Pendekar Tanpa Bayangan Jilid 32

32: BALAS BUDI SANG MURID

Di Hoa-san-pai ia dikeroyok para tokoh Hoa-san-pai, namun ia berhasil merobohkan dan membunuh banyak murid Hoa-san-pai dengan ilmunya yang keji. Akan tetapi ketika Goat-liang Sanjin muncul, ia masih kalah dan terpaksa melarikan diri karena tidak mampu menandingi ketua Hoa-san-pai itu. Sejak itu, Lili yang telah dikenal sebagai Ban-tok Kui-bo menghilang lagi.

Ternyata ia telah menemukan Pulau Ular dan menjadi majikan pulau itu dan membangun sebuah perkampungan di situ, mempunyai anak buah yang ia beri pelajaran ilmu silat. Ketika Ban-tok Kui-bo berusia dua puluh tujuh tahun, ia sudah memperdalam lagi ilmu-ilmunya sehingga matang betul. Ia bahkan melatih diri dengan ilmu-ilmu pukulan dahsyat dan keji, pukulan yang mengandung racun-racun ular yang terdapat banyak di pulaunya.

Mulai timbullah rasa rindu yang amat hebat dalam hatinya kepada Tan Kun Tek, kekasihnya dahulu. Ia mencoba untuk menekan perasaan rindunya, namun tidak berhasil, bahkan rasa rindu itu menjadi semakin hebat. Ia harus menemui kekasihnya itu dan melihat bagaimana sikap laki-laki itu terhadap dirinya. Masih adakah cinta di hati Tan Kun Tek kepadanya?

Ia tidak dapat menyalahkan kekasihnya itu yang telah ditunangkan dengan gadis lain oleh orang tuanya sebelum pemuda itu bertemu dengannya. Akhirnya karena tidak tahan lagi, pergilah ia mencari bekas kekasihnya itu. Ia mendengar bahwa Tan Kun Tek kini tinggal di kota Seng-hai-lian dan menjadi pedagang, hidup bahagia bersama isterinya.

Ketika ia mengintai dan melihat bekas kekasihnya yang hidup bahagia dengan isterinya dan seorang anak perempuan yang ketika itu berusia dua tahun, ia tidak tega untuk mengganggu bekas kekasihnya. Tan Kun Tek tidak bersalah kepadanya. Pria itu masih mencintanya dan ia sendirilah yang meninggalkannya karena tidak berani berjumpa setelah mukanya cacat.

Ia melihat kebahagiaan Tan Kun Tek menjadi iri. Ia sendiri menderita dan kekasihnya itu hidup berbahagia. Lalu timbul niatnya untuk menghukum Tan Kun Tek dan isterinya agar merasakan penderitaan seperti dirinya. Diam-diam ia mencari kesempatan dan akhirnya berhasil menculik puteri mereka yang berusia dua tahun itu. Ia tidak meninggalkan jejak dan membawa Tan Li Hong, anak itu, ke Pulau Ular!

Setelah selama beberapa tahun melampiaskan kekecewaan dan sakit hatinya terhadap kaum pria, bersikap kejam sekali kepada laki-laki yang menjadi lawannya sehingga ia dijuluki Ban-tok Kui-bo, ia hidup bersama Tan Li Hong di pulau itu. Ia menurunkan semua ilmu kepandaiannya kepada anak itu.

Kini Tan Li Hong telah menjadi seorang gadis berusia sembilanbelas tahun. Agaknya semua usaha ayah bundanya untuk mencarinya sia-sia belaka. Tak seorang pun menduga bahwa ia berada di Pulau Ular. Tan Li Hong kini menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan lihai bukan main. Akan tetapi wataknya lincah, manja, licik dan aneh karena ia dididik oleh Ban-tok Kui-bo yang juga berwatak aneh. Hanya saja, masih ada watak gagah dan baik dalam lubuk hati gadis itu.

Selain ilmu silat dan ilmu tentang racun, juga Li Hong diberi pelajaran ilmu membaca menulis, walaupun tidak terlalu mendalam, cukup untuk dapat membaca dan menulis. Setelah ia mulai dewasa, Li Hong seringkali bertanya kepada gurunya, siapakah orang tuanya, siapa ayah dan ibunya. Ban-tok Kui-bo selalu menjawab bahwa saatnya belum tiba baginya untuk mengetahui orang tuanya.

“Ayahmu bermarga Tan dan sekarang masih hidup bersama ibumu, akan tetapi belum saatnya engkau mengetahui, Li Hong,” katanya.

“Akan tetapi mengapa, Subo (Ibu Gu¬ru)? Kenapa aku tidak boleh mengetahui siapa ayah ibuku?”

“Bukan tidak boleh, melainkan hanya belum tiba waktunya. Apakah engkau kekurangan cinta kasih dariku sebagai pengganti ayah ibumu?”

Li Hong yang biasa manja kepada gurunya, memeluk gurunya sambil berkata. “Ah, tentu saja kasih sayang Subo sudah cukup dan aku berbahagia sekali. Aku juga amat mencinta Subo, bahkan andaikata aku menemukan orang tuaku, belum tentu aku akan dapat mencinta mereka yang selama ini tidak kukenal itu sebesar cintaku terhadap Subo.”

Ban-tok Kui-bo merangkul dan mencium Li Hong yang ia anggap seperti anaknya sendiri. Ia dahulu menculik Li Hong bukan dengan niat jahat, melainkan sekadar menghukum bekas kekasihnya yang hidup bahagia sedangkan ia sendiri menderita. Setelah Li Hong hidup bersamanya, timbul kasih sayangnya yang besar sehingga rasa cintanya kepada Tan Kun Tek ia limpahkan semua kepada muridnya yang ia anggap anaknya sendiri itu.

“Li Hong, Anakku dan juga muridku tersayang, percayalah, akan datang waktunya aku memberitahu kepadamu siapa orang tuamu. Akan tetapi sebelum itu, maukah engkau membalas semua kasih sayang yang telah kucurahkan kepadamu selama ini? Aku merawat dan mendidikmu sejak engkau berusia dua tahun sampai kini berusia sembilanbelas tahun. Apakah engkau juga amat cinta padaku dan suka membelaku, menuruti semua permintaanku?”

“Aih, tentu saja, Subo! Budi yang Subo limpahkan kepadaku teramat besar! Aku akan membelamu sampai mati dan apa pun yang Subo perintahkan, akan kukerjakan dengan hati senang!”

“Nah, sekarang kau lihat wajah gurumu ini baik-baik! Lihat dan perhatikan! Bagaimana menurut pendapatmu wajahku ini?”

Li Hong menatap wajah gurunya. “Kenapa Subo menanyakan itu? Wajah Subo cantik, kulit Subo putih mulus, badan Subo juga langsing padat. Subo cantik sekali!” kata Li Hong dengan sungguh-sungguh.

“Hemm, pujianmu bahkan menyakiti hatiku, Li Hong, seolah engkau mengejekku.”

“Subo...!” Gadis itu merangkul dan mencium pipi gurunya. “Mengapa Subo berkata begitu? Aku sama sekali tidak mengejek dan kalau ada orang berani mengejek Subo, pasti akan kupukul hancur mulutnya!”

“Li Hong, apa engkau tidak melihat ini?” Ban-tok Kui-bo meraba codet di pipi kirinya. “Bukankah wajahku menjadi buruk dan menyeramkan dengan adanya cacat ini?”

“Ah, bagiku sama sekali tidak, Subo. Aku sudah terbiasa melihatnya dan cacat itu tidak mengurangi kecantikanmu.”

“Hemm, itu adalah pandanganmu karena engkau mencintaku, Li Hong. Akan tetapi orang lain merasa takut dan jijik melihat mukaku. Aku dulu cantik seperti engkau, akan tetapi ada orang kejam yang melukai mukaku sehingga cacat.”

“Ah, siapakah orang kejam itu, Subo? Aku yang akan membalaskan sakit hati Subo!” kata Li Hong penuh semangat.

“Memang aku ingin sekali engkau membalaskan dendamku. Akan tetapi sebaiknya engkau dengar dulu ceritaku, baru memutuskan apakah engkau berani membalaskan sakit hatiku. Dengarlah! Dulu, ketika aku seusiamu sekarang, aku adalah seorang gadis pendekar yang cantik dan banyak pemuda jatuh cinta padaku. Akan tetapi aku memilih seorang pemuda dan menolak mereka yang hendak melamarku. Akan tetapi, pemuda kekasihku itu telah ditunangkan dengan gadis lain! Ketika aku hendak mencari keputusan dari kekasihku itu, tiba-tiba muncul orang ini yang menyerangku. Kami bertanding dan aku terluka pada pipiku ini. Nah, sejak itu, aku tidak berani bertemu kekasihku itu, aku malu karena mukaku telah cacat. Aku mengasingkan diri di sini memperdalam ilmu-ilmuku. Kini semua ilmuku telah kuturunkan padamu, Li Hong, dengan harapan engkau akan mau mewakili aku membalas dendamku kepada orang itu.”

“Tentu saja, aku siap, Subo. Katakan siapa orangnya dan di mana tempat tinggalnya. Aku akan pergi ke sana sekarang juga!”

“Engkau tidak takut, Li Hong? Ingat, orang itu lihai bukan main, dan di sana terdapat pula banyak muridnya yang lihai. Engkau mempertaruhkan nyawamu kalau hendak membalaskan dendamku ini.”

“Aku tidak takut, Subo. Tidak percuma Subo mengajarkan semua ilmu dan juga kecerdikan menggunakan siasat kepadaku selama ini. Aku pasti akan dapat membunuh orang itu dan aku siap mempertaruhkan keselamatan nyawaku!”

“Bagus! Aku yakin engkau akan dapat membunuhnya. Orang kejam itu bernama Goat-liang Sanjin, ketua Hoa-san-pai yang terletak di Bukit Hoa-san. Kini usianya tentu sudah sekitar delapanpuluh tahun. Akan tetapi banyak muridnya yang masih muda dan tangguh.”

“Baik, sekarang juga aku akan membuat persiapan dan akan berangkat, Subo,” kata Tan Li Hong penuh semangat.

“Bagus, melihat kesanggupan dan semangatmu ini saja aku sudah merasa gembira sekali, Li Hong. Tidak percuma rasanya aku mencintamu dan merawat serta mendidikmu sejak engkau berusia dua tahun. Bersiaplah, muridku dan aku berjanji, setelah engkau melaksanakan tugas ini, engkau pulang ke sini dan aku akan memberitahu kepadamu siapa dan di mana adanya orang tuamu.”

“Terima kasih, Subo!” Dengan gembira Li Hong lalu berlari ke kamarnya dan berkemas. Ia membawa buntalan berisi pakaian dan beberapa petong uang emas dan perak, tidak lupa membawa pedangnya dan semua perlengkapan berupa macam-macam racun dan obat penawarnya. Setelah berpamit kepada gurunya, Li Hong lalu berangkat dengan perahu yang didayung seorang anak buah Pulau Ular dan berangkatlah ia menuju Hoa-san-pai.

Seperti kita ketahui, gadis yang lincah, lihai dan cerdik ini berhasil menyusup ke Hoa-san-pai tanpa ada yang mengetahui, kemudian ia berhasil menyerang Goat-liang Sanjin dengan satu pukulan Hek-tok Tong-sim-ciang, akan tetapi hanya sempat satu kali saja memukul karena Hoa-san Ngo-heng-tin muncul. Li Hong maklum bahwa kalau ia nekat, tentu segera semua murid Hoa-san-pai akan datang dan akan sukarlah baginya untuk dapat meloloskan diri.

Maka dia melarikan diri, akan tetapi dasar ia cerdik, ia tidak lari jauh dan masih bersembunyi di perkampungan Hoa-san-pai. Gerakannya yang amat gesit membuat ia mudah bersembunyi dan para murid Hoa-san-pai sama sekali tidak mengira bahwa penyerang ketua mereka itu masih berada di perkampungan mereka. Karena masih berada di Hoa-san-pai, Li Hong dapat mendengar rencana Hoa-san Ngo-heng-tin untuk minta bantuan Im Yang Yok-sian yang berada tidak jauh dari situ.

Li Hong terkejut. Ia sudah mendengar dari gurunya bahwa satu-satunya orang yang mungkin dapat mengobati pukulan beracun yang amat ampuh itu adalah seorang ahli pengobatan bernama Im Yang Yok-sian. Li Hong khawatir sekali. Kalau Im Yang Yok-sian menolong ketua Hoa-san-pai, mungkin Si Dewa Obat itu akan dapat menyembuhkannya dan ini berarti bahwa tugasnya telah gagal.

Untuk mengulang penyerangannya terhadap ketua Hoa-san-pai rasanya tidak mungkin karena para murid kini menjaganya dengan ketat. Ia harus dapat menggagalkan usaha para murid Hoa-san-pai untuk minta bantuan Im Yang Yok-sian. Maka, ketika mendapat kesempatan, ia langsung melarikan diri dari Hoa-san-pai dan mencari Im Yang Yok-sian.

Tidak sukar baginya untuk menemukan tempat pertapaan Si Dewa Obat dan dengan mudah ia menyelinap masuk pondok. Keadaannya menguntungkan baginya karena Si Dewa Obat itu ternyata hidup seorang diri di dalam pondoknya.

Pada saat itu, seperti juga Goat-liang Sanjin, Im Yang Yok-sian sedang bersamadhi. Maka, ketika Li Hong menyerangnya dengan tiba-tiba, dia tidak dapat menghindarkan diri dengan cepat. Apalagi memang Im Yang Yok-sian lebih dalam kepandaiannya mengobati daripada ilmu silatnya. Dia sudah mencoba untuk menghindarkan diri, namun tetap saja dia terkena dua kali pukulan Li Hong sehingga dia roboh dan tewas.

Setelah melihat bahwa Im Yang Yok-sian tewas, Li Hong lalu melarikan diri. Kini ia merasa yakin bahwa Goat-liang Sanjin pasti akan tewas. Ini berarti tugasnya berhasil baik dan ia akan segera mengetahui siapa ayah bundanya, dapat mencari dan bertemu dengan mereka! Maka ia pun bergegas pulang ke Pulau Ular. Ban-tok Kui-bo tersenyum girang mendengar laporan Li Hong.

“Akan tetapi terpaksa aku membunuh Im Yang Yok-sian karena aku mendengar para murid Hoa-san-pai hendak minta pertolongan Dewa Obat itu untuk menyembuhkan ketua Hoa-san-pai, Subo. Aku tidak ingin tugasku gagal!”

Ban-tok Kui-bo merangkul muridnya dan menciumnya. “Ah, sekarang aku memetik dan menikmati buah dari tanaman yang kurawat selama belasan tahun. Engkau telah dapat membalaskan sakit hatiku. Tidak apalah kalau engkau terpaksa membunuh Si Dewa Obat karena orang itu dapat merupakan ancaman bagiku. Dengan kepandaiannya yang luar biasa mengobati semua penyakit, semua ilmu pukulan beracunku tidak ada artinya lagi dan aku tidak akan disegani lagi oleh seluruh orang dunia kang-ouw! He-he-heh! Aku senang sekali, Li Hong!”

“kalau Subo cukup senang dan puas. Akan tetapi aku belum, Subo!”

“He-he-heh!” Ban-tok Kui-bo terkekeh. “Katakan saja engkau menagih janji! Aku amat sayang padamu, Li Hong, dan tidak akan menipumu, tidak akan melanggar janji. Nah, sekarang engkau berhak mengetahui siapa ayahmu. Dia bernama Tan Kun Tek dan dahulu dia tinggal di kota Seng-hai-lian. Ayahmu itu seorang pendekar murid Bu-tong-pai, tubuhnya sedang, wajahnya tampan dan sikapnya gagah!”

Melihat betapa gurunya memandang kosong seperti melamun dan pujiannya terhadap Tan Kun Tek itu diucapkan dengan suara tergetar, Li Hong memegang tangan gurunya.

“Subo, dia itukah kekasih Subo yang menikah dengan wanita lain? Kemudian karena Subo mendendam, maka Subo menculik aku dari tangan mereka?”

Ban-tok Kui-bo merangkul leher muridnya dan mendekap kepala gadis itu ke dadanya. “Benar, Li Hong. Akan tetapi aku sayang padamu dan engkau kuanggap anakku sendiri karena engkau keturunan Tan Kun Tek. Kalau aku tidak dapat hidup bersama dia, engkau sebagai penggantinya dan aku hanya ingin merasakan bagaimana sengsaranya ditinggal orang yang dicintanya. Sekarang, karena semua ilmu sudah kuturunkan kepadamu, dan tentu penderitaan Tan Kun Tek sudah cukup lama, aku membolehkan engkau kembali kepada orang tuamu.” Suara Ban-tok Kui-bo terdengar sedih. “Akan tetapi, aku minta kepadamu, jangan engkau membenci aku karena perbuatanku itu dan jangan... jangan lupakan aku, Li Hong!”

Li Hong amat menyayang gurunya yang selama belasan tahun ini menjadi pengganti orang tuanya. Biarpun ia terkejut dan penasaran mendengar bahwa gurunya menculiknya ketika ia berusia dua tahun, namun karena ia belum tahu apa-apa ketika itu dan sekarang ia sudah lupa bagaimana rupa ayah ibunya, maka tentu saja perasaannya lebih dekat dengan gurunya daripada dengan orang tuanya.

“Tidak, Subo. Aku dapat mengerti perasaan hatimu yang sakit karena ayahku yang menikah dengan wanita lain bahkan sampai sekarang Subo tidak mau menikah. Aku akan mencari ayahku dan akan kutegur dia, kuterangkan betapa ayah telah membuat Subo menderita sampai sekarang. Aku akan berangkat sekarang mencari orang tuaku di Seng¬hai-lian, Subo.”

“Pergilah dan kembalilah kepada mereka. Hanya kuminta, jangan engkau melupakan aku, Li Hong, dan kalau ada waktu, jenguklah gurumu ini.”

Li Hong berkemas membawa pakaiannya dan Ban-tok Kui-bo memberi sekantung kecil emas dan permata, juga ia memberikan pedangnya yang amat ampuh, yang diberi nama Ban-tok-kiam (Pedang Selaksa Racun), sebatang pedang pendek tipis dan ringan, kalau dimainkan berubah menjadi sinar kehijauan. Setelah berangkulan dan berciuman dengan gurunya, Li Hong lalu meninggalkan Pulau Ular, diantar dengan perahu oleh seorang anak buah. Seperti biasa, ia berpakaian sebagai pria.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Pouw Cun Giok dan Liu Ceng Ceng tiba di pantai Teluk Po-hai. Mereka memandang ke arah timur dan laut membentang luas. Mereka lalu menghampiri beberapa orang nelayan yang sedang membetulkan jala yang koyak, ada pula yang menambal kebocoran perahunya. Mereka adalah para nelayan yang miskin, dan penghasilan mereka hanya menggantungkan nasib ketika menjala ikan.

Melihat seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik menghampiri mereka, belasan orang nelayan itu memandang heran. Mereka adalah orang-orang kasar yang setiap hari berjuang dengan kehidupan yang sukar dan keras sehingga wajah mereka yang kehitaman dibakar sinar matahari setiap hari itu tampak kaku dan bengis.

Setelah berhadapan dengan mereka, Cun Giok berkata dengan ramah. “Sobat-sobat, kami berdua ingin menyewa perahu. Apakah ada di antara kalian yang mau menyewakan perahu kepada kami dan mengantarkan kami ke sebuah tempat di sana?” Cun Giok menuding ke arah laut.

“Mengantar ke mana? Kalian hendak ke mana?” Belasan orang itu menghentikan pekerjaan mereka dan semua kini berkumpul menghadapi Cun Giok dan Ceng Ceng.

“Antarkan kami ke Pulau Ular,” kata Cun Giok.

Tiba-tiba belasan orang itu terbelalak dan mereka mundur-mundur ketakutan memandang kepada pemuda dan gadis itu. Melihat mereka ketakutan, Cun Giok bertanya,

“Kenapa? Ada apa dengan kalian ini?”

Seorang di antara mereka paling tua, bertanya dengan suara gemetar. “Apa... apakah (Anda Berdua) anggauta keluarga... Pulau Ular...?”

Cun Giok menggelengkan kepalanya. “Bukan, Paman. Kami hanya pelancong yang ingin melihat Pulau Ular.”

Kini belasan orang itu tampak lega, bahkan beberapa orang di antara mereka tertawa. Seorang dari mereka, yang bertubuh tinggi besar dan kokoh kuat, agaknya menjadi pemimpin mereka, melangkah maju menghampiri Cun Giok dan Ceng Ceng. Pandang matanya kini ditujukan kepada Ceng Ceng sehingga gadis itu mengerutkan alisnya merasa seolah-olah pandang mata orang itu meraba dan membelai seluruh tubuhnya!

“Ha-ha-ha, melancong ke Pulau Ular? Melancong ke sana berarti melancong ke alam baka, tidak akan dapat kembali karena kalian akan mati secara mengerikan. Ha-ha-ha!”

“Kami akan membayar mahal jika ada yang berani mengantar kami ke pulau Ular!” kata Ceng Ceng.

Nelayan yang paling tua tadi berkata dengan nada mengandung rasa takut. “Aih, Nona, andaikan Nona membayar dengan sebukit emas, apa artinya bagiku kalau aku mati? Tak seorang pun dapat mendekati pulau itu dan pulang dengan selamat, apalagi sampai berkunjung ke sana!”

“Hua-ha-ha!” Laki-laki tinggi besar tadi tertawa dan mendekati Ceng Ceng. “Nona manis, sungguh sayang kalau Nona yang masih muda dan begini cantik jelita, mati di sana. Lebih baik hidup dan bersenang-senang dengan aku!”

Mendengar ini, Cun Giok melangkah hendak menghajar nelayan muda yang kurang ajar itu. Akan tetapi Ceng Ceng memegang lengannya dan memberi isyarat agar pemuda itu bersabar. Gadis itu lalu memandang kepada nelayan tua tadi dan berkata dengan lembut dan ramah.

“Paman, maukah Paman menerangkan... apa sih bahayanya pergi ke Pulau Ular? Harap Paman jelaskan agar kami yang belum mengenal pulau itu dapat mengerti...”

Thanks for reading Pendekar Tanpa Bayangan Jilid 32 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »