Pendekar Budiman jilid 13

Pendekar Budiman Jilid 13

MELIHAT sikap Ciang Le orang itu makin geli. “Boleh, boleh! Siapa akan memukul lebih dulu?”

“Sesukamulah. kalau kau kehendaki, kau boleh memukul dadaku satu kali lebih dulu,” jawab Ciang Le.

Orang itu tersenyum senyum, mengeluarkan suara haha hehe dengan muka geli sekali merasa menghadapi seorang pemuda yang sudah miring otaknya. “Tidak bisa, kalau kau kupukul dulu lalu mampus, bagaimana aku dapat merasakan empuknya tanganmu yang berkulit halus itu? Kau boleh pukul dulu, tidak satu kali, akan tetapi sepuluh kali, kemudian aku ikan membalas sekali saja untuk memecahkan dadamu!” Sambil berkata demikian, Tiat pi him berdiri dengan kedua kaki dipentang lebar, kedua tangan bertolak pinggang dan dadanya melembung karena diisi hawa untuk siap menerima pukulan Ciang Le.

Melihat sikap orang itu, diam diam Bi Lan merasa geli sekali. Tadinya ia telah marah sekali dan ingin meloncat dan menghajar orang kurang ajar itu, akan tetapi melihat sikap Ciang Le, ia tahu bahwa pemuda itu hendak mempermainkan raksasa ini, maka tanpa terasa, gadis ini menggunakan tangan kiri untuk menutupi mulutnya agar ia tidak tertawa geli. Adapun Ciang Le lalu memasang kuda kuda dan kedua tangannya dengan jari tangan terbuka lalu menebak ke arah dada yang melembung itu. perlahan sekali.

“Terimalah pukulanku!” katanya. Kedua tangannya jatuh di dada itu perlahan dan tidak mengeluarkan suara, seakan akan menepuk biasa saja dan orang tinggi besar itu tidak merasa sesuatu, maka ia tertawa bergolak!

“Hayo pukul lagi, sembilan kali lagipun boleh!” katanya.

“Cukup, satu kali saja sudah cukup. Dadamu terlalu keras hingga tanganku terasa sakit!” kata Ciang Le sambil meringis seperti orang merasa sakit.

Tiat pi him benar benar seorang tolol yang tidak tahu diri. Ia tertawa bergelak sampai keluar air matanya, lalu berkata, “Bocah gila, aku kasihan kepadamu. Melihat nona manis itu, biar aku beri ampun kepadamu. Ini bukan waktunya bagiku untuk membunuh orang, hatiku sedang gembira mendapat kawan cantik jelita,” katanya sambil melirik ke arah Bi Lan, seakan akan hendak memamerkan bahwa dia adalah seorang yang baik hati.

“Tidak bisa begitu, kau harus membalas memukulku. Kalau tidak, aku belum mau mengaku kalah dan tidak akan membiarkan kau berlaku kurang ajar terhadap nona itu.” jawab Ciang Le.

Marahlah Tiat pi him. “Kau minta mampus? Nah, terimalah pukulan ini!” Setelah berkata demikian, raksasa ini lalu mengayun kepalan tangan kanannya ke arah dada Ciang Le sekuat tenaga.

“Buk!” Aneh sekali akibatnya! Bukan tubuh Ciang Le yang terlempar atau pecah dadanya, melainkan orang tinggi besar itu yang menjerit kesakitan sambil memegangi dadanya.

“Aduh… aduh… mati aku... aduhh...!” jeritnya sambil berdiri dan jongkok, bagaikan dikeroyok semut berbisa. Ia merasa dadanya sakit sekali, terutama di mana tadi kedua tangan pemuda itu menepuknya dan ketika ia meraba, ternyata tulang tulang iganya terasa sakit luar biasa!

Mana orang kasar itu tahu bahwa tadi Ciang Le telah menggunakan ilmu pukulan yang disebut coh kut ciang, (pukulan melepaskan tulang) yang dilakukan dengan tenaga lweekang secara luar biasa disertai pengetahuan luas sekali tentang duduknya tulang dan urat tubuh lawan. Maka, tanpa terasa, oleh Tiat pi him, tepukan kedua tangannya pada dada lawan tadi telah membuat tulang tulang iga Tiat pi him terlepas sambungannya. Hal ini tidak terasa dan mungkin akan dapat pulih kembali kalau orang kasar ini lalu beristirahat dan tidak mempergunakan tenaga kasar. Akan tetapi ketika ia memukul dada Ciang Le yang tidak terasa oleh pemuda sakti ini, ia menggunakan tenaga gwakang sekuatnya dan karenanya, tulang tulang iganya banyak yang copot sambungannya!

Tiat pi him si raksasa kasar itu hendak melarikan diri, akan tetapi Ciang Le berkata,.. “Kalau kau pergi membawa luka lukamu itu, kau akan mampus dalam waktu sehari semalam!”

Mendengar ini, Tiat pi him menjadi pucat dan rasa sakit itu makin menghebat. Pada saat itu, ia membelalakkan kedua matanya karena terkejut melihat betapa gadis cantik manis, yang tadi duduk tertidur, kini sekali tubuhnya bergerak, gadis itu telah melompat tinggi di atas kepalanya dan sebelum hilang kagetnya, kaki Bi Lan telah menendang kepalannya!

Tiat pi him merasa seakan akan kepalanya disambar petir. Tubuhnya terputar putar dan ia roboh dengan napas empas empis, akan tetapi ia masih dapat melihat tegas betapa gadis itu kini berdiri sambil bertolak pinggang di depannya, ia diam diam mengeluh. Celaka hari ini ia benar benar sial. Tidak saja bertemu dengan pemuda aneh ini, bahkan gadis yang hendak diganggunya itupun memiliki kepandaian yang demikian hebatnya! Ia tidak punya harapan untuk lolos lagi.

“Anjing macam kau harus dibunuh!” terdengar suara gadis itu memakinya dan sekali lagi Bi Lan menggerakkan kakinya. Akan tetapi pemuda itu berkata, “Jangan bunuh dia! Dosanya belum begitu besar untuk dibunuh, bahkan seharusnya kau menyembuhkan luka di tulang iganya!”

Mendengar ini, Bi Lan tidak perduli dan tetap menendang sampai tujuh kali ke arah dada kanan kiri raksasa itu. Ciang Le tersenyum senang, ia maklum, bahwa yang dilakukan oleh gadis itu bukanlah tendangan biasa saja melainkan tendangan berdasarkan ilmu Ciang siang ci twi hwat (Ilmu Tendangan Untuk Mengobati Luka Bekas Pukulan Tangan) yang lihai dan yang hanya dimiliki oleh Thian Lo mo!

Biarpun kini di luar pengetahuannya, tulang tulang iganya telah kembali di tempatnya dan nyawanya tertolong, namun rasa sakit makin menghebat sehingga Tiat pi him berkuik kuik seperti anjing disiram air panas.

“Aduh… ampunkan hamba, taihiap dan lihiap… hamba Kwan Sam berjanji tak berani berlaku kurang ajar lagi...” ratapnya.

“Pergilah, dan biarlah pelajaran ini menginsyafkan kau. Perbuatan jahat di manapun juga pasti akan membawamu ke bencana. Nyawamu tertolong oleh tendangan tadi.”

Girang hati Tiat pi him Kwan Sam mendengar ini, maka ia lalu berdiri sambil meringis ringis dan berjalan terhuyung huyung pergi dari tempat itu.

Ciang Le membalikkan tubuh memandang kepada Bi Lan. Gadis itupun tengah memandangnya dan dua pasang mata bertemu sebentar. “Sumoi…”

“Aku bukan sumoimu, karena kau tidak diakui lagi oleh suhu!” potong gadis itu dengan ketus.

Ciang Le menarik napas panjang dan mengganti panggilannya, “Adik Bi Lan...”

“Sejak kapan aku menjadi adikmu? Kong kongmu bukanlah kong kongku, aku hanya cucu angkat saja, seorang sebatangkara…”

Ciang Le menjadi bingung. “Kalau begitu, kau memang bukan sumoi atau adikku, kau adalah... calon jodoh ku… betul tidak, Lan moi…?”

“Cih! Siapa bilang? Sudahlah jangan banyak cakap, kau menyusulku ada keperluan apakah?”

Ciang Le makin gugup melihat sikap ketus dan galak ini, akan tetapi dalam pandangannya, gadis ini makin manis kalau sedang marah marah. “Lan moi aku bukan menyusulmu, hanya kebetulan saja kita bertemu di sini, kebetulan sekali karena... karena aku memang ingin menyampaikan sedikit perasaan hatiku kepadamu. Orang tuamu telah melepas budi, mengorbankan nyawa untuk membela orang tua ku, hal ini saja sudah membuat aku berterima kasih kepada ayahmu dan kepadamu, dan aku berjanji untuk membalas kebaikan ini sedapat mungkin. Oleh karena itu, terus terang saja, aku... aku merasa bahagia sekali ketika tadi kong kong menyatakan perjodohan kita...“

“Cukup! Jangan bicara tentang jodoh, siapa sudi menjadi jodohmu?”

Pucat wajah Ciang Le mendengar kata kata ini. Ia memandang tajam untuk menyelidiki perasaan hati gadis itu, rupa rupa dugaan timbul dalam otaknya. Apakah gadis ini telah mempunyai seorang pilihan? Akan tetapi Bi Lan tidak mau bertemu pandang secara langsung dengan dia, bahkan pipinya menjadi kemerahan dan bibirnya gemetar.

“Lan moi, mengapa kau agaknya... membenci sangat kepadaku? Apa salahku? Melihat betapa kau masih dapat mengampunkan penjahat tadi dan menolong nyawanya setelah ia bersikap kurang ajar kepadamu, nyata bahwa kau baik budi dan murah hati. Akan tetapi kepadaku… agaknya kau lebih membenci aku dari penjahat tadi. Kenapakah? Apakah urusan perjodohan ini menyakiti hatimu? Kalau demikian, terus terang sajalah Lan moi, aku dapat minta kong kong membatalkan niatnya itu.”

Suara Ciang Le yang tenang, penuh kehalusan budi dan mengharukan itu, membuat Bi Lan terharu juga. Sukar baginya untuk mengeluarkan kata kata, karena ia sendiri sebetulnya bukan benci kepada pemuda ini, juga tidak sakit hatinya mendengar tentang perjodohan itu. Akan tetapi…

“Kau telah mengkhianati suhu, telah meninggalkan mereka dan menjadi murid murtad.” Ketika Ciang Le hendak membantah, Bi Lan tahu bahwa pemuda itu seperti dulu tentu akan memperingatkan kepadanya bahwa dia sendiri sebagai murid Hoa san pai juga telah berguru kepada orang lain, maka ia cepat cepat menyambung kata katanya. “Betapapun juga kedua guruku Thian Te Siang mo yang mengangapnya begitu. Dan aku sebagai murid mereka telah dipesan kalau bertemu denganmu harus memusuhimu, kalau dapat memberi hajaran kepadamu. Kedua suhu amat sakit hati kepadamu Nah, kalau sudah begini soalnya, bagaimana aku bisa... bisa menjadi… jodohmu?”

Berserilah wajah Ciang Le mendengar ini. Ah, pikirnya dalam hati, tak tahunya gadis ini tidak membenciku, agaknya iapun suka kepadaku, hanya saja, ia mengerti bahwa tentu Bi Lan takut akan kemarahan Thian Te Siang mo kalau sampai menjadi jodohnya.

“Terima kasih atas keteranganmu ini, Lan moi. Baiklah, aku akan mencari kedua suhu itu dan akan minta ampun. Aku semenjak masih orok mereka pelihara dan urus, aku tahu betul bahwa di dalam dada mereka tersembunyi hati yang amat baik, sungguhpun mereka menjalani cara hidup liar. Aku percaya dan sudah kenal kepada mereka, pasti mereka suka memberi ampun kepadaku. Setelah kedua orang tua itu mau memberi ampun kepadaku kau... kau tentu takkan keberatan lagi, bukan?”

“Keberatan untuk apa? Apa maksudmu?” tanya Bi Lan dan bibirnya tersenynm mengejek, penuh godaan.

Ciang Le menjadi merah mukanya dan untuk sesaat ia bingung tak tahu harus menjawab bagaimana. “Untuk… untuk …. melanjutkan perjodohan ini tentunya.” Akhirnya dapat juga ia bicara.

Bi Lan mengerling dengan gaya menarik sekali lalu melempar pandang ke samping dan mukanya menjadi makin merah. “Soal itu... bagaimana nanti sajalah. Pertama kau belum mendapat ampun dari ke dua suhu dan ke dua... aku masih belum tahu di mana tingginya ilmu kepandaianmu. Menurut suhu Thian Te Siang mo, setelah aku mempelajari ilmu silat yane mereka ciptakan baru baru ini, kepandaianku lebih tinggi dari pada kepandaianmu. Maka syarat ke dua...” wajahnya makin merah lagi ketika mengucapkan kata kata syarat ini, “kau harus dapat mengalahkan pedangku!”

“Lan moi…!”

“Cukup! Bukan untukmu saja syarat itu? melainkan aku sudah mengambil keputusan takkan sudi menjadi jodoh seorang yang ilmu silatnya tak dapat mengalahkan kepandaianku.”

“Lan moi... kau benar benar keras hati, Lan moi.”

“Dan pula... jangan kau memanggil aku Lan moi seperti itu!”

“Habis bagaimana? Kau boleh dibilang masih sumoiku sendiri, juga mendiang ayahmu adalah suheng mendiang ibuku dan kau diangkat cucu oleh kong kongku pula. Akhirnya…. kau dicalonkan menjadi jodohku! Syaratnya sudah terlalu penuh untuk membolehkan aku menyebutmu Lan moi! Apa sih jeleknya sebutan ini?”

“Bukan sebutannya, bukan panggilannya...”

“Habis, apanya?”

“Cara kau menyebutkan itu… suaramu itu…”

“Mengapa?”

“Terlalu… mesra!”

“Eh, eh! Bagaimana pula ini?”

“Kalau terdengar orang lain kurang pantas, seakan akan diantara kita ada apa apanya!”

Ciang Le tersenyum dan matanya bersinar sinar jenaka. “Bukankah memang ada… apa apanya, Lan moi?” kini suaranya ketika memanggil nama gadis itu mesra sekali!

“Cih...! Tak tahu malu!” kata Bi Lan dengan muka merengut dan gadis ini lalu melompat pergi dan berlari cepat dengan hati... berdebar girang dan penuh kebahagiaan yang ia sendiri tidak mengerti dari mana datangnya Ciang Le tertawa bergelak dan tidak mengejar. Ia tahu ke mana gadis itu hendak pergi ke mana lagi kalau bukan ke daerah utara untuk membahu perjuangan saudara saudaranya? Iapun lalu berlari cepat menuju ke kota raja Kerajaan Kin. Hatinya penuh dengan kebahagiaan dan kerinduan dan ia berlari sambil melamun muluk muluk tentang Bi Lan, gadis yang begitu bertemu telah menarik seluruh jiwa dan hatinya itu.

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Kini kembali kita melihat keadaan Thio Ling In, Lie Bu Tek, dan Gan Hok Seng, murid murid Hoa san pai yang tertawan oleh pasukan Kin. Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, tiga orang murid Hoa san pai ini pada saat menyerang Wan yen Kan di dalam hutan tiba tiba datang serbuan dari tentara Kin yang membuat kawan kawannya banyak yang tewas dan mereka sendiri tertawan.

Mereka dibawa ke kota Cin an dan sesampainya di sana, mereka dimasukkan ke dalam kamar tahanan secara terpisah. Enghiong Hwee koan, rumah perkumpulan orang gagah yang didirikan oleh Sam Thai Koksu memang amat luas dan mempunyai banyak sekali kamar kamar tahanan yang kuat.

Ketika Ling In siuman dari pingsannya, wanita muda ini teringat akan semua kejadian dan ia menangis sedih sekali. Ia tidak menyesal dan sedikitpun tidak takut bahwa dia telah tertawan oleh musuh. Kematian bukan apa apa bagi orang orang gagah yang berjiwa pahlawan, bahkan tewas dalam perjuangan berarti mati secara terhormat. Akan tetapi kalau nyonya muda ini mengingat kembali betapa ia telah menusuk dada suaminya yang tercinta, kalau terbayang kembali dalam ingatannya betapa Wan Kan yang amat dikasihinya itu menggeletak dengan dada berlumur darah karena ia tusuk, hatinya menjadi perih sekali.

“Wan Kan... Wan Kan suamiku... ampunkan aku...” keluhnya berkali kali dan ia menggunakan kedua tangan untuk menutupi mukanya agar bayangan tubuh suaminya yang menggeletak mandi darah itu lenyap dari depan matanya. Namun, makin jelaslah barangan itu sehingga hati nyonya muda ini makin perih dan sakit.

Ling In dikurung di dalam sebuah kamar yang gelap. Penerangan yang masuk hanyalah cahaya matahari yang di antara celah celah ruji besi dari pintu yang tebal dan kuat itu. Kedua kakinya dibelenggu oleh rantai yang kuat dan panjang, dimatikan oleh kunci baja yang besar. Tiada harapan baginya untuk melepaskan diri. Biarpun kedua tangannya bebas namun bagaimana ia dapat membuka kunci itu tanpa anak kunci? Juga tidak mungkin memutuskan rantai besi yang demikian tebalnya. Andaikata ia dapat melepaskan diri dari belenggu kakinya, juga tak mungkin ia dapat membuka pintu setebal itu. Keadaannya sudah tidak ada harapan lagi.

Selagi Ling In merenung dan mengeluh mengabungi kematian suaminya yang dibunuhnya sendiri, suaminya yang amat dicintainya itu, tiba tiba terdengar bunyi pintu bergerit dan perlahan lahan terbukalah pintu itu. Saat itu telah menjelang malam dan cahaya matahari yang tadi mencuri masuk telah terganti oleh cahaya lampu di luar kamar tahanan. Ketika pintu tahanan terbuka mengeluarkan suara bergerit, cahaya lampu ikut masuk mengantar bayangan sesosok tubuh manusia.

Ling In cepat mengangkat muka dan kedua, tangannya siap sedia. Ia tahu akan kejahatan orang orang Kin, tahu akan kebuasan laki laki dan tahu pula akan nasib mengerikan dari tawanan wanita. Namun ia bukan sembarang wanita yang mudah dipermainkan sesukanya oleh siapa pun juga. Lebih baik mati dari pada dipermainkan oleh penawannya dan ia masih mempunyai sepasang tangan yang lihai yang sekali pukul akan dapat meremukkan benak laki laki yang hendak mengganggunya, ia mengira bahwa yang datang tentulah penjaga yang bermaksud tidak baik terhadap dirinya. Maka ia berjaga jaga penuh ketegangan.

Bayangan itu benar seorang laki laki yang cepat masuk ke dalam dan menutupkan kembali, daun pintu cepat cepat. Di dalam gelap, Ling In tidak dapat melihat muka laki laki ini, akan tetapi potongan tubuhnya mengingatkan ia akan seseorang dan ia bergidik kengerian. Kemudian, laki laki itu melangkah maju sehingga mukanya tersorot oleh sinar lampu dari luar. Ling In mendekap mulut sendiri agar tidak mengeluarkan jerit saking ngerinya.

“Ling In, isteriku...” bayangan itu berkata dengan suara penuh kasih sayang, suara yang dikenalnya baik baik di antara seribu macam suara orang lain. Kalau tadinya masih ragu ragu, kini Ling In yakin bahwa yang berdiri di hadapannya adalah suaminya, Wan Kan! Atau lebih tepat, roh dari suaminya yang sudah mati dibunuhnya itu.

Sambil menahan isak tangisnya, Ling In menjatuhkan diri berlutut di depan bayangan itu. “Suamiku, aku tahu kau mati penasaran karena terbunuh oleh isteri yang kau cinta sepenuh jiwamu. Aku mengaku telah berdosa besar sekali, suamiku… akan tetapi itu adalah dorongan tugas suci membela bangsaku...! Sekarang kau datang… untuk membawaku kah? Jangan lama lama, Wan Kan, bawalah aku serta. Aku ikut padamu, Wan Kan... aku ingin mati bersamamu. Mari kita bertiga meninggalkan dunia yang kejam ini” katanya di antara isak tangisnya.

“Bertiga! Apa maksudmu, Ling In?”

“Ya… bertiga bersama… anak kita yang berada dalam kandunganku...”

“Kau sudah mengandung….??” suaranya terdengar penuh perasaan menggetar terharu.

“Dua bulan sudah aku mengandung…. tadinya hendak kusembunyikan sebagai rahasia yang membahagiakan... tidak tahunya kau... kau berobah menjadi pangeran Kin… terpaksa kubunuh...” Ling In tak dapat melanjutkan kata katanya dan menangis tersedu sedu.

“Aduh, Ling In isteriku yang manis…!” Bayangan itu meloncat maju, mengangkat tubuh Ling In dan memeluknya erat erat, “Isteriku…” katanya berkali kali.

Ling In merasa tubuhnya dingin dan bulu tengkuknya berdiri, kemudian ia menggigil. Bagaimana seorang roh atau makhluk halus bisa memeluk begini mesra? Bagaimana ia masih dapat merasakan getaran kedua lengan suaminya, detak jantung di balik baju dan kehangatan jari jari tangan yang membelai rambutnya? Tak mungkin sekali!

“Isteriku, aku… suamimu, Wan Kan... masih hidup. Aku tahu bahwa kau mencintaku bahwa kau takkan dapat membunuhku, aku tahu sejak kumelihat kau menyerangku dengan pedangmu, Ling In.”

“Wan Kan… jadi kau belum... belum mati?”

Wan Kan mencium jidat isterinya penuh kasih sayang. “Sedikit saja selisihnya, ibu anakku. Selisihnya Thian menghendaki kita tetap hidup untuk mengasuh anak kita. Mari, cepat, kubukakan belenggu kakimu.”

Tanpa banyak cakap lagi Wan yen Kan atau Wan Kan lalu menggunakan anak kunci membuka belenggu kaki isterinya. Kemudian ia lalu menarik tangan isterinya itu, dibawa keluar dan dengan tergesa gesa mereka lalu menolong dan mengeluarkan Lie Bu Tek dan Gan Hok Seng dari kamar tahanan mereka. Dengan penuh keheranan namun kekaguman Lie Bu Tek dan Gan Hok Seng melihat bekas musuhnya ini diam diam mereka merasa terharu juga melihat kesetiaan dan kecintaan Wan Kan kepada Ling In.

“Lekas kalian lari! Sudah kuatur bahwa penjagaan pintu kota sebelah selatan dikosongkan pada saat ini. Cepat!” kata Wan Kan.

“Kau harus pergi bersamaku!” kata Ling In.

“Sst, jangan ribut ribut, isteriku. Pergilah kau dengan kawanmu, aku akan menyusul kemudian.”

“Tidak, mati hidup aku harus berada di sampingmu!” Ling In berkukuh sambil membanting kakinya dan berdiri di samping suaminya yang tercinta.

Wan yen Kan memeluk isterinya, penuh rasa bahagia dan terima kasih. “Isteriku, kali ini harap kau jangan ragu ragu dan membandel. Larilah lebih dulu, bagiku mudah saja untuk pergi dan menyelamatkan diri. Yang penting kau dan saudara saudaramu ini yang harus pergi dulu. Cepat, mereka datang...!” Katanya sambil melepaskan pelukan.

“Suci, marilah kita pergi dulu. Suamimu tentu sudah mengatur dan merencanakan semua dengan sempurna!” kata Gan Hok Seng sambil meloncat ke arah selatan bersama Lie Bu Tek.

Beberapa kali Ling In ragu ragu dan menoleh ke arah suaminya, akan tetapi Bu dan Hok Seng menarik tangannya. “Wan Kan… suamiku....” bisiknya.

“Pergilah, Ling In. Tuhan bersamamu dan anak kita…”

Sambil menahan isaknya, Ling In meloncat pergi bersama kedua saudara seperguruannya. Belum lama mereka pergi, terdengar suara ribut ribut di belakang mereka, dari arah tempat mereka ditahan tadi. Hati Ling In tidak karuan rasanya, mengkhawatirkan keadaan suaminya, akan tetapi Bu Tek dan Hok Seng menghiburnya, mengatakan bahwa sebagai pangeran Kin, Wan Kan pasti akan selamat dan tidak ada orang yang berani mengganggunya. Benar seperti yang dinyatakan oleh Wan Kan, pintu kota bagian selatan ini hanya terjaga oleh dua orang saja. Dua orang penjaga ini tentu saja mencoba untuk menghalangi mereka keluar, namun apa artinya dua orang penjaga yang kasar bagi murid murid Hoa san pai? Sekali terjang saja Bu Tek dan Hok Seng dapat merobohkan mereka dan berlarilah tiga orang murid Hoa san pai ini cepat cepat memasuki hutan.

Adapun Wan yen Kan setelah berhasil melepaskan isteri dan saudara saudara seperguruan isterinya, cepat kembali ke kamar istirahatnya sendiri. Pangeran ini seperti diketahui telah menderita luka tusukan pedang isterinya akan tetapi karena tubuhnya kuat dan luka itu hanya luka di daging saja, maka setelah tertolong dan dibawa ke kota Cin an dan mendapat perawatan teliti sekali segera sembuh kembali. Ia amat cinta kepada Ling In, maka sebelum ia berhasil menolong isterinya, ia gelisah bukan main dan sikap isterinya yang memusuhinya jauh lebih menyakitkan hati dari pada pedang yang menyakiti tubuhnya. Akan tetapi sekarang ia merasa bahagia sekali. Ternyata isterinya amat mencintanya pula, bahkan isterinya telah mengandung!

Akan tetapi ia tidak tahu bahwa malapetaka tergantung di atas kepalanya. Perbuatannya menolong para tawanan tadi terlihat oleh seorang penjaga! Tentu saja penjaga ini merasa heran sekali melihat betapa Pangeran Wan yen Kan menolong dan membebaskan para tawanan pada hal ia mendengar betapa pangeran itu hampir terbunuh oleh para tawanan itu! Akan tetapi sebagai seorang penjaga biasa, mana berani ia menegur atau menghalang apa yang dilakukan oleh seorang pangeran yang berkuasa? Dengan cepat penjaga ini lalu berlari lari ke tempat di mana Sam Thai Koksu tinggal dan menggedor pintu pemimpin pemimpin ini. Dengan tersengal sengal ia menceritakan apa yang dilihatnya.

Sam Thai Koksu marah sekali. Orang orang besar ini sudah mendengar peristiwa di kota raja, yakni tentang percekcokan antara sri baginda raja dan Pangeran Wan yen Kan sehingga pangeran itu diusir oleh baginda. Namun tentu saja berita ini ditutup rapat rapat dan tidak tersiar di kalangan pegawai rendah dan rakyat. Hal ini untuk menjaga nama baik kaisar. Amat memalukan kalau terdengar orang bahwa pangeran Kin tergila gila dan hendak memperisteri seorang perempuan Han!

Kini mendengar betapa Wan yen Kan melepaskan para tawanan, mereka menjadi marah, tak pernah disangkanya bahwa perempuan Han yang ditawan itu adalah isteri Wan yen Kan dan kini mereka hanya mengira bahwa Wan yen Kan benar benar berkhianat terhadap pemerintah Kin. Bersama dengan Giok Seng Cu yang kebetulan berada di situ, Sam Thai Koksu menyerbu kamar Wan yen Kan. Dengan sekali tendang saja, robohlah pintu kamar Wan yen Kan oleh Tiat Liong Hoat ong, orang ke tiga dari Sam Thai Koksu. Memang di antara mereka. Tiat liong Hoat ong yang paling marah dan sakit hati atas perbuatan pangeran ini. Seandainya yang dilepaskan oleh Wan yen Kan bukan Ling In, agaknya ia masih takkan semarah itu. Dalam hal ini ada rahasia yang hanya diketahui oleh Tiat Liong Hoat ong, yakni bahwa diam diam ia amat tertarik oleh Ling In yang cantik jelita dan diam diam ia mengandung maksud untuk mengganggu wanita muda cantik ini!

Wan yen Kan terkejut sekali memandang pintu kamarnya jebol. Cepat ia melompat dan mempersiapkan senjata rantainya. Ketika dilihatnya Sam Thai Koksu dan Giok Seng Cu murid Pak Hong Siansu yang muncul dengan maka marah, ia dapat menduga bahwa tentu perbuatannya telah ketahuan orang. Ia tetap berlaku tenang dan melompat turun dari pembaringannya.

“Sam Thai Koksu dan Giok Seng Cu To tiang malam malam datang menggedor pintu ada apakah?” tanyanya.

“Pengkhianat!” Tiat Liong Hoat ong memaki sambil mencabut goloknya dan menudingkan golok itu kepada Wan yen Kan. “Masih banyak tanya lagi? Kau telah melepaskan para tawanan pemberontak, bukankah ini berarti bahwa kau juga menjadi pemberontak dan pengkhianat!”

“Tiat Liong Hoat ong, kau hanya seorang koksu berani berkata demikian terhadap putera kaisar junjunganmu?” Wan yen Kan balas membentak ketika melihat betapa Kim Liong Hoat ong dan Gin Liong Hoat ong juga Giok Seng Cu agaknya masih malu malu dan ragu ragu memandangnya, karena mengingat berhadapan dengan seorang pangeran. Pemuda ini hendak mempergunakan kedudukannya untuk menggertak dan membela diri.

“Biarpun kau seorang pangeran, namun kau telah berkhianat dan setiap orang pengkhianat harus dibunuh! Kau telah berlaku khianat, melepaskan tawanan tawanan pemberontak berbahaya, apakah itu belum cukup?”

“Semua perbuatanku kalian tak berhak mencampuri! Kalau aku bersalah, biar ayah kaisar sendiri yang memutuskan hukumannya, tidak orang orang seperti kalian. Keluar dari sini!”

Kim Liong Hoat ong, Gin Liong Hoat ong dan Giok Seng Cu saling pandang dengan ragu ragu. Mereka masih sangsi untuk turun tangan terhadap Pangeran Wan yen Kan. Akan tetapi Tiat Liong Hoat ong berseru marah.

“Hukuman terhadap seorang pengkhianat tak perlu menanti keputusan kaisar! Kami sendiri berhak menghukummu!” Setelah berkata demikian, ia menggerakkan goloknya hendak menyerang.

Wan yen Kan menangkis dan berseru, “Setidaknya tunggu kalau suhu sudah pulang.”

Ucapan ini membikin empat orang tua itu makin ragu ragu. Pangeran ini adalah murid dari Ba Mau Hoatsu yang datang dari Tibet khusus untuk membantu mereka, dan kalau sampai mereka turun tangan terhadap muridnya. Apakah Ba Mau Hoatsu tidak akan marah? Juga Tiat Liong Hoat ong merasa ragu ragu dan menahan goloknya. Kesempatan ini dipergunakan oleh Wan yen Kan untuk menerobos lewat dan keluar dari kamarnya yang sempit. Ia pikir kalau harus bertempur, lebih tidak memilih ruangan depan yang lega agar ia mendapat kesempatan melarikan diri.

Akan tetapi empat orang itu cepat mengejarnya dan baru saja Wan yen Kan tiba di ruangan depan ia telah dihadang oleh empat orang ini “Kau hendak lari ke mana?” bentak Tiat Liong Hoat ong.

“Siapa mau lari? Aku memilih tempat luas ini agar dapat melayani kalian orang orang yang berlaku kurang ajar terhadap seorang putera kaisar!”

Kim Li mg Hoat ong kini membuka mulutnya. “Siauw ong ya, harap kau tidak salah faham. Sungguhpun Tiat Liong Hoat ong bersikap kasar terhadap siauw ong ya, namun tentu kau dapat memaklumi hal ini. Kau telah membebaskan tiga orang tahanan pemberontak dan tentu siauw ong ya mengerti bahwa mereka adalah murid murid Hoa san pai yang berbahaya. Kalau bukan Siauw ong ya yang melakukan hal ini, tentu kami sudah turun tangan dan membunuhmu tanpa banyak cakap lagi. Akan tetapi dalam hal ini kami harap siauw ong ya suka mengalah dan menyerah. Kami akan menangkapmu dan selanjutnya akan kami serahkan kepada suhumu dan juga kepada kaisar sendiri.”

Mereka semua tidak tahu bahwa baru saja ada bayangan yang luar biasa cepat gerakannya melayang di atas genteng dan kini bayangan ini mendengarkan percakapan mereka dengan penuh perhatian. Dan bayangan ini bukan lain adalah Go Ciang Le yang tiba di Cin an lebih dulu karena ia mempergunakan jalan lain dari Bi Lan dan ilmu lari cepatnya juga jauh lebih menang. Kini ia mendengarkan dengan heran dan penuh perhatian percekcokan antara orang orang Kin ini.

Wan yen Kan tahu bahwa kalau ia menyerah dan ditawan, maka keputusan hukuman yang akan dijatuhkan oleh ayahnya sendiri tentulah hukuman mati! Juga ia sudah mengenal watak suhunya, yang keras dan sombong. Tentu suhunya akan merasa tersinggung dan malu mendengar akan perbuatannya dan dari fihak gurunya, sukarlah diharapkan pertolongan. Maka ia berlaku nekad dan berkata dengan keras,

“Sam Thai Koksu, dengarlah baik baik! Wanita murid Hoa san pai yang kalian tawan itu kubebaskan tadi, bukan lain adalah isteriku sendiri! Dan dua orang lain adalah saudara seperguruannya. Bagaimana aku tega melihat isteri sendiri dan saudara saudaranya akan dihukum mati? Aku tahu bahwa memang dipandang dari sudut kebangsaan, aku telah berlaku khianat, akan tetapi dipandang dari sudut perikemanusiaan, kalian tentu tahu bahwa aku tak dapat berbuat lain. Sekarang terserah kepada kalian, kalau kalian melepaskan aku, aku akan pergi ke selatan dan takkan kembali lagi, tak sudi memusingkan diri dengan urusan pemerintahan dan peperangan. Kalau kalian memaksa hendak menawanku, majulah dan biar aku melawan dengan napas terakhir!”

Mendengar pengakuan ini, Sam Thai Koksu dan Giok Seng Cu tercengang dan terheran sehingga mereka tak dapat berkata kata. Kemudian Kim Liong Hoat ong yang berkata, “Kami dapat memaklumi keadaanmu, siauw ong ya. Akan tetapi kalau kami melepaskan kau, berarti kami juga berkhianat dan kami tidak mau berlaku khianat. Maka harap kau suka menanti sampai datang keputusan dari kaisar sendiri.”

“Tidak, sekarang juga aku harus pergi dari sini.”

“Kalau begitu, kami harus menghalangimu,” jawab Tiat Liong Hoat ong.

“Bagus, hendak kulihat bagaimana kalian dapat menghalangiku,” seru Wan yen Kan yang cepat meloncat hendak pergi. Akan tetapi, golok di tangan Tiat Liong Hoat ong berkelebat di hadapannya sehingga terpaksa pangeran ini harus mengelak dan membalas serangan ini. Sebentar saja pangeran ini dikeroyok oleh Sam Thai Koksu dan Giok Seng Cu. Mereka merasa perlu mengeroyok karena mereka tidak hendak membunuh atau melukai pangeran ini, melainkan hendak menangkap hidup hidup. Dan hal ini bukanlah pekerjaan yang mudah, karena kepandaian Wan yen Kan bukannya rendah.

Kalau sekiranya mereka mau merobohkan Wan yen Kan dan melukainya, kiranya dalam beberapa jurus saja pangeran itu akan roboh. Akan tetapi, biarpun demikian, desakan dari empat orang tua yang berkepandaian tinggi itu sebentar saja membuat Wan yen Kan mandi keringat dan kepalanya pening. Luka di dadanya akibat tusukan pedang Ling In belum sembuh benar dan lawan lawan yang dihadapinya memiliki kepandaian amat tinggi. Apa lagi tosu itu, Giok Seng Cu murid Pak Hong Siansu!

Kepandaian tosu ini bahkan tidak kalah oleh suhunya sendiri, Ba Mau Hoatsu, maka dapat dibayangkan betapa sibuknya Wan yen Kan mencoba untuk mencari jalan keluar. Ia maklum bahwa kalau sampai tertawan, tidak saja ia akan dihukum mati, akan tetapi juga ia akan menderita malu dan ejekan hebat. Namun, kematian baginya bukan soal berat lagi karena ia teringat bahwa isterinya telah selamat dan bahwa kelak anaknya akan melanjutkan riwayatnya.

“Kalian menghendaki nyawaku? Baiklah, akan tetapi aku tidak sudi mati di tangan orang lain!” Setelah berkata demikian, pangeran yang malang ini lalu menggunakan senjata rantainya untuk dipukulkan ke arah kepalanya sendiri sekuat tenaga! Sam Thai Koksu dan Giok Seng Cu terkejut sekali, akan tetapi mereka tidak keburu turun tangan mencegah perbuatan yang nekad dari Wan yen Kan!

“Keliru sekali jalan sesat itu diambil!” tiba tiba terdengar suara orang dan bayangan yang amat gesit menyambar ke arah Wan yen Kan dan tahu tahu rantai yang mengancam kepala pangeran itu telah berpindah ke dalam tangan seorang pemuda baju kembang yang semenjak tadi diam diam mengintai dari atas genteng!

Ciang Le yang mendengar semua percakapan terakhir tadi, terkejut ketika mengetahui bahwa pemuda yang tampan dan gagah itu adalah Pangeran Wan yen Kan yang telah menjadi suami dari murid Hoa san pai! Ia kagum sekali melihat Wan yen Kan dan mendengar bicaranya yang penuh perikemanusiaan dan cinta kasih terhadap isterinya, maka melihat pangeran itu hendak membunuh diri cepat ia menolong dan merampas rantainya. Melihat pemuda ini, bukan main marahnya Giok Seng Cu.

“Setan, kau lagi datang mengacau?” bentaknya dan secepat kilat ia mencabut senjatanya yakni rantai baja yang lihai. Tadi ketika menghadapi Wan yen Kan, ia tidak mempergunakan senjatanya ini.

Ciang Le tersenyum dan ia memutar rantai yang dirampasnya dari tangan Wan yen Kan tadi untuk menangkis. Terdengar suara keras sekali dibarengi berpijarnya bunga api dan rantai di tangan Giok Seng Cu terlepas dari pegangan!

“Mari kita pergi!” seru Ciang Le kepada Wan yen Kan yang semenjak tadi berdiri tertegun. Juga Sam Thai Koksu yang sudah merasai kelihaian tangan Ciang Le, ragu ragu untuk maju menyerbu. Ketika pangeran Kin itu mendengar ajakan ini, ia cepat meloncat ke dalam gelap dan melarikan diri.

Ciang Le tidak mau membuang waktu lagi, segera menyusul Wan yen Kan dan Giok Seng Cu bersama Sam Thai Konsu tidak berdaya mengejar, mereka memang sudah merasa jerih sekali menghadapi pemuda baju kembang yang memiliki kepandaian luar biasa.

********************

Pada keesokan harinya, pagi pagi sekali nampak dua orang muda berjalan perlahan di dalam hutan. Mereka adalah Wan yen Kan dan Ciang Le. Pangeran itu tiada hentinya memuji Ciang Le.

“Taihiap siapakah dan mengapa sudi menolong seorang pangeran Kin seperti aku ini?” tanyanya ketika mereka telah keluar dari kota Cin an dan telah selamat berada di dalam hutan.

Ciang Le tersenyum. “Bukan orang jauh, apa lagi karena kau telah menjadi suami dari seorang murid Hoa san pai dan telah menolong murid murid Hoa san pai dari tawanan. Aku bernama Go Ciang Le dan tentu kau akan mengenal nama ayahku yaitu Go Sik An.”

Terbelalak mata Wan yen Kan memandang. “Apa…? Go Sik An yang dahulu terkenal menentang pemerintah ayahku dan kemudian dihukum mati?? Dan kau sekarang bahkan menolongku dari bahaya maut?”

Ciang Le mengangguk. “Benar dia. Akan tetapi, yang membunuh ayahku bukanlah kau dan melihat sikap dan mendengar percakapanmu tadi, kau tidak sama dengan orang orang kejam bangsamu yang menindas rakyat, biarpun kau seorang pangeran. Karena itulah maka kuanggap kau sebagai seorang gagah yang patut ditolong.”

“Aneh, benar benar kau seorang pemuda aneh...” kata Wan yen Kan.

“Kau yang lebih aneh, siauw ong ya...”

“Jangan sebut aku siauw ong ya, sebut saja namaku, bukan Wan yen Kan, akan tetapi Wan Kan. Cukup kau menyebutku Wan twako (kakak Wan) saja. Dan kau bilang aku lebih aneh, bagaimana maksudmu?” Wan Kan suka dan tertarik sekali kepada Ciang Le, ia memandang wajah yang tampan dan gagah itu penuh kekaguman. Seorang pemuda yang “berisi” lahir batinnya, pikir pangeran ini.

“Kau memang lebih aneh dari padaku, Wan twako,” kata Ciang Le yang juga merasa cocok dan suka kepada pangeran ini. “Kau seorang pangeran yang berkedudukan tinggi, biasa hidup dalam kemewahan dan kesenangan. Akan tetapi… kau berbeda dengan bangsamu, lebih suka hidup menderita dan sengsara, demi untuk berkorban guna isterimu yang tercinta, isteri seorang Bangsa Han. Bukankah ini ajaib sekali?”

Wan Kan menarik napas panjang. “Kau masih muda, taihiap. Mana kau mengerti dan dapat merasakan pengaruh dari cinta yang murni? Kalau aku tidak bertemu dengan Ling In isteriku, agaknya biarpun aku tidak suka melihat sepak terjang para pembesar bangsaku, aku takkan sampai berlaku senekad ini...”

Merah muka Ciang Le mendengar ini. Kata kata ini mengingatkan ia akan Bi Lan! Alangkah bahagianya kalau ia dan Bi Lan dapat menjadi suami isteri penuh cinta kasih seperti Wan Kan dan Ling ini. “Kau seorang baik dan berbudi mulia, Wan twako…”

“Karena kau lain dari pada yang lain maka kau bisa berkata demikian, Go taihiap. Akan tetapi, seluruh bangsamu, tentu mengutukku sebagai seorang musuh besar. Bahkan saudara saudara seperguruan Ling In sendiri amat membenciku, dan isteriku sendiri pernah mencoba untuk membunuhku…”

Berobah wajah Ciang Le. “Apa?!? Mengapa begitu...??”

Wan Kan mengajak Ciang Le duduk di bawah pohon dan pada pagi hari itu pangeran ini menceritakan semua pengalamannya, bagaimana Ling In dengan terpaksa sekali mencoba untuk membunuhnya. Mendengar semua penuturan ini, Ciang Le merasa amat terharu.

“Kasihan sekali kalian suami isteri yang malang...” komentarnya. “Akan tetapi jangan khawatir, Wan twako. Aku akan membantumu, akan kujelaskan kepada semua orang Han bahwa kau berbeda dengan orang orang Kin yang telah memeras rakyat. Kau kuanggap sebagai saudaraku terdiri, sebagai seorang Han juga karena aku yakin akan kebersihan hatimu.”

Wan Kan merasa terharu dan ia memegang lengan pemuda baju kembang itu dengan mata basah “Ciang Le... kalau aku mempunyai adik seperti kau… alangkah akan senang hati ku...”

“Mengapa tidak? Apa salahnya kalau aku menjadi adikmu, Wan twako?”

“Benar benarkah? Kau sudi mengangkat saudara dengan aku, seorang pangeran Bangsa Kin yang sudah banyak membikin sengsara bangsamu?”

“Bukan kau yang membikin sengsara, juga bukan Bangsa Kin, melainkan pemerintah Kin! Kejahatan sesuatu negara bukan dilakukan oleh bangsanya melainkan oleh pemerintahnya? Antara bangsa dan bangsa tidak ada perbedaan faham semua menghendaki keamanan, kesejahteraan dan hidup makmur dan damai! Kita sama sama hidup merasai suka duka yang sama pula.”

“Aduh, adikku... adikku yang bijaksana… terima kasih,”

Wan Kan dan Chng Le lalu berlutut dan bersumpah menjadi saudara angkat. Wan Kan yang lebih tua menjadi saudara tua dan Ciang Le menjadi saudara muda. Dua orang asing yang pertama kali bertemu telah saling tertarik dan bersimpati, memang hal demikian ini banyak terjadi di dunia ini. Agaknya kalau mau mempercayai hukum karma, dalam kehidupan dahulu kedua orang ini memang telah mempunyai hubungan yang amat dekat, siapa tahu?

“Berbahagia sekali hatiku Go te (adik Go), mempunyai seorang saudara muda seperti kau. Mudah mudahan saja aku dapat membawa diri sebagai seorang saudara tua yang tidak mengecewakan hatimu.”

“Dan aku akan berusaha menjadi seorang saudara muda yang baik, Wan twako,” jawab Ciang Le yang didengar dengan penuh perhatian dan amat tertarik oleh Wan Kan.

“Ah, ternyata kau telah mengalami banyak hal hal yang pahit selama hidupmu, adikku. Semoga saja kelak kau akan menemui kebahagiaan seperti aku yang telah bertemu dengan Ling In. Hal ini benar benar kudoakan, karena kau telah merampas nyawaku dari cengkeraman maut. Kalau tidak ada kau, tentu sekarang aku telah menggeletak dengan kepala pecah oleh senjataku sendiri ini.” Wan Kan meraba raba rantainya yang sudah dikembalikan oleh Ciang Le.

“Itu hanya kebetulan saja, twako dan agaknya Thian memang belum menghendaki kau kembali ke asalmu. Baiknya ketika aku tiba di Enghiong Hweekoan, susiokku Pak Hong Siansu dan juga Ba Mau Hoatsu gurumu itu tidak berada di sana. Kalau mereka berdua ini ada di sana belum tentu kita akan dapat meloloskan diri.”

“Ah, mereka sedang pergi untuk mewakili Sam Thai Koksu menghadapi Thian Te Siang mo.”

Ciang Le terkejut sekali mendengar ini. “Mengapa? Ada keperluan apakah Sam Thai Koksu dengan kedua orang tua itu?”

“Ah, belum tahukah kau, Go te? Sudah lama Sam Thai Koksu menyiarkan tantangan bertanding kepada Thian Te Siang mo dan akhirnya hal ini terdengar agaknya oleh Iblis Kembar itu karena mereka mengirim berita kepada Enghiong Hwee koan bahwa mereka menanti kedatangan Sam Thai Koksu untuk berpibu (mengadu kepandaian).”

“Dan San Thai Koksu tidak berani maju sendiri lalu mewakilkan pibu itu kepada susiok Pak Hong Siansu dan gurumu Ba Mau Hoatsu? Alangkah pengecutnya!”

“Terus terang saja, adikku, tantangan itu hanya siasat untuk membangkitkan amarah kedua orang kakek itu sehingga mereka mau muncul untuk ditewaskan, karena Sam Thai Koksu menganggap mereka sebagai orang orang berbahaya,” kata Wan Kan yang sesungguhnya memang tidak setuju akan siasat siasat licik dan rendah dari Sam Thai Koksu.

“Di mana pertemuan itu diadakan?” tanya Ciang Le tiba tiba.

“Di jembatan Liong thouw (Kepala Naga) yang menyeberangi sungai di kota Paoting.” kata Wan Kan yang mengetahui jelas persoalan itu karena ketika hal itu dibicarakan ia masih berada di Enghiong Hweekoan.

“Kalau begitu, aku akan menyusul ke sana kalau perlu menolong kedua orang guruku itu. Mereka takkan dapat menang dari susiok Pak Hong Siansu!” kata Ciang Le yang segera bangkit berdiri.

“Aku ikut pergi, Go te. Biar aku akan membujuk Pak Hong Siansu dan Ba Mau Hoatsu mengingatkan mereka bahwa sesungguhnya tidak ada perlunya bermusuhan dengan orang orang Han. Kelak aku boleh menyusul isteriku,” kata Wan Kan.

Berangkatlah keduanya dengan cepat menuju ke kota Paoting. Akan tetapi, kebetulan sekali mereka bertemu dengan Bi Lan yang mengakibatkan pertempuran hebat! Mereka sedang berlari dalam sebuah hutan berikutnya ketika tiba tiba mereka melihat seorang gadis cantik datang dari depan Melihat gadis ini Ciang Le berdebar hatinya dan ia berkata kepada Wan Kan sambil menunda larinya.

“Wan twako, harap kau jangan melayani dia kalau dia menyerang. Dia adalah sumoi dari isterimu dan... dan dia adalah... calon jodohku....”

Wan Kan memandang dengan tertarik dan gembira sekali. Ketika Bi Lan sudah datang dekat, diam diam Wan Kan harus mengakui bahwa pilihan hati adik angkatnya benar benar tepat. Bi Lan seorang gadis muda yang cantik jelita dan sikapnya gagah sekali. Sebaliknya, Bi Lan merasa terkejut dan terheran melihat Ciang Le datang bersama seorang pemuda yang dikenalnya sebagai Pangeran Wan yen Kan!

Dia memang pernah melihat pangeran ini dan tahu bahwa pangeran inilah yang telah menjerumuskan sucinya Thio Ling In, sebagaimana yang ia dengar dari Gan Hok Seng suhengnya. Maka marahnya bukan main melihat musuh besar ini. Wan yen Kan selain merusak kehidupan Ling In dan Lie Bu Tek, juga dia adalah seorang pangeran Bangsa Kin yang sedang ditumpas oleh rakyat, bagaimana sekarang Ciang Le dapat berjalan bersama seperti dua orang sahabat baik?

“Lan moi...” kata Ciang Le akan tetapi sebelum ia sempat melanjutkan kata katanya Bi Lan memotong cepat dengan pertanyaan yang kaku.

“Apakah orang ini bukannya Wan yen Kan, pangeran Kin?”

Dipandang secara tajam oleh sepasang mata yang jeli itu, mau tidak mau Wan yen Kan merasa keder juga. Bukan kepandaian gadis ini yang membuatnya jerih, melainkan sikapnya yang galak. Soal kepandaian Bi Lan, karena ia hanya diberi tahu oleh Ciang Le bahwa gadis itu adalah sumoi dari isterinya tentu kepandaiannya tidak berapa hebat. Wan Kan mengangkat kedua tangan memberi hormat dan menjawab pertanyaan itu.

“Benar dugaanmu, nona. Akan tetapi sekarang aku adalah Wan Kan, suami dari sucimu Thio Ling In dan juga saudara angkat dari adikku Go Ciang Le ini.”

Untuk sejenak Bi Lan tertegun, ia sudah tahu bahwa Pangeran Wan yen Kan menjadi suami Ling In dan mempergunakan nama Wan Kan, akan tetapi berita bahwa pangeran ini diaku saudara angkat oleh Ciang Le, benar benar merupakan berita yang hebat baginya. Bagaimana Ciang Le begitu goblok dan buta memilih pangeran jahat ini sebagai saudara angkat? Merahlah mukanya saking marahnya.

“Pangeran keparat! Kau menggunakan nama Wan Kan untuk membujuk dan menipu enci Ling In, sekarang kau masih melanjutkan siasatmu untuk menipu orang orang bangsaku! Kau harus mampus di tanganku!” Setelah berkata demikian, secepat kilat Bi Lan telah menerjang maju dan memukul dengan tangan kanannya ke arah dada Wan Kan!

Tentu saja Wan Kan memandang ringan serangan ini. Isterinya sendiri, Ling In, masih kalah kepandaiannya olehnya apalagi gadis ini hanya sumoi dari isterinya saja. Dengan tenang dan sabar ia menangkis pukulan itu sambil berkata, “Sabarlah, nona...”

Akan tetapi, begitu lengan tangannya beradu dengan lengan Bi Lan, ia merasa sakit sekali pada pergelangan tangannya dan tubuhnya terpental ke belakang sehingga ia terhuyung huyung hampir jatuh. Bukan main kagetnya menghadapi tenaga lwee kang yang luar biasa hebatnya ini dan mengingat pesan Ciang Le tadi. Wan Kan segera meloncat jauh ke belakang Ciang Le.

“Jangan lari, jahanam!” Bi Lan mengejar dengan marah sekali.

Akan tetapi Ciang Le melangkah maju dan berkata, “Sabar, Lan moi, mari dengar penjelasanku lebih dulu...”

Sementara itu, melihat keganasan gadis ini, Wan Kan berlari menjauhi mereka. Ia merasa serba susah, tidak melawan, gadis itu mendesak dan demikian galak. Melawan, belum tentu menang dan juga ia tidak enak karena bukankah gadis itu calon isteri Ciang Le? Melihat betapa kini Ciang Le menghadapi gadis itu, ia lalu berdiri menjauhi di tempat aman, mengharap adik angkatnya itu akan dapat membikin jinak harimau betina itu!

Akan tetapi, Bi Lan makin marah mendengar omongan Ciang Le yang membela pangeran musuh itu. “Tak perlu mendengar omonganmu!” bentaknya dan tangan kanannya bergerak. Meluncurlah beberapa benda bersinar ke arah Wan Kan dengan kecepatan yang mengerikan. Tahu tahu benda benda bersinar itu telah menyambar ke arah Kepala, leher, dada dan perut Wan Kan.

Pangeran ini terkejut bukan main dan cepat cepat ia meloncat ke belakang sebatang pohon besar yang kebetulan sekali berada di dekatnya. Kalau tidak ada pohon itu, agaknya akan celakalah pangeran ini, karena Bi Lan menyerang terus dengan Kim kong touw kut ciam (Jarum Sinar Emas Penembus Tulang) semacam senjata rahasia yang dipelajarinya dari Thian Lo mo! Setelah bersembunyi di belakang pohon yang besar itu, selamatlah Wan Kan dan beberapa buah jarum itu menancap masuk ke dalam batang pohon. Tentu saja Ciang Le tahu lihainya Kim kong touw kut ciam ini, karena ia sendiripun telah mempelajari ilmu senjata rahasia dari Thian Lo mo.

“Lan moi, jangan bunuh dia...” katanya dengan gelisah sekali karena kalau sampai Wan Kan terkena senjata rahasia itu, celakalah kakak angkatnya itu.

Namun, mana Bi Lan mau mengalah? Gadis itu terus menghujani pohon tadi dengan senjata rahasianya, Ciang Le cepat mengambil sesuatu dari saku bajunya dan ia juga mengeluarkan Kim kong touw kut ciam yang cepat dilontarkan ke atas. Terdengar suara “cring! cring! cring!” di tengah udara ketika jarum jarum dari Bi Lan bertumbuk dengan jarum jarum dari Ciang Le. Sungguh menarik dan bagus sekali pemandangan ini. Jarum jarum yang dilepaskan itu mengeluarkan sinar keemasan dan ketika bertemu di. udara, menimbulkan bunga api, lalu runtuh bagaikan hujan ke atas tanah. Bi Lan merasa penasaran dan beberapa kali ia mengerahkan tenaga mengayun jarum jarumnya akan tetapi selalu dapat disambut oleh Ciang Le yang juga melontarkan jarum jarumnya dengan sikap tenang sekali.

“Sumoi kau bertempur dengan siapakah….?” tiba tiba terdengar suara dari jauh dan datanglah Ling In diikuti oleh Lie Bu Tek dan Gan Hok Seng. Melihat sumoinya bertempur senjata rahasia dengan seorang pemuda baju kembang, Ling In cepat meloncat menghampiri dan untuk sejenak murid Hoa san pai inipun tertegun dan kagum sekali menyaksikan pertempuran yang aneh dan indah dipandang ini.

Melihat datangnya saudara saudara seperguruannya, Bi Lan menghentikan serangan senjata rahasianya dan ia menudingkan telunjuknya ke arah pohon di mana tadi Wan Kan bersembunyi sambil berkata kepada Ling In dan kedua orang suhengnya.

“Pangeran keparat itu bersembunyi di sana, lekas tangkap dan bunuh dia!”

Akan tetapi, pada saat itu terjadi sesuatu yang membuat Bi Lan berdiri melongo. Ternyata ketika mendengar suara Ling In, Wan Kan cepat meloncat keluar dan kini suami isteri ini berdiri jauh saling pandang dengan air mata mengalir.

“Ling In...” Wan Kan berseru girang sambil lari menghampiri.

“Wan Kan…!” Ling In juga menjerit girang dan lari sehingga sepasang suami isteri itu bertemu di tengah jalan lalu saling rangkul dalam pelukan yang mengharukan hati.

Merah sekali muka Bi Lan melihat hal ini, ia merasa malu, jengah dan juga penasaran sekali. Ketika ia melirik ke arah Lie Bu Tek dan Gan Hok Seng, ia menjadi mikin terheran heran melihat dua orang suhengnya itu menundukkan muka dan agaknya ikut merasa terharu pula.

“Lie suheng, Gan suheng! Apa artinya semua ini? Mengapa kalian diam saja dan tidak memberi hajaran kepada pangeran musuh itu?”

Bu Tek tidak menjawab, hanya cepat menghampiri Ciang Le yang dikenalnya sebagai pemuda yang pernah menolongnya. Ia menjura dengan hormat dan menyatakan kegembiraannya bertemu di tempat itu. Adapun Hok Seng segera menceritakan kepada Bi Lan tentang keadaan Wan yen Kan yang telah menolong mereka ketika ditawan, sungguhpun Wan yen Kan telah ditusuk pedang oleh Ling In dan dikira telah mati.

Mereka semua berkumpul dan berceritalah Wan Kan tentang pengalamannya ditolong oleh Ciang Le sehingga mereka mengangkat saudara. Mendengar semua penuturan itu Bi Lan menjadi terharu dan ia sudah melihat sendiri betapa besar kasih sayang Ling In kepada suaminya. Apa lagi ketika ia mendengar bahwa sucinya itu telah mengandung, dengan sepenuh hati ia dapat menerima Wan Kan sebagai kawan, bahkan sebagai saudara, karena bukankah Wan Kan menjadi suami Ling In dan menjadi... kakak angkat Ciang Le?

“Baiknya sam wi keburu datang,” kata Ciang Le sambil tersenyum kepada tiga orang murid Hoa san pai itu. “kalau tidak, aku dan Wan twako tentu akan celaka oleh jarum jarum yang lihai dari Lan moi...”

“Benar benar nona Bi Lan hebat sekali,” Wan Kan menyambung, “aku tadi sudah ketakutan setengah mati. Kukira kepandaiannya di bawah tingkat Ling In, tidak tahunya sekali beradu lengan, aku sudah terjungkal!”

Mendengar semua ucapan ini, wajah Bi Lan menjadi merah sekali. “Belum tentu aku akan dapat menang, karena kita sama sama mempunyai Kim kong touw kut ciam. Masih harus ditentukan lebih dulu siapa yang lebih unggul!”

Untuk beberapa lama, orang orang ini bercakap cakap saling menuturkan pengalaman mereka dengan senang karena mereka merasa cocok satu sama lain, terutama sekali Wan Kan merasa suka kepada murid murid Hoa san pai yang kini ia buktikan sendiri adalah orang orang muda yang berjiwa gagah. Akan tetapi tiba tiba Ciang Le bangkit berdiri dan berkata,

“Aku harus lekas pergi menolong guru guruku.”

“Eh, guru gurumu yang mana?” tanya Bi Lan.

“Thian Te Siang mo sedang terancam oleh Pak Hong Siansu dan Ba Mau Hoatsu di kota Paoting. Kami berdua tadi sedang menuju ke sana karena agaknya hanya Go te saja yang dapat menolong mereka!” Wan Kan menerangkan.

“Siapa bilang? Aku yang harus menolong kedua guruku itu!” kata Bi Lan dengan marah.

“Bagus, kalau begitu mari kita berangkat sekarang, takut kalau terlambat,” kata Ciang Le.

“Kau jangan tinggalkan aku lagi,” kata Ling In kepada suaminya dengan sikap manja. Wan Kan tersenyum dengan muka merah, lalu berkata, “Apa salahnya kalau kita sekalian beramai ramai menuju ke sana! Keadaan kita akan lebih kuat lagi kalau bersatu.”

Sebenarnya Ciang Le kurang setuju di dalam hatinya. Diantara mereka, yang kepandaiannya agak boleh diandalkan hanya Bi Lan seorang, akan tetapi tentu saja ia merasa kurang enak kalau menolak, maka katanya, “Memang lebih baik.”

Semua orang menyatakan setuju untuk ikut, kecuali Gan Hok Seng. Pemuda ini teringat akan nasib kawan kawannya di dalam hutan ketika mereka diserbu oleh pasukan Kin. Dia sebagai kepala pasukan kawan kawannya itu bertanggung jawab penuh dan ingin sekali ia menyelidiki bagaimana keadaan kawan kawannya itu. Maka ia lalu berkata,

“Maafkan aku, karena aku tidak mungkin pergi sebelum mengetahui bagaimana keadaan kawan kawanku yang dipukul cerai berai oleh pasukan musuh. Aku hendak mengurus mereka dulu dan mengumpulkan kawan kawan untuk membentuk pasukan baru. Pergilah kalian menolong Thian Te Siang mo, kelak kita bertemu pula.”

Maka berpisahlah Gan Hok Seng dengan kawan kawannya dan berangkatlah Ciang Le, Wan Kan, Ling In, Bu Tek dan Bi Lan menuju ke Paoting dengan cepat sekali. Yang amat mengherankan dan mengagumkan hati Bi Lan adalah sikap Bu Tek, karena pemuda yang menjadi suhengnya ini sama sekali tidak nampak cemburu ataupun iri hati terhadap Wan Kan yang telah menjadi suami bekas kekasihnya. Bahkan ia nampak rukun sekali dengan Wan Kan.

Sebaliknya, terhadap Ciang Le, Bi Lan masih saja bersikap dingin, dan diam diam ia ingin sekali melihat bagaimana sikap kedua gurunya terhadap pemuda ini. Memang baik sekali perjalanan kali ini, pikir Bi Lan, tidak saja untuk membantu Thian Te Siang mo akan tetapi juga melihat sikap kedua gurunya itu terhadap Ciang Le. Kita mendahului lima orang muda yang berlari cepat menuju ke Paoting itu dan mari kita melihat keadaan di jembatan Liong thouw kiauw di Paoting.

Telah beberapa hari, Thian Te Siang mo berada di kota ini. Kedua orang tua yang sakti ini memang mempunyai watak yang kukoai (aneh). Mereka tidak banyak perduli tentang pemberontakan rakyat terhadap pemerintah Kin, namun setelah mendengar tentang kematian Coa ong Sin kai di tangan Ba Mau Hoatsu, mereka menjadi marah dan mendongkol sekali. Apa lagi ketika mereka mendengar tentang berita tantangan Sam Thai Koksu terhadap mereka. Bukan main marah hati kedua Iblis Kembar ini. Karena melihat bahwa Jembatan Kepala Naga di Paoting amat baik untuk mengadu pibu, tempat itu luas dan juga tidak begitu ramai, maka mereka lalu mengunjungi Enghiong Hweekoan dan diam diam mereka melemparkan sepotong surat ke dalam yang isinya menantang Sam Thai Koksu untuk mengadu kepandaian di jembatan itu.

Thian Te Siang mo sudah maklum akan kelicikan orang orang Kin, maka kalau mereka menuruti nafsu amarah dan menyerbu di Enghiong Hweekoan, tentu mereka akan terjebak dan dikeroyok. Sama sekali tidak tahu bahwa tetap saja Sam Thai Koksu berlaku licik dan bersikap pengecut sekali, karena menghadapi tantangan Thian Te Siang mo ini, mereka tidak berani maju sendiri melainkan minta tolong kepada Pak Hong Siansu dan Ba Mau Hoatsu untuk mewakili mereka!

Bukan main marahnya Thian Te Siang mo ketika pada pagi hari itu mereka menanti di Jembatan Kepala Naga, yang datang bukan Sam Thai Koksu, melainkan Ba Mau Hoatsu bersama seorang Kakek tua renta yang botak bongkok dan bermuka putih. Mereka belum mengenal kakek ini yang bukan lain adalah Pak Hong Siansu, sebaiknya Pak Hong Siansu bisa turun dari Tibet karena memang ia ingin mencoba kepandaian Thian Te Siang mo yang dikabarkan orang menjagoi di Tiongkok utara! Thian Te Siang mo marah kepada Ba Mau Hoatsu yang dianggap telah berlaku curang ketika membunuh Coa ong Sin kai, maka datang datang Te Lo mo lalu mengejeknya,

“Anjing tua penjilat pemerintah Kin datang menemui kami ada urusan apakah?”

Muka Ba Mau Hoatsu yang hitam menjadi makin menghitam mendengar hinaan ini. Semenjak dahulu ia memang merasa jerih kepada Thian Te Siang mo, akan tetapi pada saat itu ia datang bersama Pak Hong Siansu, apa yang ia takuti? Hatinya besar, bahkan timbul kesombongannya sehingga memesan kepada Pak Hong Siansu agar jangan turun tangan lebih dulu karena ia sendiri yang hendak mencoba kepandaian Thian Te Siang mo! Kini mendengar ucapan Te Lo mo, ia mengambil sepasang senjata rodanya yang istimewa, lalu membentak,

“Iblis tua yang mau mampus! Kami mewakili Sam Thai Koksu untuk memenggal kepala kalian dan membawanya ke Cin an!”

Thian Lo mo tertawa bergelak sampai keluar air matanya. “Ha, ha, ha! Tuannya tidak berani maju, lalu menyuruh anjing penjilat nya. Bagus sekali, Ba Mau Hoatsu! Memang tanganku dan pedang adikku ini adalah haus akan darah anjing. Majulah!”

Kalau talinya ia bersikap sombong, setelah kini melihat sepasang Iblis Kembar ini yang hendak maju berbareng, keder juga hati Ba Mau Hoatsu.

“Bangsat pengecut! Apakah kalian hendak maju mengeroyokku?” bentaknya sambil menggerak gerakkan sepasang rodanya.

“Kami disebut Iblis Kembar, selalu maju bersama, baik kau datang seorang diri maupun akan maju berlima!” jawab Te Lo mo.

“Bagus, kalau begitu terpaksa akupun harus maju bersama kawanku ini,” kata Ba Mau Hoatsu, sedangkan Pak Hong Siansu hanya tersenyum saja dengan pandangan mengejek kepada Iblis Kembar itu.

“Orang tua bangka ini kausuruh maju? Baiklah, kami akan membebaskannya dari kebosanan hidupnya!” Setelah berkata demikian, Te Lo mo lalu maju menyerang dengan pedangnya, menusuk tenggorokan Ba Mau Hoatsu, adapun Thian Lo mo juga melangkah maju dan menghantam dengan kepalan tangannya ke arah lambung Ba Mau Hoatsu pula. Memang, Iblis Kembar ini selalu bertempur berdua dan berpasangan, mereka merupakan dua orang, akan tetapi kalau bertempur seperti seorang yang berkaki dan berlengan empat saja, secara teratur sekali mereka menyerang dan saling membela. Dalam gerakan pertama saja, mereka telah mainkan Ilmu Silat Thian te Kun hwat yang mereka baru baru ini ciptakan. Biarpun Thian Lo mo mengandalkan kedua tangan yang penuh terisi tenaga lweekang yang tinggi, sedangkan Te Lo mo berpedang, namun gerakan mereka cocok sekali.

Ba Mau Hoatsu menghadapi serangan yang hebat ini, cepat menggerakkan rodanya menangkis pedang Te Lo mo sambil melompat mundur menghindarkan diri dari pukulan Thian Lo mo yang mendatangkan angin kuat sekali itu. Akan tetapi, Thian Te Siang mo cepat mengejarnya dan mengirim serangan bertubi tubi sehingga Ba Mau Hoatsu menjadi terkejut dan kewalahan sekali.

Tentu saja Pak Hong Siansu tak mau tinggal diam karena ia maklum bahwa kalau dibiarkan saja, keadaan Ba Mau Hoatsu amat berbahaya. Ia lalu menggerakkan sepasang senjatanya yang luar biasa yakni sebatang tongkat merah yang panjang di tangan kanan, dan seuntai tasbeh batu putih di tangan kiri.

“Thian Te Siang mo! Aku jauh jauh datang dari barat sengaja hendak melihat sampai di mana kepandaian kalian!” serunya dan ketika tongkat dan tasbehnya melayang, Te Lo mo tertangkis pedangnya sedangkan Thian Lo mo disambar kepalanya oleh untaian tasbeh itu!

Kedua iblis kembar ini benar benar terkejut sekali, Te Lo mo merasa betapa pedangnya terpental dan tangannya menjadi kaku seperti kemasukan aliran tenaga yang hebat sekali, adapun Thian Lo mo juga cepat melompat dan mengelak dari sambaran tasbeh yang mengeluarkan bunyi bersiutan dan angin pukulannya telah membuat kulit mukanya dingin!

“Eh, kakek yang lihai, siapakah kau?” tanya Thian Lo mo karena maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang yang memiliki kepandaian luar biasa sekali, jauh lebih tinggi, dari pada kepandaian Ba Mau Hoatsu sendiri.

Pak Hong Siansu tertawa, suara ketawanya terkekeh kekeh seperti seorang tua sekali biasa tertawa. “Thian Te Siang mo, jauh dari Tibet aku mendengar nama kalian yang menggemparkan langit dan bumi dan hanya karena tertarik untuk mengadu kepandaian dengan kalian, maka aku Pak Hong Siansu sengaja meninggalkan tempatku untuk datang ke sini.”

Mendengar nama ini, Thian Te Siang mo terkejut sekali. Nama ini sudah mereka dengar sebagai sute dari Pak Kek Siansu yang mereka takuti. Tahulah mereka bahwa mereka kini berhadapan dengan seorang yang benar benar sakti, dan bahwa keadaan mereka amat berbahaya. Namun mereka tidak takut dan Thian Lo mo berseru.

“Bagus! Kiranya jago tua dari Tibet yang datang memberi kehormatan kepada kami untuk bertanding! Tak pernah kami sangka bahwa kau telah pula menjadi kaki tangan Kerajaan Kin. Sedianya kami akan menghormati mu sebagai seorang yang berkedudukan lebih tinggi, akan tetapi terhadap seorang anjing penjilat pemerintah Kin, kami tak perlu memakai banyak penghormatan lagi!”

Butan main marahnya Pak Hong Siansu mendengar ini. “Keparat yang harus mampus!” bentaknya dan segera tongkat dan tasbehnya menyambar nyambar laksana kilat dan halilintar. Thian Te Siang mo cepat mengelak dan menangkis dan membalas serangan itu sekuat tenaga dengan pengerahan seluruh kepandaian. Mereka mengambil putusan untuk bertempur mati matian. Dengan kerja sama yang amat baik dan dasar kepandaian mereka yang memang tinggi, untuk puluhan jurus mereka masih dapat mempertahankan diri, sungguhpun makin lama makin terdesak dan terkurung oleh tongkat dan tasbeh sehingga tidak mendapat kesempatan untuk membalas sama sekali.

Tiba tiba terdengar bentakan keras, tahu tahu Ba Mau Hoatsu sudah melontarkan sepasang rodanya ke arah Thian Te Siang mo! Sepasang iblis kembar ini memang sudah amat terdesak dan seluruh perhatian mereka ditujukan ke arah serangan Pak Hong Siansu, maka datangnya serangan sepasang roda yang tak terduga duga sekali ini tak dapat mereka elakkan. Dengan tepat roda roda itu menghantam dada dan leher Thian Te Siang mo.

Dua orang tua ini memekik keras. Te Lo mo yang terkena pukulan pada kepalanya, roboh tak bernapas lagi dengan kepala pecah. Akan tetapi Thian Lo mo yang terpukul dadanya hanya roboh pingsan sungguhpun dalam keadaan yang amat payah dan terluka berat di sebelah dalam dadanya. Dan pada saat kedua orang tua itu roboh datanglah Ciang Le dan kawan kawannya.

“Suhu...!” jerit Ciang Le dan Bi Lan hampir berbareng dan Bi Lan yang dari jauh melihat betapa lihainya Pak Hong Siansu, segera menggerakkan pedangnya menyerang Pak Hong Siansu.

“Lan moi, biarkan aku melawannya. Kau hadapi pendeta tinggi besar hitam itu!” seru Ciang Le yang juga sudah mencabut pedang Kim kong kiam. Akan tetapi Bi Lan tidak mau membiarkan pemuda itu menghadapi Pak Hong Siansu, karena ia masih sangsi akan kepandaian pemuda itu. Ketika pedangnya meluncur cepat ke arah tenggorokan Pak Hong Siansu, kakek ini mengangkat tongkatnya menangkis keras, berbareng tasbehnya meluncut ke arah lambung Bi Lan.

Hampir saja gadis ini celaka oleh benturan pertama ini. Tangannya terasa sakit sekali dan hampir saja pedangnya terlepas dari pegangannya sedangkan tasbeh itu sudah melayang di dekat lambungnya. Untungnya Bi Lan memang memiliki kelincahan yang luar biasa ia cepat menarik kembali pedangnya dan melempar tubuh ke belakang, berpoksai (berjungkir balik) dengan gerakan Koai liong hoan sin (Naga Siluman Balikkan Tubuh). Dengan gerakan ini selamatlah ia dari pukulan tasbeh yang akan mendatangkan maut itu. Akan tetapi gadis itu menjadi pucat dan keringat dingin membasahi jidatnya.

Sementara itu, Ciang Le sudah meloncat maju menghadapi Pak Hong Siansu. Kakek ini ketika melihat Ciang Le, alisnya berdiri dan matanya melotot. “Kau mau apa menghadapiku dengan pedang di tangan?” bentaknya.

Ciang Le menjura dengan pedang tergenggam gagangnya. Sikapnya hormat, akan tetapi wajahnya keren sekali.

“Susiok, kalau kiranya kau berada di Tibet dan tidak melakukan hal hal yang buruk, teecu Ciang Le takkan berani bersikap seperti ini dan tentu akan menghormatimu sebagai seorang paman guru yang terhormat dan patut dihormati. Akan tetapi, kau hanya paman guruku, sedangkan dua orang yang kau bunuh ini adalah guru guruku!”

“Hm, habis kau mau apa?” bentak kakek ini dan Bi Lan yang mendengar dari pinggir menjadi tercengang dan melongo.

“Sebagai murid Thian Te Siang mo, tentu saja aku akan berusaha membalas dendam,” jawab Ciang Le. suaranya dingin, seperti juga pandangan matanya yang membuat Pak Hong Siansu mau tidak mau merasa keder juga. Mata pemuda ini mengingatkan dia akan mata suhengnya, Pak Kek Siansu di waktu mudanya.

“Kau seorang murid keponakan berani menantang susioknya sendiri?”

“Pak Hong Siansu, pada saat ini aku bukan murid keponakanmu, akan tetapi aku adalah murid dari Thian Te Siang mo yang hendak membalas dendam!” seru Ciang Le tegas.

Pada saat itu Thian Lo mo telah siuman dari pingsannya dan semenjak tadi ia melihat dan mendengar semua percakapan ini. Hatinya terharu dan ia berseru lemah, “Ciang Le... muridku... anakku… jangan Ciang Le. Kau takkan menang... tak usah aku kau bela aku sudah tahu bahwa kau seorang murid yang baik… aku berterima kasih mendengar pembelaanmu ini...”

“Suhu…!” Bi Lan menubruk Tian Lo mo. Tadinya ia mengira bahwa kedua orang tua itu sudah tewas, kini melihat Thian Lo mo ternyata masih hidup, gadis ini segera berlutut mendekatinya.

“Kau, Bi Lan…. kau anak baik…! Untungnya kau tidak menghukum Ciang Le... kami salah sangka, dia murid terbaik...”

“Suhu, teecu juga akan membalaskan sakit hatimu...” bisik Bi Lan.

Sementara itu, ketika mendengar ucapan Thian Lo mo, tak tertahan lagi dua butir air mata membasahi mata Ciang Le. Ia menengok ke arah Thian Lo mo dan berkata. “Tidak suhu. Teecu harus membalas untuk ini!”

“Awas, koko…!” teriakan ini terdengar dari Bi Lan yang saking kagetnya, tak terasa lagi menyebut Ciang Le “koko”!

Ciang Le tak perlu diberi ingat oleh Bi Lan karena ia sudah mendengar menyambarnya angin pukulan dari belakang ketika ia menoleh memandang kepada Thian Lo mo tadi. Cepat ia mengelak dan benar saja, tongkat di tangan Tak Hong Siansu meluncur melewati atas kepalanya. Bukan karena Pak Hong Siansu berwatak curang, melainkan kakek ini sudah terlampau marah mendengar omongan Ciang Le tadi, maka tanpa banyak cingcong lagi ia telah menyerang. Ciang Le mainkan ilmu Pedang Pak kek Sin kiam sut yang ia pelajari dari Pak Kek Siansu sebagai pecahan dari pada Pak kek Sin ciang yang luar biasa lihainya.

Pak Hong Siansu juga mengerahkan seluruh kepandaiannya. Tongkat dan tasbehnya menyambar nyambar sehingga menjadi dua gulung sinar yang menyilaukan mata dan tubuhnya lenyap sama sekali ditelan oleh dua gulung sinar senjatanya itu. Akan tetapi, pedang di tangan Ciang Le juga berubah menjadi sinar kuning emas yang panjang dan berkelebatan ke sana ke mari bagaikan kilat menyambar nyambar. Tubuh pemuda inipun lenyap sama sekali dan kini yang kelihatan bertempur hanyalah dua gulung sinar bundar melawan sinar panjang yang berkelebatan cepat sekali.

Semua orang melongo menonton pertempuran ini, bahkan Ba Mau Hoatsu dan Thian Lo mo yang telah tinggi tingkat kepandaiannya, memandang dengan penuh kekaguman, Bi Lan sendiri menjadi ternganga dan perlahan lahan merahlah wajahnya. Melihat ilmu pedang yang dimainkan oleh Ciang Le itu, kalau dibandingkan dengan kepandaiannya sendiri, ia tidak ada sepersepuluhnya! Dan selama ini ia menganggap Ciang Le setingkat atau bahkan lebih rendah dari pada dia dalam ilmu silat!

Thian Lo mo menjadi makin lemah. Luka di dadanya berat sekali dan kalau bukan dia, agaknya dari tadi telah tewas. Mendengar suhunya merintih, Bi Lan cepat menengok dan kagetlah ia melihat muka gurunya berkerut merut tanda menahan sakit yang hebat.

“Suhu...”

“Bi Lan, ingat… Ciang Le anak baik, kau pun anak baik…. aku senang sekali kalau kalian... kalian tak terpisah lagi… jaga dia, awas. Pak Hong Siansu lihai… yang membunuh aku dan adikku bukan Pak Hong Siansu... melainkan Ba Mau Hoatsu…. Ahhh…” Leher Thian Lo mo menjadi lemas dan ia menghembuskan napas terakhir!

Bi Lan berdiri dengan mata basah. Alisnya berdiri dan ia memandang ke arah Ba Mau Hoatsu dengan mata mendelik. “Jahanam keparat, jadi kau yang membunuh suhu suhuku?” Bi Lan berseru dan cepat ia menyerang dengan pedangnya, menusuk dada Ba Mau Hoatsu!

Pada saat itu, Ba Mau Hoatsu sedang memandang kepada Wan yen Kan yang datang bersama Lin In dan Bu Tek. Tiga orang muda ini memang tadi tertinggal oleh Bi Lan dan Ciang Le yang berlari cepat sekali ketika dari jauh melihat Thian Te Siang mo roboh. Kini Ba Mau Hoatsu memandang dan heran melihat muridnya ini datang bersama sama musuh.

“Siauw ong ya... apakah aku bermimpi?” tanyanya.

Wan yen Kan menjura dengan hormat dan menjawab. “Suhu, memang betul teecu yang datang, akan tetapi bukan sebagai pangeran Kin, melainkan sebagai rakyat biasa. Kalau boleh, teecu peringatkan agar supaya suhu kembali ke barat, jangan mencampuri urusan pemerintah Kin yang berada di dalam cengkeraman pembesar pembesar lalim!”

Ucapan ini terdengar oleh Ba Mau Hoatsu sebagai guntur di siang hari panas. Sama sekali tidak diduganya sehingga ia menjadi terheran heran dan berdiri memandang dengan mata bundar. Pendeta ini amat sayang kepada Wan yen Kan, karena pangeran inilah yang telah mengangkat dirinya menjadi orang terhormat. Sebagai guru dari Wan yen Kan tentu saja ia dihormati oleh pemerintah Kin. Maka kini mendengar ucapan ini hatinya tidak karuan rasanya. Marah, malu, penasaran, kecewa bercampur aduk menjadi satu.

Dan pada saat itu, datang serangan dari Bi Lan. Cepat Ba Mau Hoatsu mengelak dan ia lalu mainkan sepasang rodanya dengan hati hati. Tak mau lagi ia memikirkan tentang muridnya yang aneh itu, karena ia telah tahu akan kelihaian Bi Lan yang harus dihadapi dengan penuh perhatian. Melihat Bi Lan telah bertanding dengan pendeta tinggi besar dan hitam yang mainkan roda secara hebat itu, Lie Bu Tek dan Ling In tidak mau tinggal diam dan kedua orang ini telah mencabut pedang dan melompat maju untuk membantu Bi Lan. Akan tetapi Wan yen Kan mencegah isterinya.

“Ling In, kau tidak boleh menggunakan banyak tenaga. Biar aku yang membantu adik Bi Lan!” Setelah berkata demikian, Wan yen Kan mengeluarkan senjata rantainya dan menyerbu Ba Mau Hoatsu gurunya sendiri untuk membantu Bi Lan!

Hebat sekali kemarahan Ba Mau Hoatsu melihat ini. “Murid durhaka, kubunuh engkau!” bentaknya berulang ulang dan kini sepasang rodanya berputaran mengancam dan mendesah Wan yen Kan. Sebagai muridnya, tentu saja Wan yen Kan maklum akan kehebatan sepasang roda ini dan setidaknya dapat pula menjaga diri untuk beberapa lama terhadap serangan roda roda itu. Akan tetapi, andaikata dia harus menghadapi gurunya sendiri, dalam belasan jurus saja ia tentu akan roboh binasa. Baiknya di situ ada Lie Bu Tek dan terutama sekali ada Bi Lan yang membuat Ba Mau Hoatsu amat repot dan tidak dapat mendesak muridnya terus menerus karena serangan serangan Bi Lan benar benar membuat dia terkejut dan berhati hati.

Pertempuran antara Ba Mau Hoatsu yan di keroyok tiga amat ramainya. Memang sesungguhnya, kalau bertempur satu lawan satu, kiranya lambat laun Bi Lan akan kalah juga, karena tingkat kepandaiannya memang kalah tinggi, akan tetapi sekarang dengan masuknya Bu Tek dan Wan yen Kan ke dalam gelanggang pertempuran, keadaan menjadi berobah untuk kerugian Ba Mau Hoatsu yang segera terdesak hebat...

Thanks for reading Pendekar Budiman jilid 13 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »