Pendekar Budiman jilid 04

Pendekar Budiman Jilid 04

DENGAN mata terbelalak heran, Bi Lan melihat gurunya memperlihatkan kepandaiannya. Dengan siul dan desis yang aneh, gennya ini dapat memerintah kepada ular ular yang makin lama makin banyak muncul di tempat itu. Ular ular itu dapat diperintah untuk berbaris, untuk mengangkat leher dai menari nari di depannya, kemudian dengan barisan yang rapih sekali merayap rayap mengelilingi Raja Ular itu. Dan semua ini hanya dilakukan dengan desis dan siulan yang amat kuat bunyinya dan juga amat tinggi sekali hingga Bi Lan dapat menduga bahwa suara suara itu hanya dapat dikeluarkan dengan tenaga khikang yang hebat.

Senang juga melihat binatang binatang itu dapat dipermainkan sekehendak hatinya oleh Coa ong Sin kai. Akan tetapi, diam diam Bi Lan merasa makin geli dan jijik, apa lagi setelah ia melihat betapa Coa ong Sin kai mengambil seekor ular kecil panjang yang dikalungkan pada lehernya dan seekor pula yang lain melibat libat di sekitar tubuhnya. Ia tidak suka mempelajari ilmu menaklukkan ular ini. Ia akan bisa mati kaku kalau ular itu harus melilit tubuh dan lehernya seperti itu! Bi Lan bergidik dan meram matanya.

Pada saat itu, pendengaran Bi Lan yang terlatih dan tajam dapat mendengar suara orang bersorak dari jauh. Ternyata Coa ong Sin kai juga telah mendengar suara ini. Suara orang orang itu makin lama makin dekat dan tak lama kemudian, Bi Lan dan gurunya melihat banyak binatang hutan berlari larian dan burung burung beterbangan ketakutan.

“Hm, agaknya manusia manusia kejam merajalela di hutan ini,” tiba tiba Coa ong sin kai berkata. “Mari kita lihat.”

Bi Lan mengikuti suhunya menuju ke arah suara itu dan dari balik pohon mereka melihat lima orang laki laki yang berpakaian sebagai pemburu berjalan di dalam hutan itu. Dua orang memanggul bangkai harimau yang agaknya tadi dikejar kejar oleh mereka, dan yang tiga orang masing masing memanggul bangkai kelinci yang gemuk. Mereka memegang tombak di tangan kiri dan di pundaknya nampak pula busur dan anak panah.

“Kurang ajar, benar benar manusia manusia kejam!” kata Coa ong Sin kai perlahan. “Lihat siauw niau, kau lihat baik baik betapa setianya ular ularku itu!” Setelah berkata demikian, kakek ini menggerakkan bibirnya dan keluarlah suara mendesis yang terputus putus akan tetapi tajam sekali, persis suara ular yang sedang marah. Lima orang pemburu itu ketika mendengar suara ini, menjadi terkejut sekali dan berdiri diam.

“Ada ular!” kata seorang diantara mereka cepat ia mencabut golok yang tergantung di pinggangnya. Juga kawan kawannya bersiap sedia, karena memang binatang ular ini yang paling ditakuti oleh para pemburu.

Tiba tiba, diantara daun daun dan batang batang pohon, juga dari bawah rumput, keluar belasan ekor ular besar kecil menerjang ke lima orang pemburu itu. Para pemburu itu terkejut sekali karena belum pernah mereka mengalami hal yang aneh seperti ini, diserbu belasan ekor ular yang agaknya demikian marah kepada mereka. Bi Lan juga memandang dengan mata terbelalak. Ia melihat betapa suhunya dengan wajah berkilat karena berpeluh mata berseri dan mulut diruncingkan, terus mengeluarkan suara desisan yang ternyata merupakan panggilan kepada ular ular itu. Makin lama makin banyaklah ular ular itu datang mengeroyok para pemburu itu.

Lima orang itu telah menurunkan bawaan masing masing dan kini mereka mengamuk dengan mata terbelalak ngeri. Golok mereka diobat abitkan membacok ular ular itu, akan tetapi makin lama makin bertambah juga jumlah ular ular itu sehingga akhirnya mereka kena juga digigit dan dibelit tubuh mereka. Terjadilah pergulatan yang maha hebat dan yang amat mengerikan Bi Lan menjadi pucat dan tak terasa pula ia memekik ngeri, lalu melompat ke tempat pertempuran itu. Ia telah mengambil sebatang ranting kecil dan dengan ranting ini ia menghajar ular ular itu.

Sekali sabet dengan ranting saja, pecahlah kepala seekor ular, atau kalau terkena perutnya, maka pecahlah perut itu dan putus tubuh ular itu menjadi dua! Kehebatan ranting kecil ini lebih besar dari pada sebatang golok atau pedang! Ular ular itu menyerang Bi Lan, akan tetapi gadis ini dengan cepatnya dapat merobohkan mereka sehingga kini bangkai ular bertumpuk tumpuk dan tubuh mereka menggeliat geliat menggelikan.

“Siauw niau, kau gila?” tiba tiba Coa ong Sin kai membentak dan muncul dari tempat sembunyinya.

“Suhu, Kau tidak boleh menyuruh ular ular ini menyerang manusia!” Bi Lan membentak marah. Akan tetapi ketika ia menengok ke arah lima orang yang tadinya bergulingan meronta ronta mencoba melepaskan ular yang melilit leher mereka, ternyata lima orang itu kini telah tak bergerak lagi karena mereka telah menjadi biru! Mereka telah tewas karena tak dapat bernafas.

“Suhu…!” Bi Lan terisak, kemudian ia melemparkan rantingnya dan melompat pergi dari situ.

“Siauw niau… ke mana kau…?” teriak Coa ong Sin kui. Akan tetapi Bi Lan tidak menjawab, bahkan mempercepat larinya. tidak sudi lagi berdekatan dengan gurunya yang kejam dan ganas, yang lebih menyayangi nyawa binatang dari pada jiwa manusia. Kalau gurunya mengejar, ia akan melawan mati matian. Akan tetapi ternyata Coa ong Sin kai tidak mengejar, bahkan terdengar kakek itu mengeluh dan menangis menyesali kematian begitu banyak ular ularnya yang tersayang.

“Tidak ada manusia yang ingat budi…” suara kakek itu terdengar jelas oleh Bi Lan yang melarikan diri, “kalian lebih baik, ular ularku!”

Gadis itu diam diam merasa terharu juga. Gurunya berlaku sedemikian aneh bukan karena wataknya memang jahat, melainkan karena pikirannya sudah rusak dan gila. Akan tetapi ia tidak perduli lagi. Tidak mungkin ia harus berkumpul terus dengan guru yang kadang kadang membuatnya merasa serem dan ngeri itu. Kadang kadang gurunya ini berlaku luar biasa manjanya minta dicari kutu kutu rambutnya yang tidak boleh dibunuh, minta dipijiti seluruh tubuhnya. Ah, siapa tahu kalau kalau di luar kesadarannya, kakek itu akan melakukan sesuatu yang jahat terhadap dia. Ia masih ingat betapa karena membunuh seekor kutu rambut saja, gurunya sudah tega menamparnya! Betapapun juga, ia harus berterima kasih kepada Coa ong Sin kai. Kakek gila itu sudah menurunkan banyak ilmu silat yang tinggi dan luar biasa kepadanya. Tidak hanya Ouw wan ciang yang tiga puluh enam jurus itu dan Sin coa kiam hwat yang hebat telah dipelajarinya, bahkan iapun telah dapat melakukan Pi ki hu hiat dan I kiong hoan hiat yang tak sembarang orang dapat melakukan!

Sekarang ke mana ia hendak pergi? Kembali ke Hoa san? Ah, pengemis sakti yang gila itu telah membawanya jauh ke utara. Maka teringatlah Bi Lan akan penuturan Tan Seng, kong kongnya atau lebih tepat sukongnya (kakek gurunya), yaitu guru daripada mendiang ayahnya. Ayahnya telah tewas dalam pertempuran melawan orang orang Bangsa Kin yang juga menjadi sebab kematian ibunya. Dan sekarang Bangsa Kin masih menjajah di Tiongkok bagian utara, yakni di sebelah utara Sungai Huai dan juga di daerah Celah Tasan kuan di Shensi. Aku harus membalas dendam ayah bundaku, pikir gadis ini. Dengan hati tetap ia lalu melanjutkan perjalanannya dengan cepat menuju ke utara!

********************

Seperti telah diceritakan di bagian depan, semenjak tahun 1141, Kerajaan Sung Selatan dengan amat terpaksa telah mengadakan perdamaian dalam keadaan amat terhina dengan orang orang Kin yang memiliki barisan kuat itu. Selain Kerajaan Kin mendapat bagian tanah di sebelah utara Sungai Huai dan di Celah Tasan kuan di Shensi, juga setiap tahun pemerintah Sung harus mengirim upeti tanda bakti kepada pemerintah Kin berupa dua puluh lima laksa tail perak dan dua puluh lima laksa lain sutera halus!

Betapapun juga, pemerintah Sung Selatan ternyata pandai mengatur pemerintahannya sehingga keadaan penghidupan rakyat jelata tidak begitu tertekan. Pertanian dan perdagangan mendapat kemajuan lumayan dan biar pun harus diakui bahwa penghidupan para petani tak dapat dibilang makmur, namun keadaan mereka jauh lebih baik dari pada keadaan rekan rekan mereka di sebelah utara. Di bagian utara, yakni di wilayah yang diduduki oleh pemerintah Kin, keadaan rakyat jelata Bangsa Han benar benar payah dan tertindas.

Bala tentara Kin telah menghancurkan banyak kota dan desa, membunuh dan menyiksa rakyat, merampok harta bendanya sehingga setelah perdamaian diadakan, keadaan rakyat di utara sudah amat miskin dan habis habisan. Lebih lebih karena daerah ini diberikan kepada Kerajaan Kin, maka keadaan rakyat benar benar menyedihkan. Keluarga keluarga pembesar Kerajaan Kin menjadi majikan majikan mereka, sedang rakyat Han menjadi hamba hamba yang kehidupannya lebih berat dari pada penghidupan binatang ternak!

Pada waktu itu, seorang pembesar bangsawan Bangsa Kin sampai mempunyai hamba sebanyak seratus lebih Bangsa Han, yang boleh diperlakukan sesuka hati mereka seperti orang boleh memperlakukan apa saja terhadap binatang peliharaan mereka. Banyak pula yang dipaksa mengerjakan sawah ladang yang keseluruhannya dibagi bagikan kepada pembesar pembesar dan bangsawan bangsawan Kin, dengan hanya mendapat upah makan sekedarnya untuk menjaga jangan sampai mereka kelaparan saja.

Tentu saja rakyat yang diperlakukan seperti hewan ini mengandung kebencian yang mendalam sekali. Pemberontakan meletus dimana mana. Orang orang gagah memimpin rakyat untuk melakukan perlawanan dan tuntutan perbaikan nasib. Biarpun sejarah mencatat bahwa akhirnya pemberontakan pemberontakan itu berhasil juga dan Kerajaan Kin makin lama makin menjadi lemah untuk akhirnya runtuh dan lenyap, namun dalam tahun tahun pertama, keadaan Keajaan Kin amat kuatnya. Kerajaan ini mempunyai banyak sekali orang kuat, terdiri dari pembesar pembesar bu (militer) yang memiliki kepandaian tinggi. Selain itu, masih ada juga tiga orang gagah yang oleh kaisar Kin dianggap sebagai tiang negara atau penasihat kaisar.

Tiga orang gagah ini adalah Bangsa Kin yang terkenal memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dikabarkan orang bahwa guru mereka adalah seorang pertapa Bangsa Thian tok (India) yang berilmu tinggi. Mereka ini setelah menduduki pangkat tinggi sebagai orang orang yang paling berpengaruh dalam Kerajaan Kin di bawah kaisar sendiri, lalu memilih nama yang cukup keren dan gagah, yakni yang tertua bernama Kim Liong Hoat ong, yang ke dua Gin Liong Hoat ong dan yang ke tiga Tiat Liong Hoat ong. Mereka ini adalah saudara saudara seperguruan dan selain mereka bertiga, Sam thai koksu (Tiga guru negara besar) ini masih mempunyai suheng (kakak seperguruan) yang menjadi pendeta di Tibet dan bernama Ba Mau Hoatsu yang kabarnya memiliki kepandaian paling tinggi diantara mereka.

Sam thai koksu inilah yang berhasil menggagalkan pemberontak pemberontak dan orang orang gagah yang mencoba menghancurkan pemerintah Kin yang menjajah tanah air mereka. Jarang ada orang kang ouw yang dapat menandingi kegagahan Sam thai koksu. Apa lagi akhir akhir ini Sam thai koksu mendatangkan suheng mereka dari Tibet, dan Ba Mau Hoatsu selain tinggi sekali ilmu silatnya, juga memiliki ilmu hoatsut (sihir) yang menakutkan orang. Kini para orang gagah hanya berani melakukan gerakan secara tersembunyi saja, yakni mengganggu pembesar pembesar yang terlalu menindas rakyat di kota kota yang jauh dari kediaman Sam thai koksu.

Di dalam perjalanannya menuju ke utara, setelah menyeberangi Sungai Huai, yakni tapal batas antara wilayah Sung dan Kin, Bi Lan lalu menuju ke kota Sucouw. Melihat kemelaratan para petani yang miskin, hati dara perkasa ini memberontak. Memang ada diantara orang orang Han yang hidup mewah dan makmur yakni mereka yang memang tadinya orang orang hartawan dan kemudian setelah pemerintah Kin berdiri, mereka dapat mengadakan hubungan yang baik dengan pembesar pembesar Kin, melakukan penyogokan. Harta yang hartawan ini sekarang hidup seperti raja yang terjamin keselamatannya oleh pembesar pembesar Kin. Dan untuk mengisi kantong para pembesar Kin yang tidak ada dasarnya itu hartawan hartawan ini lalu melakukan pemerasan sehebat hebatnya kepada para petani dan buruhnya. Setiap orang buruh tani diharuskan bekerja lebih berat dari pada kerbau hanya untuk dapat mengisi perut setiap hari!

Semenjak menyeberangi Sungai Huai Bi Lan mulai melakukan kewajibannya sebagai seorang pendekar wanita, sesuai dengan pesan dari semua gurunya di Hoa san pai. Dan semenjak Bi Lan memasuki wilayah pemerintah Kin, di daerah ini muncullah seorang pendekar wanita yang menggemparkan di samping orang orang gagah yang memang banyak mengadakan perbuatan perbuatan yang membela rakyat. Di sepanjang perjalanannya, Bi Lan mendatangi pembesar pembesar Kin di waktu malam, mengancamnya, menggurat muka dengan pedang atau bahkan membabat putus sebelah telinganya dengan ancaman agar supaya pembesar itu tidak memeras kepada rakyat.

Kemudian ia mengambil banyak perak dan emas dari pembesar pembesar ini dan pada malam itu juga, orang orang yang hidup miskin dan hampir kelaparan, tiba tiba saja menemukan potongan potongan perak atau emas di dalam kamar mereka! Juga banyak orang orang hartawan yang didatangi oleh Bi Lan dan diancam untuk dicabut nyawanya apabila tidak ingat akan kesengsaraan bangsanya dan tidak mengulurkan tangan untuk menolong.

Semua perbuatan mulia ini dilakukan Bi Lan dengan diam diam, dan karena gerakannya amat lincah, cepat dan ginkangnya sudah tinggi, maka semua petani miskin yang hanya melihat bayangan seorang gadis muda yang cantik jelita dan berpinggang langsing lalu memberi julukan kepada Bi Lan. Julukan ini adalah Sian li Eng cu (Bayangan Bidadari). Akan tetapi, para pembesar Kin yang tentu saja merasa penasaran dan marah, juga membenci gadis pendekar ini, memberi julukan Mo li Eng cu (Bayangan Iblis Wanita) kepadanya. Akan tetapi, Bi Lan yang mendengar julukan julukan ini untuknya, hanya tersenyum gembira dan tidak ambil perduli sama sekali.

Beberapa pekan kemudian tibalah Bi Lan di kota Cin an, kota terbesar di Propingi San tung. Di kota ini pemerintah Kin mendirikan kantor yang besar, bahkan di sinilah letak pusat kubu kubu atau benteng pertahanan tentara Kin. Oleh karena itu, jarang sekali ada orang gagah berani main main di tempat ini, karena di kota Cin an ini terdapat banyak sekali perwira perwira Kin yang gagah perkasa. Bahkan tidak jarang Sam thai koksu mengunjungi tempat ini.

Ketika Bi Lan memasuki kota yang besar ini, perhatiannya tertarik oleh pengumuman yang ditempel di mana mana. Ia berhenti dan membaca pengumuman itu dan makin tertariklah dia. Ini bukanlah sebuah pengumuman, melainkan sebuah undangan untuk orang orang gagah di dunia kang ouw! Karena ingin membaca dengan jelas, Bi Lan lalu mendesak maju dan beberapa orang yang sedang membaca surat undangan itu memberi jalan dan memandang kepada Bi Lan dengan heran. Pengumuman undangan ini tertulis dengan huruf huruf yang indah dan bergaya kuat dan berbunyi seperti berikut:

PARA ORANG GAGAH DI SELURUH PENJURU.

Kami, Sam Thai Koksu dari Kerajaan Kin dengan ini mengumumkan bahwa pada nanti malam bulan purnama kami hendak mengadakan pesta hiburan menghormat para orang gagah di dunia kang ouw. Pesta itu diadakan di kebun raya di luar benteng dan di sana disediakan hidangan yang paling lezat dan arak paling baik untuk para enghiong.

Dengan ini kami mengundang kepada para orang gagah di seluruh penjuru untuk datang dan beramah tamah dengan kami untuk membersihkan segala sesuatu yang nampak keruh. Kami percaya bahwa cuwi (tuan tuan sekalian) tentu akan berani datang dan mengingat bahwa kita adalah orang orang yang menjunjung tinggi kegagahan dan keberanian, cuwi tentu percaya penuh bahwa kami takkan melakukan penangkapan atau tindakan lain yang mengecewakan dan merusak nama baik kami sendiri.

Menanti dengan hormat, SAM THAI KOKSU.


Bi Lan baru membaca setengahnya ketika tiba tiba terdengar orang tertawa dan surat pengumuman yang tertempel di atas tembok itu tiba tiba tertiup angin yang kuat dan tempelannya terlepas lalu melayang ke kiri! Bi Lan terkejut karena maklum bahwa yang meniup itu, bukanlah angin sewajarnya, melainkan tiupan khikang yang kuat dari orang pandai. Timbul hati penasaran dalam dada gadis ini karena ia belum membaca habis, maka sekali ia mengulurkan tangannya, ia telah dapat menangkap kertas itu. Dengan tenang, Bi Lan lalu menempelkan kertas itu di tembok. Akan tetapi karena lemnya telah kering, kertas itu tidak mau menempel, Bi Lan menjadi mendongkol dan ia menggunakan ibu jarinya untuk menekan kepada empat ujung kertas itu pada tembok. Dengan mengerahkan sedikit lweekangnya, ia telah dapat membuat kertas itu melesak ke dalam tembok, sehingga kertas itu dapat menempel!

Terdengar suara ketawa lagi, akan tetapi Bi Lan tidak mau menengok atau memandang hanya melanjutkan membaca pengumuman itu sampai habis. Orang orang di sekitarnya tentu saja dapat melihat semua ini dan diam diam mereka menjadi tegang karena dapat menduga bahwa gadis muda cantik jelita ini tentulah seorang tokoh kang ouw yang berilmu tinggi.

Setelah selesai membaca, barulah Bi Lan menengok ke arah orang yang meniup tadi. la melihat dua orang kakek yang rambutnya sudah putih dan diikat ke atas, jenggotnya terurai ke bawah tak terpelihara, demikian pula pakaian mereka amat sederhana Yang mengherankan adalah persamaan wajah kedua orang kakek ini, sehingga sukar untuk membedakan antara mereka. Bi Lan tidak mengenal kedua kakek ini, maka setelah membaca, ia lalu pergi dari situ mencari tempat penginapan. Kedua orang kakek yang sederhana itu memandang kepadanya sambil tersenyum dan Bi Lan merasa betapa dua pasang mata itu berkedip kedip seakan akan memberi isyarat “tahu sama tahu”.

Di sepanjang perjalanan mencari hotel, ia mengingat ingat siapa adanya dua orang kakek ini yang tiupannya demikian kuat sehingga dari jarak jauh dapat melepaskan kertas itu tanpa terasa anginnya oleh semua orang. Setelah mendapat kamar di hotel, Bi Lan beristirahat sambil berpikir. Malam ini bulan sudah hampir penuh, jadi undangan itu dimaksudkan besok malam. Aku harus datang pula untuk melihat apa sebenarnya maksud tiga orang guru besar pemerintah Kin itu, pikir Bi Lan. Memang sudah lama ia mendengar nama Sam Thai Koksu dan kini mendengar tentang undangan mereka terhadap orang orang gagah, tentu saja hatinya amat tertarik.

Apakah akan ada perobahan sikap yang baik dari pemerintah Kin terhadap rakyat jelata? Dan siapa pula dua orang kakek yang kembar itu? Apakah mereka juga datang untuk memenuhi undangan Sam Thai Koksu? Tentu saja Bi Lan tidak tahu bahwa surat undangan seperti yang dibaca tadi, oleh pemerintah Kin telah disebar di seluruh wilayahnya. Setiap kota besar tentu disebari undangan ini karena memang Sam Thai Koksu mempunyai rencana yang amat baik, yang sudah disetujui oleh kaisar sendiri.

Telah lama Sam Thai Koksu merasa pening kepala karena gangguan orang orang gagah di dunia kang ouw yang melakukan pemberontakan pemberontakan kecil. Biarpun tiga orang guru besar ini dengan kepandaiannya dapat mengerahkan perajurit untuk membasmi setiap pemberontakan, namun perlawanan rakyat yang terus menerus itu menggelisahkan juga Mereka tahu bahwa rakyat takkan berani bangkit tanpa dorongan dari orang orang gagah di dunia kang ouw. Melakukan kekerasanpun sukar karena orang orang gagah itu tak mungkin dapat dicari dan dibasmi semua. Pemberontakan pemberontakan itu akan melemahkan kedudukan negara, maka kini Sam Thai Koksu hendak mengambil jalan halus. Mereka hendak menggunakan siasat mengambil hati orang orang gagah untuk menarik mereka agar mau membantu pemerintah dengan hadiah hadiah besar dan juga janji janji muluk demi kebaikan penghidupan rakyat! Maka diadakanlah undangan itu yang maksudnya untuk mengambil hati orang orang gagah itu.

Sampai malam Bi Lan tak dapat pulas, la telah mengambil keputusan untuk datang menghadiri pesta itu besok malam dan melihat gelagat. Kalau kiranya Sam Thai Koksu ternyata mempunyai maksud buruk, ia takkan berlaku kepalang dan hendak menyerang tiga orang besar itu! Apabila dia dapat membinasakan tiga orang yang dianggap sebagai guru besar negara Kin ini, maka itu merupakan jasa yang tidak kecil artinya bagi seluruh bangsanya yang tertindas! Bi Lan sekarang telah menemukan kembali sifatnya yang dahulu, yakni percaya penuh akan kepandaiannya sendiri.

Dulu ketika berada di puncak Hoa san, iapun telah memiliki kepercayaan besar terhadap kepandaian sendiri sampai datang Tiauw It Hosiang yang mengecewakan hatinya karena ia tidak dapat mengalahkan hwesio itu dengan mudah. Kemudian setelah ia terculik oleh Coa ong Sin kai, ia menjadi makin kecewa karena merasa betapa kepandaiannya masih jauh dari pada memuaskan. Akan tetapi, setelah ia mendapat latihan dari Coa ong Sin kai dan merasa betapa kepandaiannya telah maju pesat sekali, kini ia merasa bahwa kepandaiannya telah cukup tinggi dan agaknya ia akan dapat membinasakan tiga orang koksu yang terkenal itu!

Bi Lan memang masih terlalu muda untuk dapat mengerti bahwa di dunia ini banyak sekali terdapat orang orang yang berkepandaian tinggi sekali dan bahwa betapapun tinggi kepandaian seseorang, tentu ada orang yang akan mengatasinya. Pula ia masih kurang pengalaman sehingga kadang kadang timbul sifatnya yang membanggakan kepandaian sendiri sehingga ia kehilangan kewaspadaannya. Ketika ia hampir pulas di atas pembaringannya, tiba tiba ia mendengar suara kaki menginjak genteng di atas kamarnya. Suara injakan kaki itu amat perlahan, menandakan bahwa orang di atas kamar itu telah mempunyai ginkang yang tinggi. Bi Lan tersenyum mengejek, kemudian dengan sekali menggerakkan tangan ke arah lilin yang bernyala di atas meja, api lilin itu padam oleh tiupan hawa pukulannya.

Agaknya orang yang di atas genteng dapat melihat pula betapa api di dalam kamar tiba tiba padam, karena terdengarlah suara berbisik dari atas, “Lihiap (nona yang gagah), aku datang dengan maksud baik. Harap kau suka keluar untuk bercakap cakap!”

Bi Lan memang seorang dara muda yang tabah sekali. Biarpun ia tahu bahwa orang di atas itu tidak boleh dipercaya, akan tetapi ia tidak merasa takut sama sekali. Malah ia menduga bahwa mungkin sekali orang itu adalah seorang diantara kakek yang dilihatnya siang tadi. Ketika ia mendengar tindakan kaki dua orang melompat turun dari atas genteng, dugaannya makin kuat bahwa tentu dua orang kakek kembar itulah yang datang mengunjunginya. Setelah meringkaskan pakaiannya, Bi Lan lalu membuka jendela kamar dan sekali tubuhnya berkelebat, ia telah berada di luar kamar. Ia melihat dua bayangan orang menanti di tempat agak jauh dari hotel sambil melambaikan tangan, maka ia lalu berlari ke tempat itu sambil memperlihatkan ilmu berlari cepatnya yang lihai.

Ia kecele karena dua orang itu sama sekali bukan dua orang kakek yang dilihatnya siang tadi, melainkan seorang laki laki berusia kurang lebih empat puluh tahun dan seorang wanita yang tinggi besar dan cantik juga, usianya kurang lebih empat puluh tahun akan tetapi masih nampak cantik dan selain pakaiannya mewah, juga masih menggunakan bedak tebal dan yanci (alat pemerah pipi) dan gincu bibir! Dua orang itu nampak kagum melihat cara Bi Lan berlari, maka buru buru mereka memberi hormat dengan menjura.

“Maaf kalau kami telah mengganggu lihiap yang sedang tidur,” kata wanita pesolek itu sambil tersenyum ramah.

“Ah, tidak apa,” Bi Lan terpaksa menjawab sambil tersenyum manis, “tidak tahu siapakah jiwi dan ada keperluan apakah dengan aku yang muda?” Memang Bi Lan berwatak nakal. Ucapannya yang terakhir itu, yang menegaskan bahwa dia jauh lebih muda dari pada wanita itu, diam diam merupakan sindiran bahwa wanita itu sebetulnya sudah terlalu tua untuk demikian genit dan demikian mewah.

Akan tetapi wanita itu agaknya tidak merasa sama sekali akan sindiran ini, bahkan tertawa makin ramah. "Aku bernama Coa Kim Kiok dan dia ini adalah suhengku yang bernama Kwa Cu Bi. Kami adalah anak anak murid dari Go bi pai. Melihat betapa siang tadi kau memperlihatkan kepandaianmu ketika menempelkan kertas pada tembok, kami menjadi amat tertarik karena kami merasa bahwa antara kau dan kami tentu terdapat persamaan tujuan datang di kota ini. Kau siapakah nona dan mewakili perguruan mana? Tentu kedatanganmu ini ada hubungannya dengan undangan dari Sam Thai Koksu, bukan?”

Bi Lan tentu saja sudah mendengar tentang perguruan silat Go bi pai, sungguhpun guru gurunya di Hoa san pai seringkali meragukan dan menyatakan bahwa di Pegunungan Go bi san yang amat luasnya itu, banyak sekali terdapat orang orang pandai yang membuka perguruan silat sendiri sendiri sehingga yang disebut Go bi pai (partai Go bi san) sungguh amat kabur dan sukar ditentukan mana yang aseli. Akan tetapi dia belum pernah mendengar nama Coa Kim Kiok maupun Kwa Cu Bi.

Para pembaca mungkin masih ingat akan nama Coa Kim Kiok ini. Dia adalah wanita bertubuh tegap yang dahulu ikut mengeroyok Tan Seng dan murid muridnya ketika hendak mengambil dan merampas jenazah Go Sik An. Coa Kim Kiok sudah semenjak bala tentara Kin menyerang ke selatan, telah menjadi kaki tangan Kerajaan Kin, bersama dengan orang orang gagah Bangsa Han lain seperti San mo Liong kui, Kwa Sun Ok dan yang lain lain. Kwa Cu Bi yang mengawani Kim Kiok pada waktu ini adalah adik kandung dari Kwa Sun Ok.

Tentu saja Bi Lan tidak tahu bahwa dua orang yang dihadapinya itu, selain merupakan mata mata dan kaki tangan dari Sam Thai Koksu, juga merupakan dua orang yang benar benar cocok sekali. Kim Kiok semenjak muda terkenal sebagai seorang perempuan jahat yang bertabiat cabul. Adapun Kwa Cu Bi yang bermuka putih dan halus serta termasuk orang tampan itu dengan sikapnya yang lemah lembut seperti seorang laki laki banci, sebenarnya adalah seorang jai hwa cat besar. Maka sekarang sepasang manusia bermoral bejat ini menjadi sahabat, tentu, amat cocok bagaikan sampah busuk di keranjang bobrok.

Ketika ia ditanya nama dan mewakili pergurun mana, Bi Lan menjadi agak bingung Karena sebetulnya ia datang bukan karena surat undangan dari Sam Thai Koksu itu dan tidak mewakili perguruan manapun juga. Akan tetapi karena sudah ditanya, ia menjawab juga, “Namaku Bi Lan, she Liang. Aku mewakili Hoa san pai!”

Coa Kim Kiok nampak terkejut, akan tetapi hanya sebentar karena ia segera tertawa dan berkata girang. “Ah, tidak tahunya kau adalah seorang anak murid Hoa san pai. Pantas saja demikian lihai! Adik yang baik, kebetulan sekali kita dapat bertemu, maka bagaimana pikiranmu kalau besok malam kita pergi bersama ke kebun raya itu?”

Bagi Bi Lan tentu saja tiada halangannya untuk pergi bersama, apa lagi memang dia tidak mempunyai kenalan dan merasa asing di tempat ini, maka ia menganggukkan kepala, “Boleh saja kalau jiwi suka mengajakku pergi bersama.”

“Bagus, sekarang selamat tidur, adik Bi Lan. Besok siang kami akan datang menemuimu dan bercakap cakap. Maafkan kalau kami datang mengganggu.”

Setelah memberi hormat, kedua orang itu lalu berlompat pergi dan Bi Lan mendapat kenyataan bahwa kepandain mereka sebetulnya tidak demikian hebat. Ia lalu kembali ke kamarnya dan gangguan ini melenyapkan nafsunya untuk tidur. Ia berpikir pikir dengan hati merasa tegang juga. Tidak disangkanya bahwa undangan dari Sam Thai Koksu itu telah menarik orang orang dari Go bi pai yang demikian jauhnya. Diam diam ia merasa heran sekali mengapa kedua orang anak murid Go bi pai ini demikian baik kepadanya, padahal ia pernah bertempur melawan Tiauw It Hosiang, orang yang dianggap sebagai tokoh ke tiga dari pada perguruan Go bi pai. Tentu mereka itu dari perguruan Go bi san yang lain lagi dengan Tiauw It Hosiang, pikirnya dan kemudian setelah menjelang fajar, dapat juga ia pulas.

Pada keesokan harinya, baru saja Bi Lan bangun, mandi dan tukar pakaian, seorang pelayan mengetuk pintu dan memberitahukan bahwa di ruang tamu telah menanti dua orang. Gadis ini makin heran karena ia dapat menduga bahwa dua orang itu tentulah Kim Kiok dan Cu Bi yang malam tadi datang mengunjunginya. Ia segera keluar dan benar saja, Coa Kim Kiok menyambutnya dengan senyum di mukanya. Juga Cu Bi yang pagi ini mengunjunginya, berpakaian mewah dan tersenyum senyum manis kepadanya!

“Ah, adik Bi Lan yang manis! Kau baru bangun? Mari kita sarapan, sudah kusediakan semenjak tadi!” Kim Kiok memberi tanda kepada pelayan yang cepat datang mengantarkan hidangan yang masih mengebul hangat.

“Ah, enci Kim Kiok, kau sungguh membikin aku menjadi sungkan dan malu saja. Mengapa pagi pagi sudah repot repot?”

“Nona Liang, mengapa harus berlaku sungkan? Bukankah kita adalah orang orang segolongan yang tak perlu malu malu lagi?” kata Kwa Cu Bi dengan ramah sambil tersenyum.

Bi Lan tak dapat menolak lagi dan makanlah mereka bertiga sambil bercakap cakap. “Apakah jiwi kemarin tidak melihat dua orang tua yang berpakaian seperti tosu?”

Kim Kiok dan Cu Bi merenung dan mengingat ingat, akan tetapi mereka menggeleng kepala. “Tosu yang mana? Aku tidak melihat dua orang kakek yang berpakaian seperti tosu,” kata Kim Kiok.

“Bukankah engkau kemarin melihat aku membaca surat undangan di tembok kota itu?” tanya Bi Lan.

“Betul, akan tetapi kami tidak melihat dua orang tosu. Siapakah mereka?” tanya Cu Bi dengan pandang mata tajam menyelidik.

Bi Lan diam diam merasa heran. Bagaimana kedua orang ini tidak melihat dua orang kakek yang lihai, yang mempergunakan tiupan khikang sehingga kertas undangan itu lepas dari tembok? Akan tetapi karena mereka tidak mengetahuinya, iapun lalu tersenyum dan berkata,

“Mereka kulihat diantara orang orang yang membaca surat undangan. Ah, kalau kalian tidak melihat mereka, sudahlah. Kiraku mereka itupun hanya orang orang biasa saja yang tertarik oleh surat undangan itu. Oya? hampir aku lupa bertanya Jiwi adalah murid murid Go bi pai, kenalkah dengan hwesio yang bernama Tiauw It Hosiang?”

“Kau maksudkan It ci sinkang Tiauw It Ho siang?” Cu Bi mengulang, sambil memandang dengan girang. Ketika Bi Lan mengangguk, ia berkata, “Tentu saja kenal, karena ia terhitung masih susiok (paman guru) kami. Kenalkah nona kepadanya?”

Bi Lan tersenyum dan mengangguk. “Kami pernah bertemu satu kali. Akan tetapi sungguh aneh bagaimana dia yang masih muda bisa menjadi susiok dari jiwi. Kukira usianya tidak lebih dari padamu,”

“Memang betul demikian, It ci sinkang semenjak kecil telah menjadi hwesio di Gobi san dan karena semenjak kecil sudah mendapat latihan ilmu silat dari sukong (kakek guru) kami, yaitu Kian Wi Taisu, maka ilmu kepandaiannya luar biasa sekali. Suhu kami adalah suhengnya dan usia suhu jauh lebih tua dari pada It ci sinkang. Pada waktu ini, boleh dibilang It ci sinkang Tiauw It Hosiang menduduki tempat ke tiga dalam tingkat kepandaian, di bawah guru kami Bu It Hosiang dan sukong kami. Akan tetapi entahlah kalau sekarang terdapat perobahan karena sudah lama sekali kami tidak pernah menghadap suhu di Go bi san, karena terlalu jauh.”

Bi Lan mengangguk angguk maklum, akan tetapi tentu saja ia tidak tahu bahwa dua orang di hadapannya ini sebenarnya tidak memberi keterangan yang tepat, bahkan banyak membohong. Kwa Cu Bi memang betul adalah murid dari Bu It Hosiang, akan tetapi dia dan kakaknya, Kwa Sun Ok, telah diusir dari perguruan Go bi pai, karena diketahui melakukan perbuatan jahat. Adapun Coa Kim Kiok sama sekali bukan murid Go bi pai, melainkan seorang murid dari pendeta Pek lian kauw yang cabul! Kim Kiok dan Cu Bi yang menjadi kaki tangan Sam Thai Koksu mendapat tugas untuk menyelidiki orang orang kang ouw yang datang di kota Cin an dan sedapat mungkin diperintahkan membujuk orang orang gagah agar suka bekerja sama dengan pemerintah Kin, atau setidak tidaknya memberi kesan kesan baik dan benar benar murid keponakan dari orang orang gagah. Dan usaha kedua orang ini memang banyak berhasil. Sudah banyak orang gagah yang dapat mereka bujuk dan kini melihat Bi Lan yang masih muda dan memiliki ilmu kepandaian tinggi, mereka sedang berusaha untuk membujuk Bi Lan. Akan tetapi di samping itu. seperti biasa dan sesuai dengan wataknya yang cabul dan kotor, diam diam ia tergila gila melihat kecantikan dan kemudaan Bi Lan yang amat menggiurkan hatinya dan ia telah mengambil kepastian untuk menjadikan gadis muda ini sebagai korbannya!

“Di manakah kau bertemu dengan susiok kami itu, adik Bi Lan?” Kim Kiok bertanya dengan gaya seakan akan ia memang benar benar kenal Tiauw It Hosiang.

“Ah, begitu saja, ketika ia datang mengunjungi Hoa san setengah tahun yang lalu,” jawab Bi Lan dengan dingin, karena ia tidak ingin menceritakan tentang pertempurannya menghadapi It ci siokang Tiauw It Hosiang.

Kemudian, kedua orang itu mulai dengan tugas mereka. Dengan gaya menarik dan bergantian mereka menceritakan tertang kebaikan kebaikan pembesar pembesar Kin, terutama Sam Thai Koksu terhadap orang orang gagah.

“Sam Thai Koksu adalah orang orang berilmu tinggi yang menghargai orang orang gagah,” kata Kim Kiok.

“Apakah kau kenal baik dengan mereka?” Bi Lan bertanya.

“Memang aku mengenal mereka sebagai orang orang yang amat tinggi kepandaiannya dan sebagai orang orang yang dapat menghargai kepandaian orang. Mereka itu ingin sekali bekerja sama dengan orang orang gagah untuk dapat bersama sama mengamankan negeri dan menenteramkan kehidupan rakyat jelata. Sungguh orang orang tua yang boleh dipuji.”

Bi Lan mengerutkan keningnya. “Mungkin benar bahwa mereka bekepandaian tinggi karena aku sendiripun sudah mendengar nama mereka. Akan tetapi tentang niat menenteramkan kehidupan rakyat... ah, enci Kim Kiok, hal ini tidak cocok dengan kenyataan!”

Diam diam Kim Kiok dan Cu Bi saling bertukar pandang. “Kau salah sangka, nona,” kata Cu Bi. sambil memainkan alis matanya, lagak yang amat “genit” bagi seorang laki laki. “Memang harus diakui bahwa banyak rakyat kecil yang miskin keadaannya, akan tetapi hal inilah yang justeru hendak dirobah oleh Sam Thai Koksu. Dengan adanya kerusuhan dan pemberontakan dimana mana, bagaimana keadaan rakyat bisa diperbaiki? Oleh karena ini pula, untuk merundingkan tentang cara dan usaha memperbaiki keadaan penghidupan rakyat, maka Sam Thai Koksu mengadakan pertemuan dengan orang orang gagah.”

Bi Lan diam saja, berpikir dalam dalam. “Baiklah, kita sama dengar saja apa yang hendak mereka katakan malam nanti, dan kita sama lihat apa yang akan terjadi selanjutnya,” akhirnya dia berkata.

Menghadapi sikap Bi Lan yang dingin dan tawar ini, Kim Kiok dan Cu Bi merasa tidak enak. Mereka lalu berpamit dan Kim Kiok berkata.

“Adikku yang manis. Malam nanti kita bersama mengunjungi tempat pesta. Kau tunggu saja, kami akan menjemputmu.”

“Tidak usahlah, enci Kim Kiok. Baik kita bertemu di sana saja, karena sebelum pergi ke kebun raya, aku hendak jalan jalan dulu melihat lihat keadaan kota yang besar ini.” jawab Bi Lan.

Cu Bi nampak kecewa, akan tetapi Kim Kiok lalu berkata dengan ramah, “Begitupun baiklah. Aku akan memberitahukan kepada Sam Thai Koksu tentang kedatanganmu. Seorang wakil dari Hoa san pai perlu disambut baik baik!” Setelah berkata demikian, Kim Kiok dan Cu Bi lalu meninggalkan Bi Lan.

Dara ini harus mengakui bahwa ia amat sebal melihat kedua orang itu. Kim Kiok dianggapnya terlalu genit dan mewah, serta memiliki gaya dan gerak gerik yang menjemukan. Sedangkan Cu Bi, biarpun harus diakui jarang ada seorang setua dia masih memiliki wajah yang tampan menarik, namun ia merasa sebal dan muak melihat cara laki laki itu memandangnya, cara dia tersenyum dan memainkan alis matanya. “Mereka itu bukan orang orang baik, aku harus hati hati,” bisiknya seorang diri. Kesadaran ini bukan timbul karena kecerdikannya, akan tetapi karena suara hati dan perasaannya. Ia masih belum berpengalaman untuk menghadapi orang orang jahat yang pandai mempergunakan lidah.

Malam hari itu udara bersih sekali. Tak nampak bintang di langit karena sinar sinar bintang itu tertutup dan kalah oleh cahaya bulan yang, dingin dan terang. Angin malam bertiup perlahan, membuat suasana menjadi sejuk sekali. Akan tetapi, cahaya bulan itu masih kalah oleh terangnya lampu lampu yang dipasang di bawah pohon pohon dalam kebun raya, yakni sebuah kebun atau taman bunga yang biarpun disebut kebun raya, namun sesungguhnya adalah taman bunga khusus diperuntukkan bagi bangsawan bangsawan Kin dan beberapa orang hartawan terkemuka saja. Tempat mereka minum arak dan mendengarkan nyanyian gadis gadis penyanyi dan tempat mereka bersenang senang!

Akan tetapi pada malam hari itu, biarpun bulan sudah cukup terang namun tempat itu masih diterangi pula oleh lampu lampu yang digantungkan dicabang cabang terendah dari pohon pohon. Bahkan di tengah tengah kebun raya yang besar dan luas itu dipasangi tenda tenda tempat orang masak dan tempat orang menaruhkan alat alat keperluan pesta malam hari ini.

Penduduk berduyun duyun menonton dan berdiri di sekeliling taman bunga itu, karena biarpun mereka tidak boleh masuk, namun dari luar saja mereka dapat pula melihat pesta yang meriah itu. Tamu tamu mulai masuk ke dalam ke kebun raya, melalui sebuah pintu besar yang terjaga oleh penjaga penjaga berpakaian militer dan yang memberi hormat dengan gagahnya pada setiap orang yang memasuki taman itu. Tamu tamu yang masuk ini semua terdiri dari tokoh tokoh kang ouw, ada orang orang berpakaian sebagai piauwsu, (guru silat), ada pula yang berkepala gundul karena dia adalah hwesio, ada pula tosu, bahkan ada pula yang berpakaian sebagai seorang pengemis. Ada pula beberapa orang wanita tua muda yang menggantungkan pedang di punggung!

Sam Thai Koksu sendiri menyambut kedatangan para tamu di pintu keluar yakni pintu yang tak berdaun, hanya merupakan jalan masuk terbuka dari lingkungan pagar pohon bunga yang mengelilingi taman luas itu. Tiga orang guru besar ini memang amat gagah. Tubuh mereka tinggi besar dan tegap dengan dada yang bidang menandakan bahwa mereka rata rata bertenaga besar. Pakaian mereka sederhana potongannya, seperti biasa pakaian orang orang ahli persilatan, ringkas dan pendek, akan tetapi terbuat dari pada sutera yang paling mahal.

Kim Liong Hoat ong yang tertua berusia kurang lebih enam puluh tahun, Gin Liong Hoat ong lima puluh tahun lebih, akan tetapi Tiat Liong Hoat ong yang termuda paling banyak berusia empat puluh lima tahun. Akan tetapi mereka masih kelihatan segar sehat dan muda, bahkan Kim Liong Hoat ong sendiri masih kelihatan muda dan pesolek. Di samping tiga orang guru besar dari Kerajaan Kin ini masih ada lagi pembesar kepala daerah sendiri yang menyambut datangnya para tamu. Benar benar merupakan satu kehormatan yang besar sekali!

Bi Lan juga memasuki pintu dan disambut dengan hormat oleh penjaga penjaga pintu yang mau tidak mau memandang kepadanya dengan mata menyatakan kagum kepada nona yang cantik sekali ini. Kemudian Bi Lan disambut oleh Sam Thai Koksu dengan menjura. Bi Lan membalas penghormatan ini dengan kaku.

“Ah, kalau tidak salah, nona yang disebut Liang lihiap (pendekar wanita Liang) dan yang mewakili Hoa san pai?” tanya Kim Liong Hoat ong kepada Bi Lan sambil memandang dengan mata berseri girang.

“Aku yang bodoh memang murid Hoa san pai,” jawab Bi Lan. Jawaban ini bukan berarti ia membohong, karena menghadapi tiga orang yang kelihatan gagah perkasa ini, ia merasa tidak enak membohong. Lagi pula, ia tidak merasa takut sama sekali, mengapa harus membohong? Terhadap Kim Kiok lain lagi, karena kalau ia tidak membohong tentu wanita itu akan banyak bertanya tentang dirinya dan hal ini ia tidak suka.

“Silakan masuk, Liang lihiap, silakan memilih tempat duduk sesuka hatimu,” Kim Liong Hoat ong mempersilakan dan Bi Lan lalu menyatakan terima kasih dan memasuki taman itu.

Yang sudah masuk ke dalam taman itu kurang lebih ada dua puluh orang tamu dan keadaan di dalam taman memang meriah. Di sudut kiri terdapat serombongan penabuh gamelan yang dimainkan terus menerus hingga suasana makin ramai. Meja meja dipasang di dalam taman itu, di dekat bunga bunga yang sedang mekar dan lampu lampu teng yang tergantung di pohon pohon dihias kertas berwarna warni menimbulkan pemandangan yang indah menggembirakan.

Akan tetapi hati Bi Lan tidak gembira. Ia tidak melihat orang orang yang kelihatan memiliki kepandaian tinggi, seperti, misalnya kekek pengemis yang berpakaian tambal tambalan dan yang kini duduk melenggut di atas tanah mengikuti irama gamelan. Ada pula wanita tua yang kepalanya diikat dengan saputangan putih seperti orang berkabung dan yang duduk menghadapi meja bersama seorang wanita muda dan seorang laki laki muda pula. Juga terlihat seorang hwesio tua yang bertubuh kekar pendek dengan kepalanya yang licin bersih itu menghadapi meja pula seorang diri. Dalam pandangan mata Bi Lan yang tajam, tiga orang ini tentu memiliki kepandaian yang tinggi, berbeda dari tamu tamu lain yang nampaknya seperti ahli ahli silat biasa saja.

Bi Lan tidak memilih tempat duduk, sebaliknya ia lalu berjalan jalan dan mengagumi kembang kembang yang memenuhi tempat itu. Ketika ia tiba di sudut kanan taman itu, tiba tiba saja ia mendengar suara orang ketawa dan ketika ia mengangkat muka, ternyata di dekat sebuah meja di situ berdiri dua orang kakek yang memandangnya dengan tertawa tawa. Melihat betapa dua orang kakek itu mengajak tertawa kepadanya, Bi Lan yang memang berwatak gembira itu tak dapat menahan untuk tidak bersenyum! Padahal gadis ini tersenyum untuk menyembunyikan rasa heran dan kagetnya karena dua orang kakek ini adalah mereka yang siang kemarin dilihatnya. Sepasang kakek kembar yang pernah memperlihatkan kelihaian mereka dengan meniup kertas pengumuman di tembok itu.

“Kalau kau benar benar mewakili Hoa san pai, benar benar Liang Gi Tojin tolol sekali menyuruh bocah seperti kau datang ke tempat semacam ini, akan tetapi kalau tidak mewakili siapa siapa, kau benar benar bernyali besar. Ha ha ha!” seorang diantara sepasang kakek kembar ini berkata lalu tertawa terkekeh kekeh, akan tetapi matanya memandang dengan seri gembira kepada Bi Lan. Kakek yang seorang lagi hanya mengangguk anggukkan kepala dan juga tertawa.

Sebelum Bi Lan dapat menjawab, kedua orang kakek itu menggerakkan ujung lengan baju dan sekali berkelebat mereka lenyap dari depannya! Bi Lan terkejut sekali dan selagi ia bengong melihat ke depan, tiba tiba terdengar orang menegur.

“Adik Bi Lan, semenjak tadi aku mencarimu di mana mana. Aku sudah kuatir kalau kalau kau tidak akan datang?” Bi Lan menengok dan ia melihat Kim Kiok berlari menghampirinya. Wanita ini sekarang memakai pakaian sutera yang indah dan bedaknya lebih tebal dari pada biasa.

“Enci, apakah baru saja kau melihat dua orang kakek itu?” tanyanya karena pikirannya masih penuh dengan bayangan dua orang kakek aneh tadi.

Kim Kiok memandang ke kanan kiri dan mengerutkan kening, “Dua orang kakek? Yang mana? Aku tidak melihat mereka.”

Bi Lan makin kagum dan heran. Bagaimanakah dua orang tua itu dapat bergerak sesukanya tanpa diketahui dan dilihat orang? Siapakah mereka? Dan perlu apa mereka datang ke tempat ini dengan sembunyi sembunyi? Diam diam Bi Lan berpikir dan hatinya berdebar.

“Eh adik Bi Lan, mengapa engkau termenung saja? Apakah baru saja kau melihat setan?” Kim Kiok tertawa menggoda dan ucapan ini menyadarkan Bi Lan yang segera tersenyum kepadanya.

“Tamu tamu sudah banyak,” katanya menyimpang sambil memandang ke arah para tamu yang duduk mengelilingi meja mereka.

“Memang, sedikitnya ada tiga puluh orang. Hayo kita duduk dan memilih tempat yang enak, akan tetapi jangan terlalu jauh dari panggung hingga kita akan dapat mendengar segala yang akan diucapkan oleh tuan rumah,” sambil berkata demikian Kim Kiok menggandeng tangan Bi Lan dan diajak duduk di bangku dekat kursi yang berada di dekat panggung besar yang sengaja didirikan di tengah tengah taman itu.

Karena di atas meja ini terdapat sebuah lampu teng yang cukup besar, maka wajah kedua orang wanita ini tersorot lampu dan sebentar saja hampir semua mata memandang ke arah mereka, karena wajah Bi Lan benar benar amat indah rupawan dan menarik perhatian semua orang tamu yang berada di situ. Sebentar saja semua orang bertanya tanya siapakah adanya gadis cantik jelita itu? Akan tetapi ketika melihat Kim Kiok, pandang mata mereka terhadap Bi Lan berubah, kalau tadi kagum dan mengindahkan sekarang hanya tinggal kagum saja sedangkan di dalam hati menyayangkan mengapa seorang gadis manis yang masih demikian muda telah bergaul dengan seorang perempuan cabul seperti Kim Kiok!

Tentu saja Bi Lan sendiri tidak tahu sama sekali tentang hal ini dan ia duduk sambil tersenyum senyum gembira, pikirannya masih penuh oleh bayangan sepasang kakek kembar tadi dan beberapa kali ia menoleh ke sana ke mari dengan mata mencari cari, akan tetapi tetap saja ia tidak menemukan bayangan dua orang kakek itu. Diam diam ia mengakui bahwa kepandaian dua orang kakek itu benar benar hebat sekali dan jauh lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri! Kalau saja Bi Lan tahu siapa adanya sepasang kakek kembar itu, tentu ia takkan merasa seheran itu. Sebetulnya dua orang kakek ini bukan lain adalah Thian Te Siang mo, yakni Sepasang Iblis Bumi Langit yang kita sudah lama kenal sebagai guru dari Go Ciang Le!

Thian Te Siang mo mendengar juga tentang undangan yang dikeluarkan oleh Sam Thai Koksu dan memang sudah lama kedua orang kakek kembar ini mendengar tentang nama Sam Thai Koksu yang terkenal lihai. Kedatangan Thian Te Siang mo sama sekali bukan karena undangan itu, dan juga biarpun Iblis Kembar ini mempunyai kesukaan mengumpulkan jenazah orang orang gagah, namun mereka sendiri tidak ambil perduli tentang politik dan perang. Mereka kini datang karena tertarik oleh nama Sam Thai Koksu dan selain ingin menyaksikan kelihaian guru guru besar negara Kin, juga memang kebetulan sekali mereka mengembara dan berada di dekat kota Cin an. Selain dari pada ini semua, Sepasang Iblis Kembar ini ingin pula bertemu dengan orang orang gagah yang akan mengunjungi pesta di kebun raya ini untuk menghibur hati karena kedua orang sakti ini sedang menderita kekecewaan yang amat besar. Kekecewaan yang ditimbulkan oleh murid tunggal mereka, yaitu Go Ciang Le!

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Sebelum kita melihat lebih jauh apa yang akan terjadi di dalam taman bunga di mana diadakan pesta oleh Sam Thai Koksu itu, lebih baik kita menengok pada peristiwa yang terjadi lebih dahulu dan mengetahui mengapa Thian Te Siang mo bisa menjadi kecewa karena Go Ciang Le.

Setelah menolong penduduk dusun di lereng Gunung Tapie san sebelah selatan, membunuh ular yang dipelihara oleh Coa ong Sin kai dan bahkan berhasil mengusir pengemis sakti yang gila itu, Ciang Le lalu melanjutkan perjalanannya turun dari gunung. Mulailah ia dengan pengembaraannya sebagai pendekar yang budiman, yang selalu siap sedia mengulurkan tangan menolong kepada orang orang lemah yang tertindas atau mengalami kesengsaraan. Selama berbulan ia mengembara dan mendapat kenyataan bahwa kepandaiannya yang dipelajari dari dua orang gurunya, ternyata benar benar memuaskan hatinya dan tak pernah ia menemui tandingan Selama ini, lawan yang dianggapnya paling berat hanyalah Coa ong Sin kai seorang, yang baru melarikan diri setelah melihat pedangnya Kim kong kiam.

Akan tetapi, semenjak itu, tak pernah ia mengeluarkan pedangnya karena semua penjahat yang dihadapinya cukup dilawan dan dirobohkan oleh kedua tangannya saja. Dan tanpa ia ketahui, semua perbuatannya dilihat dari jauh oleh Thian Te Siang mo. Sepasang Iblis yang diam diam memperhatikan sepak terjang murid mereka itu. Tanpa disengaja, Ciang Le terus menuju ke utara sampai ia memasuki wilayah Kerajaan Kin dan di situ ia menyaksikan kesengsaraan rakyat kecil sehingga makin giatlah ia melakukan perbuatan perbuatan yang sesuai dengan tuntutan jiwa seorang pendekar. Namanya menjadi makin terkenal dan karena ia tak pernah mau mengaku nama aselinya, ia lebih suka disebut Hwa I Enghiong yang makin lama makin terkenal baik di kalangan rakyat yang tertolong maupun di kalangan dunia liok lim (rimba hijau).

Pada suatu hari, sampailah ia di kota Taigoan di Propingi Shansi dan di kota inilah ia mengalami hal yang hebat, menjumpai orang orang yang memiliki kepandaian tinggi yang belum pernah ia impikan atau menduga sebelumnya. Di dalam kota Taigoan yang besar terdapat sebuah perkumpulan pengemis seperti yang sering kali terdapat di kota kota besar pada waktu itu. Akan tetapi perkumpulan pengemis yang berada di Taigoan ini bukanlah perkumpulan pengemis biasa saja yang suka membagi bagi hasil pekerjaan mereka di antara kawan kawan. Perkumpulan ini amat berpengaruh, bahkan pengaruhnya demikian besarnya sehingga para pemimpinnya mengadakan perhubungan dengan para pembesar Kin yang berada di kota itu, perkumpulan ini disebut Hek kin kaipang (Perkumpulan Pengemis Ikat Pinggang Hitam). Semua pengemis yang berada di kota Taigoan dan daerahnya, tidak ada yang tidak menjadi anggauta perkumpulan ini, karena mereka yang berani menjadi pengemis di luar keanggautaan perkumpulan ini tentu akan dipukuli atau diusir dari tempatnya bekerja!

Anggauta anggauta biasa dari perkumpulan ini memang terdiri dari pada pengemis pengemis biasa saja, akan tetapi perkumpulan ini mempunyai dewan pengurus yang amat kuat organisasinya dan selain semua pengurus ini mempunyai hubungan dan kedudukan yang kuat di Taigoan dan sekitarnya, juga mereka terkenal sebagai ahli ahli silat yang tinggi ilmu kepandaiannya. Para pemimpin pengemis itupun mempunyai tingkat tingkat kedudukan. Anggauta biasa dapat dikenal dari jubah hitam tambal tambalan yang memakai sebuah kantong besar di dada, tempat ia menaruh hasil minta minta kepada penduduk. Pengemis pengemis yang menjadi pengurus perkumpulan dapat dilihat dari jumlah kantong di dada mereka. Kantong, kantong ini kecil dan dipasang di baju mereka bagian dada. Makin banyak jumlah kantong kecil itu di bajunya, makin tinggilah kedudukannya atau tingkatnya dan dengan sendirinya makin tinggi pula ilmu silatnya.

Adapun siapa yang menjadi ketua dari Hek kin kai pang, tak seorangpun mengetahui atau pernah melihatnya, semua pengemis, baik yang menjadi anggauta biasa dengan baju hitam tambal tambalan maupun yang mempunyai kedudukan dan bajunya berwarna macam macam, tentu mengenakan sehelai sabuk atau ikat pinggang berwarna hitam terbuat dari sutera pada pinggang mereka. Inilah tanda keanggautaan dari perkumpulan Hek kin kai pang. Para anggauta pengemis itu melakukan pekerjaan minta minta seperti pengemis pengemis biasa dan mereka menerima apa saja yang diberikan orang kepada mereka. Tak pernah mereka menimbulkan kerusuhan, kecuali kalau ada orang melakukan pekerjaan mencopet.

Pengemis pengemis ini memang diakui dan dibiarkan oleh pemerintah karena mereka menjamin bahwa di kota Taigoan dan sekitarnya takkan ada pencopet atau pencuri. Bahkan, sedikitnya mereka menjamin dan merupakan tempat pelarian dari mereka yang lemah dan tidak mampu bekerja lagi sehingga tidak mati kelaparan di pinggir jalan dan memusingkan kepada para petugas pemerintah.

Akan tetapi, ada hal yang amat ganjil dalam perkumpulan ini, yaitu pada para pimpinannya. Biarpun mereka berpakaian seperti pengemis dan di bajunya terdapat kantong kantong kecil, jangan mencoba untuk memberi sesuatu kepada pemimpin pemimpin ini! Pemberian berupa apapun juga kepada para pengemis yang sudah mempunyai tanda kedudukan, yakni kantong kantong di bajunya, dianggap sebagai penghinaan dan pemberi itu akan dihajar! Setidak tidaknya dimaki maki!

Hal ini sudah diketahui oleh seluruh penduduk di Taigoan dan sekitarnya, maka tak pernah terjadi pelanggaran dan keributan yang tidak diingini. Karena para pemimpin inipun jarang sekali berkeliaran di dalam kota, maka juga para pelancong dan pendatang dari luar kota jarang ada yang bertemu dengan mereka sehinga biarpun pelancong ini tidak mengetahu tentang “pantangan” pemimpin pemimpin Hek kin kaipang, tidak pernah terjadi pelanggaran.

Ketika Ciang Le memasuki kota Taigoan, secara kebetulan sekali ia bertemu dengan pengemis pengemis ini dan menyaksikan keributan yang timbul karena pelanggaran ini sehingga mengakibatkan pertempuran besar. Seperti biasa, Ciang Le memasuki kota dengan tindakan kaki tenang. Ia gembira sekali melihat keindahan kota Taigoan, biarpun hati kecilnya ada perasaan tak senang karena ia tahu bahwa gedung gedung yang membuat kota ini nampak indah adalah milik dari para pembesar Kin, pembunuh pembunuh kedua orang tuanya! Telah lama Ciang Le dapat mengubur rasa dendamnya, karena kedua orang gurunya memberitahukan kepadanya bahwa ayahnya yang bernama Go Sik An bersama ibunya telah tewas oleh pengeroyokan tentara tentara Bangsa Kin.

“Tak ada gunanya kau berdendam hati, muridku,” kata Thian Lo mo, “orang tuamu tewas sebagai pahlawan pahlawan, sebagai perajurit perajurit gugur dalam perang. Tidak ada sakit hati atau dendam dalam hal ini, karena tewasnya orang tuamu bukan karena pertempuran atau urusan perseorangan, melainkan membela negara. Pula, kita semua tidak tahu siapa orangnya sebetulnya yang menjatuhkan tangan maut terhadap orang tuamu, maka tidak mungkin sekali kalau kau hendak membalas sakit hati kepada seluruh tentara Kin yang puluhan laksa jumlahnya itu!”

Dengan nasihat nasihat dan ucapan ucapan seperti inilah, maka telah lama hati Ciang Le telah menjadi dingin dan tidak ada nafsu untuk membalas dendam atas kematian kedua orang tuanya. Menang ia tadinya telah bersumpah untuk membalas dendam dan sakit hati ayah bundanya, akan tetapi karena tidak tahu siapa orangnya yang harus dibalas, hatinya menjadi tawar. Ada sedikit harapan di dalam dadanya bahwa siapa tahu kalau kalau secara kebetulan ia akan dapat mendengar siapa orangnya yang membunuh mereka dan kepada orang ini tentulah ia akan menjatuhkan tangan pembalasan!

Ketika ia berjalan sampai di sebuah jalan yang menikung, tiba tiba ia mendengar suara ribut ribut dan melihat seorang laki laki yang berpakaian seperti seorang pelajar sedang dipukuli oleh dua orang pengemis. Melihat cara dua orang pengemis itu memukul, dengan kaget Ciang Le mendapat kenyataan bahwa dua orang itu mengerti ilmu silat sedangkan pelajar yang usianya tiga puluh tahun lebih itu hanya mengeluh dan jatuh bergulingan.

“Ampun, tai ong… ampun…!” pelajar itu mengaduh aduh dan minta ampun sambil menyebut “tai ong” yang berarti raja besar, yakni sebutan yang lajim bagi kepala kepala perampok!

“Kau harus mampus!” seorang diantara pengemis itu berseru marah. “Kau cacing buku ini berani sekali menghina kami, pemimpin tingkat ke lima dari Hek kin kaipang? Apakah matamu buta tidak melihat jumlah kantong kantong jimat di baju kami?”

“Ampun… siauwte tidak tahu tentang hal itu sama sekali… baru tiga hari siauwte datang di kota ini… harap tai ong suka memberi maaf.”

“Kami bukan perampok perampok, berani sekali kau menyebut tai ong!” pengemis ke dua membentak sambil memberi gaplokan ke arah mulut pelajar itu sehingga darah mengalir dari bibirnya yang pecah pecah.

Ketika dua orang pengemis itu hendak memukuli lagi, tiba tiba mereka merasa tangan mereka tertahan oleh tangan orang lain. Mereka cepat menengok dan dengan marah sekali mereka melihat seorang pemuda berbaju kembang yang berdiri dengan tenang dan gagah, akan tetapi dengin sepasang mata bernyala saking marahnya.

“Kalian ini dua orang pengemis yang biasanya minta dikasihi orang, mengapa sekarang bahkan berlaku kejam kepada seorang terhormat?” Ciang Le mencela dua orang pengemis itu dengan suara halus, akan tetapi cukup ketus.

Ia melihat bahwa dua orang pengemis itu memakai baju berwarna biru dan biarpun ditambal di sana sini, namun nampak bersih dan baru. Di bagian dadanya dipasangi lima buah kantong kecil berwarna kuning emas dan di pinggang mereka terselip dua batang tongkat bambu yang runcing. Ia sendiri tidak pernah mendengar tentang perkumpulan Hek kin kaipang, akan tetapi melihat sikap dua orang pengemis yang usianya sudah empat puluh tahun lebih ini, Ciang Le dapat menduga bahwa dua orang pengemis ini tentulah orang orang yang memiliki kepandaian silat dan agaknya sombong dan jahat. Akan tetapi Ciang Le tidak memperdulikan lagi dua orang pengemis itu, sebaliknya ia lalu menolong pelajar itu, membantunya bangun dan berdiri. Baiknya pelajar itu hanya menerima gebukan dan tendangan yang tidak bermaksud membunuh, maka hanya muka dan tubuhnya saja yang matang biru, namun tidak ada tulang patah atau luka di dalam.

“Saudara, apakah kesalahanmu maka kau sampai dipukuli oleh dia orang ini?” tanya Ciang Le kepada orang berpakaian pelajar itu.

Orang itu menarik napas panjang dan menggunakan ujung lengan bajunya untuk menyusut darah dari bibirnya, “Terima kasih atas pertolonganmu, hohan (orang gagah),” katanya. “Aku sendiri masih merasa heran mengapa kedua orang gagah ini marah marah kepadaku. Ketahuilah bahwa aku tadi melihat mereka duduk di pinggir jalan dan karena merasa kasihan, aku lalu memberi dua potong uang tembaga kepada mereka. Tidak kusangka sangka, mereka tiba tiba lalu berdiri dan memukul padaku.”

Sementara itu, dua orang pengemis Hek kin kaipang yang mempunyai tingkat ke lima itu menjadi marah sekali melihat ada orang berani membela pelajar yang telah menghina mereka. Kedua orang pengemis ini kedudukannya tidak terlalu rendah, karena pemimpin yang paling rendah, adalah tingkat ke tujuh yakni yang pekerjaannya mengumpulkan hasil pendapatan para pengemis. Pemimpin tingkat ke enam berkewajiban membagi bagi hasil itu untuk makan para pengemis sehingga takkan terjadi keributan. Tingkat ke lima berkewajiban mengontrol pekerjaan pengemis agar jangan ada yang menganggur atau bermalas malasan dan hanya mengandalkan makan dari hasil pekerjaan kawan kawan.

“Kau ini orang dari manakah yang sengaja mau membela orang yang telah menghina kami?” bentak seorang diantara mereka yang bercambang bauk menutupi hampir seluruh mukanya, sambil mendelik memandang kepada Ciang Le.

Pemuda ini tetap berlaku tenang dan sambil tersenyum ia berkata, “Sungguh perkara yang aneh sekali. Orang mau menyumbang uang, kalian tidak berterima kasih, bahkan berlaku kasar dan menyiksa orang. Aturan manakah ini? Aku yang telah melakukan perjalanan ribuan li jauhnya, baru kali ini melihat hal yang seaneh ini. Sahabat, coba kau terangkan kepadaku mengapa kau memukuli orang yang hendak memberi bantuan uang kepadamu?”

Karena tahu bahwa Ciang Le bukan orang dalam kota dan dari suara pemuda ini terdengar jelas bahwa ia datang dari selatan, pengemis itu menahan marahnya lalu berkata. “Dia menghina kami dengan memberi uang itu. tidak tahukah kau?”

“Menghina?” Ciang Le terheran. “Kalian adalah pengemis pengemis atau setidak tidaknya orang orang yang berpakaian seperti pengemis. Apa salahnya kalau orang memberi sumbangan uang kepadamu. Mengapa kau bilang menghina?”

Orang orang yang menonton ribut ribut itu diam diam mengeluh karena mereka menganggap pemuda tampan berbaju kembang ini benar benar “mencari penyakit” dengan ucapan ucapannya yang tidak disadarinya itu. Memang benar, dua orang pemimpin pengemis tingkat lima itu makin merah mukanya, akan tetapi si cambang bauk tetap memberi penjelasan dengan suara ketus.

“Bagaimana kau bilang tidak menghina? Butakah matanya dan tidak melihat bahwa kami memakai lima buah kantong pada baju kami?”

“Itu artinya bahwa kalian mempunyai banyak tempat untuk menyimpan uang. Adakah arti yang lain lagi?” tanya Ciang Le mencoba berkelakar. Terdengar suara ketawa tertahan dari orang orang yang menonton di pinggir jalan.

“Orang muda, hati hatilah dengan mulutmu. Jangan jangan kau akan keluar dari tempat ini dengan bibir pecah pecah pula!” Pengemis kedua membentak sambil bertolak pinggang. “Buka matamu baik baik, kami adalah dua orang pemimpin tingkat ke lima dari Hek kin kaipang! Apa kau mau bilang pula bahwa selama hidup kau belum pernah mendengar tentang Hek kin kaipang??”

Ciang Le memang benar benar belum pernah mendengar nama perkumpulan ini maka dengan sungguh sungguh ia menggelengkan kepalanya berkali kali dan berkata, “Memang aku belum pernah mendengar nama perkumpulan pengemis ini, sahabat. Dan biar pun kalian menduduki tingkat ke satu sekali pun dari perkumpulan yang manapun juga, kurasa kalian berlaku keterlaluan terhadap orang yang bermaksud baik memberi sumbangan kepadamu. Kalau kalian tidak suka menerima kalian boleh menolak dengan halus, bukan dengan main pukul seperti tukang tukang pukul dan jagoan jagoan murah saja!” Ciang Le bicara keras, karena iapun mulai merasa mendongkol dan marah melihat sikap pengemis yang keterlaluan itu.

Mendengar ucapan ini, tentu saja kedua orang pengemis itu menjadi makin marah dan mencak mencak, “Agaknya kau sudah bosan hidup berani bermain gila dan menghina kami!” kata si cambang bauk yang segera maju menubruk dan mengayun tangan hendak menampar Ciang Le seperti yang ia lakukan kepada si pelajar tadi. Akan tetapi kali ini ia bertemu batunya.

Sikap Ciang Le yang lemah lembut dan kulitnya yang halus itu memang tidak ada bedanya dengan sikap pelajar tadi dan semua orang tentu akan mengiranya sebagai seorang yang lemah. Ciang Le memang selalu menyembunyikan pedangnya di dalam bajunya yang lebar dan panjang. Orang orang yang menonton mengira bahwa Ciang Le tentu akan roboh seperti pelajar tadi akan tetapi alangkah herannya hati semua orang termasuk si cambang bauk sendiri ketika yang jatuh bukannya Ciang Le, melainkan si cambang bauk itulah!

Ketika ditampar tadi, Ciang Le bersikap tenang tenang saja, sama sekali tidak mengelak. Akan tetapi begitu kepalan tangan pengemis itu telah mendekati pipinya, tiba tiba pemuda ini menggerakkan tangan dan miringkan kepalanya. Pukulan itu tidak mengenai sasaran, sebaliknya begitu tangannya mendorong tubuh pengemis cambang bauk itu, tak dapat dicegah lagi tubuh pengemis yang tinggi besar itu terdorong roboh dan bergulingan beberapa kali!

Hal ini tidak saja mengherankan para penonton, bahkan pengemis cambang bauk itu sendiri dan kawan kawannya jua terheran heran. Bagaimana seorang pemuda lemah lembut seperti ini dapat merobohkannya, yang sudah memiliki kepandaian lumayan dan menduduki tingkat ke lima?

“Eh, sobat, kau siapakah dan dari golongan mana? Beri tahu lebih dulu agar kami dari Hek kin kaipang tidak salah tangan terhadap kawan segolongan!” Si cambang bauk melompat berdiri dan menegur Ciang Le.

Pemuda ini tersenyum manis ketika berkata, “Aku bukan dari golongan mana mana, hanya seorang pelancong biasa saja yang tidak suka melihat orang orang kasar mengandalkan tenaganya dan menghina yang lemah. Lebih baik kalian minta maaf kepada siucai (orang terpelajar) ini, dan habislah perkara ini. Akupun tidak suka bermusuhan dengan siapapun.”

“Ah, lagakmu sombong sekali, orang muda! Biarpun kau belum mendengar tentang perkumpulan kami, sedikitnya kau harus tahu bahwa kami bukanlah orang orang yang boleh dihina begitu saja. Kau kira kami takut kepadamu? Rasakan pukulanku ini!”

Dua orang pengemis itu menyerang dari kanan kiri dengan pukulan yang dilakukan sekuat tenaga. Mereka memang marah sekali dan hendak merobohkan pemuda yang dianggapnya sombong dan lancang ini dengan sekali pukul. Akan tetapi kembali mereka kecele, karena bukan pemuda itu yang terjungkal roboh, melainkan kedua orang pemukul tadi! Demikian cepat dan hebat gerakan Ciang Le sehingga tahu tahu kedua orang pengemis Hek kin kaipang tingkat ke lima itu terjerumus maju dan kepala mereka saling beradu, keduanya lalu roboh sambil meringis ringis kesakitan sambil menggosok gosok kepala mereka yang menjadi benjol!

Terdengar suara ribut ribut dan semua penonton yang makin banyak bekumpul di tempat itu serentak menjauhkan diri dengan muka nampak takut takut. Sebaliknya, dua orang pengemis yang masih belum berdiri itu kelihatan girang sekali. Ciang Le berlaku waspada dan ketika melihat datangnya serombongan orang memasuki tempat itu, ia maklum tentu ia harus menghadapi lawan lawan yang tangguh. Ternyata bahwa yang datang adalah pemimpin pemimpin Hek kin kaipang tingkat empat, tiga, dan dua! Semuanya berjumlah tujuh orang.

“Suheng, pemuda ini telah menghina kita!” Si cambang bauk itu berkata kepada pengemis tertua yang bajunya berkantong dua, tanda bahwa dia memiliki kedudukan tinggi dalam perkumpulan ini, yakni tingkat ke dua. “Siucai itu telah merendahkan kita dengan memberi uang. Selagi siauwte menghajarnya, datang pemuda ini yang turun tangan dan merobohkan siauwte berdua.”

Pengemis tua tingkat ke dua itu memandang kepada Ciang Le lalu menjura dan berkata, “Enghiong siapakah dan dari golongan mana? Harap sudi memperkenalkan diri dan jangan sampai timbul salah faham diantara orang orang segolongan.”

Melihat sikap pengemis ini dan mendengar kata katanya yang sopan, Ciang Le cepat membalas penghormatan itu dan menjawab, “Mohon maaf sebanyaknya. Siauwte sesungguhnya tidak ingin mencari keributan. Siauwte seorang pelancong biasa saja yang tidak tahu akan kebiasaan setempat. Akan tetapi melihat seorang siucai dipukuli oleh dua orang ini, terpaksa siauwte menegur mereka. Tidak tahunya mereka menyerang, maka tiada lain jalan bagi siauwte kecuali membela diri. Kalau kedua orang ini mau minta maaf kepada, siucai itu, siauwte bersedia minta maaf pula kepada mereka.”

Mendengar pemuda ini tidak mau menyebut nama, pengemis tua ini mengerutkan keningnya. “Hm, apakah kau orang muda merasa terlalu tinggi untuk memperkenalkan diri lebih dulu? Kalau begitu, biarlah lohu memperkenalkan diriku. Aku adalah Thio Han, pemimpin tingkat dua dari Hek kin kaipang. Nah, harap sekarang kau memberitahukan namamu.”

Dari kedua orang suhunya, Ciang Le seringkali diberi nasehat agar jangan mengobral namanya, maka ia menjawab. “Siauwte memberi hormat kepada lo enghiong dan dengan setulusnya siauwte memandang tinggi kedudukan lo enghiong di Hek kin kaipang. Akan tetapi terus terang saja, siauwte tidak mau terlibat dalam urusan pertikaian ini. Marilah kita sudahi saja dan asal kalian melepaskan siucai itu, siauwtepun akan melanjutkan perantauan.”

Tiba tiba diantara para penonton yang memperhatikan pakaian Ciang Le, berkata. “Apakah pemuda gagah ini bukan Hwa I Eng hiong?”

Mendengar sebutan ini, berobah muka Ciang Le dan ia segera menoleh untuk memandang kepada orang yang menyebut nama julukannya itu. Adapun para anggota Hek kin kaipang yang sudah mendengar pula nama pendekar muda yang baru muncul itu, merasa terkejut dan teringat. Juga Thio Han memandang tajam dan tersenyum,

“Ah, tidak tahunya Hwa I Enghiong yang membuat nama besar! Betulkah lohu berhadapan dengan Hwa I Enghiong?”

Terpaksa Ciang Le tak dapat menyembunyikan diri lagi. Ia tersenyum dan berkata, “Orang orang telah terlalu melebih lebihkan, sesungguhnya siauwte tidak patut disebut enghiong (orang gagah) sungguhpun sebutan Hwa I (Berbaju Kembang) tidak dapat kusangkal lagi. Memang aku berbaju kembang.”

“Kalau begitu, kebetulan sekali. Harap Hwa I Enghiong sudi memberi sedikit petunjuk kepadaku!” kata Thio Han yang menggulung lengan bajunya.

Melihat sikap bermusuh ini dan mendengar ucapan minta petunjuk berarti mengajak adu kepandaian, Ciang Le merasa heran. Mengapa pengemis tua ini tiba tiba merobah sikap? Ia tidak tahu bahwa sudah jadi kebiasaan tokoh tokoh Hek kin kaipang untak mencoba dan menguji kepandaian setiap orang tokoh kang ouw yang baru muncul apabila kebetulan mereka berjumpa...

Thanks for reading Pendekar Budiman jilid 04 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »