Social Items

Si Kong berindap-indap mendekati suara orang yang berbantahan itu. Dari balik sebatang pohon besar dia mengintai. Jantungnya berdebar ketika dia melihat dua orang kakek itu berdiri saling berhadapan dengan wajah tak senang, bahkan marah. Dia mengenal kedua orang kakek itu yang bukan lain adalah Lam Tok dan Tung-giam-ong! Datuk besar selatan dan datuk besar timur itu saling berhadapan seperti dua ekor ayam jago sedang berlagak.

“Lam Tok!” seru Tung-giam-ong sambil menudingkan jari telunjuknya ke arah muka datuk besar selatan itu. “Kedatangan kita di sini bukan saja untuk menentukan siapa yang paling kuat di antara para datuk empat penjuru, tetapi juga untuk memperebutkan Pek-lui-kiam! Nah, sekarang kebetulan kita saling bertemu di sini, maka kita tentukan siapa di antara kita yang lebih berhak memiliki Pek-lui-kiam!”

“Ha-ha-ha, bagus sekali, Tung-giam-ong!” jawab Lam Tok dengan suara menyindir dan mengejek. “Apa kau sangka aku takut menghadapi tua bangka macam engkau? Memang sebaiknya kita tentukan dari sekarang agar kita tidak menghadapi terlalu banyak saingan!”

“Lam Tok, pukulan beracunmu itu tak akan meruntuhkan selembar pun rambutku! Tetapi engkau tidak akan dapat menahan pukulan dari Thai-yang Sin-ciang!”

“Ha-ha-ha, aku telah mendengar bahwa engkau menyempurnakan pukulan dari tanganmu yang panas, akan tetapi ilmumu itu bagiku seperti permainan kanak-kanak saja! Majulah kalau ingin kuhajar!”

“Lam Tok, sombong sekali engkau. Bersiaplah untuk mampus di tanganku hari ini!”

“Ha-ha-ha, selain engkau tak mungkin dapat mengalahkan aku, juga kalau engkau sampai dapat membunuhku, berarti engkau membunuh puteramu sendiri!”

“Apa maksudmu?” Tung-giam-ong memandang dengan heran dan kaget.

“Maksudku, puteramu jatuh cinta dan tergila-gila kepada puteriku! Kalau engkau sampai membunuhku, apa kau kira puteriku sudi berdekatan dengan puteramu? Dia bahkan akan membalas dendam kepadamu!”

Ucapan ini betul-betul mengejutkan hati Tung-giam-ong. “Puteraku Gin Ciong jatuh cinta kepada puterimu? Apa buktinya?”

“Ha-ha, buktinya? Belum lama ini aku bertemu dengan mereka berdua di pegunungan ini. Puteramu bahkan hendak membantu puteriku untuk mendapatkan Pek-lui-kiam. Lucunya, puteramu itu sungguh tidak tahu malu! Dia tergila-gila kepada puteriku padahal puteriku itu tidak mencintanya, meliankan mencinta seorang pemuda lain! Ha-ha-ha-ha, sungguh lucu. Anaknya dan bapaknya sama bodohnya!”

“Keparat!” Tung-giam-ong marah dan menerjang dengan pukulannya yang ampuh, yang disebut Thai-yang Sin-ciang yang berhawa panas.

Namun pukulan ini dengan mudah dielakkan oleh Lam Tok yang cepat membalas dengan serangannya Lam-hai Sin-ciang (Tangan Sakti Lautan Selatan) yang datangnya bagaikan gelombang lautan. Tetapi Tung-giam-ong juga dapat menghindarkan diri dengan mudah.

Si Kong yang menonton pertandingan itu menjadi sangat terkejut. Dia tahu bahwa kedua orang kakek itu menggunakan ilmu-ilmu pukulan yang amat ampuh dan dapat mematikan. Kedua kakek itu memperebutkan Pek-lui-kiam dengan taruhan nyawa. Mengingat bahwa Lam Tok adalah ayah kandung Cu Yin, Si Kong merasa tidak tega jika kakek itu terancam bahaya maut. Maka selagi kedua orang kakek itu bertanding hebat, Si Kong melompat ke tengah-tengah di antara mereka dan mendorong ke kanan kiri.

Dua orang kakek itu terkejut sekali ketika merasakan betapa dari dorongan itu terkandung tenaga dahsyat yang membuat mereka mundur dan menahan gerakan berikutnya.

“Ji-wi locianpwe, harap jangan berkelahi. Pek-lui-kiam yang akan ji-wi perebutkan berada di tangan ketua Kui-jiauw-pang!”

Dua orang kakek itu mengamati wajah Si Kong, kemudian Tung-giam-ong mengenalnya sebagai pemuda yang dapat menahan pukulan saktinya.

“Kiranya engkau, bocah setan!” bentaknya.

“Hemm, orang muda, mengapa engkau melerai pertandingan kami? Siapa engkau?” tanya Lam Tok sambil mengamati wajah pemuda itu penuh selidik.

“Saya berani melerai karena yang ji-wi perebutkan itu berada di tangan para pimpinan Kui-jiauw-pang. Jadi tidak ada gunanya berkelahi memperebutkan pedang yang masih berada di tangan orang lain. Hanya merugikan saja.”

“Siapa namamu?” LamTok mengulang.

Si Kong memberi hormat kepada kakek ini dan mejawab, “Nama saya Si Kong ...”

“Jahanam! Jadi engkau yang sudah menghina nama keluargaku?” bentak Lam Tok marah sekali.

“Apa maksud locianpwe?” tanya Si Kong kaget karena dia sama sekali tak merasa pernah melakukan penghinaan terhadap keluarga datuk ini.

“Hemm, maksudku sudah jelas! Engkau berani menolak cinta anakku Cu Yin, bukankah itu penghinaan namanya? Karena itu sekarang engkau harus mati di tanganku!” Sesudah berkata demikian, Lam Tok langsung menerjang Si Kong dengan sebuah pukulan maut sambil mengerahkan tenaga Jeng-kin-lat (Tenaga Seribu Kati)!

“Ehh, nanti dulu, locianpwe!” kata Si Kong sambil mengelak ke belakang.

“Ternyata engkaulah pemuda yang menghalangi cinta puteraku terhadap puteri Lam Tok! Memang engkau harus mampus!” Tung-giam-ong juga berseru kemudian menyerang Si Kong dari samping, menggunakan pukulan maut dari ilmu Thai-yang Sin-ciang.

Akan tetapi Si Kong juga dapat mengelak dan pemuda ini merasa bingung sekali diserang oleh dua orang datuk yang sakti itu! Karena dia tidak diberi kesempatan untuk membela dirinya, maka dia pun menggunakan Yan-cu Hui-kun untuk mengelak dari serangan ganda itu. Untuk melarikan diri sudah tidak ada kesempatan lagi karena dua orang datuk itu telah menyerangnya secara bertubi. Terpaksa dia mengelak dan menangkis sambil mencoba untuk balas menyerang untuk membendung hujan serangan itu.

Dua orang datuk besar itu menjadi penasaran dan marah sekali. Mereka berdua sudah menyerang sampai belasan jurus tetapi pemuda itu masih belum dapat mereka robohkan. Karena penasaran, dua orang datuk itu segera berdiri sejajar lalu berbareng menyerang dengan pukulan masing-masing yang amat kuatnya. Tung-giam-ong menyerang dengan ilmu Thai-yang Sin-ciang yang amat panas sedangkan Lam Tok menyerang dengan ilmu Eng-jiauw-kang (Tenaga Cakar Garuda) yang selain sangat kuat juga mengandung racun yang berbahaya. Sedikit saja kulit lawan tergores cakaran ini, maka sudah cukup untuk membunuhnya. Darahnya akan keracunan.

Melihat dua pukulan ini, Si Kong menyadari bahwa nyawanya terancam bahaya maut. Dia terpaksa harus mengeluarkan ilmu silat simpanannya, yaitu Hok-liang Sin-ciang. Karena untuk mengelak atau menangkis dua serangan itu amat berbahaya, maka tidak ada jalan lain baginya kecuali melawan keras dengan keras. Dia berdiri hampir berjongkok, kedua tangannya didorong ke depan menyambut dua serangan lawan itu sambil mengerahkan tenaga sinkang-nya.

“Wuuuutt...! Dessss...!”

Dua tenaga dahsyat itu saling bertemu, dan akibatnya tubuh Si Kong terjengkang lantas bergulingan, namun dua orang kakek itu pun terhuyung-huyung ke belakang. Dua orang datuk itu menyangka bahwa Si Kong telah terluka berat, padahal pemuda itu tadi sengaja menggulingkan tubuhnya untuk memunahkan tenaga pukulan yang melanda dirinya.

Lam Tok yang melihat Si Kong bergulingan, cepat menggerakkan tangan kirinya ke arah pinggang. Dicabutnya tiga batang anak panah lantas disambitkan dengan sepenuh tenaga ke arah tubuh Si Kong yang bergulingan.

“Ayah, jangan...!”

Terdengar pekik melengking kemudian sesosok bayangan berkelebat menghadang antara Si Kong dan Lam Tok. Bayangan itu bagaikan perisai yang melindungi Si Kong sehingga tiga batang anak panah itu dengan telak menancap di dadanya dan bayangan itu roboh!

“Yin-moi...!” Si Kong berteriak sambil menubruk gadis yang roboh itu.

Gadis itu memang Cu Yin dan baru saja dia muncul di situ bersama Gin Ciong. Pada saat Lam Tok menyambitkan anak-anak panahnya, Cu Yin segera tahu bahwa nyawa Si Kong berada dalam bahaya maut. Maka tanpa mempedulikan dirinya, dara itu lalu menghadang dan menjadi perisai sehingga terkena tiga batang anak panah beracun itu.

Si Kong menubruk dan memangku kepala gadis itu sambil mengguncang pundaknya.

“Yin-moi..., ahh, Cu Yin...!” Si Kong meratap dan baru sadarlah dia betapa sesungguhnya di lubuk hatinya terdapat perasaan kasih sayang yang besar terhadap Cu Yin.

“Yin-moi... ahh, Yin-moi...!” Si Kong mendekap kepala itu.

Sekali melihat saja maklumlah dia bahwa nyawa gadis itu tidak dapat tertolong lagi. Tiga batang anak panah itu menancap sampai amblas seluruhnya pada dadanya dan seketika tubuh Cu Yin sudah berubah biru kehitaman yang berarti bahwa dia telah keracunan. Cu Yin membuka matanya dan dia tersenyum mendapatkan kenyataan bahwa dia dipangku oleh Si Kong. Dia mengangkat tangan kirinya, mengelus pipi Si Kong.

“Kong-ko... ahh, Kong-ko, aku... girang melihat... engkau selamat...”

“Yin-moi, kenapa kau lakukan ini? Kenapa engkau mengorbankan nyawamu untukku?” Si Kong menunduk dan menciumi muka gadis itu dengan hati hancur. Tanpa terasa lagi air matanya jatuh berderai membasahi muka Cu Yin.

“Koko... aku girang… dapat… melakukan sesuatu... untukmu... aku... aku cinta padamu, koko...”

“Cu Yin...! Jangan mati, Cu Yin, aku pun cinta padamu!” Si Kong menangis.

Gadis itu tersenyum lebar dan memandang ke arah muka Si Kong. “Engkau... menangis, koko? Menangis untukku...?”

“Ya, aku ingin engkau hidup, Yin-moi!”

Cu Yin menggerakkan tangannya dan mengambil pedang Pek-lui-kiam dari punggungnya. “Ini... Pek-lui-kiam... kuserahkan kepadamu sebagai bukti cintaku... selamat... selamat... tinggal, koko...” Gadis itu terkulai dan tewas dalam rangkulan Si Kong.

“Cu Yin... ahh, Yin-moi...!” Si Kong menangis.

“Dessss...!”

Tiba-tiba sebuah tendangan yang keras membuat tubuhnya terpelanting dan bergulingan. Kiranya yang menendang adalah Gin Ciong, yang hatinya terasa panas oleh api cemburu. Si Kong baru sadar dan bangkit dari lautan duka di mana dia tadi terbenam. Pada saat itu Gin Ciong sudah mengejarnya dan sekali lagi kaki itu terayun, akan tetapi kini mengarah kepala Si Kong, merupakan tendangan maut.

Si Kong telah sadar sepenuhnya, maka ketika kaki itu menyambar ke arah kepalanya, dia menggerakkan tangan kanannya, menyambar dan menangkap kaki itu lalu dilontarkannya ke depan. Tubuh Gin Ciong terlempar sampai jauh dan menimpa batang pohon. Berdebuk suaranya dan Gin Ciong terbanting, seketika nanar dan tidak mampu bangkit.

Melihat puteranya terlempar dan terbanting, Tung-giam-ong menjadi marah sekali. Akan tetapi Lam Tok lebih marah lagi melihat puterinya tewas. Biar pun puterinya tewas karena anak panahnya sendiri, namun dia menyalahkan Si Kong.

“Jahanam, kau sudah membunuh anakku!” teriaknya dan berbareng dengan Tung-giam-ong, dia menerjang maju.

Kini Si Kong sudah siap siaga. Mengingat akan kematian Cu Yin, dia pun berseru,” Kalian dua orang tua bangka telah menyebabkan kematian Cu Yin!”

Setelah itu dia membabatkan pedang yang diterima dari Cu Yin tadi ke arah kedua orang datuk besar itu. Melihat pedang yang bersinar kilat itu, baik Lam Tok mau pun Tung-giam-ong menjadi terkejut bukan main dan cepat mereka pun mencabut senjata mereka. Lam Tok mencabut pedangnya dan Tung-giam-ong mencabut tombak cagaknya.

“Cringgg…! Trakkk...!” Pedang di tangan Si Kong patah-patah ketika bertemu dengan dua senjata itu.

Si Kong terbelalak, begitu pula dengan dua orang datuk besar itu. Akan tetapi Gin Ciong yang sudah dapat bergerak kembali berseru kepada ayahnya.

“Ayah, pedang itu bukan Pek-lui-kiam, melainkan hanya pedang tiruan!”

Mendengar ucapan ini mengertilah Si Kong dan dia membuang pedang itu dengan marah, lantas menyambar sebatang cabang pohon untuk dijadikan senjata tongkat. Sekarang Si Kong dikeroyok tiga.

Si Kong maklum bahwa tiga orang itu amat lihai dan berkeras hendak membunuhnya. Dia sendiri marah sekali melihat kematian Cu Yin yang mengorbankan nyawa untuknya, maka dia menyambut serangan tiga orang itu dengan tongkatnya, memainkan Ta-kauw Sin-tung sambil mengerahkan tenaga sinkang sekuatnya.

Akan tetapi, betapa pun lihainya Si Kong, sekarang dia harus melawan pengeroyokan dua orang datuk besar yang masih dibantu pula oleh Gin Ciong yang cukup tangguh. Dia tidak mendapat kesempatan mempergunakan Ilmu Thi-khi I-beng karena tiga orang lawannya semua menggunakan senjata. Thi-khi I-beng hanya boleh diandalkan dalam pertandingan dengan tangan kosong, jika ada persentuhan antara tangan lawan dan anggota tubuhnya.

Untung bahwa ilmu tongkat yang dimainkannya, yaitu Ta-kauw Sin-tung memiliki gerakan yang luar biasa. Apa lagi ditambah dengan ilmunya Yan-cu Hui-kun (Silat Burung Walet Terbang) yang membuat tubuhnya bergerak dengan sangat lincah sehingga sampai lima puluh jurus lebih mereka bertanding, namun belum juga pemuda itu dapat dirobohkan. Ini merupakan hal yang luar biasa sekali.

Dua orang kakek itu hampir tak dapat percaya bahwa mereka berdua, dibantu Gin Ciong, tidak mampu merobohkan pemuda itu dalam waktu lima puluh jurus lebih! Apabila hal ini diketahui oleh dunia kangouw, maka mereka tentu akan menjadi bahan olok-olok.

Si Kong merasa bahwa akhirnya dia akan kehabisan tenaga dan tentu akan kalah kalau perkelahian itu dilanjutkan. Dia ingin melepaskan diri dari pengeroyokan mereka, namun mereka bertiga tidak memberi kesempatan kepadanya. Mereka mengepung ketat sekali.

Tiba-tiba muncul banyak orang, ada puluhan orang banyaknya, tidak kurang dari empat puluh orang. Mereka adalah orang-orang Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai. Melihat mereka, Gin Ciong pun berseru.

“Kalian semua bantu kami menangkap pemuda ini!”

Puluhan orang Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai segera menyerbu dengan senjata mereka. Tapi hal ini bukan membuat Si Kong terancam bahaya, bahkan memberi jalan kepadanya untuk meloloskan diri dari ancaman maut.

Begitu melihat puluhan anak buah itu mengepung dan menyerangnya, Si Kong langsung meninggalkan tiga orang pengeroyoknya dan melompat ke tengah-tengah puluhan orang anak buah itu. Gerakannya begitu cepat sehingga sesudah merobohkan beberapa orang, dia sudah lenyap di antara mereka sehingga Lam Tok, Tung-giam-ong dan Tio Gin Ciong tidak dapat mengejarnya.

Dari dalam kerumunan banyak orang itu Si Kong menyelinap dan akhirnya berhasil keluar dari kepungan lantas melarikan diri secepatnya mempergunakan ilmu berlari cepat Liok-te Hui-teng dan sebentar saja bayangannya telah lenyap ditelan pohon-pohon dalam hutan.

Sesudah bayangan Si Kong lenyap, Lam Tok segera menghampiri jenazah puterinya. Dia berjongkok dekat jenazah yang masih hangat itu sambil melamun sedih.

Gin Ciong menghampiri ayahnya dan menceritakan betapa dia sudah diterima oleh para pimpinan Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai dan bersekutu dengan mereka. Tung-giam-ong Tio Sun adalah datuk besar timur yang tentu saja sudah mengenal nama besar Pek-lian-pai sebagai perkumpulan pemberontak yang kuat. Dia mendengar bahwa puteranya telah bersekutu dengan mereka, maka dia menjadi girang sekali.

“Kabarnya Pek-lui-kiam berada di tangan ketua Kui-jiauw-pang,” katanya.

“Benar, ayah. Akan tetapi kini Kui-jiauw-pang mempunyai tiga orang ketua, yaitu Toa Ok, Ji Ok dan Ang I Sianjin yang sekarang memakai julukan Sam Ok. Toa Ok yang mengatur bahwa yang akan didapatkan oleh para tokoh kangouw hanyalah Pek-lui-kiam palsu, ada pun yang asli tetap berada di dalam kekuasaannya.”

“Hemm, aku datang ke sini atas undangan Toa Ok dan Ji Ok untuk menentukan siapa di antara empat datuk besar dari empat penjuru yang pantas memperoleh gelar datuk paling lihai di dunia! Siapa pun yang menang dalam pertandingan nanti berhak memiliki Pek-lui-kiam!”

“Ayah, mengenai Pek-lui-kiam harap jangan khawatir. Toa Ok dan Ji Ok telah bergabung dengan Pek-lian-pai dan mereka memiliki cita-cita besar untuk meraih kedudukan tertinggi sesudah kerajaan Beng berhasil kita kuasai. Kalau Ayah menyatakan bersedia membantu gerakan mereka, tentu urusan pedang Pek-lui-kiam menjadi mudah. Tanpa susah payah Ayah akan dapat memilikinya sebagai upah Ayah suka membantu gerakan mereka.”

Wajah Tung-giam-ong Tio Sun langsung berseri mendengar ucapan puteranya itu. “Kau pikir begitukah? Dan bagaimana dengan Lam Tok itu? Dia pun ikut diundang dan dia pun menginginkan pedang pusaka Pek-lui-kiam!”

Gin Ciong memandang ke arah kakek yang masih duduk di dekat jenazah Cu Yin sambil termenung sedih itu. Pemuda ini mengerutkan alisnya. Cu Yin yang diharapkan menjadi isterinya telah tewas. Tidak ada hubungannya lagi dengan Lam Tok dan bahkan Lam Tok merupakan saingan yang berat, patut disingkirkan lebih dulu.

“Ayah, dia pun menghendaki pedang Pek-lui-kiam. Dia musuh kita. Akan tetapi kalau dia suka membantu gerakan kita, dia boleh dijadikan teman.”

“Bagaimana kalau dia tidak mau bekerja sama?” tanya kakek tinggi kurus yang mukanya penuh brewok itu.

Gin Ciong menggerakkan tangan kanan seperti sebatang golok dan menggorok lehernya sendiri, sebagai tanda bahwa kalau Lam Tok menolak bekerja sama, maka lebih baik dia dibunuh saja! Isyarat ini membuat Tung-giam-ong merasa senang dan dia menyeringai lebar sambil mendekati Lam Tok yang masih duduk bersila dekat jenazah puterinya.

“Hemmm, Lam Tok. Yang sudah mati tidak perlu ditangisi, tidak ada gunanya. Lebih baik sekarang engkau bekerja sama dengan aku dan kelak kita tentu akan mampu membalas dendam kepada Si Kong itu!”

Lam Tok menoleh dan memandang kepada Tung-giam-ong dengan wajah dingin. “Bekerja sama dengan kamu?” Dia mengulang dalam suaranya terkandung ejekan.

“Bukan saja dengan aku, Lam Tok. Akan tetapi terutama sekali membantu Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai.”

Tiba-tiba Lam Tok meloncat berdiri. Mukanya berubah merah dan matanya bersinar-sinar penuh kemarahan. Telunjuk kirinya menuding ke arah wajah Tung-giam-ong. “Tung-giam-ong, kau kira aku ini orang apa? Engkau mengajak aku bersekongkol dengan Pek-lian-pai untuk memberontak? Aku bukan pemberontak dan aku tak sudi membantu Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai, tidak sudi bekerja sama dengan pengkhianat macam kamu!”

Wajah Tung-giam-ong menjadi pucat, lalu merah sekali. “Jahanam busuk, engkau berani menghinaku?”

Sementara itu Gin Ciong telah memberi aba-aba kepada orang-orang Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai.

“Bunuh orang tak tahu diri ini!”

Ketika itu Tung-giam-ong sudah menyerang Lam Tok dengan senjata tombak cagaknya. Gin Ciong mencabut pedangnya dan dia pun menyerang Lam Tok.

Lam Tok yang marah sekali itu sudah pula mencabut pedangnya. Dia segera menangkis penyerangan ayah dan anak itu, kemudian membalas serangan mereka dengan tak kalah hebatnya. Akan tetapi Lam Tok sekali ini menghadapi pengeroyokan yang ketat dan kuat. Baru menghadapi Tung-giam-ong seorang saja kepandaiannya sudah seimbang. Dengan pengeroyokan Gin Ciong saja, Lam Tok telah terdesak, apa lagi di situ masih ada puluhan orang anggota Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai yang turut pula mengeroyoknya, maka dia segera terdesak hebat.

Lam Tok mengamuk. Pedangnya diputar dengan begitu hebatnya ketika dia berloncatan meninggalkan pengeroyokan ayah dan anak itu, lantas menerjang kepungan anak buah Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai sehingga empat orang pengeroyok mati berdarah.

Akan tetapi Tung-giam-ong Tio Sun dan Tio Gin Ciong sudah mengejar dan menyerang dengan berbareng, membuat Lam Tok terpaksa harus memutar pedang menangkis. Pada saat itulah sebuah cakar setan dari anggota Kui-jiauw-pang telah mengenai punggungnya. Cakaran itu merobek baju berikut kulit punggungnya, mendatangkan luka memanjang.

Lam Tok terkejut lantas membalikkan tubuhya. Tangan kirinya menyambar dan dia sudah dapat memegang lengan penyerangnya itu dan sekali sentakan, tubuh anggota Kui-jiauw-pang itu terangkat ke atas lalu dibanting ke atas tanah. Orang itu tewas seketika.

Lam Tok telah memutar pedangnya kembali. Akan tetapi kini pengeroyokan semakin ketat sehingga kembali pundak kirinya terkena goresan cakar setan. Karena luka di punggung dan pundaknya itu terasa nyeri sekali, Lam Tok lalu meniru perbuatan Si Kong tadi.

Ia cepat meloncat dan menyerbu di antara para anggota Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai, menyelinap di antara mereka sambil merobohkan banyak orang. Akhirnya dia dapat lolos, melarikan diri dan dikejar oleh Tung-giam-ong dan Gin Ciong.

Kembali Lam Tok bisa dikejar sehingga terpaksa melayani datuk timur dan puteranya itu. Akan tetapi luka-luka beracun di punggung dan pundaknya membuat gerakannya lambat dan terpaksa dia mundur terus sampai tiba di dekat jurang. Karena tidak mungkin mundur lagi, dia lalu mengamuk menghadapi pengeroyokan dua orang itu hingga akhirnya sebuah pukulan tangan kiri Tung-giam-ong mengenai dadanya. Pukulan itu adalah satu jurus dari Thai-yang Sin-ciang. Dadanya yang terpukul itu terasa panas dan tubuhnya terjengkang masuk ke dalam jurang yang menganga di belakang Lam Tok.

Tung-giam-ong dan Gin Ciong menjenguk ke dalam jurang. Ternyata jurang itu sangat dalam dan tertutup kabut sehingga mereka tidak dapat melihat tubuh Lam Tok.

“Ha-ha-ha, lenyaplah sudah seorang sainganku!” Tung-giam-ong tertawa bergelak karena girangnya.

Pada waktu terjatuh tadi, pikiran Lam Tok masih terang. Tahulah dia bahwa bahaya maut mengancam dirinya. Dia berusaha untuk menggunakan kedua tangan meraih, kalau-kalau ada sebatang pohon terjulur. Akan tetapi tangannya tidak dapat menangkap apa-apa dan dirinya tenggelam ke dalam kabut. Tidak ada lain jalan baginya untuk menyelamatkan diri kecuali mengerahkan tenaga saktinya melindungi tubuh dari bantingan ke dasar jurang.

“Wuuuuttt...! Bukkk...!”

Tubuh Lam Tok terbanting di atas dasar jurang itu. Ia telah mengerahkan tenaga saktinya untuk melindungi pinggulnya dari bantingan itu, akan tetapi ternyata dia mendarat dengan mulus dan lunak. Kiranya di tempat itu terdapat banyak daun kering, bertumpuk sampai tebal sehingga merupakan tempat lunak seolah dia terbanting ke atas kasur tebal!

Akan tetapi rasa nyeri di punggung dan pundaknya karena terluka cakar setan membuat dia pening sekali. Apa lagi bekas pukulan Tung-giam-ong tadi masih terasa panas sekali olehnya, maka setelah merintih satu kali, Lam Tok lalu jatuh pingsan.

Lam Tok membuka matanya dan dia langsung teringat bahwa dia habis dikeroyok Tung-giam-ong dan terjatuh ke dalam jurang. Dia teringat pula bahwa punggung dan pundaknya terluka oleh cakaran setan anggota Kui-jiauw-pang yang mendatangkan rasa nyeri bukan main. Akan tetapi dia merasa heran karena punggung serta pundaknya tidak terasa sakit sama sekali. Juga rasa panas akibat pukulan Tung-giam-ong sudah lenyap! Dan bajunya tersingkap seolah-olah ada orang yang menanggalkan sebagian bajunya.

Terdengar gerakan orang di sebelah kirinya dan Lam Tok cepat menengok. Ketika melihat ada seorang pemuda duduk di atas batu di sebelahnya, dia segera bangkit, kaget karena dia mengenal pemuda itu sebagai Si Kong!

Dia menoleh ke kanan kiri. Dia tidak lagi berada di dasar jurang, melainkan dalam sebuah hutan, sedang rebah di atas rumput hijau. Lam Tok adalah seorang yang sangat cerdik, maka sekali lihat saja dia sudah dapat menduga apa yang terjadi. Tentu pemuda ini yang telah memindahkannya dari dasar jurang.

Dia segera mengerahkan sinkang ke punggung dan pundaknya. Tidak terasa nyeri. Juga dadanya yang tadi terasa panas kini telah biasa kembali. Lam Tok dapat menduga bahwa dia telah ditolong oleh Si Kong. Akan tetapi dia cepat bangkit duduk, memandang kepada Si Kong lantas bertanya, suaranya dingin karena dia masih ingat bahwa pemuda ini yang menyebabkan kematian Cu Yin.

“Engkau di sini?”

Si Kong memberi hormat dan berkata sopan, “Saya melihat locianpwe rebah pingsan di dasar jurang itu.” Dia menuding ke depan di mana terdapat jurang.

“Engkau yang memindahkan aku ke sini dan juga mengobati aku hingga lukaku sembuh?” tanyanya lagi dan pandang mata datuk itu mengamati wajah Si Kong penuh selidik.

“Benar, locianpwe. Melihat locianpwe terluka akibat goresan cakar beracun serta pukulan yang berhawa panas, aku lalu mengobati locianpwe dengan menyedot racun dan melawan hawa panas dengan sinkang. Sayangnya aku tidak mempunyai mustika batu giok seperti yang dimiliki nona Tang Hui Lan sehingga bekas racun itu belum bersih benar, akan tetapi dengan pengerahan sinkang, locianpwe tentu akan dapat mengusirnya keluar.”

“Hemm, mengapa engkau menolong dan menyelamatkan aku?!” pertanyaan ini dilakukan dengan suara membentak seperti orang menuntut.

“Mengapa tidak, locianpwe? Melihat engkau atau siapa saja menggeletak pingsan dalam keadaan terancam bahaya maut, tentu saja aku turun tangan menolongmu.”

“Tapi... tadi aku berusaha untuk membunuhmu! Bahkan sudah mengeroyokmu dengan si jahanam Tung-giam-ong itu. Dan engkau pun tentu sudah mati di tanganku kalau saja Cu Yin tidak mengorbankan nyawa untukmu!”

Si Kong memejamkan kedua matanya sambil mengerutkan alisnya, lalu berkata dengan suara parau penuh permohonan. “Ahh, locianpwe, aku mohon janganlan locianpwe bicara lagi tentang Yin-moi!”

Si Kong membuka matanya yang kini sudah basah oleh air mata. Hatinya tertusuk ketika dia teringat akan Cu Yin, gadis yang sesungguhnya dikasihinya itu.

“Cu Yin begitu mencintamu, mengapa engkau pernah menolak cintanya?”

“Aku tidak menolak, hanya... merasa tidak berharga untuk melakukan perjalanan bersama dia, pula tidak patut dipandang orang bila seorang gadis seperti dia melakukan perjalanan bersama seorang pemuda. Akan tetapi... ahh, semua itu telah berlalu, locianpwe dan aku memang bersalah kepada Cu Yin. Kalau locianpwe masih merasa menyesal dan hendak membunuh aku, silakan. Aku tidak akan melawan.”

Melihat pemuda itu demikian sedihnya, kemarahan Lam Tok menghilang, bahkan di dalam hatinya timbul rasa suka terhadap pemuda yang sudah menyelamatkan jiwanya itu. Akan tetapi dia tidak mau menunjukkan kelemahan hatinya ini dan berkata dengan nada keras.

“Sudahlah, cepat pergilah, pergi jauh-jauh sebelum aku berubah pikiran. Pergi tinggalkan aku seorang diri!”

Si Kong menghela napas dan bangkit berdiri, kemudian memberi hormat kepada datuk itu. “Selamat tinggal, locianpwe.”

Lam Tok diam saja, wajahnya dingin dan dia bersila sambil memejamkan matanya untuk menghimpun hawa murni dan menghilangkan sisa racun dari punggung serta pundaknya. Si Kong memandang dengan hati terharu, maklum betapa sedihnya datuk yang baru saja kehilangan puterinya itu. Dia lalu pergi meninggalkan Lam Tok.

Si Kong berlari cepat ke tempat di mana pertempuran tadi berlangsung. Dan seperti yang diharapkannya, jenazah Cu Yin masih menggeletak di situ, tidak ada yang mengurus, ada pun mayat-mayat para anak buah Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai sudah dibawa rekan-rekan mereka.

Dia merasa kasihan sekali kepada Cu Yin. Tak disangkanya nasib gadis jenaka itu begini menyedihkan. Tewas di tangan ayah kandungnya sendiri dan jenazahnya terlantar tanpa ada yang mengurusnya.

“Maafkan aku, Yin-moi. Baru sekarang aku bisa mengurus jenazahmu. Semoga arwahmu mendapat tempat yang layak di alam baka.”

Si Kong lalu menggali sebuah lubang yang cukup dalam. Dengan hati kasihan dan terharu terpaksa dia menguburkan jenazah itu dengan amat sederhana, tanpa peti, tanpa upacara sembahyang, tanpa apa-apa. Setelah merebahkan jenazah itu di dalam lubang, dari atas dia melihat jenazah itu dan kembali kedua matanya basah. Cu Yin yang nampak demikian cantik rebah di lubang itu, seperti orang sedang tidur pulas saja.

“Selamat berpisah, Yin-moi, semoga kita dapat saling bertemu kembali di alam lain.” Dia menguatkan batinnya, lalu menutupi jenazah itu dengan daun-daun kering sehingga tidak nampak lagi dan barulah dia tega untuk menutup lubang itu dengan tanah kembali.

Setelah selesai, dia mengambil sebuah batu besar yang digulingkannya ke depan makam itu supaya dapat menjadi semacam nisan atau tanda. Dengan mengerahkan sinkang-nya, dia kemudian mengukir beberapa huruf di permukaan batu yang berbunyi: 'Yang tercinta Siangkoan Cu Yin'.

Setelah duduk bersila di depan batu nisan itu selama setengah jam, Si Kong lalu bangkit dan sekali lagi memandang ke arah gundukan tanah, berbisik, “Selamat tinggal Yin-moi.”

Dia lalu mengerahkan tenaganya dan sebentar saja lenyap dari tempat itu, berlari cepat sekali di antara pohon-pohon besar.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Tiga orang ketua Kui-jiauw-pang bergembira menerima Tung-giam-oang yang diajak oleh puteranya menjadi tamu kehormatan Kui-jiauw-pang. Toa Ok semakin senang mendengar bahwa Lam Tok sudah tewas oleh Tung-giam-ong. Lam Tok adalah salah satu di antara para datuk yang disegani dan sekarang datuk itu telah tewas.

“Kami mengucapkan selamat untuk kemenangan Tung-giam-ong atas Lam Tok. Mari kita minum secawan arak untuk menghormati Tung-giam-ong sekalian menghaturkan selamat datang!”

Semua orang minum arak untuk menyambut ucapan selamat dari Toa Ok itu. Tung-giam-ong sendiri juga dengan gembira minum araknya.

“Sebagai ayah dari sahabat baik kami Tio-kongcu, kami harap agar Tung-giam-ong suka berterus terang mengenai tujuan perjalanannya ke sini,” kata pula Toa Ok.

“Ha-ha-ha, Toa Ok masih pura-pura bertanya lagi!” Tung-giam-ong tertawa, memandang kepada semua yang hadir dan minum lagi arak dari cawannya.

Mereka semua lengkap duduk di meja perjamuan itu. Toa Ok, Ji Ok, Sam Ok, Coa Leng Kun, Tio Gin Ciong, kelima Butek Ngo-sian serta empat orang tokoh Pek lian-kauw See-thian Su-hiap.

“Biar pun kami sudah dapat menduga, tetapi akan lebih baik bila engkau mengatakannya kepada kami, karena sebagai seorang tamu kehormatan, kami harus dapat melayanimu sebaik-baiknya, Tung-giam-ong!”

Kembali Tung-giam-ong tertawa, lalu menoleh kepada puteranya dan berkata, “Puteraku sudah mengadakan hubungan dengan Kui-jiauw-pang, itu saja sudah menunjukkan bahwa kedatanganku adalah sebagai sahabat, bukan musuh. Akan tetapi aku mengingatkan Toa Ok dan Ji Ok. Kalian sudah mengundang para datuk termasuk aku untuk mengadakan pertandingan di sini, untuk menentukan siapa yang terlihai di antara para datuk. Karena undangan itulah aku datang, dan kedua, aku pun tertarik oleh berita tentang Pek-lui-kiam, maka aku pun hendak memperebutkannya pula!” Kini dia memandang kepada Sam Ok atau Ang I Sianjin dengan sinar mata menantang.

“Bagus, memang telah kami duga, Tung-giam-ong. Akan tetapi mengingat bahwa engkau adalah ayah dari Tio-kongcu, kami mengajak engkau untuk bekerja sama. Pertama-tama, engkau bantulah kami untuk mengusir para datuk dan tokoh-tokoh kang-ouw yang hendak memperebutkan pedang Pek-lui-kiam. Setelah semua datuk dapat kita kalahkan, barulah di antara engkau dan kami berdua bertanding untuk menentukan siapa datuk yang paling lihai,” kata Toa Ok.

“Ha-ha-ha-ha! Aku orang tua tidak begitu berminat untuk mengejar nama. Tanpa menjadi datuk paling lihai di dunia aku pun sudah dikenal orang. Tapi bagaimana kalau pemenang pertandingan bukan saja menjadi datuk terlihai, akan tetapi juga berhak memiliki pedang pusaka Pek-lui-kiam?”

Toa Ok dan Ji Ok saling pandang, lantas tertawa bergelak. Toa Ok kembali mengangkat cawannya dan berkata “Tung-giam-ong, mari kita minum untuk perjanjian itu. Kami setuju sekali karena sebagai datuk terlihai, tentu saja berhak menjadi pemilik Pek-lui-kiam!”

Bukan main girang rasa hati Tung giam-ong. Tentu saja baginya jauh lebih ringan apa bila memenuhi syarat yang diajukan Toa Ok dari pada kalau dia sendiri harus memperebutkan Pek-lui-kiam itu di antara para datuk dan tokoh kangouw. Dia lalu menerima ajakan minum arak sampai tuga cawan penuh.

Selagi mereka minum dengan gembira, mendadak seorang penjaga berlari masuk dengan wajah pucat. Toa Ok memandang penjaga itu dengan marah.

“Berani benar engkau mengganggu kami! Apa kau tidak takut untuk dihukum mampus?”

“Ampun, Toa-pangcu,” penjaga itu melapor, “di luar terdapat seorang pemuda yang minta bertemu dengan pangcu, dan… dan puncak ini sudah terkepung pasukan yang berjumlah besar!”

Semua orang menjadi kaget mendengar ini. Tanpa banyak kata-kata lagi Toa Ok memberi isyarat kepada para pembantunya dan Tung-giam-ong juga cepat bangkit dan ikut keluar. Serombongan orang yang menjadi pimpinan itu keluar membawa senjata masing-masing. Toa Ok berjalan di depan, diikuti Ji Ok dan Sam Ok, lalu Tung-giam-ong.

Mereka terkejut dan terheran sekali melihat bahwa yang datang hanya seorang pemuda saja. Namun Tung-giam-ong dan Bu-tek Ngo-sian mengenal pemuda itu dan sudah tahu akan kelihaiannya, maka mereka memandang dengan alis berkerut, tidak gentar karena mereka kini ditemani tiga pangcu dari Kui-jiauw-pang dan yang lain-lain.

“Hemmm, orang muda, siapakah engkau dan apa maksudmu hendak bertemu dengan kami?”

Aku datang untuk menantang pembunuh pendekar Tan Tiong Bu di kota Sia-lin dan minta kembali Pek-lui-kiam yang dirampasnya!” kata Si Kong sambil memandang tajam kepada Sam Pangcu atau Ang I Sianjin yang berjubah merah.

Mendengar tantangan ini, semua orang tersenyum mengejek. Pemuda itu hanya seorang diri sedangkan mereka terdiri dari lima belas orang jagoan.

“Ha-ha-ha, katakan siapa engkau sebelum kami membunuh engkau, jangan sampai mati tanpa nama!” gertakToa Ok.

Si Kong tersenyum. Pemuda perkasa ini tentu tidak begitu tolol untuk mendatangi sarang harimau itu seorang diri pula. Dia telah bertemu dengan Pek Bwe Hwa dan Hui Lan, juga telah diperkenalkan kepada Panglima Gui Tin dan Cang Hok Thian yang sudah memimpin pasukan mendaki puncak serta mengepung puncak yang menjadi sarang Kui-jiauw-pang itu. Dia muncul seorang diri, akan tetapi teman-temannya sedang menanti di belakangnya dan siap untuk turun tangan kalau dia dikeroyok!

“Toa Ok, biarkan Ang I Sianjin melawan aku, ataukah engkau sendiri yang akan maju?”

Toa Ok mengerutkan alisnya. “Bocah sombong! Katakan siapa namamu!”

“Toa Ok, apakah engkau sudah lupa kepadaku? Ingat, ketika engkau bersama Ji Ok dan Bu-tek Ngo-sian menyerbu Pulau Teratai Merah, kita sudah pernah saling berhadapan, akan tetapi kalian begitu pengecut sehingga melarikan diri!"

Toa Ok terbelalak dan mengingat-ingat. Kini teringatlah dia akan pemuda yang membawa tongkat bambu dan hendak menerjangnya ketika mereka sudah terluka oleh perlawanan Ceng Lojin.

“Hemm, kiranya engkau bocah di Pulau Teratai Merah itu?”

“Benar, aku bernama Si Kong. Aku menantang Ang I Sianjin atau siapa saja yang hendak menghalangiku untuk merampas kembali Pek-lui-kiam.”

“Engkau akan mampus dikeroyok!” kata Gin Ciong yang sangat membenci pemuda yang pernah dicinta Cu Yin itu.

Si Kong tersenyum sambil menatap tajam wajah Toa Ok yang kelihatan masih ragu-ragu. Kemudian dia berkata dengan suara lantang sehingga terdengar oleh semua orang yang berada di situ.

“Toa Ok, jangan mencoba untuk main keroyokan! Aku menantang kalian untuk bertanding satu lawan satu. Bila kalian mau main keroyokan, di belakangku terdapat banyak kawan-kawanku, dan juga pasukan kerajaan telah mengepung sarang Kui-jiauw-pang ini!”

Toa Ok adalah seorang datuk yang amat cerdik. Dari laporan penjaga tadi, dia tidak perlu menyangsikan kebenaran kata-kata Si Kong, bukan gertakan kosong belaka. Akan tetapi dia ditemani banyak orang pandai, apa bila bertanding satu lawan satu belum tentu kalah. Dia cepat melihat ke bawah, dan di belakang Si Kong, teraling pohon-pohon dan semak-semak, kelihatan bayangan beberapa orang.

“Si Kong, apakah engkau benar-benar akan menepati janjimu untuk bertanding satu lawan satu dan tidak mengerahkan pasukan?”

“Pasukan kerajaan akan maju apabila pasukan Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai bergerak, dan kawan-kawanku akan maju kalau teman-temanmu maju pula! Engkau sebagai orang nomor satu di sini, ayo majulah dan tandingi aku, murid Pendekar Sadis Ceng Thian Sin!” tantang Si Kong yang sudah marah sekali.

Mendengar pemuda itu menyebut diri sebagai murid Pendekar Sadis, agak gentarlah rasa hati Toa Ok, maka dia lalu menoleh kepada Ji Ok dan berkata, “Ambilkan Pek-lui-kiam!”

Ji Ok melompat pergi memasuki rumah induk. Si Kong yang mendengar ini tersenyum.

“Bagus, pergunakanlah Pek-lui-kiam kalau engkau merasa jeri kepadaku. Aku hanya akan menggunakan tongkat bambu ini!” kata Si Kong sambil menyilangkan tongkat bambu yang sudah dibawanya ke depan dada.

Tak lama kemudian Ji Ok datang lagi sambil membawa pedang pusaka Pek-lui-kiam. Toa Ok menerima pedang itu lalu digantungkan di punggungnya, sedangkan tangan kanannya memegang senjatanya yang sangat istimewa, yaitu sebatang tongkat berbentuk ular yang setinggi sepundaknya.

Agaknya dia sengaja membawa pedang pusaka itu supaya jangan sampai dirampas orang lain dan juga agar dia dapat menggunakannya dan mengandalkan keampuhannya kalau sampai dia terdesak. Selain itu, kalau pihaknya terdesak sehingga dia terpaksa melarikan diri, maka dia dapat membawa serta pedang pusaka itu.

“Bocah sombong, sekarang tibalah saatnya bagimu untuk mampus di tanganku!” Toa Ok membentak untuk mengecilkan hati lawannya.

Akan tetapi Si Kong tersenyum mengejek. “Toa Ok, ketika dulu engkau menyerbu Pulau Teratai Merah, masih untung guruku memberi maaf kepadamu sehingga tidak mencabut nyawamu. Akan tetapi sekarang aku tidak akan memberi maaf lagi karena kejahatanmu sudah meningkat dengan pemberontakan!”

Mendengar ucapan ini, Toa Ok menjadi marah bukan main dan dia sudah menggerakkan tongkat ularnya menerjang maju. Tongkat itu menyambar dahsyat ke arah kepala Si Kong, dibarengi dengan menyambarnya tangan kirinya yang melakukan pukulan dengan sinkang yang panas. Tangan kiri ini ampuh sekali, tak kalah dahsyatnya dibandingkan tongkatnya.

Tapi Si Kong telah siap siaga. Dia maklum akan kelihaian datuk dari barat ini. Tongkatnya diputar secara aneh menangkis tongkat ular lantas menyambar ke bawah menotok tangan kiri lawan yang terbuka dan didorongkan kepadanya.

Toa Ok kaget sekali karena dari kedudukan menyerang sekarang mendadak dia diserang! Tongkat ularnya mental kembali saat bertemu tongkat bambu yang mengandung getaran kuat itu dan sekarang telapak tangan kirinya terancam totokan tongkat bambu. Dia cepat menarik kembali tangan kirinya dan tongkatnya sudah menyambar ke arah kedua kaki Si Kong.

Dengan gerakan ringan bagaikan burung walet tubuh Si Kong meloncat ke atas sehingga tongkat ular itu lewat di bawah kakinya. Ketika tubuhnya masih terbang ke atas, tongkat bambunya sudah menyambar ke bawah, menotok ke arah belakang kepala Toa Ok.

Kembali Toa Ok terkejut karena serangan balik Si Kong itu sama sekali tidak disangka-sangkanya. Memang di situlah letak kelihaian ilmu tongkat Ta-kauw Sin-tung, gerakannya sukar diduga lebih dahulu dan amat aneh, tidak seperti ilmu tongkat pada umumnya.

Ilmu tongkat Pemukul Anjing ini memang amat hebat dan pernah dengan ilmu itu Yok-sian Lo-kai malang melintang di dunia kang-ouw sehingga menjadi tokoh nomor satu di antara seluruh kaipang (perkumpulan pengemis).

Toa Ok harus memutar tubuhnya sambil melindungi dengan tongkat ularnya untuk dapat terhindar dari bahaya maut. Tongkatnya menangkis tongkat bambu yang menotok ke arah tengkuknya itu.

“Trakkkk!” Tongkat ular bertemu tongkat bambu dan tongkat ular mental kembali dengan kuatnya.

Memang tongkat bambu ini amat cocok untuk ilmu tongkat Ta-kauw Sin-tung, seolah-olah pada ruas-ruas tongkat yang kosong itu kini terisi tenaga sinkang yang kuat sekali hingga membuat tongkat bambu itu terasa keras dan berat ketika bertemu tongkat ular.

Mendadak Toa Ok melompat ke belakang dan sambil melompat itu tangannya bergerak. Sinar hitam menyambar ke arah Si Kong.

Melihat sambaran senjata-senjata rahasia itu hebat sekali, Si Kong langsung melepaskan capingnya lantas sekali melemparkan caping itu, topi lebar itu berputar dan semua jarum hitam itu menancap pada caping dan runtuh ke atas tanah. Si Kong cepat menerjang ke depan dengan tongkatnya sehingga Toa Ok harus melindungi dirinya dengan putaran tongkat ularnya yang membentuk perisai melindungi seluruh tubuhnya.

Melihat betapa Toa Ok sudah maju dan bertanding dengan serunya melawan pemuda itu, hati Tung-giam-ong menjadi tak enak. Yang dikhawatirkan adalah kalau Toa Ok kalah dan pedang Pek-lui-kiam asli yang di punggung Toa Ok itu sampai berpindah tangan terampas oleh pemuda lihai itu. Dia tidak dapat membantu Toa Ok karena sebelumnya telah berjanji akan bertanding satu lawan satu. Akan tetapi dia ingin mengetahui kekuatan pihak lawan, maka dia pun meloncat ke depan sambil menantang.

“Siapa yang akan melayani aku? Marilah kita bertanding satu lawan satu!”

Sebelum Hui Lan atau Bwe Hwa menyambut tantangan Datuk Besar Timur itu, dari arah kiri meloncat seorang laki-laki tua yang bertubuh sedang, berwajah tampan dan sikapnya gagah. Orang ini bukan lain adalah Lam Tok Siangkoan Lok, datuk dari selatan itu. Begitu muncul, dia langsung menghadapi Tung-giam-ong Tio Sun sambil tersenyum lebar.

“Tua bangka dari timur yang curang dan pengecut. Tentu engkau menyangka bahwa aku sudah mati, bukan? Tidak, aku tidak mati sebelum mencabut nyawamu yang rendah itu!” Setelah berkata demikian, Lam Tok sudah mencabut pedangnya.

Tung-giam-ong Tio Sun memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat. Dia melihat Lam Tok seperti orang melihat setan, melihat orang mati yang hidup kembali! Bagaimana mungkin Lam Tok masih dapat hidup dan segar bugar setelah menerima cakaran-cakaran beracun dari cakar setan, menerima pukulan sinkang-nya dan kemudian bahkan terjatuh ke dalam jurang yang teramat dalam?

“Kau... kau masih… hidup?” kata-kata ini keluar dari mulutnya seperti bertanya kepada diri sendiri, matanya masih terbelalak dan mulutnya ternganga. Akan tetapi secara diam-diam majikan Pulau Biruang itu sudah mengerahkan tenaga Thai-yang Sin-ciang pada tangan kirinya, siap untuk menyerang dengan pukulan jarak jauh.

“Hemm, andai aku sudah mati sekali pun, aku akan hidup kembali hanya untuk mencabut nyawamu!” kata Lam Tok dan dia menggerakkan tangan kirinya. Tiga batang anak panah meluncur seperti kilat menyambar ke arah tubuh Tung-giam-ong.

Akan tetapi pada saat itu Tung-giam-oang sudah siap siaga dan dia segera memukulkan tangan kirinya ke depan. Hawa pukulan yang sangat kuat menyambut tiga batang anak panah itu sehingga ketiga batang anak panah beracun itu runtuh ke atas tanah.

Lam Tok menerjang ke depan, menggerakkan pedang di tangan kanan dan tangan kirinya siap melancarkan pukulan Jeng-kin-lat (Tangan Seribu Kati). Tung-giam-ong bisa melihat serangan yang dahsyat dan berbahaya ini, maka dia pun menggerakkan senjata tombak cagaknya untuk menangkis sambil mengerahkan sinkang-nya.

“Tringg...! Cringgg...!”

Dua senjata itu bertemu dua kali dan kedua orang datuk itu terhuyung mundur beberapa langkah. Akan tetapi Lam Tok telah menerjang kembali dengan hebatnya. Dia menyerang dengan pedangnya, memainkan ilmu silat Lam-hai Sin-ciang yang datang bergelombang, dan tangan kirinya juga membentuk cakar garuda mengirim serangan bergantian dengan pedangnya. Tung-giam-ong terpaksa harus memutar tombak cagaknya untuk melindungi dirinya.

“Tranggg...!”

Kembali pedang berdentang ketika bertemu dengan tombak bercagak, dan pada saat itu tangan kiri Lam Tok menyambar ke arah dada lawannya. Bukan main hebatnya serangan tangan kiri ini karena mempergunakan tenaga seribu kati dan tangan kiri yang ampuh itu mengandung racun yang berbahaya sekali. Maklum bahwa lawannya adalah seorang ahli racun yang lihai, Tung-giam-ong terpaksa menghindarkan diri dengan elakan ke kiri sambil menusukkan tombak cagaknya ke arah lambung Lam Tok

“Cringgg...!”

Kembali kedua senjata saling bertemu dan bunga api berpijar. Keduanya kembali saling serang dengan hebatnya.

Sementara itu, ketika Ji Ok melihat betapa kakaknya mulai terdesak melawan Si Kong, dia cepat meloncat ke depan dengan maksud untuk mengeroyok. Memang biasanya Toa Ok dan Ji Ok maju bersama dan pasangan ini merupakan lawan yang amat tangguh.

“He-he, tidak boleh main keroyokan! Engkau adalah lawanku, Ji Ok!” terdengar bentakan dari samping kemudian seorang kakek tinggi besar berkepala botak telah melompat dan menyambut Ji Ok dengan melintangkan sepasang goloknya di depan dada dan sikapnya menantang.

Ji Ok segera mengenal kakek ini yang bukan lain adalah Pai Ong Loa Thian Kun. Kakek ini dijuluki Pai Ong (Raja Utara) karena semua orang kang-ouw di utara menganggap dia sebagai rajanya dunia kang-ouw.

“Pai Ong! Jangan mencampuri urusan kami!” Ji Ok membentak marah.

“Heh-he-heh! Engkau dan Toa Ok yang mengundang kami semua naik ke sini. Sekarang aku sudah datang dan aku tak mau ketinggalan melihat ramai-ramai mengadu kepandaian ini. Toa Ok sudah mendapatkan lawan, kalau engkau maju, maka akulah lawanmu untuk menentukan siapa yang lebih lihai di antara kita dan siapa yang lebih berhak memperoleh Pek-lui-kiam!”

Ji Ok adalah seorang datuk besar dari barat, tentu saja dia tidak gentar melawan Pai Ong. Dia menggerakkan kepala sehingga rambutnya yang tadi sebagian terurai ke depan, kini tergantung di belakang punggungnya sampai ke pinggang. Wajahnya yang menyeramkan seperti muka monyet penuh rambut itu terlihat marah, matanya kemerahan dan hidungnya mendengus-dengus. Tangannya meraih ke punggung dan dia telah mencabut senjatanya yang istimewa, yaitu sebatang pecut penggembala yang berekor panjang.

“Pai Ong, jangan mengira bahwa aku takut melawanmu!”

“Tar-tarr-tarrr...!”

Pecutnya meledak-ledak di udara sehingga nampak asap mengepul saking kuatnya pecut itu melecut, lalu di lain saat dia sudah menyerang Pai Ong dengan pecutnya.

Pai Ong menggerakkan sepasang goloknya dan menyambut lecutan itu dengan gerakan menggunting dengan sepasang goloknya. Ji Ok tidak membiarkan pecutnya digunting dua batang golok. Ditariknya kembali pecutnya dan kini secara tiba-tiba dia menyerang kedua kaki lawan dengan sabetan pecutnya.

Pai Ong melompat ke atas, akan tetapi dari atas menyambar sinar hitam yang bukan lain adalah rambut panjang Ji Ok yang segera menyambar begitu dia menggerakkan kepala. Ternyata Ji Ok dapat menggunakan rambutnya untuk menyerang dengan amat cepat dan berbahaya karena rambut itu mengandung tenaga sinkang yang kuat.

Pai Ong kembali menangkis dengan golok kirinya, dengan maksud untuk menyabet putus rambut Ji Ok, sementara golok kanannya sudah membacok ke arah pinggang lawan. Dari kedudukan menyerang kini Ji Ok malah terserang hebat. Maka dia mencelat ke belakang untuk mengelak, lalu memutar tubuh dan kembali menyerang dengan pecutnya.

Dua orang datuk itu sudah terlibat dalam pertandingan yang amat hebat. Setiap serangan mereka merupakan serangan maut yang berbahaya.

Melihat betapa Toa Ok dan Ji Ok sudah maju dan berkelahi dengan para pendatang itu, Sam Ok atau Ang I Sianjin menjadi marah sekali. Bagaimana pun juga puncak Kui-liong-san tadinya adalah sarang dari perkumpulannya. Dialah tuan rumah di situ. Kini agaknya perkumpulannya terancam oleh Si Kong beserta kawan-kawannya, bahkan Lam Tok dan Pai Ong, dua orang datuk besar itu, menentang Kui-jiauw-pang seperti berpihak kepada Si Kong.

Dia merasa berbesar hati karena betapa pun juga dia memiliki seratus orang lebih anggota Kui-jiauw-pang serta seratus orang lebih anggota Pek-lian-pai. Apabila dia mengerahkan semua pembantunya maju, maka pihaknya tidak akan kalah.

Agaknya Tio Gin Ciong mempunyai pendapat yang sama dengan Sam Ok. Melihat betapa ayahnya, Tung-giam-ong kini sudah dilawan oleh Lam Tok, dia menjadi marah sekali. Dia pun meloncat ke depan dengan maksud untuk membantu ayahnya menghadapi Lam Tok.

Akan tetapi pada saat itu pula muncul Pek Bwe Hwa dan Hui Lan. Hui Lan melompat ke depan saat Sam Ok dan Gin Ciong maju sehingga dara ini menghadapi dua orang lawan. Tanpa banyak cakap lagi Sam Ok dan Gin Ciong segera menggunakan senjata masing-masing untuk menerjang Hui Lan. Sam Ok menggunakan kipas di tangan kiri dan pedang di tangan kanan, sedangkan Gin Ciong juga menggunakan pedangnya.

Walau pun dara itu diserang oleh dua orang lawan, akan tetapi Hui Lan sama sekali tidak menjadi gentar. Hok-mo Siang-kun (Sepasang Pedang Penakluk Iblis) sudah berada pada kedua tangannya dan begitu dia memainkan sepasang pedang itu, nampaklah sinar hitam bergulung-gulung laksana sepasang naga bermain di angkasa.

Begitu dara itu memainkan sepasang pedangnya, Sam Ok dan Gin Ciong menjadi terkejut bukan main dan terpaksa main mundur, mencoba untuk mengepung gadis itu dari kiri dan kanan. Segera dua orang pengeroyok itu melakukan serangan bertubi-tubi, tetapi semua serangan itu terpental kembali begitu bertemu dengan dua gulungan sinar hitam itu.

Coa Leng Kun merasa tidak enak kalau tinggal diam saja. Dia melompat ke depan untuk membantu pihak tuan rumah, akan tetapi Bwe Hwa melompat ke depannya dengan muka kemerahan karena gadis ini sudah marah sekali melihat Coa Leng Kun.

Bwe Hwa teringat betapa dia hampir celaka karena dipengaruhi sihir empat orang tokoh Pek-lian-kauw, kemudian dia dikeroyok oleh Leng Kun dan See-thian Su-hiap. Tadinya dia mulai tertarik dan merasa kagum kepada Leng Kun, akan tetapi ternyata hanya ditipu saja oleh pemuda berpakaian serba putih dan yang bersenjata suling itu!

“Jahanam Coa Leng Kun, sekarang tiba saatnya aku membasmi manusia berwatak hina dan rendah seperti kamu!”

Melihat munculnya Pek Bwe Hwa, Leng Kun terkejut bukan main. Dia sudah tahu akan kelihaian gadis itu, maka dia lalu menoleh ke arah See-thian Su-hiap dan berkata, “Su-wi totiang, bantulah aku!”

See-thian Su-hiap memang telah siap untuk bertanding, oleh karena itu begitu mendengar permintaan Leng Kun, mereka segera berlompatan dan mengepung gadis itu. Melihat ini, Cang Hok Thian juga melompat ke depan dan membantu Bwe Hwa. Dua orang muda ini berhadapan dengan lima orang lawan dan mereka segera bergerak mengamuk, membuat lima orang pengeroyok itu mengepung dengan hati-hati.

Pertempuran itu menjadi semakin hebat ketika Bu-tek Ngo-sian maju pula mengeroyok. Dua orang dari mereka membantu Toa Ok yang sudah terdesak oleh Si Kong, dua orang lagi membantu Ji Ok yang juga kerepotan menghadapi serangan Pai Ong, dan satu orang lagi membantu Tung-giam-ong yang sedang bertanding melawan Lam Tok.

Panglima Gui Tin melihat betapa pertandingan itu sudah tidak adil lagi, melainkan main keroyokan. Maka dia pun memberi aba-aba kepada pasukannya. Beratus-ratus pasukan kerajaan menyerbu dan mengepung sarang Kui-jiauw-pang, yang langsung disambut oleh pasukan Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai.

Maka terjadilah pertempuran sengit dan hiruk-pikuk di puncak Kui-liong-san. Akan tetapi pasukan kerajaan berjumlah tiga sampai empat kali lebih banyak dibandingkan pasukan pemberontak, maka pertempuran itu menjadi berat sebelah.

Gui Tin yang berpengalaman dalam pertempuran segera melihat bahwa pasukannya akan menang dengan mudah. Dia lalu memilih belasan orang pembantunya yang memiliki ilmu silat cukup tinggi untuk membantu para pendekar yang dikeroyok. See-thian Su-hiap dan Bu-tek Ngo-sian tidak dapat lagi membantu kawan-kawan mereka karena mereka sendiri harus menghadapi pengeroyokan para prajurit.

Sekarang Si Kong berhadapan satu lawan satu dengan Toa Ok. Pada saat dia mendapat kesempatan, pemuda itu memutar tongkat bambunya hingga melibat tongkat ular lawan. Selagi mereka saling betot, Si Kong menggunakan Hok-liong Sin-ciang untuk menyerang dengan tangan kirinya.

Ilmu silat Hok-liong Sin-ciang ini merupakan ilmu silat istimewa dari mendiang Ceng Lojin. Pukulan yang dilakukan tangan kiri Si Kong itu mendatangkan hawa pukulan yang amat dahsyat. Karena tongkat mereka seolah menjadi satu sama lain, maka tidak ada jalan lain bagi Toa Ok kecuali menangkis dengan dorongan tangan kiri pula.

“Plakkk!” Dua telapak tangan bertemu, akan tetapi Si Kong telah menyimpan tenaga Hok-liong Sin-ciang dan menggantikan dengan ilmu Thi-khi I-beng!

Seketika Toa Ok merasa betapa tenaga sinkang-nya membocor keluar dari tangan kirinya, tersedot oleh telapak tangan kiri Si Kong. Dia terkejut sekali dan teringat akan ilmu Thi-khi I-beng yang amat berbahaya itu. Cepat dia menyimpan kembali tenaga sinkang-nya.

Sesudah tidak menggunakan sinkang lagi, daya tempel telapak tangan itu lenyap dengan sendirinya. Akan tetapi pada saat itu tangan kiri Si Kong menghantam ke arah tongkat ular dengan tangan miring seperti sebatang golok.

“Krekkk!” Tongkat berbentuk ular itu patah menjadi dua potong.

Marahlah Toa Ok. Dia membuang tongkat yang sudah patah itu lalu mencabut pedang di punggungnya. Tampak sinar terang berkilat ketika pedang tercabut dan sekali ini Si Kong maklum bahwa yang berada di tangan Toa Ok itu adalah pedang Pek-lui-kiam yang asli dan karena itu ampuh sekali.

Dari samping sinar terang itu menyambar ke arah leher Si Kong. Dia cepat menggetarkan tongkat bambunya untuk menangkis.

“Crokkk!” Tongkat bambunya putus menjadi dua potong.

Si Kong terkejut sekali. Tongkat bambunya itu tidak akan putus bertemu dengan senjata tajam yang mana pun juga. Akan tetapi sekali ini, begitu bertemu Pek-lui-kiam lalu putus, padahal dia sudah mengerahkan tenaga sinkang-nya!

Terdengar Toa Ok tertawa mengejek dan kakek itu terus menyerang dengan gencarnya. Si Kong menggunakan dua potongan bambu di tangan kanan dan kiri untuk menyambut, akan tetapi berturut-turut tongkat bambu yang telah menjadi pendek itu putus kembali. Dia membuang potongan tongkat bambu itu, lantas menggunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak dari sambaran Pek-lui-kiam.

Biar pun Toa Ok menyerang dan mendesak dengan pedang pusakanya, namun gerakan Si Kong terlampau gesit sehingga semua serangannya hanya mengenai tempat kosong saja. Semakin cepat Toa Ok menyerang, semakin cepat pula Si Kong bergerak mengelak karena dia telah menggunakan ilmu silat Yan-cu Hui-kun yang membuat tubuhnya seperti seekor burung walet saja gesitnya.

Pendekar Kelana Jilid 19

Si Kong berindap-indap mendekati suara orang yang berbantahan itu. Dari balik sebatang pohon besar dia mengintai. Jantungnya berdebar ketika dia melihat dua orang kakek itu berdiri saling berhadapan dengan wajah tak senang, bahkan marah. Dia mengenal kedua orang kakek itu yang bukan lain adalah Lam Tok dan Tung-giam-ong! Datuk besar selatan dan datuk besar timur itu saling berhadapan seperti dua ekor ayam jago sedang berlagak.

“Lam Tok!” seru Tung-giam-ong sambil menudingkan jari telunjuknya ke arah muka datuk besar selatan itu. “Kedatangan kita di sini bukan saja untuk menentukan siapa yang paling kuat di antara para datuk empat penjuru, tetapi juga untuk memperebutkan Pek-lui-kiam! Nah, sekarang kebetulan kita saling bertemu di sini, maka kita tentukan siapa di antara kita yang lebih berhak memiliki Pek-lui-kiam!”

“Ha-ha-ha, bagus sekali, Tung-giam-ong!” jawab Lam Tok dengan suara menyindir dan mengejek. “Apa kau sangka aku takut menghadapi tua bangka macam engkau? Memang sebaiknya kita tentukan dari sekarang agar kita tidak menghadapi terlalu banyak saingan!”

“Lam Tok, pukulan beracunmu itu tak akan meruntuhkan selembar pun rambutku! Tetapi engkau tidak akan dapat menahan pukulan dari Thai-yang Sin-ciang!”

“Ha-ha-ha, aku telah mendengar bahwa engkau menyempurnakan pukulan dari tanganmu yang panas, akan tetapi ilmumu itu bagiku seperti permainan kanak-kanak saja! Majulah kalau ingin kuhajar!”

“Lam Tok, sombong sekali engkau. Bersiaplah untuk mampus di tanganku hari ini!”

“Ha-ha-ha, selain engkau tak mungkin dapat mengalahkan aku, juga kalau engkau sampai dapat membunuhku, berarti engkau membunuh puteramu sendiri!”

“Apa maksudmu?” Tung-giam-ong memandang dengan heran dan kaget.

“Maksudku, puteramu jatuh cinta dan tergila-gila kepada puteriku! Kalau engkau sampai membunuhku, apa kau kira puteriku sudi berdekatan dengan puteramu? Dia bahkan akan membalas dendam kepadamu!”

Ucapan ini betul-betul mengejutkan hati Tung-giam-ong. “Puteraku Gin Ciong jatuh cinta kepada puterimu? Apa buktinya?”

“Ha-ha, buktinya? Belum lama ini aku bertemu dengan mereka berdua di pegunungan ini. Puteramu bahkan hendak membantu puteriku untuk mendapatkan Pek-lui-kiam. Lucunya, puteramu itu sungguh tidak tahu malu! Dia tergila-gila kepada puteriku padahal puteriku itu tidak mencintanya, meliankan mencinta seorang pemuda lain! Ha-ha-ha-ha, sungguh lucu. Anaknya dan bapaknya sama bodohnya!”

“Keparat!” Tung-giam-ong marah dan menerjang dengan pukulannya yang ampuh, yang disebut Thai-yang Sin-ciang yang berhawa panas.

Namun pukulan ini dengan mudah dielakkan oleh Lam Tok yang cepat membalas dengan serangannya Lam-hai Sin-ciang (Tangan Sakti Lautan Selatan) yang datangnya bagaikan gelombang lautan. Tetapi Tung-giam-ong juga dapat menghindarkan diri dengan mudah.

Si Kong yang menonton pertandingan itu menjadi sangat terkejut. Dia tahu bahwa kedua orang kakek itu menggunakan ilmu-ilmu pukulan yang amat ampuh dan dapat mematikan. Kedua kakek itu memperebutkan Pek-lui-kiam dengan taruhan nyawa. Mengingat bahwa Lam Tok adalah ayah kandung Cu Yin, Si Kong merasa tidak tega jika kakek itu terancam bahaya maut. Maka selagi kedua orang kakek itu bertanding hebat, Si Kong melompat ke tengah-tengah di antara mereka dan mendorong ke kanan kiri.

Dua orang kakek itu terkejut sekali ketika merasakan betapa dari dorongan itu terkandung tenaga dahsyat yang membuat mereka mundur dan menahan gerakan berikutnya.

“Ji-wi locianpwe, harap jangan berkelahi. Pek-lui-kiam yang akan ji-wi perebutkan berada di tangan ketua Kui-jiauw-pang!”

Dua orang kakek itu mengamati wajah Si Kong, kemudian Tung-giam-ong mengenalnya sebagai pemuda yang dapat menahan pukulan saktinya.

“Kiranya engkau, bocah setan!” bentaknya.

“Hemm, orang muda, mengapa engkau melerai pertandingan kami? Siapa engkau?” tanya Lam Tok sambil mengamati wajah pemuda itu penuh selidik.

“Saya berani melerai karena yang ji-wi perebutkan itu berada di tangan para pimpinan Kui-jiauw-pang. Jadi tidak ada gunanya berkelahi memperebutkan pedang yang masih berada di tangan orang lain. Hanya merugikan saja.”

“Siapa namamu?” LamTok mengulang.

Si Kong memberi hormat kepada kakek ini dan mejawab, “Nama saya Si Kong ...”

“Jahanam! Jadi engkau yang sudah menghina nama keluargaku?” bentak Lam Tok marah sekali.

“Apa maksud locianpwe?” tanya Si Kong kaget karena dia sama sekali tak merasa pernah melakukan penghinaan terhadap keluarga datuk ini.

“Hemm, maksudku sudah jelas! Engkau berani menolak cinta anakku Cu Yin, bukankah itu penghinaan namanya? Karena itu sekarang engkau harus mati di tanganku!” Sesudah berkata demikian, Lam Tok langsung menerjang Si Kong dengan sebuah pukulan maut sambil mengerahkan tenaga Jeng-kin-lat (Tenaga Seribu Kati)!

“Ehh, nanti dulu, locianpwe!” kata Si Kong sambil mengelak ke belakang.

“Ternyata engkaulah pemuda yang menghalangi cinta puteraku terhadap puteri Lam Tok! Memang engkau harus mampus!” Tung-giam-ong juga berseru kemudian menyerang Si Kong dari samping, menggunakan pukulan maut dari ilmu Thai-yang Sin-ciang.

Akan tetapi Si Kong juga dapat mengelak dan pemuda ini merasa bingung sekali diserang oleh dua orang datuk yang sakti itu! Karena dia tidak diberi kesempatan untuk membela dirinya, maka dia pun menggunakan Yan-cu Hui-kun untuk mengelak dari serangan ganda itu. Untuk melarikan diri sudah tidak ada kesempatan lagi karena dua orang datuk itu telah menyerangnya secara bertubi. Terpaksa dia mengelak dan menangkis sambil mencoba untuk balas menyerang untuk membendung hujan serangan itu.

Dua orang datuk besar itu menjadi penasaran dan marah sekali. Mereka berdua sudah menyerang sampai belasan jurus tetapi pemuda itu masih belum dapat mereka robohkan. Karena penasaran, dua orang datuk itu segera berdiri sejajar lalu berbareng menyerang dengan pukulan masing-masing yang amat kuatnya. Tung-giam-ong menyerang dengan ilmu Thai-yang Sin-ciang yang amat panas sedangkan Lam Tok menyerang dengan ilmu Eng-jiauw-kang (Tenaga Cakar Garuda) yang selain sangat kuat juga mengandung racun yang berbahaya. Sedikit saja kulit lawan tergores cakaran ini, maka sudah cukup untuk membunuhnya. Darahnya akan keracunan.

Melihat dua pukulan ini, Si Kong menyadari bahwa nyawanya terancam bahaya maut. Dia terpaksa harus mengeluarkan ilmu silat simpanannya, yaitu Hok-liang Sin-ciang. Karena untuk mengelak atau menangkis dua serangan itu amat berbahaya, maka tidak ada jalan lain baginya kecuali melawan keras dengan keras. Dia berdiri hampir berjongkok, kedua tangannya didorong ke depan menyambut dua serangan lawan itu sambil mengerahkan tenaga sinkang-nya.

“Wuuuutt...! Dessss...!”

Dua tenaga dahsyat itu saling bertemu, dan akibatnya tubuh Si Kong terjengkang lantas bergulingan, namun dua orang kakek itu pun terhuyung-huyung ke belakang. Dua orang datuk itu menyangka bahwa Si Kong telah terluka berat, padahal pemuda itu tadi sengaja menggulingkan tubuhnya untuk memunahkan tenaga pukulan yang melanda dirinya.

Lam Tok yang melihat Si Kong bergulingan, cepat menggerakkan tangan kirinya ke arah pinggang. Dicabutnya tiga batang anak panah lantas disambitkan dengan sepenuh tenaga ke arah tubuh Si Kong yang bergulingan.

“Ayah, jangan...!”

Terdengar pekik melengking kemudian sesosok bayangan berkelebat menghadang antara Si Kong dan Lam Tok. Bayangan itu bagaikan perisai yang melindungi Si Kong sehingga tiga batang anak panah itu dengan telak menancap di dadanya dan bayangan itu roboh!

“Yin-moi...!” Si Kong berteriak sambil menubruk gadis yang roboh itu.

Gadis itu memang Cu Yin dan baru saja dia muncul di situ bersama Gin Ciong. Pada saat Lam Tok menyambitkan anak-anak panahnya, Cu Yin segera tahu bahwa nyawa Si Kong berada dalam bahaya maut. Maka tanpa mempedulikan dirinya, dara itu lalu menghadang dan menjadi perisai sehingga terkena tiga batang anak panah beracun itu.

Si Kong menubruk dan memangku kepala gadis itu sambil mengguncang pundaknya.

“Yin-moi..., ahh, Cu Yin...!” Si Kong meratap dan baru sadarlah dia betapa sesungguhnya di lubuk hatinya terdapat perasaan kasih sayang yang besar terhadap Cu Yin.

“Yin-moi... ahh, Yin-moi...!” Si Kong mendekap kepala itu.

Sekali melihat saja maklumlah dia bahwa nyawa gadis itu tidak dapat tertolong lagi. Tiga batang anak panah itu menancap sampai amblas seluruhnya pada dadanya dan seketika tubuh Cu Yin sudah berubah biru kehitaman yang berarti bahwa dia telah keracunan. Cu Yin membuka matanya dan dia tersenyum mendapatkan kenyataan bahwa dia dipangku oleh Si Kong. Dia mengangkat tangan kirinya, mengelus pipi Si Kong.

“Kong-ko... ahh, Kong-ko, aku... girang melihat... engkau selamat...”

“Yin-moi, kenapa kau lakukan ini? Kenapa engkau mengorbankan nyawamu untukku?” Si Kong menunduk dan menciumi muka gadis itu dengan hati hancur. Tanpa terasa lagi air matanya jatuh berderai membasahi muka Cu Yin.

“Koko... aku girang… dapat… melakukan sesuatu... untukmu... aku... aku cinta padamu, koko...”

“Cu Yin...! Jangan mati, Cu Yin, aku pun cinta padamu!” Si Kong menangis.

Gadis itu tersenyum lebar dan memandang ke arah muka Si Kong. “Engkau... menangis, koko? Menangis untukku...?”

“Ya, aku ingin engkau hidup, Yin-moi!”

Cu Yin menggerakkan tangannya dan mengambil pedang Pek-lui-kiam dari punggungnya. “Ini... Pek-lui-kiam... kuserahkan kepadamu sebagai bukti cintaku... selamat... selamat... tinggal, koko...” Gadis itu terkulai dan tewas dalam rangkulan Si Kong.

“Cu Yin... ahh, Yin-moi...!” Si Kong menangis.

“Dessss...!”

Tiba-tiba sebuah tendangan yang keras membuat tubuhnya terpelanting dan bergulingan. Kiranya yang menendang adalah Gin Ciong, yang hatinya terasa panas oleh api cemburu. Si Kong baru sadar dan bangkit dari lautan duka di mana dia tadi terbenam. Pada saat itu Gin Ciong sudah mengejarnya dan sekali lagi kaki itu terayun, akan tetapi kini mengarah kepala Si Kong, merupakan tendangan maut.

Si Kong telah sadar sepenuhnya, maka ketika kaki itu menyambar ke arah kepalanya, dia menggerakkan tangan kanannya, menyambar dan menangkap kaki itu lalu dilontarkannya ke depan. Tubuh Gin Ciong terlempar sampai jauh dan menimpa batang pohon. Berdebuk suaranya dan Gin Ciong terbanting, seketika nanar dan tidak mampu bangkit.

Melihat puteranya terlempar dan terbanting, Tung-giam-ong menjadi marah sekali. Akan tetapi Lam Tok lebih marah lagi melihat puterinya tewas. Biar pun puterinya tewas karena anak panahnya sendiri, namun dia menyalahkan Si Kong.

“Jahanam, kau sudah membunuh anakku!” teriaknya dan berbareng dengan Tung-giam-ong, dia menerjang maju.

Kini Si Kong sudah siap siaga. Mengingat akan kematian Cu Yin, dia pun berseru,” Kalian dua orang tua bangka telah menyebabkan kematian Cu Yin!”

Setelah itu dia membabatkan pedang yang diterima dari Cu Yin tadi ke arah kedua orang datuk besar itu. Melihat pedang yang bersinar kilat itu, baik Lam Tok mau pun Tung-giam-ong menjadi terkejut bukan main dan cepat mereka pun mencabut senjata mereka. Lam Tok mencabut pedangnya dan Tung-giam-ong mencabut tombak cagaknya.

“Cringgg…! Trakkk...!” Pedang di tangan Si Kong patah-patah ketika bertemu dengan dua senjata itu.

Si Kong terbelalak, begitu pula dengan dua orang datuk besar itu. Akan tetapi Gin Ciong yang sudah dapat bergerak kembali berseru kepada ayahnya.

“Ayah, pedang itu bukan Pek-lui-kiam, melainkan hanya pedang tiruan!”

Mendengar ucapan ini mengertilah Si Kong dan dia membuang pedang itu dengan marah, lantas menyambar sebatang cabang pohon untuk dijadikan senjata tongkat. Sekarang Si Kong dikeroyok tiga.

Si Kong maklum bahwa tiga orang itu amat lihai dan berkeras hendak membunuhnya. Dia sendiri marah sekali melihat kematian Cu Yin yang mengorbankan nyawa untuknya, maka dia menyambut serangan tiga orang itu dengan tongkatnya, memainkan Ta-kauw Sin-tung sambil mengerahkan tenaga sinkang sekuatnya.

Akan tetapi, betapa pun lihainya Si Kong, sekarang dia harus melawan pengeroyokan dua orang datuk besar yang masih dibantu pula oleh Gin Ciong yang cukup tangguh. Dia tidak mendapat kesempatan mempergunakan Ilmu Thi-khi I-beng karena tiga orang lawannya semua menggunakan senjata. Thi-khi I-beng hanya boleh diandalkan dalam pertandingan dengan tangan kosong, jika ada persentuhan antara tangan lawan dan anggota tubuhnya.

Untung bahwa ilmu tongkat yang dimainkannya, yaitu Ta-kauw Sin-tung memiliki gerakan yang luar biasa. Apa lagi ditambah dengan ilmunya Yan-cu Hui-kun (Silat Burung Walet Terbang) yang membuat tubuhnya bergerak dengan sangat lincah sehingga sampai lima puluh jurus lebih mereka bertanding, namun belum juga pemuda itu dapat dirobohkan. Ini merupakan hal yang luar biasa sekali.

Dua orang kakek itu hampir tak dapat percaya bahwa mereka berdua, dibantu Gin Ciong, tidak mampu merobohkan pemuda itu dalam waktu lima puluh jurus lebih! Apabila hal ini diketahui oleh dunia kangouw, maka mereka tentu akan menjadi bahan olok-olok.

Si Kong merasa bahwa akhirnya dia akan kehabisan tenaga dan tentu akan kalah kalau perkelahian itu dilanjutkan. Dia ingin melepaskan diri dari pengeroyokan mereka, namun mereka bertiga tidak memberi kesempatan kepadanya. Mereka mengepung ketat sekali.

Tiba-tiba muncul banyak orang, ada puluhan orang banyaknya, tidak kurang dari empat puluh orang. Mereka adalah orang-orang Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai. Melihat mereka, Gin Ciong pun berseru.

“Kalian semua bantu kami menangkap pemuda ini!”

Puluhan orang Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai segera menyerbu dengan senjata mereka. Tapi hal ini bukan membuat Si Kong terancam bahaya, bahkan memberi jalan kepadanya untuk meloloskan diri dari ancaman maut.

Begitu melihat puluhan anak buah itu mengepung dan menyerangnya, Si Kong langsung meninggalkan tiga orang pengeroyoknya dan melompat ke tengah-tengah puluhan orang anak buah itu. Gerakannya begitu cepat sehingga sesudah merobohkan beberapa orang, dia sudah lenyap di antara mereka sehingga Lam Tok, Tung-giam-ong dan Tio Gin Ciong tidak dapat mengejarnya.

Dari dalam kerumunan banyak orang itu Si Kong menyelinap dan akhirnya berhasil keluar dari kepungan lantas melarikan diri secepatnya mempergunakan ilmu berlari cepat Liok-te Hui-teng dan sebentar saja bayangannya telah lenyap ditelan pohon-pohon dalam hutan.

Sesudah bayangan Si Kong lenyap, Lam Tok segera menghampiri jenazah puterinya. Dia berjongkok dekat jenazah yang masih hangat itu sambil melamun sedih.

Gin Ciong menghampiri ayahnya dan menceritakan betapa dia sudah diterima oleh para pimpinan Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai dan bersekutu dengan mereka. Tung-giam-ong Tio Sun adalah datuk besar timur yang tentu saja sudah mengenal nama besar Pek-lian-pai sebagai perkumpulan pemberontak yang kuat. Dia mendengar bahwa puteranya telah bersekutu dengan mereka, maka dia menjadi girang sekali.

“Kabarnya Pek-lui-kiam berada di tangan ketua Kui-jiauw-pang,” katanya.

“Benar, ayah. Akan tetapi kini Kui-jiauw-pang mempunyai tiga orang ketua, yaitu Toa Ok, Ji Ok dan Ang I Sianjin yang sekarang memakai julukan Sam Ok. Toa Ok yang mengatur bahwa yang akan didapatkan oleh para tokoh kangouw hanyalah Pek-lui-kiam palsu, ada pun yang asli tetap berada di dalam kekuasaannya.”

“Hemm, aku datang ke sini atas undangan Toa Ok dan Ji Ok untuk menentukan siapa di antara empat datuk besar dari empat penjuru yang pantas memperoleh gelar datuk paling lihai di dunia! Siapa pun yang menang dalam pertandingan nanti berhak memiliki Pek-lui-kiam!”

“Ayah, mengenai Pek-lui-kiam harap jangan khawatir. Toa Ok dan Ji Ok telah bergabung dengan Pek-lian-pai dan mereka memiliki cita-cita besar untuk meraih kedudukan tertinggi sesudah kerajaan Beng berhasil kita kuasai. Kalau Ayah menyatakan bersedia membantu gerakan mereka, tentu urusan pedang Pek-lui-kiam menjadi mudah. Tanpa susah payah Ayah akan dapat memilikinya sebagai upah Ayah suka membantu gerakan mereka.”

Wajah Tung-giam-ong Tio Sun langsung berseri mendengar ucapan puteranya itu. “Kau pikir begitukah? Dan bagaimana dengan Lam Tok itu? Dia pun ikut diundang dan dia pun menginginkan pedang pusaka Pek-lui-kiam!”

Gin Ciong memandang ke arah kakek yang masih duduk di dekat jenazah Cu Yin sambil termenung sedih itu. Pemuda ini mengerutkan alisnya. Cu Yin yang diharapkan menjadi isterinya telah tewas. Tidak ada hubungannya lagi dengan Lam Tok dan bahkan Lam Tok merupakan saingan yang berat, patut disingkirkan lebih dulu.

“Ayah, dia pun menghendaki pedang Pek-lui-kiam. Dia musuh kita. Akan tetapi kalau dia suka membantu gerakan kita, dia boleh dijadikan teman.”

“Bagaimana kalau dia tidak mau bekerja sama?” tanya kakek tinggi kurus yang mukanya penuh brewok itu.

Gin Ciong menggerakkan tangan kanan seperti sebatang golok dan menggorok lehernya sendiri, sebagai tanda bahwa kalau Lam Tok menolak bekerja sama, maka lebih baik dia dibunuh saja! Isyarat ini membuat Tung-giam-ong merasa senang dan dia menyeringai lebar sambil mendekati Lam Tok yang masih duduk bersila dekat jenazah puterinya.

“Hemmm, Lam Tok. Yang sudah mati tidak perlu ditangisi, tidak ada gunanya. Lebih baik sekarang engkau bekerja sama dengan aku dan kelak kita tentu akan mampu membalas dendam kepada Si Kong itu!”

Lam Tok menoleh dan memandang kepada Tung-giam-ong dengan wajah dingin. “Bekerja sama dengan kamu?” Dia mengulang dalam suaranya terkandung ejekan.

“Bukan saja dengan aku, Lam Tok. Akan tetapi terutama sekali membantu Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai.”

Tiba-tiba Lam Tok meloncat berdiri. Mukanya berubah merah dan matanya bersinar-sinar penuh kemarahan. Telunjuk kirinya menuding ke arah wajah Tung-giam-ong. “Tung-giam-ong, kau kira aku ini orang apa? Engkau mengajak aku bersekongkol dengan Pek-lian-pai untuk memberontak? Aku bukan pemberontak dan aku tak sudi membantu Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai, tidak sudi bekerja sama dengan pengkhianat macam kamu!”

Wajah Tung-giam-ong menjadi pucat, lalu merah sekali. “Jahanam busuk, engkau berani menghinaku?”

Sementara itu Gin Ciong telah memberi aba-aba kepada orang-orang Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai.

“Bunuh orang tak tahu diri ini!”

Ketika itu Tung-giam-ong sudah menyerang Lam Tok dengan senjata tombak cagaknya. Gin Ciong mencabut pedangnya dan dia pun menyerang Lam Tok.

Lam Tok yang marah sekali itu sudah pula mencabut pedangnya. Dia segera menangkis penyerangan ayah dan anak itu, kemudian membalas serangan mereka dengan tak kalah hebatnya. Akan tetapi Lam Tok sekali ini menghadapi pengeroyokan yang ketat dan kuat. Baru menghadapi Tung-giam-ong seorang saja kepandaiannya sudah seimbang. Dengan pengeroyokan Gin Ciong saja, Lam Tok telah terdesak, apa lagi di situ masih ada puluhan orang anggota Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai yang turut pula mengeroyoknya, maka dia segera terdesak hebat.

Lam Tok mengamuk. Pedangnya diputar dengan begitu hebatnya ketika dia berloncatan meninggalkan pengeroyokan ayah dan anak itu, lantas menerjang kepungan anak buah Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai sehingga empat orang pengeroyok mati berdarah.

Akan tetapi Tung-giam-ong Tio Sun dan Tio Gin Ciong sudah mengejar dan menyerang dengan berbareng, membuat Lam Tok terpaksa harus memutar pedang menangkis. Pada saat itulah sebuah cakar setan dari anggota Kui-jiauw-pang telah mengenai punggungnya. Cakaran itu merobek baju berikut kulit punggungnya, mendatangkan luka memanjang.

Lam Tok terkejut lantas membalikkan tubuhya. Tangan kirinya menyambar dan dia sudah dapat memegang lengan penyerangnya itu dan sekali sentakan, tubuh anggota Kui-jiauw-pang itu terangkat ke atas lalu dibanting ke atas tanah. Orang itu tewas seketika.

Lam Tok telah memutar pedangnya kembali. Akan tetapi kini pengeroyokan semakin ketat sehingga kembali pundak kirinya terkena goresan cakar setan. Karena luka di punggung dan pundaknya itu terasa nyeri sekali, Lam Tok lalu meniru perbuatan Si Kong tadi.

Ia cepat meloncat dan menyerbu di antara para anggota Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai, menyelinap di antara mereka sambil merobohkan banyak orang. Akhirnya dia dapat lolos, melarikan diri dan dikejar oleh Tung-giam-ong dan Gin Ciong.

Kembali Lam Tok bisa dikejar sehingga terpaksa melayani datuk timur dan puteranya itu. Akan tetapi luka-luka beracun di punggung dan pundaknya membuat gerakannya lambat dan terpaksa dia mundur terus sampai tiba di dekat jurang. Karena tidak mungkin mundur lagi, dia lalu mengamuk menghadapi pengeroyokan dua orang itu hingga akhirnya sebuah pukulan tangan kiri Tung-giam-ong mengenai dadanya. Pukulan itu adalah satu jurus dari Thai-yang Sin-ciang. Dadanya yang terpukul itu terasa panas dan tubuhnya terjengkang masuk ke dalam jurang yang menganga di belakang Lam Tok.

Tung-giam-ong dan Gin Ciong menjenguk ke dalam jurang. Ternyata jurang itu sangat dalam dan tertutup kabut sehingga mereka tidak dapat melihat tubuh Lam Tok.

“Ha-ha-ha, lenyaplah sudah seorang sainganku!” Tung-giam-ong tertawa bergelak karena girangnya.

Pada waktu terjatuh tadi, pikiran Lam Tok masih terang. Tahulah dia bahwa bahaya maut mengancam dirinya. Dia berusaha untuk menggunakan kedua tangan meraih, kalau-kalau ada sebatang pohon terjulur. Akan tetapi tangannya tidak dapat menangkap apa-apa dan dirinya tenggelam ke dalam kabut. Tidak ada lain jalan baginya untuk menyelamatkan diri kecuali mengerahkan tenaga saktinya melindungi tubuh dari bantingan ke dasar jurang.

“Wuuuuttt...! Bukkk...!”

Tubuh Lam Tok terbanting di atas dasar jurang itu. Ia telah mengerahkan tenaga saktinya untuk melindungi pinggulnya dari bantingan itu, akan tetapi ternyata dia mendarat dengan mulus dan lunak. Kiranya di tempat itu terdapat banyak daun kering, bertumpuk sampai tebal sehingga merupakan tempat lunak seolah dia terbanting ke atas kasur tebal!

Akan tetapi rasa nyeri di punggung dan pundaknya karena terluka cakar setan membuat dia pening sekali. Apa lagi bekas pukulan Tung-giam-ong tadi masih terasa panas sekali olehnya, maka setelah merintih satu kali, Lam Tok lalu jatuh pingsan.

Lam Tok membuka matanya dan dia langsung teringat bahwa dia habis dikeroyok Tung-giam-ong dan terjatuh ke dalam jurang. Dia teringat pula bahwa punggung dan pundaknya terluka oleh cakaran setan anggota Kui-jiauw-pang yang mendatangkan rasa nyeri bukan main. Akan tetapi dia merasa heran karena punggung serta pundaknya tidak terasa sakit sama sekali. Juga rasa panas akibat pukulan Tung-giam-ong sudah lenyap! Dan bajunya tersingkap seolah-olah ada orang yang menanggalkan sebagian bajunya.

Terdengar gerakan orang di sebelah kirinya dan Lam Tok cepat menengok. Ketika melihat ada seorang pemuda duduk di atas batu di sebelahnya, dia segera bangkit, kaget karena dia mengenal pemuda itu sebagai Si Kong!

Dia menoleh ke kanan kiri. Dia tidak lagi berada di dasar jurang, melainkan dalam sebuah hutan, sedang rebah di atas rumput hijau. Lam Tok adalah seorang yang sangat cerdik, maka sekali lihat saja dia sudah dapat menduga apa yang terjadi. Tentu pemuda ini yang telah memindahkannya dari dasar jurang.

Dia segera mengerahkan sinkang ke punggung dan pundaknya. Tidak terasa nyeri. Juga dadanya yang tadi terasa panas kini telah biasa kembali. Lam Tok dapat menduga bahwa dia telah ditolong oleh Si Kong. Akan tetapi dia cepat bangkit duduk, memandang kepada Si Kong lantas bertanya, suaranya dingin karena dia masih ingat bahwa pemuda ini yang menyebabkan kematian Cu Yin.

“Engkau di sini?”

Si Kong memberi hormat dan berkata sopan, “Saya melihat locianpwe rebah pingsan di dasar jurang itu.” Dia menuding ke depan di mana terdapat jurang.

“Engkau yang memindahkan aku ke sini dan juga mengobati aku hingga lukaku sembuh?” tanyanya lagi dan pandang mata datuk itu mengamati wajah Si Kong penuh selidik.

“Benar, locianpwe. Melihat locianpwe terluka akibat goresan cakar beracun serta pukulan yang berhawa panas, aku lalu mengobati locianpwe dengan menyedot racun dan melawan hawa panas dengan sinkang. Sayangnya aku tidak mempunyai mustika batu giok seperti yang dimiliki nona Tang Hui Lan sehingga bekas racun itu belum bersih benar, akan tetapi dengan pengerahan sinkang, locianpwe tentu akan dapat mengusirnya keluar.”

“Hemm, mengapa engkau menolong dan menyelamatkan aku?!” pertanyaan ini dilakukan dengan suara membentak seperti orang menuntut.

“Mengapa tidak, locianpwe? Melihat engkau atau siapa saja menggeletak pingsan dalam keadaan terancam bahaya maut, tentu saja aku turun tangan menolongmu.”

“Tapi... tadi aku berusaha untuk membunuhmu! Bahkan sudah mengeroyokmu dengan si jahanam Tung-giam-ong itu. Dan engkau pun tentu sudah mati di tanganku kalau saja Cu Yin tidak mengorbankan nyawa untukmu!”

Si Kong memejamkan kedua matanya sambil mengerutkan alisnya, lalu berkata dengan suara parau penuh permohonan. “Ahh, locianpwe, aku mohon janganlan locianpwe bicara lagi tentang Yin-moi!”

Si Kong membuka matanya yang kini sudah basah oleh air mata. Hatinya tertusuk ketika dia teringat akan Cu Yin, gadis yang sesungguhnya dikasihinya itu.

“Cu Yin begitu mencintamu, mengapa engkau pernah menolak cintanya?”

“Aku tidak menolak, hanya... merasa tidak berharga untuk melakukan perjalanan bersama dia, pula tidak patut dipandang orang bila seorang gadis seperti dia melakukan perjalanan bersama seorang pemuda. Akan tetapi... ahh, semua itu telah berlalu, locianpwe dan aku memang bersalah kepada Cu Yin. Kalau locianpwe masih merasa menyesal dan hendak membunuh aku, silakan. Aku tidak akan melawan.”

Melihat pemuda itu demikian sedihnya, kemarahan Lam Tok menghilang, bahkan di dalam hatinya timbul rasa suka terhadap pemuda yang sudah menyelamatkan jiwanya itu. Akan tetapi dia tidak mau menunjukkan kelemahan hatinya ini dan berkata dengan nada keras.

“Sudahlah, cepat pergilah, pergi jauh-jauh sebelum aku berubah pikiran. Pergi tinggalkan aku seorang diri!”

Si Kong menghela napas dan bangkit berdiri, kemudian memberi hormat kepada datuk itu. “Selamat tinggal, locianpwe.”

Lam Tok diam saja, wajahnya dingin dan dia bersila sambil memejamkan matanya untuk menghimpun hawa murni dan menghilangkan sisa racun dari punggung serta pundaknya. Si Kong memandang dengan hati terharu, maklum betapa sedihnya datuk yang baru saja kehilangan puterinya itu. Dia lalu pergi meninggalkan Lam Tok.

Si Kong berlari cepat ke tempat di mana pertempuran tadi berlangsung. Dan seperti yang diharapkannya, jenazah Cu Yin masih menggeletak di situ, tidak ada yang mengurus, ada pun mayat-mayat para anak buah Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai sudah dibawa rekan-rekan mereka.

Dia merasa kasihan sekali kepada Cu Yin. Tak disangkanya nasib gadis jenaka itu begini menyedihkan. Tewas di tangan ayah kandungnya sendiri dan jenazahnya terlantar tanpa ada yang mengurusnya.

“Maafkan aku, Yin-moi. Baru sekarang aku bisa mengurus jenazahmu. Semoga arwahmu mendapat tempat yang layak di alam baka.”

Si Kong lalu menggali sebuah lubang yang cukup dalam. Dengan hati kasihan dan terharu terpaksa dia menguburkan jenazah itu dengan amat sederhana, tanpa peti, tanpa upacara sembahyang, tanpa apa-apa. Setelah merebahkan jenazah itu di dalam lubang, dari atas dia melihat jenazah itu dan kembali kedua matanya basah. Cu Yin yang nampak demikian cantik rebah di lubang itu, seperti orang sedang tidur pulas saja.

“Selamat berpisah, Yin-moi, semoga kita dapat saling bertemu kembali di alam lain.” Dia menguatkan batinnya, lalu menutupi jenazah itu dengan daun-daun kering sehingga tidak nampak lagi dan barulah dia tega untuk menutup lubang itu dengan tanah kembali.

Setelah selesai, dia mengambil sebuah batu besar yang digulingkannya ke depan makam itu supaya dapat menjadi semacam nisan atau tanda. Dengan mengerahkan sinkang-nya, dia kemudian mengukir beberapa huruf di permukaan batu yang berbunyi: 'Yang tercinta Siangkoan Cu Yin'.

Setelah duduk bersila di depan batu nisan itu selama setengah jam, Si Kong lalu bangkit dan sekali lagi memandang ke arah gundukan tanah, berbisik, “Selamat tinggal Yin-moi.”

Dia lalu mengerahkan tenaganya dan sebentar saja lenyap dari tempat itu, berlari cepat sekali di antara pohon-pohon besar.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Tiga orang ketua Kui-jiauw-pang bergembira menerima Tung-giam-oang yang diajak oleh puteranya menjadi tamu kehormatan Kui-jiauw-pang. Toa Ok semakin senang mendengar bahwa Lam Tok sudah tewas oleh Tung-giam-ong. Lam Tok adalah salah satu di antara para datuk yang disegani dan sekarang datuk itu telah tewas.

“Kami mengucapkan selamat untuk kemenangan Tung-giam-ong atas Lam Tok. Mari kita minum secawan arak untuk menghormati Tung-giam-ong sekalian menghaturkan selamat datang!”

Semua orang minum arak untuk menyambut ucapan selamat dari Toa Ok itu. Tung-giam-ong sendiri juga dengan gembira minum araknya.

“Sebagai ayah dari sahabat baik kami Tio-kongcu, kami harap agar Tung-giam-ong suka berterus terang mengenai tujuan perjalanannya ke sini,” kata pula Toa Ok.

“Ha-ha-ha, Toa Ok masih pura-pura bertanya lagi!” Tung-giam-ong tertawa, memandang kepada semua yang hadir dan minum lagi arak dari cawannya.

Mereka semua lengkap duduk di meja perjamuan itu. Toa Ok, Ji Ok, Sam Ok, Coa Leng Kun, Tio Gin Ciong, kelima Butek Ngo-sian serta empat orang tokoh Pek lian-kauw See-thian Su-hiap.

“Biar pun kami sudah dapat menduga, tetapi akan lebih baik bila engkau mengatakannya kepada kami, karena sebagai seorang tamu kehormatan, kami harus dapat melayanimu sebaik-baiknya, Tung-giam-ong!”

Kembali Tung-giam-ong tertawa, lalu menoleh kepada puteranya dan berkata, “Puteraku sudah mengadakan hubungan dengan Kui-jiauw-pang, itu saja sudah menunjukkan bahwa kedatanganku adalah sebagai sahabat, bukan musuh. Akan tetapi aku mengingatkan Toa Ok dan Ji Ok. Kalian sudah mengundang para datuk termasuk aku untuk mengadakan pertandingan di sini, untuk menentukan siapa yang terlihai di antara para datuk. Karena undangan itulah aku datang, dan kedua, aku pun tertarik oleh berita tentang Pek-lui-kiam, maka aku pun hendak memperebutkannya pula!” Kini dia memandang kepada Sam Ok atau Ang I Sianjin dengan sinar mata menantang.

“Bagus, memang telah kami duga, Tung-giam-ong. Akan tetapi mengingat bahwa engkau adalah ayah dari Tio-kongcu, kami mengajak engkau untuk bekerja sama. Pertama-tama, engkau bantulah kami untuk mengusir para datuk dan tokoh-tokoh kang-ouw yang hendak memperebutkan pedang Pek-lui-kiam. Setelah semua datuk dapat kita kalahkan, barulah di antara engkau dan kami berdua bertanding untuk menentukan siapa datuk yang paling lihai,” kata Toa Ok.

“Ha-ha-ha-ha! Aku orang tua tidak begitu berminat untuk mengejar nama. Tanpa menjadi datuk paling lihai di dunia aku pun sudah dikenal orang. Tapi bagaimana kalau pemenang pertandingan bukan saja menjadi datuk terlihai, akan tetapi juga berhak memiliki pedang pusaka Pek-lui-kiam?”

Toa Ok dan Ji Ok saling pandang, lantas tertawa bergelak. Toa Ok kembali mengangkat cawannya dan berkata “Tung-giam-ong, mari kita minum untuk perjanjian itu. Kami setuju sekali karena sebagai datuk terlihai, tentu saja berhak menjadi pemilik Pek-lui-kiam!”

Bukan main girang rasa hati Tung giam-ong. Tentu saja baginya jauh lebih ringan apa bila memenuhi syarat yang diajukan Toa Ok dari pada kalau dia sendiri harus memperebutkan Pek-lui-kiam itu di antara para datuk dan tokoh kangouw. Dia lalu menerima ajakan minum arak sampai tuga cawan penuh.

Selagi mereka minum dengan gembira, mendadak seorang penjaga berlari masuk dengan wajah pucat. Toa Ok memandang penjaga itu dengan marah.

“Berani benar engkau mengganggu kami! Apa kau tidak takut untuk dihukum mampus?”

“Ampun, Toa-pangcu,” penjaga itu melapor, “di luar terdapat seorang pemuda yang minta bertemu dengan pangcu, dan… dan puncak ini sudah terkepung pasukan yang berjumlah besar!”

Semua orang menjadi kaget mendengar ini. Tanpa banyak kata-kata lagi Toa Ok memberi isyarat kepada para pembantunya dan Tung-giam-ong juga cepat bangkit dan ikut keluar. Serombongan orang yang menjadi pimpinan itu keluar membawa senjata masing-masing. Toa Ok berjalan di depan, diikuti Ji Ok dan Sam Ok, lalu Tung-giam-ong.

Mereka terkejut dan terheran sekali melihat bahwa yang datang hanya seorang pemuda saja. Namun Tung-giam-ong dan Bu-tek Ngo-sian mengenal pemuda itu dan sudah tahu akan kelihaiannya, maka mereka memandang dengan alis berkerut, tidak gentar karena mereka kini ditemani tiga pangcu dari Kui-jiauw-pang dan yang lain-lain.

“Hemmm, orang muda, siapakah engkau dan apa maksudmu hendak bertemu dengan kami?”

Aku datang untuk menantang pembunuh pendekar Tan Tiong Bu di kota Sia-lin dan minta kembali Pek-lui-kiam yang dirampasnya!” kata Si Kong sambil memandang tajam kepada Sam Pangcu atau Ang I Sianjin yang berjubah merah.

Mendengar tantangan ini, semua orang tersenyum mengejek. Pemuda itu hanya seorang diri sedangkan mereka terdiri dari lima belas orang jagoan.

“Ha-ha-ha, katakan siapa engkau sebelum kami membunuh engkau, jangan sampai mati tanpa nama!” gertakToa Ok.

Si Kong tersenyum. Pemuda perkasa ini tentu tidak begitu tolol untuk mendatangi sarang harimau itu seorang diri pula. Dia telah bertemu dengan Pek Bwe Hwa dan Hui Lan, juga telah diperkenalkan kepada Panglima Gui Tin dan Cang Hok Thian yang sudah memimpin pasukan mendaki puncak serta mengepung puncak yang menjadi sarang Kui-jiauw-pang itu. Dia muncul seorang diri, akan tetapi teman-temannya sedang menanti di belakangnya dan siap untuk turun tangan kalau dia dikeroyok!

“Toa Ok, biarkan Ang I Sianjin melawan aku, ataukah engkau sendiri yang akan maju?”

Toa Ok mengerutkan alisnya. “Bocah sombong! Katakan siapa namamu!”

“Toa Ok, apakah engkau sudah lupa kepadaku? Ingat, ketika engkau bersama Ji Ok dan Bu-tek Ngo-sian menyerbu Pulau Teratai Merah, kita sudah pernah saling berhadapan, akan tetapi kalian begitu pengecut sehingga melarikan diri!"

Toa Ok terbelalak dan mengingat-ingat. Kini teringatlah dia akan pemuda yang membawa tongkat bambu dan hendak menerjangnya ketika mereka sudah terluka oleh perlawanan Ceng Lojin.

“Hemm, kiranya engkau bocah di Pulau Teratai Merah itu?”

“Benar, aku bernama Si Kong. Aku menantang Ang I Sianjin atau siapa saja yang hendak menghalangiku untuk merampas kembali Pek-lui-kiam.”

“Engkau akan mampus dikeroyok!” kata Gin Ciong yang sangat membenci pemuda yang pernah dicinta Cu Yin itu.

Si Kong tersenyum sambil menatap tajam wajah Toa Ok yang kelihatan masih ragu-ragu. Kemudian dia berkata dengan suara lantang sehingga terdengar oleh semua orang yang berada di situ.

“Toa Ok, jangan mencoba untuk main keroyokan! Aku menantang kalian untuk bertanding satu lawan satu. Bila kalian mau main keroyokan, di belakangku terdapat banyak kawan-kawanku, dan juga pasukan kerajaan telah mengepung sarang Kui-jiauw-pang ini!”

Toa Ok adalah seorang datuk yang amat cerdik. Dari laporan penjaga tadi, dia tidak perlu menyangsikan kebenaran kata-kata Si Kong, bukan gertakan kosong belaka. Akan tetapi dia ditemani banyak orang pandai, apa bila bertanding satu lawan satu belum tentu kalah. Dia cepat melihat ke bawah, dan di belakang Si Kong, teraling pohon-pohon dan semak-semak, kelihatan bayangan beberapa orang.

“Si Kong, apakah engkau benar-benar akan menepati janjimu untuk bertanding satu lawan satu dan tidak mengerahkan pasukan?”

“Pasukan kerajaan akan maju apabila pasukan Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai bergerak, dan kawan-kawanku akan maju kalau teman-temanmu maju pula! Engkau sebagai orang nomor satu di sini, ayo majulah dan tandingi aku, murid Pendekar Sadis Ceng Thian Sin!” tantang Si Kong yang sudah marah sekali.

Mendengar pemuda itu menyebut diri sebagai murid Pendekar Sadis, agak gentarlah rasa hati Toa Ok, maka dia lalu menoleh kepada Ji Ok dan berkata, “Ambilkan Pek-lui-kiam!”

Ji Ok melompat pergi memasuki rumah induk. Si Kong yang mendengar ini tersenyum.

“Bagus, pergunakanlah Pek-lui-kiam kalau engkau merasa jeri kepadaku. Aku hanya akan menggunakan tongkat bambu ini!” kata Si Kong sambil menyilangkan tongkat bambu yang sudah dibawanya ke depan dada.

Tak lama kemudian Ji Ok datang lagi sambil membawa pedang pusaka Pek-lui-kiam. Toa Ok menerima pedang itu lalu digantungkan di punggungnya, sedangkan tangan kanannya memegang senjatanya yang sangat istimewa, yaitu sebatang tongkat berbentuk ular yang setinggi sepundaknya.

Agaknya dia sengaja membawa pedang pusaka itu supaya jangan sampai dirampas orang lain dan juga agar dia dapat menggunakannya dan mengandalkan keampuhannya kalau sampai dia terdesak. Selain itu, kalau pihaknya terdesak sehingga dia terpaksa melarikan diri, maka dia dapat membawa serta pedang pusaka itu.

“Bocah sombong, sekarang tibalah saatnya bagimu untuk mampus di tanganku!” Toa Ok membentak untuk mengecilkan hati lawannya.

Akan tetapi Si Kong tersenyum mengejek. “Toa Ok, ketika dulu engkau menyerbu Pulau Teratai Merah, masih untung guruku memberi maaf kepadamu sehingga tidak mencabut nyawamu. Akan tetapi sekarang aku tidak akan memberi maaf lagi karena kejahatanmu sudah meningkat dengan pemberontakan!”

Mendengar ucapan ini, Toa Ok menjadi marah bukan main dan dia sudah menggerakkan tongkat ularnya menerjang maju. Tongkat itu menyambar dahsyat ke arah kepala Si Kong, dibarengi dengan menyambarnya tangan kirinya yang melakukan pukulan dengan sinkang yang panas. Tangan kiri ini ampuh sekali, tak kalah dahsyatnya dibandingkan tongkatnya.

Tapi Si Kong telah siap siaga. Dia maklum akan kelihaian datuk dari barat ini. Tongkatnya diputar secara aneh menangkis tongkat ular lantas menyambar ke bawah menotok tangan kiri lawan yang terbuka dan didorongkan kepadanya.

Toa Ok kaget sekali karena dari kedudukan menyerang sekarang mendadak dia diserang! Tongkat ularnya mental kembali saat bertemu tongkat bambu yang mengandung getaran kuat itu dan sekarang telapak tangan kirinya terancam totokan tongkat bambu. Dia cepat menarik kembali tangan kirinya dan tongkatnya sudah menyambar ke arah kedua kaki Si Kong.

Dengan gerakan ringan bagaikan burung walet tubuh Si Kong meloncat ke atas sehingga tongkat ular itu lewat di bawah kakinya. Ketika tubuhnya masih terbang ke atas, tongkat bambunya sudah menyambar ke bawah, menotok ke arah belakang kepala Toa Ok.

Kembali Toa Ok terkejut karena serangan balik Si Kong itu sama sekali tidak disangka-sangkanya. Memang di situlah letak kelihaian ilmu tongkat Ta-kauw Sin-tung, gerakannya sukar diduga lebih dahulu dan amat aneh, tidak seperti ilmu tongkat pada umumnya.

Ilmu tongkat Pemukul Anjing ini memang amat hebat dan pernah dengan ilmu itu Yok-sian Lo-kai malang melintang di dunia kang-ouw sehingga menjadi tokoh nomor satu di antara seluruh kaipang (perkumpulan pengemis).

Toa Ok harus memutar tubuhnya sambil melindungi dengan tongkat ularnya untuk dapat terhindar dari bahaya maut. Tongkatnya menangkis tongkat bambu yang menotok ke arah tengkuknya itu.

“Trakkkk!” Tongkat ular bertemu tongkat bambu dan tongkat ular mental kembali dengan kuatnya.

Memang tongkat bambu ini amat cocok untuk ilmu tongkat Ta-kauw Sin-tung, seolah-olah pada ruas-ruas tongkat yang kosong itu kini terisi tenaga sinkang yang kuat sekali hingga membuat tongkat bambu itu terasa keras dan berat ketika bertemu tongkat ular.

Mendadak Toa Ok melompat ke belakang dan sambil melompat itu tangannya bergerak. Sinar hitam menyambar ke arah Si Kong.

Melihat sambaran senjata-senjata rahasia itu hebat sekali, Si Kong langsung melepaskan capingnya lantas sekali melemparkan caping itu, topi lebar itu berputar dan semua jarum hitam itu menancap pada caping dan runtuh ke atas tanah. Si Kong cepat menerjang ke depan dengan tongkatnya sehingga Toa Ok harus melindungi dirinya dengan putaran tongkat ularnya yang membentuk perisai melindungi seluruh tubuhnya.

Melihat betapa Toa Ok sudah maju dan bertanding dengan serunya melawan pemuda itu, hati Tung-giam-ong menjadi tak enak. Yang dikhawatirkan adalah kalau Toa Ok kalah dan pedang Pek-lui-kiam asli yang di punggung Toa Ok itu sampai berpindah tangan terampas oleh pemuda lihai itu. Dia tidak dapat membantu Toa Ok karena sebelumnya telah berjanji akan bertanding satu lawan satu. Akan tetapi dia ingin mengetahui kekuatan pihak lawan, maka dia pun meloncat ke depan sambil menantang.

“Siapa yang akan melayani aku? Marilah kita bertanding satu lawan satu!”

Sebelum Hui Lan atau Bwe Hwa menyambut tantangan Datuk Besar Timur itu, dari arah kiri meloncat seorang laki-laki tua yang bertubuh sedang, berwajah tampan dan sikapnya gagah. Orang ini bukan lain adalah Lam Tok Siangkoan Lok, datuk dari selatan itu. Begitu muncul, dia langsung menghadapi Tung-giam-ong Tio Sun sambil tersenyum lebar.

“Tua bangka dari timur yang curang dan pengecut. Tentu engkau menyangka bahwa aku sudah mati, bukan? Tidak, aku tidak mati sebelum mencabut nyawamu yang rendah itu!” Setelah berkata demikian, Lam Tok sudah mencabut pedangnya.

Tung-giam-ong Tio Sun memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat. Dia melihat Lam Tok seperti orang melihat setan, melihat orang mati yang hidup kembali! Bagaimana mungkin Lam Tok masih dapat hidup dan segar bugar setelah menerima cakaran-cakaran beracun dari cakar setan, menerima pukulan sinkang-nya dan kemudian bahkan terjatuh ke dalam jurang yang teramat dalam?

“Kau... kau masih… hidup?” kata-kata ini keluar dari mulutnya seperti bertanya kepada diri sendiri, matanya masih terbelalak dan mulutnya ternganga. Akan tetapi secara diam-diam majikan Pulau Biruang itu sudah mengerahkan tenaga Thai-yang Sin-ciang pada tangan kirinya, siap untuk menyerang dengan pukulan jarak jauh.

“Hemm, andai aku sudah mati sekali pun, aku akan hidup kembali hanya untuk mencabut nyawamu!” kata Lam Tok dan dia menggerakkan tangan kirinya. Tiga batang anak panah meluncur seperti kilat menyambar ke arah tubuh Tung-giam-ong.

Akan tetapi pada saat itu Tung-giam-oang sudah siap siaga dan dia segera memukulkan tangan kirinya ke depan. Hawa pukulan yang sangat kuat menyambut tiga batang anak panah itu sehingga ketiga batang anak panah beracun itu runtuh ke atas tanah.

Lam Tok menerjang ke depan, menggerakkan pedang di tangan kanan dan tangan kirinya siap melancarkan pukulan Jeng-kin-lat (Tangan Seribu Kati). Tung-giam-ong bisa melihat serangan yang dahsyat dan berbahaya ini, maka dia pun menggerakkan senjata tombak cagaknya untuk menangkis sambil mengerahkan sinkang-nya.

“Tringg...! Cringgg...!”

Dua senjata itu bertemu dua kali dan kedua orang datuk itu terhuyung mundur beberapa langkah. Akan tetapi Lam Tok telah menerjang kembali dengan hebatnya. Dia menyerang dengan pedangnya, memainkan ilmu silat Lam-hai Sin-ciang yang datang bergelombang, dan tangan kirinya juga membentuk cakar garuda mengirim serangan bergantian dengan pedangnya. Tung-giam-ong terpaksa harus memutar tombak cagaknya untuk melindungi dirinya.

“Tranggg...!”

Kembali pedang berdentang ketika bertemu dengan tombak bercagak, dan pada saat itu tangan kiri Lam Tok menyambar ke arah dada lawannya. Bukan main hebatnya serangan tangan kiri ini karena mempergunakan tenaga seribu kati dan tangan kiri yang ampuh itu mengandung racun yang berbahaya sekali. Maklum bahwa lawannya adalah seorang ahli racun yang lihai, Tung-giam-ong terpaksa menghindarkan diri dengan elakan ke kiri sambil menusukkan tombak cagaknya ke arah lambung Lam Tok

“Cringgg...!”

Kembali kedua senjata saling bertemu dan bunga api berpijar. Keduanya kembali saling serang dengan hebatnya.

Sementara itu, ketika Ji Ok melihat betapa kakaknya mulai terdesak melawan Si Kong, dia cepat meloncat ke depan dengan maksud untuk mengeroyok. Memang biasanya Toa Ok dan Ji Ok maju bersama dan pasangan ini merupakan lawan yang amat tangguh.

“He-he, tidak boleh main keroyokan! Engkau adalah lawanku, Ji Ok!” terdengar bentakan dari samping kemudian seorang kakek tinggi besar berkepala botak telah melompat dan menyambut Ji Ok dengan melintangkan sepasang goloknya di depan dada dan sikapnya menantang.

Ji Ok segera mengenal kakek ini yang bukan lain adalah Pai Ong Loa Thian Kun. Kakek ini dijuluki Pai Ong (Raja Utara) karena semua orang kang-ouw di utara menganggap dia sebagai rajanya dunia kang-ouw.

“Pai Ong! Jangan mencampuri urusan kami!” Ji Ok membentak marah.

“Heh-he-heh! Engkau dan Toa Ok yang mengundang kami semua naik ke sini. Sekarang aku sudah datang dan aku tak mau ketinggalan melihat ramai-ramai mengadu kepandaian ini. Toa Ok sudah mendapatkan lawan, kalau engkau maju, maka akulah lawanmu untuk menentukan siapa yang lebih lihai di antara kita dan siapa yang lebih berhak memperoleh Pek-lui-kiam!”

Ji Ok adalah seorang datuk besar dari barat, tentu saja dia tidak gentar melawan Pai Ong. Dia menggerakkan kepala sehingga rambutnya yang tadi sebagian terurai ke depan, kini tergantung di belakang punggungnya sampai ke pinggang. Wajahnya yang menyeramkan seperti muka monyet penuh rambut itu terlihat marah, matanya kemerahan dan hidungnya mendengus-dengus. Tangannya meraih ke punggung dan dia telah mencabut senjatanya yang istimewa, yaitu sebatang pecut penggembala yang berekor panjang.

“Pai Ong, jangan mengira bahwa aku takut melawanmu!”

“Tar-tarr-tarrr...!”

Pecutnya meledak-ledak di udara sehingga nampak asap mengepul saking kuatnya pecut itu melecut, lalu di lain saat dia sudah menyerang Pai Ong dengan pecutnya.

Pai Ong menggerakkan sepasang goloknya dan menyambut lecutan itu dengan gerakan menggunting dengan sepasang goloknya. Ji Ok tidak membiarkan pecutnya digunting dua batang golok. Ditariknya kembali pecutnya dan kini secara tiba-tiba dia menyerang kedua kaki lawan dengan sabetan pecutnya.

Pai Ong melompat ke atas, akan tetapi dari atas menyambar sinar hitam yang bukan lain adalah rambut panjang Ji Ok yang segera menyambar begitu dia menggerakkan kepala. Ternyata Ji Ok dapat menggunakan rambutnya untuk menyerang dengan amat cepat dan berbahaya karena rambut itu mengandung tenaga sinkang yang kuat.

Pai Ong kembali menangkis dengan golok kirinya, dengan maksud untuk menyabet putus rambut Ji Ok, sementara golok kanannya sudah membacok ke arah pinggang lawan. Dari kedudukan menyerang kini Ji Ok malah terserang hebat. Maka dia mencelat ke belakang untuk mengelak, lalu memutar tubuh dan kembali menyerang dengan pecutnya.

Dua orang datuk itu sudah terlibat dalam pertandingan yang amat hebat. Setiap serangan mereka merupakan serangan maut yang berbahaya.

Melihat betapa Toa Ok dan Ji Ok sudah maju dan berkelahi dengan para pendatang itu, Sam Ok atau Ang I Sianjin menjadi marah sekali. Bagaimana pun juga puncak Kui-liong-san tadinya adalah sarang dari perkumpulannya. Dialah tuan rumah di situ. Kini agaknya perkumpulannya terancam oleh Si Kong beserta kawan-kawannya, bahkan Lam Tok dan Pai Ong, dua orang datuk besar itu, menentang Kui-jiauw-pang seperti berpihak kepada Si Kong.

Dia merasa berbesar hati karena betapa pun juga dia memiliki seratus orang lebih anggota Kui-jiauw-pang serta seratus orang lebih anggota Pek-lian-pai. Apabila dia mengerahkan semua pembantunya maju, maka pihaknya tidak akan kalah.

Agaknya Tio Gin Ciong mempunyai pendapat yang sama dengan Sam Ok. Melihat betapa ayahnya, Tung-giam-ong kini sudah dilawan oleh Lam Tok, dia menjadi marah sekali. Dia pun meloncat ke depan dengan maksud untuk membantu ayahnya menghadapi Lam Tok.

Akan tetapi pada saat itu pula muncul Pek Bwe Hwa dan Hui Lan. Hui Lan melompat ke depan saat Sam Ok dan Gin Ciong maju sehingga dara ini menghadapi dua orang lawan. Tanpa banyak cakap lagi Sam Ok dan Gin Ciong segera menggunakan senjata masing-masing untuk menerjang Hui Lan. Sam Ok menggunakan kipas di tangan kiri dan pedang di tangan kanan, sedangkan Gin Ciong juga menggunakan pedangnya.

Walau pun dara itu diserang oleh dua orang lawan, akan tetapi Hui Lan sama sekali tidak menjadi gentar. Hok-mo Siang-kun (Sepasang Pedang Penakluk Iblis) sudah berada pada kedua tangannya dan begitu dia memainkan sepasang pedang itu, nampaklah sinar hitam bergulung-gulung laksana sepasang naga bermain di angkasa.

Begitu dara itu memainkan sepasang pedangnya, Sam Ok dan Gin Ciong menjadi terkejut bukan main dan terpaksa main mundur, mencoba untuk mengepung gadis itu dari kiri dan kanan. Segera dua orang pengeroyok itu melakukan serangan bertubi-tubi, tetapi semua serangan itu terpental kembali begitu bertemu dengan dua gulungan sinar hitam itu.

Coa Leng Kun merasa tidak enak kalau tinggal diam saja. Dia melompat ke depan untuk membantu pihak tuan rumah, akan tetapi Bwe Hwa melompat ke depannya dengan muka kemerahan karena gadis ini sudah marah sekali melihat Coa Leng Kun.

Bwe Hwa teringat betapa dia hampir celaka karena dipengaruhi sihir empat orang tokoh Pek-lian-kauw, kemudian dia dikeroyok oleh Leng Kun dan See-thian Su-hiap. Tadinya dia mulai tertarik dan merasa kagum kepada Leng Kun, akan tetapi ternyata hanya ditipu saja oleh pemuda berpakaian serba putih dan yang bersenjata suling itu!

“Jahanam Coa Leng Kun, sekarang tiba saatnya aku membasmi manusia berwatak hina dan rendah seperti kamu!”

Melihat munculnya Pek Bwe Hwa, Leng Kun terkejut bukan main. Dia sudah tahu akan kelihaian gadis itu, maka dia lalu menoleh ke arah See-thian Su-hiap dan berkata, “Su-wi totiang, bantulah aku!”

See-thian Su-hiap memang telah siap untuk bertanding, oleh karena itu begitu mendengar permintaan Leng Kun, mereka segera berlompatan dan mengepung gadis itu. Melihat ini, Cang Hok Thian juga melompat ke depan dan membantu Bwe Hwa. Dua orang muda ini berhadapan dengan lima orang lawan dan mereka segera bergerak mengamuk, membuat lima orang pengeroyok itu mengepung dengan hati-hati.

Pertempuran itu menjadi semakin hebat ketika Bu-tek Ngo-sian maju pula mengeroyok. Dua orang dari mereka membantu Toa Ok yang sudah terdesak oleh Si Kong, dua orang lagi membantu Ji Ok yang juga kerepotan menghadapi serangan Pai Ong, dan satu orang lagi membantu Tung-giam-ong yang sedang bertanding melawan Lam Tok.

Panglima Gui Tin melihat betapa pertandingan itu sudah tidak adil lagi, melainkan main keroyokan. Maka dia pun memberi aba-aba kepada pasukannya. Beratus-ratus pasukan kerajaan menyerbu dan mengepung sarang Kui-jiauw-pang, yang langsung disambut oleh pasukan Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai.

Maka terjadilah pertempuran sengit dan hiruk-pikuk di puncak Kui-liong-san. Akan tetapi pasukan kerajaan berjumlah tiga sampai empat kali lebih banyak dibandingkan pasukan pemberontak, maka pertempuran itu menjadi berat sebelah.

Gui Tin yang berpengalaman dalam pertempuran segera melihat bahwa pasukannya akan menang dengan mudah. Dia lalu memilih belasan orang pembantunya yang memiliki ilmu silat cukup tinggi untuk membantu para pendekar yang dikeroyok. See-thian Su-hiap dan Bu-tek Ngo-sian tidak dapat lagi membantu kawan-kawan mereka karena mereka sendiri harus menghadapi pengeroyokan para prajurit.

Sekarang Si Kong berhadapan satu lawan satu dengan Toa Ok. Pada saat dia mendapat kesempatan, pemuda itu memutar tongkat bambunya hingga melibat tongkat ular lawan. Selagi mereka saling betot, Si Kong menggunakan Hok-liong Sin-ciang untuk menyerang dengan tangan kirinya.

Ilmu silat Hok-liong Sin-ciang ini merupakan ilmu silat istimewa dari mendiang Ceng Lojin. Pukulan yang dilakukan tangan kiri Si Kong itu mendatangkan hawa pukulan yang amat dahsyat. Karena tongkat mereka seolah menjadi satu sama lain, maka tidak ada jalan lain bagi Toa Ok kecuali menangkis dengan dorongan tangan kiri pula.

“Plakkk!” Dua telapak tangan bertemu, akan tetapi Si Kong telah menyimpan tenaga Hok-liong Sin-ciang dan menggantikan dengan ilmu Thi-khi I-beng!

Seketika Toa Ok merasa betapa tenaga sinkang-nya membocor keluar dari tangan kirinya, tersedot oleh telapak tangan kiri Si Kong. Dia terkejut sekali dan teringat akan ilmu Thi-khi I-beng yang amat berbahaya itu. Cepat dia menyimpan kembali tenaga sinkang-nya.

Sesudah tidak menggunakan sinkang lagi, daya tempel telapak tangan itu lenyap dengan sendirinya. Akan tetapi pada saat itu tangan kiri Si Kong menghantam ke arah tongkat ular dengan tangan miring seperti sebatang golok.

“Krekkk!” Tongkat berbentuk ular itu patah menjadi dua potong.

Marahlah Toa Ok. Dia membuang tongkat yang sudah patah itu lalu mencabut pedang di punggungnya. Tampak sinar terang berkilat ketika pedang tercabut dan sekali ini Si Kong maklum bahwa yang berada di tangan Toa Ok itu adalah pedang Pek-lui-kiam yang asli dan karena itu ampuh sekali.

Dari samping sinar terang itu menyambar ke arah leher Si Kong. Dia cepat menggetarkan tongkat bambunya untuk menangkis.

“Crokkk!” Tongkat bambunya putus menjadi dua potong.

Si Kong terkejut sekali. Tongkat bambunya itu tidak akan putus bertemu dengan senjata tajam yang mana pun juga. Akan tetapi sekali ini, begitu bertemu Pek-lui-kiam lalu putus, padahal dia sudah mengerahkan tenaga sinkang-nya!

Terdengar Toa Ok tertawa mengejek dan kakek itu terus menyerang dengan gencarnya. Si Kong menggunakan dua potongan bambu di tangan kanan dan kiri untuk menyambut, akan tetapi berturut-turut tongkat bambu yang telah menjadi pendek itu putus kembali. Dia membuang potongan tongkat bambu itu, lantas menggunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak dari sambaran Pek-lui-kiam.

Biar pun Toa Ok menyerang dan mendesak dengan pedang pusakanya, namun gerakan Si Kong terlampau gesit sehingga semua serangannya hanya mengenai tempat kosong saja. Semakin cepat Toa Ok menyerang, semakin cepat pula Si Kong bergerak mengelak karena dia telah menggunakan ilmu silat Yan-cu Hui-kun yang membuat tubuhnya seperti seekor burung walet saja gesitnya.