Pendekar Tanpa Bayangan Jilid 21

21: PENGUNGSI PUNCAK BUKIT MERAK

Bu-tek Sin-liong Cu Liong hidup di puncak Bukit Merak dan dikenal sebagai Majikan yang memiliki bukit yang tanahnya subur itu. Pemerintah baru Kerajaan Goan (Mongol) mengakui dan memberi hak kepadanya untuk memiliki Bukit Merak. Hal ini seolah merupakan hadiah dari pemerintah Mongol karena selama ini Bu-tek Sin-liong tidak pernah memusuhi Kerajaan Goan, walaupun dia juga tidak mau menjadi antek penjajah.

Beberapa kali para pejabat tinggi di kota raja menawarkan kedudukan tinggi kepadanya, namun dengan baik-baik ditolaknya. Dia seorang yang netral, tidak mau terlibat dalam urusan pemerintahan dan perang. Sikapnya yang tidak memusuhi pemerintah itu membuat para penguasa di Kerajaan Mongol suka kepadanya dan menganggap dia sebagai sahabat.

Banyak pejabat tinggi kota raja, terutama para panglimanya, yang menjadi kenalan baik datuk ini. Akan tetapi yang hubungannya paling dekat dengannya adalah Panglima Kong Tek Kok, yang menjadi panglima besar. Hubungan keduanya akrab karena sama-sama memiliki kepandaian silat tinggi.

Ketika Kong Tek Kok melihat betapa dalam bimbingannya, putera tunggalnya yang bernama Kong Sek tidak mendapat kemajuan pesat dalam ilmu silatnya, bahkan puteranya itu kalah dibandingkan muridnya, yaitu Siang Ni, Panglima Kong Tek Kok membawa puteranya ke Bukit Merak untuk menjadi murid Bu-tek Sin-liong Cu Liong yang tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada tingkatnya.

Benar saja, dibawah gemblengan Cu Liong, Kong Sek mendapatkan kemajuan pesat. Hal ini terjadi karena pemuda itu diam-diam jatuh cinta kepada puteri gurunya, yaitu Cu Ai Yin. Selama empat tahun Kong Sek menjadi murid Bu-tek Sin-liong dan kini usianya sudah duapuluh empat tahun. Panglima Kong Tek Kok setahun yang lalu melihat puteranya jatuh cinta kepada Cu Ai Yin, membicarakannya dengan Cu Liong. Dia menyatakan keinginannya untuk menjodohkan puteranya dengar Cu Ai Yin.

Akan tetapi Bu-tek Sin-liong dengan tegas mengatakan bahwa puterinya diberi kebebasan untuk memilih jodohnya sendiri. Kalau Ai Yin mencinta Kong Sek, dia pun tidak akan menghalangi puterinya menjadi isteri Kong Sek. Pinangan resmi memang belum dilakukan, akan tetapi baik Kong Sek maupun Cu Ai Yin, sudah mendengar bahwa orang tua mereka hendak menjodohkan mereka.

Ai Yin bersikap tidak acuh, sebaliknya Kong Sek sudah menganggap Sumoi (Adik Sepergu¬ruan) itu sebagai calon isterinya! Bahkan sejak urusan perjodohan itu dibicarakan, setahun yang lalu, kini Kong Sek lebih sering berada di Bukit Merak daripada di kota raja!

Cu Ai Yin amat berbakat dalam ilmu silat. Karena itu, biarpun Kong Sek enam tahun lebih tua daripadanya, dalam hal ilmu silat, putera panglima itu masih belum mampu menandinginya! Juga sejak berusia limabelas tahun, Cu Ai Yin memperlihatkan sikap sebagai seorang pendekar wanita yang selain cantik jelita, juga lihai dan seringkali menghajar dan membasmi gerombolan penjahat yang suka mengganggu daerah sekitar Bukit Merak.

Penampilannya yang jelita dan gagah membuat ia memperoleh julukan Pek-hwa Sianli (Bidadari Bunga Putih), sesuai dengan penampilannya yang selalu mengenakan hiasan rambut berupa setangkai bunga puti. Gadis ini berwatak keras, jujur dan pemberani, bahkan agak liar. Senjatanya sepasang pedang pendek yang dapat ia pergunakan sebagai Hui-kiam (Pedang Terbang) dengan cara melontarkannya.

Kepandaiannya dalam melontarkan pedang ini amat dahsyat dan ia sudah mewarisi ilmu ini sebaiknya dari ayahnya. Di samping ilmu silatnya yang lihai, gadis jelita ini pun pandai bernyanyi dan menari, pandai pula memainkan alat musik suling dan yang-kim. Wajahnya manis sekali, berbentuk bulat telur, mata dan mulutnya menggairahkan, terutama matanya yang amat indah. Setitik tahi lalat di sudut bibir kanan menambah kejelitaannya.

Demikianlah, gadis itu kebetulan menemukan Pouw Cun Giok yang menggeletak pingsan di tepi sungai dan menolongnya, membawanya pulang. Kini mereka bertiga, Pouw Cun Giok, Cu Ai Yin dan ayahnya, Cu Liong, duduk makan minum tanpa bicara. Karena perutnya memang lapar sekali dan masakan-masakan yang dihidangkan itu amat mewah dan serba enak, pemuda itu tidak merasa sungkan lagi dan makan sekenyangnya. Agaknya sikap ini menyenangkan hati ayah dan puterinya itu, yang biasa bersikap terbuka dan tidak suka pura-pura.

Setelah mereka selesai makan, Bu-tek Sin-liong mengajak puterinya dan tamunya ke ruangan lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) yang luas dan berada dekat taman bunga. Mereka duduk di bangku-bangku yang berderet di dekat tembok. Ruangan yang luas itu tidak mempunyai perabot lain kecuali bangku-bangku dan sebuah rak senjata di mana terdapat delapanbelas senjata untuk berlatih silat. Sebagai seorang ahli silat, tentu saja Cun Giok maklum bahwa dia diajak ke dalam sebuah lian-bu-thia yang luas.

“Siapakah namamu?” tanya Cu Liong dengan suaranya yang besar dan lantang sambil menatap wajah Cun Giok penuh selidik.

“Nama saya Pouw Cun Giok, Lo-cianpwe (sebutan menghormat pada orang tua yang gagah).”

Kakek tinggi besar bermuka merah gagah itu membelalakkan matanya “Hemm, she (marga) Pouw? Bukan anggauta keluarga Pouw di So-couw, yang dulu amat terkenal itu?”

Pouw Cun Giok maklum bahwa nama besar keluarga Pouw di So-couw kini telah dikenal sebagai musuh Pemerintah Mongol. Dia tidak perlu mencari perkara dengan membawa nama keluarganya yang telah terbasmi semua, tinggal dia seorang diri! Maka, tanpa menjawab dia menggeleng kepala perlahan.

“Hemm, aku tahu engkau memiliki kepandaian silat lumayan. Siapa gurumu?”

Cun Giok berpikir. Gurunya, Suma Tiang Bun terkenal sekali dahulu sebagai seorang patriot sejati yang menentang orang Mongol. Tidak baik menceritakannya kepada kakek yang sikapnya aneh dan keras, dan belum dikenalnya benar ini. Sebaliknya, kakek gurunya tidak pernah mencampuri urusan dunia maka lebih aman kalau menyebut namanya. Dia tidak berbohong karena memang kakek gurunya itu yang merupakan guru kedua baginya.

“Guru saya adalah Pak Kong Lojin yang bertapa di Ta-pie-san, Lo-cianpwe.” Hatinya lega karena nama kakek gurunya yang bertapa dan menjauhi urusan dunia itu agaknya tidak dikenal datuk ini yang sikapnya biasa saja mendengar nama Pak Kong Lojin.

“Kesehatanmu sudah pulih benar sekarang?” tanya lagi kakek itu.

Pouw Cun Giok memberi hormat. “Sudah, Lo-cianpwe, dan terima kasih kepada Lo-cianpwe dan Cu-siocia (Nona Cu) yang telah menolong saya.”

“Pouw Cun Giok, anakku Cu Ai Yin telah menolongmu dan membawamu ke sini. Kami sekarang ingin melihat apakah engkau ini pantas ditolong dan menjadi tamu kami ataukah tidak. Ai Yin akan menguji kepandaian silatmu. Kalau engkau memang pantas menjadi tamu, aku tidak akan mencela tindakan anakku itu. Akan tetapi kalau ternyata engkau tidak patut menjadi tamu kami, engkau harus pergi sekarang juga dan jangan memperlihatkan mukamu lagi di sini! Ai Yin, mulailah, sesuai perjanjian kita kemarin!”

Gadis itu bangkit dan berkata kepada Cun Giok. “Saudara Pouw Cun Giok, mari perlihatkan ilmu silatmu kepada kami. Awas, jangan engkau mengalah karena aku akan memukulmu sungguh-sungguh sekuat tenaga. Kalau engkau mengalah, aku dan Ayah akan marah sekali kepadamu karena sikapmu mengalah itu berarti memandang rendah dan menghina kami. Nah, bersiaplah!” Gadis itu sudah melompat ke tengah ruangan dan berdiri tegak dengan sikap gagah sekali.

Cun Giok maklum bahwa ayah dan anak yang berwatak keras ini ingin mengujinya dan dia pun tahu bahwa bagi orang yang memiliki harga diri tinggi, dipandang rendah orang lain merupakan penghinaan. Dia menjadi serba salah. Kalau tidak sungguh-sungguh dia dianggap menghina. Kalau bersungguh-sungguh, bagaimana dia dapat menggunakan kekerasan terhadap seorang gadis dan gadis itu bahkan telah menolongnya, menyelamatkan nyawanya? Juga dia merupakan seorang tamu yang tidak diundang, diperlakukan dengan baik, bagaimana dia dapat menggunakan kekuatan untuk mengalahkan nona rumah?

Akan tetapi maklum bahwa Bu-tek Sin-liong adalah seorang datuk aneh dan dia sama sekali tidak boleh bersikap lemah dan mengalah, dia pun bangkit dari bangku, memberi hormat kepada Cu Liong dan berkata. “Mohon perkenan Lo-cianpwe.”

“Lawanlah ia!” kata Cu Liong singkat.

Cun Giok melangkah menghampiri Cu Ai Yin. Kini mereka berdiri berhadapan. Cun Giok sudah merasakan kehebatan tenaga Cu Liong, maka dia dapat menduga bahwa puteri datuk itu pun tentu memiliki ilmu silat yang tinggi tingkatnya. Dia tidak berani memandang rendah, bersikap tenang namun waspada.

“Nona Cu, aku sudah siap!” katanya sambil memasang kuda-kuda dengan kedua kaki berjingkat. Kuda-kuda ini disebut Burung Merak Siap Terbang dan biasa digunakan oleh seorang ahli gin-kang (ilmu meringankan tubuh). Dengan berdiri mengangkat tumit dan hanya bertumpu pada jari-jari kaki, maka tubuhnya siap untuk melompat dan berkelebatan cepat.

“Lihat serangan!” Ai Yin sudah berseru dan ia pun mulai menyerang dengan pukulan kedua tangannya. Tangan kanan menusuk dengan dua jari ke arah tenggorokan lawan dan tangan kiri memukul ke arah perut. Gerakannya cepat dan mengandung hawa pukulan yang kuat.

cerita silat online karya kho ping hoo

Akan tetapi dengan amat lincahnya Cun Giok berhasil mengelak dan teringat akan ucapan gadis itu tadi, dia pun segera membalas dengan tamparan ke arah pundak Ai Yin! Gadis itu terkejut melihat cepatnya gerakan pemuda itu maka ia lalu menangkis sambil mengerahkan sinkang (tenaga sakti).

“Dukkk...!” Cun Giok kagum bukan main ketika lengannya bertemu dengan lengan gadis itu. Pek-hwa Sianli Cu Ai Yin, gadis yang usianya paling banyak delapan belas tahun ini telah memiliki tenaga sakti yang mampu menandinginya! Akan tetapi dia tidak sempat berlama-lama terheran dan terkagum karena Ai Yin sudah menerjangnya lagi dan menyerang bertubi-tubi dengan dahsyatnya.

Cun Giok harus mencurahkan perhatiannya. Dia mengeluarkan ilmu silat Ngo-heng-kun-hoat (Silat Lima Unsur) untuk mengimbangi gerakan gadis itu yang juga amat hebat. Cu Ai Yin juga berusaha keras untuk memenangkan pertandingan itu dengan memainkan ilmu silat Jit-seng-kun (Silat Tujuh Bintang). Mereka saling pukul, saling tendang, akan tetapi semua serangan mereka dapat dielakkan atau ditangkis lawan.

Bu-tek Sin-liong Cu Liong yang menonton pertandingan itu dengan penuh perhatian, beberapa kali mengangguk-angguk. Dia pun kagum melihat gerakan tangan Cun Giok. Pemuda itu benar-benar lihai, mampu mengimbangi puterinya yang amat berbakat. Empatpuluh jurus lewat dan belum tampak siapa yang akan menang dalam pertandingan itu. Cu Liong sudah menganggap pemuda itu lulus ujian dan cukup berharga untuk menjadi tamunya.

Tiba-tiba Cu Liong membelalakkan matanya karena dia melihat betapa Cun Giok mengubah gerakannya dan tubuhnva seolah berubah menjadi bayang-bayang yang bergerak cepat bukan main. Dia mendengar beberapa kali puterinya mengeluarkan seruan kaget. Mendadak saja bayangan Cun Giok melompat dan menjauhi Ai Yin.

Pemuda itu sudah berdiri tegak dan mengangkat kedua tangan depan dada sebagai penghormatan kepada Ai Yin lalu berkata, “Nona Cu, aku merasa kagum sekali, ilmu silatmu sungguh lihai!”

Ai Yin terbelalak memandang ke arah tangan kanan pemuda itu lalu meraba rambutnya. “Ihh...!” la berseru karena ternyata yang dipegang tangan pemuda itu adalah bunga putih hiasan rambutnya!

Dengan bukti ini saja sudah mudah diketahui bahwa dalam pertandingan ilmu silat tadi Cun Giok telah memperoleh kemenangan, karena kalau tangan yang mencabut hiasan itu diubah menjadi totokan, tentu ia akan roboh tewas atau setidaknya terluka berat!

“Maafkan aku, Nona!” Cun Giok berseru dan tangan kanannya bergerak. Hiasan rambut berupa bunga putih itu meluncur dan tahu-tahu telah menancap kembali di rambut Ai Yin!

“Hemm, Pouw Cun Giok, engkau menang dalam pertandingan adu silat tangan kosong. Akan tetapi aku belum kalah. Cabut senjatamu, kita bertanding menggunakan senjata!” kata Ai Yin dan ia sudah mencabut sepasang senjatanya, yaitu pedang pendek yang berkilauan saking tajamnya.

Cun Giok ragu-ragu. “Nona Cu, perlukah itu? Biarlah aku mengaku kalah, tidak perlu kita bertanding menggunakan senjata tajam.”

“Hemm, apakah engkau ingin disebut penakut dan pengecut?” tanya Ai Yin. “Aturan dalam pibu (adu ilmu silat), siapa yang menang baru ditentukan kalau ada yang sudah mengaku kalah. Aku belum mengaku kalah sebelum engkau mengalahkan sepasang pedangku ini!”

Wajah Cun Giok menjadi merah dan alisnya berkerut. Dia menoleh ke arah Cu Liong. Akan tetapi Cu Liong tidak membantunya, bahkan orang tua itu berkata, “Perlihatkan ilmu pedangmu, orang muda!”

Terpaksa Cun Giok mencabut pedangnya. Sinar emas berkelehat menyilaukan mata dan pada saat itu, seorang pemuda memasuki ruangan lian-bu-thia dan berseru nyaring.

“Kim-kong-kiam! Ah, dialah si pembunuh jahanam keparat itu!” Pemuda tinggi besar gagah berpakaian indah itu langsung saja menyerang Cun Giok dengan sebatang pedang. Serangannya cepat dan kuat sekali.

Cun Giok yang tidak mengenal orang itu, melompat jauh ke belakang.

“Suheng! Ada apa ini?” Cu Ai Yin membentak, wajahnya merah karena marah melihat gangguan ini.

“Sumoi, bantu aku membunuh pemberontak jahanam ini! Dialah Suma Cun Giok yang berjuluk Bu-eng-cu! Dia telah membunuh banyak orang termasuk Ayah!” Setelah berkata demikian pemuda itu hendak menyerang lagi.

“Kong Sek, tahan! Jelaskan dulu apa urusannya! Jangan melanggar aturan!” Bu-tek Sin-liong membentak dan pemuda tinggi besar itu lalu menghadapi kakek itu.

“Suhu... ah, Suhu, bantulah teecu (murid) menangkap penjahat keji ini. Dia telah membunuh Ayahku, membunuh pula belasan orang pengawal, juga dia telah membunuh Pangeran Lu Kok Kong!”

Mendengar ini, tentu saja Cu Liong dan Cu Ai Yin terkejut bukan main. Mereka berdua memandang kepada Cun Giok yang bersikap tetap tenang. Akan tetapi diam-diam dia heran dan menduga-duga siapakah pemuda ini. Putera siapakah dia?

“Pouw Cun Giok! Benarkah itu?” tanya Cun Liong.

“Suhu, dia Suma Cun Giok, bukan bermarga Pouw!” kata pemuda itu yang bukan lain adalah Kong Sek, putera mendiang Kong Tek Kok yang menjadi murid Bu-tek Sin-liong Cu Liong.

“Hah? Benarkah engkau memalsukan margamu?” tanya pula majikan Bukit Merak itu.

“Marga saya Pouw, Lo-cianpwe, saya memang menggunakan nama Marga Suma seperti Ayah angkatku.”

“Hayo ceritakan, benarkah engkau membunuh Panglima Kong Tek Kok dan banyak pengawal?”

“Memang benar, Lo-cianpwe. Saya yang membunuh Panglima Kong Tek Kok dan para pengawal yang membantunya,” jawab Cun Giok dengan jujur dan sikapnya tetap tenang.

“Jadi engkau luka-luka dan pingsan itu karena habis berkelahi melawan mereka?” seru Ai Yin.

Cun Giok mengangguk tanpa menjawab.

“Pouw Cun Giok, hayo ceritakan mengapa engkau membunuh sahabatku Panglima Kong Tek Kok dan yang lain-lain!”

Diam-diam Cun Giok maklum akan bahaya yang mengancam dirinya. Kiranya para penolongnya ini adalah sahabat baik Panglima Kong Tek Kok, bahkan agaknya pemuda tinggi besar itu adalah putera mendiang Panglima Kong Tek Kok dan menjadi murid Bu-tek Sin-liong!

“Lo-cianpwe, sekitar dua puluh satu tahun yang lalu, hampir seluruh keluarga Pouw, di So-couw dibasmi oleh pasukan yang dipimpin Panglima Kong Tek Kok. Kakek dan Nenek saya, Ayah dan Ibu saya, dibunuhnya dengan kejam. Seluruh anggota dalam rumah dibunuh dan gedung keluarga Pouw dibakar. Ibuku dapat tertolong dan ketika itu Ibuku sedang mengandung. Kemudian Ibu melahirkan saya dan tewas. Saya menjadi anak atau cucu angkat penolong Ibuku, she (marga) Suma. Nah, setelah saya dewasa, setelah mempelajari ilmu silat, saya mencari musuh besar yang membasmi keluarga Pouw itu dan membalas dendam. Yang hendak saya balas dan bunuh adalah Panglima Kong Tek Kok, akan tetapi karena banyak sekali pengawal yang mengeroyok saya, maka saya merobohkan banyak pengawal. Saya terluka akan tetapi sempat melarikan diri. Demikianlah yang sesungguhnya terjadi, Lo-cianpwe.”

“Suhu, dia itu seorang pemberontak dan dia telah membunuh Ayahku. Tolonglah, Suhu dan Sumoi, bantu saya menangkap jahanam ini!” Kong Sek berkata.

“Hemm... hemm...!” Datuk Majikan Bukit Merak itu menggumam ragu.

“Ayah, dalam peraturan yang Ayah buat sendiri, kita tidak boleh mencampuri urusan pribadi orang lain. Juga kita tidak boleh mencampuri urusan pemerintah! Andaikata benar dia memberontak, itu bukan urusan kita, dan urusan antara Suheng Kong Sek dan Pouw Cun Giok adalah urusan dendam-mendendam pribadi. Biarlah urusan itu mereka selesaikan sendiri!” kata Cun Ai Yin dengan suara tegas.

Kong Sek yang sudah naik darah melihat musuh besarnya yang dia ketahui dari pedang Kim-kong-kiam di tangan Cun Giok, menjadi tidak sabar lagi mendengar ucapan gurunya dan sumoinya.

“Jahanam busuk, engkau harus menebus kematian Ayahku!” bentaknya dan dia lalu menyerang lagi dengan pedangnya.

Cun Giok menangkis dengan Kim-kong-kiam. “Tranggg...!”

Pedang di tangan Kong Sek juga bukan pedang biasa, melainkan sebatang pedang yang kuat dan ampuh walaupun tidak sebaik Kim-kong-kiam, maka pedang itu tidak patah ketika bertemu Kim-kong-kiam walaupun Kong Sek terhuyung ke belakang karena kalah kuat. Akan tetapi pemuda yang dipenuhi dendam kebencian ini menjadi nekat dan dia menyerang terus dengan membabi buta.

Kenekatannya ini terutama karena dia yakin bahwa tidak mungkin gurunya akan tinggal diam saja dan pasti akan membantunya atau setidaknya melindunginya kalau dia terancam bahaya. Akan tetapi, walaupun di dalam hatinya tentu saja Bu-tek Sin-liong Cu Liong ada keinginan membela dan membantu muridnya.

Namun di situ ada puterinya, Cu Ai Yin yang mengingatkannya akan peraturan atau pendirian yang dibuatnya. sendiri. Dengan peringatan itu dia menjadi tidak berdaya karena dia merasa malu untuk melanggar peraturannya sendiri!

Thanks for reading Pendekar Tanpa Bayangan Jilid 21 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »