Social Items

KISAH SEPASANG NAGA JILID 14

Pada suatu hari mereka melepaskan lelah di dalam sebuah hutan yang lebat dan penuh dengan pohon-pohon besar dan bunga-bunga indah. Mereka duduk di dekat serumpun tanaman bunga yang sedang mekar kembangnya dan menyebar bau harum menyedapkan.

“Giok Ciu, ketika kita bertempur membinasakan Siauw-San Ngo-Sinto dulu, ternyata bahwa ilmu pedangmu sangat hebat dan maju sekali,” Sin Wan menyatakan pendapatnya memuji.

Tapi Giok Ciu memandangnya tak puas, “Aah, dikata majupun susah, engko Sin Wan. Buktinya masih belum melebihi kemajuanmu, kau berhasil pula membunuh dua orang musuh dan yang seorang terakhir mati di tangan kedua pokiam kita!”

Sin Wan memandang gadis itu dengan heran, “Itu bukan berarti bahwa kau masih kalah olehku, moi-moi. Kita seri, sama-sama kuat hingga seorang berhasil menewaskan dua setengah orang musuh!”

Mendengar kelakar Sin Wan ini, Giok Ciu tersenyum.

“Giok Ciu,” kata Sin Wan pula dengan suara halus sambal memandang wajah gadis yang manis itu, “Kalau kita dapat bertemu dengan Cin Cin Hoatsu, pasti kau dan aku akan dapat membunuhnya.”

Giok Ciu menghela napas. “Mudah-mudahan kita akan lekas bertemu dengan bangsat tua itu, kalau aku belum membunuh mati orang tua itu, selamanya hatiku dan pikiranku takkan tenteram dan tenang.”

“Jangan kau kuatir, moi-moi, bukankah ada aku yang selalu akan berada disampingmu dan membelamu?” kata Sin Wan mengulurkan tangan dan memegang tangan gadis itu.

Giok Ciu diam saja dan tidak menarik tangannya karena tempat yang indah itu dengan hawanya yang nyaman rupanya juga mempengaruhi hatinya, maka ia hanya memandang saja wajah Sin Wan yang tampan dan terkasih itu dengan lirikan mesra. Keduanya diam tak bergerak hanya merasakan nikmat dan bahagia ayunan asmara melalui denyutan tangan mereka yang saling berpegang dan melalui pandang mata mereka yang menyampaikan seribu satu kalimat bisu yang mesra! Akhirnya terdengar elahan napas perlahan Sin Wan,

“Giok Ciu, setelah kita berhasil membalas sakit hati dan menewaskan Cin Cin Hoatsu, kita… kita akan kemanakah?”

Untuk beberapa saat Giok Ciu tak dapat menjawab, hanya menekan tangan Sin Wan dengan erat dan penuh arti. “Aku… aku hanya menurut saja padamu, Koko."

Sin Wan menjadi girang sekali dan menarik tubuh Giok Ciu hingga kepala gadis dengan rambutnya yang harum itu bersandar di dada Sin Wan yang bidang. “Benarkah? Kalau begitu, setelah kita berhasil, kau… Kita… akan… kawin?”

Merahlah wajah Giok Ciu, tapi ia hanya meramkan mata dan berbisik, “Terserahlah, Koko, bukankah aku memang calon jodohmu…?”

Giok Ciu yang bersandar di dada Sin Wan tiba-tiba merasa sesuatu mengganjal kepalanya. Segera ia mengangkat kepalanya yang bersandar dan memandang Sin Wan karena teringat sesuatu,

“Koko, apakah… Sepatuku dulu itu masih tergantung di lehermu?”

Sin Wan tersenyum malu dan ia mengeluarkan sepatu kecil itu. “Tentu saja!” jawab Sin Wan pasti.

“Koko, kau simpan baik-baik sepatu itu dan belum pernah terpisah dari tubuhmu. Kalau… Kalau kita sudah suami isteri, apakah kau juga masih akan menyimpan terus sepatu itu?”

“Tentu saja!” jawab Si Wan pasti. “Untuk… untuk dipakai oleh kaki kecil kelak!”

Gok Ciu masih belum mengerti. “Kaki kecil? Kaki siapa, Koko?” di dalam suaranya terdengar cemburu.

Sin Wan tertawa besar. “Kaki siapa lagi? Kaki anak kita, tentu!”

“Ah, kau ceriwis!” kata Giok Ciu sambil mencubit lengan pemuda itu, tapi Sin Wan hanya tertawa saja.

“Dan sulingku itu kau kemanakan, moi-moi?”

Giok Ciu mencabut suling itu dari ikat pinggang. “Apakah hanya kau yang bisa berlaku setia?” katanya.

Sin Wan mengambil suling itu dan segera mainkan dengan tiupannya yang merayu. Tapi kali ini ia meniup lagu gembira yang menyatakan betapa bahagia rasa hatinya saat itu, sedangkan Giok Ciu lalu menyandarkan kepalanya di dada itu lagi, karena dalam bersandar ini ia merasa seakan-akan dirinya aman sentosa dan mendapat sandaran yang teguh kuat hingga mengamankan hatinya. Memang ia menganggap pemuda itu sebagai tiang sandaran hidup yang selamanya akan melindunginya!

Pada saat kedua anak muda itu dimabuk anggur asmara, tiba-tiba terdengar suara tertawa menghina di belakang mereka! Karena asyik mendengar suling yang ditiup oleh Sin Wan, maka keduanya sampai tidak mendengar bahwa di belakang mereka berdiri dua orang Kakek!

Sin Wan dan Giok Ciu mencelat bangun dengan muka merah karena malu. Tapi setelah melihat siapa adanya kedua orang yang menertawakan mereka itu, terkejutlah mereka, berbareng merasa marah sekali. Ternyata bahwa yang datang adalah Kwi Kai Hoatsu dan Keng Kong Tosu, dua pertapa lihai yang pernah bertempur dengan mereka!

Diam-diam kedua anak muda itu terkejut juga melihat betapa dua orang saudara dari Cin Cin Hoatsu berdiri di depan mereka dengan sikap mengancam. Untuk Keng Kong Tosu mereka tak perlu takut, walaupun Tosu itupun memiliki kepandaian yang tidak boleh dipandang ringan, tapi karena disitu terdapat Kwi Kai Hoatsu yang telah mereka ketahui memiliki kepandaian jauh lebih tinggi daripada Keng Kong Tosu. Maka kali ini mereka berdua benar-benar merupakan lawan yang jauh lebih berat daripada Siauw-San Ngo-Sinto!

Ternyata bahwa ketika dikalahkan oleh Sin Wan, Keng Kong Tosu lalu ke kota raja dan menemui Kwi Kai Hoatsu. Tapi kebetulan sekai, mereka bertemu di jalan, karena Kwi Kai Hoatsu juga sedang menuju ke Siauw-San untuk membela kelima Tosu ini dari pembalasan musuh-musuhnya yang ia dapat menduga pasti akan mengunjungi Siauw-San pula.

Kwi Kai Hoatsu terkejut sekali ketika mendengar bahwa ia terlambat dan bahwa kedua anak muda yang lihat itu telah datang ke Siauw-San bahkan telah mengalahkan Keng Kong Tosu. Ia segera mengajak Keng Kong Tosu cepat-cepat ke Siauw-San, tapi disitu ia hanya menemui makam kelima golok sakti itu yang ternyata telah terbunuh oleh Sin Wan dan Giok Ciu!

Marahlah Kwi Kai Hoatsu dan ia melakukan pengejaran dengan Keng Kong Tosu. Karena kepandaian mereka memang tinggi, pula mereka tiada hentinya melakukan pengejaran, mereka dapat menyusul kedua anak muda itu. Kedua pertapa itu merasa sakit hati sekali karena telah dikalahkan hingga mendapat malu oleh sepasang anak muda itu, maka alangkah girang hati mereka dapat menyusul Sin Wan dan Giok Ciu. Mereka yakin bahwa dengan maju berdua, pasti sakit hati itu dapat terbalas. Pula mereka telah mendengar bahwa kedua anak muda itu adalah musuh-musuh suheng mereka, ialah Cin Cin Hoatsu!

Sebenarnya, ketiga pertapa ini bukanlah saudara seperguruan, tapi ketiganya telah merupakan persekutuan pemimpin paderi Lama di Tibet, yakni sekumpulan paderi yang memberontak dan mengingkari hak kekuasaan pemerintah Lama pusat di Tibet. Karena sikap memberontak ini, maka terjadi pertempuran dan perebutan kekuasaan di Tibet dan ternyata dalam pertempuran hebat itu, Cin Cin Hoatsu, Kwi Kai Hoatsu dan Keng Kong Tosu dapat dikalahkan dan diusir dari Tibet dan lari ke Tiong-Gwan.

Dalam hal tingkat ilmu silat dan ilmu sihir, Cin Cin Hoatsu dan Kwi Kai Hoatsu menduduki tingkat ketiga, hingga dapat diduga betapa tinggi kepandaian mereka. Tingkat kepandaian Cin Cin Hoatsu dan Kwi Kai Hoatsu hampir sama, hanya mereka memiliki ke istimewaan masing-masing. Memang senjata Kwi Kai Hoatsu berupa kebutan dan tongkat ular itu lebih menyeramkan dan lebih berbahaya, karena kedua senjata itu dapat menyemburkan senjata-senjata rahasia yang tak terduga datangnya dan lihai sekali.

Tapi dalam hal kepandaian lweekang, agaknya Cin Cin Hoatsu lebih lihai, sedangkan dalam pertempuran, selalu Cin Cin Hoatsu menggunakan ujung lengan baju yang tidak kalah berbahayanya dengan senjata tajam yang bagaimanapun juga. Keng Kong Tosu sebenarnya adalah seorang murid dari Cin-San-Pai yang sesat jalan dan sudah lama mengekor saja kepada kedua pendeta berilmu tinggi itu, bahkan mempelajari ilmu hitam dan ilmu sihir dari mereka.

Keng Kong Tosu mempunyai semacam penyakit, yakni ia tidak boleh melihat wanita cantik. Maka, sekali bertemu dan melihat Giok Ciu yang cantik jelita, timbullah niat jahat didalam batinnya yang kotor. Kini, setelah melihat betapa mesra hubungan antara gadis itu dengan Sin Wan, cemburulah hatinya.

“Bangsat kecil tak tahu malu!” ia memaki hudtimnya lalu menyerang Giok Ciu!

Ia terlalu cerdik untuk menyerang Sin Wan yang pernah merobohkannya, maka ia hendak menyerahkan pemuda yang lihai itu kepada suhengnya saja, sedangkan ia sendiri ingin menghadapi Giok Ciu yang jelita! Tidak disangka sedikitpun olehnya, ketika Giok Ciu berseru nyaring dan mencabut Ouw Liong Pokiam dan menangkisnya, ternyata pedang pendeknya terpental karena tenaga lweekang gadis itupun luar biasa sekali!

Ia lalu berlaku hati-hati dan melempar semua pikiran-pikiran yang nyeleweng untuk dapat memusatkan perhatian dan kepandaian gadis yang ternyata merupakan lawan yang tangguh ini. Sementara itu, dengan senyum menyindir Kwi Kai Hoatsu berkata kepada Sin Wan.

“Kau hendak mencari dan membunuh Cin Cin Hoatsu? Ha, jangan kau mimpi terlalu jauh, anak muda. Untuk menghadapi kami saja tak mungkin kau menang, apalagi jika ada saudaraku itu disini! Bersiaplah kau menerima pembalasanku terhadap hinaanmu yang melukai kulit pundakku dulu!” Sambil berkata demikian, pendeta itu lalu mencabut keluar kebutan hudtim dan tongkat ularnya yang lihai telah siap di tangan!

Sin Wan tahu benar bahwa lawan ini adalah sangat tangguh dan kepandaiannya masih lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri, maka ia tidak mau didahului, lalu berkelebat dan menyerang hebat dengan Pek Liong Pokiam!

“Bagus!” Kwi Kai Hoatsu berseru menyindir dan iapun menggerakkan tongkatnya di tangan kanan yang diputarnya sedemikian rupa hingga merupakan sinar bundar yang hitam warnanya dan mengeluarkan hawa dingin dan bau amis. Ular yang telah kering dan menjadi tongkat itu kini seolah-olah hidup lagi dalam tangan pendeta itu hingga Sin Wan harus berlaku hati-hati sekali dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya dan Pek Liong Kiam-Sut untuk melayaninya.

Memang dalam hal lweekang, Sin Wan masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Kwi Kai Hoatsu yang telah berpengalaman dan telah memiliki tenaga batin yang kuat, biarpun tenaga itu berasal dari ilmu hitam. Baiknya ilmu Pedang Naga Putih yang dimainkan oleh pemuda itu adalah semacam ilmu yang jarang bandingannya di permukaan bumi, hingga ia masih dapat melayani pendeta lihai itu dengan ulet.

Sebaliknya permainan Ouw Liong Kiam-Sut dari Giok Ciu juga telah membuat Keng Kong Tosu repot sekali dan hanya dapat menangkis saja. Tosu ini dalam sibuknya lalu memusatkan tenaga batinnya dan mulutnya berkemak-kemik membaca mantera, kemudian ia mengeluarkan suara siulan keras sekali hingga Giok Ciu merasa jantungnya berdebar dan merasa ada hawa yang dingin menyerangnya dari depan.

Dalam pandangan matanya, tiba-tiba Tosu itu telah berubah menjadi pucat sekali bagaikan seorang mayat hidup yang mengerikan hingga ia menjadi terkejut sekali. Baiknya ia masih dapat teringat bahwa Tosu ini pandai ilmu siluman dan tentu ini adalah sebuah dari pada ilmu hitamnya itu, maka cepat sekali gadis itu lalu mengumpulkan lweekangnya dan meloncat keatas sambil mementang kedua tangannya dan mengeluarkan siulan-siulan tinggi dan nyaring sekali.

Inilah Sin-Tiauw Kiam-Hwat Ilmu Pedang Rajawali Sakti, kepandaian tunggal dari Ayahnya yang telah dipelajari baik-baik. Memang ilmu ini gerakan-gerakannya mengandung tenaga lweekang tinggi dan gerakan-gerakan tangannya mempunyai pengaruh untuk memunahkan segala cengkeraman ilmu sihir dan ilmu hitam.

Biarpun dalam hal ilmu lweekang, gadis itu masih kalah sedikit jika dibandingkan dengan Keng Kong Tosu, namun berkat ilmu pedangnya yang luar biasa dan keteguhan hatinya yang membaja, ia tak usah menyerah kalah terhadap seorang pendeta ilmu hitam semacam Keng Kong Tosu saja!

Keng Kong Tosu terkejut sekali karena setelah berkali-kali gadis itu menyerang dari atas dengan gerakan-gerakan aneh dibarengi siulan-siulan nyaring, maka buyarlah semua tenaga yang dipusatkan, bahkan ia lalu terhuyung-huyung kebelakang. Dengan gemas ia lalu mengebutkan lengan bajunya dan dari situ mengebul keluar asap tebal warna hijau!

Giok Ciu dapat menduga bahwa itu tentu semacam racun yang berbahaya sekali. Maka cepat ia meloncat mundur menjauhinya, lalu menggunakan ginkangnya meloncat tinggi sekali di atas asap itu dan menyerang lawannya dari atas! Gerakannya bagaikan seekor naga sakti terjun dari awan dan terdengarlah teriakan ngeri karena ujung Ouw Liong Pokiam berhasil melukai pundak Keng Kong Tosu!

Baiknya Tosu ini mempunyai ilmu kebal, yakni yang disebut 'Kim-Ciong-Ko' hingga pedang yang seharusnya membinasakannya itu, hanya melukai pundaknya saja. Tapi ini cukup membuat ia gugup dan jerih sekali. Sedangkan Kwi Kai Hoatsu mendengar teriakan ini lalu menengok. Marahlah ia setelah melihat bahwa kawannya telah terluka. Ia sendiri, biarpun dengan tongkat ular dan kebutan hudtimnya dapat melayani Sin Wan dengan baik, namun ternyata bahwa pemuda itu benar-benar tangkas dan gagah perkasa.

Sin Wan telah mainkan Pek Liong Pokiam sedemikian sempurnanya, hingga sinar putih dari pedangnya merupakan gelombang ombak yang kuat dan besar sekali dan menahan segala serangan kedua senjata lawannya. Namun lawan ini terlalu tangguh hingga ia tidak dapat balas menyerang, biarpun sebaliknya Kwi Kai Hoatsu sendiripun tidak berdaya untuk melukai lawannya yang masih muda itu!

Cersil karya Kho Ping Hoo Serial Jago Pedang Tak Bernama

Kini marahlah Kwi Hoatsu. Kalau tadi ia masih merasa malu untuk mengeluarkan ilmu hitamnya, kini terpaksa ia gunakan. Diam-diam ia menyimpan kebutannya dan kini tangan kirinya telah memegang segulung tali sutera hitam yang dibuat dari semacam ular. Sin Wan tidak mengerti apa maksud lawannya itu dan senjata apakah yang dipegangnya, maka berlaku sangat hati-hati. Pada saat itu, Kwi Kai Hoatsu membentak,

“Awas jarum!”

Dulu pernah Sin Wan menghadapi serangan jarum pendeta ini dan maklum betapa bahayanya serangan itu, maka ia berlaku waspada. Dari mulut tongkat ular itu menyembur benda warna hitam dan tahu-tahu benda itu terpecah menjadi puluhan jarum-jarum kecil sekali yang menyambar ke seluruh tubuhnya dari mata sampai ke kaki! Karena menyambarnya jarum ini cepat sekali, maka sukar untuk dikelit, juga kalau ditangkis dengan pedang, mungkin tidak semuanya akan tertangkis. Terpaksa Sin Wan lalu jengkangkan tubuh ke belakang dan setelah tubuhnya menyentuh tanah, ia bergulingan pergi cepat sekali!

Maka selamatlah ia, karena jarum-jarum kecil berwarna hitam yang menyambarnya tadi semua adalah jarum berbisa yang luar biasa berbahayanya. Tapi pada saat itu ia menjadi terkejut sekali. Ternyata setelah melihat Sin Wan bergulingan dan untuk sementara waktu tidak berdaya, Kwi Kai Hoatsu lalu meloncat ke arah Giok Ciu yang masih mendesak Keng Kong Tosu dan sambil mengeluarkan bentakan keras, Kwi Kai Hoatsu menggerakkan tangan kirinya. Sinar hitam panjang menyambar bagaikan ular hidup dan tahu-tahu sutera hitam panjang yang lemas itu telah membelit pedang dan tangan Giok Ciu!

Gadis itu terkejut sekali karena benda yang halus lemas itu datangnya tidak mengeluarkan suara apa-apa dan tahu-tahu pedangnya telah dibelit, sedangkan tangannya yang terbelit benda hitam itu merasa kesemutan dan tak berdaya. Juga dari sutera hitam itu keluarlah bau wangi sekali yang menusuk hidungnya dan membuat kepalanya terasa pening hingga ia tidak dapat menguasai tenaga lweekangnya lagi untuk mempertahankan ketika sabuk sutera itu disendal. Pedangnya Ouw Liong Pokiam kena terampas dan kini terpegang oleh Kwi Kai Hoatsu yang tertawa bergelak-gelak!

Sin Wan terkejut dan marah sekali. Sambil berseru nyaring ia meloncat menerjang Kwi Kai Hoatsu, tapi pada saat itu Keng Kong Tosu berseru sambil mengeluarkan asap hijaunya ke arah Sin Wan, sedangkan Kwi Kai Hoatsu meloncat ke samping dan kembali menggerakkan tangan kirinya dan pedang Sin Wan seperti halnya pedang Giok Ciu tadi, kini kena terampas pula! Sin Wan terpaksa melepaskan Pek Liong Pokiam, karena ia tahu akan hebatnya racun asap hijau yang mengancamnya, maka ia meloncat pergi sambil melepaskan pedangnya.

“Ha ha ha! Kalian seperti harimau-harimau muda kehilangan kuku dan gigi! Mau ke mana lagi?”

Kwi Kai Hoatsu mengejek dan mengirim serangan dengan tongkatnya. Juga Keng Kong Tosu segera menyerang Giok Ciu yang kini bertangan kosong! Memang tadi kedua anak muda itu dapat melawan dengan baik dan berada di pihak penyerang karena mereka mengandalkan pokiam dan permaian pedang mereka yang hebat. Tapi kini, bertangan kosog saja menghadapi dua lawan yang sedemikian tangguhnya, membuat mereka sibuk sekali dan harus berkelit ke sana kemari!

“Mari kita pergi, moi-moi!” Sin Wan berteriak.

Mereka lalu menggunakan ginkang mereka yang tinggi untuk meloncat jauh dan lari. Tapi mereka menahan kaki mereka karena ternyata kedua pendeta itu tidak mengejar, hanya tertawa bergelak-gelak sambil memandang. Sin Wan dan Giok Ciu saling pandang dan kertak gigi karena marah dan gemas, tapi apa yang dapat mereka lakukan? Melawan dengan nekad berarti mengantarkan nyawa sia-sia belaka, sedangkan musuh besar mereka belum juga dapat dibalas!

Dengan hati hancur mereka melihat betapa kedua orang tua itu sambil tertawa-tawa membawa pedang mereka meninggalkan tempat itu. Memang Kwi Kai Hoatsu maklum akan kelihaian ginkang kedua anak muda itu hingga kalau ia memaksa mengejar, takkan berhasil dan berarti mencapaikan diri dengan sia-sia.

Melihat betapa pedangnya dibawa pergi, tiba-tiba Giok Ciu menangis sambil menutup mukanya dengan tangan. Ia menangis karena gemas dan penasaran sekali dan karena tidak berdaya. Tapi tiba-tiba Sin Wan memegang tangannya dan berbisik,

“Moi-moi, kau lihat disana itu!”

Giok Ciu mengangkat muka dan memandang dan iapun terbelalak heran dan mereka lalu tak merasa pula gerakkan kaki dan perlahan-lahan menghampiri kedua musuh mereka. Sebenarnya apakah yang telah terjadi? Ketika kedua pertapa itu sambil tertawa-tawa membawa pedang rampasan meninggalkan tempat itu dan belum jauh pergi dengan heran mereka tiba-tiba melihat seorang pengemis tua yang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam sedang tidur melintang di tengah jalan di depan mereka.

Pengemis itu sudah tua dan hampir telanjang, karena pakaiannya compang-camping, rambutnya panjang, hingga dengan mukanya yang hitam itu ia tampak bagaikan setan berkeliaran! Mukanya kurus penuh keriput menandakan usia tua, tapi rambutnya yang panjang itu masih hitam mulus. Ia tiduran di jalan kecil itu hingga sama sekali menghalangi jalan yang hendak dilewati kedua pertapa. Melihat si jembel itu, Keng Kong Tosu membentak,

“Hei, pengemis tua! Pergilah jangan menghalangi jalan kami.”

Mendengar bentakan ini, pengemis jembel itu memalingkan mukanya yang tadi sebagian tertutup tangan dan lengannya, dan terkejutlah Keng Kong Tosu melihat wajah itu, karena benar-benar menyerupai setan! Matanya lebar memandangnya dan sepasang mata itu berputar-putar aneh mengerikan, sedangkan mulutnya yang berbibir merah sekali itu menyeringai menakutkan. Ini bukanlah wajah seorang biasa yang sehat! Kwi Kai Tosu dapat menduga bahwa jembel tua yang tinggi besar itu tentu berotak miring, karena sinar mata orang waras tidak demikian! Maka ia mencegah Keng Kong Tosu mengganggu orang itu lebih jauh.

“Kita lompati saja dia!” katanya. Tapi kata-katanya ini bahkan membuat orang gila itu menjadi marah, walaupun ia sama sekali tidak bergerak untuk bangun, hanya tubuhnya yang tadinya miring kini menjadi telentang memandang ke langit dengan matanya yang merah jelalatan. Bibirnya masih tetap menyeringai, tapi sama sekali ia tidak melihat kepada dua Tosu itu. Kini tangan kanannya mengambil batu-batu kecil dan ia bawa batu-batu itu di depan matanya, dipandangi sambil tertawa ha-ha hi-hi, lalu batu-batu itu diciuminya!

Kwi Kai Hoatsu tertawa geli dan berkata, “Kau tidak mau pergi, baiklah, kami pergi!” Ia lalu menggerakkan tubuh hendak meloncati gembel gila itu.

Tapi tiba-tiba si jembel menggerakkan kakinya yang panjang dan ia melonjorkan kedua kakinya ke udara sambil tertawa ha-ha hi-hi! Gerakan ini seperti tidak disengaja, tapi kebetulan sekali ujung kakinya bergerak sedemikian rupa merupakan tendangan-tendangan maut ke arah perut dan dada Kwi Kai Hoatsu yang sedang meloncat, hingga pendeta itu terkejut sekali lalu meloncat kembali ke tempat semula!

Ia hendak marah, tapi melihat betapa si jembel itu mempermainkan kedua kakinya ke atas bagaikan laku seorang kanak-kanak sambil tertawa, ia mengurungkan marahnya karena tahu bahwa orang gila itu tidak sengaja menggunakan kaki untuk menghalang-halanginya ketika meloncat tadi. Setelah memandang kepada Keng Kong Tosu sambil tersenyum untuk menghilangkan kekesalan hatinya, Kwi Kai Hoatsu kembali meloncat, kini tinggi sekali agar jangan sampai melanggar kedua kaki orang gila itu.

Tapi tiba-tiba orang gila itu berseru girang, “Ada burung besar! Ada burung besar!” Suaranya serak dan besar sekali, sedangkan tangannya lalu melempar batu-batu kecl itu ke atas!

Kwi Kai Hoatsu yang sedang melayang diatas terkejut sekali karena batu-batu kecil itu menyambar ke arah jalan-jalan darah di kedua kaki dan kedua pundaknya! Cepat sekali ia poksai berjumpalitan untuk menghindarkan batu-batu itu dan kembali meloncat turun di sebelah Keng Kong Tosu. Kini wajahnya berubah merah dan ia marah sekali karena tahu bahwa orang gila itu sengaja mempermainkannya.

“Bangsat gila, bangun kau!” Bentaknya, tapi orang gila itu tidak mengindahkannya dan tertawa ha-ha hi-hi sambil bergulingan di atas tanah.

“Coba lihat, kau mau bangun tidak!” kata Kwi Kai Hoatsu sambil menggunakan ujung kaki mengorek-ngorek tanah hingga debu tebal mengepul ke arah muka dan tubuh, orang gila itu tetap tidak mau bangun dan membiarkan muka dan tubuhnya berleporan debu tebal dan kotor.

Tiba-tiba kedua mata yang merah dari si jembel itu memandang ke arah sepasang pedang Pek Liong Pokiam dan Ouw Liong Pokiam yang dipegang oleh kedua Tosu itu, dan matanya memancarkan sinar yang ganjil dan terkejut. Sejak melihat kedua pedang itu, ia tidak mau melepaskan pandangan matanya dari kedua pedang itu lagi. Kemudian ia bangun berdiri dan tubuhnya benar-benar tinggi besar hingga kedua Tosu itu hanya sampai dibawah lehernya. Urat-urat di tubuhnya melingkar-lingkar bagaikan belut dan rambutnya yang panjang terurai ke depan dan belakang. Sungguh ia mengerikan sekali.

“Kau manusia kurang ajar! Siapakah kau yang berani mengganggu kami?” Kwi Kai Hoatsu menahan napsu marahnya dan bertanya, karena ia kuatir kalau-kalau orang ini adalah tokoh kang-ouw yang ternama dan tidak ia kenal.

Si gila itu tertawa bekakakan. “Aku siapa! Siapa aku... Coba kau katakan aku siapa? Aku sendiri sering bertanya-tanya siapakah aku ini! Aku adalah aku dan habis perkara. Kau sudah tahu bahwa aku ini aku, mengapa pakai bertanya-tanya lagi?” Dan ia lalu tertawa ha-ha hi-hi tak karuan.

Kwi Kai Hoatsu dan Keng Kong Tosu kini percaya betul bahwa mereka sedang menghadapi orang gila. “Kau pergilah dan jangan mengganggu kami. Ketahuilah, aku adalah Kwi Kai Hoatsu dan tidak boleh dibuat permainan. Kau pergilah!”

Suara Kwi Kai Hoatsu berpengaruh sekali ketika ia memerintah ini. Aneh sekali, tiba-tiba sikap si gila itu menjadi penurut. Ia menundukkan kepala sebagai seorang kanak-kanak yang ketakutan sekali mendengar perintah ini, lalu keluar jawaban dari mulutnya.

“Aku tidak kenal segala Hoatsu, tapi baiklah aku akan pergi, jangan kau ganggu aku. Tapi… tapi… kedua pedang itu… berikan padaku!”

“Kurang ajar! Pedang ini pedang kami, kau tidak boleh memintanya!”

“Bohong!” tiba-tiba terdengar teriakan Sin Wan yang sementara itu sudah datang mendekat. “Pedang itu pedang kami yang mereka rampas!”

Orang gila itu tertawa keras. “Nah, nah! Kalau begitu harus dikembalikan kepada orang-orang muda ini. Kembalikanlah dulu, nanti aku pergi!” Ia mendesak Kwi Kai Hoatsu yang kini sudah habis sabarnya lagi.

Ia maju dan mengirim pukulan keras ke dada orang gila itu untuk mendorongnya ke pinggir. Pukulan itu mengenai dada si gila dengan tepat sekali, tapi aneh sekali, si otak miring itu tidak roboh, bahkan menyeringai sambil berkata berkali-kali,

“Jangan pukul aku... jangan pukul aku...!” kemudian terdengar pula suara ketawanya yang menggema di hutan itu.

Bukan main terkejutnya Kwi Kai Hoatsu. Dorongannya tadi sedikitnya mengandung tenaga lima ratus kati, tapi si gila itu tidak terpental bahkan sedikitpun tidak memperlihatkan rasa sakit! Juga Keng Kong Tosu dan kedua anak muda yang berdiri di situ menjadi bengong terheran.

“Kau ingin mampus!” teriak Kwi Kai Hoatsu yang segera mengayun hudtimnya menyambar ke arah leher si gila itu.

Ujung hudtim itu menotok ke arah leher dan tepat mengenai jalan darah, tapi lagi-lagi Kwi Kai Hoatsu terkejut sampai pucat mukanya, karena jangankan roboh, berkejap mata juga tidak si gila yang aneh itu. Hanya kali ini ia memandang Kwi Kai Hoatsu dengan mata heran dan berkata,

“Kenapa berkali-kali kau pukul aku?”

Kwi Kai Hoatsu tidak menjawab, tapi dengan gemas sekali lalu pencet tekanan di gagang hudtimnya dan dari tengah bulu hudtim itu melayang keluar tujuh buah jarum kecil yang menyambar ke arah leher dan dada si gila!

Giok Ciu hampir berteriak ngeri karena merasa bahwa kali ini si gila pasti akan mampus! Juga Sin Wan merasa kuatir sekali. Tapi si jembel gila itu tidak menjadi gugup. Ia moncongkan bibirnya yang merah seperti darah itu lalu meniup dan sekalian jarum-jarum kecil yang terkenal kelihaiannya itu runtuh ke bawah semua tak berdaya!

Kini Kwi Kai Hoatsu benar-benar terkejut dan maklum bahwa gila atau tidak, orang tinggi besar di depan ini bukanlah sembarang orang dan memiliki ilmu yang tinggi! Ia lalu berkemak-kemik dan menggunakan ilmu sihirnya, karena tak mungkin orang ini dapat bertahan menghadapi ilmu hoatlek. Setelah tenaganya terkumpul, ia menggerakkan kedua tangan ke depan dan dengan suara yang sangat berpengaruh ia membentak,

“Kau rebahlah!”

Si jembel itu cepat membarengi bentakan Kwi Kai Hoatsu dan berseru lebih keras lagi dengan suaranya yang serak dan besar,

“Mari kita sama-sama rebah!” dan aneh sekali Kwi Kai Hoatsu tak dapat mempertahankan tenaga gaib yang memaksanya untuk menggulingkan diri, hingga lalu rebah di tanah!

Kwi Kai Hoatsu jengkel dan marah mendengar betapa Sin Wan dan Giok Ciu terkekeh melihat pemandangan lucu itu, bahkan Keng Kong Tosu sendiri yang menganggap kawannya sedang main gila, berkata,

“Suheng, apa penyakit otak si gila itu menular padamu?”

Tapi Kwi Kai Hoatsu juga berbareng merasa terkejut dan jerih, karena entah dengan ilmu apa, si gila telah berhasil menampar kembali tenaga gaibnya hingga senjata makan tuan! Melihat Kwi Kai Hoatsu bangun si gila juga ikut bangun sambil tertawa menyeringai.

“Sobat, sebenarnya kau siapakah dan apa maksudmu menggangu kami?” Kwi Kai Hoatsu bertanya.

“Kau sudah tahu, aku ya aku, dan siapa menganggu kalian? Kaulah yang mengganggu mereka, maka pulangkanlah pedang mereka itu!”

“Kau sungguh keterlaluan!” Keng Kong Tosu membentak marah dan ia lalu menggerakkan pedang pendeknya untuk menyerang.

Tapi tiba-tiba ia terkejut sekali karena sekali berkelebat saja si gila itu telah lenyap dari pandangannya dan tahu-tahu suara ketawanya yang ha-ha hi-hi telah terdengar di belakang telinganya! Ia membalikkan tubuh dan menyerang lagi bertubi-tubi, tapi sia-sia, karena gerakan si gila yang tak teratur itu sungguh cepat sekali dan membingungkannya...

Kisah Sepasang Naga Jilid 14

KISAH SEPASANG NAGA JILID 14

Pada suatu hari mereka melepaskan lelah di dalam sebuah hutan yang lebat dan penuh dengan pohon-pohon besar dan bunga-bunga indah. Mereka duduk di dekat serumpun tanaman bunga yang sedang mekar kembangnya dan menyebar bau harum menyedapkan.

“Giok Ciu, ketika kita bertempur membinasakan Siauw-San Ngo-Sinto dulu, ternyata bahwa ilmu pedangmu sangat hebat dan maju sekali,” Sin Wan menyatakan pendapatnya memuji.

Tapi Giok Ciu memandangnya tak puas, “Aah, dikata majupun susah, engko Sin Wan. Buktinya masih belum melebihi kemajuanmu, kau berhasil pula membunuh dua orang musuh dan yang seorang terakhir mati di tangan kedua pokiam kita!”

Sin Wan memandang gadis itu dengan heran, “Itu bukan berarti bahwa kau masih kalah olehku, moi-moi. Kita seri, sama-sama kuat hingga seorang berhasil menewaskan dua setengah orang musuh!”

Mendengar kelakar Sin Wan ini, Giok Ciu tersenyum.

“Giok Ciu,” kata Sin Wan pula dengan suara halus sambal memandang wajah gadis yang manis itu, “Kalau kita dapat bertemu dengan Cin Cin Hoatsu, pasti kau dan aku akan dapat membunuhnya.”

Giok Ciu menghela napas. “Mudah-mudahan kita akan lekas bertemu dengan bangsat tua itu, kalau aku belum membunuh mati orang tua itu, selamanya hatiku dan pikiranku takkan tenteram dan tenang.”

“Jangan kau kuatir, moi-moi, bukankah ada aku yang selalu akan berada disampingmu dan membelamu?” kata Sin Wan mengulurkan tangan dan memegang tangan gadis itu.

Giok Ciu diam saja dan tidak menarik tangannya karena tempat yang indah itu dengan hawanya yang nyaman rupanya juga mempengaruhi hatinya, maka ia hanya memandang saja wajah Sin Wan yang tampan dan terkasih itu dengan lirikan mesra. Keduanya diam tak bergerak hanya merasakan nikmat dan bahagia ayunan asmara melalui denyutan tangan mereka yang saling berpegang dan melalui pandang mata mereka yang menyampaikan seribu satu kalimat bisu yang mesra! Akhirnya terdengar elahan napas perlahan Sin Wan,

“Giok Ciu, setelah kita berhasil membalas sakit hati dan menewaskan Cin Cin Hoatsu, kita… kita akan kemanakah?”

Untuk beberapa saat Giok Ciu tak dapat menjawab, hanya menekan tangan Sin Wan dengan erat dan penuh arti. “Aku… aku hanya menurut saja padamu, Koko."

Sin Wan menjadi girang sekali dan menarik tubuh Giok Ciu hingga kepala gadis dengan rambutnya yang harum itu bersandar di dada Sin Wan yang bidang. “Benarkah? Kalau begitu, setelah kita berhasil, kau… Kita… akan… kawin?”

Merahlah wajah Giok Ciu, tapi ia hanya meramkan mata dan berbisik, “Terserahlah, Koko, bukankah aku memang calon jodohmu…?”

Giok Ciu yang bersandar di dada Sin Wan tiba-tiba merasa sesuatu mengganjal kepalanya. Segera ia mengangkat kepalanya yang bersandar dan memandang Sin Wan karena teringat sesuatu,

“Koko, apakah… Sepatuku dulu itu masih tergantung di lehermu?”

Sin Wan tersenyum malu dan ia mengeluarkan sepatu kecil itu. “Tentu saja!” jawab Sin Wan pasti.

“Koko, kau simpan baik-baik sepatu itu dan belum pernah terpisah dari tubuhmu. Kalau… Kalau kita sudah suami isteri, apakah kau juga masih akan menyimpan terus sepatu itu?”

“Tentu saja!” jawab Si Wan pasti. “Untuk… untuk dipakai oleh kaki kecil kelak!”

Gok Ciu masih belum mengerti. “Kaki kecil? Kaki siapa, Koko?” di dalam suaranya terdengar cemburu.

Sin Wan tertawa besar. “Kaki siapa lagi? Kaki anak kita, tentu!”

“Ah, kau ceriwis!” kata Giok Ciu sambil mencubit lengan pemuda itu, tapi Sin Wan hanya tertawa saja.

“Dan sulingku itu kau kemanakan, moi-moi?”

Giok Ciu mencabut suling itu dari ikat pinggang. “Apakah hanya kau yang bisa berlaku setia?” katanya.

Sin Wan mengambil suling itu dan segera mainkan dengan tiupannya yang merayu. Tapi kali ini ia meniup lagu gembira yang menyatakan betapa bahagia rasa hatinya saat itu, sedangkan Giok Ciu lalu menyandarkan kepalanya di dada itu lagi, karena dalam bersandar ini ia merasa seakan-akan dirinya aman sentosa dan mendapat sandaran yang teguh kuat hingga mengamankan hatinya. Memang ia menganggap pemuda itu sebagai tiang sandaran hidup yang selamanya akan melindunginya!

Pada saat kedua anak muda itu dimabuk anggur asmara, tiba-tiba terdengar suara tertawa menghina di belakang mereka! Karena asyik mendengar suling yang ditiup oleh Sin Wan, maka keduanya sampai tidak mendengar bahwa di belakang mereka berdiri dua orang Kakek!

Sin Wan dan Giok Ciu mencelat bangun dengan muka merah karena malu. Tapi setelah melihat siapa adanya kedua orang yang menertawakan mereka itu, terkejutlah mereka, berbareng merasa marah sekali. Ternyata bahwa yang datang adalah Kwi Kai Hoatsu dan Keng Kong Tosu, dua pertapa lihai yang pernah bertempur dengan mereka!

Diam-diam kedua anak muda itu terkejut juga melihat betapa dua orang saudara dari Cin Cin Hoatsu berdiri di depan mereka dengan sikap mengancam. Untuk Keng Kong Tosu mereka tak perlu takut, walaupun Tosu itupun memiliki kepandaian yang tidak boleh dipandang ringan, tapi karena disitu terdapat Kwi Kai Hoatsu yang telah mereka ketahui memiliki kepandaian jauh lebih tinggi daripada Keng Kong Tosu. Maka kali ini mereka berdua benar-benar merupakan lawan yang jauh lebih berat daripada Siauw-San Ngo-Sinto!

Ternyata bahwa ketika dikalahkan oleh Sin Wan, Keng Kong Tosu lalu ke kota raja dan menemui Kwi Kai Hoatsu. Tapi kebetulan sekai, mereka bertemu di jalan, karena Kwi Kai Hoatsu juga sedang menuju ke Siauw-San untuk membela kelima Tosu ini dari pembalasan musuh-musuhnya yang ia dapat menduga pasti akan mengunjungi Siauw-San pula.

Kwi Kai Hoatsu terkejut sekali ketika mendengar bahwa ia terlambat dan bahwa kedua anak muda yang lihat itu telah datang ke Siauw-San bahkan telah mengalahkan Keng Kong Tosu. Ia segera mengajak Keng Kong Tosu cepat-cepat ke Siauw-San, tapi disitu ia hanya menemui makam kelima golok sakti itu yang ternyata telah terbunuh oleh Sin Wan dan Giok Ciu!

Marahlah Kwi Kai Hoatsu dan ia melakukan pengejaran dengan Keng Kong Tosu. Karena kepandaian mereka memang tinggi, pula mereka tiada hentinya melakukan pengejaran, mereka dapat menyusul kedua anak muda itu. Kedua pertapa itu merasa sakit hati sekali karena telah dikalahkan hingga mendapat malu oleh sepasang anak muda itu, maka alangkah girang hati mereka dapat menyusul Sin Wan dan Giok Ciu. Mereka yakin bahwa dengan maju berdua, pasti sakit hati itu dapat terbalas. Pula mereka telah mendengar bahwa kedua anak muda itu adalah musuh-musuh suheng mereka, ialah Cin Cin Hoatsu!

Sebenarnya, ketiga pertapa ini bukanlah saudara seperguruan, tapi ketiganya telah merupakan persekutuan pemimpin paderi Lama di Tibet, yakni sekumpulan paderi yang memberontak dan mengingkari hak kekuasaan pemerintah Lama pusat di Tibet. Karena sikap memberontak ini, maka terjadi pertempuran dan perebutan kekuasaan di Tibet dan ternyata dalam pertempuran hebat itu, Cin Cin Hoatsu, Kwi Kai Hoatsu dan Keng Kong Tosu dapat dikalahkan dan diusir dari Tibet dan lari ke Tiong-Gwan.

Dalam hal tingkat ilmu silat dan ilmu sihir, Cin Cin Hoatsu dan Kwi Kai Hoatsu menduduki tingkat ketiga, hingga dapat diduga betapa tinggi kepandaian mereka. Tingkat kepandaian Cin Cin Hoatsu dan Kwi Kai Hoatsu hampir sama, hanya mereka memiliki ke istimewaan masing-masing. Memang senjata Kwi Kai Hoatsu berupa kebutan dan tongkat ular itu lebih menyeramkan dan lebih berbahaya, karena kedua senjata itu dapat menyemburkan senjata-senjata rahasia yang tak terduga datangnya dan lihai sekali.

Tapi dalam hal kepandaian lweekang, agaknya Cin Cin Hoatsu lebih lihai, sedangkan dalam pertempuran, selalu Cin Cin Hoatsu menggunakan ujung lengan baju yang tidak kalah berbahayanya dengan senjata tajam yang bagaimanapun juga. Keng Kong Tosu sebenarnya adalah seorang murid dari Cin-San-Pai yang sesat jalan dan sudah lama mengekor saja kepada kedua pendeta berilmu tinggi itu, bahkan mempelajari ilmu hitam dan ilmu sihir dari mereka.

Keng Kong Tosu mempunyai semacam penyakit, yakni ia tidak boleh melihat wanita cantik. Maka, sekali bertemu dan melihat Giok Ciu yang cantik jelita, timbullah niat jahat didalam batinnya yang kotor. Kini, setelah melihat betapa mesra hubungan antara gadis itu dengan Sin Wan, cemburulah hatinya.

“Bangsat kecil tak tahu malu!” ia memaki hudtimnya lalu menyerang Giok Ciu!

Ia terlalu cerdik untuk menyerang Sin Wan yang pernah merobohkannya, maka ia hendak menyerahkan pemuda yang lihai itu kepada suhengnya saja, sedangkan ia sendiri ingin menghadapi Giok Ciu yang jelita! Tidak disangka sedikitpun olehnya, ketika Giok Ciu berseru nyaring dan mencabut Ouw Liong Pokiam dan menangkisnya, ternyata pedang pendeknya terpental karena tenaga lweekang gadis itupun luar biasa sekali!

Ia lalu berlaku hati-hati dan melempar semua pikiran-pikiran yang nyeleweng untuk dapat memusatkan perhatian dan kepandaian gadis yang ternyata merupakan lawan yang tangguh ini. Sementara itu, dengan senyum menyindir Kwi Kai Hoatsu berkata kepada Sin Wan.

“Kau hendak mencari dan membunuh Cin Cin Hoatsu? Ha, jangan kau mimpi terlalu jauh, anak muda. Untuk menghadapi kami saja tak mungkin kau menang, apalagi jika ada saudaraku itu disini! Bersiaplah kau menerima pembalasanku terhadap hinaanmu yang melukai kulit pundakku dulu!” Sambil berkata demikian, pendeta itu lalu mencabut keluar kebutan hudtim dan tongkat ularnya yang lihai telah siap di tangan!

Sin Wan tahu benar bahwa lawan ini adalah sangat tangguh dan kepandaiannya masih lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri, maka ia tidak mau didahului, lalu berkelebat dan menyerang hebat dengan Pek Liong Pokiam!

“Bagus!” Kwi Kai Hoatsu berseru menyindir dan iapun menggerakkan tongkatnya di tangan kanan yang diputarnya sedemikian rupa hingga merupakan sinar bundar yang hitam warnanya dan mengeluarkan hawa dingin dan bau amis. Ular yang telah kering dan menjadi tongkat itu kini seolah-olah hidup lagi dalam tangan pendeta itu hingga Sin Wan harus berlaku hati-hati sekali dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya dan Pek Liong Kiam-Sut untuk melayaninya.

Memang dalam hal lweekang, Sin Wan masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Kwi Kai Hoatsu yang telah berpengalaman dan telah memiliki tenaga batin yang kuat, biarpun tenaga itu berasal dari ilmu hitam. Baiknya ilmu Pedang Naga Putih yang dimainkan oleh pemuda itu adalah semacam ilmu yang jarang bandingannya di permukaan bumi, hingga ia masih dapat melayani pendeta lihai itu dengan ulet.

Sebaliknya permainan Ouw Liong Kiam-Sut dari Giok Ciu juga telah membuat Keng Kong Tosu repot sekali dan hanya dapat menangkis saja. Tosu ini dalam sibuknya lalu memusatkan tenaga batinnya dan mulutnya berkemak-kemik membaca mantera, kemudian ia mengeluarkan suara siulan keras sekali hingga Giok Ciu merasa jantungnya berdebar dan merasa ada hawa yang dingin menyerangnya dari depan.

Dalam pandangan matanya, tiba-tiba Tosu itu telah berubah menjadi pucat sekali bagaikan seorang mayat hidup yang mengerikan hingga ia menjadi terkejut sekali. Baiknya ia masih dapat teringat bahwa Tosu ini pandai ilmu siluman dan tentu ini adalah sebuah dari pada ilmu hitamnya itu, maka cepat sekali gadis itu lalu mengumpulkan lweekangnya dan meloncat keatas sambil mementang kedua tangannya dan mengeluarkan siulan-siulan tinggi dan nyaring sekali.

Inilah Sin-Tiauw Kiam-Hwat Ilmu Pedang Rajawali Sakti, kepandaian tunggal dari Ayahnya yang telah dipelajari baik-baik. Memang ilmu ini gerakan-gerakannya mengandung tenaga lweekang tinggi dan gerakan-gerakan tangannya mempunyai pengaruh untuk memunahkan segala cengkeraman ilmu sihir dan ilmu hitam.

Biarpun dalam hal ilmu lweekang, gadis itu masih kalah sedikit jika dibandingkan dengan Keng Kong Tosu, namun berkat ilmu pedangnya yang luar biasa dan keteguhan hatinya yang membaja, ia tak usah menyerah kalah terhadap seorang pendeta ilmu hitam semacam Keng Kong Tosu saja!

Keng Kong Tosu terkejut sekali karena setelah berkali-kali gadis itu menyerang dari atas dengan gerakan-gerakan aneh dibarengi siulan-siulan nyaring, maka buyarlah semua tenaga yang dipusatkan, bahkan ia lalu terhuyung-huyung kebelakang. Dengan gemas ia lalu mengebutkan lengan bajunya dan dari situ mengebul keluar asap tebal warna hijau!

Giok Ciu dapat menduga bahwa itu tentu semacam racun yang berbahaya sekali. Maka cepat ia meloncat mundur menjauhinya, lalu menggunakan ginkangnya meloncat tinggi sekali di atas asap itu dan menyerang lawannya dari atas! Gerakannya bagaikan seekor naga sakti terjun dari awan dan terdengarlah teriakan ngeri karena ujung Ouw Liong Pokiam berhasil melukai pundak Keng Kong Tosu!

Baiknya Tosu ini mempunyai ilmu kebal, yakni yang disebut 'Kim-Ciong-Ko' hingga pedang yang seharusnya membinasakannya itu, hanya melukai pundaknya saja. Tapi ini cukup membuat ia gugup dan jerih sekali. Sedangkan Kwi Kai Hoatsu mendengar teriakan ini lalu menengok. Marahlah ia setelah melihat bahwa kawannya telah terluka. Ia sendiri, biarpun dengan tongkat ular dan kebutan hudtimnya dapat melayani Sin Wan dengan baik, namun ternyata bahwa pemuda itu benar-benar tangkas dan gagah perkasa.

Sin Wan telah mainkan Pek Liong Pokiam sedemikian sempurnanya, hingga sinar putih dari pedangnya merupakan gelombang ombak yang kuat dan besar sekali dan menahan segala serangan kedua senjata lawannya. Namun lawan ini terlalu tangguh hingga ia tidak dapat balas menyerang, biarpun sebaliknya Kwi Kai Hoatsu sendiripun tidak berdaya untuk melukai lawannya yang masih muda itu!

Cersil karya Kho Ping Hoo Serial Jago Pedang Tak Bernama

Kini marahlah Kwi Hoatsu. Kalau tadi ia masih merasa malu untuk mengeluarkan ilmu hitamnya, kini terpaksa ia gunakan. Diam-diam ia menyimpan kebutannya dan kini tangan kirinya telah memegang segulung tali sutera hitam yang dibuat dari semacam ular. Sin Wan tidak mengerti apa maksud lawannya itu dan senjata apakah yang dipegangnya, maka berlaku sangat hati-hati. Pada saat itu, Kwi Kai Hoatsu membentak,

“Awas jarum!”

Dulu pernah Sin Wan menghadapi serangan jarum pendeta ini dan maklum betapa bahayanya serangan itu, maka ia berlaku waspada. Dari mulut tongkat ular itu menyembur benda warna hitam dan tahu-tahu benda itu terpecah menjadi puluhan jarum-jarum kecil sekali yang menyambar ke seluruh tubuhnya dari mata sampai ke kaki! Karena menyambarnya jarum ini cepat sekali, maka sukar untuk dikelit, juga kalau ditangkis dengan pedang, mungkin tidak semuanya akan tertangkis. Terpaksa Sin Wan lalu jengkangkan tubuh ke belakang dan setelah tubuhnya menyentuh tanah, ia bergulingan pergi cepat sekali!

Maka selamatlah ia, karena jarum-jarum kecil berwarna hitam yang menyambarnya tadi semua adalah jarum berbisa yang luar biasa berbahayanya. Tapi pada saat itu ia menjadi terkejut sekali. Ternyata setelah melihat Sin Wan bergulingan dan untuk sementara waktu tidak berdaya, Kwi Kai Hoatsu lalu meloncat ke arah Giok Ciu yang masih mendesak Keng Kong Tosu dan sambil mengeluarkan bentakan keras, Kwi Kai Hoatsu menggerakkan tangan kirinya. Sinar hitam panjang menyambar bagaikan ular hidup dan tahu-tahu sutera hitam panjang yang lemas itu telah membelit pedang dan tangan Giok Ciu!

Gadis itu terkejut sekali karena benda yang halus lemas itu datangnya tidak mengeluarkan suara apa-apa dan tahu-tahu pedangnya telah dibelit, sedangkan tangannya yang terbelit benda hitam itu merasa kesemutan dan tak berdaya. Juga dari sutera hitam itu keluarlah bau wangi sekali yang menusuk hidungnya dan membuat kepalanya terasa pening hingga ia tidak dapat menguasai tenaga lweekangnya lagi untuk mempertahankan ketika sabuk sutera itu disendal. Pedangnya Ouw Liong Pokiam kena terampas dan kini terpegang oleh Kwi Kai Hoatsu yang tertawa bergelak-gelak!

Sin Wan terkejut dan marah sekali. Sambil berseru nyaring ia meloncat menerjang Kwi Kai Hoatsu, tapi pada saat itu Keng Kong Tosu berseru sambil mengeluarkan asap hijaunya ke arah Sin Wan, sedangkan Kwi Kai Hoatsu meloncat ke samping dan kembali menggerakkan tangan kirinya dan pedang Sin Wan seperti halnya pedang Giok Ciu tadi, kini kena terampas pula! Sin Wan terpaksa melepaskan Pek Liong Pokiam, karena ia tahu akan hebatnya racun asap hijau yang mengancamnya, maka ia meloncat pergi sambil melepaskan pedangnya.

“Ha ha ha! Kalian seperti harimau-harimau muda kehilangan kuku dan gigi! Mau ke mana lagi?”

Kwi Kai Hoatsu mengejek dan mengirim serangan dengan tongkatnya. Juga Keng Kong Tosu segera menyerang Giok Ciu yang kini bertangan kosong! Memang tadi kedua anak muda itu dapat melawan dengan baik dan berada di pihak penyerang karena mereka mengandalkan pokiam dan permaian pedang mereka yang hebat. Tapi kini, bertangan kosog saja menghadapi dua lawan yang sedemikian tangguhnya, membuat mereka sibuk sekali dan harus berkelit ke sana kemari!

“Mari kita pergi, moi-moi!” Sin Wan berteriak.

Mereka lalu menggunakan ginkang mereka yang tinggi untuk meloncat jauh dan lari. Tapi mereka menahan kaki mereka karena ternyata kedua pendeta itu tidak mengejar, hanya tertawa bergelak-gelak sambil memandang. Sin Wan dan Giok Ciu saling pandang dan kertak gigi karena marah dan gemas, tapi apa yang dapat mereka lakukan? Melawan dengan nekad berarti mengantarkan nyawa sia-sia belaka, sedangkan musuh besar mereka belum juga dapat dibalas!

Dengan hati hancur mereka melihat betapa kedua orang tua itu sambil tertawa-tawa membawa pedang mereka meninggalkan tempat itu. Memang Kwi Kai Hoatsu maklum akan kelihaian ginkang kedua anak muda itu hingga kalau ia memaksa mengejar, takkan berhasil dan berarti mencapaikan diri dengan sia-sia.

Melihat betapa pedangnya dibawa pergi, tiba-tiba Giok Ciu menangis sambil menutup mukanya dengan tangan. Ia menangis karena gemas dan penasaran sekali dan karena tidak berdaya. Tapi tiba-tiba Sin Wan memegang tangannya dan berbisik,

“Moi-moi, kau lihat disana itu!”

Giok Ciu mengangkat muka dan memandang dan iapun terbelalak heran dan mereka lalu tak merasa pula gerakkan kaki dan perlahan-lahan menghampiri kedua musuh mereka. Sebenarnya apakah yang telah terjadi? Ketika kedua pertapa itu sambil tertawa-tawa membawa pedang rampasan meninggalkan tempat itu dan belum jauh pergi dengan heran mereka tiba-tiba melihat seorang pengemis tua yang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam sedang tidur melintang di tengah jalan di depan mereka.

Pengemis itu sudah tua dan hampir telanjang, karena pakaiannya compang-camping, rambutnya panjang, hingga dengan mukanya yang hitam itu ia tampak bagaikan setan berkeliaran! Mukanya kurus penuh keriput menandakan usia tua, tapi rambutnya yang panjang itu masih hitam mulus. Ia tiduran di jalan kecil itu hingga sama sekali menghalangi jalan yang hendak dilewati kedua pertapa. Melihat si jembel itu, Keng Kong Tosu membentak,

“Hei, pengemis tua! Pergilah jangan menghalangi jalan kami.”

Mendengar bentakan ini, pengemis jembel itu memalingkan mukanya yang tadi sebagian tertutup tangan dan lengannya, dan terkejutlah Keng Kong Tosu melihat wajah itu, karena benar-benar menyerupai setan! Matanya lebar memandangnya dan sepasang mata itu berputar-putar aneh mengerikan, sedangkan mulutnya yang berbibir merah sekali itu menyeringai menakutkan. Ini bukanlah wajah seorang biasa yang sehat! Kwi Kai Tosu dapat menduga bahwa jembel tua yang tinggi besar itu tentu berotak miring, karena sinar mata orang waras tidak demikian! Maka ia mencegah Keng Kong Tosu mengganggu orang itu lebih jauh.

“Kita lompati saja dia!” katanya. Tapi kata-katanya ini bahkan membuat orang gila itu menjadi marah, walaupun ia sama sekali tidak bergerak untuk bangun, hanya tubuhnya yang tadinya miring kini menjadi telentang memandang ke langit dengan matanya yang merah jelalatan. Bibirnya masih tetap menyeringai, tapi sama sekali ia tidak melihat kepada dua Tosu itu. Kini tangan kanannya mengambil batu-batu kecil dan ia bawa batu-batu itu di depan matanya, dipandangi sambil tertawa ha-ha hi-hi, lalu batu-batu itu diciuminya!

Kwi Kai Hoatsu tertawa geli dan berkata, “Kau tidak mau pergi, baiklah, kami pergi!” Ia lalu menggerakkan tubuh hendak meloncati gembel gila itu.

Tapi tiba-tiba si jembel menggerakkan kakinya yang panjang dan ia melonjorkan kedua kakinya ke udara sambil tertawa ha-ha hi-hi! Gerakan ini seperti tidak disengaja, tapi kebetulan sekali ujung kakinya bergerak sedemikian rupa merupakan tendangan-tendangan maut ke arah perut dan dada Kwi Kai Hoatsu yang sedang meloncat, hingga pendeta itu terkejut sekali lalu meloncat kembali ke tempat semula!

Ia hendak marah, tapi melihat betapa si jembel itu mempermainkan kedua kakinya ke atas bagaikan laku seorang kanak-kanak sambil tertawa, ia mengurungkan marahnya karena tahu bahwa orang gila itu tidak sengaja menggunakan kaki untuk menghalang-halanginya ketika meloncat tadi. Setelah memandang kepada Keng Kong Tosu sambil tersenyum untuk menghilangkan kekesalan hatinya, Kwi Kai Hoatsu kembali meloncat, kini tinggi sekali agar jangan sampai melanggar kedua kaki orang gila itu.

Tapi tiba-tiba orang gila itu berseru girang, “Ada burung besar! Ada burung besar!” Suaranya serak dan besar sekali, sedangkan tangannya lalu melempar batu-batu kecl itu ke atas!

Kwi Kai Hoatsu yang sedang melayang diatas terkejut sekali karena batu-batu kecil itu menyambar ke arah jalan-jalan darah di kedua kaki dan kedua pundaknya! Cepat sekali ia poksai berjumpalitan untuk menghindarkan batu-batu itu dan kembali meloncat turun di sebelah Keng Kong Tosu. Kini wajahnya berubah merah dan ia marah sekali karena tahu bahwa orang gila itu sengaja mempermainkannya.

“Bangsat gila, bangun kau!” Bentaknya, tapi orang gila itu tidak mengindahkannya dan tertawa ha-ha hi-hi sambil bergulingan di atas tanah.

“Coba lihat, kau mau bangun tidak!” kata Kwi Kai Hoatsu sambil menggunakan ujung kaki mengorek-ngorek tanah hingga debu tebal mengepul ke arah muka dan tubuh, orang gila itu tetap tidak mau bangun dan membiarkan muka dan tubuhnya berleporan debu tebal dan kotor.

Tiba-tiba kedua mata yang merah dari si jembel itu memandang ke arah sepasang pedang Pek Liong Pokiam dan Ouw Liong Pokiam yang dipegang oleh kedua Tosu itu, dan matanya memancarkan sinar yang ganjil dan terkejut. Sejak melihat kedua pedang itu, ia tidak mau melepaskan pandangan matanya dari kedua pedang itu lagi. Kemudian ia bangun berdiri dan tubuhnya benar-benar tinggi besar hingga kedua Tosu itu hanya sampai dibawah lehernya. Urat-urat di tubuhnya melingkar-lingkar bagaikan belut dan rambutnya yang panjang terurai ke depan dan belakang. Sungguh ia mengerikan sekali.

“Kau manusia kurang ajar! Siapakah kau yang berani mengganggu kami?” Kwi Kai Hoatsu menahan napsu marahnya dan bertanya, karena ia kuatir kalau-kalau orang ini adalah tokoh kang-ouw yang ternama dan tidak ia kenal.

Si gila itu tertawa bekakakan. “Aku siapa! Siapa aku... Coba kau katakan aku siapa? Aku sendiri sering bertanya-tanya siapakah aku ini! Aku adalah aku dan habis perkara. Kau sudah tahu bahwa aku ini aku, mengapa pakai bertanya-tanya lagi?” Dan ia lalu tertawa ha-ha hi-hi tak karuan.

Kwi Kai Hoatsu dan Keng Kong Tosu kini percaya betul bahwa mereka sedang menghadapi orang gila. “Kau pergilah dan jangan mengganggu kami. Ketahuilah, aku adalah Kwi Kai Hoatsu dan tidak boleh dibuat permainan. Kau pergilah!”

Suara Kwi Kai Hoatsu berpengaruh sekali ketika ia memerintah ini. Aneh sekali, tiba-tiba sikap si gila itu menjadi penurut. Ia menundukkan kepala sebagai seorang kanak-kanak yang ketakutan sekali mendengar perintah ini, lalu keluar jawaban dari mulutnya.

“Aku tidak kenal segala Hoatsu, tapi baiklah aku akan pergi, jangan kau ganggu aku. Tapi… tapi… kedua pedang itu… berikan padaku!”

“Kurang ajar! Pedang ini pedang kami, kau tidak boleh memintanya!”

“Bohong!” tiba-tiba terdengar teriakan Sin Wan yang sementara itu sudah datang mendekat. “Pedang itu pedang kami yang mereka rampas!”

Orang gila itu tertawa keras. “Nah, nah! Kalau begitu harus dikembalikan kepada orang-orang muda ini. Kembalikanlah dulu, nanti aku pergi!” Ia mendesak Kwi Kai Hoatsu yang kini sudah habis sabarnya lagi.

Ia maju dan mengirim pukulan keras ke dada orang gila itu untuk mendorongnya ke pinggir. Pukulan itu mengenai dada si gila dengan tepat sekali, tapi aneh sekali, si otak miring itu tidak roboh, bahkan menyeringai sambil berkata berkali-kali,

“Jangan pukul aku... jangan pukul aku...!” kemudian terdengar pula suara ketawanya yang menggema di hutan itu.

Bukan main terkejutnya Kwi Kai Hoatsu. Dorongannya tadi sedikitnya mengandung tenaga lima ratus kati, tapi si gila itu tidak terpental bahkan sedikitpun tidak memperlihatkan rasa sakit! Juga Keng Kong Tosu dan kedua anak muda yang berdiri di situ menjadi bengong terheran.

“Kau ingin mampus!” teriak Kwi Kai Hoatsu yang segera mengayun hudtimnya menyambar ke arah leher si gila itu.

Ujung hudtim itu menotok ke arah leher dan tepat mengenai jalan darah, tapi lagi-lagi Kwi Kai Hoatsu terkejut sampai pucat mukanya, karena jangankan roboh, berkejap mata juga tidak si gila yang aneh itu. Hanya kali ini ia memandang Kwi Kai Hoatsu dengan mata heran dan berkata,

“Kenapa berkali-kali kau pukul aku?”

Kwi Kai Hoatsu tidak menjawab, tapi dengan gemas sekali lalu pencet tekanan di gagang hudtimnya dan dari tengah bulu hudtim itu melayang keluar tujuh buah jarum kecil yang menyambar ke arah leher dan dada si gila!

Giok Ciu hampir berteriak ngeri karena merasa bahwa kali ini si gila pasti akan mampus! Juga Sin Wan merasa kuatir sekali. Tapi si jembel gila itu tidak menjadi gugup. Ia moncongkan bibirnya yang merah seperti darah itu lalu meniup dan sekalian jarum-jarum kecil yang terkenal kelihaiannya itu runtuh ke bawah semua tak berdaya!

Kini Kwi Kai Hoatsu benar-benar terkejut dan maklum bahwa gila atau tidak, orang tinggi besar di depan ini bukanlah sembarang orang dan memiliki ilmu yang tinggi! Ia lalu berkemak-kemik dan menggunakan ilmu sihirnya, karena tak mungkin orang ini dapat bertahan menghadapi ilmu hoatlek. Setelah tenaganya terkumpul, ia menggerakkan kedua tangan ke depan dan dengan suara yang sangat berpengaruh ia membentak,

“Kau rebahlah!”

Si jembel itu cepat membarengi bentakan Kwi Kai Hoatsu dan berseru lebih keras lagi dengan suaranya yang serak dan besar,

“Mari kita sama-sama rebah!” dan aneh sekali Kwi Kai Hoatsu tak dapat mempertahankan tenaga gaib yang memaksanya untuk menggulingkan diri, hingga lalu rebah di tanah!

Kwi Kai Hoatsu jengkel dan marah mendengar betapa Sin Wan dan Giok Ciu terkekeh melihat pemandangan lucu itu, bahkan Keng Kong Tosu sendiri yang menganggap kawannya sedang main gila, berkata,

“Suheng, apa penyakit otak si gila itu menular padamu?”

Tapi Kwi Kai Hoatsu juga berbareng merasa terkejut dan jerih, karena entah dengan ilmu apa, si gila telah berhasil menampar kembali tenaga gaibnya hingga senjata makan tuan! Melihat Kwi Kai Hoatsu bangun si gila juga ikut bangun sambil tertawa menyeringai.

“Sobat, sebenarnya kau siapakah dan apa maksudmu menggangu kami?” Kwi Kai Hoatsu bertanya.

“Kau sudah tahu, aku ya aku, dan siapa menganggu kalian? Kaulah yang mengganggu mereka, maka pulangkanlah pedang mereka itu!”

“Kau sungguh keterlaluan!” Keng Kong Tosu membentak marah dan ia lalu menggerakkan pedang pendeknya untuk menyerang.

Tapi tiba-tiba ia terkejut sekali karena sekali berkelebat saja si gila itu telah lenyap dari pandangannya dan tahu-tahu suara ketawanya yang ha-ha hi-hi telah terdengar di belakang telinganya! Ia membalikkan tubuh dan menyerang lagi bertubi-tubi, tapi sia-sia, karena gerakan si gila yang tak teratur itu sungguh cepat sekali dan membingungkannya...