Social Items

KISAH SEPASANG NAGA JILID 12

Karena memang semalam tidak tidur, maka cepat sekali Giok Ciu pulas di atas pembaringannya. Dari jauh masih terdengar suara ayam jantan menyambut datangnya pagi.

Sementara itu, Sin Wan seorang diri lari menyusul dan mencegat musuh besarnya di dalam hutan sebelah selatan. Ternyata pemberitahuan Gak Bin Tong terbukti. Karena belum lama ia menanti, dari jauh terdengar suara kaki kuda dan tak lama kemudian muncullah sebuah kendaraan yang diiringi empat orang berkuda.

Dari tempat persembunyiannya, Sin Wan melihat bahwa empat orang yang berkuda itu adalah Suma-Cianbu sendiri dan tiga orang lain yang kelihatan gagah, sedangkan ia dapat menduga bahwa yang berada di dalam kereta itu tentu Nyonya Suma. Setelah rombongan tiba dekat, ia meloncat keluar dengan pedang Pek Liong Pokiam berkilau di tangan.

“Suma-Cianbu! Sekarang tibalah saatnya kau membayar hutangmu!”

Secepat kilat Sin Wan meloncat menubruk dan mengirim tusukan maut yang diteruskan dengan bacokan hebat. Suma-Cianbu terkejut sekali dan segera menggulingkan diri dari atas kudanya dan...

“Caapp!” pedang pemuda itu masuk ke dalam perut kuda dan hampir menabas potong tubuh kuda itu.

Suma-Cianbu dan tiga orang pengawalnya segera mengurung Sin Wan. Tiga orang pengawalnya itupun telah meloncat turun dari kuda masing-masing dan menyerang Sin Wan dengan hebat. Ternyata mereka itu memiliki kepandaian yang lihat juga hingga untuk sementara waktu Sin Wan belum juga berhasil merobohkan lawannya.

Dengan gemas sekali Sin Wan lalu mengeluarkan jurus-jurus dari Pek Liong Kiam-Sut yang paling hebat dan kini gerakannya berhasil. Sambil mengeluarkan teriakan ngeri seorang pengawal roboh dengan dada tertembus pedang! Tapi pada saat itu juga seorang pengawal lain yang tubuhnya tinggi besar menggerakkan tangan dan lima buah senjata berwarna hitam menyambar ke arah Sin Wan!

Pada saat itu senjata di tangan Suma-Cianbu, yakni Hong-Twi Siang-Kiam pedang sepasang yang lihai itu bergerak dengan nekad dan mati-matian mengirim dua serangan dari kanan kiri, maka dalam keadaan masih berkelit dan menangkis seragan ini, datangnya lima senjata rahasia yang menyambar tempat-tempat berbahaya itu sungguh mengejutkan!

Namun Sin Wan mempunyai gerakan yang lincah dan gesit sekali. Pedangnya yang tadi dipakai menangkis sengaja dipentalkan dan dapat menyampok pergi tiga batang senjata rahasia itu yang ternyata adalah piauw-piauw beracun!

Dua batang lagi yang menyambar ke arah leher dapat ia kelitkan sambil miringkan kepala, tapi pada saat itu datang lagi sebatang piauw dari belakang dan biarpun ia telah miringkan tubuh, senjata itu tetap masih menancap di pundak kirinya! Sin Wan marah sekali, ia meloncat menerjang dan pengirim piauw itu roboh dengan kepala terpisah dari tubuhnya!

Dengan beringas Sin Wan lalu mengamuk dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Pengeroyoknya yang hanya tinggal Suma-Cianbu dan seorang pengawal itu mana dapat menahan amukan murid Bu Beng Sianjin ini. Sebentar saja pengawal ke tiga itu roboh dengan nyawa melayang.

Biarpun hanya tinggal seorang diri menghadapi pemuda yang hebat mengerikan ini, Suma-Cianbu tidak mau mundur atau lari, karena selain ia harus melindungi isterinya yang berada di dalam kereta, iapun tahu bahwa sia-sia saja untuk lari. Ia melawan dengan nekad sekali, tapi karena kepandaian Sin Wan jauh lebih tinggi dari kepandaiannya, dengan tipu gerakan Pek Liong Chio-Sin atau Naga Putih Rebut Hati, pedangnya berhasil menusuk dada kiri Suma-Cianbu yang menjerit ngeri dan roboh dengan tak dapat berkutik pula.

Untuk beberapa saat Sin Wan memandang pada musuhnya yang mengucur keluar dan membasahi seluruh pakaiannya itu. Ia merasa puas, puas sekali! Kemudian ia mendengar teriakan ngeri dan dari dalam kereta itu keluarlah seorang wanita yang berlari-lari menghampiri tubuh Suma-Cianbu. Ia adalah Suma-Hujin yang menubruk jenazah suaminya dan memeluknya sambil menjerit-jerit.

Sin Wan sedikitpun tidak merasa terharu, bahkan ia lalu teringat betapa ia dulu juga seperti nyonya itu, menangis dan memeluki tubuh Ibu dan Kakeknya! Nyonya Suma lalu berdiri dan berpaling kepadanya,

“Kau... kau... semua ini telah demikian kejam! Kau sungguh orang rendah!”

Sin Wan tersenyum mengejek, “Tidak serendah suamimu yang membunuh mati Ibuku dan Kakekku!”

“Tapi... mengapa kau tidak hanya membalas suamiku saja? Mengapa kau menculik anakku? Li Lian kau bawa kemana?”

Sin Wan menjawab angkuh, “Jangan kuatir, anakmu takkan kuganggu. Ia pasti akan pulang ini hari juga. Sekarang aku telah membalas dendam dan tidak butuh lagi bantuan anakmu.”

“Kau... kau... bangsat hina! Kalau kau... mengganggu anakku... lebih baik kau bunuh dia dan kau bunuh aku juga!”

“Tutup mulutmu!” Sin Wan membentak marah. “Kau kira aku ini orang macam apakah? Aku adalah seorang yang mengutamakan kegagahan dan perbuatan rendah macam itu tak mungkin kulakukan. Kau pulanglah dan sebentar lagi aku lepaskan puterimu untuk pulang pula.”

“Kau... berani bersumpah bahwa kau tidak mengganggu Li Lian?”

Marahlah Sin Wan mendengar ini. Kalau yang bicara itu seorang laki-laki mungkin ia sudah mengirim tendangan atau pukulan! “Aku bersumpah demi kehormatanku!”

Kemudian ia membalikkan tubuh dan lari pergi meninggalkan nyonya yang masih menangisi suaminya itu. Ketika ia tiba di Kelenteng, hari telah agak siang dan ia disambut oleh Giok Ciu dan Gak Bin Tong. Ia melihat betapa wajah pemuda itu agak pucat dan datang-datang ia bertanya cepat,

“Saudara Bun, bagaimanakah hasilnya?”

“Ya, bagaimana Twako? Berhasilkah kau?”

Sin Wan membanting dirinya di atas bangku. Ia lelah sekali, karena semenjak ia mencabut piauw yang menancap di pundak kanannya, ia merasa betapa pundaknya merasa ngilu dan pegal sekali, juga ada rasa gatal-gatal sedikit. Tapi ia mengeraskan hati dan mempertahankan rasa sakitnya.

“Aku berhasil,” katanya sambil mengangguk, “Suma-Cianbu telah kubunuh mati bersama tiga orang pengawalnya!”

Giranglah wajah Giok Ciu mendengar ini, dan sambil mendongak ke atas ia berbisik, “Ayah, seorang musuh telah mampus!”

Pada saat itu Gak Bin Tong diam-diam memberi isyarat dengan kejapan mata kepada Giok Ciu. Gadis itu teringat lalu berkata kepada Sin Wan dengan perlahan,

“Twako, aku tidak mau bertindak kepalang tanggung. Aku juga bunuh mati gadis she Suma anak musuh kita itu.”

Tiba-tiba Sin Wan meloncat bangun. Wajahnya pucat bagaikan mayat dan kedua matanya terbelalak sedangkan bibirnya menggigil. “Kau... kau bunuh mati Suma Li Lian??”

Melihat sikap pemuda seperti ini, naiklah darah Giok Ciu. Sambil mengangkat dada ia menjawab, “Ya, aku bunuh dia! Kau sedih dan menyesal?”

Sin Wan tumbuh-tumbuk kepalanya dan berseru, “Celaka...!” dan hampir saja ia tampar muka gadis itu karena marahnya.

Ia tela bersumpah takkan mengganggu gadis itu, telah bersumpah demi kehormatannya kepada Ibu gadis itu, dan sekarang Giok Ciu membunuh gadis itu tanpa bertanya lebih dulu padanya. Celaka benar-benar! Dengan cepat dan bingung sekali Sin Wan meloncat ke dalam dan berlari-lari ke arah kamar Suma Li Lian.

Pintu kamar itu tertutup dan ia segera mendorong pintu itu terbuka dan meloncat masuk. Tapi, tiba-tiba ia berdiri diam bagaikan patung ketika melihat gadis cantik jelita itu bukannya rebah menjadi mayat di atas pembaringan, tapi sedang duduk dengan muka berseri-seri melihat kedatangannya!

Gadis itu mengenakan pakaian dalam yang ringkas dan memperlihatkan potongan tubuh yang menggairahkan, sedangkan sepasang matanya berseri-seri memandangnya dan sepasang pipinya kemerah-merahan! Tiba-tiba Suma Li Lian turun dari pembaringannya dan lari menghampirinya.

Sebelum Sin Wan hilang terkejutnya dan dapat menduga apa yang hendak dilakukan oleh gadis itu, tahu-tahu Suma Li Lian telah memeluknya dan merangkul lehernya! Muka gadis itu disembunyikan ke dada dalam rangkulan mesra sekali! Sin Wan menjadi bingung dan buru-buru ia melepaskan rangkulan orang, lalu bertindak mundur.

“Eh, eh... Siocia, jangan... jangan begitu!”

“Koko... kenapa kau sebut aku Siocia...?” Suma Li Lian berkata lirih dengan nada yang mesra sekali.

Makin terkejutlah hati Sin Wan melihat dan mendengar ini. Ia merasa kasihan sekali dan menyangka bahwa gadis itu tentu telah berubah menjadi gila! Maka ia hendak berlaku tegas dan cepat saja.

“Nona dengarlah baik-baik. Kau telah bebas kini. Aku tidak menahanmu lagi. Kau boleh pulang dan kau bisa minta Nikouw disini mengantarmu. Dan sebelum kita berpisah, lebih baik aku beritahukan dulu padamu. Aku telah berhasil membunuh Ayahmu, musuh besarku yang dulu membunuh Ibu dan Kakekku!”

Suma Li Lian menjerit lirih dan menutup muka dengan kedua tangannya. Ia terhuyung mundur dan menjatuhkan diri di atas pembaringan sambil menangis.

“Ayah... Ayah...” demikian ratapnya.

Sin Wan hanya berdiri dan memandangnya dengan mata bersinar dingin. Kemudian ia berkata, “Nona Suma! Aku telah berjanji kepad Ibumu untuk membebaskan kau. Nah selamat berpisah. Aku akan pergi dulu dari sini dan kita takkan bertemu pula, kecuali kalau kau menaruh dendam kepadaku karena Ayahmu kubunuh. Kalau demikian halnya, maka sewaktu-waktu kau boleh membalas sakit hatimu dan mencari aku ke puncak Kam-Hong-San!”

“Koko... Koko... begitu kejamkah hatimu...? Sampai hatikah kau setelah apa yang terjadi pada waktu fajar tadi...Koko...?”

Gadis itu berdiri dan lari hendak memeluknya tapi Sin Wan segera meloncat keluar dan menutup daun pintu dengan keras. Ia hanya mendengar isak tangis gadis itu. Diam-diam ia merasa kasihan juga karena menganggap bahwa benar-benar gadis itu telah menjadi gila!

Ketika bertemu Giok Ciu, Sin Wan berkata, “Maafkan sikapku tadi, moi-moi! Tapi, sebenarnya apakah maksudmu dengan membohongi seperti itu?”

Kalau saja tadi Giok Ciu tidak mendengar kata-kata Sin Wan terhadap Suma Li Lian yang jelas menyatakan bahwa di dalam hati pemuda itu tidak ada perasaan apa-apa terhadap Li Lian, tentu Giok Ciu masih marah dan cemburu. Sekarang ia hanya balas bertanya,

“Coba kau jawab dulu, Twako. Mengapa ketika mendengar kematian gadis itu kau menjadi pucat sekali seakan-akan seorang yang hancur hatinya?”

“Moi-moi... kau... kau tidak tahu. Aku telah bersumpah kepada Ibu gadis itu bahwa aku takkan mengganggu Li Lian, maka tentu saja aku terkejut dan bingung ketika mendengar bahwa kau telah membunuhnya! Dan... dan tentang wajahku yang pucat... agaknya dari lukaku inilah... aku... sekarang juga aku merasa pening sekali...”

“Kau terluka, Koko? Mana yang terluka?”

Suara gadis itu penuh perhatian dan kecemasan hingga diam-diam Sin Wan merasa geli melihat watak gadis kekasihnya yang sebentar marah sebentar mesra sikapnya itu. Setelah memeriksa luka di pundak Sin Wan yang menjadi hitam, maka gadis itu berkata,

“Twako, luka di pundakmu adalah akibat senjata beracun, warnanya hitam sekali. Bukankah dulu Suhu pernah berkata bahwa pedangmu dapat digunakan untuk mengobati pengaruh bisa yang hitam bekasnya? Mari kita coba.”

Sin Wan juga teringat akan pesan Suhunya itu, maka dengan tangan lemah ia mencabut Pek Liong Pokiam dan memberikan pedang itu kepada Giok Ciu. Gadis itu lalu mencuci bersih ujung pedang putih itu, lalu merendam pedang di dalam arak untuk beberapa lamanya. Kemudian ia memberikan arak itu kepada Sin Wan yang lalu meminumnya sebagian dan sebagian pula dipakai mencuci luka itu.

Heran sekali, setelah terkena arak rendaman Pek Liong Pokiam, dari luka itu mengalir darah seakan-akan tersedot keluar. Darah itu hitam sekali warnanya. Setelah racun itu keluar dari pundaknya, Sin Wan memandang sekeliling dan bertanya,

“Eh, dimanakah saudara Gak? Sejak tadi aku tidak melihatnya!”

Giok Ciu cemberut dan teringat akan gara-gara yang ditimbulkan oleh pemuda muka putih.

“Entahlah, dia sudah pergi tadi, tanpa memberi tahu padaku. Agaknya ia tak enak hati melihat kita bertengkar tadi.”

“Giok Ciu, mari kia cepat-cepat pergi meninggalkan tempat ini. Karena Suma-Cianbu terbunuh olehku, tak lama lagi tentu datang pahlawan-pahlawan mencari kita di sini, sedangkan tenagaku masih lemah.”

“Memang seharusnya kita cepat-cepat pergi. Maksud membalas dendam telah tercapai, untuk apa lama-lama tinggal di kota ini?” Kata Giok Ciu yang sebenarnya ingin lekas-lekas mengajak Sin Wan pergi meninggalkan Suma Li Lian!

Mereka lalu pergi dan karena masih banyak musuh-musuh yang belum terbalas, mereka segera menuju ke Siauw-San untuk mencari musuh-musuh mereka nomor dua, yakni Siauw-San Ngo-Sinto Lima Golok Sakti dari Siauw-San!

Karena luka Sin Wan, biarpun setelah racunnya keluar hanya merupakan luka tidak berbahaya, namun atas desakan Giok Ciu, mereka melakukan perjalanan dengan seenaknya dan tidak tergesa-gesa. Dengan cara begini berangsur-angsur luka itu sembuh kembali.

Cersil karya Kho Ping Hoo Serial Jago Pedang Tak Bernama

Sementara itu, tanpa terasa mereka telah melakukan perjalanan sepuluh hari lebih. Pada suatu hari mereka tiba di dusun Tung-Kwang yang berada di kaki bukit Siauw-San. Ketika memasuki pintu dusun itu, mereka melihat empat penunggang kuda membalapkan binatang tunggangan mereka ke dalam dusun.

Di punggung keempat orang itu tampak gagang pedang hingga Sin Wan dan Giok Ciu dapat menduga bahwa mereka tentu ahli-ahli silat, juga dari cara mereka duduk di atas kuda dapat diketahui bahwa mereka mempunyai kepandaian yang tidak rendah.

Ternyata dusun itu ramai juga dan kedua anak muda itu berhenti di sebuah kedai untuk mengisi perut mereka yang lapar. Penjaga kedai itu melirik ke arah gagang pedang mereka dan dengan senyum menghormat ia berkata,

“Ah, jiwi engku tentu akan mengunjungi Ngo Lo-Enghiong di puncak Siauw-San, bukan? Hari ini telah lebih dari dua puluh orang-orang gagah yang lewat disini perjalanan mereka ke sana.”

Sin Wan dan Giok Ciu dengan sikap acuh dan tak acuh lalu duduk memesan masakan.

“Apakah keempat orang gagah berkuda tadi juga kesana?” Tanya Sin Wan sambil lalu.

“Tentu saja, habis kemana lagi? Tapi mereka agaknya tergesa-gesa sekali hingga tidak singgah di warungku. Mereka hanya membeli bakpauw dan membawanya berkuda terus mendaki Siauw-San."

Sin Wan dan Giok Ciu menduga-duga. Ada terjadi apakah di puncak gunung Siauw-San hingga banyak orang gagah mengunjungi Ngo-Sinto?

“Tentu kali ini banyak yang datang mengunjungi Ngo Lo-Enghiong, bukan?” Tanyanya dengan cerdik untuk memancing keterangan. Ternyata pancingannya berhasil karena penjaga kedai yang doyan omong itu lalu berkata,

“Tentu saja! Untuk merayakan ulang tahunnya yang ke enam puluh, Twa Lo-Enghiong mengadakan pesta besar dan mengundang banyak orang gagah. Menurut penuturan Aliok yang dipanggil ke sana untuk membantu memasak, Ngo Lo-Enghiong membuat pesta besar dan memotong tiga ekor babi gemuk dan puluhan ekor ayam. Bahkan bumbu-bumbu telah di datangkan dari kota Cin-Lok-An sampai hampir satu gerobak banyaknya! Pendeknya, jiwi kali ini naik ke sana akan menikmati pesta besar!”

Sin Wan dan Giok Ciu tersenyum dan mempercepat makannya.

“Kalau aku tidak salah ingat, pesta itu diadakan besok pagi, bukan? Karena kami hanya mendengar dari teman-teman, mungkin keliru?”

Penjaga itu memandang mereka dengan wajah lucu. “Eh, bagaimana jiwi bisa keliru? Pesta itu diadakan sore hari ini, kalau datang besok pagi, tentu terlambat dan tidak mendapat bagian hidangan lezat!”

“Kalau begitu, kami harus pergi sekarang juga!” kata Sin Wan yang segera membayar harga makanan dan mengajak Giok Ciu meninggalkan warung itu.

Ketika mereka telah jauh dari situ, ditengah jalan Giok Ciu berkata, “Twako mengapa kau tergesa-gesa benar? Bukankah lebih baik kalau kita datang besok saja setelah semua tamu pergi? Kalau kita datang sekarang, jangan-jangan kita menimbulkan keributan dan mendapat musuh-musuh baru.”

Sin Wan memandang gadis itu. “Moi-moi, aku mengerti akan maksudmu, dan dipandang sepintas lalu memang benar sekali pendapatmu tadi. Tapi, ketahuilah bahwa Siauw-San Ngo-Sinto adalah orang-orang gagah yang ternama sekali walaupun mereka itu menjadi anjing-anjing penjilat Kaisar. Kalau kita diam-diam bunuh mereka, maka orang-orang gagah di kalangan kang-ouw akan bisa salah sangka terhadap kita. Tapi sekarang kebetulan sekali di sana banyak berkumpul orang-orang kang-ouw hingga biarlah mereka yang menjadi saksi bahwa kita membunuh mereka hanya untuk membalas dendam dan menagih hutang jiwa!”

Giok Ciu mengangguk-angguk. “Mungkin kau benar, Twako. Lagipula, bagiku sih sama saja, pokoknya asal kita bisa berhasil membunuh anjing-anjing tua itu. Ada banyak orang atau tidak, aku tidak takut!”

Sin Wan tersenyum melihat sikap yang tabah dan agak jumawa dari Giok Ciu itu. Mereka segera keluar dari dusun itu dan menggunakan ilmu lari cepat mereka untuk mendaki Gunung Siauw-San yang tidak seberapa besarnya tapi tanahnya sangat subur itu. Hari telah menjelang senja ketika mereka tiba di lereng puncak Siauw-San. Dari jauh telah nampak berkelap-kelipnya cahaya penerangan di atas puncak di mana terdapat sebuah bangunan besar, yakni sebuah Bio tua yang di cat indah dan menjadi tempat pertapaan Siauw-San Ngo-Sinto.

Pada saat itu, Siauw-San Ngo-Sinto sedang sibuk menyambut para tamu dan mengepalai para pelayan mengeluarkan hidangan. Kelima saudara itu berpencar dan masing-masing sibuk mendekati setiap tamu untuk diajak bercakap-cakap dan beramah tamah. Saudara tertua dari Ngo-Sinto itu yang kini sedang dirayakan hari kelahirannya yang ke enam puluh, adalah seorang tinggi besar dan disebut Twa-Sinto atau Golok Sakti Tertua.

Yang ke dua, yakni Ji-Sinto adalah seorang tinggi kurus dan bermuka pucat. Kelima saudara secabang ini memang ahli golok yang pandai, tapi di samping kepandaian bermain golok, masing-masing masih mempunyai kepandaian istimewa. Twa-Sinto atau yang tertua memiliki kepandaian melempar huito atau golok terbang yang melengkung dan jika dilempar ke arah lawan dapat terbang kembali dan menyambar pula, maka biarpun golok itu dapat dikelit, tapi ia akan memutar kembali dan melakukan serangan kedua!

Dan hebatnya, ia bisa melepas tiga buah golok sekali lempar! Yang kedua, yakni Ji-Sinto yag bermuka pucat itu, mempunyai ilmu Pasir Besi atau Tiat-See-Ciang, yakni kedua tangannya telah terlatih sedemikian rupa hingga sanggup menyambut senjata tajam. Dan juga dapat digunakan sebagai senjata yang cukup ampuh karena tangan itu telah berpuluh tahun digembleng dan dilatih dengan menggunakan bubuk besi atau pasir besi yang diremas-remas dan dipukul-pukul.

Yang ketiga atau Sam-Sinto yang pendek gemuk memiliki ilmu tendangan yang sangat berbahaya, yakni yang disebut Siauw-Cu-Twie, yang dapat dilakukan bertubi-tubi dan sangat berbahaya, terutama terhadap musuh yang tidak memiliki ginkang tinggi dan kegesitan pasti akan tertendang roboh!

Orang ke empat yang tubuhnya tinggi besar juga, memiliki ilmu weduk Kim-Ciong-Ko dan ia sanggup untuk menerima pukulan senjata tajam tanpa terluka kulitnya!

Sedangkan orang yang ke lima, yang bertubuh sedang dan berwajah cakap, juga usinya termuda, kurang lebih puluh lima tahun, adalah seorang ahli Liap-Kang Pek-Ko-Chiu atau ilmu keraskan tangan yang lebih berbahaya dari pada Tiat-See-Ciang. Karena dengan jari-jarinya yang dilempangkan dan keras laksana baja, ia sanggup menyerang lawan dengan Coat-Meh-Hoa atau ilmu totok dari Bu-Tong-Pai yang tak mencari urat atau jalan darah ketika digunakannya!

Karena mereka ini rata-rata lihai sekali, maka banyak orang-orang gagah yang kenal baik nama mereka dan jauh-jauh memerlukan datang untuk memberi selamat kepada saudara tertua atau Twa-Sinto dari Ngo-Sinto ini.

Memang sangat disayangkan bahwa akhir-akhir ini kelima jago tua yang lihai itu kena terpikat bujukan dan pikatan harta benda dan kemulian dunia oleh orang-orang kaki tangan Kaisar hingga mereka 'kesalahan tangan' dan membunuh mati Kang Lam Ciuhiap atau Kakek Sin Wan dan karenanya mereka berlima menanam bibit permusuhan dengan Sin Wan.

Bio atau Kuil tua di puncak Siauw-San itu sangat besar dan mempunyai ruang depan yang luas. Di situ berkumpul kurang lebih tiga puluh orang tamu dari macam-macam golongan, ada yang masih muda sekali, ada pula yang telah Kakek-kakek. Ada yang berpakaian sebagai piauwsu, sebagai guru silat, dan banyak juga yang berpakaian Hwesio berkepala gundul dan pertapa-pertapa lain, seperti Tosu dan sebagainya.

Ketika datang empat orang penunggang kuda yang tampaknya sangat tergesa-gesa, maka keempat orang tamu itu cepat menjumpai tuan rumah dan memberitahukan sesuatu. Kelima Ngo-Sinto terkejut sekali tampaknya dan mereka lalu menghadapi semua tamu sambil minta mereka tenang. Kemudian saudara tertua dari Ngo-Sinto berkata,

“Cuwi yang terhomat. Kami berlima sangat berterima kasih dan bergembira dengan kunjunga cuwi sekalian, tapi sayang sekali kami mendengar berita buruk yang baru saja datang dari kota raja! Ternyata bahwa beberapa orang anak pemberontak yang dulu di basmi oleh Suma-Cianbu dengan bantuan tenaga kami, kini telah mengacau di kota raja dan berhasil membunuh Suma-Cianbu yang gagah itu. Dan menurut pembawa berita, maka selain membunuh Suma-Cianbu dan menodai puterinya, juga dua orang pemberontak itu agaknya menuju ke sini untuk mencari kami!”

Terdengar suara marah di sana sini, yakni dikalangan orang-orang yang memang tidak menyetujui sepak terjang para orang gagah yang sengaja mengacau pemerintahan yang mereka anggap tidak adil. Tapi di kalangan beberapa orang gagah yang duduk di situ, berita itu di anggap biasa saja dan bukan urusan mereka.

“Ah mengapa Ngo-Wi Lo-Enghiong pusingkan pengacauan yang dilakukan oleh beberapa ekor tikus kecil saja!” kata seorang anak muda yang bersikap gagah dan berpakaian indah.

“Kami berlima bukannya merasa takut dan bingung, sama sekali tidak!” jawab Ji-Sinto. “Akan tetapi, setidak-tidaknya kalau mereka itu berani datang, tentu akan mengacaukan suasana pesta ini dan dengan demikian membikin tidak enak kepada cuwi sekalian yang mulia.”

“Biarkan mereka datang, nanti kami sambut mereka bersama. Sebagai tamu sudah sepantasnya kalau kita membela tuan rumah,” jawab seorang tamu lain.

Mendengar ini, kelima orang tuan rumah itu merasa lega dan senang. Mereka menjura keempat penjuru dan berkata, “Terima kasih banyak atas budi kecintaan dan rasa setia kawan cuwi, tapi agaknya kalau baru dua orang anak pemberontak saja, tulang-tulang kami yang tua masih sanggup untuk melayani mereka!”

Para tamu lalu melanjutkan pesta mereka dengan gembira. Tapi diam-diam Siauw-San Ngo-Sinto bersiap, bahkan lalu mereka menyuruh orang mengambil golok mereka untuk disediakan di situ dan Twa-Sinto sendiri diam-diam lalu memasang kantung huito di atas punggungnya. Mereka telah mendengar dari keempat tamu pembawa berita dari kota raja tadi bahwa pembunuh-pembunuh Suma-Cianbu memiliki kepandaian tinggi, juga ada pesan dari Cun Cun Hoatsu agar mereka berhati-hati!

Oleh karena inilah mereka berlaku waspada dan agak merasa lega karena banyak di antara para tamu adalah orang-orang gagah yang mereka bisa diharapkan bantuannya. Ketika pesta sedang berjalan ramai-ramainya, tiba-tiba api lilin di meja tengah bergoyang-goyang hampir padam dan tahu-tahu disitu telah berdiri dua orang anak muda, seorang pemuda tampan dan seorang dara jelita yang keduanya bersikap gagah sekali.

“Ngo-Sinto keluarlah untuk membuat perhitungan lama!” Pemuda itu berkata dengan suara nyaring dan tenang, sedangkan gadis jelita itu menggunakan sepasang matanya yang tajam bagaikan sepasang bintang pagi itu untuk menatap orang-orang di sekelilingnya!

Pada saat itu, tiba-tiba dari belakang mereka melayang tiga batang huito atau golok terbang yang menyambar cepat sekali! Biarpun tidak melihat datangnya senjata hebat ini, namun telinga Sin Wan dan Giok Ciu yang tajam dapat menangkap sambaran angin senjata itu, maka mereka lalu berkelit ke kiri dan kekanan sehingga tiga batang golok kecil itu terbang di samping mereka. Tapi golok itu segera membelok dan melayang kembali menyerang ke dua orang muda itu!

Sin Wan dan Giok Ciu walaupun merasa terkejut dan kagum melihat kehebatan senjata rahasia ini, berlaku tenang. Dengan gerakan cepat Sin Wan dapat menangkap sebuah senjata yang melayang ke arahnya, sedangkan Giok Ciu yang hendak pertontonkan kepandaiannya sambil meloncat berjungkir balik ia berhasil menyambut dua batang huito di tangan kanan kirinya.

Pada saat itu, kembali dari arah belakang, Twa-Sinto melepas tiga batang golok lagi. Tapi sekali ayunkan kedua tangannya, sepasang golok di tangan Giok Ciu melayang dan membentur dua batang golok yang datang menyambar itu hingga empat buah golok terbang jauh di tanah mengeluarkan suara berkerontangan.

Sedangkan Sin Wan menggunakan golok rampasannya unuk menyabet golok ketiga yang datang menyambar hingga golok itupun terpukul jatuh, kemudian dengan menggunakan dua jari tangannya, ia tekuk golok tiu patah menjadi dua potong! Tiba-tiba Sin Wan tertawa bergelak-gelak dengan suara mengandung penuh ejekan, lalu katanya,

“Aah, tak kusangka bahwa nama besar kelima golok Sakti dari Siauw-San tak lain hanya nama kosong belaka! Lima orang tua yang menyebut diri sebagai orang-orang gagah itu ternyata hanya lima orang pengecut yang menyambut kedatangan tamu dengan senjata gelap yang dilepas dari belakang pula!”

Ketika melihat kelihaian kedua orang muda itu, pelepas golok terbang, yakni Twa-Sinto sendiri, merasa terkejut sekali. Tapi ia tidak mau kehilangan muka di depan para tamunya, maka ia membentak keras,

“Sepasang tikus kecil, kalian sungguh kurang ajar berani mengacau pesta kami dan menghina serta tidak pandang sebelah mata kepada para tamu yang gagah perkasa! Apa kalian sudah bosan hidup?”

Sin Wan dan Giok Ciu memutar tubuh menghadapi pembicara ini yang ternyata seorang tua tingi besar yang sikapnya sangat jumawa dan gagah. Mereka belum menjawab dan menduga-duga ketika seorang muda yang berpakaian indah dan bersikap sombong meloncat dengan gerakan indah dan berdiri di depan Si Wan, lalu menuding dengan jari telunjuknya dan berkata,

“Kau ini siluman dari mana berani mengacau di sini dan tidak mengindahkan tuan rumah? Kepandaian apakah yang kau miliki maka kau berani membikin ribut-ribut?”

Sin Wan dengan tak acuh mengerling ke arah orang itu. Ternyata ia masih muda, paling banyak tiga puluh tahun, sikapnya gagah dan jumawa sekali, pakaiannya dari sutera yang atas kuning, yang bawah biru, dan lagaknya tengil sekali dengan mata liarnya yang saban-saban mengerling tajam ke arah Giok Ciu!

“Kau anak-anak tahu apa, jangan ikut campur. Pergilah!” kata Sin Wan.

Marahlah orang itu mendengar ejekan ini. Ia mencabut pedangnya dan meloncat mudur ke tempat lega sambil menggerak-gerakkan pedangnya dengan cepat dan bertenaga hingga pedang itu menerbitkan suara bersiutan. Katanya dengan suara keras.

“Kau bangsat pemberontak! Tak tahukah kau siapa aku? Aku adalah wakil cabang Kun-Lun-Pai dan kau tidak boleh pandang rendah padaku sesukamu saja. Lihat pedang Kun-Lun-Pai akan menghukum orang-orang sombong yang menghina kaumnya!”

Giok Ciu memberi isyarat kepada Sin Wan dengan matanya, lalu iapun meloncat menghadapi orang itu. Ia menjura dengan senyum manis lalu berkata,

“Maaf! Kalau kami tidak mengenal seorang tokoh dari Kun-Lun-Pai yang terbesar. Tidak tahu siapakah hohan dan apa pula gelarnya?”

Melihat sikap Giok Ciu yang sopan dan memuji-mujinya, si baju sutera menjadi girang sekali dan ia makin berlagak, bahkan kini angkat-angkat dadanya ke depan sebelum menjawab sambil melihat ke kanan kiri.

“Hem, kau jauh lebih sopan dan baik jika dibandingkan dengan kawanmu itu, nona. Sungguh heran bisa bersahabat dengan orang kasar itu! Ketahuilah, aku adalah Hui Tat dan disebut orang Eng-Jiauw-Kam atau Pedang Kuku Garuda! Kalau kau menyatakan maaf kepada tuan rumah, aku Hui Tat suka bikin habis perkara ini, tapi kawanmu yang kasar itu jangan harap akan dapat terlepas dari pedangku!”

Giok Ciu mengingat-ingat dan sepanjang pengetahuannya, tidak ada seorang tokoh Kun-Lun-Pai yang bernama atau berjuluk seperti itu. Ia tahu betul akan nama-nama para tokoh Kun-Lun-Pai karena dulu seringkali Ayahnya yang juga seorang tokoh Kun-Lun-Pai yang ternama menceritakannya.

Kisah Sepasang Naga Jilid 12

KISAH SEPASANG NAGA JILID 12

Karena memang semalam tidak tidur, maka cepat sekali Giok Ciu pulas di atas pembaringannya. Dari jauh masih terdengar suara ayam jantan menyambut datangnya pagi.

Sementara itu, Sin Wan seorang diri lari menyusul dan mencegat musuh besarnya di dalam hutan sebelah selatan. Ternyata pemberitahuan Gak Bin Tong terbukti. Karena belum lama ia menanti, dari jauh terdengar suara kaki kuda dan tak lama kemudian muncullah sebuah kendaraan yang diiringi empat orang berkuda.

Dari tempat persembunyiannya, Sin Wan melihat bahwa empat orang yang berkuda itu adalah Suma-Cianbu sendiri dan tiga orang lain yang kelihatan gagah, sedangkan ia dapat menduga bahwa yang berada di dalam kereta itu tentu Nyonya Suma. Setelah rombongan tiba dekat, ia meloncat keluar dengan pedang Pek Liong Pokiam berkilau di tangan.

“Suma-Cianbu! Sekarang tibalah saatnya kau membayar hutangmu!”

Secepat kilat Sin Wan meloncat menubruk dan mengirim tusukan maut yang diteruskan dengan bacokan hebat. Suma-Cianbu terkejut sekali dan segera menggulingkan diri dari atas kudanya dan...

“Caapp!” pedang pemuda itu masuk ke dalam perut kuda dan hampir menabas potong tubuh kuda itu.

Suma-Cianbu dan tiga orang pengawalnya segera mengurung Sin Wan. Tiga orang pengawalnya itupun telah meloncat turun dari kuda masing-masing dan menyerang Sin Wan dengan hebat. Ternyata mereka itu memiliki kepandaian yang lihat juga hingga untuk sementara waktu Sin Wan belum juga berhasil merobohkan lawannya.

Dengan gemas sekali Sin Wan lalu mengeluarkan jurus-jurus dari Pek Liong Kiam-Sut yang paling hebat dan kini gerakannya berhasil. Sambil mengeluarkan teriakan ngeri seorang pengawal roboh dengan dada tertembus pedang! Tapi pada saat itu juga seorang pengawal lain yang tubuhnya tinggi besar menggerakkan tangan dan lima buah senjata berwarna hitam menyambar ke arah Sin Wan!

Pada saat itu senjata di tangan Suma-Cianbu, yakni Hong-Twi Siang-Kiam pedang sepasang yang lihai itu bergerak dengan nekad dan mati-matian mengirim dua serangan dari kanan kiri, maka dalam keadaan masih berkelit dan menangkis seragan ini, datangnya lima senjata rahasia yang menyambar tempat-tempat berbahaya itu sungguh mengejutkan!

Namun Sin Wan mempunyai gerakan yang lincah dan gesit sekali. Pedangnya yang tadi dipakai menangkis sengaja dipentalkan dan dapat menyampok pergi tiga batang senjata rahasia itu yang ternyata adalah piauw-piauw beracun!

Dua batang lagi yang menyambar ke arah leher dapat ia kelitkan sambil miringkan kepala, tapi pada saat itu datang lagi sebatang piauw dari belakang dan biarpun ia telah miringkan tubuh, senjata itu tetap masih menancap di pundak kirinya! Sin Wan marah sekali, ia meloncat menerjang dan pengirim piauw itu roboh dengan kepala terpisah dari tubuhnya!

Dengan beringas Sin Wan lalu mengamuk dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Pengeroyoknya yang hanya tinggal Suma-Cianbu dan seorang pengawal itu mana dapat menahan amukan murid Bu Beng Sianjin ini. Sebentar saja pengawal ke tiga itu roboh dengan nyawa melayang.

Biarpun hanya tinggal seorang diri menghadapi pemuda yang hebat mengerikan ini, Suma-Cianbu tidak mau mundur atau lari, karena selain ia harus melindungi isterinya yang berada di dalam kereta, iapun tahu bahwa sia-sia saja untuk lari. Ia melawan dengan nekad sekali, tapi karena kepandaian Sin Wan jauh lebih tinggi dari kepandaiannya, dengan tipu gerakan Pek Liong Chio-Sin atau Naga Putih Rebut Hati, pedangnya berhasil menusuk dada kiri Suma-Cianbu yang menjerit ngeri dan roboh dengan tak dapat berkutik pula.

Untuk beberapa saat Sin Wan memandang pada musuhnya yang mengucur keluar dan membasahi seluruh pakaiannya itu. Ia merasa puas, puas sekali! Kemudian ia mendengar teriakan ngeri dan dari dalam kereta itu keluarlah seorang wanita yang berlari-lari menghampiri tubuh Suma-Cianbu. Ia adalah Suma-Hujin yang menubruk jenazah suaminya dan memeluknya sambil menjerit-jerit.

Sin Wan sedikitpun tidak merasa terharu, bahkan ia lalu teringat betapa ia dulu juga seperti nyonya itu, menangis dan memeluki tubuh Ibu dan Kakeknya! Nyonya Suma lalu berdiri dan berpaling kepadanya,

“Kau... kau... semua ini telah demikian kejam! Kau sungguh orang rendah!”

Sin Wan tersenyum mengejek, “Tidak serendah suamimu yang membunuh mati Ibuku dan Kakekku!”

“Tapi... mengapa kau tidak hanya membalas suamiku saja? Mengapa kau menculik anakku? Li Lian kau bawa kemana?”

Sin Wan menjawab angkuh, “Jangan kuatir, anakmu takkan kuganggu. Ia pasti akan pulang ini hari juga. Sekarang aku telah membalas dendam dan tidak butuh lagi bantuan anakmu.”

“Kau... kau... bangsat hina! Kalau kau... mengganggu anakku... lebih baik kau bunuh dia dan kau bunuh aku juga!”

“Tutup mulutmu!” Sin Wan membentak marah. “Kau kira aku ini orang macam apakah? Aku adalah seorang yang mengutamakan kegagahan dan perbuatan rendah macam itu tak mungkin kulakukan. Kau pulanglah dan sebentar lagi aku lepaskan puterimu untuk pulang pula.”

“Kau... berani bersumpah bahwa kau tidak mengganggu Li Lian?”

Marahlah Sin Wan mendengar ini. Kalau yang bicara itu seorang laki-laki mungkin ia sudah mengirim tendangan atau pukulan! “Aku bersumpah demi kehormatanku!”

Kemudian ia membalikkan tubuh dan lari pergi meninggalkan nyonya yang masih menangisi suaminya itu. Ketika ia tiba di Kelenteng, hari telah agak siang dan ia disambut oleh Giok Ciu dan Gak Bin Tong. Ia melihat betapa wajah pemuda itu agak pucat dan datang-datang ia bertanya cepat,

“Saudara Bun, bagaimanakah hasilnya?”

“Ya, bagaimana Twako? Berhasilkah kau?”

Sin Wan membanting dirinya di atas bangku. Ia lelah sekali, karena semenjak ia mencabut piauw yang menancap di pundak kanannya, ia merasa betapa pundaknya merasa ngilu dan pegal sekali, juga ada rasa gatal-gatal sedikit. Tapi ia mengeraskan hati dan mempertahankan rasa sakitnya.

“Aku berhasil,” katanya sambil mengangguk, “Suma-Cianbu telah kubunuh mati bersama tiga orang pengawalnya!”

Giranglah wajah Giok Ciu mendengar ini, dan sambil mendongak ke atas ia berbisik, “Ayah, seorang musuh telah mampus!”

Pada saat itu Gak Bin Tong diam-diam memberi isyarat dengan kejapan mata kepada Giok Ciu. Gadis itu teringat lalu berkata kepada Sin Wan dengan perlahan,

“Twako, aku tidak mau bertindak kepalang tanggung. Aku juga bunuh mati gadis she Suma anak musuh kita itu.”

Tiba-tiba Sin Wan meloncat bangun. Wajahnya pucat bagaikan mayat dan kedua matanya terbelalak sedangkan bibirnya menggigil. “Kau... kau bunuh mati Suma Li Lian??”

Melihat sikap pemuda seperti ini, naiklah darah Giok Ciu. Sambil mengangkat dada ia menjawab, “Ya, aku bunuh dia! Kau sedih dan menyesal?”

Sin Wan tumbuh-tumbuk kepalanya dan berseru, “Celaka...!” dan hampir saja ia tampar muka gadis itu karena marahnya.

Ia tela bersumpah takkan mengganggu gadis itu, telah bersumpah demi kehormatannya kepada Ibu gadis itu, dan sekarang Giok Ciu membunuh gadis itu tanpa bertanya lebih dulu padanya. Celaka benar-benar! Dengan cepat dan bingung sekali Sin Wan meloncat ke dalam dan berlari-lari ke arah kamar Suma Li Lian.

Pintu kamar itu tertutup dan ia segera mendorong pintu itu terbuka dan meloncat masuk. Tapi, tiba-tiba ia berdiri diam bagaikan patung ketika melihat gadis cantik jelita itu bukannya rebah menjadi mayat di atas pembaringan, tapi sedang duduk dengan muka berseri-seri melihat kedatangannya!

Gadis itu mengenakan pakaian dalam yang ringkas dan memperlihatkan potongan tubuh yang menggairahkan, sedangkan sepasang matanya berseri-seri memandangnya dan sepasang pipinya kemerah-merahan! Tiba-tiba Suma Li Lian turun dari pembaringannya dan lari menghampirinya.

Sebelum Sin Wan hilang terkejutnya dan dapat menduga apa yang hendak dilakukan oleh gadis itu, tahu-tahu Suma Li Lian telah memeluknya dan merangkul lehernya! Muka gadis itu disembunyikan ke dada dalam rangkulan mesra sekali! Sin Wan menjadi bingung dan buru-buru ia melepaskan rangkulan orang, lalu bertindak mundur.

“Eh, eh... Siocia, jangan... jangan begitu!”

“Koko... kenapa kau sebut aku Siocia...?” Suma Li Lian berkata lirih dengan nada yang mesra sekali.

Makin terkejutlah hati Sin Wan melihat dan mendengar ini. Ia merasa kasihan sekali dan menyangka bahwa gadis itu tentu telah berubah menjadi gila! Maka ia hendak berlaku tegas dan cepat saja.

“Nona dengarlah baik-baik. Kau telah bebas kini. Aku tidak menahanmu lagi. Kau boleh pulang dan kau bisa minta Nikouw disini mengantarmu. Dan sebelum kita berpisah, lebih baik aku beritahukan dulu padamu. Aku telah berhasil membunuh Ayahmu, musuh besarku yang dulu membunuh Ibu dan Kakekku!”

Suma Li Lian menjerit lirih dan menutup muka dengan kedua tangannya. Ia terhuyung mundur dan menjatuhkan diri di atas pembaringan sambil menangis.

“Ayah... Ayah...” demikian ratapnya.

Sin Wan hanya berdiri dan memandangnya dengan mata bersinar dingin. Kemudian ia berkata, “Nona Suma! Aku telah berjanji kepad Ibumu untuk membebaskan kau. Nah selamat berpisah. Aku akan pergi dulu dari sini dan kita takkan bertemu pula, kecuali kalau kau menaruh dendam kepadaku karena Ayahmu kubunuh. Kalau demikian halnya, maka sewaktu-waktu kau boleh membalas sakit hatimu dan mencari aku ke puncak Kam-Hong-San!”

“Koko... Koko... begitu kejamkah hatimu...? Sampai hatikah kau setelah apa yang terjadi pada waktu fajar tadi...Koko...?”

Gadis itu berdiri dan lari hendak memeluknya tapi Sin Wan segera meloncat keluar dan menutup daun pintu dengan keras. Ia hanya mendengar isak tangis gadis itu. Diam-diam ia merasa kasihan juga karena menganggap bahwa benar-benar gadis itu telah menjadi gila!

Ketika bertemu Giok Ciu, Sin Wan berkata, “Maafkan sikapku tadi, moi-moi! Tapi, sebenarnya apakah maksudmu dengan membohongi seperti itu?”

Kalau saja tadi Giok Ciu tidak mendengar kata-kata Sin Wan terhadap Suma Li Lian yang jelas menyatakan bahwa di dalam hati pemuda itu tidak ada perasaan apa-apa terhadap Li Lian, tentu Giok Ciu masih marah dan cemburu. Sekarang ia hanya balas bertanya,

“Coba kau jawab dulu, Twako. Mengapa ketika mendengar kematian gadis itu kau menjadi pucat sekali seakan-akan seorang yang hancur hatinya?”

“Moi-moi... kau... kau tidak tahu. Aku telah bersumpah kepada Ibu gadis itu bahwa aku takkan mengganggu Li Lian, maka tentu saja aku terkejut dan bingung ketika mendengar bahwa kau telah membunuhnya! Dan... dan tentang wajahku yang pucat... agaknya dari lukaku inilah... aku... sekarang juga aku merasa pening sekali...”

“Kau terluka, Koko? Mana yang terluka?”

Suara gadis itu penuh perhatian dan kecemasan hingga diam-diam Sin Wan merasa geli melihat watak gadis kekasihnya yang sebentar marah sebentar mesra sikapnya itu. Setelah memeriksa luka di pundak Sin Wan yang menjadi hitam, maka gadis itu berkata,

“Twako, luka di pundakmu adalah akibat senjata beracun, warnanya hitam sekali. Bukankah dulu Suhu pernah berkata bahwa pedangmu dapat digunakan untuk mengobati pengaruh bisa yang hitam bekasnya? Mari kita coba.”

Sin Wan juga teringat akan pesan Suhunya itu, maka dengan tangan lemah ia mencabut Pek Liong Pokiam dan memberikan pedang itu kepada Giok Ciu. Gadis itu lalu mencuci bersih ujung pedang putih itu, lalu merendam pedang di dalam arak untuk beberapa lamanya. Kemudian ia memberikan arak itu kepada Sin Wan yang lalu meminumnya sebagian dan sebagian pula dipakai mencuci luka itu.

Heran sekali, setelah terkena arak rendaman Pek Liong Pokiam, dari luka itu mengalir darah seakan-akan tersedot keluar. Darah itu hitam sekali warnanya. Setelah racun itu keluar dari pundaknya, Sin Wan memandang sekeliling dan bertanya,

“Eh, dimanakah saudara Gak? Sejak tadi aku tidak melihatnya!”

Giok Ciu cemberut dan teringat akan gara-gara yang ditimbulkan oleh pemuda muka putih.

“Entahlah, dia sudah pergi tadi, tanpa memberi tahu padaku. Agaknya ia tak enak hati melihat kita bertengkar tadi.”

“Giok Ciu, mari kia cepat-cepat pergi meninggalkan tempat ini. Karena Suma-Cianbu terbunuh olehku, tak lama lagi tentu datang pahlawan-pahlawan mencari kita di sini, sedangkan tenagaku masih lemah.”

“Memang seharusnya kita cepat-cepat pergi. Maksud membalas dendam telah tercapai, untuk apa lama-lama tinggal di kota ini?” Kata Giok Ciu yang sebenarnya ingin lekas-lekas mengajak Sin Wan pergi meninggalkan Suma Li Lian!

Mereka lalu pergi dan karena masih banyak musuh-musuh yang belum terbalas, mereka segera menuju ke Siauw-San untuk mencari musuh-musuh mereka nomor dua, yakni Siauw-San Ngo-Sinto Lima Golok Sakti dari Siauw-San!

Karena luka Sin Wan, biarpun setelah racunnya keluar hanya merupakan luka tidak berbahaya, namun atas desakan Giok Ciu, mereka melakukan perjalanan dengan seenaknya dan tidak tergesa-gesa. Dengan cara begini berangsur-angsur luka itu sembuh kembali.

Cersil karya Kho Ping Hoo Serial Jago Pedang Tak Bernama

Sementara itu, tanpa terasa mereka telah melakukan perjalanan sepuluh hari lebih. Pada suatu hari mereka tiba di dusun Tung-Kwang yang berada di kaki bukit Siauw-San. Ketika memasuki pintu dusun itu, mereka melihat empat penunggang kuda membalapkan binatang tunggangan mereka ke dalam dusun.

Di punggung keempat orang itu tampak gagang pedang hingga Sin Wan dan Giok Ciu dapat menduga bahwa mereka tentu ahli-ahli silat, juga dari cara mereka duduk di atas kuda dapat diketahui bahwa mereka mempunyai kepandaian yang tidak rendah.

Ternyata dusun itu ramai juga dan kedua anak muda itu berhenti di sebuah kedai untuk mengisi perut mereka yang lapar. Penjaga kedai itu melirik ke arah gagang pedang mereka dan dengan senyum menghormat ia berkata,

“Ah, jiwi engku tentu akan mengunjungi Ngo Lo-Enghiong di puncak Siauw-San, bukan? Hari ini telah lebih dari dua puluh orang-orang gagah yang lewat disini perjalanan mereka ke sana.”

Sin Wan dan Giok Ciu dengan sikap acuh dan tak acuh lalu duduk memesan masakan.

“Apakah keempat orang gagah berkuda tadi juga kesana?” Tanya Sin Wan sambil lalu.

“Tentu saja, habis kemana lagi? Tapi mereka agaknya tergesa-gesa sekali hingga tidak singgah di warungku. Mereka hanya membeli bakpauw dan membawanya berkuda terus mendaki Siauw-San."

Sin Wan dan Giok Ciu menduga-duga. Ada terjadi apakah di puncak gunung Siauw-San hingga banyak orang gagah mengunjungi Ngo-Sinto?

“Tentu kali ini banyak yang datang mengunjungi Ngo Lo-Enghiong, bukan?” Tanyanya dengan cerdik untuk memancing keterangan. Ternyata pancingannya berhasil karena penjaga kedai yang doyan omong itu lalu berkata,

“Tentu saja! Untuk merayakan ulang tahunnya yang ke enam puluh, Twa Lo-Enghiong mengadakan pesta besar dan mengundang banyak orang gagah. Menurut penuturan Aliok yang dipanggil ke sana untuk membantu memasak, Ngo Lo-Enghiong membuat pesta besar dan memotong tiga ekor babi gemuk dan puluhan ekor ayam. Bahkan bumbu-bumbu telah di datangkan dari kota Cin-Lok-An sampai hampir satu gerobak banyaknya! Pendeknya, jiwi kali ini naik ke sana akan menikmati pesta besar!”

Sin Wan dan Giok Ciu tersenyum dan mempercepat makannya.

“Kalau aku tidak salah ingat, pesta itu diadakan besok pagi, bukan? Karena kami hanya mendengar dari teman-teman, mungkin keliru?”

Penjaga itu memandang mereka dengan wajah lucu. “Eh, bagaimana jiwi bisa keliru? Pesta itu diadakan sore hari ini, kalau datang besok pagi, tentu terlambat dan tidak mendapat bagian hidangan lezat!”

“Kalau begitu, kami harus pergi sekarang juga!” kata Sin Wan yang segera membayar harga makanan dan mengajak Giok Ciu meninggalkan warung itu.

Ketika mereka telah jauh dari situ, ditengah jalan Giok Ciu berkata, “Twako mengapa kau tergesa-gesa benar? Bukankah lebih baik kalau kita datang besok saja setelah semua tamu pergi? Kalau kita datang sekarang, jangan-jangan kita menimbulkan keributan dan mendapat musuh-musuh baru.”

Sin Wan memandang gadis itu. “Moi-moi, aku mengerti akan maksudmu, dan dipandang sepintas lalu memang benar sekali pendapatmu tadi. Tapi, ketahuilah bahwa Siauw-San Ngo-Sinto adalah orang-orang gagah yang ternama sekali walaupun mereka itu menjadi anjing-anjing penjilat Kaisar. Kalau kita diam-diam bunuh mereka, maka orang-orang gagah di kalangan kang-ouw akan bisa salah sangka terhadap kita. Tapi sekarang kebetulan sekali di sana banyak berkumpul orang-orang kang-ouw hingga biarlah mereka yang menjadi saksi bahwa kita membunuh mereka hanya untuk membalas dendam dan menagih hutang jiwa!”

Giok Ciu mengangguk-angguk. “Mungkin kau benar, Twako. Lagipula, bagiku sih sama saja, pokoknya asal kita bisa berhasil membunuh anjing-anjing tua itu. Ada banyak orang atau tidak, aku tidak takut!”

Sin Wan tersenyum melihat sikap yang tabah dan agak jumawa dari Giok Ciu itu. Mereka segera keluar dari dusun itu dan menggunakan ilmu lari cepat mereka untuk mendaki Gunung Siauw-San yang tidak seberapa besarnya tapi tanahnya sangat subur itu. Hari telah menjelang senja ketika mereka tiba di lereng puncak Siauw-San. Dari jauh telah nampak berkelap-kelipnya cahaya penerangan di atas puncak di mana terdapat sebuah bangunan besar, yakni sebuah Bio tua yang di cat indah dan menjadi tempat pertapaan Siauw-San Ngo-Sinto.

Pada saat itu, Siauw-San Ngo-Sinto sedang sibuk menyambut para tamu dan mengepalai para pelayan mengeluarkan hidangan. Kelima saudara itu berpencar dan masing-masing sibuk mendekati setiap tamu untuk diajak bercakap-cakap dan beramah tamah. Saudara tertua dari Ngo-Sinto itu yang kini sedang dirayakan hari kelahirannya yang ke enam puluh, adalah seorang tinggi besar dan disebut Twa-Sinto atau Golok Sakti Tertua.

Yang ke dua, yakni Ji-Sinto adalah seorang tinggi kurus dan bermuka pucat. Kelima saudara secabang ini memang ahli golok yang pandai, tapi di samping kepandaian bermain golok, masing-masing masih mempunyai kepandaian istimewa. Twa-Sinto atau yang tertua memiliki kepandaian melempar huito atau golok terbang yang melengkung dan jika dilempar ke arah lawan dapat terbang kembali dan menyambar pula, maka biarpun golok itu dapat dikelit, tapi ia akan memutar kembali dan melakukan serangan kedua!

Dan hebatnya, ia bisa melepas tiga buah golok sekali lempar! Yang kedua, yakni Ji-Sinto yag bermuka pucat itu, mempunyai ilmu Pasir Besi atau Tiat-See-Ciang, yakni kedua tangannya telah terlatih sedemikian rupa hingga sanggup menyambut senjata tajam. Dan juga dapat digunakan sebagai senjata yang cukup ampuh karena tangan itu telah berpuluh tahun digembleng dan dilatih dengan menggunakan bubuk besi atau pasir besi yang diremas-remas dan dipukul-pukul.

Yang ketiga atau Sam-Sinto yang pendek gemuk memiliki ilmu tendangan yang sangat berbahaya, yakni yang disebut Siauw-Cu-Twie, yang dapat dilakukan bertubi-tubi dan sangat berbahaya, terutama terhadap musuh yang tidak memiliki ginkang tinggi dan kegesitan pasti akan tertendang roboh!

Orang ke empat yang tubuhnya tinggi besar juga, memiliki ilmu weduk Kim-Ciong-Ko dan ia sanggup untuk menerima pukulan senjata tajam tanpa terluka kulitnya!

Sedangkan orang yang ke lima, yang bertubuh sedang dan berwajah cakap, juga usinya termuda, kurang lebih puluh lima tahun, adalah seorang ahli Liap-Kang Pek-Ko-Chiu atau ilmu keraskan tangan yang lebih berbahaya dari pada Tiat-See-Ciang. Karena dengan jari-jarinya yang dilempangkan dan keras laksana baja, ia sanggup menyerang lawan dengan Coat-Meh-Hoa atau ilmu totok dari Bu-Tong-Pai yang tak mencari urat atau jalan darah ketika digunakannya!

Karena mereka ini rata-rata lihai sekali, maka banyak orang-orang gagah yang kenal baik nama mereka dan jauh-jauh memerlukan datang untuk memberi selamat kepada saudara tertua atau Twa-Sinto dari Ngo-Sinto ini.

Memang sangat disayangkan bahwa akhir-akhir ini kelima jago tua yang lihai itu kena terpikat bujukan dan pikatan harta benda dan kemulian dunia oleh orang-orang kaki tangan Kaisar hingga mereka 'kesalahan tangan' dan membunuh mati Kang Lam Ciuhiap atau Kakek Sin Wan dan karenanya mereka berlima menanam bibit permusuhan dengan Sin Wan.

Bio atau Kuil tua di puncak Siauw-San itu sangat besar dan mempunyai ruang depan yang luas. Di situ berkumpul kurang lebih tiga puluh orang tamu dari macam-macam golongan, ada yang masih muda sekali, ada pula yang telah Kakek-kakek. Ada yang berpakaian sebagai piauwsu, sebagai guru silat, dan banyak juga yang berpakaian Hwesio berkepala gundul dan pertapa-pertapa lain, seperti Tosu dan sebagainya.

Ketika datang empat orang penunggang kuda yang tampaknya sangat tergesa-gesa, maka keempat orang tamu itu cepat menjumpai tuan rumah dan memberitahukan sesuatu. Kelima Ngo-Sinto terkejut sekali tampaknya dan mereka lalu menghadapi semua tamu sambil minta mereka tenang. Kemudian saudara tertua dari Ngo-Sinto berkata,

“Cuwi yang terhomat. Kami berlima sangat berterima kasih dan bergembira dengan kunjunga cuwi sekalian, tapi sayang sekali kami mendengar berita buruk yang baru saja datang dari kota raja! Ternyata bahwa beberapa orang anak pemberontak yang dulu di basmi oleh Suma-Cianbu dengan bantuan tenaga kami, kini telah mengacau di kota raja dan berhasil membunuh Suma-Cianbu yang gagah itu. Dan menurut pembawa berita, maka selain membunuh Suma-Cianbu dan menodai puterinya, juga dua orang pemberontak itu agaknya menuju ke sini untuk mencari kami!”

Terdengar suara marah di sana sini, yakni dikalangan orang-orang yang memang tidak menyetujui sepak terjang para orang gagah yang sengaja mengacau pemerintahan yang mereka anggap tidak adil. Tapi di kalangan beberapa orang gagah yang duduk di situ, berita itu di anggap biasa saja dan bukan urusan mereka.

“Ah mengapa Ngo-Wi Lo-Enghiong pusingkan pengacauan yang dilakukan oleh beberapa ekor tikus kecil saja!” kata seorang anak muda yang bersikap gagah dan berpakaian indah.

“Kami berlima bukannya merasa takut dan bingung, sama sekali tidak!” jawab Ji-Sinto. “Akan tetapi, setidak-tidaknya kalau mereka itu berani datang, tentu akan mengacaukan suasana pesta ini dan dengan demikian membikin tidak enak kepada cuwi sekalian yang mulia.”

“Biarkan mereka datang, nanti kami sambut mereka bersama. Sebagai tamu sudah sepantasnya kalau kita membela tuan rumah,” jawab seorang tamu lain.

Mendengar ini, kelima orang tuan rumah itu merasa lega dan senang. Mereka menjura keempat penjuru dan berkata, “Terima kasih banyak atas budi kecintaan dan rasa setia kawan cuwi, tapi agaknya kalau baru dua orang anak pemberontak saja, tulang-tulang kami yang tua masih sanggup untuk melayani mereka!”

Para tamu lalu melanjutkan pesta mereka dengan gembira. Tapi diam-diam Siauw-San Ngo-Sinto bersiap, bahkan lalu mereka menyuruh orang mengambil golok mereka untuk disediakan di situ dan Twa-Sinto sendiri diam-diam lalu memasang kantung huito di atas punggungnya. Mereka telah mendengar dari keempat tamu pembawa berita dari kota raja tadi bahwa pembunuh-pembunuh Suma-Cianbu memiliki kepandaian tinggi, juga ada pesan dari Cun Cun Hoatsu agar mereka berhati-hati!

Oleh karena inilah mereka berlaku waspada dan agak merasa lega karena banyak di antara para tamu adalah orang-orang gagah yang mereka bisa diharapkan bantuannya. Ketika pesta sedang berjalan ramai-ramainya, tiba-tiba api lilin di meja tengah bergoyang-goyang hampir padam dan tahu-tahu disitu telah berdiri dua orang anak muda, seorang pemuda tampan dan seorang dara jelita yang keduanya bersikap gagah sekali.

“Ngo-Sinto keluarlah untuk membuat perhitungan lama!” Pemuda itu berkata dengan suara nyaring dan tenang, sedangkan gadis jelita itu menggunakan sepasang matanya yang tajam bagaikan sepasang bintang pagi itu untuk menatap orang-orang di sekelilingnya!

Pada saat itu, tiba-tiba dari belakang mereka melayang tiga batang huito atau golok terbang yang menyambar cepat sekali! Biarpun tidak melihat datangnya senjata hebat ini, namun telinga Sin Wan dan Giok Ciu yang tajam dapat menangkap sambaran angin senjata itu, maka mereka lalu berkelit ke kiri dan kekanan sehingga tiga batang golok kecil itu terbang di samping mereka. Tapi golok itu segera membelok dan melayang kembali menyerang ke dua orang muda itu!

Sin Wan dan Giok Ciu walaupun merasa terkejut dan kagum melihat kehebatan senjata rahasia ini, berlaku tenang. Dengan gerakan cepat Sin Wan dapat menangkap sebuah senjata yang melayang ke arahnya, sedangkan Giok Ciu yang hendak pertontonkan kepandaiannya sambil meloncat berjungkir balik ia berhasil menyambut dua batang huito di tangan kanan kirinya.

Pada saat itu, kembali dari arah belakang, Twa-Sinto melepas tiga batang golok lagi. Tapi sekali ayunkan kedua tangannya, sepasang golok di tangan Giok Ciu melayang dan membentur dua batang golok yang datang menyambar itu hingga empat buah golok terbang jauh di tanah mengeluarkan suara berkerontangan.

Sedangkan Sin Wan menggunakan golok rampasannya unuk menyabet golok ketiga yang datang menyambar hingga golok itupun terpukul jatuh, kemudian dengan menggunakan dua jari tangannya, ia tekuk golok tiu patah menjadi dua potong! Tiba-tiba Sin Wan tertawa bergelak-gelak dengan suara mengandung penuh ejekan, lalu katanya,

“Aah, tak kusangka bahwa nama besar kelima golok Sakti dari Siauw-San tak lain hanya nama kosong belaka! Lima orang tua yang menyebut diri sebagai orang-orang gagah itu ternyata hanya lima orang pengecut yang menyambut kedatangan tamu dengan senjata gelap yang dilepas dari belakang pula!”

Ketika melihat kelihaian kedua orang muda itu, pelepas golok terbang, yakni Twa-Sinto sendiri, merasa terkejut sekali. Tapi ia tidak mau kehilangan muka di depan para tamunya, maka ia membentak keras,

“Sepasang tikus kecil, kalian sungguh kurang ajar berani mengacau pesta kami dan menghina serta tidak pandang sebelah mata kepada para tamu yang gagah perkasa! Apa kalian sudah bosan hidup?”

Sin Wan dan Giok Ciu memutar tubuh menghadapi pembicara ini yang ternyata seorang tua tingi besar yang sikapnya sangat jumawa dan gagah. Mereka belum menjawab dan menduga-duga ketika seorang muda yang berpakaian indah dan bersikap sombong meloncat dengan gerakan indah dan berdiri di depan Si Wan, lalu menuding dengan jari telunjuknya dan berkata,

“Kau ini siluman dari mana berani mengacau di sini dan tidak mengindahkan tuan rumah? Kepandaian apakah yang kau miliki maka kau berani membikin ribut-ribut?”

Sin Wan dengan tak acuh mengerling ke arah orang itu. Ternyata ia masih muda, paling banyak tiga puluh tahun, sikapnya gagah dan jumawa sekali, pakaiannya dari sutera yang atas kuning, yang bawah biru, dan lagaknya tengil sekali dengan mata liarnya yang saban-saban mengerling tajam ke arah Giok Ciu!

“Kau anak-anak tahu apa, jangan ikut campur. Pergilah!” kata Sin Wan.

Marahlah orang itu mendengar ejekan ini. Ia mencabut pedangnya dan meloncat mudur ke tempat lega sambil menggerak-gerakkan pedangnya dengan cepat dan bertenaga hingga pedang itu menerbitkan suara bersiutan. Katanya dengan suara keras.

“Kau bangsat pemberontak! Tak tahukah kau siapa aku? Aku adalah wakil cabang Kun-Lun-Pai dan kau tidak boleh pandang rendah padaku sesukamu saja. Lihat pedang Kun-Lun-Pai akan menghukum orang-orang sombong yang menghina kaumnya!”

Giok Ciu memberi isyarat kepada Sin Wan dengan matanya, lalu iapun meloncat menghadapi orang itu. Ia menjura dengan senyum manis lalu berkata,

“Maaf! Kalau kami tidak mengenal seorang tokoh dari Kun-Lun-Pai yang terbesar. Tidak tahu siapakah hohan dan apa pula gelarnya?”

Melihat sikap Giok Ciu yang sopan dan memuji-mujinya, si baju sutera menjadi girang sekali dan ia makin berlagak, bahkan kini angkat-angkat dadanya ke depan sebelum menjawab sambil melihat ke kanan kiri.

“Hem, kau jauh lebih sopan dan baik jika dibandingkan dengan kawanmu itu, nona. Sungguh heran bisa bersahabat dengan orang kasar itu! Ketahuilah, aku adalah Hui Tat dan disebut orang Eng-Jiauw-Kam atau Pedang Kuku Garuda! Kalau kau menyatakan maaf kepada tuan rumah, aku Hui Tat suka bikin habis perkara ini, tapi kawanmu yang kasar itu jangan harap akan dapat terlepas dari pedangku!”

Giok Ciu mengingat-ingat dan sepanjang pengetahuannya, tidak ada seorang tokoh Kun-Lun-Pai yang bernama atau berjuluk seperti itu. Ia tahu betul akan nama-nama para tokoh Kun-Lun-Pai karena dulu seringkali Ayahnya yang juga seorang tokoh Kun-Lun-Pai yang ternama menceritakannya.