Social Items

Hui Lan menduga bahwa dia tertarik kepada Bwe Hwa dan sebaliknya Bwe Hwa menduga bahwa dia mencinta Hui Lan. Dia merasa seperti seekor domba yang akan diperebutkan oleh dua ekor singa betina!

Dia memang kagum kepada Hui Lan, akan kecantikan dan kelihaiannya. Akan tetapi dia juga kagum kepada Bwe Hwa. Tidak terbayangkan olehnya tentang cinta! Orang seperti dia, hidup sebatang kara, tanpa sanak kadang, miskin tidak mempunyai apa-apa, seorang petualang miskin, bagaimana dapat memikirkan tentang cinta apa lagi perjodohan? Kalau pun ada perasaan cinta masuk ke dalam hati dan akal pikirannya, seketika akan diusirnya dengan penuh kesadaran bahwa perjodohan bukanlah milik seorang kelana miskin seperti dia.

Si Kong mandi sambil berpikir. Memang tadi dia sengaja membawa buntalan pakaiannya karena dia merasa tidak tahan lagi kalau menghadapi dua orang gadis yang seakan-akan saling cemburu itu. Akan tetapi hatinya masih meragu apakah sikapnya tidak terlalu kaku terhadap dua orang gadis itu kalau dia meninggalkan mereka!

********************

Sementara itu Bwe Hwa memandang Hui Lan yang baru selesai mandi dengan pandang mata iri. Dalam pandangannya Hui Lan cantik sekali dan inilah yang membuat dia merasa iri. Dia hampir merasa yakin bahwa Si Kong dan Hui Lan saling mencinta. Kalau memang benar demikian, dia harus mengalah. Akan tetapi siapa tahu Si Kong benar-benar belum jatuh cinta kepada Hui Lan seperti yang dikatakan tadi. Kalau benar demikian, masih ada kesempatan baginya untuk mengharapkan pemuda itu dapat mencinta dirinya.

“Adik Hui Lan, engkau nampak cantik sekali sehabis mandi dengan rambut terurai itu.”

Hui Lan memandang kepada Bwe Hwa sambil tersenyum. “Terima kasih, enci Bwe Hwa. Engkau sendiri juga cantik bukan main.” Hui Lan duduk di atas lantai dan mengeringkan rambutnya.

“Hemm, setiap orang pria tentu akan mudah jatuh cinta kepadamu, Hui Lan!” Bwe Hwa tersenyum.

Hui Lan mengangkat muka menatap wajah Bwe Hwa lantas berkata, “Ihh, enci Bwe Hwa. Mengapa engkau berkata begitu? Aku tidak peduli ribuan orang pria jatuh cinta kepadaku. Tetapi demikian pula engkau, tentu mudah merobohkan hati pria yang mana pun dengan kecantikanmu dan kepandaianmu.”

“Aku tak akan merobohkan hati pria mana pun, adik Lan. Akan tetapi jelas nampak olehku betapa engkau saling mencinta dengan Si Kong! Hayo sangkallah kalau kata-kataku tidak benar!” Biar pun dalam nada suaranya terdengar pahit, namun Bwe Hwa memandang Hui Lan dengan senyum manis.

Hui Lan menghentikan kedua tangannya yang sejak tadi menggosok untuk mengeringkan rambutnya dengan kain. Dia menatap wajah Bwe Hwa dengan mata terbelalak, kemudian menggelung rambutnya seolah tidak pernah mendengar kata-kata Bwe Hwa tadi.

“Bagaimana, Lan-moi? Kata-kataku tadi benar, bukan? Mudah saja bagiku untuk melihat bahwa engkau mencinta dia dan dia pun mencintamu. Jawablah!”

Hui Lan menyelesaikan gelung rambutnya, lalu dia memandang Bwe Hwa dengan wajah serius.

“Enci Bwe Hwa, aku tidak perlu berbohong kepadamu. Engkau mengatakan bahwa aku mencinta Kong-ko, memang hal itu tidak perlu kusangkal. Memang benar aku kagum dan tertarik sekali kepada Kong-ko, akan tetapi itu tidak berarti bahwa dia pun suka kepadaku. Tetapi aku pun dapat menduga bahwa engkau juga suka dan kagum kepadanya, bahwa engkau mencintanya, enci Bwe Hwa!”

Wajah Bwe Hwa berubah menjadi kemerahan, akan tetapi sebagai seorang gadis yang gagah perkasa dia tidak berpura-pura. Seperti juga Hui Lan dia berani mengakui apa yang tersembunyi di dalam hatinya.

“Terus terang saja, dugaanmu itu benar, Lan-moi. Belum pernah aku tertarik kepada pria kecuali dia. Akan tetapi apakah dia suka kepadaku, hal ini masih belum dapat diketahui.”

Hening sejenak. Dua orang gadis perkasa dan cantik jelita itu menundukkan muka dengan alis berkerut. Mereka menyadari bahwa di antara mereka sudah terdapat jurang pemisah yang ditimbulkan oleh rasa cinta mereka terhadap seorang pemuda! Mereka seakan-akan menjadi saingan.

“Ternyata kita mencintai orang yang sama, Lan-moi. Benar-benar sebuah kenyataan yang pahit sekali. Tidak mungkin kita memperebutkan hati seorang pria. Sekarang begini saja, Lan-moi. Kita lihat saja nanti, siapa di antara kita yang dicinta oleh Kong-ko maka dialah yang berhak menjadi pasangannya. Yang tidak dicinta harus suka mengalah. Bagaimana pendapatmu?”

Kedua pipi Hui Lan berubah kemerahan. Bwe Hwa sudah bicara dari hati ke hati, secara terbuka dan sejujurnya. Dia harus menghargai sikap ini, walau pun terdengar memalukan dua orang gadis membicarakan cintanya terhadap seorang pemuda!

Namun dia dapat menghargai kejujuran Bwe Hwa. Dalam urusan hati seperti ini memang sebaiknya kalau mereka berdua bersikap terbuka dan jujur sehingga tidak menimbulkan dendam di antara mereka seperti kalau hal itu tidak dibicarakan sejujurnya dan disimpan menjadi rahasia sehingga mereka berdua akan saling cemburu.

“Lega hatiku mendengar keterbukaan, enci Bwe Hwa. Dengan kejujuranmu ini kita berdua tak perlu saling bersaing dan saling cemburu. Aku setuju dengan pendapatmu. Cinta tidak dapat dipaksakan dan kita lihat saja nanti siapa di antara kita yang dicinta Kong-ko.”

“Aku juga girang dengan kejujuranmu, adikku!” Bwe Hwa merangkul Hui Lan dan mereka saling berangkulan dengan hati lega dan terharu.

Setelah lama mereka menanti munculnya Si Kong namun pemuda itu belum juga datang, mereka merasa heran. Hui Lan lalu bangkit dan berjalan keluar goa, diikuti oleh Bwe Hwa.

“Kong-ko, sudah selesaikah engkau mandi?!” Hui Lan berteriak lantang. Akan tetapi tidak terdengar jawaban.

“Kong-ko, di mana engkau?!” teriak Bwe Hwa pula sambil mengerahkan khikang sehingga suaranya dapat terdengar sampai jauh.

Akan tetapi teriakan Bwe Hwa ini pun tidak memperoleh jawaban. Suasananya sunyi saja. Matahari telah naik di langit timur dan kedua orang gadis itu saling pandang dengan hati heran. Mereka berdua berseru kembali beberapa kali untuk memanggil Si Kong, namun tetap saja tidak ada jawaban.

“Hatiku merasa tidak enak, Lan-moi. Mari kita lihat di pancuran air,” kata Bwe Hwa.

Dua gadis itu lalu pergi ke tempat pancuran air di mana mereka tadi mandi dan mencuci pakaian. Akan tetapi tidak nampak Si Kong di sana. Mereka lalu memandang ke kanan kiri sambil berteriak memanggil nama Si Kong.

“Enci Bwe Hwa, lihat di sana itu!” kata Hui Lan.

Bwe Hwa menengok dan melihat apa yang ditunjuk oleh Hui Lan. Pada tanah padas yang berbentuk dinding nampak coretan-coretan. Mereka berdua lalu melompat mendekat dan benar seperti dugaan mereka, coretan-coretan itu merupakan huruf-huruf yang diukir pada tanah padas itu. Kedua orang gadis itu berlomba membacanya dengan hati khawatir.

“Seekor burung gagak yang papa tidak pantas berdekatan dengan sepasang burung Hong yang mulia! Seekor burung gagak yang papa terbang naik ke angkasa sendirian bermain di udara bebas dan merdeka tak terikat apa pun juga!”

Setelah membaca tulisan di tanah padas itu, Hui Lan dan Bwe Hwa merasa betapa tubuh mereka menjadi lemas. Mereka berdua mengerti benar bahwa Si Kong memang sengaja menjauhkan diri dari mereka, karena merasa tidak berharga untuk berdekatan lebih lama dengan mereka yang disebut burng-burung Hong yang mulia.

“Kong-ko...!” hampir berbareng mereka menyerukan nama ini, lalu mereka menjatuhkan diri duduk di atas batu sambil termenung.

“Enci Bwe Hwa, agaknya dia... dia telah mendengar percakapan kita di...”

Bwe Hwa mengangguk. “Kong-ko adalah seorang pemuda yang sangat rendah hati sekali. Dari tulisannya itu kita tahu bahwa dia tidak mencinta kita, menganggap diri terlalu rendah untuk mencinta kita. Seperti pernah kukatakan, Lan-moi, cinta tidak mungkin dipaksakan! Cinta tidak mungkin hanya terjadi sepihak saja. Sekarang bagaimana kehendakmu, Lan-moi?”

“Kita cari pedang Pek-lui-kiam, enci Bwe Hwa.”

“Benar, mari kita mencari pedang pusaka itu dan siapa pun yang mendapatkannya harus menyerahkan pedang itu kepada Kong-ko.”

“Ahh, betapa mendalam rasa cintamu. Meski pun tidak mendapat sambutan engkau tetap memikirkan dia! Akan tetapi pendapatmu itu memang tepat. Aku pernah mendengar dari Kong-ko bahwa dia hendak mencari pedang itu untuk dikembalikan kepada seorang gadis bernama Tan Kiok Nio yang kini tinggal di kota Ci-bun.”

Bwe Hwa mengerutkan alis. “Pedang itu akan diserahkan kepada seorang gadis? Apakah gadis itu...” Dia tidak melanjutkan dan Hui Lan segera menjelaskan.

“Jangan menyangka bahwa Kong-ko jatuh cinta kepada gadis itu, enci Bwe Hwa. Gadis itu adalah puteri mendiang Tan Tiong Bu yang tadinya menjadi pemilik pedang pusaka Pek-lui-kiam. Tan Tiong Bu tewas oleh seseorang dan ada dugaan bahwa pembunuhnya adalah Ang I Sianjin yang kemudian mencuri pedang itu. Nah, gadis itu minta pertolongan Kong-ko untuk mencari pembunuh ayahnya dan merampas kembali pedang pusaka milik mendiang ayahnya itu.”

Bwe Hwa mengangguk-angguk. “Tidak mengherankan kalau demikian. Kong-ko memang memiliki watak yang budiman dan tangannya selalu terbuka untuk menolong siapa saja. Kalau begitu sebaiknya kita berpisah, Lan-moi. Kita mendaki secara terpisah dan marilah kita berlomba untuk mendapatkan pedang pusaka Pek-lui-kiam itu. Siapa yang berhasil memperolehnya tentu akan menyerahkannya kepada Kong-ko dan siapa tahu hal itu akan melunakkan hatinya.”

Hui Lan tersenyum dan dia makin yakin bahwa cinta Bwe Hwa terhadap Si Kong memang mendalam sekali. Dia hanya menghela napas dan berkata, “Baiklah, mari kita mengambil jalan masing-masing. Aku tidak akan merasa menyesal kalau ternyata engkau yang akan dapat menguasai pedang itu.”

Setelah berkemas dua orang gadis itu lalu meninggalkan goa dan melanjutkan pendakian ke puncak dengan mengambil jalan terpisah.

********************

Si Kong berjalan seorang diri sambil termenung. Dia terpaksa meninggalkan dua orang gadis yang sangat dikagumi dan disukanya sesudah mendengar percakapan mereka. Dia mendengarkan itu tanpa disengaja.

Ketika sedang mandi dia telah memikirkan bahwa sebaiknya dia berpamit dari mereka dan mencari jalannya sendiri. Akan tetapi ketika dia mendekati goa, dia mendengar dua orang gadis itu bercakap-cakap mengenai dirinya. Dia menjadi bingung dan bersedih sekali. Tak disangkanya dua orang gadis itu menaruh hati kepadanya.

Bagaimana mungkin dia dapat menyambut cinta kasih seorang gadis seperti mereka yang menjadi puteri pendekar besar, serba kecukupan? Apalagi diperebutkan antara dua orang gadis yang dikaguminya itu. Dia merasa bahwa sebagai seorang kelana miskin dan yatim piatu seperti dia amat tidak sepadan apabila berpasangan dengan Hui Lan mau pun Bwe Hwa.

Dia mengeraskan hatinya dan mengambil keputusan untuk pergi begitu saja tanpa pamit. Akan tetapi supaya tidak membuat dua orang gadis itu penasaran, dia lalu meninggalkan coretan-coretan di batu padas itu.

Dengan pikiran dipenuhi bayangan dua orang gadis itu, Si Kong melanjutkan perjalanan. Niatnya hanya ingin menyelidiki pembunuh pendekar Tan Tiong Bu kemudian merampas kembali pedang pusaka Pek-lui-kiam untuk dikembalikan kepada Tan Kiok Nio. Mengapa dia harus terlibat dalam urusan cinta dengan seorang di antara dua orang gadis itu?

Karena tidak ingin tersusul oleh kedua orang gadis itu, Si Kong mengambil jalan ke barat melalui lereng-lereng perbukitan itu. Dia harus mendaki ke puncak melalui lereng sebelah barat agar tidak sampai bertemu dengan Hui Lan atau Bwe Hwa.

Akan tetapi sambil melangkah ke depan dia merasa betapa perasaan hatinya amat berat seperti terhimpit perasaan bersalah. Dua orang gadis itu dengan jujur mengatakan bahwa mereka mencintanya. Namun sekarang dia pergi begitu saja tanpa memberi tahu. Hal ini tentu saja akan membuat mereka bersedih dan kecewa. Berulang kali dia bertanya pada hatinya sendiri, gadis mana di antara keduanya itu yang dia cinta.

Jawaban hatinya malah membingungkan. Dia kagum kepada keduanya dan merasa suka kepada keduanya. Apakah dia mencinta mereka? Mencinta seorang di antara mereka? Entahlah, dia menjawab sendiri pertanyaan itu. Dia ragu dan bingung, tak dapat merjawab pertanyaan itu.

Dia tidak tahu dan belum mengenal apa itu yang disebut cinta. Dia memang suka kepada mereka, kagum kepada mereka karena mereka adalah dua orang gadis cantik jelita yang berilmu tinggi, gagah perkasa dan budiman, puteri dari pendekar-pendekar kenamaan.

Cinta asmara memang mendatangkan bermacam-macam akibat, dapat membahagiakan seseorang akan tetapi dapat pula menyengsarakan seseorang. Cinta asmara adalah cinta yang diboncengi oleh nafsu. Ingin menyenangkan dan disenangkan, memiliki dan dimiliki, menguasai dan dikuasai. Apa bila semua keinginan ini dipenuhi maka hatinya mengaku cinta. Dilayani, dimanja, disukai, alangkah menyenangkan semua itu. Akan tetapi begitu muncul kenyataan lain, tidak lagi dilayani, tidak lagi dimanja, tidak lagi disenangi, maka cinta asmara pun terbang pergi seperti kabut terkena sinar matahari, dan cinta asmara berganti dengan kebencian.

Kegagalan cinta asmara membuat seseorang menjadi kecewa, duka dan merasa sangat sengsara. Bagaimana bila cinta asmara terpenuhi dan disambut dengan baik? Tentu saja mendatangkan kesenangan besar yang dianggap sebagai bahagia. Akan tetapi alangkah pendeknya usia kebahagiaan itu. Betapa rapuhnya hati yang mengaku cinta.


Si Kong belum pernah jatuh cinta, maka dia masih belum dapat membedakan antara rasa suka dan rasa cinta. Rasa kagum dan suka tidak menuntut balasan, tak ingin menguasai, memiliki atau ingin menyenangkan diri sendiri. Orang tidak akan pernah patah hati kalau rasa sukanya lenyap atau berubah, karena tidak merasa kehilangan. Rasa suka di antara sahabat tidak ingin memiliki, maka tidak akan merasa kehilangan.

Si Kong berhenti melangkah dan seluruh perhatiannya kini dipusatkan kepada mata dan telinganya. Dia mendengar langkah kaki yang datang dari jauh, akan tetapi derap langkah ini sudah terdengar dari situ, seolah yang datang mendekat itu adalah seekor gajah besar yang amat berat!

Setelah cukup dekat, Si Kong memandang dengan heran dan kagum karena yang datang menghampirinya adalah seorang kakek tinggi kurus yang usianya lebih dari enam puluh tahun. Pakaiannya ringkas dan mewah, di sabuknya terselip sebuah kantung dan tangan kirinya memegang sebuah kong-ce (tombak cagak), mukanya penuh brewok hingga wajah itu nampak bengis.

Karena kakek itu menghampiri sambil memandang kepadanya dengan sinar mata penuh selidik, Si Kong lalu mengangkat kedua tangan di depan dada untuk memberi hormat. Dia dapat menduga bahwa dia berhadapan dengan seorang kakek yang berilmu tinggi.

“Selamat siang, locianpwe.”

Sepasang mata kakek itu mencorong mengamati Si Kong dari atas yang memakai caping lebar sampai ke kaki yang mengenakan sepatu butut dan pakaiannya yang sederhana.

“Hemm, siapa engkau?” tanya kakek itu penuh kecurigaan.

“Namaku Si Kong, locianpwe.”

“Engkau anggota Kui-jiauw-pang?”

“Bukan, locianpwe.”

“Hemm, kalau bukan anggota Kui-jiauw-pang, lalu mengapa engkau berada di sini?”

“Aku... aku tidak menginginkan apa-apa...,” jawab Si Kong dengan gugup karena dia ragu apakah dia harus berterus terang atau tidak.

“Hemm, engkau datang ke Kui-liong-san untuk mencari Pek-lui-kiam, bukan?”

Semua orang yang datang ke sini tentu ingin mencari dan memperebutkan Pek-lui-kiam, maka dia pun menjawab sejujurnya. “Benar, locianpwe, namun aku tidak yakin apakah aku mampu...”

“Kalahkan aku dahulu kalau engkau mau memperebutkan Pek-lui-kiam di sini!” Kakek itu menggerakkan tangan kanannya, memukul ke arah dada Si Kong dengan cepat dan kuat sekali. Tahu-tahu tangannya yang kanan telah hampir mengenai dada Si Kong.

Hawa pukulan yang dahsyat sudah terasa oleh pemuda itu. Dia cepat melangkah mundur satu langkah lalu mendorong pula dengan tangan kanan untuk menyambut pukulan lawan itu. Untuk mengelak sudah tak ada waktu lagi, maka satu-satunya jalan untuk menangkis pukulan yang dipenuhi tenaga sinkang itu hanyalah menyambutnya dengan tangan juga.

“Wuuutttt...! Dessss!” Dua telapak tangan bertemu dan tubuh Si Kong terhuyung mundur lima langkah. Akan tetapi kakek itu juga terhuyung mundur lima langkah.

Si Kong merasa betapa dadanya sesak dan tahulah dia bahwa kakek itu menggunakan sinkang yang amat kuat sehingga pertemuan tangan itu membuat isi dadanya terguncang. Maklum bahwa dia sedang menghadapi lawan tangguh yang berbahaya, Si Kong tak ingin melanjutkan perkelahian tanpa sebab yang kuat itu. Maka dia pun lalu melompat dari situ dan pergi melanjutkan perjalanannya. Kakek itu agaknya juga maklum bahwa pemuda itu seorang yang tangguh sekali, maka dia pun tidak melakukan pengejaran.

Siapakah kakek tinggi kurus brewok yang amat tangguh ini? Kalau Si Kong mendengar nama julukan kakek itu, tentu dia tahu dengan orang macam apa dia berhadapan. Kakek itu bukan orang sembarangan, melainkan datuk besar dari timur yang berjuluk Tung-giam-ong (Raja Maut Timur)!

Seperti para datuk yang lainnya, dia mendaki Kui-liong-san dengan dua tujuan. Pertama untuk memenuhi undangan Toa Ok dan Ji Ok yang hendak menentukan siapa di antara para datuk besar yang patut dipilih sebagai datuk nomor satu di dunia. Dan kedua, tentu saja untuk memperebutkan Pek-lui-kiam.

Ketika bertemu dengan Si Kong, dia menduga bahwa pemuda itu tentu seorang di antara orang kangouw yang hendak memperebutkan pedang pusaka. Setiap orang yang hendak memperebutkan pedang itu dianggapnya sebagai musuh yang patut dibunuh agar jumlah saingannya menjadi berkurang. Maka dia lalu menyerang dengan pukulan maut, dan dia hampir yakin bahwa sekali pukul saja pemuda itu tentu akan mati!

Pukulan itu mengandung tenaga sinkang yang panas dan sangat kuat, dilakukan dengan penuh tenaga karena dia bermaksud membunuh pemuda itu dengan sekali pukul. Akan tetapi segera dia menjadi terkejut bukan main ketika pemuda itu menyambut dorongannya dengan telapak tangan pula dan ketika kedua tangan bertemu, dia terdorong ke belakang sampai lima langkah! Dan dia pun merasa betapa isi perutnya terguncang, maka dia cepat mengumpulkan hawa murni untuk melindungi isi perutnya supaya jangan terluka dalam. Maka dia pun sama sekali tidak mengejar ketika pemuda itu lari dari situ.

Sementara itu Si Kong merasa heran dengan munculnya kakek sakti itu dan dia pun tahu bahwa memperebutkan pedang Pek-lui-kiam sungguh merupakan pekerjaan yang sangat sulit dengan adanya orang-orang sakti di tempat itu.

Dia berjalan dengan hati-hati karena maklum bahwa perjalanan itu berbahaya, terdapat banyak jurang dan siapa tahu di situ terdapat pula perangkap dan jebakan yang dipasang oleh orang-orang Kui-jiauw-pang.

Selagi dia berjalan dengan hati-hati, tiba-tiba dia mendengar seruan orang dari belakang. Dia segera menengok dan melihat seorang kakek berlari mengejarnya dengan kecepatan yang mengagumkan. Tadinya Si Kong mengira bahwa kakek tadi yang mengejarnya. Dia bersiap untuk lari lebih cepat, tetapi ketika dia melihat bahwa kakek yang mengejarnya itu adalah seorang kakek yang bertubuh sedang, tidak memegang tombak cagak seperti tadi, dia merasa lega dan menanti dengan siap siaga.

Kakek itu menggunakan ginkang yang hebat sehingga sebentar saja sudah tiba di depan Si Kong. Si Kong memandang penuh perhatian.

Kakek ini pun telah berusia enam puluh tahun lebih. Tubuhnya sedang dan tegap. Alisnya tebal dan matanya mencorong membuat wajah yang tampan itu nampak berwibawa. Pada punggungnya terselip sebatang pedang dan di pinggangnya terdapat belasan batang anak panah kecil.

Melihat panah itu, Si Kong menjadi terkejut karena dia teringat akan anak panah tangan yang biasa dipergunakan oleh Cu Yin! Dia bisa menduga bahwa kakek ini tentulah datuk besar selatan yang berjuluk Lam Tok!

Si Kong tidak mau mencari permusuhan, apa lagi dengan Lam Tok ayah dari Cu Yin yang pernah menjadi sahabat baiknya. Datuk besar ini tentu lihai bukan main, dan keadaannya sendiri belum pulih dari guncangan akibat beradu tenaga dengan kakek tinggi kurus yang amat lihai. Sebab itu lebih baik dia menghindarkan diri dari pada dipaksa harus bertanding melawan Lam Tok.

Ketika bertemu kakek pertama, dialah yang menegur lebih dulu, akan tetapi akibatnya dia diserang secara hebat sekali. Siapa tahu Lam Tok juga akan menyerangnya kalau kakek ini menyangka dia hendak memperebutkan Pek-lui-kiam. Watak para datuk besar ini amat aneh. Kalau mereka hendak menguasai Pek-lui-kiam, maka setiap orang yang bermaksud memperebutkan Pek-lui-kiam tentu dianggap musuh yang harus dibunuh!

Setelah berpikir begitu Si Kong merasa lebih baik menjauhkan diri dari perkelahian dengan kakek itu. Tiada gunanya melayani para datuk yang suka berkelahi tanpa sebab. Berbeda kalau andai kata dia sudah mendapatkan Pek-lui-kiam, tentu dia akan menghadapi siapa pun yang hendak merampas dari tangannya.

“Hei, orang muda. Tunggu dulu!” Lam Tok berteriak sambil meloncat dan mengejar.

Akan tetapi Si Kong menggunakan ilmu berlari cepat Liok-te Hui-teng sehingga sebentar saja tubuhnya lenyap di balik pohon-pohon dan semak belukar. Lam Tok merasa heran dan penasaran karena tidak dapat mengejar pemuda itu, namun dia tidak mengejar terus karena dia pun harus berhati-hati berada di pegunungan yang asing baginya itu.

Setelah merasa yakin bahwa dia tidak dikejar lagi, barulah Si Kong menghentikan larinya dan menyelinap di balik semak belukar untuk mengaso. Dia menunggu sampai lama akan tetapi tidak ada yang mengejarnya. Legalah hatinya dan kini tenaganya juga sudah pulih kembali karena selama menunggu itu dia bersemedhi mengumpulkan hawa murni untuk menghilangkan bekas pertemuan tenaganya dan tenaga kakek tinggi kurus brewok yang lihai itu. Matahari sudah naik tinggi. Si Kong melanjutkan perjalanannya mendaki puncak, menyelinap di antara pohon-pohon dan semak belukar.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Para pimpinan Kui-jiauw-pang di puncak Kui-liong-san sudah siap menyambut kunjungan para tokoh kang-ouw yang hendak memperebutkan Pek-lui-kiam. Kedudukan Kui-jiauw-pang kuat sekali. Toa Ok, Ji Ok dan Sam Ok telah mendatangkan banyak bala bantuan.

Coa Leng Kun sudah mengundang See-thian Su-hiap, empat orang tokoh Pek-lian-kauw yang memiliki ilmu silat tinggi dan ilmu sihir. Di situ berkumpul pula Bu-tek Ngo-sian, lima orang tangguh yang telah lama menjadi pembantu Toa Ok dan Ji Ok. Mereka merupakan tiga belas orang yang semuanya memiliki ilmu silat yang bisa diandalkan. Selain mereka, masih ada pula seregu pasukan Pek-lian-pai yang jumlahnya kurang lebih seratus orang dan yang kini sudah bergabung dengan pasukan Kui-jiauw-pang sendiri yang berkekuatan seratus orang lebih.

Pek-lian-pai telah berhasil menghasut Gubernur Ji dari propinsi Ce-kiang untuk membantu pemberontakan, dengan janji bahwa apa bila pemberontakan mereka berhasil Gubernur Ji akan mereka angkat menjadi kaisar baru, Gubernur Ji setuju dan dia segera bersekongkol dengan Pek-lian-pai dan Kui-jiauw-pang.

Karena mereka merasa belum cukup kuat untuk memberontak dan menyerang pasukan kerajaan, maka sekarang mereka berniat hendak mengadu domba orang-orang kangouw dengan umpan pedang Pek-lui-kiam. Selain dilakukan untuk mengacau ketenteraman, hal ini juga untuk melemahkan dunia kangouw yang sebagian besar condong membantu dan mendukung pemerintah kerajaan. Juga untuk memancing para tokoh kangouw membantu persekongkolan mereka dengan menjanjikan kedudukan yang tinggi kalau pemberontakan berhasil.

Tiga belas orang itu kini berkumpul mengadakan rapat untuk mengatur siasat. Para anak buah Kui-jiauw-pang disebar untuk mengamati gerakan orang-orang yang mendaki Kui-liong-san, dibantu oleh orang-orang Pek-lian-pai. Toa Ok dan Ji Ok memimpin pertemuan itu di dalam ruangan yang luas dalam rumah induk Kui-jiauw-pang.

“Coba ceritakan kembali pertemuan kalian dengan pemuda dan gadis yang amat lihai itu. Benarkah mereka sudah membunuh sepuluh orang anak buah kita dan melukai belasan orang lainnya?” tanya Toa Ok kepada Bu-tek Ngo-sian.

Ciok Khi sebagai orang pertama dari Bu-tek Ngo-sian menjawab. “Ketika itu kami berlima melihat seorang pemuda dan seorang gadis mengamuk serta merobohkan belasan orang anggota Kui-jiauw-pang yang mengeroyok mereka. Kami lantas menyerang mereka, akan tetapi ternyata mereka lihai sekali. Bahkan gadis itu mempunyai ilmu sihir. Terpaksa kami melarikan diri karena tidak kuat melawan mereka.”

“Bodoh kalian! Hanya melawan seorang pemuda dan seorang gadis saja tidak mampu mengalahkan mereka!” Toa Ok mengomel dan lima orang itu hanya menunduk saja.

Mendengar Toa Ok menegur Bu-tek Ngo-sian dengan marah, See-thian Su-hiap bertukar pandang dan orang tertua dari mereka, Kui Hwa Cu segera berkata. “Harap Toa-pangcu tidak menegur Bu-tek Ngo-sian. Pemuda dan gadis itu memang lihai bukan main. Kami sendiri sudah bertemu dan mengeroyok mereka, dan mereka memang orang-orang muda yang memiliki kepandaian hebat. Ketika kami mengeroyok nona Pek Bwe Hwa, mereka berdua muncul dan terpaksa kami menggunakan bahan peledak untuk menyingkir. Nona Pek Bwe Hwa dan dua orang muda itu merupakan lawan yang tangguh, Toa-pangcu, dan ini harus kami akui.”

Dengan hati lega Bu-tek Ngo-sian mendengarkan pembelaan secara tak langsung ini dan kini Ciok Khi berani membuka mulut melapor. “Ada satu hal lagi yang perlu kami laporkan kepada Sam-wi Pangcu (tiga ketua) bahwa ternyata pemuda dan gadis itu tidak bohong ketika mengatakan bahwa bukan mereka yang membunuh sepuluh orang anggota Kui-jiauw-pang itu.”

“Hemmm, bagaimana engkau bisa tahu bahwa bukan mereka pembunuhnya? Lalu siapa yang membunuh?”

“Dari para anggota yang melakukan penguburan kami mendengar bahwa sepuluh orang itu tewas terkena anak panah beracun. Kami mendatangi kuburan mereka dan menyuruh gali kembali untuk memeriksa. Dan ternyata mereka itu terkena anak panah yang pada gagangnya terdapat tulisan Lam Tok.”

“Ahhh...! Jadi Lam Tok kiranya yang membunuh mereka?” bentak Toa Ok marah.

“Agaknya memang benar begitu, Toa-pangcu.”

“Keparat Lam Tok. Belum bertemu dengan kami telah turun tangan membunuh anak buah kami. Pasti akan kutegur perbuatannya itu!”

Pada saat itu seorang anggota Kui-jiauw-pang masuk dengan muka pucat dan melapor kepada Toa Ok.

“Toa-pangcu di lereng sebelah selatan ada seorang gadis dan seorang pemuda sedang mengamuk!”

Mendengar laporan ini, Toa Ok marah sekali. “Mari kita semua pergi ke sana! Dua orang muda itu harus dibunuh!”

Semua orang bangkit dari tempat duduknya, kemudian serentak mereka berlari menuruni puncak bagian selatan, dan pelapor tadi menjadi penunjuk jalan.

Sesudah tiba di lereng bagian selatan, mereka melihat seorang gadis cantik dan seorang pemuda tampan sedang dikeroyok belasan orang anggota Kui-jiauw-pang yang dibantu lima orang anggota Pek-lian-kauw. Sudah ada beberapa orang pengeroyok yang roboh dan dua orang muda itu masih mengamuk, si pemuda memainkan sebatang pedang dan gadis itu pun mengamuk dengan pedangnya.

Melihat mereka, See-thian Su-hiap dan Bu-tek Ngo-sian segera berbisik, “Bukan, bukan mereka...!”

Mendengar ucapan mereka itu, Toa Ok lalu melompat maju sambil membentak. “Bocah-bocah lancang! Berani benar kalian mengacau di Kui-liong-san!”

Bentakan itu mengandung tenaga khikang yang amat kuat sehingga suara itu seolah-olah menggetarkan bumi. Gadis dan pemuda itu bukan lain adalah Siangkoan Cu Yin dan Tio Gin Ciong!

Mendengar bentakan yang dahsyat itu, Gin Ciong dan Cu Yin maklum bahwa yang datang adalah seorang yang sakti bersama belasan orang lainnya. Cu Yin dan Gin Ciong segera melompat ke belakang dan sekali tangan Cu Yin bergerak, tiga batang anak panah sudah meluncur ke arah Toa Ok!

“Sing-sing-singgg...!”

Toa Ok menyambut dengan kedua tangannya dan dia telah menangkap tiga batang anak panah itu. Pada waktu dia memeriksa, mata anak panah itu mengandung racun dan pada gagangnya terdapat dua huruf: Lam Tok. Segera dia dapat menduga siapa adanya gadis yang ganas itu.

“Hemm, engkau puteri Lam Tok, bukan? Ada urusan apa maka engkau berani mengacau di tempat ini?”

Meski pun maklum bahwa tiga belas orang yang datang adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, namun Cu Yin sama sekali tidak kelihatan jeri.

“Aku memang puteri Lam Tok. Aku dan kawanku ini sedang melakukan perjalanan di sini, mengapa orang-orang ini mengeroyok kami? Kalian datang hendak membantu mereka?”

“Hemmm, gadis kecil, ayahmu sendiri Si Racun Selatan tidak berani memandang rendah kepada kami! Dan engkau, anak muda. Siapakah engkau?” Toa Ok mengamati wajah Gin Ciong dengan tajam penuh selidik karena tadi pun dia melihat sepak terjang pemuda ini cukup hebat.

Gin Ciong tersenyum bangga. “Ayahku adalah Majikan Pulau Beruang!”

Toa Ok membelalakkan sepasang matanya. “Jadi engkau putera Tung-giam-ong Si Datuk Timur? Bagaimana kalian dapat berada di sini? Di mana ayah kalian?”

Toa Ok mendapat pikiran yang bagus sekali. Gadis dan pemuda ini ternyata adalah puteri dan putera Lam Tok dan Tung-giam-ong. Alangkah baiknya jika dia dapat menarik mereka menjadi sekutu, dengan demikian ada harapan baginya untuk menarik Tung-giam-ong dan Lam Tok agar menjadi sekutu pula.

“Bagus sekali! Kiranya kalian adalah puteri dan putera Lam Tok dan Tung-giam-ong yang memang sedang kami tunggu-tunggu sebagai tamu-tamu kami. Nona, siapakah namamu, dan engkau anak muda, siapa namamu?”

Melihat sikap ramah kakek yang berkepala botak dan besar itu, Cu Yin lalu mengerutkan alisnya.

“Sebelum kami memperkenalkan diri, lebih dulu engkau yang harus mengatakan siapakah engkau dan apa hubunganmu dengan Kui-jiauw-pang?”

“Ha-ha-ha-ha-ha!” Toa Ok tertawa bergelak. “Anak Lam Tok ternyata bernyali besar, tidak percuma menjadi puteri Lam Tok. Kalian ingin tahu siapa kami? Aku dan adikku ini adalah datuk-datuk dari barat.”

Cu Yin menyipitkan matanya. “Toa Ok dan Ji Ok?” tanyanya.

“Ha-ha-ha, bagus kalau engkau telah mengetahuinya. Akan tetapi sekarang kami menjadi ketua Kui-jiauw-pang, aku menjadi Toa Pangcu, adikku menjadi Ji Pangcu, ada pun yang berjubah merah itu adalah Sam Pangcu.”

Mendengar bahwa gadis dan pemuda itu adalah anak-anak Lam Tok dan Tung-giam-ong, Bu-tek Ngo-sian segera memperkenalkan diri mereka, “Kami adalah Bu-tek Ngo-sian!”

“Perkenalkan, aku adalah Coa Leng Kun.” Leng Kun juga memperkenalkan diri kepada gadis yang cantik molek itu, senyumnya memikat dan pandang matanya bersinar-sinar!

“Kami berempat adalah See-thian Su-hiap.” Empat orang tosu itu tak mau kalah, ikut pula memperkenalkan diri.

Mendengar sederetan nama julukan itu, diam-diam Cu Yin terkejut bukan main. Baru Toa Ok dan Ji Ok itu saja sudah merupakan dua orang tokoh yang kedudukannya setingkat dengan ayahnya. Dan masih banyak nama julukan yang terkenal mendampingi mereka!

Dia pun maklum bahwa terhadap mereka ini dia tidak boleh bersikap kasar karena mereka semua adalah orang-orang tangguh. Cu Yin cukup cerdik untuk mengubah sikap menjadi ramah kepada mereka.

”Aihh, kiranya kalian adalah orang-orang yang menjadi sahabat ayah. Namaku Siangkoan Cu Yin dan temanku putera Tung-giam-ong ini bernama Tio Gin Ciong. Tadi sudah terjadi kesalah pahaman antara orang-orangmu dan kami. Kami dicurigai dan diusir dari tempat ini, maka terjadilah perkelahian.”

“Ahh, tidak mengapa, nona. Mereka memang bodoh dan tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa maka berani bertindak kasar. Harap nona beserta kongcu suka memaafkan anak buah kami.”

“Hemm, tidak mengapa, paman. Kami pun tidak terluka dan syukur kami tidak membunuh seorang pun dari orang-orangmu. Ehh…, kalau tidak salah, Sam Pangcu ini yang berjuluk Ang I Sianjin, bukan?”

Kakek berjubah merah itu mengelus jenggotnya. “Nona Siangkoan ternyata bermata tajam dan cerdik sekali. Aku memang Ang I Sianjin, akan tetapi sekarang aku berjuluk Sam Ok dan berkedudukan sebagai Sam Pangcu di Kui-jiauw-pang.”

“Hemm-hemm... aku mendengar bahwa engkau telah membunuh pendekar Tan Tiong Bu yang tinggal di Sia-lin dan telah merampas pedang pusaka Pek-lui-kiam. Benarkah kabar itu?”

“Ahhh, nona Siangkoan. Aku yang sudah tua ini sebenarnya tidak membutuhkan pedang pusaka itu, walau pun benar bahwa aku telah mengambilnya. Ketahuilah, aku membunuh Tan Tiong Bu dan merampas Pek-lui-kiam karena dahulu dia telah membunuh keluargaku dengan menggunakan pedang pusaka itu. Aku sudah tua, pedang pusaka itu lebih pantas menjadi milik seorang muda seperti nona.”

“He-he-he, nona Siangkoan. Marilah kita pergi ke rumah perkumpulan agar dapat bicara lebih leluasa. Nona dan kongcu menjadi tamu kehormatan kami. Kami mengundang ji-wi (kalian berdua) untuk menunjukkan penyesalan kami atas sikap anak-anak buah kami.”

Cu Yin dan Gin Ciong saling pandang dan dara itu menganggukkan kepalanya, maka Gin Ciong juga menyetujuinya. Siangkoan Cu Yin terlalu percaya kepada diri sendiri dan nama besar ayahnya. Tidak mungkin ada yang berani mengganggunya! Beramai-ramai mereka pun mendaki puncak menuju ke sarang Kui-jiauw-pang.

Sebuah perjamuan makan dihidangkan untuk menghormati dua orang muda yang menjadi tamu agung itu. Coa Leng Kun langsung bermanis-manis muka terhadap Cu Yin, bahkan mengambil tempat duduk di sebelah kanan Cu Yin ketika mereka duduk menghadapi meja perjamuan. Diam-diam Gin Ciong merasa tidak senang, tetapi pemuda ini pun tidak dapat mencegah karena Leng Kun bersikap sopan dan agaknya Cu Yin juga menerima uluran persahabatan Leng Kun dengan senang hati,.

“Aku pun sependapat dengan Sam Pangcu yang tadi mengatakan bahwa pedang Pek-lui-kiam lebih pantas apa bila berada di tangan seorang pendekar wanita muda seperti nona Siangkoan,” kata Leng Kun sambil tersenyum manis dan mengerling ke arah gadis itu.

“Ahhh, tentu tadi Sam Pangcu berkata hanya untuk main-main saja,” kata Cu Yin sambil tersenyum. “Mana mungkin pusaka yang diperebutkan orang-orang kang-ouw itu diberikan begitu saja kepadaku?”

“Ha-ha, apa gunanya bagi kami untuk berbohong, nona Siangkoan?” kata Toa Ok sambil mengangkat cawan araknya dan minum habis sekali tenggak. “Kami akan menyerahkan pedang pusaka Pek-lui-kiam itu dengan senang hati kepada nona, asalkan nona bersedia membantu kami dalam menghadapi orang-orang kang-ouw yang hendak memperebutkan dan merampas pedang pusaka itu. Terhadap puteri Lam Tok kami merasa seperti sedang berhadapan dengan keponakan sendiri dan kalau kami menyerahkan pedang Pek-lui-kiam kepadamu, tentu Lam Tok tidak perlu bersusah payah memperebutkan pusaka itu lagi, bahkan membantu agar pedang pusaka itu tidak terlepas dari tanganmu dan direbut lain orang!”

Siangkoan Cu Yin yang sangat cerdik itu segera mengerti bahwa pihak tuan rumah mau menyerahkan pedang tetapi ada syaratnya, yaitu bahwa dia harus membantu mereka.

“Bantuan apa yang dapat kuberikan kepada paman sekalian?” tanya Siangkoan Cu Yin.

“Tidak banyak dan tidak sukar, nona. Engkau dan putera Tung-giam-ong harus tinggal di sini sebagai tamu-tamu kehormatan kami dan kalian berdua harus membantu kami dalam menghadapi musuh-musuh kami yang berdatangan dengan niat untuk merampas pedang pusaka Pek-lui-kiam. Bagaimana?”

“Hemm, menghadapi para tokoh kangouw merupakan pekerjaan berbahaya! Akan tetapi kapankah kalian hendak menyerahkan pedang pusaka itu?”

“Sekarang juga kami serahkan kalau nona mau berjanji akan membantu kami!” kata Toa Ok sambil mengeluarkan pedang Pek-lui-kiam. Ia mencabut pedang itu sehingga nampak sinar kilat berkelebat ketika pedang itu terhunus. “Nah, terimalah pedang Pek-lui-kiam ini, nona Siangkoan!”

Cu Yin menjadi girang bukan main. Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa dia akan mendapatkan pedang pusaka itu sedemikian mudahnya! Dia lalu menerima pedang yang sudah disarungkan kembali itu dan untuk meyakinkan hatinya, dia lalu mencabut kembali pedang Pek-lui-kiam itu dan matanya silau melihat sinar berkilat dari pedang itu. Dengan girang dia menyarungkan kembali dan berkata,

“Terima kasih, Toa Pangcu. Tentu aku akan membantu kalian, dan kalau bertemu ayah, aku akan meminta ayah membantu pula.”

“Itu bagus sekali, nona Siangkoan.”

“Aku pun akan membujuk ayah untuk membantu kalau aku bertemu dengan ayah di sini,” kata Tio Gin Ciong, ikut gembira melihat Siangkoan Cu Yin demikian senang hatinya.

Malam itu Cu Yin mendapatkan sebuah kamar yang lengkap, dan disebelah kiri kamarnya adalah kamar yang diberikan kepada Gin Ciong.

Namun malam itu Cu Yin tidak dapat tidur. Seluruh hati dan pikirannya terkenang kepada Si Kong dan ada rasa rindu yang mendalam terhadap pemuda itu. Dia membayangkan ketika masih menyamar sebagai Siangkoan Ji dia melakukan perjalanan bersama Si Kong dan dia merasa bahagia sekali.

Tapi perasaannya langsung terpukul ketika dia teringat betapa Si Kong menolak cintanya. Sakit rasanya dan dia merasa benci sekali kepada Si Kong. Tetapi di lain saat dia merasa rindu.

Harus diakuinya bahwa dia mencintai Si Kong dengan sepenuh hatinya, dan dia merasa menyesal mengapa dia muncul sebagai Siangkoan Cu Yin di hadapan Si Kong sehingga pemuda itu tak mau lagi melakukan perjalanan bersamanya. Kalau saja dia masih menjadi pengemis muda, tentu sekarang dia masih bersama Si Kong dan membantu pemuda itu mendapatkan Pek-lui-kiam!

Ahh, bagaimana kalau dia menyerahkan Pek-lui-kiam kepada Si Kong? Barang kali saja pemuda itu akan berubah pikiran dan membalas cintanya kalau dia menyerahkan Pek-lui-kiam kepadanya! Dengan pikiran ini Cu Yin dapat juga tidur pulas dan bermimpi tentang Si Kong.

********************

Bwe Hwa berjalan seorang diri sambil berpikir tentang pengalamannya yang baru terjadi tadi. Jika diingat kembali timbul rasa malu dan penyesalan di dalam hatinya. Jelas bahwa dia telah jatuh cinta kepada Si Kong. Akan tetapi pantaskah bila dia seperti memaksakan cintanya itu agar dibalas oleh Si Kong? Dan dia merasa begitu cemburu kepada Hui Lan! Kalau memang Si Kong mencintai Hui Lan, pantaskah kalau dia mencampuri dan hendak menghalangi?

Berpikir tentang pemuda yang dicintanya itu, dia pun teringat akan sajak yang ditinggalkan Si Kong untuk dia dan Hui Lan. Tak mungkin dia melupakan sajak itu, seolah telah terukir bukan di tanah padas, melainkan di dalam hatinya. Mulut dara ini lantas berkemak-kemik membaca sajak itu.

“Seekor burung gagak yang papa tidak pantas berdekatan dengan sepasang burung Hong yang mulia! Seekor burung gagak yang papa terbang naik ke angkasa sendirian bermain di udara bebas dan merdeka tidak terikat apa pun juga!”

Bwe Hwa menghela napas panjang dan berkata seorang diri dalam bisikan lirih.

“Seekor burung gagak yang papa? Aihh, Kong-ko, betapa engkau telah merendahkan diri sedemikian rupa sehingga merasa tidak pantas berdekatan dengan kami.”

Dia lalu membayangkan keadaan pemuda itu sehingga pemuda itu begitu merendahkan dirinya. Si Kong seorang pemuda yang berkepandaian tinggi, murid mendiang Ceng Lojin. Tidak, Si Kong bukan merendahkan diri karena kepandaian. Kepandaiannya masih lebih tinggi dibandingkan dengan kepandaiannya atau kepandaian Hui Lan.

Akan tetapi dia seorang yatim piatu, tidak bersanak kadang, tidak mempunyai apa-apa di dunia ini, bahkan tempat tinggal pun dia tak punya. Inilah kiranya yang membuat pemuda itu merasa kehilangan harga diri sehingga begitu merendahkan diri.

Kemudian dia teringat akan Hui Lan. Sudah jelas bahwa Hui Lan mencintai Si Kong, dan apakah Si Kong juga mencintai Hui Lan? Sangat boleh jadi demikian, mengingat bahwa Si Kong mau melakukan perjalanan bersama gadis itu. Akan tetapi tulisan sajak Si Kong itu menunjukkan kenyataan lain. Pemuda itu agaknya tidak mencintai mereka berdua dan menganggap dirinya tidak pantas bersanding dengan Hui Lan atau dia!

Bwe Hwa yang sedang melamun itu tiba-tiba terkejut ketika dua orang laki-laki muncul di depannya. Yang muncul itu adalah seorang pemuda dan seorang yang lebih tua berusia kurang lebih empat puluh tahun. Tentu anggota Kui-jiaw-pang atau Pek-lian-pai, pikirnya.

Karena merasa dua orang itu tentu hendak menangkapnya dan khawatir kalau yang lain-lain akan segera muncul, tanpa banyak cakap lagi Bwe Hwa mencabut Kwan-im-kiam dan tanpa berkata apa-apa dia lalu menyerang mereka dengan dahsyat.

Pedangnya berkelebat, membacok leher pemuda itu. Ketika pemuda itu mengelak dengan satu loncatan ke belakang, pedangnya terus menusuk ke arah dada orang yang lebih tua. Akan tetapi orang itu pun dapat mengelak dengan cepat. Melihat gerakan mereka, tahulah Bwe Hwa bahwa dua orang itu memiliki ilmu silat yang tangguh.

“Hei, tahan dulu!” bentak orang yang lebih tua. “Kenapa engkau menyerang kami, nona?”

Mendengar seruan ini, Bwe Hwa menahan gerakannya sambil melintangkan pedangnya di depan dadanya. Jari telunjuknya yang kiri menuding ke arah mereka. “Kalian tentulah kaki tangan Kui-jiauw-pang! Bersiaplah untuk mati!” bentaknya dan ia pun meloncat ke depan, menerjang dengan cepat dan kuat. Akan tetapi kembali kedua orang itu dapat mengelak dengan lompatan ke belakang.

“Tahan dulu nona! Kami berdua sama sekali bukan kaki tangan Kui-jiauw-pang!” kata pria setengah tua itu.

Mendengar ini Bwe Hwa mengerutkan alisnya tanpa menyimpan pedangnya karena dia masih merasa curiga.

“Kalau kalian bukan kaki tangan Kui-jiauw-pang, lalu siapakah kalian dan mengapa kalian berkeliaran di sini?” tanyanya sambil mengelebatkan pedangnya.

Kini yang muda mengamati pedang di tangan Bwe Hwa dan dia pun berseru, “Bukankah yang kau pegang itu adalah Kwan-im-kiam, nona?”

Sekarang Bwe Hwa yang terkejut dan dia memandang penuh selidik kepada pemuda itu. Seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh dua tahun yang berwajah tampan dan gagah.

“Bagaimana engkau dapat mengenal pedangku?” tanya Bwe Hwa, semakin curiga.

Pemuda itu memandang Bwe Hwa dengan penuh perhatian, lalu dia berkata, “Bukankah engkau nona Pek Bwe Hwa?”

Bwe Hwa terkejut dan heran, akan tetapi bertambah curiga dan menduga bahwa pemuda ini tentu ada hubungannya dengan Kui-jiauw-pang maka mengerti namanya dan mengenal pedangnya.

“Siapakah engkau?” tanyanya.

“Namaku Cang Hok Thian, datang dari kota raja.” Pemuda itu memperkenalkan dirinya.

Bwe Hwa segera teringat. Nama keluarga Cang itu adalah keluarga Pangeran Cang Sun. Ayahnya pernah bercerita bahwa Pangeran Cang Sun dikenalnya dengan baik. Pangeran itu sudah menikah dengan dua orang wanita. Yang seorang bernama Mayang dan yang kedua bernama Teng Cin Nio.

“Apakah ayahmu bernama Cang Sun?” tanyanya.

Wajah yang tampan itu berseri-seri. “Benar sekali, nona. Aku adalah puteranya. Kita tidak pernah saling bertemu akan tetapi telah diceritakan oleh orang tua kita, bukan?”

“Mengapa engkau dari kota raja datang pula ke tempat ini? Apakah engkau juga ingin ikut memperebutkan Pek-lui-kiam?”

“Tidak, aku datang karena ikut paman Gui Tin ini. Perkenalkan, ini adalah paman Gui Tin, seorang panglima di kota raja yang kini menyamar sebagai petani biasa untuk menyelidiki tentang Kui-jiauw-pang.”

Bwe Hwa terkejut sekali lantas memandang kepada orang tua gagah itu dengan pandang mata penuh selidik. “Seorang panglima? Apakah yang hendak paman lakukan di sini?”

“Terdapat desas-desus bahwa Kui-jiauw-pang sudah bersekutu dengan Pek-lian-pai untuk melakukan pemberontakan, bahkan mereka telah berhasil menghasut Gubernur Ce-kiang untuk bersekutu dengan mereka. Karena itu kami bertugas untuk melakukan penyelidikan tentang kebenaran berita itu.”

“Berita itu benar dan tidak perlu disangsikan lagi, paman.”

“Bagaimana engkau dapat begitu yakin, adik Bwe Hwa? Eh, aku boleh menyebutmu adik, bukan?”

“Tentu saja, kalau engkau putera bibi Mayang berarti kita adalah orang sendiri. Aku pun akan menyebutmu koko. Tentu saja aku yakin akan kebenaran berita itu karena aku baru saja pergi meninggalkan Kui-jiauw-pang. Tadinya aku disambut dengan baik sebagai tamu terhormat. Akan tetapi kemudian aku mengetahui bahwa mereka adalah kumpulan orang-orang jahat. Ada tokoh-tokoh Pek-lian-kauw di sana, dan kabarnya ada pula sepasukan orang Pek-lian-pai yang sudah siap membantu.”

Mendengar ini Cang Hok Thian berpaling kepada Gui Tin lantas berkata, “Paman Gui Tin tidak perlu meragukan lagi. Keterangan adik Bwe Hwa tentu benar, maka sebaiknya kalau kita mempersiapkan pasukan untuk mengepung puncak ini.”

“Benar sekali, kita harus segera mempersiapkan pasukan kita,” kata Gui Tin. “Sekarang juga kita berangkat!”

“Adik Bwe Hwa, sebaiknya kalau engkau ikut pula dengan kami dan nanti membantu kami menghancurkan para pemberontak itu.”

“Biarlah Paman Gui Tin bersama engkau saja yang melakukan persiapan itu, Thian-ko. Aku hendak menyelidiki di mana adanya Pek-lui-kiam yang berada di tangan mereka. Aku harus merampas pusaka itu. Selamat berpisah!” Seteah berkata demikian, Bwe Hwa lalu mengangkat kedua tangan ke depan dada dan sekali berkelebat Bwe Hwa sudah lenyap di antara pohon-pohon.

Cang Hok Thian memandang dengan kagum ke arah lenyapnya Bwe Hwa. Dia terpesona oleh kecantikan dan kecepatan gerakan dara itu. Gui Tin tersenyum memandang pemuda yang terpesona itu.

“Dara itu seorang pendekar wanita yang hebat.”

Hok Thian tersadar dari lamunannya dan tergugup berkata, “Ahh, benar sekali paman.”

Sambil tersenyum Gui Tin berkata, “Mari kita berangkat, kongcu.”

“Ya, baiklah, paman!” Pemuda itu berkata seakan menjadi orang yang canggung sekali. Separuh semangatnya seperti hilang terbawa terbang gadis yang membuatnya terpesona itu. Mereka lalu menuruni lereng untuk bergabung dengan pasukan yang telah disiapkan di lereng terbawah.

********************

Pendekar Kelana Jilid 18

Hui Lan menduga bahwa dia tertarik kepada Bwe Hwa dan sebaliknya Bwe Hwa menduga bahwa dia mencinta Hui Lan. Dia merasa seperti seekor domba yang akan diperebutkan oleh dua ekor singa betina!

Dia memang kagum kepada Hui Lan, akan kecantikan dan kelihaiannya. Akan tetapi dia juga kagum kepada Bwe Hwa. Tidak terbayangkan olehnya tentang cinta! Orang seperti dia, hidup sebatang kara, tanpa sanak kadang, miskin tidak mempunyai apa-apa, seorang petualang miskin, bagaimana dapat memikirkan tentang cinta apa lagi perjodohan? Kalau pun ada perasaan cinta masuk ke dalam hati dan akal pikirannya, seketika akan diusirnya dengan penuh kesadaran bahwa perjodohan bukanlah milik seorang kelana miskin seperti dia.

Si Kong mandi sambil berpikir. Memang tadi dia sengaja membawa buntalan pakaiannya karena dia merasa tidak tahan lagi kalau menghadapi dua orang gadis yang seakan-akan saling cemburu itu. Akan tetapi hatinya masih meragu apakah sikapnya tidak terlalu kaku terhadap dua orang gadis itu kalau dia meninggalkan mereka!

********************

Sementara itu Bwe Hwa memandang Hui Lan yang baru selesai mandi dengan pandang mata iri. Dalam pandangannya Hui Lan cantik sekali dan inilah yang membuat dia merasa iri. Dia hampir merasa yakin bahwa Si Kong dan Hui Lan saling mencinta. Kalau memang benar demikian, dia harus mengalah. Akan tetapi siapa tahu Si Kong benar-benar belum jatuh cinta kepada Hui Lan seperti yang dikatakan tadi. Kalau benar demikian, masih ada kesempatan baginya untuk mengharapkan pemuda itu dapat mencinta dirinya.

“Adik Hui Lan, engkau nampak cantik sekali sehabis mandi dengan rambut terurai itu.”

Hui Lan memandang kepada Bwe Hwa sambil tersenyum. “Terima kasih, enci Bwe Hwa. Engkau sendiri juga cantik bukan main.” Hui Lan duduk di atas lantai dan mengeringkan rambutnya.

“Hemm, setiap orang pria tentu akan mudah jatuh cinta kepadamu, Hui Lan!” Bwe Hwa tersenyum.

Hui Lan mengangkat muka menatap wajah Bwe Hwa lantas berkata, “Ihh, enci Bwe Hwa. Mengapa engkau berkata begitu? Aku tidak peduli ribuan orang pria jatuh cinta kepadaku. Tetapi demikian pula engkau, tentu mudah merobohkan hati pria yang mana pun dengan kecantikanmu dan kepandaianmu.”

“Aku tak akan merobohkan hati pria mana pun, adik Lan. Akan tetapi jelas nampak olehku betapa engkau saling mencinta dengan Si Kong! Hayo sangkallah kalau kata-kataku tidak benar!” Biar pun dalam nada suaranya terdengar pahit, namun Bwe Hwa memandang Hui Lan dengan senyum manis.

Hui Lan menghentikan kedua tangannya yang sejak tadi menggosok untuk mengeringkan rambutnya dengan kain. Dia menatap wajah Bwe Hwa dengan mata terbelalak, kemudian menggelung rambutnya seolah tidak pernah mendengar kata-kata Bwe Hwa tadi.

“Bagaimana, Lan-moi? Kata-kataku tadi benar, bukan? Mudah saja bagiku untuk melihat bahwa engkau mencinta dia dan dia pun mencintamu. Jawablah!”

Hui Lan menyelesaikan gelung rambutnya, lalu dia memandang Bwe Hwa dengan wajah serius.

“Enci Bwe Hwa, aku tidak perlu berbohong kepadamu. Engkau mengatakan bahwa aku mencinta Kong-ko, memang hal itu tidak perlu kusangkal. Memang benar aku kagum dan tertarik sekali kepada Kong-ko, akan tetapi itu tidak berarti bahwa dia pun suka kepadaku. Tetapi aku pun dapat menduga bahwa engkau juga suka dan kagum kepadanya, bahwa engkau mencintanya, enci Bwe Hwa!”

Wajah Bwe Hwa berubah menjadi kemerahan, akan tetapi sebagai seorang gadis yang gagah perkasa dia tidak berpura-pura. Seperti juga Hui Lan dia berani mengakui apa yang tersembunyi di dalam hatinya.

“Terus terang saja, dugaanmu itu benar, Lan-moi. Belum pernah aku tertarik kepada pria kecuali dia. Akan tetapi apakah dia suka kepadaku, hal ini masih belum dapat diketahui.”

Hening sejenak. Dua orang gadis perkasa dan cantik jelita itu menundukkan muka dengan alis berkerut. Mereka menyadari bahwa di antara mereka sudah terdapat jurang pemisah yang ditimbulkan oleh rasa cinta mereka terhadap seorang pemuda! Mereka seakan-akan menjadi saingan.

“Ternyata kita mencintai orang yang sama, Lan-moi. Benar-benar sebuah kenyataan yang pahit sekali. Tidak mungkin kita memperebutkan hati seorang pria. Sekarang begini saja, Lan-moi. Kita lihat saja nanti, siapa di antara kita yang dicinta oleh Kong-ko maka dialah yang berhak menjadi pasangannya. Yang tidak dicinta harus suka mengalah. Bagaimana pendapatmu?”

Kedua pipi Hui Lan berubah kemerahan. Bwe Hwa sudah bicara dari hati ke hati, secara terbuka dan sejujurnya. Dia harus menghargai sikap ini, walau pun terdengar memalukan dua orang gadis membicarakan cintanya terhadap seorang pemuda!

Namun dia dapat menghargai kejujuran Bwe Hwa. Dalam urusan hati seperti ini memang sebaiknya kalau mereka berdua bersikap terbuka dan jujur sehingga tidak menimbulkan dendam di antara mereka seperti kalau hal itu tidak dibicarakan sejujurnya dan disimpan menjadi rahasia sehingga mereka berdua akan saling cemburu.

“Lega hatiku mendengar keterbukaan, enci Bwe Hwa. Dengan kejujuranmu ini kita berdua tak perlu saling bersaing dan saling cemburu. Aku setuju dengan pendapatmu. Cinta tidak dapat dipaksakan dan kita lihat saja nanti siapa di antara kita yang dicinta Kong-ko.”

“Aku juga girang dengan kejujuranmu, adikku!” Bwe Hwa merangkul Hui Lan dan mereka saling berangkulan dengan hati lega dan terharu.

Setelah lama mereka menanti munculnya Si Kong namun pemuda itu belum juga datang, mereka merasa heran. Hui Lan lalu bangkit dan berjalan keluar goa, diikuti oleh Bwe Hwa.

“Kong-ko, sudah selesaikah engkau mandi?!” Hui Lan berteriak lantang. Akan tetapi tidak terdengar jawaban.

“Kong-ko, di mana engkau?!” teriak Bwe Hwa pula sambil mengerahkan khikang sehingga suaranya dapat terdengar sampai jauh.

Akan tetapi teriakan Bwe Hwa ini pun tidak memperoleh jawaban. Suasananya sunyi saja. Matahari telah naik di langit timur dan kedua orang gadis itu saling pandang dengan hati heran. Mereka berdua berseru kembali beberapa kali untuk memanggil Si Kong, namun tetap saja tidak ada jawaban.

“Hatiku merasa tidak enak, Lan-moi. Mari kita lihat di pancuran air,” kata Bwe Hwa.

Dua gadis itu lalu pergi ke tempat pancuran air di mana mereka tadi mandi dan mencuci pakaian. Akan tetapi tidak nampak Si Kong di sana. Mereka lalu memandang ke kanan kiri sambil berteriak memanggil nama Si Kong.

“Enci Bwe Hwa, lihat di sana itu!” kata Hui Lan.

Bwe Hwa menengok dan melihat apa yang ditunjuk oleh Hui Lan. Pada tanah padas yang berbentuk dinding nampak coretan-coretan. Mereka berdua lalu melompat mendekat dan benar seperti dugaan mereka, coretan-coretan itu merupakan huruf-huruf yang diukir pada tanah padas itu. Kedua orang gadis itu berlomba membacanya dengan hati khawatir.

“Seekor burung gagak yang papa tidak pantas berdekatan dengan sepasang burung Hong yang mulia! Seekor burung gagak yang papa terbang naik ke angkasa sendirian bermain di udara bebas dan merdeka tak terikat apa pun juga!”

Setelah membaca tulisan di tanah padas itu, Hui Lan dan Bwe Hwa merasa betapa tubuh mereka menjadi lemas. Mereka berdua mengerti benar bahwa Si Kong memang sengaja menjauhkan diri dari mereka, karena merasa tidak berharga untuk berdekatan lebih lama dengan mereka yang disebut burng-burung Hong yang mulia.

“Kong-ko...!” hampir berbareng mereka menyerukan nama ini, lalu mereka menjatuhkan diri duduk di atas batu sambil termenung.

“Enci Bwe Hwa, agaknya dia... dia telah mendengar percakapan kita di...”

Bwe Hwa mengangguk. “Kong-ko adalah seorang pemuda yang sangat rendah hati sekali. Dari tulisannya itu kita tahu bahwa dia tidak mencinta kita, menganggap diri terlalu rendah untuk mencinta kita. Seperti pernah kukatakan, Lan-moi, cinta tidak mungkin dipaksakan! Cinta tidak mungkin hanya terjadi sepihak saja. Sekarang bagaimana kehendakmu, Lan-moi?”

“Kita cari pedang Pek-lui-kiam, enci Bwe Hwa.”

“Benar, mari kita mencari pedang pusaka itu dan siapa pun yang mendapatkannya harus menyerahkan pedang itu kepada Kong-ko.”

“Ahh, betapa mendalam rasa cintamu. Meski pun tidak mendapat sambutan engkau tetap memikirkan dia! Akan tetapi pendapatmu itu memang tepat. Aku pernah mendengar dari Kong-ko bahwa dia hendak mencari pedang itu untuk dikembalikan kepada seorang gadis bernama Tan Kiok Nio yang kini tinggal di kota Ci-bun.”

Bwe Hwa mengerutkan alis. “Pedang itu akan diserahkan kepada seorang gadis? Apakah gadis itu...” Dia tidak melanjutkan dan Hui Lan segera menjelaskan.

“Jangan menyangka bahwa Kong-ko jatuh cinta kepada gadis itu, enci Bwe Hwa. Gadis itu adalah puteri mendiang Tan Tiong Bu yang tadinya menjadi pemilik pedang pusaka Pek-lui-kiam. Tan Tiong Bu tewas oleh seseorang dan ada dugaan bahwa pembunuhnya adalah Ang I Sianjin yang kemudian mencuri pedang itu. Nah, gadis itu minta pertolongan Kong-ko untuk mencari pembunuh ayahnya dan merampas kembali pedang pusaka milik mendiang ayahnya itu.”

Bwe Hwa mengangguk-angguk. “Tidak mengherankan kalau demikian. Kong-ko memang memiliki watak yang budiman dan tangannya selalu terbuka untuk menolong siapa saja. Kalau begitu sebaiknya kita berpisah, Lan-moi. Kita mendaki secara terpisah dan marilah kita berlomba untuk mendapatkan pedang pusaka Pek-lui-kiam itu. Siapa yang berhasil memperolehnya tentu akan menyerahkannya kepada Kong-ko dan siapa tahu hal itu akan melunakkan hatinya.”

Hui Lan tersenyum dan dia makin yakin bahwa cinta Bwe Hwa terhadap Si Kong memang mendalam sekali. Dia hanya menghela napas dan berkata, “Baiklah, mari kita mengambil jalan masing-masing. Aku tidak akan merasa menyesal kalau ternyata engkau yang akan dapat menguasai pedang itu.”

Setelah berkemas dua orang gadis itu lalu meninggalkan goa dan melanjutkan pendakian ke puncak dengan mengambil jalan terpisah.

********************

Si Kong berjalan seorang diri sambil termenung. Dia terpaksa meninggalkan dua orang gadis yang sangat dikagumi dan disukanya sesudah mendengar percakapan mereka. Dia mendengarkan itu tanpa disengaja.

Ketika sedang mandi dia telah memikirkan bahwa sebaiknya dia berpamit dari mereka dan mencari jalannya sendiri. Akan tetapi ketika dia mendekati goa, dia mendengar dua orang gadis itu bercakap-cakap mengenai dirinya. Dia menjadi bingung dan bersedih sekali. Tak disangkanya dua orang gadis itu menaruh hati kepadanya.

Bagaimana mungkin dia dapat menyambut cinta kasih seorang gadis seperti mereka yang menjadi puteri pendekar besar, serba kecukupan? Apalagi diperebutkan antara dua orang gadis yang dikaguminya itu. Dia merasa bahwa sebagai seorang kelana miskin dan yatim piatu seperti dia amat tidak sepadan apabila berpasangan dengan Hui Lan mau pun Bwe Hwa.

Dia mengeraskan hatinya dan mengambil keputusan untuk pergi begitu saja tanpa pamit. Akan tetapi supaya tidak membuat dua orang gadis itu penasaran, dia lalu meninggalkan coretan-coretan di batu padas itu.

Dengan pikiran dipenuhi bayangan dua orang gadis itu, Si Kong melanjutkan perjalanan. Niatnya hanya ingin menyelidiki pembunuh pendekar Tan Tiong Bu kemudian merampas kembali pedang pusaka Pek-lui-kiam untuk dikembalikan kepada Tan Kiok Nio. Mengapa dia harus terlibat dalam urusan cinta dengan seorang di antara dua orang gadis itu?

Karena tidak ingin tersusul oleh kedua orang gadis itu, Si Kong mengambil jalan ke barat melalui lereng-lereng perbukitan itu. Dia harus mendaki ke puncak melalui lereng sebelah barat agar tidak sampai bertemu dengan Hui Lan atau Bwe Hwa.

Akan tetapi sambil melangkah ke depan dia merasa betapa perasaan hatinya amat berat seperti terhimpit perasaan bersalah. Dua orang gadis itu dengan jujur mengatakan bahwa mereka mencintanya. Namun sekarang dia pergi begitu saja tanpa memberi tahu. Hal ini tentu saja akan membuat mereka bersedih dan kecewa. Berulang kali dia bertanya pada hatinya sendiri, gadis mana di antara keduanya itu yang dia cinta.

Jawaban hatinya malah membingungkan. Dia kagum kepada keduanya dan merasa suka kepada keduanya. Apakah dia mencinta mereka? Mencinta seorang di antara mereka? Entahlah, dia menjawab sendiri pertanyaan itu. Dia ragu dan bingung, tak dapat merjawab pertanyaan itu.

Dia tidak tahu dan belum mengenal apa itu yang disebut cinta. Dia memang suka kepada mereka, kagum kepada mereka karena mereka adalah dua orang gadis cantik jelita yang berilmu tinggi, gagah perkasa dan budiman, puteri dari pendekar-pendekar kenamaan.

Cinta asmara memang mendatangkan bermacam-macam akibat, dapat membahagiakan seseorang akan tetapi dapat pula menyengsarakan seseorang. Cinta asmara adalah cinta yang diboncengi oleh nafsu. Ingin menyenangkan dan disenangkan, memiliki dan dimiliki, menguasai dan dikuasai. Apa bila semua keinginan ini dipenuhi maka hatinya mengaku cinta. Dilayani, dimanja, disukai, alangkah menyenangkan semua itu. Akan tetapi begitu muncul kenyataan lain, tidak lagi dilayani, tidak lagi dimanja, tidak lagi disenangi, maka cinta asmara pun terbang pergi seperti kabut terkena sinar matahari, dan cinta asmara berganti dengan kebencian.

Kegagalan cinta asmara membuat seseorang menjadi kecewa, duka dan merasa sangat sengsara. Bagaimana bila cinta asmara terpenuhi dan disambut dengan baik? Tentu saja mendatangkan kesenangan besar yang dianggap sebagai bahagia. Akan tetapi alangkah pendeknya usia kebahagiaan itu. Betapa rapuhnya hati yang mengaku cinta.


Si Kong belum pernah jatuh cinta, maka dia masih belum dapat membedakan antara rasa suka dan rasa cinta. Rasa kagum dan suka tidak menuntut balasan, tak ingin menguasai, memiliki atau ingin menyenangkan diri sendiri. Orang tidak akan pernah patah hati kalau rasa sukanya lenyap atau berubah, karena tidak merasa kehilangan. Rasa suka di antara sahabat tidak ingin memiliki, maka tidak akan merasa kehilangan.

Si Kong berhenti melangkah dan seluruh perhatiannya kini dipusatkan kepada mata dan telinganya. Dia mendengar langkah kaki yang datang dari jauh, akan tetapi derap langkah ini sudah terdengar dari situ, seolah yang datang mendekat itu adalah seekor gajah besar yang amat berat!

Setelah cukup dekat, Si Kong memandang dengan heran dan kagum karena yang datang menghampirinya adalah seorang kakek tinggi kurus yang usianya lebih dari enam puluh tahun. Pakaiannya ringkas dan mewah, di sabuknya terselip sebuah kantung dan tangan kirinya memegang sebuah kong-ce (tombak cagak), mukanya penuh brewok hingga wajah itu nampak bengis.

Karena kakek itu menghampiri sambil memandang kepadanya dengan sinar mata penuh selidik, Si Kong lalu mengangkat kedua tangan di depan dada untuk memberi hormat. Dia dapat menduga bahwa dia berhadapan dengan seorang kakek yang berilmu tinggi.

“Selamat siang, locianpwe.”

Sepasang mata kakek itu mencorong mengamati Si Kong dari atas yang memakai caping lebar sampai ke kaki yang mengenakan sepatu butut dan pakaiannya yang sederhana.

“Hemm, siapa engkau?” tanya kakek itu penuh kecurigaan.

“Namaku Si Kong, locianpwe.”

“Engkau anggota Kui-jiauw-pang?”

“Bukan, locianpwe.”

“Hemm, kalau bukan anggota Kui-jiauw-pang, lalu mengapa engkau berada di sini?”

“Aku... aku tidak menginginkan apa-apa...,” jawab Si Kong dengan gugup karena dia ragu apakah dia harus berterus terang atau tidak.

“Hemm, engkau datang ke Kui-liong-san untuk mencari Pek-lui-kiam, bukan?”

Semua orang yang datang ke sini tentu ingin mencari dan memperebutkan Pek-lui-kiam, maka dia pun menjawab sejujurnya. “Benar, locianpwe, namun aku tidak yakin apakah aku mampu...”

“Kalahkan aku dahulu kalau engkau mau memperebutkan Pek-lui-kiam di sini!” Kakek itu menggerakkan tangan kanannya, memukul ke arah dada Si Kong dengan cepat dan kuat sekali. Tahu-tahu tangannya yang kanan telah hampir mengenai dada Si Kong.

Hawa pukulan yang dahsyat sudah terasa oleh pemuda itu. Dia cepat melangkah mundur satu langkah lalu mendorong pula dengan tangan kanan untuk menyambut pukulan lawan itu. Untuk mengelak sudah tak ada waktu lagi, maka satu-satunya jalan untuk menangkis pukulan yang dipenuhi tenaga sinkang itu hanyalah menyambutnya dengan tangan juga.

“Wuuutttt...! Dessss!” Dua telapak tangan bertemu dan tubuh Si Kong terhuyung mundur lima langkah. Akan tetapi kakek itu juga terhuyung mundur lima langkah.

Si Kong merasa betapa dadanya sesak dan tahulah dia bahwa kakek itu menggunakan sinkang yang amat kuat sehingga pertemuan tangan itu membuat isi dadanya terguncang. Maklum bahwa dia sedang menghadapi lawan tangguh yang berbahaya, Si Kong tak ingin melanjutkan perkelahian tanpa sebab yang kuat itu. Maka dia pun lalu melompat dari situ dan pergi melanjutkan perjalanannya. Kakek itu agaknya juga maklum bahwa pemuda itu seorang yang tangguh sekali, maka dia pun tidak melakukan pengejaran.

Siapakah kakek tinggi kurus brewok yang amat tangguh ini? Kalau Si Kong mendengar nama julukan kakek itu, tentu dia tahu dengan orang macam apa dia berhadapan. Kakek itu bukan orang sembarangan, melainkan datuk besar dari timur yang berjuluk Tung-giam-ong (Raja Maut Timur)!

Seperti para datuk yang lainnya, dia mendaki Kui-liong-san dengan dua tujuan. Pertama untuk memenuhi undangan Toa Ok dan Ji Ok yang hendak menentukan siapa di antara para datuk besar yang patut dipilih sebagai datuk nomor satu di dunia. Dan kedua, tentu saja untuk memperebutkan Pek-lui-kiam.

Ketika bertemu dengan Si Kong, dia menduga bahwa pemuda itu tentu seorang di antara orang kangouw yang hendak memperebutkan pedang pusaka. Setiap orang yang hendak memperebutkan pedang itu dianggapnya sebagai musuh yang patut dibunuh agar jumlah saingannya menjadi berkurang. Maka dia lalu menyerang dengan pukulan maut, dan dia hampir yakin bahwa sekali pukul saja pemuda itu tentu akan mati!

Pukulan itu mengandung tenaga sinkang yang panas dan sangat kuat, dilakukan dengan penuh tenaga karena dia bermaksud membunuh pemuda itu dengan sekali pukul. Akan tetapi segera dia menjadi terkejut bukan main ketika pemuda itu menyambut dorongannya dengan telapak tangan pula dan ketika kedua tangan bertemu, dia terdorong ke belakang sampai lima langkah! Dan dia pun merasa betapa isi perutnya terguncang, maka dia cepat mengumpulkan hawa murni untuk melindungi isi perutnya supaya jangan terluka dalam. Maka dia pun sama sekali tidak mengejar ketika pemuda itu lari dari situ.

Sementara itu Si Kong merasa heran dengan munculnya kakek sakti itu dan dia pun tahu bahwa memperebutkan pedang Pek-lui-kiam sungguh merupakan pekerjaan yang sangat sulit dengan adanya orang-orang sakti di tempat itu.

Dia berjalan dengan hati-hati karena maklum bahwa perjalanan itu berbahaya, terdapat banyak jurang dan siapa tahu di situ terdapat pula perangkap dan jebakan yang dipasang oleh orang-orang Kui-jiauw-pang.

Selagi dia berjalan dengan hati-hati, tiba-tiba dia mendengar seruan orang dari belakang. Dia segera menengok dan melihat seorang kakek berlari mengejarnya dengan kecepatan yang mengagumkan. Tadinya Si Kong mengira bahwa kakek tadi yang mengejarnya. Dia bersiap untuk lari lebih cepat, tetapi ketika dia melihat bahwa kakek yang mengejarnya itu adalah seorang kakek yang bertubuh sedang, tidak memegang tombak cagak seperti tadi, dia merasa lega dan menanti dengan siap siaga.

Kakek itu menggunakan ginkang yang hebat sehingga sebentar saja sudah tiba di depan Si Kong. Si Kong memandang penuh perhatian.

Kakek ini pun telah berusia enam puluh tahun lebih. Tubuhnya sedang dan tegap. Alisnya tebal dan matanya mencorong membuat wajah yang tampan itu nampak berwibawa. Pada punggungnya terselip sebatang pedang dan di pinggangnya terdapat belasan batang anak panah kecil.

Melihat panah itu, Si Kong menjadi terkejut karena dia teringat akan anak panah tangan yang biasa dipergunakan oleh Cu Yin! Dia bisa menduga bahwa kakek ini tentulah datuk besar selatan yang berjuluk Lam Tok!

Si Kong tidak mau mencari permusuhan, apa lagi dengan Lam Tok ayah dari Cu Yin yang pernah menjadi sahabat baiknya. Datuk besar ini tentu lihai bukan main, dan keadaannya sendiri belum pulih dari guncangan akibat beradu tenaga dengan kakek tinggi kurus yang amat lihai. Sebab itu lebih baik dia menghindarkan diri dari pada dipaksa harus bertanding melawan Lam Tok.

Ketika bertemu kakek pertama, dialah yang menegur lebih dulu, akan tetapi akibatnya dia diserang secara hebat sekali. Siapa tahu Lam Tok juga akan menyerangnya kalau kakek ini menyangka dia hendak memperebutkan Pek-lui-kiam. Watak para datuk besar ini amat aneh. Kalau mereka hendak menguasai Pek-lui-kiam, maka setiap orang yang bermaksud memperebutkan Pek-lui-kiam tentu dianggap musuh yang harus dibunuh!

Setelah berpikir begitu Si Kong merasa lebih baik menjauhkan diri dari perkelahian dengan kakek itu. Tiada gunanya melayani para datuk yang suka berkelahi tanpa sebab. Berbeda kalau andai kata dia sudah mendapatkan Pek-lui-kiam, tentu dia akan menghadapi siapa pun yang hendak merampas dari tangannya.

“Hei, orang muda. Tunggu dulu!” Lam Tok berteriak sambil meloncat dan mengejar.

Akan tetapi Si Kong menggunakan ilmu berlari cepat Liok-te Hui-teng sehingga sebentar saja tubuhnya lenyap di balik pohon-pohon dan semak belukar. Lam Tok merasa heran dan penasaran karena tidak dapat mengejar pemuda itu, namun dia tidak mengejar terus karena dia pun harus berhati-hati berada di pegunungan yang asing baginya itu.

Setelah merasa yakin bahwa dia tidak dikejar lagi, barulah Si Kong menghentikan larinya dan menyelinap di balik semak belukar untuk mengaso. Dia menunggu sampai lama akan tetapi tidak ada yang mengejarnya. Legalah hatinya dan kini tenaganya juga sudah pulih kembali karena selama menunggu itu dia bersemedhi mengumpulkan hawa murni untuk menghilangkan bekas pertemuan tenaganya dan tenaga kakek tinggi kurus brewok yang lihai itu. Matahari sudah naik tinggi. Si Kong melanjutkan perjalanannya mendaki puncak, menyelinap di antara pohon-pohon dan semak belukar.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Para pimpinan Kui-jiauw-pang di puncak Kui-liong-san sudah siap menyambut kunjungan para tokoh kang-ouw yang hendak memperebutkan Pek-lui-kiam. Kedudukan Kui-jiauw-pang kuat sekali. Toa Ok, Ji Ok dan Sam Ok telah mendatangkan banyak bala bantuan.

Coa Leng Kun sudah mengundang See-thian Su-hiap, empat orang tokoh Pek-lian-kauw yang memiliki ilmu silat tinggi dan ilmu sihir. Di situ berkumpul pula Bu-tek Ngo-sian, lima orang tangguh yang telah lama menjadi pembantu Toa Ok dan Ji Ok. Mereka merupakan tiga belas orang yang semuanya memiliki ilmu silat yang bisa diandalkan. Selain mereka, masih ada pula seregu pasukan Pek-lian-pai yang jumlahnya kurang lebih seratus orang dan yang kini sudah bergabung dengan pasukan Kui-jiauw-pang sendiri yang berkekuatan seratus orang lebih.

Pek-lian-pai telah berhasil menghasut Gubernur Ji dari propinsi Ce-kiang untuk membantu pemberontakan, dengan janji bahwa apa bila pemberontakan mereka berhasil Gubernur Ji akan mereka angkat menjadi kaisar baru, Gubernur Ji setuju dan dia segera bersekongkol dengan Pek-lian-pai dan Kui-jiauw-pang.

Karena mereka merasa belum cukup kuat untuk memberontak dan menyerang pasukan kerajaan, maka sekarang mereka berniat hendak mengadu domba orang-orang kangouw dengan umpan pedang Pek-lui-kiam. Selain dilakukan untuk mengacau ketenteraman, hal ini juga untuk melemahkan dunia kangouw yang sebagian besar condong membantu dan mendukung pemerintah kerajaan. Juga untuk memancing para tokoh kangouw membantu persekongkolan mereka dengan menjanjikan kedudukan yang tinggi kalau pemberontakan berhasil.

Tiga belas orang itu kini berkumpul mengadakan rapat untuk mengatur siasat. Para anak buah Kui-jiauw-pang disebar untuk mengamati gerakan orang-orang yang mendaki Kui-liong-san, dibantu oleh orang-orang Pek-lian-pai. Toa Ok dan Ji Ok memimpin pertemuan itu di dalam ruangan yang luas dalam rumah induk Kui-jiauw-pang.

“Coba ceritakan kembali pertemuan kalian dengan pemuda dan gadis yang amat lihai itu. Benarkah mereka sudah membunuh sepuluh orang anak buah kita dan melukai belasan orang lainnya?” tanya Toa Ok kepada Bu-tek Ngo-sian.

Ciok Khi sebagai orang pertama dari Bu-tek Ngo-sian menjawab. “Ketika itu kami berlima melihat seorang pemuda dan seorang gadis mengamuk serta merobohkan belasan orang anggota Kui-jiauw-pang yang mengeroyok mereka. Kami lantas menyerang mereka, akan tetapi ternyata mereka lihai sekali. Bahkan gadis itu mempunyai ilmu sihir. Terpaksa kami melarikan diri karena tidak kuat melawan mereka.”

“Bodoh kalian! Hanya melawan seorang pemuda dan seorang gadis saja tidak mampu mengalahkan mereka!” Toa Ok mengomel dan lima orang itu hanya menunduk saja.

Mendengar Toa Ok menegur Bu-tek Ngo-sian dengan marah, See-thian Su-hiap bertukar pandang dan orang tertua dari mereka, Kui Hwa Cu segera berkata. “Harap Toa-pangcu tidak menegur Bu-tek Ngo-sian. Pemuda dan gadis itu memang lihai bukan main. Kami sendiri sudah bertemu dan mengeroyok mereka, dan mereka memang orang-orang muda yang memiliki kepandaian hebat. Ketika kami mengeroyok nona Pek Bwe Hwa, mereka berdua muncul dan terpaksa kami menggunakan bahan peledak untuk menyingkir. Nona Pek Bwe Hwa dan dua orang muda itu merupakan lawan yang tangguh, Toa-pangcu, dan ini harus kami akui.”

Dengan hati lega Bu-tek Ngo-sian mendengarkan pembelaan secara tak langsung ini dan kini Ciok Khi berani membuka mulut melapor. “Ada satu hal lagi yang perlu kami laporkan kepada Sam-wi Pangcu (tiga ketua) bahwa ternyata pemuda dan gadis itu tidak bohong ketika mengatakan bahwa bukan mereka yang membunuh sepuluh orang anggota Kui-jiauw-pang itu.”

“Hemmm, bagaimana engkau bisa tahu bahwa bukan mereka pembunuhnya? Lalu siapa yang membunuh?”

“Dari para anggota yang melakukan penguburan kami mendengar bahwa sepuluh orang itu tewas terkena anak panah beracun. Kami mendatangi kuburan mereka dan menyuruh gali kembali untuk memeriksa. Dan ternyata mereka itu terkena anak panah yang pada gagangnya terdapat tulisan Lam Tok.”

“Ahhh...! Jadi Lam Tok kiranya yang membunuh mereka?” bentak Toa Ok marah.

“Agaknya memang benar begitu, Toa-pangcu.”

“Keparat Lam Tok. Belum bertemu dengan kami telah turun tangan membunuh anak buah kami. Pasti akan kutegur perbuatannya itu!”

Pada saat itu seorang anggota Kui-jiauw-pang masuk dengan muka pucat dan melapor kepada Toa Ok.

“Toa-pangcu di lereng sebelah selatan ada seorang gadis dan seorang pemuda sedang mengamuk!”

Mendengar laporan ini, Toa Ok marah sekali. “Mari kita semua pergi ke sana! Dua orang muda itu harus dibunuh!”

Semua orang bangkit dari tempat duduknya, kemudian serentak mereka berlari menuruni puncak bagian selatan, dan pelapor tadi menjadi penunjuk jalan.

Sesudah tiba di lereng bagian selatan, mereka melihat seorang gadis cantik dan seorang pemuda tampan sedang dikeroyok belasan orang anggota Kui-jiauw-pang yang dibantu lima orang anggota Pek-lian-kauw. Sudah ada beberapa orang pengeroyok yang roboh dan dua orang muda itu masih mengamuk, si pemuda memainkan sebatang pedang dan gadis itu pun mengamuk dengan pedangnya.

Melihat mereka, See-thian Su-hiap dan Bu-tek Ngo-sian segera berbisik, “Bukan, bukan mereka...!”

Mendengar ucapan mereka itu, Toa Ok lalu melompat maju sambil membentak. “Bocah-bocah lancang! Berani benar kalian mengacau di Kui-liong-san!”

Bentakan itu mengandung tenaga khikang yang amat kuat sehingga suara itu seolah-olah menggetarkan bumi. Gadis dan pemuda itu bukan lain adalah Siangkoan Cu Yin dan Tio Gin Ciong!

Mendengar bentakan yang dahsyat itu, Gin Ciong dan Cu Yin maklum bahwa yang datang adalah seorang yang sakti bersama belasan orang lainnya. Cu Yin dan Gin Ciong segera melompat ke belakang dan sekali tangan Cu Yin bergerak, tiga batang anak panah sudah meluncur ke arah Toa Ok!

“Sing-sing-singgg...!”

Toa Ok menyambut dengan kedua tangannya dan dia telah menangkap tiga batang anak panah itu. Pada waktu dia memeriksa, mata anak panah itu mengandung racun dan pada gagangnya terdapat dua huruf: Lam Tok. Segera dia dapat menduga siapa adanya gadis yang ganas itu.

“Hemm, engkau puteri Lam Tok, bukan? Ada urusan apa maka engkau berani mengacau di tempat ini?”

Meski pun maklum bahwa tiga belas orang yang datang adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, namun Cu Yin sama sekali tidak kelihatan jeri.

“Aku memang puteri Lam Tok. Aku dan kawanku ini sedang melakukan perjalanan di sini, mengapa orang-orang ini mengeroyok kami? Kalian datang hendak membantu mereka?”

“Hemmm, gadis kecil, ayahmu sendiri Si Racun Selatan tidak berani memandang rendah kepada kami! Dan engkau, anak muda. Siapakah engkau?” Toa Ok mengamati wajah Gin Ciong dengan tajam penuh selidik karena tadi pun dia melihat sepak terjang pemuda ini cukup hebat.

Gin Ciong tersenyum bangga. “Ayahku adalah Majikan Pulau Beruang!”

Toa Ok membelalakkan sepasang matanya. “Jadi engkau putera Tung-giam-ong Si Datuk Timur? Bagaimana kalian dapat berada di sini? Di mana ayah kalian?”

Toa Ok mendapat pikiran yang bagus sekali. Gadis dan pemuda ini ternyata adalah puteri dan putera Lam Tok dan Tung-giam-ong. Alangkah baiknya jika dia dapat menarik mereka menjadi sekutu, dengan demikian ada harapan baginya untuk menarik Tung-giam-ong dan Lam Tok agar menjadi sekutu pula.

“Bagus sekali! Kiranya kalian adalah puteri dan putera Lam Tok dan Tung-giam-ong yang memang sedang kami tunggu-tunggu sebagai tamu-tamu kami. Nona, siapakah namamu, dan engkau anak muda, siapa namamu?”

Melihat sikap ramah kakek yang berkepala botak dan besar itu, Cu Yin lalu mengerutkan alisnya.

“Sebelum kami memperkenalkan diri, lebih dulu engkau yang harus mengatakan siapakah engkau dan apa hubunganmu dengan Kui-jiauw-pang?”

“Ha-ha-ha-ha-ha!” Toa Ok tertawa bergelak. “Anak Lam Tok ternyata bernyali besar, tidak percuma menjadi puteri Lam Tok. Kalian ingin tahu siapa kami? Aku dan adikku ini adalah datuk-datuk dari barat.”

Cu Yin menyipitkan matanya. “Toa Ok dan Ji Ok?” tanyanya.

“Ha-ha-ha, bagus kalau engkau telah mengetahuinya. Akan tetapi sekarang kami menjadi ketua Kui-jiauw-pang, aku menjadi Toa Pangcu, adikku menjadi Ji Pangcu, ada pun yang berjubah merah itu adalah Sam Pangcu.”

Mendengar bahwa gadis dan pemuda itu adalah anak-anak Lam Tok dan Tung-giam-ong, Bu-tek Ngo-sian segera memperkenalkan diri mereka, “Kami adalah Bu-tek Ngo-sian!”

“Perkenalkan, aku adalah Coa Leng Kun.” Leng Kun juga memperkenalkan diri kepada gadis yang cantik molek itu, senyumnya memikat dan pandang matanya bersinar-sinar!

“Kami berempat adalah See-thian Su-hiap.” Empat orang tosu itu tak mau kalah, ikut pula memperkenalkan diri.

Mendengar sederetan nama julukan itu, diam-diam Cu Yin terkejut bukan main. Baru Toa Ok dan Ji Ok itu saja sudah merupakan dua orang tokoh yang kedudukannya setingkat dengan ayahnya. Dan masih banyak nama julukan yang terkenal mendampingi mereka!

Dia pun maklum bahwa terhadap mereka ini dia tidak boleh bersikap kasar karena mereka semua adalah orang-orang tangguh. Cu Yin cukup cerdik untuk mengubah sikap menjadi ramah kepada mereka.

”Aihh, kiranya kalian adalah orang-orang yang menjadi sahabat ayah. Namaku Siangkoan Cu Yin dan temanku putera Tung-giam-ong ini bernama Tio Gin Ciong. Tadi sudah terjadi kesalah pahaman antara orang-orangmu dan kami. Kami dicurigai dan diusir dari tempat ini, maka terjadilah perkelahian.”

“Ahh, tidak mengapa, nona. Mereka memang bodoh dan tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa maka berani bertindak kasar. Harap nona beserta kongcu suka memaafkan anak buah kami.”

“Hemm, tidak mengapa, paman. Kami pun tidak terluka dan syukur kami tidak membunuh seorang pun dari orang-orangmu. Ehh…, kalau tidak salah, Sam Pangcu ini yang berjuluk Ang I Sianjin, bukan?”

Kakek berjubah merah itu mengelus jenggotnya. “Nona Siangkoan ternyata bermata tajam dan cerdik sekali. Aku memang Ang I Sianjin, akan tetapi sekarang aku berjuluk Sam Ok dan berkedudukan sebagai Sam Pangcu di Kui-jiauw-pang.”

“Hemm-hemm... aku mendengar bahwa engkau telah membunuh pendekar Tan Tiong Bu yang tinggal di Sia-lin dan telah merampas pedang pusaka Pek-lui-kiam. Benarkah kabar itu?”

“Ahhh, nona Siangkoan. Aku yang sudah tua ini sebenarnya tidak membutuhkan pedang pusaka itu, walau pun benar bahwa aku telah mengambilnya. Ketahuilah, aku membunuh Tan Tiong Bu dan merampas Pek-lui-kiam karena dahulu dia telah membunuh keluargaku dengan menggunakan pedang pusaka itu. Aku sudah tua, pedang pusaka itu lebih pantas menjadi milik seorang muda seperti nona.”

“He-he-he, nona Siangkoan. Marilah kita pergi ke rumah perkumpulan agar dapat bicara lebih leluasa. Nona dan kongcu menjadi tamu kehormatan kami. Kami mengundang ji-wi (kalian berdua) untuk menunjukkan penyesalan kami atas sikap anak-anak buah kami.”

Cu Yin dan Gin Ciong saling pandang dan dara itu menganggukkan kepalanya, maka Gin Ciong juga menyetujuinya. Siangkoan Cu Yin terlalu percaya kepada diri sendiri dan nama besar ayahnya. Tidak mungkin ada yang berani mengganggunya! Beramai-ramai mereka pun mendaki puncak menuju ke sarang Kui-jiauw-pang.

Sebuah perjamuan makan dihidangkan untuk menghormati dua orang muda yang menjadi tamu agung itu. Coa Leng Kun langsung bermanis-manis muka terhadap Cu Yin, bahkan mengambil tempat duduk di sebelah kanan Cu Yin ketika mereka duduk menghadapi meja perjamuan. Diam-diam Gin Ciong merasa tidak senang, tetapi pemuda ini pun tidak dapat mencegah karena Leng Kun bersikap sopan dan agaknya Cu Yin juga menerima uluran persahabatan Leng Kun dengan senang hati,.

“Aku pun sependapat dengan Sam Pangcu yang tadi mengatakan bahwa pedang Pek-lui-kiam lebih pantas apa bila berada di tangan seorang pendekar wanita muda seperti nona Siangkoan,” kata Leng Kun sambil tersenyum manis dan mengerling ke arah gadis itu.

“Ahhh, tentu tadi Sam Pangcu berkata hanya untuk main-main saja,” kata Cu Yin sambil tersenyum. “Mana mungkin pusaka yang diperebutkan orang-orang kang-ouw itu diberikan begitu saja kepadaku?”

“Ha-ha, apa gunanya bagi kami untuk berbohong, nona Siangkoan?” kata Toa Ok sambil mengangkat cawan araknya dan minum habis sekali tenggak. “Kami akan menyerahkan pedang pusaka Pek-lui-kiam itu dengan senang hati kepada nona, asalkan nona bersedia membantu kami dalam menghadapi orang-orang kang-ouw yang hendak memperebutkan dan merampas pedang pusaka itu. Terhadap puteri Lam Tok kami merasa seperti sedang berhadapan dengan keponakan sendiri dan kalau kami menyerahkan pedang Pek-lui-kiam kepadamu, tentu Lam Tok tidak perlu bersusah payah memperebutkan pusaka itu lagi, bahkan membantu agar pedang pusaka itu tidak terlepas dari tanganmu dan direbut lain orang!”

Siangkoan Cu Yin yang sangat cerdik itu segera mengerti bahwa pihak tuan rumah mau menyerahkan pedang tetapi ada syaratnya, yaitu bahwa dia harus membantu mereka.

“Bantuan apa yang dapat kuberikan kepada paman sekalian?” tanya Siangkoan Cu Yin.

“Tidak banyak dan tidak sukar, nona. Engkau dan putera Tung-giam-ong harus tinggal di sini sebagai tamu-tamu kehormatan kami dan kalian berdua harus membantu kami dalam menghadapi musuh-musuh kami yang berdatangan dengan niat untuk merampas pedang pusaka Pek-lui-kiam. Bagaimana?”

“Hemm, menghadapi para tokoh kangouw merupakan pekerjaan berbahaya! Akan tetapi kapankah kalian hendak menyerahkan pedang pusaka itu?”

“Sekarang juga kami serahkan kalau nona mau berjanji akan membantu kami!” kata Toa Ok sambil mengeluarkan pedang Pek-lui-kiam. Ia mencabut pedang itu sehingga nampak sinar kilat berkelebat ketika pedang itu terhunus. “Nah, terimalah pedang Pek-lui-kiam ini, nona Siangkoan!”

Cu Yin menjadi girang bukan main. Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa dia akan mendapatkan pedang pusaka itu sedemikian mudahnya! Dia lalu menerima pedang yang sudah disarungkan kembali itu dan untuk meyakinkan hatinya, dia lalu mencabut kembali pedang Pek-lui-kiam itu dan matanya silau melihat sinar berkilat dari pedang itu. Dengan girang dia menyarungkan kembali dan berkata,

“Terima kasih, Toa Pangcu. Tentu aku akan membantu kalian, dan kalau bertemu ayah, aku akan meminta ayah membantu pula.”

“Itu bagus sekali, nona Siangkoan.”

“Aku pun akan membujuk ayah untuk membantu kalau aku bertemu dengan ayah di sini,” kata Tio Gin Ciong, ikut gembira melihat Siangkoan Cu Yin demikian senang hatinya.

Malam itu Cu Yin mendapatkan sebuah kamar yang lengkap, dan disebelah kiri kamarnya adalah kamar yang diberikan kepada Gin Ciong.

Namun malam itu Cu Yin tidak dapat tidur. Seluruh hati dan pikirannya terkenang kepada Si Kong dan ada rasa rindu yang mendalam terhadap pemuda itu. Dia membayangkan ketika masih menyamar sebagai Siangkoan Ji dia melakukan perjalanan bersama Si Kong dan dia merasa bahagia sekali.

Tapi perasaannya langsung terpukul ketika dia teringat betapa Si Kong menolak cintanya. Sakit rasanya dan dia merasa benci sekali kepada Si Kong. Tetapi di lain saat dia merasa rindu.

Harus diakuinya bahwa dia mencintai Si Kong dengan sepenuh hatinya, dan dia merasa menyesal mengapa dia muncul sebagai Siangkoan Cu Yin di hadapan Si Kong sehingga pemuda itu tak mau lagi melakukan perjalanan bersamanya. Kalau saja dia masih menjadi pengemis muda, tentu sekarang dia masih bersama Si Kong dan membantu pemuda itu mendapatkan Pek-lui-kiam!

Ahh, bagaimana kalau dia menyerahkan Pek-lui-kiam kepada Si Kong? Barang kali saja pemuda itu akan berubah pikiran dan membalas cintanya kalau dia menyerahkan Pek-lui-kiam kepadanya! Dengan pikiran ini Cu Yin dapat juga tidur pulas dan bermimpi tentang Si Kong.

********************

Bwe Hwa berjalan seorang diri sambil berpikir tentang pengalamannya yang baru terjadi tadi. Jika diingat kembali timbul rasa malu dan penyesalan di dalam hatinya. Jelas bahwa dia telah jatuh cinta kepada Si Kong. Akan tetapi pantaskah bila dia seperti memaksakan cintanya itu agar dibalas oleh Si Kong? Dan dia merasa begitu cemburu kepada Hui Lan! Kalau memang Si Kong mencintai Hui Lan, pantaskah kalau dia mencampuri dan hendak menghalangi?

Berpikir tentang pemuda yang dicintanya itu, dia pun teringat akan sajak yang ditinggalkan Si Kong untuk dia dan Hui Lan. Tak mungkin dia melupakan sajak itu, seolah telah terukir bukan di tanah padas, melainkan di dalam hatinya. Mulut dara ini lantas berkemak-kemik membaca sajak itu.

“Seekor burung gagak yang papa tidak pantas berdekatan dengan sepasang burung Hong yang mulia! Seekor burung gagak yang papa terbang naik ke angkasa sendirian bermain di udara bebas dan merdeka tidak terikat apa pun juga!”

Bwe Hwa menghela napas panjang dan berkata seorang diri dalam bisikan lirih.

“Seekor burung gagak yang papa? Aihh, Kong-ko, betapa engkau telah merendahkan diri sedemikian rupa sehingga merasa tidak pantas berdekatan dengan kami.”

Dia lalu membayangkan keadaan pemuda itu sehingga pemuda itu begitu merendahkan dirinya. Si Kong seorang pemuda yang berkepandaian tinggi, murid mendiang Ceng Lojin. Tidak, Si Kong bukan merendahkan diri karena kepandaian. Kepandaiannya masih lebih tinggi dibandingkan dengan kepandaiannya atau kepandaian Hui Lan.

Akan tetapi dia seorang yatim piatu, tidak bersanak kadang, tidak mempunyai apa-apa di dunia ini, bahkan tempat tinggal pun dia tak punya. Inilah kiranya yang membuat pemuda itu merasa kehilangan harga diri sehingga begitu merendahkan diri.

Kemudian dia teringat akan Hui Lan. Sudah jelas bahwa Hui Lan mencintai Si Kong, dan apakah Si Kong juga mencintai Hui Lan? Sangat boleh jadi demikian, mengingat bahwa Si Kong mau melakukan perjalanan bersama gadis itu. Akan tetapi tulisan sajak Si Kong itu menunjukkan kenyataan lain. Pemuda itu agaknya tidak mencintai mereka berdua dan menganggap dirinya tidak pantas bersanding dengan Hui Lan atau dia!

Bwe Hwa yang sedang melamun itu tiba-tiba terkejut ketika dua orang laki-laki muncul di depannya. Yang muncul itu adalah seorang pemuda dan seorang yang lebih tua berusia kurang lebih empat puluh tahun. Tentu anggota Kui-jiaw-pang atau Pek-lian-pai, pikirnya.

Karena merasa dua orang itu tentu hendak menangkapnya dan khawatir kalau yang lain-lain akan segera muncul, tanpa banyak cakap lagi Bwe Hwa mencabut Kwan-im-kiam dan tanpa berkata apa-apa dia lalu menyerang mereka dengan dahsyat.

Pedangnya berkelebat, membacok leher pemuda itu. Ketika pemuda itu mengelak dengan satu loncatan ke belakang, pedangnya terus menusuk ke arah dada orang yang lebih tua. Akan tetapi orang itu pun dapat mengelak dengan cepat. Melihat gerakan mereka, tahulah Bwe Hwa bahwa dua orang itu memiliki ilmu silat yang tangguh.

“Hei, tahan dulu!” bentak orang yang lebih tua. “Kenapa engkau menyerang kami, nona?”

Mendengar seruan ini, Bwe Hwa menahan gerakannya sambil melintangkan pedangnya di depan dadanya. Jari telunjuknya yang kiri menuding ke arah mereka. “Kalian tentulah kaki tangan Kui-jiauw-pang! Bersiaplah untuk mati!” bentaknya dan ia pun meloncat ke depan, menerjang dengan cepat dan kuat. Akan tetapi kembali kedua orang itu dapat mengelak dengan lompatan ke belakang.

“Tahan dulu nona! Kami berdua sama sekali bukan kaki tangan Kui-jiauw-pang!” kata pria setengah tua itu.

Mendengar ini Bwe Hwa mengerutkan alisnya tanpa menyimpan pedangnya karena dia masih merasa curiga.

“Kalau kalian bukan kaki tangan Kui-jiauw-pang, lalu siapakah kalian dan mengapa kalian berkeliaran di sini?” tanyanya sambil mengelebatkan pedangnya.

Kini yang muda mengamati pedang di tangan Bwe Hwa dan dia pun berseru, “Bukankah yang kau pegang itu adalah Kwan-im-kiam, nona?”

Sekarang Bwe Hwa yang terkejut dan dia memandang penuh selidik kepada pemuda itu. Seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh dua tahun yang berwajah tampan dan gagah.

“Bagaimana engkau dapat mengenal pedangku?” tanya Bwe Hwa, semakin curiga.

Pemuda itu memandang Bwe Hwa dengan penuh perhatian, lalu dia berkata, “Bukankah engkau nona Pek Bwe Hwa?”

Bwe Hwa terkejut dan heran, akan tetapi bertambah curiga dan menduga bahwa pemuda ini tentu ada hubungannya dengan Kui-jiauw-pang maka mengerti namanya dan mengenal pedangnya.

“Siapakah engkau?” tanyanya.

“Namaku Cang Hok Thian, datang dari kota raja.” Pemuda itu memperkenalkan dirinya.

Bwe Hwa segera teringat. Nama keluarga Cang itu adalah keluarga Pangeran Cang Sun. Ayahnya pernah bercerita bahwa Pangeran Cang Sun dikenalnya dengan baik. Pangeran itu sudah menikah dengan dua orang wanita. Yang seorang bernama Mayang dan yang kedua bernama Teng Cin Nio.

“Apakah ayahmu bernama Cang Sun?” tanyanya.

Wajah yang tampan itu berseri-seri. “Benar sekali, nona. Aku adalah puteranya. Kita tidak pernah saling bertemu akan tetapi telah diceritakan oleh orang tua kita, bukan?”

“Mengapa engkau dari kota raja datang pula ke tempat ini? Apakah engkau juga ingin ikut memperebutkan Pek-lui-kiam?”

“Tidak, aku datang karena ikut paman Gui Tin ini. Perkenalkan, ini adalah paman Gui Tin, seorang panglima di kota raja yang kini menyamar sebagai petani biasa untuk menyelidiki tentang Kui-jiauw-pang.”

Bwe Hwa terkejut sekali lantas memandang kepada orang tua gagah itu dengan pandang mata penuh selidik. “Seorang panglima? Apakah yang hendak paman lakukan di sini?”

“Terdapat desas-desus bahwa Kui-jiauw-pang sudah bersekutu dengan Pek-lian-pai untuk melakukan pemberontakan, bahkan mereka telah berhasil menghasut Gubernur Ce-kiang untuk bersekutu dengan mereka. Karena itu kami bertugas untuk melakukan penyelidikan tentang kebenaran berita itu.”

“Berita itu benar dan tidak perlu disangsikan lagi, paman.”

“Bagaimana engkau dapat begitu yakin, adik Bwe Hwa? Eh, aku boleh menyebutmu adik, bukan?”

“Tentu saja, kalau engkau putera bibi Mayang berarti kita adalah orang sendiri. Aku pun akan menyebutmu koko. Tentu saja aku yakin akan kebenaran berita itu karena aku baru saja pergi meninggalkan Kui-jiauw-pang. Tadinya aku disambut dengan baik sebagai tamu terhormat. Akan tetapi kemudian aku mengetahui bahwa mereka adalah kumpulan orang-orang jahat. Ada tokoh-tokoh Pek-lian-kauw di sana, dan kabarnya ada pula sepasukan orang Pek-lian-pai yang sudah siap membantu.”

Mendengar ini Cang Hok Thian berpaling kepada Gui Tin lantas berkata, “Paman Gui Tin tidak perlu meragukan lagi. Keterangan adik Bwe Hwa tentu benar, maka sebaiknya kalau kita mempersiapkan pasukan untuk mengepung puncak ini.”

“Benar sekali, kita harus segera mempersiapkan pasukan kita,” kata Gui Tin. “Sekarang juga kita berangkat!”

“Adik Bwe Hwa, sebaiknya kalau engkau ikut pula dengan kami dan nanti membantu kami menghancurkan para pemberontak itu.”

“Biarlah Paman Gui Tin bersama engkau saja yang melakukan persiapan itu, Thian-ko. Aku hendak menyelidiki di mana adanya Pek-lui-kiam yang berada di tangan mereka. Aku harus merampas pusaka itu. Selamat berpisah!” Seteah berkata demikian, Bwe Hwa lalu mengangkat kedua tangan ke depan dada dan sekali berkelebat Bwe Hwa sudah lenyap di antara pohon-pohon.

Cang Hok Thian memandang dengan kagum ke arah lenyapnya Bwe Hwa. Dia terpesona oleh kecantikan dan kecepatan gerakan dara itu. Gui Tin tersenyum memandang pemuda yang terpesona itu.

“Dara itu seorang pendekar wanita yang hebat.”

Hok Thian tersadar dari lamunannya dan tergugup berkata, “Ahh, benar sekali paman.”

Sambil tersenyum Gui Tin berkata, “Mari kita berangkat, kongcu.”

“Ya, baiklah, paman!” Pemuda itu berkata seakan menjadi orang yang canggung sekali. Separuh semangatnya seperti hilang terbawa terbang gadis yang membuatnya terpesona itu. Mereka lalu menuruni lereng untuk bergabung dengan pasukan yang telah disiapkan di lereng terbawah.

********************