Social Items

KISAH SEPASANG NAGA JILID 08

Memang, ditempat kedua anak muda itu dulu terjatuh, terdapat lereng yang sangat curam menurun dan tak terkira dalamnya, dan di atas lereng tumbuhlah banyak pohon yang menghasilkan buah-buah. Hanya saja untuk mengambil buah-buah itu bukanlah pekerjaan mudah, karena lereng yang curam itu tak mungkin dituruni begitu saja tanpa bahaya tergelincir mengancam jiwa, dan sekali tergelincir, jangan harap akan tinggal hidup. Lereng itu tidak tampak dasarnya karena dalam dan panjangnya!

Tapi Sin Wan dan Giok Ciu cerdik dan tabah. Dari rumput alang-alang yang panjang dan kuat, Giok Ciu berhasil membuat pintalan tambang yang panjang lagi kuat. Kemudian Sin Wan menggunakan tambang yang dipegang Giok Ciu dari atas, untuk menuruni tebing itu dan memetik buah-buah mana saja yang disukainya. Dengan cara inilah maka mereka dapat makan buah-buah segar dan lezat setiap hari.

Demikianlah, dengan sangat tekun dan tak kenal lelah di bawah gemblengan Kakek yang luar biasa itu, Sin Wan dan Giok Ciu melatih diri dan mempelajari Sin-Liong Kiam-Sut. Setelah mempelajari ilmu pedang gaib ini selama dua tahun lebih, barulah mereka pahami seluruhnya! Kemudian datanglah giliran mempelajari ilmu lweekang yang tinggi dan untuk mempelajari ini, mereka harus tekun bersemedhi dan mempelajari peraturan napas yang berat sekali.

Cara-cara semedhi dan menahan napas seperti yang pernah mereka pelajari di bawah pimpinan Kwie Cu Ek dulu sangatlah ringan dan mudah jika dibandingkan cara-cara yang diberikan oleh Suhu mereka ini. Ada kalanya mereka diharuskan bersemedhi dengan jungkir balik yakni kepala di atas lantai dan kaki di atas dan mereka harus mempertahankan tubuh dalam keadaan ini sampai setengah hari!

Ada kalanya mereka harus menahan tubuh dengan sebelah tangan di atas tanah dan menggunakan tangan ini mengganjal tubuh sampai setengah hari lamanya. Dan banyak lagi macam cara bersemedhi yang aneh-aneh juga mereka diajar menahan jalan pernapasan mereka sedemikian rupa sehingga napas yang tersedot itu dapat dijalarkan ke bagian tubuh yang mereka kehendaki sehingga di bagian itu tampak hawa itu bergerak-gerak di bawah kulit seakan-akan ada seekor tikus yang bergerak-gerak dan berjalan di dalam tubuh mereka.

Latihan-latihan ini mendatangkan kemajuan besar sekali, baik dalam lweekang maupun ginkang mereka, juga membuat mereka menjadi tenang dan bersemangat. Pada suatu hari, ketika Sin Wan dan Giok Ciu asyik mengintai lewatnya binatang di atas sumur, tiba-tiba terdengar derap kaki binatang yang ringan sekali mendatang.

“Seekor kijang!” Sin Wan berkata gembira dan mempersiapkan sebuah batu tajam di tangannya.

Sudah lama sekali ia tidak makan daging kijang yang manis dan sedap. Ketika binatang itu datang dekat dengan loncatan kilat meloncati sumur itu, Sin Wan mengayunkan tangannya. Ia menanti jatuhnya korban itu ke dalam sumur. Tapi alangkah herannya ketika ditunggu-tunggu badan binatang itu tidak juga jatuh ke dalam sumur, padahal ia merasa pasti bahwa sambitannya tadi tentu mengenai sasaran.

“Sungguh heran dan aneh,” katanya kepada Giok Ciu.

“Kita harus melihat ke atas,” kata Giok Ciu. Karena terheran dan merasa penasaran, pula karena menyangka bahwa binatang itu tentu mati di pinggir tebing sumur dan perlu diambil, mereka sekali saja menggenjot tubuh.

Keduanya melayang ke atas dengan berbareng dan sesaat kemudian mereka telah menembus halimun yang menutup sumur itu dan keduanya berada di atas tanah di pinggir sumur. Untuk sejenak mereka agak silau melihat dunia luar, tetapi tiba-tiba mereka melihat bahwa di sekeliling sumur itu terdapat belasan orang yang berpakaian seragam dan bertopi runcing. Tentara Kaisar!

Keduanya segera mengenal mereka dan Sin Wan hendak buru-buru terjun kembali ke dalam sumur, tetapi ia melihat kijang besar dan muda berada di dekat orang-orang itu. Sementara itu, belasan tentara Kaisar itu ketika tiba-tiba melihat ada seorang pemuda tampan dan seorang gadis jelita melayang keluar dari sumur, menjadi demikian terkejut dan heran hingga mereka memandang kedua anak muda itu dengan mata terbelalak heran.

“Tuan-tuan, harap kalian kembalikan hasil buruanku itu.” Kata Sin Wan dengan tenang sambil menunjuk ke arah bangkai kijang.

Diantara pahlawan Kaisar itu terdapat seorang yang sombong dan suka mengagulkan kegagahannya. Ia adalah Song Tat Kin, murid dari Cin Cin Hoat-su si Pendeta tibet, maka kepandaiannya memang cukup tinggi. Apalagi pada saat itu ia bersama tiga belas orang kawannya yang kesemuanya adalah pahlawan-pahlawan dari keraton Kaisar dan kesemuanya memiliki silat yang cukup lihai. Bahkan diantaranya terdapat Sim Kwie si Walet Terbang yang mempunyai ginkang luar biasa sekali.

Tadipun Sim Kwie telah mendemontrasikan kepandaiannya dan mengejar binatang kijang itu. Tepat di atas sumur ia dapat mengejar dan pada saat ia hendak meloncati sumur, tiba-tiba ia melihat binatang itu seperti terpukul sesuatu dari bawah dan tubuh binatang itu terpental ke atas. Tetapi sebelum tubuh binatang itu terjatuh ke dalam sumur, Sin Kwie dengan cepat telah menyambutnya dan membawa loncat ke pinggir sumur.

Sambil memeriksa luka di dada binatang itu, Sim Kwie dan kawan-kawannya memandang ke dalam sumur dengan terheran-heran dan saling menduga-duga dan mempercakapkan hal yang ganjil ini. Kini melihat bahwa yang melukai kijang hanya seorang pemuda dan seorang gadis cantik, Song Tat Kin segera bertindak maju dan bertolak pinggang lalu berkata,

“Kau orang liar dari mana begitu berani mengaku-aku kijang ini? Yang menangkap adalah kami dan dagingnya adalah bagian kami pula. Kau orang hutan hayo pergi jangan mengganggu kami.”

Mendengar ucapan orang yang sangat kasar dan menghina ini, Sin Wan masih dapat menahan sabarnya, tetapi Giok Ciu yang lebih keras wataknya segera maju sambil menuding dengan telunjuknya yang runcing dan membentak nyaring,

“Laki-laki kasar yang tidak mengenal aturan! Kau bilang kijang itu kalian yang menangkap, mana buktinya? Tidak tahu malu merampas hak milik orang lain!”

Giok Ciu memang memiliki wajah yang cantik jelita dan potongan tubuh yang langsing berisi. Bagaikan bunga, dara yang berusia tujuh belas tahun ini, sedang harum-harumnya dan sedang indah menariknya, maka biarpun sederhana sekali pakaiannya, ia bahkan tampak makin jelita dan menarik. Kini ia sedang marah, sepasang matanya berapi-api dan kedua pipinya kemerah-merahan, maka ia lebih manis pula. Song Tat Kin melihat dara itu marah-marah sambil menunjuk-nunjuk padanya, tidak menjadi marah bahkan tertawa bergelak lalu berkata kepada kawan-kawannya.

“He, kawan-kawan lihatlah. Kuda betina gunung ini tampaknya liar sekali! Tapi, alangkah indah bentuk badannya. Lihat matanya, jelita dan bersih bagaikan mata burung Hong, dan pipinya itu, ah segar kemerah-merahan.”

Kawan-kawannya tersenyum dan ada yang tertawa girang, lalu terdengar ucapan, “Song Twako, kau penjinak kuda betina liar, agaknya yang seekor ini cukup bagus untuk kau bikin jinak!”

Mendengar kata-kata mereka ini, Giok Ciu yang masih hijau tidak mengerti bahwa yang dimaksudkan kuda betina liar adalah dirinya, maka ia memandang ke kanan-kiri dan mengganggap pembicaraan mereka itu tidak karuan. Tetapi Sin Wan mengerti maksud kata-kata mereka yang kotor dan sangat menghina itu, maka kini lenyaplah kesabarannya. Ia maju dengan mata berkilat,

“Tuan-tuan harap jaga mulut dan jangan bicara sembarangan!” Ia memperingatkan mereka.

Orang tinggi besar muka hitam yang tadi memuji-muji Song Tat Kin segera berkata dengan tertawa lebar, “Song Twako! Lekas kau bikin jinak kuda liar ini, biar aku yang mengusir anjing yang pandai menggonggong ini!”

Sehabis berkata demikian, si Tinggi Besar lalu mengayun kepalan tangannya yang sebesar kepala orang biasa itu ke arah dada Sin Wan dalam gerak tipu Pai-San To-Hai atau Dorong Gunung Uruk Laut. Gerakan ini dilakukan dengan tenaga ratusan kati beratnya karena maksudnya sekali dorong saja membuat Sin Wan terlempar jauh atau kalau mungkin terdorong masuk ke dalam sumur kembali.

Tetapi Sin Wan cepat miringkan tubuh dan berkelit sambil berkata, “Jangan kalian mendesak, kami tidak mencari permusuhan!”

Tetapi si Tinggi Besar yang merasa terhina karena serangannya tidak mengenai sasaran dan karena kata-kata Sin Wan itu dianggap sebagai pernyataan takut, lalu menyerang makin hebat dengan tipu Hek-Houw To-Sim atau Macan Hitam Sambar Hati. Pukulannya berat dan keras, tanda bahwa ia adalah seorang ahli gwakang yang pandai, juga ilmu silatnya tidak lemah dan gerakkannya tetap.

Sekali lagi Sin Wan berkelit lincah. Sementara itu, Song Tat Kin yang melihat betapa kawannya telah menyerang Sin Wan yang agaknya jerih, lalu maju ke arah Giok Ciu dengan sikap yang sangat menjemukan.

“Nona, jangan kau marah-marah. Marilah ikut aku ke kota, untuk apa tinggal di tempat seperti ini? Di kota kau akan hidup mewah dan senang!”

Ia melihat betapa kulit muka Giok-Ciu yang halus lemas itu perlahan-lahan berubah merah dan menganggap bahwa gadis itu malu-malu, sama sekali ia tidak menyangka bahwa hawa marah Giok Ciu sedang berkobar dan seakan-akan mulai membakar gadis itu.

Setelah Song Tat Kin menutup mulutnya, Giok Ciu berseru keras untuk melepas hawa marah yang mendesak dadanya, dan sebelum semua orang tahu apa yang telah terjadi, tahu-tahu Giok Ciu lenyap dan berubah bayangan putih berkelebat cepat ke arah Song Tat Kin dan tahu-tahu orang she Song itu terlempar jauh sekali dan roboh dengan pingsan dan mata terbalik!

Ternyata dara itu karena marahnya yang tak dapat ditahan lagi telah mempergunakan Tipu Cio-Po Thian-Keng atau Batu Meledak Langit Gempar dibarengi ginkangnya yang luar biasa, sekali menyerang tepat menghantam dada Song Tat Kin sehingga mendapat luka di dalam!

Kini terkejutlah semua orang, terutama Sim Kwie si Walet Terbang, karena barusan ia telah menyaksikan sendiri bahwa ginkang gadis itu jauh lebih hebat dari ginkangnya sendiri yang telah cukup tinggi dan membuat ia dijuluki si Walet Terbang! Maklumlah ia menghadapi orang berilmu tinggi dan ia tahu bahwa kepandaian Song Tat Kin setingkat dengan kepandaiannya, maka tidak mungkin bisa menang kalau melawan gadis itu seorang diri. Ia lalu berseru,

“Kawan-kawan, serbu!”

Maka belasan orang itu lalu menyerang Giok Ciu! Mereka menyangka bahwa yang tinggi ilmu kepandaiannya hanyalah Giok Ciu saja, sedangkan Sin Wan cukuplah dilawan oleh si tinggi besar itu. Tidak tahunya, ketika melihat betapa Giok Ciu timbul marahnya dan kini dikeroyok oleh belasan pahlawan Kaisar itu, Sin Wan lalu berseru,

“Pergilah kau!” dan tahu tahu si tinggi besar yang bermuka hitam itu terlempar jauh dan tak dapat bangun lagi.

Paniklah kini para penyerbu dan sebagian lari mengeroyok Sin Wan. Enam orang termasuk Sin Kwie yang lihai mengeroyok Giok Ciu dan enam orang pula mengeroyok Sin Wan. Dan karena ternyata bahwa kedua anak muda itu benar-benar sangat lihai, mereka tidak sungkan-sungkan lagi dan semua mencabut senjata masing-masing.

Dua belas orang yang mengeroyok Sin Wan dan Giok Ciu adalah pahlawan-pahlawan Kaisar kelas tiga yang memiliki kepandaian tinggi juga, maka setelah semua menggunakan senjata, mau tidak mau Sin Wan dan Giok Ciu menjadi terdesak. Baiknya kedua anak muda ini memiliki ginkang yang sempurna, sehingga mereka dapat menghindarkan diri dari semua serangan senjata tajam yang menghujani mereka.

Kalau saja pada saat itu mereka memegang pedang pusaka mereka, tentu sebentar saja semua lawannya akan mudah dirobohkan tetapi justru pada saat itu mereka tidak membawa pedang. Tiba-tiba Sin Wan teringat ajaran Kakeknya untuk menggunakan suara suling membikin kalut musuh, maka ia segera berkata kepada Giok Ciu sambil berkelit,

“Masih adakah suling kecilku dulu padamu?”

Mendengar ini, Giok Ciu diam-diam mengomel. Mengapa dalam keadaan terdesak dan berbahaya seperti ini tiba-tiba membicarakan tentang hal itu? Tetapi ia menjawab juga,

“Tentu saja ada. Ada apakah?”

“Kau dapat mengeluarkan itu? Coba beri aku pinjam sebentar!”

Kini tahulah Giok Ciu akan maksud pemuda itu. Ia menggunakan kepandaiannya meringankan tubuh untuk meloncat jauh dari musuh-musuhnya, lalu cepat sekali merogoh ke dalam bajunya untuk mengambil suling kecil yang ia selipkan di ikat pinggangnya sebelah dalam.

Sebenarnya suling itu ia telah memberi ikatan dan selalu diikatkan dengan pinggang sehinnga suling itu takkan terlepas jatuh, maka karena keadaan mendesak, ia mencabut saja suling itu hingga tali ikatannya putus. Ia meloncat lagi ke dekat Sin Wan dan melempar suling itu padanya.

“Nah, terimalah ini!” teriaknya.

Sin Wan lalu cepat menyambut benda hitam yang melayang ke arahnya itu. Ia heran ketika menerima suling itu, karena merasa betapa benda itu makin mengkilap dan terasa hangat! Ia tidak tahu bahwa tunangannya itu sering kali menggosok-gosok sulingnya dan setiap saat suling itu tidak terpisah dari tubuhnya.

Cersil karya Kho Ping Hoo Serial Jago Pedang Tak Bernama

Setelah menerima suling itu, Sin Wan lalu menempelkan peniupnya di mulut, lalu sambil bersuling ia bersilat dengan kedua kakinya menghindar semua serangan. Para pengeroyoknya tadinya menduga bahwa pemuda itu hendak menggunakan sulingnya sebagai senjata, tetapi setelah melihat dan mendengar pemuda itu meniup sulingnya, mereka terheran sekali! Tetapi keheranan mereka itu terganti dengan kebingungan karena tiba-tiba suara suling yang mendayu-dayu dan tinggi rendah mengalun itu seakan-akan merupakan pisau tajam yang mengiris jantung dan menusuk-nusuk perasaan mereka sehingga permaianan silat mereka kacau balau!

Sebentar saja Sin Wan telah berhasil menendang dua orang pengeroyok! Tiba-tiba, melihat hasil baik kawannya, Giok Ciu juga mengeluarkan ilmu simpanan pemberian Ayahnya, dan terdengarlah suara pekik dan suitan nyaring keluar dari mulut dan dada dari gadis jelita itu. Karena suara ini dikeluarkan dengan tenaga Tian-tan dan seperti suara suling Sin Wan, mengandung tenaga hawa lweekang yang tinggi, maka para pengeroyok segera merasa kehebatan pengaruh suara itu.

Mereka merasa ngeri dan menggigil tubuh mereka sehingga serangan mereka yang tadinya teratur baik menjadi kacau balau. Hanya Sim Kwie seorang yang memiliki lweekang lumayan, masih dapat mengerahkan tenaga lweekang untuk menolak pengaruh mujijat ini, tetapi kelima kawannya semua menjadi kacau permainannya.

Dengan gunakan kelincahannya, Giok Ciu akhirnya dapat juga memukul seorang pengeroyok dan sekalian merampas pedangnya! Kini dengan pedang di tangan, walaupun pedang itu hanya sebatang pedang biasa, Giok Ciu berubah seakan-akan dari seekor domba menjadi seekor harimau betina! Ia berseru keras. Tubuhnya lenyap dan terkurung oleh sinar pedangnya yang berkilauan ketika ia mainkan Sin-Liong Kiam-Sut!

Terkejutlah semua pengeroyoknya, apalagi setelah beberapa jurus saja dua orang telah dirobohkan oleh gadis itu! Sim Kwie kaget sekali dan ia mengeluh mengapa hari ini mereka bertemu dengan dua setan muda yang lihai itu! Sementara itu, Sin Wan yang hanya menghadapi empat orang pengeroyok, lalu menyimpan sulingnya dan bersilat seenaknya saja, seakan-akan mempermainkan para pengeroyoknya yang sudah bernapas empas-empis! Pada saat itu, terdengar teriakan Sim Kwie,

“Cuwi, tahan!” Karena mengenal tingkat para pahlawan itu, yang berada dibawah Son Tat Kin hanya Sim Kwie, maka para pahlawan itu tentu saja mendengar perintah dan taat, karena Son Tat Kin sendiri telah roboh, mereka lalu meloncat mundur dengan hati lega, karena memang keadaan mereka berbahaya sekali.

“Jiwi Enghiong, harap maafkan kami.” Sim Kwie mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada Sin Wan dan Giok Ciu. “Agaknya telah ada salah paham yang besar. Kami sama sekali tidak tahu berhadapan dengan orang-orang gagah dan beberapa orang kawan kami telah berlaku kurang ajar! Harap maafkan kami. Boleh kami mengetahui nama jiwi yang mulia?”

Giok Ciu tersenyum menyindir. “Hm, baru sekarang kalian merasakan kelihaian kami, ya? Sungguh tak tahu diri!”

Sin Wan juga mencela, “Kalau tadi tuan-tuan menggunakan kata-kata halus tidak nanti akan timbul korban-korban di antara tuan-tuan. Kami tidak perlu kenalkan nama, juga tidak perlu mengetahui nama kalian. Sekarang lebih baik kalian bawa saja kawan-kawanmu yang luka dan tinggalkan tempat ini.”

Sim Kwie mendongkol sekali karena terang sekali ia tidak dipandang sebelah mata oleh kedua pemuda itu, padahal oleh kalangan kang-ouw, nama si Walet Terbang bukanlah nama kecil-kecilan. Ia segera berkata dengan bersungut-sungut,

“Hm, biarlah jiwi boleh merasa bangga akan kemenangan ini. Biarpun jiwi tidak memberi tahukan nama tapi tiupan suling tadi mengingatkan aku akan seseorang!”

Mendengar ini, sekali loncat saja, Giok Ciu telah berada di depannya dan mengancam dengan pedang rampasannya. “Apa katamu? Mengingatkan kau akan seseorang? Hayo, katakan, siapa orang yang kau maksudkan itu!”

Sim Kwie mundur dengan muka pucat. Ia telah tahu kelihaian nona muda ini dan percuma kalau ia melawan juga. Sin Wan membujuk Giok Ciu.

“Sudahlah, moi-moi jangan membikin takut dia. Lihat mukanya menjadi biru karena ketakutan. He, pahlawan Raja dengarlah. Memang aku adalah cucu dari Kang-Lam Ciuhiap, si Peniup Suling!”

Sim Kwie mengangkat tangan menjura, “Memang sudah kuduga! Terima kasih atas kejujuranmu.”

Ia lalu perintahkan kawan-kawannya untuk mengangkat para korban dan meninggalkan tempat itu cepat-cepat. Sin Wan dan Giok Ciu saling pandang kemudian mereka tersenyum puas karena kemenangan tadi. Sin Wan menghela napas, lalu memandang suling itu.

“Untung ada suling ini hingga kita teringat akan ilmu Kakekku dan Ayahmu.” Ia lalu menyerahkan suling itu kembali kepada Giok Ciu yang menerimanya dengan muka berubah merah.

“Ternyata kau… kau selalu simpan suling ini baik-baik...” katanya menggoda Giok Ciu.

Giok Ciu menundukkan kepala, mengerling tajam dan menggigit bibirnya. Ia merasa gemas sekali digoda dan hendak membalas dendam. “Koko, apakah dulu kau tidak menerima sesuatu dari Ibumu?”

“Menerima sesuatu? Apakah itu aku tidak ingat lagi.” Jawab Sin Wan.

Giok Ciu kewalahan. “Menerima sesuatu yang berasal dari... dari... Eh, sebagai... pengganti suling ini…”

“Sesuatu sebagai pengganti suling ini? Ah, aku tidak ingat lagi. Coba kau katakan barang apa itu, tentu aku ingat.” Sin Wan sengaja dan berpura-pura lupa sehingga Giok Ciu makin gemas dan kewalahan.

“Barang… barang kecil...” katanya dengan muka merah.

“Kecil?” Sin Wan pura-pura memandang ke arah awan sambil mengerutkan jidat berpikir keras. “Eh, barang kecil apa, ya? Sebagaimana kecilnya? Ada segini?” Ia menggunakan kedua tangannya membuat ukuran.

“Lebih kecil lagi...” Giok Ciu berkata yang menduga bahwa Sin Wan betul-betul lupa.

“Seperti ini?” Sin Wan memperkecil ukuran dengan tangannya.

“Lebih kecil sedikit lagi,” kata Giok Ciu yang menjadi gemas.

“Sebeginikah?”

“Ya, sebegitulah kecilnya. Ah… sudahlah, maka kau perhatikan barang tak berharga itu. Mungkin telah kau buang jauh-jauh!”

Tiba-tiba Giok Ciu tampak menyesal dan marah, bahkan kedua matanya tiba-tiba menjadi merah! Sin Wan melihat betapa gadis itu seperti yang hendak menangis, lalu timbul kasihannya.

“O, barang itukah yang kau masudkkan? Ada, ada... ada kusimpan!”

Giok Ciu cepat menengok dan memandang ia dengan mata bersinar. “Betulkan kau simpan barang itu?”

Sin Wan mengangguk kuat. “Ada kusimpan baik-baik.”

“Betulkah? Di mana kau simpan barang itu?”

“Di... Dimana ? Ah, di tempat yang baik.”

“Betulkah itu? Hati-hati jangan disimpan sembarangan takut hilang.”

“Tidak tidak mungkin hilang. Bukankah sulingku juga kau simpan baik-baik dan tidak hilang?” kata Sin Wan sambil memandang suling hitam yang dipegang gadis itu.

“Ah, kalau sulingmu ini lain lagi… barang ini... ku simpan di... dipakaianku selalu,” jawab Giok Ciu malu-malu.

“Barang itupun... sudah kusimpan baik-baik, janga kau takut, takkan hilang.”

“Apakah... apakah di saku bajumu selalu?” tanya Giok Ciu sambil memandang wajah Sin Wan dengan tajam. Sin Wan balas memandang.

“Mengapa harus dimasukkan saku?”

“Habis di manakah?” Sin Wan tetap tidak mau mengaku.

Tiba-tiba Giok Ciu berkata sambil tersenyum. “Ah, tidak mengaku juga tidak apa, aku pernah melihat barang itu tersembul keluar.”

Terkejutlah Sin Wan, “He? Apa katamu? Tersembul keluar?” dan diam-diam pemuda itu melirik ke arah dadanya. Pancingan gadis cerdik itu berhasil dan lirikan mata Sin Wan ke arah dadanya memperkuat dugaannya. Giok Ciu bangkit dari duduknya lalu tiba-tiba suling itu terlepas dari tangannya, menggelinding di atas tanah,

“Tolong, Koko, sulingku jatuh...” Sin Wan buru-buru membungkuk dan mengambil barang itu, tetapi pada saat ia membungkuk ia merasa sesuatu bergerak di lehernya. Ia terkejut dan segera berdiri dan... Ia melihat Giok Ciu tertawa girang sambil menunjuk ke arah dada pemuda itu. Kini Sin Wan tundukkan muka untuk memandang, ternyata sepasang sepatu kecil yang tadinya tergantung di dada dengan sutera biru yang dikalungkan dileher, ternyata telah keluar dan bergerak-gerak di luar bajunya! Ternyata ketika ia membungkuk tadi, Giok Ciu telah menyambar pita sutera itu dan membetotnya sehingga sepatunya terbetot keluar! Sin Wan tak dapat berkata apa-apa hanya memandang wajah Giok Ciu dengan mulut tersenyum lebar dan muka kemerah-merahan.

“Bukankah kataku tadi telah kusimpan baik-baik? Kau sungguh kurang percaya.”

“Sekarang aku percaya dan puas, terimakasih Koko,” jawab Giok Ciu dengan manis.

“Hayo kita kembali, telah terlampau lama kita keluar, nanti Suhu marah,” tiba-tiba Sin Wan berkata.

Ucapan ini mengingatkan Giok Ciu dan mereka segera meloncat masuk ke dalam sumur itu dengan khawatir kalau-kalau gurunya akan marah. Betul saja, baru kaki mereka menginjak pasir di dalam sumur itu, telah terdengar suara Suhu mereka memanggil dari dalam gua ular. Mereka segera masuk dan mendapatkan Bu Beng Lojin duduk bersemedhi dan menghadap ke dalam. Tanpa menengok lagi, orang tua aneh itu berkata, suaranya tetap dan keras.

“Sin Wan dan Giok Ciu! Kalian telah melanggar laranganku dan keluar dari tempat ini sebelum waktunya!”

Sin Wan dan Giok Ciu segera menjatuhkan diri berlutut, “Ampunkan teecu berdua Suhu. Kami tidak sengaja keluar dan...”

“Cukup! Aku sudah tahu semua. Pelanggaranmu tidak kusesalkan sekali, tetapi yang paling kusesalkan ialah karena kalian melanggar maka kalian bertemu dengan kaki tangan Kaisar itu! Dan kalian tentu tahu akan akibat pertempuran tadi. Sekarang terpaksa kalian harus keluar dari sini!”

Terkejut sekali kedua murid itu mendengar ini. Dengan khidmad mereka berlutut dan memohon ampun.

“Muridku, jangan menganggap aku terlampau kejam kepada kalian. Aku suruh kalian keluar dan pergi bukanlah dengan maksud mengusir karena kemarahanku. Aku suruh kau pergi untuk mendahului mereka dan memukul dulu sebelum mereka menyerbu dan mencari kalian kesini! Bukankah kalian hendak menuntut balas? Nah, sekarang waktunya! Berangkatlah dan bawalah pedangmu. Tetapi, berhati-hatilah, lawan-lawanmu bukan orang lemah!”

Kalau tadinya kedua murid itu merasa bingung dan takut, kini mereka merasa girang sekali. Mereka menghaturkan terima kasih kepada Suhu mereka yang agaknya tidak memperdulikan mereka karena duduknya membelakangi mereka itu. Kemudian mereka berpamit tanpa dijawab oleh Bu Beng Lojin, Sin Wan dan Giok Ciu mengambil kedua pokiam mereka dan meloncat keluar dari sumur itu. Mereka merasa seakan-akan baru sadar dari mimpi dan seakan-akan baru terbebas dari kurungan.

Hati mereka gembira sekali dan mereka berjalan turun gunung sambil bergandeng tangan seperti lakunya dua orang kanak-kanak nakal. Sin Wan seperti biasa mengenakan pakaian warna putih yang menjadi kesukaannya semenjak kecil, sedangkan Giok Ciu mengenakan pakaiannya yang berwarna gelap kehitam-hitaman. Memang menurut nasihat dari Suhu mereka, warna pakaian yang paling cocok dan tepat bagi Sin Wan ialah putih dan bagi Giok Ciu warna hitam!

“Karena kalian memiliki pedang pusaka yang ampuh dan keramat, maka kalian juga seberapa bisa harus menyesuaikan keadaanmu dengan pedang itu sehingga pedang pusaka itu akan lebih besar faedahnya,” demikianlah Kakek yang luar biasa itu berkata ketika mereka baru berlatih pedang.

Karena pemandangan alam yang indah dan hawa gunung yang segar, Giok Ciu timbul gembiranya dan berkata, “Koko, hawa begini bagus. Marilah kita berlatih pedang. Sekarang kita berada di luar dan bebas merdeka, aku ingin sekali mencoba pokiamku.” Sehabis berkata demikian, ia mencabut Ouw Liong Pokiam sehingga tampak sinar hitam menyambar.

“Hush, Giok Ciu, jangan kita main-main dengan pokiam kita. Kalau mau berlatih, mari kita gunakan ranting kayu seperti biasa,” berkata Sin Wan.

“Selalu berlatih menggunakan sepotong ranting, aku bosan, Koko. Kita diberi pedang, untuk apa kalau tidak digunakan?”

“Kita hanya menggunakan di mana perlu, Giok Ciu.”

“Koko, jangan kau terlalu kukuh. Kita belajar ilmu pedang dan telah bertahun-tahun kita pegang dan mainkan pedang kita, tetapi tidak sekali pedang kita boleh kita pakai latihan bersama. Mengapakah? Bukankah kedua pedang kita sama kuatnya? Nah, marilah kita mencobanya sekalian melihat pedang siapa lebih hebat!”

Mendengar desakan dan bujukan nona itu, Sin Wan tertarik juga. Memang Suhunya orang aneh dan kukuh sehingga belum pernah mereka berlatih pedang bersama dengan menggunakan pedang tulen. Pedang itu hanya boleh dipakai sendiri saja. Karena itu, iapun ingin sekali mengukur kelihaian permainan Ouw Liong Kiam-Sut dari gadis itu dengan menggunakan pedang mereka yang asli.

Ketika Sin Wan mencabut Pek Liong Pokiam dan mereka mulai berlatih, maka tampaklah dua sinar hitam dan putih bergulung-gulung saling sambar dan saling belit. Bagaikan sepasang naga hitam dan putih sedang bersenda gurau dan berterbangan di antara mega-mega di angkasa. Keduanya merasa kagum sekali karena setiap serangan selalu menemui tangkisan yang tepat sekali sehingga keduanya merasa tidak berdaya!

Sungguh-sungguh Suhu mereka lihai sekali dalam memecah Sin-Liong Kiam-Sut menjadi dua macam ilmu pedang itu, karena jika dimainkan sendiri-sendiri kedua ilmu pedang Pek Liong Kiam-Sut dan Ouw Liong Kiam-Sut itu tampaknya berbeda sekali kembangannya dan mempunyai keistimewaan berbeda pula...

Kisah Sepasang Naga Jilid 08

KISAH SEPASANG NAGA JILID 08

Memang, ditempat kedua anak muda itu dulu terjatuh, terdapat lereng yang sangat curam menurun dan tak terkira dalamnya, dan di atas lereng tumbuhlah banyak pohon yang menghasilkan buah-buah. Hanya saja untuk mengambil buah-buah itu bukanlah pekerjaan mudah, karena lereng yang curam itu tak mungkin dituruni begitu saja tanpa bahaya tergelincir mengancam jiwa, dan sekali tergelincir, jangan harap akan tinggal hidup. Lereng itu tidak tampak dasarnya karena dalam dan panjangnya!

Tapi Sin Wan dan Giok Ciu cerdik dan tabah. Dari rumput alang-alang yang panjang dan kuat, Giok Ciu berhasil membuat pintalan tambang yang panjang lagi kuat. Kemudian Sin Wan menggunakan tambang yang dipegang Giok Ciu dari atas, untuk menuruni tebing itu dan memetik buah-buah mana saja yang disukainya. Dengan cara inilah maka mereka dapat makan buah-buah segar dan lezat setiap hari.

Demikianlah, dengan sangat tekun dan tak kenal lelah di bawah gemblengan Kakek yang luar biasa itu, Sin Wan dan Giok Ciu melatih diri dan mempelajari Sin-Liong Kiam-Sut. Setelah mempelajari ilmu pedang gaib ini selama dua tahun lebih, barulah mereka pahami seluruhnya! Kemudian datanglah giliran mempelajari ilmu lweekang yang tinggi dan untuk mempelajari ini, mereka harus tekun bersemedhi dan mempelajari peraturan napas yang berat sekali.

Cara-cara semedhi dan menahan napas seperti yang pernah mereka pelajari di bawah pimpinan Kwie Cu Ek dulu sangatlah ringan dan mudah jika dibandingkan cara-cara yang diberikan oleh Suhu mereka ini. Ada kalanya mereka diharuskan bersemedhi dengan jungkir balik yakni kepala di atas lantai dan kaki di atas dan mereka harus mempertahankan tubuh dalam keadaan ini sampai setengah hari!

Ada kalanya mereka harus menahan tubuh dengan sebelah tangan di atas tanah dan menggunakan tangan ini mengganjal tubuh sampai setengah hari lamanya. Dan banyak lagi macam cara bersemedhi yang aneh-aneh juga mereka diajar menahan jalan pernapasan mereka sedemikian rupa sehingga napas yang tersedot itu dapat dijalarkan ke bagian tubuh yang mereka kehendaki sehingga di bagian itu tampak hawa itu bergerak-gerak di bawah kulit seakan-akan ada seekor tikus yang bergerak-gerak dan berjalan di dalam tubuh mereka.

Latihan-latihan ini mendatangkan kemajuan besar sekali, baik dalam lweekang maupun ginkang mereka, juga membuat mereka menjadi tenang dan bersemangat. Pada suatu hari, ketika Sin Wan dan Giok Ciu asyik mengintai lewatnya binatang di atas sumur, tiba-tiba terdengar derap kaki binatang yang ringan sekali mendatang.

“Seekor kijang!” Sin Wan berkata gembira dan mempersiapkan sebuah batu tajam di tangannya.

Sudah lama sekali ia tidak makan daging kijang yang manis dan sedap. Ketika binatang itu datang dekat dengan loncatan kilat meloncati sumur itu, Sin Wan mengayunkan tangannya. Ia menanti jatuhnya korban itu ke dalam sumur. Tapi alangkah herannya ketika ditunggu-tunggu badan binatang itu tidak juga jatuh ke dalam sumur, padahal ia merasa pasti bahwa sambitannya tadi tentu mengenai sasaran.

“Sungguh heran dan aneh,” katanya kepada Giok Ciu.

“Kita harus melihat ke atas,” kata Giok Ciu. Karena terheran dan merasa penasaran, pula karena menyangka bahwa binatang itu tentu mati di pinggir tebing sumur dan perlu diambil, mereka sekali saja menggenjot tubuh.

Keduanya melayang ke atas dengan berbareng dan sesaat kemudian mereka telah menembus halimun yang menutup sumur itu dan keduanya berada di atas tanah di pinggir sumur. Untuk sejenak mereka agak silau melihat dunia luar, tetapi tiba-tiba mereka melihat bahwa di sekeliling sumur itu terdapat belasan orang yang berpakaian seragam dan bertopi runcing. Tentara Kaisar!

Keduanya segera mengenal mereka dan Sin Wan hendak buru-buru terjun kembali ke dalam sumur, tetapi ia melihat kijang besar dan muda berada di dekat orang-orang itu. Sementara itu, belasan tentara Kaisar itu ketika tiba-tiba melihat ada seorang pemuda tampan dan seorang gadis jelita melayang keluar dari sumur, menjadi demikian terkejut dan heran hingga mereka memandang kedua anak muda itu dengan mata terbelalak heran.

“Tuan-tuan, harap kalian kembalikan hasil buruanku itu.” Kata Sin Wan dengan tenang sambil menunjuk ke arah bangkai kijang.

Diantara pahlawan Kaisar itu terdapat seorang yang sombong dan suka mengagulkan kegagahannya. Ia adalah Song Tat Kin, murid dari Cin Cin Hoat-su si Pendeta tibet, maka kepandaiannya memang cukup tinggi. Apalagi pada saat itu ia bersama tiga belas orang kawannya yang kesemuanya adalah pahlawan-pahlawan dari keraton Kaisar dan kesemuanya memiliki silat yang cukup lihai. Bahkan diantaranya terdapat Sim Kwie si Walet Terbang yang mempunyai ginkang luar biasa sekali.

Tadipun Sim Kwie telah mendemontrasikan kepandaiannya dan mengejar binatang kijang itu. Tepat di atas sumur ia dapat mengejar dan pada saat ia hendak meloncati sumur, tiba-tiba ia melihat binatang itu seperti terpukul sesuatu dari bawah dan tubuh binatang itu terpental ke atas. Tetapi sebelum tubuh binatang itu terjatuh ke dalam sumur, Sin Kwie dengan cepat telah menyambutnya dan membawa loncat ke pinggir sumur.

Sambil memeriksa luka di dada binatang itu, Sim Kwie dan kawan-kawannya memandang ke dalam sumur dengan terheran-heran dan saling menduga-duga dan mempercakapkan hal yang ganjil ini. Kini melihat bahwa yang melukai kijang hanya seorang pemuda dan seorang gadis cantik, Song Tat Kin segera bertindak maju dan bertolak pinggang lalu berkata,

“Kau orang liar dari mana begitu berani mengaku-aku kijang ini? Yang menangkap adalah kami dan dagingnya adalah bagian kami pula. Kau orang hutan hayo pergi jangan mengganggu kami.”

Mendengar ucapan orang yang sangat kasar dan menghina ini, Sin Wan masih dapat menahan sabarnya, tetapi Giok Ciu yang lebih keras wataknya segera maju sambil menuding dengan telunjuknya yang runcing dan membentak nyaring,

“Laki-laki kasar yang tidak mengenal aturan! Kau bilang kijang itu kalian yang menangkap, mana buktinya? Tidak tahu malu merampas hak milik orang lain!”

Giok Ciu memang memiliki wajah yang cantik jelita dan potongan tubuh yang langsing berisi. Bagaikan bunga, dara yang berusia tujuh belas tahun ini, sedang harum-harumnya dan sedang indah menariknya, maka biarpun sederhana sekali pakaiannya, ia bahkan tampak makin jelita dan menarik. Kini ia sedang marah, sepasang matanya berapi-api dan kedua pipinya kemerah-merahan, maka ia lebih manis pula. Song Tat Kin melihat dara itu marah-marah sambil menunjuk-nunjuk padanya, tidak menjadi marah bahkan tertawa bergelak lalu berkata kepada kawan-kawannya.

“He, kawan-kawan lihatlah. Kuda betina gunung ini tampaknya liar sekali! Tapi, alangkah indah bentuk badannya. Lihat matanya, jelita dan bersih bagaikan mata burung Hong, dan pipinya itu, ah segar kemerah-merahan.”

Kawan-kawannya tersenyum dan ada yang tertawa girang, lalu terdengar ucapan, “Song Twako, kau penjinak kuda betina liar, agaknya yang seekor ini cukup bagus untuk kau bikin jinak!”

Mendengar kata-kata mereka ini, Giok Ciu yang masih hijau tidak mengerti bahwa yang dimaksudkan kuda betina liar adalah dirinya, maka ia memandang ke kanan-kiri dan mengganggap pembicaraan mereka itu tidak karuan. Tetapi Sin Wan mengerti maksud kata-kata mereka yang kotor dan sangat menghina itu, maka kini lenyaplah kesabarannya. Ia maju dengan mata berkilat,

“Tuan-tuan harap jaga mulut dan jangan bicara sembarangan!” Ia memperingatkan mereka.

Orang tinggi besar muka hitam yang tadi memuji-muji Song Tat Kin segera berkata dengan tertawa lebar, “Song Twako! Lekas kau bikin jinak kuda liar ini, biar aku yang mengusir anjing yang pandai menggonggong ini!”

Sehabis berkata demikian, si Tinggi Besar lalu mengayun kepalan tangannya yang sebesar kepala orang biasa itu ke arah dada Sin Wan dalam gerak tipu Pai-San To-Hai atau Dorong Gunung Uruk Laut. Gerakan ini dilakukan dengan tenaga ratusan kati beratnya karena maksudnya sekali dorong saja membuat Sin Wan terlempar jauh atau kalau mungkin terdorong masuk ke dalam sumur kembali.

Tetapi Sin Wan cepat miringkan tubuh dan berkelit sambil berkata, “Jangan kalian mendesak, kami tidak mencari permusuhan!”

Tetapi si Tinggi Besar yang merasa terhina karena serangannya tidak mengenai sasaran dan karena kata-kata Sin Wan itu dianggap sebagai pernyataan takut, lalu menyerang makin hebat dengan tipu Hek-Houw To-Sim atau Macan Hitam Sambar Hati. Pukulannya berat dan keras, tanda bahwa ia adalah seorang ahli gwakang yang pandai, juga ilmu silatnya tidak lemah dan gerakkannya tetap.

Sekali lagi Sin Wan berkelit lincah. Sementara itu, Song Tat Kin yang melihat betapa kawannya telah menyerang Sin Wan yang agaknya jerih, lalu maju ke arah Giok Ciu dengan sikap yang sangat menjemukan.

“Nona, jangan kau marah-marah. Marilah ikut aku ke kota, untuk apa tinggal di tempat seperti ini? Di kota kau akan hidup mewah dan senang!”

Ia melihat betapa kulit muka Giok-Ciu yang halus lemas itu perlahan-lahan berubah merah dan menganggap bahwa gadis itu malu-malu, sama sekali ia tidak menyangka bahwa hawa marah Giok Ciu sedang berkobar dan seakan-akan mulai membakar gadis itu.

Setelah Song Tat Kin menutup mulutnya, Giok Ciu berseru keras untuk melepas hawa marah yang mendesak dadanya, dan sebelum semua orang tahu apa yang telah terjadi, tahu-tahu Giok Ciu lenyap dan berubah bayangan putih berkelebat cepat ke arah Song Tat Kin dan tahu-tahu orang she Song itu terlempar jauh sekali dan roboh dengan pingsan dan mata terbalik!

Ternyata dara itu karena marahnya yang tak dapat ditahan lagi telah mempergunakan Tipu Cio-Po Thian-Keng atau Batu Meledak Langit Gempar dibarengi ginkangnya yang luar biasa, sekali menyerang tepat menghantam dada Song Tat Kin sehingga mendapat luka di dalam!

Kini terkejutlah semua orang, terutama Sim Kwie si Walet Terbang, karena barusan ia telah menyaksikan sendiri bahwa ginkang gadis itu jauh lebih hebat dari ginkangnya sendiri yang telah cukup tinggi dan membuat ia dijuluki si Walet Terbang! Maklumlah ia menghadapi orang berilmu tinggi dan ia tahu bahwa kepandaian Song Tat Kin setingkat dengan kepandaiannya, maka tidak mungkin bisa menang kalau melawan gadis itu seorang diri. Ia lalu berseru,

“Kawan-kawan, serbu!”

Maka belasan orang itu lalu menyerang Giok Ciu! Mereka menyangka bahwa yang tinggi ilmu kepandaiannya hanyalah Giok Ciu saja, sedangkan Sin Wan cukuplah dilawan oleh si tinggi besar itu. Tidak tahunya, ketika melihat betapa Giok Ciu timbul marahnya dan kini dikeroyok oleh belasan pahlawan Kaisar itu, Sin Wan lalu berseru,

“Pergilah kau!” dan tahu tahu si tinggi besar yang bermuka hitam itu terlempar jauh dan tak dapat bangun lagi.

Paniklah kini para penyerbu dan sebagian lari mengeroyok Sin Wan. Enam orang termasuk Sin Kwie yang lihai mengeroyok Giok Ciu dan enam orang pula mengeroyok Sin Wan. Dan karena ternyata bahwa kedua anak muda itu benar-benar sangat lihai, mereka tidak sungkan-sungkan lagi dan semua mencabut senjata masing-masing.

Dua belas orang yang mengeroyok Sin Wan dan Giok Ciu adalah pahlawan-pahlawan Kaisar kelas tiga yang memiliki kepandaian tinggi juga, maka setelah semua menggunakan senjata, mau tidak mau Sin Wan dan Giok Ciu menjadi terdesak. Baiknya kedua anak muda ini memiliki ginkang yang sempurna, sehingga mereka dapat menghindarkan diri dari semua serangan senjata tajam yang menghujani mereka.

Kalau saja pada saat itu mereka memegang pedang pusaka mereka, tentu sebentar saja semua lawannya akan mudah dirobohkan tetapi justru pada saat itu mereka tidak membawa pedang. Tiba-tiba Sin Wan teringat ajaran Kakeknya untuk menggunakan suara suling membikin kalut musuh, maka ia segera berkata kepada Giok Ciu sambil berkelit,

“Masih adakah suling kecilku dulu padamu?”

Mendengar ini, Giok Ciu diam-diam mengomel. Mengapa dalam keadaan terdesak dan berbahaya seperti ini tiba-tiba membicarakan tentang hal itu? Tetapi ia menjawab juga,

“Tentu saja ada. Ada apakah?”

“Kau dapat mengeluarkan itu? Coba beri aku pinjam sebentar!”

Kini tahulah Giok Ciu akan maksud pemuda itu. Ia menggunakan kepandaiannya meringankan tubuh untuk meloncat jauh dari musuh-musuhnya, lalu cepat sekali merogoh ke dalam bajunya untuk mengambil suling kecil yang ia selipkan di ikat pinggangnya sebelah dalam.

Sebenarnya suling itu ia telah memberi ikatan dan selalu diikatkan dengan pinggang sehinnga suling itu takkan terlepas jatuh, maka karena keadaan mendesak, ia mencabut saja suling itu hingga tali ikatannya putus. Ia meloncat lagi ke dekat Sin Wan dan melempar suling itu padanya.

“Nah, terimalah ini!” teriaknya.

Sin Wan lalu cepat menyambut benda hitam yang melayang ke arahnya itu. Ia heran ketika menerima suling itu, karena merasa betapa benda itu makin mengkilap dan terasa hangat! Ia tidak tahu bahwa tunangannya itu sering kali menggosok-gosok sulingnya dan setiap saat suling itu tidak terpisah dari tubuhnya.

Cersil karya Kho Ping Hoo Serial Jago Pedang Tak Bernama

Setelah menerima suling itu, Sin Wan lalu menempelkan peniupnya di mulut, lalu sambil bersuling ia bersilat dengan kedua kakinya menghindar semua serangan. Para pengeroyoknya tadinya menduga bahwa pemuda itu hendak menggunakan sulingnya sebagai senjata, tetapi setelah melihat dan mendengar pemuda itu meniup sulingnya, mereka terheran sekali! Tetapi keheranan mereka itu terganti dengan kebingungan karena tiba-tiba suara suling yang mendayu-dayu dan tinggi rendah mengalun itu seakan-akan merupakan pisau tajam yang mengiris jantung dan menusuk-nusuk perasaan mereka sehingga permaianan silat mereka kacau balau!

Sebentar saja Sin Wan telah berhasil menendang dua orang pengeroyok! Tiba-tiba, melihat hasil baik kawannya, Giok Ciu juga mengeluarkan ilmu simpanan pemberian Ayahnya, dan terdengarlah suara pekik dan suitan nyaring keluar dari mulut dan dada dari gadis jelita itu. Karena suara ini dikeluarkan dengan tenaga Tian-tan dan seperti suara suling Sin Wan, mengandung tenaga hawa lweekang yang tinggi, maka para pengeroyok segera merasa kehebatan pengaruh suara itu.

Mereka merasa ngeri dan menggigil tubuh mereka sehingga serangan mereka yang tadinya teratur baik menjadi kacau balau. Hanya Sim Kwie seorang yang memiliki lweekang lumayan, masih dapat mengerahkan tenaga lweekang untuk menolak pengaruh mujijat ini, tetapi kelima kawannya semua menjadi kacau permainannya.

Dengan gunakan kelincahannya, Giok Ciu akhirnya dapat juga memukul seorang pengeroyok dan sekalian merampas pedangnya! Kini dengan pedang di tangan, walaupun pedang itu hanya sebatang pedang biasa, Giok Ciu berubah seakan-akan dari seekor domba menjadi seekor harimau betina! Ia berseru keras. Tubuhnya lenyap dan terkurung oleh sinar pedangnya yang berkilauan ketika ia mainkan Sin-Liong Kiam-Sut!

Terkejutlah semua pengeroyoknya, apalagi setelah beberapa jurus saja dua orang telah dirobohkan oleh gadis itu! Sim Kwie kaget sekali dan ia mengeluh mengapa hari ini mereka bertemu dengan dua setan muda yang lihai itu! Sementara itu, Sin Wan yang hanya menghadapi empat orang pengeroyok, lalu menyimpan sulingnya dan bersilat seenaknya saja, seakan-akan mempermainkan para pengeroyoknya yang sudah bernapas empas-empis! Pada saat itu, terdengar teriakan Sim Kwie,

“Cuwi, tahan!” Karena mengenal tingkat para pahlawan itu, yang berada dibawah Son Tat Kin hanya Sim Kwie, maka para pahlawan itu tentu saja mendengar perintah dan taat, karena Son Tat Kin sendiri telah roboh, mereka lalu meloncat mundur dengan hati lega, karena memang keadaan mereka berbahaya sekali.

“Jiwi Enghiong, harap maafkan kami.” Sim Kwie mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada Sin Wan dan Giok Ciu. “Agaknya telah ada salah paham yang besar. Kami sama sekali tidak tahu berhadapan dengan orang-orang gagah dan beberapa orang kawan kami telah berlaku kurang ajar! Harap maafkan kami. Boleh kami mengetahui nama jiwi yang mulia?”

Giok Ciu tersenyum menyindir. “Hm, baru sekarang kalian merasakan kelihaian kami, ya? Sungguh tak tahu diri!”

Sin Wan juga mencela, “Kalau tadi tuan-tuan menggunakan kata-kata halus tidak nanti akan timbul korban-korban di antara tuan-tuan. Kami tidak perlu kenalkan nama, juga tidak perlu mengetahui nama kalian. Sekarang lebih baik kalian bawa saja kawan-kawanmu yang luka dan tinggalkan tempat ini.”

Sim Kwie mendongkol sekali karena terang sekali ia tidak dipandang sebelah mata oleh kedua pemuda itu, padahal oleh kalangan kang-ouw, nama si Walet Terbang bukanlah nama kecil-kecilan. Ia segera berkata dengan bersungut-sungut,

“Hm, biarlah jiwi boleh merasa bangga akan kemenangan ini. Biarpun jiwi tidak memberi tahukan nama tapi tiupan suling tadi mengingatkan aku akan seseorang!”

Mendengar ini, sekali loncat saja, Giok Ciu telah berada di depannya dan mengancam dengan pedang rampasannya. “Apa katamu? Mengingatkan kau akan seseorang? Hayo, katakan, siapa orang yang kau maksudkan itu!”

Sim Kwie mundur dengan muka pucat. Ia telah tahu kelihaian nona muda ini dan percuma kalau ia melawan juga. Sin Wan membujuk Giok Ciu.

“Sudahlah, moi-moi jangan membikin takut dia. Lihat mukanya menjadi biru karena ketakutan. He, pahlawan Raja dengarlah. Memang aku adalah cucu dari Kang-Lam Ciuhiap, si Peniup Suling!”

Sim Kwie mengangkat tangan menjura, “Memang sudah kuduga! Terima kasih atas kejujuranmu.”

Ia lalu perintahkan kawan-kawannya untuk mengangkat para korban dan meninggalkan tempat itu cepat-cepat. Sin Wan dan Giok Ciu saling pandang kemudian mereka tersenyum puas karena kemenangan tadi. Sin Wan menghela napas, lalu memandang suling itu.

“Untung ada suling ini hingga kita teringat akan ilmu Kakekku dan Ayahmu.” Ia lalu menyerahkan suling itu kembali kepada Giok Ciu yang menerimanya dengan muka berubah merah.

“Ternyata kau… kau selalu simpan suling ini baik-baik...” katanya menggoda Giok Ciu.

Giok Ciu menundukkan kepala, mengerling tajam dan menggigit bibirnya. Ia merasa gemas sekali digoda dan hendak membalas dendam. “Koko, apakah dulu kau tidak menerima sesuatu dari Ibumu?”

“Menerima sesuatu? Apakah itu aku tidak ingat lagi.” Jawab Sin Wan.

Giok Ciu kewalahan. “Menerima sesuatu yang berasal dari... dari... Eh, sebagai... pengganti suling ini…”

“Sesuatu sebagai pengganti suling ini? Ah, aku tidak ingat lagi. Coba kau katakan barang apa itu, tentu aku ingat.” Sin Wan sengaja dan berpura-pura lupa sehingga Giok Ciu makin gemas dan kewalahan.

“Barang… barang kecil...” katanya dengan muka merah.

“Kecil?” Sin Wan pura-pura memandang ke arah awan sambil mengerutkan jidat berpikir keras. “Eh, barang kecil apa, ya? Sebagaimana kecilnya? Ada segini?” Ia menggunakan kedua tangannya membuat ukuran.

“Lebih kecil lagi...” Giok Ciu berkata yang menduga bahwa Sin Wan betul-betul lupa.

“Seperti ini?” Sin Wan memperkecil ukuran dengan tangannya.

“Lebih kecil sedikit lagi,” kata Giok Ciu yang menjadi gemas.

“Sebeginikah?”

“Ya, sebegitulah kecilnya. Ah… sudahlah, maka kau perhatikan barang tak berharga itu. Mungkin telah kau buang jauh-jauh!”

Tiba-tiba Giok Ciu tampak menyesal dan marah, bahkan kedua matanya tiba-tiba menjadi merah! Sin Wan melihat betapa gadis itu seperti yang hendak menangis, lalu timbul kasihannya.

“O, barang itukah yang kau masudkkan? Ada, ada... ada kusimpan!”

Giok Ciu cepat menengok dan memandang ia dengan mata bersinar. “Betulkan kau simpan barang itu?”

Sin Wan mengangguk kuat. “Ada kusimpan baik-baik.”

“Betulkah? Di mana kau simpan barang itu?”

“Di... Dimana ? Ah, di tempat yang baik.”

“Betulkah itu? Hati-hati jangan disimpan sembarangan takut hilang.”

“Tidak tidak mungkin hilang. Bukankah sulingku juga kau simpan baik-baik dan tidak hilang?” kata Sin Wan sambil memandang suling hitam yang dipegang gadis itu.

“Ah, kalau sulingmu ini lain lagi… barang ini... ku simpan di... dipakaianku selalu,” jawab Giok Ciu malu-malu.

“Barang itupun... sudah kusimpan baik-baik, janga kau takut, takkan hilang.”

“Apakah... apakah di saku bajumu selalu?” tanya Giok Ciu sambil memandang wajah Sin Wan dengan tajam. Sin Wan balas memandang.

“Mengapa harus dimasukkan saku?”

“Habis di manakah?” Sin Wan tetap tidak mau mengaku.

Tiba-tiba Giok Ciu berkata sambil tersenyum. “Ah, tidak mengaku juga tidak apa, aku pernah melihat barang itu tersembul keluar.”

Terkejutlah Sin Wan, “He? Apa katamu? Tersembul keluar?” dan diam-diam pemuda itu melirik ke arah dadanya. Pancingan gadis cerdik itu berhasil dan lirikan mata Sin Wan ke arah dadanya memperkuat dugaannya. Giok Ciu bangkit dari duduknya lalu tiba-tiba suling itu terlepas dari tangannya, menggelinding di atas tanah,

“Tolong, Koko, sulingku jatuh...” Sin Wan buru-buru membungkuk dan mengambil barang itu, tetapi pada saat ia membungkuk ia merasa sesuatu bergerak di lehernya. Ia terkejut dan segera berdiri dan... Ia melihat Giok Ciu tertawa girang sambil menunjuk ke arah dada pemuda itu. Kini Sin Wan tundukkan muka untuk memandang, ternyata sepasang sepatu kecil yang tadinya tergantung di dada dengan sutera biru yang dikalungkan dileher, ternyata telah keluar dan bergerak-gerak di luar bajunya! Ternyata ketika ia membungkuk tadi, Giok Ciu telah menyambar pita sutera itu dan membetotnya sehingga sepatunya terbetot keluar! Sin Wan tak dapat berkata apa-apa hanya memandang wajah Giok Ciu dengan mulut tersenyum lebar dan muka kemerah-merahan.

“Bukankah kataku tadi telah kusimpan baik-baik? Kau sungguh kurang percaya.”

“Sekarang aku percaya dan puas, terimakasih Koko,” jawab Giok Ciu dengan manis.

“Hayo kita kembali, telah terlampau lama kita keluar, nanti Suhu marah,” tiba-tiba Sin Wan berkata.

Ucapan ini mengingatkan Giok Ciu dan mereka segera meloncat masuk ke dalam sumur itu dengan khawatir kalau-kalau gurunya akan marah. Betul saja, baru kaki mereka menginjak pasir di dalam sumur itu, telah terdengar suara Suhu mereka memanggil dari dalam gua ular. Mereka segera masuk dan mendapatkan Bu Beng Lojin duduk bersemedhi dan menghadap ke dalam. Tanpa menengok lagi, orang tua aneh itu berkata, suaranya tetap dan keras.

“Sin Wan dan Giok Ciu! Kalian telah melanggar laranganku dan keluar dari tempat ini sebelum waktunya!”

Sin Wan dan Giok Ciu segera menjatuhkan diri berlutut, “Ampunkan teecu berdua Suhu. Kami tidak sengaja keluar dan...”

“Cukup! Aku sudah tahu semua. Pelanggaranmu tidak kusesalkan sekali, tetapi yang paling kusesalkan ialah karena kalian melanggar maka kalian bertemu dengan kaki tangan Kaisar itu! Dan kalian tentu tahu akan akibat pertempuran tadi. Sekarang terpaksa kalian harus keluar dari sini!”

Terkejut sekali kedua murid itu mendengar ini. Dengan khidmad mereka berlutut dan memohon ampun.

“Muridku, jangan menganggap aku terlampau kejam kepada kalian. Aku suruh kalian keluar dan pergi bukanlah dengan maksud mengusir karena kemarahanku. Aku suruh kau pergi untuk mendahului mereka dan memukul dulu sebelum mereka menyerbu dan mencari kalian kesini! Bukankah kalian hendak menuntut balas? Nah, sekarang waktunya! Berangkatlah dan bawalah pedangmu. Tetapi, berhati-hatilah, lawan-lawanmu bukan orang lemah!”

Kalau tadinya kedua murid itu merasa bingung dan takut, kini mereka merasa girang sekali. Mereka menghaturkan terima kasih kepada Suhu mereka yang agaknya tidak memperdulikan mereka karena duduknya membelakangi mereka itu. Kemudian mereka berpamit tanpa dijawab oleh Bu Beng Lojin, Sin Wan dan Giok Ciu mengambil kedua pokiam mereka dan meloncat keluar dari sumur itu. Mereka merasa seakan-akan baru sadar dari mimpi dan seakan-akan baru terbebas dari kurungan.

Hati mereka gembira sekali dan mereka berjalan turun gunung sambil bergandeng tangan seperti lakunya dua orang kanak-kanak nakal. Sin Wan seperti biasa mengenakan pakaian warna putih yang menjadi kesukaannya semenjak kecil, sedangkan Giok Ciu mengenakan pakaiannya yang berwarna gelap kehitam-hitaman. Memang menurut nasihat dari Suhu mereka, warna pakaian yang paling cocok dan tepat bagi Sin Wan ialah putih dan bagi Giok Ciu warna hitam!

“Karena kalian memiliki pedang pusaka yang ampuh dan keramat, maka kalian juga seberapa bisa harus menyesuaikan keadaanmu dengan pedang itu sehingga pedang pusaka itu akan lebih besar faedahnya,” demikianlah Kakek yang luar biasa itu berkata ketika mereka baru berlatih pedang.

Karena pemandangan alam yang indah dan hawa gunung yang segar, Giok Ciu timbul gembiranya dan berkata, “Koko, hawa begini bagus. Marilah kita berlatih pedang. Sekarang kita berada di luar dan bebas merdeka, aku ingin sekali mencoba pokiamku.” Sehabis berkata demikian, ia mencabut Ouw Liong Pokiam sehingga tampak sinar hitam menyambar.

“Hush, Giok Ciu, jangan kita main-main dengan pokiam kita. Kalau mau berlatih, mari kita gunakan ranting kayu seperti biasa,” berkata Sin Wan.

“Selalu berlatih menggunakan sepotong ranting, aku bosan, Koko. Kita diberi pedang, untuk apa kalau tidak digunakan?”

“Kita hanya menggunakan di mana perlu, Giok Ciu.”

“Koko, jangan kau terlalu kukuh. Kita belajar ilmu pedang dan telah bertahun-tahun kita pegang dan mainkan pedang kita, tetapi tidak sekali pedang kita boleh kita pakai latihan bersama. Mengapakah? Bukankah kedua pedang kita sama kuatnya? Nah, marilah kita mencobanya sekalian melihat pedang siapa lebih hebat!”

Mendengar desakan dan bujukan nona itu, Sin Wan tertarik juga. Memang Suhunya orang aneh dan kukuh sehingga belum pernah mereka berlatih pedang bersama dengan menggunakan pedang tulen. Pedang itu hanya boleh dipakai sendiri saja. Karena itu, iapun ingin sekali mengukur kelihaian permainan Ouw Liong Kiam-Sut dari gadis itu dengan menggunakan pedang mereka yang asli.

Ketika Sin Wan mencabut Pek Liong Pokiam dan mereka mulai berlatih, maka tampaklah dua sinar hitam dan putih bergulung-gulung saling sambar dan saling belit. Bagaikan sepasang naga hitam dan putih sedang bersenda gurau dan berterbangan di antara mega-mega di angkasa. Keduanya merasa kagum sekali karena setiap serangan selalu menemui tangkisan yang tepat sekali sehingga keduanya merasa tidak berdaya!

Sungguh-sungguh Suhu mereka lihai sekali dalam memecah Sin-Liong Kiam-Sut menjadi dua macam ilmu pedang itu, karena jika dimainkan sendiri-sendiri kedua ilmu pedang Pek Liong Kiam-Sut dan Ouw Liong Kiam-Sut itu tampaknya berbeda sekali kembangannya dan mempunyai keistimewaan berbeda pula...