Pendekar Tanpa Bayangan Jilid 55

55: LOLOS DARI KAWANAN IBLIS

"Biarkan pergi, tidak ada gunanya lagi!" kata Cui-beng Kui-ong.

"Tapi aku harus membunuh si keparat Pouw Cun Giok!" kata Kong Sek dan dia segera berlari cepat meninggalkan tempat itu untuk mengejar musuh besarnya.

Kim Bayan masih terus membantu dua orang kakek dan nenek itu mencari harta karun. Setelah guha besar diporak-porandakan dan mereka tidak menemukan apa-apa, mereka lalu mencari di guha-guha lainnya yang berada di lereng itu. Mereka mencari dengan teliti, dengan hati tegang seperti yang dialami semua orang yang mencari harta karun dan yang mengharapkan setiap saat akan menemukannya!

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Dengan mengerahkan gin-kang mereka, Ceng Ceng dan Cun Giok berlari cepat sekali mendaki bukit itu. Mereka telah mengenal jalan ketika tadi turun menuju ke tempat penyimpanan harta karun sehingga kini dapat menuju ke puncak tanpa ragu lagi. Setelah memasuki perkampungan anak buah Bukit Sorga, tiba-tiba saja bermunculan sembilan orang laki-laki tinggi besar yang berpakaian serba putih. Mereka berjalan dengan kaku namun cepat sekali dan tahu-tahu sembilan orang itu telah membuat lingkaran mengepung Ceng Ceng dan Cun Giok.

Dua orang muda itu memandang dan mereka terkejut dan merasa ngeri. Mereka itu berujud manusia, namun muka mereka pucat tanpa darah seperti muka mayat dan pandang mata mereka kosong! Ketika sembilan orang itu mengangkat kedua tangan mereka yang tadinya bergantung sehingga gerakan mereka tampak kaku, Cun Giok melihat bahwa jari-jari tangan mereka memiliki kuku yang tebal panjang dan runcing.

"Nanti dulu, sobat-sobat!" Cun Giok berkata kepada mereka, tidak tahu mana yang menjadi petnimpin karena mereka sama semua. "Jangan salah sangka. Kami berdua adalah tamu-tamu dari Cui-beng Kui-ong! Kami bukan musuh."

Sembilan orang atau sembilan mahluk itu mengeluarkan suara dan sikap mereka mengancam. Mereka mulai bergerak melangkah kaku dan mengitari dua orang muda itu sambil mengeluarkan suara ah-uh-ah-uh. Mereka terkadang mengadu kedua tangan sendiri dan ketika kuku-kuku jari tangan itu saling beradu terdengar suara berdenting dan bunga api berpijar-pijar! Seolah-olah yang diadukan itu bukan kuku, melainkan ujung-ujung pedang yang ampuh!

"Hati-hati, Ceng-moi. Mereka ini tangguh dan berbahaya!" kata Cun Giok yang kembali merasa kagum karena gadis itu tampak tenang saja. Memang Ceng Ceng selalu dapat bersikap tenang walaupun pada saat itu ia tahu benar betapa lihainya sembilan orang mahluk itu. Tadi ia sudah mengambil sepotong kayu yang akan dijadikan senjata pelindung diri.

Cun Giok tanpa ragu lagi mencabut pedangnya karena dia melihat betapa sembilan orang mahluk itu sama sekali tidak menghiraukan, atau mungkin tidak mengerti apa yang dia ucapkan. Dengan pedang di tangan dia siap membela diri sendiri dan membela Ceng Ceng.

Tiba-tiba sembilan orang mayat hidup itu berhenti bergerak mengitari mereka dan mulut mereka mengeluarkan suara seperti orang yang dicekik lehernya, tangan kiri mereka menunjuk ke arah Ceng Ceng dan Cun Giok dan... sembilan sinar hitam meluncur seperti anak panah menyambar tubuh dua orang muda itu! Cun Giok yang sejak tadi memandang dan mengamati penuh perhatian tidak melihat mereka mengambil senjata rahasia, maka tahulah dia bahwa yang menyambar itu adalah senjata rahasia lembut yang agaknya sudah tersembunyi di dalam kuku-kuku runcing itu!

"Trang-trang-trik-trik-trik...!"

Pedang Cun Giok dan tongkat Ceng Ceng menangkis runtuh jarum-jarum panjang itu dan sebagian lagi mereka elakkan sehingga jarum-jarum itu meluncur lewat dan mengenai tubuh seorang mayat hidup yang berada di tempat berlawanan! Anehnya, biarpun ada yang terkena jarum kawan sendiri itu di lehernya atau dadanya, mereka seperti tidak merasakan dan jarum-jarum itu mengeluarkan bunyi berdenting seperti mengenai dinding baja!

Akan tetapi, sembilan orang mayat hidup itu masih melanjutkan serangan mereka menggunakan jarum-jarum itu. Kini mereka bergerak lagi mengitari dua orang muda yang selalu waspada itu dan mereka menyerang lagi dengan jarum-jarum mereka. Bukan hanya sekali, melainkan bertubi-tubi dari kuku jari tangan kiri mereka.

Ceng Ceng dan Cun Giok terpaksa mengerahkan gin-kang mereka dan tubuh mereka berkelebatan. Bahkan tubuh Cun Giok seolah-olah lenyap dan inilah yang membuat dia dijuluki Pendekar Tanpa Bayangan. Ceng Ceng juga berkelebatan mengelak dan tubuhnya berubah menjadi bayangan putih, sesuai dengan julukannya, yaitu Pek-eng Sian-li (Dewi Bayangan Putih).

Biarpun kecepatan gerakan mereka tidak dapat diikuti sembilan orang mayat hidup itu, dan mereka menyerang secara ngawur saja, namun karena serangan itu bertubi-tubi, tetap saja Cun Giok dan Ceng Ceng harus menggunakan pedang dan tongkat mereka yang diputar demikian cepatnya sehingga sinar kedua senjata itu seolah berubah menjadi sinar yang menyelimuti mereka dan menangkis jarum yang menyambar.

Kiranya masing-masing mayat hidup menyimpan lima batang jarum dalam kuku jari tangan kiri mereka. Setelah semua jarum dilepaskan habis dan tidak sebatang pun mengenai dua orang muda itu, lima orang mayat hidup itu mengeluarkan suara seperti ringkik kuda dan kepungan mereka merapat lalu mereka mulai menyerang dengan kuku-kuku panjang kedua tangannya! Gerakan mereka kaku akan tetapi cepat sekali dan mengandung tenaga kuat. Ceng Ceng dan Cun Giok menghadapi pengeroyokan mahluk-mahluk aneh itu dengan gerakan yang cepat, mengelak dan membalas secepat kilat.

"Tak-tak-tuk-tuk...!"

Pemuda dan gadis perkasa itu terkejut bukan main. Pedang Kim-kong-kiam di tangan Cun Giok itu mental ketika membacok atau menusuk tubuh mayat-mayat hidup itu! Seolah bertemu dengan baja yang kuat sekali. Demikian pula semua totokan tongkat Ceng Ceng yang biasanya selalu dapat menotok jalan darah lawan dan membuatnya lumpuh, kini sama sekali tidak ada hasilnya, seolah ia hanya menotok gumpalan baja yang kuat dan tidak memiliki jalan darah!

"Serang matanya!" Cun Giok berseru kepada Ceng Ceng. Dia sendiri lalu menggerakkan pedangnya dengan cepat, menusuk mata kanan seorang mayat hidup.

Pedang itu menancap ke dalam rongga mata, akan tetapi ketika dicabut, tidak ada darah keluar dan begitu mayat hidup itu menggunakan tangan mengusap matanya yang terluka, mata itu pulih kembali. Demikian pula dengan Ceng Ceng. Ujung tongkatnya memang dapat menusuk mata lawan, akan tetapi tidak menghasilkan apa-apa, seolah yang ditusuk tidak merasakan sesuatu.

Biarpun semua tusukan yang mengenai mata itu tidak membuat para mayat hidup terluka apalagi roboh, setidaknya membuat mereka agak repot dan memperlambat pengeroyokan mereka yang liar dan buas. Tiba-tiba terdengar mereka melengking dan dari mulut mereka keluar uap hitam yang membuat kepala menjadi pening karena uap hitam itu berbau mayat yang sudah membusuk! Ceng Ceng cepat mengambil sebutir pel berwarna hijau dan menyerahkannya kepada Cun Giok.

"Kulum pel ini!" Ia sendiri juga memasukkan sebutir pel ke dalam mulut dan mengulumnya. Ketika Cun Giok mengulum pel itu, ia merasa betapa pel itu menyengat rongga mulut dan hidungnya sehingga bau busuk dari mayat-mayat hidup itu tidak terasa oleh penciumannya yang dipenuhi bau harum yang kuat. Kepeningannya hilang dan kembali dia bersama Ceng Ceng mengamuk, menyerang ke arah mata para mayat hidup itu yang tidak kebal, walaupun juga hasilnya tidak banyak.

Mulailah mereka mencari-cari kesempatan untuk melepaskan diri dari kepungan sembilan orang mayat hidup itu. Tentu saja mereka tidak bermaksud melarikan diri sebelum dapat membebaskan Li Hong yang tertawan. Akan tetapi kalau mayat-mayat hidup ini demikian lihai, akan memperlambat usaha mereka membebaskan Li Hong dan kalau sampai Cui-beng Kui-ong, Song-bun Moli, Kim Bayan dan Kong Sek datang, mereka berdua tidak saja mustahil untuk membebaskan Li Hong, bahkan mereka sendiri akan terancam bahaya besar.

Tiba-tiba terdengar bentakan suara wanita yang melengking-lengking dan tampak Li Hong keluar dari gedung, dikejar sedikitnya tigapuluh orang anak buah Bukit Sorga yang berpakaian serba hitam. Ternyata Li Hong yang seperti kita ketahui hanya berpura-pura saja menyerah dan bersekutu membantu Kim Bayan karena melihat sikap Ceng Ceng yang mati-matian membelanya itu lenyap semua kebenciannya terhadap Ceng Ceng dan datang kembali kesadarannya dan wataknya yang gagah.

Ketika mendengar Ceng Ceng dan Cun Giok dikeroyok Kiu-kui-tin (Barisan Sembilan Iblis) yang terdiri dari sembilan orang mayat hidup, segera berlari keluar, diikuti puluhan anak buah Bukit Sorga yang mengira gadis itu hendak ikut mengeroyok Ceng Ceng dan Cun Giok! Para anak buah itu menganggap bahwa Li Hong adalah sekutu yang membantu majikan mereka. Setelah dekat dan melihat betapa Ceng Ceng dan Cun Giok kewalahan menghadapi pengeroyokan sembilan orang mayat hidup itu Li Hong segera berseru nyaring.

"Pouw-twako dan Ceng Ceng! Serang sambungan tulang kaki dan lengan mereka!" Setelah berkata demikian, ia menyerbu dengan Ban-tok-kiam yang bersinar hijau. Begitu ia menyerang, pedangnya itu membabat ke arah lutut seorang mayat hidup.

"Crakkk!" Sambungan lutut itu terbabat dan putus! Akan tetapi dengan sebelah kaki saja, mayat hidup itu berloncatan dan menyerang Li Hong sambil mengeluarkan suara menjerit-jerit.

Li Hong menggerakkan pedangnya lagi dan sambungan lutut kaki yang tinggal satu itu pun buntung. Mayat hidup tanpa kedua kakinya itu masih menggerakkan kedua tangan hendak mencengkeram sambil bergulingan akan tetapi dua kali Ban-tok-kiam menyambar dan sambungan siku mayat hidup itu pun menjadi buntung! Biarpun tinggal badan dan kepala tanpa kaki tangan lagi, mayat hidup itu masih bergulingan akan tetapi tidak berbahaya lagi.

Melihat ini, Cun Giok dan Ceng Ceng girang sekali dan mereka segera meniru cara menyerang Li Hong itu sehingga mayat-mayat hidup itu kini bergelimpangan dengan kaki atau tangan buntung!

"Pengkhianat!" terdengar teriakan marah dan Kong Sek yang baru tiba di situ segera menyerang Li Hong dengan pedangnya.

"Trang! Cringg!"

Li Hong menangkis dua kali sambil mengerahkan tenaganya sehingga Kong Sek terpaksa mundur karena merasa betapa lengannya tergetar hebat dan sinar hijau pedang gadis itu sudah meluncur untuk membalas serangannya.

"Hi-hik-hik, Kong Sek, orang macam engkau ini hendak membunuh Twako Pouw Cun Giok? Melawan aku pun akan roboh tanpa kepala!" Li Hong mengejek dan mereka segera terlibat dalam pertandingan yang amat seru. Akan tetapi, para anak buah Bukit Sorga yang tadinya heran dan bingung melihat betapa Li Hong berbalik membantu musuh, sudah mengepung dan maju mengeroyok!

"Ceng-moi, bantulah Li Hong!" kata Cun Giok.

Melihat betapa kini para mayat hidup itu tidak perlu ditakuti lagi, karena enam orang di antaranya telah menggeletak tak berdaya dengan kedua kaki buntung, sedangkan ia yakin Cun Giok akan mampu merobohkan yang tiga orang lagi karena sudah mengetahui rahasia kelemahan mereka, sedangkan Li Hong kini yang repot dikeroyok oleh Kong Sek dan puluhan orang anak buah Bukit Sorga.

Ceng Ceng segera melompat dan berkelebat ke arah Li Hong dan segera mengamuk. Empat orang roboh begitu terkena totokan tongkatnya. Dua orang gadis ini mengamuk sehingga anak buah Bukit Sorga menjadi gentar karena sebentar saja tidak kurang dari duabelas orang rekan mereka telah roboh! Kong Sek juga menjadi jerih menghadapi dua orang gadis perkasa ini.

Setelah merobohkan sisa mayat hidup yang tinggal tiga orang itu, Cun Giok lalu berseru kepada dua orang gadis yang kini menghadapi pengeroyokan lebih banyak anak buah Bukit Sorga yang sudah berbondong-bondong datang.

"Ceng-moi! Hong-moi! Mari kita pergi sebelum bahaya yang lebih besar datang!"

Ceng Ceng dan Li Hong mengerti apa yang dimaksudkan Cun Giok. Kalau sepasang kakek nenek iblis itu dan Kim Bayan muncul, kiranya akan sulit sekali bagi mereka untuk dapat meloloskan diri. Dengan menggunakan gin-kang mereka yang tinggi, tiga orang itu berkelebat dan berlompatan keluar dari kepungan, lalu berlari cepat seperti terbang menuruni Bukit Sorga.

Kong Sek tidak berani mengejar karena menghadapi Li Hong seorang saja akan sukar baginya untuk menang, apalagi menghadapi mereka bertiga! Anak buah Bukit Sorga mencoba untuk mengejar, akan tetapi mereka tertinggal jauh karena kecepatan lari mereka tidak mungkin mengejar ilmu berlari cepat yang dilakukan tiga orang muda perkasa itu.

Terpaksa Kong Sek kembali ke gedung dan duduk termenung dengan hati kecewa sekali. Pouw Cun Giok sudah berada di tangan untuk ke dua kalinya, akan tetapi lolos dari pembalasan dendamnya!

Pertama, ketika gurunya, Bu-tek Sin-liong Cu Liong dapat menangkap Pouw Cun Giok tanpa melawan dan menyerahkan Cun Giok kepadanya untuk dibawa ke pengadilan kota raja dengan tangan diborgol. Di tengah jalan, dia akan dapat membunuh musuh besarnya itu dengan mudah, akan tetapi muncul sumoinya, Pek-hwa Sianli Cu Ai Yin puteri gurunya yang membela Cun Giok sehingga musuh besarnya itu lolos dari tangannya.

Sekarang, setelah Cun Giok berada di Bukit Sorga dan kalau saja Cui-beng Kui-ong dan Song-bun Moli mau membantunya tentu Cun Giok akan dapat dibunuh dengan mudahnya. Akan tetapi sepasang kakek nenek itu begitu tergila-gila mengejar harta karun sehingga mengabaikan penjagaan terhadap Cun Giok dan akibatnya, kembali Cun Giok dapat meloloskan diri!

Tak lama kemudian, Cui-beng Kui-ong, Song-bun Moli, dan Kim Bayan datang ke perkampungan itu dengan wajah cemberut. Kim Bayan yang bertubuh tinggi besar dan selalu tampak gagah itu kini wajahnya muram alisnya berkerut dan tubuhnya tampak loyo karena menderita kekecewaan berat dan penasaran.

Akan tetapi yang paling marah adalah Cui-beng Kui-ong dan Song-bun Moli. Kemarahan mereka itu bertambah beberapa lipat ketika melihat Kiu-Kui-tin barisan sembilan mayat hidup itu berserakan tak berdaya dengan semua kaki mereka buntung terlepas sambungan lututnya dan ada pula yang juga kehilangan lengan yang buntung sebatas siku! Mereka itu masih hidup akan tetapi tidak dapat berbuat apa-apa lagi! Bukan hanya itu, mereka juga banyak anak buah yang tewas dan terluka. Apalagi ketika mendengar bahwa Pouw Cun Giok dan Ceng Ceng lolos dibantu oleh Li Hong yang berkhianat, kemarahan mereka memuncak.

Kakek dan nenek itu mengeluarkan teriakan-teriakan memanjang yang aneh dan mengerikan, dan wajah mereka memang sudah buruk itu kini berkerut-kerut sehingga tampak mengerikan akan tetapi juga lucu. Saking marahnya, Cui-beng Kui-ong seketika membunuh duabelas orang anak buah yang tadinya diserahi tugas menjaga Li Hong. Juga dia membasmi sisa sembilan mayat hidup buatannya dengan membakar mereka menjadi abu!

"Panglima Kim Bayan, engkau juga seorang yang brengsek dan goblok, mengatur siasat yang hanya mendatangkan kegagalan! Coba engkau tidak mencegah Kong Sek membunuh Pouw Cun Giok, tentu dia sudah mati dan mereka tidak begitu kuat lagi dan tidak mungkin dapat lolos! Engkau panglima yang bodoh!"

Wajah Panglima Kim Bayan sebentar pucat sebentar merah. Dia adalah seorang panglima yang dipercaya oleh Kaisar, kedudukannya tinggi dan semua orang menghormatinya. Akan tetapi di sini dia dicaci maki, disebut brengsek, bodoh dan goblok! Akan tetapi karena maklum bahwa dia seorang diri tidak akan mampu mengalahkan kakek itu, dia diam saja, bahkan lalu menjura dan berpamit, Cui-beng Kui-ong tidak menjawab dan juga diam saja ketika Panglima Kim Bayan meninggalkan tempat itu dengan hati mengkal, panas dan marah karena telah dihina.

Tiba-tiba Song-bun Moli tertawa dengan suara tawanya yang setengah menangis. "Hi-hik-hu-hu-huu! Engkau juga seorang tua bangka tolol, Kui-ong! Bagaimana mau mengaku hebat kalau orang setua engkau masih dapat dikibuli anak-anak seperti mereka! Engkau diajak ke tempat kosong, hi-hi-hik!"

Cui-beng Kui-ong melototkan matanya. "Mo-li, nenek bawel dan cerewet! Engkaulah yang tolol, engkau yang goblok. Aku sudah akan membunuh Tan Li Hong, engkau mencegah dan mengambilnya sebagai murid! Sekarang engkau tahu rasa, ditipu bocah yang kauangkat murid itu. Engkau harus malu dan menampari muka sendiri!"

Kong Sek yang maklum bahwa kalau dia ingin berhasil membalas dendam kepada Pouw Cun Giok, dia harus mendekati kakek dan nenek yang amat sakti ini untuk membantunya atau setidaknya untuk mempelajari ilmu yang tinggi dari mereka. Maka, melihat mereka kini saling maki dan tampak marah, dia lalu melerai dengan mengangkat kedua tangan depan dada lalu berkata dengan hormat.

"Subo dan Suhu harap tidak bertengkar. Dipertengkarkan juga tidak ada gunanya. Pouw Cun Giok, Liu Ceng Ceng dan Tan Li Hong sudah melarikan diri. Memang hal ini menjengkelkan, akan tetapi saya kira Ceng Ceng tidak menipu kita dengan peta itu. Menurut perkiraan saya, peta itu memang aseli dan buktinya memang benar dapat menemukan tempat disimpannya harta karun oleh mendiang Thaikam Bong. Bukit ini memang dekat dengan kota raja, maka sudah tepat kalau dijadikan tempat menyembunyikan harta itu"

"Akan tetapi peti yang tertanam di situ kosong!" Song-bun Moli semakin marah. "Keparat orang-orang muda itu, telah berani menipu kita!"

"Saya kira Liu Ceng Ceng itu juga tidak tahu bahwa peti harta itu kosong, Subo. Kalau ia sudah tahu, untuk apa ia mengajak kita ke sana? Tidak ada untungnya bagi gadis itu. Sekarang, yang paling penting, kita harus jangan sampai didahului mereka karena mereka pasti akan mencari harta karun itu"

"Hemm, masuk di akal juga ucapan bocah ini," kata Cui-beng Kui-ong. "Akan tetapi ke mana lagi mencari harta karun itu? Aku ingin sekali menangkap mereka yang telah membunuh Kiu-kui-tin yang dengan susah payah kubikin!"

"Kalau menurut peta yang telah kita miliki, tidak ada petunjuk lain. Akan tetapi dalam peti itu ada tulisan huruf THAI-SAN, ini berarti bahwa tentu hilangnya harta karun itu ada hubungannya dengan Thai-san atau setidaknya, yang mengambilnya mempunyai hubungan dengan Thai-san. Orang itu pasti seorang vang sombong sekali sehingga setelah herhasil mengambil harta karun, dia meninggalkan huruf Thai-san seolah memberitahu dari mana dia berasal dan menantang orang untuk merampasnya kembali kalau berani!"

Kakek dan nenek itu seolah lupa akan kebiasaan mereka tertawa-tawa aneh. Mereka berdua masih marah sekali karena selain harta karun tak dapat ditemukan, juga tiga orang muda itu lolos, banyak anak buah Bukit Sorga tewas, barisan Kiu-kui-tin terbasmi dan Song-bun Moli kehilangan Li Hong, murid baru yang ternyata berkhianat itu...!


Thanks for reading Pendekar Tanpa Bayangan Jilid 55 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »