Harta Karun Kerajaan Sung Jilid 35

35. BUKIT NAGA DAN BUKIT BURUNG HONG?

Seorang laki-laki berusia sekitar limapuluh tahun yang menjadi tua-tua di dusun itu, menyambut Cun Giok dan Ceng Ceng dengan ramah penuh kekeluargaan yang akrab. Sudah menjadi watak orang-orang dusun yang lugu, sederhana dan jujur, yang hidup tenteram dan bahagia karena tidak banyak keinginan, selalu menyambut tamu, apalagi yang asing, dengan ramah tamah. Mereka merasa terhormat kalau ada “orang kota” mengunjungi mereka, dan tanpa ragu-ragu mereka akan menghidangkan apa saja yang mereka miliki untuk tamu mereka.

Demikian pula laki-laki itu, setelah Cun Giok dan Ceng Ceng memperkenalkan diri sebagai pelancong yang kehabisan makanan dan hendak membeli makanan, tua-tua dusun itu serta-merta menghidangkan makanan sederhana yang dimilikinya dan mengajak dua orang tamu itu makan bersama! Ketika Ceng Ceng hendak membayar harga makanan dan minuman yang dihidangkan, laki-laki itu mengerutkan alis dan menolak keras, bahkan tampak tersinggung dan segera Ceng Ceng minta maaf.

Ketika mereka mengobrol setelah makan, iseng-iseng Ceng Ceng bertanya kepada tuan rumah. “Paman, apakah nama dua buah bukit yang berjajar di sana itu?” Ia menunjuk ke arah dua buah bukit yang semalam ia tonton bersama Cun Giok. Petani itu memandang keluar melalui jendela dan melihat dua buah bukit itu.

“Ah, dua bukit itukah, Nona? Orang-orang menyebutnya Bukit Kembar karena mereka berdiri berdampingan dan besarnya sama. Akan tetapi dua buah bukit itu mempunyai nama, yang satu adalah Liong-san (Bukit Naga) dan yang lain Hong-san (Bukit Burung Hong).”

Mendengar ini, berdebar jantung dua orang muda itu. Tadi setelah pagi tiba dan mereka memandang ke puncak dua buah bukit itu, bentuk naga dan burung Hong lenyap sehingga mereka hampir putus asa dan menganggap penglihatan mereka semalam dipengaruhi harapan mereka setelah melihat gambar peta. Akan tetapi kini ternyata bahwa dua buah bukit itu benar-benar bernama Bukit Naga dan Bukit Burung Hong! Mereka berdua saling pandang penuh arti, lalu Cun Giok bertanya kepada petani itu.

“Paman, mengapa kedua bukit itu disebut Bukit Naga dan Bukit Burung Hong?”

Petani itu tersenyum lebar sehingga tampak giginya yang sudah banyak yang ompong. “Dua buah bukit itu memang aneh, Kongcu. Kalau malam bulan purnama, gerombolan di puncaknya berbentuk naga dan burung Hong. Menurut dongeng, jaman dahulu dua bukit itu katanya menjadi tempat tinggal kedua binatang suci itu.”

Wajah Ceng Ceng dan Cun Giok berseri. Bukan main girang rasa hati mereka. Kini mereka yakin bahwa dua bukit itulah yang dimaksudkan dalam gambar peta! Mereka segera pamit dari tua-tua dusun itu dan setelah mereka berdua pergi, baru petani itu menemukan uang emas tiga keping di atas meja! Dia terkejut karena tiga keping uang emas itu merupakan harta yang besar baginya. Dia mengejar keluar untuk mengembalikannya kepada dua orang tamunya, akan tetapi dua orang itu sudah tidak tampak lagi bayangan mereka! Hal ini sungguh terlalu aneh bagi petani itu. Bagaimana mungkin dua orang muda itu dapat menghilang begitu saja?

Ketika dia menceritakan kepada para penghuni dusun, orang-orang sederhana yang masih tebal kepercayaan mereka akan adanya dewa dewi yang suka menolong manusia, merasa yakin bahwa pemuda dan pemudi yang ikut makan di rumah kepala atau tua-tua dusun itu, pasti seorang dewa dan seorang dewi! Buktinya, mereka meninggalkan emas dan pandai menghilang.

“Tidak salah lagi!” seru tua-tua itu. “Mereka pasti dewa dan dewi penunggu Liong-san dan Hong-san. Baru melihat pemuda yang begitu tampan dan gagah, juga gadis yang demikian cantik jelita dan lembut, aku sudah curiga bahwa mereka berdua itu bukan manusia biasa!”

Seluruh penduduk dusun kecil itu lalu melakukan sembahyang untuk menghormati dan berterima kasih kepada Dewa dan Dewi penunggu Bukit Naga dan Bukit Burung Hong!

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Sampai belasan hari Cun Giok dan Ceng Ceng mencari harta karun setelah merasa yakin bahwa harta itu pasti berada di daerah itu karena mereka telah menemukan Bukit Naga dan Bukit Burung Hong. Ada tiga bukit kecil di sebelah selatan kedua bukit itu, dan agaknya tiga bukit ini yang digambar dalam peta. Mereka berdua menjelajahi tiga bukit itu dan sekitar tiga minggu kemudian, pada suatu pagi mereka tiba di bukit tengah dari ketiga bukit itu. Sudah dua kali mereka mencari di bukit ini dan pagi hari itu, dari kaki bukit mereka melihat betapa puncak bukit itu dikepung hutan lebar yang tumbuh di sekeliling bukit. Mereka menembus hutan dan tiba di puncak bukit yang landai dan penuh lapangan rumput yang luas.

Mereka melihat bahwa di ujung lapangan rumput terdapat tebing puncak dan di tebing itu terdapat tiga buah guha. Guha-guha di pinggir kanan kiri tampak jelas, merupakan guha besar yang mulut guhanya terbuka seperti mulut raksasa ternganga. Akan tetapi guha di tengah tertutup semak belukar dan berduri. Kini mereka berdiri di depan guha yang tertutup semak belukar itu dan mengamati penuh perhatian.

“Rasanya tidak mungkin menyimpan harta karun di tempat seperti ini,” kata Cun Giok.

Ceng Ceng diam saja tidak menjawab, hanya berdiri memandang ke arah guha itu dengan alis berkerut dan penuh perhatian. Karena gadis itu tidak menjawab, Cun Giok menoleh dan memandang kepadanya. Dia melihat betapa gadis itu kini tampak kurus. Wajahnya sama sekali tidak memancarkan kegembiraan. Kini dia teringat betapa selama mereka berdua melakukan perjalanan, jarang sekali Ceng Ceng tersenyum atau tertawa, pada hal biasanya gadis ini dahulu selalu berwajah ceria.

Baru sekarang Cun Giok menyadari betapa gadis itu telah mengalami berbagai rintangan, halangan dan jerih payah yang sia-sia selama melakukan pencarian harta karun itu. Bahkan beberapa kali terancam bahaya maut. Semua usaha mati-matian itu tidak juga menemukan hasil. Dia sendiri sudah tiada nafsu lagi untuk mencari harta karun yang belum dapat dipastikan ada itu. Akan tetapi agaknya Ceng Ceng tak pernah putus asa sehingga tubuhnya tampak kurus dan wajahnya kehilangan cahayanya, bahkan agak pucat karena lelah dan juga karena tidak tentu makannya. Tiba-tiba saja hati Cun Giok merasa pedih penuh keharuan dan iba terhadap gadis itu yang dicintainya semenjak pertemuan pertama itu.

Memandang wajah yang amat disayangnya itu, wajah yang tampak demikian menyedihkan, tak terasa lagi Cun Giok menghela napas panjang dan berat. Dia merasa sangat iba hepada Ceng Ceng, dan harus diakuinya bahwa cinta kasihnya semakin mendalam. Dia ingin melihat gadis yang mengalami banyak penderitaan ini berbahagia. Akan tetapi bagaimana mungkin? Ceng Ceng kehilangan ayah bunda dan gurunya, yang tewas terbunuh. Bahkan kehilangan harapannya ketika gadis ini saling mencinta dengan dia dan kemudian ternyata dia telah bertunangan dengan Siok Eng.

Akan tetapi Ceng Ceng tidak pernah mengeluh bahkan tidak pernah merasa sakit hati atau dendam. Gurunya, Im Yang Yok-sian, terbunuh oleh Li Hong tanpa ada kesalahan apapun, akan tetapi Ceng Ceng tidak mendendam, bahkan sebaliknya ia pernah mengorbankan peta untuk menyelamatkan gadis pembunuh gurunya itu. Bahkan kemudian ia mengangkat Li Hong sebagai adiknya! Di dunia ini, mana ada gadis sebijaksana, sebaik hati, dan selembut Ceng Ceng? Sedangkan dirinya sendiri?

Ah, tampak jelas bahwa dia sama sekali tidak sepadan dengan Ceng Ceng, sama sekali tidak berharga untuk menjadi pendamping hidup gadis itu! Dia seorang pemuda gagal, seorang laki-laki yang tidak mampu melindungi calon istrinya sendiri. Walaupun belum menikah resmi dengan Siok Eng dia menganggap dirinya telah menjadi duda setelah Siok Eng terbunuh. Dia seorang pemuda sebatang kara, tidak mempunyai apa-apa! Apa yang dapat diharapkan dari seorang pemuda seperti dia bagi seorang gadis seperti Ceng Ceng?

“Giok-ko, lihat semak belukar yang menutupi guha ini. Di sekeliling tempat, ini tidak ada semak belukar seperti itu!” Suara gadis itu terdengar sungguh-sungguh.

“Ada apa dengan semak-semak itu, Ceng-moi? Kulihat itu hanya semak belukar biasa,” kata Cun Giok tidak mengerti sambil memandang semak belukar itu baik-baik akan tetapi dia tidak menemukan sesuatu yang aneh.

“Kalau di suatu tempat tumbuh semak seperti itu, tentu di sekeliling sini terdapat pula semak yang sama. Akan tetapi lihat sekeliling sini, tidak ada lagi semak seperti itu!”

“Hemm, jadi...?” Cun Giok tetap tidak mengerti.

“Berarti, semak belukar yang menutupi guha ini sengaja ditanam orang, Giok-ko! Bukan tumbuh alami melainkan sengaja ada orang mencari semak belukar dan berduri untuk ditanam dengan sengaja di sini agar menutupi guha ini!”

“Ah, jadi maksudmu, orang sengaja menutupi guha ini dengan semak belukar yang ditanam agar jangan ada orang memasuki guha ini?”

“Tepat! Dan itu berarti bahwa di balik semak belukar, di dalam guha itu, tentu ada sesuatu yang disembunyikan dan yang menyembunyikan tidak ingin ada orang dapat memasuki guha!”

Cun Giok terbelalak, “Maksudmu... harta karun itu?”

Ceng Ceng mengangguk. “Mudah-mudahan begitu, Giok-ko. Kemungkinan itu ada, bukan?”

Cun Giok mengamati wajah gadis itu dengan tajam. “Ah, Ceng-moi, mengapa engkau pantang menyerah? Sudah banyak penderitaan dan kekecewaan kau alami untuk mencari harta karun itu. Engkau tampak begini kurus, Ceng-moi. Ah, aku khawatir kalau engkau sampai jatuh sakit. Mengapa tidak kau sudahi saja pencarian yang tiada gunanya ini?”

Ceng Ceng memandang Cun Giok dengan alis berkerut dan sepasang matanya yang biasanya lembut dan bening itu kini memancarkan sinar penasaran. “Giok-ko, apakah engkau belum mengerti? Ingat keadaanku sekarang ini. Aku yatim piatu, tiada sanak keluarga, hidup sebatang kara, seakan kehilangan pegangan. Satu-satunya yang masih ada dan merupakan harapanku, tujuan hidupku dan pembangkit semangatku, hanyalah memenuhi pesan mendiang, Ayah. Kalau aku berhasil melaksanakan kehendak dan pesan Ayahku, menemukan harta karun itu dan menyerahkannya kepada mereka yang berhak seperti yang ditunjuk Ayahku, yaitu para pejuang membebaskan bangsa dan tanah air dari penjajah, maka hidupku akan berarti dan aku akan merasa berbahagia. Kalau tidak berhasil, lalu apa artinya hidupku ini? Melaksanakan tugas memenuhi pesan terakhir Ayahku merupakan satu-satunya pegangan hidupku!”

Cun Giok merasa terharu sekali. Dia dapat membayangkan betapa menyedihkan keadaan gadis ini. Dia sendiri juga orang yatim piatu, akan tetapi dia tidak pernah dapat mengingat bagaimana rupa ayah ibunya. Ayahnya tewas terbunuh sebelum dia lahir, dan ibunya meninggal ketika melahirkannya. Dia tidak pernah merasakan kasih sayang ayah Ibunya sehingga kalau dia mengingat akan ayah ibunya, hatinya tidak demikian sakit rasanya. Akan tetapi gadis ini ditinggal mati ayah ibunya setelah ia dewasa.

“Ceng-moi... aku aku akan selalu membelamu... kalau engkau tidak keberatan ditemani seorang... duda... aku berjanji akan selalu menemani dan mendampingimu, selalu membelamu...”

Ceng Ceng menghela napas panjang, dan ada sedikit cahaya terpancar pada wajahnya yang agak kurus. Ucapan Cun Giok itu bagaikan obat penyejuk dalam hatinya karena ucapan itu secara tidak langsung menyatakan cinta pemuda itu kepadanya. Ia dapat nerasakan bahwa pemuda itu merasa sungkan untuk berterang menyatakan cintanya karena dia merasa bahwa dia sudah menjadi duda dengan kematian Siok Eng, walaupun dia belum menjadi suami Siok Eng, hanya tunangan saja. Diam-diam Ceng Ceng merasa terharu dan nilai pemuda itu semakin tinggi dalam pandangannya karena jelas bahwa Cun Giok setia kepada tunangannya yang telah mati, menganggap tunangannya itu sebagai istrinya dan menganggap dirinya sebagai seorang duda.

“Terima kasih, Giok-ko. Aku tahu bahwa engkau seorang sahabat yang baik sekali, yang membantuku sejak dulu. Sekarang marilah kita bongkar semak belukar ini, aku ingin menyelidiki ke dalam guha.”

“Baik, Ceng-moi!” Tanpa banyak cakap lagi Cun Giok mencabut Kim-kong-kiam. Tampak sinar pedang keemasan bergulung-gulung menyambar-nyambar ketika dia menggerakkan pedangnya dengan cepat dan kuat sekali. Batang, ranting, dan daun-daun semak belukar yang berduri itu terbang berhamburan ketika disambar sinar pedang dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, seluruh tumbuh-tumbuhan semak yang menghalangi guha itupun sudah dibabat bersih! Kini tampaklah mulut guha yang lebarnya sekitar tiga tombak dan tingginya dua tombak.

Ceng Ceng membantu Cun Giok dengan melempar-lemparkan onggokan semak yang telah dibabat, menggunakan sebatang kayu sehingga terbuka jalan menuju ke mulut guha. Mereka lalu maju menghampiri guha dan begitu tiba di depan guha, keduanya berhenti dan memandang ke dalam guha dengan mata terbelalak. Di lantai guha itu mereka melihat kerangka manusia berserakan malang melintang! Ketika dihitung mereka mendapatkan bahwa semua ada delapan buah kerangka yang masih utuh, ada yang telentang, telungkup, dan ada pula yang miring. Di dekat kerangka-kerangka ini tampak pula cangkul dan sekop, alat-alat untuk menggali tanah!

“Ceng-moi, agaknya mereka ini pernah mencari harta karun dan mencoba untuk menggali di sini. Akan tetapi mengapa mereka semua tewas di sini?” Cun Giok memandang ke sebelah dalam guha yang agak gelap karena tidak mendapatkan sinar matahari itu.

“Awas, Ceng-moi...!” Cun Giok berseru. Dia melihat sepasang benda kecil mencorong kehijauan di sebelah dalam guha dan benda itu bergerak ke arah mereka dengan mengeluarkan suara mendesis-desis.

“Ular, Giok-ko...!” Ceng Ceng juga berseru kaget.

Pada saat itu, seekor ular yang besarnya tidak kurang dari paha seorang dewasa, dengan kepala besar yang mengeluarkan sinar hijau, sepasang matanya mencorong kehijauan, dan moncongnya mengeluarkan bunyi mendesis-desis, bergerak cepat menghampiri mereka.

“Mundur, Ceng-moi!” Cun Giok berseru dan dia bergerak ke depan Ceng Ceng untuk melindungi gadis itu.

Setelah dekat, tiba-tiba ular itu berhenti, lalu kepalanya meluncur ke depan, menyerang Cun Giok. Moncongnya terbuka lebar memperlihatkan gigi-gigi yang runcing melengkung ke dalam. Dengan tenang namun cepat dan kuat, Cun Giok menebaskan pedangnya ke arah kepala ular itu.

“Singgg! Takk!”

Cun Giok terkejut bukan main ketika pedangnya mental seperti tertangkis benda yang amat kuat. Pedang pusakanya, Kim-kong-kiam, yang dapat membabat putus senjata-senjata lawan yang terbuat dari besi atau baja, kini tidak mampu memecahkan kepala ular yang memilikl kekebalan itu. Ini aneh, luar biasa sekali! Hampir Cun Giok tidak percaya sehingga sejenak dia mengamati pedangnya dan menjadi lengah.

“Awas, Giok-ko!” Ceng Ceng berseru namun terlambat.

Ekor ular yang panjang itu telah membelit-belit tubuh Cun Giok. Pemuda ini terkejut namun sebelum dia sempat menggerakkan kedua tangannya, tubuh ular yang besar dan panjang itu telah membelit kedua lengannya sehingga menempel pada tubuhnya dan tidak dapat digerakkan lagi! Cun Giok berusaha membebaskan diri, namun sia-sia. Dia mengerahkan sin-kang, namun tubuh ular itu ulet dan dapat melar sehingga tenaga dalamnya juga tidak mampu membuat ular itu mengendurkan libatan tubuhnya. Padahal, ular itu kini sudah mendekatkan moncongnya pada kepala Cun Giok, siap untuk mencaplok kepala itu!

Sejak tadi Ceng Ceng yang merasa jijik dan geli melihat ular besar itu, hanya berdiri menjauh. Akan tetapi kini melihat Cun Giok terancam bahaya, ia cepat melompat ke depan dan dua kali tangan kanannya menggerakkan tongkat menusuk ke arah mata ular yang hendak mencaplok kepala Cun Giok itu.

“Cres! Cres!” Darah mengucur dari sepasang mata ular yang agaknya kesakitan sekali sehingga libatan tubuhnya pada Cun Giok mengendur. Kesempatan ini dipergunakan oleh Cun Giok untuk meronta lepas dan dia cepat menggerakkan pedangnya, sekali ini yang dijadikan sasaran adalah leher ular itu.

“Crakk!” Sekali sabet saja, leher ular itu putus! Tubuh yang panjang menggeliat dan melingkar-lingkar.

Cun Giok menggunakan kakinya untuk menendang tubuh ular itu keluar guha. Dengan menahan kejijikannya, Ceng Ceng menggunakan tongkatnya untuk mencokel dan melempar keluar kepala ular itu.

“Tahan Ceng-moi...!” seru Cun Giok menahan.

Ceng Ceng mengurungkan niatnya dan memandang Cun Giok dengan heran. Cun Giok memperhatikan kepala ular itu lalu berkata kepada Ceng Ceng. “Lihat, Ceng-moi. Ular itu sudah mati akan tetapi kepalanya masih mengeluarkan cahaya kehijauan! Yang lebih hebat, pedangku tadi tidak dapat melukai kepala ular itu! Kukira tentu ada sesuatu di dalam kepala ular itu!”

Ceng Ceng terbelalak. “Aih, aku teringat, Giok-ko. Dulu pernah Suhu Im-yang Yok-sian bercerita bahwa ada sebuah benda yang disebut Liong-cu-giok (Batu Kemala Mestika Naga), semacam batu giok langka yang bisa terdapat dalam kepala ular yang sudah ratusan tahun umurnya!”

“Wah, kalau benar ada kemala mustika seperti itu, alangkah beruntungnya kita.”

Cun Giok lalu berjongkok memeriksa kepala ular. Dilihatnya sepasang mata yang sudah terluka oleh tusukan tongkat Ceng Ceng itu pun sudah kehilangan sinar hijaunya yang tadi mencorong ketika ular itu masih hidup. Akan tetapi kepalanya masih mengeluarkan cahaya seperti tadi. Dengan hati-hati, menggunakan pedangnya, dia menoreh kulit kepala ular. Ternyata kulit itu dapat terkelupas, menandakan bahwa setelah ular itu mati, kepalanya kehilangan kekebalannya. Dengan hati-hati dia membelah kepala ular itu dan tampaklah sebuah benda sebesar telur ayam, mengkilap dan mencorong mengeluarkan cahaya kehijauan...!

Thanks for reading Harta Karun Kerajaan Sung Jilid 35 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »