh masih berjongkok, kedua kakin ya mengembat dan... perahu itu miring dan terbalik! Akan tetapi dia sendiri tetap nongkrong, kini di atas punggung perahunya yang sudah terbalik. Tiang Bu juga tetap melompat ke atas, kagetnya bukan kepalang. Baiknya ia tadi melihat gerakan orang itu dan menirunya sehingga ketika perahu sudah terbalik, iapun dapat turun dan tetap berdiri dipunggung perahu!

"Eh, eh, kau ini apa-apaan?” Tiang Bu menegur. Kini terlihat olehnya bahwa orang itu adalah seorang pendek kecil yang rambutnya sudah putih, seorang kakek berusia kurang lebih lima puluh tahun. Akan tetapi matanya berkedap-kedip dan jelalatan, kelihatannya nakal sekali.

“Bukankah kau mau bertemu dengan iblis sungai di dasar sungai? Hi-hi-hi...!"

"Cia-lopek, jangan kau main main. Aku benar-benar ingin sekali bertemu denganmu, dan aku mencarimu, atas pemberitahuan lopek Lai Fu Fat si penebang pohon."

Kakek itu memandang penuh perhatian. Ia menurunkan lampunya didekatkan ke depan sambil berkata, "Duduklah!"

Tiang Bu lalu berjongkok seperti kakek itu di atas perahu yang terbalik dan lampu berada di tengah-tengah mereka. Benar-benar pertemuan yang aneh! Bercakap-cakap di atas perahu terbalik yang terapung-apung di sungai terbawa perlahan oleh aliran sungai itu.

“Kau mau apa mencari Cia Nam?” tanya kakek itu sambil tertawa mengejek dan tiba-tiba saja Tiang Bu dapat menduga mengapa kakek ini agaknya tidak disuka oleh para nelayan. Tentu disamping ke pandaiannya yang tinggi, kakek ini adalah seorang tua yang berwatak nakal seperti bocah bengal, suka mengganggu dan menggoda orang.

"Aku hendak memohon pertolonganmu mengantarkanku ke Ban-mo-tong!" Jawab Tiang Bu singkat.

Kakek itu mengangkat alisnya. "Aku hendak bertemu dengan Toat-beng Kui-bo!” sambung Tiang Bu.

Kakek itu kini mengerutkan keningnya. "Apa kau gila?" tanyanya. Tiang Bu mendongkol. Benar-benar di selatan ini banyak orang pan dai, akan tetapi hampir semua otaknya miring!

“Kalau aku gila, apa aku melayanimu mengobrol di atas perahu terbalik?” jawab Tiang Bu.

“Hem, kau betul, kau betul! Apa kau bosan hidup?"

"Tidak! Yang sudah tua dan kesepian masih belum bosan, bagaimana aku yang muda sudah bosan? Aku mohon kau sudi mengantarku besok pagi, aku akan berterima kasih sekali.”

"Sekarang kita pergi!" kata kakek itu tiba-tiba dan sekali ia mengenjot-enjot kakinya, perahu itu kembali miring dan membalik. Seperti tadi, keduanya menggunakan sinkang, melompat ke atas dan turun kembali setelah perahu terbalik seperti sedia kala.

"Mangapa sekarang? Begini gelap?"

"Takut apa? Kalau mau sekarang, kalau tidak mau kau boleh melompat ke dalam air! Akan tetapi kakek itu telah mendayung perahunya cepat sekali ke tengah sungai sehingga Tiang Bu harus menutup mulut karena tak mungkin ia me lompat ke darat, apalagi dalam keadaan yang gelap itu. Kakek itu melepaskan dayun gnya dan perahu terbawa arus sungai. Lampu kedua yang sama tuanya dengan yang pertama, dinyalakan oleh kakek itu.

"Kalau aku perlu membalikkan perahu, kau harus memegangi lampu kedua ini,” pesannya.

"Mengapa perahu harus dibalikkan?" tanya Tiang Bu, ngeri juga karena kalau perahu terus tenggelam. bukankah berabe?

"Sudah bocor, menguras sukar, lebih mudah dibalikkan agar airnya keluar semua!”

Orang aneh, pikir Tiang Bu. Akan tetapi di lain saat ia sudah tidak sempat berpikir lagi karena kini kakek itu mendayung perahunya yang meluncur cepat bukan main ke depan, menerjang malam gelap, sehingga Tiang Bu yang tabah merasa ngeri juga. Bagaimana kalau terbalik? ia merasa bahwa kali ini nyawanya berada di dalam kenggaman kakek gila ini.

Entah berapa lama perahu itu meluncur cepat sekali. Tahu-tahu bulan sudah muncul dan nampak pemandangan yang menyeramkan di kanan kiri sungai. Tebing sungai sekarang bukan merupakan tanah daratan yang datar ditumbuhi rumput dan tanaman lain, melain kan merupakan batu-batu karang yang berbaris menyeramkan seperti barisan raksasa hitam yang meme gang senjata-senjata tajam besar, seperti mulut naga siap mencaplok kurban yang berani mendekat.

"Heh-heh.heh. inilah Ban-mo-tong (Gua-gua Selaksa Iblis). Kau mendaratlah di sini, aku harus kembali!” Kakek nelayan itu mendayung perahunya ke pinggir, akan tetapi tidak berani mepet, hanya dalam jarak dua tombak dari batu-batu karang itu. "Melompatlah ke pinggir!”

Tiang Bu ragu-ragu. Di tengah malam buta ia harus mendarat di tempat seperti itu. masih baik kalau memang ini tempat yang dicari-cari, bagaimana kalau bukan?

"Betulkah di sini Ban mo tong ?" tanyanya.

"Kau tidak percaya kepada Cia Nam berarti tidak percaya kepada dirimu sendiri! Lihat!" Kakek itu menudingkan telunjuknya dan Tiang Bu melihat bayangan-bayangan hitam berterbangan diatas batu-batu karang. ltulah bayangan-bayangan kelelawar yang terbang membunyikan sayap memukul tubuh. Mengerikan sekali.

Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan suara aneh dan tahu-tahu perahunya miring tenagelam ! Tiang Bu kaget sekali, menotol kaki di geladak perahu sambil menggenjot tubuh mengerahkan ginkangnya, melompat ke atas batu karang terdekat. Ketika ia menoleh. ia melihat perahu benar-benar tenggelam dan dua lampunya padam! Akan tetapi tak lama kemudian muncul lagi perahu itu di tengah sungai dan kakek itupun muncul di atas perahunya sambil tertawa-tawa cekikikan. Tiang Bu mendongkol juga. Kakek itu benar-benar nakal sekali. Nakal dan berbahaya. Kalau ia tidak memiliki ginkang yang cukup tinggi. bukankah ia akan mampus di tengah sungai?

Mendadak kakek itu mengeluarkan seruan kaget dan ketakutan. “Nio-nio... ampun. aku... ampun... aku akan segera pergi... harap suka panggil kembali ini... ini." Ia menggerak-gerakkan dayungnya di atas kepala untuk melindungi kepalanya yang disambari oleh tiga ekor kelelawar hitam.

Melihat sikap kakek itu yang amat ketakutan, Tiang Bu dapat menduga bahwa binatang-binatang itu tentulah amat berbahaya, kalau tidak demikian, masa seorang yang lihai seperti kakek itu sampai ketakutan? Biarpun kakek itu nakal, namun harus di akui bahwa ia telah ditolong olehnya diantarkan ke tempat yang dicarinya. Tiang Bu meraba ke pinggir badannya dan meremas ujung batu karang di dekatnya. Kemudian ia mengayun tangannya ke depan menyambit ke arah tiga ekor kelelawar yang kemudian jatuh ke atas sungai, mati!

"Orang muda, kau baik sekali. Akan tetapi hati-hatilah, kau sudah membunuh binatang peliharaan Nio-nio..." kata kakek itu yang cepat-cepat mendayung perahunya melawan arus sungai. Bangkai tiga ekor kelelawar itu hanyut terbawa arus, kepala mereka pecah terkena sambitan Tiang Bu.

Karena malam hanya diterangi bulan sepotong dan tempat itu penuh batu karang, amat berbahaya kalau orang sampai terpeleset ke bawah. Tiang Bu tidak berani pergi dari tempat itu. Ia malah memilih tempat yang rata antara batu-batu karang di mana ia duduk bersil a me nanti datangnya pagi. Mudah-mudahan aku dapat bertemu dengan Toat-beng Kui-bo dan Wan Sin Hong di tempat ini, pikirnya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, begitu terang tanah, Tiang Bu meninggalkan barisan batu karang di pinggir sungai itu mulai menjelajah daerah yang benar-benar liar ini. Daerah baru karang ini amat luas dan di mana-mana terdapal gua-gua yang besar. Memang tidak sampai laksaan banyaknya seperti namanya, akan tetapi lebih dari seratus buah gua yang besar-besar. Apakah orang-orang yang dicarinya tinggal di dalam gua-gua itu? Apa ia harus memeriksa ke dalam gua satu demi satu? Tiang Bu berjalan memeriksa keadaan disitu dan mendapat kenyataan bahwa di antara bukit -bukit batu karang terdapat pula tanah-tanah datar yang tak berapa luas dan pohon-pohon yang aneh bentuknya.

Selagi ia longak-longok tak tahu harus mulai mencari bagian mana, tiba-tiba berkelebat bayangan yang cepat sekali gerakannya tiba-tiba di depannya telah berdiri seorang laki-laki gagah perkasa dan tampak gagang pedang nampak tersembul dari balik pundaknya. Laki-laki itu berdiri tegak di dekatnya, memandang tajam penuh selidik.

"Wan-siok-siok (Paman Wan)...” seru Tiang Bu dengan girang sekali melihat bahwa laki-laki itu bukan lain adalah Wan Sin Hong, orang yang dicari-carinya.

Orang itu memang benar Wan Sin Hong yang dahulu dari Omei-san terus mengejar Toat-beng Kui-bo untuk minta kembali isterinya. Akan tetapi Toat-beng Kui-bo lebih tepat larinya dan meninggalkan Wan Sin Hong setelah memesan supaya mencarinya di Ban-mo-tong. Ketika Wan Sing Hong menyusul ke Ban-mo-tong, ia mendapatkan Li Hwa isterinya itu telah menjadi murid Toat-beng Kui-bo dan Li Hwa memaksa suaminya supaya tinggal di Ban mo tong. Tentu saja Sin Hong tidak senang mendengar ini.

"Kau sungguh aneh,” tegurnya kepada isterinya, "dalam hal ilmu silat saja, mengapa harus belajar dari Toat-beng Kui-bo. Benar-benar aku tidak mengerti."

Sambil menundukkan mukanya Li Hwa berkata lirih. "Betapapun juga... aku tak dapat meninggalkan dia seorang diri di sini... sudah menjadi kewajibanku untuk mengawaninya sampai dia meninggal dunia...”

"Hwa-moi...! Mengapa demikian?” Sin Hong terheran-heran.

“Dia... dia itu ibuku...” akhirnya Li Hwa membuat pengakuan yang amat mengejutkan hati Sin Hong.

Maka berceritalah Li Hwa apa yang i a dengar dari Toat-beng Kui-bo, bahwa duhulu Hoat beng Kui bo setelah melahirkan dia menitipkan Li Hwa yang masih orok itu kepada Pat-jiu Nio-nio yang menjadi adik seperguruannya, Toat-beng Kui-bo melakukan hal ini karena merasa malu mempunyai anak yang tidak berayah!

Demikianlah ketika bertemu di lereng Omei-san. Toat-beng Kui-bo bertemu kembali dengan puterinya yang mula- mula ia kenal secara kebetulan saja. Tadinya Toat beng Kui-bo hanya hendak menolong Li Hwa diri tangan Liok Kong Ji, akan tetapi kemudian ia melihat Cheng-liong-kiam maka terbukalah rahasia bahwa nyonya muda yang cantik ini sesungguhnya adalah puterinya sendiri yang dulu ia titipkan kepada sumoinya, Pat-jiu Nio nio!

Mendengar penuturan ini, Sin Hong menjadi terharu dan menghela napas. Tak disangkanya bahwa isterinya akan bertemu dengan ibunya yang ternyata seperti iblis itu. Diam-diam ia masih menyangsikan kebenaran cerita Toat beng Kui-bo ini, akan tetapi ia tidak banyak membantah dan oleh karena hatinya sendiri sudah menjadi dingin terhadap penghidupan di dunia kaug-ouw yang selalu ribut, ia meluluskan keinginan isterinya untuk tinggal di Ban-mo-tong agar Li Hwa selalu dekat dengan Ibunya dan dapat melayaninya sambil belajar ilmu silat dari Toat-beng Kui-bo yang lihai.

Demikianlah, dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya hati Sin Hong ketika di pagi hari itu ia melihat Tiang Bu terkeliaran di daerah berbahaya ini. "Tiang Bu, bagaimana kau bisa sampai ke-sini dan... ada keperluan apakah kau datang di tempat berhahaya ini?” tegurnya.

Tiang Bu tersenyum dan memandang wajah Sin Hong yang tampan itu. "Wan siokhu, aku sengaja datang di Ban-mo to untuk mencarimu dan mencari siluman tua Toat beng Kui-bo,"

"Kau mencari Toat beng Kui bo ada urusan apakah?"

Melihat Wan Sin Hong mengerutkan kening nampak tidak senang. Tiang Bu menjawab terus-terang, “Wan siok-siok, ketika terjadi keributan di puncak 0mei-san, Toat beng Kui bo juga mencuri sebuah kitab. Aku datang untuk minta kembali kitab itu, memenuhi perintah suhu."

Diam-diam ia memuji kesetiaan bocah ini dan keberaniannya. “Dan kau mencari aku ada keperluan apa?" tanyanya, wajahnya agak berubah kalau ia teringat akan peristiwa di puncak Omei-san di mana bocah ini bertemu dengan Liok Kong Ji.

"Aku sengaja mencarimu untuk bertanya tentang keadaan diriku, siok-siok. Ceritakan padaku sejujurnya tentang hubunganku dengan Liok Kong Ji yang mengaku sebagai ayahku itu!"

Ketika mengeluarkan kata-kata ini, Tiang Bu bersikap keras dan jelas nampak dari suara dan sinar matanya bahwa apapun yang akan terjadi, ia berkukuh menghendaki dipecahnya rahasia ini, kalau perlu ia akan memaksa Sin Hong dengan kekerasan!

Sin Hong tersenyum pahit. Alangkah beraninya bocah ini! Pertama-tama ingin merampas kembali sebuah kitab dari tangan Toat-beng Kui-bo, satu hal yang kiranya tak akan berani seorang tokoh kang-ouw kenamaan melakukannya. Kedua kalinya hendak memaksanya melakukan sesuatu. Akan tetapi, perlu bocah ini diuji, pikir Sin Hong. Dia hendak menemui Toat-beng Kui-bo, hal yang amat berbahaya. Baik kulihat sampai di mana kepandaiannya. Kalau dia belum pandai menjaga diri harus dihalangi niatnya bertemu dengan Kui-bo mengantar nyawa dengan sia-sia.

"Tiang Bu, dulu sudah kukatakan bahwa aku tidak bisa menceritakan hal itu kepadamu. Menyesal sekali!” Suara Sin Hong benar-benar mengandung penyesalan, akan tetapi juga tegas. Memang pendekar ini tidak ingin membuka rahasia anak ini yang akan merendahkan nama ibunya?

“Wan siot-siok!” Mata Tiang Bu bersinar-sinar mengeluarkan api, mengingatkan Sin Hong akan mata Liok Kong Ji. "Kau harus menceritakannya kepadaku, biarpun untuk itu harus kupaksa!"

"Tiang Bu bocah lancang, belum pernah ada orang mampu memaksa Wan Sin Hong, apalagi engkau!"

“Kau orang tua minta dihajar!" Tiang Bu menjerit dan ia menggerakkan tubuh menyerang Sin Hong.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Sin Hong ketika merasa betapa angin pukulan yang keluar dari tangan bocah ini luar biasa sekali panas dan antepnya! Namun ia adalah seorang pendekar yang memiliki kepandaian tinggi dan pengalaman luas, maka cepat mengelak, tidak berani menangkis tangan bocah yang ternyata memiliki tenaga aneh ini.

Tiang Bu mendesak terus dan pukulan pukulan yang ia lancarkan, makin lama membuat Sin Hong makin terkejut dan heran. Biarpun ia memiliki Ilmu Silat Pak-kek Sin-kun yang lihai namun pukulan pukulan bertubi-tubi dari bocah itu menghalangi semua jalannya, membuat ia terdesak. Dan hebatnya, ia tidak mengenal ilmu pukulan yang dipergunakan Tiang Bu itu.

Kadang-kadang Tiang Bu memukul, kadang-kadang menggampar atau menusuk dengan jari-jari tangan terbuka dan gerakan-gerakannya seperti orang menulis huruf. Sekelebat seperti ilmu silat huruf yang pernah dipelajari dari Luliang Siucai, akan tetapi ini lebih hebat lagi. Bocah ini menyerang dengan gerakan seenaknya saja, tanpa tergesa-gesa seakan-akan Tiang Bu sudah dapat menduga atau sudah tahu ke mana Sin Hong hendak mengelak, karena selalu tubuh Sin Hong dalam mengelak dipapak oleh serangan lain!

Sin Hong dari heran terkejut menjadi penasaran. Ia melompat ke sana ke mari, dan menghindarkan diri dari pukulan, lalu mencoba untuk membalas. Namun ia mengalami keanehan luar biasa. Begitu Tiang Bu percepat gerakan-gerakannya, Sin Hong kehabisan pintu, sama sekali tak melihat lowongan untuk dapat membalas. Jangankan membalas serangan, baru melindungi diri saja sudah sukar bukan main.

“Wan siok-siok, apakah kau masih belum mau membuka rahasia itu?” Tiang Bu bertanya sambil terus menyerang, kini mempergunakan gerakan-gerakan yang ia temukan dalam sajak-sajak kitab Thian-te Si-keng.

“Hayaaa...!" Tak terasa Sin Hong berseru sambil melompat ketika tangan kanan Tiang Bu yang terbuka dipukulkan secara sembarangan saja ke arah dadanya dan telah menyerempet pundaknya. Bocah ini yang menyerang sembarangan saja masih sambil bicara lagi, telah berhasil mengenai pundaknya. Benar luar biasa.

"Sratt...!" Di lain saat, berbareng dengan berkelebatnya sinar menyilaukan mata tangan kanan Sin Hong sudah memegang Pak-sin-kiam pedang pusaka peninggalan Pak kek Siansu!

"Lebih baik kau bunuh aku dari pada menutup rahasia itu!" seru Tiang Bu, sedikitpun tidak gentar biarpun silau melihat pedang pusaka yang hebat ini. Ia masih terus mendesak maju dan kini kcdua kakinya berdiri di atas ujung jari jarinya dan mengerahkan ginkangnya yang paling tinggi. He bat sekali pemuda cilik ini. Dia tiba-tiba saja menjadi begitu ringan gerakannya seolah-olah bersayap! Diam-diam Sin Hong menjadi makin kagum. Biarpun pendekar ini sudah mencabut Pak-kek Sin-kiam, pedang pusaka yang jarang sekali ia pergunakan kalau tidak amat terpaksa, namun mana ia mempunyai niat membunuh Tiang Bu?

Ia hanya ingin menguji kepandaian pemuda ini dan biarpun tadi ia sudah mendapat kenyataan bahwa dengan tangan kosong. Ia sendiri tidak dapat menangkan Tiang Bu, namun hatinya masih belum puas. Sin Hong maklum akan ke lihaian dan berbahayanya Toat-beng Kui-bo yang memiliki kepandaian lebih tinggi dari padanya sendiri, maka kini ia ingin menguji Tiang Bu dengan senjata tajam.

Siapa kira bahwa pemuda itu melanjutkan serangannya dengan tangan kosong! Tentu saja Sin Hong merasa enggan menghadapi seorang pemuda cilik bertangan kosong sedangkan ia menggunakan Pak-kek Sin kiam, maka berkata,

"Tiang Bu, kalau kau memang hendak memamerkan kepandaian, keluarkan senjatamu!”

"Aku tidak ingin pamer, hanya ingin kau menceritakan riwayatku, Wan-siok-siok. Orang bilang kau seorang pendekar budiman, mengapa dalam hal ini kau begitu kukuh? kau tidak kasihan kepadaku?”

Sin Hong sudah amat kagum akan kepan daian Tiang Bu, maka merasa kepalang kalau tidak menguji terus. Ia menggerakkan pedangnya dan berkata, "Awas, lihat pokiam!"

Kepandaian yang paling diandalkan oleh Sin Hong adalah ilmu pedangnya. Memang ilmu pedangnya, Pak-kek Kiam-sut, adalah ilmu pedang yang luar biasa sekali dan ia menjagoi di dunia kang-ouw. Belum pernah ada ahli pedang lain yang berani menyatakan ilmu pedangnya dapat melebihi Pak-kek Kiam-sut. Begitu Sin Hong menggerakkan pedangnya, sinar pedang bergulung-gulung mengurung tubuh Tiang Bu...

Thanks for reading Tangan Gledek Jilid 21 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »