Pendekar Budiman jilid 12

Pendekar Budiman Jilid 03

MEREKA diputuskan mendapat hukuman mati, akan tetapi pada malam hari terakhir, sesosok bayangan yang aneh dan luar biasa cepat gerakannya, merobohkan para penjaga tanpa banyak ribut. Kemudian bayangan ini di dalam gelap memutuskan belenggu mereka dan mengajak mereka pergi dari tempat tahanan.

“Siapa dia itu kong kong?” tanya Bi Lan dengan hati berdebar, karena iapun teringat akan orang yang membantunya dalam pertempuran ketika ia terdesak oleh Ba Mau Hoatsu. Ia ada persengkaan bahwa orang itu tentu Ciang Le, akan tetapi ia rasa tidak mungkin pemuda itu memiliki kepandaian begitu tinggi.

Kakeknya menggelengkan kepanya. “Ia tidak mau mengaku hanya membawa kami ke tempat ini dan minta kepada kami supaya beristirahat dan jangan pergi sebelum sehat benar. Dia tentu seorang pemuda yang berkepandaian tinggi sekali, akan tetapi entah siapa kami tidak tahu.”

“Juga yang menangkap mata mata tadi tentu dia pula” kata Liang Tek Sianseng sambil mengangguk anggukkan kepalanya.

“Kong kong, tahukah kau bahwa Go Ciang Le cucumu itu masih hidup?”

Tan Seng terkejut dan girang. “Betulkah? Di mana dia?”

“Untuk apa aku membohong, kong kong? Aku bahkan sudah bertemu dengan dia di dalam gelap, sudah pula bertempur melawan dia! Dia juga murid dari Thian Te Siang mo, jadi suhengku sendiri.” Bi Lan lalu menuturkan pertempurannya antara dia dan Ciang Le, akan tetapi tentu saja dia tidak menuturkan bahwa kedua suhunya berpesan agar supaya dia memberi “hajaran” kepada pemuda itu!

“Sayang mengapa kau tidak memberi tahu bahwa aku menunggu dan mencarinya.” kata orang tua ini.

“Aku tidak diberi kesempatan, kong kong. Dia terus pergi lagi.”

Setelah berunding, empat orang Hoa san pai ini lalu mengambil keputusan untuk pergi ke Go bi pai, memberi teguran kepada ketua Go bi pai yaitu Kian Wi Taisu, atas sepak terjang Bu It Hosiang yang khianat, mempergunakan tenaga pemerintah Kin untuk memusuhi Hoa san pai.

********************

Pemberontakan di Tiongkok utara, wilayah yang diduduki oleh pemerintah Kin makin meluas. Para gerilyawan melakukan perjuangan mati matian, dibantu oleh orang orang gagah dari utara dan selatan, orang orang Han aseli yang tidak rela melihat bangsanya ditindas oleh orang Kin. Pemerintah Kin di utara makin menggila dan menindas rakyat. Banyak orang orang Han dipaksa menjadi budak belian, diperdagangkan dan diperlakukan seperti kerbau peliharaan. Banyak sekali kaum tani dipaksa menjadi pelayan ketentaraan dan diperas tenaganya habis habisan. Setiap orang Kin menjadi bangsawan dan tiap orang bangsawan tentu mempunyai budak belian orang Han. Bahkan ada sekeluanga bangsawan besar mempunyai hamba hamba orang Han sampai seratus orang lebih!

Namun pemberontakan rakyat tak kenal lelah dan tak kenal mundur. Dibunuh seorang maju dua orang, dibinasakan sepasukan maju dua pasukan. Muncullah orang orang gagah yang memimpin barisan petani dan barisan rakyat yang berjuang dengan gigih, di mana mana merupakan barisan berani mati, menyerbu dan mengganggu keamanan para petugas Kerajaan Kin. Barisan Kin dikerahkan dan Sam Thai Koksu menjadi sibuk sekali. Namun berkat bantuan Pak Hong Siansu yang lihai, setiap muncul barisan yang dipimpin oleh seorang gagah dari fihak pemberontak, pasti dapat dihancurkan.

Banyak tokoh tokoh kang ouw gugur dalam membela rakyatnya. Yang amat mengagumkan, biarpun tokoh tokoh kang ouw yang tadinya berwatak kasar dan ganas, boleh dibilang jahat dalam pandangan umum, ketika melihat betapa banyak sekali bangsanya menjadi korban barisan Kin, serentak bangkit dan membantu perjuangan bangsanya!

Orang seperti Coa ong Sin kai yang terkenal ganas, yang disohorkan berotak miring dan yang berani membunuh sesama manusia tanpa berkejap mata, sampai bisa tergerak hatinya dan kakek aneh ini bahkan berani seorang diri mendatangi Enghiong Hweekoan dan mengamuk!

Hal ini terjadi pada suatu pagi. Ketika itu bala tentara Kin yang dipimpin oleh Kim Liong Hoat ong sendiri melakukan pembasmian terhadap sebuah dusun yang dianggap menjadi sarang pemberontak. Seluruh dusun dibakar musnah, orang orang lelaki dibunuh dan perempuan perempuan diculik oleh barisan ini. Dalam waktu kurang dari setengah hari saja dusun itu telah menjadi tumpukan puing dan mayat rakyat berserakan di mana mana ada diantaranya yang terpanggang api sampai hangus!

Kebetulan Coa ong Sin kai berada di tempat yang tidak jauh dari dusun itu dan ketika kakek gila ini tiba di dusun yang sudah menjadi abu, timbul jiwa kepatriotannya dan ia menangis menggerung gerung ditengah dusun kosong itu. Kemudian, bagaikan orang gila, ia mencak mencak dan langsung berlari cepat menuju ke Cin an sambil memaki maki di sepanjang jalan, menyumpah nyumpah pemerintah Kin.

Tentu saja setibanya di kota Cin an, ia disambut oleh sepasukan penjaga yang hendak menangkap atau membunuhnya. Akan tetapi dengan ranting bambunya yang lihai ia membuka jalan darah dan sebentar saja sepuluh orang lebih penjaga roboh tak bernyawa lagi! Coa ong Sin kai terus berlari ke Enghiong Hweekoan dan menyerbu ke dalam sambil memaki keras,

“Sam Thai Koksu, keluarlah untuk terima binasa!”

Beberapa orang penjaga Enghiong Hweekoan keluar menyambut dengan golok di tangan, akan tetapi seperti penjaga kota tadi, sebentar saja terdengar jerit mengerikan dan beberapa orang itu roboh malang melintang dengan kepala pecah atau tubuh bolong bolong tertusuk ranting bambu!

Pada saat itu, yang berada di dalam Enghiong Hweekoan adalah Sam Thai Koksu dan Ba Mau Hoatsu. Mereka ini sedang merayakan “kemenangan” dari Kim Liong Hoat ong yang siang tadi katanya melakukan pembersihan di dusun itu. Ketika mendengar ribut ribut di luar, kemudian disusul oleh bentakan dan tantangan Coa ong Sin kai, mereka menjadi marah sekali dan memburu keluar dengan senjata siap di tangan.

Sam Thai Koksu menjadi terkejut dan jerih juga melihat Coa ong Sin kai. Akan tetapi Ba Mu Hoatsu membentak kepada para penjaga yang mengeroyok Coa ong Sin kai supaya mundur, kemudian dia sendiri lalu menghadapi kakek Raja Ular itu dengan sepasang senjata rodanya.

“Orang gila, bagus benar kau datang mengantar kematian. Memang telah lama aku mencarimu!” kata Ba Mau Hoatsu sambil mempersiapkan sepasang rodanya.

Coa ong Sin kai menunda amukannya dan dengan mata merah ia memandang kepada Ba Mau Hoatsu. Tentu saja ia mengenal orang ini, akan tetapi ia tidak memperdulikan pendeta dari Tibet ini dan pandang matanya ditujukan ke arah Sam Thai Koksu. “Tiga anjing Kin, aku datang untuk menghirup darah kalian!” serunya dan tiba tiba tubuhnya berkelebat cepat menyerang kepada Kim Liong Hoat ong!

Sam Thai Koksu terkejut sekali dan berbareng mereka menangkis serangan ini. Namun gerakan Coa ong Sin kai bukan main hebatnya, karena ia berada dalam keadaan marah. Ranting bambunya bagaikan telah menjadi seekor ular hidup yang bergerak berlenggak lenggok sukar sekali dijaga serangannya. Kim Liong Hoat ong yang diserang menangkis dengan rantainya, dibantu oleh Tiat Liong Hoat ong yang juga membantu suheng nya menangkis dengan goloknya. Adapun Gin Liong Hoat ong yang memegang sepasang ruyung, menghantamkan ruyungnya ke pundak dan lambung Coa ong Sin kai!

Akan tetapi, kakek yang dianggap gila ini sudah nekad benar rupanya. Ia tidak mengelak dari serangan ruyung dan ranting bambunya begitu tertangkis oleh rantai dan golok, bukannya ditarik mundur, melainkan diteruskan dan kini meluncur cepat menotok ulu hati Kim Liong Hoat ong. Serangan iri demikian tiba tiba dan tak terduga sehingga orang pertama dari Sam Thai Koksu ini tidak melihat lain jalan untuk menghindarkan diri. Namun ia masih percaya bahwa serangan ruyung Gin Liong Hoat ong akan mengenai sasaran dan secepat kilat ia menjatuhkan tubuhnya ke belakang.

Pada saat itu, terjadilah akibat yang hebat dari serangan serangan ini. Terdengar pekik kesakitan dari Kim Liong Hoat ong dan seruan kaget dari Gin Liong Hoat ong. Ruyung sebelah kanan di tangan Gin Liong Hoat ong dengan tepat mengenai pundak Coa ong Sin kai dan terdengar tulang pundak kaket gila ini patah, akan tetapi ujung ranting bambu di tangan Coa ong Sin kai masih sempat menusuk pundak Kim Liong Hat ong yang segera terguling dan merintih rintih di atas tanah dengan muka menjadi pucat sekali. Adapun ruyung di tangan kiri Gin Liong Hoat ong yang menyerang lambung Coa ong Sin kai, kena disabet oleh tangan kiri kakek pengemis ini dan terdengar suara “krak” dan patahlah ruyung yang kuat itu!

Biarpun tulang pundaknya telah patah, namun Coa ong Sin kai seakan akan tidak merasa sakit sama sekali. Terdengar ia tertawa bergelak dan menyeramkan kemudian ia menubruk mau menyerang Tiat Liong Hoat ong dengan ranting bambunya. Pada saat itu, sepasang roda di tangan Ba Mau Hoatsu menyambar cepat. Melihat datangnya senjata yang luar biasa lihainya ini, Coa ong Sin kai tidak berani menerimanya dan cepat mengelak. Sementara itu, ranting bumbunya telah berpindah ke tangan kiri, karena lengan kanannya tak dapat digerakkan lagi. Ia membatalkan niatnya menyerang Tiat Liong Hoat ong dan kini dengan sepenuh tenaga dan pengerahan kepandaiannya, ia menghadapi Ba Mau Hoatsu sambil masih tertawa bergelak gelak.

Gin Liong Hoat ong dan Tiat Liong Hoat ong ketika melihat keadaan Kim Liong Hoat ong yang terluka parah, menjadi marah sekali dan berbareng mereka mengeroyok Coa ong Sin kai. Akan tetapi, perbuatan mereka ini merugikan Ba Mau Hoatsu dan bahkan menggirangkan hati Coa ong Sin kai yang menjadi makin ganas. Dengan tendangan kaki berantai, ia berhasil membuat golok di tangan Tiat Liong Hoat ong terlempar jauh dan sebelum Tiat Liong Hoat ong sempat menangkis, sebuah tendangan kakek pengemis ini mengenai pahanya sehingga tubuhnya terlempar jauh dan tak dapat bangun lagi karena tulang pahanya patah!

“Ha ha ha! Anjing anjing Kin, kalau belum membasmi kalian, aku belum puas! Ha ha ha! Kata Coa ong Sin kai dan kini ia menubruk Gin Liong Hoat ong yang sudah menjadi pucat dan gentar.

Akan tetapi, Ba Mau Hoatsu mendesak maju dan karena perhatian Coa ong Sin kai ditujukan kepada Gin Liong Hoat ong yang hendak dirobohkannya ia tidak dapat menjaga datangnya roda kiri di tangan Ba Mau Hoatsu yang amat lihai, “Prak!” dengan tepat sekali roda itu menghantam kepala Coa ong Sin kai dan pengemis tua ini menjerit ngeri, akan tetapi ia masih sempat melontarkan rantingnya ke arah Ba Mau Hoatsu. Lontaran ranting ini dilakukan dengan tenaga terakhir sebelum ia roboh tak bernyawa di atas tanah karena kepalanya telah pecah. Bukan main hebatnya lontaran ini dan Ba Man Hoatsu maklum bahwa ranting ini ujungnya mengandung racun dan apabila mengenai tubuhnya akan berbahaya sekali. Ia cepat menangkis dengan sepasang rodanya sehingga ranting itu menyeleweng ke pinggir dan menjeritlah seorang penjaga, lalu roboh tak bernyawa lagi. Ranting itu dengan keranya menancap di dadanya dan ia tewas di saat itu juga.

Dengan amat marah, Gin Liong Hoat ong mengerjakan ruyungnya yang tinggal sebelah untuk memukuli kepala dan tubuh Coa ong Sin kai sehinga tak lama kemudian tubuh kakek pengemis itu sudah tidak karuan macamnya lagi. Ngeri orang orang melihat peristiwa ini dan hati para perwira Kin menjadi gentar. Bukan main hebatnya orang orang Han yang datang mengamuk.

Baiknya ada Pak Hong Siansu yang datang pada senja harinya, karena kalau tidak ditolong oleh kakek sakti ini, agaknya Kim Liong Hoat ong yang tertusuk ujung ranting bambu berbisa, tentu akan tewas. Sam Thai Koksu merawat luka mereka sambil menyumpah nyumpah.

“Masih ada dua orang lagi, yakni Iblis Kembar. Kalau mereka tidak dibasmi dan mereka beri kesempatan mengacau di sini, akan lebih hebat lagi,” kata Kim Liong Hoat ong, “Jangan khawatir, biar dia datang kalau hendak mencari mampus!” kata Ba Miu Ihoatsu.

Mendengar ini Kim Liong Hoat ong menjadi mendongkol. “Apa lagi kalau mereka datang, sedangkan baru Coa ong Sin kai yang datang saja, hampir saja kami binasa. Kalau Pak Hong Siansu berada di sini, tentu takkan terjadi hal seperti ini.” Ucapan ini terang terangan menyindir bahwa adanya Ba Mau Hoatsu di situpun tidak banyak gunanya!

Merah wajah Ba Mau Hoatsu. Ia adalah seorang sombong yang segan mengalah, maka diam diam ia timbul perasaan tidak senang kepada Sam Thai Koksu, katanya, “Salah sam wi sendiri, kalau tadi sam wi tidak ikut campur dan menyerahkan Coa ong Sin kai kepadaku seorang, tak nanti akan jatuh korban. Di dalam pertempuran menghadapi musuh pandai, paling selamat menonton saja di pinggir dan membiarkan orang yang lebih kuat maju melayaninya!” Ucapan inipun merupakan sindiran bagi Sam Thai Koksu yang terang terangan dikatakan masih terlampau rendah kepandaian mereka! Suasana menjadi panas dan Ba Mau Hoatsu maupun Sam Thai Koksu, kedua fihak telah mulai merasa tidak senang hati.

“Tak perlu ribut ribut,” kata Pak Hong Siansu, “hal yang sudah lewat tak perlu diributkan. Sekarang kita ke depan dan mencari jalan terbaik.”

“Tidak ada lain jalan lagi, sebelum harimau menyerang, kita turun tangan lebih dulu!” kata Kim Liong Hoat ong.

“Ucapan Kim Liong Hoat ong betul juga,” kata Giok Seng Cu. “Pemberontakan ini tidak kuat kalau di belakang mereka tidak ada orang orang seperti Coa ong Sin kai, orang orang Hoa san pai, dan Thian Te Siang mo. Oleh karena itu, sebelum menanti mereka bergerak terlebih dulu membasmi mereka, adalah siasat yang baik sekali.”

“Akan tetapi Thian Te Siang mo tidak tentu tempat tinggalnya. Di mana kita bisa mencari mereka?” kata Pak Hong Siansu. “Memang aku sendiripun sengaja meninggalkan gunung dengan maksud mencoba kepandaian mereka.”

“Mudah saja,” kata Kim Liong Hoat ong. “Kalau kita menyiarkan berita menantang mereka, apakah mereka tidak akan datang? Biar kami bertiga mempergunakan nama kami untuk menantang dia menantang pibu di kota Cin an!”

Demikianlah, tak lama kemudian, tersiar berita luas di kalangan kang ouw bahwa Sam Thai Koksu menantang Thian Te Siang no untuk mengadu kepandaian!

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Gan Hok Seng, murid ke tiga dari Hoa san pai, setelah bertemu dengan Bi Lan, cepat pulang dan ia mulai mengumpulkan kawan kawan sehaluan di daerahnya, lalu ia memimpin pasukan suka rela ini untuk membantu perjuangan saudara saudaranya di utara melawan pemerintah Kin. Sebelum berangkat, ia membuat sepucuk surat ditujukan kepada sucinya, yaitu Thio Ling In di Biciu, lalu ia menyuruh seorang kawannya naik kuda mengantar surat itu ke Biciu. Kemudian pada hari keberangkatan...

...Halaman 16-17 hilang...

...kata demikian, orang itu lalu mengeluarkan sepucuk surat dari saku bajunya. Ling In menerima surat ini dengan hati tidak enak.

“Duduklah, saudara. Kau datang dari tempat jauh dan mengasolah.”

Akan tetapi orang itu menggeleng kepalanya. “Aku harus segera kembali untuk menyusul pasukan Gan toako yang berangkat lebih dulu ke utara.”

Setelah berkata demikian, pesuruh Gan Hok Seng itu segera meloncat kembali ke atas kudanya, ia memang sudah tidak sabar lagi untuk segera menyusul rombongan pasukannya karena, kuatir kalau kalau tertinggal. Beginilah semangat kepahlawanan yang membakar dada setiap pemuda di waktu itu dan pergi perang menghadapi penjajah bagi mereka seakan akan pergi menuju ke medan pesta!

Ling In duduk kembali di atas bangkunya dan membuka surat dari Hok Seng. Dibacanya surat itu dengan berdebar.

“Suci (Kakak seperguruan) THIO LING IN, Siauwte (adik) mengharap suci takkan terkejut dengan isi surat ini. Siauwte hendak berterus terang saja dan percayalah bahwa siauwte, juga Lie Suheng dan kami semua tidak mengandung rasa hati benci atau mendendam kepada suci karena dapat menduga bahwa perbuatan suci yang memutuskan hubungan dengan Lie Suheng dan menikah dengan orang she Wan itu tentu dengan alas an yang kuat. Akan tetapi, hendaknya suci maklum bahwa orang yang bernama Wan Kan dan menjadi suami suci bukan lain adalah WAN YEN KAN, pangeran BAngsa Kin, musuh bangsa kita yang kejam dan ganas!

Oleh karena itu, terserah kepada suci hendak bersikap bagaimana hanya ketahuilah bahwa kami juga Lie suheng, sekarang berangkat hendak membantu perjuangan rakyat di utara untuk membebaskan tanh air dan bangsa dari cengkeraman dan penindasan kaum penjajah!

Harap saja suci insyaf dan dapat mengambil tindakan yang sesuai sebagai anak murid Hoa san pai yang gagah perkasa!

Tertinggal Hormatnya,

Siauwte GAN HOK SENG


Membaca surt ini, pucatlah wajah Ling In. Kedua tangannya gemetar, bibirnya menggigil dan tak terasa pula surat itu terlepas dari tangannya. Kemudian ia menutup mukanya dengan kedua tangan dan menangis. “Kau... kau… Wan yen Kan Pangeran Kin…? Ya Tuhan Yang Maha Kuasa… bagaimana bisa terjadi hal seperti ini…?”

Sampai setengah hari Ling In menangis dan segala pertanyaan ibu dan pamannya tak di jawabnya. Kemudian, bagaikan seorang gila dan nekad, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun kepada orang serumah, Ling In membuntal pakaiannya dan pergilah ia meninggalkan rumahnya. Tekadnya hendak mencari suaminya, hendak menuntut balas karena suaminya dianggap telah menipunya, ia akan mencari Wan Kan atau Wan yen Kan, hendak dibunuhnya, kemudian ia akan membunuh diri sendiri, karena sesungguhnya ia cinta kepada suami itu, siapapun juga adanya orang itu!

Ibu dan pamannya hanya saling pandang dengan bingung dan nyonya Thio hanya bisa menangis dan mengeluh melihat kepergian puterinya. Akan tetapi ketika ia mendapatkan surat dari Hok Seng bukan main bingung dan menyesalnya. Tak disangkanya sama sekali bahwa mantunya yang kelihatan baik itu adalah pangeran Bangsa Kin!

Sementara itu, di dalam istana Kaisar Kin terjadi peristiwa lain lagi, Wan yen Kan ribut mulut dengan ayahnya.

“Kalau kau ingin mempunyai selir perempuan Han, tentu saja aku tidak keberatan. Kau boleh mencari beberapa belas atau beberapa puluh sesukamu. Akan tetapi membawa seorang perempuan Han ke sini untuk menjadi isteri tunggal? Tak mungkin!”

“Ayah, aku cinta kepadanya dan aku tidak mau menikah dengan wanita lain!” bantah Wan yen Kan.

“Bodoh! Karena sejak muda kau merantau dan bergaul dengan orang orang Han, watakmu pun berobah seperti seorang petani Han! Bangsa Han sedang memberontak dan merongrong kita, apakah sekarang kau hendak memasukkan seorang wanita Han sebagai mantuku di sini? Tidak boleh!”

“Ayah, pemberontakan mereka itu terjadi karena tidak becusnya para pembesar kita sendiri mengurus pemerintah. Mereka itu tidak lain merupakan orang orang jahat yang berselimutkan pangkat, korupsi besar besaran dan memeras rakyat jelata untuk kantong sendiri. Tidak dapat disalahkan kepada rakyat yang memberontak begitu saja, karena setiap pemberontakan tentu ada sebabnya dan selalu yang menjadi sebabnya adalah penindasan dan pemerasan. Siapa orangnya takkan memberontak kalau ditindas dan dicekik? Dari pada menindas mereka yang memberontak untuk perbaikan nasib, lebih tepat kalau ayah bertindak keras terhadap para pembesar tukang makan dan mengganti mereka dengan orang orang yang benar benar jujur dan tepat.”

“Apa katamu?” kaisar menggebrak meja. Kau membela kaum pemberontak? Sungguh gila, mana yang lebih gila dari pada ini? Dan kau adalah pangeran, puteraku, calon kaisar menggantiku! Terkutuk, agaknya kau telah kemasukan racun orang orang Han. Lebih baik kau mampus dalam tanganku!” Kaisar yang marah itu lalu mencabut pedangnya, akan tetapi permaisurinya atau ibu dari Wan yen Kan segera mencegah dan menghiburnya.

“Dia masih terlalu muda, harap kau suka maafkan dia dan memberi kesempatan padanya,” kata ibu Wan yen Kan.

“Bangsat besar!” kaisar memaki maki. “Pendeknya, tidak boleh dia membawa perempuan Han itu di sini sebagai isterinya. Kalau sebagai selir, masa bodoh.”

“Dari pada menganggap isteriku sebagai selir, lebih baik aku pergi dan hidup sebagai seorang petani biasa,” Wan yen Kan membantah, sedikitpun tidak takut.

“Bangsat tak tahu malu, kalau begitu baik, pergilah!” Ayahnya menudingkan jarinya mengusir Wan yen Kan memeluk ibunya lalu berlari keluar. Hatinya sudah tetap. Ia lebih suka meninggalkan istana ayahnya, meninggalkan kesempatan menjadi pengganti ayahnya, dari pada harus merendahkan Ling In sebagai selirnya!

“Setelah keluar dari istana ayahnya, Wan yen Kan lalu membuang semua pakaian pangeran yang melekat di tubuhnya dan mengganti dengan pakaian biasa, pakaian seorang Han! Baiknya semua orang di kota raja sudah mengenalnya, dan sudah biasa melihat Pangeran Wan yen Kan berpakaian seperti itu. Mereka menganggap bahwa pangeran yang pandai dan tinggi kepandaiannya ini tentu akan bekerja sebagai mata mata, menyelidiki orang orang Han yang memberontak, maka berpakaian seperti itu. Kalau saja semua orang tidak mengenal Wan yen Kan, tentu ia akan dikeroyok dan dibunuh, karena pada waktu itu, siapa yang tidak membenci orang Han yang telah menimbulkan pemberontakan di mana mana? Bahkan para hamba sahaya Bangsa Han yang berada di kota raja, menjadi manusia setengah binatang, banyak yang dibunuh oleh orang orang Kin untuk melampiaskan amarah mereka mendengar betapa orang orang Han memberontak.

Keputusan hati Wan yen Kan sudah tetap. Ia hendak pergi ke Biciu dan hidup sebagai suami isteri penuh bahagia dengan Ling In, isterinya. Bahkan ia hendak mengajak Ling In pindah jauh ke selatan agar jangan mendengar pula tentang keributan dan pemberontakan Bangsa Han terhadap Kerajaan Kin! Ia lalu melakukan perjalanan ke selatan dengan cepat, tak diperdulikannya keributan dan pertempuran pertempuran kecil yang selalu ia dengar dan lihat di sepanjang perjalanannya. Apabila ia ditahan oleh sepasukan Kin, ia memperlihatkan tanda pengenalnya dan menyatakan kepada komandan tentara bahwa dia bertugas menyelidiki ke selatan! Kalau bertemu dengan pasukan pemberontak, tak seorangpun mencurigainya, karena selain pakaian yang dipakainya seperti pakaian seorang Han aseli, juga Wan yen Kan pandai sekali berbahasa Han dengan lidah yang fasih.

Akan tetapi, dasar memang sudah nasibnya untuk menghadapi keributan. Pada suatu hari, ia mendengar dari komandan barisan Kin bahwa tak jauh di sebelah utara lembah Sungai Huai, terdapat sekelompok barisan pemberontak yang dikepalai oleh orang orang Hoa san pai. Mendengar ini tertariklah hati Wan yen Kan karena ia teringat bahwa Thio Ling In, isterinya tercinta, juga anak murid Hoa san pai, juga memperkenalkan nama saudara saudara seperguruan isterinya, yaitu yang bernama Lie Bu Tek, Gan Hok Seng, dan Liang Bi Lan.

Dengan hati girang dan besar Wan yen Kan lalu meninggalkan barisan Kin itu dan dengan tabah menuju ke tempat di mana pasukan pemberontak berada, ia ingin sekali bertemu dan berkenalan dengan saudara saudara seperguruan isterinya. Ketika ia berjalan di daerah pemberontak itu, seorang penjaga menegurnya, “Eh, saudara! Di waktu tidak aman seperti ini, mengapa kau berjalan enak enak saja? Apakah kau tidak tahu bahwa barisan Kin yang ganas berada hanya beberapa li di sebelah utara?”

Wan yen Kan tersenyum. “Tentu saja siauwte tahu akan hal itu karena siauwtepun mengungsi dari utara. Siauwte mendengar bahwa pemimpin mu adalah orang orang gagah dari Hoa san pai, betulkah? Apakah ada yang bernama Gan Hok Seng dan Lie Bu Tek di sini? Siauwte kenal baik dengan nama mereka, maka kalau bisa, mohon bertemu dengan mereka.”

Sikap penjaga itu berobah manis ketika mendengar ini. “Ah, tidak tahunya siangkong adalah kawan kawan baik dari Gan piauwsu dan Lie taihiap. Mereka memang berada di sini, dan kalau kau ingin bertemu datanglah di lembah sebelah kiri itu, mereka biasanya berada di tempat itu. Aku tidak dapat mengantar, maaf, karena aku harus menjaga di sini.”

Wan yen Kan menghaturkan terima kasih dan dengan girang ia lalu menuju ke tempat yang ditunjuk oleh penjaga itu. Ia bertemu dengan orang orang yang bersenjata tajam, sikap mereka gagah dan bersemangat sekali. Diam diam Wan yen Kan menarik napas panjang dan menyesalkan kesalahan tindakan dari pemerintahan ayahnya. Tempat yang ditunjuk oleh penjaga tadi merupakan sebuah tempat terbuka di mana Gan Hok Seng dan Lie Bu Tek seringkali mengadakan perundingan dan membicarakan siasat dengan kawan kawan lain. Pada saat itu, tempat itu sunyi saja dan ketika Wan yen Kan tiba di tempat itu, ia memandang ke kanan kiri dengan ragu ragu. Mengapa tidak ada orang di sini, pikirnya.

Tiba tiba dari balik pohon muncul seorang pemuda yang gagah perkasa. Pemuda ini adalah Lie Bu Tek yang bersikap hati hati dan waspada. Tidak seperti penjaga tadi, ia selalu bersikap hati hati dan curiga. Biarpun pemuda yang berdiri di situ terang adalah seorang Han, namun karena ia belum pernah melihatnya, maka timbul kecurigaan dalam hatinya.

“Siapa kau dan ada keperluan, apa datang di sini?” bentaknya.

Wan yen Kan menengok dan ia melihat seorang pemuda yang memandangnya tajam penuh selidik. “Siauwte ingin bertemu dengan Lie Bu Tek dan Gan Hok Seng, anak murid Hoa san pai,” jawabnya.

Makin besar curiga di hati Lie Bu Tek. “Ada keperluan apakah kau hendak bertemu dengan mereka? Siapakah kau?”

“Aku bernama Wan Kan, suami dari Biciu Lihiap Thio Ling In.”

Pucat wajah Lie Bu Tek mendengar ini dan secepat kilat ia mencabut pedangnya. “Bagus! Jadi kaukah Wan yen Kan, pangeran Kin yang terkutuk itu? Hari ini kau berhadapan dengan Lie Bu Tek jangan harap kau dapat hidup lagi!”

Wan yen Kan kaget bukan main. “Ah, jadi kau adalah Lie toako? Mengapa kau bersikap begini, Lie toako? Bukankah isteriku Ling In adalah sumoimu sendiri? Mengapa kau memusuhi aku?”

“Tutup mulut dan jangan menyebut nyebut nama Ling In di sini! Kau adalah Wan yen Kan, pangeran musuh yang sudah mempergunakan kekayaan, ketampanan, dan kedudukanmu untuk memikat hati sumoi. Oleh karena itu. kau harus mampus!” Tanpa banyak cakap lagi Lie Bu Tek lalu menyerang dengan pedangnya menusuk dada pangeran itu sekuat tenaga.

Wan yen Kan merasa penasaran sekali. Tak pernah disangkanya suheng dari isterinya akan bersikap begini, juga ia terkejut sekali karena sedangkan isterinya sendiri belum tahu akan rahasianya, akan tetapi pemuda ini sudah tahu dia adalah Wan yen Kan, pangeran Kin. Ini berbahaya, pikirnya. Kalau para pemberontak tahu bahwa dia adalah pangeran Kin, tentu sukar baginya untuk meloloskan diri. Maka iapun cepat mengelak dan mencabut rantainya.

Lie Bu Tek mendesak terus dan menyerang bertubi tubi dengan sengit sekali. Inilah orang yang merebut Ling In dari padanya, orang yang mendatangkan kesengsaraan batin kepadanya. Ingin ia menembuskan pedangnya di dada pangeran ini. Akan tetapi ternyata Wanyen Kan amat lihai dan gerakannya amat cepat sehingga jangankan mengalahkannya, untuk menghadapi rantai itu saja Lie Bu Tek merasa sibuk sendiri. Kepandaian Wan yen Kan memang masih lebih tinggi setingkat dari pada kepandaiannya sendiri.

“Lie toako, sabar dan tenanglah. Biarpun aku benar pangeran Kin, akan tetapi aku tidak ikut mencampuri urusan pemerintahan, bahkan aku bersimpati terhadap perjuangan para pemberontak.”

“Simpan kata katamu yang memikat. Aku tidak sudi mendengarnya!” kata Lie Bu Tek yang menyerang terus. Pertempuran berjalan ramai sekali, namun Wan yen Kan hanya melayani Bu Tek dengan setengah hati. Ia mainkan rantai dengan tangan kirinya dan hanya mempergunakan ginkangnya yang tinggi untuk mengelak dari setiap serangan Lie Bu Tek yang sedang marah. Pertempuran itu menarik perhatian orang orang yang berada di situ dan sebentar saja datanglah para pejuang menonton pertempuran itu, termasuk Gan Hok Seng yang berlari lari mendatangi.

“Sute, ini dia si bangsat Wan yen Kan pangeran Kin itu!”

“Tangkap dia!” teriak Gan Hok Seng marah dan pemuda inipun lalu menyerbu sambil mainkan sepasang poan koan pitnya yang lihai.

Wan yen Kan menjadi makin gelisah ia memutar rantainya untuk menangkis serangan serangan itu dan ia harus mengerahkan seluruh tenaganya, karena kini yang mengeroyoknya adalah dua saudara Hoa san pai yang berilmu tinggi. Berkali kali ia berseru dengan suara memohon.

“Mengapa jiwi tidak mau mendengarkan kata kataku? Aku Wan yen Kan biarpun Pangeran Kin, namun tidak memusuhi rakyat Han, dan jiwi adalah saudara saudara seperguruan isteriku, aku tidak suka bertanding melawan jiwi.”

“Bangsat hina dina! Siapa sudi menjadi isterimu?” tiba tiba terdengar bentakan dan seorang wanita muda menyerbu dengan pedangnya. Wanita ini bukan lain adalah Thio Ling In sendiri!

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Ling In sedih bukan main menerima surat Gan Hok Seng, maka iapun lalu menyusul rombongan sutenya itu untuk membantu perjuangannya. Kebetulan sekali ketika ia tiba di tempat itu, ia melihat Wan yen Kan atau suaminya tengah dikeroyok oleh Bu Tek dan Hok Seng. Melihat Wan yen Kan, kesedihan dan kemurkaannya memuncak, maka ia lalu menyerbu dan menusuk ulu hati suaminya dengan pedangnya.

“Ling In...!” teriakan Wan yen Kan ini penuh dengan kesedihan dan putus asa. Ia tidak dapat mengelak serangan isterinya dan bahkan berdiri memandang dengan mata terbelalak. Ling In ketika melihat wajah suaminya, lemaslah tubuhnya dan pedangnya yang tadi menusuk ke arah dada, kini diangkatnya dan hanya melukai pundak Wan yen Kan.

“Ling in… kau juga sudah tahu...? Kau mau membunuhku? Bunuhlah, isteriku… bunuhlah! Untuk apa hidup di dunia ini bagiku kalau kau sendiripun membenciku?”

Ling In tak dapat menahan lagi membanjirnya air matanya. Suaminya berdiri dengan kepala menunduk dan pundak berdarah. Bagaimana ia bisa membunuh suaminya ini! Ia amat mencintanya!

“Bangsat, kau memang harus mampus!” teriak Lie Bu Tek dan pemuda ini menggerakkan pedang menusuk. Akan tetapi, tiba tiba Ling In menggerakkan pedangnya pula, menangkis suhengnya itu.

“Sumoi! Kau melindungi seorang pangeran musuh!” bentak Bu Tek.

“Sabar, suheng, betapapun juga dia suami dari Suci.” Hok Seng merasa kasihan kepada Ling In.

“Dia memang suamiku dan dia memang pangeran musuh! Oleh karena itu tidak lain orang yang boleh membunuhnya. Aku sendiri yang berhak menamatkan hidupnya!”

“Bagus, Ling In, isteriku yang baik. Aku pun tidak rela mati di tangan orang lain. Kecuali kau yang menyerangku, siapapun juga takkan dapat membunuhku tanpa perlawanan mati matian dari padaku,” kata Wan yen Kan sambil memandang kepada isterinya dengan pandangan mesra yang menjatuhkan hati Ling In.

“Wan yen Kan, kau sudah mengetahui dosa dosamu, dosa dosa pemerintahanmu terhadap bangsaku?” tanya Ling In kepada suaminya sambil menggigit bibir dan menahan air matanya. Pedangnya menggigil di tangan nya.

Wan yen Kan mengangguk. “Memang kuakui bahwa pemerintahan ayahku telah berlaku salah.”

“Kalau begitu aku sebagai seorang berjiwa patriot, seorang anak murid Hoa san pai sejati, hari ini akan membunuh Pangeran Wan yen Kan, seorang pangeran Kin!” Kata Ling In sambil menahan air matanya.

“Dan suamimu.” Wan yen Kan memperingatkannya.

“Bukan! Suamiku bernama Wan Kan ia seorang yang amat baik hati!” jawab Ling In sambil mengangkat pedangnya.

Terharulah hati Wan yen Kan mendengar ini. Tak terasa pula air matanya turun membanjir di atas kedua pipinya. “Ling In… isteriku, kau seorang isteri baik, seorang pahlawan yang bijaksana… Wan Kan suami mu berterima kasih kepadamu. Nah, bunuhlah Wan yen Kan putera kaisar Kin!” Ia mengangkat dadanya.

Ling In menusuk, akan tetapi karena tangan Ling In gemetar dan menggigil, tusukannya mencong dan tidak tepat menembusi dada, melainkan melukai dada sebelah kanan, membentur tulang iga dan menyeleweng ke pinggir sehingga hanya kulit dan daging dada Wan yen Kan yang terluka hebat. Namun cukup membuat pangeran itu terjungkal mandi darah.

“Wan Kan...” isak Ling In sambil meramkan matanya.

Pada saat itu, terdengar sorak sorai hebat dan beberapa orang pejuang terjungkal dengan punggung tertancap anak panah. Ternyata bahwa barisan Kin yang amat kuat datang menyerbu dengan tiba tiba! Keadaan menjadi kacau balau, para pejuang melawan mati matian, namun jumlah barisan musuh lebih besar. Banyak sekali pejuang yang gugur dan setelah bertempur hebat setengah hari lamanya, akhirnya semua pemberontak dapat dibasmi. Bu Tek, Hok Seng dan Ling In terluka dan tertawan! Adapun Wan yen Kan yang tadinya jatuh pingsan, ditolong oleh komandan pasukan Kin dibawa bersama semua tawanan ke Cin an!

********************

Sebelum kita mengikuti nasib tiga orang murid Hoa san pai yang tertawan oleh bala tentara Kin, marilah melihat keadaan Liang Bi Lan yang bersama Tan Seng, Liang Gi Cinjin, dan Liang Tek Sianseng. menuju ke Go bi san untuk memberi teguran kepada tokoh tokoh Go bi pai mengenai perbuatan Bu It Hosiang yang memusuhi mereka dengan menggunakan orang orang Kin.

Biarpun mereka berempat ini mempergunakan ilmu lari cepat yang sudah tinggi sekali, namun Go bi san bukanlah tempat yang dekat dan agaknya perjalanan itu akan makan waktu berpekan pekan kalau saja tidak kebetulan sekali mereka bertemu dengan ketua Go bi pai sendiri di tengah jalan! Kian Wi Taisu, hwesio ketua Go bi pai itu, sambil membawa tongkatnya yang panjang diikuti oleh murid muridnya sebanyak tujuh orang diantaranya terdapat Tiauw It Hosiang.

Ketika melihat rombongan hwesio dari Go bi pai ini, merahlah wajah Bi Lan dan guru gurunya. Mereka berdiri tegak di tengah jalan menanti datangnya rombongan hwesio itu. Kebetulan sekali pertemuan ini terjadi di luar sebuah dusun yang sunyi sehingga tidak terlihat oleh orang.

“Siancai… kebetulan sekali!” kata Liang Gi Cinjin sambil memimpin tiga orang kawannya menjura kepada rombongan hwesio itu. Akan tetapi Bi Lan tidak mau ikut menjura karena hati gadis ini sudah marah sekali melihat rombongan orang orang yang dianggap musuhnya ini.

Kian Wi Taisu dan kawan kawannya ketika melihat tokoh tokoh Hoa san pai mencegat perjalanan mereka, mengerutkan kening dan menyangka tak baik. Memang, orang kalau sudah bermusuhan selalu menyangka buruk saja kepada lawan.

“Hm, kalau tidak salah lihat mata pinceng yang sudah lamur ini, pinceng berhadapan dengan tokoh tokoh besar dari Hoa san pai yang ternama! Liang Gi Cinjin sudah puluhan tahun kita tak bertemu dan pertemuan pinceng akhir akhir ini dengan sumoimu Liang Bi Suthai benar benar tak bisa disebut pertemuan yang menyenangkan. Sekarang, kau dan kawan kawanmu menghadang perjalanan pinceng, ada keperluan apakah gerangan?”

Mendengar ucapan ini tak senanglah hati Liang Gi Cinjin dan adik adiknya. Memang Kian Wi Taisu orang yang berhati keras dan ucapannya tadi tentu saja tak dapat dipergunakan sebagai dasar perdamaian. Terutama sekali bagi Bi Lan yang masih amat muda dan yang merasa sakit sekali atas kematian gurunya. Liang Bi Suthai. Mendengar ucapan itu, ia melangkah maju dan menudingkan telunjuknya yang runcing kecil itu ke arah muka Kian Wi Taisu.

“Hwesio tua, kau datang datang menyalahkan orang lain saja! Beberapa tahun yang lalu, muridmu si kepiting gundul itu mengacau di puncak Hoa san!” Ia menuding ke arah Tiauw It Hosiang yang memandang marah. “Kemudian muridmu Bu It Hosiang yang lebih jahat itu mendatangkan malapetaka kepada kami orang orang Hoa san pai! Kau tidak menghukum murid muridmu bahkan membela mereka. Cih! Apakah seorang hwesio tua yang sudah berani menjadi ketua Go bi pai masih belum dapat mengoreksi kesalahan sendiri dan menimpakan semua keburukan kepada orang ain?”

Berdiri sepasang alis hwesio tua itu ketika mendengar ucapan ini. “Bagus! Memang tidak mudah mengakui kesalahan sendiri, termasuk kau bocah murid Hoa san pai yang sombong! Akan tetapi pinceng tidak ada waktu untuk melayani orang orang picik semacam kalian. Ada persoalan yang lebih penting. Minggirlah kalian, jangan mengganggu perjalanan kami!”

Sambil berkata demikian, Kian Wi Taisu menggerakkan lengan bajunya yang panjang, dikebutkan ke arah Bi Lan dengan sikap seakan akan orang mengusir binatang yang mengganggu. Sambaran ujung lengan baju ini mendatangkan angin pukulan yang kuat sekali dan ketua Go bi pai itu merasa yakin bahwa sabetan ini tentu akan membikin kapok anak murid Hoa san pai yang kurang ajar ini. Akan tetapi bukan main terkejutnya ketika melihat gadis itu sama sekali tidak mengelak, bahkan berani menangkis dengan jari jari tangan disabetkan pula.

“Tahan tanganmu!”

Kian Wi Taisu berseri kaget karena ia merasa khawatir kalau kalau jari jari tangan gadis muda itu akan patah patah tulangnya. Ia memang marah, akan tetapi ia masih belum begitu kejam untuk melukai gadis muda ini dengan hebat. Namun teriakannya tidak dipedulikan oleh Bi Lan dan pertemuan antara ujung lengan baju dan ujung jari tangan Bi Lan tak dapat dielakkan lagi

“Plak! Breet!!”

Bi Lan merasa tangannya kesemutan dan terpental seperti tertotok oleh tenaga yang amat kuat akan tetapi sebaliknya air muka Kian Wi Taisu berubah ketika kakek ini melihat betapa ujung lengan bajunya telah robek!

“Kurang ajar!” bentaknya dan tongkat ditangannya tergetar. “Bocah Hoa san pai, apa sih kehendakmu maka kau berani mengganggu pinceng?”

Bi Lan tersenyum, sikapnya tenang akan tetapi menantang sekali. “Kian Wi Taisu, aku akan selalu menghormat orang orang tua, akan tetapi kalau dia benar. Kau tanya apa kehendakku atau kehendak kami orang orang Hoa san pai? Kami menghendaki perdamaian, sama sekali kami bukan tukang tukang pukul yang suka mencari perkara. Akan tetapi, karena muridmu Bu It Hosiang amat jahat bersekongkol dengan pemerintah Kin dan menyerbu Hoa san pai sehingga guruku Liang Bi Suthai sampai tewas, kuharap kau segera menghukum muridmu itu!”

“Bohong! Tak mungkin muridku bersekongkol dengan pemerintah Kin!” bentak Kian Wi Taisu marah sekali, “Hati hati kau dengan mulutmu, bocah lancang. Kami orang orang Go bi pai turun gunung hanya untuk membantu perjuangan rakyat, melawan pemerintah Kin, dan kau sekarang berani sekali menuduh murid Go bi pai bersekongkol dengan pemerintah Kin?”

Bi Lan tertawa, Tan Seng tersenyum sindir lalu berkata, “Kian Wi Taisu, lebih baik buktikan dulu sebelum kau menyangkal. Untuk apakah kami berdusta?”

“Kalian selalu membusukkan nama kami. Siapa mau percaya? Minggirlah dan jangan mengganggu pinceng lebih lama lagi!” bentak Kian Wi Taisu makin marah.

Akan tetapi Bi Lan sudah mencabut pedangnya dan gadis ini menghadang di jalan sambil berkata, “Sebelum kau berjanji hendak menghukum Bu It Hosiang dan minta maaf kepada guru guruku, jangan harap akan dapat lewat!”

Muka Kian Wi Taisu yang sudah keriputan itu sebentar merah sebentar pucat saking marahnya. Untuk sejenak ia tidak dapat berkata apa apa, kemudian ia membentak. “Kalau begitu, kalian mencari binasa!”

Tongkatnya yang besar dan panjang itu bergerak cepat sekali menghantam ke depan, akan tetapi karena ia tidak tega untuk membunuh orang begitu saja, pukulannya ini bukan diarahkan kepada Bi Lan, melainkan diarahkan kepada sebuah batu besar yang berada di dekat Bi Lan. Terdengar suara keras dan batu itu pecah menjadi dua, debu mengebul dan tanah, yang diinjak oleh Bi Lan tergetar!

Dengan demonstrasi ini Kian Wi Taisu hendak memberi peringatan kepada orang orang Hoa san pai agar menjadi jerih dan tidak mengganggunya lagi. Akan tetapi Bi Lan tersenyum mengejek dan berkata memanaskan hati,

“Siapa sih yang takut menghadapi tongkat!”

Kini Kian Wi Taisu tak dapat menahan marahnya dan ia lalu memutar tongkatnya, mendorong ke arah dada Bi Lan. Gadis ini telah waspada dan sekali menggerakkan tubuhnya yang ringan, serangan ini dapat digagalkan. Sebelum Kian Wi Taisu menarik kembali tongkatnya, Bi Lan sudah mendahuluinya, membalas dengan tusukan pedangnya. Gerakannya tidak kalah kuat dan cepatnya sehingga diam diam ketua Go bi pai terkejut sekali. Agaknya tak mungkin anak murid Hoa san pai memiliki kecepatan seperti itu. Ia lalu menangkis dengan pengerahan tenaga sekuatnya namun ternyata pedang di tangan gadis itu tidak dapat dibikin terlepas, bahkan dalam beradu senjata ini, Bi Lan nampaknya enak saja mainkan pedangnya terus diluncurkan menusuk kembali ke arah tenggorokannya!

Tahulah kini Kian Wi Taisu bahwa gadis ini memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari pada tokoh tokoh Hoa san pai. Ia pernah menyaksikan kepandaian Liang Bi Suthai, maka tanpa ragu ragu lagi ia lalu mengeluarkan ilmu tongkatnya yang hebat, menyerang bagaikan taufan mengamuk. Bi Lan mengimbanginya dan gadis ini lalu mainkan Ilmu Pedang Thian te Kiam hoat yang ia pelajari dari Thian Te Siang mo.

Menghadapi permainan pedang ini, Kian Wi Taisu tercencang. Ia sudah pernah menyaksikan ilmu pedang Hoa san pai yang gerakannya seperti kembang teratai dan sinarnya bundar dan cepat sekali gerakannya serta kuat dalam daya bertahan. Akan tetapi ilmu pedang gadis ini gerakannya seperti kilat menyambar nyambar, dari atas dan bawah, sukar sekali ditahan! Ia terkejut sekali dan setelah mengerahkan kepandaian sampai belasan jurus, ia menjadi makin kaget karena gerakan pedang ini mengingatkan ia akan ilmu pedang yang pernah ia lihat dimainkan oleh Te Lo mo, orang ke dua dari Thian Te Siang mo yang lihai.

“Tahan dulu!” bentaknya sambil meloncat mundur.

“Hm, ada apa Kian Wi Taisu? Apakah kau jerih menghadapi pedangku?”

“Bocah sombong! Kau mainkan ilmu pedang apakah? Bukan Hoa san Kiam hoat yang kau mainkan, dan kalau tidak salah kau mainkan ilmu pedang dari iblis tua Te Lo mo! Ada hubungan apakah kau dengan Thian Te Siang mo?”

Bi Lan tersenyum mengejek. “Thian Te Siang mo adalah guru guruku, akan tetapi pada saat ini aku adalah anak murid Hoa san pai yang membela nama baik Hoa san pai!”

“Bagus, tidak tahunya Hoa san pai sudah berhubungan pula dengan orang orang jahat seperti Thian Te Siang mo! Kini pinceng tidak ragu ragu lagi untuk membasmi kalian!” Kembali Kian Wi Taisu menyerang Bi Lan dengan tongkatnya dan mereka bertempur lagi makin hebat dan seru.

Karena maklum akan kelihaian Kian Wi Taisu, Tan Seng tidak tega melihat cucu angkatnya melayani hwesio ini seorang diri, maka ia lalu menyerbu dan membantu cucunya ini sambil mainkan sepasang lengan bajunya yang lihai. Adapun para murid Kian Wi Taisu yang dikepalai oleh Tiauw It Hosiang ketika melihat guru mereka dikeroyok dua lalu berseru keras dan menyerbu, disambut oleh Liang Gi Cinjin dan Liang Tek Sianseng, Liang Gi Cinjin, seperti Tan Seng, mainkan sepasang lengan bajunya, adapun Liang Tek Sianseng telah mengeluarkan sepasang poan koan pit, senjatanya yang berupa alat tulis sederhana namun yang amat lihai itu. Karena tingkat kepandaian adik adik seperguruan Tiauw It Hosiang tidak begitu tinggi, maka pertempuran ini berlangsung ramai sekali.

Yang paling seru adalah pertempuran antara Kian Wi Taisu yang dikeroyok oleh Bi Lan dan Tan Seng. Biarpun ilmu silat yang dimiliki oleh Bi Lan pada waktu itu sudah amat tinggi dan jauh lebih tinggi dari kepandaian Tan Seng sendiri, namun menghadapi Kian Wi Taisu gadis ini masih belum mampu mendesaknya, sungguhpun bagi Kian Wi Taisu juga bukan merupakan pekerjaan ringan untuk memecahkan sinar pedang sadis itu yang benar benar lihai ilmu pedangnya. Adapun Tan Seng, biarpun membantu sekuat tenaga, namun ia tidak banyak berdaya, bahkan ia harus selalu menghindarkan diri dari sambaran tongkat Kian Wi Taisu yang amat berbahaya itu.

Pada saat pertempuran sedang berjalan seru serunya, tiba tiba berkelebat bayangan orang yang segera berseru keras, “Cuwi sekalian, harap menghentikan pertempuran yang tidak ada artinya dan merugikan ini!”

Seruan ini amat nyaring sehingga berpengaruh sekali dan otomatis mereka yang bertempur meloncat mundur dan memandang. Diantara semua orang yang berada di situ hanya Bi Lan yang mengenal baik pemuda yang baru datang ini. Pemuda ini bukan lain adalah Ciang Le yang datang sambil mengempit tubuh seorang hwesio dan ketika semua orang memperhatikan, ternyata bahwa hwesio itu adalah Bu It Hosiang!

Sebelum semua orang sempat bertanya, Kian Wi Taisu tentu saja menjadi marah sekali dan salah duga. Ia menduga bahwa pemuda ini tentulah kawan dari orang orang Hoa san pai buktinya datang datang membawa tubuh muridnya yang agaknya berada dalam keadaan tertotok dan tidak berdaya. Maka sambil berseru marah, ia mengayun tongkatnya mengemplang kepala Ciang Le sekuat tenaga!

Semua orang terkejut, terutama sekali Bi Lan karena gadis ini yang sudah tahu akan kelihaian tongkat itu, melihat betapa serangan itu benar benar berbahaya sekali dan ia berada di tempat agak jauh, tak berdaya menolong pemuda itu. Lebih lebih kagetnya ketika ia melihat Ciang Le mengangkat tangan kirinya menangkis tongkat tanpa melepaskan kempitan tangan kanannya pada tubuh hwesio Go bi pai yang dibawanya tadi.

Akan tetapi, tangan pemuda itu sama sekali tidak menjadi remuk terkena kemplangan tongkat hebat tadi, karena ternyata bahwa Ciang Le sama sekali tidak hendak menangkis, melainkan menerima tongkat itu dengan telapak tangannya. Kian Wi Taisu merasa betapa tongkatnya bertemu dengan sesuatu yang lunak dan secara aneh sekali tenaga kemplangannya tadi lenyap dan kini tongkat itu terpegang oleh Ciang Le! Kian Wi Taisu marah membetot tongkatnya, namun tak dapat terlepas dari pegangan anak muda yang berbaju kembang ini!

“Kian Wi Taisu, sabar dan tenanglah. Siauwte datang sama sekali bukan membawa maksud buruk.” Sambil berkata demikian, pemuda ini melepaskan tongkat yang dipegangnya, lalu ia melepaskan tubuh Bu It Hosiang dari pengaruh tiam hoat (ilmu totok).

Bu It Hosiang buru buru menghampiri Kian Wi Taisu dan menjatuhkan diri berlutut dengan muka merah dan wajah gelisah sekali. Pemuda baju kembang itu lalu berpaling kepada tokoh tokoh Hoa san pai, mengerling ke arah Bi Lan sambil tersenyum, kemudian berkata,

“Siauwte maklum mengapa cuwi datang dan bertempur melawan Kian Wi Taisu, karena siauwte telah mendengar semua dari Bu It Hosiang ini. Akan tetapi, agaknya dugaan cuwi terlampau jauh. Betapapun bodoh dan tidak baik perbuatan yang telah dilakukan oleh Bu It Hosiang, namun dia bukanlah seorang pengkhianat bangsa. Dia tidak sengaja hendak membantu orang orang Kin, semata mata karena merasa sakit hati dan hendak membalas dendam kepada cuwi dari Hoa san pai. Betapapun bodohnya, ia bukan seorang pengkhianat dan karenanya, siauwte berpendapat bahwa pertikaian antara Hoa san pai dan Go bi pai tak perlu dilanjutkan secara berlarut larut.”

Tokoh tokoh Hoa san pai mendengar ucapan ini mengerutkan kening. Bagaimana mereka dapat menghabiskan permusuhan itu begitu saja kalau Kian Wi Taisu bersikap seperti tadi dan Liang Bi Suthai sudah menjadi korban? Hanya Tan Seng yang memandang kepada pemuda itu bagaikan telah berobah menjadi patung batu, mulut ternganga mata terbelalak, tak kuasa mengeluarkan suara sedikitpun. Hatinya bimbang ragu dan dadanya berombak, menahan detak jantungnya yang berdebar debar.

Akan tetapi pemuda itu tidak menanti jawaban mereka, ia telah berpaling kepada Kian Wi Taisu dan berkata, “Kian Wi Taisu, terus terang saja siauwte nyatakan bahwa dalam hal keributan kali ini, fihakmu yang salah. Kesalahan ini ditimbulkan oleh Bu It Hosiang yang secara pengecut tidak berani membalas dendam sendiri terhadap Hoa san pai sebaliknya membawa bawa orang Kin sehingga ia kelihatan seperti seorang yang telah bersekongkol dengan pemerintah Kin. Oleh karenanya, kalau kau suka minta maaf kepada fihak Hoa san pai serta suka menghukum muridmu Bu It Hosiang, kiraku persoalan ini dapat dibikin beres sampai di sini saja.”

“Enak saja kau bicara!” tiba tiba Bi Lan membentak pemuda itu. “Kali ini kau salah besar, kawan! Guruku Liang Bi Suthai telah tewas gara gara perbuatan Bu It Hosiang yang pengecut ini, dan kami sengaja mencari Kian Wi Taisu untuk menegurnya, akan tetapi kami bahkan disambut dengan tongkatnya! Bagaimana kami orang orang Hoa san pai mudah saja dihina oleh orang orang Go bi pai?”

Adapun Kian Wi Taisu yang mendengar tentang sepak terjang muridnya, menjadi pucat mukanya. Ia membentak Bu It Hosiang, “Bangsat rendah! Coba katakan, betulkah bahwa kau telah membawa orang orang Kin untuk menyerbu Hoa san pai seperti yang diceritakan oleh anak muda ini.”

Dengan suara gemetar Bu It Hosiang berkata, “Betul, suhu dan teecu mohon maaf sebanyaknya.”

Kian Wi Taisu tidak berkata apa apa, akan tetapi tiba tiba kakinya menendang sehingga tubuh Bu It Hosiang yang berlutut di depannya itu mencelat sampai jauh dan menggelinding bergulingan. Kian Wi Taisu masih belum puas. Sekali melompat ia telah berada di dekat muridnya ini dan ia mengangkat tongkatnya, dipukulkan ke arah kepala Bu It Hosiang!

Akan tetapi, tiba tiba tongkatnya itu berhenti gerakannya karena tertahan oleh tangan dari belakangnya. Ia merasa heran sekali akan kekuatan tangan yang menahan tongkatnya itu dan ketika ia menengok ke belakang, ternyata bahwa yang menahannya itu adalah pemuda baju kembang tadi!

“Kian Wi Taisu, kiranya tak perlu menurutkan nafsu amarah! Memang muridmu telah bersalah, akan tetapi kesalahannya itu sebenarnya tidak besar. Sudah lajimnya kalau diantara orang kang ouw balas membalas sakit hati karena kekalahannya. Kesalahannya karena ia minta bantuan orang orang Kin dan ini dilakukan di luar kesadarannya, ia amat bodoh sehingga tidak tahu bahwa orang orang Kin adalah penindas rakyat yang tidak boleh didekati. Aku sendiri sudah banyak memberi ingat kepadanya dan kalau kiranya siauwte tidak melihat bahwa dia masih bisa diperbaiki, untuk apa siauwte jauh jauh membawanya ke sini? Ampunkanlah dia, taisu, dan habiskanlah permusuhanmu dengan Hoa san pai!”

“Eh, anak muda. Kau siapakah maka begitu berlaku lancang dan bermulut besar memberi nasihat kepada pinceng? Kau murid siapa dan datang dari partai mana?” tanya Kian Wi Taisu yang merasa lebih heran dari pada marah kepada pemuda aneh ini.

“Siapa adanya siauwte kiranya tak perlu dipersoalkan. Siauwte orang biasa saja.”

“Dia murid Thian Te Siang mo, masih pernah suhengku juga, suhengku yang murtad!” tiba tiba Bi Lan berkata mengejek.

“Tak mungkin murid Thian Te Siang mo!” kata Kian Wi Taisu.

Ciang Le tersenyum. “Sudah kukatakan tadi, siapa adanya aku, tak ada harganya untuk dibicarakan. Sekarang yang penting membicarakan tentang pertikaian antara dua fihak.” Ia memandang tajam kepada Bi Lan.

“Sumoi… atau kalau kau lebih suka ku sebut nona… Nona, harap kau bersabar dan tidak menurutkan nafsu hati seperti ketua Go bi pai. Juga cuwi sekalian, harap sudi mendengarkan kata kataku. Cuwi sekalian mengerti bahwa pada waktu ini, rakyat kita di utara sedang dalam penindasan pemerintah Kin dan sedang memberontak memperjuangkan perbaikan nasib. Sudah menjadi tugas kewajiban orang orang gagah di dunia untuk membela dan membantu perjuangan mereka itu. Akan tetapi, apakah yang dilakukan oleh orang orang gagah Hoa san pai dan Go bi pai? Saling gigit dan saling cakar! Cuwi sekalian, perjuangan rakyat menghadapi penjajahan dan penindas termasuk dalam sejarah yang takkan lenyap selama dunia berkembang! Sukakah cu wi sekalian kalau kelak tercatat dalam sejarah bahwa Go bi pai dan Hoa san pai yang besar itu di waktu rakyat berjuang tidak membantu bahkan menimbulkan kekacauan dengan saling bertempur sendiri?”

“Kita bukan orang macam itu!” seru Bi Lan membantah keras “Ketahuilah, he, orang sombong, bahwa kami juga membantu perjuangan para patriot! Bahkan saudara saudara seperguruanku masih berjuang bahu membahu dengan rakyat pada saat ini dan kamipun menunda bantuan kami hanya untuk menghajar adat kepada orang orang Go bi pai!”

“Pinceng juga turun gunung bersama murid murid untuk membantu perjuangan rakyat!” Kian Wi Taisu membantah keras.

Ciang Le tersenyum. “Bagus sekali kalau begitu, akan tetapi mengapa perjuangan suci dikotori oleh keributan saling menyerang sendiri karena urusan tetek bengek? Tanah air membutuhkan tenaga kita, mengapa tenaga kita bahkan saling bertumbuk dan melemahkan kedudukan sendiri? Bukankah ada peribahasa yang menyatakan bahwa bersatu kita teguh dan bercerai kita runtuh? Oleh karena itu, dari pada tenaga kita dipergunakan untuk saling gempur, bukankah lebih baik dipersatukan untuk menggempur musuh?”

Terpukul hati semua orang mendengar omongan ini. Kian Wi Taisu mengangguk anggukkan kepalanya dan memandang kagum.

“Kau benar sekali, anak muda.”

“Memang begitulah seharusnya,” kata pula Liang Gi Cinjin, “kalau saja Kian Wi Taisu mau mengakui kesalahan muridnya, kamipun tak ingin membikin panjang urusan ini.”

“Bagus!” kata Ciang Le girang. “Memang, kesalahan seorang anggauta Go bi pai saja tidak seharusnya membakar seluruh partai yang akan membikin kedua partai selamanya turun temurun bermusuhan.”

Kian Wi Taisu lalu berpaling kepada Bu It Hosiang. “Manusia sesat! Mulai sekarang, kau kuturunkan kedudukanmu menjadi penjaga pintu dan tukang membersihkan halaman kelenteng, selama lima tahun! Dan awas sekali lagi kau menyeleweng, aku takkan mengampunkan nyawamu lagi.”

“Teecu menerima salah,” kata Bu It Hosiang.

“Nah, pulanglah ke Go bi san dan jagalah kelenteng di sana, pinceng dan yang lain lain hendak membantu perjuangan rakyat.”

“Kalau boleh, teecu mohon ikut untuk membantu dan menebus dosa,” kata Bu It Hosiang.

“Tidak bisa, kau akan mengotori perjuangan,” kata Kian Wi Taisu dengan kukuh dan keras.

Dengan hati hancur dan malu sekali, Bu It Hosiang lalu berlutut dan pergi dari situ tanpa menoleh lagi, menuju ke Go bi san. Kemudian Kian Wi Taisu lalu memandangi kepada Ciang Le dengan tajam.

“Anak muda, sebelum kita berpisah, ingin pinceng mengetahui namamu untuk diingat ingat, karena jarang sekali bertemu dengan seorang muda seperti kau.”

“Siauwte bernama Go Ciang Le...” kata pemuda itu sambil menjura dengan hormat.

“Terima kasih, selamat berpisah, cuwi sekalian,” kata pendeta tua itu sambil menyeret tongkatnya dan pergi dari situ, diikuti oleh semua muridnya.

Adapun Tan Seng yang semenjak tadi berdiri seperti patung dan penuh dugaan dalam hatinya melihat bahwa pakaian berkembang yang dipakai oleh Ciang Le adalah pakaian dari mantunya, yakni Go Sik An, ketika mendengar pemuda itu mengakui namanya kepada Kian Wi Taisu, seketika menjadi pucat dan tubuhnya menggigil. Akan tetapi ia masih dapat mempertahankan diri. Setelah rombongan Go bi pai pergi, barulah ia berlari maju menghampiri Ciang Le.

“Kau… Ciang Le…??” Kakek ini memandang dan kedua tangannya dibentangkan, mukanya yang keriputan ini basah oleh air matanya yang mengalir turun.

Tentu saja Ciang Le yang tidak mengenalnya, memandang bingung, pemuda ini dahulu hanya diberitahu oleh Thian Te Siang mo bahwa dia adalah putera dari Go Sik An yang tewas bersama isterinya oleh Bangsa Kin. Thian Te Siang mo sama sekali tidak pernah menceritakan tentang Tan Seng atau orang orang lain. Maka tentu saja ia tidak kenal kepada kakek ini dan melihat sikap kakek ini, Ciang Le menjadi bingung sekali.

“Ada apakah lo enghiong...” tanyanya, karena sepanjang pengetahuannya, Tan Seng hanyalah seorang diantara tokoh tokoh Hoa san pai.

“Ciang Le… cucuku...” Hanya demikian saja Tan Seng dapat berkata dan ia segera merangkul pemuda itu.

Ciang Le mendengar semua ini menjadi makin terheran dan ia memandang ke arah tokoh tokoh Hoa san pai yang lainnya, yaitu Liang Gi Cinjin dan Liang Tek Sianseng, yang hanya berdiri sambil menundukkan muka, nampaknya terharu sekali. Ketika Ciang Le melirik ke arah Bi Lan, bukan main kagetnya karena gadis itu memandangnya dan matanya bercucuran air mata!

Ketika Ciang Le menatap wajah gadis itu dengan alis terangkat, penuh pertanyaan, Liang Bi Lan berkata diantara isaknya, “Dia adalah kong kongmu, ayah dari mendiang ibumu...”

Bukan main girang dan terharunya hati Ciang Le sungguhpun ia masih bingung karena kenyataan yang tiba tiba ini. Ia lalu melepaskan pelukan Tan Seng dan menjatuhkan diri berlutut. “Kong kong...” katanya perlahan.

Tan Seng dapat menguasai hatinya dan ia mengangkat bangun pemuda itu dan memandanginya ke seluruh tubuhnya dengan hati besar dan girang sekali. “Ciang Le, kau tentu bingung menghadapi semua ini kalau tidak melihat baju ayahmu yang kaupakai ini... baju kematiannya ... akupun mungkin tidak percaya bahwa cucuku telah menjadi seorang pemuda yang gagah seperti engkau ini...” kata Tan Seng dan kakek ini lalu menceritakan betapa dahulu ketika ibu Ciang Le bersama dia dan ayah Bi Lan berusaha memampas jenasah Go Sik An yang digantung. Ciang Le yang masih orok itu ditinggalkan dan kemudian lenyap diculik oleh Thian te Siang mo!

Terharu sekali hati Ciang Le mendengar ini, terutama sekali mendengar betapa ayah Bi Lan juga tewas karena berkorban membela ayah bundanya. Ia mengerling ke arah Bi Lan yang masih merah matanya karena terharu, dan menangis itu, lalu berkata perlahan, “Adik Bi Lan, mendiang ayahmu besar sekali jasanya dan aku patut menghaturkan terima kasihku kepadamu.” Pemuda ini lalu berlutut di depan Bi Lan!

Tentu saja gadis itu menjadi gugup sekali dan cepat cepat ia lalu menyingkir, tidak mau menerima penghormatan sebesar itu. “Tidak, tidak! Ciang Le jangan kau menghaturkan terima kasih kepadaku. Kalau tidak ada… kong kong, eh… kong kong mu ini… yang merawatku semenjak kecil, entah apa jadinya dengan diriku...”

Tan Seng berkata, “Bangunlah, Ciang Le, tidak perlu banyak sungkan terhadap orang sendiri. Bi Lan telah kuaku menjadi cucuku sendiri dan… memang ia patut menjadi cucuku yang baik!”

Pada saat itu, Liang Gi Cinjin mendapat pikiran baik sekali. Ia melangkah maju mendekati Tan Seng dan berbisik sebentar di telinga sutenya ini. Tan Seng mendengarkan dan seketika mukanya berseri dan mulutnya tersenyum biarpun pipinya masih basah oleh air mata tangisnya tadi!

“Bagus, terima kasih, suheng, memang pikiran itu sudah ada dalam pikiranku semenjak aku mendapat harapan bahwa Ciang Le masih hidup!” Ia lalu menengok kepada Ciang Le dan Bi Lan yang memandang kepada orang orang tua itu dengan penuh dugaan.

“Ciang Le, dan kau Bi Lan. Pertemuan ini sudah dikehendaki oleh Thian dan inilah saatnya pula aku orang tua menyampaikan hasrat hatiku yang disokong pula oleh suhengku. Kalian berdua adalah anak anak yatim piatu dan orang tuamu hanyalah aku seorang. Oleh karena itu, sekarang juga kunyatakan bahwa kalian akan menjadi suami isteri, atau tegasnya aku menjodohkan kalian satu kepada yang lain!”

Liang Gi Cinjin dan Liang Tek Sianseng tersenyum mendengar omongan ini, akan tetapi akibatnya membuat dua orang muda itu menjadi merah mukanya sampai ke telinga. Akan tetapi, sungguh mengherankan semua orang ketika tiba tiba Bi Lan menangis dan di dalam tangisnya itu ia berkata,

“Tidak...! Tidak…! Tak mungkin...!”

Setelah berkata demikian, gadis ini lalu meloncat pergi dan berlari cepat sekali meninggalkan tempat itu. Sebentar saja ia telah menghilang ke arah timur. Sebelum tiga orang tokoh Hoa san pai itu dapat berkata kata, Ciang Le mendahului mereka.

“Kong kong, bagaimana aku bisa bicara tentang perjodohan dalam masa seperti ini? Kematian ayah bunda belum terbalas, tentara penjajah belum terusir, perjuangan bangsa belum selesai, bagaimana bicara tentang jodoh? Aku tidak mau menikah sebelum selesai tugas itu? Maaf dan selamat tinggal!” Pemuda inipun meloncat dan sekejap saja lenyap pula menyusul Bi Lan!

Tan Seng dan dua orang suhengnya menarik napas panjang. Terdengar Liang Gi Tojin berkata, “Begitulah orang orang muda. Penuh semangat dan berdarah panas! Tidak apa, sute. Jangan gelisah, urusan ini dapat dilanjutkan kelak. Lebih baik kita sekarang menyusul murid murid kita, karena Bi Lan tentu juga menyusul Hok Seng dan Bu Tek untuk membantu mereka. Adapun tentang pemuda cucumu itu. Tan sute, tak usah dikawatirkan. Kulihat ilmu kepandaiannya bahkan lebih tinggi dari Bi Lan. Tentu kelak kita akan dapat bertemu dengan dia kembali!”

Tan Seng menghela napas dan ia tak dapat berbuat sesuatu kecuali menurut kehendak suhengnya. Demikianlah, tiga orang tokoh Hoa san pai inipun lalu turun dari tempat itu, pergi ke medan perjuangan membantu para patriot yang sedang berjuang mengusir penjajah Kin yang memeras rakyat jelata.

Bi Lan berlari cepat sekali, bagaikan seekor rusa betina muda yang berlari lari lincah melawan tiupan angin. Tubuhnya meluncur cepat sehingga seandainya ada orang dusun atau petani melihatnya, tentu orang ini hanya melihat berkelebatnya bayangan saja. Ia mempergunakan ilmu lari cepat Liok te Hui teng (Terbang di Atas Bumi) yang ia pelajari dari Thian Te Siang mo. Guru gurunya sendiri, tokoh tokoh Hoa san pai, agaknya takkan dapat mengimbangi kecepatan larinya ini.

Setelah berlari setengah hari lamanya tanpa mengurangi kecepatan dan merasa bahwa kini ia telah berada jauh sekali dari guru gurunya dan dari pemuda baju kembang itu, Bi Lan lalu duduk di atas rumput, di tempat yang teduh di pinggir hutan, untuk beristirahat. Lelah juga rasanya setelah berlari larian setengah hari lamanya itu dan bukan main segar dan enaknya ditiup angin hutan yang sejuk. Bi Lan mengeluarkan saputangannya dan menghapus butir butiran peluh yang membasahi jidat dan lehernya. Pipinya kemerah merahan dan matanya berseri, tidak hanya karena habis berlari cepat, akan tetapi terutama sekali karena teringat akan kata kata Tan Seng tentang perjodohan itu. Tiap kali ia teringat akan ucapan kakek angkatnya, pipinya menjadi merah lagi dan hatinya berdebar tidak karuan. Ia tidak tahu bagaimana perasaan hatinya pada waktu itu, ada girang, ada marah, malu, penasaran, juga bingung dan gugup, amat gugup sehingga kalau teringat, berkali kali ia menghapus jidatnya yang sudah kering tak berpeluh itu dengan saputangannya.

Ia akui bahwa Ciang Le amat tampan dan gagah, lebih tampan dan gagah dari pada suhengnya Lie Bu Tek dan Gan Hok Seng, dan sikapnya lemah lembut, halus dan sopan pula. Ia tahu bahwa kepadaian Ciang Le dalam ilmu silat cukup tinggi, barang kali tidak kalah olehnya sendiri, walaupun tidak setinggi kepandaian orang yang telah menolongnya dan menolong guru gurunya keluar dari tahanan! Tentu saja gadis ini juga para tokoh Hoa san pai, tidak pernah mengira bahwa orang yang berkepandaian tinggi dan yang menolong mereka itu bukan lain adalah Ciang Le sendiri, karena pemuda itu memang tidak membicarakan hal itu.

Akan tetapi, sungguhpun Ciang Le cukup tampan, gagah, dan pandai, bagaimana ia bisa menjadi isterinya? Ia telah berjanji kepada guru gurunya, Thian Te Siang mo, untuk memberi “hajaran” kepada Go Ciang Le, murid Thian Te Siang mo yang dianggap murtad dan khianat itu! Bagaimanakah pertanggungan jawabnya terhadap dua orang gurunya itu kalau kelak mereka ketahui bahwa ia bukan ia bukan memberi “hajaran”, bahkan menjadi isteri dari Ciang Le?

Pikiran ini membuatnya pening dan siliran angin yang sejuk membuat ia mengantuk sekali dan sebentar kemudian, tanpa terasa lagi Liang Bi Lan telah tertidur pulas di atas rumput itu, bersandarkan batang pohon!

Bi Lan memang cantik sekali, apalagi bersandar pada pohon dalam keadaan tertidur, di tempat yang sunyi dan indah. Ia benar benar seperti seorang bidadari yang tertinggal oleh kawan kawannya yang telah terbang kembali ke sorga setelah turun dan bermain main di hutan. Wajahnya yang manis dan berkulit putih itu nampak nyata dengan kulit batang pohon yang hitam kecoklatan di belakangnya. Tubuhnys yang ramping dan penuh sempurna bentuknya nampak indah sekali bersandar pada batang pohon yang lembam dan kasar. Rambutnya yang digelung ke atas, agak terlepas dan segumpal rambut tertiup angin melambai lambai menyapu jidat dan pipinya. Entah berapa lama ia tertidur, Bi Lan tak dapat ingat lagi. Ia sadar ketika mendengar suara orang dan ketika ia membuka matanya, ia melihat seorang laki laki tinggi besar seperti raksasa yang berwajah menakutkan, tengah berdiri bertolak pinggang menghadapi Ciang Le yang sikapnya tenang seperti biasa! Saking heran dan terkejutnya, Bi Lan hanya bisa duduk dan memandang kepada mereka.

“Ha, ha, ha, orang muda yang masih hijau! Kau lebih baik menyingkir pergi, jangan kau menanti sampai aku Tiat pi him (Biruang Lengan Besi) menjadi marah!” kata laki laki tinggi besar itu sambil matanya melirik lirik penuh gairah kepada Bi Lan.

“Kaulah yang harus pergi dari sini, orang tak tahu aturan,” kata Ciang Le dengan suara tenang. “Tak pantas sekali seorang laki laki berdiri melihat seorang gadis yang tak dikenalnya sedang tidur seorang diri. Sungguh kau tak tahu malu!”

Orang itu tertawa dan suaranya menyeramkan sekali, seperti gerengan seekor biruang tulen. “Pemuda gila! Kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan! Kalau hatiku tak sedang gembira menemukan bunga indah di hutan sunyi ini, tentu kau takkan bisa berpanjang cerita lagi, sudah tadi tadi kau kupecahkan kepalamu!” Kemudian sikapnya berobah dan wajahnya beringas ketika ia memandang kepada Ciang Le dengan penuh kecurigaan “Eh, bangsat, apakah kau juga tertarik kepada bunga itu? Awas, dia punyaku, kau lekas pergi!”

“Manusia kasar! Jangan persamakan aku dengan manusia berhati binatang seperti engkau! Kau mengandalkan namamu sebagai Biruang Berlengan Besi, hendak kurasakan sampai di mana kerasnya tanganmu!”

Orang itu tertawa lagi dan karena ia sedang bertolak pinggang, maka kepalanya doyong ke belakang dan wajahnya menengadah ketika ia tertawa bergelak itu. “Lucu, lucu! Seekor kelinci menantang biruang! Ha, ha, ha! Kau menantang berkelahi. Sekali pukul saja, remuk dadamu, bocah!”

“Benarkah? Coba kita saling pukul satu kali saja dan hendak kulihat siapa yang akan patah patah tulangnya,” jawab Ciang Le.

Thanks for reading Pendekar Budiman jilid 12 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »