Social Items

KISAH SEPASANG NAGA JILID 15

Melihat kawannya dipermainkan, Kwi Kai Hoatsu juga lalu menggerakkan tongkat dan kebutan hudtimnya untuk menyerang, hingga sebentar saja orang gila itu dikeroyok oleh kedua Tosu yang bersenjata dan lihai itu. Tapi kesudahannya sungguh-sungguh membuat Sin Wan dan Giok Ciu diam-diam dan tak terasa saling berpegangan tangan dan menahan napas!

Dengan tangan kosong, orang gila itu melayani kedua Tosu itu dan saban-saban ada kesempatan, ia menggunakan kedua telapak tangannya yang kotor dan bau itu untuk diusapkan di muka kedua lawannya, hingga setelah kena diusap beberapa kali, muka Kwi Kai Hoatsu dan Kang Keng Tosu menjadi kotor dan hitam!

Tentu saja perbuatan si gila ini tampak lucu sekali dan merupakan hal yang sangat menghina kedua tokoh itu. Ah, kalau saja ada kawan-kawan mereka melihat hal ini, alangkah akan malunya. Dipermainkan sedemikian rupa oleh seorang gila yang bertangan kosong, sedangkan mereka mengeroyok berdua!

Sebaliknya Sin Wan dan Giok Ciu merasa kagum karena tak mereka sangka di dunia ini banyak sekali orang-orang pandai. Mereka taksir bahwa kepandaian orang yang seperti gila itu setidak-tidaknya setingkat dengan kepandaian guru mereka, Bu Beng Sianjin! Maka timbul harapan di dalam hati mereka, karena agaknya orang gila itu membantu mereka untuk merampas kembali kedua pokiam mereka.

Sementara itu, karena makin lama makin sering tangan si gila itu mengusap muka mereka, Kwi Kai Hoatsu dan Keng Kong Tosu merasa geli dan ngeri. Kalau saja si gila ini bermaksud jahat, tentu sudah tadi-tadi mereka menjadi mayat. Maka mereka lalu meloncat pergi dengan maksud kabur. Tapi alangkah terkejut mereka ketika tahu-tahu si gila telah menghadang di depan pula!

“Sebenarnya kau mau apakah?” teriak Kwi Kai Hoatsu dengan gemas sekali.

“Pedang mereka... pedang mereka... kembalikan!” kata si gila sambil melanjutkan gerakan-gerakan silatnya yang luar biasa anehnya dan yang selama hidupnya belum pernah dilihat oleh kedua Tosu itu.

“Kau mau pedang ini? Nah, terimalah!”

Kwi Kai Hoatsu lalu sambitkan Pek Liong Pokiam ke arah si gila itu yang disambut dengan mudahnya oleh orang gembel itu. Juga Keng Kong Tosu lalu sambitkan Ouw Liong Pokiam ke arah lawannya. Kini si gila itu menggunakan Pek Liong Pokiam untuk menerima luncuran Ouw Liong Pokiam.

Ketika pedang hitam itu meluncur dan hendak menancap di dadanya, ia menggunakan pedang putih untuk menempel pedang hitam hingga kedua pedang menempel lalu diputar sedemikian rupa dengan cepat sekali hingga pedang hitam terputar-putar di sekeliling pedang putih dengan ujung saling tempel!

“Bukankah itu gerakan Naga Sakti Putar Ekor yang diajarkan oleh Suhu?” Tiba-tiba Giok Ciu berbisik sambil menekan tangan Sin Wan.

“Memang betul, agaknya orang itupun kenal ilmu silat kita. Mari kita hampiri dia.”

Si Gila itu masih memutar-mutar pedang itu ketika Sin Wan dan Giok Ciu tiba di situ dan kedua anak muda itu tanpa ragu-ragu lagi lalu menjatuhkan diri berlutut di depan orang itu. Si gila sambil memutar-mutar pedang melihat ke arah depan di mana Kwi Kai Hoatsu dan Keng Kong Tosu berlari-lari cepat meninggalkan orang yang aneh dan membuat mereka jerih dan ketakutan itu, karena selama hidup belum pernah mereka bertemu dengan orang yang seaneh dan sehebat itu kepandaiannya. Mereka merasa beruntung tidak terbunuh olehnya.

“Mereka itu kutu-kutu busuk!” si gila berkata berulang-ulang. Kemudian ia melihat kedua anak muda yang berlutut di depannya, maka iapun berlutut dan melihat-lihat tanah di depan Sin Wan dan Giok Ciu. “Eh, eh, kalian sedang mencari apakah? Apa sedang mengintai jangkrik?”

Maka iapun lalu mencari-cari dan menyingkap-nyingkap rumput di situ! Sin Wan dan Giok Ciu saling melirik.

“Lo-Cianpwe, teecu berdua menghaturkan banyak-banyak terima kasih atas pertolongan Lo-Cianpwe kepada kami,” kata Sin Wan dengan suara menghormat.

Orang aneh itu bangun berdiri dan sekali sentak dengan sebelah tangannya, tubuh Sin Wan terangkat naik hingga anak muda itu terpaksa berdiri.

“Kau berdirilah, tak enak bicara sambil berlutut!” katanya kepada Giok Ciu yang segera berdiri.

Mereka berdua berdiri dengan sikap hormat sekali.

“Siapakah yang tolong siapa? Mereka merampas pedangmu dan aku ambilkan itu dari mereka untukmu!”

“Lo-Cianpwe sudilah kiranya memberitahukan teecu berdua nama yang mulia dari Lo-Cianpwe agar teecu berdua tak mudah melupakan budi Lo-Cianpwe ini.”

“Bicaramu sulit dimengerti,” kata si gila setelah memeras otak memikir-mikir untuk memahami kata-kata Sin Wan.

“Namaku ya aku, dan nama kalian siapa akupun tak perlu tahu. Nah, ini terima pedangmu!”

Dengan tak acuh ia angsurkan kedua pedang itu yang disambut oleh Sin Wan dan Giok Ciu dengan girang sekali dan membungkukkan tubuh.

“Pedang ini baik sekali, sayang kalau terjatuh di tangan mereka. Lain kali jangan sampai kena dirampas orang pula!” Tiba-tiba saja suara si gila ini terdengar terang dan waras.

“Mohon petunjuk dari Lo-Cianpwe, karena teecu berdua memang masih dangkal pengetahuan,” kata Sin Wan.

Orang tinggi besar itu tertawa lalu tiba-tiba ia berjungkir balik, kedua tangannya di bawah dan kedua kaki di atas! Dalam keadaan begini, agaknya orang itu meraa lebih enak, lalu tertawa ha-ha hi-hi dan berkata,

“Petunjuk apakah? Kalau kalian bisa meniru kepandaianku ini, tak mungkin dua imam itu mampu merampas pedangmu!”

Hampir saja Giok Ciu tertawa geli, karena apakah susahnya untuk berdiri dengan kaki di atas seperti itu? Jangankan dengan kedua tangan, biar dengan sebelah tanganpun ia sanggup melakukannya dengan mudah sekali. Tapi Sin Wan segera berkata,

“Lo-Cianpwe, kenalkah Lo-Cianpwe kepada Suhu kami? Suhu disebut Bu Beng Sianjin! Kenalkah Lo-Cianpwe padanya?”

Sepasang mata yang berada di bawah itu berputar-putar cepat, tanda bahwa otaknya yang telah hampir beku itu dikerjakan keras. “Bu Beng...? Bu beng...? Ah, aku kenal... aku kenal...!” Tiba-tiba ia berseru keras sekali.

“Heh...!” dan tahu-tahu tubuhnya yang tadi berdiri terbalik itu membal ke atas tinggi sekali! Di atas masih terdengar suaranya. “Bu... Beng…?” Dan sekali lagi di atas ia berseru “Heh...!”

Tahu-tahu tubuh yang masih berada di atas itu mencelat jauh dan lenyap dari pandangan mata kedua anak muda itu. Sin Wan dan Giok Ciu bengong Mereka terkejut, heran, dan kagum sekali melihat kehebatan orang gila itu! Sin Wan menghela napas dan berkata,

“Ah, sungguh di dunia ini banyak orang-orang berilmu tinggi, hingga jika dibandingkan, kita ini bukan apa-apa.”

“Tadi ketika ia berdiri jungkir balik, ia bilang bahwa kalau kita bisa menirunya, maka kedua Tosu itu takkan mungkin dapat merampas pedang kita. Apakah maksudnya, koko? Apakah artinya kepandaian jungkir balik macam itu?”

“Aku juga sedang memikirkan itu, moi-moi. Memang kelihatannya itu bukan kepandaian yang berarti, tapi kau ingatkah ketika ia meloncat ke atas tadi? Ia mempergunakan bentakan dalam dada dan tahu-tahu tubuhnya telah mumbul ke atas tinggi sekali, bahkan di ataspun ia dapat gunakan tenaga mujijat itu untuk melesat pergi jauh sekali! Kurasa ia melatih lweekang dan ginkang yang tinggi dengan cara bersamadhi sambil berdiri jungkir balik!”

Giok Ciu mengangguk-angguk. “Mungkin juga, bukankah Suhu juga sering bersamadhi dengan cara yang aneh-aneh?” Maka teringatlah Sin Wan.

“Agaknya orang aneh tadi kenal kepada Suhu, tapi mungkin juga tidak, karena sikapnya sungguh-sungguh aneh hingga aku hampir percaya bahwa ia benar-benar gila! Giok Ciu, kita harus akui bahwa kepandaian kita masih dangkal sekali. Baru menghadapi dua orang saudara Cin Cin Hoatsu saja kita hampir mengalami bencana, apalagi kalau harus menghadapi Cin Cin Hoatsu yang lihai. Memang sebenarnya pelajaran kita belum tamat dan dahulu kita terpaksa berpisah dari Suhu. Kurasa lebih sempurna lagi kalau kita sekarang kembali dulu dan mohon kepada Suhu untuk memberi pelajaran selanjutnya kepada kita sampai tamat. Setelah itu, barulah kita berdua pergi mencari Cin Cin Hoatsu. Bagaimana pendapatmu, moi-moi?”

Sebenarnya, gadis itu ingin lekas-lekas mencari musuh besarnya dan membalas dendam, tapi setelah dipikir-pikir bahwa kata-kata Sin Wan betul, pula mengingat betapa baru saja mereka gagal melawan Kwi Kai Hoatsu dan Keng Kong Tosu ia lalu menyetujui ajakan Sin Wan. Maka mereka lalu kembali dan menuju ke Kam-Hong-San untuk mencari Suhu mereka dan minta pimpinan lebih jauh.

Ketika mereka tiba di kaki bukit Kam-Hong-San, Sin Wan tidak lupa untuk mampir di kampungnya. Penduduk kampung dengan gembira ria menyambut pemuda pemudi itu dan memaksa mereka bermalam di situ. Sin Wan didesak untuk menceritakan pengalamannya dan ketika mendengar bahwa pembunuh-pembunuh Kang Lam Ciuhiap dan Ibu Sin Wan telah dapat terbalas dan dibinasakan, mereka bersorak-sorak girang dan merasa puas sekali, karena ini berarti bukan hanya pembalasan sakit hati kedua orang itu, tapi juga pembalasan sakit hati para orang-orang yang dulu dengan gagah menolong Kang Lam Ciuhiap tapi juga terbunuh oleh para kaki tangan Kaisar itu.

Pada keesokan harinya Sin Wan dan Giok Ciu menengok makam Kang Lam Ciuhiap dan Ibu Sin Wan, dimana pemuda itu bersembahyang dengan hati terharu. Ia merasa berterima Kasih kepada orang-orang kampung yang ternyata merawat makam itu dengan baik-baik hingga rumputnya terbabat rapih dan tampaknya bersih. Kemudia mereka berdua mendaki bukit Kam-Hong-San untuk mencari Suhu mereka. Di sepanjang jalan, pemandangan-pemandangan di gunung yang telah mereka kenal baik itu membuat mereka terharu dan membongkar kenangan-kenangan lama. Ketika mereka tiba di sumur naga tempat pertapaan Suhu mereka, dari jauh mereka sudah melihat Bu Beng Sianjin duduk di pinggir sumur seorang diri! Alangkah girang hati mereka dan cepat-cepat mereka berlari lalu menjatuhkan diri berlutut sambil menyebut,

“Suhu...!”

“Kalian sudah kembali? Berhasilkah usahamu?” kakek yang kurus kering dengan rambut putih panjang terurai ke belakang itu bertanya halus.

Sin Wan dan Giok Ciu lalu menuturkan pengalaman mereka bergantian, betapa mereka telah berhasil membunuh Suma-Cianbu dan Siauw-San Ngo-Sinto, tapi betapa mereka hampir celaka di tangan Kwi Kai Hoatsu dan Keng Kong Tosu kalau saja tidak ditolong oleh seorang aneh yang adatnya seperti orang gila. Bu Beng Sianjin mendengarkan dengan penuh perhatian dan ketika mendengar tentang orang-orang aneh itu, ia tertarik sekali.

“Coba ceritakan, bagaimana rupa orang itu?” Sin Wan lalu melukiskan keadaan orang gila yang sakti itu sedapat mungkin.

Kakek itu mengangguk-angguk. “Hem, hm, tinggi sekali dan besar, rambut hitam, mukanya hitam, matanya bundar dan besar? Ya, ya, tak salah lagi, dialah itu…”

“Siapakah orang itu, Suhu? Ketika teecu menanyakan namanya, ia hanya menjawab bahwa dia adalah dia, sama sekali tidak menyebut nama, entah lupa entah memang tidak punya nama. Ketika teecu menyebut nama Suhu, ia kelihatan seperti orang mengingat-ingat dan lalu pergi.”

“Muridku, dia tidak mau dikenal untuk apa pusing-pusing dan memaksa-maksa? Dia adalah seorang gagah perkasa yang beradat keras dan jujur, tapi malang sekali ia menerima ilmu silat dari mahluk-mahluk halus, ia berguru kepada iblis sendiri, maka ilmu silatnya demikian lihai, tapi untuk kepandaian itu ia harus mengorbankan jiwanya karena ia menjadi gila! Maka muridku, sekarang tidak boleh terlalu mengandalkan kepandaian lahir untuk berlaku sewenang-wenang atau menyombong. Ketahuilah bahwa segala kepandaian itu hanya milik pinjaman saja dan akan lenyap dan musnah bersama raga kita. Maka selagi masih hidup harus dapat mempergunakan segala macam kepandaian yang dimiliki untuk mengerjakan sesuatu yang berguna bagi orang-orang lain, melakukan perbuatan-perbuatan baik demi perikemanusian dan dengan demikian maka takkan percumalah orang mengejar ilmu. Kalau mengejar ilmu dengan susah payah untuk kemudian dipergunakan hanya untuk kepentingan diri sendiri saja, untuk menyenangkan diri sendiri tanpa memikirkan kesulitan dan kesengsaraan orang lain, maka kau berarti lebih gila daripada orang yang sebenar-benarnya gila! Mengertikah kalian?”

Sin Wan dan Giok Ciu mengangguk-angguk menyatakan bahwa mereka mengerti akan petuah ini.

“Kalian tadi mengatakan bahwa kalian dikalahkan oleh dua orang Tosu yang memiliki hoatsut? Apakah sebenarnya hoatsut? Bukan kepandaian yang mengherankan, karena sebenarnya orang yang menggunakan ilmu sihir bukanlah karena mereka memang mempunyai tenaga yang berlebihan, tapi mereka justeru menggunakan kelemahan lawan untuk menjatuhkannya. Ketahuilah bahwa alam ini digerakkan oleh kesatuan tenaga maha hebat dan di dalam tiap tubuh manusia terdapat sebagian daripada kesatuan tenaga dan dengan tenaga inilah maka segala hal mungkin dilakukan oleh manusia. Galilah dan carilah tenaga ini, maka kalian akan kuat menghadapi segala macam hoatsut dari orang-orang jahat!”

Demikianlah, semenjak saat itu Sin Wan dan Giok Ciu mendapat gemblengan ilmu batin yang hebat dari Suhu mereka dan mendapat latihan lweekang yang lebih tinggi. Juga di bawah pimpinan orang tua yang aneh itu mereka menyempurnakan latihan mereka dalam hal ilmu pedang Pek-Liong Kiam-Sut dan Ouw-Liong Kiam-Sut. Tapi berbeda dengan dulu, kini mereka berlatih di udara terbuka, karena Bu Beng Lojin bersamadhi diluar sumur dan berkata untuk berlatih lweekang yang tinggi dan berlatih napas, maka lebih baik bagi kedua orang murid itu untuk bersamadhi di udara terbuka.

********************

Cersil karya Kho Ping Hoo Serial Jago Pedang Tak Bernama

Setahun telah berlalu dengan cepat sekali semenjak Sin Wan dan Giok Ciu kembali ke Kam-Hong-San untuk mempertinggi ilmu silat mereka. Di dalam waktu setahun itu, mereka mendapat kemajuan pesat sekali. Hubungan mereka tetap mesra dan saling cinta, walaupun kini mereka dasarkan cinta mereka lebih mendalam, tanpa dikotori napsu.

Namun, betapapun mereka telah menerima gemblengan ilmu batin, jiwa muda mereka selalu dipanaskan oleh darah muda hingga mereka tetap bersemangat dan penuh hasrat hidup yang bernyala-nyala. Suhu mereka juga tahu akan eratnya hubungan kedua muridnya dan kakek yang aneh ini sering kali diam-diam menghela napas seakan-akan menderita sesuatu yang menyedihkan. Ia pernah panggil menghadap kedua muridnya dan berkata dengan perlahan dan tenang, tapi cukup mengejutkan hati kedua anak muda itu.

“Sin Wan dan Giok Ciu! Aku telah maklum sedalam-dalamnya apa yang terkandung dalam hatimu berdua, memang demikianlah seharusnya perasaan dua orang yang sudah terikat jodoh. Hanya pesanku, murid-muridku, jika kalian telah berhasil membalas sakit hati orang tuamu, maka sebelum kalian menjadi suami isteri, kalian harus membawa kembali kedua pokiam itu dan menyimpannya kembali ke dalam gua naga di dalam sumur. Karena kedua pokiam itu sudah cukup membersihkan karat mereka dengan darah orang-orang jahat, dan adalah menjadi pantangan besar bagi kedua pedang pusaka itu untuk dimiliki oleh sepasang suami isteri!”

Tentu saja Sin Wan dan Giok Ciu saling pandang dengan muka berubah karena hati mereka terguncang, tapi mereka tak berani membantah, hanya berlutut dan menyanggupi kehendak Suhu mereka. Bu Beng Lojin menghela napas lagi dan berkata,

“Sin Wan dan Giok Ciu, hal jodoh adalah kehendak Tuhan, asal saja kalian selalu ingat bahwa sepasang suami isteri sama sekali tidak boleh memiliki kedua pedang itu!”

Pada suatu pagi, Sin Wan dan Giok Ciu berjalan-jalan di lereng-lereng bukit Kam-Hong-San. Mereka menikmati tamasya alam yang indah dan yang membuat mereka teringat akan peristiwa-peristiwa dulu. Bagi mereka, tempat ini merupakan tempat takkan dapat dilupa seumur hidup, karena disinilah mereka pertama kali bertemu.

“Koko, kurasa sekarang sudah tiba waktunya bagi kita untuk berpamit kepada Suhu dan pergi mencari musuh besarku,” kata Giok Ciu.

“Kurasakan begitu, moi-moi. Baiklah kita tanyakan saja kepada Suhu, karena Suhu sakti dan waspada.”

Tiba-tiba Giok Ciu menunding ke bawah bukit dan berseru, “Koko, lihat!”

Dari bawah lereng tampak bayangan orang berlari-lari cepat sekali ke atas bukit, dan ternyata ilmu lari cepat orang itu boleh juga, hingga sebentar saja ia telah datang dekat dengan kedua anak muda itu.

“Gak Bin Tong!”

Giok Ciu berseru heran. Juga Sin Wan heran melihat datangnya pemuda muka putih yang berlari-lari ke atas dengan wajah ketakutan itu.

“Aduh, kebetulan sekali, tolonglah aku, saudara Bun! Kwie Lihiap, tolonglah aku!”

“Ada apakah, saudara Gak?” Sin Wan bertanya dengan heran, tapi jawaban pertanyaannya itu terdengar olehnya ketika dari bawah muncul bayangan banyak orang yang berlari-lari cepat sekali mengejar ke atas.

“Siapakah mereka yang mengejarmu?” tanya Sin Wan.

“Siapa lagi kalau bukan anjing-anjing istana!” jawab Gak Bin Tong. “Mereka hendak membunuhku. Tolonglah, saudara Sin Wan yang baik!”

Setelah berkata demikian, orang she Gak itu lalu melarikan diri di belakang Sin Wan dan Giok Ciu, agaknya ia takut sekali. Giok Ciu yang masih merasa marah karena sikap Gak Bin Tong yang dulu telah mengacaukan perhubungannya dengan Sin Wan, berkata kurang senang.

“Bukankah kau seorang gagah yang memiliki kepandaian tinggi? Mengapa harus berlari-lari terhadap mereka? Mengapa tak kau lawan dengan pedangmu?” kata-kata ini jelas sekali menyatakan bahwa ia enggan untuk membantu, tapi Gak Bin Tong berkata dengan suara memohon.

“Kwie Lihiap, mereka lihai sekali, bukan lawanku!” Giok Ciu memandang Sin Wan dan berkata perlahan.

“Koko, kurasa tak baik kita ikut campur urusan ini. Bukan urusan kita dan tidak ada sangkut pautnya dengan kita.”

“Bukan demikian, moi-moi. Biarpun andaikata kita tidak membantu saudara Gak, sudah sepatutnya kita halau pergi pahlawan-pahlawan Kaisar itu. Mereka bukanlah manusia-manusia baik dan perlu diusir. Pula, saudara Gak pernah melepas budi kepada kita, masakan sekarang kita tidak mau menolongnya? Jangankan dia sendiri, bahkan siapa saja yang dikejar-kejar pengawal kraton dan hendak dibunuhnya, harus kita tolong bukan?”

Alasan-alasan yang dimajukan Sin Wan ini kuat sekali hingga Giok Ciu tak dapat membantah lagi sementara itu, pengejar-pengejar Gak Bin Tong telah tiba di situ dan ternyata mereka terdiri dari tujuh orang pahlawan-pahlawan kelas satu. Di antara mereka terdapat orang-orang yang pernah mengeroyok sin Wan dan Giok Ciu, maka begitu melihat kedua orang muda itu, mereka berteriak.

“Betul saja, binatang she Gak itu telah bersekutu dengan orang pemberontak ini. Hayo tangkap ketiga-tiganya!”

Mereka itu menjadi tabah karena di antara mereka terdapat jagoan-jagoan yang berilmu tinggi, maka segera mereka mengurung dan menyerbu dengan senjata di tangan. Gak Bin Tong menangkis serangan seorang pengawal dengan pedangnya dan Sin Wan bersama Giok Ciu memutar sepasang pokiam mereka melayani pengeroyok yang lain. Sin Wan dan Giok Ciu pada saat itu bukanlah Sin Wan dan Giok Ciu pada waktu setahun yang lalu. Kepandaian mereka telah maju pesat dan didorong oleh tenaga batin dan lweekang mereka yang tinggi, otomatis ilmu pedang mereka juga maju hebat.

Dulu ketika ilmu pedang mereka belum matang saja sudah sukar sekali dilawan, maka kini setelah kepandaian mereka matang dan mendekati kesempurnaan, tak dapat ditaksir kelihaiannya. Para pengeroyok itu hanya melihat sinar panjang hitam dan putih berputar-putar mengelilingi mereka dan mendengar sambaran pedang itu tapi hampir tak dapat mengikuti gerakan kedua anak muda yang menyambar-nyambar bagaikan sepasang naga sakti.

Baru beberapa gebrakan saja terdengar jeritan-jeritan mengaduh dari para pengeroyok yang kena pukul atau tendang. Masih untung bagi mereka bahwa Sin Wan dan Giok Ciu tidak mau menewaskan jiwa orang, maka mereka hanya kena pukulan yang biarpun cukup hebat hingga membuat mereka tak berdaya, namun tak sampai membahayakan keselamatan jiwa mereka. Setelah masing-masing menjatuhkan dua orang, Sin Wan membentak,

“Hayo pergilah kalian kalau sayang jiwa!”

Para pengeroyok yang belum terluka mendengar bentakan ini segera menarik kembali senjata mereka dan sambil membantu kawan-kawan yang terluka, mereka meninggalkan lereng itu dengan jalan terpincang-pincang, Gak Bin Tong menjura kepada dua orang anak muda itu,

“Terima Kasih banyak atas pertolongan jiwi. Kalau tidak tertolong oleh kalian, tentu Gak Bin Tong hari ini tinggal namanya saja. Sungguh merasa kagum sekali melihat kehebatan kalian, baru beberapa bulan saja berpisah. Sungguh membuat aku takluk dan tunduk”

Sambil tiada habisnya memuji-muji, pemuda muka putih itu menjura dengan hormatnya. Terpaksa Sin Wan balas menjura, sedangkan Giok Ciu memalingkan muka tak mengacuhkannya.

“Sudahlah, saudara Gak. Sebetulnya, mengapakah kau dikejar-kejar oleh mereka itu?” tanya Sin Wan.

Gak Bin Tong menghela napas panjang sebelum menjawab. “Kau tahu sendiri, saudara Sin Wan, bahwa biarpun aku tinggal di kota raja dan menjadi keluarga pembesar, namun aku berbeda dengan mereka. Aku bukanlah seorang pengawal, dan aku tidak mencampuri urusan mereka. Karena itulah maka mereka itu diam-diam membenciku. Kemudian datanglah hari celaka bagiku, ketika ada seorang membuka rahasiaku dan mengatakan bahwa dulu aku pernah menolong kalian!”

Terkejutlah Sin Wan mendengar ini. “Heran sekali, siapa yang dapat mengetahui hal itu?”

“Siapa lagi kalau bukan... Suma Siocia!”

Mendengar nama ini disebut-sebut sepasang mata Giok Ciu memancarkan sinar ketika ia memandang kepada pemuda muka putih itu.

“Jangan kau sebut-sebut nama orang itu disini!” bentaknya dengan tiba-tiba dan marah hingga tidak hanya Gak Bin Tong, tapi juga Sin Wan juga merasa terkejut dan heran. Tapi gadis itu tanpa perdulikan mereka, lalu memutar tubuhnya dan pergi dari situ.

“Saudara Gak, sekarang keadaan sudah aman dan kau boleh pergi tanpa kuatir lagi,” kata Sin Wan yang sebenarnya bermaksud mengusir dengan halus, karena sesungguhnya, iapun tidak suka kepada pemuda ini. Gak Bin Tong memandangnya dengan wajah kaget.

“Pergi? Kemana, saudara Bun? Lindungilah aku dan tolonglah untuk dua atau tiga hari lagi. Aku tahu bahwa mereka itu masih penasaran dan mereka tidak mengejarku hanya karena ada kau dan Kwie Lihiap di sini. Mereka tentu menanti di kaki bukit dan kalau melihat aku turun seorang diri, celakalah aku!”

“Habis, apa yang kau kehendaki, saudara Gak?”

“Ijinkanlah aku tinggal di tempatmu barang tiga hari. Biarlah, aku akan tidur di atas tanah saja, asal dekat dengan engkau hingga anjing-anjing itu takkan dapat menggangguku.”

Sin Wan ragu-ragu. “Tapi Suhu telah pesan bahwa orang luar tidak boleh memasuki dan tinggal di puncak dimana kami bertiga tinggal,” katanya.

“Suhumu?” mata pemuda muka putih itu berseri-seri, “Biarkan aku memohon padanya, biarlah kalau beliau marah, aku yang bertanggung jawab dan sedia dihukum.”

Setelah didesak-desak dengan alasan bahwa kalau dipaksa turun tentu akan mati terbunuh oleh pahlawan-pahlawan Kaisar, akhirnya Sin Wan dengan apa boleh buat mengabulkan permintaan Gak Bin Tong dan membawa pemuda itu kepada Suhunya. Bu Beng Lojin sedang duduk seorang diri di atas sebuah batu ketika Sin Wan menghadap diikuti oleh Gak Bin Tong di belakangnya. Giok Ciu tidak tampak di situ. Sin Wan berlutut di depan Suhunya dan Gak Bin Tong dengan hormat sekali juga berlutut.

“Suhu!” Sin Wan memanggil karena kakek tua itu diam saja seolah-olah tidak melihat mereka.

Mendengar panggilan muridnya, ia menggerakkan kepala memandang dengan matanya yang tua. “Eh, Sin Wan, kau datang dengan siapakah?” Gak Bin Tong buru-buru mengangguk-angguk kepala lalu berkata,

“Mohon beribu ampun, Lo-Cianpwe, teecu Gak Bin Tong datang menghadap. Karena di kejar-kejar dan hendak di bunuh oleh pengawal Kaisar, maka teecu lari ke sini dan mohon perlindungan Lo-Cianpwe yang mulia.”

Bu Beng Lojin mengerutkan alisnya lalu berkata dengan suara yang berpengaruh, “Coba kau angkat mukamu!”

Gak Bin Tong tak dapat membantah, lalu angkat mukanya dan memandang kepada kakek tua yang aneh itu. Bu Beng Lojin ketika melihat wajah Gak Bin Tong tiba-tiba entah mengapa, menjadi berubah mukanya dan ia mengangguk-angguk dan menghela napas, panjang berulang-ulang. Mendengar ini, sin Wan memandang gurunya dan kagetlah ia karena gurunya tampak seakan-akan bersedih sekali.

“Sin Wan, kaukah yang membawanya masuk ke tempat kita?”

“Benar, Suhu, karena tak dapat teecu biarkan saja dia terancam maut kalau turun gunung.”

“Lo-Cianpwe, mohon jangan persalahkan saudara Sin Wan, sebenarnya teecu lah yang mendesaknya dan...”

“Sudahlah, sudahlah... kau, orang she Gak, kau pergilah ke rimba itu, aku ingin bicara berdua dengan Sin Wan.”

Gak Bin Tong dengan takut-takut mengundurkan diri dan pergi ke rimba yang berada tak jauh dari situ, lalu duduk dibawah sebatang pohon besar sambil termenung memikirkan nasibnya...

Kisah Sepasang Naga Jilid 15

KISAH SEPASANG NAGA JILID 15

Melihat kawannya dipermainkan, Kwi Kai Hoatsu juga lalu menggerakkan tongkat dan kebutan hudtimnya untuk menyerang, hingga sebentar saja orang gila itu dikeroyok oleh kedua Tosu yang bersenjata dan lihai itu. Tapi kesudahannya sungguh-sungguh membuat Sin Wan dan Giok Ciu diam-diam dan tak terasa saling berpegangan tangan dan menahan napas!

Dengan tangan kosong, orang gila itu melayani kedua Tosu itu dan saban-saban ada kesempatan, ia menggunakan kedua telapak tangannya yang kotor dan bau itu untuk diusapkan di muka kedua lawannya, hingga setelah kena diusap beberapa kali, muka Kwi Kai Hoatsu dan Kang Keng Tosu menjadi kotor dan hitam!

Tentu saja perbuatan si gila ini tampak lucu sekali dan merupakan hal yang sangat menghina kedua tokoh itu. Ah, kalau saja ada kawan-kawan mereka melihat hal ini, alangkah akan malunya. Dipermainkan sedemikian rupa oleh seorang gila yang bertangan kosong, sedangkan mereka mengeroyok berdua!

Sebaliknya Sin Wan dan Giok Ciu merasa kagum karena tak mereka sangka di dunia ini banyak sekali orang-orang pandai. Mereka taksir bahwa kepandaian orang yang seperti gila itu setidak-tidaknya setingkat dengan kepandaian guru mereka, Bu Beng Sianjin! Maka timbul harapan di dalam hati mereka, karena agaknya orang gila itu membantu mereka untuk merampas kembali kedua pokiam mereka.

Sementara itu, karena makin lama makin sering tangan si gila itu mengusap muka mereka, Kwi Kai Hoatsu dan Keng Kong Tosu merasa geli dan ngeri. Kalau saja si gila ini bermaksud jahat, tentu sudah tadi-tadi mereka menjadi mayat. Maka mereka lalu meloncat pergi dengan maksud kabur. Tapi alangkah terkejut mereka ketika tahu-tahu si gila telah menghadang di depan pula!

“Sebenarnya kau mau apakah?” teriak Kwi Kai Hoatsu dengan gemas sekali.

“Pedang mereka... pedang mereka... kembalikan!” kata si gila sambil melanjutkan gerakan-gerakan silatnya yang luar biasa anehnya dan yang selama hidupnya belum pernah dilihat oleh kedua Tosu itu.

“Kau mau pedang ini? Nah, terimalah!”

Kwi Kai Hoatsu lalu sambitkan Pek Liong Pokiam ke arah si gila itu yang disambut dengan mudahnya oleh orang gembel itu. Juga Keng Kong Tosu lalu sambitkan Ouw Liong Pokiam ke arah lawannya. Kini si gila itu menggunakan Pek Liong Pokiam untuk menerima luncuran Ouw Liong Pokiam.

Ketika pedang hitam itu meluncur dan hendak menancap di dadanya, ia menggunakan pedang putih untuk menempel pedang hitam hingga kedua pedang menempel lalu diputar sedemikian rupa dengan cepat sekali hingga pedang hitam terputar-putar di sekeliling pedang putih dengan ujung saling tempel!

“Bukankah itu gerakan Naga Sakti Putar Ekor yang diajarkan oleh Suhu?” Tiba-tiba Giok Ciu berbisik sambil menekan tangan Sin Wan.

“Memang betul, agaknya orang itupun kenal ilmu silat kita. Mari kita hampiri dia.”

Si Gila itu masih memutar-mutar pedang itu ketika Sin Wan dan Giok Ciu tiba di situ dan kedua anak muda itu tanpa ragu-ragu lagi lalu menjatuhkan diri berlutut di depan orang itu. Si gila sambil memutar-mutar pedang melihat ke arah depan di mana Kwi Kai Hoatsu dan Keng Kong Tosu berlari-lari cepat meninggalkan orang yang aneh dan membuat mereka jerih dan ketakutan itu, karena selama hidup belum pernah mereka bertemu dengan orang yang seaneh dan sehebat itu kepandaiannya. Mereka merasa beruntung tidak terbunuh olehnya.

“Mereka itu kutu-kutu busuk!” si gila berkata berulang-ulang. Kemudian ia melihat kedua anak muda yang berlutut di depannya, maka iapun berlutut dan melihat-lihat tanah di depan Sin Wan dan Giok Ciu. “Eh, eh, kalian sedang mencari apakah? Apa sedang mengintai jangkrik?”

Maka iapun lalu mencari-cari dan menyingkap-nyingkap rumput di situ! Sin Wan dan Giok Ciu saling melirik.

“Lo-Cianpwe, teecu berdua menghaturkan banyak-banyak terima kasih atas pertolongan Lo-Cianpwe kepada kami,” kata Sin Wan dengan suara menghormat.

Orang aneh itu bangun berdiri dan sekali sentak dengan sebelah tangannya, tubuh Sin Wan terangkat naik hingga anak muda itu terpaksa berdiri.

“Kau berdirilah, tak enak bicara sambil berlutut!” katanya kepada Giok Ciu yang segera berdiri.

Mereka berdua berdiri dengan sikap hormat sekali.

“Siapakah yang tolong siapa? Mereka merampas pedangmu dan aku ambilkan itu dari mereka untukmu!”

“Lo-Cianpwe sudilah kiranya memberitahukan teecu berdua nama yang mulia dari Lo-Cianpwe agar teecu berdua tak mudah melupakan budi Lo-Cianpwe ini.”

“Bicaramu sulit dimengerti,” kata si gila setelah memeras otak memikir-mikir untuk memahami kata-kata Sin Wan.

“Namaku ya aku, dan nama kalian siapa akupun tak perlu tahu. Nah, ini terima pedangmu!”

Dengan tak acuh ia angsurkan kedua pedang itu yang disambut oleh Sin Wan dan Giok Ciu dengan girang sekali dan membungkukkan tubuh.

“Pedang ini baik sekali, sayang kalau terjatuh di tangan mereka. Lain kali jangan sampai kena dirampas orang pula!” Tiba-tiba saja suara si gila ini terdengar terang dan waras.

“Mohon petunjuk dari Lo-Cianpwe, karena teecu berdua memang masih dangkal pengetahuan,” kata Sin Wan.

Orang tinggi besar itu tertawa lalu tiba-tiba ia berjungkir balik, kedua tangannya di bawah dan kedua kaki di atas! Dalam keadaan begini, agaknya orang itu meraa lebih enak, lalu tertawa ha-ha hi-hi dan berkata,

“Petunjuk apakah? Kalau kalian bisa meniru kepandaianku ini, tak mungkin dua imam itu mampu merampas pedangmu!”

Hampir saja Giok Ciu tertawa geli, karena apakah susahnya untuk berdiri dengan kaki di atas seperti itu? Jangankan dengan kedua tangan, biar dengan sebelah tanganpun ia sanggup melakukannya dengan mudah sekali. Tapi Sin Wan segera berkata,

“Lo-Cianpwe, kenalkah Lo-Cianpwe kepada Suhu kami? Suhu disebut Bu Beng Sianjin! Kenalkah Lo-Cianpwe padanya?”

Sepasang mata yang berada di bawah itu berputar-putar cepat, tanda bahwa otaknya yang telah hampir beku itu dikerjakan keras. “Bu Beng...? Bu beng...? Ah, aku kenal... aku kenal...!” Tiba-tiba ia berseru keras sekali.

“Heh...!” dan tahu-tahu tubuhnya yang tadi berdiri terbalik itu membal ke atas tinggi sekali! Di atas masih terdengar suaranya. “Bu... Beng…?” Dan sekali lagi di atas ia berseru “Heh...!”

Tahu-tahu tubuh yang masih berada di atas itu mencelat jauh dan lenyap dari pandangan mata kedua anak muda itu. Sin Wan dan Giok Ciu bengong Mereka terkejut, heran, dan kagum sekali melihat kehebatan orang gila itu! Sin Wan menghela napas dan berkata,

“Ah, sungguh di dunia ini banyak orang-orang berilmu tinggi, hingga jika dibandingkan, kita ini bukan apa-apa.”

“Tadi ketika ia berdiri jungkir balik, ia bilang bahwa kalau kita bisa menirunya, maka kedua Tosu itu takkan mungkin dapat merampas pedang kita. Apakah maksudnya, koko? Apakah artinya kepandaian jungkir balik macam itu?”

“Aku juga sedang memikirkan itu, moi-moi. Memang kelihatannya itu bukan kepandaian yang berarti, tapi kau ingatkah ketika ia meloncat ke atas tadi? Ia mempergunakan bentakan dalam dada dan tahu-tahu tubuhnya telah mumbul ke atas tinggi sekali, bahkan di ataspun ia dapat gunakan tenaga mujijat itu untuk melesat pergi jauh sekali! Kurasa ia melatih lweekang dan ginkang yang tinggi dengan cara bersamadhi sambil berdiri jungkir balik!”

Giok Ciu mengangguk-angguk. “Mungkin juga, bukankah Suhu juga sering bersamadhi dengan cara yang aneh-aneh?” Maka teringatlah Sin Wan.

“Agaknya orang aneh tadi kenal kepada Suhu, tapi mungkin juga tidak, karena sikapnya sungguh-sungguh aneh hingga aku hampir percaya bahwa ia benar-benar gila! Giok Ciu, kita harus akui bahwa kepandaian kita masih dangkal sekali. Baru menghadapi dua orang saudara Cin Cin Hoatsu saja kita hampir mengalami bencana, apalagi kalau harus menghadapi Cin Cin Hoatsu yang lihai. Memang sebenarnya pelajaran kita belum tamat dan dahulu kita terpaksa berpisah dari Suhu. Kurasa lebih sempurna lagi kalau kita sekarang kembali dulu dan mohon kepada Suhu untuk memberi pelajaran selanjutnya kepada kita sampai tamat. Setelah itu, barulah kita berdua pergi mencari Cin Cin Hoatsu. Bagaimana pendapatmu, moi-moi?”

Sebenarnya, gadis itu ingin lekas-lekas mencari musuh besarnya dan membalas dendam, tapi setelah dipikir-pikir bahwa kata-kata Sin Wan betul, pula mengingat betapa baru saja mereka gagal melawan Kwi Kai Hoatsu dan Keng Kong Tosu ia lalu menyetujui ajakan Sin Wan. Maka mereka lalu kembali dan menuju ke Kam-Hong-San untuk mencari Suhu mereka dan minta pimpinan lebih jauh.

Ketika mereka tiba di kaki bukit Kam-Hong-San, Sin Wan tidak lupa untuk mampir di kampungnya. Penduduk kampung dengan gembira ria menyambut pemuda pemudi itu dan memaksa mereka bermalam di situ. Sin Wan didesak untuk menceritakan pengalamannya dan ketika mendengar bahwa pembunuh-pembunuh Kang Lam Ciuhiap dan Ibu Sin Wan telah dapat terbalas dan dibinasakan, mereka bersorak-sorak girang dan merasa puas sekali, karena ini berarti bukan hanya pembalasan sakit hati kedua orang itu, tapi juga pembalasan sakit hati para orang-orang yang dulu dengan gagah menolong Kang Lam Ciuhiap tapi juga terbunuh oleh para kaki tangan Kaisar itu.

Pada keesokan harinya Sin Wan dan Giok Ciu menengok makam Kang Lam Ciuhiap dan Ibu Sin Wan, dimana pemuda itu bersembahyang dengan hati terharu. Ia merasa berterima Kasih kepada orang-orang kampung yang ternyata merawat makam itu dengan baik-baik hingga rumputnya terbabat rapih dan tampaknya bersih. Kemudia mereka berdua mendaki bukit Kam-Hong-San untuk mencari Suhu mereka. Di sepanjang jalan, pemandangan-pemandangan di gunung yang telah mereka kenal baik itu membuat mereka terharu dan membongkar kenangan-kenangan lama. Ketika mereka tiba di sumur naga tempat pertapaan Suhu mereka, dari jauh mereka sudah melihat Bu Beng Sianjin duduk di pinggir sumur seorang diri! Alangkah girang hati mereka dan cepat-cepat mereka berlari lalu menjatuhkan diri berlutut sambil menyebut,

“Suhu...!”

“Kalian sudah kembali? Berhasilkah usahamu?” kakek yang kurus kering dengan rambut putih panjang terurai ke belakang itu bertanya halus.

Sin Wan dan Giok Ciu lalu menuturkan pengalaman mereka bergantian, betapa mereka telah berhasil membunuh Suma-Cianbu dan Siauw-San Ngo-Sinto, tapi betapa mereka hampir celaka di tangan Kwi Kai Hoatsu dan Keng Kong Tosu kalau saja tidak ditolong oleh seorang aneh yang adatnya seperti orang gila. Bu Beng Sianjin mendengarkan dengan penuh perhatian dan ketika mendengar tentang orang-orang aneh itu, ia tertarik sekali.

“Coba ceritakan, bagaimana rupa orang itu?” Sin Wan lalu melukiskan keadaan orang gila yang sakti itu sedapat mungkin.

Kakek itu mengangguk-angguk. “Hem, hm, tinggi sekali dan besar, rambut hitam, mukanya hitam, matanya bundar dan besar? Ya, ya, tak salah lagi, dialah itu…”

“Siapakah orang itu, Suhu? Ketika teecu menanyakan namanya, ia hanya menjawab bahwa dia adalah dia, sama sekali tidak menyebut nama, entah lupa entah memang tidak punya nama. Ketika teecu menyebut nama Suhu, ia kelihatan seperti orang mengingat-ingat dan lalu pergi.”

“Muridku, dia tidak mau dikenal untuk apa pusing-pusing dan memaksa-maksa? Dia adalah seorang gagah perkasa yang beradat keras dan jujur, tapi malang sekali ia menerima ilmu silat dari mahluk-mahluk halus, ia berguru kepada iblis sendiri, maka ilmu silatnya demikian lihai, tapi untuk kepandaian itu ia harus mengorbankan jiwanya karena ia menjadi gila! Maka muridku, sekarang tidak boleh terlalu mengandalkan kepandaian lahir untuk berlaku sewenang-wenang atau menyombong. Ketahuilah bahwa segala kepandaian itu hanya milik pinjaman saja dan akan lenyap dan musnah bersama raga kita. Maka selagi masih hidup harus dapat mempergunakan segala macam kepandaian yang dimiliki untuk mengerjakan sesuatu yang berguna bagi orang-orang lain, melakukan perbuatan-perbuatan baik demi perikemanusian dan dengan demikian maka takkan percumalah orang mengejar ilmu. Kalau mengejar ilmu dengan susah payah untuk kemudian dipergunakan hanya untuk kepentingan diri sendiri saja, untuk menyenangkan diri sendiri tanpa memikirkan kesulitan dan kesengsaraan orang lain, maka kau berarti lebih gila daripada orang yang sebenar-benarnya gila! Mengertikah kalian?”

Sin Wan dan Giok Ciu mengangguk-angguk menyatakan bahwa mereka mengerti akan petuah ini.

“Kalian tadi mengatakan bahwa kalian dikalahkan oleh dua orang Tosu yang memiliki hoatsut? Apakah sebenarnya hoatsut? Bukan kepandaian yang mengherankan, karena sebenarnya orang yang menggunakan ilmu sihir bukanlah karena mereka memang mempunyai tenaga yang berlebihan, tapi mereka justeru menggunakan kelemahan lawan untuk menjatuhkannya. Ketahuilah bahwa alam ini digerakkan oleh kesatuan tenaga maha hebat dan di dalam tiap tubuh manusia terdapat sebagian daripada kesatuan tenaga dan dengan tenaga inilah maka segala hal mungkin dilakukan oleh manusia. Galilah dan carilah tenaga ini, maka kalian akan kuat menghadapi segala macam hoatsut dari orang-orang jahat!”

Demikianlah, semenjak saat itu Sin Wan dan Giok Ciu mendapat gemblengan ilmu batin yang hebat dari Suhu mereka dan mendapat latihan lweekang yang lebih tinggi. Juga di bawah pimpinan orang tua yang aneh itu mereka menyempurnakan latihan mereka dalam hal ilmu pedang Pek-Liong Kiam-Sut dan Ouw-Liong Kiam-Sut. Tapi berbeda dengan dulu, kini mereka berlatih di udara terbuka, karena Bu Beng Lojin bersamadhi diluar sumur dan berkata untuk berlatih lweekang yang tinggi dan berlatih napas, maka lebih baik bagi kedua orang murid itu untuk bersamadhi di udara terbuka.

********************

Cersil karya Kho Ping Hoo Serial Jago Pedang Tak Bernama

Setahun telah berlalu dengan cepat sekali semenjak Sin Wan dan Giok Ciu kembali ke Kam-Hong-San untuk mempertinggi ilmu silat mereka. Di dalam waktu setahun itu, mereka mendapat kemajuan pesat sekali. Hubungan mereka tetap mesra dan saling cinta, walaupun kini mereka dasarkan cinta mereka lebih mendalam, tanpa dikotori napsu.

Namun, betapapun mereka telah menerima gemblengan ilmu batin, jiwa muda mereka selalu dipanaskan oleh darah muda hingga mereka tetap bersemangat dan penuh hasrat hidup yang bernyala-nyala. Suhu mereka juga tahu akan eratnya hubungan kedua muridnya dan kakek yang aneh ini sering kali diam-diam menghela napas seakan-akan menderita sesuatu yang menyedihkan. Ia pernah panggil menghadap kedua muridnya dan berkata dengan perlahan dan tenang, tapi cukup mengejutkan hati kedua anak muda itu.

“Sin Wan dan Giok Ciu! Aku telah maklum sedalam-dalamnya apa yang terkandung dalam hatimu berdua, memang demikianlah seharusnya perasaan dua orang yang sudah terikat jodoh. Hanya pesanku, murid-muridku, jika kalian telah berhasil membalas sakit hati orang tuamu, maka sebelum kalian menjadi suami isteri, kalian harus membawa kembali kedua pokiam itu dan menyimpannya kembali ke dalam gua naga di dalam sumur. Karena kedua pokiam itu sudah cukup membersihkan karat mereka dengan darah orang-orang jahat, dan adalah menjadi pantangan besar bagi kedua pedang pusaka itu untuk dimiliki oleh sepasang suami isteri!”

Tentu saja Sin Wan dan Giok Ciu saling pandang dengan muka berubah karena hati mereka terguncang, tapi mereka tak berani membantah, hanya berlutut dan menyanggupi kehendak Suhu mereka. Bu Beng Lojin menghela napas lagi dan berkata,

“Sin Wan dan Giok Ciu, hal jodoh adalah kehendak Tuhan, asal saja kalian selalu ingat bahwa sepasang suami isteri sama sekali tidak boleh memiliki kedua pedang itu!”

Pada suatu pagi, Sin Wan dan Giok Ciu berjalan-jalan di lereng-lereng bukit Kam-Hong-San. Mereka menikmati tamasya alam yang indah dan yang membuat mereka teringat akan peristiwa-peristiwa dulu. Bagi mereka, tempat ini merupakan tempat takkan dapat dilupa seumur hidup, karena disinilah mereka pertama kali bertemu.

“Koko, kurasa sekarang sudah tiba waktunya bagi kita untuk berpamit kepada Suhu dan pergi mencari musuh besarku,” kata Giok Ciu.

“Kurasakan begitu, moi-moi. Baiklah kita tanyakan saja kepada Suhu, karena Suhu sakti dan waspada.”

Tiba-tiba Giok Ciu menunding ke bawah bukit dan berseru, “Koko, lihat!”

Dari bawah lereng tampak bayangan orang berlari-lari cepat sekali ke atas bukit, dan ternyata ilmu lari cepat orang itu boleh juga, hingga sebentar saja ia telah datang dekat dengan kedua anak muda itu.

“Gak Bin Tong!”

Giok Ciu berseru heran. Juga Sin Wan heran melihat datangnya pemuda muka putih yang berlari-lari ke atas dengan wajah ketakutan itu.

“Aduh, kebetulan sekali, tolonglah aku, saudara Bun! Kwie Lihiap, tolonglah aku!”

“Ada apakah, saudara Gak?” Sin Wan bertanya dengan heran, tapi jawaban pertanyaannya itu terdengar olehnya ketika dari bawah muncul bayangan banyak orang yang berlari-lari cepat sekali mengejar ke atas.

“Siapakah mereka yang mengejarmu?” tanya Sin Wan.

“Siapa lagi kalau bukan anjing-anjing istana!” jawab Gak Bin Tong. “Mereka hendak membunuhku. Tolonglah, saudara Sin Wan yang baik!”

Setelah berkata demikian, orang she Gak itu lalu melarikan diri di belakang Sin Wan dan Giok Ciu, agaknya ia takut sekali. Giok Ciu yang masih merasa marah karena sikap Gak Bin Tong yang dulu telah mengacaukan perhubungannya dengan Sin Wan, berkata kurang senang.

“Bukankah kau seorang gagah yang memiliki kepandaian tinggi? Mengapa harus berlari-lari terhadap mereka? Mengapa tak kau lawan dengan pedangmu?” kata-kata ini jelas sekali menyatakan bahwa ia enggan untuk membantu, tapi Gak Bin Tong berkata dengan suara memohon.

“Kwie Lihiap, mereka lihai sekali, bukan lawanku!” Giok Ciu memandang Sin Wan dan berkata perlahan.

“Koko, kurasa tak baik kita ikut campur urusan ini. Bukan urusan kita dan tidak ada sangkut pautnya dengan kita.”

“Bukan demikian, moi-moi. Biarpun andaikata kita tidak membantu saudara Gak, sudah sepatutnya kita halau pergi pahlawan-pahlawan Kaisar itu. Mereka bukanlah manusia-manusia baik dan perlu diusir. Pula, saudara Gak pernah melepas budi kepada kita, masakan sekarang kita tidak mau menolongnya? Jangankan dia sendiri, bahkan siapa saja yang dikejar-kejar pengawal kraton dan hendak dibunuhnya, harus kita tolong bukan?”

Alasan-alasan yang dimajukan Sin Wan ini kuat sekali hingga Giok Ciu tak dapat membantah lagi sementara itu, pengejar-pengejar Gak Bin Tong telah tiba di situ dan ternyata mereka terdiri dari tujuh orang pahlawan-pahlawan kelas satu. Di antara mereka terdapat orang-orang yang pernah mengeroyok sin Wan dan Giok Ciu, maka begitu melihat kedua orang muda itu, mereka berteriak.

“Betul saja, binatang she Gak itu telah bersekutu dengan orang pemberontak ini. Hayo tangkap ketiga-tiganya!”

Mereka itu menjadi tabah karena di antara mereka terdapat jagoan-jagoan yang berilmu tinggi, maka segera mereka mengurung dan menyerbu dengan senjata di tangan. Gak Bin Tong menangkis serangan seorang pengawal dengan pedangnya dan Sin Wan bersama Giok Ciu memutar sepasang pokiam mereka melayani pengeroyok yang lain. Sin Wan dan Giok Ciu pada saat itu bukanlah Sin Wan dan Giok Ciu pada waktu setahun yang lalu. Kepandaian mereka telah maju pesat dan didorong oleh tenaga batin dan lweekang mereka yang tinggi, otomatis ilmu pedang mereka juga maju hebat.

Dulu ketika ilmu pedang mereka belum matang saja sudah sukar sekali dilawan, maka kini setelah kepandaian mereka matang dan mendekati kesempurnaan, tak dapat ditaksir kelihaiannya. Para pengeroyok itu hanya melihat sinar panjang hitam dan putih berputar-putar mengelilingi mereka dan mendengar sambaran pedang itu tapi hampir tak dapat mengikuti gerakan kedua anak muda yang menyambar-nyambar bagaikan sepasang naga sakti.

Baru beberapa gebrakan saja terdengar jeritan-jeritan mengaduh dari para pengeroyok yang kena pukul atau tendang. Masih untung bagi mereka bahwa Sin Wan dan Giok Ciu tidak mau menewaskan jiwa orang, maka mereka hanya kena pukulan yang biarpun cukup hebat hingga membuat mereka tak berdaya, namun tak sampai membahayakan keselamatan jiwa mereka. Setelah masing-masing menjatuhkan dua orang, Sin Wan membentak,

“Hayo pergilah kalian kalau sayang jiwa!”

Para pengeroyok yang belum terluka mendengar bentakan ini segera menarik kembali senjata mereka dan sambil membantu kawan-kawan yang terluka, mereka meninggalkan lereng itu dengan jalan terpincang-pincang, Gak Bin Tong menjura kepada dua orang anak muda itu,

“Terima Kasih banyak atas pertolongan jiwi. Kalau tidak tertolong oleh kalian, tentu Gak Bin Tong hari ini tinggal namanya saja. Sungguh merasa kagum sekali melihat kehebatan kalian, baru beberapa bulan saja berpisah. Sungguh membuat aku takluk dan tunduk”

Sambil tiada habisnya memuji-muji, pemuda muka putih itu menjura dengan hormatnya. Terpaksa Sin Wan balas menjura, sedangkan Giok Ciu memalingkan muka tak mengacuhkannya.

“Sudahlah, saudara Gak. Sebetulnya, mengapakah kau dikejar-kejar oleh mereka itu?” tanya Sin Wan.

Gak Bin Tong menghela napas panjang sebelum menjawab. “Kau tahu sendiri, saudara Sin Wan, bahwa biarpun aku tinggal di kota raja dan menjadi keluarga pembesar, namun aku berbeda dengan mereka. Aku bukanlah seorang pengawal, dan aku tidak mencampuri urusan mereka. Karena itulah maka mereka itu diam-diam membenciku. Kemudian datanglah hari celaka bagiku, ketika ada seorang membuka rahasiaku dan mengatakan bahwa dulu aku pernah menolong kalian!”

Terkejutlah Sin Wan mendengar ini. “Heran sekali, siapa yang dapat mengetahui hal itu?”

“Siapa lagi kalau bukan... Suma Siocia!”

Mendengar nama ini disebut-sebut sepasang mata Giok Ciu memancarkan sinar ketika ia memandang kepada pemuda muka putih itu.

“Jangan kau sebut-sebut nama orang itu disini!” bentaknya dengan tiba-tiba dan marah hingga tidak hanya Gak Bin Tong, tapi juga Sin Wan juga merasa terkejut dan heran. Tapi gadis itu tanpa perdulikan mereka, lalu memutar tubuhnya dan pergi dari situ.

“Saudara Gak, sekarang keadaan sudah aman dan kau boleh pergi tanpa kuatir lagi,” kata Sin Wan yang sebenarnya bermaksud mengusir dengan halus, karena sesungguhnya, iapun tidak suka kepada pemuda ini. Gak Bin Tong memandangnya dengan wajah kaget.

“Pergi? Kemana, saudara Bun? Lindungilah aku dan tolonglah untuk dua atau tiga hari lagi. Aku tahu bahwa mereka itu masih penasaran dan mereka tidak mengejarku hanya karena ada kau dan Kwie Lihiap di sini. Mereka tentu menanti di kaki bukit dan kalau melihat aku turun seorang diri, celakalah aku!”

“Habis, apa yang kau kehendaki, saudara Gak?”

“Ijinkanlah aku tinggal di tempatmu barang tiga hari. Biarlah, aku akan tidur di atas tanah saja, asal dekat dengan engkau hingga anjing-anjing itu takkan dapat menggangguku.”

Sin Wan ragu-ragu. “Tapi Suhu telah pesan bahwa orang luar tidak boleh memasuki dan tinggal di puncak dimana kami bertiga tinggal,” katanya.

“Suhumu?” mata pemuda muka putih itu berseri-seri, “Biarkan aku memohon padanya, biarlah kalau beliau marah, aku yang bertanggung jawab dan sedia dihukum.”

Setelah didesak-desak dengan alasan bahwa kalau dipaksa turun tentu akan mati terbunuh oleh pahlawan-pahlawan Kaisar, akhirnya Sin Wan dengan apa boleh buat mengabulkan permintaan Gak Bin Tong dan membawa pemuda itu kepada Suhunya. Bu Beng Lojin sedang duduk seorang diri di atas sebuah batu ketika Sin Wan menghadap diikuti oleh Gak Bin Tong di belakangnya. Giok Ciu tidak tampak di situ. Sin Wan berlutut di depan Suhunya dan Gak Bin Tong dengan hormat sekali juga berlutut.

“Suhu!” Sin Wan memanggil karena kakek tua itu diam saja seolah-olah tidak melihat mereka.

Mendengar panggilan muridnya, ia menggerakkan kepala memandang dengan matanya yang tua. “Eh, Sin Wan, kau datang dengan siapakah?” Gak Bin Tong buru-buru mengangguk-angguk kepala lalu berkata,

“Mohon beribu ampun, Lo-Cianpwe, teecu Gak Bin Tong datang menghadap. Karena di kejar-kejar dan hendak di bunuh oleh pengawal Kaisar, maka teecu lari ke sini dan mohon perlindungan Lo-Cianpwe yang mulia.”

Bu Beng Lojin mengerutkan alisnya lalu berkata dengan suara yang berpengaruh, “Coba kau angkat mukamu!”

Gak Bin Tong tak dapat membantah, lalu angkat mukanya dan memandang kepada kakek tua yang aneh itu. Bu Beng Lojin ketika melihat wajah Gak Bin Tong tiba-tiba entah mengapa, menjadi berubah mukanya dan ia mengangguk-angguk dan menghela napas, panjang berulang-ulang. Mendengar ini, sin Wan memandang gurunya dan kagetlah ia karena gurunya tampak seakan-akan bersedih sekali.

“Sin Wan, kaukah yang membawanya masuk ke tempat kita?”

“Benar, Suhu, karena tak dapat teecu biarkan saja dia terancam maut kalau turun gunung.”

“Lo-Cianpwe, mohon jangan persalahkan saudara Sin Wan, sebenarnya teecu lah yang mendesaknya dan...”

“Sudahlah, sudahlah... kau, orang she Gak, kau pergilah ke rimba itu, aku ingin bicara berdua dengan Sin Wan.”

Gak Bin Tong dengan takut-takut mengundurkan diri dan pergi ke rimba yang berada tak jauh dari situ, lalu duduk dibawah sebatang pohon besar sambil termenung memikirkan nasibnya...