Pendekar Tanpa Bayangan Jilid 51

51: SEPASANG KAKEK NENEK IBLIS

“Aduh, Ceng-moi! Engkau bicara seperti seorang pendeta saja!” Seru Cun Giok terkagum-kagum.

Ceng Ceng tersenyum lembut dan manis. “Sudah dua kali aku mendengar ucapan itu. Pertama Li Hong yang mengatakannya, sekarang engkau, Giok-ko. Untuk mengerti makna kehidupan, orang tidak harus menjadi pendeta.”

“Kalau melakukan perbuatan baik yang disadari dan disengaja kauanggap munafik, lalu perbuatan bagaimana yang kauanggap baik?”

“Tidak ada perbuatan yang baik atau buruk, Giok-ko. Yang ada hanya perbuatan benar atau tidak benar. Perbuatan itu baru benar kalau dilakukan dengan dasar kasih sayang terhadap sesama manusia, hanya merupakan penyaluran Kasih yang dari Tuhan dan dianugerahkan kepada kita. Sudah menjadi kewajiban kita semua untuk menyalurkan segala berkat Tuhan kepada mereka yang membutuhkan. Berkat itu dapat berujud kepandaian, kekuatan, atau harta benda. Kewajiban kita untuk menyalurkannya kepada mereka yang sungguh-sungguh memerlukannya. Jadi, kalau perbuatan itu didorong oleh kasih sayang, maka kita hanya memenuhi kewajiban yang sudah seharusnya kita lakukan. Dengan demikian, maka apa yang kita lakukan itu merupakan suatu kewajaran, bukan kebaikan lagi dan di situ tidak ada pamrih apa pun.”

“Ceng-moi, alangkah mulianya Ayah Ibu dan Paman Gurumu yang telah tiada. Engkau mendapatkan pengertian luar biasa itu dari mereka, bukan?”

“Orang tua dan Paman Guruku memberi dasarnya, lalu berkembang dengan cara membuka mata melihat seluruh alam semesta yang dipenuhi Kasih dari Tuhan. Hangatnya sinar matahari, sejuknya angin semilir, segarnya daun-daun pohon menghijau, harumnya bunga-bunga, indahnya suara burung, gemersik angin di pohon, gemerciknya air mengalir bercanda dengan batu-batu, nikmatnya hawa udara yang kita hisap, pendeknya dalam segala sesuatu penuh dengan Kasih itu. Bukankah sudah menjadi kewajiban kita untuk menyalurkan kasih sayang kepada mereka yang membutuhkan? Kasih sayang itu membuahkan sikap yang lembut dan ramah, perbuatan yang dilakukan demi kepentingan orang lain, sabar, tidak pemarah dan tidak iri, jauh dari perasaan dendam dan benci.”

“Aduh, Ceng-moi. Mau rasanya aku berguru kepadamu. Begitu banyak pengertian yang membuka hatiku seperti air yang bening menyejukkan. Akan tetapi masih ada sebuah hal lagi yang membuat aku merasa ragu. Tadi engkau mengatakan bahwa tidak ada yang dinamakan perbuatan baik atau buruk. Ceng-moi, Bukankan ada orang yang baik dan tidak baik?”

“Maaf, Giok-ko. Bukan maksudku hendak menggurui atau menganggap bahwa semua yang kukatakan itu baik atau benar. Aku hanya bicara mengeluarkan isi hati dan akal budiku, terserah kepada yang mendengar akan dianggap benar atau salah. Baik dan buruk bukanlah sifat aseli, melainkan pendapat orang berdasarkan penilaian. Adapun penilaian ini sebagian besar dilandasi kepentingan diri sendiri. Contohnya begini. Bagaimanakah hujan itu? Baik atau burukkah hujan? Hujan ya hujan, itu wajar, tidak baik dan tidak buruk. Baru muncul pendapat bahwa hujan itu baik atau hujan itu buruk kalau sudah dinilai orang yang berdasarkan kepentingan pribadi. Kalau hujan itu merugikan dirinya, tentu dianggap buruk, sebaliknya kalau menguntungkan, tentu dianggap baik! Sama saja penilaian terhadap orang. Kalau orang sedunia ini menganggap aku baik, akan tetapi kepadamu aku melakukan hal-hal yang merugikanmu, memusuhimu, apakah engkau bisa menganggap aku baik? Tentu tidak karena aku merugikanmu, maka engkau tentu menganggap aku jahat atau buruk. Sebaliknya kalau semua orang menganggap aku ini jahat, akan tetapi kepadamu aku bersikap baik dan menyenangkan, menguntungkanmu, apakah engkau bisa menganggap aku jahat? Tentu juga tidak, engkau pasti akan mengatakan bahwa aku baik! Nah, pendapatmu itu belum tentu benar, bukan?”

Cun Giok mengangguk-angguk. Dia menghela napas panjang dan semakin kagum dan heran kepada gadis itu. Seorang gadis masih begitu muda namun sudah memiliki pengertian yang demikian mendalam tentang hidup. Mungkin masih banyak pengertian yang tersimpan dalam kepala yang berambut hitam lebat dan berwajah jelita itu. Cinta yang timbul dalam hati Cun Giok diperkuat oleh kekaguman dan penghormatan.

“Giok-ko, sudah terlalu lama kita duduk bercakap-cakap di sini, marilah kita melanjutkan perjalanan kita mencari harta karun itu,” kata Ceng Ceng dan mereka lalu melanjutkan perjalanan mendaki Bukit Sorga dengan hati-hati karena sekarang mereka maklum bahwa bukit itu mengandung bahaya yang besar bagi mereka.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Li Hong lari sambil menangis. Baru sekali ini selama hidupnya ia merasa betapa hatinya hancur. Tadinya ia marah mendengar betapa Cun Giok selalu membenarkan semua pendapat Ceng Ceng, hatinya dipenuhi cemburu dan iri sehingga saking marahnya ia melarikan diri meninggalkan mereka. Akan tetapi ia lalu teringat bahwa Cun Giok menganggap ia seorang pemuda. Kalau ia muncul sebagai seorang wanita, belum tentu hati Cun Giok akan condong kepada Ceng Ceng.

Teringat akan hal ini, ia mengambil keputusan untuk menguji hati pemuda itu. Ia menanggalkan pakaian prianya dan di bawah pakaian pria itu ia memang sudah memakai pakaian wanita agar tubuhnya tampak lebih besar dan pinggangnya tidak begitu kecil.

Kini ia berubah menjadi seorang gadis yang langsing dan jelita. Tata rambutnya juga ia ubah sehingga kini Li Hong tampak sebagai seorang gadis cantik jelita. Setelah berdandan sebagai seorang gadis, dengan hati-hati ia lalu kembali ke tempat tadi dan apa yang dilihatnya membuat ia marah dan panas seperti dibakar api! Ia melihat Cun Giok dan Ceng Ceng saling berdekapan dengan mesra!

Kepalanya seperti akan meledak, isi dadanya terbakar panas dan ia pun tidak dapat mengendalikan diri lagi. Dengan kebencian dan kemarahan yang meluap-luap terhadap Ceng Ceng, Li Hong langsung saja menyerang Ceng Ceng dengan pukulan Hek-tok Tong-sim-ciang yang mematikan karena kebencian membuat ia ingin membunuh Ceng Ceng pada saat itu juga. Akan tetapi Cun Giok menepis serangannya sehingga Ceng Ceng terhindar dari serangan, bahkan ia sendiri terhuyung.

Akan tetapi ia segera menyerang Ceng Ceng dengan Hek-tok-ciam dan dua batang jarum mengenai dada gadis itu. Dalam kemarahannya, Li Hong tidak menyadari betapa terhadap semua serangannya itu Ceng Ceng sama sekali tidak membela diri, tidak mengelak atau menangkis! Setelah dapat melukai Ceng Ceng dengan dua batang jarumnya, Li Hong lalu berlari pergi sambil menangis!

Luka di hatinya semakin parah. Ia bukan saja melihat Cun Giok dan Ceng Ceng saling peluk, akan tetapi ditambah lagi sikap Cun Giok yang membela Ceng Ceng, menangkis pukulannya. Hal ini sungguh amat menyakitkan hatinya dan gadis itu berlari dan menangis terisak-isak. Ia tidak peduli lagi ke arah mana ia berlari cepat. Tanpa disadarinya ia mendaki Bukit Sorga!

Setelah kesedihan dan kekecewaannya agak mereda dan kesadarannya kembali, baru Li Hong menyadari bahwa ia telah berlari sampai di lereng bukit bagian tengah. Teringatlah ia akan gambar peta yang dibawa Ceng Ceng. Ia herhenti berlari dan menggigit bibir dengan gemas. Aku akan ambil harta karun itu, pikirnya. Aku akan mendahului Ceng Ceng, akan menggagalkan usahanya mencari harta karun! Pendeknya, ia akan melakukan apa pun juga untuk menghalangi dan menggagalkan semua usaha Ceng Ceng!

Ia membayangkan kembali isi peta itu dan ia merasa bahwa ia telah berada tepat di tengah lereng bukit. Di daerah tengah inilah letaknya guha itu, pikirnya. Mulailah ia berjalan perlahan, hendak mengitari bukit sambil memeriksa kanan kiri dengan teliti. Ia harus menemukan guha itu lebih dulu dari Ceng Ceng dan Cun Giok!

Timbul pula gairah hidup dalam hati Li Hong. Kini ada sesuatu yang penting, yang harus ia lakukan. Kalau tadi rasanya ia lebih baik mati saja, kini timbul semangat baru, yaitu untuk membalas sakit hatinya kepada Ceng Ceng! Kalau tidak lagi Ceng Ceng di dunia ini, tentu tidak ada halangan lagi baginya untuk mendapatkan cinta Pouw Cun Giok! Ia merasa pasti bahwa kalau Ceng Ceng sudah disirnakan, tentu Cun Giok akan mencintanya. Ia sudah merasakan betapa akrabnya sikap Cun Giok kepadanya ketika ia masih menyamar sebagai pria.

Selagi ia melangkah perlahan-lahan sambil mengadakan pengamatan di kanan kiri untuk mencari guha seperti dimaksudkan dalam peta. Tiba-tiba ada angin besar meniup dari depan, menggerakkan puncak-puncak pohon. Li Hong berhenti dan memandang heran, rambut dan ujung bajunya berkibas ditiup angin yang kuat. Lalu terdengar tawa menyeramkan, suaranya berat dan mengandung getaran yang kuat sehingga Li Hong cepat mengerahkan sin-kang untuk melindungi jantungnya.

Sesosok bayangan berkelebat dari depan dan berhenti di depan Li Hong. Bayangan itu ternyata seorang laki-laki tua. Kakek itu berusia sekitar tujuhpuluh tahun, wajahnya penuh keriput, punggungnya bongkok, mulutnya menyeringai akan tetapi sepasang matanya mencorong seolah mata naga yang berapi-api!

Tangan kanannya memegang sebatang tongkat hitam yang gagangnya berupa kepala naga. Pakaiannya mewah, seperti pakaian seorang bangsawan tinggi dan dia bahkan mengenakan perhiasan emas permata seperti kalung, gelang dan hiasan topinya yang tinggi. Pakaian indah dan perhiasan serba mahal itu membuat kakek itu tampak lucu, akan tetapi juga menyeramkan.

Li Hong adalah seorang gadis yang tak pernah merasa takut menghadapi lawan yang bagaimanapun juga. Biarpun ia dapat menduga bahwa ia berhadapan dengan seorang kakek yang sakti dan aneh, ia tidak merasa gentar, bahkan bertanya dengan sikap seenaknya seolah ia berhadapan dan bicara dengan seorang kakek petani.

“Kakek tua, apakah engkau yang berkuasa di bukit ini?”

Kakek itu bukan lain adalah Cui-beng Kui-ong, datuk besar utara yang menjadi seorang di antara guru-guru Kim Bayan dan datuk besar ini sudah amat berjasa ketika pasukan Mongol menyerbu daratan Cina. Maka dia mendapatkan banyak imbalan jasa dari Pemerintah Mongol. Bahkan Kaisar Kubilai Khan menghadiahkan bukit itu kepadanya dan Cui-beng Kui-ong menamakan bukit itu Bukit Sorga.

Hampir tidak pernah ada orang berani berkeliaran di daerah bukit itu, maka ketika mendengar pelaporan para anak buahnya yang diam-diam melakukan penjagaan bahwa ada seorang gadis muda cantik mendaki bukit, Cui-beng Kui-ong sendiri cepat menghadangnya. Kini mendengar pertanyaan Li Hong yang diajukan tanpa basa-basi itu, Cui-beng Kui-ong menyeringai lebar dan dari kerongkongannya terdengar suara menggelegak seperti tawa iblis.

“Hak-hak-hak, bocah dari manakah engkau maka tidak mengenalku? Akulah yang disebut Cui-beng Kui-ong, majikan dari Bukit Sorga ini! Berani betul engkau berkeliaran di bukit ini tanpa ijin! Mau ke mana engkau, heh bocah perempuan yang lancang?”

Li Hong mengerutkan alisnya. Kakek itu terlalu memandang rendah padanya! Hatinya yang memang masih panas itu menjadi semakin marah. “Huh, aku Tan Li Hong pergi ke manapun yang aku suka! Bukit ini merupakan sebagian dari alam, mana bisa kau akui sebagai milikmu begitu saja? Aku bebas melakukan perjalanan di sini dan jangan coba-coba untuk menakut-nakuti aku. Aku tidak takut kepada Raja Iblis Pengejar Arwah (Cui-beng Kui-ong)! Biar engkau memakai julukan Raja Kucing Pengejar Tikus pun aku tidak takut!”

Cui-beng Kui-ong kembali tertawa dalam kerongkongannya. Seorang datuk besar yang sesat dan aneh seperti dia, bahkan tertarik dan senang melihat sikap Li Hong yang liar dan tidak mengenal takut. Akan tetapi sebutan Raja Kucing Pengejar Tikus itu membuat matanya melotot lebar dan dia merasa dihina.

“Hak-hak, Tan Li Hong. Engkau ini bocah kemarin sore sudah berani menghinaku!”

“Kalau aku menghinamu, engkau mau apa!” bentak Li Hong yang sudah nekat karena sakit hati dan kemarahannya yang disebabkan oleh Ceng Ceng dan Cun Giok tadi. Ia sudah nekat dan tidak takut mati, bahkan kini ia hendak menumpahkan semua kemarahan dan kebenciannya kepada kakek itu yang menjadi orang pertama yang ditemuinya sejak ia meninggalkan Ceng Ceng dan Cun Giok.

“Eh, eh, bocah gila, kalau aku ingin membunuhmu, engkau kira dapat terhindar dari maut?” Cui-beng Kui-ong terkekeh walaupun dia mulai marah.

“Ingin membunuhku? Kakek setan, engkaulah yang akan mampus di tanganku!” Setelah berkata demikian Li Hong sudah menerjang dan langsung saja ia menyerang dengan pukulan Hek-tok Tong-sim-ciang yang dahsyat!

“Wuuuttt...!” Dua buah tangan halus itu berubah menghitam, menyambar dengan dahsyatnya ke arah dada dan muka Cui-beng Kui-ong.

“Uhhhh... Plak-plakk...!”

Cui-beng Kui-ong terkejut bukan main, akan tetapi masih sempat menangkis serangan dua buah tangan itu. Tadi dia mengenal pukulan yang mengandung hawa beracun hitam dan kuat sekali sehingga dia yang tadinya memandang rendah itu hampir saja terlambat menangkis!

“Eh, bukankah itu Hek-tok Tong-sim-ciang?” dia bertanya sambil melompat ke belakang dan memandang penuh perhatian kepada Li Hong.

“Engkau takut? Kalau takut pergilah dan jangan ganggu perjalananku!” kata Li Hong dengan suara mengejek.

“Tan Li Hong, apakah hubunganmu dengan Ban-tok Kui-bo?”

“Jangan sembarangan menyebut nama orang! Ban-tok Kui-bo tidak ada, yang ada Ban-tok Niocu majikan Coa-to (Pulau Ular) dan aku adalah muridnya!”

“Hak-hak-hak! Kebetulan sekali. Belum sempat menghajar gurunya, sekarang muridnya. Hak-hak, lumayan juga untuk melampiaskan dendamku!” kata Cui-beng Kui-ong.

Mendengar ini, Li Hong tersenyum mengejek. Kalau kakek ini mendendam kepada gurunya, hal itu mudah diduga sebabnya.

“Hi-hik, engkau dulu pasti dihajar jatuh bangun oleh guruku! Sekarang aku yang mewakili guruku untuk menghajarmu sekali lagi!”

Setelah berkata demikian, Li Hong mencabut Ban-tok-kiam, lalu menyerang kakek itu dengan ganas. Bukan hanya pedang di tangan kanannya yang menyambar-nyambar seperti cakar maut, akan tetapi juga tangan kirinya menyelingi sambaran pedang dengan pukulan yang tidak kalah besar bahayanya karena gadis itu menggunakan pukulan-pukulan yang mengandung hawa beracun!

Biarpun dia lihai dan memiliki kesaktian ilmu sihir, namun Cui-beng Kui-ong merasa gentar juga menghadapi penyerangan gadis itu. Pedangnya mengandung racun yang amat berbahaya, demikian pula pukulan tangan kirinya. Maka, dia tidak mau menghadapi resiko mati keracunan. Dia mengenal benar betapa hebatnya kepandaian Ban-tok Kui-bo dalam hal penggunaan racun, Cui-beng Kui-ong lalu membentak dengan suara menggetar dan tangan kanan menggunakan tongkat menangkis pedang sedangkan tangan kirinya begitu dibuka dan didorongkan ke depan, tampak asap hitam tebal menyambar ke arah Li Hong!

Dari bau asap hitam itu, Li Hong yang ahli tentang racun tahu bahwa asap itu tidak mengandung racun. Akan tetapi asap hitam itu membuat pandang matanya tertutup sehingga ia tidak dapat melihat di mana adanya kakek itu. Tiba-tiba ada angin pukulan menyambar-nyambar dari segala jurusan. Dalam kegelapan asap hitam itu, Li Hong memutar pedangnya untuk melindungi dirinya dari serangan yang tidak dapat dilihatnya.

“Trakk!”

Pedangnya tertangkis dan menempel pada tongkat Cui-beng Kui-ong yang menggunakan tenaga sakti untuk menempel pedang dan pada saat itu, tangan kiri kakek itu telah menyambar dan menotok pundak kiri Li Hong. Gadis itu mengeluh dan terguling roboh dengan tubuh lemas. Pedang Ban-tok-kiam terlepas dari pegangan tangan kanannya.

Cui-beng Kui-ong tertawa berkakakan dengan gembira. Dia mengebut-ngebutkan jubah luarnya yang mewah mengusir asap hitam buatannya. Setelah asap itu membuyar dan pergi, dia melihat Li Hong telentang di atas tanah dengan sepasang mata memandang kepadanya penuh kebencian. Sedikit pun gadis itu tidak memperlihatkan rasa takut walaupun ia sudah tidak dapat membela dirinya lagi.

“Hak-hak-hak-hak!” Cui-beng Kui-ong memegang tongkat hitamnya dengan tangan sedangkan tangan kirinya bertolak pinggang. Dia tertawa-tawa sambil menghampiri Li Hong.

“Aku tidak akan membunuhmu, Tan Li Hong! Aku hanya akan membuntungi lengan kananmu dan kaki kirimu sehingga engkau akan dapat berloncatan pulang ke Pulau Ular. Heh-heh-heh, ingin aku melihat bagaimana muka Ban-tok Kui-bo kalau melihat muridnya!”

Li Hong maklum bahwa kakek iblis ini bukan sekedar mengancam. Iblis tua itu pasti dapat melakukan apa saja dan ia berada dalam ancaman yang amat gawat. Ia tidak takut mati akan tetapi ia merasa ngeri juga membayangkan dirinya hidup dengan kaki kiri dan lengan kanan buntung! Akan tetapi karena ia tidak dapat mengerahkan tenaga saktinya dan kaki tangannya tidak dapat digerakkan, Li Hong hanya mampu memandang marah ketika kakek itu menggerakkan tongkatnya ke atas.

Ia tahu bahwa walaupun kakek itu hanya memegang senjata tongkat, namun dengan kepandaiannya yang tinggi dia tentu dapat menggunakan tongkat itu untuk membuntungi kaki dan tangannya seperti ancamannya tadi. Li Hong tidak memejamkan mata melainkan memandang dengan mata terbuka lebar. Ia sanggup menghadapi kematian dengar mata terbuka!

Akan tetapi pada saat yang amat gawat bagi keselamatan Li Hong itu, mendadak terdengar jerit melengking. “Kui-ong tua bangka tolol! Jangan bunuh muridku!”

Bayangan putih berkelebat dan seorang nenek berpakaian mori putih seperti mayat hidup telah berdiri di dekat Cui-beng Kui-ong dan di tangannya terdapat sebatang tongkat hitam seperti milik Cui-beng Kui-ong. Agaknya ia siap untuk menangkis apabila tongkat Majikan Bukit Sorga itu akan melanjutkan serangannya untuk membuntungi kaki dan lengan Li Hong.

Cui-beng Kui-ong memandang kepada nenek yang seperti mayat hidup itu dan dia terbahak sambil menurunkan tongkatnya. “Mo-li, kau iblis betina cerewet! Siapa bilang Tan Li Hong ini muridmu, jangan bohong kau!”

“Tua bangka, siapa bohong. Dengar sendiri pengakuan gadis ini.” Lalu Song-bun Moli, nenek yang seperti mayat hidup itu, memandang Li Hong dan bertanya. “Heh, gadis liar setan cilik, engkau menjadi muridku, bukan? Atau, engkau memilih kehilangan tangan kanan dan kaki kiri?”

Thanks for reading Pendekar Tanpa Bayangan Jilid 51 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »