Pendekar Tanpa Bayangan Jilid 39

39: MANTAN PANGLIMA KERAJAAN SUNG

KINI ia merasa iba kepada Kun Tek, juga kepada isteri kekasihnya itu yang ternyata merupakan seorang wanita berwatak baik dan hatinya lembut. Ia tertarik sekali mendengar ucapan isteri Tan Kun Tek itu kini ia bertanya kepada Kun Tek.

“Tek-ko, engkau sudah mendengar ucapan isterimu tadi. Bagaimana tanggapanmu, bagaimana pendapatmu?”

Laki-laki itu tampak lemas. Dia mengangkat mukanya, sejenak menatap wajah bekas kekasihnya, lalu menoleh dan memandang kepada isterinya yang masih dalam rangkulan Li Hong, kemudian memandang wajah Li Hong.

“Li Hong, anakku, bantulah Ayahmu. Bagaimana menurut pendapatmu mengenai ucapan ibumu tadi?”

Li Hong mengerutkan alisnya. “Ibu benar, Ayah harus menebus kesalahan Ayah yang membuat Subo menderita sampai demikian lamanya, bahkan sampai sekarang Subo tidak pernah mau menikah. Biarlah Ayah menebus kesalahan Ayah dengan membahagiakan Subo dan tinggal berdua di sini. Aku akan membawa Ibu pergi dari sini.”

Dengan muka pucat Tan Kun Tek kini memandang kepada Ban-tok Niocu dan berkata dengan suara gemetar. “Lili, aku memang telah bersalah kepadamu, menjadi penyebab engkau hidup menderita selama ini. Untuk menebus kesalahan itu, aku mau dihukum dan melakukan apa pun, akan tetapi... aku tidak tega dan tidak mungkin berpisah dari isteriku dan anakku, tidak mungkin membuang mereka begitu saja. Lili, jangan engkau suruh aku berbuat demikian, lebih baik engkau bunuh aku untuk menebus kesalahanku kepadamu...”

Ban-tok Niocu menghela napas panjang. “Kanda Tan Kun Tek, apa engkau kira aku tega melakukan hal itu kepadamu, satu-satunya orang yang pernah dan masih kucinta? Tidak, aku tidak ingin memisahkan engkau dari anak isterimu, apalagi membunuhmu. Aku tadi hanya menyarankan agar engkau dan isterimu tinggal di sini bersama kami karena hanya di sinilah kalian akan dapat hidup aman, tidak terancam pasukan pemerintah.”

Kun Tek kini berkata kepada isterinya. “Engkau telah mendengar sendiri saran dari Gak Li yang ingin menolong kita, kenapa engkau tadi mengucapkan yang bukan-bukan?"

Nyonya Tan dengan kedua mata masih basah menggelengkan kepalanya. “Tidak, tidak mungkin aku hidup bahagia di sini sambil setiap hari melihat Enci Gak Li hidup kesepian dan merana. Enci Gak Li, aku hanya mau tetap tinggal di sini kalau engkau mau menjadi isteri Tan Kun Tek, menyambung kembali tali kasih antara kalian yang dulu terputus. Nah, kalau kalian mau menjadi suami isteri, aku mau tetap tinggal di sini. Kalau tidak, aku harus keluar dari pulau ini bersama anakku!”

Kun Tek merasa malu sekali dan mukanya berubah kemerahan lalu dia memandang kepada Gak Li. “Ah... ah... bagaimana Lili? Aku... aku tidak berani... dan maafkanlah isteriku, Lili.”

“Tan Kun Tek, bersikaplah sebagai seorang laki-laki gagah. Engkau seorang pendekar, bukan? Nah, tentukan sikapmu dan jawab sejujurnya. Apakah engkau menyetujui keputusan isterimu itu dan apakah engkau mau memperisteri aku di samping isterimu? Jawab!”

“Aduh, bagaimana aku harus menjawab? Aku merasa malu, Lili. Akan tetapi kalau memang demikian kehendak isteriku, dan terutama sekali kalau engkau... sudi menjadi isteriku kita semua dapat hidup di sini, aku... aku tentu saja menyetujui dan menurut...”

“Hemmm, kalau kalian berdua suami isteri sudah menyetujui, aku pun suka hidup sebagai isterimu, Tek-ko. Akan tetapi karena aku lebih tua dari isterimu, maka aku mau menjadi keluargamu asalkan aku menjadi isteri pertama!”

“Ah, tentu saja, Enci Gak Li...!” Isteriku Kun Tek kini menghampiri dan merangkul Ban-tok Niocu. “Tidak saja engkau lebih tua daripada aku, juga engkau lebih dulu menjadi kekasih Tan Kun Tek sebelum aku menjadi isterinya. Ah, aku gembira dan berbahagia sekali!”

Li Hong juga merasa gembira bukan main. Tidak saja kini ayah dan ibu kandungnya tinggal bersama di Pulau Ular, juga sekarang gurunya, yang tentu saja ia sayang bahkan melebihi sayangnya kepada ibunya sendiri karena sejak kecil ia hidup bersamanya, kini juga menjadi ibunya, menjadi isteri ayahnya!

Ban-tok Niocu juga merasa berbahagia karena sekarang ia dapat mengobati penderitaannya, hidup sebagai isteri pria yang dicintanya. Tan Kun Tek juga merasa bahagia karena dapat menebus kesalahannya dengan persetujuan isterinya. Demikian pula Nyonya Tan Kun Tek, ia pun merasa berbahagia karena ia dapat membalas budi kebaikan Gak Li.

Ban-tok Niocu merayakan perjodohan itu dengan pesta keluarga dan dirayakan pula oleh semua anak buahnya di Pulau Ular. Sebulan setelah ikatan perjodohan antara ayah kandung dan gurunya itu, Li Hong berpamit dari ketiga orang tuanya untuk meninggalkan pulau, merantau. Ketika tiga orang tua itu bertanya, ia menjawab dengan tegas.

“Aku hendak mencari Panglima Kim Bayan yang hampir saja membunuh Ayah dan Ibu.”

“Akan tetapi Panglima Besar Kim itu sebetulnya tidak mempunyai permusuhan pribadi denganku, Li Hong. Agaknya dia memusuhi semua partai persilatan dan karena aku murid Bu-tong-pai, maka dia sengaja mencari gara-gara denganku. Mungkin dia akan bertindak lebih jauh, memusuhi dan membasmi semua perkumpulan besar seperti Bu-tong-pai, Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, Hoa-san-pai dan lain-lain.”

“Hal itu lebih mendorongku untuk menentangnya, Ayah. Aku akan membantu partai persilatan besar yang dimusuhi Panglima Kim Bayan, dengan demikian aku akan mengangkat nama Ayah sebagai murid Bu-tong-pai dan Subo yang juga ibuku sebagai majikan Pulau Ular. Juga setelah mendengar bahwa Ibu Gak Li memberi obat penyembuh kepada ketua Hoa-san-pai, aku harus minta maaf kepada Hoa-san-pai bahwa aku pernah melukai ketuanya. Juga aku akan mencari murid keponakan mendiang Im Yang Yok-sian seperti yang diceritakan Ibu Gak Li, gadis bijaksana yang bernama Liu Ceng Ceng itu, untuk minta maaf pula bahwa aku terpaksa membunuh Im Yang Yok-sian dahulu.”

“Li Hong, kami baru saja bertemu denganmu, waktu sebulan ini belum cukup untuk menebus kerinduan kami selama tujuh belas tahun. Mengapa engkau mau meninggalkan kami? Dan biarpun aku tahu bahwa engkau telah memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi, namun engkau masih kurang pengalaman dan dunia di luar pulau ini amat kejam, banyak terdapat orang jahat.”

Tiba-tiba Ban-tok Niocu berkata lembut kepada suaminya sambil memandang kepada madunya dengan senyum menghibur. “Biarkan ia pergi. Justeru karena ia belum berpengalaman, maka ia dapat meluaskan pengetahuan dan pengalaman. Ia akan mampu menjaga diri, hal ini aku yakin karena seluruh ilmuku telah kuturunkan kepadanya. Li Hong, engkau boleh pergi, akan tetapi kami hanya memberi waktu paling lama satu setengah tahun, setelah lewat masa itu, engkau harus pulang, jangan membikin gelisah hati kami.”

“Baik, akan kuperhatikan semua pesan Subo... eh, Ibu!” Gadis itu belum biasa mengganti sebutan guru dengan ibu sehingga ia sering keliru, membuat tiga orang tuanya tertawa.

Setelah berkemas dan meninggalkan pulau, Gak Li menghibur madunya dan suaminya. “Harap kalian jangan gelisah. Anak kita itu cukup mampu menjaga diri dan selain itu, apakah kalian tidak menduga apa yang kuinginkan maka aku menyetujui ia merantau?”

Suami isteri itu memandang dan menggelengkan kepala mereka.

“Apakah kalian lupa berapa usia Li Hong sekarang?”

“Kurang lebih sembilan belas tahun,” jawab ibu Li Hong.

“Benar, sudah dewasa dan sudah cukup usianya bagi seorang gadis untuk menikah. Kalau ia dibiarkan di pulau ini terus, bagaimana mungkin ia akan dapat menemukan jodoh? Aku sengaja menyetujui ia merantau dengan harapan ia akan bertemu dengan jodohnya.”

Suami isteri itu mengangguk-angguk. Akan tetapi ibu kandung Li Hong berkata, “Enci Lili, apakah tidak lebih baik kalau engkau yang memilihkan jodoh untuk anak kita itu? Pilihanmu tentu lebih tepat karena engkau lebih mengenal watak anak kita.”

“Justeru karena mengenal baik watak Li Hong, aku tidak mau memilihkan jodoh untuknya. Anak kita itu berwatak keras dan bebas, maka kalau dijodohkan dengan pemuda yang tidak dicintanya, ia pasti akan menolak keras. Selain itu, aku sendiri percaya bahwa orang tidak akan dapat hidup bahagia kalau harus menikah dengan orang yang tidak dicintanya.”

Setelah berkata demikian, Ban-tok Niocu melirik ke arah Tan Kun Tek dan kedua pipinya berubah kemerahan. Tan Kun Tek dan isterinya maklum bahwa ucapan Lili itu timbul dari dasar hatinya karena hal itu ia sudah buktikan dengan tidak mau menikah dengan laki-laki lain setelah ditinggal Kun Tek yang menikah dengan gadis lain!

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Liu Bok Eng adalah seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun dan tinggal di kota Nan-king. Namanya amat terkenal di kota Nan-king, bahkan sampai jauh di sekitar kota Nan-king dan orang-orang biasa menyebutnya Liu-enghiong (Pendekar Liu). Tubuhnya tinggi besar dengan wajah kemerahan dan gagah seperti tokoh Kwan Kong di dalam cerita Sam Kok. Dia memang seorang yang tinggi ilmu silatnya. Sebagai seorang murid Siauw-lim-pai, nama Liu Bok Eng pernah terkenal puluhan tahun yang lalu. Apalagi dia pernah menjadi seorang panglima pada Kerajaan Sung.

Setelah kerajaan itu jatuh dan pemerintahan dipegang Kerajaan Goan (Mongol). Liu Bok Eng mengundurkan diri dan tinggal di kota Nan-king. Dia cukup kaya karena memang sejak dulu dia keturunan orang-orang kaya, dan karena dia murah hati, suka menolong dan menyumbang rakyat, maka dia dihormati seluruh penduduk Nan-king. Bahkan para pembesar di Nan-king juga segan mengganggunya, bahkan pemerintah menawarkan kedudukan kepadanya, namun selalu ditolak dengan halus oleh Liu Bok Eng.

Di Nan-king Liu Bok Eng tinggal dalam sebuah gedung kuno yang besar bersama isterinya yang berusia sekitar empat puluh lima tahun, seorang wanita yang lembut dan cantik. Mereka hanya mempunyai seorang anak, yaitu Liu Ceng Ceng yang kita kenal dengan julukan Pek-eng Sianli.

Gadis ini mewarisi ilmu silat Siauw-lim-pai dari ayahnya sendiri, kemudian memperdalam ilmu pengobatan dari paman gurunya, mendiang Im Yang Yok-sian. Suami isteri itu mempunyai beberapa orang pembantu yang rata-rata sudah berusia setengah tua dan sudah puluhan tahun menjadi pembantu keluarga Liu.

Pada suatu pagi, Liu Bok Eng duduk di ruangan depan bersama isterinya. Mereka minum air teh dan makan hidangan ringan seperti biasa setiap pagi mereka lakukan.

“Mengapa Ceng Ceng masih juga belum pulang?” kata Nyonya Liu setelah beberapa kali menghela napas panjang dan memandang ke arah jalan umum di luar pekarangan rumahnya dengan melamun.

Liu Bok Eng tersenyum. “Mengapa khawatir, isteriku? Ceng Ceng cukup mampu untuk menjaga diri sendiri, selain itu ia pandai ilmu pengobatan yang didapat dari Sute Im Yang Yok-sian. Anak kita itu tentu sedang melaksanakan tugasnya sebagai seorang pendekar wanita, menolong orang-orang tertindas dan mengobati orang-orang sakit. Biarlah ia meluaskan pengalamannya, itu baik sekali baginya.”

“Engkau benar, suamiku. Akan tetapi apakah engkau tidak ingat bahwa anak kita itu usianya sudah sembilan belas tahun? Ia sudah pantas menikah dan aku sudah rindu menimang seorang cucu.”

“Tentu saja hal itu pun sudah kupikirkan dan aku sudah mempunyai pandangan beberapa orang calon yang kuanggap cukup pantas menjadi suami Ceng Ceng. Kita tunggu sampai ia pulang dan biar ia memilih sendiri di antara beberapa orang yang kutunjuk sebagai calon jodohnya itu.”

Tiba-tiba suami isteri itu dikejutkan oleh munculnya seorang yang berpakaian perajurit yang memasuki pekarangan mereka dengan langkah tegap. Liu Bok Eng mengerutkan alisnya. Dia memang mengenal semua pejabat di kota Nan-king, akan tetapi perkenalannya tidak akrab, bahkan ada perasaan yang seolah mengganjal dalam hati karena beberapa kali dia menolak tawaran para pembesar untuk bekerja membantu pemerintah.

Liu Bok Eng dan isterinya tetap duduk sambil memandang perajurit yang menghampiri gedung mereka. Setelah perajurit itu tiba di beranda depan yang menyambung ruangan depan di mana suami isteri itu duduk, dia lalu memberi hormat secara militer. Ternyata perajurit ini pun tahu dengan siapa dia berhadapan, maka dia memberi hormat kepada Liu-enghiong yang amat dihormati seluruh penduduk Nan-king itu.

Tanpa berdiri dari kursinya, Liu Bok Eng melambaikan tangan sebagai balasan penghormatan dan dia lalu bertanya dengan suara lantang. “Perajurit, keperluan apa yang membawamu datang ke sini?”

“Saya melaksanakan perintah Ciang-thaijin (Pembesar Ciang) untuk menyerahkan surat ini kepada Liu-enghiong.” Perajurit itu menyerahkan sebuah sampul surat kepada Liu Bok Eng.

Liu Bok Eng bangkit dan menghampiri perajurit itu dan menerima surat yang disodorkan kepadanya. “Terima kasih. Apakah engkau harus menunggu jawaban atau balasan dariku?”

“Tidak, setelah surat ini diterima, saya diharuskan segera kembali ke kantor.”

“Baiklah, kalau begitu, surat ini sudah kuterima dan engkau boleh pulang.”

Setelah perajurit itu pergi, barulah Liu Bok Eng membuka surat itu dan membacanya. Nyonya Liu diam-diam memandang suaminya penuh perhatian karena ia juga merasa heran sekali bagaimana suaminya yang tidak akrab dengan para pembesar itu mendapat surat dari Pembesar Ciang yang ia ketahui menjadi Jaksa kota Nan-king dan pembesar itu terkenal sebagai tukang memeras penduduk, terutama yang berharta. Ketika wanita itu melihat wajah suaminya tiba-tiba menjadi kemerahan dan alisnya berkerut seperti orang marah, ia bertanya,

“Ada urusan apakah Jaksa itu sampai mengirim surat kepadamu?”

Setelah membaca habis Liu Bok Eng menyerahkan surat itu kepada isterinya tanpa berkata sesuatu. Nyonya Liu Bok Eng membaca surat itu dan wajahnya yang berkulit halus dan cantik itu pun berubah merah karena marah. Ia menaruh kertas itu di atas meja.

Dalam surat itu, Jaksa Ciang memerintahkan kepada Liu Bok Eng dan isterinya untuk menghadap ke kantor kejaksaan karena ada Panglima Besar Kim bersama gurunya datang dan ingin bicara dengan Liu Bok Eng untuk urusan yang amat penting. Yang membuat suami isteri itu marah adalah penutup surat itu yang mengatakan bahwa kalau Liu Bok Eng tidak datang, mereka akan dianggap pemberontak dan akan ditangkap!

Nyonya Liu Bok Eng adalah seorang wanita yang biarpun wataknya lembut, namun ia bukan orang lemah. Ia telah mempelajari ilmu silat dari suaminya sehingga ia pun dapat dianggap seorang wanita gagah dan lihai.

“Hemm, sombong benar Jaksa Ciang!” Nyonya Liu Bok Eng berkata. “Berani dia memerintahkan kita datang menghadap dengan ancaman segala! Kita tidak pernah ada urusan dengan dia, apa maksudnya dia mengundang seperti memanggil orang yang melakukan kejahatan saja?”

Liu Bok Eng menghela napas panjang. “Sejak dulu aku sudah merasa tidak senang dengan orang she Ciang ini. Banyak sudah kita mendengar dia bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat. Sekarang dia memanggil kita. Amat mencurigakan karena ada beberapa hal yang aneh. Pertama, kalau dia mempunyai urusan denganku, mengapa dia memanggil engkau juga? Selain itu, dia mengatakan bahwa Panglima Besar Kim bersama gurunya ingin bicara dengan kita. Aku menjadi curiga sekali.”

“Apa yang kau curigai? Kita datang saja kalau dia membikin ulah, kita hajar dia!” kata Nyonya Liu Bok Eng dengan gagah, walaupun ucapan itu dikeluarkan dengan suara yang lembut.

“Ucapan terakhir yang menganggap kita pemberontak dan hendak ditangkap kalau tidak menaati perintah, menunjukkan bahwa mereka pasti mempunyai niat yang amat jahat dan hal yang akan mereka bicarakan tentu amat penting bagi mereka. Mereka pasti menghendaki sesuatu dari kita, sesuatu yang bagi mereka amat berharga.”

Nyonya Liu memandang suaminya dengan mata terbelalak. “Maksudmu... peta itu...?”

Suaminya mengangguk. “Pasti itu, kalau tidak apa lagi yang menarik perhatian Panglima Kim Bayan? Aku sudah mendengar akan sepak terjang Kim Bayan itu, seorang panglima yang amat tangguh, lihai ilmu silatnya dan besar kekuasaannya. Dia pasti sudah mendengar akan peta itu dan sekarang hendak merampasnya dari tanganku. Apalagi kalau diingat akan desas-desus betapa pemerintah Mongol mulai bersikap tidak bersahabat dengan partai-partai persilatan, terutama Siauw-lim-pai. Aku sebagai seorang tokoh Siauw-lim-pai tentu saja sudah masuk daftar mereka sebagai seorang yang perlu mereka curigai dan awasi.”

“Aih, kalau begitu, bagaimana baiknya? Kalau mereka tidak bisa mendapatkan peta itu, mungkin sekali anak kita nanti terbawa-bawa. Suamiku, kita tidak membutuhkan harta karun itu. Bagaimana kalau kita serahkan saja peta itu?”

Liu Bok Eng mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepalanya. “Tidak bisa! Harta itu hak milik Kerajaan Sung! Baru boleh diserahkan kepada mereka yang kelak mendapat kesempatan untuk menggulingkan pemerintah Mongol! Apa engkau takut?”

Sepasang mata wanita itu bersinar. “Takut? Aku tidak takut sama sekali, akan tetapi aku khawatir kalau Ceng Ceng terbawa-bawa!”

“Jangan khawatir. Akan kuatur sebaiknya. Sekarang, aku harus tinggalkan peta dan surat kepada Ceng Ceng.”

“Titipkan saja kepada seorang pembantu rumah tangga kita.”

“Tidak, kalau benar mereka menghendaki peta itu, pasti mereka akan menggeledah rumah dan memaksa para pembantu kita untuk mengaku. Aku akan menitipkan kepada Liong Sinshe (Tabib Liong).”

Isterinya mengangguk membenarkan. Tabib Liong adalah seorang sahabat baik dari suaminya dan diam-diam seorang yang anti pemerintah Mongol. Kalau peta itu berada di tangannya, dititipkan agar nantinya diserahkan kepada Ceng Ceng, pasti aman. Tidak akan ada yang mencurigai seorang lemah seperti Tabib Liong.

Liu Bok Eng tidak membuang waktu lagi. Dia segera menulis surat untuk Ceng Ceng, lalu secara sembunyi agar jangan sampai diketahui orang, dia pergi ke rumah Tabib Liong. Dengan singkat dia menceritakan tentang panggilan Jaksa Ciang kepada dia dan isterinya dan menitipkan surat itu agar kalau terjadi sesuatu dengannya kelak diserahkan kepada Ceng Ceng. Dalam sampul surat tertutup itu tersimpan pula sebuah peta bersama suratnya. Setelah mendapat janji Tabib Liong untuk memenuhi pesan itu, Liu Bok Eng lalu pulang.

Suami isteri itu meninggalkan pesan kepada para pembantu rumah tangga untuk menjaga rumah dan menanti pulangnya Ceng Ceng. Setelah itu, mereka berdua lalu berangkat ke kantor kejaksaan.

Panglima Kim Bayan adalah panglima Mongol yang tinggal di Cin-yang dan mengepalai seluruh pasukan di Shan-tung ke selatan. Seperti kita ketahui, dialah yang bertekad membersihkan partai-partai persilatan yang dia anggap memusuhi Pemerintah Mongol. Dia pula yang dulu menangkap Tan Kun Tek dan isterinya.

Pada suatu hari, gurunya yang berjuluk Cui-beng Kui-ong (Raja Iblis Pengejar Roh) datang berkunjung di markasnya. Cui-beng Kui-ong adalah seorang datuk besar dari utara yang terkenal sebagai ahli silat dan ahli sihir yang ditakuti. Dia peranakan Mancu/Mongol, akan tetapi karena sejak remaja merantau di Cina, dia hidup dengan gaya seorang pribumi Cina dan menyerap banyak ilmu silat dari Cina dan ilmu sihir dari Tibet dan Nepal.

Dia amat berjasa ketika pasukan Mongol menyerbu Cina. Dialah yang mengalahkan banyak pendekar yang membela Kerajaan Sung. Karena itu, Kaisar Mongol menganugerahi dia sebagai seorang penasihat dan memberinya sebuah bukit yang indah. Bukit itu letaknya dekat Peking dan di puncaknya dibangun sebuah istana kecil. Pemandangan dari atas bukit itu amat indah.

Cui-beng Kui-ong tinggal di situ bersama seorang adik perempuan seperguruan yang juga amat lihai dengan julukan Song-bun Mo-li (Iblis Betina Berkabung)! Mereka itu kakak beradik seperguruan akan tetapi ketika muda dahulu mereka sudah berhubungan seperti suami isteri!

Kini Cui-beng Kui-ong telah berusia hampir tujuh puluh tahun sedangkan sumoinya (adik perempuan seperguruannya) itu berusia enampuluh tahun. Mereka berdua tinggal di atas bukit yang oleh Cui-beng Kui-ong sebagai pemiliknya diberi nama Bukit Sorga!

Tentu saja Kim Bayan terkejut dan heran melihat gurunya yang sudah tua itu datang berkunjung. Dia menyambutnya dengan penuh hormat, bahkan mengadakan pesta makan minum untuk menyambut gurunya...

Thanks for reading Pendekar Tanpa Bayangan Jilid 39 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »