Kisah Sepasang Naga Jilid 16

KISAH SEPASANG NAGA JILID 16

“Sin Wan, kau panggil Giok Ciu ke sini,” kata Bu Beng Lojin.

Sin Wan lalu berdiri dan setelah menahan napas, ia segera memanggil. “Giok Ciu…!”

Suaranya ini tidak keras, tapi nyaring sekali. Anehnya, biarpun ia memanggil tidak keras, suaranya seakan-akan memenuhi dan menjalar-jalar di seluruh pucak, hingga terdengar sampai dimana-mana, bahkan Gak Bin Tong yang duduk jauh di dalam rimba itu juga mendengarnya! Sin Wan lalu berlutut kembali dan tak lama kemudian, benar saja, sesosok bayangan berkelebat cepat dan tahu-tahu Giok Ciu telah berada disitu dan berlutut di depan Suhunya.

“Sin Wan dan Giok Ciu, kini sudah tiba saatnya bahwa aku harus berpisah dengan kalian. Kalau ada jodoh, sepuluh tahun kemudian kita bertiga dapat bertemu pula di puncak ini. Sekarang kepandaian kalian sudah cukup tinggi hingga aku tidak usah merasa ragu-ragu melepaskan kalian. Asal kalian mempergunakan kepandaian itu dengan benar, maka agaknya di dunia ini hanya ada beberapa orang saja yang dapat menandingi kalian. Murid-muridku, harapanku tak lain mudah-mudahan segala petuahku selama kalian berada di sini takkan kalian lupakan. Pula, pesanku terakhir ini supaya diingat benar-benar, yakni sekali lagi kutegaskan. Pedang pusaka Pek Liong Pokiam dan Ouw Liong Pokiam tak boleh dimiliki oleh sepasang suami isteri, maka jika kalian melangsungkan perjodohan, kedua pusaka itu harus disimpan kembali ke dalam gua naga. Ingatlah benar-benar ini, karena kalau tidak, kalian akan mendapat bencana besar. Nah sekarang aku mau pergi.”

“Suhu, tunggu!” tiba-tiba Giok Ciu berseru dengan suara terharu. Entah mengapa, gadis ini merasa terharu sekali pada saat Suhunya hendak meninggalkannya.

“Ada apakah, Giok Ciu?” tanyanya dengan suara mengandung iba.

“Suhu...” gadis itu menahan isaknya, “Teecu... mohon doa restu agar... Teguh iman dan kuat hati, Suhu...”

Bu Beng Lojin tersenyum. Ia menggerakkan tangannya dan menaruh telapak tangannya di atas kepala Giok Ciu, mengusap rambut muridnya lalu berkata bagaikan seorang kakek kepada cucunya,

“Giok Ciu, segala apa akan berjalan baik asalkan kau ingat selalu bahwa kebahagiaan itu letaknya di dalam diri sendiri. Alangkah mudahnya mencari kebahagiaan asal kau telah mengenal diri sendiri dan dapat melihat betapa kebahagiaan menanti-nantimu di situ. Selanjutnya... terserah kepadamu sendiri, muridku. Nah, Giok Ciu, Sin Wan, selamat berpisah!”

Baru saja habis kata-katanya ini, tubuhnya telah melayang ke bawah gunung, diikuti oleh pandang mata Sin Wan yang mengerutkan pelupuk mata dan Giok Ciu yang mengalirkan air mata. Setelah agak lama Suhunya pergi, Sin Wa memandang Giok Ciu yang masih berdiri bengong ke arah ke mana Suhunya turun gunung tadi. Pipi gadis itu masih basah air mata sedangkan wajahnya agak kepucat-pucatan, maka terbitlah hati yang sangat iba dan sayang dalam dada Sin Wan. Ia dekati kekasihnya itu dan memegang kedua pundaknya dari belakang dengan mesra.

“Giok Ciu, jangan kau bersedih. Bukankah masih ada aku di sampingmu?”

Giok Ciu merasa terhibur juga, ia memalingkan muka memandang kepada Sin Wan dan wajahnya mulai berseri kembali, dan bibirnya tersenyum, seakan-akan matahari mulai terbit mengusir kabut diwaktu pagi.

“Koko di manakah perginya manusia she Gak itu?” Sin Wan tersenyum.

“Mengapa kau agaknya benci sekali padanya, moi-moi?”

“Ah, ia bukan orang baik-baik. Jika dekat dengan ia, aku merasa seakan-akan dekat dengan seekor serigala berkedok muka domba.”

“Sudahlah jangan pikirkan soal dia. Dia tadi disuruh pergi ke rimba itu oleh Suhu, biarlah ia berlindung di tempat kita untuk beberapa hari lamanya. Kitapun harus menyelesaikan latihan lweekang yang terakhir, moi-moi, sesuai dengan perintah Suhu. Kurasa dalam tiga empat hari lagi aku akan berhasil. Bagaimana dengan kau, moi-moi?”

“Akupun sudah mendekati hasil baik. Api dalam tubuh terasa makin hangat dan gerakan-gerakan tenaga dalam tubuh makin besar hingga dapat kugerakkan ke seluruh bagian tubuh.”

“Bagus sekali kalau begitu. Biarlah kita berlatih tiga hari lagi, kemudian kita turun gunung melakukan tugas kita. Jangan ambil peduli orang she Gak itu.”

Mereka lalu pergi melatih diri, pertama-tama bersama-sama melatih ilmu silat, kemudian mereka bersamadhi di tempat masing-masing. Seperti biasa, semenjak mendapat latihan di udara terbuka oleh Suhu mereka, masing-masing telah memilih tempat latihan sendiri, Sin Wan memilih tempat di bawah sebatang pohon liu dimana terdapat sebuah batu hitam besar yang dipakai sebagai tempat duduk bersamadhi sedangkan Giok Ciu memilih tempat di dalam hutan pohon siong yang banyak ditumbuhi kembang-kembang yang harum baunya.

Ia selalu merasa tenteram jika bersamadhi di situ, karena selain bau bunga dan rumput menyegarkan pernapasannya, juga suara burung-burung di atas pohon merupakan nyanyian indah yang tambah menyempurnakan samadhinya. Ketika hari telah menjelang senja, Giok Ciu masih tenggelam dalam samadhinya. Tubuhnya bersila di atas rumput, diam tak bergerak sedikitpun bagaikan patung seorang dewi.

Wajahnya yang cantik jelita tampak bercahaya dan bibirnya serta kedua pipinya berwarna kemerah-merahan. Pada saat demikian itu ia tidak hanya tampak cantik, tapi juga agung sekali. Tiba-tiba Giok Ciu merasa seakan-akan tersendal turun dari atas dan ia sadar kembali. Otomatis sepasang matanya menatap ke depan dan bertemu pandanglah ia dengan sepasang mata yang telah lama sekali memandangnya dengan kagum dan terpesona. Agaknya pandangan mata inilah yang membuat ia terganggu dari samadhinya. Ketika gadis itu memperhatikan ternyata bahwa yang memandanginya itu adalah mata Gak Bin Tong yang duduk di depannya sambil tersenyum-senyum mengambil hati!

“Kwie Siocia, alangkah suci, agung dan cantik jelita kau! Melihat kau bersamadhi seperti ini, aku teringat akan patung Dewi Kwan Im di See-Coan, Kwie-Siocia...”

Giok Ciu merasa tidak senang sekali dan memandang tajam. “Sudah lamakah kau duduk di sini?” tanyanya dengan suara dingin.

“Sudah sejak tadi, Siocia aku mengagumi kecantikanmu, keindahan bentuk tubuhmu, keagungan yang bersinar keluar dari wajahmu...”

“Tutup mulut! Orang she Gak, kau sungguh kurang ajar sekali. Apa perlumu datang kesini menggangu samadhiku?”

Tiba-tiba Gak Bin Tong berlutut! Ya pemuda muka putih itu berlutut di depan Giok Ciu hingga gadis itu tercengang sekali dan heran. Ia tidak tahu harus berbuat apa dan menyangka bahwa tiba-tiba pemuda itu menjadi gila. Memang pada saat itu Gak Bin Tong telah gila, gila asmara! Ia berlutut di depan kaki Giok Ciu yang masih bersih sambil berkata dengan suara merayu,

“Kwie-Siocia, tidak tahukah kau... aku... aku mengagumimu, aku... ah, kau kuanggap sebagai seorang dewi yang suci murni, dewi pujaan hatiku. Siocia, aku… aku cinta padamu, dengan sepenuh jiwa dan hatiku.”

Giok Ciu menjerit kecil dan tiba-tiba ia meloncat dan bangun berdiri. Ia marah dan malu sekali mendengar ucapan itu hingga ia merasa betapa kedua tangannya menggigil dan dadanya berdebar.

“Orang she Gak! Kau benar-benar tak tahu diri dan kurang ajar sekali! Kau... kau telah menghinaku dengan pernyatamu itu...!” karena marahnya, gadis itu tak dapat melanjutkan kata-katanya, bahkan dari kedua matanya mengalirlah air mata!

Gak Bin Tong dengan nekad melanjutkan kata-katanya, “Nona Giok Ciu... aku... aku cinta padamu! Aku tahu bahwa kau mempunyai hubungan yang erat dengan saudara Sin Wan, tapi... tapi tidak tahukah kau bahwa saudara Sin Wan itu telah menjadi... suami yang tidak syah dari nona Suma Li Lian?”

Terbelalak mata Giok Ciu yang bening itu mendengar kata-kata ini. “Bangsat bermulut jahat! Kau harus dibasmi dari muka bumi ini!” Giok Ciu mencabut Ouw Liong Pokiam dan menyerang pemuda itu yang segera meloncat dan berkelit cepat.

“Nona Giok Ciu... Percayalah padaku...”

“Bangsat keji!” Giok Ciu makin marah dan mengirim serangan-serangan maut.

Kalau bukan Gak Bin Tong yang di serang seperti itu, tentu sukar untuk menyelamatkan diri, tapi pemuda she Gak inipun memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, maka dalam tiga empat jurus saja Giok Ciu yang sedang marah itu belum dapat merobohkannya. Akan tetapi, segera keadaan pemuda itu berbahaya sekali karena Giok Ciu dapat mengendalikan marahnya dan menggerakkan pedangnya secara lihai sekali!

Pada saat yang sangat berbahaya, tiba-tiba Sin Wan muncul dan berseru, “Moi-moi, tahan pedangmu!” Tapi Giok Ciu tidak memperdulikan seruan Sin Wan, bahkan memperhebat serangannya hingga Gak Bin Tong sibuk sekali berloncatan menghindarkan diri.

“Moi-moi, segala hal bisa diurus, jangan menggunakan kekerasan.”

Tapi tetap saja gadis yang sudah panas dan naik darah itu tidak mau menghentikan serangannya hingga Sin Wan terpaksa mencabut Pek Liong Pokiamnya dan menangkis sebuah tusukan Giok Ciu yang mengarah tenggorokan Gak Bin Tong yang sudah kepepet sekali keadaannya.

“Kau mau membela dia?” kata Giok Ciu gemas sekali dan dengan ganasnya ia mengirim serangan lagi ke arah Gak Bin Tong. Sin Wan menangkiskan lagi dan berserulah dia.

“Moi-moi, lupakah kau akan pesan Suhu? Jangan sembarangan membunuh orang!”

Lemaslah tangan Giok Ciu mendengar peringatan ini. Ia memandang kepada Sin Wan dengan gemas, kemudia ia membentak kepada Gak Bin Tong. “Bangsat rendah, kau tidak lekas pergi?”

Gak Bin Tong menjura kepada mereka, lalu meloncat pergi sambil berkata, “Lihatlah saja, kelak akan terbuka matamu.” Dan secepat mungkin ia lari turun gunung, diikuti pandang mata marah dari Giok Ciu dan keheranan dari Sin Wan.

“Moi-moi apakah salahnya maka kau hendak membunuhnya?” tanya Sin Wan.

“Dia... Dia...” Giok Ciu hendak mengatakan bahwa pemuda muka putih itu menuduh Sin Wan menjadi suami tidak syah dari Suma Li Lian, tapi kata-kata ini ditelannya kembali, sebaliknya ia berkata, “Dia datang dan mengganggu ketika sedang bersamadhi, bahkan ia berkata kurang ajar!”

Sin Wan menghela napas karena ia dapat menduga bahwa pemuda itu tentu lupa akan kesopanan melihat Giok Ciu duduk bersamadhi karena ia sendiripun pernah melihat betapa ayu dan agung gadis itu tampaknya jika sedang bersamadhi. Maka ia menghela napas panjang.

“Sudahlah, moi-moi, untuk apa memperdulikan orang seperti dia? Dia sekarang sudah pergi, lebih baik kita mencurahkan perhatian kita kepada latihan-latihan kita, karena kita menghadapi urusan besar.”

“Siapa memperhatikan dia?” jawab Giok Ciu karena sesungguhnya ia sama sekali tidak perhatikan Gak Bin Tong, tapi yang mengganggu pikirannya ialah kata-kata pemuda muka putih tadi.

Ia yakin dan pasti bahwa orang she Gak itu tentu membohong, namun masih saja ada rasa tidak enak dan tidak senang di dalam hatinya. Selama tiga hari semenjak peristiwa itu, di tempat terpisah, Giok Ciu dan Sin Wan mengerahkan seluruh perhatian untuk berlatih hingga pelajaran latihan lweekang terakhir telah mereka lalui dengan hasil baik.

Cersil karya Kho Ping Hoo Serial Jago Pedang Tak Bernama

Pada hari keempatnya, Giok Ciu berdiri dari tempat siulian di bawah pohon siong itu, dan melemaskan kedua kaki dengan berjalan-jalan ke lereng puncak. Kedua kakinya terasa agak kaku dan perutnya lapar sekali. Ia tahu bahwa di sebuah hutan terdapat pohon-pohon buah yang lezat buahnya dan tempat ini telah merupakan 'Gudang makanan' bagi kedua anak muda itu serta guru mereka.

ketika Giok Ciu tengah makan buah yang baru saja dipetiknya dan rasanya segar dan enak sekali, tiba-tiba ia menunda makannya karena pada saat itu ia mendengar suara wanita menangis dan memaki-maki. Ia segera meloncat dan lari cepat menuju ke arah suara itu yang ternyata datang dari arah bawah. Ia menuruni lereng itu dengan cepatnya dan alangkah marahnya ketika melihat betapa empat orang laki-laki menarik-narik seorang wanita muda keluar dari sebuah tandu!

Ia tidak melihat jelas wajah wanita itu, hanya tahu bahwa wanita itu menggendong seorang anak kecil yang menangis keras. Agaknya keempat orang laki-laki itu tadinya adalah tukang-tukang pikul tandu yang kini hendak berbuat jahat.

“Bangsat-bangsat keji!”

Giok Ciu berseru keras dan tahu-tahu keempat laki-laki tinggi besar dan bertubuh kuat itu melihat bayangan berkelebat cepat dan sebelum mereka dapat melihat tegas. Bayangan itu telah tiba dan tahu-tahu seorang demi seorang, mereka terlempar ke dalam jurang yang sangat curam di dekat situ!

Keempat orang itu mengalami kematian tanpa mengetahui siapa yang membunuh mereka dan dengan cara bagaimana. Setelah menggunakan kegesitan dan ketangkasannya melempar-lempar keempat orang itu bagaikan melemparkan rumput-rumput saja, Giok Ciu lalu bertindak maju dan menyingkap kain sutera penutup tandu. Tiba-tiba tangannya yang pegang tandu itu gemetar dan dadanya berdebar keras, karena wanita muda yang ditolongnya itu bukan lain ialah nona Suma Li Lian!

Suma Li Lian ketika melihat bahwa yang menolongnya adalah Kwi Giok Ciu, gadis pendekar yang perkasa dan yang pernah dilihatnya dulu, tampak gembira sekali dan segera ia keluar dari tandu sambil memondong anak kecil itu.

“Kwie Lihiap! Kaukah itu? Syukurlah dan banyak-banyak terima kasih, Lihiap, karena kau ternyata telah menolong jiwaku dari ancaman empat binatang keparat tadi.”

Giok Ciu terima pernyataan terima kasih itu dengan senyum dingin saja. “Siapakah mereka itu dan hendak kemanakah kau sampai tersesat di gunung ini?” tanyanya.

“Kwie Lihiap, aku sengaja menyewa tandu ini untuk mendaki bukit ini. Aku telah membayar mahal sekali kepada empat orang itu. Siapa tahu, sampai ditempat ini mereka agaknya mengandung maksud buruk terhadap diriku. Untung sekali kau keburu datang!”

“Hmm, dengan maksud apakah kau mendaki bukit ini?” tanya Giok Ciu dengan sikapnya yang masih dingin.

Tiba-tiba Li Lian menangis sambil mendekap anak perempuan yang usianya kurang lebih enam bulan itu di dadanya!

“Eh, mengapa tiba-tiba kau menangis?” tanya Giok Ciu.

“Lihiap, kau... kau tolonglah, Lihiap. Aku sedang mencari Ayah anak ini, dan dia dulu pernah memberi tahu padaku bahwa jika aku hendak mencari padanya aku harus mendaki bukit Kam-Hong-San ini...”

Makin keras debar jantung Giok Ciu dan ia kini merasa betapa kedua kakinya menggigil, tapi sedapat mungkin ia menahan dan menindas perasaan ini.

“Siapa... siapakah Ayah anak ini dan... Dan ini anak siapakah...?” Tanyanya gagap.

“Ini adalah anakku, Lihiap, dan Ayahnya... Adalah Bun Sin Wan...”

Biarpun tadi dengan kuatir sekali di dalam dada Giok Ciu telah ada yang menduga akan hal ini, namun keluarnya pernyataan dari bibir Suma Li Lian sendiri itu membuat ia merasa seakan-akan bumi yang dipinjaknya bergoyang-goyang hingga kedua matanya menjadi gelap dan kepalanya pening. Ia terhuyung-huyung, tapi segera ia mengerahkan tenaga batinnya untuk menekan perasaannya.

Setelah mengatur napas beberapa lama, barulah ia tenang kembali dan kegelapan yang menyelimuti dirinya berangsur-angsur lenyap. Ia lalu memandang wajah yang cantik tapi agak pucat dihadapannya itu, dan sedapat mungkin ia menekan suaranya hingga tidak terdengar ketus.

“Nona Suma, tidak salahkan pendengaranku tadi bahwa Ayah anakmu ini adalah Bun Sin Wan?” tanyanya.

Suma Li Lian memandang Giok Ciu dengan sinar mata penasaran hingga mata yang bening bagaikan mata burung Hong itu memancarkan cahaya.

“Kwie Lihiap, biarpun aku bukan seorang wanita gagah seperti engkau, namun tetap mempunyai kesetiaan dan kejujuran dalam hal ini. Kalau bukan kanda Sin Wan yang menjadi suamiku, untuk apakah aku mengatakan bahwa dia adalah Ayah anakku ini?” Dan setelah berkata demikian ia memandang Giok Ciu dengan sikap menantang.

“Kau bohong!” teriak Giok Ciu marah sekali. “Kau sengaja memfitnah orang! Kau perempuan hina yang harus mampus!”

Dengan pedang terhunus di tangan, Giok Ciu mengancam. Tapi Suma Li Lian tidak takut, bahkan tetap tersenyum tenang,

“Kwie Lihiap, mungkin kau mencinta kanda Sin Wan dan karenanya menjadi sakit hati kepadaku. Tapi jangan kau sebut aku pembohong karena aku sama sekali tidak bohong padamu. Anak ini adalah anak kanda Sin Wan dan aku! Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja hal ini kepadanya sendiri. Bukankah ia ada di sini?”

“Suma Li Lian! Kalau kau memfitnah, jangan anggap aku keterlaluan kalau aku akan cincang hancur tubuhmu! Bun Sin Wan selalu bersamaku dan kami tak pernah berpisah. Bagaimana kau dapat berkata bahwa anak ini adalah anaknya?”

Kini Giok Ciu berubah pucat sekali dan bibirnya terasa kering. Sinar matanya seakan-akan memohon kepada Li Lian supaya menarik kembali kata-kata tuduhan tadi. Tapi kata-kata yang keluar dari mulut Li Lian yang tenang itu bagaikan sebilah pisau berbisa yang mengiris-iris jantungnya.

“Kwie Lihiap, memang benar kata-katamu itu, dan akupun hanya sekali saja bertemu dengan kanda Sin Wan. Tapi pertemuan yang sekali itu telah mengikat kami menjadi suami isteri dan bukti yang terutama ialah anak kami ini. Ingatkah kau ketika Sin Wan pergi seorang diri hendak mencegat Ayahku? Bukankah waktu itu kau tidak ikut dan tinggal di dalam Kelenteng? Nah, pada waktu itu, larut tengah malam menjelang fajar, pada waktu itulah kami bertemu, atau lebih tepat, kanda Sin Wan menemuiku. Ia memasuki kamarku dan menyatakan cintanya padaku. Pada saat itulah kami menjadi suami isteri.”

Giok Ciu maju dan memegang erat lengan Li Lian. “Kau... kau... katakanlah sebetulnya, apakah kau tidak bohong? Apakah hal ini terjadi betul-betul? Mengapa kau tidak berteriak pada waktu itu?”

Suma Li Lian menundukkan muka dengan wajah memerah, “Aku tidak membohong, Lihiap. Demi kehormatanku, demi Thian Yang Maha Kuasa, aku tidak membohong. Biarpun aku tidak dapat melihat wajahnya pada waktu itu dan keadaan gelap, namun aku dapat mengenal suaranya dan iapun mengaku bahwa ia adalah kanda Sin Wan sendiri. Dan aku... aku tentu akan berteriak minta tolong, kalau saja dia bukan kanda Sin Wan... aku, aku cinta padanya, Lihiap. Aku cinta kepada musuh Ayahku! Sekarang, sekarang... aku merasa malu dan hina sekali, tapi apa boleh buat... anak ini telah terlahir dan perlu bertemu dengan Ayahnya...”

Maka menangislah Li Lian tersedu-sedu dan Giok Ciu melepaskan pegangannya pada lengan tangan Ibu muda itu, dan gadis itu berdiri termenung seakan-akan semangatnya telah meninggalkan tubuhnya. Ia tidak measa betapa air matanya mengalir turun dari sepasang matanya yang suram, tidak tahu betapa wajahnya pada saat itu lebih menyerupai seorang mayat hidup! Kemudian ia teringat sesuatu.

“Benarkah kau telah mengkhianati seorang she Gak dan mengatakan kepada para pahlawan bahwa dia ini mempunyai hubungan dengan kami?”

“Benar, Lihiap. Aku benci sekali kepadanya. Telah beberapa kali ia bersikap tak patut terhadapku, maka aku segera mengadukan dia dan sepanjang yang kudengar, ia dikejar-kejar oleh para pengawal Kaisar. Lihiap, sekarang kau tolonglah aku, dimanakah adanya kanda Sin Wan?”

“Kau hendak bertemu padanya? Boleh! Memang kau harus bertemu padanya, kau harus bertemu sekarang juga! Hayo, kuantar kau!!”

Kemudian Giok Ciu mengajak Suma Li Lian naik ke lereng bukit itu. Ibu muda itu naik dengan sukar sekali, tapi Giok Ciu tidak memperdulikannya, bahkan berjalan mendahuluinya dengan tindakan bagaikan orang mabok.

Sin Wan yang baru saja sadar dari siulian, menyambut kedatangan Giok Ciu dengan senyum gembira. Tapi ia kaget sekali melihat wajah gadis itu. Ia segera maju hendak memegang tangan Giok Ciu, tapi gadis itu berkelit cepat dan memandangnya penuh kebencian. Nyata sekali betapa Giok Ciu menahan-nahan nafsunya hendak menyerang Sin Wan.

“Moi-moi... Kau kenapakah?” Sin Wan cemas sekali melihat keadaan Giok Ciu yang disangkanya sakit atau telah terjadi hal yang hebat.

Tapi Giok Ciu hanya menggigit bibir dan memandangnya dengan mata yang kini mulai digenangi air mata! Pada saat itu terdengar suara kaki orang menaiki jalan naik itu dengan susah payah. Sin Wan cepat memandang dan terkejutlah ia ketika melihat betapa Suma Li Lian sambil menggendong anak kecil sedang mendaki dengan napas terengah-engah karena sangat kelelahan!

Sebagai seorang berbudi halus, melihat keadaan Li Lian, Sin Wan tidak tega mendiamkannya saja, maka cepat ia maju dan mengulurkan tanggannya untuk membantu gadis itu menaiki sebuah batu. Tapi tak disangkanya sama sekali, ketika Suma Li Lian telah berdiri tetap didepannya, wanita itu segera menubruk dan memeluknya sambil berbisik tercampur isak.

“Kanda Sin Wan... alangkah banyak derita kualami dalam mencari engkau…” maka terdengarlah tangis mengharukan dibarengi dengan pekik tangis bayi dalam gendongan ibunya itu.

Sin Wan mendengar sebutan Li Lian padanya itu menjadi heran sekali. Ia mengangkat-angkat kedua alis matanya dan memandang dengan muka bodoh. Tak dapat ia berlaku kasar untuk mencegah pelukan Li Lian, karena ia tahu betapa gadis itu sangat lelah dan juga ia takut kalau-kalau anak dalam gendongan itu akan terjatuh.

“Suma-Siocia, kau tenanglah, jangan peluk-peluk aku seperti ini. Duduklah dan mari kita bicara baik-baik,” katanya dengan halus.

“Koko... kenapa kau masih sebut aku Siocia? Lihat... lihatlah! Ini adalah anakmu! Anak kami, terlahir lima bulan yang lalu! Koko... ternyata jodoh kita tak dapat direnggut putus demikian saja, lihat anak ini belum kuberi nama, sengaja kubawa kepadamu, kepada Ayahnya untuk menimangnya dan memberinya nama.”

Kalau ada geledek menyambar barangkali Sin Wan takkan sekaget ketika mendengar kata-kata Suma Li Lian ini. Ia merasa seakan-akan seluruh rambut dikepala dan tubuhnya berdiri dan meremang. Ia takut kalau-kalau wanita ini telah menjadi gila! Tak terasa pula ia mundur beberapa langkah dengan napas terengah-engah, lalu katanya,

“Suma-Siocia, apakah yang kau maksudkan dengan semua ini? Kau telah menjadi gila atau akukah yang sedang mimpi?” Kemudian Sin Wan berpaling kepada Giok Ciu yang masih memandangnya seperti tadi, bahkan kini di sudut bibir gadis itu membayang senyum menghina.

“Moi-moi, agaknya kau lebih tahu tentang hal ini. Coba terangkan, apakah artinya semua ini? Mengapa kau bawa Suma-Siocia ke sini dan anak ini anak siapakah?”

Tiba-tiba Giok Ciu menggunakan jari telunjuk menunding mukanya. “Siapa sudi kau sebut moi-moi? Laki-laki rendah, laki-laki hina, laki-laki pengecut! Tak tahu malu, sudah berani berbuat tidak berani bertanggung jawab, bahkan masih berpura-pura bodoh pula sekarang! Sungguh tak kusangka sama sekali! Kau... orang yang tadinya kuanggap semulia-mulianya orang, yang kusangka sejantan-jantannya diantara sekalian yang jantan, tak tahunya hanyalah seorang hina dina!”

“Moi-moi tahan mulutmu!” bentak Sin Wan dengan marah sekali dan wajahnya memucat.

“Tidak! Aku hendak bicara terus, kau mau apa? Lihat, mulai saat ini aku Kwie Giok Ciu tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan seorang rendah bernama Bun Sin Wan!”

Sambil berkata demikian gadis itu mencabut suling pemberian Sin Wan dulu dan mematahkan suling itu ke dalam tangan, lalu dua potong patahan suling itu ia remas-remas sampai hancur lebur sambil tertawa bekakakan.

“Moi-moi, diamlah!” Sin Wan membentak lagi dengan keras sekali karena ia merasa ngeri melihat betapa gadis itu berdongak sambil tertawa yang sangat aneh bunyinya dan pada saat itu ia tampak seperti mayat sedang tertawa menyeramkan.

Giok Ciu melempar-lemparkan hancuran suling itu ke atas dan angin gunung membawa bubukan itu bertebaran ke mana-mana, “Ha ha ha! Lihatlah, lihatlah, hai bunga dan pohon! Lihatlah betapa cita-cita itu telah lebur, telah cerai berai dan musnah terbawa angin. Lihatlah betapa semua telah hancur, telah hancur... sekarang tidak ada apa-apa lagi... hancur lebur... habis...”

Dan kembali ia tertawa menyeramkan, tapi suara ketawanya itu berangsur-angsur menjadi isak tangis sedih. Lalu Giok Ciu lari dari situ dengan cepat sekali sambil membawa suara tangisnya makin menjauh.

“Moi-moi...!” Sin Wan juga lari mengejar, tapi tiba-tiba Giok Ciu mencabut pedang Ouw Liong Pokiam dan membalikkan tubuh dengan pedang hitam itu melintang di dada. Sikapnya garang sekali dan ia membentak,

“Bangsat rendah! Kau mau apa? Jangan halang-halangi pergiku, kembalilah kepada isteri dan anakmu! Awas, satu tindak saja kau melangkah maju, aku akan mengadu jiwa denganmu!”

Tadinya Sin Wan hendak nekad maju, tapi ia pikir lagi bahwa Giok Ciu sedang panas hati dan mata gelap, maka tidak baik kalau dipaksa dan mungkin akan terjadi pertempuran mati-matian dan ia anggap ini bukanlah penyelesaian yang baik. Maka ia hanya memandang gadis itu dengan wajah sedih, lalu berkata,

“Baiklah, moi-moi. Kau menuduh aku yang bukan-bukan tanpa memberi kesempatan dan ketika kepadaku untuk membela diri!”

Tapi Giok Ciu tidak memberi kesempatan kepadanya untuk bicara terus karena gadis itu telah membalikkan tubuhnya dan lari ke bawah gunung dengan cepat sekali dan Ouw Liong Pokiam di tangannya berkilau-kilau ditimpa sinar matahari!

Akhirnya Sin Wan membalikkan tubuhnya setelah bayangan gadis itu tidak tampak lagi dan ia teringat kembali akan Suma Li Lian, maka dengan kertak gigi karena gemas, ia lari kembali ke tempat gadis bangsawan itu. Ia melihat betapa gadis itu berdiri sambil menyusui anak itu, maka wajah Sin Wan memerah. Ia memalingkan mukanya dan dalam keadaan malu dan jengah melihat betapa Li Lian di hadapannya tanpa malu-malu menyusui anak itu, timbullah keheranan besar dalam hati Sin Wan. Li Lian telah mempunyai anak dan mengaku bahwa anak itu adalah anaknya pula! Li Lian mengaku bahwa dia adalah suaminya! Sungguh gila, gila dan lucu. Sambil berdiri membelakangi Li Lian, Sin Wan berkata,

“Suma-Siocia, kalau kau sudah selesai menyusui anak itu, katakanlah agar kita bisa bicara dengan baik.”

Beberapa lamanya mereka berdiri dalam keadaan demikian. Li Lian berdiri menyusui anaknya sambil memandang tubuh belakang Sin Wan dengan mata sayu dan agak terheran melihat sikap pemuda itu, sedangkan Sin Wan berdiri memangku kedua lengan sambil memeras otaknya mengapa timbul perkara aneh dan gila ini! Tak lama kemudian terdengar Li Lian berkata kepadanya,

“Kanda Sin Wan, sungguh aku tidak mengerti akan sikapmu. Kau adalah seorang pemuda gagah perkasa dan berbudi tinggi. Benar-benarkah kau tidak mau mempertanggung jawabkan perbuatanmu sendiri?”

Sin Wan kertak giginya dengan marah dan gemas sekali. “Sudah selesaikah kau menyusui anakmu?” bentaknya.

“Sudah, biarpun aku tidak mengerti mengapa kau pura-pura tidak bisa melihat anakmu sendiri menyusu di dada ibunya!” jawab Li Lian penasaran.

Bagaikan kilat cepatnya Sin Wan meloncat sambil membalikkan tubuh dan ia berdiri di depan Li Lian. Gatal-gatal tangannya hendak menampar perempuan ini, tapi melihat betapa sepasang mata yang bening dan wajah yang ayu itu tampak sangat agung memandangnya tanpa rasa takut sedikitpun juga, ia menjadi lemas.

“Nona Suma, sekarang kau katakanlah yang sebenarnya. Mengapa kau lakukan hal keedan-edanan ini? Apakah salahku kepadamu maka kau memfitnah padaku?” Tiba-tiba Sin Wan menjadi pucat dan kedua matanya bersinar-sinar. Ia lalu tertawa dan berkata kepada Li Lian yang terheran-heran.

“Ha ha ha! Kau perempuan licin! Sungguh kau cerdik dan lihai! Kini aku tahu, tentu kau lakukan ini untuk membalas dendammu karena aku telah membunuh Ayahmu bukan? Ha ha ha! Benar-benar kau hebat dan lihai! Dengan tenaga kau tak mungkin dapat membalas, kini kau membalas, dengan akal jahatmu. Tapi hasil muslihatmu ini ternyata lebih hebat dan sakit rasanya daripada kalau kau membalas dengan pukulan maut! Ah, mengapa Giok Ciu tidak menginsafi hal ini...?”

“Koko Sin Wan! Jangan kau ngaco belo tidak karuan...” Dan tiba-tiba Li Lian menangis sedih. “Aku... mengapa pula aku harus membalas dendam? Bukankah aku sudah menjadi isterimu? Koko, biarpun kau hendak berlaku pengecut dan mengingkari janji dan membodohi semua orang, tapi kau tidak dapat menipu Thian Yang Maha Agung! Inilah buktinya! Lihatlah anak ini, inilah hasil pertemuan kita dulu! Atau kau pura-pura lupa ketika kau memasuki kamarku pada pagi hari dulu itu? Koko, kau tahu bahwa aku... aku mencinta padamu, kalau tidak demikian halnya, mungkinkah aku sudi melayanimu sedangkan aku tahu bahwa kau adalah musuh Ayahku? Aku telah korbankan Ayahku, korbankan namaku, korbankan perasaanku untuk membalas cintamu, tapi mungkinkah seorang pemuda gagah perkasa dan berbudi seperti engkau ini mempunyai hati palsu? Ah, tak mungkin! Aku takkan percaya! Wajahmu tak mungkin palsu tapi... mengapa sikapmu begini terhadapku, koko...” dan dengan sangat sedihnya Li Lian menangis dan menutupi mukanya sehingga ia tidak melihat betapa Sin Wan mendengarkan ucapannya dengan wajah makin terheran dan mata makin lebar terbelalak.

Sin Wan benar-benar tak berdaya karena herannya. Setelah menggunakan lidahnya membasahi bibirnya yang kering, ia akhirnya berkata dengan halus, “Nanti dulu, nona, tenanglah dulu. Coba kau ceritakan padaku tentang pagi hari itu, pada waktu mana kau bilang aku memasuki kamarmu. Coba ceritakanlah hal itu dengan terus terang.”

Suma Li Lian memandangnya heran dan seakan-akan tak percaya akan apa yang didengarnya dari mulut pemuda itu. Akhirnya ia menghela napas dan berkata, “Baiklah kalau kau kehendaki itu. Dulu ketika mendengar bahwa kau mencari-cari Ayahku untuk kau bunuh, hatiku hancur dan sedih sekali, karena sesungguhnya aku tidak suka melihat kau membunuh Ayah. Pertama-tama memang sebagai seorang anak tentu saja aku tidak rela kalau Ayah dibunuh orang, kedua, di lubuk hatiku aku sangat tertarik dan suka kepadamu yang biarpun menjadi musuh Ayahku, namun kau telah berlaku sopan dan jujur terhadapku, bahkan kau telah membela aku dari kemarahan Kwie Lihiap. Semenjak itulah maka timbul rasa cinta di dalam hatiku. Malam ketika kau pergi itu aku tak dapat tidur. Menjelang fajar, aku melihat bayangan orang memasuki kamarku dari jendela. Karena lampu telah padam, maka aku tak dapat mengenal mukamu, hanya dapat menduga karena potongan tubuhmu kukenal baik dan bayangan itu potongan tubuhnya memang sama dengan engkau. Kemudian kau membuka suara memanggilku, maka aku tidak ragu-ragu lagi bahwa kaulah yang datang. Kau menyatakan cintamu tanpa banyak kata dan aku... aku tak berdaya menolakmu karena... memang aku cinta padamu...! Ah, kanda Sin Wan, perlukah hal ini disebut-sebut lagi? Atau apakah ketika itu kau hanya pura-pura saja dan sengaja mempermainkan aku?”

Tiba-tiba Sin Wan mengangkat tangan dan meramkan mata karena ia sedang memikir keras. “Nanti dulu... ketika hal itu terjadi, yakni ketika bayangan itu memasuki kamarmu, apakah waktu itu sudah terdengar ayam berkokok?”

Suma Li Lian mengingat-ingat lalu berkata tetap, “Belum koko, karena aku ingat betul bahwa setelah kau pergi meninggalkan aku, barulah aku mendengar suara ayam berkokok memasuki jendela kamarku yang terbuka karena kau agaknya lupa menutup kembali.”

Sin Wan mengangguk-angguk, “Hmm, aku tahu sekarang mengapa kau dulu ketika hendak berpisah dengan aku, mengucapkan kata-kata yang tak kumengerti sama sekali, yakni kau sesalkan aku yang tidak ingat akan kejadian pagi itu. Kini aku mengerti. Ketahuilah, Suma-Siocia. Pada saat itu aku masih belum kembali ke Kelenteng, dan datangku ke Kelenteng adalah pada waktu matahari telah naik tinggi! Pada saat ada orang memasuki kamarmu itu aku tengah mencegat seorang diri di hutan, mencegat kendaraan Ayahmu!”

Thanks for reading Kisah Sepasang Naga Jilid 16 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »