Kisah Sepasang Naga Jilid 02

KISAH SEPASANG NAGA JILID 02

Sin Wan merasa heran sekali dan ia segera gunakan kepandaiannya mengejar, tapi biarpun ia lari secepatnya, ternyata ia tidak mampu mengejar anak perempuan itu! Anak perempuan itu agaknya melihat Sin Wan dan sengaja mempermainkannya, karena ia sering mengengok sambil tertawa, lalu loncat dan lari pula ke atas makin cepat.

Sin Wan merasa penasaran sekali. Masak ia harus kalah oleh seorang perempuan yang tidak lebih besar darinya? Ia kerahkan ginkangnya dan mengejar makin cepat pula. Dalam kejar-mengejar ini, mereka naik makin tinggi dan jalan juga tidak semudah tadi. Kini jalan mereka banyak terhalang jurang-jurang yang curam dan batu-batu cadas dan karang yang tinggi bagaikan menara. Tapi gadis cilik itu agaknya telah hafal akan jalan disitu, karena ia dapat memilih jalan dengan cepat.

Sin Wan tidak mau mengalah dan mengikuti jejaknya. Ia bertekad takkan berhenti mengejar sebelum dapat menyandak anak perempuan itu. Tiba-tiba di tempat yang tinggi sekali, anak perempuan itu berhenti dan berdiri sambil bertolak pinggang menghadapi Sin Wan sambil tertawa menghina. Sin Wan juga berusaha naik secepatnya, tapi ia telah merasa lelah sekali. Ketika ia tiba di hadapan gadis cilik itu, ia memandangnya dengan penasaran dan mendongkol.

Gadis cilik itu berpakaian warna biru, dan senyumnya manis sekali. Dua titik lesung pipit menghias kanan kiri bibirnya yang kecil merah, dan rambutnya yang hitam panjang itu diiikat merupakan jambul diatas kepala sebelah kanan dan kiri, lalu terurai kebelakang. Wajahnya tampak berseri dan kemerah-merahan, agaknya iapun lelah juga. Dengan mendongkol, mau tidak mau Sin Wan harus mengaku bahwa ilmu meringankan tubuh anak perempuan itu masih menang sedikit darinya!

“Hei, kenapa kau kejar-kejar aku?” tegur gadis cilik itu dengan suara yang nyaring dan tinggi.

“Kenapa kau belari-lari seperti maling kesiangan?” Sin Wan balas bertanya.

Gadis cilik itu tertawa geli mendengar pertanyaan Sin Wan, suara ketawanya merdu dan bebas, dan Sin Wan melihat dua baris gigi yang kecil rata dan mengkilap putih hingga wajah anak perempuan itu tampak makin manis.

“Kau tidak kuat mengejarku mengapa memaksa? Ah, kasihan kakimu tentu lelah sekali.” Gadis itu menyindir.

Merahlah wajah Sin Wan, ia angkat dadanya dan memandang marah. “Kau kira aku tak dapat mengejarmu? Ke mana saja kau lari, aku pasti dapat mengejarmu!”

“Betulkah? Kau lihat jurang ini, dapatkah kau meloncatinya?”

Sin Wan memandang ke depan, ternyata disitu terdapat sebuah jurang yang selain curam juga lebar sekali, tidak kurang dari lima belas tombak. Bagaimana ia bisa loncat sejauh itu? Engkongnya yang terkenal ahli dalam kepandaian loncat jauh, belum tentu dapat loncati jurang selebar ini. Tapi dia tidak percaya bahwa gadis itu dapat meloncati jurang itu, maka iapun angkat dada dan menantang.

“Jurang sebegini saja apa susahnya untuk diloncati? Aku katakan tadi, kemanapun kau pergi, aku tentu dapat mengejarmu. Biarpun kau akan loncat melalui jurang ini, aku pasti dapat mengejar.”

Gadis itu memandangnya tak percaya. “Benarkah? Coba kita buktikan!”

Kemudian dengan lincah dan ringan sekali gadis itu loncat ke atas karang di belakang mereka. Karang ini menjulang tinggi dan di dekat situ terdapat beberapa batang poon semacam liu, tapi batangnya lebih kecil dan tinggi. Gadis itu lalu menghampiri sebatang pohon itu, dengan kedua tangan, dengan kedua tangan pegang puncak pohon dan menariknya kebawah dengan tenaga yang mengagumkan. Kemudian dia berseru kepada Sin Wan yang melihat semua itu dengan heran.

“Nah, kau lihatlah. Aku hendak menyebrang!”

Dengan kata-kata ini, gadis itu lalu lepaskan tenaganya hingga puncak pohon terayun keras karena batang pohon itu memang kuat dan ulat serta mempunyai sifat keras seperti baja. Karena ayunan batang pohon itu keras sekali, maka tubuh gadis itupun terayun dan dengan ambil waktu dan saat yang tepat sekali gadis itu lepaskan pegagannya hingga dilontarkan keudara oleh ayunan itu. Ia atur gerakan dan tenaga ayunan itu dengan berjumpalitan hingga sebentar saja ia telah berada di seberang jurang, turun dengan gerakan alap-alap menyambar kelinci indah.

“Dapatkah kau loncat kesini?” tantangnya kepada Sin Wan sambil tersenyum.

Sin Wan kagum sekali melihat akal dan gerakan gadis yang cerdik itu hingga tanpa terasa ia berseru, “Bagus!”

Ketika mendengar tantangan itu, ia putar otak mencari akal. Untuk meloncat begitu saja, pasti ia tidak akan berhasil dan tentu ia akan terjatuh ke dalam jurang dan tubuhnya kan hancur. Untuk meniru akal dan gerakan itu ia masih sanggup, tapi ia tidak sudi lakukan karena ia tidak mau ditertawakan nanti oleh gadis itu. Ia lalu teringat akan tambang dan besi pengaitnya. Tapi tambang itu belum tentu ada sepuluh tombak panjangnya. Tiba-tiba ketika memandang ke atas dan melihat batu karang yang tinggi menjulang di dekatnya itu, ia mendapat akal.

“Tunggulah, sebentar aku akan mengejarmu!” teriaknya.

Seperti gadis tadi, iapun loncat ke atas dengan dan cekatan sekali ia lempar besi kaitan itu ke atas hingga dengan tepat besi itu mengait pada pinggir karang yang kuat di puncak. Setelah menarik-narik tambang dan mendapat kepastian bahwa tali dan besi pengait itu sudah kuat-kuat mengait batu karang diatas, ia lalu bawa ujung tali ke puncak karang lain, kemudian sambil berseru,

“Awas, aku mengejarmu!” Ia loncat dari atas puncak karang itu dan tubuhnya terayun sambil pegang ujung tambang.

Betul saja, tambang itu tidak cukup panjang untuk mencapai seberang jurang. Melihat hal ini gadis cilik itu terkejut dan berkhawatir sekali hingga ia menjerit. Tapi Sin Wan yang sudah tahu bahwa tambangnya takkan dapat sampai ke seberang dan sudah siap sedia untuk menghadapi hal ini, gunakan saat tenaga ayunan tambang belum habis lalu loncat keras menuju ke seberang. Dengan beberapa kali jungkir balik, ia berhasil juga turn di sebelah gadis itu yang memandangnya dengan mata terbelalak dan kagum.

“Kau hebat!” katanya memuji sambil tersenyum dan mendengar pujian serta melihat senyuman ini, kemarahan hati Sin Wan lenyap seketika. Ia memang bukan orang pemarah, dan tadi ia juga tidak marah, hanya mendongkol dan penasaran.

“Kau juga lihai,” ia balas memuji.

“Tapi kurasa kau tidak akan dapat menangkan ilmu silatku,” gadis itu berkata lagi.

Timbul pulalah rasa penasaran Sin Wan yang tadinya sudah tenggelam dan lenyap. Ia tadinya pandangi tambang yang terayun-ayun karena dilepaskan tadi dengan agak kecewa dan sayang, tapi kini ia menengok dan pandang gadis itu dengan tajam. Ia sudah lupa sama sekali akan kekecewaannya karena kehilangan tambang itu.

“Apa katamu? Kau dapat menangkap aku dalam ilmu silat? Hayo, kau cobalah!” tantangnya sambil gulung lengan bajunya.

Gadis itu tersenyum menggoda. “Awas ya, kalau terpukul olehku jangan kau menangis!” Dan ia lalu maju menyerang dengan cepat ke arah dada Sin Wan.

Pemuda ini berkelit cepat dan hatinya terkesiap juga melihat betapa gadis cilik itu datang-datang menyerang dengan gerakan dari cabang Kun-Lun yang berbahaya! Ia lalu balas menyerang dan untuk menebus kekalahannya dalam balap lari tadi. Sin Wan keluarkan semua ilmu pukulan yang ia pelajari dari Kang Lam Ciuhiap!

Biarpun gadis itu memiliki dasar-dasar ilmu sila Kun-lun yang cukup lihai, namun ia tidak tahan juga menghadapi serbuan Sin Wan yang mempunyai pukulan anep dan cepat juga. Terhadap Sin Wan ia kalah tenaga hingga ke dua lengannya yang digunakan untuk menangkis sudah merasa sakit!

Akhirnya gadis itu lalu balikkan tubuh dan lari! Entah bagaimana, tiba-tiba timbul nafsu dalam hati Sin Wan untuk menjatuhkan gadis itu dan memaksa gadis itu mengakui kekalahannya! Nafsu ini membuat ia loncat dan lari mengejar gadis itu dengan cepat.

Kedua anak itu tidak tahu bahwa pada saat itu, mendung yang tebal dan hitam mengancam tempat di mana mereka berada! Gadis itu lari makin cepat ke atas, dikejar oleh Sin Wan. Karena gugup, maka gadis itu agaknya salah ambil jalan dan mereka tiba di sebuah jalan buntu dimana hanya tampak jurang-jurang dalam di depan dan sebelah kanannya, sedangkan sebelah kiri mereka terdapat dinding karang yang tebal dan tinggi. Jalan maju tidak ada lagi, yang ada hanya jalan mundur lagi. Gadis itu bingung dan dengan kertak gigi ia balikkan tubuh menghadapi Sin Wan yang mendatangi dengan cepat.

Sementara itu, cuaca yang tadinya terang telah berubah suram dan hampir gelap karena mendung tebal telah datang menyerbu. Hawa lalu menjadi dingin luar biasa! Sin Wan melihat betapa gadis itu terhalang jalannya menjadi girang dan berseru,

“Kau hendak lari kemana?”

Sementara gadis itu, dengan nekad lalu menyerang lagi dan mereka segera bertempur lagi di tebing jurang yang berbahaya itu, sedangkan dari atas kepala mereka mendung hitam tebal menyelubungi tempat itu dan menghalang cahaya matahari hingga keadaan menjadi makin gelap. Tiba-tiba mendung hitam dan gelap itu mengakibatkan munculnya kilat dan guntur yang menggelegar. Kedua anak yang sedang bertempur itu menjadi kaget. Mereka loncat mundur dan menengok ke atas.

Alangkah terkejut dan takut mereka ketika melihat betapa mendung hitam tebal telah menutup tempat itu dan membuat semua menjadi gelap dan betapa kilat dan guntur merupakan lidah lidah api yang menakutkan menyambar nyambar di atas mereka.

Gadis cilik itu merasa ngeri dan menjerit ketakutan, lalu menubruk Sin Wan, memeluknya dan menangis dengan wajah pucat! Sin Wan juga merasa betapa tubuhnya menjadi dingin sekali sampai hampir beku, kemudian ketika ia memandang lagi keatas, ia hampir saja memekik karena terkejut dan ngeri. Ia melihat dengan samar-samar betapa di dalam kegelapan mendung itu ia melihat berkelebatnya dua ekor naga hitam dan putih!

Ia melihat betapa dua pasang mata naga itu menyinarkan cahaya merah menyilaukan dan betapa lidah mereka menjululur keluar mengluarkan api menakutkan sekali! Dengan tak terasa Sin Wan peluk tubuh gadis cilik itu dengan erat dan ia berdiri untuk melarikan diri. Tapi tiba-tiba ia merasa betapa ekor kedua naga itu bergerak dan menyabet ke arah ia dan gadis itu.

Sabetan ekor itu mendatangkan angin dingin dan Sin Wan terlempar oleh angin itu hingga terhuyung huyung. Hampir saja ia terlempar ke dalam jurang sebelah depan yang sangat curam dan banyak batu-batu karang tajam bagaikan ujung golok terpancang di bawah! Tapi dengan sekuat tenaga Sin Wan dan gadis itu saling berpegangan dan Sin Wan seret gadis menggelinding di atas tanah menuju ke dinding batu karang hingga mereka terbentur karang!

Pada saat itu dari atas datang hujan yang menimpa badan dalam butir besar bagaikan peluru saja hingga menerbitkan rasa sakit. Dan pada saat itu tampak cahaya kilat gemerlapan di di atas kepala mereka. Dalam pandangan Sin Wan tampak kepala sepasang naga itu dan menambar dan hendak menggigit mereka, maka sambil memekik ngeri ia tarik tangan gadis itu loncat ke kanan.

Karena keadaan sudah menjadi gelap gulita, maka Sin Wan tidak melihat bahwa di sebelah kanan itu adalah jurang yang sangat gelap karena selalu tertutup awan hitam! Tak dapat tercegah lagi tubuh kedua anak itu terpelanting ke bawah dan meluncur bagaikan dua buah batu di lempar kedalam sumur!

Cersil karya Kho Ping Hoo Serial Jago Pedang Tak Bernama

Sin Wan buka matanya dan ia dapatkan dirinya rebah terlentang di atas tumpukan pasir halus. Mulutnya penuh pasir hingga ia segera bangun duduk dan menyemburkan pasir itu dari mulut. Pada saat itu terlihatlah olehnya tubuh gadis itu berbaring miring. Maka teringatlah ia akan peristiwa tadi. Ia tidak tahu bahwa telah beberapa lama mereka pingsan.

Agaknya Thian masih melindungi jiwa mereka karena secara kebetulan sekali mereka jatuh menimpa tumpukan pasir lembut yang menahan tubuh mereka dan mencegahnya dari kehancuran. Hanya bantingan yang keras dari kejatuhan itu membuat mereka pingsan untuk beberapa lama.

Sin Wan segera menghampiri gadis cilik yang masih pingsan itu. Ia melihat betapa jidat gadis itu mengeluarkan sedikit darah dan terdapat sebuah luka kecil, Sin Wan segera lepaskan ikat pinggangnya dan cepat balut kepala gadis itu agar darah dari lukanya berhenti mengalir. Ia agak khawatir melihat betapa gadis itu rebah tak bergerak dengan tubuh lemas, dan dengan bingung ia memandang kesekelilingnya.

Ternyata mereka terjatuh kedalam jurang yang lebar dan disitu terdapat batu-batu besar dan air lumpur. Anehnya di tengah-tengah jurang itu terdapat tumpukan pasir lemas yang telah menolong jiwa mereka! Sin Wan lalu menghampiri sebagian tanah yang terdapat airnya lalu celupkan ujung bajunya disitu.

Setelah direndam agak lama dan ujung baju itu menjadi cukup basah, ia lalu kembali ketempat gadis itu berbaring dan peras ujung bajunya hingga airnya mengucur membasahi muka anak perempuan itu. Dengan perlahan anak perempuan itu sadar dari pingsannya.

Ia gerak-gerakkan bibir dan pelupuk matanya. Karena duduk di dekat kepala gadis cilik itu, Sin Wan dapat melihat betapa bulu mata yang panjang, hitam dan lentik itu bergerak-gerak dan betapa kulit pelupuk mata yang halus itu terbuka perlahan.

Pertama-tama pandangan mata gadis itu bertemu dengan Sin Wan dan ia tersenyum karena segera ia teringat kepada pemuda ini. Kemudian ia merasa betapa jidatnya agak sakit maka dirabanya jidat itu. Pandang matanya berubah heran ketika jari-jari tangannya menyentuh ikat pinggang membalut jidatnya.

“Kau terluka sedikit dan aku membalutnya.” Ketika Sin Wan melihat betapa gadis itu memandangnya dengan agak bingung, ia mengingatkan.

“Kita jatuh ke dalam jurang, ingatkan?”

Maka teringatlah gadis itu. Ia loncat bangun dan memandang ke atas dengan ketakutan. Sin Wan juga memandang keatas. Ternyata mereka terjatuh dalam sekali hingga mereka tak dapat melihat tebing jurang di atas, apalagi jurang itu tertutup oleh uap semacam embun yang tebal dan tergenang di situ.

“Aneh sekali, mengapa kita masih hidup?” anak gadis itu berkata perlahan.

Sin Wan meraba pasir lemas di bawah kaki mereka. “Inilah yang menolong kita, kalau kita terjatuh disitu, ah... ah…” Ia bergidik ketika memandang kepada lain bagian dalam jurang itu yang penuh batu-batu hitam besar.

Gadis cilik itupun bergidik ngeri. “Kau... kau siapakah? Siapa namamu?” tanyanya sambil pandang wajah Sin Wan dengan sepasang matanya yang bening dan bagus, sedangkah karena terjatuh tadi, maka kedua jambul di atas kepalanya menjadi kusut dan rambut-rambut halus menutup sebagian mukanya.

“Aku she Bun bernawa Sin Wan, dan kau siapakah?”

“Namaku Kui Giok Ciu, aku tinggal bersama Ayah dilereng gunung Kam-Hong-San sebelah timur, Ah, Ayah tentu mencari-cariku dan nanti tentu akan marah padaku.”

“Namamu bagus sekali, Giok Ciu. Kau beruntung masih mempunyai Ayah. Ayahku telah meninggal dan aku hanya tinggal bersama Ibu dan Kakekku di kampung Lok-thian-kwan di kaki gunung. Kakekku juga tentu mencari aku karena aku pergi tanpa pamit.”

“Bagaimana kita bisa keluar dari sini? Sin Wan, kita harus keluar dari sini secepatnya, aku... aku takut dan perutku lapar sekali.”

Sin Wan tersenyum dan merasai kemenangan di dalam jurang ini. Ia sama sekali tidak merasa takut sekarang. Mendengar bahwa kawannya itu merasa lapar, ia teringat akan roti keringnya. Ia rogoh saku dan ternyata rotinya masih ada. Segera ia keluarkan roti itu dan berikan kepada Giok Ciu. Gadis cilik ini tanpa sungkan-sungkan lagi lalu terima roti itu dan terus saja menggigitnya.

“Ah, enak juga rotimu,” kata Giok Ciu. Ketika melihat betapa pemuda itu melihatnya dengan wajah ingin sekali, ia tertegun dan bertanya.

“Tidak ada lagikah rotimu? Hanya ini?”

Sin Wan menggeleng kepala. “Tidak ada lagi, tapi tidak apa, kau makanlah.”

“Ah, mana bisa begitu. Ini, kau makanlah sepotong.” Gadis kecil itu lalu potong roti kering di tangannya menjadi dua potong dan ia berikan yang sepotong kepada Sin Wan.

“Makanlah semua, Giok Ciu, aku tidak lapar,” jawab Sin Wan sambil geleng kepala.

Tapi Giok Ciu tiba-tiba menjadi ngambul dan cemberut, lalu ia kembalikan dua potong roti itu kepada Sin Wan.

“Kalau begitu, aku juga tidak lapar. Mari, kau terima kembali rotimu!” katanya marah.

Sin Wan tersenyum melihat ini dan terpaksa ia terima juga sepotong. Tapi tanpa disengaja ia menerima potongan yang bekas digigit oleh Giok Ciu. Ketika Giok Ciu gigit bagiannya sambil melihat kepada Sin Wan, gadis cilik itu melihat betapa roti yang dipegang oleh Sin Wan terdapat bekas gigitannya maka cepat ia berkata sebelum roti digigit Sin Wan.

“Eh tahan dulu, jangan kau makan roti itu!”

Sin Wan telah bawa roti itu kedekat mulut dan siap hendak menggigitnya. Maka ketika mendengar seruan Giok Ciu, ia heran dan turunkan kembali rotinya.

“Ada apakah?”

Wajah Giok Ciu memerah hingga Sin Wan makin heran.

“Kemarikan roti itu, itu adalah roti bagianku yang telah kugigit. Ini, kau harus makan yang ini.”

Dengan cepat Giok Ciu saut roti dari tangan Sin Wan dan berikan rotinya dari tangan Sin Wan dan berikan rotinya sendiri kepada pemuda itu. Tapi pada saat itu dengan terkejut ia melihat bahwa roti ke dua itupun telah digigitnya tadi! Maka ia menjadi bingung dan berkata dengan mata terbelalak.

“Ah, itupun sudah kugigit! Bagaimana baiknya, ah... eh…”

Melihat kebingungan gadis itu, Sin Wan tersenyum sambil melihat bekas gigitan pada roti ditangannya. “Giok Ciu kau aneh sekali! Kukira tadi ada apa maka kau tahan roti yang hendak kumakan. Tidak tahunya hanya soal itu. Apakah salahnya kalau aku makan roti bekas gigitanmu? Apakah gigitanmu berbahaya seperti ular berbisa?”

Makin merahlah wajah Giok Ciu mendengar godaan ini. “Bukan begitu, tapi... tapi... bekas mulutku... dan... kotor!”

Sin Wan segera gigit rotinya dibagian bekas gigitan Giok Ciu lalu makan roti itu dengan enak. Ia angguk-anggukkan kepala dan berkata,

“Ah, bekas gigitanmu tidak berbisa, dan kulihat mulutmu tidak kotor, bahkan bersih dan bagus. Mengapa adatmu seaneh-aneh ini? Makanlah.”

Mereka lalu makan roti yang tidak berapa besar itu. Tentu saja mereka tidak kenyang. Kemudian mereka merasa haus karena roti kering itu dimakannya seret sekali. Mereka mencari air bersih dan temukan pancuran air kecil yang bening dan mengucur dari ats sepanjang batu cadas. Setelah puas minum air, tiba-tiba Giok Ciu menunjuk kedepan.

“Sin Wan, lihat itu, ada gua!”

Benar saja, tertutup oleh alang-alang yang rapat sekali, terdapat sebuah gua besar dan gelap dalam jurang itu. Gua ini bukan hanya karena tertutup oleh alang-alang maka tak tampak, tapi adalah karena gua itu gelap dan hitam sedangkan di dasar jurang dimana kedua anak itu terjatuh terdapat cahaya matahari yang masuk dari sebelah utara di mana tidak ada awan yang menghalang.

Jurang itu sebenarnya adalah semacam lamping gunung, dan bukanlah merupakan jurang biasa, maka di belakang masih terdapat tempat terbuka yang curam kebawah dan berbahaya sekali. Sin Wan tidak melihat kemungkinan untuk keluar dari tempat itu melalui jalan naik karena batu cadas yang merupakan dinding jurang itu licin sekali dan tinggi luar biasa, juga tidak mungkin melepaskan diri dari kurungan itu melalui bagian yang terbuka, karena bagian itu merupakan jurang lain yang lebih curam lagi!

Ia mencoba melongok kesana dan cepat-cepat tutup kedua matanya karena ngeri! Ternyata bawah mereka berada di lereng gunung dan dari tempat terbuka yang dimasuki cahaya matahari itu mereka dapat melihat dasar dibawah yang luas dan dalamnya puluhan li!

“Sayang tambang dan besi pengaitku tertinggal di sana ketika kita meloncati jurang itu,” kata Sin Wan. "Sekarang terpaksa kita harus coba menyelidiki gua itu.”

“Gua hitam itu? Ah, aku takut, Sin Wan. Agaknya mengerikan sekali tempat itu.”

“Habis apakah kita mau tinggal selamanya disini dan mati kelaparan? Kita harus berdaya mencari jalan keluar!”

Terbangun semangat Giok Ciu mendengar kata-kata ini. Mereka lalu saling berpegang tangan untuk saling menahan kalau tergelincir, dan bersama-sama memasuki gua yang gelap sekali itu. Sambil meraba-raba dengan kaki dan tangan mereka masuk. Gua itu ternyata besar dan di bawahnya tidak basah, melainkan pasir belaka isinya.

Sin Wan dan Giok Ciu berjalan terus setengah merayap karena khawatir kalau-kalau terjeblos kedalam lubang. Setelah berjalan lama dan membelok lebih dari tujuh kali dalam tikungan-tikungan yang tajam, tiba-tiba disebuah tikungan mereka dibikin silau oleh cahaya yang dengan aneh sekali dapat memasuki guha itu!

Gua yang merupakan terowongan panjang itu makin lama makin lebar, dan ketika tiba di tempat yang terang, Giok Ciu dan Sin Wan cepat menuju ke ruang tersebut. Ternyata bahwa rung itu merupakan sumur yang lebar dan besar dan cahaya masuk dari atas. Tapi sayang, sumur itu terlalu dalam hingga tak mungking untuk loncat naik, juga dindingnya dari karang-karang yang tajam dan tak mungkin didaki. Kedua anak itu duduk melepaskan lelah dan saling pandang dengan putus asa. Tapi Sin Wan tidak mau memperlihatkan kelemahannya, ia gigit bibirnya dan berkata,

“Giok Ciu, bukankah aneh sekali kejadian yang menimpa diri kita hari ini? Kau lihatkah tadi dua ekor naga yang menyerang kita?”

Giok Ciu pandang kawannya dengan heran. Ia takut kalau-kalau Sin Wan sudah berubah ingatan. “Apa maksudmu? Dua naga yang mana?” Kini Sin Wan yang heran.

“Apa Kau tidak melihat dua naga yang menyambar-nyambar kita dan memukul-mukul kita dengan ekornya ketika kita berada di atas dan sebelum terjatuh ke dalam jurang?”

Giok Ciu geleng-geleng kepala. “Aku hanya melihat mendung tebal menghitam dan kilat menyambar-nyambar, disertai suara geluduk yang mengerikan. Dimanakah ada naga? Aku tidak melihatnya.”

Sin Wan tundukkan kepalanya. “Apakah benar kata Kakeknya bahwa ia terlalu banyak memikirkan dongeng naga itu hingga sering mimpi dan melamun sampai bayangan-bayangan naga tampak di depan mata? Ah, tak mungkin. Dua naga yang tadi jelas kelihatan olehnya!”

“Sin Wan, jangan mengobrol yang tidak-tidak. Paling perlu, pikirkanlah bagaimana kita harus keluar dari sini!”

Sin Wan bangkit berdiri diikuti oleh Giok Ciu. “Hayo kita berjalan terus,” ajaknya.

Ketika menyelidiki ruang itu, mereka melihat sesuatu yang menarik hati sekali. Tadi hal itu tidak tampak oleh mereka, tapi kini setelah meneliti dengan baik, Sin Wan dapatkan bahwa bentuk batu di dalam sumur ini mengherankan sekali. Ia mundur sampai di dinding yang berhadapan dengan batu-batu di dinding itu, dan hampir saja ia berseru kaget dan heran.

Giok Ciu segera menghampiri kawannya dan ikut melihat. Juga gadis cilik itu terherannya ketika lihat betapa batu-batu besar yang menonjol di dinding karang itu bentuknya sedemikian rupa hingga merupakan kepala seekor naga! Sepasang batu bulat merupakan mata, batu dibawah merupakan hidung dengan dua lubangnya, dan bawa di bawah yang memanjang diserta batu-batu runcing merupakan mulut naga yang sedang ternganga!

Dengan tabah Sin Wan mendekati dinding berlukis kepala naga itu dan meraba-raba. Juga Giok Ciu meraba-raba, dan gadis kecil ini berteriak kaget ketika ia meraba mata kiri batu naga itu.

“Sin Wan! Batu yang menduduki tempat mata ini dapat bergerak-gerak!”

Sin Wan cepat meraba batu mata kanan dan ternyata batu itupun dapat bergerak-gerak. Dengan berbareng Sin Wan dan Giok Ciu menekan-nekan kedua batu yang merupakan mata naga itu. Ini sebetulnya terjadi kebetulan saja, tapi sungguh mengagetkan mereka ketika tiba-tiba terdengar bunyi berkerotokan seperti barang yang sangat berat bergerak pindah dan perlahan-lahan batu yang menempati mulut itu bergeser dan terbuka!

Sin Wan dan Giok Ciu loncat mundur dengan takut dan menunggu-nuggu kalau-kalau dari lubang itu akan keluar makhluk yang dahsyat. Tapi ternyata setelah ditunggu-tunggu dengan hati berdebar, tak tampak sesuatu keluar dari situ. Dalam kegelapan hati mereka, kalau saja pada saat itu ada seekor tikus kecil keluar dari lubang itu tentu keduanya akan terperanjat sekali!

“Giok Ciu biarlah aku memasuki lubang ini untuk memeriksa. Kau tinggal saja disini.”

“Tidak, Sin Wan. Aku tidak mau berada seorang diri disini. Kita terjerumus di tempat ini berdua, maka sekarang maju harus berdua pula.”

“Giok Ciu lubang ini terjadi karena kita berdua menggerakkan batu-batu yang membentuk mata naga, maka tentu ini bukan hal kebetulan saja. Pasti lubang dan batu-batu ini sengaja dibuat oleh orang, atau setidaknya oleh makhluk hidup. Maka kurasa tentu ada apa-apa menanti dibalik lubang dan bukan tidak berbahaya. Kalau aku saja yang masuk biarpun ada bahaya menimpa, hanya aku yang menghadapinya. Biarpun sampai mati, tapi masih ada engkau. Lebih baik kurban hanya seorang daripada kedua-duanya.”

Tak tersangka ketika mendengar kata-kata ini, Giok Ciu marah sekali. Sepasang matanya yang lebar memancarkan cahaya yang mengingatkan Sin Wan akan sepasang mata naga yang dilihatnya didalam hujan ribut tadi pagi!

“Sin Wan, kau anggap aku orang apakah? Aku bukan seorang pengecut, dan Ayahku ialah seorang tokoh Kun-Lun-Pai yang gagah perkasa dan dihormati orang! Kalau kau tidak takut menghadapi bahaya, apa kau kira akupun takut mati? Pendeknya kau pilih saja, kita masuk berdua atau kalau hanya seorang yang boleh masuk, kau yang tinggal disini dan aku yang masuk sendiri!”

Sin Wan pandang gadis cilik yang usianya sepantaran dia tapi sudah bersemangat gagah ini dengan kagum. Maka iapun mengalah. Ia hendak masuk lebih dulu, tapi Giok Ciu tetap hendak masuk berbareng. Karena lubang itu cukup besar, maka dengan merangkak berdampingan mereka dapat juga menerobos masuk.

Tapi, dalam keadaan masih merangkak bagaikan dua ekor binatang kaki empat, kedua anak itu dengan mata terbelalak dan mulut ternganga serta wajah pucat memandang sambil berdongak ke depan mereka, sedang tubuh mereka tak bergerak bagaikan berubah menjadi patung!

Di depan mereka tidak ada tiga tombak jauhnya, terdapat rangka dua ekor ular besar sekali dengan tengkorak menghadap mereka dan mulut tengkorak ular itu terbuka lebar seakan-akan hendak telan mereka! Sin Wan dapat tenteramkan goncangan hatinya lebih dulu dan ia berkata,

“Ah, tidak apa-apa Giok Ciu. Hanya rangka yang telah mati. Hayo berdirilah.”

Tapi biarpun mulutnya berkata begini, ketika berdiri Sin Wan merasa heran karena kedua kakinya agak menggigil! Giok Ciu berpegang kepada tangan Sin Wan yang diulurkan dan gadis cilik itupun berdiri dengan wajah masih pucat. Mereka maju selangkah demi selangkah ketempat di mana dua rangka ular itu berada.

“Aduh besarnya!” Giok Ciu berbisik ketika mereka telah dekat dengan rangka itu.

Memang rangka itu besar dan panjang dengan tubuh kedua ular saling belit.

“Jangan-jangan masih ada ularnya yang hidup.” Giok Ciu berbisik kepada Sin Wan.

Tapi pemuda kecil ini sedang pandang kedua tengkorak ular dengan penuh perhatian dan tertarik. Bayangan dua ekor naga sakti bersisik putih dan hitam terbayang depan matanya. Apakah ini rangka naga sakti itu? Demikian hatinya berbisik dengan takjub. Melihat betapa Sin Wan berdiri bengong di depan tengkorak ular, Giok Ciu segera betot tangan kawannya itu.

“Sin Wan, hayo kita kesana. Lihat ada apa itu di sana?”

Sin Wan memandang dan ternyata di bagian sebelah dalam terdapat semacam tetumbuhan yang mengeluarkan bau harum. Mereka segera menghampiri tetumbuhan itu dan ternyata daun tetumbuhan itu seperti daun anggur dan disitu terdapat enam butir buah yang berwarna putih. Buah itu besarna sekepalan tangan dan macamnya seperti apel, tapi baunya sangat harum...

Thanks for reading Kisah Sepasang Naga Jilid 02 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »