Pendekar Budiman jilid 01

Pendekar Budiman Jilid 01

Tahun 1126.

KOTA besar Kaifeng di Propingi Honan terancam bahaya hebat ketika bala tentara kerajaan baru Kin mengurungnya. Kerajaan kin adalah kerajaan baru yang didirikan oleh Raja Akkuta dalam tahun 1115. Raja Akutta, pemimpin besar Bangsa Wanyen, telah berhasil mengumpukan rakyatnya yang selalu tertindas dan terhina kerajaan dan tentara Liao. Kemudian dengan sama yang baik antara, bala tentara Kin dan Sung, Akutta berhasil menyerbu dan menduduki Peking.

Akan tetapi celakanya setelah menikmati beberapa kemenangan, bala tentara Kin yang berasal utara sepanjang lembah Sungai Sungari dan Heitungkiang itu, menjadi “keenakan” dan tidak mau mundur ke utara kembali. Bahkan tentara yang besar jumlahnya dan amat kuat ini terus menjelajah ke selatan, sebagian besar maju terus menyerbu ke Taigoan di mana mereka mendapatkan perlawanan sengit dari rakyat dan tentara. Sebagian pula lalu maju mengurung kota Kaifeng sehingga kota itu berada di bawah ancaman bahaya maut!

Kaisar Chin Tsung dan sebagian besar para pembesar yang selalu hidup berkorupsi, tentu saja tidak memiliki semangat bertempur. Bagi mereka ini, orang orang yang menamakan diri pembesar dan pemimpin, kehilangan kehormatan atau kehilangan negara bukanlah soal pentng. Yang penting bagi mereka adalah harta benda, kedudukan, dan jiwa! Hanya tiga macam inilah isi kehidupan mereka, yakni harta benda, kedudukan dan jiwa. Mereka pun siap sedia untuk menukar kehormatan bangsa atau negara untuk menyelamatkan yang tiga itu.

Para pembesar dan kaisar Chin Tsung mempunyai niat untuk mengadakan perundingan dan perdamaian saja dengan bala tentara Kin yang kuat dan ingin mempergunakan “sogokan” kepada bala tentara asing itu agar jangan mengganggu kesenangan hidup mereka. Akan tetapi rakyat kecil dan prajurit prajurit yang patriotis tidak menyetujui hal ini. Mereka ini lebih baik mati daripada menyerah karena mereka maklum sedalam dalamnya bahwa kalau sampai tentara musuh itu merebut Kaifeng yang akan menderita hebat adalah rakyat kecil. Yang akan dirampok, dibunuh, disiksa, dihina bukan lain adalah rakyat kecil kota Kaifeng, yang akan menderita hebat adalah rakyat kecil. Yang akan dirampok, dibunuh, disiksa, dihina, bukan lain tentu rakyat kecil juga!

Oleh karena itulah maka rakyat serentak bangkit melakukan perlawanan. Tidak saja di dalam kota Kaifeng sendiri bahkan dari lain lain kota di sekitar daerah itu, sama datang dan merupakan kesatuan yang gagah perkasa melakukan perlawanan. Di mana mana timbul pemimpin kesatuan yang terdiri dari pendekar pendekar gagah perkasa. Tidak perduli buruh, petani, guru silat, piauwsu (pengawal barang antaran), pedagang maupun pelajar, semua serentak melawan penyerbu.

Melihat semangat perlawanan hebat dari rakyat jelata. Kaisar Chin Tsung dan para pembesar tidak berani menahan kehendak mereka yang patriotik. Terpaksa Kaisar Chin Tsung lalu mengangkat Li Kang, pemimpin yang gagah perkasa dan berkepandaian tinggi, untuk menjadi pemimpin barisan melawan bala tentara musuh. Penjagaan disiapkan di mana mana dan barisan suka rela yang datang dari semua jurusan dikumpulkan! Dua ratua ribu orang lebih terkumpul, merupakan kekuatan maha hebat yang siap sedia menggempur musuh. Karena datangnya bala bantuan dari luar ini, musuh terserang dari dua fihak dan menjadi terpecah dua. Musuh yang mengurung kota terpisah dari bagian perlengkapan mereka.

Akan tetapi, pertempuran pertempuran hebat itu telah meng goncangkan iman Kaisar Chin Tsung yang lemah, demikian pula para pembesar setiap hari menggigil seluruh tubuh nya. Tel... ah terbayang di depan mata mereka yang pengecut ini, betapa pihak sendiri kalah dan barisan musuh menyerbu masuk ke dalam kota. Tentu saja mereka tidak membayangkah keadaan rakyat, melainkan membayangkan keadaan sendiri, menjadi amat gelisah mengingatkan keselamatan sendiri, terutama keselamatan rumah, gedung dan harta benda mereka.

Berita tentang kemenangan Li Kang yang memim pin pasukan rakyat tidak menggembirakan hati Kaisar Chin Tsung dan kaki tangan nya, bahkan membuat kaisar ini menjadi makin ketakutan. Dia telah mendengar tentang kekejaman bala tentara Kin. Apalagi setelah kini bala tentara itu terpukul oleh pasakan yang dipimpin Li Kang tentu mereka menjadi sakit hati dan makin ganas! Oleh karena itu, diam diam kaisar lalu mengirim utusan kepada pimpinan tentara musuh untuk mengajak damai dan menawarkan uang sogokan dari seluruh jumlah perak yang bisa didapatkan dari dalam kota Kaifeng! Kemudian kaisar bahkan memecat Li Kang!

Akan tetapi perbuatan kaisar ini sekaligus mendapat tentangan hebat dari rakyat jelata. Laksaan orang berdemonstrasi, berkumpul di depan istana, dipimpin oleh seorang mahasiswa bernama Cheng Tung dan seorang kawannya, juga seorang terpelajar bernama Go Sik An. Para demonstran ini menuntut agar supaya Li Kang diangkat lagi menjadi pemimpin pasukan untuk menggempur para penyerbu. Akhirnya kaisar tidak melihat lain jalan dan terpaksa menuruti kehendak rakyat.

Demikianlah, berkat semangat yang tak kunjung padam dari rakyat jelata yang dipimpin oleh patriot patriot yang tadinya merupakan pendekar pendekar silat di dunia kangouw akhirnya bala tentara Kin yang mengepung kota kaifeng dapat terusir bersih. Akan tetapi, kemenangan ini membuat kaisar dan para pembesar berkhawatir, tidak saja takut akan pembalasan barisan Kin, akan tetapi juga merasa ngeri melihat semangat perlawanan rakayat jelata yang diangap remeh sebelumnya itu. Kalau semangat perlawanan rakyat itu ditunjukan kepada kedudukan kaisar dan pemerintahannya, bukankah itu berbahaya sekali?

Demikianlah, setelah musuh dapat terusir pergi, kaisar lalu membubarkan semua kesatuan dan hanya memelihara pasukan pasukan penjaga yang tidak banyak jumlahnya. Hal ini dilakukan dengan alasan untuk menghemat belanja negara yang habis menderita perang. Bahkan Li Kang lalu diasingkan ke tempat yang jauh dan orang tidak mendengar berita lagi dari pemimpin besar ini.

Setengah tahun kemudian, kembali barisan besar dari Kin menyerbu ke selatan. Kini bala tentara yang menyerbu amat besar jumlahnya dan kuat sekali karena memang Raja Akutta hendak menuntut balas kekalahan kekalahannya yang di deritanya beberapa bulan yang lalu. Kota Kaifeng juga tidak terlewat, mengalami serbuan hebat sekali.

Kembali barisan rakyat melakukan perlawanan gigih sekali. Akan tetapi apakah yang dilakukan oleh kaisar? Kembali kaisar dan anak buahnya mencoba untuk mengadakan kontak dan damai dengan para penyerbu, bahkan memerintahkan agar bala bantuan dari luar kota dihentikan.

“Kota telah terkepung musuh. Bagaimana kita harus menambah kekuatan barisan? Ransum kita tinggal sedikit, kalau kita harus menambah orang, sebentar saja kita akan kelaparan dan mati semua tanpa dipukul musuh!” demikian ucapan kaisar sebagai alasannya mengurangi daya lawan dari pasukan rakyat.

Atas pernyataan kaisar ini. Go Sik An yang menjadi kawan baik mahasiswa Cheng Tung, menjadi marah sekali. Go Sik An dikenal sebagai seorang bun bu cwan jai (seorang yang memiliki kepandaian bu dan bun atau ilmu silat dan kesusasteraan). Dan dia adalah seorang keturunan keluarga hartawan, mempunyai gedung besar di kota Kaifeng dan keluarganya terkenal sebagai keluarga ang terhormat dan juga dermawan. Sebagaimana telah disebutkan di bagian depan setengah tahun yang lalu, juga Go Sik An bersama Chen Tung mengadakan demonstrasi di depan istana.

Kini karena Chen Tung telah meninggalkan Kaifeng, Go Sik An sendiri lalu mengadakan protes atas keputusan kaisar mengurangi bala bantuan itu. Dan apa akibatnya? Co Sik An ditangkap oleh kaisar dan ketika Go Sik An melakukan perlawanan, ia dikeroyok oleh pasukan pengawal kaisar dan dimasukkan dalam penjara!

Go Sik An mempunyai banyak kawan terdiri dari orang orang gagah Bahkan isterinya sendiri juga seorang wanita yang berkepandaian tinggi, seorang anak murid dari Hoa san pai. Ketika mendengar tentang penangkapan suaminya, nyonya Go ini lalu melarikan diri dari rumah, membawa lari putera tunggalnya yang baru berusia tiga tahun. Ia ditolong oleh kawan kawannya dan disembunyikan sehingga para pengawal kaisar yang tadinya hendak menumpas seluruh keluarga Go tidak berhasil mendapatkannya. Yang menjadi korban hanya harta benda keluarga itu. Rumah gedung yang penuh barang berharga itu sebentar saja habis dan kosong, diangkut oleh para pembesar yang memakai alasan “sita”!

Makin lemahlah pertahanan kota Kaifeng dan dengan amat mudah barisan Kin dapat menduduki kota ini. Betapapun juga kaisar dan para pembesar hendak mengadakan persekutuan dengan mereka. Tetap saja kaisar dan banyak bangsawan dijadikan tawanan!

Barisan Kin melakukan penggedoran, pembunuhan dan penyiksaan Dan semua orang hukuman dibunuh dan ketika mereka mendengar bahwa Go Sik An yang ditahan kaisar itu adalah seorang pemimpin Barisan rakyat, segera diumumkan bahwa orang she Go itu akan dihukum gantung di depan pintu benteng!

Semua orang menjadi terharu dan berduka mendengar pengumuman ini, akan tetapi siapakah yang berani membela Go Sik An? Orang ini terkenal amat dermawan, gagah perkasa, dan juga pandai. Akan tetapi sekarang ia terjatuh dalam tangan musuh yang berkuasa, apakah daya orang orang lain?

Akan tetapi semua orang maklum, diam diam para orang gagah yang menjadi sahabat Go Sik An tentu takkan tinggal diam saja. Semua orang menanti datangnya hukuman itu dengan hati berdebar. Pasti akan terjadi hal hal yang hebat, pikir mereka. Keadaan di dalam kota sejak diumumkannya hokum gantung bagi Go Sik An itu, menjadi makin sunyi dan pada muka semua orang penduduk terbayang kekhawatiran yang besar.

Sebaliknya, sudah tentu saja sebagaimana terjadi pada setiap peralihan kekuasaan, anjing anjing penjilat yang merangkak rangkak dan menciumi ujung sepatu para pembesar Kin orang orang yang berjiwa bobrok, yang tadi nya juga merupakan pembesar korupsi dan sekarang bertukar bulu menjadi pengkhianat pengkhianat, cepat menyebar mata mata untuk mencari rahasia tempat tinggal isteri dan putera Go Sik An dan juga kawan kawannya.

Dalam sebuah hutan liar diluar kota Kaifeng pada pagi hari, Terdengar suara belasan ekor anjing menggonggong diselingi oleh suara banyak orang bercakap cakap dan suara tindakan kaki mereka tersaruk saruk atau menginjak ranting dan daun kering. Mereka ini adalah sepasukan tentara Kin yang telah mendapat khabar dari para penyelidik dan pengkhianat bahwa di hutan itulah isteri dan kawan kawan Go Sik An bersembunyi. Pasukan ini lalu membawa anjing pemburu dan mereka memeriksa hutan ini dengan maksud mencari dan membasmi kawan kawan Go Sik An yang dianggap berbahaya dan mempunyai maksud memberontak terhadap pemerintah baru.

Sampai matahari telah naik tinggi, mereka masuk ke dalam hutan dan memeriksa ke sana ke mari, akan tetapi mereka tidak menemukan orang orang yang dicari, bahkan tidak nampak bekas bekas mereka, anjing anjing yang mereka bawa tidak menemukan seorang manusia, bahkan lalu mengejar kelinci dan babi hutan.

Mereka mendapatkan sebuah kuil tua di dalam hutan itu dan beramai ramai pasukan Kin yang sudah lelah ini masuk ke dalam kuil. Mereka memeriksa dengan teliti, akan tetapi melihat sarang laba laba yang memenuhi lantai, mereka dapat menduga bahwa kuil ini sudah lama dikosongkan orang. Seorang di antara mereka sambil tertawa tawa mendorong roboh sebuah patung Buddha yang gemuk sehingga patung itu berguling dan pecah bagian kepalanya.

“Jangan main main di tempat ini!” tegur seorang kawannya. “Jangan jangan roh yang menjadi penghuni patung itu akan marah.”

Kawannya tertawa dan menghina, lalu menghampiri patung batu berbentuk singa yang amat besar, ia mendorong singa singaan batu itu sekuat tenaga, akan tetapi jangankan terguling, bergerakpun tidak! Kawan kawannya mentertawainya sehingga orang itu nenjadi marah dan menantang.

“Coba kalian mendorongnya. Kalau ada yang kuat mendorong roboh singa batu ini, biar kuberikan gajiku sepekan kepadanya!” Kawan kawannya tentu saja segera maju dan bergiliran mendorong singa batu itu, akan tetapi tetap saja tidak bergoyang sedikitpun juga! Mereka bahkan mulai beramai ramai mendorongnya, akan tetapi biarpun sepuluh orang mendorong berbareng, singa batu itu tidak bergerak sedikitpun.

Suara mereka menarik perhatian para komandan pasukan yang beristirahat di bagian lain. Tiga orang di antara para perwira Kin ini datang menghampiri mereka.

“Ada apa ribut ribut ini?” tanya seorang perwira yang bertubuh tinggi besar dan bercambang bauk. Dia bernama Liang Kui dan berjaluk San mo (Setan Gunung), tenaganya amat besar dau di dalam pertempuran ia amat terkenal kegagahannya, sedangkan senjatanya, sepasang golok besar yang amat ditakuti orang.

“Liang ciangkun (perwira Liang), singa batu ini luar biasa beratnya dan karena menghalangi pintu, kami mencoba mendorongnya. Akan tetapi sepuluh orang masih belum kuat menggoyangnya!” kata seorang perajurit.

Liang Kui yang berasal dari sebuah dusun di sebelah utara kota Peking, tertawa bergelak. Dengan ujung kakinya ia menggoyang singa batu itu, kemudian berkata, “Apa sih beratnya benda macam ini?” Setelah berkata demikian, Liang Kui lalu membungkuk, memegang singa batu itu dengan kedua tangan dan sekali ia mengerahkan tenaga, singa batu itu telah diangkatnya di atas kepala!

Tentu saja semua perajurit menjadi kagum sekali dan sorak sorai serta tepuk tangan riuh memenuhi kuil itu, bahkan bergema sampai di tempat jauh dalam hutan itu. Liang Kui menaruhkan singa batu itu di tempat lain dan ternyata ia bernapas biasa saja, hanya muka nya yang menjadi agak merah tanda bahwa ia hanya mengeluarkan tenaga setengah bagian saja!

Liang Kui dan dua orang kawannya melangkah masuk ke dalam kamar yang pintunya terjaga oleh singa batu tadi. Baru saja mereka melangkah, tiba tiba Liang Kui berseru keras, “Awas...!”

Terdengar suara berkeretak dan ternyata bahwa tiang besar yang menyangga atap telah patah! Berbahaya sekali keadaan mereka dan beberapa orang perajurit yang berada disitu menjadi panik karena kalau atap itu runtuh, maka balok balok besar akan menimpa mereka dari atas!

“Tenang!” tiba tiba seorang kawan Liang Kui yang bertubuh gemuk pendek berseru dan melompat maju. Cepat bagaikan ular menyambar tidak sesuai dengan gemuknya, kedua tangannya menangkap tiang yang patah tadi dan lalu mengganjal tiang itu dengan pundaknya! Ternyata bahwa tiang tadi memang sudah retak dan agaknya singa batu yang diangkat oleh Liang Kui tadi memang sengaja ditaruh di dekat pintu untuk menahan tiang yang sudah retak. Setelah singa batu dipindahkan tiang itu tidak kuat lagi dan patah.

Harus dipuji ketangkasan dan kekuatan luar biasa dari si gemuk pendek itu. Baru saja masuk pintu dan melihat tiang patah, itu dapat melompat cepat keluar dan menahan tiang itu dengan pundaknya dan nampaknya ringan saja. Kembali terdengar sorak sorai pujian para perajurit yang mengagumi ilmu kepandaian dari perwira ini. Perwira gemuk pendek ini bernama Kwa Sun Ok, bekas perwira dari kerajaan lama yang telah kalah oleh bala tentara Kin dan kini menjadi perwira pemerintah baru. Kwa Sun Ok adalah seorang ahli silat keturunan Go bi pai, dan selain memiliki ilmu silat toya yang amat kuat, ia pun terkenal sebagai seorang ahli lweekeh yang memiliki tenaga luar biasa.

“Hayo ambil balok balok penahan atap jangan bertepuk tangan saja!” si gemuk pendek itu menegur. “Apa kau kira selama hidup aku harus menjadi pengganti tiang di kuil ini?”

Barulah para perajurit itu tergopoh gopoh mencari balok balok yang terdapat di luar kuil bahkan ada beberapa orang yang sengaja menebang pohon untuk dipergunakan sebagai penahan atap. Setelah tiang itu dibantu oleh beberapa batang balok besar, barulah Kwa Sun Ok terlepas dari tugasnya yang tidak ringan itu.

Memang di dalam pasukan Kin banyak terdapat orang orang pandai, tidak saja dari suku suku bangsa di daerah utara, bahkan banyak sekali orang orang Kang ouw. Bangsa Han yang tempat tinggalnya sudah diduduki, lalu berbalik menjadi kaki tangan mereka. Tentu saja mereka ini adalah orang orang yang beriman lemah dan tidak tahan menghadapi bujukan manis dan matanya silau melihat mengkilapnya emas dan perak.

Setelah beristirahat, pasukan Kin ini lalu meninggalkan hutan untuk kembali ke kota Kaifeng dengan tangan hampa. Baru saja mereka keluar dari hutan, seorang demi seorang berkelebatlah bayangan tujuh orang melompat turun dari tempat persembunyian mereka, yakni di atas pohon pohon besar. Oleh kareua itulah maka anjing anjing pemburu tidak dapat mencium bau manusia dan pasukan Kin tidak melihat mereka.

Orang yang bersembunyi di atas pohon terdekat dengan kuil itu, adalah seorang wanita muda yang cantik dan yang menggendong seorang anak laki laki berusia tiga tahun lebih. Anak ini diikat erat erat di punggungnya dan mulut anak inipun diikat dengan sehelai saputangan! Selain wanita muda ini, terdapat pula seorang kakek yang memakai topi petani yang sederhana. Dengan gerakan amat ringan, wania muda ini melompat turun dari atas pohon dan berlari masuk ke dalam kuil. Juga kakek itu dengan gerakan lebih gesit dan ringan lagi, melompat turun dan menyusul wanita tadi.

Kemudian berturut turut datanglah lima orang kawan mereka yang kesemuanya laki laki setengah tua dan berkepandaian silat tinggi, terbukti dari cara mereka melompat turun dari tempat persembunyian masing masing. Dengan diam diam mereka masuk ke dalam kuil dan memandang ke arah singa batu yang sudah pindah tempat dan atap yang kini tersangga oleh balok balok itu.

“Banyak terdapat orang lihai diantara mereka!” kata kakek petani itu sambil menarik napas panjang. “Kecil sekali harapannya untuk dapat menolong mantuku.”

Wanita muda yang menggendong anak itu makin muram wajahnya dan terdengar ia menahan isak. Lima orang laki laki yang berkumpul di situ memandang dengan terharu.

“Betapapun juga, Ceng ji (anak Ceng), kau harus dapat menghibur hatimu dengan perasaan bangga bahwa suamimu adalah seorang pahlawan sejati yang takkan pernah lenyap namanya selama dunia berkembang. Tidak kecewa kau menjadi isterinya dan tidak malu pula Ciang Le menjadi puteranya. Akupun bangga bisa menjadi mertuanya. Pula, belum tentu kita takkan dapat menolongnya. Biarpun sukar, selalu masih ada harapan. Besok kalau hukuman itu dijalankan, kita menyerbu dari empat jurusan, mengacaukan pertahanan dan aku sendiri yang akan menolong mantuku.”

“Tidak, ayah, menolong dia adalah kewajiban dan bagianku. Ayah dan kawan kawan menahan serangan penjaga dan biarkan aku yang pergi menolongnya. Untuk keperluan itu. lebih baik besok kita tinggalkan Le ji (anak Le) di kamar ini lebih dulu agar ia tidak terancam bahaya. Andaikan kita gagal dan tewas…” nyonya muda itu menahan napas dan menggigit bibirnya, “tentu ada seorang di antara kita yang dapat lolos dan aku mengharap dengan sangat kepada orang yang dapat lolos itu, sudilah kiranya ingat kepada anakku dan suka memeliharanya baik baik,” dengan air mata berlinang diantara bulu matanya, nyonya itu memandang sayu kepada lima orang yang berdiri di hadapannya. Lima orang setengah tua yang bersikap gagah itu semua tak dapat menahan pandang mata ini dan memalingkan atau menundukkan muka.

“Jangan khawatir, toanio. Kita adalah orang orang sendiri dan siapakah yang tidak bersedia menolong putera dari Go siucai, seorang hohan (pahlawan) yang gagah perkasa? Tak perlu kita berputus asa, belum tentu kita akan gagal,” kata seorang diantara mereka.

Dari percakapan di atas tentu dapat diduga siapa adanya tujuh orang dan seorang anak laki laki itu. Kakek petani itu adalah mertua dari Go Sik An yang bernama Tan Seng, seorang tokoh Hoa san pai. Ilmu silatnya tinggi dan ia terkenal sebagai seorang berhati mulia dan berjiwa pendekar. Setelah tua, ia hidup sebagai seorang petani di luar kota Kaifeng, tidak suka menjadi beban mantunya yang kaya. la merasa bebas dan senang hidup seorang diri, karena isterinya sudah meninggal dunia dan melakukan pekerjaan tani. Hanya kadang kadang saja ia mengunjungi puterinya yang menjadi isteri Go Sik An.

Wanita muda itu adalah Tan Ceng atau nyonya Go, yang mewarisi ilmu silat Hoa san pai dari ayahnya, sedangkan anak yang digendongnya adalah Go Ciang Le, putera tunggal dari Go Sik An. Lima orang itu adalah kawan kawan mereka, kawan kawan seperjuangan yang bersama sama dengan amat gigihnya melakukan perlawanan terhadap bala tentara Kin. Mereka ini juga pendekar pendekar kang ouw yang budiman dan berjiwa patriot dan juga mereka adalah murid murid terkenal dari cabang persilatan Hoa san pai, masih terhitung murid murid keponakan dari Tan Seng.

“Liang Ti, kau dan sute sutemu pergilah melakukan penyelidikan di benteng. Mereka tidak mengenal kalian akan tetapi berlakulah hati hati agar jangan sampai menimbulkan kecurigaan dari fihak penjaga. Kami menanti di sini.” kata Tan Seng kepada seorang diantara mereka.

“Baik, susiok (paman guru).” jawab Liang Ti yang paling tua di antara lima tokoh Hoa san ini. Kemudian mereka keluar dari kuil untuk melakukan tugas menyelidiki keadaan. Go Sik An yang ditahan di dalam penjara yang gentengnya nampak dari luar tembok benteng.

Sepeninggal mereka ini, Tan Seng dan puterinya duduk di dalam kuil dengan hati gelisah dan wajah muram. Betapa mereka tidak bersedih dan gelisah kalau mengingat bahwa Go Sik An akan dijatuhi hukuman gantung di luar tembok benteng pada hari esok. Beberapa kali terdengar Tan Ceng menahan isak, disusul oleh kata kata hiburan dari ayahnya, dengan suaranya yang besar dan parau. Kadang kadang terdengar tangis anak anak, yakni tangis Ciang Le yang disusul oleh suara hiburan ibunya.

Akan tetapi kedua orang ini sama sekali tidak pernah menyangka bahwa pembesar pembesar militer Kin berlaku amat curang dan licik. Setelah mereka menanti sampai malam tiba, terdengarlah suara kaki orang dari luar dan Liang Ti masuk ke dalam kuil napasnya memburu dan wajahnya pucat sekali.

“Suheng, apa yang terjadi?” tanya Tan Ceng dengan penuh kekhawatiran sambil mendekap anaknya. Liang Ti tidak dapat menjawab, bahkan lalu menggeleng geleng kepala dan menjatuhkan diri duduk di atas lantai denpan mata basah.

“Liang Ti, tenanglah dan ceritakan apa yang telah terjadi? Di mana adanya kawan kawanmu?” tanya Tan Seng ang lebih tenang biarpun hatinya juga diliputi kekhawatiran besar.

“Ce… celaka, susiok… Go siucai (orang terpelajar Go) telah… telah... dibunuh...!” Biarpun Liang Ji seorang ahli silat gagah perkasa, pada saat itu ia bicara dengan gagap karena sedih dan bingungnya.

Terdengar Tan Ceng menjerit sambil mendekap kepala anaknya, lalu nyonya muda ini menangis tersedu sedu, berbisik bisik memanggil nama suaminya. Tan Seng berdiri mengepal tinju, sepasang matanya memancarkan cahaya merah, seluruh urat tubuhnya menegang.

“Ceritakan apa yang kaulihat,” perintahnya kepada Liang Ti.

“Ketika teecu (murid) berlima melakukan penyelidikan, tidak nampak sesuatu yang aneh, juga tidak terdengar berita lain. Keadaan biasa saja, hanya kota menjadi makin sunyi seakan akan semua orang menyatakan ikut berduka dengan nasib Go siucai. Berita yang tersiar Setap menyatakan bahwa besok pagi pagi baru akan dilakukan hukuman itu. Akan tetapi ketika teecu pergi ke belakang tembok benteng di mana genteng penjara kelihatan, teecu melihat…. Go siucai telah digantung. Jahanam jahanam terkutuk benar mereka itu !”

Kembali Tan Ceng menjerit perlahan, disusul oleh helahan napas panjang Tan Seng.

“Kuatkan hatimu, Ceng ji. Suamimu telah tewas sebagai seorang pahlawan besar“

“Ayah... aku harus merampas jenazahnya agar dapat dikubur baik baik.” Nyonya muda itu akhirnya dapat berkata sambil mendekap kepala anaknya yang sudah tidur.

“Tentu saja, Ceng Ji. Dan hal itu lebih baik dilakukan malam ini juga agar besok pagi jenazah suamimu tidak dijadikan tontonan orang. Liang Ti, dimana kawan kawanmu?”

“Mereka masih teecu suruh mengintai di dekat tempat itu, susiok. Teecu merasa curiga kalau kalau perbuatan mereka itu sengaja untuk menjebak kita.”

Tan Seng mengangguk angguk, “Memang, kita harus berlaku hati hati, Ceng ji. Mari kita berangkat sekarang juga. Tidurkan anakmu di dalam kamar singa (kamar di mana terdapat singa batu di depannya), akan tetapi kau harus cancang dia, takut kalau kalau dia akan pergi keluar.”

Tan Ceng lalu membawa puterunya ke dalam kamar kuil dan tak lama kemudian nyonya muda ini sudah keluar. Kini ia mengenakan pakaian ringkas dan gagang pedangnya nampak tersembul di belakang pundaknya. Wajahnya agak pucat, akan tetapi tidak mengurangi kecantikannya dan nampak amat gagah. Hati Tan Seng serasa luluh ketika ia melihat puterinya dengan terharu. Baru lima tahun puterinya berumah tangga dan sekarang sudah ditinggalkan suami dalam keadaan yang demikian menyedihkan.

Berangkatlah mereka bertiga, Tan Seng, Tan Ceng dan Liang Ti menuju ke kota Kaifeng. Malam itu bulan sepotong bersinar terang karena langit amat bersih. Beberapa buah bintang yang letaknya tidak terlalu dekat dengan bulan bermain mata dengan bintang bintang lain.

Malam itu memang menyeramkan. Tidak saja karena cahaya bulan yang redup itu mendatangkan bayang bayang yang aneh dan ganjil Juga kesunyian yang memekik itu mendatangkan perasaan serem, seakan akan kesunyian itu membisikkan sesuatu tentang maut. Semua orang di kota Kaifeng, telah menutup pintu jendela, dan telah meniup padam api penerangan di dalam rumah. Di jalan jalan tidak kelihatan seorangpun penduduk, kecuali beberapa orang tentara roboh yang bernyanyi nyanyi tidak karuan tentang perempuan molek dengan kata kata yang kotor dan tidak sopan. Setelah beberapa orang pemabok itu lenyap di balik tembok benteng, kembali keadaan kota sunyi sepi.

Akan tetapi, jauh dari luar kota, terdengar sayup sampai suara nyanyian yang dinyanyikan oleh suara laki laki yang besar dan parau. Nyanyian ini terdengar dari dalam hutan dan siapa yang mendengarnya tentu akan menjadi makin serem ! Diantara suara yang parau ini terdengar isak seperti orang menangis, akan tetapi harus diakui bahwa nyanyian itu dinyanyikan dengan semangat yang gagah. Apa lagi kalau orang melihat penyanyinya, seorang kakek tua berpakaian petani yang berjalan keluar dari hutan bersama seorang setengah tua dan seorang nyonya muda yang menangis perlahan lahan di sepanjang jalan.

Kaifeng, kotaku kampung halamanku
Betapa buruk nasibmu
Srigala buas masuk menyerbu
Mencemarkan bumi dan airmu,
Ah, Kaifeng! Aku rela berjuang sampai tewas
Untuk membelamu dari cengkeraman srigala buas
Kaifeng, tanah tumpah darah, sumber hidupku
Nyawa masih terlalu kecil untuk balas jasamu!


Syair ini adalah karangan dari Go Sik An yang tersebar luas di kalangan pejuang. Go Sik An banyak membuat syair syair perjuangan yang amat disuka dan sekarang dengan suara lantang. Tan Seng, mertuanya sendiri berjalan sambil menyanyikan lagu kegemarannya ini. Orang orang penduduk kota Kaifeng yang sudah bersembunyi di dalam kamar masing masing, ketika mendengar nyanyian ini, mau tiduk mau menitikkan air mata. Mereka merasa terharu dan sedih, akan tetapi sekali lagi, apakah daya mereka?

Setelah tiba di dekat benteng, Tan Seng dan puteri serta murid keponakannya, berjalan dengan hati hati dan tidak mengeluarkan suara. Mereka bertiga mempergunakan ginkang dan berlari seperti terbang cepatnya tanpa mengeluarkan sedikitpun suara berisik.

Setelah melalui beberapa tempat penjagaan tanpa diketahui oleh penjaga penjaga, sampailah mereka di luar tembok benteng di mana kelihatan genteng dari bangunan rumah penjara. Dan jauh mereka telah disambut oleh empat orang kawan yang bertugas mengintai di situ.

“Teecu merasa curiga, susiok,” kata seorang diantara mereka, “tempat ini terlampau sunyi. Biarpun teecu tidak mendengar gerakan orang dan tidak melihat bayangan, akan tetapi teecu merasa yakin bahwa di tempat tempat tersembunyi pasti ada musuh musuh berjaga.”

Tan Seng mengangguk angguk dan dengan berindap indap mereka lalu menuju ke tempat di mana menurut lima orang tadi tergantung tubuh Go Sik An. Hati Tan Ceng berdebar debar dan bibirnya gemetar, kedua kakinya lemas. Ketika mereka tiba di dekat tembok benteng, tiba tiba Tan Ceng menahan jerit isaknya.

“Ayah…!” keluhnya sambil menudingkan telunjuk tangan kirinya ke arah tembok benteng. Kemudian nyonya ini hendak melompat dan lari menghampiri tubuh yang tergantung di dekat tembok itu, akan tetapi ayahnya cepat memegang lengannya.

“Sabar, Ceng ji. Kuatkan hatimu!” bisik Tan Seng dengan suara perlahan dan menggetar. Hatinya juga tertusuk sekali menyaksikan pemandangan yang amat menyedihkan. Tubuh Go Sik An nampak tergantung lehernya di tiang penggantungan yang dipasang di atas tembok. Tak salah lagi, Go Sik An ying digantung itu. Pakaiannya masih seperti ketika ia ditangkap, yakni baju berkembang dengan dasar warna kuning dan kembang kembangnya berwarna merah!

“Ayah, birkan aku mengambil jenazahnya. Tidak kuat hatiku melihat dia tergantung seperti itu!” Tan Ceng meronta ronta dalam pegangan ayahnya.

“Tentu saja, akan tetapi kita harus berhati hati” kata ayahnya. Kemudian tokoh Hoa san pai ini lalu berkata kepada Ling Ti. “Awas kalian berlima jagalah sambil berpencar, mengurung tiang gantungan itu sementara aku dan Ceng ji mencoba untuk menurunkan jenazah mantuku.”

Setelah bersiap sedia dan melihat keadaan tetap sunyi saja, melompatlah Tan Ceng dan ayahnya. Dengan dua kali lompatan saja mereka telah tiba di bawah tiang gantungan Tan Ceng tidak dapat menahan hatinya lagi. Melihat betapa suaminya telah tergantung di situ dalam keadaan tak bernyawa lagi, ia lalu mencabut pedangnya dan sekali melompat saja ia telah dapat bergantung pada besi gantungan di atas. Ia bergantung di situ dengan tangan kirinya dan sebelum ia mengayun pedangnya untuk memutuskan tali yang menjirat suaminya, tiba tiba banyak sinar hitam menyambar ke arahnya.

“Ceng ji, awas! Lompat turun!” ayahnya berseru kaget. Akan tetapi Tan Ceng tidak mau turun. Ia tidak takut segala dalam keadaan seperti itu. Ia mencoba untuk mengayun pedangnya, di sekeliling tubuhnya dan berusaha menangkis semua senjata rahasia yang menyambar ke arahnya. Terdengar bunyi nyaring berkali kali dan banyak senjata rahasia piauw, anak panah, pelor besi dan jarum terpental oleh tangkisan pedangnya. Akan tetapi senjata rahasia yang menyambar ke arahnya, ternyata banyak sekali dan rata rata disambitkan oleh tangan yang ahli. Tiba tiba nyonya muda itu mengeluh dan tangan kirinya yang bergantung kepada besi gantungan itu terlepas.

Nyonya ini merasa tangannya sakit sekali karena sebatang piauw hitam telah menanep di dekat nadi tangannya. Akan tetapi ia masih dapat dengan cepat sekali menyambit tubuh suaminya dan tangan kirinya itu kini memeluk pinggang mayat suaminya. “Suamiku...!” keluhnya dengan ratap tangis ketika ia merasa betapa tubuh itu dingin, dan kaku.

“Ceng ji...!” terdengar ayahnya berseru keras. Tan Seng yang melihat anaknya terluka, menjadi marah sekali. Pada saat itu, dari balik tembok dan diri belakang pohon berlompatan keluar belasan bayangan orang yang memegang senjata.

“Bagus, kalian datang mengantar nyawa seperti kelinci kelinci masuk perangkap. Ha ha ha !” terdengar suara ketawa seorang tinggi besar yang segera menyerbu ke arah Tan Seng dan dengan sepasang goloknya yang besar, orang tinggi besar ini menyerang kakek itu.

“San mo Liong Kui, pengkhianat keji!” Tan Seng berseru keras dan ketika lengan bajunya yang panjang bergerak, angin besar menyambar ke arah Liong Kui Si Setan Gunung. Inilah pukulan yang lihai dari ilmu silat tangan kosong Hoa san pai yang disebut Ngo heng cio hwat. Baru angin pukulannya saja sudah cukup untuk merobohkan seorang lawan.

San mo Liong Kui bukanlah seorang lemah. Ilmu silatnya sudah termasuk tingkat tinggi. Akan tetapi menghadapi Ilmu Pukulan Ngo heng cio hwat yang lihai ini ia menjadi gentar juga. Angin pukulan itu telah membuat ia merasa dadanya tergetar, maka ia lalu mundur kembali untuk menanti kawan kawannya dan hendak maju bersama.

Pada saat itu, Tan Ceng telah dapat menggerakkan tangan kanannya ke atas dan meraih tali penggantung setelah menggigit pedangnya. Kemudian, kembali tangan kirinya yang terluka itu telah memegang besi gantungan dan secepat kilat pedangnya di gerakkan oleh tangan kanannya ke arah tali penjirat leher suaminya.

Akan tetapi pada saat itu, beberapa orang pengawal yang berkepandaian tinggi menyerbunya dan baru saja tubuhnya bersama mayat suaminya jatuh ke bawah, tiga batang golok menyambar ke arahnya dengan gerakan yang amat berbahaya, Tan Seng melihat puterinya terancam bahaya, hendak menolong, akan tetapi Liong Kui yang kini telah dibantu oleh Kwa Sun Ok dan dan lain perwira perwira kosen telah maju mengurungnya dengan hebat. Sementara itu, murid murid keponakan dari Tan Seng, yakni Liang Ti dan empat orang adik seperguruannya, begitu melihat munculnya para perwira musuh, segera maju menyerbu. Tiga orang membantu paman guru mereka adapun Liang Ti dan seorang adiknya membantu Tan Ceng yang berada dalam keadaan berbahaya sekali.

Akan tetapi kedatangan Liang Ti dan kawan kawannya terlambat. Ketika tadi nyonya muda itu bersama mayat suaminya jatuh ke bawah, tiga batang golok yang menyambar ke arahnya itu masih dapat ditangkis oleh pedangnya. Namun bagaimana nyonya muda ini dapat bergerak dengan lincah setelah ia jatuh bersama suaminya dan dalam keadaan hati remuk, dan pikiran bingung melihat keadaan suaminya? Kembali golok golok musuh menyerang dengan ilmu silat yang tidak rendah Tan Ceng masih berusaha untuk mengelak dan menangkis akan tetapi kembali sebatang piauw menyerangnya dari belakang dan menancap pada punggungnya tanpa dapat dicegah lagi. Ia menjerit dan roboh, dihujani serangan tiga golok tajam. Tentu tubuhnya akan menjadi hancur kalau saja pada saat itu Liang Ti dan adiknya tidak keburu datang dan menyerang tiga orang itu.

Pertempuran berjalan seru sekali. Tan Ceng tak dapat bangun lagi. Punggungnya terluka oleh piauw beracun, demikian pula tangan kirinya dan di dalam serangan tadi, ia telah mendapat bacokan pula pada lambungnya. Dengan mandi darah dan keadaan payah, nyonya muda ini merangkak rangkak ke arah mayat suaminya yang jatuh beberapa kaki dari tempat dia rebah.

“Suamiku… tunggulah Ceng Ceng…” bisiknya setelah ia dapat meraba kepala suaminya. Matanya menjadi gelap dan ia merebahkan pipinya di atas mayat suaminya yang telentang. Kemudian ia menjadi pingsan di atas dada mayat suaminya!

Tan Seng yang diam diam memperhatikan keadaan puterinya, menjadi sedih dan marah sekali melihat keadaan Tan Ceng. Disangkanya bahwa anaknya itu tentu telah tewas, maka matanya menjadi gelap. “Keparat keji kalian ini! Aku Tan Seng akan mengadu nyawa dengan kalian!”

Setelah berkata demikian, kakek yang sakti ini lalu mengamuk. Kedua ujung lengan bajanya merupakan senjata yang amat ampuh dan lihai ! Dalam beberapa belas gebrakan saja robohlah dua orang perwira dengan kepala pecah dan otak berhamburan terkena sambaran ujung lengan baju. Akan tetapi tetap saja ia tidak dapat maju menghampiri puterinya oleh karena Liong Kui dan Kwa Sun Ok dibantu oleh banyak perwira lagi, masih mengurungnya rapat rapat dan tidak memberi kesempatan kepada kakek lihai ini untuk keluar dari kepungan.

Adapun Liang Ti dan empat orang saudaranya yang bertempur melawan keroyokan lain perwira, juga memperlihatkan kepandaian mereka. Namun fihak perwira makin lama makin banyak jumlahnya sehingga kini selaruh pengeroyok yang berada di tempat itu lebih dari dua puluh orang! Dan diantara para pengengeroyok itu tidak semua berpakaian seperti perwira. Enam orang di antara mereka adalah orang orang berpakaian biasa, bahkan di antaranya terdapat searang wanita yang bertubuh tegap dan besar, bermuka cukup manis dan mainkan sebatang golok besar pula. Wanita ini memiliki ilmu golok yang lihai sekali.

Siapakah mereka ini? Bukan lain mereka adalah orang orang kang ouw yang termasuk golongan penjilat. Begitu melihat bala tentara Kin mendapat kemenangan, mereka ini buru buru datang menyatakan kesanggupan mereka untuk membantu pemerintah baru.

Wanita itu adalah seorang wanita sakti yang telah lama terkenal sebagai seorang tokoh hek to (jalan hitam) dan karena ia merasa bahwa dirinya dimusuhi oleh banyak orang gagah, maka ia lalu mencari tempat perlindungan yang kuat pada benteng pasukan Kin. Tentu saja orang orang seperti ini diterima baik oleh komandan pasukan pasukan Kin, karena mereka maklum bahwa mereka menghadapi perlawanan rakyat yang dipimpin oleh banyak ahli ahli silat yang lihai.

Melihat betapa fihaknya terancam bahaya, Tan Seng menjadi khawatir juga. Kalau sampai semua orang tewas dalam keroyokan itu, bukankah itu kerarti pengorbanan sia sia belaka? Lebih baik menyelamatkan mayat mantunya dan tubuh puterinya yang terluka atau tewas itu, lalu mengajak murid murid keponakannya melarikan diri!

Pikiran seperti ini ternyata juga timbul dalam otak Liang Ti. Ia berseru kepada empat orang saudaranya, “Kalian membantu sosiok membawa pergi sumoi dan mayat suaminya. Biar aku menahan anjing anjing busuk ini!”

Setelah berkata demikian, Liang Ti lalu memutar pedangya dan mainkan Hoa san kiam hwat yang paling lihai. Pedang itu merupakan sinar putih bergulung gulung melagukan serangan serangan nekat ke arah para pengeroyokannya dan kenekatannya ini ternyata berhasil ketika seorang pengeroyok menggelundung dengan leher hampir putus!

Marahlah Coa Kim Kiok, wanita tegap itu melihat orang yang terbunuh oleh pedang di tangan Liang Ti, karena orang itu adalah seorang kekasihnya. Ia mengangkat goloknya dan menyerang sambil memaki maki, dibantu pula oleh empat orang kawannya. Akan tetapi Liang Ti tidak menjadi jerih, bahkan mengamuk hebat sekali berkali kali menyuruh saudara saudaranya cepat membantu sosiok mereka menolong Tan Ceng dan mayat suaminya.

Tan Seng mengerti akan maksud Liang Ti dan diam diam ia menjadi amat terharu. Murid keponakannya itu ternyata hendak mengorbankan dirinya untuk memberi kesempatan kepada yang lain lain, agar supaya dapat melarikan diri dan menolong Tan Ceng. Iapun lalu berseru keras dan tubuhnya berkelebat cepat kearah Go Sik An. Beberapa orang perwira mengejarnya, akan tetapi empat orang murid keponakannya cepat menghadang mereka dan sebentar saja empat orang ini di kurung hebat. Dua orang adik seperguruan dari Liang Ti tak dapat menahan serangan fihak lawan yang banyak ini dan robohlah mereka ini.

Tan Seng, makin bingung dan pada saat itu Tan Ceng siuman dari pingsannya. Wanita ini dengan amat lemah menggerakkan kepalanya, lalu membuka matanya. Melihat betapa ayahnya dikeroyok hebat dan dua orang suhengnya tewas, timbul tenaga dan semangat baru dalam dirinya. Serentak ia melompat berdiri dan dengan pedang ditangan ia menerjang maju pula. Bukan main hebatnya nyonya muda ini. Mukanya telah menjadi kehitaman karena pengaruh racun yang telah menjalar di dalam tubuhnya dan luka di lambungnya mengeluarkan banyak darah. Akan tetapi rasa sakit hati melihat suaminya dan khawatir melihat ayahnya dan suheng suhengnya, telah mendatangkan kekuatan baru yang ajaib. Tenaganya menjadi berlipat ganda dan gerakannya cepat dan kuat. Ia menyerang dengan nekat, dan sebentar saja merobohkan tiga orang musuh!

Melihat sepak terjang nyonya muda ini, para pengeroyok menjadi jerih juga. Akan tetapi, akhirnya pengaruh racun dan kekurangan darah membuat Tan Ceng roboh lagi tanpa tersentuh senjata lawan. Ia roboh sambil berseru nyaring kepada ayahnya yang masih melayani keroyokan lawan.

“Ayah... aku minta agar supaya Le ji (anak Le) selamanya mengenakan hwa i (baju kembang) ayahnya agar rohku dapat mengenalnya di mana mana!” Setelah berkata demikian, nyonya ini lalu merangkak kedekat suaminya yang memakai baju kembang dan… menghembuskan napas terakhir di atas dada mayat suaminya.

Tan Seng tentu saja tidak tahu bahwa puterinya telah tewas, akan tetapi kata kata ini membuat ia menahan sedu sedan yang naik ke lehernya. Ia tahu bahwa mantunya semenjak masa kanak kanaknya paling suka mengenakan baju kembang, bahkan setelah menikah selalu memakai baju berkembang. Agaknya karena pikiran Tan Ceng penuh dengan bayangan suaminya dan penuh kesedihan, maka ia berkata demikian, pikir kakek ini, sama sekali tidak mengira bahwa puterinya itu telah mati dan bahwa kata kata tadi merupakan pesan terakhir!

Kembali dua orang murid keponakannya roboh binasa. Tan Seng cepat mendekati Liang Ti yang masih mengamuk bagai seekor naga terluka. Orang inipun telah menderita banyak luka sehingga bajunya telah penuh darah, tangan kirinya hampir putus di bagian siku, akan tetapi dengan penuh kegeraman, Leng Ti masih mengamuk terus dan pedangnya menyambar nyambar hebat, masih banyak merobohkan pengeroyok!

Tan Seng yang melihat hal ini, mengambil keputusan nekad untuk bertempur sampai akhir. Biarlah kita mati semua asalkan dapat membunuh sebanyak banyaknya, demikian pikir kakek yang gagah ini. Akan tetapi tiba tiba Liang Ti berseru, “Susiok, semua sudah tewas, tinggal kita berdua. Larilah kau, biar teecu menahan tikus tikus ini.”

“Enak saja kau bicara. Liang Ti! Kau kira aku takut menghadapi maut?” kata Tan Seng sambil memutar ujung lengan bajunya. Juga dia sekarang dapat melihat bahwa Tan Ceng sudah meninggal, hal itu mudah dilihat dari wajah anaknya itu yang menjadi kebiruan dan matanya yang setengah terbuka tanpa bergerak.

“Bukan begitu, susiok. Kau harus hidup untuk merawat cucumu dan juga... jangan lupakan anak isteriku!” Baru saja mulutnya tertutup, tiba tiba Liang Ti mengeluh ngeri dan tubuhnya terkulai. Dadanya terpanggang oleh pedang musuh yang tak kenal ampun.

Tan Seng merasa hatinya hancur luluh, ia kagum dan terharu melihat betapa Liang Ti telah mengorbankan diri sedangkan di rumahnya masih ada anak isterinya! Ah, Liang Ti hanya seorang diantara sekian banyak pahlawan pahlawan bangsa. Kini semua pengeroyok mengepung Tan Seng sambil bersorak sorak karena hanya tinggal kakek ini seorang yang belum roboh. Tan Seng hendak berlaku nekad, akan tetapi kata kata Liang Ti berdengung di dalam telinganya. Aku harus hidup, pikirnya. Aku harus hidup demi kebaikan cucuku dan juga demi keluarga Liang Ti! Aku harus dapat melarikan diri!

Tiba tiba para pengeroyok menjadi kacau balau. Entah apa sebabnya, mereka jatuh bangun dan dibagian luar kepungan, banyak perwira roboh sambil memekik kesakitan. Tan Seng melihat sinar keemasan berkelebat ke sana kemari tanpa terlihat orangnya dan hampir saja ia tidak percaya kepada pandangan matanya sendiri. Dia adalah seorang tokoh dari Hoa san pai telah memiliki kepandaian tinggi, bagaimana ia sampai tidak dapat melihat gerakan orang? Benar benarkah seorang manusia yang sedang mengamuk, dan membantunya itu? Belum pernah selama hidupnya ia melihat gerakan pedang yang dapat menjadi satu dengan bayangan orangnya sehingga orang itu sendiri terbungkus sama sekali oleh gundukan sinar pedang!

“Tan lo enghiong, tidak lekas lari mau tunggu kapan lagi?” terdengar suara yang nyaring dari dalam gundukan sinar pedang itu.

Barulah Tan Seng teringat. Ketika ia hendak mencari mayat mantunya dan mayat anaknya, ia menjadi terkejut melihat sinar pedang keemasan itu menyambar ke arah kedua mayat itu dan tiba tiba kedua mayat itu terangkat ke atas dengan cepatnya bagaikan terbang.

“Tan lo enghiong kalau hendak mencari jenazah orang orang gagah, harus pergi ke Guha Makam Pahlawan!” terdengar lagi orang aneh itu berkata.

Para pengeroyok telah berlari cerai berai setelah dihajar oleh sinar pedang keemasan itu, maka ketika Tan Seng melihat dua mayat itu lenyap dibawa lari oleh orang aneh itu, iapun segera menyambar mayat Liang Ti dan seorang murid keponakan lagi. Lalu berlarilah kakek ini keluar dari tempat itu memasuki hutan. Malam itu juga ia mengubur mayat Liang Ti dan seorang adik seperguruannya. Kemudian kakek ini lalu kembali ke tempat pertempuran tadi. Ternyata bahwa mayat mayat fihak lawan telah diangkat masuk ke dalam benteng, akan tetapi mayat tiga orang murid keponakannya ditinggalkan di situ saja, bahkan telah rusak karena dihujani senjata tajam. Dengan hati penuh dendam dan haru, kakek ini lalu mengangkat semua mayat murid keponakannya, kemudian menguburnya menjadi satu di dalam hutan itu.

Kemudian, Tan Seng cepat berlari memasuki hutan menuju ke kuil di mana cucunya ditinggalkan. Hampir Tan Seng tak dapat menahan runtuhnya dua titik air matanya ketika ia teringat akan cucunya. Go Ciang Le. Anak itu telah menjadi seorang anak yatim piatu! Dan usianya baru juga tiga tahun lebih! Ia teringat akan pesan terakhir dari anaknya dan sedu sedan naik ke lehernya. Bagaimana pula pesan anaknya? Bahwa Ciang Le harus selamanya memakai Hwa I (baju berkembang), seperti ayahnya!

Dengan hati penuh keharuan, Tan Seng melompat ke dalam kuil dan terus menuju ke dalam kamar singa batu di mana Ciang Le ditidurkan oleh ibunya. Tidak terdengar suara sesuatu. Kasihan, anak itu masih tidur nyenyak, sama sekali tidak tahu nasib apakah yang telah menimpa diri ibunya, pikir kakek ini. Akan tetapi setelah ia memasuki kamar, terbelalak ia memandang ke sudut kamar di mana tadi anak kecil itu tidur. Tempat itu sekarang kosong dan tidak nampak bayangan cucunya!

“Ciang Le…!” tak terasa pula ia berseru keras memanggil. Apakah anak itu berhasil melepaskan ikat pinggangnya dan ke luar dari kamar? Kakek ini memeriksa di dalam kamar, akan tetapi tidak kelihatan ikat pinggang yang tadi diikatkan pada tiang. Ia lalu keluar dan mencari cari di seluruh kuil sambil berseru berulang ulang memanggil nama cucunya. Akan tetapi sia sia belaka, tidak ada jawaban, juga tidak ada tanda tanda ke mana cucunya pergi.

“Ciang Le…!” kini panggilan ini mengandung kekhawatiran besar dan terdengar menggetar. Kakek Tan Seng benar benar gelisah sekali. Apakah yang telah terjadi dengan Ciang Le?? Sambil berlari ke sana kemari dan memanggil manggil nama Ciang Le, kakek ini mencari di dalam hutan, membuka rumpun dan menjenguk ke dalam jurang. Sampai pagi hari bahkan sampai siang dan kembali senja mendatang, kakek ini masih saja mencari ke sana ke mari di dalam hutan itu seperti orang gila!

Akhirnya ia menjadi putus harapan dan menjatuhkan diri di bawah sebatang pohon, menyembunyikan mukanya di atas kedua lututnya. Ia merasa lelah sekali, lelah lahir batin, dan merasa bosan hidup di atas dunia ini. Puterinya telah tewas, mantunya mati tergantung, dan kini cucunya, harapan satu satunya sebagai penyambung keturunan, telah lenyap pula! Siapakah yang begitu jahat menculik Ciang Ley anak berumur tiga tahun itu?

Tiba tiba ia teringat akan orang aneh yang telah mencuri jenazah. Go Sik An dan Tan Ceng. Apakah orang aneh itu pula yang membawa pergi Ciang Le? Mungkin sekali. Harapannya timbul kembali dan ia teringat pula akan pengorbanan dan pesan terakhir dari Liang Ti, murid keponakannya. Ah, benar, ia masih mempunyai kewajiban, yakni memelihara anak dan isteri Liang Ti. Tergopoh gopoh kakek ini lalu meninggalkan hutan dan pergi menuju ke kampung Keng an bun, sebuah kampung kecil tak jauh dari Kaifeng.

Ketika Kaisar Chin Tsung dan ayahnya. Kaisar Hui Tsung, tertawan oleh pasukan Kin di Kaifeng, seorang pangeran berhasil melarikan diri di bawah perlindungan beberapa orang pembesar yang setia kepadanya. Pangeran ini adalah Kao Tsung yang berhasil lari ke Propinsi Honan dan kemudian mendirikan lagi kerajaan dengan ibu kota Sang ciu di Propingi Honan. Kemudian ia memindahkan pula ibu kota atau kota raja ke Hongkouw, Kerajaan Kaisar Kao Tsung ini disebut dinasti Sung selatan.

Bala tentara Kim masih saja melanjutkan serbuannya ke selatan, akan tetapi di mana mana mereka menjumpai perlawanan yang gigih dari rakyat jelata. Di seluruh daerah Propingi Hopei dan Sansi, rakyat membentuk kesatuan kesatuan sendiri untuk bangkit melawan bala tentara Kin, Pasukan pasukan rakyat ini bermarkas di lereng gunung atau di lembah sungai sungai, melakukan perang gerilya dan menyerang pasukan musuh di mana saja musuh berada.

Sebuah di antara pasukan pasukan rakyat ini, yang paling terkenal adalah Pasukan Surban Merah yang gagah perkasa. Pernah pasukan Surban Merah ini menyergap markas besar musuh dan membasmi seluruh penghuni markas besar itu. Kemenangan yang dicapai oleh Pasukan Surban Merah yang gagah berani ini tidak sedikit menambah semangat perlawanan dari rakyat jelata terhadap barisan musuh.

Patriot patriot yang paling gagah berani adalah mereka yang melakukan perlawanan di sebelah utara Sungai Huang ho (Sungai Kuning). Boleh dibilang hampir seluruh rakyat mengadakan perlawanan. Hal ini tidak aneh karena yang paling menderita akibat perampokan dan penghinaan bala tentara Kin, adalah orang orang utara, maka dendam dan sakit hati merekapun lebih besar dan mendalam.

Jenderal yang bertugas mempertahankan daerah Kaifeng adalah Jenderal Tsung Ce yang terkenal gagah dan ahli dalam siasat perang. Karena melihat bahwa para pasukan patriot di sebelah utara Sungai Kuning dapat diandalkan, Jenderal Tsung Ce lalu menyeberangi Huang ho dan mengadakan perundingan dengan patriot patriot rakyat itu dan mencari jalan bagaimana untuk dapat merampas kembali daerah yang diduduki oleh musuh.

Para patriot utara yang sudah mendengar nama Jenderal Tsung Ce, menyatakan kesanggupan mereka untuk membantu. Diantara para patriot ini, terdapat kakek Tan Seng yang terkenal gagah dan disegani oleh kawan kawannya. Kemudian Jenderal Tsung Ce menentukan siasat dan memerintahkan sebarisan patriot terdiri dari tujuh ribu orang dipimpin oleh seorang gagah bernama Ong Goan dibantu oleh kakek Tan Seng, untuk menyerbu barisan musuh yang puluhan ribu jumlahnya. Dengan amat gagah berani, pasukan tujuh ribu orang ini membobolkan barisan pertahanan bala tentara Kin dan dapat merebut dan menduduki Pegunungan Tai hang. Dan di Tai hang inilah dikumpulkan barisan barisan rakayat sampai mencapai jumlah ratusan ribu orang.

Demikianlah, di bawah pimpinan Jenderal Tsung Ce yang gagah perkasa dan pandai, barisan tertara Han dan barisan rakyat petani yang kuat itu bertubi tubi mengadakan serangan kepada musuh dan berhasil merebut kembali daerah yang amat luas, menyelamatkan jiwa banyak sekali rakyat dan merampas kembali harta benda dari tangan musuh.

Akan tetapi, sungguh merupakan catatan sejarah yang harus disesalkan. Semua usaha dan perjuangan rakyat ini sia sia belaka. Kaisar Kao Tsung yang seperti juga kakak kakaknya atau ayahnya berada di bawah pengaruh menteri menteri durna (menteri jahat), tidak menyetujui perjuangan rakyat ini, Kaisar Kao Tsung dan menteri menterinya terlalu takut kepada musuh dan terlalu memandang ringan kekuatan rakyat jelata sendiri. Bagi kaisar dan para pembesar, akan lebih amanlah apabila dapat mengadakan perundingan secara damai dengan fihak musuh yang terkenal amat kuat itu.

Sungguh tepat sekali ucapan seorang bijaksana di jaman dahulu yang menyatakan bahwa orang yang selalu hidup di dalam kemewahan bertabiat pengecut, berbeda dengan orang yang pernah mengalami pahit getir penghidupan. Kaisar Kao Tsung yang semenjak kecilnya hidup berenang di laut kemewahan, tidak pernah mengalami kesukaran, menjadi amat penakut dan ia merasa khawatir kalau kalau ia akan menderita di dalam hidupnya. Untuk keselamatan dirinya sendiri ia tidak memikirkan nasib rakyat jelata. Biar rakyat dirampok habis, biar rakyat dihina, dijadikan budak belian, dibunuh, asal dia sendiri tidak kehilangan jiwa, demikianlah jalan pikirannya!

Beberapa kali jenderal Tsung Ce yang sudah amat tua itu mendesak kepada kaisar untuk mengadakan ekspedisi ke utara, untuk mengusir penjajah mengandalkan bantuan rakyat di utara. Akan tetapi jangankan kaisar menyetujuinya, bahkan kaisar menjadi takut kalau kalau jenderal itu kelak di utara akan bersekutu dengan para patriot dan mengancam kedudukannya! Oleh karena itu, jenderal yang sudah berusia tujuh puluh tahun ini bahkan lalu dicurigai dan diawasi gerak geriknya dan dilarang melanjutkan gerakkannya mengadakan pambersihan ke sebelah utara Sungai Huang ho.

Atas sikap kaisar ini, Jenderal Tsung Ce yang amat setia kepada kaisar mendapat pukulan batin yang hebat sekali. Tubuhnya yang sudah tua itu tak dapat menahan datangnya pukulan ini sehingga ia jatuh sakit. Dan apakah yang dilakukan oleh pahlawan ini ketika ia menghadapi saat terakhir? Ia memanggil semua pemimpin patriot, termasuk kakek Tan Seng dan dengan suaranya yang sudah lemah akan tetapi tetap menggelora, berapi api bersemangat, ia memesan kepada mereka agar melanjutkan perjuangan dan membasmi musuh! Kemudian ketika ajalnya tiba, ia mengigau dan di dalam igauannya ini ia selalu menyebut nyebut tentang ekspedisi menyeberangi Sungai Kuning untuk membasmi bala tentara Kin, musuhnya dan musuh rakyatnya! Bukan main hebatnya semangat kepahlawanan jenderal ini, semangat yang patut dijadikan tauladan oleh semua orang yang bertanah air.

Kakek Tan Seng sampai menumpahkan air mata ketika ia menghadapi kematian jenderal besar itu. “Kaisar benar-benar tidak dapat melihat mana pahlawan mana pengkhianat!” Kakek ini berkata sambil mengepal tinju. Dengan hati marah kakek ini lalu meninggalkan pasukan dan kembali ke Hoa san menyusul Bi Lan, anak perempuan Liang Ti yang telah dibawanya ke atas puncak Hoa San.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, kakek ini mendatangi rumah Liang Ti dan menemui isteri dari murid keponakannya ini. Mendengar betapa suaminya telah tewas, nyonya Liang Ti menjadi amat berduka. Kemudian, ketika Tan Seng memberi nasihat agar supaya menyerahkan puterinya untuk dididik ilmu silat, ia menyatakan setuju. Demikianlah, puteri dari Liang Ti, puteri tunggal yang bernama Bi Lan, dibawa oleh Tan Seng ke puncak Hoa san. Adapun nyonya Liang Ti sendiri lalu kembali ke kampung orang tuanya di mana ia hidup menjanda sambil menanti kembalinya puterinya dengan penuh harapan.

Setelah kakek Tan Seng menyerahkan Bi Lan yang baru berusia dua tahun lebih itu kepada suheng suhengnya di kuil Thian seng si di puncak Gunung Hoa san, ia lalu turun gunung untuk menggabungkan diri dengan para patriot. Akan tetapi, perbuatan kaisar terhadap Jenderal Tsung Ce membuat harinya menjadi tawar dan dingin. Maka kembalilah dia ke Hoa san dan membantu suheng suhengnya untuk mendidik Bi Lan, puteri dari mendiang Liang Ti.

Sampai belasan tahun, rakyat masih mengadakan perlawanan gigih terhadap penyerbuan tentara Kin. Akan tetapi, karena kaisar tidak menyetujui kenekatan rakyat yang mempertahankan daerah masing masing, maka perlawanan rakyat itu kurang sempurna dan balatentara Kin yang banyak dibantu oleh orang orang pandai berjiwa pengkhianat, terus mau menyerbu ke selatan.

Dalam masa inilah munculnya pahlawan pahlawan termasuk pahlawan besar Gak Hui yang tercatat dengan tinta emas dalam buku sejarah Tiongkok. Agaknya kurang sempurnalah kalau dalam cerita ini kita tidak mengenang pahlawan bangsa yang besar ini dan mengikuti riwayatnya secara singkat sebelum melanjutkan inti cerita.

Gak Hui adalah seorang keturunan petani yang sederhana dari kota Tang yin di Propinsi Honan. Semenjak bala tentara Kin menyerbu ke selatan, ia telah aktip dalam perlawanan sehingga kemudian ia diakui sebagai seorang pemimpin yang cakap. Ia adalah seorang patriot sejati yang amat mencinta tanah airnya dan yang karenanya mempunyai kebencian hebat terhadap musuh. Semua perajuritnya terdiri dari pada petani petani utara yang patuh terhadap disiplin dan peraturan yang diadakan dengan keras oleh Gak Hui.

“Lebih baik mati kelaparan atau kedinginan dari pada mengambil milik rakyat jelata!” demikian bunyi sumpah mereka. Oleh karena ini barisan yang dipimpin oleh Gak Hui amat dihormat dan dicinta oleh rakyat. Di mana mana mereka berada, mereka membantu penduduk kampung dan karenanya disambut dengan hangat oleh rakyat, dan mendapat dukungan rakyat kecil. Pasukan manakah yang takkan menjadi kuat setelah mendapat simpati dan dukungan rakyat, sumber kekuatan masa itu?

Akhirnya Gak Hui dapat bergerak maju memukul pasukan musuh, dan tiba di lembah Kuning di mana ia lalu menggabungkan diri lengan patriot patriot dari Pegunungan Tai hang. Juga hubungan dengan patriot patriot lain, diantaranya di Hopei, diadakan sehingga kedudukan mereka makin kuat. Dengan kerja sama yang amat baik, mereka dapat melakukan pukulan lebih cepat terhadap musuh.

Alangkah baiknya persatuan antara tentara rakyat dan tentara pemerintah Sung Selatan yang mempunyai tujuan satu, yakni mengusir musuh dari tanah air. Demikianlah, dalam tahun 1140 fihak Kin mengalami pukulan besar dan hebat seperti yang belum pernah mereka rasakan. Pukulan ini dirasakan oleh seorang komandan tentara Kin yang amat terkenal dan yang bernama Bucu (Wuchu). Ia memimpin bala tentaranya ke selatan dan mula mula menerima pukulan dari pasukan Jenderal Liu Ti di Shuncang Propinsi Anhwi. Dalam pada itu, lain panglima Kerajaan Sung Selatan yakni Wu Lin, mehkukan gempuran hebat pula pada pasukan Kin di Kufeng di Propingi Shensi. Pada saat itulah Gak Hui bergerak dan menyerbu dari Siang yang di Propingi Hupeh. Dengan serangan berantai ini, bala tentara Bucu dapat dipukul hancur dan di cerai beraikan. Barisan yang dipimpin oleh Gak Hui terus mengejar musuh dan setelah terjadi pertempuran hebat sekali di Yen ceng (Propingi Honan) maka rusak binasalah bala tentara yang dipimpin oleh Bucu.

Kemenangan besar ini membangkitkan semangat para patriot. Mereka hendak mengejar terus untuk mengusir penjajah dari tanah air, akan tetapi pada saat kemenangan total berada di ambang pintu, Kaisar Kao Tsung memerintahkan penarikan mundur semua pasukan! Gak Hui, seperti lain lain patriot, adalah orang gagah yang setia, maka tentu saja tidak berani membantah perintah dan komando tertinggi ini. Ditarik mundurlah semua tentara sehingga Bucu dapat menarik napas lega karena terlepas dari pada kehancuran total.

Pada waktu itu yang memiliki kekuasaan besar di istana kaisar adalah Perdana Menteri Jin Kui. Perdana Menteri durna ini bersama kaisar merasa amat gelisah, karena mereka ini diam diam telah mengadakan kontak dengan Bucu, pemimpin bala tentara Kin itu. Pengaruh Gak Hui yang besar terhadap rakyat dan kemenangan kemenangannya membuat kaisar dan perdana menterinya ketakutan kalau Gak Hui akan menjadi makin kuat dan bersekutu dengan patriot patriot utara sehingga membahayakan kedudukan mereka sendiri. Maka mereka lalu memerintahkan penarikan mundur semua pasukan, bahkan memanggil Gak Hui dan lain lain jenderal dan panglima patriotik, menggantikan kedudukan mereka dengan orang orang sendiri!

Sementera itu, Bucu mengirim surat rahasia kepada Jin Kui, menyatakan bahwa kalau Gak Hui tidak dibunuh, tak mungkin akan ada “perdamaian” sebagaimana yang dicita citakan oleh kaisar bersama Kerajaan Kin. Kaisar mempergunakan kekuasaannya dan Gak Hui ditangkap! Ketika semua orang sedang terkejut dan hendak memprotes, tahu tahu Gak Hui telah dibunuh mati di dalam penjara atas perintah perdana menteri!

Demikianlah, secara pengecut sekali dan demi menjaga kesenangan sendiri, orang orang yang menganggap diri sebagai “pemimpin pemimpin” ini telah bersekutu dengan Kin dan negara dibagi dua. Mulai dari lembah utara Sungai Huai dan Terusan Tasan kuan di Propingi Shensi menjadi daerah kekuasaan Kin. Di samping itu, Kerajaan Sung masih, diwajibkan membayar upeti tahunan sebanyak dua ratus lima puluh ribu tail perak dan dan ratus lima puluh ribu kayu kain sutera kepada Kin!

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Tujuh belas tahun telah lewat semenjak pahlawan Go Sik An tewas digantung oleh tentara Kin. Pada suatu pagi di Pegunungan Tapie san yang terletak di sebelah selatan Sungai Huai, hawa udara pagi hari itu amat dinginnya dan bagi orang orang kaya, tentu pada hari sepagi dan sedingin itu masih amat malas meninggalkan pembaringan. Akan tetapi tidak demikian dengan kaum miskin, terutama kaum tani yang rajin. Sebelum matahari terbit, kaum tani telah meninggalkan rumah, membawa alat cocok tanam dan bagaikan tentara maju ke medan pertempuran, mereka juga berangkat ke medan juang yang bagi mereka tempatnya di tengah tengah sawah ladang meluas.

Akan tetapi, dari sebuah dusun pertanian yang berada di lereng Gunung Tapie san sebelah selatan, serombongan petani terdiri dari belasan orang laki laki berjalan berkelompok mengikuti seorang pemuda yang berjalan di depan mereka, memasuki sebuah hutan yang penuh dengan pohon pohon besar dan batu batu karang yang kokoh kuat.

Dari dalam hutan itu terdengar suara suara keras menyeramkan, suara binatang binatang hutan yang buas. Tidak mengherankan apabila belasan orang petani itu saling pandang dengan mata terbelalak ketakutan dan biarpun hawa udara pagi itu amat dingin, mereka semua ajaknya selalu merasa gerah! Mereka berjalan di belakang pemuda itu dengan kaki selalu bersiap sedia untuk sewaktu waktu melarikan diri dan memutar tubuh meninggalkan tempat berbahaya itu. Hanya kedua kaki mereka saja yang dipaksa maju padahal semangat mereka sudah mundur ketika mendengar suara geraman srigala dan harimau hutan.

Akan tetapi, pemuda yang berjalan di depan rombongan orang orang ini, nampak tersenyum senyum tenang dan tindakan kakinya yang ringan dan tetap itu membuat tubuhnya nampak seperti seekor singa berjalan. Langkahnya tetap, tubuhnya lurus dengan dada yang bidang. Tubuhnya tinggi tegap dan kelihatan kuat sekali dan wajahnya membayangkan kegagahan. Benar benar seorang pemuda yang berwajah tampan dan gagah. Ia memakai topi berwarna biru dan sepatunya yang hitam terbuat dari pada kulit. Yang aneh adalah pakaiannya. Celananya biru dan biasa saja, akan tetapi bajunya yang aneh. Baju itu terbuat dari pada sutera halus, berwarna kuning dengan kembang kembang besar warna merah. Di punggungnya tergantung sebatang pedang yang bersarungkan kain bersulam dan gagang pedang itu nampak bersih mengkilap dengan kain ronce warna merah. Usia pemuda ini paling banyak dua puluh tahun, akan tetapi sepasang matanya memiliki daya yang amat berpengaruh yang membuat orang tidak berani memandang rendah kepadanya. Siapakah pemuda yang tampan dan gagah Ini?

Pembaca tentu dapat menerkanya, melihat dari pakaiannya yang berkembang itu. Memang benar, dia adalah Go Ciang Le putera dari mendiang Go Sik An, sasterawan ahli silat itu!

Seperti telah diceritakan di bagian depan tujuh belas tahun yang lalu, ketika Ciang Le oleh ibunya ditinggalkan seorang diri di dalam kuil tua dan ketika kakek anak ini, yaitu Tan Seng, datang hendak mengambilnya, anak ini telah lenyap tak meninggalkan bekas. Siapakah yang menculik anak itu dan siapa pula yang mencuri jenazah Go Sik An dan isteri nya secara demikian anehnya?

Yang melakukannya adalah sepasang iblis manusia yang disebut di kalangan kang ouw Thian te Siang mo (Sepasang Iblis Bumi Langit), dua orang tua yang luar biasa dan aneh sekali. Mereka ini diwaktu mudanya merupakan dua orang penjahat yang ganas sekali, sepasang saudara kembar yang memiliki kepandaian luar biasa tingginya. Boleh dibilang hampir seluruh cabang persilatan telah didatangi oleh sepasang saudara kembar ini dan di setiap perguruan silat mereka mengacau, menantang ketuanya untuk mengadakan pibu dan merobohkan mereka!

Tak seorangpun tahu dari mana asalnya sepasang manusia seperti iblis ini dan juga tidak ada yang tahu siapakah yang mengajar ilmu silat selihai itu kepada mereka. Sebetulnya kalau orang melihat keadaan mereka, yang jarang sekali terjadi karena gerakan mereka memang cepat laksana bayangan iblis, mereka itu tidak kelihatan seperti iblis. Kedua kakek ini berpakaian serupa, pakaian pendeta Tao yang panjang berwarna kuning keemasan dengan jenggot panjang dan rambut kepala di gelung ke atas seperti umum nya para tosu memelihara rambut mereka. Juga wajah mereka tidak buruk atau nampak jahat, hanya sepasang mata mereka saja yang bersinar kocak dan seperti mata kanak kanak yang nakal. Yang menarik adalah persamaan kedua orang itu. Sukarlah bagi orang lain untuk dapat membedakan. Yang tertua diantara sepasang iblis kembar ini disebut Thian Lo mo (Iblis Tua Langit)

....Hal 59,60,61,61.62 gak ada (hilang)...

...yang dipakai pada saat terakhir oleh Go Sik An! Juga Ciang Le mendengar penuturan guru gurunya tentang kedua orang tuanya, maka sering kali anak ini mengunjungi dua tengkorak di depan untuk duduk di dekat rangka rangka ayah bundanya. Bagi Ciang Le, ruangan yang gelap dan penuh rangka manusia itu merupakan tempat yang menyenangkan! Sering kali ia bicara seorang diri ditujukan kepada kerangka kerangka ayah bundanya, sehingga kalau orang lain melihatnya berhal demikian, tentu ia akan dianggap seorang yang miring otaknya.

Betapapun gagah perkasanya Thian te Siang mo dan betapapun banyaknya ilmu yang mereka miliki, akhirnya setelah melatih dan menggembleng Ciang Le selama enam belas tahun lebih, habislah semua kepandaian mereka diturunkan kepada Ciang Le!

“Murdku," kata Thian Lo mo ketika menyatakan kepada muridnya bahwa pemuda itu telah tamat belajar, “semua ilmu silat yang kami miliki, telah kami ajarkan semua kepadamu Bahkan sedikit ilmu surat juga telah kaupelajari. Usiamu sudah sembilan belas tahun lebih, maka sudah sepantasnya kalau sekarang kau turun gunung untuk mewakili kami menebus dosa! Hanya ada satu macam ilmu pukulan yang belum kaupelajari, ialah ilmu pukulan yang sedang kami ciptakan berdua, yang disebut Thian te Siang mo Ciang hwat. Ilmu pukulan ini sedang kami sempurnakan, sedikitnya makan waktu setahun lagi baru sempurna. Ilmu pukulan ini amat berbahaya, muridku dan agaknya akan melebihi semua ilmu silat yang telah kaumiliki. Akan tetapi, biarlah kelak saja kami ajarkan kepadamu.”

“Dan pedang ini boleh kau bawa, Ciang Le” kata Te Lo mo sambil menyerahkan pedangnya yang disebut Kim kong kiam (Pedang Sinar Emas). “Kau telah beberapa kali bersumpah hendak mempergunakan ilmu kepandaian yang kau pelajari untuk berbuat kebaikan. Kau harus menjadi seorang pendekar budiman dan jangan lupa selamanya kau harus memakai baju kembang, sesuai dengan pesan terakhir ibumu!”

Ciang Le menerima pedang dan buntalan pakaian serta beberapa potong emas dari kedua suhunya, la merasa amat terharu dan berterima kasih. Baginya, kedua orang yang disebut Sepasang Iblis di dunia kang ouw ini, bukan iblis melainkan dua orang yang paling mulia di dunia ini. Mereka itu adalah gurunya, juga pengganti orang tuanya dan penolongnya.

“Teecu (murid) akan memperhatikan segala nasihat jiwi suhu (guru berdua) dengan taat. Dimanapun teecu berada teecu takkan melupakan suhu berdua. Akan tetapi, mohon penjelasan dari jiwi suhu, bilakah teecu diperbolehkan kembali ke sini?”

“Tak usah kembali, tak usah kembali…” kata Thian Lo mo sambil menggoyang goyang tangannya.

Ciang Le memandang dengan terkejut.

“Twa suhumu (guru besarmu) hanya main main, Ciang Le,” kata Te Lo mo sambil tertawa. “Memang tak usah kembali, akan tetapi kita pasti akan bertemu kembali. Ingatlah bahwa kedua gurumu selalu memperlihatkan gerak gerikmu dan kalau sampai kau menyeleweng dan menyia nyiakan harapan kedua gurumu dan kedua orang tuamu, kau harus tahu bahwa dengan ilmu pukulan Thian te Siang mo Ciang hwat, kami dengan mudah akan dapat membinasakanmu!” Ucapan terakhir ini dikeluarkan oleh Te lo mo dengan sikap sungguh sungguh dan muka keras.

Ciang Le menjadi girang dan menghaturkan terima kasih. Memang, pemuda ini masih bingung ke mana harus pergi dan merasa amat tidak enak harus berpisah dari kedua suhunya yang disayangnya. Maka mendengar bahwa kelak kedua suhunya pasti akan menjumpainya, terhiburlah hatinya.

“Nah, kau berangkatlah dan jaga dirimu baik baik!” kata Thian Lo mo.

Ciang Le berlutut dan memberri hormat serta ucapan selamat tinggal kepada kedua suhu nya, kemudian ia keluar dari pintu gua yang kecil, masuk ke dalam ruang rangka dan berlutut di depan kerangka ayah bundanya.

“Ayah ibu aku pergi turun gunung. Mohon doa restu dan anak akan mencoba mencari orang orang yang telah membunuh kalian. Kemudian ia berdiri dan keluar dari gua yang besar dan gelap itu.

Gua Pahlawan yang dipergunakan sebagai tempat tinggal Thian te Siang mo itu terletak di atas Pegunungan Tapie san sebelah timur, di puncak yang masih liar dan belum pernah didatangi manusia saking sulitnya perjalanan menuju ke situ...

Thanks for reading Pendekar Budiman jilid 01 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »