Pendekar Tanpa Bayangan Jilid 54

54: HARTA KARUNG ATAU PETI KOSONG

PAMAN Kim, mengapa Pouw Cun Giok itu dibiarkan hidup? Aku ingin dia diserahkan padaku agar dapat kupenggal kepalanya dan kucabut jantungnya untuk sembahyang kepada arwah ayahku! Serahkan dia kepadaku, Paman!" kata Kong Sek dengan muka merah dan mata bersinar-sinar. Pemuda ini menaruh dendam sakit hati kepada Pouw Cun Giok yang telah membunuh ayahnya, yaitu Panglima Kong Tek Kok.

Kim Bayan tertawa. "Ha-ha, orang muda selalu menuruti perasaan saja kurang mempergunakan akal. Lihat, aku menggunakan akal dan buktinya, kita bisa mendapatkan peta tanpa banyak susah payah. Kalau sekarang mereka dibunuh sekadar menuruti kemarahanmu dan kemarahan Li Hong, mungkin kita akan rugi besar."

"Akan tetapi bukankah peta sudah berada di tangan kita?" bantah Kong Sek. "Mereka tidak ada gunanya lagi dan kalau tidak segera dibunuh, mereka mendapat kesempatan untuk meloloskan diri! Bukankah hal itu amat merugikan kita?"

"Itulah kalau orang muda hanya mempergunakan emosinya, tidak mempergunakan akal pikirannya. Kong-kongcu (Tuan Muda Kong), sekarang aku ingin bertanya kepadamu. Bagaimana kalau nanti setelah kita menemukan tempat harta karun menurut peta, ternyata harta karun itu tidak ada. Mungkin saja peta ituù adalah peta palsu yang sengaja dibuat gadis puteri bekas Panglima Liu itu. Nah, apakah sekarang engkau juga masih bernapsu besar untuk segera membunuh dua orang itu?"

Mendengar alasan yang dikemukakan Kim Bayan itu kuat sekali dan memang tentu saja ada kemungkinan mereka mendapatkan peta palsu, Kong Sek mengerutkan alisnya dan menghela napas panjang. Sebetulnya dia sudah tidak sabar lagi menanti, khawatir kalau-kalau Cun Giok yang Iihai itu akan terlepas lagi. Akan tetapi pada saat itu Li Hong berkata dengan nada suara tegas.

"Benar sekali apa yang dikatakan Panglima Kim tadi! Mereka tidak boleh dibunuh sekarang. Harta karun itu harus ditemukan terlebih dulu agar jerih payah kita tidak sia-sia. Bahkan aku mengusulkan agar mereka berdua itu diajak bersama-sama mencari harta karun karena mungkin mereka lebih mengetahui di mana tempat persembunyian harta karun menurut peta itu."

"Aku tidak setuju!" Kong Sek berkata penasaran. Dia tadinya memang kagum dan tertarik oleh kecantikan Li Hong, akan tetapi mendengar usul tadi dia segera menentangnya. "Mengajak mereka bersama-sama mencari harta karun, sama saja dengan memberi peluang kepada mereka untuk membebaskan dan melarikan diri."

"Heh-heh, agaknya Kong-kongcu lupa akan siasatku yang ampuh tadi, yang telah berhasil membuat mereka menyerah dan memberikan peta kepada kita. Selama Nona Li Hong bersandiwara menjadi tangkapan dan sandera kita, jangan takut. Aku yakin mereka tidak akan melarikan diri dan meninggalkan Nona Tan. Mereka percaya bahwa kalau mereka berdua pergi, Nona Tan pasti kita bunuh!"

"Tepat sekali ucapan Kim-ciangkun (Panglima Kim) itu. Agar mereka tidak curiga, sebaiknya kalian ajak mereka mencari harta karun dan tinggalkan aku di sini dalam keadaan terjaga ketat, terbelenggu dan terancam. Perlihatkan keadaanku kepada mereka sehingga mereka akan selalu tunduk dan menyerah. Nah, kalau mereka sudah mau diajak mencari harta karun bersama dengan ancaman kalau mereka memberontak aku akan dibunuh kukira tempat persembunyian itu akan dapat ditemukan. Kalau sudah ditemukan, barulah kita membunuh mereka."

Semua orang setuju dengan usul yang dikemukakan Li Hong, bahkan Kong Sek juga setuju. Memang bagi dia, ditemukan atau tidaknya harta karun tidak ada artinya. Dia sudah cukup kaya karena warisan yang ditinggalkan Panglima Kong Tek Kong kepadanya cukup besar. Yang paling penting baginya adalah membalas dendam kematian ayahnya itu. Tentu saja kalau dapat, dia ingin membunuh Pouw Cun Giok sekarang juga.

Akan tetapi dia harus bersabar, tidak berani dia menentang Kim Bayan, apalagi menentang Cui-beng Kui-ong dan Song Bun Mo-li. Dia harus bersabar karena bagaimanapun juga usul Li Hong tadi benar. Pouw Cun Giok tidak akan dapat melarikan diri selama Li Hong menjadi sandera mereka. Pula, kalau sampai harta karun itu bisa didapatkan dan diserahkan kepada Kaisar, hal itu berarti merupakan jasa besar bagi mereka dan tentu mereka akan mendapat imbalan jasa yang besar pula dari Kaisar.

Demikianlah, setelah membuat persiapan dengan mengajak duabelas orang anak buah berpakaian hitam yang disuruh membawa peralatan menggali seperti cangkul, linggis, dan lain-lain, berangkatlah rombongan itu yang terdiri dari Cui-beng Kui-ong, Song-bun Moli, Kim Bayan, dan Kong Sek. Ceng Ceng dan Cun Giok terpaksa menyatakan setuju ketika mereka diminta untuk membantu mereka mencari harta karun itu.

Sesungguhnya. Cun Giok tidak rela melihat Ceng Ceng menyerahkan harta karun kepada orang-orang Kerajaan Mongol itu. Bagi dia, harta karun itu seharusnya diserahkan kepada yang berhak, yaitu para pejuang yang kelak hendak bangkit dan menentang pemerintah Mongol. Ceng Ceng yang menyerah hanya untuk melindungi Li Hong yang liar, membuat dia merasa penasaran. Akan tetapi karena Ceng Ceng berkeras hendak menyelamatkan Li Hong dengan berkorban menyerahkan peta harta karun, dia pun tidak dapat menolak. Dia tidak mungkin dapat menentang kehendak Ceng Ceng yang dia tahu muncul dari hati yang tulus dan penuh belas kasih!

Sebelum berangkat, sesuai dengan siasat yang diusulkan Li Hong, Ceng Ceng dan Cun Giok diajak ke belakang dan mereka berdua diberi kesempatan melihat Li Hong berada dalam sebuah kamar yang pintunya berterali besi, duduk di atas sebuah kursi dengan kaki tangan terbelenggu dan kamar itu dijaga belasan orang anak buah Bukit Sorga di bagian luarnya, bahkan dalam kamar itu terdapat dua orang anak buah yang bertubuh tinggi besar dan membawa golok telanjang, siap untuk membunuh Li Hong apabila gadis itu berani mencoba untuk meloloskan diri. Melihat Li Hong duduk membelakangi pintu dalam keadaan menyedihkan itu, Ceng Ceng mengerutkan alisnya dan berkata kepada Kim Bayan yang mengantar mereka menjenguk tempat tahanan itu.

"Kim-ciangkun, mengapa engkau melanggar janjimu?"

"Ah, aku tidak melanggar janji, Nona Liu Ceng. Bukankah sampai sekarang kami tidak membunuh Nona Tan Li Hong? Lihat, ia masih hidup!"

"Akan tetapi engkau memperlakukannya sebagai tawanan, dibelenggu seperti itu! Ceng Ceng memprotes.

"Kami hanya berjanji tidak akan membunuhnya. Kalau sekarang kami menjaganya dengan ketat, hal itu hanya agar ia tidak dapat melepaskan dan melarikan diri."

"Akan tetapi aku sudah menyerahkan peta harta karun. Semestinya Li Hong engkau bebaskan!"

"Hemm, yang kauserahkan hanya sehelai gambar. Kami tidak tahu apakah peta itu aseli ataukah palsu. Oleh karena itu, untuk sementara Nona Li Hong kami tawan. Kalian bantu kami mencari harta karun itu sampai dapat, barulah Nona Tan Li Hong dan kalian berdua kami bebaskan."

"Engkau curang!" Cun Giok membentak, akan tetapi Ceng Ceng cepat menyentuh lengan Cun Giok. Ia melihat betapa kemarahan Cun Giok membuat dua orang algojo yang berada di kamar tahanan itu mendekati Li Hong dan menempelkan golok di leher gadis tawanan itu.

"Baiklah, Panglima Kim Bayan. Kami akan membantumu mencari harta karun itu," kata pula Ceng Ceng dengan sikap dan suaranya yang tetap sabar dan tenang.

"Akan tetapi kalau sampai engkau melanggar janji, kami berdua akan mengamuk mati-matian!" kata Cun Giok yang hampir tak dapat menahan kemarahannya.

Kim Bayan tersenyum dan diam-diam dia mengagumi kecerdikan Li Hong yang mengatur siasat itu sehingga ternyata berhasil membuat Ceng Ceng dan Cun Giok tak berdaya dan suka membantunya mencari harta karun.

"Sekarang, marilah kita berangkat!" katanya dan mereka lalu keluar, di mana telah menanti Cui-beng Kui-ong, Song-bun Mo-1i, Kong Sek, dan selosin orang anak buah berpakaian hitam.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Di sepanjang perjalanan mencari harta karun itu, Cun Giok hanya diam saja. Hatinya bingung dan juga khawatir sekali. Yang membuat dia bingung adalah sikap Ceng Ceng. Baginya, sikap Ceng Ceng yang menyerah kepada musuh demi melindungi nyawa Li Hong, dan menyerahkan peta bahkan kini ikut membantu mereka mencari harta karun, sungguh dinilai terlalu baik hati sehingga menjadi sikap yang lemah dan bodoh.

Bagaimana mungkin orang-orang macam Cui-beng Kui-ong, Song-bun Moli, Kim Bayan, dan Kong Sek dapat dipercaya? Mereka pasti tidak akan menetapi janji. Kalau harta karun itu akhirnya mereka dapatkan, Li Hong, Ceng Ceng dan dia sendiri pasti juga akan dibunuh mereka! Dan yang dia paling khawatirkan adalah keselamatan Ceng Ceng.

Gadis yang berhati mulia dan yang amat dia kasihi itu tidak boleh mati terbunuh. Biarlah andaikata dia dan Li Hong terbunuh, akan tetapi Ceng Ceng harus dapat diselamatkan! Akan tetapi agaknya Ceng Ceng berpikir sebaliknya. Gadis itu memiliki watak seperti Kwan Im Pouwsat, Sang Dewi Belas Kasih, yang rela mengorbankan diri sendiri demi keselamatan orang lain!

Yang membuat hati Cun Giok diam-diam merasa penasaran dan marah kepada Kim Bayan dan kawan-kawannya adalah melihat betapa Ceng Ceng bersungguh-sungguh membantu mereka mencari harta karun! Dia tahu bahwa gadis yang baik budi ini ingin segera dapat membebaskan Li Hong. Maka begitu mereka berangkat, langsung saja Ceng Ceng memberitahu tentang perkiraannya di mana tempat harta karun seperti ditunjukkan dalam peta. Ia mengatakan bahwa menurut perkiraannya, harta karun itu tersimpan di dalam sebuah guha yang terletak di lereng bukit itu.

"Apa?" Cui-beng Kui-ong berkata sambil membelalakkan matanya. "Harta karun itu berada di bukit milikku ini?"

"Bagaimana engkau dapat menduga demikian, Nona Liu?" tanya Kim Bayan, hampir tidak percaya.

Ceng Ceng mengajak mereka melihat peta itu. Setelah membentangkan peta, ia berkata, "Lihatlah, gambar naga dan burung Hong itu jelas menunjukkan tempat Kaisar yang tentu saja kota raja Peking. Lingkaran itu berada di tengah lukisan bukit dan bulatan itu menandakan adanya guha. Menurut perkiraanku, bukit yang berada dekat sebelah selatan kota raja adalah bukit ini. Maka sebaiknya kita mencari sebuah guha di lereng pertengahan gunung atau bukit ini. Kalau ternyata perkiraanku keliru, terserah kalian hendak mencari ke mana."

"Hak-hak-hak, bagus sekali! Bukit Sorga ini pemberian Kaisar sendiri kepadaku, berarti bukit ini adalah milikku dan semua yang berada di bukit ini adalah hak milikku! Hak-hak-hak!" Cui-beng Kui-ong tertawa senang.

Diam-diam Kim Bayan mengerutkan alisnya, apalagi ketika melihat betapa Song-bun Moli juga tertawa dan tampak senang sekali mendengar ucapan kakak seperguruannya itu. Tidak mungkin rasanya bagi dia untuk menentang dua orang sakti itu. Akan tetapi kalau harta karun itu diambil oleh mereka berdua, lalu dia mendapatkan apa?

Padahal dialah yang telah berusaha keras untuk merampas peta dari tangan Panglima Liu Bok Eng, kemudian dari tangan Ceng Ceng yang mewarisinya. Cui-beng Kui-ong dan Song-bun Moli hanya dimintai bantuannya saja! Sudah sepatutnya kalau dia yang mendapat imbalan jasa.

Kalau harta itu terjatuh ke tangannya, dia mempunyai dua pilihan yang sama-sama menguntungkan. Pertama, kalau dia memiliki sendiri, dia akan menjadi kaya raya. Kalau dia menyerahkannya kepada Kaisar, berarti dia berjasa besar dan tentu mendapat balas jasa berupa pangkat yang lebih tinggi lagi! Akan tetapi bagaimana kalau harta itu terjatuh ke tangan dua orang sakti itu? Dia tidak akan memperoleh apa-apa. Merampas dari tangan mereka tidak mungkin dan melaporkan kepada Kaisar juga percuma karena Cui-beng Kui-ong juga berjasa besar bagi Bangsa Mongol dan disegani oleh Kaisar!

Maka, Kim Bayan menjadi murung ketika mereka mencari-cari guha itu. Tiba-tiba seorang anak buah Bukit Sorga mendekati Cui-beng Kui-ong, memberi hormat dan berkata dengan lantang. "Ong-ya, saya pernah melakukan perondaan di sekitar lereng bukit dan melihat bahwa di lereng tengah sebelah selatan terdapat bagian bukit yang berdinding batu panjang dan di sana terdapat beberapa buah guha."

Mendengar ini, Cui-beng Kui-ong yang disebut Ong-ya oleh anak buahnya, sebutan bagi seorang raja, tertawa terbahak-bahak dan mengajak mereka semua mencari guha di lereng sebelah selatan.

Kalau Cui-beng Kui-ong dan Song-bun Moli tertawa-tawa gembira, adalah Kim Bayan yang wajahnya menjadi semakin keruh dan muram. Diam-diam Kim Bayan berjalan mendekati Ceng Ceng dan Cun Giok dan setelah mendapat kesempatan karena kakek dan nenek iblis itu sudah berjalan mendahului sehingga terpisah agak jauh dan semua orang, termasuk Kong Sek, dengan hati tegang mencurahkan semua perhatian untuk menemukan guha itu, Kim Bayan berbisik kepada Ceng Ceng dan Cun Giok.

"Kalau kalian mau membantuku menghalangi kakek dan nenek itu menguasai harta karun, aku akan membebaskan kalian bertiga dan akan memberi bagian kalian dari harta karun itu."

Ceng Ceng dan Cun Giok saling pandang. "Maksudmu kami bertiga dengan Li Hong?" tanya Ceng Ceng.

"Tentu saja! Aku dapat mengguna, kekuasaan dan kedudukanku untuk membebaskan kalian bertiga."

"Caranya?" tanya Cun Giok.

"Caranya mudah. Kita harus bekerja sama. Nanti, kalau harta itu benar-benar sudah ditemukan, kalian berdua serang kakek dan nenek itu. Aku percaya kalian akan cukup kuat untuk membuat mereka kerepotan dan kesempatan itu kupergunakan untuk membawa lari dan menyelamatkan harta karun. Setelah itu, kalian boleh melarikan diri dan aku akan membebaskan Li Hong dari tempat tahanan sehingga kalian bertiga akan dapat melarikan diri."

"Akan tetapi bagaimana dengan Kong Sek?"

"Aku kira dia bukan halangan besar bagi kalian dan aku. Mungkin aku akan membunuhnya lebih dulu sebelum melarikan harta itu."

Ceng Ceng mengerutkan alisnya, akan tetapi Cun Giok sudah mengambil keputusan. "Sangat baik rencana itu! Kami setuju, Panglima Kim Bayan."

"Bagus, dan sekarang mari susul mereka."

Mereka lalu mengejar dan berjalan pula bersama kelompok itu yang amat bersemangat mencari harta karun, atau lebih, tepat mencari guha di mana diperkirakan harta karun itu tersimpan.

Akhirnya terdengar tawa Cui-beng Kui-ong yang berkakakan. Dia yang paling bersemangat selalu berada terdepan. Ketika mereka tiba di daerah berbatu di mana terdapat beberapa buah guha, Cui-beng Kui-ong mencari dan memeriksa setiap guha. Akhirnya dia menemukan guha yang berada di ujung timur, yang terbesar di antara guha-guha itu dan setelah melakukan pemeriksaan dengan teliti, dia mengeluarkan suara tawanya yang khas.

"Kak-kak-kak-kak! Aku telah menemukannya!

Semua orang berlarian menghampiri guha itu. Kakek itu sambil tertawa-tawa berkata, "Lihat, ketika kuperiksa dan kusingkirkan tanah yang menutupi lantai, terdapat ini. Tak salah lagi, di sini disimpannya harta karun itu. Hak-hak-hak-hak!"

"Hi-hi-hi-hik, sudah kubilang sejak dulu, engkau memang cerdik bukan main, Kui-ong!" Song-bun Moli juga tertawa dengan suara yang melengking aneh sehingga ketika dua suara tawa itu berbaur, semua orang bergidik karena campuran suara itu sama sekali bukan seperti tawa manusia, lebih pantas suara yang keluar dari lubang kubur, suara tawa setan dan iblis!

Kim Bayan mendekati Cun Giok. "Bersiaplah." katanya lirih.

Cun Giok menggelengkan kepalanya. "Lihat dulu buktinya," jawabnya dengan bisikan pula.

Kim Bayan mengangguk dan kini dia membantu duabelas orang anak buah Bukit Sorga yang memenuhi perintah Cui-beng Kui-ong melakukan pembersihan di lantai guha itu. Ketika sebuah batu bundar disingkirkan, di bawahnya terdapat sebuah batu besar dan di atas batu besar itu terdapat ukiran huruf BONG yang jelas sekali.

"Kak-kak-kak-kak, apa kataku? Inilah tempatnya, heh-heh! Siapa mengira jahanam Bong Thaikam itu menyembunyikan hartanya di sini, di bukit yang telah menjadi milikku! Kak-kak-kak, teruskan gali. Angkat batu itu!"

Ceng Ceng dan Cun Giok bertukar pandang. Memang tidak dapat diragukan lagi. Di situlah terpendam harta karun yang dulu merupakan hasil korupsi Thaikam Bong. Kini keduanya mulai khawatir. Kalau harta itu sudah ditemukan, apakah mereka boleh mengharap orang-orang pengejar harta itu benar-benar akan membebaskan mereka dan Li Hong? Bagaimana kalau mereka ingkar janji? Orang-orang hamba nafsu seperti mereka sungguh harus diragukan kejujurannya.

Cun Giok berbisik kepada Ceng Ceng. "Kita tunggu harta itu dikeluarkan. Mereka tentu akan bergembira dan lengah. Kita lari kembali ke sana dan membebaskan Li Hong lalu melarikan diri turun bukit."

Ceng Ceng mengangguk tanda setuju. Mereka lalu mendekat dan melihat betapa duabelas orang itu bersusah payah hendak menarik batu yang ada ukiran huruf BONG itu, Cun Giok segera maju dan berkata. "Biarkan aku yang menyingkirkan batu itu!" Hal ini dilakukan agar mereka semua percaya kepadanya dan menjadi lengah.

Dua belas orang anak buah yang kewalahan itu mundur dan memberi jalan kepada Cun Giok. Pemuda ini mengamati batu besar itu dan membungkuk, memegang kedua tepi batu yang lebarnya sekitar sepanjang lengan. Dia lalu mengerahkan seluruh tenaganya dan sekali berteriak dan menarik, dia berhasil mengangkat batu itu dan melemparkannya keluar guha. Duabelas orang anak buah berpakaian hitam itu bersorak ketika melihat bahwa di dalam lubang di bawah batu tadi terdapat sebuah peti hitam yang terukir indah berbentuk dua ekor naga!

Akan tetapi sorak-sorai duabelas orang itu segera terganti teriakan-teriakan mengaduh dan duabelas orang itu satu demi satu roboh terlempar dan tewas seketika! Kiranya Cui-beng Kui-ong dan Song-bun Moli mengamuk dan membunuhi anak buah sendiri. Tentu saja Kim Bayan dan Kong Sek terkejut bukan main dan mereka berdua melompat ke belakang, takut kalau menjadi korban amukan kakek dan nenek iblis itu.

Setelah duabelas orang itu tewas, Cui-beng Kui-ong lalu membuka tutup peti dan... ternyata peti itu kosong! Di dasar peti terdapat tulisan huruf THAI-SAN! Tidak ada secuil pun emas atau permata. Tidak ada uang setail pun!

Ciu-beng Kui-ong terbelalak dari dia pun mengamuk. "Jahanam keparat! Aku dibohongi!"

"Kui-ong, harta ini ada yang sudah mengambilnya!" kata Song-bun Moli.

"Siapa berani mendahului aku?" Cui-beng Kui-ong memaki-maki.

"Mungkin disimpan di bagian lain dalam guha ini!" kata Kong Sek.

"Atau di guha-guha yang lain." kata Kim Bayan.

Mereka berempat lalu mencari, memporak-porandakan guha besar itu untuk mencari harta karun. Tiba-tiba Kim Bayan berseru. "Pouw Cun Giok dan Liu Ceng Ceng menghilang!"

Memang dua orang muda itu ketika melihat bahwa peti itu kosong dan isinya hanya tulisan THAI-SAN, cepat pergi mengerahkan gin-kang mereka dan dengan cepat naik ke puncak untuk membebaskan Li Hong...!



Thanks for reading Pendekar Tanpa Bayangan Jilid 54 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »