Pendekar Tanpa Bayangan Jilid 43

43: TIDAK PERLU MENJADI PENDETA

Ceng Ceng memandang heran, namun tetap tersenyum. Ia tahu bahwa ia berhadapan dengan seorang gadis yang cantik, memiliki ilmu silat yang tinggi, akan tetapi berwatak liar dan ganas. Tadipun gadis itu mengamuk dan membunuh banyak perajurit, padahal gadis ini tidak mempunyai urusan pribadi dengan pasukan Mongol dan ia hanya datang membantu atau menolongnya. Kini gadis itu memakinya dengan marah, membuat ia merasa heran akan tetapi juga merasa geli, seperti melihat seorang anak kecil yang ngambek!

“Kalau boleh aku bertanya, mengapa engkau menganggap aku pengecut dan tidak berbakti kepada orang tuaku?”

“Sudah jelas masih bertanya lagi! Panglima Kim Bayan itu telah membunuh ayah ibumu. patutnya engkau membalas dendam dan membunuhnya, apalagi engkau tentu tahu bahwa dia itu seorang panglima yang jahat dan kejam. Akan tetapi engkau tidak mau membalas dendam seperti yang kudengar dari percakapanmu dengan dia tadi. Bukankah itu berarti engkau takut dan pengecut, dan juga tidak berbakti kepada orang tuamu? Apalagi aku melihat engkau tidak mau membunuh seorang pun perajurit yang mengeroyokmu. Huh, sebal aku melihatmu!”

Ceng Ceng tetap tersenyum. “Terserah engkau mau anggap aku bagaimana. Akan tetapi ketahuilah bahwa kalau aku tidak mau membalas dendam kematian orang tuaku, hal itu justeru karena aku menaati nasihat orang tuaku. Dan aku memang tidak mau membunuh orang karena pekerjaanku bukan untuk membunuh orang melainkan untuk menyembuhkan orang.”

Li Hong mengerutkan alisnya. Ucapan Ceng Ceng bahwa gadis itu pekerjaannya menyembuhkan orang, membuat ia teringat akan cerita yang didengar dari gurunya, yaitu Ban-tok Niocu. Ia mengamati lagi gadis itu dan melihat pakaian Ceng Ceng yang serba putih, ia makin curiga bahwa mungkin gadis ini yang diceritakan oleh Ban-tok Niocu.

“Hemm, siapakah namamu?”

“Namaku Liu Ceng Ceng.”

Li Hong membelalakkan matanya. Biarpun tadi ia sudah menduga, kini ia terkejut juga mendengar pengakuan gadis itu. Satu di antara niatnya mengembara adalah untuk mencari gadis yang bernama Liu Ceng Ceng!

“Ah, jadi dugaanku benar, engkau gadis yang pandai mengobati itu? Engkau yang telah menyembuhkan dan melenyapkan cacat di wajah Ban-tok Kui-bo?”

Ceng Ceng tersenyum. “Sekarang ia tidak mau lagi disebut Kui-bo (Biang Iblis). Julukannya menjadi Ban-tok Niocu. Dan engkau, kalau aku tidak salah duga, pasti muridnya, gadis yang telah melukai Goat-liang Sanjin dan membunuh Susiok Im Yang Yok-sian. Benarkah dugaanku?”

Li Hong terkejut. “Engkau... tahu bahwa aku seorang wanita?”

“Tentu saja. Engkau lupa bahwa aku seorang murid tabib pandai yang tentu mengenal baik ciri-ciri seorang wanita walaupun engkau menutupinya dengan pakaian laki-laki.”

“Ceng Ceng... kebetulan sekali, aku memang hendak mencarimu!” katanya.

“Mencari aku? Apakah hendak kau lukai atau kau bunuh seperti Susiok?”

Li Hong memandang dengan muka berubah merah. “Ceng Ceng, jangan menyindir! Aku merasa menyesal sekali telah menyerang dan melukai ketua Hoa-san-pai dan terpaksa membunuh Im Yang Yok-sian. Aku melakukannya karena aku menaati perintah guruku yang mengharuskan aku membunuh Goat-liang Sanjin dan aku hanya berhasil melukainya. Akan tetapi ketika aku mendengar bahwa mereka hendak minta tolong Im Yang Yok-sian untuk mengobatinya, aku khawatir kalau ketua Hoa-san-pai dapat disembuhkan. Berarti tugasku itu gagal. Maka terpaksa aku bunuh Im Yang Yok-sian untuk menghalanginya menyembuhkan Goat-liang Sanjin.”

“Aku sudah mendengar semua itu dari gurumu, hanya yang belum kuketahui adalah namamu karena belum disebut oleh Ban-tok Niocu.”

“Ceng Ceng, namaku adalah Tan Li Hong dan aku mencarimu untuk menyatakan penyesalanku telah membunuh paman gurumu Im Yang Yok-sian dan minta maaf. Aku juga hendak menghadap ketua Hoa-san-pai untuk menyatakan permintaan maaf.”

“Li Hong, engkau tidak perlu minta maaf kepadaku atau kepada orang lain. Engkau hanya dapat minta ampun kepada Thian (Tuhan) dengan bukti perbuatan, yaitu engkau bertaubat dan tidak mengulangi lagi perbuatanmu yang lalu, yang engkau anggap keliru dan engkau sesali itu. Minta ampun kepada Tuhan hanya dengan kata-kata dalam doa saja tidak ada gunanya apabila tidak dibuktikan dengan pertaubatan yang sungguh, yaitu tidak mengulang lagi kesalahan yang lalu.”

“Ceng Ceng, guruku telah menceritakan tentang dirimu sebagai seorang gadis muda yarg bijaksana. Bicaramu seperti pendeta saja! Berapa sih usiamu?” Li Hong bertanya setelah tertegun mendengar ucapan yang keluar dari mulut Ceng Ceng.

Ceng Ceng tersenyum manis dan menatap wajah Li Hong dengan muka berseri. “Kukira tidak berselisih jauh dengan usiamu, Li Hong. Aku berusia sembilanbelas tahun.”

“Aih, sebaya dengan aku! Akan tetapi engkau amat baik, biasa menolong dan menyembuhkan orang sakit, sedangkan aku, aku biasa membunuh orang yang kuanggap bersalah!”

“Tidak begitu, Li Hong. Segala sesuatu di dunia ini wajar-wajar saja. Baru muncul istilah baik buruk apabila orang memandangnya dengan penilaian, lalu muncul pendapat baik atau buruk itu.”

“Apa maksudmu, Ceng Ceng? Bukankah yang baik itu baik dan yang jahat itu jahat? Aku tidak mengerti maksudmu ketika engkau mengatakan bahwa segala sesuatu itu wajar, tidak baik dan tidak buruk. Cobalah beri contoh.”

“Misalnya turun hujan, bagaimana pendapatmu. Baik atau burukkah itu?”

Li Hong berpikir sejenak. “Hemm, bagiku tidak baik tidak buruk.”

“Itulah, karena engkau tidak merasakan, karena saat ini tidak ada air hujan menimpa dirimu. Akan tetapi begitu air hujan menimpa diri orang, lalu orang menilainya. Kalau dia merasa diuntungkan oleh hujan, maka dia mengatakan hujan itu baik. Sebaliknya kalau dia merasa dirugikan oleh hujan, dia tentu akan mengatakan bahwa hujan itu buruk! Padahal, seperti kaukatakan tadi, hujan ya hujan, wajar saja, tidak baik tidak buruk. Baik buruk itu merupakan suatu pendapat hasil penilaian, dan penilaian ini sudah pasti bersumber dari ke-akuan, kalau aku disenangkan baik, kalau aku disusahkan buruk.”

“Hemm, habis bagaimana kita harus menghadapi suatu perkara yang menimpa kita? Misalnya datang hujan?”

“Tidak perlu menilai, kita menghadapi sebagai suatu kewajaran dan ini mendatangkan kebijaksanaan dalam hati akal pikiran kita untuk bertindak, berbuat dan berikhtiar bagaimana memanfaatkan air hujan itu.”

“Akan tetapi bagaimana kalau mengenai diri seorang manusia? Tentu ada manusia jahat dan manusia baik, bukan?” Li Hong mengejar karena ia belum mengerti benar.

“Sama saja, Li Hong. Baik buruknya seorang manusia pun ditentukan oleh penilaian yang bersumber dari ke-akuan. Contohnya begini. Andaikata seluruh manusia di dunia ini berpendapat bahwa aku ini orang yang paling baik di dunia, akan tetapi aku memusuhimu, memusuhi keluargamu, merugikanmu, apakah engkau dapat mengatakan bahwa aku ini baik seperti pendapat semua manusia lain?”

Li Hong menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin aku berpendapat bahwa engkau baik kalau engkau memusuhi aku, Ceng Ceng.”

“Sekarang sebaliknya. Andaikata, manusia berpendapat bahwa aku ini orang yang paling jahat di dunia, akan tetapi aku bersikap baik kepadamu dan keluargamu, menguntungkanmu, mengasihimu, apakah engkau dapat mengatakan bahwa aku ini orang jahat seperti pendapat semua orang itu?”

“Hemm, tentu engkau kuanggap baik, Ceng Ceng.”

“Nah, jelaslah bahwa pendapat berdasarkan penilaian itu tidak mutlak benar. Apa yang baik bagi kita belum tentu baik bagi orang lain, apa yang jahat bagi kita pun belum tentu jahat bagi orang lain. Karena sumber penilaian datang dari aku, maka penilaian yang menjadi pendapat itu selalu berubah. Yang hari ini dianggap jahat karena merugikan besok mungkin dianggap baik karena menguntungkan dan sebaliknya.”

“Hemm, membingungkan. Aku tadi mendengar bahwa orang tuamu dibunuh oleh Panglima Kim Bayan yang jahat. Mengapa engkau tidak membalas dendam? Apakah sikap itu baik?”

“Wajar saja, Li Hong. Kim Bayan menanam pohon kejahatan, pasti dia akan makan buah pohon itu, pasti perbuatannya akan dihukum, dan biarlah hukuman itu jatuh kepadanya bukan melalui perbuatanku.”

“Huh, apakah bukan karena takut?”

“Sama sekali tidak. Kalau aku sekarang mendendam dan membalas kematian ayah ibuku dan aku membunuh Kim Bayan, apakah engkau mengira hal itu selesai? Sama sekali tidak, bahkan rantai Karma itu akan makin panjang. Kim Bayan membunuh ayah ibuku pasti merupakan akibat dari suatu sebab. Kalau aku misalnya dapat membunuh Kim Bayan, pasti akan ada keluarganya yang mendendam kepadaku dan berusaha membunuhku. Kalau dilanjutkan, dendam mendendam ini tidak akan ada habisnya, mengikat keturunan atau keluarga kita. Aku tidak mau terikat dendam bunuh membunuh seperti itu karena hal itu merupakan suatu kebodohan. Aku percaya dan yakin bahwa Tuhan Maha Kuasa dan Maha Adil, pasti akan memberi ganjaran setimpal kepada manusia sesuai dengan perbuatan kita.”

“Ih, Ceng Ceng, mengapa engkau tidak menjadi pendeta wanita saja?” kata Li Hong cemberut.

Dengan ramah Ceng Ceng tersenyum. “Li Hong, untuk menyadari tentang hakikat hidup orang tidak perlu menjadi pendeta!”

“Ah, sudahlah, Ceng Ceng! Aku tetap akan mencari dan membunuh jahanam Kim Bayan itu, bukan hanya untuk membalas kekejamannya terhadap ayah ibuku, juga untuk membalas kematian orang tuamu dan mencegah dia berbuat jahat lebih lanjut. Nah, selamat tinggal, Ceng Ceng.”

“Selamat berpisah, Li Hong.”

Li Hong berlari cepat meninggalkan Ceng Ceng yang mengikutinya dengan pandang mata, lalu ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Gadis yang lihai, liar dan galak, akan tetapi ia dapat merasakan bahwa di balik kekasaran dan keganasannya itu tersimpan hati yang baik dan yang selalu menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan.

Tidak mengherankan kalau Li Hong memiliki watak keras, galak dan ganas karena ia adalah murid Ban-tok Niocu yang dulu berjuluk Ban-tok Kui-bo! Ia pun lalu meninggalkan hutan itu.

Ketika ia teringat akan ayah ibunya, wajahnya yang cantik dan lembut itu menjadi sayu dan sepasang matanya kembali basah air mata. Bagaimanapun juga, Ceng Ceng adalah seorang manusia biasa, seorang wanita pula yang berperasaan amat peka. Kini ia merasa betapa hidupnya sebatang kara, tiada sanak keluarga, yatim piatu dan rumah pun tidak punya karena rumah orang tuanya telah disita pemerintah Kerajaan Goan.

Ia teringat akan surat ayahnya. Diambilnya surat itu dan diperiksanya selembar peta. Setelah mempelajari sejenak peta berupa gambar itu, ia mengambil kesimpulan bahwa tempat disembunyikannya harta karun itu tidak jauh dari kota raja Peking. Gambar Naga dan Burung Hong yang berada di tengah merupakan simbol dari kaisar, maka pasti yang dimaksudkan gambar itu adalah kota raja!

Agaknya tempat harta karun itu berada di sebelah selatan Peking, menurut petunjuk peta itu belasan mil di sebelah selatan kota raja. Maka ia pun melanjutkan perjalanannya dengan santai menuju Peking.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Pouw Cun Giok memasuki kota Cin-yang. Semenjak berpisah dari Ceng Ceng setelah bersama gadis itu berkunjung ke Pulau Ular di mana Ceng Ceng menyembuhkan bekas luka codet di wajah Ban-tok Niocu sehingga ia memperoleh obat penawar luka beracun yang diderita Goat-liang Sanjin ketua Hoa-san-pai, kemudian Ceng Ceng mengobati ketua Hoa-san-pai, pemuda itu merantau.

Dia pergi ke mana saja hati dan kakinya membawanya, tanpa tujuan tertentu. Akan tetapi di sepanjang jalan, baik di desa maupun di kota, Cun Giok selalu menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan.

Pemuda ini memang seorang pendekar yang amat lihai. Terutama sekali ginkangnya yang luar biasa sehingga kalau dia sudah bergerak ketika menghadapi pertempuran, tubuhnya berkekebatan sukar diikuti pandang mata seolah dia pandai menghilang saja. Akan tetapi, Pouw Cun Giok bukan seorang yang kejam. Dia selalu menghadapi orang jahat dengan niat menghajarnya sampai orang itu jera dan mau bertaubat.

Bahkan seringkali dia memberi uang kepada mereka yang mencuri dan melakukan kejahatan karena keadaannya yang amat miskin. Akan tetapi terhadap mereka yang suka menindas rakyat, yang mengandalkan kekuatan maupun kedudukan atau harta benda, dia memberi hajaran keras walaupun jarang sekali dia mau membunuh.

Semua perbuatan gagah perkasa ini membuat nama julukannya sebagai Bu Eng Cu (Si Tanpa Bayangan) menjadi semakin terkenal. Banyak gerombolan penjahat dapat dia tundukkan tanpa menggunakan kekerasan. Baru mendengar nama julukannya saja, banyak penjahat yang menaluk.

Ketika tiba di kota Cin-yang, Cun Giok kehabisan uang. Seperti biasa, walau dia membutuhkan uang untuk bekal biaya perjalanannya, dia lalu mencari hartawan pelit atau pembesar yang korup untuk mencuri sebagian hartanya. Kalau dia mendapatkan lebih banyak daripada yang dia butuhkan, dia lalu membagi-bagikan uang itu kepada orang-orang miskin secara sembunyi-sembunyi, yaitu dengan melempar-lemparkan uang ke dalam rumah melalui atap di waktu malam hari.

Seperti biasa, begitu memasuki kota Cin-yang, Cun Giok segera menyelidiki dan mencari keterangan kepada penduduk di mana tinggalnya seorang pembesar yang korup dan jahat. Dia mendapat keterangan bahwa kepala daerah kota Cin-yang bernama Yo-thaijin (Pembesar Yo) dan dialah seorang yang bijaksana dan adil.

Di antara para pejabat yang oleh penduduk dianggap korup dan sombong, juga kaya karena suka memeras, adalah kepala Pengadilan kota Cin-yang bernama Kui Hok atau panggilannya Kui-Thai-jin. Cun Giok memilih pejabat pengadilan she Kui itu sebagai sasarannya.

Malam itu udara cerah mendapat penerangan sinar bulan yang ditemani beberapa buah bintang yang sinarnya suram karena kalah oleh sinar bulan tiga perempat. Ketika malam semakin larut, hampir tengah malam, kota Cin-yang mulai sepi. Toko-toko sudah sejak tadi ditutup, juga pintu dan jendela rumah-rumah penduduk sudah ditutup. Hanya jarang orang yang lewat di jalan umum yang lengang dan mereka itu adalah orang-orang muda yang suka bergadang, pulang dengan sempoyongan karena mabok.

Sesosok bayangan berkelebat cepat sekali. Apalagi bagi mereka yang dalam keadaan mabok keluyuran di jalan pada malam hari itu, andaikata seorang yang sadar sekalipun berada di sana, akan sukarlah bagi mereka untuk dapat menduga bahwa ada bayangan orang berkelebat saking cepatnya bayangan itu bergerak. Bayangan itu adalah Cun Giok yang keluar dan berlari cepat dari rumah penginapan di mana dia tinggal, menuju ke tempat sasarannya, yaitu rumah gedung milik Kepala Pengadilan Kui Hok.

Gedung itu besar dan megah, dengan perabotan rumah yang mewah. Memang sesungguhnya tidak masuk akal kalau seorang pembesar seperti Kui Hok yang menjadi kepala pengadilan memiliki rumah semewah itu. Biarpur, gajinya lebih besar dari para pejabat rendahan, namun kalau diperhitungkan, biar dia menerima gaji seumur hidupnya, masih belum cukup untuk membeli perabot rumah itu saja, apalagi membeli rumahnya.

Bahkan gaji yang diterima sebagai seorang pejabat, tidak akan mencukupi untuk biaya rumah tangganya setiap bulan karena Kui Hok memiliki tujuh orang selir dan sepuluh orang anak yang berusia lima belas tahun ke bawah. Hanya seorang puteranya yang sudah dewasa, yaitu Kui Con yang dulu pernah dihajar oleh Ceng Ceng. Belum lagi jumlah pelayan yang tidak kurang dari sepuluh orang karena setiap orang selir mempunyai seorang pelayan.

Pendeknya, amat tidak mungkin kalau hanya dengan gaji sebesar yang diterimanya setiap bulan, Kui Hok dapat hidup semewah itu seperti layaknya seorang hartawan besar. Akan tetapi pada waktu penjajah Mongol berkuasa, hampir tidak ada pamong praja (pejabat) yang tidak hidup berkelebihan. Dari Kaisar sampai pejabat golongan rendah, semua hidup jauh melampaui besarnya gaji yang diterimanya setiap bulan.

Korupsi merajalela sehingga mencari pejabat yang jujur dan tidak korup tidak lebih mudah daripada mencari sebatang jarum dalam tumpukan jerami: Semua pejabat hidup mewah seperti Kepala Pengadilan Kui Hok yang selain gedung dengan segala isinya yang serba mewah itu masih memiliki tanah persawahan yang sukar dihitung saking banyaknya dan luasnya, di samping ternak kuda, kerbau, dan lain-lain.

Gedung pembesar Kui Hok ini pun terjaga ketat. Semenjak Ceng Ceng menghajar putera pembesar itu yang bernama Kui Con, gedung itu dijaga ketat oleh belasan orang perajurit pengawal secara bergiliran. Malam itu, duabelas perajurit melakukan penjagaan, di sekeliling rumah gedung Pembesar Kui Hok. Mereka melakukan pemeriksaan, meronda sekeliling gedung setiap jam dengan penuh kewaspadaan.

Namun, tidak sukar bagi Cun Giok untuk berkelebat melewati mereka dan berada di pekarangan gedung tanpa terlihat oleh mereka. Dia sama sekali tidak tahu bahwa sebelum dia tiba di pekarangan itu, sudah ada orang lain yang lebih dulu datang dan orang itu masih bersembunyi di balik semak-semak. Saking cepatnya gerakan Cun Giok, orang itu pun tadinya tidak tahu...

Thanks for reading Pendekar Tanpa Bayangan Jilid 43 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »