Pendekar Tanpa Bayangan Jilid 22

22: SAHABAT PANGLIMA BAJINGAN

SEPERTI telah diduga oleh Cu Liong dan Cu Ai Yin, Kong Sek bukan lawan yang sepadan bagi Pouw Cun Giok. Selama dua puluh jurus lebih Cun Giok hanya mengalah, akan tetapi ketika melihat bahwa Kong Sek masih terus menyerangnya seperti orang gila, dia bergerak cepat sekali sehingga Kong Sek menjadi bingung karena dia tidak dapat mengikuti gerakan Cun Giok. Bayangan lawannya berkelebatan sedemikian cepatnya sehingga tak dapat dia ikuti dengan pandang matanya, bahkan terkadang lenyap.

Selagi dia kebingungan, terdengar suara Cun Giok berkata. “Dendamku hanya kepada Panglima Kong Tek Kok, aku tidak mempunyai urusan denganmu. Pergilah!”

Tiba-tiba tubuh Kong Sek terlempar dan terjengkang roboh. Ketika bangkit lagi, dia menyeringai karena lutut kaki kanannya terasa nyeri. Tadi lutut itu tercium ujung kaki Cun Giok sehingga dia terpincang-pincang.

Melihat ini, wajah Bu-tek Sin-liong berubah merah dan matanya mengeluarkan sinar kemarahan. Dia merasa terhina melihat murid dan tadi puterinya dikalahkan dengan mudah oleh Cun Giok. Selain itu, bagaimanapun juga hatinya condong memihak muridnya. Maka dia cepat bangkit dan mengambil Kim-siang-to (Sepasang Golok Emas), sepasang senjatanya yang ampuh, juga indah karena senjata itu merupakan golok besar dan disepuh emas!

“Pouw Cun Giok, akulah lawanmu!” katanya sambil melangkah menghampiri Cun Giok.

“Ayah, mengapa Ayah hendak mencampuri? Itu adalah urusan pribadi mereka! Kita tidak sepatutnya mencampuri!”

Cu Liong menggeram. “Hemm, bocah ini telah membunuh Panglima Kong Tek Kok sahabatku, juga membunuh banyak pengawal! Dia harus ditangkap dan diadili!”

“Ayah akan mulai membela pemerintah Kerajaan Goan?” Ai Yin mengingatkan. “Berarti Ayah melanggar peraturan sendiri!”

“Aku tidak melanggar peraturan!” Laki-laki tinggi besar bermuka merah itu membentak. “Aku tidak mencampuri pemerintah, juga tidak mencampuri urusan dendam pribadi. Akan tetapi Pouw Cun Giok sudah melakukan kejahatan, membunuh banyak orang. Kalau aku diam saja berarti aku membantu penjahat. Dia harus ditangkap dan dihadapkan pengadilan di kota raja!”

“Benar sekali ucapan Suhu yang bijaksana!” Kong Sek segera membenarkan gurunya.

“Ayah, orang ini merupakan tanggung jawabku! Aku yang membawanya ke sini setelah aku menolongnya. Maka akulah yang berhak atas dirinya!” Ai Yin membantah dengan teriakan lantang.

“Engkau berhak menolong orang, akan tetapi engkau tidak berhak membela orang jahat!”

“Dia bukan orang jahat...”

“Diam!” Tiba-tiba Bu-tek Sin-liong membentak puterinya.

Cun Giok merasa tidak enak sekali. Dia yang telah ditolong oleh mereka, kini menjadi penyebab ayah dan anak itu bertengkar. Maka dia menyarungkan pedangnya dan berkata lembut. “Maaf, Lo-cianpwe dan Nona Cu, harap jangan bertengkar. Sekarang, apakah yang Lo-cianpwe kehendaki?”

“Pouw Cun Giok! Menyerahlah untuk ditangkap dan dibawa ke kota raja untuk diadili!” Majikan Bukit Merak itu membentak.

“Cun Giok, larilah!” teriak Ai Yin karena ia tahu bahwa kalau pemuda yang berjuluk Bu-eng-cu (Si Tanpa Bayangan) itu melarikan diri, ayahnya sendiri pun tidak akan mampu menangkapnya.

Akan tetapi Cun Giok berkata. “Nona Cu, aku akan menyerah, aku tidak ingin bermusuhan dengan Ayahmu. Lo-cianpwe, silakan, saya menyerah.”

Kong Sek sudah maju dengan pedang di tangan, agaknya siap untuk membunuh pemuda yang sudah menyerah itu. Akan tetapi tiba-tiba Ai Yin membentak.

“Kong-suheng (Kakak Seperguruan Kong), dia hanya boleh ditangkap dan dibawa ke kota raja, sama sekali tidak boleh dilukai, apalagi dibunuh. Kalau engkau melukai atau membunuh orang yang sudah menyerah, aku akan membuat perhitungan denganmu!!”

“Kong Sek, tangkap dia dan bawa ke pengadilan. Tidak boleh disakiti atau dibunuh sebelum diadili!” Bu-tek Sin-liong juga berkata dengan suara yang tegas.

“Baik, Suhu,” kata Kong Sek.

Pemuda itu lalu mengambil rantai dan membelenggu kaki tangan Cun Giok. Setelah itu, dia menuntun dua ekor kuda dari kandang di mana terdapat belasan ekor kuda peliharaan gurunya. Dia menyiapkan kuda untuk Cun Giok, dibantu selosin orang perajurit pengawal yang tadi mengikutinya dan menanti di luar pekarangan.

Setelah semua siap, Kong Sek mengambil pedang Kim-kong-kiam dari pinggang Cun Giok dan setelah mengucapkan terima kasih kepada gurunya, juga kepada sumoinya yang sama sekali tidak dijawab gadis itu yang sejak tadi cemberut marah. Kong Sek lalu pergi, diikuti selosin perajurit pengawal. Cun Giok yang didudukkan di atas seekor kuda dengan kedua kaki dan lengan terbelenggu rantai, berada di tengah.

Setelah rombongan itu pergi, Ai Yin mengomel kepada ayahnya. “Pouw Cun Giok itu membalas dendam atas kematian keluarga Pouw yang dibasmi, mengapa Ayah sekarang membela Suheng Kong Sek? Apakah itu adil?”

“Tentu saja adil. Yang terbunuh adalah sahabatku, dan aku hanya menangkap pembunuhnya untuk diadili. Pula, Kong Sek itu bukan orang lain. Dia muridku dan juga calon mantuku!”

“Apa...? Calon mantu? Apa maksud Ayah?”

“Hemm, engkau masih berpura-pura, Ai Yin? Sudah lama mendiang Panglima Kong dan aku bersepakat untuk menjodohkan Kong Sek denganmu, hanya belum diresmikan pinangannya. Sekarang, setelah Panglima Kong meninggal dunia, lebih baik pertunangan kalian diresmikan!”

“Tidak! Aku tidak mau!” Ai Yin menjerit dan lari memasuki kamarnya.

Bu-tek Sin-liong Cu Liong menghela napas panjang dan termenung. Sejak ditinggal mati isterinya, dia mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada puterinya. Dia melihat bahwa kalau puterinya menikah dengan Kong Sek, puterinya akan hidup bahagia.

Kong Sek seorang pemuda gagah dan tampan, berdarah bangsawan pula, dan dia yakin pemuda itu akan memperoleh kedudukan tinggi di kota raja. Puterinya akan hidup berkecukupan, dihormati dan dimuliakan banyak orang. Akan tetapi kini Ai Ying marah dan menentangnya!

Tidak ada hal yang lebih memusingkan kepalanya dari pada sikap puterinya yang marah dan menentangnya itu! Karena pusing dan berduka teringat isterinya, datuk yang gagah perkasa itu kemudian tertidur di atas kursinya!

Ketika dia terbangun, hari sudah siang. Dia teringat akan puterinya yang marah, maka cepat dia menuju ke kamar puterinya. Ketika dia membuka daun pintu, ternyata Ai Yin tidak berada di kamarnya. Cu Liong memanggil para pelayan, akan tetapi hanya ada seorang pelayan pengurus taman yang memberi keterangan bahwa pagi tadi, ketika dia membersihkan halaman depan rumah, dia melihat Nona Cu meninggalkan puncak bukit dengan cepat seperti orang berlari-lari.

Cu Liong mengerutkan alisnya. Baginya, sudah biasa mendengar puterinya pergi tanpa pamit karena gadis itu memang terkadang suka turun bukit. Akan tetapi yang membuat hatinya merasa tidak nyaman adalah karena puterinya itu pergi dengan hati marah kepadanya.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Rombongan duabelas orang perajurit pengawal yang mengiringkan Kong Sek dan mengawal Cun Giok, tidak dapat melarikan kuda dengan cepat. Cun Giok menunggang kuda dengan kaki tangan terbelenggu, maka tentu saja kuda itu tidak dapat dibalapkan karena hal ini tentu akan membuat tubuh pemuda itu terguling.

Rombongan itu adalah para perajurit pengawal yang selalu diajak Kong Sek untuk mengawalnya, apalagi setelah kemarin dulu ayahnya terbunuh. Dia merasa tidak aman pergi seorang diri seperti biasa. Pasukan kecil itu bukan terdiri dari perajurit-perajurit biasa. Mereka adalah orang-orang pilihan yang sebetulnya sudah menduduki tingkat yang lebih tinggi daripada perajurit biasa.

Setidaknva mereka itu masing-masing berhak memimpin seregu perajurit. Senjata mereka pun bukan golok atau tombak seperti perajurit biasa, melainkan sebatang pedang. Seorang dari mereka, yang paling dekat hubungannya dengan Kong Sek, bersama pemuda bangsawan itu, memimpin paling depan. Kuda mereka berendeng dan pada saat itu, Kong Sek mengomel.

“Ah, kalau perjalanan dilakukan selambat ini, kapan kita akan sampai di kota raja? Sialan, jahanam itu tidak dapat membalapkan kuda. Bagaimana kalau kita ikat saja dia di atas punggung kuda dengan menelungkupkannya melintang di atas punggung kuda? Dengan demikian perjalanan dapat dilakukan dengan cepat tanpa khawatir dia terjatuh.”

“Kongcu, jahanam itu adalah pembunuh Kong Thai-ciangkun (Panglima Besar Kong), juga banyak pengawal dan Pangeran Lu juga dibunuhnya. Dosa kejahatannya sudah lebih dari cukup untuk membuat dia dihukum mati seratus kali!”

Kong Sek menggigit bibir dan termenung sejenak mendengar ucapan perwira pengawal itu. “Akan tetapi rasanya kurang jantan dan tidak enak membunuh musuh yang telah ditawan dan diborgol dalam keadaan tidak berdaya! Apalagi, aku ingin dia dibunuh di depan makam ayah agar arwah ayahku tidak akan menjadi penasaran.”

“Kongcu, ingatlah bahwa penjahat ini lihai sekali! Bahkan ayah Kongcu yang demikian lihainya juga tidak mampu mengalahkannya dan mati olehnya. Berbahaya sekali dia itu kalau tidak cepat dibunuh sekarang. Pula, dengan memenggal batang lehernya dan membawa kepalanya, Kongcu masih dapat menggunakan kepalanya untuk bersembahyang di depan makam mendiang Kong Thai-ciangkun!” Perwira ini membujuk terutama sekali karena dia khawatir kalau-kalau tawanan yang amat lihai itu akan dapat terlepas dalam perjalanan itu.

“Begitukah pendapatmu?” tanya Kong Sek dengan alis berkerut, mulai terpengaruh bujukan itu.

“Tentu saja, Kongcu. Itulah jalan terbaik dan teraman bagi kita, terutama bagi Kongcu. Coba bayangkan, bagaimana kalau tawanan yang amat lihai itu sampai dapat terlepas di dalam perjalanan? Tentu kita semua akan dibunuhnya seperti dia mengamuk di tanah kuburan umum itu!”

Keraguan mulai menghilang dari wajah Kong Sek. Pada saat itu mereka telah tiba di sebuah hutan kecil. Dia menghentikan kudanya, menoleh ke belakang dan mengangkat tangan kiri ke atas. Perwira yang mendampinginya meneriakkan aba-aba untuk berhenti. Semua penunggang kuda berhenti. Kuda yang ditunggangi Cun Giok juga berhenti. Perwira itu menyuruh kawan-kawannya untuk menarik Cun Giok turun dari atas kuda.

Cun Giok kini duduk di atas tanah, kaki tangannya masih terbelenggu rantai baja. Wajahnya tetap tenang, bahkan ada bayangan senyum tersungging di ujung bibirnya. Para pengawal turun dari kuda dan membuat lingkaran besar mengepung Cun Giok.

Kini Kong Sek yang sudah lebih dulu turun, memasuki lingkaran sampai di depan Cun Giok dalam jarak tiga langkah lebar, menatap tajam pembunuh ayahnya itu. Teringat akan kematian, ayahnya yang menurut laporan tubuh ayahnya tercincang menjadi onggokan daging, kebencian berkobar dalam hatinya dan wajah yang tampan gagah itu tampak beringas menyeramkan. Matanya seperti berapi, hidungnya kembang kempis dan mulutnya menjadi garis melintang yang membayangkan kemarahan yang luar biasa.

Para pengawal yang duabelas orang jumlahnya dan kini duduk membentuk lingkaran lebar itu menonton dengan hati tegang. Mereka tahu betapa marahnya Kong Sek yang hendak membalas dendam sakit hati ayahnya yang terbunuh pemuda ini. Akan tetapi, diam-diam mereka kagum sekali kepada Cun Giok. Biarpun kematian sudah membayang di depan mata, pemuda itu masih duduk tenang saja, wajahnya sama sekali tidak takut atau khawatir, bahkan senyumnya kini tampak jelas.

Suara Kong Sek terdengar menggetar penuh perasaan ketika dia bicara lantang dan dengan nada membentak. “Suma Cun Giok! Engkau tentu sudah menyadari akan dosamu terhadap Ayahku!”

Dengan suara lembut tanpa tanda takut atau sedih, Cun Giok berkata, “Aku sama sekali tidak berdosa terhadap mendiang Panglima Kong Tek Kok. Dialah yang berdosa besar sekali kepada keluarga Pouw, keluarga Ayah dan Kakekku.”

“Pembunuh jahat! Engkau telah membunuh Ayahku! Sudah menjadi kewajiban sebagai anak yang berbakti untuk membalas kematiannya padamu. Akan kusembahyangi makam Ayahku dengan kepalamu!”

Setelah berkata demikian, dengan wajah yang ganas Kong Sek mengangkat Kim-kong-kiam dan membentak. “Pedang ini berlumuran darah Ayahku, harus kucuci dengan darahmu!” Dia lalu menggerakkan pedangnya ke bawah, hendak memenggal batang leher Cun Giok!

“Tranggg... aahhh...!” Tiba-tiba pedang itu terlepas dan terpental dari tangan Kong Sek.

Sebatang pedang terbang tadi meluncur dan menyambar pedang itu dengan cepat dan kuat sekali. Karena Kong Sek sama sekali tidak pernah menyangkanya, maka dia terkejut dan pedang itu terlepas dari pegangannya. Kong Sek dan dua belas orang pengawal itu menengok dan mereka melihat Cu Ai Yin berdiri tidak jauh di luar lingkaran. Gadis inilah yang tadi membuat pedang yang sedianya hendak memenggal leher Cun Giok itu terpental!

“Sumoi...!” Kong Sek terkejut dan dengan marah dia melangkah cepat menghampiri gadis itu. Dua belas orang pengawal mengikutinya dan selagi Kong Sek berhadapan dengan Ai Yin, duabelas orang itu mengepung, siap membantu Kong Sek.

“Sumoi, mengapa engkau melakukan itu?!” Kong Sek bertanya heran. Dia telah jatuh hati kepada adik seperguruannya ini semenjak Ai Yin masih remaja, maka biarpun hatinya marah dan penasaran, pertanyaannya dikeluarkan dengan nada suara lembut.

“Suheng, seharusnya akulah yang bertanya! Mengapa engkau tadi hendak membunuh tawanan? Bukankah engkau seharusnya membawanya ke kota raja dan dilarang melukai apa lagi membunuh?”

“Akan tetapi, Sumoi! Dia itu penjahat, pemberontak dan dia sudah membunuh Ayahku dengan sangat kejam! Aku ingin memenggal lehernya dan membawa kepalanya ke makam Ayahku!”

“Aku tidak peduli semua itu! Akan tetapi engkau sudah berjanji kepada Ayahku, dan menurut aturan, engkau tidak boleh melanggar janji!”

“Sumoi, ingatlah. Kita adalah saudara seperguruan dan dia itu pembunuh Ayahku. Sudah sepatutnya kalau engkau membantu aku, bukan membela dia!” Suara Kong Sek mulai tidak sabar.

“Aku tidak membela siapa-siapa. Aku membela kebenaran dan yang melanggar janji dan peraturan adalah tidak benar dan harus kutentang!”

“Sumoi, aku tidak suka bertentangan dengan orang yang paling kucinta, akan tetapi sebagai seorang anak yang berbakti, aku harus membalaskan kematian Ayah dan kalau engkau hendak melindungi pembunuh Ayahku itu, terpaksa aku menentangmu.” Setelah berkata demikian, Kong Sek berkata kepada perwira yang bicara dengannya tadi. “Cepat penggal batang lehernya!”

Perwira itu melangkah ke arah Cun GJok yang masih duduk di atas tanah dengan kaki tangan terikat rantai. Melihat ini, Ai Yin mencabut sepasang pedangnya dan hendak melompat untuk menghalangi perwira itu membunuh Cun Giok. Akan tetapi Kong Sek menghadang dan dia sudah mencabut pedangnya sendiri. Sebelas orang anak buahnya juga mengepung Ai Yin.

“Bagus! Engkau juga memusuhi aku? Sambut ini!” Ia menyerang dengan sepasang pedangnya.

Kong Sek menangkis dan Ai Yin segera dikeroyok Kong Sek dan sebelas orang pembantunya. Kong Sek seorang diri tentu tidak akan menang bertanding melawan Ai Yin. Akan tetapi selisih tingkat mereka tidak terlalu banyak. Kini Kong Sek dibantu sebelas orang perajurit pilihan, tentu saja Ai Yin segera terdesak.

Sementara itu, perwira yang disuruh memenggal leher Cun Giok sudah dekat pemuda itu. Sambil tersenyum mengejek dia mencabut pedangnya dan berkata sambil mengayun pedang. “Pemberontak, mampuslah!” Pedang diayun menyambar ke arah leher Cun Giok.

“Desss...!”

Bukan leher Cun Giok yang buntung disambar pedang, melainkan tubuh perwira itu yang terlempar ke belakang karena perutnya disambar dua kaki Cun Giok yang mendahului gerakan pedang dan kedua kakinya mencuat dengan cepat dan dahsyat, mengenai ulu hati perwira itu. Tubuh itu terbanting ke atas tanah dan tidak berkutik lagi, entah pingsan atau mati! Kini Cun Giok menggerakkan kaki tangannya dan terdengar suara nyaring ketika rantai besi yang membelenggu kaki tangannya itu patah-patah!

Dia melompat, memungut Kim-kong-kiam yang tadi terlepas dari tangan Kong Sek dan menggeletak di atas tanah. Dia menyimpan pedang itu di pinggangnya, lalu menyerbu ke arah para pengeroyok. Kaki tangannya menyambar-nyambar dan sebelas orang itu roboh berpelantingan dalam keadaan tulang patah atau muka bengkak dan perut mulas! Kini tinggal Kong Sek sendiri yang masih bertanding pedang melawan Ai Yin, Cun Giok berdiri dan menonton saja, tidak mau mencampuri.

Kong Sek terkejut, marah akan tetapi juga jerih melihat betapa Cun Giok tiba-tiba mengamuk dan merobohkan para pengawal dengan kaki tangan tidak terbelenggu lagi! Karena jerih, maka gerakan pedangnya kacau dan tiba-tiba ujung pedang kanan Ai Yin menggores lengannya sehingga pedangnya terlepas. Akan tetapi Ai Yin tidak menyerang lagi dan hanya berdiri memandang dengan sepasang mata mencorong.

“Karena engkau murid Ayah maka aku tidak mau melukai apalagi membunuhmu. Pergilah, Suheng!” kata Ai Yin.

Thanks for reading Pendekar Tanpa Bayangan Jilid 22 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »