Pendekar Tanpa Bayangan Jilid 26

26: KEPALA DAERAH YANG DI HORMATI

“Eh-eh, harap kalian jangan bersikap begini. Bangkit dan duduklah. Mari kita bicara karena peristiwa tadi tentu membuat keselamatan kalian terancam,” katanya dengan suara lembut.

Buntalan pakaian yang tadi digendong di punggungnya, ia lepaskan dan taruh di atas meja. Dibukanya buntalan itu. Ternyata isinya selain pakaian, juga banyak botol-botol kecil dan bungkusan-bungkusan obat. Ia mengambil sebuah bungkusan, membukanya dan memberikannya kepada Siok Hwa.

“Taburkan sedikit bubuk obat ini ke bagian muka mereka yang bengkak dan berikan mereka masing-masing sebutir pel ini untuk ditelan.”

Siok Hwa mematuhi petunjuk itu dan setelah bengkak-bengkak pada muka Siok Kan dan Chao Kung ditaburi obat bubuk merah dan mereka menelan sebutir pel, rasa nyeri-nyeri pada tubuh mereka pun berkurang banyak.

“Lihiap, kami sekeluarga berterima kasih sekali kepada Lihiap, kalau tidak ada Lihiap yang datang menolong, celakalah kami sekeluarga,” kata Chao Kung sambil menjura.

“Tidak perlu berterima kasih. Yang penting sekarang, harap kalian ceritakan mengapa kalian dimusuhi perwira dan pasukannya itu.” Gadis itu berkata lembut setelah dipersilakan duduk di atas kursi.

“Nama saya Chao Kung, ini adalah Ayah mertua saya bernama Siok Kan. Yang ini adalah isteri saya Siok Hwa dan adiknya bernama Siok Eng. Yang terjadi membuat kami sekeluarga penasaran sekali, Lihiap (Pendekar Wanita)!” kata Chao Kung dan dia lalu menceritakan tentang semua peristiwa yang menimpa sekeluarganya.

“Hemm, jadi yang menjadi gara-gara adalah Lai Koan tadi yang didalangi oleh Kim-kongcu dan Kui-kongcu? Siapa itu Kim-kongcu dan Kui-kongcu?”

“Mereka adalah pemuda-pemuda putera pejabat tinggi yang berkuasa di Cin-yang ini, Lihiap. Kim-kongcu bernama Kim Magu, putera Kim Bayan yang menjadi panglima besar di daerah Shan-tung. Adapun Kui-kongcu bernama Kui Con, putera Kepala Pengadilan Kui Hok di kota ini.”

“Hemm, sekarang katakan, apakah di Cin-yang ini tidak ada pejabat yang jujur dan bijaksana? Bagaimana dengan Kepala Daerah di sini?”

Chao Kung segera menjawab. “Kepala Daerah di Cin-yang ini bernama Yo Bun San. Yo-thaijin adalah seorang yang bijaksana dan adil, Lihiap.”

“Apakah para pejabat itu bangsa Mongol, atau Pribumi Han?”

“Panglima Kim Bayan adalah seorang Mongol, Pembesar Kui Hok seorang Pribumi, dan Pembesar Yo adalah seorang peranakan Mongol/Han.”

“Bagus, sekarang berkemaslah kalian. Kumpulkan dan bawa pakaian dan barang berharga. Kalian akan kubawa menghadap Kepala Daerah Yo Bun San, malam ini juga. Kalau dia seorang pejabat tinggi yang bijaksana, tentu dia akan mau melindungi dan menolong kalian. Biar aku yang bicara dengannya nanti.”

Karena gadis baju putih itu merupakan satu-satunya harapan mereka untuk dapat terhindar dari bencana, maka Chao Kung sekeluarga menaati petunjuknya. Mereka berkemas, membawa pakaian dan barang berharga seperti perhiasan dan sebagainya, ditaruh dalam sebuah gerobak dorong dan mereka siap berangkat.

“Lihiap adalah penolong dan penyelamat kami. Mohon tanya, siapakah nama Lihiap yang mulia?” tanya Chao Kung dan pertanyaan ini didukung ayah mertuanya, isterinya dan adik iparnya.

Gadis itu tersenyum ramah. “Namaku Liu Ceng, aku datang dari Nan-king. Hanya itulah yang dapat kuceritakan. Mari kita berangkat!”

Setelah menitipkan rumahnya kepada tetangga terdekat, Chao Kung sekeluarga lalu pergi menyurung gerobaknya bersama gadis penolong mereka yang bernama Liu Ceng itu menuju gedung Yo-thaijin yang menjadi Kepala Daerah di Cin-yang.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Yo Bun San adalah seorang peranakan. Ayahnya seorang Mongol aseli yang dulu menjadi seorang perwira tinggi ketika pasukan Mongol masih melebarkan sayapnya ke mana-mana. Ayahnya tewas dalam perang dengan mendapat kehormatan. Ibunya juga sudah meninggal. Ibunya seorang Pribumi Han. Karena jasa-jasa mendiang ayahnya, juga karena Yo Bun San telah lulus ujian kesusastraan, maka dia diangkat menjadi pejabat tinggi dan kini memegang jabatan Kepala Daerah di Cin-yang.

Kini usianya sudah sekitar lima puluh tahun, sikapnya lembut dan sopan. Tubuhnya tinggi kurus dan wajahnya bersih tanpa kumis dan jenggot. Dia seorang pejabat yang adil, jujur dan bijaksana sehingga penduduk Cin-yang menghormatinya. Para pejabat lain tidak suka kepada Kepala Daerah yang jujur dan tidak mau korupsi ini, akan tetapi mereka tidak berani mengganggu karena Yo Bun San memiliki hubungan baik dengan para pejabat di kota raja. Bahkan Kim Bayan, Panglima Tinggi yang menguasai semua pasukan di daerah Shan-tung, segan kepada Yo-thaijin ini.

Ketika Yo-thaijin mendapat laporan dari para penjaga bahwa ada lima orang datang mohon keadilan, dia merasa heran akan tetapi pembesar yang selalu memperhatikan rakyatnya ini, keluar juga menyambut di ruangan tamu biarpun kunjungan itu dilakukan di waktu malam.

Ketika berhadapan dengan Yo-thaijin, Chao Kung dan isterinya, Siok Kan dan Siok Eng, segera menjatuhkan diri berlutut di depan Yo-thaijin. Gadis berpakaian putih bernama Liu Ceng itu, tidak berlutut, hanya berdiri dan memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada.

“Yo-thaijin, maafkan saya. Sesungguhnya sayalah yang mengajak keluarga ini datang menghadap Paduka di malam hari ini.”

Yo-thaijin mengangguk-angguk dan ketika dia melihat Chao Kung dia berkata. “Ah, bukankah engkau Chao Kung, pedagang rempa-rempa itu?”

“Benar sekali, Thai-jin. Ini adalah Ayah mertua saya Siok Kan, ini isteri saya Siok Hwa dan Adik ipar saya Siok Eng,” jawab Chao Kung dengan perasaan tegang dan juga khawatir. Dia meragu apakah datang menghadap Yo-thaijin ini akan berhasil menyelamatkan dia sekeluarga.

“Apakah yang terjadi? Mengapa malam-malam begini kalian datang berkunjung?” tanya pembesar itu.

“Sayalah yang membawa keluarga ini ke sini, Thai-jin,” kata Liu Ceng.

Ia lalu menceritakan apa yang terjadi dengan keluarga Chao Kung, betapa Perwira Lai Koan hendak menarik Siok Kan dan Chao Kung menjadi kerja-paksa lalu untuk membebaskan mereka dari kerja-paksa itu, Lai Koan memaksa Siok Hwa dan Siok Eng untuk mau menjadi permainan Kim-kongcu dan Kui-kongcu.

“Demikianlah, Yo-thaijin. Kebetulan saya lewat dan melihat itu saya lalu turun tangan membebaskan keluarga ini dan memberi hajaran kepada Perwira Lai dan pasukannya. Karena saya maklum bahwa keluarga ini pasti akan terancam keselamatannya, maka saya sengaja membawa mereka ke sini untuk minta pertimbangan Thai-jin yang terkenal adil dan bijaksana. Saya mengharap kebijaksanaan Thai-jin untuk melindungi keluarga yang menjadi warga kota yang terancam ini!”

Yo-thaijin menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghela napas panjang. “Aahh, sudah sering kami mendengar akan kejanggalan dalam mengumpulkan tenaga kerja bakti, akan tetapi karena tidak ada yang berani melapor, kami tidak mempunyai saksi dan bukti untuk menuntut yang bersalah. Sekarang keluarga Chao Kung dapat menjadi saksi, kami akan melaporkan kepincangan ini kepada Pemerintah Pusat. Perintah dari Kaisar untuk mengumpulkan tenaga kerja bakti bukan dengan cara seperti itu. Bukan memaksa, dan diberi imbalan upah yang sepadan. Biarlah, kami terima keluarga ini mengungsi dulu di sini sampai keadaan aman dan urusan ini kami selesaikan dengan mereka yang tersangkut. Akan tetapi, Nona...”

Pembesar itu menghentikan kata-katanya karena dia teringat bahwa dia belum mengetahui nama gadis lemah lembut yang ternyata seorang pendekar wanita ini. Liu Ceng atau yang biasa oleh orang tuanya disebut Ceng Ceng, tanggap akan kesangsian Kepala Daaerah Yo, segera menyambung.

“Nama saya Liu Ceng, Thai-jin.”

“Nona Liu, keluarga Chao Kung boleh mengungsi dan tinggal di sini, akan tetapi maaf, kami tidak berani menerimamu setelah engkau menentang Lai-ciangkun yang menjadi utusan Kim-kongcu dan Kui-kongcu. Kami kira sebaiknya kalau engkau segera meninggalkan Cin-yang secepatnya.”

Ceng Ceng segera memberi hormat dan berkata dengan senyum berkembang di bibirnya. “Terima kasih, Thai-jin. Saya percaya bahwa Thai-jin yang bijaksana tentu akan menolong dan melindungi keluarga ini. Nah, sekarang saya pergi!”

“Lihiap, terima kasih...!” Empat orang pengungsi itu sambil masih berlutut mengucapkan terima kasih berulang-ulang, akan tetapi tubuh gadis itu sudah berkelebat sehingga tampak bayangan putih seperti terbang, dengan cepat menghilang dari gedung itu!

Yo-thaijin lalu memerintahkan orang-orangnya untuk membawa empat orang itu ke bagian belakang gedung di mana terdapat banyak kamar untuk para pembantu dan pelayan. Mereka mendapatkan dua buah kamar dan untuk sementara mereka diperkenankan tinggal di gedung Pembesar Yo. Biarpun mereka dianggap sebagai tamu, namun empat orang yang tahu diri ini tidak mau menganggur. Mereka berempat membantu pekerjaan para pembantu dan pelayan sehingga diam-diam Yo-thaijin merasa senang.

********************

Bayangan itu berkelebat dengan gesit sekali ketika melompat ke atas wuwungan gedung tempat tinggal Pembesar Kui Hok, Kepala Pengadilan kota Cin-yang. Melihat pakaiannya yang serba putih sehingga bayangannya yang berkelebatan juga merupakan bayangan putih, kita mudah menduga bahwa bayangan itu tentulah Liu Ceng atau Ceng Ceng.

Ceng Ceng adalah seorang gadis berusia sembilanbelas tahun yang bertubuh sedang dan padat denok. Rambutnya panjang dengan anak rambut menghias dahi dan pelipis, melingkar dengan indahnya. Wajahnya bulat telur, matanya tajam bersinar dan bibirnya yang banyak senyum menjadi tambah manis karena kalau ia tersenyum, di ujung kanan bibirnya timbul lesung yang menarik.

Ia adalah puteri tunggal Liu Bok Eng, bekas panglima Kerajaan Sung yang lihai. Dia ikut mempertahankan Kerajaan Sung ketika pasukan Mongol datang menyerbu. Akan tetapi kekuatan pasukan Mongol tak terbendung sehingga sisa pasukan Sung melarikan diri ke selatan dan menetap di Nan-king. Ketika Nan-king juga direbut, Liu Bok Eng menjadi patah hati dan dia mengundurkan diri. Dia tetap tinggal di Nan-king dan berdagang rempa-rempa bahan obat. Di Nan-king dia tinggal bersama isteri dan puterinya, yaitu Liu Ceng.

Sejak kecil, biarpun ia seorang anak perempuan, Ceng Ceng digembleng ayahnya sendiri yang merupakan seorang ahli silat kelas tinggi dari Siauw-lim-pai. Karena melihat puterinya berbakat, setelah mengajarkan ilmu silat, Liu Bok Eng mengirim puterinya itu kepada Im Yang Yok-sian (Dewa Obat Im Yang), yaitu sutenya (adik seperguruannya) sendiri yang bertapa di Hoa-san dan memiliki keahlian pengobatan yang membuat dia dijuluki Dewa Obat.

Selama dua tahun Ceng Ceng belajar ilmu pengobatan dari susioknya (paman gurunya) sehingga kini dara itu menjadi lihai ilmu silatnya dan ampuh ilmu pengobatannya. Ketika Ceng Ceng minta kepada ayahnya untuk merantau dan melihat-lihat keadaan di utara sambil meluaskan pengetahuan, bekas panglima itu memperbolehkannya.

Liu Bok Eng adalah seorang panglima, akan tetapi juga seorang ahli silat dan hal ini membuat wataknya tidak kukuh dan membolehkan puterinya merantau. Dia tidak khawatir karena tahu bahwa Ceng Ceng sudah pandai menjaga dan membela diri. Puterinya itu pandai silat, ahli sastra dan pengobatan, apa yang perlu dikhawatirkan?

Yang merasa prihatin atas kepergian Ceng Ceng adalah ibunya. Wanita berusia empatpuluh tahun yang masih cantik dan berwatak lembut itu sudah, ingin sekali mempunyai mantu dan cucu. Baginya, puterinya yang sudah berusia sembilanbelas tahun itu sudah lebih dari cukup untuk menikah. Akan tetapi, Ceng Ceng selalu menolak keras kalau ada yang melamarnya. Biarpun hatinya tidak setuju dengan niat Ceng Ceng merantau, ia tidak dapat melarang, apalagi karena suaminya menyetujui dan memberi restu kepada anak mereka.

Bayangan putih di atas wuwungan gedung Pembesar Kui Hok itu mendekam di atas sebuah ruangan tengah dan mengintai ke bawah. Begitu meninggalkan Chao Kung sekeluarga di rumah Kepala Daerah Yo, Ceng Ceng segera mencari rumah pembesar yang menjadi kepala pengadilan, ayah dari Kui-kongcu.

Ketika ia melihat dua orang penjaga yang membawa golok di pinggangnya meronda di taman sebelah kiri gedung, Ceng Ceng cepat melompat turun dari atas genteng. Gerakannya amat ringan sehingga ketika kedua kakinya menginjak tanah, tidak terdengar suara seolah yang melayang turun itu seekor burung atau kucing.

Dua orang penjaga itu tidak sempat berteriak. Tahu-tahu tubuh mereka menjadi lemas ketika jari tangan yang halus menotok punggung mereka. Mereka sadar namun tidak mampu menggerakkan kaki tangan dan dua kali totokan lagi ke arah leher mereka membuat mereka tidak mampu bersuara. Ceng Ceng menyeret seorang dari mereka ke bawah lampu yang terdapat di pinggir taman. Ia dapat melihat dengan jelas wajah penjaga yang setengah tua itu.

“Aku akan membebaskan totokan agar engkau dapat bicara. Akan tetapi awas, kalau engkau berteriak atau memberi keterangan bohong, aku tidak akan merasa ragu untuk membunuhmu!” Setelah berkata demikian, ia menekan leher dan dada.

Orang itu dapat mengeluarkan suara. “Nona, ampuni saya…”

“Baik, akan tetapi jawab dulu pertanyaanku. Di mana kamar Kui-kongcu?”

Orang itu gemetar ketakutan. “Kui-kongcu... dia... dia tidak berada di sini...”

“Jangan bohong!” bentak Ceng Ceng, “Bukankah dia putera Pembesar Kui Hok dan ini tempat tinggalnya?”

“Benar, Nona. Akan tetapi Kui-kongcu tidak berada di rumah. Dia jarang sekali tidur di rumah...”

“Engkau tahu di mana dia?”

Penjaga itu mengenal majikan mudanya sebagai seorang yang mata keranjang dan memiliki banyak wanita simpanan. Mungkin Si Cantik berpakaian putih ini seorang di antara kekasihnya yang cemburu dan kini mencarinya!

“Hayo jawab!”

“Ah... dia... biasanya pergi berdua dengan Kim-kongcu dan bermalam di Rumah Pelesir Bunga Merah yang berada di ujung barat kota.”

“Engkau tidak bohong?”

“Tidak berani bohong, Nona...”

Ceng Ceng menotoknya lagi sehingga orang itu terkulai lemas. Kemudian tubuhnya berkelebat lenyap dari taman itu. Tidak sukar bagi Ceng Ceng untuk menemukan rumah pelesir yang dimaksudkan penjaga tadi. Rumah itu merupakan sebuah gedung mungil dan di depannya digantungi papan dengan lukisan bunga-bunga merah! Dengan berani Ceng Ceng menghampiri pintu depan rumah itu. Dua orang laki-laki tinggi besar berwajah galak menghadangnya.

“Siapakah engkau dan apa keperluanmu datang ke sini?” tanya seorang yang mukanya penuh brewok.

Dia dan temannya memandang wajah Ceng Ceng dengan heran dan kagum. Biarpun di tempat itu terdapat banyak wanita cantik, namun kecantikan para wanita itu seperti kecantikan gambar yang berada di papan tadi, tak dapat dibandingkan dengan kecantikan gadis berpakaian putih ini yang dapat diumpamakan setangkai bunga putih yang sedang mekar semerbak harum. Para wanita yang berada di dalam itu memiliki kecantikan pulasan, sedangkan gadis ini cantik jelita yang aseli dan segar.

“Aku ingin bertemu dengan Kui-kongcu atau Kim-kongcu untuk menyampaikan urusan penting sekali!” kata Ceng Ceng.

Mendengar ini, dua orang itu hilang galaknya. Kalau gadis ini mempunyai hubungan dengan dua orang kongcu itu, tentu saja mereka tidak berani banyak lagak atau kurang ajar.

“Ah, kedua kongcu itu sedang makan minum di ruangan dalam, Nona. Biar saya beritahu mereka agar mereka keluar menemui Nona.”

“Tidak perlu, jangan ganggu mereka yang sedang makan minum. Kauantarkan saja aku menghadap mereka di dalam.”

Ucapan Ceng Ceng dan sikapnya yang lembut membuat dua orang penjaga itu tidak menaruh curiga. Wanita cantik jelita dan lemah lembut ini tidak mungkin dapat melakukan hal-hal yang membahayakan kedua orang putera pejabat itu.

“Silakan, Nona,” kata orang yang mukanya penuh brewok dan Ceng Ceng lalu mengikutinya masuk ke dalam rumah.

Rumah itu mempunyai tiga ruangan besar dan beberapa buah kamar, juga di loteng terdapat beberapa buah kamar yang diperaboti lengkap dan cukup mewah. Ceng Ceng dibawa masuk ke sebuah ruangan besar yang berada di bagian dalam. Penjaga itu menyuruh Ceng Ceng menunggu di luar pintu dan dia memasuki ruangan di mana dua orang pemuda sedang berpesta pora, dilayani masing-masing oleh dua orang gadis cantik. Mereka tampak gembira, tertawa-tawa.

Kim Magu dan Kui Con yang sedang makan minum dilayani empat orang gadis penghibur itu tampak tidak senang ketika melihat penjaga itu masuk. Akan tetapi ketika penjaga itu melaporkan bahwa ada seorang gadis cantik mencari mereka dan kini berada di luar pintu ruangan, mereka segera memandang ke arah pintu.

“Keluarlah jangan ganggu kami dan suruh gadis itu masuk!” kata Kim Magu dengan suara membentak. Penjaga itu cepat memberi hormat lalu melangkah keluar dari ruangan.

“Engkau disuruh masuk, Nona,” katanya dan setelah Ceng Ceng memasuki ruangan, penjaga itu cepat pergi karena dia takut dimarahi dua orang pemuda yang galak itu.

Ceng Ceng melangkah memasuki ruangan itu. Dua orang pemuda itu tercengang melihat gadis berpakaian putih cantik jelita yang memasuki ruangan dengan langkah gemulai itu. Mereka berdua cepat mendorong empat orang gadis yang melayani mereka, bahkan Kui Con yang tadinya memangku seorang gadis, mendorong gadis itu sehingga hampir jatuh.

Ceng Ceng memandang mereka dengan wajah tenang, bahkan bibirnya mengembangkan senyum. Lalu ia menghampiri meja mereka dan berdiri di depan dua orang pemuda yang kini juga sudah berdiri memandangnya. Ceng Ceng melihat bahwa dua orang pemuda itu masih muda dan keduanya berpakaian mewah.

Yang seorang bertubuh tinggi besar dan tampak kokoh kuat, mukanya agak hitam. Adapun yang ke dua, usianya sebaya, sekitar duapuluh satu atau duapuluh dua tahun, tubuhnya sedang, wajahnya tampan, akan tetapi pandang matanya penuh nafsu dan tampak licik.

“Aih, Nona, kami merasa beruntung sekali menerima kunjungan seorang bidadari! Silakan duduk dan makan minum bersama kami!” kata Kim Magu, tidak menyembunyikan perasaan kagumnya.

“Nona yang jelita siapakah namanya, datang dari mana dan ada keperluan apakah Nona mencari kami berdua?” Kui Con tidak mau kalah, bertanya dengan memasang gaya agar tampak tampan, matanya dikejapkan, bibirnya tersenyum lebar.

Seolah tidak mendengar ucapan dua orang pemuda itu, Ceng Ceng melangkah dekat dan bertanya dengan suara lembut, namun pandang matanya mencorong ditujukan kepada mereka penuh selidik...

Thanks for reading Pendekar Tanpa Bayangan Jilid 26 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »