Harta Karun Kerajaan Sung Jilid 08

08. PENGAWAL GADIS KEMBAR

Cun Giok lalu menceritakan pengalamannya ketika dia bersama Ceng Ceng dan Li Hong berhadapan dengan Kim Bayan dan kaki tangannya dalam memperebutkan harta karun Kerajaan Sung.

“Peta harta karun itu adalah peninggalan Locianpwe Liu Bok Eng yang juga terbunuh oleh Kim Bayan dan Cui-beng Kui-ong. Peta itu ditinggalkan kepada puterinya yang bernama Liu Ceng Ceng.”

“Ah, aku pernah mendengar nama besar Liu Bok Eng yang dulu menjadi panglima Kerajaan Sung. Aku masih ingat bahwa ilmu toyanya jarang menemul tandingan,” kata Nyonya The. “Lagi-lagi Kim Bayan yang membunuhnya. Panglima yang satu ini agaknya memang ingin membasmi semua pendekar yang berjiwa patriot.”

“Giok-ko, lalu bagaimana dengan peta itu?” tanya Kui Lan.

Cun Giok lalu menceritakan betapa dia dan Tan Li Hong membantu Liu Ceng Ceng untuk menyelidiki tentang harta karun itu menurut petunjuk peta yang ditinggalkan mendiang Liu Bok Eng.

“Giok-ko, apakah engkau dan Liu Ceng Ceng dan Tan Li Hong ingin mendapatkan harta karun itu dan kalian bagi bertiga?” tanya Kui Lin.

“Lin-moi, jangan lancang!” tegur Kui Lan dan adiknya cemberut.

Cun Giok tersenyum. “Sama sekali tidak, Lin-moi. Kami bertiga mencari harta itu dengan niat kalau sudah ditemukan akan kami serahkan kepada yang berhak seperti dikehendaki mendiang Locianpwe Liu Bok Eng.”

“Siapa yang berhak menerima harta karun itu?” tanya pula Kui Lin.

“Menurut Liu Ceng Ceng, Ayahnya menghendaki agar harta karun itu kelak dipergunakan untuk biaya pasukan pejuang yang berusaha menumbangkan pemerintah penjajah Mongol.”

“Bagus sekali! Sampai matinya Liu Bok Eng tetap seorang pendekar patriot, bahkan jiwa kependekarannya diturunkan kepada puterinya!” Nyonya The memuji. “Lalu bagaimana, Sicu? Apakah kalian bertiga berhasil menemukan harta karun itu?”

“Sebelum kami menemukan tempat harta karun itu menurut petunjuk peta, kami telah terjatuh ke tangan Kim Bayan dan anak buahnya dan kami tertawan.”

“Ah, keparat Kim Bayan!” Kui Lin berseru sambil mengepal tinjunya dengan marah.

“Lin-moi, biarlah Giok-ko melanjutkan ceritanya,” Kui Lan mencela adik kembarnya.

“Karena Kim Bayan mengancam akan membunuh Adik Tan Li Hong, maka Liu Ceng Ceng terpaksa menyerahkan peta itu kepada Kim Bayan untuk menyelamatkan Li Hong.”

“Aih, sungguh pantas menjadi puteri Pendekar Liu Bok Eng!” kata Nyonya The, gembira mendengar orang-orang gagah yang memang ia kagumi sejak dulu. “Akan tetapi, gadis yang seorang lagi, yang membantu Nona Liu Ceng Ceng dan bernama Tan Li Hong itu, siapakah ia, Sicu? Agaknya ia juga seorang pendekar wanita.”

“Benar, Toanio. Tan Li Hong adalah seorang pendekar wanita yang lihai juga. Ia adalah murid dari Ban-tok Niocu, majikan Pulau Ular.”

“Majikan Pulau Ular? Seingatku, Coa-tocu (Majikan Pulau Ular) berjuluk Ban-tok Kui-bo!” seru Nyonya The.

“Memang benar, Toanio. Semula ia berjuluk Ban-tok Kui-bo (Biang Hantu Selaksa Racun), akan tetapi sekarang ia telah sadar dan mengubah julukannya menjadi Ban-tok Niocu (Nona Selaksa Racun) dan tetap menjadi majikan Pulau Ular.”

“Ah, tentu Tan Li Hong itu lihai sekali karena dulu pun gurunya itu disegani para tokoh kang-ouw. Ceritamu semakin menarik, Sicu, lanjutkanlah.”

Cun Giok melanjutkan ceritanya tentang tindakan Kim Bayan yang menyerang Li Hong'dan memaksa dia dan Ceng Ceng untuk membantu mereka menemukan letak penyimpanan harta karun menurut petunjuk peta. Karena keselamatan Li Hong terancam, terpaksa dia dan Ceng Ceng memenuhi permintaan ini dan mereka berdua membantu Kim Bayan mencari harta karun itu. Akhirnya kami menemukan tempat penyimpanan harta karun itu dan dapat mengeluarkan peti harta karun...”

“Ah, celaka!” seru Kui Lin. “Sayang sekali harta karun Kerajaan Sung itu terjatuh ke tangan jahanam Kim Bayan!”

“Benarkah harta karun itu terjatuh ke tangan Kim Bayan, Sicu?” tanya Nyonya The dengan nada kecewa.

“Tidak, Toanio. Ketika peta harta karun itu dibuka, tidak ada sepotong pun harta benda, yang ada hanya dua buah huruf di dasar peti itu yang berbunyi THAI SAN.”

“Heh-he-heh-hi-hik!” Kui Lin terkekeh senang dan geli. “Rasakan engkau, jahanam Kim Bayan!”

“Ah, mengapa peti itu kosong? Dan bagaimana engkau dan dua orang gadis itu dapat meloloskan diri, Pouw-sicu?”

“Selagi Kim Bayan dan kawan-kawannya merasa kebingungan, kecewa dan marah-marah, saya dan Ceng Ceng larikan diri dan membebaskan Li Hong dari penjara, kemudian kami bertiga melarikan diri, kata Cun Giok. Dia tidak menceritakan persoalan antara Li Hong, Ceng Ceng dan dia.

“Hemm, ceritamu menarik sekali, Sicu. Kiranya engkau seorang pendekar yang selalu menentang para pembesar Mongol yang bertindak sewenang-wenang dan yang jahat. Engkau tidak mengecewakan menjadi putera keturunan keluarga Pouw! Juga Tan Li Hong murid Ban-tok Niocu dan Liu Ceng Ceng puteri pendekar Liu Bok Eng itu amat mengagumkan! Beruntunglah tanah air kita yang kini dikuasai penjajah Mongol memiliki pendekar-pendekar muda seperti kalian bertiga. Selama masih ada pendekar-pendekar pejuang seperti kalian, aku yakin, cepat atau lambat, tanah air dan bangsa pasti akan dapat dibebaskan dari cengkeraman pemberontak Mongol!”

“Ah, Ibu selalu melarang kami untuk keluar dari Lembah Seribu Bunga sehingga kami tidak dapat membantu para pendekar pejuang menentang orang-orang jahat macam Kim Bayan!” kata Kui Lin merajuk.

“Giok-ko, lalu bagaimana dengan harta karun itu? Kukira kalau harta itu dapat diberikan kepada para pejuang, akan besar sekali manfaatnya bagi perjuangan menentang penjajah Mongol,” kata Kui Lan.

“Benar apa yang dikatakan Kui Lan, Pouw-sicu, lalu bagaimana dengan harta karun itu?” tanya Nyonya The.

“Tidak ada yang tahu di mana adanya harta karun itu, Toanio. Semua orang hanya menduga bahwa harta karun itu tentu sudah ada yang mengambilnya dan melihat huruf THAI SAN yang dituliskan di dasar peti, saya hanya menduga bahwa yang mengambilnya tentu seorang lihai yang tinggal di Thai-san.”

Nyonya The mengangguk-angguk. “Memang itu merupakan satu-satunya kemungkinan. Lalu apa yang hendak kau lakukan, Sicu?”

“Saya bermaksud pergi ke Thai-san dan menyelidikinya.”

“Ibu, menurut Ibu, siapa kiranya tokoh Thai-san yang dapat mengambil harta karun itu?” tanya Kui Lan.

“Hemm, setahuku yang berada di sana hanyalah aliran Perguruan Silat Thai-san-pai yang diketuai Thai-san Sianjin Thio Kong. Dia memang lihai sekali, juga dibantu lima orang sute (adik seperguruan) yang terkenal dengan sebutan Thai-san Ngo-sin-kiam (Lima Pedang Sakti dari Thai-san). Akan tetapi, aku sangsi apakah tosu-tosu di Thai-san itu mau melakukan pencurian. Thai-san adalah sebuah pegunungan yang besar dan luas, memiliki ratusan buah bukit dengan puncak masing-masing. Di sana tentu terdapat banyak pertapa berilmu tinggi yang mengasingkan diri atau bertapa.”

“Ibu, aku ingin mencari harta karun itu di Thai-san!” tiba-tiba Kui Lin berseru kepada ibunya.

“Aku akan menemani Lin-moi, Ibu,” kata pula Kui Lan. “Kami berdua telah belajar silat dari Ibu selama bertahun-tahun. Sekaranglah saatnya memanfaatkan ilmu itu. Kami juga ingin membantu para pejuang.”

Nyonya The menghela napas panjang. “Kalau kalian berdua pergi, lalu bagaimana aku dapat hidup tenang seorang diri di sini? Kui Lan dan Kui Lin, bukannya aku melarang kalian pergi membantu para pendekar menentang penjajah Mongol, akan tetapi walaupun kalian pernah belajar silat dan sudah menguasai ilmu bela diri yang cukup kuat, kalian sama sekali belum berpengalaman. Di luar sana terdapat banyak orang jahat yang bukan saja memiliki ilmu kepandaian tinggi, akan tetapi terutama sekali yang berwatak curang dan penuh muslihat licik dan jahat. Bagaimana hatiku dapat tenang melepas kalian pergi mengembara?”

“Ibu, di sini ada Kakak Pouw Cun Giok yang sudah berpengalaman dan memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dia tentu tidak keberatan kalau kami berdua membantunya mencari harta karun ltu. Giok-ko, apakah engkau berkeberatan kalau kami Enci dan Adik melakukan perjalanan bersama dan membantumu mencari harta Kerajaan Sung itu?” kata Kui Lin dengan lincahnya.

Tentu saja Cun Giok tidak dapat menolak dan tidak berani mengatakan tidak mau atau keberatan. Jawaban demikian akan tampak sama sekali tidak sopan. Maka, walaupun dalam hatinya dia merasa ragu untuk melakukan perjalanan bersama dua orang gadis kembar itu, terpaksa dia menjawab. “Tentu saja aku tidak merasa keberatan, Lin-moi.”

“Nah, benar kan, Ibu? Kalau kami pergi bersama Glok-ko, tentu Ibu tidak akan merasa khawatir lagi, bukan?” Kui Lin mendesak ibunya.

“Lin-moi, jangan mendesak Ibu. Kalau Ibu tidak setuju, kita tidak akan pergi,” kata Kui Lan yang seolah bersikap sebagai pengendali adiknya yang liar.

“Tentu saja, Lan-ci! Kalau Ibu percaya bahwa Giok-ko pasti akan melindungi kita, dan kita sendiri pun mampu membela diri, tentu Ibu menyetujul keinginan kita untuk berbakti kepada tanah air dan bangsa!” kata Kui Lin dengan gembira, lalu disambungnya dan sekali ini tiba-tiba suaranya terdengar sedih, bahkan seperti hendak menangis. “Akan tetapi kalau Ibu tidak percaya kepada kita dan kepada Giok-ko, dan melarang kami pergi, biarlah kami akan menaati kehendak Ibu, tidak akan meninggalkan Lembah Seribu Bunga ini sampai tua...”

Nyonya The menahan tawanya dan tersenyum sambil memandang Kui Lin. “Anak nakal! Macam-macam saja akalmu! Tidak perlu engkau merayu seperti itu, aku tentu akan mempertimbangkan semua keinginan kalian berdua...”

“Terima kasih, Ibu! Ibu setuju, bukan?” Kui Lin sudah menghampiri dan merangkul ibunya.

Nyonya The mengangguk. “Baiklah, setelah mempertimbangkannya, kurasa memang sudah waktunya kalian menyumbangkan tenaga untuk membantu para pejuang. Aku yakin Sicu Pouw Cun Giok akan membimbing kalian dan mudah-mudahan saja kalian akan berhasil membantu Pouw-sicu menemukan harta karun Kerajaan Sung itu. Akan tetapi, Kui Lin, engkau harus berjanji akan menaati semua nasehat encimu.”

“Tentu saja, Ibu. Aku akan taat sekali kepada Enci Lan!”

“Dan kalian berdua harus menurut semua petunjuk yang diberikan Pouw-sicu. Selain dari itu, aku memberi waktu kepada kalian selama satu tahun. Setelah satu tahun kalian mengembara, kalian harus pulang ke sini!”

“Baik, Ibu, kami berjanji,” kata Kui Lan.

Dua orang gadis kembar itu lalu berkemas dan malam itu Cun Giok bermalam di gedung Lembah Seribu Bunga. Dalam kesempatan selagi Nyonya The berdua saja dengan Cun Giok karena kedua orang puterinya sedang sibuk berkemas, Nyonya The bertanya kepada Cun Giok.

“Pouw-sicu, setelah kedua orang tuamu tidak ada lagi, siapakah yang menjadi anggauta keluarga terdekat? Tentu engkau mempunyai sanak keluarga, Paman, Bibi, atau Saudara misan. Di mana mereka dan siapakah mereka?”

Cun Giok menggelengkan kepalanya dan hatinya merasa sedih. “Saya tidak mempunyai sanak keluarga lagi, Toanio. Semua Paman dan Bibi saya, juga Saudara misan, semua telah tewas oleh bangsa Mongol. Mendiang Ibu saya bermarga Tan, akan tetapi saya tidak pernah mendengar apakah Ibu saya mempunyai keluarga ataukah tidak! Bahkan saya tidak pernah mengenal Ayah Ibu kandung saya, karena Ayah terbunuh ketika saya masih dalam kandungan dan Ibu meninggal ketika melahirkan saya.” Dengan singkat Cun Giok menceritakan riwayat keluarganya yang terbasmi oleh mendiang Panglima Kong Tek Kok.

“Demikianlah, Toanio, saya tidak tahu apakah mendiang Ibu mempunyai sanak keluarga. Sejak lahir saya hanya mengenal Suhu Suma Tiang Bun sebagai satu-satunya orang yang hidup dengan saya, kemudian setelah Suhu tewas, saya melanjutkan latihan silat kepada Sukong (Kakek Guru) Pak-kong Lojin yang sekarang masih bertapa di Ta-pie-san. Beliau itulah kini satu-satunya keluarga saya.”

“Aduh, riwayatmu sungguh menyedihkan, Sicu. Memang jahat sekali bangsa Mongol. Mereka menjajah tanah air kita dan entah berapa banyak bangsa kita menjadi korban dan keluarga-keluarga berantakan karena kekejaman mereka.” Kemudian Nyonya The melanjutkan kata-katanya dan bertanya, “Sicu, apakah engkau juga tidak mempunyai tunangan yang menjadi calon jodohmu?”

Cun Giok menghela napas panjang. Hatinya menjadi pedih ketika dia teringat kepada Siok Eng. Sampai lama dia tidak menjawab pertanyaan itu. Sebetulnya, dia sama sekali tidak berniat untuk menceritakan tentang Siok Eng kepada siapa pun juga. Akan tetapi kalau sekarang dia tidak menjawab pertanyaan Nyonya The, hal itu akan membuat dia merasa tidak enak dan bahkan menimbulkan kecurigaan karena dia merahasiakan sesuatu. Setelah dapat menekan kesedihannya, dia berkata lirih.

“Saya pernah mempunyai seorang tunangan yang menjadi calon jodoh saya, Toanio. Akan tetapi tunangan saya itu pun tewas di tangan seorang putera Panglima Kim Bayan yang bernama Kim Magu.”

“Keparat! Mendengar akan kejahatan Kim Bayan dan puteranya itu, mengingat pula bahwa suamiku juga terbunuh oleh pasukan yang dipimpin Kim Bayan, rasanya ingin sekali aku terjun ke dunia kang-ouw untuk mencari dan membunuhnya! Akan tetapi karena sudah puluhan tahun aku terbiasa tinggal di tempat sunyi yang tenang tenteram ini, aku merasa enggan pergi ke dunia ramai. Biarlah kedua orang puteriku yang akan membantumu menghadapi orang-orang Mongol jahat seperti Kim Bayan itu.”

Setelah mendengar bahwa tunangan Cun Giok telah tewas, berarti pemuda itu bebas tidak ada ikatan, timbul dalam hati Nyonya The untuk menjodohkan seorang puterinya dengan Pouw Cun Giok! Pemuda itu adalah putera keluarga Pouw yang terkenal gagah perkasa, juga murid Suma Tiang Bun dan dia melihat betapa pemuda ini memiliki ilmu silat yang tinggi, juga baik budi. Akan tetapi karena ia dan puterinya baru hari itu bertemu dan berkenalan dengan Cun Giok, tentu saja amat tidak enak untuk membicarakan urusan perjodohan.

Pada keesokan harinya, ketika pagi-pagi dua orang puterinya yang menggendong buntalan pakaian dan membawa pedang, berangkat bersama Pouw Cun Giok, Nyonya The hanya memesan kepada dua orang anak kembarnya agar mereka berhati-hati, menaati petunjuk Cun Giok setelah dalam setahun mengembara harus segera pulang ke Lembah Seribu Bunga. Hanya di dalam hatinya ia mengharapkan agar dalam waktu satu tahun itu seorang di antara dua orang puterinya akan saling jatuh cinta dengan Cun Giok.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Perahu kecil itu melaju pesat, padahal hanya didayung oleh dua orang gadis yang tampak lemah-lembut dan cantik jelita. Mereka tadi meninggalkan pantai daratan dan mendayung perahu meluncur pesat menuju Pulau Ular yang tampak kecil dari jauh. Dua orang gadis itu masih muda, sekitar sembilan belas tahun usia mereka.

Yang seorang bertubuh denok sedang, kulitnya putih mulus, wajahnya berbentuk bulat telur, matanya tajam namun lembut, anak rambut yang berjuntai di dahi dan pelipis membuat wajah itu tampak semakin manis, apalagi ditambah lesung pipi kanan dan bibir indah yang selalu mengembangkan senyum ramah. Gadis jelita itu berpakaian sutera serba putih sehingga tampak seperti sekuntum bunga mawar putih yang indah bentuknya dan semerbak harum.

Gadis kedua juga amat cantik jelita walaupun sifat kecantikannya berbeda, bahkan agak berlawanan dengan gadis pertama. Gadis kedua berpakaian indah dan wajahnya yang cantik itu tampak lincah karena sepasang matanya seperti bintang. Bibirnya merah dan bentuk mulutnya menggairahkan dan ia tidak tampak lemah gemulai seperti gadis pertama, melainkan tampak mengandung kegagahan dan keberanian. Bagaikan setangkai bunga, ia adalah setangkai bunga hutan yang liar dan tumbuh bebas.

Kalau gadis pertama berpakaian putih tidak tampak membawa senjata, hanya buntalan pakaian yang tergantung di punggung, gadis kedua ini membawa pula sebatang pedang yang tergantung di punggung dengan buntalan pakaiannya. Rambutnya pun tidak seperti gadis pertama yang disanggul sederhana. Gadis kedua ini menyanggul rambutnya ke atas seperti model rambut para puteri bangsawan di kota!

Mereka adalah Liu Ceng Ceng dan Tan Li Hong. Setelah keduanya berpisah dengan Pouw Cun Giok, Ceng Ceng dan Li Hong mengambil keputusan untuk melanjutkan tugas Ceng Ceng mencari harta karun Kerajaan Sung seperti dipesan mendiang ayahnya. Harta karun itu telah hilang dari tempat persembunyiannya, diambil orang yang meninggalkan huruf THAI SAN di peti yang telah kosong. Setelah mendayung perahu beberapa lamanya, mereka melihat gugusan pulau-pulau di depan. Ceng Ceng yang berbaju putih itu bertanya kepada Li Hong, gadis lincah yang telah mengangkat saudara dan kini menjadi adik angkatnya.

“Hong-moi (Adik Hong), yang manakah pulau tempat tinggalmu? Aku melihat begitu banyak pulau di depan itu,” kata Ceng Ceng sambil memandang ke arah gugusan pulau-pulau itu.

“Aih, Enci Ceng, apakah engkau tidak dapat menduga? Hayo, aku uji kecerdikanmu. Coba terka yang mana yang Coa-to (Pulau Ular) tempat tinggal Ibuku. Masa engkau tidak dapat menebak? Bukankah engkau pernah bersama Giok-ko berkunjung ke pulau kami?”

“Benar, akan tetapi ketika itu kami diantar seorang nelayan dan tidak memperhatikan keadaan seperti sekarang. Akan tetapi, kalau tidak keliru tebakanku, agaknya Pulau Ular itu yang terletak paling kanan itu, bukan?”

“Wah, tebakanmu tepat, Enci Ceng! Bagaimana engkau dapat menebak begitu tepat?”

“Mudah saja. Pulau itu berbeda bentuknya dengan pulau-pulau lainnya. Bentuknya memanjang dan berlekuk-lekuk seperti ular.”

“Benar sekali perkiraanmu, Enci Ceng. Pulau itu dinamai Pulau Ular oleh para nelayan karena bentuknya.”

“Akan tetapi di sana memang terdapat banyak ular. Bukankah kekayaannya akan ular itu yang membuatnya disebut Pulau Ular?”

“Bukan. Sebelum Ibuku tinggal di sana, pulau itu sama dengan pulau kecil lainnya, tidak ada ularnya. Setelah Ibu mengambil keputusan untuk tinggal di pulau itu, untuk menyesuaikan nama pulau itu dan juga untuk keperluan mengambil racunnya, Ibuku yang juga guruku itu membawa ribuan ular, di antaranya banyak yang berbisa, dan dilepas di pulau itu.”

Karena kini datang ke Coa-to bersama Li Hong, maka tentu saja dengan mudahnya mereka mendarat di Pulau Ular dan dapat mengambil jalan yang aman dari jebakan menuju ke perkampungan yang berada di tengah pulau...

Thanks for reading Harta Karun Kerajaan Sung Jilid 08 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »