Pendekar Budiman jilid 06

Pendekar Budiman Jilid 06

KINI, tangan yang kecil dan halus itu berdarah karena menolongnya. Melihat betapa tangan kanan Cun Eng amat canggung membalut tangan kirinya sendiri, pemuda itu lalu menghampiri dan berkata, “Biarlah aku membalut tanganmu, nona”

Tanpa menanti jawaban, ia lalu mengambil saputangan itu dan mulai membalut tangan Cun Eng yang terluka, setelah menaruhkan obat bubuk warna putih yang selalu berada di kantongnya untuk membuat luka itu lekas kering dan mencegah panas.

Ketika pemuda itu sedang membalut tangannya, Cun Eng memandang dengan mata tertutup dan mesra sekali. Ia mendoyongkan tubuhnya mendekati pemuda itu lalu berbisik, “Koko, kau baik sekali. Aku... aku suka kepadamu.”

Melihat betapa gadis itu makin mendekat sehingga sebagian rambut yang panjang hitam itu membelai pipinya, Ciang Le menjadi berdebar dan cepat cepat menyelesaikan pekerjaannya membalut. Kemudian ia melangkah mundur tiga tindak dan menjura lalu berkata,

“Kiang pangcu, sekarang aku bermohon diri. Terima kasih atas segala kebaikanmu. Biarlah lain kali kalau ada kesempatan aku akan membalas keramahanmu itu.”

Terbelalak mata Cun Eng mendengar ucapan ini. “Apa...? Kau hendak pergi? Jangan koko, jangan pergi dulu…! Kau harus bermalam di sini. Bukankah kau tamuku, tamuku yang kami hormati? Kau harus bermalam disini koko.” ia mengulang dengan suara memohon.

Ciang Le ragu ragu, akan tetapi ia lalu menggeleng kepala. “Tidak usah, nona. Aku sudah cukup banyak menimbulkan repot padamu. Aku harus pergi dari sini.”

Berkerut kening gadis itu dan untuk beberapa lama ia diam saja. Ciang Le tidak tahu bahwa gadis ini sedang memutar otaknya yang cerdik dan penuh tipu muslihat Kemudian gadis itu menarik napas panjang dan nampak sedih sekali. “Hwa I Enghiong, kalau kau berkeras hendak pergi, aku yang bodoh juga tak dapat berbuat sesuatu. Bagaimana aku dapat menahanmu? Akan tetapi, dengan terjadinya hal tadi, hatiku merasa tidak enak dan lenyap kegembiraan kita. Kau mau pergi? Baiklah, akan tetapi lebih dulu temanilah aku minum tiga cawan arak.”

Ciang Le merasa serba salah. Ia telah minum arak terlalu banyak daripada semestinya, ia bukan seorang peminum dan beberapa cawan tadi saja sudah membuat kepalanya mulai terasa ringan sekali. Akan tetapi, bagaimana ia dapat menolak?

“Kiang siocia, maafkanlah aku. Sekarang aku sudah cukup banyak minum arak. Baiklah aku berjanji bahwa lain kali, kalau aku kebetulan lewat di kota ini, aku akan menemani minum arak, tidak hanya tiga cawan, bahkan sepuluh cawan!” Ia mencoba tersenyum.

Akan tetapi Cun Eng tampak marah dan kecewa. “Hm, jadi sedemikian sajakah penghargaan Hwa I Enghiong kepadaku? Aku telah mengundangnya, menjamunya, permintaannya untuk mengurangi hukuman para penjahat kuturuti, bahkan baru saja aku telah melepaskan dia dari bahaya maut sehingga tanganku berdarah. Dan sekarang hanya menemani minum tiga cawan arak saja dia tidak mau? Ah… aku benar benar telah merendahkan diri terlalu sekali…” dengan amat pandainya, tiba tiba Cun Eng dapat mengeluarkan air mata dari kedua matanya dan nona cantik ini mulai menangis.

Tentu saja Ciang Le menjadi sibuk sekali “Ah, jangan kau berpikir bahwa aku memandang rendah kepadamu, nona.” Kemudian melihat nona itu tetap menangis, ia menghela napas, “Baiklah, baiklah, aku menemaniku minum tiga cawan lalu aku pergi. Akan tetapi jangan mentertawakan kalau aku menjadi mabok karenanya!”

Cun Eng mengangkat mukanya dan dengan air mata masih membasahi pipinya, gadis itu tersenyum. “Koko, kau baik sekali, terima kasih!”

Mau tak mau Ciang Le tersenyum juga melihat gadis ini. Baru saja menangis, sudah tersenyum lagi dan diam diam ia mengakui bahwa gadis ini benar benar cantik dan menarik hati sekali. Hanya sayang… ah, ia mencela diri sendiri, mengapa ia menyayangkan? Perduli apa dengan nona ini? Ia tidak berhak memikirkannya. Dengan langkah tetap Ciang Le lalu menghampiri bangkunya yang tadi dan duduk sambil menanti Cun Eng menuangkan arak ke dalam cawan.

“Hwa I Enghiong.” kata Cun Eng sambil menukarkan cawannya sendiri dengan cawan Ciang Le, “Baru sekarang aku bertemu dengan orang seperti engkau. Sayang sekali kau mau buru buru pergi saja, sesungguhnya aku merasa berbahagia kalau kau… suka tinggal untuk beberapa lama di sini atau… bahkan selama hidupmu tinggal bersamaku di sini. Aku suka kepadamu, terus terang saja, aku suka sekali kepadamu. Biarlah perpisahan ini akan selalu menjadi kenang-kenangan, maka mari kita bertukar cawan. Aku takkan melupakanmu, sahabatku yang baik.”

Cun Eng mengangkat cawannya. Ciang Le tak dapat menjawab. Mukanya sudah menjadi merah karena jengah dan malu. Kata kata apa yang dapat ia ucapan terhadap pernyataan seperti itu? Ia lalu mengangkat cawannya pula dan mereka minum arak itu dengan sekali teguk. Kembali Cun Eng mengisi cawan cawan yang sudah kering.

“Cawan kedua ini untuk bersyukur bahwa kau telah terhindar dari pada bahaya maut!”

Karena hal itu memang betul betul terjadi dan tidak ingin menyinggung perasaan nona itu, Ciang Le menurut saja dan minum pula araknya yang ke dua ini, kepalanya mulai terasa pening dan denyut darahnya makin cepat. Celaka, pikirnya, maboklah aku? Akan tetapi pemuda ini masih dapat mempergunakan lweekangnya untuk mengatur jalan darahnya dan memperkuat dirinya.

“Cawan ke tiga untuk pertemuan kita yang mesra ini” Cun Eng mengangkat cawannya dan memandang kepada Ciang Le dengan, kerling mata demikian tajam dan senyum demikian menarik dan manisnya sehingga ketika Ciang Le mengangkat cawannya sendiri memandang kepada gadis itu, ia melihat seorang bidadari yang luar biasa eloknya berdiri di depannya!

Dengan kepala makin bingung dan tidak karuan, Ciang Le cepat cepat menenggak araknya yang ke tiga. Ia lalu menaruh cawan kosong itu di atas meja, menghela napas lega lalu menjura kepada Cun Eng dan berkata, “Sekarang maafkan aku, nona. Aku harus pergi!” Setelah berkata demikian, ia buru buru membalikkan tubuhnya agar jangan melihat lagi senyum yang manis sekali dan kerling yang seakan akan membetot semangatnya Itu.

Cun Eng tidak menahannya, bahkan tidak mengeluarkan sepatahpun kata kata. Akan tetapi gadis ini memandang kepada pemuda itu dengan senyum melebar ketika melihat betapa Ciang Le ketika membalikkan tubuh tadi tidak menuju keluar, bahkan menuju ke dalam rumah! Kemudian, pemuda itu terhuyung huyung dan hampir roboh kalau saja Cun Eng tidak cepat melompat dan memeluknya,

“Hati hati, koko, kau nanti jatuh…” tegurnya dengan senyum dikulum dan suara merdu dan halus.

Ciang Le benar benar bingung Ada bau yang harum menusuk hidungnya, bukan bau arak tadi. Tiba tiba ia teringat bahwa ketika minum cawan kedua bau harum ini lebih keras lagi memasuki tenggorokannya. Ah, celaka, pikirnya. Tentu wanita ini telah mencampur racun di dalam arak yang diminumnya! Ketika ia merasa betapa Cun Eng memeluknya, ia cepat memberontak dan membentak.

“Kau mencampuri apa dalam arak tadi…”

Akan tetapi Cun Eng hanya tertawa tawa saja dan terdengar ia berkata, “Ah, kau mabok… kau lucu sekali, koko yang manis…!” Kembali Cun Eng hendak memeluk karena tubuh Ciang Le bergoyang goyang hendak jatuh.

“Kurang ajar, kau tentu meracuniku!” kata Ciang Le dan pemuda ini segera mengangkat tangan kanan untuk menampar muka nona itu. Akan tetapi ternyata bahwa tenaganya telah menjadi lemah dan ketika Cun Eng merundukkan kepala, tamparannya mengenai tempat kosong dan kini bahkan lengannya itu melingkari leher nona itu seperti orang yang memeluk kekasihnya!

“Kokoku yang manis...” kata pula Cun Eng sambil merangkul Cian Le dan ditariknya pemuda itu menuju ke kamarnya di bagian barat gedung.

Ciang Le seperti orang yang setengah pingsan, tidak ingat apa apa dan dengan tersaruk saruk setengah ditarik oleh Cun Eng, ia menurut saja dibawa ke dalam kamar bertirai halus itu. Dua orang itu tidak tahu bahwa semenjak pertemuan dalam perjamuan tadi, telah ada bayangan orang yang mengintai mereka. Bayangan ini adalah seorang kakek yang berpakaian sebagai seorang sasterawan dan yang berwajah sabar sekali. Sungguh luar biasa gerakan kakek ini karena biarpun yang berada di dalam ruangan itu orang orang yang memiliki kepandaian tinggi, namun tak seorangpun diantara mereka yang dapat mendengarkan gerakan kakinya.

Ketika Cun Eng merangkul Ciang Le yang sudah setengah pingsan dan mabok karena pengaruh obat yang dicampurkan dalam arak oleh Cun Eng, tiba tiba datang lain bayangan menyambar dan mengintai. Berbeda dengan bayangan pertama, yakni sasterawan itu, bayangan ke dua ini memandang ke dalam dengan mata bernyala nyala. Tak lama kemudian datang lagi seorang kawannya yang juga mengintai di sebelahnya. Dua orang ini adalah dua orang kakek yang berpakaian pendeta dan berwajah sama. Mereka saling pandang dengan muka merah dan seorang diantaranya berbisik...

“Kurang ajar sekali, Ciang Le! Benar benarkan dia hendak mengecewakan kita dan demikian lemah menghadapi wajah cantik?” yang bicara ini adalah Te Lo mo, sedangkan Thian Lo mo hanya mengerutkan keningnya.

Memang dua orang yang baru datang ini adalah Thian Te Siang mo, guru dari Ciang Le yang selama ini diam diam dan dari jauh mengikuti perjalanan murid mereka untuk melihat sepak terjangnya. Ketika Ciang Le berada di rumah ketua Hek kin kaipang, kedua orang iblis tua ini merasa heran. Mereka dulu pernah datang di tempat ini, yakni ketika mereka mengalahkan ketua dari Hek kin Kaipang dan membuka rahasia Bi Mo Ii dan Siang tung him sebagaimana yang telah dituturkan oleh Cun Eng kepada Ciang Le. Thian Te Lo mo lalu mengadakan penyelidikan di dalam kota dan mendengar bahwa kini Hek kin kaipang merupakan perkumpulan yang kuat dan bahkan membasmi kejahatan, mereka merasa lega.

Akan tetapi ketika dinanti sampai malam murid mereka belum juga keluar dari rumah itu, mereka merasa curiga dan segera melakukan penyelidikan. Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi dan tahu tahu mereka menyaksikan betapa dalam keadaan mabok, Ciang Le dirangkul dan dituntun oleh ketua Hek kin kaipang yang cantik dan genit itu memasuki kamarnya!

Thian Te Lo mo menjadi marah sekali. Mereka telah mendengar akan sifat sifat cabul dan genit dari Kiang pangcu, ketua Hek kin kaipang, dan kini melihat Ciang Le seperti melayani kehendak wanita ini, mereka menjadi kecewa sekali. Yang amat mengherankan, biarpun kedua iblis tua ini amat lihai, juga tidak melihat adanya bayangan sasterawan tua yang mengintai di tempat itu, sebaliknya sasterawan itu dapat melihat mereka!

“Anak itu lebih baik mampus di tangan kita dari pada mencemarkan nama baik kita!” kata Te Lo mo yang berwatak lebih keras dari pada kakaknya.

Akan tetapi sebelum mereka bergerak, tiba tiba melayang bayangan yang gesit sekali bagaikan seekor burung garuda menyambar ke dalam kamar itu. Thian Te Lo mo terkejut dan merekapun lalu melarang turun. Yang lebih kaget adalah Cun Eng. Ia telah merasa girang sekali karena berhasil membikin Ciang Le tidak berdaya. Gadis ini benar benar jatuh hati kepada pemuda itu dan ia hendak berusaha membikin pemuda itu menjadi kekasihnya atau kalau mungkin, menjadi suaminya. Ia percaya akan kecantikan dan kecerdikannya. Biarpun pemuda ini keras hati, namun ia telah mendapat daya unuk membikin Ciang Le menurut kehendak hatinya. Sambil membisik bisikkan rayuan yang mesra, ia telah menarik pemuda yang telah lemas tak berdaya itu dan membaringkannya di atas pembaringannya yang indah. Dan pada saat itu, ia melihat bayangan yang luar biasa gesitnya memasuki kamarnya.

“Kurang ajar, siapa kau berani masuk ke dalam kamarku?” bentak Cun Eng. Ia tadinya mengira bahwa ini mungkin Bi Mo li yang telah dapat melepaskan diri dan hendak mengganggu Ciang Le. maka ia telah mencabut sepasang goloknya dan berniat membunuh Bi Mo li yang dianggapnya terlalu sekali. Akan tetapi ketika melihat bahwa yang datang dan yang kini telah berdiri di depannya dengan senyum mengejek itu adalah seorang laki laki tua berpakaian sasterawan, Cun Eng tertegun. Ia tidak kenal siapa orang ini.

“Siapakah engkau? dan perlu apa kau berlancang memasuki kamarku tanpa permisi?”

Sasterawan tua itu menuding ke arah Ciang Le dan berkata, “Lohu datang hendak membawa dia keluar dari sini. Nona, namamu sebagai ketua Hek kin kaipang telah ternama dan terkenal sebagai seorang gagah yang tidak tercela, apakah kau sekarang hendak merusak namamu itu hanya karena ketampanan wajah seorang pemuda? Salah, kau salah...” Setelah berkata demikian, sekali bergerak saja, sasterawan tua itu telah melompat ke dekat pembaringan Ciang Le dan di lain saat, pemuda itu telah dikempit di bawah lengan kirinya.

“Setan tua, lepaskan!” seru Cun Eng marah sekali. “Siapakah kau berani sekali mencampuri urusanku? Sungguh tak bermalu!”

....Halaman 20-21 tidak ada...

Luliang Siucai, seorang diantara pelayan dari Pak Kek Siansu itu tersenyum sabar. “Bukan mencampuri urusanmu, Siang mo. Soalnya ialah bahwa aku telah melihat sendiri betapa pemuda ini telah menolong seorang pemuda sasterawan. Oleh karena ini maka aku merasa menjadi kewajibanku untuk membalas budinya itu terhadap orang segolonganku.”

Pada saat itu Cun Eng telah tiba di situ dan gadis ini terkejut bukan main ketika melihat Thian Te Siang mo berada di situ dan mendengar bahwa sasterawan tua yang merampas kekasihnya itu adalah Luliang Siucai, tokoh luar biasa yang sudah banyak dikenal namanya. Siapakah orang di dunia kang ouw yang tidak mengenal nama Luliang Ciangkun. Luliang Siucai, dan Luliang Nungjin, tiga tokoh utama berpakaian Perwira, Sasterawan, dan Petani, tiga orang murid dan pelayan dari Pak Kek Siansu, guru besar yang ditakuti oleh semua orang itu?

Melihat mereka ini, Cun Eng segera mengeluarkan jerit rahasia dari perkumpulannya dan sebentar saja terdengar suara kaki yang banyak sekali mendatangi tempat itu. Pertama tama yang muncul adalah Siang tung him dan Beng san kui. Akan tetapi dua orang kakek tokoh Hek kin kaipang inipun berdiri tertegun dan tidak berani sembarangan bergerak ketika melihat Thian Te Siang mo. Adapun Luliang Siucai mengeluarkan suara ketawa perlahan, kemudian mengenjot kedua kakinya dan bagaikan sesosok bayangan setan tubuhnya telah melayang keluar dari tempat itu sambil mengempit tubuh Ciang Le!

“Siucai tua bangka, lepaskan dia!” seru Thian Lo mo dan diikuti oleh adiknya, ia lalu melompat mengejar.

Cun Eng dan dua orang kakek pembantunya itu tidak berani mengejar dan mereka hanya saling pandang dengan muka pucat. Ketika para pemimpin Hek kin kaipang tingkat dua ke bawah datang berturut turut mendengar pekik tanda rahasia tadi. Cun Eng dengan mendongkol dan kecewa sekali lalu membubarkan mereka. Kemudian ketua dari Hek kin kaipang, nona cantik ini, lalu kembali ke dalam kamarnya menjatuhkan diri di atas pembaringan dan menangis terisak isak dengan amat sedih dan kecewanya!

“Siucai, benar benarkah kau tidak mau melepaskan dia?” Seru Te Lo mo ketika dia dan kakaknya mengejar Luliang Siucai. “Dia itu murid kami, tahukah kau? Apakah kau tidak malu melarikan murid orang lain?”

“Tidak ada guru yang hendak membunuh muridnya tanpa dosa!” kata Lu liang Siucai sambil mempercepat larinya.

“Kau perduli apa? Lepaskan dia!” Sambil berkata demikian. Thian Lo mo mengayun tangannya dan tujuh batang Kim kong touw kut ciam (Jarum Penembus Tulang Bersinar Emas) melayang dengan amat cepatnya ke arah belakang tubuh kakek sasterawan itu mengarah jalan darah di tujuh tempat!

Luliang Siucai takkan patut disebut pelayan dan murid Pak Kek Siansu kalau ia roboh oleh setangan gelap ini, sungguhpun serangan ini agaknya takkan mudah dielakkan oleh sembarang tokoh persilatan. Tanpa menoleh, kakek sasterawan itu mengebutkan lengan bajunya yang panjang dan lebar itu ke belakang tubuhnya. Bagaikan sehelai layar perahu tertiup angin keras, ujung lengan baju itu mengembang dan mengeluarkan angin, mengebut runtuh tujuh jarum itu.

Akan tetapi, kembali menyambar tujuh batang jarum, disusul lagi oleh tujuh batang yang lain berturut turut sebanyak tiga kali. Luliang Siucai terkejut sekali Cepat ia mempergunakan ginkangnya untuk melompat jauh menghindarkan diri dari sambaran dua puluh satu batang jarum yang datang bagaikan hujan itu. Baiknya di dekat situ terdapat sebatang pohon yang besar sekali sehingga ia cepat melompat ke balik pohon dan dengan sendirinya serangan jarum jarum itu tertahan oleh pohon berikut dahan dan daun daunnya.

Ketika Thian Te Siang mo mengejar ke balik pohon, kakek sasterawan itu telah menghilang di dalam gelap. Sepasang iblis ini menyumpah nyumpah dan memaki maki. Kalau saja mereka tidak jerih menghadapi Pak Kek Siansu, tentu mereka akan terus mengejar ke Luliang san. Menghadapi tiga pelayan atau murid dari Pak Kek Siansu yakni Luliang Siucai, dan Luliang Nungjin saja mereka berdua masih sanggup untuk mengimbangi kepandaian mereka, akan tetapi biarpun kedua orang lihai ini belum pernah berhadapan sendiri dengan Pak Kek Siansu, namun mendengar nama guru besar itu mereka telah kuncup hatinya!

“Dasar kita yang bernasib buruk” Te Lo mo membanting banting kaki kanannya, “anak itu kita didik semenjak kecil, tidak tahunya sekarang ternyata hanya menjadi seorang pemuda pemogoran, pemuda hidung belang, mata keranjang yang kelak hanya akan mencemarkan nama kita saja!”

Thian Lo mo yang lebih tenang dan sabar berkata, “Belum tentu seburuk itu. Yang paling menggemaskan adalah Luliang Siucai itu. Dia bawa pergi murid kita mau apakah?”

“Hm, apalagi? Dia tentu tertarik melihat bakat yang baik pada diri Ciang Le dan hendak mengambilnya sebagai murid!”

Karena masih penasaran, kedua orang iblis ini lalu mendatangi rumah Cun Eng. Tanpa permisi lagi mereka lalu melompat ke atas genteng dan Cun Eng ketika itu masih menangis tersedu sedu di dalam kamarnya ketika tahu tahu ia mendengar suara angin dan ketika gadis ini mengangkat kepala, ternyata ia telah berhadapan dengan Thian Te Lo mo! Kalau dalam keadaan biasa, tentu gadis ini akan menjadi pucat ketakutan, karena ia sudah tahu sampai di mana kelihaian sepasang iblis ini yang kepandaiannya jauh lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri. Akan tetapi pada saat itu, Cun Eng sedang patah hati berduka, maka ia menjadi nekat dan tidak merasa takut sama sekali.

“Kalian datang apakah hendak membunuhku? Kalau demikian, lekas turun tangan, aku tidak takut mati!”

“Hm, apa sukarnya membunuh orang seperti engkau? Akan tetapi, apa gunanya pula? Betapapun juga, kami sudah tahu akan sepak terjang Hek kin kai pang dan tidak ada alasan bagi kami untuk membunuhmu. Kami datang untuk minta penjelasan darimu. Mengakulah sejujurnya, apakah murid kami yang goblok ini betul betul suka kepadamu, ataukah kau yang menipu dan membujuknya?”

Perih hati Cun Eng mendengar pertanyaan ini. Ia tahu bahwa biarpun ia mencinta pemuda itu dengan seluruh hatinya, namun ia masih belum berani menentukan apakah pemuda yang keras hati itu akan sudi melayani dan menyambut cinta kasihnya. Ia tersenyum pahit dan berkata,

“Jiwi totiang kalian ini dua orang tua mengapa hendak mencampuri urusan orang orang muda? Aku suka kepada Ciang Le dan dia tergila gila kepadaku, kalian orang orang tua ini apakah tidak lebih baik lekas panggil dia kembali dan rebut dari tangan sasterawan gila itu agar kebahagian kami berdua takkan terganggu?”

“Betul betul bangsat berhidung kerbau!” Te Lo mo memaki muridnya dan tanpa banyak cakap lagi kedua orang iblis ini lalu melompat dan pergi dari tempat itu.

Kembali Cun Eng menjatuhkan diri di atas pembaringan untuk melanjutkan tangisnya yang tadi terganggu oleh Thian Te Siang mo.

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Inilah sebabnya mengapa Thian Te Siang mo menjadi kecewa sekali terhadap murid mereka dan ketika mereka mendengar tentang undangan terhadap orang orang kang ouw yang dilakukan oleh Sam Thai Koksu di kota Cin an mereka lalu datang mengunjungi, sebagian untuk menghibur hati mereka yang kecewa, juga untuk melihat siapa siapa saja diantara orang orang kang ouw yang akan datang menghadiri undangan itu.

Dan sebagaimana telah dituturkan di bagian depan dari cerita ini, Thian Te Siang mo bertemu dengan Liang Bi Lan, murid Hoa san pai yang muda, cantik manis, lincah dan cerdik itu. Mari sekarang kita kembali menengok keadaan Bi Lan yang hadir di dalam taman besar di kota Cin an di mana Sam Thai Kok su mengadakan perjamuan untuk menghormat orang orang kang ouw yang hendak diajak berunding.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Bi Lan diajak duduk di bangku dekat panggung oleh Kim Kiok. Sebetulnya, Bi Lan merasa tidak suka kepada wanita setengah tua yang masih genit ini, akan tetapi oleh karena ia tidak melihat orang yang dikenalnya di tempat itu, dan pula Kim Kiok berlaku ramah kepadanya terpaksa ia melayani ajakan kawan baru ini.

Makin banyak tamu yang datang memenuhi tempat itu Akan tetapi, menurut pandangan Bi Lan, sebagian besar orang orang yang datang adalah orang orang kang ouw yang kasar dan tidak seberapa tinggi kepandaiannya. Tentu saja ada kekecualiannya, misalnya tiga orang yang semenjak ia masuk telah menarik perhatiannya, yakni kakek jembel, nenek yang kepalanya dibalut saputangan putih, dan hwesio yang besar pendek itu. Kemudian datang dua orang yang menarik perhatian karena mereka ini biarpun telah berusia kurang lebih lima puluh tahun, namun masih bertubuh kekar dan gagah, serta tindakan kaki mereka gesit sekali.

Orang pertama membawa pedang dan orang ke dua membawa tongkat bercagak. Sam Thai Koksu menyambut kedatangan dua orang ini dengan muka berseri, “Selamat datang, jiwi ciang bunjin (dua orang ketua) dari Hui eng pai! Sudah lama sekali kita tidak saling bertemu. Silakan duduk!” kata Kim Liong Hoat ong sambil berdiri dari bangkunya. Semua orang mendengar disebutnya Hui eng pai, menjadi tertarik dan memandang kepada dua orang yang baru datang itu. Juga Bi Lan terkejut dan memperhatikan. Ia sudah lama mendengar nama Hui eng pai sebagai perkumpulan yang amat ditakuti dan terkenal sekali di Pegunungan Tapie san.

Tepat seperti dugaan Bi Lan tentang orang orang yang paling lihai yang berada di situ, orang orang yang dipersilakan duduk di meja kehormatan, yakni yang berada di panggung, adalah kakek jembel tadi, hwesio yang besar pendek itu, dan nenek tua yang kepalanya dibalut saputangan putih. Ketika tadi Kini Liong Hoat ong mempersilakan nenek itu untuk duduk di meja kehormatan, nenek itu menerima baik akan tetapi menuntut agar supaya dua orang muda laki laki dan wanita yang datang bersama dia dan yang disebut sebagai murid muridnya itupun diperkenankan duduk di tempat itu! Oleh karena jumlah orang yang menduduki tempat kehormatan kini banyak sekali, maka terpaksa dinaikkan sebuah meja lagi dan tempat kehormatan itu dipecah menjadi dua meja yang dikelilingi korsi korsi atau bangku bangku berukir yang mewah.

Agar jelas, maka baik diterangkan bahwa yang menduduki tempat kehormatan di atas panggung itu adalah Kim Liong Hoat ong, Gin Liong Hoat ong, dan Tiat Liong Hoat ong sebagai tuan rumah, yaitu ketiga Sam Thai Koksu. Kemudian sebagai tamu tamunya adalah nenek itu yang kemudian ternyata adalah seorang tokoh besar dari barat yang hanya diketahui shenya saja, yaitu she Liu. Oleh karena itu, ia di sebut Liu Toanio dan berjuluk Siu kun (Kepalan Sakti). Pemuda dan pemudi itu adalah enci adik yang menjadi muridnya, yang perempuan bernama Liok Hui berusia kurang lebih tiga puluh tahun, berwajah cantik dan pendiam sehingga nampak keren sekali, yang laki laki bernama Liok San berusia dua puluh lima tahun. Ke tiganya adalah tokoh tokoh Kwan im pai.

Kakek jembel yang selalu nampak mengantuk dan melenggut saja itu juga bukan orang sembarangan, karena dia ini adalah Bu Eng Lokai (Pengemis Tua Tanpa Bayangan) seorang hiapkek (pendekar) perantau yang sudah banyak membikin pusing kepala para pembesar Kin karena melakukan hal hal yang menggemparkan dan menentang tindakan sewenang wenang dari pemerintah Kin.

Hwesio gemuk pendek itu bukan lain adalah tokoh ke dua dari Go bi pai bernama Bu It Hosiang, yang menurut pengakuan Cu Bi adalah guru pemuda ini. Akan tetapi benar benar aneh karena pada saat itu, pemuda ini sama sekali tidak pernah memperlihatkan diri. Bagi yang mengetahui, tentu tidak aneh karena memang Cu Bi telah diusir oleh Bu It Hosiang dan karenanya orang muda ini tidak berani memperlihatkan hidungnya kepada bekas suhunya.

Siapakah dua orang yang baru datang itu tadi, yang disebut oleh Kim Liong Hoat ong sebagai ketua ketua dari Hui eng pai? Tentu pembaca masih ingat karena dua orang ini bukan lain adalah Suma Kwan Seng dan Suma Kwan Eng, ketua pertama dan ke dua dari Hui eng pai yang lihai.

Demikianlah, ada sepuluh orang duduk di atas panggung itu, dan semua tamu memandang kearah mereka dengan penuh keseganan karena semua itu adalah orang orang terkemuka. Bi Lan juga memandang dengan penuh perhatian, dan karena kebetulan sekali Kim Kiok mengajaknya duduk di dekat panggung, maka ia berada di bawah tokoh tokoh besar itu dan dapat mendengarkan percakapan mereka,

“Mengapa jiwi hanya datang berdua? Di mana adanya Sam paicu?”

Ditanya tentang orang ketiga, yaitu adik seperguruan mereka. Suma Kwan Eng menjadi muram mukanya. “Sute kami Ciu Hoan Ta telah celaka dalam tangan orang orang Hoa san pai.”

Mendengar nama Hoa san pai disebut sebut, Bi Lan memasang telinga dengan penuh perhatian.

“Apa yang telah terjadi?” tanya Kim Liong Hoat ong. “Bagaimana Ciu enghiong sampai bentrok dengan orang orang Hoa san pai?”

“Ah, tak perlu diceritakan, karena hanya akan memanaskan perut, Toa koksu,” kata Suma Kwan Seng kepada Kim Liong Hoat ong, “Suteku itu telah tewas karena keroyokan orang orang Hoa san pai tetapi biarlah, akan datang masanya kami berdua membalas dendam kepada keparat keparat Hoa san pai itu!”

Bukan main marahnya Bi Lan mendengar partainya dimaki maki orang, wajahnya menjadi merah sekali dan sepasang matanya yang bening itu memancarkan cahaya berapi, Kim Liong Hoat ong mengerling ke arah Bi Lan dan tuan rumah ini merasa tidak enak juga mendengar ketua Hui eng pai itu memaki maki Hoa san pai yang pada saat itu diwakili oleh seorang nona yang kebetulan sekali duduknya begitu dekat!

“Harap Suma ciangbunjin jangan terlalu keras mengeluarkan celaan, karena pada waktu ini ada pula seorang wakil dari Hoa san pai yang hadir...” katanya perlahan.

Akan tetapi pada saat itu, sebelum Suma Kwan Seng dan Suma Kwan Eng yang telah menjadi marah itu bertanya di mana adanya wakil Hoa san pai, tiba tiba Bu It Hosiang yang duduknya berhadapan dengan dua orang ketua Hui eng pai itu, telah menggebrak meja di depannya sehingga cawan cawan arak berlompatan ke atas.

“Memang sungguh menjemukan sekali orang orang Hoa san pai! Pantas saja jiwi merasa sakit hati. Pinceng sendiri kalau hari ini melihat seorang diantara mereka berada di sini, akan pinceng beri tempelengan tiga kali pada batok kepalanya!”

Kim Liong Hoat ong dan dua orang adiknya saling pandang dan mereka merasa makin tidak enak. Sesungguhnya, tiga orang guru negara ini amat licin dan cerdik di samping kepandaian silat mereka yang tinggi. Pada waktu itu, perlawanan rakyat secara sembunyi sembunyi terhadap pemerintah Kin tiada hentinya dilakukan oleh patriot patriot Bangsa Han. Biarpun secara resmi Tiongkok bagian utara diduduki oleh pemerintah Kin namun rakyat yang tidak merelakan tanah airnya dikuasai penjajah, selalu mendatangkan rongrongan berupa pemberontakan pemberontakan, pengacauan pengacauan dan perlawanan terhadap pemerintah Kin Sam Thai Koksu maklum bahwa biarpun pemberontakan pemberontakan ini bersumber pada semangat rakyat jelata yang tidak mau dijajah, namun tanpa pimpinan orang orang pandai pemberontakan pemberontakan itu takkan berarti apa apa. Oleh karena inilah, maka Sam Thai Koksu telah merendahkan diri untuk mengundang dan menghubungi orang orang kang ouw. Kalau jalan “mempererat” hubungan dengan mereka ini tidak berhasil, masih ada jalan lain, yaitu mengadu dombakan mereka!

Oleh karena inilah, biarpun pada wajah mereka kelihatan perasaan tak senang dan tidak enak mendengar kedua pimpinan Hui eng pai dan hwesio tokoh Go bi pai itu memaki maki Hoa san pai, namun di dalam hati tiga orang tokoh pembesar Kin ini diam diam tertawa dengan puas. Hoa san pai telah mereka kenal sebagai partai persilatan yang besar dan berpengaruh. Demikian pula Go bi pai. Adapun Hui eng pai juga merupakan partai liar yang amat kuat, maka kalau sampai terjadi bentrokan antara tiga partai ini, hal itu hanya mendatangkan kepuasan dan sesuai benar dengan siasat siasat pemerintah Kin!

Kini menghadapi Bu It Hosiang yang kelihatannya berangasan itu, Kim Liong Hoat ong bermaksud “menyiram” api itu dengan minyak. Akan tetapi sebagai seorang yang pandai dan berpengalaman, ia tidak mau berpihak, tidak mau kalau sampai terlibat di dalam bentrokan itu. Maka seperti tak disengaja dan karena memang tertarik ingin mengetahui Kim Liong Hoat ong bertanya kepada Bu It Hosiang.

“Bu It Losuhu, sebetulnya mengapakah kau marah marah kepada Hoa san pai? Bukankah sepanjang pendengaran kami, Hoa san pai adalah partai persilatan besar dan nama nama seperti Lian Gi Tojin, Liang Bi Suthai, Liang Tek Sianseng, dan Tan Seng taihiap sudah amat terkenal sebagai orang orang gagah di dunia kang ouw?”

Bi Lan ikut membuka telinga baik baik. Diam diam ia suka kepada Kim Liong Hoat ong yang memuji muji nama guru gurunya.

“Bah, orang orang gagah di dunia kang ouw? Mereka itu, terutama Liang Bi Suthai, adalah orang orang sombong yang mengandalkan kepandaian sendiri untuk menghina orang! Baru beberapa hari yang lalu, kalau tidak suhu berhati murah, nenek sombong itu tentu sudah pinceng hajar mampus!”

Hampir saja Bi Lan membuka mulutnya untuk membalas dampratan hwesio gemuk pendek itu, akan tetapi ia didahului oleh Kim Liong Hoat ong yang bertanya kepada Bu It Hosiang, “Sebenarnya apakah yang telah terjadi antara losuhu dengan Liang Bi Shuthai?”

Bu It Hosiang tadi sudah mendengar bahwa di situ terdapat seorang wakil Hoa san pai, karena tadi ia telah menengok ke sana ke mari dan tidak melihat adanya seorang diantara empat tokoh Hoa san pai ia menduga bahwa yang datang tentulah seorang anak murid yang tidak mempunyai kedudukan berarti. Maka ia tidak ambil perduli dan bahkan sengaja menuturkan kejadian itu untuk memberi tahu kepada semua yang mendengarnya betapa sombong nenek dari Hoa san pai itu.

“Liang Bi Suthai, nenek sombong Hoa san pai itu belum lama ini dengan beraninya, mengandalkan kesombongannya, telah naik ke Go bi dan menemui kami,” ia mulai menutur dengan singkat. “Dengan kata katanya yang kasar ia menuduh bahwa seorang murid kami berbuat jahat. Nenek itu telah membunuh seorang anak murid Go bi pai, kemudian ia datang bukan untuk minta maaf kepada suhu, melainkan mengeluarkan kata kata kasar, siapa yang dapat menahan sabar lagi? Suteku, Tiauw It Hosiang karena masih muda tak dapat menahan sabar lagi lalu menyerangnya, akan tetapi Tiauw It sute yang masih muda itu tentu saja tidak dapat menang. Setelah pinceng turun tangan barulah nenek bawel itu dapat kukalahkan. Tadinya pinceng hendak membalas kematian anak murid kami, sayangnya suhu yang berhati penuh welas asih itu mencegahku dan mengampuni nenek bawel itu, membiarkan nenek bawel itu pergi tanpa mengganggunya. Bahkan suhu telah memberi obat kepada nenek yang telah kulukai itu. Nah, cuwi (tuan tuan sekalian) pikir, bukankah Liang Bi Suthai si nenek bawel itu benar benar sombong sehingga bebani dia datang menjual lagak di tempat kami?”

Bi Lan terkejut sekali dan juga marah, tahu bahwa setelah Tiauw It Hosiang dahulu itu datang mengacau di Hoa san pai dan ia kalahkan, gurunya wanita itu memang hendak pergi ke Go bi pai untuk mendamaikan urusan perselisihan itu dengan ketua Go bi pai, Kian Wi Taisu. Menurut penuturan hwesio gendut ini, ternyata gurunya itu telah mengalami kekalahan di puncak Go bi!

Tentu saja Bi Lan dan juga semua orang tidak tahu duduknya perkara yang sesungguhnya. Memang di dunia ini siapakah orangnya yang dapat menginsafi kekeliruan sendiri dan mengemukakan kebenaran lain orang yang bermusuhan dengan dia? Tak terkecuali Bu It Hosiang. Penuturannya tadi memang berat sebelah dan ia menimpakan semua kesalahan pada Liang Bi Suthai. Agar jelas, mari kita meninjau sebentar apa yang telah terjadi di puncak Go bi pai itu beberapa hari yang lalu.

Sebagaimana telah dituturkan di depan Liang Bi Suthai berangkat seorang diri mengunjungi Go bi pai untuk bertemu dengan ketua Go bi pai, Kian Wi Taisu, guna membicarakan perselisihan yang timbul antara Go bi pai dan Hoa san pai, juga untuk menegur Kian Wi Taisu berhubung dengan sepak terjang anak murid Go bi pai dan yang akhir akhir ini tentang pengacauan Tiauw It Hosiang di Hoa san.

Dengan kepandaiannya yang tinggi, Liang Bi Suthai sebentar saja sudah berada di puncak Go bi san dan menghadap Kian Wi Taisu. Ia diterima oleh ketua Go bi pai itu di ruang berlatih silat di kelenteng Go bi pai, di mana Kian Wi Taisu, dan murid muridnya telah duduk menantinya. Di ujung ruangan lian bu thia (tempat berlatih silat) itu, nampak Kian Wi Taisu duduk di atas sebuah bangku. Sikapnya dingin dan angker.

Hwesio yang sudah tua sekali ini menegangi tongkat hwesionya yang berat dan panjang. Para hwesio pengurus yang menjadi murid murid dan cucu cucu muridnya berdiri dengan sikap sopan di kanan kiri dan belakangnya. Tokoh ke dua dan ke tiga dari Go bi pai, yakni Bu It Hosiang dan Tiauw It Hosiang, berdiri di sebelah kiri guru besar itu.

Melihat sikap hwesio hwesio itu yang amat dingin menyambut kedatangannya, hati Liang Bi Suthai merasa tidak enak, akan tetapi ia tidak merasa jerih dan terus menghampiri Kian Wi Taisu sambil memberi hormat. Ia tidak tahu bahwa Kian Wi Taisu telah dibikin panas hatinya oleh Tiauw It Hosiang muridnya. Karena menaruh hati dendam atas kekalahannya terhadap murid termuda dari Hoa san pai di puncak Hoa san, Tiauw It Hosiang lalu mengadu kepada gurunya. Ia menceritakan betapa seorang anak murid telah terbunuh oleh Liang Bi Suthai, dan bahwa ketika ia naik ke Hoa san untuk menegur, ia dikalahkan pula oleh seorang anak murid Hoa san pai.

Kian Wi Taisu adalah seorang tokoh besar Go bi pai yang memiliki kepandaian tinggi sekali, namun ia tetap seorang manusia biasa dari darat dan daging, oleh karena itu iapun belum dapat melepaskan jiwanya dari pada sifat memilih. Sudah tentu saja ia lebih berat kepada anak anak muridnya dan lebih percaya kepada Tiauw It Hosiang, sehingga ketika mendengar penuturan muridnya itu, diam diam ia merasa mendongkol juga. Akan tetapi ia telah dapat memiliki kesabaran besar, maka ia hanya berpesan agar supaya para muridnya jangan sekali kali mencari permusuhan lagi dengan orang orang Hoa san pai.

Kini tiba tiba Liang Bi Suthai muncul, tentu saja diam diam Kian Wi Taisu menjadi makin gemas. Ia menerima kedatangan nenek Hoa san pai ini dengan muka dingin dan pandang mata penuh selidik,

“Harap Tai suhu suka memaafkan kelancanganku datang menghadap tanpa memberi tahu lebih dulu,” kata Liang Bi Suthai dengan tenang, setelah ia memberi hormat ia tidak memberi hormat secara berkelebihan, karena biarpun Kian Wi Taisu memiliki kedudukan tinggi dalam partai Go bi pai, Liang Bi Suthai merasa bahwa kedudukannya setingkat. Biarpun ia bukan pemeluk Agama Buddha melainkan seorang pendeta wanita Agama To kauw namun kedudukannya di Hoa san pai pun terhitung paling tinggi.

“Hm, bagus, Liang Bi Suthai. Baik kau datang, karena bukankah kedatanganmu ini akan minta maaf atas kesalahan tangan membunuh seorang murid kami dan hendak mendamaikan urusan ini?” tanya Kian Wi Taisu. Sebetulnya memang hwesio tua ini sudah merasa lega juga melihat kedatangan nenek ini, di samping perasaan mendongkol. Kalau saja orang Hoa san pai mau datang minta maaf, iapun akan menghabiskan urusan itu. Sebagai seorang pemimpin partai besar, Kian Wi Thaisu dapat tahu juga bahwa anak murid Go bi pai yang terbunuh oleh nenek ini bukanlah seorang murid yang baik, bahkan boleh dibilang seorang murid yang murtad dan menyeleweng.

Akan tetapi, ucapan ketua Go bi pai tadi membangkitkan kerut merut pada kening Liang Bi Suthai. Nenek ini memang terkenal berwatak berangasanan keras hati, ia datang hendak menegur Kian Wi Taisu atas sepak terjang murid muridnya, tidak tahunya ia bahkan diharapkan datang untuk minta maaf!

“Tidak salah dugaanmu bahwa aku datang untuk mendamaikan urusan, akan tetapi sekali kali bukan dari fihakku yang harus minta maaf. Aku bukan seorang yang gila akan pujian akan tetapi kalau hendak dibicarakan tentang maaf, Pihak Go bi pailah yang seharusnya minta maaf!”

Sepasang mata Kian Wi Taisu memancarkan sinar kilat. Ia telah bertahun tahun dapat menahan kesabarannya karena memang di puncak Go bi san itu tidak pernah ada urusan sesuatu yang dapat membangkitkan marahnya. Kini menghadapi Liang Bi Suthai, kemarahannya timbul bagaikan seekor harimau tidur dibangunkan.

“Liang Bi Suthai, kalau kau tidak mau minta maaf, apakah kau anggap bahwa pembunuhanmu terhadap anak murid kami, dan perlakuanmu terhadap muridku Tianw It ketika ia pergi ke Hoa san, apakah semua itu kau anggap sudah tepat dan betul?”

Liang Bi Suthai tidak takut dan menentang sinar mata hwesio tua itu. “Mengapa tidak betul? Dengarlah, Kian Wi Taisu. Murid Go bi pai yang terbunuh olehku itu adalah seorang penjahat cabul yang amat kejam! Aku membunuhnya bukan mengingat bahwa dia murid Go bi, melainkan berdasar kejahatannya dan untuk menolong wanita wanita dari gangguannya. Salahkah itu? Kemudian, muridmu Tiauw It Hosiang ini yang mengandalkan kepandaiannya, menyerbu ke Hoa san pai di mana ia menghina murid murid kami. Akhirnya datang muridku yang termuda dan Tiauw lt Hosiang dikalahkan oleh muridku yang termuda itu! Salah pulakah ini?”

Tiba tiba terdengar teriakan keras dan Tiauw It Hosiang meloncat maju sumbil membentak, “Setan perempuan, kau hendak berlaku sombong di sini?” Sambil berkata demikian, Tiauw It Hosiang sudah menyerang dengan jari telunjuk tangan kanannya yang dituruskan ke atas! Datang datang Tiauw It Hosiang ini sudah hendak mempergunakan ilmu pukulan It ci sinkang yang terkenal.

Liang Bi Suthai maklum akan berbahayanya serangan It ci sinkang ini, maka cepat ia mengelak ke kiri sambil berkata kepada Kian Wi Taisu, “Kian Wi Tai suhu, beginikah kelakuan murid muridmu terhadap seorang tamu?”

Nenek yang keras hati ini tidak menanti sampai hwesio tua itu menjawab, kemudian secepat kilat ia lalu membalas serangan Tiauw It Hosiang dengan ilmu pukulan yang bertubi tubi dilakukan dengan kedua tangannya. Liang Bi Suthai adalah ahli silat tangan kosong yang paling lihai diantara saudara saudaranya, maka serangannya ini hebat sekali sehingga biarpun Tiauw It Hosiang sudah berusaha menangkis, namun tetap saja hwesio ini terdesak mundur dengan hebat dan angin pukulan yang bertenaga kuat itu membuat Tiauw It Hosiang terhuyung huyung!

Tiba tiba dari samping menyambar angin pukulan yang sekaligus menolak pukulan Liang Bi Suthai. Nenek ini terkejut karena tangkisan itu benar benar kuat sekali. Ketika ia memandang, ternyata yang menangkis itu adalah Bu It Hosiang yang menolong sutenya.

“Hm, Bu It Hosiang apakah kau juga sedogol sutemu?” Kemudian nenek ini berkata kepada ketua Go bi pai. “Tai suhu, benar benarkah kau hendak menghina seorang tamu dari Hoa san pai? Apakah benar benar kau tidak ingat dan tidak mau tahu lagi bahwa kita semua sebenarnya berasal dari satu sumber?”

Kian Wi Taisu tersenyum dingin. “Memang sukarlah bagi seseorang untuk menyadari, Liang Bi Suthai. Kau menyalahkan kami, akan tetapi kau tidak ingat bahwa betapapun besar kejahatan seorang anak murid kami, namun kau sama sekali tidak berhak untuk membunuhnya! Kalau memang benar anak murid Go bi pai jahat, mengapa kau tidak menegurku sehingga kami dapat turun tangan sendiri? Mengapa tahu tahu kau telah membunuhnya? Itu adalah kesalahan besar sekali. Kemudian sekarang kau mengejek kami karena Tiauw It telah menyerangmu. Apakah kau tidak ingat lagi betapa Tiauw It ketika menjadi tamu di gunungmu, juga kau telah menyerangnya dengan murid muridmu sehingga ia kalah?”

Liang Bi Suthai tidak mengira bahwa ketua Go bi pai ini demikian pandai bicara, ia lalu memandang tajam dengan sikap menantang. “Kalau begitu, kalian hendak mengambil keputusan bagaimanakah? Aku bersedia melayani, memang sudah lama aku ingin sekali menyaksikan sampai di mana kehebatan ilmu kepandaian dari Kian Wi Taisu ketua Go bi pai!”

Kian Wi Taisu tertawa dan ia mengetuk ngetukkan tongkatnya di atas lantai. “Liang Bi Suthai, biar suhengmu sendiri, Liang Gi Cinjin, masih belum cukup kuat untuk menguji kepandaianku. Apalagi kau! Bu It, coba kau layani tamu kita ini main main sebentar!”

Hal ini memang sudah sejak tadi dikehendaki oleh Bu It Hosiang, maka ia segera melangkah maju menghadapi nenek Hoa san pai itu. Hwesio pendek besar ini lalu mengeluarkan sebatang toya kuningan dan sambil tersenyum mengejek ia berkata, “Liang Bi Suthai, cobalah kau layani toyaku ini beberapa jurus untuk menambah kebodohanku!”

Liang Bi Suthai sudah marah sekali Dengan muka merah ia menjawab, “Hwesio kasar, tak perlu banyak cakap lagi,” lalu tiba tiba ia mengayun tangan kacaunya menampar ke arah dada hwesio itu Bu It Hosiang cepat mengelak dan di lain saat, toyanya sudah menggempur ke arah kepala Liang Bi Suthai. Keistimewaan nyonya tua ini memang terletak pada kedua tangan dan kedua ujung lengan bajunya yang panjang dan yang ia pergunakan sebagai sepasang senjata pendek, maka ia tak pernah mempergunakan senjata dalam pertempuran. Dengan ginkangnya yang tinggi, biarpun bertangan kosong, ia tidak gentar menghadapi lawan yang bersenjata.

Akan tetapi, menghadapi Bu lt Hosiang murid tertua dari Kian Wi Taisu dan tokoh ke dua dari Go bi pai, ternyata ia telah menemui tandingan yang setimpal. Keduanya mengerahkan kepandaian masing masing dan sebentar saja tubuh kedua orang tua ini lenyap terbungkus gulungan sinar toya yang diputar cepat sekali oleh Bu It Hosiang. Menonton pertempuran yang hebat ini, hanya Tiauw It Hosiang dan Kian Wi Taisu saja yang dapat mengikuti jalannya pertandingan dengan jelas dan diam diam Kian Wi Taisu mengagumi ilmu silat tangan kosong dari tokoh Hoa san pai itu.

Akan tetapi oleh karena senjata toya lebih berat dan panjang dari pada senjata sederhana berupa ujung lengan baju, setelah bertempur seratus jurus lebih, tiba tiba terdengar suara keras dan kedua orang itu melompat mundur. Bu It Hosiang terkejut sekali melihat senjata toyanya telah patah menjadi dua, akan tetapi Liang Bi Suthai terhuyung dengan wajah pucat dan bibirnya menjadi merah karena dari mulutnya mengeluarkan darah! Ternyata bahwa tadi ujung toya Bu It Hosiang berhasil menyodok dada nenek itu, yang cepat mengerahkan lweekangnya dan “menggunting” dengan kedua lengannya. Biarpun ia berhasil dapat mematahkan toya itu, namun tetap saja bagian atas dadanya, dekat pundak kanan telah tersodok toya dan ia menderita luka di dalam tubuh yang lumayan.

“Kepandaian Bu It Hosiang benar benar lihai,” nenek itu menjura sambil menahan sakit.

“Liang Bi Suthai,” kata Kian Wi Taisu menyesal, “ketika Tiauw lt pergi ke Hoa san, ia telah menderita luka di dalam tubuhnya. Sekarang kau datang ke sini, luka pula. Ah, aku menyesal sekali. Biarlah pinceng memberi obat untuk menyembuhkan lukamu.” Sambil berkata demikian, Kian Wi Taisu merogoh kantong jubahnya dan memberi tiga butir pil merah kepada Liang Bi Suthai.

Akan tetapi nenek ini menjura kepadanya dan berkata, “Tai suhu mulia sekali, akan tetapi ketika Tiauw It Hosiang terluka di Hoa san, iapun menolak obat dari Hoa san pai. Apakah sekarang aku ada muka untuk menerima obat dari Go bi pai? Tidak, terima kasih dan sampai jumpa pula!” Setelah berkata demikian,, Liang Bi Suthai lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Demikianlah peristiwa jang terjadi di puncak Go bi san, di kelenteng dari partai Go bi pai. Tentu saja Bu It Hosiang yang kini hadir di dalam taman raya di kota Cin an, tidak menceritakan semua dengan jelas. Namun penuturannya itu, kecuali kepada Bi Lan yang menjadi marah sekali, membuat semua tamu menarik kesimpulan bahwa Liang Bi Suthai benar benar sombong.

“Memang terlalu sekali orang orang Hoa san pai!” kata Suma Kwan Eng, ketua nomor dua dari Hui eng pai. “Mereka itu baru tahu rasa kalau sudah diberi hajaran. Karena itu, setelah selesai menghadiri pertemuan di sini kami berdua juga hendak menuntut balas atas kematian sute kami di Hoa san! Orang she Tan itu harus menebus kematian sute!”

Wajah Bi Lan sebentar pucat sebentar merah saking marah dan mendongkolnya. Akan tetapi gadis ini maklum bahwa ia menghadapi banyak sekali orang pandai yang sukar untuk dilawan, oleh karena itu, gadis ini memutar otaknya dan tidak berani berlaku secara sembrono. Ia telah mengambil keputusan untuk memperkenalkan diri agar orang orang itu tidak membuka mulut seenaknya saja, akan tetapi baru saja ia berdiri, terdengar Bu It Hosiang bertanya kepada Satu Thai Koksu.

“Pinceng tadi mendengar bahwa di sini hadir pula anak murid Hoa san pai. Yang manakah dia? Menurut pinceng, agar jangan sampai pertemuan ini dikotori oleh orang sombong, wakil Hoa san pai itu disuruh meninggalkan tempat ini saja!”

Pada saat itu, dari bawah panggung berkelebat bayangan yang gesit sekali dan tahu tahu Bi Lan sudah berdiri menghadapi tokoh tokoh besar yang mendapat tempat duduk istimewa itu. Karena gadis ini langsung menghampiri Bu It Hosiang sambil memandang dengan senyum mengejek dan mata tak berkedip, hwesio ini membentak,

“Anak kurang ajar, siapa kau?”

“Dia inilah wakil dari Hoa san pai,” kata Kim Liong Hoat ong yang diam diam merasa girang karena ia mengharapkan mereka semua itu saling bentrok dan bermusuhan, sungguhpun pada lahirnya ia seakan akan menjadi orang yang mendamaikan.

Bu It Hosiang tertegun, demikian juga kedua orang saudara Suma dari Hui eng pai. Melihat bahwa wakil dari Hoa san pai hanya seorang nona muda sekali yang cantik jelita dan nampak lemah, mereka tentu saja memandang rendah.

“Ah, kalau nona ini yang mewakili Hoa san pai, biar sajalah jangan disuruh pergi. Kasihan dong nona manis yang masih muda ini. Biarlah memandang mukanya, kami mengalah dan menberi ampun. Baiknya dia diberi tempat duduk di atas panggung sehingga semua orang dapat melihatnya,” kata Suma Kwan Eng. Ucapan ini sebenarnya selain memperolok olok, juga memandang rendah dan menghina sekali, di samping sifatnya yang membuktikan nilai watak orang yang bicara. Akan tetapi, banyak juga yang tertawa gembira dan menyatakan setuju! Demikianlah watak orang orang lelaki yang pada dasarnya memang gila kecantikan apa bila melihat seorang nona cantik. Memang sedari tadi, Bi Lan telah dijadikan sasaran banyak sekali mata laki laki yang hadir di tempat itu!

Bi Lan tersenyum manis sehingga dekik pipinya nampak nyata ketika ia menjura kepada Suma Kwan Eng, “Terima kasih, kau baik sekali, pantas saja kau masih hidup, tidak seperti sutemu itu yang pendek usia.”

Kalau tadi wajah Suma Kwan Eng penuh dengan seri mentertawakan, kini tiba tiba berobah cemberut dan keningnya berkerut. Sudah biasanya, kalau orang suka memperolok orang lain di depan umum dia sendiri tidak suka dipermainkan orang. Akan tetapi sebelum Suma Kwan Eng menjawab, Bu It Hosiang sudah berdiri dan menghadapi Bi Lan. Pendeta gundul ini memandang tajam penuh perhatian. Ia tidak memandang gadis ini serendah pandangan kedua saudara Suma itu, karena ia teringat akan penuturan sutenya yang katanya kalah oleh gadis muda murid Hoa san pai.

“Apakah kau yang telah melukai suteku Tiauw It Hosiang?” tanyanya.

Bi Lan menghadapi hwesio tua ini dengar senyum manis, sungguhpun hatinya gemas sekali memikirkan bahwa hwesio ini telah melukai Liang Bi Suthai. “Siapa sih Tiauw It Hosiang itu?” ia balas bertanya dengan pandangan mata lucu.

Bu It Hosiang meraba tongkatnya yang lihai. “It ci sinkang Tiauw It Hosiang hanya seorang saja, yaitu suteku dari Go bi pai. Kau kah yang dulu di puncak Hoa san telah melukainya?”

Bi Lan beraksi seakan akan ia berpikir keras kemudian dengan muka lucu ia berkata, “Aku tidak tahu apakah namanya It ci sinkang Tiauw It Hosiang atau bukan. Yang aku tahu hanyalah seekor kepiting gundul yang lucu sekali. Eh, Bu It Hosiang, kalau waktu itu kau berada di sana, kau tentu takkan dapat menahan ketawamu karena geli. Aku benar benar masih ingin tertawa terpingkal pingkal kalau mengenangkan kepiting gundul itu. Ia menari nari kepiting, beginilah!” Lalu gadis ini membuat gerakan dengan kedua jari telunjuk di mainkan, seperti kepiting merayap. Orang orang yang hadir di situ tertawa bergelak melihat sikap yang lucu ini. “Nah, apakah kau mau bilang bahwa kepiting gundul itu sutemu?”

“Gadis kurang ajar! Kau berani mempermainkan tokoh tokoh Go bi pai demikian rupa? Apakah kau sudah bosan hidup?”

“Bosan hidup? Kalau aku bosan hidup, aku akan menutup hidung dan mulutku dengan tangan, menahan napas dan… nah, apakah kau kira aku dapat bernapas lagi? Tidak, hwesio tua aku masih suka sekali hidup!” jawaban Bi Lan terang sekali hendak mempermainkan hwesio itu.

“Setan cilik, mengakulah bahwa kau yang melukai suteku,”

“Bukan aku yang melukai, adalah kepiting gundul itu sendiri yang cari penyakit. Kalau di dalam laut, ia boleh beraksi mengulur kaki kakinya yang panjang. Akan tetapi ia menari di darat dan kebetulan sekali pada waktu itu aku dan guru guruku ingin makan telur kepiting. Aku berusaha menangkap kepiting untuk dimasak, eh, dia hendak menyapit, tentu saja kuketok kepalanya. Begini!” Gadis itu membuat gerakan seperti orang memukul sesuatu dengan tangannya.

Hampir saja Bu It Hosiang tak dapat menahan nafsunya lagi. Dari hidungnya keluar hawa panas dan kepalanya sampai pening saking bergolaknya nafsu marah di dalamnya. “Mengakulah, benar benar kau yang melukainya? Aku hampir tidak percaya! Atau, apakah memang murid Hoa san pai pengecut semua, berani berbuat tidak berani mengaku?”

“Bu It Losuhu, sebelum aku menjawab, kau mengakulah dulu, apakah kau yang melukai guruku Liang Bi Suthai di puncak Go bi san?”

Bu It Hosiang tertegun. “Sudah kuceritakan tadi.”

“Kau mengakulah yang jelas, atau, apakah orang orang Go bi pai pengecut semua, berani berbuat tidak herani mengaku?” Pertanyaan ini jelas sekali adalah tiruan dari pertanyaan hwesio tadi maka makin marahlah Bu It Hosiang.

Bu It Hosiang yang sudah marah sekali hampir saja tak dapat menahan hatinya. Ingin ia sekali menggerakkan toyanya menghancurkan kepala gadis muda Hoa san pai yang sudah pernah menjatuhkan sutenya, juga sekarang di hadapan orang banyak telah berani mengeluarkan kata kata mempermainkannya.

Akan tetapi sebelum ia bergerak, tiba tiba dari bawah menyambar tubuh seorang laki laki yang berkumis tebal. Sepasang tangannya memegang dua batang tombak pendek dan sikapnya sombong sekali. Biarpun orang ini masih belum tua benar, paling banyak empat puluh tahun, namun kumisnya yang tebal itu sudah putih, demikian pula rambutnya. Akar tetapi ia menutup ubannya dengan topi sedangkan bajunya kotak kotak aksi sekali. Dia adalah seorang tokoh kang ouw yang cukup terkenal, bernama Ciang Kui San. Telah lama Kui San tertarik dan tergila gila kepada Coa Kim Kiok wanita genit itu dan karena Kim Kiok mengaku bahwa dia adalah murid dari Go bi pai, maka kini melihat seorang tokok besar Go bi pai dipermainkan dan dihina oleh seorang nona muda, Ciang Kui San tak sabar lagi dan melompat ke atas panggung.

“Locianpwe, silakan mundur, biar siauwte yang menghadapi bocah kurang ajar ini. Untuk apa memukul seekor anjing betina kecil dengan tongkat besar?”

Bu It Hosiang tidak mengenal orang itu, akan tetapi ia pikir betul juga. Kalau dia tidak dapat menahan nafsu dan melayani Bi Lan di tempat itu, maka semua orang yang kebanyakan adalah orang orang kang ouw itu akan menyaksikan pertempuran antara dia dan anak murid Hoa san pai. Ini sungguh merendahkan namanya. Dia adalah tokoh ke dua dari Go bi pai, seorang yang boleh dibilang telah menduduki tingkat tinggi. Masa dia harus menghadapi seorang gadis semuda ini, yang bahkan menjadi murid termuda dari Hoa san pai? Sungguh tidak patut sekali! Maka ia mengangguk kepada Kui San lalu mengundurkan diri, duduk di tempatnya yang tadi.

Ciang Kui San terkenal sebagai seorang yang mabok akan paras cantik. Dia seorang laki laki pemogoran yang mengandalkan kepandaiannya suka membikin ribut. Kini ia menghadapi Bi Lan sambil tertawa cengar cengir seperti seekor monyet tua.

“Nona, kau ini masih terlalu hijau sudah berani berlagak di tempat ini. Lebih baik kau berlutut minta ampun kepada locianpwe dari Go bi pai itu, kemudian kau turut aku Ciang Kui San untuk belajar silat barang lima tahun lagi. Bagaimana?”

Bi Lan adalah seorang gadis yang lincah dengan kata kata. Mendengar ucapan yang menghina ini, biarpun ia merasa marah dan mendongkol, namun ia tetap memperlihatkan senyumnya yang manis. “Sungguh lucu mahluk ini!” katanya penuh ejekan. “Kau bisa bicara dan mempunyai nama seperti manusia, akan tetapi melihat mukamu kau seperti monyet tua berkumis lebat, melihat sikapmu kepada Bu It Hosiang, kau tak ubahnya seekor anjing penjilat! Aku namakan engkau manusia setengah monyet setengah anjing. Apa kau ingin dicabut kumismu?” Sambil berkata demikian, tubuh Bi Lan bergerak cepat ke depan dan tangan kanannya menyambar dari kanan untuk mencabut kumis orang.

Merasa betapa sambaran tangan kanan itu mendatangkan hawa yang amat kuat, Ciang Kui San terkejut sekali dan cepat mengelak ke kanan, akan tetapi segera ia berteriak kesakitan karena tangan kiri nona itu sudah memapaki dari kiri dan sekali jambak saja kumisnya yang sebelah kanan copot! Darah mengalir dari kulit di mana kumis lebat tadi tumbuh!

Karuan saja Ciang Kui San berjingkrak jingkrak kesakitan sehingga kelihatan amat lucu. Di sana sini terdengar tertawa tertahan, Kui San marah sekali, ia lalu menyerang dengan sepasang tombaknya. Akan tetapi Kui San ini hanya besar lagaknya saja dan kepandaiannya masih kalah jauh oleh Bi Lan yang kini mainkan Ilmu Silat Ouw wan ciang hwat yang dipelajari dari Coa ong Sin kai. Ouw wan ciang hwat atau Ilmu Silat Lutung Hitam ini lihai sekali, sebagai mana tadi telah diperlihatkan ketika ia mencabut kumis. Gerakan ilmu silat ini dilakukan dengan kedua tangan dan kedua kaki yang selalu saling membantu. Seperti tadi, begitu tangan kanan menyerang, disusul serangan tangan kiri dan sesungguhnya sukar diduga tangan yang manakah yang tenar benar hendak menyerang dan tangan mana yang hanya memancing belaka!

Bi Lan memang seorang dara yang jenaka. Baru segebrakan saja, kalau dia mau, ia dapat merobohkan lawan yang besar suara tiada isi ini, akan tetapi ia bukan Bi Lan kalau hanya merobohkan lawan begitu saja tanpa mempermainkan dulu. Lagi pula, gadis ini hendak menguji Ilmu Silat Ouw wan ciang hwat nya, maka ia sengaja mempermainkan lawannya sambil menampar, menendang, menyiku, dan semua pukulan ini tak lain hanya untuk mempermainkan lawannya belaka.

Mulai terdengar suara suara pujian dari para tamu ketika mereka menyaksikan kehebatan ilmu silat tangan kosong gadis itu. Bahkan para locian pwe seperti Sam Thai Koksu, juga Bu It Ho siang, terkejut sekali melihat ilmu silat itu. Belum pernah mereka menyaksikan ilmu silat seaneh itu, dan dengan malu dan penasaran sekali mereka harus akui bahwa mereka tidak mengenal ilmu silat dari gadis itu!

Yang paling heran dan penasaran adalah Ciang Kui San sendiri. Ia telah melatih diri belasan tahun dan pengalamannya bertempur juga banyak. Bagaimana sekarang dengan sepasang tombaknya yang sudah terkenal itu ia tidak dapat merobohkan seorang dara muda? Benar benar memalukan sekali! Rasa malu ini membuat ia marah bukan main dan kini tombaknya digerakkan secara lebih cepat, nekad dan ganas lagi!

Sambil berseru keras, Bi Lan tertawa tawa dan sambil mengelak ia telah mendupak paha Kui San sehingga terasa sakit sekali. Ciang Kui San maju menubruk dan dengan tangan kanannya ia menusukkan tombaknya ke arah dada Bi Lan. “Mampus kau setan!” bentaknya.

“Aya… monyet tua masih galak, eh?” Bi Lan meloncat ke atas sambil mengelak sehingga tombak itu lewat disamping tubuhnya. Tombak kanan Kui San itu meluncur cepat dan menancap pada tiang panggung. Dan sebelum Kui San dapat mencabutnya kembali, Bi Lan menggerakkan tangannya ke arah muka Kui San, maka tercabutlah kumis di sebelah kiri dari orang itu, Bi Lan tidak berhenti sampai di situ saja. Kakinya menendang dan tubuh Kui San terlempar ke bawah panggung.

Sambil tertawa tawa, Bi Lan mencabut tombak pendek yang masih menancap di tiang itu dan memegangnya dengan sikap tenang. “Cuwi sekalian lihat sendiri bahwa monyet tua itu mencari perkara sendiri. Aku hanya melayaninya saja, jangan mengira bahwa aku yang mencari permusuhan!”

Diantara para penonton ada yang mengenal Bi Lan, maka ia berseru. “Kepandaian Sian li Eng cu benar benar mengagumkan sekali!”

Pada saat itu, Bu It Hosiang sudah meloncat ke depan nona ini dan menggerak gerakkan toyanya. “Anak Hoa san pai, keluarkanlah senjatamu, biar pinceng di sini membuktikan sendiri sampai di mana kelihaian mu maka kau berlagak sombong di depan kami!”

Akan tetapi, setelah keadaan meruncing, Sam Thai Koksu merasa sudah tiba waktunya turun tangan. Kim Liong Hoat ong lalu meloncat maju dan berdiri diantara dua orang itu sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. “Jiwi harap suka memandang muka kami Sam Thai Koksu untuk menyudahi saja pertempuran ini.”

“Tidak mungkin!” kata Bu It Hosiang tak sabar. “Anak Setan ini sudah terlampau jauh menghina kami kaum Go bi pai,”

“Lo enghiong,” kata Bi Lan kepada Kim Liong Hoat ong, “kalau memang losuhu dari Go bi pai ini hendak memperlihatkan bagaimana seorang pendeta menurutkan nafsunya untuk menghina orang muda, biarkanlah dia berbuat sesukanya!”

Ucapan Bi Lan ini menyakitkan hati, akan tetapi juga membuat Bu It Hosiang merasa tak berdaya. Ucapan ini dikeluarkan nyaring sehingga terdengar oleh semua orang, kalau dia sebagai seorang hwesio berlaku nekad terus, tentu semua orang akan menganggapnya keterlaluan! Maka sambil mengertak gigi, hwesio tua ini berkata, “Anak setan, baiklah kita mencari tempat yang sunyi untuk menentukan siapa yang lebih kuat antara Hoa san dan Go bi san!”

“Sudahlah, harap bersabar. Sekarang diatur begini saja. Kami sebagai tuan rumah hendak melanjutkan acara pertemuan malam ini dan kemudian sebagai acara hiburan, boleh diadakan pibu secara terbuka. Siapa saja yang berminat boleh menguji kepandaian sendiri di panggung ini, bagaimana?”

“Setuju! Setuju!!” terdengar teriakan orang dan semua orang lalu mengikuti teriakan ini.

Terpaksa dengan uring uringan Bu It Hosiang kembali ke tempat duduknya. Juga Bi Lan lalu meloncat turun, kembali ke tempat duduknya, akan tetapi Kim Kiok tidak berada di tempatnya yang tadi lagi. Bi Lan juga tidak mau memperdulikan nona itu dan ia duduk dengan senang hendak melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sam Thai Koksu, yang terdiri dari Kim Liong Hoat ong Cin Liong Hoat ong dan Tiat Liong Hoat ong, berdiri di atas panggung, berjejer dan Kim Liong Hoat ong sebagai saudara tertua, bicara terhadap tamu.

“Cuwi sekalian yang mulia. Kami menghaturkan selamat datang dan terima kasih atas perhatian cuwi sekalian mengunjungi pertemuan ini atas undangan kami. Dalam kesempatan ini, kami ingin memperkenalkan diri, dan ingin memperlihatkan bahwa sesungguhnya pemerintah kami ingin bekerja sama dengan cuwi sekalian yang gagah perkasa demi keamanan dan kemakmuran. Kami mempersilakan kepada cuwi enghiong besok pagi mendaftarkan diri sebagai anggauta di kantor kepala daerah Cin an. Hendaknya diketahui bahwa kami membentuk sebuah perkumpulan orang gagah, yang bernama Eng hiong hwe dan kantornya berada di sebelah kantor kepala daerah. Di sana cuwi akan mendapat penjelasan tantang cara dan rencana kerja diri perkumpulan kita. Nah, sekarang kami persilakan kepada cuwi sekalian untuk menikmati hidangan sekedarnya!”

Para pelayan lalu sibuk mengeluarkan arak dan makanan yang serba mahal dan enak. Orang orang gagah yang mendengar omongan Kim Liong Hoat ong dan melihat sikap kakek ini. merasa enak hatinya. Diam diam mereka menganggap bahwa Sam Thai Koksu ternyata bersikap sopan dan beraturan, patut dijadikan kawan daripada menjadi lawan. Akan tetapi semua ini tentu saja tidak dihiraukan oleh Bi Lan.

Ketika gadis ini memperhatikan kepada tokoh tokoh lain, hanya melihat bahwa Sin kun Liu Toanio dan juga Bu eng Lo kai kelihatan tak senang. Bu eng Lo kai si kakek jembel itu mencoret coret tanah dengan tongkatnya dan tidak mau minum arak sama sekali. Matanya memandang ke arah Sam Thai Koksu penuh selidik. Adapun Sin kun Liu Toanio, bicara berbisik bisik dengan Liok Hui dan Liok San dua orang muridnya. Sikap mereka juga tidak bersahabat. Diam diam Bi Lan menjadi gembira karena ia menduga bahwa tentu akan terjadi hal hal yang hebat. Ia sama sekali tidak pernah merasa gentar menghadapi Bu It Hosiang dan dua orang ketua Hui eng pai yang kasar itu, hanya ia masih sangsi akan kepandaian Sam Thai koksu karena melihat sikap mereka, dapat diduga bahwa mereka tentu memiliki kepandaian luar biasa. Juga kakek jembel dan nenek yang kepalanya diikat kain putih itu agaknya orang orang yang lihai sekali.

Setelah arak dibagikan beberapa putaran, Bu It Hosiang sudah tak dapat menahan rasa penasaran dan marahnya lagi terhadap Bi Lan gadis Hoa san pai itu, maka ia lalu melompat dan berdiri di atas panggung yang luas. Ia menjura kepada tuan rumah, lalu berkata sambil menoleh kepada Bi Lan,

“Sekarang pinceng hendak menggunakan kesempatan yang diberikan oleh Sam Thai Koksu, pinceng menantang pibu kepada orang orang Hoa san pai yang kebetulan berada di sini, untuk menentukan mana yang lebih lihai antara ilmu silat Go bi pai dan ilmu silat Hoa san pai.”

Bi Lan biarpun amat periang, namun ia masih muda dan berdarah panas. Ia tidak takut kepada hwesio tua dari Go bi pai itu maka cepat ia berdiri dan sekali kedua kakinya digerakkan, tubuhnya sudah melayang naik ke atas panggung. “Bu It Hosiang, kau tokoh kedua dari Gobi pai benar benar bermulut besar sekali. Biarlah pada malam hari ini tokoh kedua dari Go bi pai berpibu melawan aku, murid paling kecil dari Hoa san pai.”

Bi Lan sengaja menekan pada kata kata tokoh kedua dan murid paling kecil, sehingga orang orang yang mendengar kata katanya dapat menangkap maksud ucapannya itu bahwa sungguh Bu It Hosiang tidak tahu malu, sebagai tokoh ke dua dari Go bi pai ia hendak turun tangan terhadap murid paling kecil dari Hoa san pai...!

Thanks for reading Pendekar Budiman jilid 06 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »