Pendekar Budiman jilid 14

Pendekar Budiman Jilid 14

AKAN tetapi, seramai ramainya pertempuran ini, masih lebih ramai dan seru lagi pertempuran antara Ciang Le dan susioknya, Pak Hong Siansu. Memang tak dapat disangkal pula bahwa Ciang Le kalah latihan dan kalah matang kepandaiannya dan andaikata pemuda ini harus menghadapi Pak Hong Siansu sepuluh atau lima tahun yang lalu, agaknya ia tidak mempunyai harapan untuk menang.

Akan tetapi, pemuda ini telah mempelajari ilmu silat khusus dari Pak Kek Siansu sehingga dengan ilmu silatnya Pak kek Sin ciang, ia mempunyai daya tahan yang kuat sekali dan di samping itu, sekarang Pak Hong Siansu sudah amat tua, sudah terlampau tua malah untuk mengadakan pertempuran mati matian demikian serunya. Kalau keadaan Ciang Le makin lama makin hebat dan kuat adalah Pak Hong Siansu sebaliknya. Menghadapi Ciang Le yang amat tangguh sehingga kakek tua renta ini harus mengerahkan seluruh kepandaian dan mengeluarkan seluruh tenaga dalam pertempuan yang seratus jurus lamanya, benar benar amat melelahkannya. Peluhnya sudah memenuhi mukanya dan napasnya mulai tersengal-sengal.

Sementara itu, Ba Mau Hoatsu marah sekali, bukan saja, karena ia tidak dapat mendesak tiga orang muda pengeroyoknya, bahkan pedang di tangan Bi Lan benar benar merupakan bahaya yang besar sekali, ia lebih marah kalau melihat betapa Wan yen Kan muridnya itu berusaha sungguh sungguh untuk membantu musuh musuhnya,

“Wan yen Kan bangsat terkutuk, aku harus membunuh kau!” Akan tetapi mana mungkin ia membuktikan ancamannya kalau sepasang rodanya harus menghadapi serangan mereka terutama pedang Bi Lan!

“Pendeta palsu, kau sendiri yang sudah mau mampus, masih sempat mengancam orang lain? Tak tahu diri!” Bi Lan mengejek sambil mempercepat gerakan pedangnya.

“Cring…!” terdengar suara nyaring dan roda perak di tangan Ba Mau Hoatsu pecah!

Pendeta hitam itu kaget sekali dan sambil menyambitkan rodanya yang pecah itu ke arah Bi Lan, ia meloncat mundur cepat sekali. Sedangkan Pak Hong Siansu yang juga sudah lelah, berkata kepada Ciang Le,

“Tahan dulu!” Pemuda itu bagaimanapun juga masih ingat bahwa ia berhadapan dengan adik seperguruan suhunya, maka seruan ini ditaatinya dan ia menarik kembali pedangnya dan melangkah mundur. Akan tetapi sungguh tidak dinyana sama sekali, tiba tiba dari jurusan Pak Hong Siansu menyambar banyak sekali jarum jarum hitam yang luar biasa cepatnya. Jarak antara mereka amat dekat dan sambitan jarum yang dilepaskan oleh Pak Hong Siansu ini dilakukan dengan pengerahan tenaga lwee kang yang sudah tinggi, maka dapat diduga betapa cepat jalannya jarum jarum yang menyambar ke arah tubuh Ciang Le.

“Pengecut curang!” Pemuda itu berseru marah, ia tak sempat menangkis dengan pedangnya, maka jalan satu satunya baginya hanya melempar diri ke belakang lalu membuat salto atau bepoksai beberapa kali. Dengan gerakan jungkir balik ini, ia mengharap akan dapat menghindarkan diri dari bahaya yang ia tahu amat besar ini. Namun tetap saja, di waktu ia berjungkir balik Pak Hong Siansu menyusul dengan lain sambitan sehingga tiba tiba Ciang Le merasa punggungnya gatal gatal dan panas sekali. Tujuh batang jarum hitam telah menancap di punggungnya ketika ia berjungkir balik tadi karena diserang dari belakang oleh susioknya!

“Tak tahu malu!” pekiknya marah dan ketika ia membalikkan tubuh dengan marah sekali, ternyata susioknya dan Ba Mau Hoatsu lelah lenyap dari situ. Kiranya Pak Hong Siansu merasa malu atas perbuatannya sendiri setelah ia menyerang pemuda itu secara menggelap, maka ia lalu mengajak Ba Mau Hoatsu untuk segera melarikan diri. Bi Lan dan yang lain lain tak dapat mencegah, karena selain mereka merasa jerih terhadap Pak Hong Siansu, juga mereka tercengang dan terkejut menyaksikan peristiwa itu.

Menghadapi serangan jarum jarum berbisa itu hanya sebentar saja Ciang Le dapat bertahan. Sambil berdiri mengertak gigi menahan sakit ia memandang ke arah lenyapnya Pak Hong Siansu dan Ba Mau Hoatsu, kemudian tiba tiba ia mengeluh dan tubuhnya menjadi limbung. Orang yang paling cepat maju adalah Bi Lan Gadis ini merasa kagum kali melihat Ciang Le yang ternyata bukan main tinggi ilmu silatnya. Akan tetapi, ketiga ia menyaksikan kecurangan Pak Hong Siansu, ia menjadi pucat dan kini melihat penuda itu limbung, ia segera melompat dan memeluknya lupa sama sekali akan perasaan malu atau kikuk.

Ketika merasa tubuhnya dipeluk oleh dua lengan yang halus, Ciang Le masih sempat menengok dan tersenyumlah dia ketika melihat bahwa yang memeluknya adalah Bi Lan, akan tetapi hanya sebentar saja ia dapat melihat gadis ini, karena ia lalu roboh pingsan tak sadarkan diri dalam pelukan Bi Lan.

Sementara itu, Wan yen Kan, Ling In, dan Bu Tek sudah melompat mendekati mereka dan semua orang merasa gelisah sekali melihat wajah Ciang Le yang telah menjadi pucat seperti mayat. Tanpa ragu ragu lagi Bi Lan lalu merebahkan tubuh Ciang Le ke atas rumput, dalam keadaan telungkup, merobek baju punggungnya dan memeriksanya. Ternyata bahwa jarum jarum yang tadi dilepas oleh Pak Hong Siansu telah lenyap karena jarum halus itu telah menyusup ke dalam kulit dan bersembunyi di dalam daging!

Kulit punggung Ciang Le yang putih itu nampak kemerahan yang merupakan bintik bintik kecil seperti penyakit cacar. Sama sekali tidak kelihatan lagi jarum jarum itu. Akan tetapi ketika Bi Lan merabanya, gadis ini menarik kembali tangannya dan keningnya berkerut. Bukan main panasnya kulit punggung itu, seakan akan dari situ keluar api bernyala.

Bi Lan pernah ikut Thian Te Siang mo merantau, maka tentu saja ia tahu tentang senjata senjata rahasia dan tentang racun racun senjata rahasia. Akan tetapi menghadapi senjata rahasia yang dipergunakan oleh Pak Hong Siansu ini, dia benar benar bingung. Belum pernah selama hidupnya ia melihat senjata rahasia yang menimbulkan luka luka seperti ini dan yang kini tidak dapat dilihatnya sama sekali. Juga guru gurunya belum pernah bercerita tentang senjata rahasia macam ini. Bi Lan mengerutkan kening, hampir hampir menangis sambil menoleh ke arah tubuh kedua orang gurunya yang masih menggeletak tak bernyawa di dekat situ. Air matanya mulai menitik.

“Bagaimana, sumoi…?” tanya Ling In halus sambil menyentuh pundak sumoinya. Akan tetapi Bi Lan tak dapat menjawab, hanya bibirnya saja gemetar menahan kegelisahan dan kebingungan.

Lie Bu Tek dan Wan yen Kan hanya dapat memandang dengan bingung, karena mereka sendiripun tidak tahu harus berbuat apa. Bi Lan lalu bangkit berdiri dan menghampiri Thian Lo mo yang sudah tidak dapat berkutik lagi. Ia merasa terharu sekali melihat wajah gurunya ini masih nampak seperti orang menderita sakit.

“Suhu, maafkan teecu datang mengganggu jenazahmu, suhu. Suhu… tolonglah dia… tolonglah dia, suhu...” Suara ini menggetar penuh perasaan dan tiga orang muda yang mendengar ini, menjadi terharu. Dari suara, ini saja mereka dapat mengetahui rahasia hati Bi Lan terhadap Ciang Le.

Kemudian Bi Lan dengan tangan tangan, gemetar memeriksa saku baju suhunya di mana ia tahu suka dipergunakan untuk menyimpan bungkusan obat obat yang amat penting. Benar saja, ia mengeluarkan sebungkus kain kuning yang setelah ia buka, terisi bungkusan bungkusan kecil obat obatan. Ia menghaturkan terima kasih kepada jenazah gurunya, kemudian cepat menghampiri Ciang Le yang masih rebah seperti mayat. Setelah membukai semua bungkusan kecil, Bi Lan yang sudah pernah mendapat keterangan dari suhunya tentang khasiat obat obat itu lalu mengeluarkan tiga butir kim tan (seperti pel berwarna kuning emas) dan sebungkus kecil sun hiat san (obat bubuk pembersih darah).

“Suci, tolong carikan air dan dimasak untuk minumkan obat ini. Dan suheng serta suci hu (kakak ipar) harap sudi mewakili aku untuk mengurus dan mengubur jenazah kedua orang guruku.”

Ling In segera pergi memenuhi permintaan sumoinya itu. Adapun Bu Tek dan Wan Kan juga menyanggupi dan kedua orang muda ini kagum sekali melihat sikap dan kata kata Bi Lan yang amat tenang, biarpun gadis itu telah menerima pukulan batin yang hebat. Benar benar seorang gadis yang tidak saja berkepandaian tinggi, namun juga tabah dan tenang sekali. Mereka lalu bekerja menggali tanah untuk tempat menguburkan dua jenazah sepasang iblis kembar itu.

Sementara itu, Ling in sudah selesai memasak air sehingga mendidih. Bi Lan mempergunakan daun lebar untuk mengaduk kim tan dengan air mendidih, kemudian setelah air campuran obat itu menjadi dingin, ia lalu menuangkan obat ini ke dalam tenggorokan Ciang Le dibantu oleh Ling In. Seteiah itu, kembali Bi Lan mencairkan sun hiat sun dengan sedikit air dan menuangkan obat ini pula ke dalam tenggorokan pemuda itu.

Tak lama kemudian, biarpun masih belum dapat siuman, namun air muka Ciang Le agak kemerahan, tidak sepucat tadi dan jalan nadinya sudah kuat kembali. Akan tetapi tubuhnya masih amat panas dan ia masih pingsan. Bi Lan menjaga di dekat Ciang Le dan matanya tanpa berkedip menatap wajah pemuda itu. Kini ia sendiripun tahu bahwa dia telah jatuh cinta kepada pemuda yang oleh tokoh tokoh Hoa san pai dijodohkan kepada nya. Pikirannya melayang dan mengenangkan semua peristiwa yang terjadi semenjak ayah bunda Ciang Le dihukum oleh orang orang Kin dan ayahnya sendiripun menjadi kurban ketika membela mereka sampai pertemuannya dengan Ciang Le. Kini ia tidak merasa ragu ragu lagi bahwa orang aneh yang beberapa kali menolongnya, menolong Bu Tek, menolong guru gurunya sehingga bebas dari pada tahanan, bukan lain adalah pemuda ini juga!

Ia makin cinta kepada pemuda yang kini menggeletak tak berdaya di hadapannya ini, sekarang pemuda yang memiliki kepandaian luar biasa sekali akan tetapi yang tidak bersikap sombong bahkan yang menolong orang tanpa mau memperkenalkan diri. Dan pemuda ini cinta kepadanya! Bi Lan merasa ada hawa panas keluar dari dalam perut memenuhi kerongkongannya, ia merasa girang, terharu, bangga, menyesal dan amat gelisah. Matanya kembali terasa panas dan kalau tidak ditahan tahannya tentu ia akan menubruk dan memeluk serta menangisi Ciang Le. Bagaimana kalau dia mati? Pikiran ini mengganggu batinnya dan baru kali ini selama hidupnya Bi Lan merasa gelisah bukan main.

“Sumoi, galian sudah beres, siap untuk mengubur jenazah guru gurumu,” kata kata Lie Bu Tek ini menyadarkan Bi Lan dari lamunannya.

Ia lalu bangkit berdiri dan setelah sekali lagi ia menengok Ciang Le, ia lalu menghampiri jenazah kedua orang gurunya. Gadis mi membungkuk dan mengambil pedang yang biasanya dipakai oleh Te Lo mo. Ia mengelus elus pedang pusaka ini yang bernama It gan liong kiam (Pedang Naga Bermata Satu). Pedang ini bernama begitu karena gagangnya merupakan bentuk kepala naga yang bermata mutiara besar hanya sebuah karena sebuah lagi kosong, entah disengaja entah sudah lenyap. Bi Lan kenal baik pedang ini karena dulu seringkali ia berlatih silat pedang dengan pedang ini, maka ia lalu menyimpan pedang, itu di pinggangnya.

Kemudian, dibantu oleh Bu Tek dan Wan Kan, ia lalu mengubur jenazah Thian Te Siang mo. Setelah lubang kuburan itu ditimbuni tanah. Bi Lan berlutut di depan kuburan guru gurunya, bersembahyang tanpa hio karena dari mana mereka bisa mendapatkan? Bi Lan mengucurkan air mata dan mengucapkan sumpahnya, “Jiwi suhu, harap jangan penasaran. Teecu bersumpah, bersama dengan koko Ciang Le akan membalas kepada Ba Mau Hoatsu yang membunuh jiwi.”

Juga Lie Bu Tek, Wan Kan dan Ling In kut memberi hormat. Kemudian, teringat akan Ciang Le, Bi Lan kembali berlari ke tempat pemuda itu yang masih rebah miring tanpa dapat bergerak sama sekali. Ia nampak bingung sekali dan Wan Kan menghibur.

“Lihiap... eh, sumoi jangan terlalu berduka. Agaknya obat obat yang tadi kauberikan kepada Go taihiap, sudah banyak menolongnya, sekarang lebih baik kita membawanya ke kota untuk mencari tabib yang pandai.”

“Betul, sumoi. Memang begitulah agaknya jalan terbaik,” Ling In membenarkan kata kata suaminya.

“Kebetulan sekali, aku mengenal seorang tabib pandai di kota Paoting dekat ini. Mari kita membawanya ke sana,” kata Lie Bu Tek.

Beramai ramai mereka lalu menggotong tubuh Ciang Le. Dalam hal ini mereka berebut, yakni antara Wan Kan dan Lie Bu Tek yang mendapat tugas memondong tubuh Ciang Le sungguhpun di dalam hatinya, Bi Lan ingin sekali melakukan tugas ini sendiri. Akan tetapi,tentu saja ia merasa jengah dan malu untuk berterus terang.

Pada saat pertandingan pertandingan berlangsung keadaan di jembatan Liong touw kiauw amat sunyi. Memang jembatan ini adalah jembatan yang berada di luar kota dan biasanya memang sunyi dari lalu lintas umum Apalagi pada saat itu, orang orang telah mendengar bahwa di kota Paoting kedatangan Thian Te Siang mo yang hendak mengadu kepandaian melawan Sam Thai Koksu di jembatan itu, siapa begitu berani untuk mendekati Jembatan Kepala Naga?

Oleh karena itu, sampai rombongan orang muda ini membawa tubuh Ciang Le yang terluka, tak seorangpun penduduk mengetahui atau melihatnya. Dengan cepat mereka memasuki kota Paoting dan langsung menuju ke rumah tabib yang sudah dikenal oleh Lie Bu Tek. Tabib itu she Cia dan lebih terkenal dengan sebutan Cia Sinshe Memang tak dapat disangkal pula bahwa dia memiliki kepandaian tinggi dalam hal pengobatan, karena dia adalah keturunan dari Tabib Besar Cia Sian yang mendapat sebutan Tabib Dewa kurang lebih dua ratus tahun yang lalu.

Selain membuka praktek pengobatan, iapun memiliki sebuah toko obat juga cukup besar dan di kota Paoting namanya amat terkenal. Bahkan pemerintah Kin yang menghargai tabib ini yang banyak menolong pembesar Kin yang menderita sakit, maka rumah tangganya tak pernah diganggu. Akan tetapi, sebenarnya diam diam Tabib Cia ini di dalam hatinya bersimpati kepada para pejuang dan banyak sudah obat obat yang diam diam ia kirim kepada para gerilyawan, obat obat luka dan lain lain.

Pada senja hari itu, ketika ia kedatangan serombongan orang muda yang membawa seorang pemuda yang menderita luka oleh senjata rahasia, ia mengerutkan kening dan beberapa lama ia memeriksa keadaan Ciang Le dengan amat teliti.

“Kalian benar benar berani mati menampakkan diri di kota ini,” katanya mencela Bu Tek dan kawannya. “Kalau ketahuan oleh para pembesar adanya beberapa orang muda Bangsa Han di sini, bukan saja kalian yang akan menghadapi bahaya, bahkan aku sekeluargapun akan mendapat celaka.”

“Sinshe harap tenang. Ada kami di sini yang akan membela kalau sinshe menghadapi bencana. Jangan takut, anjing anjing Kin itu akan mampus di bawah tangan kami!” kata Bi Lan tak sabar. “Harap sinshe suka mengobati kawan kami yang terluka ini cepat cepat.”

Cia Sinshe menghela napas. “Orang muda kau bersikap seakan akan kalian saja yang menjadi pejuang. Hanya aku orang tua yang lemah, berjuang dalam lapangan lain dan berlaku hati hati, tidak seperti kalian orang orang muda yang berkepandaian silat. Sayang sekali, kawanmu ini menderita luka terkena obat racun yang luar biasa dan sukar sekali disembuhkan.”

Semua orang muda itu terkejut sekali, bahkan Bi Lan tak dapat menahan isaknya karena ia merasa gelisah sekali.

“Akan tetapi ada yang aneh,” kata tabib itu setelah memeriksa punggung Ciang Le dan meraba lama. “Menurut perhitungan, racun yang membuat totol totol merah ini akan membinasakan orang dalam waktu singkat. Akan tetapi kawanmu ini masih kuat dan jalan darahnya baik. Benar benar aneh seakan akan ia telah mendapat obat yang mujijat.”

“Aku telah memberinya kim tan dan sun hiat san, sinshe,” jawab Bi Lan cepat cepat

Tabib itu memandang tajam kepada Bi Lan “Hm, dari mana kau memperoleh obat obat seperti itu?”

“Aku adalah murid dari Thian Te Siang mo dan obat itu dari guru guruku itulah.”

Cia Sinshe nampak tertegun lalu mengangguk anggukkan kepalanya. “Kalau begitu masih ada harapan! Tadinya aku sudah putus harapan, akan tetapi setelah ia makan obat obat itu, ia masih akan dapat bertahan selama lima hari lagi. Orang satu satunya yang akan dapat menyembuhkannya hanyalah Kwa Siucai yang tinggal di atas bukit Gin ma san, di dalam hutan pohon pek. Perjalanan ke sana akan dapat dicapai dalam lima hari, maka cepatlah kau pergi ke sana mencarinya. Untuk mengobati kawanmu, dibutuhkan keahlian membedah dan mengeluarkan racun dari punggungnya. Eh, sebenarnya mengapakah ia sampai terkena racun ini?”

Bi Lan lalu menuturkan dengan singkat bahwa Ciang Le terserang senjata rahasia jarum jarum halus yang menyuup ke bawah kulit. Tabib tua itu mengangguk angguk.

“Tepat, harus Kwa Siucai yang menyembuhkan. Jarum jarum itu harus dikeluarkan lebih dulu, baru nyawanya tertolong. Lekaslah kalian berangkat dan bawalah suratku kepadanya.”

Cepat cepat Cia Sinshe membuat surat untuk Kwa Siucai, lalu memberi petunjuk ke mana harus mencari orang yang dikehendakinya itu. Setelah menghaturkan terima kasih, Bi Lan dan kawannya lalu pergi dari situ. Kali ini, tanpa malu malu atau ragu ragu lagi, Bi Lan sendiri yang memondong Ciang Le, karena ia memiliki kepandaian yang tertinggi. Dengan Bi Lan yang menggendong Ciang Le, mereka dapat melakukan perjalanan cepat sekali karena ilmu lari cepat dari Bi Lan sudah demikian tingginya sehingga biarpun ia menggendong Ciang Le, kawan kawannya masih selalu tertinggal di belakang. Andaikata kawannya yang lain yang menggendong Ciang Le, tentu perjalanan akan lebih lambat lagi.

“Cepat… cepat! Kita harus dapat menjumpai Kwa Siucai cepat cepat!” berkali kali Bi Lan berkata kepada kawan kawannya yang masih tertinggal di belakang. Maka mereka mempercepat lari mereka, lupa makan, lupa tidur dan lupa untuk beristirahat. Kalau kawan kawannya sudah nampak lelah sekali, barulah Bi Lan mau mengaso, akan tetapi sedikitpun gadis ini tidak mau makan atau tidur sehingga dua hari kemudian ia sudah nampak pucat dan lemas sekali.

Melihat ini, Bu Tek, Wan Kan dan Ling In menjadi terharu sekali. Lebih lebih Ling In yang sudah tahu bagaimana watak seorang wanita yang sudah mencinta seorang laki laki, yakni setia dan sepenuh jiwanya, seperti cintanya kepada Wan Kan. Dengan lemah lembut Ling In membujuk sumoinya untuk tidur dan makan sedikit, agar tidak jatuh sakit sendiri yang akan membuat keadaan lebih repot dan berat lagi.

Akan tetapi bagaimana Bi Lan dapat tidur atau suka makan kalau melihat keadaan Ciang Le yang masih terus pingsan seperti seorang yang tidur terus atau lebih tepat lagi seperti telah mati? Hanya denyut jantungnya yang lemah saja yang menyatakan bahwa pemuda ini belum mati. Bintik bintik kecil di punggungnya yang tadinya merah itu kini sudah menghitam dan keadaannya benar benar amat menggelisahkan hati.

Ada ada saja terjadi kalau orang sedang mengalami nasib sial. Baru saja Bi Lan dapat tidur sebentar di waktu malam hari di kaki bukit Gin ma san, tiba tiba dikejutkan oleh suara ribut ribut dan ketika gadis ini membuka matanya, alangkah terkejutnya ketika ia melihat tiga orang kawannya tengah bertempur, dikeroyok oleh dua puluh orang lebih pasukan Bangsa Kin yang kebetulan meronda di daerah itu!

Bi Lan menjadi marah sekali, apalagi teringat akan keadaan Ciang Le yang tentu saja merupakan bahaya besar dalam penyerbuan musuh itu. Ia menghunus pedangnya It gan liong kiam peninggalan Te Lo mo, lalu sambil mengeluarkan seruan nyaring ia mengamuk. Bukan main hebatnya sepak terjang gadis ini sehingga sekejap mata saja lima orang telah terbabat mati oleh pedangnya! Juga Ling In dan Bu Tek mengamuk, berbeda dengan Wan Kan yang hanya mempertahankan diri saja. Tentu saja dapat dimengerti bahwa bekas pangeran ini masih merasa tak tega hati untuk membunuh bekas orang orang sendiri, sungguhpun ia tidak dapat membenarkan kedudukan bangsanya.

Sebentar saja, belasan orang serdadu Kin telah dapat ditewaskan dan sisanya menjadi gentar menghadapi amukan Bi Lan, Bu Tek dan Ling In. Larilah mereka cerai berai, meninggalkan kawan kawannya yang terluka atau yang tewas. Bi Lan lalu mengajak kawan kawannya untuk melanjutkan perjalanan di malam hari itu, khawatir kalau kalau akan datang pasukan Kin yang lebih besar sehingga perjalanan mereka terganggu dan terlambat oleh gangguan ini. Pasukan yang menyerang tadi memang datang dari Paoting. Dari mata matanya pasukan ini mendengar akan adanya orang orang muda Bangsa Han yang membawa orang sakit kepada Cia Sinshe. Mereka lalu menyerbu rumah Cia Sinshe dan memaksa tabib ini mengaku.

“Aku tidak tahu apa apa,” kata tabib ini. “Mereka membawa orang sakit dan aku sebagai tabib memilih siapa saja, tidak memandang bulu, kewajibanku menolong siapapun juga yang menderita sakit.”

Setelah membebaskan sinshe ini pasukan itu lalu melakukan pengejaran dengan menunggang kuda. Biarpun demikian, setelah dua hari barulah mereka dapat mengejar dan akhirnya mereka dipukul hancur juga oleh orang orang muda yang lihai itu.

Pada keesokan harinya, tengah hari tibalah mereka di atas bukit dan menurutkan petunjuk yang mereka dapat dari Cia Sinshe, akhirnya mereka bisa mendapatkan hutan pek yang berada di dekat puncak Bukit Gin ma san. Mereka berputar putar mencari Kwa Siucai yang katanya tinggal di tempat itu akan tetapi alangkah kecewa hati mereka ketika tak dapat melihat sebuah pondokpun juga. Selagi mereka kebingungan dan Bi Lan sudah merah lagi matanya karena gadis inilah yang paling gelisah dan cemas, tiba tiba terdengar suara orang bernyanyi dengan suara, parau,

“Alangkah bodohnya manusia.
Diperbudak oleh nafsu mementingkan diri Sendiri belaka!
Tak sadar bahwa nafsu itu Menimbulkan loba dan iri, Mendatangkan marah dengki, Dan loba sifat buruk lagi!”

Bi Lan dan kawan kawannya menengok dan di atas cabang pohon yang rendah di sana duduk seorang berpakaian seperti tosu. Orang ini usianya kurang lebih empat puluh lima tahun dan selain pakaiannya amat bersih, juga tubuhnya terawat baik dan kulit mukanya putih sekali.

Bi Lan yang ternyata cerdas itu tanpa ragu ragu lagi berkata. “Kwa Siucai, kami orang orang muda sengaja datang mencarimu di tempat ini, harap tidak mengganggu kesenanganmu.”

Orang tua itu memandang ke bawah, lalu tersenyum mengejek, “Memulaskan madu pada bibir yang merah! Hm, ya benar, bibir yang merah mengucapkan kata kata semanis madu, seperti tabiat semua manusia. Bersopan sopan dan berlaku manis kepada orang lain hanya dengan perhitungan untuk kepentingan diri sendiri!”

Merahlah muka Bi Lan mendengar ini, juga kawan kawannya senua merasa tersindir. Bukankah mereka jugu selalu diliputi oleh nafsu sebagaimana yang dinyanyikan dan diucapkan oleh orang tua ini? Ling In sendiri, demi cinta kasihnya dan demi kesenangan hati sendiri, tak memperdulikan keadaan Bu Tek dan melupakan perguruannya, rela bermusuhan dan merugikan siapa juga asal keinginan hatinya tercapai. Demikian pula Wan Kan yang rela meninggalkan bangsanya, menyakiti hati orang tuanya hanya untuk menurutkan cinta kasihnya, menurut kata hati dan nafsu mementingkan diri sendiri.

Demikian pula Lie Bu Tek, ia merasa betapa dahulu ia telah setengah memaksa Ling In membunuh Wan yen Kan, bukan semata karena ia benci kepada pangeran musuhnya, melainkan terdorong oleh iri hati dan cemburu, terdorong oleh nafsu mementingkan diri pribadi. Sekarang Bi Lan juga merasa betapa demi kepentingan Ciang Le, yakni orang yang ia cinta sehingga otomatis juga demi kepentingan cinta kasihnya. Ia tidak perdulikan orang lain. Tidak ingat betapa Ling In yang sudah mengandung itu sebetulnya tidak patut dibawa berlari lari seperti itu. Sekaligus nyanyian dan ucapan Kwa Siucai itu mengenai hati mereka, juga mungkin mengenai hati semua orang yang mendengarnya, orang yang sedikitnya mempunyai kejujuran hati untuk mengakui kebodohannya!

“Kwa Siucai, maafkan kami yang muda dan bodoh. Memang kami bukan dewa dan kami manusia biasa yang memiliki kesalahan kesalahan dan kelalaian kelalaiannya. Kami datang hendak memohon pertolonganmu, Kwa Siucai!” kata Bi Lan dengan suara minta dikasihani. “Kwa Siucai, kami membawa surat perkenalan dari Cia Sinshe,” kata Wan Kan yang ikut membujuk.

Akan tetapi Kwa Siucai tidak memperhatikan semua omongan ini. Ia lalu merayap turun dari pohon itu seperti laku seorang anak kecil sambil berkata kepada diri sendiri, “Tak perlu banyak sungkan, aku sendiripun belum terbebas dari nafsu mementingkan diri sendiri. Kalau sudah terbebas, bagaimana aku bisa berada seorang diri di sini?” Setelah tiba di bawah, ia lalu memandang kepada Ciang Le yang berada dalam gendongan Bi Lan dan tiba tiba ia mengerutkan keningnya dan berkata,

“Aah, dia telah terkena racun Ang hong tok (Racun Tawon Merah)!”

Mendengar ini Bi Lan lalu menjatuhkan diri berlutut sambil kedua lengannya masih memondong Ciang Le. “Orang tua yang baik, kau tolonglah nyawanya...” suaranya penuh permohonan dan terdengar mengharukan sekali.

Kakek itu mengangguk angguk, “Ya, ya? ya... aku tahu. Aku tidak menolong, hanya aku harus melakukan kewajibanku. Aku bisa mengobatinya dan kau tidak, kalau kalian bisa, masa datang ke sini? Letakkan dia ke atas tanah, buka baju atasnya dan perlihatkan padaku mana lukanya.”

Dengan girang sekali dan cepat Bi Lan menurunkan Ciang Le. Keringat gadis ini membasahi seluruh tubuhnya karena biarpun dengan kepandaian ia tidak merasa berat menggendong Ciang Le, namun badan pemuda itu telah menjadi panas lagi dan membuat dia pun merasa amat panas. Bi Lan dibantu oleh kawan kawannya lalu membaringkan Ciang Le di atas rumput dalam keadaan telungkup dan membuka pakaian bagian atas. Tubuh Ciang Le yang tegap dan kulitnya yang putih itu kelihatan pucat di atas tanah dan rumput hijau.

Sekali pandang saja Kwa Siucai tahu dan ia berkata perlahan, “Hm. bintik bintik itu telah menghitam Dia tentu terkena senjata rahasia yang halus dan yang masih mengeram di dalam tubuhnya.”

Dengan singkat Bi Lan lalu memberi keterangan bahwa Ciang Le terkena senjata rahasia jarum halus di punggungnya, tanpa ia ketahui berapa banyaknya dan iapun menerangkan bahwa pemuda ini telah ia beri makan kim tan dan sun hiat san.

Kwa Siucai mengeluarkan sebuah mangkok obat dari saku bajunya yang lebar. “Kau buka batang pohon itu dan ambil getahnya yang putih setengah mangkok,” katanya kepada Bi Lan.

Dengan cepat Bi Lan melakukan perintah ini, menghampiri pohon yang ditunjuk oleh orang tua itu. Dengan pedangnya, ia membuka kulit pohon dan benar saja, getah pohon itu putih dan kental, yang mengalir keluar dan ia tadahi dengan mangkok obat tadi sampai semangkok. Ketika ia kembali, sasterawan Kwa itu telah memeriksa nadi tangan Ciang Le dan juga meraba raba punggung dan belakang kepalanya dengan kening berkerut.

Ketika Bi Lan berlutut di dekat Ciang Le sambil memegangi mangkok terisi getah tadi, Kwa Siucai lalu mengeluarkan sebatang jarum perak yang besar. Dengan jarum ini ia mulai menggurat gurat kulit punggung Ciang Le, dibukanya kulit di mana terdapat jarum rahasia. Kemudian ia mencolek getah itu dengan ujung jarum dan dengan getah ini ia berhasil mengambil keluar jarum jarum halus berwarna hitam yang mengeram di tubuh pemuda itu. Getah putih itu amat lekat sehingga jarum jarum halus senjata rahasia Pak Hong Siansu itu melekat pada getah itu dan dapat ditarik keluar dengan mudah. Tak lama kemudian, tujuh batang jarum halus itu telah dapat dikeluarkan semua!

Kemudian dengan jari jari tangannya yang halus, Kwa Siucai lalu mengurut urat urat pada punggung itu dan keluarlah darah menghitam dari luka luka bekas guratan jarumnya. Sampai banyak darah keluar dan setelah darah merah yang keluar, ia menghentikan urutannya. Lalu diperiksanya lagi dada kiri dan kepala Ciang Le dengan amat teliti.

“Nyawanya tertolong. Dia akan sembuh, akan tetapi racun yang amat jahat itu telah mempengaruhi jantungnya dan sebagian bahkan telah mengalir ke dalam otaknya. Baiknya jantung dan otaknya kuat dan kalau tidak ada sesuatu yang mengagetkan hatinya, dalam waktu seratus hari ia akan pulih kembali seperti sediakala.”

Bi Lan menarik napas panjang tanda lega hati mendengar keterangan ini, akan tetapi ia masih penasaran dan bertanya. “Siucai yang baik, bagaimana kalau dia mengalami kekagetan?”

Kwa Siucai mengerutkan keningnya. “Buruk sekali! Jantungnya yang terluka oleh racun itu akan menjadi lemah dan akibatnya, aliran darahnya takkan dapat menahan rangsangan racun pada otaknya sehingga mungkin sekali otaknya takkan bekerja baik!”

“Gila...??” Bi Lan membelalakkan kedua matanya dan mukanya pucat sekali.

Kwa Siucai mengangguk. “Akan tetapi hanya untuk sementara saja. Kalau hatinya merasa terhibur dan tenteram, ia akan dapat menguasai semua itu dan akan sembuh kembali.”

Setelah berkata demikian, Kwa Siucai lalu mengeluarkan bungkusan obat dua macam. Obat pertama berupa bubuk hijau, lalu dicampur dengan getah putih itu dan ditempel tempelkan pada luka luka bekas tusukan jarum di punggung, adapun obat ke dua merupakan pel pel berwarna hitam lalu diminumkan ke dalam tenggorokan Ciang Le. Tubuh pemuda itu lalu dibalikkan terlentang setelah dipakaikan pula bajunya yang tadi dilepas. Dengan amat girang, Bi Lan dan kawan kawannya melihat betapa cahaya muka Ciang Le telah berobah, tidak pucat lagi dan napasnya teratur. Sungguhpun pemuda itu belum siuman, namun hati Bi Lan telah lega.

“Kwa Siucai, dia telah berhari hari tidak makan dan tidak siuman.”

Siucai itu tersenyum. “Kau amat mengkhawatirkan dia, sungguh beruntung pemuda ini mendapatkan perhatian dan cinta kasih begitu besar. Apakah kau calon isterinya?” Di dalam pertanyaan ini saja sudah terbukti kelihaian sasterawan ini. Sekali pandang saja ia bisa tahu bahwa Bi Lan masih seorang gadis yang belum menikah, maka ia tidak bertanya apakah gadis ini isteri dari orang yang sakit, melainkan bertanya apakah dia calon isterinya!

Muka Bi Lan menjadi merah sekali dan ia tidak kuasa menjawab. Kwa Siucai juga tidak mau mendesaknya. “Tunggu saja, sebelum malam tiba, dia tentu akan siuman. Sekarang obat obat itu sedang bekerja, jangan kita mengganggunya. Lebih baik kita bercakap cakap. Kulihat kalian orang orang gagah dan sudah lama aku tidak bertemu orang orang yang boleh diajak bercakap cakap.” Ia lalu menoleh dan ketika memandang kepada Wan Kan, kedua matanya bercahaya.

“Eh, bukankah kau Pangeran Wan yen Kan? Mengapa berada di sini?”

Bukan main kagetnya Wan Kan mendengar ini. Ia cepat menjura dengan hormat sekali dan berkata. “Memang betul, Kwa Siucai. Siauwte adalah Wan Kan dan dahulu memang disebut Pangeran Wan yen Kan, akan tetapi sekarang tidak lagi! Sudah lama sekali siauwte mendengar tentang Kwa Siucai yang terkenal sekali akan karangan karangannya berupa cerita cerita rakyat yang amat digemari orang dan sajak sajak yang indah! Maka siauwte merasa terhormat sekali dapat bertemu di sini, apalagi ternyata bahwa kau orang tua lelah dapat menyembuhkan adik angkatku ini. Kau patut dihormat setingginya!” Wan Kan yang dapat menyesuaikan diri itu tidak mengingat lagi akan kedudukannya sebagai pangeran dan ia lalu berlutut menghaturkan terima kasih, di ikuti cepat cepat oleh Bi Lan yang juga berlutut!

“Cukup, cukup! Mari kita duduk di bawah pohon itu bercakap cakap sambil menanti dia ini bangun. Bagus sekali, orang she Wan, kau berbeda dengan orang orang lain. Kau bilang aku ternama karena cerita cerita karanganku. Hm, mungkin demikianlah bagi orang orang yang jujur, bagi rakyat yang memang benar benar menikmati hasil karyaku. Akan tetapi apakah demikian bagi para bangsawan dan terutama sekali bagi mereka yang menyebut diri sendiri sasterawan sasterawan dan seniman seniman? Ohh, jauh daripada itu, anak muda. Aku dibencinya, dianggap sasterawan murah, bukan... bukan sasterawan, mana bisa dimasukkan dalam daftar sasterawan sasterawan? Aku dianggap orang gila, bahkan dianggap perusak nama kesusasteraan!”

Melihat sikap orang tua ini tiba tiba berobah sedih, semua orang tercengang dan betul betul menganggapnya gila. Sesungguhnya memang Bi Lan dan kawan kawannya kurang mengerti apa yang dimasudkan dengan pernyataan Kwa Siucai yang nampaknya bersungguh sungguh ini. Wan Kan yang pernah mempelajari kesusasteraan, amat tertarik dan bertanya,

“Kalau saya boleh mengetahui, mengapa demikian anggapan mereka itu, Kwa Siucai?”

“Karena mereka itu merasa… iri hati!!”

“Iri hati? Mengapa?” tanya Wan Kan.

“Sebelum aku menjawab pertanyaanmu ini, coba dengarlah beberapa diantara dongeng dongengku, sambil menanti bangunnya pemuda itu. Hendak kulihat apakah orang orang muda yang gagah perkasa juga tertarik dan suka akan dongeng dongeng dan cerita ceritaku atau tidak.”

Setelah berkata demikian, Kwa Siucai lalu mendongeng tentang zaman dahulu kala tentang raja raja lalim, tentang perjuangan rakyat yang tertindas, tentang puteri puteri cantik, tentang pahlawan pahlawan gagah perkasa, dan tentang pendekar pendekar yang berbudi mulia. Caranya menceritakan ini semua, amat indah menarik dengan gaya bahasa yang lemas dan di dalam setiap kalimat mengandung filsafat filsafat hidup yang kalau diceritakan secara begitu saja tentu terasa berat. Dan akibatnya? Semua orang muda itu mendengarkan dengan bengong, amat tertarik sampai mereka lupa akan segala!

Kwa Siucai mendongeng tentang petikan petikan dari ceritera See yu, Sam kok dan lain lain. Diceritakannya tentang See yu yang mengandung penuh perlambang perikehidupan, akan tetapi yang dituturkan dalam dongeng yang amat menarik hati, tentang kepahlawanan dan kecerdikan dalam ceritera Sam kok, dan lain lain. Benar benar ceriteranya ini amat menarik semua pendengarnya dan biarpun Wan Kan sendiri yang pernah membaca cerita ini, merasa amat kagum akan cara siucai itu bercerita.

“Bagaimana pendapat kalian?” tanya Kwa Siucai setelah menamatkan cerita terakhir.

“Bagus sekali “ kata mereka yang tadi mendengar ceritanya.

“Memang indah sekali,” kata Bi Lan.

“Nah, sekarang kukatakan kepada kalian mengapa sasterawan sasterawan yang mengangkat diri sendiri itu merasa benci kepadaku. Mereka tidak becus membuat atau mengarang cerita cerita seperti ini dan timbullah iri hati nya melihat banyak orang menyukai hasil karyaku! Ini timbul dari rasa iri hati dan mementingkan diri sendiri. Mereka itu katanya lebih suka membuat sajak sajak yang dapat dinikmati intisarinya oleh golongan cerdik pandai, kaum bangsawan belaka. Biar seribu orang rakyat sederhana menikmati, mereka tidak memandang mata dan tidak menganggap penting. Namun seorang saja tokoh besar menyatakan kagum atas hasil karya mereka, ah, mereka merasa diayunkan ke puncak! Aku lebih suka mendekati rakyat biar mereka itu membenciku, aku sudah berbahagia kalau sajak sajak dan ceritera ceriteraku disukai oleh rakyat terbanyak, bahkan oleh anak anak sekalipun! Aku memang bekerja untuk menghibur mereka yang dianggap bodoh ini, untuk membimbing mereka sedikit demi sedikit.”

“Mengapa mereka itu bersikap demikian, Kwa Siucai?” tanya Wan yen Kan yang masih merasa penasaran.

“Manusia memang bersifat sombong, suka dipuji pantang dicela. Cela siapa saja dan kau akan menghadapi orang yang membenci dan merasa sakit hati kepadamu, sebaliknya pujilah siapa saja dan kau akan menghadapi seorang yang ramah tamah dan baik, yang selalu berusaha agar hatimu senang dan kau bisa lebih memuji mujinya lagi!”

Waktu akan terlewat cepat sekali apabila orang bercakap cakap dengan asyik. Demikian pun dengan mereka yang duduk di bawah pohon itu. Tak terasa pula matahari telah bersembunyi di balik puncak dan keadaan mulai gelap. Bi Lan yang tak pernah melupakan Ciang Le dan beberapa kali menengok ke arah pemuda yang masih berbaring itu sungguhpun ia sendiri amat tertarik oleh cerita Kwa Siucai, kembali memandang kepada Ciang Le dan dengan girang ia berseru,

“Dia sudah siuman !”

Gadis ini melompat dan menghampiri Ciang Le yang kelihatan bergerak gerak kaki tangannya. Ketika Bi Lan sudah berlutut di dekatnya, nampak pemuda itu membuka matanya, menggosok gosok mata itu, menggeliat dan nampak keningnya berkerut karena terasa sakit sakit pada punggungnya, kemudian meramkan mata lagi dan mulutnya mengeluh.

“Aduh… lapar…!”

Hampir saja Bi Lan terbahak. Ia menahan gelak ketawanya sambil menutupi mulutnya, tertawa terkekeh kekeh dengan air mata bercucuran saking girangnya! Kawan kawannya sudah datang pula di situ dan Ling In yang melihat suaminya ini, lalu merangkulnya dan menangis kegirangan.

“Sumoi, dia selamat...” katanya.

Bi Lan hanya mengangguk angguk, menyusut air matanya lalu tertawa.

“Pertama tama yang disambatinya adalah... perutnya!” katanya dan semua orang tertawa geli mendengar ini.

Mendengar suara orang orang tertawa, Ciang Le membuka lagi matanya dan kini ia terbelalak lebar melihat orang orang itu merubungnya. Ia lalu bangun duduk dan berkata. “Eh, eh... kita dimanakah?” Ia menoleh kepada Bi Lan, lalu teringat akan pengalamannya dan bertanya, “Mengapa kau mengeluarkan air mata, Lan moi? Kita semua selamat, bukan?”

Bi Lan mengangguk angguk dan Wan yen Kan berkata, “Hm, adikku Go Ciang Le, hampir hampir saja kau tewas. Baiknya ada Kwi Siucai yang menolongmu! Kau terluka oleh jarum jarum jahat dari Pak Hong Siansu sehingga kau pingsan sampai tiga hari tiga malam. Sukur Kwa Siucai yang menolongmu sehingga kau selamat dan sembuh kembali.”

Mendengar itu, Ciang Le segera berdiri. Biarpun tubuhnya amat lemah, namun berkat kepandaiannya yang sudah tinggi sekali, ia dapat mempergunakan hawa di dalam tubuh untuk menolak kelemahan ini dan membuat jalan darahnya mengalir cepat. Ketika melihat seorang tua duduk bersila sambil memandangnya dengan tersenyum senyum tak perduli, ia lalu cepat menghampirinya dan berlutut.

“Inkong (tuan penolong), terima kasih atas judi pertolonganmu kepada siauwte,” kata Ciang Le.

Kwa Siucai mengibas ngibaskan tangannya. “Sudahlah, anak muda. Tak perlu segala peradatan kosong ini. Aku tidak menolongmu. Apakah aku ini? Hanya kebetulan saja kekuasaan Thian memilih aku sebagi alat NYA sehingga merupakan sedikit pengertian dalam pikiranku tentang pengobatan. Kau tahu akan kekuasaan Thian? Tentu saja tidak mungkin Thian akan mengulurkan tangan NYA, sehingga kelihatan oleh semua orang untuk menyembuhkan kau! Itu tidak sesuai dengan kebesaran NYA. Kekuasaan Thian nampak di manapun juga, menggunakan segala makhluk dan benda di dunia yang nampak pada pandangan mata ini sebagai alat NYA. Kau berhutang budi? Hendak berterima kasih? Berterima kasihlah kepadaNYA, karena tanpa kekuasaan Thian, aku manusia picik ini bisa apakah?”

Belum pernah Ciang Le mendengar wejangan dan filsafat kebatinan seperti ini yang biarpun sederhana, namun sekaligus membuatnya tunduk dan terharu sekali. “Aduh, orang tua yang budiman. Mendengar kata katamu ini merupakan bahagia yang sama besarnya dengan pengobatan yang kaulakukan untuk menyembuhkan.” Katanya sambil memandang kagum.

Pada saat itu, dari jauh terdengar suara, derap kaki kuda. Kwa Siucai kembali mengibaskan tangannya dan mukanya memperlihatkan sikap jemu dan mengejek. “Barisan berkuda dari pemerintah Kin lagi. Menjemukan benar segala perang perangan bunuh membunuh itu!”

“Jangan khawatir, Kwa Siucai. Ada kami di sini yang akan membasmi mereka,” kata Bi Lan bersemangat.

“Apa kau kata? Tidak boleh ada pembunuhan pembunuhan di depan mataku! Pergilah kalian, akupun hendak menyembunyikan diri.” Kata sasterawan tua yang pandai ilmu pengobatan itu.

“Akan tetapi mereka adalah musuh musuh rakyat, Kwa Siucai!” Bi Lan membantah.

“Siapa perduli urusan musuh musuhan?” bentak Kwa Siucai yang tiba tiba menjadi marah dan kedua matanya melotot. “Baru saja kalian datang minta aku membantu menyelamatkan nyawa satu orang dan sekarang kalian hendak membalasku dengan suguhan banjir darah dan pembunuhan besar besaran atas diri sesama manusia? Apa kalian anggap aku sudah gila?”

Terkejut Bi Lan mendengar ini dan sasterawan itu dengan terpincang pincang telah lari bersembunyi ke dalam semak semak.

“Sudahlah, Lan moi. Kalau pikir pikir, memang kata katanya itu ada betulnya, yaitu dipandang dari sudut perikemanusiaan dan pendiriannya sebagai seorang sasterawan dan ahli pengobatan. Mari kita pergi,” kata Ciang Le yang dibenarkan pula oleh Wan yen Kan.

Maka cepat cepat mereka pergi dari tempat itu untuk menghindarkan pertempuran. Biarpun tubuh Ciang Le masih lemah, namun ia masih dapat mempergunakan ilmu lari cepatnya yang masih tidak kalah oleh Bi Lan, apa lagi oleh yang lain lain!

Setelah mereka berada jauh dari Bukit Gin ma san dan suara derap kaki kuda itu tidak terdengar lagi, baru Bi Lan teringat akan surat dari Cia Sinshe yang ia bawa untuk diserahkan kepada Kwa Siucai akan tetapi yang sama sekali tidak diperhatikan oleh Kwa Siucai. Ia mengeluarkan surat itu dan membukanya. Dan ternyata bahwa surat kosong belaka!

Tentu saja Bi Lan terkejut dan merasa di permainkan oleh Cia Sinshe. Akan tetapi setelah mendengar penuturan mereka semua Ciang Le berkata. “Jangan menyangka yang bukan bukan. Kiraku Cia Sinshe itu tidak mempermainkan. Ia telah kenal baik akan watak Kwa Siucai maka sengaja ia mengirim surat kosong karena tanpa kata kata di dalamnyapun, Kwa Siucai sudah akan tahu maksudnya!”

“Ah, benar benar kukoai (ganjil) watak dari orang orang pandai itu,” kata Bi Lan menarik napas panjang karena ia teringat akan watak watak yang aneh dari orang orang seperti Coa ong Sin kai, Thian Te Siang mo, dan lain lain orang pandai.

Sementara itu, Ling In berkata bahwa ia dan suaminya hendak pergi ke selatan. “Kami sudah bermufakat untuk mencari tempat tinggal di selatan dan hidup dengan tenteram di sana,” kata nyonya muda ini dengan muka merah Ciang Le mengangguk.

“Memang demikian sebaiknya. Wan twako tentu saja tidak mungkin dapat tinggal di daerah ini, di mana bangsanya dan bangsaku main hantam dan bunuh membunuh. Dan juga keadaan isterinya mengharuskan kalian berdua mencari tempat untuk beristirahat.” Kembali Ling In merah, mukanya karena jengah. Ia dan suaminya lalu sekali lagi berpamit, kemudian pergi dari situ, setelah Wan yen Kan memeluk Ciang Le dengan pesanan agar supaya adik angkat itu segera mencarinya di selatan.

“Kami akan tinggal di Biciu,” katanya kepada Ciang Le.

Setelah suami isteri itu pergi, Lie Bu Tek berkata kepada Bi Lan, “Sumoi. Biarlah kita berpisah di sini. Aku pun hendak menyusul Gan sute dan membantunya dalam perjuangan melawan penjajah.

Bi Lan dan Ciang Le menyatakan setuju, maka pergilah Lie Bu Tek, diikuti pandang mata penuh rasa kasihan oleh Bi Lan.

“Kasihan betul twa suheng itu...” katanya menghela napas. “Ia telah kehilangan kegembiraan hidupnya.”

“Kau benar, Lan moi. Akan tetapi siapa tahu akan peruntungan dan nasib manusia. Mudah mudahan saja kelak ia akan menjumpai jodohnya dan mengalami kebahagiaan seperti Wan twako dan isterinya, atau seperti... kita!”

Bi Lan mengerling tajam. “Hm, baru saja sembuh kau sudah mulai lagi!”

“Mulai apa…?” “Menyebut nyebut soal itu.”

“Kau tidak suka mendengarnya?”

“Bukan… bukan begitu, hanya membikin aku menjadi malu saja. Sudahlah, sekarang tugas masih banyak, persoalan itu ditunda saja di dalam hati masing masing. Tahulah kau koko, bahwa biarpun kau sembuh, akan tetapi kau masih dalam bahaya?”

“Apa maksudmu?”

“Menurut Kwa Siucai, biarpun kau sudah sembuh, akan tetapi pengaruh racun itu telah masuk ke jantung dan otak, sehingga selama seratus hari, kau tidak boleh mengalami kesedihan dan kekagetan hebat, kau bisa menjadi… gila. Karena itu terpaksa aku harus mengawani kau selalu dan menjaga agar kau jangan sampai mengalami kaget atau sedih selama seratus hari.”

Ciang Le tersenyum. “Satu satunya yang dapat membuat aku kaget atau sedih dan menjadi gila, hanya kalau kau... menyatakan bahwa kau tidak suka menjadi jodohku! Nah jawablah, kau suka bukan? Awas, kalau kau bilang tidak suka, aku bisa gila, bahkan bisa mati karena sedih.”

Bi Lan cemberut. “Kau anggap main main saja bahaya itu, koko. Kau tidak tahu betapa aku yang cemas dan takut.”

“Eh eh nanti dulu semua kata kata itu Jawablah dulu, suka atau tidak?”

“Kau memang berwatak nakal. Tak kusangka dahulunya kelihatan pendiam sekarang ternyata pandai menggoda orang. Sudahlah, aku terus terang saja suka sekali. Nah, kau boleh merasa puas sekarang.”

Ciang Le memegang kedua pundak gadis itu dan memandang tajam, penuh kasih sayang yang mesra. “Adikku yang baik, jangan kau cemas. Kata kataku tadi biarpun hanya berjenaka, akan tetapi sesungguhnya tidak bohong. Di dunia ini yang dapat membuat aku kaget dan berduka, hanya kalau kau tidak suka kepadaku. Sekarang kau sudah menjawab bahwa kau suka kepadaku, apalagi yang kutakutkan? Aku takkan meniadi gila, percayalah!”

“Sukurlah kalau begitu. Dan sekarang kita ke mana? Menyusul Gan suheng ke Cin an mencari Pak Hong Siansu untuk membalas kecurangannya, atau membantu para pejuang setempat, ataukah kembali dulu mencari kong kong?”

Ciang Le memandang dengan senyum bahagia. Kini wajah Bi Lan dalam pandangan matanya nampak lebih cantik dan manis, benar benar meresap di hatinya dan membuatnya tiada bosannya memandang.

“Lebih dulu pergi mencari… pengisi perutku yang amat lapar! Selanjutnya... bagaimana nanti, terserah kepadamulah. Aku menurut saja!”

Sepasang merpati ini lalu pergi dari situ, mencari makan untuk perut mereka ke sebuah kampung yang berdekatan.

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Mungkin para pembaca sudah lupa lagi akan nama Sin kun Liu Toanio. Dia adalah tokoh Kwan im pai, nenek tua yang kepalanya selalu diikat dengan kain putih, nenek yang amat tinggi ilmu silatnya sehingga mendapat julukan Sin kun (Kepalan Dewa). Dahulu ketika Sam Thai Koksu mengadakan pertemuan dengan orang orang gagah, Sin kun Liu Toanio juga hadir bersama dua orang muridnya kakak beradik Liok Hui dan Liok San. Dulu ketika Bi Lan dikeroyok oleh Sam Thai Koksu dan kawan kawannya, Sin kun Liu Loanio tidak mau membantu oleh karena ia mendengar bahwa gadis itu adalah murid Coa ong Sin kai yang memang terkenal jahat dan di benci oleh semua kang ouw. Kalau saja Bi Lan tidak mengaku sebagai murid Coa ong Sin kai, tentu Sin kun Liu Toanio sudah turun tangan membantunya dan menghajar orang orang Kin, karena Liu Toanio terkenal sebagai orang yang benci sekali pada pemerintah Kin.

Akan tetapi semenjak rakyat memberontak terhadap pemerintah Kin Sin kun Liu Toanio bukan saja membantu pergerakan ini, bahkan ia ikut dengan aktip sekali, mengumpulkan seluruh anggauta Kwan im pai yang jumlahnya ada empat puluh orang lebih, yakni anak anak murid dari Kwan im pai dan dipimpinnya pasukan kecil ini. Biarpun pasukan ini hanya kecil saja, namun jasanya sudah besar. Entah berapa banyak barisan pemerintah Kin sudah dihancurkan oleh pasukan ini. Kedua orang murid yang paling disayanginya, yaitu Liok Hui dan Liok San, membantu dengan penuh semangat sehingga nama Liu Toanio dan dua orang muridnya ini ditakuti oleh barisan Bangsa Kin.

Sin kun Liu Toanio juga sadar akan kekuatan pasukannya yang hanya kecil jumlahnya, maka tiap kali pemerintah Kin mengirim barisan besar untuk membasmi pasukan Kwan im pai ini selalu Sin kun Liu Toanio sudah membawa pasukannya bersembunyi dan pindah ke lain daerah. Siasat gerilya dilakukannya dan biarpun jumlah musuh besar, namun jika disergap pada malam hari oleh pasukan kecil yang rata rata memiliki kepandaian silat tinggi dan terutama sekali amukan Liu Toanio sendiri bersama dua orang muridnya, maka barisan musuh menjadi kocar kacir.

Pada waktu itu, pasukan Kwan im pai yang dipimpin oleh Sin kun Liu Toanio berada di dalam sebuah hutan di Propinsi Shansi di sebelah timur kota Tatung. Berkali kali pasukan ini menghancurkan barisan Kin yang bergerak lewat di daerah itu. Telah lama sekali Sam Thai Koksu menjadi pusing menghadapi gangguan ini dan mata matanya tersebar ke mana mana untuk menyelidiki tempat bersembunyinya pasukan Kwan im pai ini. Akhirnya seorang penyelidiknya melaporkan bahwa pasukan Kwan im pai itu bersembunyi di dalam hutan itu, di sebuah pegunungan yang sukar sekali dinaiki karena daerah itu penuh dengan jurang yang amat dalam dan jalan satu satunya menaik gunung itu melalui jalan kecil di dalam hutan. Oleh karena ini maka kedudukan pasukan kecil itu amat kuat tak dapat diserang dari belakang atau kanan kiri dan pasukan musuh yang melewati di hutan itu, tentu akan diserbu secara bergerilya.

Sam Thai Koksu kali ini tidak mau bekerja kepalang tanggung, lalu menyuruh sepasukan istimewa berbaris memasuki hutan itu dan sambil menyamar, Sam Thai Koksu sendiri memimpin barisan ini. Di sampingnya masih dibantu oleh Suma Kwan Eng, Giok Seng Cu dan lain lain panglima yang berkepandaian tinggi. Bahkan dari belakang, diikuti pula oleh Pak Hong Siansu dan Ba Mau Hoatsu!

Sin kun Liu Toanio Terkena jebakan ini. Melihat adanya barisan Kin, ia segera membawa anak buahnya menghadang dan menyerbu. Kalau saja ia tahu bahwa tokoh tokoh besar itu berada di dalam barisan, tentu ia akan berlaku hati hati dan takkan berani sembarangan menyerbu. Pertempuran hebat terjadi akan tetapi hanya sebentar saja anak buah Kwan im pai kena dibabat dan dihancurkan. Akhirnya tinggal Sin kun Liu Toanio dan dua orang muridnya saja yang masih mengamuk, menghadapi Sam Thai Koksu, Suma Kwan Eng, dan Giok Seng Cu!

“Ha, ha, ha. nenek. Lebih baik kau menyerah saja, mungkin hukumanmu akan lebih ringan. Salahmu sendiri mengapa dahulu kau tidak membantu kami saja!” kata Kim Liong Hoat ong mengejek, sambil mengeroyok nenek itu dengan dua orang adiknya.

“Sam Thai Koksu, tua bangka tua bangka keparat. Jangan kira aku begitu pengecut dan takut mendengar omonganmu yang busuk Majulah untuk kuhancurkan kepalamu bertiga!” bentak Liu Toanio sambil memutar tongkatnya dengan sengit.

Adapun Liok Hui dan Liok San amat kewalahan menghadapi Suma Kwan Eng dan Giok Seng Cu. Suma Kwan Eng yang mata keranjang itu menghadapi Liok Hui yang cantik juga, mempermainkannya dengan kata kata yang kotor sehingga Liok Hui menjadi nekad dan memutar pedangnya secepat angin menyambar. Liok San, pemuda adik Liok Hu yang bertubuh tinggi besar, sebentar saja roboh oleh Giok Seng Cu dan tertawan.

Pada saat keadaan Liu Toanio dan Liok Hu amat terancam, tiba tiba berkelebat dua sosok, bayangan orang dan tahu tahu di gelanggang pertempuran itu nampak sepasang orang muda yang mainkan pedang dengan hebatnya. Mereka, ini adalah Ciang Le dan Bi Lan yang kebetulan lewat di tempat itu dan mendengar suara pertempuran dari jauh lalu berlari mendatangi. Melihat tokoh tokoh Kin sedang mengeroyok nenek itu dan muridnya. Bi Lan berkata, “Koko, mari kita bantu mereka itu dan hancurkan orang orang Kin!”

Ciang Le tidak perlu disuruh untuk kedua kalinya. Begitu pedangnya berkelebat, tongkat bercagak di tangan Suma Kwan Eng menjadi putus dan orangnya melompat ke belakang dengan wajah pucat. Giok Seng Cu yang mengenal pemuda ini, menjadi marah sekali dan cepat maju menyerang dengan senjata rantainya yang ampuh. Segera mereka terlibat dalam pertempuran yang seru sekali.

Adapun Bi Lan cepat membantu Sin kun Toanio, menghadapi Sam Thai Koksu sambil memutar pedangnya dengan gemas sekali. Melihat datangnya bantuan yang kuat ini, timbul kembali semangat Sin kun Liu Tonio, dan bagaikan seekor naga betina ia mengamuk sehingga Sam Thai Koksu tidak mendapat kesempatan untuk mendesak lagi.

“Bagus, nona Hoa san pai, mari kita hancurkan anjing anjing Bangsa Kin ini!” seru Liu Toanio.

Sebaliknya, pertempuran antara Ciang Le yang menghadapi Giok Seng Cu, biarpun berjalan seru sekali, namun sebentar saja terbukti bahwa kepandaian Giok Seng Cu masih belum cukup tangguh untuk menghadapi Pak kek Sin ciang dari Ciang Le. Ia terdesak hebat sekali dan tak berdaya untuk membalas serangan anak muda itu. Suma Kwan Eng yang melihat ini, lalu mengambil tongkatnya yang sudah patah dan membantu Giok Seng Cu. Akan tetapi agaknya dosa dari orang ini sudah terlalu banyak, karena bantuannya ini hanya merupakan bunuh diri baginya. Baru dua jurus ia menyerang, ujung pedang Ciang Le telah mampir di lehernya dan Suma Kwan Eng terhuyung huyung ke belakang lalu roboh tak kuasa bersambat lagi. Urat besar pada lehernya putus dan ia menghembuskan nafas terakhir tak lama kemudian.

Giok Seng Cu benar benar menjadi jerih menghadapi kelihaian Ciang Le dan pada saat gerakan rantainya agak terlambat, sebuah tendangan dari Ciang Le menyerempet pundaknya sehingga tubuh tosu ini bergulingan di atas tanah. Uniknya ia masih mempunyai kecepatan gerakan sehingga ketika ia bergulingan, ia masih mengerjakan rantainya, diputar putar sedemikian rupa melindungi tubuhnya dari serangan selanjutnya.

Akan tetapi Ciang Le tidak perdulikan dia lagi. Sebaliknya pemuda ini lalu melompat dan membantu Bi Lan dan Sin kun Liu Toanio yang masih amat sukar mengalahkan Sam Thai Koksu yang tangguh, yang dibantu oleh tiga orang panglima Kin lain yang kepandaiannya cukup tinggi. Datangnya bantuan ini tentu saja membesarkan hati Bi Lan. Pedang di tangan Ciang Le sebentar saja merobohkan dua orang panglima Kin, dan Bi Lan juga berhasil membinasakan panglima Kin yang ke tiga, Sam Thai Koksu terkejut sekali dan dalam kesempatan ini, Liu Toanio mengerjakan tongkatnya secara istimewa dan terdengarlah pekik Gin Liong Hoat ong, orang ke dua dari Sam Thai Koksu yang terpelanting dengan dada pecah terpukul oleh tongkat Sin kun Liu Toanio!

Kim Liong Hoat ong dan Tiat Liong Hoat eng lalu memberi aba aba kepada anak buahnya untuk maju mengeroyok. Melihat ini Ciang Le cepat meloncat ke arah Liok San, murid Sin kun Liu Toanio yang tadi tertotok oleh Giok Seng Cu untuk membebaskan pemuda ini agar dapat membantu menghadapi pengeroyokan fihak lawan yang besar jumlahnya. Maka mengamuklah mereka semua, Liu Toanio, Bi Lan, Ciang Le, Liok Hui dan Liok San. Banyak anggauta pasukan Kin bergelimpangan tak bernyawa lagi. Menghadapi amukan lima orang gagah ini, pasukan Kin menjadi gentar sekali dan kocar kacir. Akan tetapi pada saat itu, terdengar bentakan nyaring.

“Mundur semua, biarkan pinto membasmi anjing anjing pemberontak ini!”

Dan muncullah Pak Hong Siansu dan Ba Mau Hoatsu! Melihat Ba Mau Hoatsu, musuh besarnya yang telah membunuh Thian Te Siang mo guru gurunya, Bi Lan tak dapat menahan sabarnya lagi. Gadis ini melompat dan menyerbu Ba Mau Hoatsu sambil memaki maki.

“Pendeta bangsat, sekarang tiba saatnya kau harus mampus dalam tanganku!”

Ba Mau Hoatsu tertawa bergelak dan menggerakkan sepasang rodanya menghadapi Bi Lan. “Iblis wanita, di mana mana kau mengacau saja,” jawabnya.

Sementara itu, Liu Toanio dan dua orang muridnya tentu saja tidak mau tinggal diam dan menggerakkan senjata masing masing. Akan tetapi mereka dihadapi oleh Kim Liong Hoat ong, dan Giok Seng Cu! Tentu saja ini merupakan lawan lawan yang amat berat, namun mereka telah nekad untuk berkelahi sampai nafas terakhir. Adapun Ciang Le berdiri berhadapan dan saling pandang dengan Pak Hong Siansu. Pemuda itu memandang dengan mata bernyala nyala, sedangkan Pak Hong Siansu memandang dengan mata menyatakan ragu ragu, heran dan juga malu.

“Pak Hong Siansu, kebetulan sekali kita bertemu di sini untuk melanjutkan pertandingan kita yang terputus karena kecuranganmu yang amat memalukan itu!” kata Ciang Le tersenyum sindir. Kini ia sama sekali tidak sudi menganggap kakek ini sebagai paman gurunya lagi, melainkan sebagai musuhnya yang dibenci.

Merah muka Pak Hong Siansu mendengar sindiran ini. “Anak muda yang sombong, kekalahanmu dahulu itu terjadi karena kebodohanmu, tak usah menyalahkan orang lain. Sekarang akupun takkan bertindak setengah setengah dan takkan mau mengampuni nyawamu lagi!” Sambil berkata demikian, kakek sakti ini lalu menggerakkan sepasang senjatanya tongkat dan tasbeh.

Terulang kembalilah pertempuran yang amat dahsyat antara kakek sakti dan murid keponakannya itu. Seperti juga dulu, tak seorangpun berani atau dapat membantu pertempuran yang hebat ini. Masing masing mengeluarkan kepandaiannya dan kalau Pak Hong Siansu menukar nukar ilmu silatnya dan mengeluarkan kepandaian simpanan dari ilmu ilmu silat aneh yang banyak dipelajarinya, adalah Ciang Le selalu mainkan pedangnya menurut ilmu Silat Pak kek Sin ciang, karena ia maklum bahwa selain ilmu silat khusus yang ia peroleh dari gurunya, Pak Kek Siansu, agaknya tidak ada lain ilmu silat yang dapat bertahan menghadapi Pak Hong Siansu, yang benar benar lihai itu.

Kini Ciang Le berlaku hati hati dan awas sekali menjaga kalau kalau susioknya yang curang itu lagi lagi menggunakan kesempatan untuk menyerangnya secara gelap. Kalau Ciang Le dapat mengimbangi kepandaian Pak Hong Siansu, atau boleh juga dibilang ia berada di fihak lebih unggul sedikit dalam hal tenaga dan keuletan napas, adalah sebaliknya dengan keadaan Bi Lan, Sin kun Liu Toanio dan dua orang muridnya. Bi Lan yang bertempur melawan Ba Mau Hoatsu, terdesak hebat namun gadis ini dengan ilmu pedangnya Thian Te Kiam sut masih dapat mempertahankan diri mati matian dari sepasang roda yang berbahaya dari pendeta Tibet itu.

Yang hebat adalah Sin kun Liu Toanio karena nenek ini menghadapi Giok Seng Cu yang kepandaiannya hebat sekali, tidak berada di sebelah bawah kepandaian Ba Mau Hoatsu. Sebentar saja nenek ini sudah kehabisan tenaga dan hanya mampu mengelak ke sana ke mari tanpa dapat menyerang. Juga Liok Hui dan Liok San sibuk sekali menghadapi gempuran gempuran dari Kim Liong Hoat ong dan Tiat Liong Hoat ong. Mudah diramalkan bahwa dalam beberapa belas jurus lagi mereka ini tentu akan roboh.

Sin kun Liu Toanio yang memutar tongkat secara nekad menghadapi serangan rantai Giok Seng Cu, akhirnya tak dapat mempertahankan diri lagi dan ketika Giok Seng Cu mengayun rantainya menyerangnya dengan sabetan maut ke arah kepala, nenek ini mencoba untuk menangkis dengan tongkatnya. Namun tenaganya lelah lemah dan sambil mengeluarkan suara keras, tongkatnya patah dan rantai itu menyambar kepalanya tanpa dapat dielakkan lagi!

“Prak…!” Nenek itu menjerit dan roboh dengan kepala pecah!

Kemudian Giok Seng Cu meloncat dan membantu Ba Mau Hoatsu mengeroyok Bi Lan! Tentu saja gadis ini terkejut sekali. Menghadapi Ba Mau Hoatsu seorang saja baginya sudah sukar sekali untuk mencapai kemenangan, apa lagi sekarang datang Giok Seng Cu yang demikian lihai. Gadis ini memutar pedangnya dan berkelahi sambil mundur terus didesak hebat oleh kedua orang lawannya.

Keadaannya yang berbahaya ini dapat dilihat oleh Ciang Le karena pemuda ini tak pernah melepaskan perhatiannya itu. Tentu saja ia menjadi gelisah sekali dan hal ini membuat permainan pedangnya kalut. Ia tak dapat menolong kekasihnya karena bagaimana ia dapat meninggalkan Pak Hong Siansu, lawannya yang juga tak boleh dipandang ringan ini? Dengan hati gelisah dan penuh kecemasan, ia melihat betapa Bi Lan terus mundur, didesak oleh Ba Mau Hoatsu yang tertawa tawa mengejek dan Giok Seng Cu yang gerakan rantainya makin lama makin kuat ini.

“Lan moi… hati hati belakangmu…!” teriak Ciang Le ketika ia melihat betapa Bi Lan terus mundur sampai ke tepi jurang!

Namun terlambat. Sepasang roda Ba Mau Hoatsu sudah melayang layang di atas kepala Bi Lan dan rantai dari Giok Seng Cu menyambar nyambar dan menyapu kedua kaki gadis itu. Tak ada jalan lain bagi Bi Lan selain meloncat mundur dan…

“Ciang Le…!” terdengar gadis itu menjerit dan tubuhnya lenyap ditelan jurang yang curam sekali!

“Bi Lan!” Ciang Le sekali meloncat sudah meninggalkan Pak Hong Siansu. Ia menggunakan gerakan Hui niau coan in (Burung Terbang Menembus Mega) dan sekejap mata saja ia sudah tiba di pinggir jurang itu berdiri memandang ke dalam jurang yang tidak kelihatan dasarnya saking dalamnya. Kekagetan dan kecemasan membuat ia berdiri seperti patung dan apa yang dikhawatirkan oleh Kwa Siucai terjadilah! Ciang Le berdiri seperti orang kehilangan semangat sambil menyarungkan pedangnya, pemuda ini terdengar menangis tersedu sedu!

Kesempatan ini dipergunakan oleh Ba Mau Hoatsu untuk mengirim pukulan ke arah punggung Ciang Le dari belakang. Namun pemuda, ini biarpun otaknya sudah terpengaruh oleh racun, ternyata kepandaiannya masih belum lenyap. Ia merasakan adanya sambaran angin dari belakang dan secepat kilat ia membalikan tubuh dan ketika kakinya menendang tubuh Ba Mau Hoatsu terlempar dan terguling guling! Ciang Le tertawa bergelak gelak, kemudian menangis lagi ketika teringat kepada Bi Lan! ia telah menjadi gila.

Ba Mau Hoatsu marah sekali, demikian pula Giok Seng Cu. Kedua orang ini menggerakkan senjata masing masing untuk menewaskan pemuda yang sudah tidak waras lagi otaknya ini. Akan tetapi tiba tiba terdengar bentakan,

“Tahan senjata! Jangan bunuh dia!”

Yang membentak ini adalah Pak Hong Siansu dan baik Ba Mau Hoatsu maupun Giok Seng Cu tidak berani membantah lalu menahan senjata masing masing. Mereka memandang kepada Pak Hong Siansu dengan terheran heran. Belum lama ini, Pak Hong Siansu telah melepaskan senjata rahasia yang membahayakan nyawa Ciang Le dengan maksud membunuh, akan tetapi mengapa sekarang kakek itu bahkan hendak menyelamatkan nyawa pemuda ini dan melarang mereka membunuhnya selagi ada kesempatan baik?

Sebetulnya bukan karena Pak Hong Siansu merasa sayang kepada Ciang Le atau timbul iba hatinya melihat pemuda itu, sama sekali bukan. Kakek ini setelah melihat kepandaian Ciang Le, menjadi gentar juga menghadapi suhengnya, Pak Kek Siansu. Ilmu Silat Pak kek Sin ciang yang diciptakan oleh suhengnya itu betul betul hebat sekali dan ia terus terang saja tidak sanggup melawannya. Baru muridnya saja yang mainkan, begitu hebat, apalagi kalau Pak Kek Siansu yang mainkan ilmu silat ini!

Melihat keadaan Ciang Le yang setelah menderita kaget dan duka mendadak menjadi gila, tahulah Pak Hong Siansu bahwa racun dari jarum jarum hitam nya telah menguasai pemuda ini dan ia mendapat pikiran yang amat baik. Ia tahu dan dapat menduga bahwa kalau Pak Kek Siansu sudah mempercayakan pemuda ini turun gunung dan sudah menurunkan ilmu Silat Pak kek Sin ciang yang amat dirahasiakannya itu, tentu kakek di Bukit Luliang san itu amat sayang kepada Ciang Le. Maka ia hendak menangkap Ciang Le, kemudian menggunakan pemuda ini sebagai alat pemaksa, membujuk suhengnya turun gunung dan membantu pemerintah Kin! Karena sesungguhnya, Pak Hong Siansu sendiri merasa kewalahan menghadapi pemberontakan rakyat yang demikian menggelora.

Demikianlah, setelah mencegah Ba Mau Hoatsu dan Giok Seng Cu membunuh Ciang Le, Pak Hong Siansu sendiri lalu melompat ke arah Ciang Le dan mengancam dengan tongkatnya yang dipukulkan kepada Ciang Le. Pemuda ini yang masih menangis lalu tertawa tawa, melihat tongkat menyambar lalu mengelak, akan tetapi ujung tongkat itu secepat kilat mengurungnya. Karena kini tidak bersenjata lagi, sedangkan kepalanya terasa pening tidak karuan, Ciang Le tidak berdaya menghadapi serangan susioknya dan ujung tongkat dengan tepat menotok jalan darahnya di iga sehingga pemuda itu tersungkur dalam keadaan pingsan.

Pak Hong Siansu lalu menyambar tubuh Ciang Le dan dikempitnya, kemudian ia mengajak semua orang pergi dari situ, juga Liok Hui dan Liok San yang telah tertawan, oleh Pak Hong dibebaskan lagi oleh karena orang tua ini sudah merasa cukup menewaskan guru mereka dan menganggap kedua orang muda iui tidak berbahaya. Kakak beradik she Liok ini ditinggalkan dalam keadaan terluka dan keduanya hanya dapat bersedih dan mengertak gigi melihat guru mereka rebah tak bernyawa lagi!

********************

Kita tinggalkan dulu Ciang Le yang tertawan oleh Pak Hong Siansu yang di tengah jalan menceritakan siasatnya kepada Ba Mau Hoatsu dan marilah kita ikuti nasib Bi Lan yang terjungkal ke dalam jurang yang amat curam itu. Tidak salah kata kata orang bijaksana bahwa siapa yang membela kebenaran, selalu akan dilindungi oleh Thian Yang Maha Kuasa. Demikianpun dengan Bi Lan. Kalau dilihat dari atas jurang, takkan ada seorangpun dapat menduga bahwa orang yang terjatuh ke dalam jurang itu akan dapat bertahan untuk hidup lebih lama lagi. Kalau tidak demikian, kiranya Ciang Le takkan begitu terkejut, putus asa dan berduka sehingga ia terpengaruh oleh racun yang menyerang otak dan hatinya. Jurang mi memang curam sekali, licin dan dalamnya tak dapat diukur karena dari atas tidak kelihatan dasarnya yang tertutup oleh kabut tebal.

Ketika Bi Lan merasa tubuhnya terpelanting dan jatuh dari tempat yang amat tinggi, ia mengulur kedua lengannya dan kedua tangannya, dengan jari jari terbuka menjambret ke kanan kiri. Akhirnya usaha yang terdorong oleh rasa takut dan ngeri ini berhasil, ia dapat memegang sebatang akar pohon yang beruntai di jurang itu, yakni di samping yang menurun. Tubuhnya tersentak kaget, tertahan dari kejatuhan sehingga ia merasa betapa pangkal lengan kanannya seakan akan lengannya itu hampir terlepas dari tubuhnya.

Namun berkat tenaga lweekangnya yang tinggi, ia dapat menggerakkan rubuh diayun sedemikian rupa sehingga ia dapat mematahkan tenaga sentakan itu dan mencegah pegangannya terlepas. Namun ia harus cepat menggantikan angan kanan dengan tangan kiri, karena memang lengan kanannya terasa sakit sekali. Agaknya terjadi salah urat ketika tersentak tadi. Dengan menarik napas dalam dalam, ia dapat menyalurkan darahnya, ke arah lengan kanan yang salah urat itu sehingga rasa panas dan perlahan lahan lengan kanan itu tidak begitu sakit lagi.

Setelah tidak terlalu menderita sakit lagi, barulah Bi Lan memperhatikan keadaan dirinya. Ia bergantungan pada akar pohon yang tidak terlalu besar, yang banyak timbul di permukaan lereng jurang itu, juga banyak pohon pohon kecil tumbuh di situ. Akan tetapi, jalan naik ke atas amat tingginya dan tanah lereng jurang itu ternyata tidak keras dan juga licin karena membasah oleh kabut. Ketika ia memandang ke bawah, Bi Lan yang biasanya tabah sekal itu terpaksa menutup matanya saking ngeri nya. Yang nampak hanya kabut yang perlahan lahan bergerak naik dan selebihnya hitam mengerikan. Ia tidak berani membayangkan betapa nasibnya kalau ia terus jatuh ke bawah.

Tiba tiba akar yang dipegangnya bergerak gerak. Bi Lan cepat memandang dan alangkah terkejutnya ketika ia melihat akar itu mulai terbongkar dari tanahnya! Gadis ini cepat menggunakan tangan kanannya menangkap sebuah akar lain yang berdekatan dan baiknya ia berlaku sigap, karena kalau tidak, tentu ia akan terjerumus ke bawah. Akar yang semenjak tadi menahan tubuhnya itu tidak kuat lagi dan hampir putus.

Bi Lan mengumpulkan segala kekuatannya. Perlahan lahan dan hati hati ia bergantungan dan berpindahan dari akar ke akar atau pohon kecil, terus merambat ke atas. Akan tetapi, oleh karena akar akar itupun amat licin dan keadaan suram suram gelap sehingga mesti berhati hati sekali, maka cara bergerak naik ini amat lambat dan kedua tangannya telah terasa kaku dan pedas pedas. Baru saja beberapa kali berganti pegangan, ketika tangan kirinya menyambar ke atas, dan menangkap sebuah akar yang sebesar lengannya ia merasa betapa akar ini lebih licin lagi dan tidak begitu keras, namun ternyata kuat dan ulet. Hampir saja ia melepaskan tangan kanannya untuk mencari lain pegangan yang lebih tinggi ketika tiba tiba “akar” yang dipegang oleh tangan kirinya itu bergerak dan terdengar suara mendesis yang tajam.

“Ular…!” Bi Lan menjerit kengerian, bukan karena ia takut kepada binatang ini, akan tetapi karena kagetnya melihat kenyataan yang tiba tiba ini dan pula ia merasa geli melihat tubuh ular yang licin itu menggeliat geliat di dalam pegangannya. Saking ngerinya. Gadis ini seketika melepaskan pegangannya dan akar yang dipegang oleh tangan kanannya berbunyi. “Krak!” dan patah! Tubuhnya bergulingan ke bawah!

“Celakalah kali ini!” pikir Bi Lan. Betapapun juga, ia tidak putus harapan dan kedua tangannya menjambret dan memegang apa saja yang dapat disambar. Akhirnya usahanya berhasil dan ia dapat memegang sesuatu dengan tangan kanannya, dan tangan kirinya tersangkut pada ranting yang berdaun, ia girang sekali akan tetapi ia meramkan mata dengan napas terengah engah dan tubuh sakit sakit. Siapa orangnya yang takkan berdebar jantungnya menghadapi maut yang hampir saja merenggut nyawanya ketika ia bergulingan tadi!

Dengan amat hati hati ia mengangkat tubuhnya dan mendapat kenyataan bahwa kebetulan sekali ia berada di lereng jurang yang agak legok sehingga ada sedikit tempat baginya untuk duduk dan beristirahat, yaitu di atas daun daun dan ranting ranting kecil dari tetumbuhan yang menahannya tadi. Keadaan di situ lebih gelap lagi dan ketika tangan kanannya meraba raba, ia mendapatkan bahwa benda yang tadi dipakai bergantung oleh tangan kanannya, di bagian bawahnya amat tajam.

Benda itu tertancap pada akar pohon dan terus menembus ke dalam tanah. Hati Bi Lan berdebar. Sambil meraba raba, ia mendapat kenyataan bahwa benda itu adalah sebuah pedang atau golok! Ia membetulkan duduknya sehingga aman betul, menggunakan tangan kiri berpegang kepada akar, kemudian dengan tangan kanannya ia mencabut senjata itu. Dan apa yang dilihatnya? Bukan lain adalah pedangnya sendiri...!

Thanks for reading Pendekar Budiman jilid 14 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »