Harta Karun Kerajaan Sung Jilid 40

40. AYAH JADI WALI SEKALIGUS PEMINANG!

Mereka pun menyadari bahwa di bawah bimbingan Ban-tok Niocu yang sebelum menjadi Niocu (Nona) berjuluk Mo-li (Iblis Betina) yang ganas dan kejam, Li Hong menjadi seorang gadis yang amat keras hati. Hanya Ban-tok Niocu yang masih penasaran itu berani bicara, akan tetapi ia bertanya kepada Ceng Ceng dan Cun Giok, untuk memuaskan hatinya.

“Cun Giok dan Ceng Ceng, aku percaya kepada kalian berdua. Maka sekarang katakanlah sejujurnya, benarkah, apa yang dikatakan Li Hong bahwa Pangeran Youtechin itu seorang pemuda yang baik?”

Ceng Ceng dan Cun Giok saling berpandangan, lalu mereka menoleh dan memandang Li Hong.

“Giok-ko dan Enci Ceng, katakanlah yang sebenarnya. Kalau memang kalian melihat Youtechin sebagai seorang pemuda yang brengsek dan jahat, jangan tutup-tutupi, katakan yang sebenarnya!” kata Li Hong menantang.

Gadis ini memang sudah nekat karena andaikata orang tuanya dan seluruh manusia di dunia ini tidak setuju, tetap saja ia akan menikah dengan Pangeran Youtechin! Karena sesungguhnya, ia sekarang pun telah menjadi isteri Pangeran Mongol itu!

Akhirnya Ceng Ceng bicara. Ia memang melihat bahwa Yauw Tek atau Pangeran Youtechin itu seorang pemuda yang baik dan pantas menjadi suami Li Hong. Memang ada sedikit hal yang mengecewakan hatinya, yaitu pangeran itu mudah mengobral dan menyatakan cinta. Dulu baru saja dia menyatakan cinta kepadanya dan ditolaknya, di lain saat dia telah mengalihkan dan menyatakan cintanya kepada Li Hong. Mungkin sudah demikianlah watak seorang pemuda bangsawan tinggi, pikirnya, sehingga akan terdengar amat aneh dan apabila seorang pangeran memiliki isteri kurang dari lima orang!

“Ayah dan berdua Ibu, saya telah melakukan perjalanan bersama Adik Hong dan Pangeran Youtechin dan saya berani menyatakan bahwa Pangeran Youtechin adalah seorang yang baik budi, juga gagah perkasa dan sama sekali tidak membenci kita bangsa Han.”

Tan Kun Tek mengangguk-angguk, lalu memandang Cun Giok. “Bagaimana dengan pendapatmu, Cun Giok?”

“Pek-hu (Uwa), saya belum pernah bergaul dengan dia, akan tetapi saya dapat menerangkan bahwa ketika saya bertanding melawannya, dia memiliki ilmu silat yang amat tangguh. Kalau saja saya tidak unggul dalam gin-kang, belum tentu saya dapat mengalahkannya. Juga dia gagah perkasa, tidak mau melakukan pengeroyokan dan dengan jujur mengakui kekalahannya.”

Mendengar keterangan Ceng Ceng dan Cun Giok, lega dan giranglah hati Tan Kun Tek, Nyonya Tan, dan Ban-tok Niocu. Tan Kun Tek lalu berkata, “Akan tetapi kalau dia seorang pangeran yang berkedudukan tinggi, bagaimanakah perjodohan itu akan diaturnya? Biarpun dia bangsawan tinggi, kita tidak ingin menikahkan puteri kita tanpa disertai peraturan umum. Kita tidak mau merendahkan diri dan harus menjaga kehormatan kita!”

“Tentu saja!” kata Ban-tok Niocu menyambut ucapan suaminya. “Biarpun dia pangeran, dia harus mengajukan pinangan secara resmi untuk menghormati keluarga kita!”

“Harap Ayah dan berdua Ibu tidak khawatir,” kata Ceng Ceng membela adiknya. “Saya dan Giok-ko yang menjadi saksi ketika Pangeran Youtechin berjanji kepada Adik Li Hong untuk mengirim pinangan secara resmi.”

“Bagus! Kalau begitu tidak ada masalah dan kami bertiga pasti menyetujuinya perjodohan itu!” kata Tan Kun Tek dan wajah Li Hong berseri-seri dan kedua pipinya tampak kemerahan sehingga ia kelihatan cantik jelita sekali! Akan tetapi tiba-tiba ia berkata, mengeluarkan ucapan yang mengejutkan semua orang.

“Ayah dan berdua Ibu, aku tidak mau melangsungkan pernikahan kalau tidak berbareng dengan pernikahan Enci Ceng Ceng!”

“Hong-moi...!!” Ceng Ceng berseru setengah menjerit karena terkejut dan heran.

“Ha-ha, engkau ini aneh sekali, Li Hong. Bagaimana kalau Ceng Ceng belum mempunyai tunangan atau pilihan hatinya? Sampai kapan engkau akan menunggu?” kata Tan Kun Tek.

“Ayah, Enci Ceng Ceng sudah yatim piatu dan sebatang kara. Karena ia menjadi enci angkatku, dengan sendirinya ia menjadi anak angkat Ayah dan berdua Ibu. Maka sudah seharusnya kalau Ayah yang menjadi wali dan sebagai Ayah angkatnya bersedia menerima pinangan dari calon suaminya!” kata pula Li Hong tanpa mempedulikan gerakan tangan Ceng Ceng yang memprotesnya.

“Aih, jadi ia sudah mempunyai pilihan? Tentu saja kami bertiga senang sekali menjadi walinya dan mewakili orang tuanya yang sudah tidak ada untuk menerima pinangan itu! Siapa yang akan datang meminang?”

“Yang meminang adalah Ayah sendiri!” kata Li Hong sambil cekikikan menahan tawa.

“Hei, gilakah engkau, Li Hong? Aku mengajukan pinangan kepada aku sendiri? Bagaimana ini? Apakah engkau sudah mabok?” tanya Tan Kun Tek heran dan kedua orang wanita itu pun memandang anak perempuan mereka dengan bingung.

“Ayah menerima pinangan sebagai wali atau wakil Enci Ceng Ceng dan Ayah mengajukan pinangan sebagai wali atau wakil Kakak Pouw Cun Giok! Dia juga sudah yatim piatu dan sebatang kara, maka sudah semestinya kalau Ayah sebagai uwanya mewakilinya, bukan?”

Tan Kun Tek menjadi bingung. “Wah... ini... ini bagaimana? Bagaimana dilaksanakannya? Masa aku mengajukan pinangan kepadaku sendiri?”

“Hi-hik, mudah saja diatur urusan itu!” tiba-tiba Ban-tok Niocu berkata. “Koko, engkau mewakili Cun Giok mengajukan pinangan atas Ceng Ceng dan akulah yang menjadi wakil Ceng Ceng untuk menerima pinangan itu. Beres, bukan?”

“Bagus! Bagus! Sekarang bereslah sudah!” Li Hong bersorak.

Semua orang tertawa, kecuali Cun Giok dan Ceng Ceng yang hanya menundukkan muka mereka yang berubah kemerahan.

“Nanti dulu!” Tan Kun Tek berkata sehingga mereka yang tertawa berhenti dan memandang kepadanya. “Jangan tertawa dan bergembira lebih dulu. Sebagai wakil-wakil dua orang yang akan berjodoh, sudah semestinya kita bertanya dulu kepada yang bersangkutan. Cun Giok, bagaimana kalau aku menjadi walimu dan mengajukan lamaran kepada Ceng Ceng?”

Cun Giok semakin menunduk dan menahan senyum malu-malu.

“Hei, bagaimana ini? Giok-ko, mengapa engkau begini malu-malu seperti seorang gadis saja? Hayo jawablah pertanyaan Ayah!” kata Li Hong.

“Benar, Cun Giok, jawablah, apakah engkau bersedia untuk dijodohkan dengan Ceng Ceng?” desak Tan Kun Tek.

Cun Giok melempar pandang ke arah Ceng Ceng yang masih menunduk. Dia khawatir kalau-kalau akan menyinggung hati gadis itu. Maka dengan hati tegang dia terpaksa mengangguk dan menjawab lirih sekali. “Saya... bersedia, Pek-hu...”

“Apa jawabmu? Kurang jelas, Cun Giok. Jawablah yang jelas, engkau bersedia atau tidak?” desak Tan Kun Tek yang pura-pura tidak mendengar.

“Saya... bersedia!” kata Cun Giok lebih lantang.

“Bagus!” kata Tan Kun Tek yang kini dengan gaya lucu menghadap ke arah isterinya yang kedua. “Ban-tok Niocu, aku mewakili Pouw Cun Giok untuk melamar anak angkatmu Liu Ceng Ceng. Bagaimana, apakah lamaranku itu dapat kauterima?”

“Nanti dulu, akan kutanyakan kepada yang bersangkutan. Liu Ceng Ceng, engkau sudah mendengar sendiri lamaran dari Pouw Cun Giok yang diwakili uwanya, sekarang jawablah dengan jelas, apakah engkau bersedia untuk dijodohkan dengan Pouw Cun Giok?”

Tanpa mengangkat mukanya, Ceng Ceng semakin menundukkan muka dan menjawab dengan suara menggetar. “Saya...... bersedia...”

“Bagus! Selamat, Enci Ceng...!” Li Hong bersorak dan merangkul Ceng Ceng.

Akan tetapi pada saat itu, Ceng Ceng menangis tersedu-sedu! Gadis ini merasa terharu sekali karena teringat akan ayah ibunya yang tidak dapat menyaksikan kebahagiaannya itu. Li Hong maklum dan sambil merangkul Ceng Ceng ia ikut menangis. Nyonya Tan juga mendekati mereka dan merangkul sambil menangis terharu. Hanya Ban-tok Niocu yang memandang sambil tersenyum, akan tetapi tanpa ia sadari kedua matanya menjadi basah!

Melihat kekasihnya menangis tersedu-sedu, Cun Giok juga teringat kepada orang tuanya dan dia merasa kasihan kepada Ceng Ceng dan juga terharu, maka dia menundukkan mukanya dan menahan suara tangisnya, akan tetapi air mata menetes-netes ke atas sepasang pipinya!

Sejenak Tan Kun Tek membiarkan keharuan mereka larut melalui air mata, kemudian dia berseru. “Hei, apa-apaan ini? Kita mestinya bergembira ria, mengapa malah bertangis-tangisan? Hayo cepat hapus air matamu dan kita harus rayakan kebahagiaan ini dengan minum arak untuk mengucapkan selamat kepada tiga orang calon pengantin kita!”

Mendengar teriakan ini, semua orang mengusap air mata mereka dan tak lama kemudian, dengan mulut tersenyum namun mata basah, keluarga itu minum arak merayakan kebahagiaan mereka.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Tepat seperti yang telah dijanjikannya, tak lama kemudian utusan resmi dari Pangeran Banagan datang ke Pulau Ular. Rombongan ini diutus Pangeran Banagan di kota raja untuk mengajukan pinangan puteranya, Pangeran Youtechin, kepada Tan Li Hong. Rombongan yang membawa mas kawin amat mewah dan berharga itu disambut dengan kehormatan oleh keluarga Majikan Pulau Ular. Pinangan diterima dan keluarga itu minta disampaikan usul mereka agar upacara pertemuan pengantin diadakan dan akan dirayakan di Pulau Ular sebagai pasangan pengantin kembar, yaitu Tan Li Hong berpasangan dengan Pangeran Youtechin, dan Liu Ceng Ceng berpasangan dengan Pouw Cun Giok. Juga keluarga itu mengusulkan hari perkawinan agar disampaikan kepada keluarga Pangeran Youtechin.

Usul dari keluarga Pulau Ular itu diterima baik dan demikianlah, beberapa bulan kemudian, pada waktu yang telah ditetapkan, Pulau Ular tampak meriah sekali. Semua tempat berbahaya yang dipasangi jebakan telah disingkirkan sehingga pulau itu menjadi tempat yang indah menyenangkan. Tamu-tamu dari kalangan persilatan datang mengalir, termasuk partai-partai persilatan besar seperti Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, Kun-lun-pai, Go-bi-pai, Hoa-san-pai, Thai-san-pai dan lain-lain. Apalagi yang menikah adalah Liu Ceng Ceng dan Pouw Cun Giok yang banyak dikenal di dunia kang-ouw dan dihormati banyak golongan. Juga tamu-tamu para bangsawan untuk menghormati pernikahan Pangeran Youtechin hadir sehingga pulau itu menjadi tempat pesta yang amat meriah.

Di antara mereka yang datang berkunjung, terdapat pula The Toanio, majikan Lembah Seribu Bunga dengan dua orang puterinya, The Kui Lan dan The Kui Lin yang kembar, bersama tunangan mereka yang sudah diresmikan Liong Kun dan Thio Kui, dua orang pemuda pendekar Bu-tong-pai itu. Bu-tek Sin-liong Cu Liong dan puterinya, Pek-hwa Sianli Cu Ai Yin, penghuni Bukit Merak, juga diundang, akan tetapi mereka tidak datang hanya mengirim utusan mengantarkan sumbangan karena datuk itu masih merasa penasaran bahwa Pouw Cun Giok tidak bersedia menjadi suami puterinya, dan Cu Ai Yin merasa malu untuk menghadiri hari pernikahan itu, di samping merasa kecewa karena cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.

Setelah berdiam di Pulau Ular selama sepekan, sepasang mempelai meninggalkan pulau itu. Li Hong diboyong suaminya ke kota raja di mana keluarga Pangeran Youtechin akan menyambut sepasang mempelai itu dengan pesta meriah yang dihadiri oleh keluarga istana dan para pembesar. Ada pun Pouw Cun Giok dan Ceng Ceng juga meninggalkan pulau. Tan Kun Tek dan dua orang isterinya sudah minta dengan sangat agar mereka berdua tinggal di Pulau Ular, akan tetapi sepasang mempelai baru itu menolak dengan halus.

Ceng Ceng ingin bersama suaminya kembali ke Nan-king ke bekas rumah orang tuanya yang disita pemerintah daerah. Berkat surat perintah yang mereka terima dari Pangeran Youtechin, mereka akan dapat memiliki kembali rumah itu tanpa ada yang berani mengganggu mereka. Atas nasihat Tan Kun Tek dan dua orang isterinya, harta karun yang dibawa Ceng Ceng dan Cun Giok dari Thai-san itu disimpan di Pulau Ular, tempat yang aman dan kelak akan mereka serahkan kepada yang berhak, yaitu kalau muncul pimpinan sejati bagi rakyat jelata untuk berjuang mengusir penjajah Mongol dari tanah air!

Demikianlah kisah ini diakhiri dengan catatan pengarang bahwa pikiran manusia terombang-ambing antara suka dan duka. Tidak ada suka yang berkelanjutan dan mulus, tidak ada pula duka yang berkelanjutan dan tiada perubahan. Ada kalanya orang merasa hidup ini sengsara, untuk kemudian berubah dengan perasaan bahwa hidup ini senang. Karena hidup ini tidak terlepas dari pengaruh Im-Yang (Positive Negative), maka suka dan duka saling bergantian muncul dalam kehidupan manusia seperti munculnya siang dan malam.

Namun bagi manusia yang lahir batinnya menyerah kepada Kekuasaan Tuhan, maklum bahwa suka duka itu hanya ulah pikiran belaka, maka dia yang berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan, akan menerima segala apa pun yang terjadi pada dirinya dengan sabar dan bersyukur karena baik pahit maupun manis ternilai oleh pikiran, semua yang terjadi itu sudah dikehendaki Yang Maha Kuasa dan di balik semua itu dia yakin ada hikmahnya yang amat berharga baginya. Maka dia tidak akan tenggelam dan putus asa di kala datang duka dan tidak akan mabok dan lupa diri di kala datang suka.


T A M A T

KARYA KHO PING HOO SELANJUTNYA:

SERAL PENDEKAR BUDIMAN
Thanks for reading Harta Karun Kerajaan Sung Jilid 40 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »