Social Items

ENAM wanita pengawal yang setia dan patuh itu lantas berlari pergi untuk melaksanakan perintah nona majikan mereka. Gin Ciong juga sudah memanggil lima orang pembantunya dan menyuruh mereka pergi, pulang ke Pulau Beruang dan melaporkan kepada ayahnya bahwa dia bersama puteri Lam Tok hendak pergi merampas pedang pusaka Pek-lui-kiam.

Tak lama kemudian, para pembantu Cu Yin sudah tiba kembali ke tempat itu dan mereka menuntun seekor kuda berbulu coklat yang cukup kuat dan bagus.

“Sekarang kalian boleh pulang ke sungai Hung-kiang, laporkan kepada ayah bahwa aku baik-baik saja dan sedang pergi merebut pedang Pek-lui-kiam, dibantu oleh putera Tung Giam-ong.” Enam orang wanita itu tidak berani membantah dan mereka segera pergi dari situ setelah memberi hormat kepada nona majikan mereka.

“Mari kita berangkat!” kata Cu Yin sambil meloncat ke atas punggung kudanya.

Gin Ciong juga melompat ke atas kuda putihnya. “Ke mana?”

“Ke tempat di mana Pek-lui-kiam berada.”

“Di mana itu?”

“Nanti engkau juga tahu. Marilah!” Cu Yin sudah membalapkan kudanya dan terpaksa Gin Ciong juga menyuruh kudanya lari kencang.

Pemuda ini menggelengkan kepala melihat kelakuan Cu Yin yang berandalan. Akan tetapi sudah terjadi sesuatu di dalam hatinya. Dia mencinta gadis itu! Alangkah cocoknya kalau kelak gadis itu menjadi isterinya! Dan siapa tahu pedang Pek-lui-kiam yang akan menjadi perantaranya.

Jika pedang pusaka itu jatuh ke tangannya, lalu dia berikan kepada Cu Yin sebagai tanda cintanya, mustahil kalau gadis itu tidak membalas perasaan kasihnya, Juga Lam-tok tentu akan menyetujui karena dia telah berjasa membantu sehingga pedang Pek-lui-kiam dapat terjatuh ke tangan datuk selatan itu.

Kota Tung-ciu di sebelah timur kota raja adalah sebuah kota yang cukup ramai. Kota ini terkenal sebagai gudang rempah-rempah dan hasil bumi karena daerah itu memiliki tanah yang subur dan di sana mengalir sungai yang tidak pernah kering. Karena itu penduduk di Tung-ciu dan sekitarnya dapat hidup makmur.

Di antara deretan toko-toko, rumah makan dan rumah penginapan, terdapat sebuah toko rempah-rempah yang besarnya sedang saja. Pemilik toko ini adalah seorang pria berusia lima puluh satu tahun, dan isterinya yang berusia hampir lima puluh tahun. Tidak ada satu pun penduduk Tung-ciu yang tahu bahwa pemilik toko yang bernama Pek Han Siong ini sesungguhnya merupakan seseorang yang memiliki kesaktian.

Dia seorang ahli silat tingkat tinggi. Mukanya yang bulat dengan alis tebal dan mata agak sipit itu tidak menunjukkan sesuatu yang luar biasa. Akan tetapi dunia kangouw mengenal namanya sebagai seorang pendekar sakti yang pernah menggemparkan dunia persilatan. Bersama Tang Hay yang merupakan sahabat karibnya, pendekar ini pernah mengalahkan dan menewaskan banyak tokoh sesat, terutama para tokoh Pek-lian-kauw.

Pria berwatak tenang, sabar, pendiam dan halus tutur katanya ini memiliki ilmu-ilmu silat tinggi yang dahsyat. Dia memiliki ilmu Pek-sim-pang sebanyak tiga belas jurus yang sulit dilawan, mahir pula memainkan ilmu pedang Kwan-im Kiam-sut dan ilmu-ilmu silat tinggi lainnya. Dan lebih dari pada itu, dia pun ahli sihir yang kuat sekali.

Isterinya bernama Siangkoan Bi Lian. Dalam hal ilmu silat, wanita ini juga telah mencapai tingkat tinggi, sedikit lebih rendah dari pada tingkat suaminya. Dalam usianya yang empat puluh sembilan tahun itu Siangkoan Bi Lian masih nampak cantik. Pada dagunya terdapat sebuah tahi lalat yang membuat wajahnya yang cantik manis itu tampak membayangkan kekerasan hati. Ia pun ahli dalam ilmu silat Kwan Im Sin-kun dan Kim-ke Sin-kun.

Bagi para penduduk Tung-ciu, suami isteri ini merupakan suami isteri biasa saja karena Pek Han Siong serta isterinya memang tidak pernah memperlihatkan kemahiran mereka dalam ilmu silat. Mereka dianggap pedagang rempah-rempah biasa yang selalu bersikap ramah terhadap para pelanggannya.

Seperti kita ketahui, Pek Han Siong dan isterinya memiliki seorang puteri bernama Pek Bwe Hwa. Gadis yang cantik seperti ibunya ini tentu saja digembleng ayah ibunya sejak kecil sehingga setelah kini berusia delapan belas tahun, dia sudah menjadi ahli silat yang amat tangguh. Karena itu kedua orang tuanya tidak keberatan melepas puteri mereka itu pergi untuk mencari pengalaman di dunia kang-ouw. Bahkan mereka berpesan agar puteri mereka itu ikut mencari Pek-lui-kiam yang kabarnya diperebutkan para tokoh kang-ouw.

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Pek Han Siong dan isterinya telah bangun dari tidurnya. Seperti biasanya, mereka berdua berlatih silat di taman kecil di belakang rumah mereka. Tidak ada orang lain yang melihat apa bila mereka berlatih silat. Bahkan seorang pelayan wanita tua tidak mengerti kalau suami isteri itu bermain silat. Mereka hanya mengatakan bahwa mereka berolah raga senam untuk menyehatkan tubuh.

Suami isteri itu latihan bersama, kini memainkan ilmu Kwan-im Sin-kun. Gerakan mereka demikian cepat sehingga nampak seperti dua bayangan berkelebatan yang saling serang. Tiba-tiba saja keduanya berhenti dan berlompatan ke belakang, lalu memandang ke arah pagar tembok yang mengelilingi taman berikut rumah mereka.

Tadi mereka mendengar gerakan orang di pagar tembok itu. Walau pun mereka sedang latihan, namun pendengaran mereka demikian tajam sehingga mereka dapat menangkap suara gerakan orang di situ.

“Siapa di sana? Masuklah!” kata Pek Han Siong dengan suara tegas.

Tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat dan meloncati pagar tembok. Gerakan bayangan itu gesit sekali. Dengan sekali loncat saja dia sudah berada di depan suami isteri itu. Pek Han Siong dan Siangkoan Bi Lian memandang tajam penuh selidik.

Orang ini berusia kurang lebih lima puluh tahun, seorang lelaki bertubuh tinggi kurus dan berpakaian seperti pendeta agama To. Rambutnya digelung ke atas dan diikat pita putih, pakaiannya berwarna kuning dan pada punggungnya nampak gagang sebatang pedang. Wajah tosu itu sangat kurus seperti kurang makan, akan tetapi matanya yang cekung itu mengeluarkan sinar mencorong. Dari matanya saja suami isteri itu sudah bisa mengetahui bahwa mereka sedang berhadapan dengan orang berilmu tinggi.

“Siancai (damai)...! Kiranya Pek Han Siong dan puterinya Siangkoan Ci Kang sembunyi di sini. Pantas saja di kota Tung-ciu ini tak ada yang tahu bahwa kalian adalah ahli-ahli silat yang hebat!”

Pek Han Siong mengangkat kedua tangannya di depan dada. Bagaimana pun juga orang ini adalah tamunya dan seorang pendeta pula, oleh karena itu sudah sepatutnya kalau dia menghormatinya.

“Maaf, totiang. Totiang siapakah dan ada keperlauan apakah dengan kami?”

Akan tetapi Siangkoan Bi Lian tidak mau menghormatinya, malah bertanya dengan suara menegur, “Seorang pendeta mestinya mengenal kesopanan dan kehormatan. Akan tetapi engkau datang meloncati pagar lantas mengatakan kami bersembunyi. Kami sama sekali tidak bersembunyi, dan juga tidak takut menghadapi siapa pun juga termasuk engkau!”

“Tenanglah dan biar totiang ini memberi penjelasan dahulu,” kata suaminya menyabarkan hatinya. Akan tetapi Siangkoan Bi Lian masih cemberut dan memandang kepada tosu itu dengan sinar mata mengandung kemarahan.

“Aku tidak datang sendirian saja!” kata tosu itu dan dia pun bertepuk tangan.

Nampak bayangan berkelebat dan di situ telah berdiri tiga orang lain yang juga melompati pagar tembok. Tiga orang ini juga berusia sekitar lima puluh tahun. Mereka mengenakan pakaian ringkas akan tetapi memakai jubah luar yang terlampau besar sehingga nampak kedodoran. Begitu berdiri di dekat tosu pertama tadi, mereka lalu membuka jubah luarnya dan nampaklah gambar lingkaran dan sebatang teratai putih di baju bagian dada mereka.

Melihat ini Siangkoan Bi Lian berseru, “Ahh, kiranya kalian ini orang-orang Pek-lian-kauw? Pantas saja tidak mengenal aturan, datang bukan seperti tamu tapi seperti segerombolan perampok dan pencuri!”

“Siancai! Puteri Siangkoan Ci Kang masih berhati keras dan galak!”

Pek Han Siong segera melangkah maju. “Totiang, kalau kalian berempat datang dari Pek-lian-kauw, maka ada keperluan apakah kalian menemui kami?”

“Pek Han Siong! Dua puluh tahun lebih kami menunggu dengan sabar, bahkan kami telah mengasingkan diri untuk memperdalam ilmu silat. Semua itu kami lakukan demi membuat perhitungan dengan engkau dan Siangkoan Ci Kang. Akan tetapi karena kini Siangkoan Ci Kang telah meninggal dunia maka perhitungan ini diwakili oleh puterinya.”

“Majulah kalian! Kami tidak takut!” kata Siangkoan Bi Lian.

Akan tetapi suaminya cepat memegang lengannya sebagai isyarat supaya isterinya dapat menahan emosinya. “Perhitungan apakah yang kalian maksudkan? Harap jelaskan agar kami mengerti apa yang kalian maksudkan,” kata Pek Han Siong dengan sikapnya yang tenang.

Melihat ketenangan Pek Han Siong ini, empat orang tosu itu kelihatan jeri juga. Tosu yang pertama muncul tadi agaknya menjadi pemimpin dari rombongan itu. Dengan sengaja dia melantangkan suaranya untuk mengatasi rasa jerinya terhadap pendekar yang sikapnya luar biasa tenangnya itu.

Pek Han Siong termenung, mengenang peristiwa yang terjadi dua puluh enam tahun yang lalu. Ketika itu dia dan Bi Lian yang kini menjadi isterinya, bekerja sama dengan Tang Hay dan para pendekar Cin-ling-pai, menentang Pek-lian-kauw. Mereka mendapat kemenangan dan menewaskan banyak tokoh Pek-lian-kauw yang berilmu tinggi. Di antara musuh itu terdapat Ban Tok Siansu dan Hek Tok Siansu.

Memang benar Ban Tok Siansu tewas di tangan Siangkoan Ci Kang, hanya saja Hek Tok Siansu bukan tewas di tangannya melainkan tewas oleh Tang Hay. Akan tetapi dia tidak menyangkal. Bagaimana pun juga ketika itu Tang Hay bekerja sama dengan dia, berarti kedua orang Siansu yang tewas itu adalah musuhnya pula. Dia berani bertanggung jawab atas perbuatan Tang Hay yang menjadi sahabat baiknya.

Dia masih ingat benar bahwa Ban Tok Siansu dan Hek Tok Siansu adalah dua pendeta sesat yang bekerja sama dengan Pek-lian-kauw. Ilmu kepandaian mereka sangat tinggi. Kalau memang empat orang ini adalah murid-murid mereka yang selama dua puluh enam tahun memperdalam ilmu mereka, maka dapat dibayangkan betapa lihainya mereka.

Siangkoan Bi Lian kembali berkata, “Bagus! Ternyata kalian adalah murid-murid pendeta sesat itu! Jangan sampai kalian mati tanpa nama, siapa nama kalian?!”

Tosu pertama berkata sambil tersenyum mengejek. “Aku bernama Kui Hwa Cu dan tiga orang adik seperguruanku ini bernama Lian Hwa cu, Thian Hwa Cu, dan Tiat Hwa Cu.”

“Kui Hwa Cu, bagaimana caranya kalian membalas dendam dan membuat perhitungan? Apakah kalian berempat hendak main keroyokan atau satu lawan satu?” Bi Lian bertanya dengan nada suara menantang.

Dia sama sekali tidak merasa takut karena selama ini dia dan suaminya hampir setiap hari berlatih dan ketika puteri mereka belum pergi merantau setiap hari mereka berdua melatih puteri mereka. Dengan demikian mereka sudah mendapat kemajuan dibandingkan dua puluh enam tahun yang lalu,.

“Ha-ha-ha! Kedatangan kami ini bukan untuk mengadu ilmu, melainkan hendak membalas dendam dan membunuh kalian berdua. Karena itu tentu saja kami akan maju bersama!”

“Bagus! Selamanya Pek-lian-kauw memang perkumpulan penjahat berkedok perjuangan yang pengecut. Baik, jika kalian hendak mengandalkan jumlah banyak untuk mengeroyok kami, majulah!” bentak nyonya yang berhati baja itu.

Empat orang tosu itu lalu membuat gerakan dengan tangan mereka. Mula-mula mereka menggerakkan kedua tangan di udara seperti orang menuliskan huruf-huruf, kemudian Kui Hwa Cu mengambil dua potong kertas yang sudah bertuliskan huruf dan dia pun berkata dengan suara berwibawa mengandung getaran kuat, sedangkan ketiga orang kawannya berpangku tangan dengan mata ditujukan kepada Pek Han Siong dan isterinya.

“Pek Han Siong dan isteri, saat kematian kalian sudah di depan mata! Dua ekor naga ini akan membunuh kalian!”

Kui Hwa Cu melemparkan dua potong kertas itu ke udara dan Siangkoan Bi Lian segera terbelalak karena dia melihat betapa di angkasa tiba-tiba saja muncul dua ekor naga yang menyeramkan, dengan mata mencorong serta lidah-lidah api terjulur keluar dari mulut dan hidung mereka. Tahulah dia bahwa lawan menggunakan sihir yang sangat kuat, maka dia pun cepat mengerahkan sinkang untuk melawan pengaruh sihir itu.

Pek Han Siong pernah diambil murid oleh Ban Hok Lojin, seorang di antara delapan dewa, kemudian dia dilatih ilmu sihir yang amat kuat. Maka, melihat permainan Kui Hwa Cu dia tertawa dan terdengar suaranya yang penuh wibawa.

“Ha-ha-ha, Kui Hwa Cu berempat! Kalian yang membuat naga ini, maka kalian pula yang akan diterkamnya!”

Han Siong menggerakkan tangannya menunjuk ke arah empat orang tosu itu dan mereka terbelalak ketika melihat betapa dua ekor naga ciptaan ilmu sihir mereka itu kini membalik dan menyerang mereka berempat! Tentu saja mereka menjadi sangat terkejut dan cepat menyimpan sihir mereka, menarik kekuatan sihir itu sehingga dua ekor naga itu sekarang melayang turun dan menjadi dua potong kertas kembali!

Kembali Kwi Hwa Cu membentak, “Pek Han Siong, kalian hadapilah kami delapan orang! Bersiaplah kalian berdua untuk mampus!”

“Kui Hwa Cu, kalau kalian maju dengan delapan orang, kami akan maju sepuluh orang!”

Yang amat terheran-heran adalah Siangkoan Bi Lian. Mula-mula dia melihat betapa empat orang tosu itu menjadi delapan, setiap orang menjadi dua, akan tetapi sesudah suaminya bicara, dia melihat dirinya sendiri menjadi lima orang, demikian pula diri suaminya menjadi lima orang! Dia tahu bahwa semua ini hasil kekuatan sihir, akan tetapi dia tetap menjadi bingung. Dia pun tahu bahwa suaminya beradu kekuatan sihir melawan empat orang tosu itu, maka tidak ada jalan lain baginya kecuali mengerahkan tenaga sakti untuk menolak pengaruh sihir itu.

Melihat hasil serangan mereka yang dapat diungguli oleh Pek Han Siong, tahulah empat orang tosu itu bahwa mereka tidak akan mendapat keuntungan kalau mengadu kekuatan sihir. Serentak mereka kembali menurunkan tangan sambil menarik semua kekuatan sihir mereka. Han Siong juga segera menghentikan pengerahan sihirnya karena kekuatan sihir itu akan menghabiskan tenaga saktinya kalau dikeluarkan terlalu lama,.

Kui Hwa Cu dan tiga orang temannya lantas meraih ke punggung, dan kini masing-masing sudah memegang sebilah pedang. Siangkoan Bi Lian dan Pek Han Siong juga mengambil pedang dari rak senjata yang memang selalu disiapkan di tempat itu bila mereka sedang latihan silat.

Kui Hwa Cu dan rekan-rekannya sudah tahu bahwa ilmu kepandaian Pek Han Siong lebih tinggi dari isterinya, dan sebelum masuk ke sana mereka memang sudah merencanakan siapa yang menghadapi Siangkoan Bi Lian. Maka sesuai rencana, sekarang Kwi Hwa Cu dan Lian Hwa Cu menghadapi dan mengeroyok Pek Han Siong, sedangkan Thian Hwa Cu dan Tiat Hwa Cu mengeroyok Siangkoan Bi Lian.

Maka terjadilah perkelahian yang seru di dalam taman itu. Baik Pek Han Siong mau pun Siangkoan Bi Lian menggunakan pedang mereka untuk memainkan ilmu pedang Kwan-im Kiam-sut yang amat hebat. Gerakannya halus dan lemah gemulai, tapi di balik kehalusan itu terkandung tenaga yang dahsyat sekali.

Sesudah bertanding belasan jurus, Pek Han Siong mendapat kenyataan bahwa ilmu silat kedua orang pengeroyoknya amat tangguh. Ilmu pedang mereka merupakan ilmu pedang golongan sesat dari barat, dan banyak pula tokoh Pek-lian-kauw menguasai ilmu pedang itu yang sebenarnya lebih tepat kalau dimainkan dengan pedang melengkung. Dia sendiri tidak merasa berat melawan dua orang pengeroyoknya. Akan tetapi ketika mengerling ke arah isterinya dia melihat betapa isterinya terdesak oleh pengeroyokan Thian Hwa Cu dan Tiat Hwa Cu.

Selagi Bi Lian terdesak dan Han Siong mencari kesempatan untuk membantu isterinya, tiba-tiba nampak bayangan orang dan muncullah seorang gadis yang cantik jelita. Gadis ini memegang sepasang pedang yang berkilauan dan cepat membentak, “Tosu-tosu palsu dari mana berani mengacau di rumah paman Pek Han Siong?”

Karena gadis ini melihat bahwa Siangkoan Bi Lian terdesak hebat, maka dia pun terjun ke medan pertempuran dan membantu Bi Lian sehingga dua orang pengeroyok Bi Lian kini terpaksa berpisah. Thian Hwa Cu tetap bertanding melawan Bi Lian sedangkan Tiat Hwa Cu menghadapi gadis yang baru datang.

Kini Han Siong bisa bernapas lega. Kalau hanya menghadapi seorang tosu saja, dia tidak mengkhawatirkan keadaan isterinya. Dan dia pun merasa girang sekali setelah mengenal siapa gadis yang memainkan sepasang pedang itu. Gadis itu bukan lain adalah Tang Hui Lan! Siangkoan Bi Lian juga mengenal gadis itu, maka dia pun berseru,

“Hui Lan…!”

“Bibi, mari kita hajar para pendeta palsu ini!” kata Hui Lan sambil tersenyum.

Kini bangkitlah semangat Siangkoan Bi Lian. Sikap gadis itu mengingatkan dia akan Cia Kui Hong, ibu dari gadis itu yang waktu mudanya bersama dia menentang Pek-lian-kauw. Lincah, berani, dan galak!

Empat orang tosu yang menamakan diri sendiri See-thian Su-hiap (empat pendekar dunia barat) itu merasa terkejut sekali. Menurut perhitungan mereka, kalau maju berempat pasti mereka akan dapat membunuh Pek Han Siong dan isterinya. Namun siapa kira, biar pun dikeroyok dua, Pek Han Siong sama sekali tidak terdesak, dan tiba-tiba muncul gadis lihai itu yang membantu Siangkoan Bi Lian yang sudah terdesak. Dengan munculnya gadis itu terpaksa Thian Hwa cu maju sendirian menghadapi Siangkoan Bi Lian, dan Tiat Hwa Cu juga sendirian saja menghadapi gadis yang luar biasa lihainya itu!

Tingkat kepandaian Tang Hui Lan memang sudah tinggi sekali, bahkan tingkatnya masih lebih tinggi bila dibandingkan dengan Siangkoan Bi Lian. Payah Tiat Hwa Cu menandingi gadis itu dan setelah lewat dua puluh jurus, Tiat Hwa Cu hanya mampu melindungi dirinya dengan memutar pedang sambil terus mundur.

Sepasang pedang di tangan gadis itu seolah-olah sudah berubah menjadi puluhan batang banyaknya! Dan ketika dia terdesak dan sudah tersudut, sebuah tendangan kaki Hui Lan membuat dia terjengkang roboh!

Hui Lan tidak mengejar, hanya berdiri karena dia belum tahu siapa mereka dan mengapa mereka memusuhi keluarga Pek Han Siong. Apa lagi melihat betapa Pek Han Siong dan Siangkoan Bi Lian juga mulai mendesak lawan-lawannya, maka Hui Lan berdiri saja tidak membantu karena dia tahu bahwa mereka berdua tidak membutuhkan bantuannya.

Kedua orang tuanya sudah memesan agar dia tidak sembarangan saja membunuh orang. Itulah sebabnya dia diam saja ketika melihat Tiat Hwa Cu yang sudah ditendang roboh itu merangkak bangkit lalu menggunakan tangan kirinya untuk menutupi dada kanannya yang terasa nyeri bukan main akibat tendangan kaki mungil Hui Lan! Dia pun tidak berani maju lagi dan hanya menonton saudara-saudaranya yang sudah mulai terdesak.

Tiba-tiba terdengar Siangkoan Bi Lian membentak nyaring kemudian pedangnya berhasil melukai pundak kiri lawannya. Thian Hwa Cu terhuyung ke belakang dan darah mengalir dari luka di pundaknya. Siangkoan Bi Lian hendak mengejar untuk membunuhnya, namun terdengar seruan suaminya,

“Jangan bunuh dia!”

Mendengar seruan suaminya ini, Siangkoan Bi Lian tidak jadi mengejar dan dia melompat ke dekat Hui Lan. Mereka berdua kini menonton perkelahian antara Pek Han Siong yang dikeroyok dua oleh Kwi Hwa Cu dan Lian Hwa Cu

Pek Han Siong merasa lega bahwa Hui Lan dan Bi Lian sudah berhasil mengalahkan dua orang musuh. Sekarang dia dapat mencurahkan seluruh perhatiannya kepada dua orang lawannya.

“Kena...!” Dia membentak dan tiba-tiba pedangnya membuat gerakan memutar, dan tahu-tahu pedang di tangan kedua orang lawannya itu terpental lantas terlepas dari pegangan. Secepat kilat Han Siong menyapu dengan kakinya sehingga Lian Hwa Cu langsung roboh terpelanting.

Han Siong menginjakkan kaki kirinya di atas dada Lian Hwa Cu, sementara itu pedangnya menodong dada Kui Hwa Cu yang sudah tidak berpedang lagi. Injakan kaki kiri Han Siong membuat Lian Hwa Cu merasa seolah dia ditindih benda yang berat sekali, membuat dia tidak mampu berkutik. Kui Hwa Cu juga merasakan ujung pedang itu menembus bajunya dan menyentuh kulit dadanya. Kalau tangan yang menodongnya itu bergerak sedikit saja maka akan tamatlah riwayatnya. Maka dia pun tidak berani bergerak, hanya memandang dengan muka pucat.

“Hemm, sebetulnya sudah lebih dari pantas kalau kami membunuh kalian berempat. Akan tetapi kami bukan orang-orang kejam dan jahat yang suka membunuh lawan yang sudah kalah dan tidak berdaya. Kalau kalian masih merasa penasaran, pergi dan belajarlah dua puluh tahun lagi, baru kalian mencari kami. Lihatlah, siapa gadis itu? Ia adalah puteri Tang Hay yang dulu membunuh Hek Tok Siansu!”

“Kami akan membalas kekalahan ini!” kata Kui Hwa Cu yang merasa marah dan terhina.

“Bagus kalau kalian masih memiliki semangat. Nah, sekarang cepat kalian pergi dari sini!” dia melepaskan kakinya dari dada Lian Hwa Cu dan menarik pedangnya yang menodong dada Kui Hwa Cu.

Empat orang tosu itu tidak mau membuang waktu lagi. Sudah untung sekali mereka tidak dibunuh oleh musuh-musuh mereka. Mereka melompati pagar tembok dan segera lenyap.

Pek Han Siong menghela napas panjang, lalu menoleh dan memandang ke arah Hui Lan. “Bagus sekali, Hui Lan. Kedatanganmu seperti malaikat penolong!”

“Kalau tadi Hui Lan tidak segera datang membantu, aku bisa celaka di tangan dua orang kerbau itu!” kata pula Siangkoan Bi Lian sambil merangkul gadis cantik itu.

“Aih, Paman dan Bibi terlalu memuji. Tanpa adanya aku sekali pun, aku yakin paman Pek Han Siong akan dapat mengusir mereka. Akan tetapi aku merasa heran sekali mengapa enci Bwe Hwa tidak muncul membantu paman dan bibi?”

“Bwe Hwa sedang pergi. Marilah kita masuk ke dalam rumah agar kita dapat lebih leluasa bercakap-cakap.” Siangkoan Bi Lian menggandeng tangan Hui Lan, lantas mereka bertiga masuk ke dalam rumah.

Para penjaga toko rempah-rempah milik pasangan suami isteri itu sudah berdatangan dan toko itu mulai dibuka. Akan tetapi Pek Han Siong dan isterinya tidak keluar karena sedang asyik bercakap-cakap dengan Hui Lan.

“Bagaimana kabar tentang ayah dan ibumu? Dan bagaimana tentang Cin-ling-pai?” tanya Pek Han Siong.

“Kami semua baik-baik saja, Paman. Ayah dan ibu memang sudah berpesan agar dalam perantauanku memperluas pengalaman, aku singgah di sini untuk menyampaikan salam mereka kepada Paman dan Bibi.”

“Kami girang sekali engkau datang ke sini, Hui Lan. Hanya sayang Bwe Hwa juga sedang merantau seperti engkau. Kalau dia ada di sini, tentu dia akan merantau bersamamu dan itu akan lebih menggembirakan lagi.”

”Paman, siapakah empat orang tosu tadi? Mengapa mereka memusuhi Paman dan Bibi?”

“Kami juga baru tadi mengenal mereka. Pagi tadi tiba-tiba mereka muncul dan menantang kami. Mereka hendak membalaskan kematian guru-guru mereka, yaitu mendiang Ban-tok Siansu dan Hek-tok Siansu. Ban-tok Siansu tewas di tangan ayah mertuaku Siangkoan Ci Kang dan Hek-tok Siansu tewas di tangan ayahmu. Tapi kami berdua juga musuh-musuh mereka karena dahulu kami bekerja sama dengan ayahmu menentang Pek-lian-kauw.”

“Jadi mereka tadi adalah tokoh-tokoh Pek-lian-kauw?” tanya Hui Lan.

“Benar dan mereka itu murid-murid mendiang Ban-tok Siansu dan Hek-tok Siansu,” jawab Siangkoan Bi Lian.

“Nama mereka Kui Hwa Cu, Lian Hwa Cu, Thian Hwa Cu, dan Tiat Hwa Cu dan mereka memakai julukan See-thian Su-hiap!” sambung Pek Han Siong. “Berhati-hatilah engkau apa bila bertemu mereka, Hui Lan. Mereka adalah orang-orang licik yang tidak malu maju bersama untuk mengeroyok musuh.”

“Aku akan berhati-hati, Paman.”

“Hui Lan, bagaimana engkau tadi dapat mengetahui bahwa kami sedang berkelahi lantas datang membantu?”

“Aku datang berkunjung pagi-pagi, Bibi. Akan tetapi pintu depan masih ditutup dan tidak nampak seorang pun di luar. Aku lalu masuk ke pekarangan dan dari situ aku mendengar beradunya senjata dari taman di belakang rumah ini. Karena tertarik aku lalu melompat ke pagar tembok dan melihat Paman dan Bibi dikeroyok, maka aku segera melompat masuk dan membantu Bibi.”

Pek Han Siong menghela napas panjang. “Sungguh menyebalkan sekali. Bertahun-tahun kami tinggal di sini tanpa ada yang tahu bahwa kami adalah keluarga yang dapat bermain silat. Ternyata hari ini kami didatangi musuh-musuh yang hendak membalas dendam.”

“Kenapa harus menyesal? Dulu kita selalu membasmi golongan sesat di dunia kangouw, dan kita melakukan hal itu dengan penuh pertanggungan jawab. Jika ada golongan sesat yang mendendam kepada kita, kita tidak perlu menyesal melainkan menghadapi mereka dengan gagah.”

“Engkau benar, tetapi alangkah indahnya kehidupan kita selama ini. Jauh dari kekerasan, jauh dari perkelahian dan permusuhan.”

“Karena kita sudah mulai tua memang sebaiknya kalau kita mengundurkan diri lalu hidup dalam ketenangan dan kedamaian. Tapi orang-orang muda harus tetap melanjutkan sikap kami membasmi golongan sesat, karena kalau tidak diimbangi oleh para pendekar, tentu golongan sesat akan semakin merajalela dan menyusahkan rakyat jelata. Itulah pula yang menyebabkan kita memberi kesempatan kepada Bwe Hwa untuk merantau dan bertindak sebagai pendekar, menegakkan kebenaran dan keadilan, menumpas para penindas yang mengandalkan kekuatan mereka serta membela yang tertindas dan lemah.” Siangkoan Bi Lian berkata penuh semangat, dua matanya mencorong dan cuping hidungnya kembang kempis. Hui Lan memandang kagum dan teringat kepada ibunya. Ada persamaan antara Siangkoan Bi Lian dan ibunya, sama-sama keras hati dan pemberani!

“Paman dan Bibi, selain hendak menjenguk karena merasa rindu, kedatanganku ini juga membawa sebuah berita yang tak menyenangkan. Ketahuilah bahwa dua bulan yang lalu kakek buyut Ceng Thian Sin di pulau Teratai Merah telah meninggal dunia.”

Pek Han Siong langsung bangkit dari tempat duduknya dengan kaget. “Meninggal? Kakek Ceng Thian Sin yang sakti itu dapat meninggal dunia?”

Isterinya mencela. “Aihhh, engkau ini bagaimana sih? Setiap manusia, betapa pandai dan saktinya, tetap saja akan mati satu demi satu. Apakah anehnya kalau kakek Ceng Thian Sin meninggal dunia? Usianya tentu sudah ada seratus tahun.”

“Bibi benar, kakek buyut meninggal dunia dalam usia seratus tahun lebih. Hanya ada satu hal yang mengganggu hatiku mengenai kematian kakek buyut.”

Pek Han Siong sudah duduk kembali dan kini memandang gadis itu dengan alis berkerut, “Apa yang mengganggu hatimu, Hui Lan?”

“Kakek buyut meninggal dunia setelah dia bertanding, dikeroyok tujuh orang lawan. Beliau berhasil mengusir tujuh orang lawan itu, akan tetapi agaknya beliau sudah terlalu banyak mengeluarkan tenaga sehingga tubuhnya yang sudah tua sekali itu tidak kuat menahan, dan akhirnya beliau tewas karenanya.”

Pek Han Siong mengangguk-angguk. “Tidak aneh kalau kakek Ceng dicari serta dimusuhi orang dalam usia setua itu, karena di waktu mudanya dia membasmi banyak sekali tokoh kangouw yang jahat. Siapakah tujuh orang itu, Hui Lan?”

“Mereka itu adalah datuk sesat yang berjuluk Toa Ok, Ji Ok, dan Bu-tek Ngo-sian,” jawab Hui Lan sambil menggenggam jari-jari tangannya, mengepal kedua tinjunya.

Melihat ini, Siangkoan Bi Lian bertanya, “Jadi engkau merantau ini adalah untuk mencari tujuh orang itu dan membalas kematian kakek buyutmu?”

“Tidak, Bibi. Akan tetapi kalau aku sampai bertemu dengan mereka dalam perantauanku, tentu mereka itu akan kuserang.”

“Hemmm, Hui Lan, apakah engkau hendak membalaskan dendam kematian kakek Ceng Thian Sin?” tanya Pek Han Siong sambil memandang tajam wajah gadis itu.

Hui Lan menggeleng kepalanya. “Tidak, Paman. Ayah dan ibu telah menasehati aku agar jangan menyambung rantai balas membalas dan dendam mendendam ini. Akan tetapi jika aku bertemu mereka dan mereka melakukan kejahatan, tentu mereka akan kutentang!”

Pek Han Siong mengangguk. “Ayah ibumu bijaksana, Hui Lan. Dendam itu menimbulakn kebencian dan kemarahan, membuat orang ingin sekali membalas. Tujuh orang datuk itu mendatangi kakek Ceng di Pulau Teratai merah juga untuk membalas dendam. Memang tidak benar kalau kita mengikat diri dengan dendam. Akan tetapi kalau engkau menentang seseorang karena dia melakukan kejahatan dan bukan karena engkau mendendam, tentu saja tindakanmu itu benar.”

“Akan tetapi betapa pun juga engkau harus berhati-hati sekali kalau bertemu mereka, Hui Lan,” kata Siangkoan Bi Lian. “Nama tujuh orang itu sudah sangat terkenal sebagai datuk sesat, apa lagi Toa Ok dan Ji Ok itu. Sudah lama aku mendengar namanya dan mereka adalah datuk besar yang mewakili daerah barat.”

“Terima kasih, Bibi. Tentu saja aku tidak akan bertindak sembrono dan lancang. Aku pun cukup mengerti bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi dan licik sehingga mereka tidak akan malu mengeroyok lawan seperti yang mereka lakukan terhadap kakek buyut.”

Suami isteri itu kemudian bertanya banyak sekali tentang orang tua Hui Lan. Gadis ini pun menceritakan semua yang diketahuinya karena dia maklum betapa erat hubungan antara ayahnya dan Pek Han Siong. Dalam percakapan mereka, Hui Lan menyinggung tentang pedang Pek-lui-kiam.

“Ah, kiranya engkau mengetahui juga tentang pedang yang menghebohkan seluruh dunia kangouw itu? Kalau aku masih muda seperti dahulu, tentu aku juga tidak mau ketinggalan memperebutkannya!” kata Siangkoan Bi Lian.

“Hui Lan, apakah engkau juga hendak mencari dan memperebutkan Pek-lui-kiam?” tanya Pek Han Siong.

“Memang aku merasa tertarik sekali, Paman. Kabarnya pedang pusaka itu tadinya berada di tangan seorang pendekar besar bernama Tan Tiong Bu, akan tetapi pendekar ini telah terbunuh lantas pedang pusaka itu lenyap. Menurut kabar angin, pembunuh itu tentu telah mencuri pedang Pek-lui-kiam.”

“Tahukah engkau siapa pembunuh dan pencuri pedang itu?”

“Menurut kabar yang kuperoleh dalam perjalananku, pembunuh itu adalah seorang kakek berjubah merah. Kalau tidak salah, pembunuh itu adalah Ang I Sianjin, ketua Kwi-jiauw-pang yang bersarang di Kwi-liong-san.”

“Hui Lan, mungkin Bwe Hwa juga mencari pedang itu. Tetapi pedang itu asalnya bukan milik kita, maka sungguh tidak benar kalau kita mencoba untuk merampasnya. Kalau kita berhasil, berarti kita memiliki barang yang bukan milik kita, melainkan milik Tan Tiong Bu itu.”

“Paman benar. Aku hendak ke Kwi-liong-san hanya untuk menyelidiki. Jika benar pedang pusaka itu jatuh ke tangan orang jahat, hal itu harus dicegah. Kabarnya pedang pusaka itu adalah pusaka yang ampuh, maka kalau terjatuh ke tangan penjahat tentu dia menjadi seperti harimau tumbuh sayap, kejahatannya akan semakin menjadi-jadi. Sebaliknya aku pun tak akan mengganggu kalau pedang pusaka itu terjatuh ke tangan seorang pendekar yang menggunakannya untuk membasmi para penjahat,.”

“Engkau benar, Hui Lan. Kalau memang engkau hendak menyelidiki ke Kwi-liong-san, aku hanya berpesan padamu. Apa bila engkau bertemu dengan Bwe Hwa, ajaklah dia bekerja sama seperti ayahmu bekerja sama dengan aku dahulu. Dengan bersatu kalian berdua akan menjadi lebih kuat, dari pada kalau bekerja sendiri-sendiri.”

“Baik, Paman, akan aku perhatikan pesan Paman itu.”

Hui Lan tinggal selama tiga hari di rumah Pek Han Siong. Pada hari ke empat, pagi-pagi dia berpamit kemudian meninggalkan kota Tung-ciu, menuju ke selatan untuk berkunjung ke Kwi-liong-san (Gunung Naga Iblis).

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Si Kong melakukan perjalanan seenaknya. Dia tidak tergesa-gesa pergi ke Kwi-liong-san sebab dia memang sedang berkelana, menikmati semua keindahan alam yang terbentang di depannya. Pada suatu siang tibalah dia di sebuah dusun. Dia melihat betapa penduduk dusun berada dalam keadaan amat sibuk. Orang-orang berkeliaran ke sana-sini berunding berkelompok-kelompok.

Ketika mereka melihat dia memasuki dusun, banyak orang mengikutinya dengan pandang mata penuh kecurigaan. Yang sangat aneh baginya, dia tidak melihat seorang pun wanita muda. Yang ada hanya wanita-wanita tua dan anak-anak. Selebihnya, semua penduduk itu laki-laki! Wajah mereka jelas sekali nampak resah dan khawatir.

Si Kong melihat sebuah kedai minuman di sudut dusun, dan di tempat ini pun banyak pria sedang berkumpul dan bicara ramai. Akan tetapi ketika dia memasuki kedai minuman itu, percakapan mereka berhenti tiba-tiba dan seorang demi seorang meninggalkan kedai itu.

Si Kong mendapatkan dirinya hanya seorang diri saja di kedai itu, dengan seorang kakek penjaga kedai yang nampak ketakutan dan beberapa kali mencuri pandang ke arahnya. Si Kong menjadi tidak sabar lagi.

“Paman, aku minta secangkir teh dan bakpau,” katanya kepada penjaga kedai.

Kakek itu tergopoh-gopoh menyediakan pesanannya, lalu membawanya kepada Si Kong. Sesudah menaruh makanan dan minuman di atas meja, dengan tergesa-gesa kakek itu hendak pergi lagi.

“Nanti dulu, paman. Aku ingin bertanya kepadamu.”

“Bertanya apa, kongcu? Aku tidak tahu apa-apa.” Tiba-tiba wajah kakek itu menjadi pucat dan kedua tangannya diangkat seolah takut kalau dipukul.

Tentu saja Si Kong menjadi semakin heran lagi. “Paman, aku tidak apa-apa, jangan takut. Duduklah, paman, duduklah dengan tenang dan jangan takut kepadaku. Bahkan jika ada bahaya mengancam dirimu, akulah yang akan menghadapinya dan menolongmu!”

“Tidak..., tidak...! Jangan tanyakan apa-apa kepadaku. Aku tidak tahu, tidak mengerti… ahh, kasihanilah diriku yang sudah tua…”

Si Kong mengerutkan sepasang alisnya. Tahulah dia bahwa kakek ini takut akan sesuatu, seperti semua orang dusun yang berada dalam keadaan panik dan ketakutan. Akan amat sukarlah membujuk kakek yang sudah ketakutan seperti itu. Jalan satu-satunya hanyalah membuat kakek itu takut kepadanya agar mau mengatakan apa yang terjadi di dusun ini.

Si Kong melepaskan capingnya yang lebar dan meletakkannya di atas meja. Kemudian dengan tiba-tiba dia menyambar lengan kakek itu dan membuat mukanya nampak bengis, sepasang matanya melotot.

“Engkau ingin hidup atau ingin kugantung sampai mati! Hayo cepat jawab atau aku akan menghancurkan semua tulangmu dan mengupas semua kulitmu!”

Wajah itu menjadi semakin pucat dan tubuhnya menggigil. Kakek itu segera menjatuhkan diri berlutut di depan Si Kong. Suaranya hampir tidak terdengar, karena dia bicara dengan tubuh menggigil dan lidah terasa kelu.

“Ampunkan saya, kongcu, ampuuun…”

“Hemm, aku baru mau mengampunimu kalau engkau mau menjawab pertanyaanku. Nah, katakan apa yang sudah terjadi di dusun ini maka semua orang kelihatan ketakutan dan aku tidak melihat seorang pun wanita muda di sini. Apa yang telah terjadi? Jawab dengan sejelasnya!” kata Si Kong dengan girang karena gertakannya berhasil.

“Ada... ada mala petaka melanda dusun kami…”

“Hayo jawab yang jelas. Mala petaka apakah itu?”

“Aku… takut menjawabnya, kongcu.”

“Takut apa?”

“Kalau saya banyak bicara, tentu saya akan dibunuh…”

“Dan kalau engkau tidak mau menjawab, engkau bukan saja akan kubunuh, bahkan akan kusiksa lebih dulu. Sebaliknya aku akan melindungimu dari bahaya apa pun kalau engkau suka menerangkan kepadaku!”

Mendengar ucapan Si Kong ini, kakek penjaga kedai itu terlihat agak lega. “Kongcu, mala petaka itu bukan hanya menimpa dusun ini saja, akan tetapi juga di semua dusun sekitar Bukit Monyet di sana itu. Iblis penjaga Bukit Kera itu minta supaya wanita-wanita muda, terutama yang cantik, dikorbankan kepadanya. Wanita itu harus dilempar ke dalam sumur tua. Entah sudah berapa banyak wanita menjadi korban dilempar ke dalam sumur tua...”

“Mengapa kalian mau melakukan itu?”

“Kami dipaksa, kongcu. Di dusun selatan ada yang tidak menurut. Tetapi akibatnya, pada malam harinya kepala dusun dan tujuh orang lainnya dibunuh tanpa ada yang tahu siapa pembunuhnya, dan dalam satu malam saja tiga orang gadis telah lenyap tanpa ada yang tahu ke mana perginya.”

“Hemm... aneh sekali kalau ada iblis minta korban wanita muda yang cantik. Jadi karena itu maka semua wanita muda mengungsi keluar dari dusun ini dan semua orang nampak ketakutan?”

“Benar, kongcu. Kami merasa khawatir kalau-kalau iblis itu akan datang pada malam hari kemudian membunuh kami. Akan tetapi tadi pagi ada kejadian sangat aneh. Kami semua sudah kebingungan ketika malam tadi mendengar suara iblis itu yang suaranya bergema minta agar hari ini disediakan korban seorang gadis, sebab semua gadis telah pergi, yang ada hanya kanak-kanak dan nenek-nenek. Lalu pagi tadi datang seorang gadis cantik dan gadis itu menawarkan dirinya untuk menjadi korban dan dilempar ke dalam sumur tua.”

“Ahh, siapakah gadis itu?”

“Tidak ada seorang pun yang mengenalnya, akan tetapi dia membawa pedang. Agaknya dia seorang pendekar wanita yang sengaja hendak menantang iblis penjaga gunung Kera itu, kongcu.”

“Hemm, dan dia sudah dilempar ke dalam sumur tua?”

“Sudah, tetapi bukan dilempar melainkan dia meloncat ke dalam sumur tua itu kemudian lenyap. Karena itu kami ketakutan, takut kalau-kalau iblis itu akan mengamuk karena ada gadis dari dusun kami yang hendak menentangnya. Ahh, kami sudah memberi peringatan kepada gadis itu, akan tetapi dia memaksa dan kami tidak dapat menghalanginya.”

Si Kong mengerutkan alisnya. Dia dapat menduga bahwa yang berani berbuat demikian tentulah seorang pendekar wanita. Dia merasa kagum akan tetapi juga khawatir. Dia tidak percaya ada iblis penjaga gunung yang menuntut agar dikorbankan gadis-gadis cantik. Ini tentu ulah orang-orang jahat. Mungkin penjahat itu lihai sekali sehingga tidak ada orang di dusun itu yang pernah melihatnya biar pun iblis itu membunuhi banyak orang pada waktu malam. Dia khawatir kalau-kalau gadis itu akan mengalami celaka di dalam sumur tua.

“Paman, hayo antar aku ke sumur tua itu!” kata Si Kong.

Wajah kakek itu menjadi bertambah pucat dan seluruh tubuhnya menggigil seolah dirinya diserang demam parah. “Saya... saya... tidak berani, kongcu.”

“Hayolah, ada aku jangan takut. Atau aku harus menggunakan kekerasan seperti ini?” Si Kong mengambil sebuah cangkir dan meremasnya dengan tangan kiri. Cangkir itu hancur berkeping-keping sehingga kakek itu semakin takut.

“Nah, mau antar aku ke sumur tua itu atau kau memilih kuhancurkan tulang-tulangmu?” Si Kong menggertak.

“Baik… baik, kongcu… saya akan menutup kedai ini dulu…”

Kakek itu sangat ketakutan dan bergegas menutup kedainya, kemudian bersama Si Kong dia meninggalkan dusun. Beberapa orang laki-laki menjadi tertarik ketika melihat pemilik kedai berjalan bersama seorang pemuda asing.

“Paman Kiu, hendak ke mana engkau?” beberapa orang bertanya.

Kakek itu sengaja menjawab dengan suara keras agar terdengar banyak orang. Dia ingin mencari teman dalam keadaan terancam dan terpaksa itu. “Aku… aku mengantar kongcu ini ke sumur tua!”

Semua orang terkejut dan cepat menyingkir, akan tetapi masih ada tujuh orang pemuda yang mengikuti dari belakang. Si Kong membiarkan saja mereka mengikuti, dan kakek itu kelihatan lega karena kini dia mempunyai kawan yang mengantar pemuda itu ke sumur tua yang mereka takuti.

Kini mereka mendaki lereng bukti Kera menuju ke puncaknya. Matahari telah naik tinggi, sinarnya panas membakar sehingga kakek itu bersimbah keringat. Kadang dia mengusap muka dan lehernya dengan ujung lengan bajunya.

“Masih jauhkah, paman?” Si Kong bertanya.

“Sudah dekat. Itu puncaknya telah nampak dari sini. Sumur tua itu berada di puncak bukit ini.”

Mereka melewati sebuah hutan kecil dan melihat banyak sekali kera di hutan itu. Maka mengertilah Si Kong mengapa bukit itu disebut Bukit Kera, kiranya memang banyak kera yang hidup di bukit ini.

Tak lama kemudian tibalah mereka di puncak. Dengan tubuh gemetar kakek itu mengajak Si Kong menghampiri sebuah sumur tua. Tujuh orang pemuda sudah berhenti di tempat yang agak jauh sambil memandang dengan hati tegang dan kaki siap untuk melarikan diri!

"Inilah sumurnya, kongcu..."

Si Kong melihat betapa sinar matahari yang berada di atas menyinari sumur. Dia segera menghampiri dan nenjenguk ke dalam sumur. Akan tetapi kelihatannya gelap menghitam. Sinar matahari hanya sampai di bagian luar dan atas sumur itu saja. Sumur itu lebar, ada dua meter lebarnya, makin ke bawah makin mengecil.

"Nona berpedang itu melompat ke dalam sumur ini?" tanya Si Kong kepada kakek itu.

Kakek itu hanya mengangguk saja, tak berani mengeluarkan suara, agaknya dengan hati was-was dia menunggu munculnya munculnya iblis itu dari dalam sumur. Kedua kakinya yang gemetar juga sudah siap melarikan diri. Si Kong menoleh dan melihat tujuh orang pemuda dusun masih berdiri di sana.

"Heii, sobat-sobat! Aku hendak menyelidik ke dalam sumur. Maukah kalian membawakan segulung tali yang kuat? Kalau ada, makin panjang semakin baik!" Tujuh orang itu saling pandang, lalu mereka mengangguk dan larilah mereka dari puncak itu.

Si Kong memeriksa keadaan sekitar sumur. Tidak ada sesuatu yang aneh. Puncak itu tak berapa lebar, hanya kurang lebih sepuluh meter lebarnya, menjulang hingga ke atas. Dia mengambil sepotong batu sebesar kepalan tangannya dan menjatuhkan batu itu ke dalam sumur.

Dia menunggu sambil mendengarkan dengan penuh perhatian. Tidak ada suara apa-apa yang datang dari bawah sana, seolah-olah sumur itu tidak berdasar! Kalau dasarnya air tentu akan terdengar suara batu yang jatuh ke dalamnya, dan kalau dasarnya tanah juga akan terdengar oleh pendengarannya yang terlatih.

Si Kong mengerutkan alisnya. Sungguh aneh sekali, pikirnya. Benarkah lubang sumur itu tidak berdasar atau dasarnya begitu dalam sehingga suara batu yang dia jatuhkan tidak bisa terdengar dari atas? Kalau dalamnya seperti itu, gadis pendekar itu tentu mengalami kecelakaan.

Tiba-tiba saja telinganya menangkap suara yang hanya sayup-sayup terdengar olehnya. Seperti suara orang yang berkata-kata, seperti bisikan halus. Dia merasa heran dan bulu tengkuknya meremang juga.

Dia belum pernah melihat setan, akan tetapi pernah mendengar orang bercerita tentang setan yang seram-seram. Ketika mendengar suara bisik-bisik itu, jantungnya berdebar kemudian terbayanglah dalam ingatannya perihal setan seperti yang pernah didengarnya. Ahh, mustahil! Demikian dia mencela diri sendiri. Mana mungkin ada setan di tempat ini!

Tujuh orang pemuda itu berlarian mendaki puncak lalu mereka menyerahkan segulung tali yang panjang kepada Si Kong. Si Kong mengikatkan ujung tali pada batang pohon yang tumbuh di situ dan melemparkan gulungan tali itu ke dalam sumur. Lingkaran gulungan tali itu terbuka.

“Terima kasih atas bantuan kalian. Sekarang aku hendak turun ke dalam sumur ini.”

Sesudah Si Kong menuruni sumur dengan tali itu, tujuh orang pemuda dan kakek pemilik kedai itu tidak dapat menahan lagi rasa takut mereka. Mereka cepat meninggalkan sumur dan mengintai dari jarak jauh dengan hati tegang dan jantung berdebar.

Si Kong meninggalkan caping lebarnya di bibir sumur, akan tetapi dia membawa bambu pikulannya dan buntalan pakaiannya yang diikatkan di punggung. Tali itu ternyata panjang sekali dan setelah melewati batas antara bagian sumur yang mendapat cahaya matahari dengan yang gelap, dia menuruni tali itu dengan hati-hati.

Tidak lama kemudian tibalah dia di dasar sumur dan dia tersenyum sendiri ketika kakinya menyentuh sebuah jala. Ternyata ada sehelai jala dipasang di situ. Pantas batunya tidak mengeluarkan suara karena menimpa jala yang kuat dan lunak. Begitu dia menginjak jala itu, terdengar suara berkelinting di arah kiri. Dia meraba-raba ke bagian kiri dan mendapat kenyataan bahwa dinding sumur di bagian kiri itu kosong berlubang! Kalau begitu sumur itu bagian dasarnya mempunyai sebuah terowongan!

Suara berkelinting tadi segera disusul dengan suara orang bercakap-cakap dan tak lama kemudian nampak cahaya api di terowongan. Empat orang laki-laki datang dan seorang di antara mereka memegang sebuah lampu gantung yang cahayanya cukup terang.

Dalam penerangan cahaya lampu itu nampaklah oleh Si Kong bahwa terowongan itu garis tengahnya kurang lebih dua meter. Juga di pinggang empat orang itu nampak ada golok bergantung dan mereka membawa tali seakan hendak mengikat korban yang terjatuh ke dalam jala mereka. Tentu dia dikira seorang gadis manis yang menjadi korban disuguhkan kepada iblis penjaga sumur.

Tepat seperti dugaannya! Bukan iblis yang menuntut dikorbankannya dara-dara muda dan cantik, tapi segerombolan orang-orang jahat yang menipu penduduk dusun yang percaya akan takhyul!

Hati Si Kong menjadi panas bukan main. Entah sudah berapa banyak gadis dusun yang menjadi korban-korban iblis-iblis itu. Dia menyembunyikan mukanya di bawah lengan agar dari jauh mereka tak dapat melihat bahwa dia seorang pria. Setelah mereka menghampiri, dia mendengar dengan jelas kata-kata mereka.

“Wah, sudah datang lagi gadis manis untuk kita!”

“Engkau sudah mendapat bagian, aku yang belum.”

“Yang ini untukku, akan kuminta kepada Twako!”

Ketika mereka sudah tiba dekat, dalam jarak sekitar dua meter, Si Kong melompat keluar dari dalam jala sambil tangannya bergerak menotok tiga kali dan tiga orang itu roboh tak bisa berkutik lagi. Dia lalu mencengkeram pundak orang ke empat yang membawa lampu sehingga orang itu menyeringai karena pundaknya seperti dicengkeram jepitan baja saja.

“Jangan berteriak atau bergerak kalau tidak ingin mati!” Si Kong berbisik, dan dari pundak yang gemetaran itu tahulah Si Kong bahwa orang ini amat ketakutan.

“Hayo katakan berapa banyak kawan-kawanmu?”

Agaknya orang ketakutan itu hendak menggertak, maka dia segera menjawab, “Ada lima belas orang dan langsung dipimpin oleh Twako (Kakak Tertua) yang sangat lihai. Engkau berani masuk ke sini, berarti engkau akan mati tersiksa.”

Si Kong memperkuat cengkeraman tangannya hingga orang itu mengaduh-aduh. “Aduh… ampunkan saya…” dia meratap.

“Di mana gadis-gadis korban itu?”

“Di ruangan sana, dikumpulkan menjadi satu. Kalau ada yang dibutuhkan baru diambil dan dibawa...”

“Antarkan aku ke sana!”

Dia melepaskan cengkeramannya, lantas mendorong orang yang membawa lampu itu ke depan. Orang itu tadinya hendak lari, akan tetapi sesudah merasakan lagi cengkeraman pada pundaknya, dia pun maklum bahwa dia sudah tidak berdaya.

“Baik, akan kuantarkan. Akan tetapi lepaskan dulu pundakku... aduhh, sakit...!”

Si Kong mengendurkan cengkeramannya, lalu mendorong orang itu yang melangkah maju dengan terhuyung-huyung. Sesudah berjalan sejauh kurang lebih seratus meter dan jalan itu membelok ke kanan, nampak ruangan yang mendapatkan cahaya matahari. Orang itu menggantungkan lampu di tempat gantungan yang tersedia.

Si Kong lalu memperhatikan sekelilingnya. Agaknya terowongan itu sengaja dibuat orang. Bagian itu merupakan dasar sebuah sumur yang tidak begitu dalam, maka mendapatkan sinar matahari dari atas. Orang itu melangkah terus, sementara jalan mulai mendaki naik.

Orang itu berhenti di depan sebuah ruangan yang memakai jeruji besi pada pintunya. Si Kong melihat belasan orang gadis berada dalam ruangan itu, ada yang sedang menangis dan ada yang memandang kosong dan putus asa. Dia tertarik kepada seorang gadis yang dua tangannya diikat pada gelang-gelang yang tertanam di dinding itu. Dia terkejut sekali sesudah mendapat kenyataan bahwa gadis itu adalah Hui Lan, Tang Hui Lan! Akan tetapi gadis itu tidak melihatnya, melainkan menundukkan muka dengan sikap tenang sekali.

Dari depan terdengar suara orang. Si Kong cepat menotok tawanannya dan menyeretnya ke tempat gelap, lantas dia mengintai. Belasan orang mendatangi tempat itu, mengiringi seorang laki-laki tinggi besar yang mukanya penuh bekas penyakit cacar. Akan tetapi laki-laki bopeng (cacat mukanya) ini mempunyai mata yang mencorong penuh kekejaman dan agaknya dia menjadi kepala mereka semua karena belasan orang itu nampak tunduk dan hormat kepadanya.

“Sekali ini kami bersumpah, twako. Twako tentu akan senang sekali mendapatkan yang ini. Dia luar biasa cantik jelitanya, tidak seperti perawan-perawan gunung yang sederhana itu. Kami menemukan dia dalam keadaan pingsan di dalam jala. Melihat dia membawa pedang, kami lalu merampas pedang dan mengikat kedua tangannya pada gelang baja. Nah, itu dia, twako, agaknya sudah sadar. Aduh, cantiknya seperti puteri kaisar saja!”

Si tinggi besar muka bopeng itu hanya menggumam, akan tetapi setibanya di depan pintu berjeruji, dia berhenti kemudian dengan bengong memandang ke arah gadis yang diikat itu. Ternyata anak buahnya tidak berlebihan dalam keterangannya. Seorang gadis yang benar-benar luar biasa!

“Ha-ha, dia cantik dan membawa pedang? Berarti sedikit banyak tentu dia pandai bersilat. Dia pantas menjadi sisihanku, menjadi isteriku! Bukakan daun pintu ini! Aku sendiri yang akan melepaskan ikatan kedua tangannya yang mungil itu!”

Anak buahnya tertawa-tawa senang melihat pemimpin mereka puas, dan dua orang dari mereka segera membuka daun pintu yang dipasangi rantai yang dikunci itu. Begitu daun pintu dibuka, si bopeng itu segera melangkah masuk dan menghampiri Hui Lan. Si Kong melihat ini dan seluruh urat syarafnya sudah menegang, siap untuk menerjang apa bila si bopeng itu melakukan hal yang tidak sopan terhadap Hui Lan.

Si bopeng itu telah berdiri di depan Hui Lan dan dia tertawa bergelak. “Hebat, cantik jelita, kulitnya begitu putih mulus! Ha-ha-ha!" Sesudah tertawa dan memuji kecantikan tawanan itu, kedua tangannya yang besar bergerak hendak melepaskan tali pengikat kedua tangan Hui Lan.

Si Kong yang sedang mengintai itu tiba-tiba tersenyum. Dia melihat gadis itu mengangkat muka dan melihat betapa mata gadis itu mencorong seperti mata naga. Sekilas pandang saja tahulah Si Kong bahwa dara perkasa itu hanya pura-pura, padahal sudah siap siaga sejak meloncat ke dalam sumur!

Si Kong merasa kagum bukan main. Dia sendiri tentu akan berpikir dua kali kalau harus melompat begitu saja ke dalam sumur yang gelap itu dan belum tahu apa yang akan dia hadapi di dasar sumur.

Dugaannya benar. Begitu si bopeng menjulurkan kedua tangan untuk melepaskan ikatan tangan Hui Lan, kedua tangan gadis yang tadinya terikat tiba-tiba saja sudah lepas begitu saja, kemudian sekali tangan kiri si gadis itu memukul dengan tangan terbuka miring yang mengenai dada si bopeng, pemimpin gerombolan itu terjengkang dan terbanting ke atas lantai, mengaduh-aduh dan mulutnya mengeluarkan darah!

Melihat ini belasan orang anggota gerombolan itu menjadi terkejut dan marah. Akan tetapi sebelum mereka dapat berbuat sesuatu, terdengar Hui Lan membentak dengan suaranya yang nyaring penuh wibawa.

“Kalian hanya gerombolan anjing-anjing yang pandai menggonggong! Anjing-anjing yang pandai menggonggong!”

Si Kong menahan tawanya ketika belasan orang itu tiba-tiba saja menjatuhkan diri lantas merangkak dengan kaki tangan mereka seperti kawanan anjing. Mereka menggonggong dan menyalak riuh rendah sambil merangkak ke sana sini! Ternyata segerombolan orang itu telah terpengaruh oleh sihir yang dilepas Hui Lan.

“Adik Hui Lan...!” Si Kong melompat keluar dari tempat sembunyinya.

Hui Lan amat terkejut dan cepat mengangkat muka memandang. Dengan alis berkerut dia memandang Si Kong, menyangka bahwa ada anggota gerombolan itu yang tidak terkena sihirnya. Akan tetapi ketika dia sudah melihat jelas, dia segera mengenal pemuda itu dan memandang dengan penuh keheranan.

“Engkau… kakak Si Kong! Bagaimana engkau dapat berada di sini?” Pandangan matanya tiba-tiba saja berubah penuh kecurigaan. “Apakah engkau salah satu anggota gerombolan anjing-anjing ini?”

Si Kong tersenyum dan menggeleng kepalanya.“ Bagaimana aku dapat menjadi anggota gerombolan ini? Setelah mendengar keterangan orang dusun, aku lantas menuruni sumur untuk melakukan penyelidikan. Ternyata gadis yang tadi pagi meloncat ke dalam sumur ini adalah engkau, Lan-moi. Ahh, kekhawatiranku sia-sia belaka. Kalau engkau tentu tidak membutuhkan bantuan siapa pun!”

“Nanti saja kita bicara, Kong-ko. Mari bantu aku membawa gadis-gadis ini keluar dari sini dan menyeret anjing-anjing ini keluar agar dapat dihajar oleh penduduk dusun.”

“Baik, Lan-moi. Anjing-anjing itu sebaiknya dibuat tak berdaya,” kata Si Kong dan dia lalu memasuki ruangan tahanan itu.

Berkali-kali tangannya bergerak dan setiap gerakan tentu merobohkan seorang penjahat yang sedang merangkak dan menggonggong itu. Sebentar saja belasan orang itu sudah tertotok semua, termasuk si muka bopeng yang sudah menderita luka parah oleh pukulan tangan Hui Lan tadi.

Dengan penerangan dari lampu yang dibawa oleh seorang gadis yang sudah dibebaskan, Si Kong lalu menyeret belasan orang itu ke dasar sumur.

“Engkau naiklah dulu, Lan-moi. Sesudah berada di atas, segera panggil penduduk dusun agar mereka mengangkat naik gadis-gadis ini dan juga gerombolan ini!"

“Baik, Kong-ko!” Dengan sigap dan cepat sekali Hui Lan merayap naik dengan bergantung pada tali yang tadi dipakai Si Kong untuk turun ke dalam sumur.

Pendekar Kelana Jilid 12

ENAM wanita pengawal yang setia dan patuh itu lantas berlari pergi untuk melaksanakan perintah nona majikan mereka. Gin Ciong juga sudah memanggil lima orang pembantunya dan menyuruh mereka pergi, pulang ke Pulau Beruang dan melaporkan kepada ayahnya bahwa dia bersama puteri Lam Tok hendak pergi merampas pedang pusaka Pek-lui-kiam.

Tak lama kemudian, para pembantu Cu Yin sudah tiba kembali ke tempat itu dan mereka menuntun seekor kuda berbulu coklat yang cukup kuat dan bagus.

“Sekarang kalian boleh pulang ke sungai Hung-kiang, laporkan kepada ayah bahwa aku baik-baik saja dan sedang pergi merebut pedang Pek-lui-kiam, dibantu oleh putera Tung Giam-ong.” Enam orang wanita itu tidak berani membantah dan mereka segera pergi dari situ setelah memberi hormat kepada nona majikan mereka.

“Mari kita berangkat!” kata Cu Yin sambil meloncat ke atas punggung kudanya.

Gin Ciong juga melompat ke atas kuda putihnya. “Ke mana?”

“Ke tempat di mana Pek-lui-kiam berada.”

“Di mana itu?”

“Nanti engkau juga tahu. Marilah!” Cu Yin sudah membalapkan kudanya dan terpaksa Gin Ciong juga menyuruh kudanya lari kencang.

Pemuda ini menggelengkan kepala melihat kelakuan Cu Yin yang berandalan. Akan tetapi sudah terjadi sesuatu di dalam hatinya. Dia mencinta gadis itu! Alangkah cocoknya kalau kelak gadis itu menjadi isterinya! Dan siapa tahu pedang Pek-lui-kiam yang akan menjadi perantaranya.

Jika pedang pusaka itu jatuh ke tangannya, lalu dia berikan kepada Cu Yin sebagai tanda cintanya, mustahil kalau gadis itu tidak membalas perasaan kasihnya, Juga Lam-tok tentu akan menyetujui karena dia telah berjasa membantu sehingga pedang Pek-lui-kiam dapat terjatuh ke tangan datuk selatan itu.

Kota Tung-ciu di sebelah timur kota raja adalah sebuah kota yang cukup ramai. Kota ini terkenal sebagai gudang rempah-rempah dan hasil bumi karena daerah itu memiliki tanah yang subur dan di sana mengalir sungai yang tidak pernah kering. Karena itu penduduk di Tung-ciu dan sekitarnya dapat hidup makmur.

Di antara deretan toko-toko, rumah makan dan rumah penginapan, terdapat sebuah toko rempah-rempah yang besarnya sedang saja. Pemilik toko ini adalah seorang pria berusia lima puluh satu tahun, dan isterinya yang berusia hampir lima puluh tahun. Tidak ada satu pun penduduk Tung-ciu yang tahu bahwa pemilik toko yang bernama Pek Han Siong ini sesungguhnya merupakan seseorang yang memiliki kesaktian.

Dia seorang ahli silat tingkat tinggi. Mukanya yang bulat dengan alis tebal dan mata agak sipit itu tidak menunjukkan sesuatu yang luar biasa. Akan tetapi dunia kangouw mengenal namanya sebagai seorang pendekar sakti yang pernah menggemparkan dunia persilatan. Bersama Tang Hay yang merupakan sahabat karibnya, pendekar ini pernah mengalahkan dan menewaskan banyak tokoh sesat, terutama para tokoh Pek-lian-kauw.

Pria berwatak tenang, sabar, pendiam dan halus tutur katanya ini memiliki ilmu-ilmu silat tinggi yang dahsyat. Dia memiliki ilmu Pek-sim-pang sebanyak tiga belas jurus yang sulit dilawan, mahir pula memainkan ilmu pedang Kwan-im Kiam-sut dan ilmu-ilmu silat tinggi lainnya. Dan lebih dari pada itu, dia pun ahli sihir yang kuat sekali.

Isterinya bernama Siangkoan Bi Lian. Dalam hal ilmu silat, wanita ini juga telah mencapai tingkat tinggi, sedikit lebih rendah dari pada tingkat suaminya. Dalam usianya yang empat puluh sembilan tahun itu Siangkoan Bi Lian masih nampak cantik. Pada dagunya terdapat sebuah tahi lalat yang membuat wajahnya yang cantik manis itu tampak membayangkan kekerasan hati. Ia pun ahli dalam ilmu silat Kwan Im Sin-kun dan Kim-ke Sin-kun.

Bagi para penduduk Tung-ciu, suami isteri ini merupakan suami isteri biasa saja karena Pek Han Siong serta isterinya memang tidak pernah memperlihatkan kemahiran mereka dalam ilmu silat. Mereka dianggap pedagang rempah-rempah biasa yang selalu bersikap ramah terhadap para pelanggannya.

Seperti kita ketahui, Pek Han Siong dan isterinya memiliki seorang puteri bernama Pek Bwe Hwa. Gadis yang cantik seperti ibunya ini tentu saja digembleng ayah ibunya sejak kecil sehingga setelah kini berusia delapan belas tahun, dia sudah menjadi ahli silat yang amat tangguh. Karena itu kedua orang tuanya tidak keberatan melepas puteri mereka itu pergi untuk mencari pengalaman di dunia kang-ouw. Bahkan mereka berpesan agar puteri mereka itu ikut mencari Pek-lui-kiam yang kabarnya diperebutkan para tokoh kang-ouw.

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Pek Han Siong dan isterinya telah bangun dari tidurnya. Seperti biasanya, mereka berdua berlatih silat di taman kecil di belakang rumah mereka. Tidak ada orang lain yang melihat apa bila mereka berlatih silat. Bahkan seorang pelayan wanita tua tidak mengerti kalau suami isteri itu bermain silat. Mereka hanya mengatakan bahwa mereka berolah raga senam untuk menyehatkan tubuh.

Suami isteri itu latihan bersama, kini memainkan ilmu Kwan-im Sin-kun. Gerakan mereka demikian cepat sehingga nampak seperti dua bayangan berkelebatan yang saling serang. Tiba-tiba saja keduanya berhenti dan berlompatan ke belakang, lalu memandang ke arah pagar tembok yang mengelilingi taman berikut rumah mereka.

Tadi mereka mendengar gerakan orang di pagar tembok itu. Walau pun mereka sedang latihan, namun pendengaran mereka demikian tajam sehingga mereka dapat menangkap suara gerakan orang di situ.

“Siapa di sana? Masuklah!” kata Pek Han Siong dengan suara tegas.

Tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat dan meloncati pagar tembok. Gerakan bayangan itu gesit sekali. Dengan sekali loncat saja dia sudah berada di depan suami isteri itu. Pek Han Siong dan Siangkoan Bi Lian memandang tajam penuh selidik.

Orang ini berusia kurang lebih lima puluh tahun, seorang lelaki bertubuh tinggi kurus dan berpakaian seperti pendeta agama To. Rambutnya digelung ke atas dan diikat pita putih, pakaiannya berwarna kuning dan pada punggungnya nampak gagang sebatang pedang. Wajah tosu itu sangat kurus seperti kurang makan, akan tetapi matanya yang cekung itu mengeluarkan sinar mencorong. Dari matanya saja suami isteri itu sudah bisa mengetahui bahwa mereka sedang berhadapan dengan orang berilmu tinggi.

“Siancai (damai)...! Kiranya Pek Han Siong dan puterinya Siangkoan Ci Kang sembunyi di sini. Pantas saja di kota Tung-ciu ini tak ada yang tahu bahwa kalian adalah ahli-ahli silat yang hebat!”

Pek Han Siong mengangkat kedua tangannya di depan dada. Bagaimana pun juga orang ini adalah tamunya dan seorang pendeta pula, oleh karena itu sudah sepatutnya kalau dia menghormatinya.

“Maaf, totiang. Totiang siapakah dan ada keperlauan apakah dengan kami?”

Akan tetapi Siangkoan Bi Lian tidak mau menghormatinya, malah bertanya dengan suara menegur, “Seorang pendeta mestinya mengenal kesopanan dan kehormatan. Akan tetapi engkau datang meloncati pagar lantas mengatakan kami bersembunyi. Kami sama sekali tidak bersembunyi, dan juga tidak takut menghadapi siapa pun juga termasuk engkau!”

“Tenanglah dan biar totiang ini memberi penjelasan dahulu,” kata suaminya menyabarkan hatinya. Akan tetapi Siangkoan Bi Lian masih cemberut dan memandang kepada tosu itu dengan sinar mata mengandung kemarahan.

“Aku tidak datang sendirian saja!” kata tosu itu dan dia pun bertepuk tangan.

Nampak bayangan berkelebat dan di situ telah berdiri tiga orang lain yang juga melompati pagar tembok. Tiga orang ini juga berusia sekitar lima puluh tahun. Mereka mengenakan pakaian ringkas akan tetapi memakai jubah luar yang terlampau besar sehingga nampak kedodoran. Begitu berdiri di dekat tosu pertama tadi, mereka lalu membuka jubah luarnya dan nampaklah gambar lingkaran dan sebatang teratai putih di baju bagian dada mereka.

Melihat ini Siangkoan Bi Lian berseru, “Ahh, kiranya kalian ini orang-orang Pek-lian-kauw? Pantas saja tidak mengenal aturan, datang bukan seperti tamu tapi seperti segerombolan perampok dan pencuri!”

“Siancai! Puteri Siangkoan Ci Kang masih berhati keras dan galak!”

Pek Han Siong segera melangkah maju. “Totiang, kalau kalian berempat datang dari Pek-lian-kauw, maka ada keperluan apakah kalian menemui kami?”

“Pek Han Siong! Dua puluh tahun lebih kami menunggu dengan sabar, bahkan kami telah mengasingkan diri untuk memperdalam ilmu silat. Semua itu kami lakukan demi membuat perhitungan dengan engkau dan Siangkoan Ci Kang. Akan tetapi karena kini Siangkoan Ci Kang telah meninggal dunia maka perhitungan ini diwakili oleh puterinya.”

“Majulah kalian! Kami tidak takut!” kata Siangkoan Bi Lian.

Akan tetapi suaminya cepat memegang lengannya sebagai isyarat supaya isterinya dapat menahan emosinya. “Perhitungan apakah yang kalian maksudkan? Harap jelaskan agar kami mengerti apa yang kalian maksudkan,” kata Pek Han Siong dengan sikapnya yang tenang.

Melihat ketenangan Pek Han Siong ini, empat orang tosu itu kelihatan jeri juga. Tosu yang pertama muncul tadi agaknya menjadi pemimpin dari rombongan itu. Dengan sengaja dia melantangkan suaranya untuk mengatasi rasa jerinya terhadap pendekar yang sikapnya luar biasa tenangnya itu.

Pek Han Siong termenung, mengenang peristiwa yang terjadi dua puluh enam tahun yang lalu. Ketika itu dia dan Bi Lian yang kini menjadi isterinya, bekerja sama dengan Tang Hay dan para pendekar Cin-ling-pai, menentang Pek-lian-kauw. Mereka mendapat kemenangan dan menewaskan banyak tokoh Pek-lian-kauw yang berilmu tinggi. Di antara musuh itu terdapat Ban Tok Siansu dan Hek Tok Siansu.

Memang benar Ban Tok Siansu tewas di tangan Siangkoan Ci Kang, hanya saja Hek Tok Siansu bukan tewas di tangannya melainkan tewas oleh Tang Hay. Akan tetapi dia tidak menyangkal. Bagaimana pun juga ketika itu Tang Hay bekerja sama dengan dia, berarti kedua orang Siansu yang tewas itu adalah musuhnya pula. Dia berani bertanggung jawab atas perbuatan Tang Hay yang menjadi sahabat baiknya.

Dia masih ingat benar bahwa Ban Tok Siansu dan Hek Tok Siansu adalah dua pendeta sesat yang bekerja sama dengan Pek-lian-kauw. Ilmu kepandaian mereka sangat tinggi. Kalau memang empat orang ini adalah murid-murid mereka yang selama dua puluh enam tahun memperdalam ilmu mereka, maka dapat dibayangkan betapa lihainya mereka.

Siangkoan Bi Lian kembali berkata, “Bagus! Ternyata kalian adalah murid-murid pendeta sesat itu! Jangan sampai kalian mati tanpa nama, siapa nama kalian?!”

Tosu pertama berkata sambil tersenyum mengejek. “Aku bernama Kui Hwa Cu dan tiga orang adik seperguruanku ini bernama Lian Hwa cu, Thian Hwa Cu, dan Tiat Hwa Cu.”

“Kui Hwa Cu, bagaimana caranya kalian membalas dendam dan membuat perhitungan? Apakah kalian berempat hendak main keroyokan atau satu lawan satu?” Bi Lian bertanya dengan nada suara menantang.

Dia sama sekali tidak merasa takut karena selama ini dia dan suaminya hampir setiap hari berlatih dan ketika puteri mereka belum pergi merantau setiap hari mereka berdua melatih puteri mereka. Dengan demikian mereka sudah mendapat kemajuan dibandingkan dua puluh enam tahun yang lalu,.

“Ha-ha-ha! Kedatangan kami ini bukan untuk mengadu ilmu, melainkan hendak membalas dendam dan membunuh kalian berdua. Karena itu tentu saja kami akan maju bersama!”

“Bagus! Selamanya Pek-lian-kauw memang perkumpulan penjahat berkedok perjuangan yang pengecut. Baik, jika kalian hendak mengandalkan jumlah banyak untuk mengeroyok kami, majulah!” bentak nyonya yang berhati baja itu.

Empat orang tosu itu lalu membuat gerakan dengan tangan mereka. Mula-mula mereka menggerakkan kedua tangan di udara seperti orang menuliskan huruf-huruf, kemudian Kui Hwa Cu mengambil dua potong kertas yang sudah bertuliskan huruf dan dia pun berkata dengan suara berwibawa mengandung getaran kuat, sedangkan ketiga orang kawannya berpangku tangan dengan mata ditujukan kepada Pek Han Siong dan isterinya.

“Pek Han Siong dan isteri, saat kematian kalian sudah di depan mata! Dua ekor naga ini akan membunuh kalian!”

Kui Hwa Cu melemparkan dua potong kertas itu ke udara dan Siangkoan Bi Lian segera terbelalak karena dia melihat betapa di angkasa tiba-tiba saja muncul dua ekor naga yang menyeramkan, dengan mata mencorong serta lidah-lidah api terjulur keluar dari mulut dan hidung mereka. Tahulah dia bahwa lawan menggunakan sihir yang sangat kuat, maka dia pun cepat mengerahkan sinkang untuk melawan pengaruh sihir itu.

Pek Han Siong pernah diambil murid oleh Ban Hok Lojin, seorang di antara delapan dewa, kemudian dia dilatih ilmu sihir yang amat kuat. Maka, melihat permainan Kui Hwa Cu dia tertawa dan terdengar suaranya yang penuh wibawa.

“Ha-ha-ha, Kui Hwa Cu berempat! Kalian yang membuat naga ini, maka kalian pula yang akan diterkamnya!”

Han Siong menggerakkan tangannya menunjuk ke arah empat orang tosu itu dan mereka terbelalak ketika melihat betapa dua ekor naga ciptaan ilmu sihir mereka itu kini membalik dan menyerang mereka berempat! Tentu saja mereka menjadi sangat terkejut dan cepat menyimpan sihir mereka, menarik kekuatan sihir itu sehingga dua ekor naga itu sekarang melayang turun dan menjadi dua potong kertas kembali!

Kembali Kwi Hwa Cu membentak, “Pek Han Siong, kalian hadapilah kami delapan orang! Bersiaplah kalian berdua untuk mampus!”

“Kui Hwa Cu, kalau kalian maju dengan delapan orang, kami akan maju sepuluh orang!”

Yang amat terheran-heran adalah Siangkoan Bi Lian. Mula-mula dia melihat betapa empat orang tosu itu menjadi delapan, setiap orang menjadi dua, akan tetapi sesudah suaminya bicara, dia melihat dirinya sendiri menjadi lima orang, demikian pula diri suaminya menjadi lima orang! Dia tahu bahwa semua ini hasil kekuatan sihir, akan tetapi dia tetap menjadi bingung. Dia pun tahu bahwa suaminya beradu kekuatan sihir melawan empat orang tosu itu, maka tidak ada jalan lain baginya kecuali mengerahkan tenaga sakti untuk menolak pengaruh sihir itu.

Melihat hasil serangan mereka yang dapat diungguli oleh Pek Han Siong, tahulah empat orang tosu itu bahwa mereka tidak akan mendapat keuntungan kalau mengadu kekuatan sihir. Serentak mereka kembali menurunkan tangan sambil menarik semua kekuatan sihir mereka. Han Siong juga segera menghentikan pengerahan sihirnya karena kekuatan sihir itu akan menghabiskan tenaga saktinya kalau dikeluarkan terlalu lama,.

Kui Hwa Cu dan tiga orang temannya lantas meraih ke punggung, dan kini masing-masing sudah memegang sebilah pedang. Siangkoan Bi Lian dan Pek Han Siong juga mengambil pedang dari rak senjata yang memang selalu disiapkan di tempat itu bila mereka sedang latihan silat.

Kui Hwa Cu dan rekan-rekannya sudah tahu bahwa ilmu kepandaian Pek Han Siong lebih tinggi dari isterinya, dan sebelum masuk ke sana mereka memang sudah merencanakan siapa yang menghadapi Siangkoan Bi Lian. Maka sesuai rencana, sekarang Kwi Hwa Cu dan Lian Hwa Cu menghadapi dan mengeroyok Pek Han Siong, sedangkan Thian Hwa Cu dan Tiat Hwa Cu mengeroyok Siangkoan Bi Lian.

Maka terjadilah perkelahian yang seru di dalam taman itu. Baik Pek Han Siong mau pun Siangkoan Bi Lian menggunakan pedang mereka untuk memainkan ilmu pedang Kwan-im Kiam-sut yang amat hebat. Gerakannya halus dan lemah gemulai, tapi di balik kehalusan itu terkandung tenaga yang dahsyat sekali.

Sesudah bertanding belasan jurus, Pek Han Siong mendapat kenyataan bahwa ilmu silat kedua orang pengeroyoknya amat tangguh. Ilmu pedang mereka merupakan ilmu pedang golongan sesat dari barat, dan banyak pula tokoh Pek-lian-kauw menguasai ilmu pedang itu yang sebenarnya lebih tepat kalau dimainkan dengan pedang melengkung. Dia sendiri tidak merasa berat melawan dua orang pengeroyoknya. Akan tetapi ketika mengerling ke arah isterinya dia melihat betapa isterinya terdesak oleh pengeroyokan Thian Hwa Cu dan Tiat Hwa Cu.

Selagi Bi Lian terdesak dan Han Siong mencari kesempatan untuk membantu isterinya, tiba-tiba nampak bayangan orang dan muncullah seorang gadis yang cantik jelita. Gadis ini memegang sepasang pedang yang berkilauan dan cepat membentak, “Tosu-tosu palsu dari mana berani mengacau di rumah paman Pek Han Siong?”

Karena gadis ini melihat bahwa Siangkoan Bi Lian terdesak hebat, maka dia pun terjun ke medan pertempuran dan membantu Bi Lian sehingga dua orang pengeroyok Bi Lian kini terpaksa berpisah. Thian Hwa Cu tetap bertanding melawan Bi Lian sedangkan Tiat Hwa Cu menghadapi gadis yang baru datang.

Kini Han Siong bisa bernapas lega. Kalau hanya menghadapi seorang tosu saja, dia tidak mengkhawatirkan keadaan isterinya. Dan dia pun merasa girang sekali setelah mengenal siapa gadis yang memainkan sepasang pedang itu. Gadis itu bukan lain adalah Tang Hui Lan! Siangkoan Bi Lian juga mengenal gadis itu, maka dia pun berseru,

“Hui Lan…!”

“Bibi, mari kita hajar para pendeta palsu ini!” kata Hui Lan sambil tersenyum.

Kini bangkitlah semangat Siangkoan Bi Lian. Sikap gadis itu mengingatkan dia akan Cia Kui Hong, ibu dari gadis itu yang waktu mudanya bersama dia menentang Pek-lian-kauw. Lincah, berani, dan galak!

Empat orang tosu yang menamakan diri sendiri See-thian Su-hiap (empat pendekar dunia barat) itu merasa terkejut sekali. Menurut perhitungan mereka, kalau maju berempat pasti mereka akan dapat membunuh Pek Han Siong dan isterinya. Namun siapa kira, biar pun dikeroyok dua, Pek Han Siong sama sekali tidak terdesak, dan tiba-tiba muncul gadis lihai itu yang membantu Siangkoan Bi Lian yang sudah terdesak. Dengan munculnya gadis itu terpaksa Thian Hwa cu maju sendirian menghadapi Siangkoan Bi Lian, dan Tiat Hwa Cu juga sendirian saja menghadapi gadis yang luar biasa lihainya itu!

Tingkat kepandaian Tang Hui Lan memang sudah tinggi sekali, bahkan tingkatnya masih lebih tinggi bila dibandingkan dengan Siangkoan Bi Lian. Payah Tiat Hwa Cu menandingi gadis itu dan setelah lewat dua puluh jurus, Tiat Hwa Cu hanya mampu melindungi dirinya dengan memutar pedang sambil terus mundur.

Sepasang pedang di tangan gadis itu seolah-olah sudah berubah menjadi puluhan batang banyaknya! Dan ketika dia terdesak dan sudah tersudut, sebuah tendangan kaki Hui Lan membuat dia terjengkang roboh!

Hui Lan tidak mengejar, hanya berdiri karena dia belum tahu siapa mereka dan mengapa mereka memusuhi keluarga Pek Han Siong. Apa lagi melihat betapa Pek Han Siong dan Siangkoan Bi Lian juga mulai mendesak lawan-lawannya, maka Hui Lan berdiri saja tidak membantu karena dia tahu bahwa mereka berdua tidak membutuhkan bantuannya.

Kedua orang tuanya sudah memesan agar dia tidak sembarangan saja membunuh orang. Itulah sebabnya dia diam saja ketika melihat Tiat Hwa Cu yang sudah ditendang roboh itu merangkak bangkit lalu menggunakan tangan kirinya untuk menutupi dada kanannya yang terasa nyeri bukan main akibat tendangan kaki mungil Hui Lan! Dia pun tidak berani maju lagi dan hanya menonton saudara-saudaranya yang sudah mulai terdesak.

Tiba-tiba terdengar Siangkoan Bi Lian membentak nyaring kemudian pedangnya berhasil melukai pundak kiri lawannya. Thian Hwa Cu terhuyung ke belakang dan darah mengalir dari luka di pundaknya. Siangkoan Bi Lian hendak mengejar untuk membunuhnya, namun terdengar seruan suaminya,

“Jangan bunuh dia!”

Mendengar seruan suaminya ini, Siangkoan Bi Lian tidak jadi mengejar dan dia melompat ke dekat Hui Lan. Mereka berdua kini menonton perkelahian antara Pek Han Siong yang dikeroyok dua oleh Kwi Hwa Cu dan Lian Hwa Cu

Pek Han Siong merasa lega bahwa Hui Lan dan Bi Lian sudah berhasil mengalahkan dua orang musuh. Sekarang dia dapat mencurahkan seluruh perhatiannya kepada dua orang lawannya.

“Kena...!” Dia membentak dan tiba-tiba pedangnya membuat gerakan memutar, dan tahu-tahu pedang di tangan kedua orang lawannya itu terpental lantas terlepas dari pegangan. Secepat kilat Han Siong menyapu dengan kakinya sehingga Lian Hwa Cu langsung roboh terpelanting.

Han Siong menginjakkan kaki kirinya di atas dada Lian Hwa Cu, sementara itu pedangnya menodong dada Kui Hwa Cu yang sudah tidak berpedang lagi. Injakan kaki kiri Han Siong membuat Lian Hwa Cu merasa seolah dia ditindih benda yang berat sekali, membuat dia tidak mampu berkutik. Kui Hwa Cu juga merasakan ujung pedang itu menembus bajunya dan menyentuh kulit dadanya. Kalau tangan yang menodongnya itu bergerak sedikit saja maka akan tamatlah riwayatnya. Maka dia pun tidak berani bergerak, hanya memandang dengan muka pucat.

“Hemm, sebetulnya sudah lebih dari pantas kalau kami membunuh kalian berempat. Akan tetapi kami bukan orang-orang kejam dan jahat yang suka membunuh lawan yang sudah kalah dan tidak berdaya. Kalau kalian masih merasa penasaran, pergi dan belajarlah dua puluh tahun lagi, baru kalian mencari kami. Lihatlah, siapa gadis itu? Ia adalah puteri Tang Hay yang dulu membunuh Hek Tok Siansu!”

“Kami akan membalas kekalahan ini!” kata Kui Hwa Cu yang merasa marah dan terhina.

“Bagus kalau kalian masih memiliki semangat. Nah, sekarang cepat kalian pergi dari sini!” dia melepaskan kakinya dari dada Lian Hwa Cu dan menarik pedangnya yang menodong dada Kui Hwa Cu.

Empat orang tosu itu tidak mau membuang waktu lagi. Sudah untung sekali mereka tidak dibunuh oleh musuh-musuh mereka. Mereka melompati pagar tembok dan segera lenyap.

Pek Han Siong menghela napas panjang, lalu menoleh dan memandang ke arah Hui Lan. “Bagus sekali, Hui Lan. Kedatanganmu seperti malaikat penolong!”

“Kalau tadi Hui Lan tidak segera datang membantu, aku bisa celaka di tangan dua orang kerbau itu!” kata pula Siangkoan Bi Lian sambil merangkul gadis cantik itu.

“Aih, Paman dan Bibi terlalu memuji. Tanpa adanya aku sekali pun, aku yakin paman Pek Han Siong akan dapat mengusir mereka. Akan tetapi aku merasa heran sekali mengapa enci Bwe Hwa tidak muncul membantu paman dan bibi?”

“Bwe Hwa sedang pergi. Marilah kita masuk ke dalam rumah agar kita dapat lebih leluasa bercakap-cakap.” Siangkoan Bi Lian menggandeng tangan Hui Lan, lantas mereka bertiga masuk ke dalam rumah.

Para penjaga toko rempah-rempah milik pasangan suami isteri itu sudah berdatangan dan toko itu mulai dibuka. Akan tetapi Pek Han Siong dan isterinya tidak keluar karena sedang asyik bercakap-cakap dengan Hui Lan.

“Bagaimana kabar tentang ayah dan ibumu? Dan bagaimana tentang Cin-ling-pai?” tanya Pek Han Siong.

“Kami semua baik-baik saja, Paman. Ayah dan ibu memang sudah berpesan agar dalam perantauanku memperluas pengalaman, aku singgah di sini untuk menyampaikan salam mereka kepada Paman dan Bibi.”

“Kami girang sekali engkau datang ke sini, Hui Lan. Hanya sayang Bwe Hwa juga sedang merantau seperti engkau. Kalau dia ada di sini, tentu dia akan merantau bersamamu dan itu akan lebih menggembirakan lagi.”

”Paman, siapakah empat orang tosu tadi? Mengapa mereka memusuhi Paman dan Bibi?”

“Kami juga baru tadi mengenal mereka. Pagi tadi tiba-tiba mereka muncul dan menantang kami. Mereka hendak membalaskan kematian guru-guru mereka, yaitu mendiang Ban-tok Siansu dan Hek-tok Siansu. Ban-tok Siansu tewas di tangan ayah mertuaku Siangkoan Ci Kang dan Hek-tok Siansu tewas di tangan ayahmu. Tapi kami berdua juga musuh-musuh mereka karena dahulu kami bekerja sama dengan ayahmu menentang Pek-lian-kauw.”

“Jadi mereka tadi adalah tokoh-tokoh Pek-lian-kauw?” tanya Hui Lan.

“Benar dan mereka itu murid-murid mendiang Ban-tok Siansu dan Hek-tok Siansu,” jawab Siangkoan Bi Lian.

“Nama mereka Kui Hwa Cu, Lian Hwa Cu, Thian Hwa Cu, dan Tiat Hwa Cu dan mereka memakai julukan See-thian Su-hiap!” sambung Pek Han Siong. “Berhati-hatilah engkau apa bila bertemu mereka, Hui Lan. Mereka adalah orang-orang licik yang tidak malu maju bersama untuk mengeroyok musuh.”

“Aku akan berhati-hati, Paman.”

“Hui Lan, bagaimana engkau tadi dapat mengetahui bahwa kami sedang berkelahi lantas datang membantu?”

“Aku datang berkunjung pagi-pagi, Bibi. Akan tetapi pintu depan masih ditutup dan tidak nampak seorang pun di luar. Aku lalu masuk ke pekarangan dan dari situ aku mendengar beradunya senjata dari taman di belakang rumah ini. Karena tertarik aku lalu melompat ke pagar tembok dan melihat Paman dan Bibi dikeroyok, maka aku segera melompat masuk dan membantu Bibi.”

Pek Han Siong menghela napas panjang. “Sungguh menyebalkan sekali. Bertahun-tahun kami tinggal di sini tanpa ada yang tahu bahwa kami adalah keluarga yang dapat bermain silat. Ternyata hari ini kami didatangi musuh-musuh yang hendak membalas dendam.”

“Kenapa harus menyesal? Dulu kita selalu membasmi golongan sesat di dunia kangouw, dan kita melakukan hal itu dengan penuh pertanggungan jawab. Jika ada golongan sesat yang mendendam kepada kita, kita tidak perlu menyesal melainkan menghadapi mereka dengan gagah.”

“Engkau benar, tetapi alangkah indahnya kehidupan kita selama ini. Jauh dari kekerasan, jauh dari perkelahian dan permusuhan.”

“Karena kita sudah mulai tua memang sebaiknya kalau kita mengundurkan diri lalu hidup dalam ketenangan dan kedamaian. Tapi orang-orang muda harus tetap melanjutkan sikap kami membasmi golongan sesat, karena kalau tidak diimbangi oleh para pendekar, tentu golongan sesat akan semakin merajalela dan menyusahkan rakyat jelata. Itulah pula yang menyebabkan kita memberi kesempatan kepada Bwe Hwa untuk merantau dan bertindak sebagai pendekar, menegakkan kebenaran dan keadilan, menumpas para penindas yang mengandalkan kekuatan mereka serta membela yang tertindas dan lemah.” Siangkoan Bi Lian berkata penuh semangat, dua matanya mencorong dan cuping hidungnya kembang kempis. Hui Lan memandang kagum dan teringat kepada ibunya. Ada persamaan antara Siangkoan Bi Lian dan ibunya, sama-sama keras hati dan pemberani!

“Paman dan Bibi, selain hendak menjenguk karena merasa rindu, kedatanganku ini juga membawa sebuah berita yang tak menyenangkan. Ketahuilah bahwa dua bulan yang lalu kakek buyut Ceng Thian Sin di pulau Teratai Merah telah meninggal dunia.”

Pek Han Siong langsung bangkit dari tempat duduknya dengan kaget. “Meninggal? Kakek Ceng Thian Sin yang sakti itu dapat meninggal dunia?”

Isterinya mencela. “Aihhh, engkau ini bagaimana sih? Setiap manusia, betapa pandai dan saktinya, tetap saja akan mati satu demi satu. Apakah anehnya kalau kakek Ceng Thian Sin meninggal dunia? Usianya tentu sudah ada seratus tahun.”

“Bibi benar, kakek buyut meninggal dunia dalam usia seratus tahun lebih. Hanya ada satu hal yang mengganggu hatiku mengenai kematian kakek buyut.”

Pek Han Siong sudah duduk kembali dan kini memandang gadis itu dengan alis berkerut, “Apa yang mengganggu hatimu, Hui Lan?”

“Kakek buyut meninggal dunia setelah dia bertanding, dikeroyok tujuh orang lawan. Beliau berhasil mengusir tujuh orang lawan itu, akan tetapi agaknya beliau sudah terlalu banyak mengeluarkan tenaga sehingga tubuhnya yang sudah tua sekali itu tidak kuat menahan, dan akhirnya beliau tewas karenanya.”

Pek Han Siong mengangguk-angguk. “Tidak aneh kalau kakek Ceng dicari serta dimusuhi orang dalam usia setua itu, karena di waktu mudanya dia membasmi banyak sekali tokoh kangouw yang jahat. Siapakah tujuh orang itu, Hui Lan?”

“Mereka itu adalah datuk sesat yang berjuluk Toa Ok, Ji Ok, dan Bu-tek Ngo-sian,” jawab Hui Lan sambil menggenggam jari-jari tangannya, mengepal kedua tinjunya.

Melihat ini, Siangkoan Bi Lian bertanya, “Jadi engkau merantau ini adalah untuk mencari tujuh orang itu dan membalas kematian kakek buyutmu?”

“Tidak, Bibi. Akan tetapi kalau aku sampai bertemu dengan mereka dalam perantauanku, tentu mereka itu akan kuserang.”

“Hemmm, Hui Lan, apakah engkau hendak membalaskan dendam kematian kakek Ceng Thian Sin?” tanya Pek Han Siong sambil memandang tajam wajah gadis itu.

Hui Lan menggeleng kepalanya. “Tidak, Paman. Ayah dan ibu telah menasehati aku agar jangan menyambung rantai balas membalas dan dendam mendendam ini. Akan tetapi jika aku bertemu mereka dan mereka melakukan kejahatan, tentu mereka akan kutentang!”

Pek Han Siong mengangguk. “Ayah ibumu bijaksana, Hui Lan. Dendam itu menimbulakn kebencian dan kemarahan, membuat orang ingin sekali membalas. Tujuh orang datuk itu mendatangi kakek Ceng di Pulau Teratai merah juga untuk membalas dendam. Memang tidak benar kalau kita mengikat diri dengan dendam. Akan tetapi kalau engkau menentang seseorang karena dia melakukan kejahatan dan bukan karena engkau mendendam, tentu saja tindakanmu itu benar.”

“Akan tetapi betapa pun juga engkau harus berhati-hati sekali kalau bertemu mereka, Hui Lan,” kata Siangkoan Bi Lian. “Nama tujuh orang itu sudah sangat terkenal sebagai datuk sesat, apa lagi Toa Ok dan Ji Ok itu. Sudah lama aku mendengar namanya dan mereka adalah datuk besar yang mewakili daerah barat.”

“Terima kasih, Bibi. Tentu saja aku tidak akan bertindak sembrono dan lancang. Aku pun cukup mengerti bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi dan licik sehingga mereka tidak akan malu mengeroyok lawan seperti yang mereka lakukan terhadap kakek buyut.”

Suami isteri itu kemudian bertanya banyak sekali tentang orang tua Hui Lan. Gadis ini pun menceritakan semua yang diketahuinya karena dia maklum betapa erat hubungan antara ayahnya dan Pek Han Siong. Dalam percakapan mereka, Hui Lan menyinggung tentang pedang Pek-lui-kiam.

“Ah, kiranya engkau mengetahui juga tentang pedang yang menghebohkan seluruh dunia kangouw itu? Kalau aku masih muda seperti dahulu, tentu aku juga tidak mau ketinggalan memperebutkannya!” kata Siangkoan Bi Lian.

“Hui Lan, apakah engkau juga hendak mencari dan memperebutkan Pek-lui-kiam?” tanya Pek Han Siong.

“Memang aku merasa tertarik sekali, Paman. Kabarnya pedang pusaka itu tadinya berada di tangan seorang pendekar besar bernama Tan Tiong Bu, akan tetapi pendekar ini telah terbunuh lantas pedang pusaka itu lenyap. Menurut kabar angin, pembunuh itu tentu telah mencuri pedang Pek-lui-kiam.”

“Tahukah engkau siapa pembunuh dan pencuri pedang itu?”

“Menurut kabar yang kuperoleh dalam perjalananku, pembunuh itu adalah seorang kakek berjubah merah. Kalau tidak salah, pembunuh itu adalah Ang I Sianjin, ketua Kwi-jiauw-pang yang bersarang di Kwi-liong-san.”

“Hui Lan, mungkin Bwe Hwa juga mencari pedang itu. Tetapi pedang itu asalnya bukan milik kita, maka sungguh tidak benar kalau kita mencoba untuk merampasnya. Kalau kita berhasil, berarti kita memiliki barang yang bukan milik kita, melainkan milik Tan Tiong Bu itu.”

“Paman benar. Aku hendak ke Kwi-liong-san hanya untuk menyelidiki. Jika benar pedang pusaka itu jatuh ke tangan orang jahat, hal itu harus dicegah. Kabarnya pedang pusaka itu adalah pusaka yang ampuh, maka kalau terjatuh ke tangan penjahat tentu dia menjadi seperti harimau tumbuh sayap, kejahatannya akan semakin menjadi-jadi. Sebaliknya aku pun tak akan mengganggu kalau pedang pusaka itu terjatuh ke tangan seorang pendekar yang menggunakannya untuk membasmi para penjahat,.”

“Engkau benar, Hui Lan. Kalau memang engkau hendak menyelidiki ke Kwi-liong-san, aku hanya berpesan padamu. Apa bila engkau bertemu dengan Bwe Hwa, ajaklah dia bekerja sama seperti ayahmu bekerja sama dengan aku dahulu. Dengan bersatu kalian berdua akan menjadi lebih kuat, dari pada kalau bekerja sendiri-sendiri.”

“Baik, Paman, akan aku perhatikan pesan Paman itu.”

Hui Lan tinggal selama tiga hari di rumah Pek Han Siong. Pada hari ke empat, pagi-pagi dia berpamit kemudian meninggalkan kota Tung-ciu, menuju ke selatan untuk berkunjung ke Kwi-liong-san (Gunung Naga Iblis).

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Si Kong melakukan perjalanan seenaknya. Dia tidak tergesa-gesa pergi ke Kwi-liong-san sebab dia memang sedang berkelana, menikmati semua keindahan alam yang terbentang di depannya. Pada suatu siang tibalah dia di sebuah dusun. Dia melihat betapa penduduk dusun berada dalam keadaan amat sibuk. Orang-orang berkeliaran ke sana-sini berunding berkelompok-kelompok.

Ketika mereka melihat dia memasuki dusun, banyak orang mengikutinya dengan pandang mata penuh kecurigaan. Yang sangat aneh baginya, dia tidak melihat seorang pun wanita muda. Yang ada hanya wanita-wanita tua dan anak-anak. Selebihnya, semua penduduk itu laki-laki! Wajah mereka jelas sekali nampak resah dan khawatir.

Si Kong melihat sebuah kedai minuman di sudut dusun, dan di tempat ini pun banyak pria sedang berkumpul dan bicara ramai. Akan tetapi ketika dia memasuki kedai minuman itu, percakapan mereka berhenti tiba-tiba dan seorang demi seorang meninggalkan kedai itu.

Si Kong mendapatkan dirinya hanya seorang diri saja di kedai itu, dengan seorang kakek penjaga kedai yang nampak ketakutan dan beberapa kali mencuri pandang ke arahnya. Si Kong menjadi tidak sabar lagi.

“Paman, aku minta secangkir teh dan bakpau,” katanya kepada penjaga kedai.

Kakek itu tergopoh-gopoh menyediakan pesanannya, lalu membawanya kepada Si Kong. Sesudah menaruh makanan dan minuman di atas meja, dengan tergesa-gesa kakek itu hendak pergi lagi.

“Nanti dulu, paman. Aku ingin bertanya kepadamu.”

“Bertanya apa, kongcu? Aku tidak tahu apa-apa.” Tiba-tiba wajah kakek itu menjadi pucat dan kedua tangannya diangkat seolah takut kalau dipukul.

Tentu saja Si Kong menjadi semakin heran lagi. “Paman, aku tidak apa-apa, jangan takut. Duduklah, paman, duduklah dengan tenang dan jangan takut kepadaku. Bahkan jika ada bahaya mengancam dirimu, akulah yang akan menghadapinya dan menolongmu!”

“Tidak..., tidak...! Jangan tanyakan apa-apa kepadaku. Aku tidak tahu, tidak mengerti… ahh, kasihanilah diriku yang sudah tua…”

Si Kong mengerutkan sepasang alisnya. Tahulah dia bahwa kakek ini takut akan sesuatu, seperti semua orang dusun yang berada dalam keadaan panik dan ketakutan. Akan amat sukarlah membujuk kakek yang sudah ketakutan seperti itu. Jalan satu-satunya hanyalah membuat kakek itu takut kepadanya agar mau mengatakan apa yang terjadi di dusun ini.

Si Kong melepaskan capingnya yang lebar dan meletakkannya di atas meja. Kemudian dengan tiba-tiba dia menyambar lengan kakek itu dan membuat mukanya nampak bengis, sepasang matanya melotot.

“Engkau ingin hidup atau ingin kugantung sampai mati! Hayo cepat jawab atau aku akan menghancurkan semua tulangmu dan mengupas semua kulitmu!”

Wajah itu menjadi semakin pucat dan tubuhnya menggigil. Kakek itu segera menjatuhkan diri berlutut di depan Si Kong. Suaranya hampir tidak terdengar, karena dia bicara dengan tubuh menggigil dan lidah terasa kelu.

“Ampunkan saya, kongcu, ampuuun…”

“Hemm, aku baru mau mengampunimu kalau engkau mau menjawab pertanyaanku. Nah, katakan apa yang sudah terjadi di dusun ini maka semua orang kelihatan ketakutan dan aku tidak melihat seorang pun wanita muda di sini. Apa yang telah terjadi? Jawab dengan sejelasnya!” kata Si Kong dengan girang karena gertakannya berhasil.

“Ada... ada mala petaka melanda dusun kami…”

“Hayo jawab yang jelas. Mala petaka apakah itu?”

“Aku… takut menjawabnya, kongcu.”

“Takut apa?”

“Kalau saya banyak bicara, tentu saya akan dibunuh…”

“Dan kalau engkau tidak mau menjawab, engkau bukan saja akan kubunuh, bahkan akan kusiksa lebih dulu. Sebaliknya aku akan melindungimu dari bahaya apa pun kalau engkau suka menerangkan kepadaku!”

Mendengar ucapan Si Kong ini, kakek penjaga kedai itu terlihat agak lega. “Kongcu, mala petaka itu bukan hanya menimpa dusun ini saja, akan tetapi juga di semua dusun sekitar Bukit Monyet di sana itu. Iblis penjaga Bukit Kera itu minta supaya wanita-wanita muda, terutama yang cantik, dikorbankan kepadanya. Wanita itu harus dilempar ke dalam sumur tua. Entah sudah berapa banyak wanita menjadi korban dilempar ke dalam sumur tua...”

“Mengapa kalian mau melakukan itu?”

“Kami dipaksa, kongcu. Di dusun selatan ada yang tidak menurut. Tetapi akibatnya, pada malam harinya kepala dusun dan tujuh orang lainnya dibunuh tanpa ada yang tahu siapa pembunuhnya, dan dalam satu malam saja tiga orang gadis telah lenyap tanpa ada yang tahu ke mana perginya.”

“Hemm... aneh sekali kalau ada iblis minta korban wanita muda yang cantik. Jadi karena itu maka semua wanita muda mengungsi keluar dari dusun ini dan semua orang nampak ketakutan?”

“Benar, kongcu. Kami merasa khawatir kalau-kalau iblis itu akan datang pada malam hari kemudian membunuh kami. Akan tetapi tadi pagi ada kejadian sangat aneh. Kami semua sudah kebingungan ketika malam tadi mendengar suara iblis itu yang suaranya bergema minta agar hari ini disediakan korban seorang gadis, sebab semua gadis telah pergi, yang ada hanya kanak-kanak dan nenek-nenek. Lalu pagi tadi datang seorang gadis cantik dan gadis itu menawarkan dirinya untuk menjadi korban dan dilempar ke dalam sumur tua.”

“Ahh, siapakah gadis itu?”

“Tidak ada seorang pun yang mengenalnya, akan tetapi dia membawa pedang. Agaknya dia seorang pendekar wanita yang sengaja hendak menantang iblis penjaga gunung Kera itu, kongcu.”

“Hemm, dan dia sudah dilempar ke dalam sumur tua?”

“Sudah, tetapi bukan dilempar melainkan dia meloncat ke dalam sumur tua itu kemudian lenyap. Karena itu kami ketakutan, takut kalau-kalau iblis itu akan mengamuk karena ada gadis dari dusun kami yang hendak menentangnya. Ahh, kami sudah memberi peringatan kepada gadis itu, akan tetapi dia memaksa dan kami tidak dapat menghalanginya.”

Si Kong mengerutkan alisnya. Dia dapat menduga bahwa yang berani berbuat demikian tentulah seorang pendekar wanita. Dia merasa kagum akan tetapi juga khawatir. Dia tidak percaya ada iblis penjaga gunung yang menuntut agar dikorbankan gadis-gadis cantik. Ini tentu ulah orang-orang jahat. Mungkin penjahat itu lihai sekali sehingga tidak ada orang di dusun itu yang pernah melihatnya biar pun iblis itu membunuhi banyak orang pada waktu malam. Dia khawatir kalau-kalau gadis itu akan mengalami celaka di dalam sumur tua.

“Paman, hayo antar aku ke sumur tua itu!” kata Si Kong.

Wajah kakek itu menjadi bertambah pucat dan seluruh tubuhnya menggigil seolah dirinya diserang demam parah. “Saya... saya... tidak berani, kongcu.”

“Hayolah, ada aku jangan takut. Atau aku harus menggunakan kekerasan seperti ini?” Si Kong mengambil sebuah cangkir dan meremasnya dengan tangan kiri. Cangkir itu hancur berkeping-keping sehingga kakek itu semakin takut.

“Nah, mau antar aku ke sumur tua itu atau kau memilih kuhancurkan tulang-tulangmu?” Si Kong menggertak.

“Baik… baik, kongcu… saya akan menutup kedai ini dulu…”

Kakek itu sangat ketakutan dan bergegas menutup kedainya, kemudian bersama Si Kong dia meninggalkan dusun. Beberapa orang laki-laki menjadi tertarik ketika melihat pemilik kedai berjalan bersama seorang pemuda asing.

“Paman Kiu, hendak ke mana engkau?” beberapa orang bertanya.

Kakek itu sengaja menjawab dengan suara keras agar terdengar banyak orang. Dia ingin mencari teman dalam keadaan terancam dan terpaksa itu. “Aku… aku mengantar kongcu ini ke sumur tua!”

Semua orang terkejut dan cepat menyingkir, akan tetapi masih ada tujuh orang pemuda yang mengikuti dari belakang. Si Kong membiarkan saja mereka mengikuti, dan kakek itu kelihatan lega karena kini dia mempunyai kawan yang mengantar pemuda itu ke sumur tua yang mereka takuti.

Kini mereka mendaki lereng bukti Kera menuju ke puncaknya. Matahari telah naik tinggi, sinarnya panas membakar sehingga kakek itu bersimbah keringat. Kadang dia mengusap muka dan lehernya dengan ujung lengan bajunya.

“Masih jauhkah, paman?” Si Kong bertanya.

“Sudah dekat. Itu puncaknya telah nampak dari sini. Sumur tua itu berada di puncak bukit ini.”

Mereka melewati sebuah hutan kecil dan melihat banyak sekali kera di hutan itu. Maka mengertilah Si Kong mengapa bukit itu disebut Bukit Kera, kiranya memang banyak kera yang hidup di bukit ini.

Tak lama kemudian tibalah mereka di puncak. Dengan tubuh gemetar kakek itu mengajak Si Kong menghampiri sebuah sumur tua. Tujuh orang pemuda sudah berhenti di tempat yang agak jauh sambil memandang dengan hati tegang dan kaki siap untuk melarikan diri!

"Inilah sumurnya, kongcu..."

Si Kong melihat betapa sinar matahari yang berada di atas menyinari sumur. Dia segera menghampiri dan nenjenguk ke dalam sumur. Akan tetapi kelihatannya gelap menghitam. Sinar matahari hanya sampai di bagian luar dan atas sumur itu saja. Sumur itu lebar, ada dua meter lebarnya, makin ke bawah makin mengecil.

"Nona berpedang itu melompat ke dalam sumur ini?" tanya Si Kong kepada kakek itu.

Kakek itu hanya mengangguk saja, tak berani mengeluarkan suara, agaknya dengan hati was-was dia menunggu munculnya munculnya iblis itu dari dalam sumur. Kedua kakinya yang gemetar juga sudah siap melarikan diri. Si Kong menoleh dan melihat tujuh orang pemuda dusun masih berdiri di sana.

"Heii, sobat-sobat! Aku hendak menyelidik ke dalam sumur. Maukah kalian membawakan segulung tali yang kuat? Kalau ada, makin panjang semakin baik!" Tujuh orang itu saling pandang, lalu mereka mengangguk dan larilah mereka dari puncak itu.

Si Kong memeriksa keadaan sekitar sumur. Tidak ada sesuatu yang aneh. Puncak itu tak berapa lebar, hanya kurang lebih sepuluh meter lebarnya, menjulang hingga ke atas. Dia mengambil sepotong batu sebesar kepalan tangannya dan menjatuhkan batu itu ke dalam sumur.

Dia menunggu sambil mendengarkan dengan penuh perhatian. Tidak ada suara apa-apa yang datang dari bawah sana, seolah-olah sumur itu tidak berdasar! Kalau dasarnya air tentu akan terdengar suara batu yang jatuh ke dalamnya, dan kalau dasarnya tanah juga akan terdengar oleh pendengarannya yang terlatih.

Si Kong mengerutkan alisnya. Sungguh aneh sekali, pikirnya. Benarkah lubang sumur itu tidak berdasar atau dasarnya begitu dalam sehingga suara batu yang dia jatuhkan tidak bisa terdengar dari atas? Kalau dalamnya seperti itu, gadis pendekar itu tentu mengalami kecelakaan.

Tiba-tiba saja telinganya menangkap suara yang hanya sayup-sayup terdengar olehnya. Seperti suara orang yang berkata-kata, seperti bisikan halus. Dia merasa heran dan bulu tengkuknya meremang juga.

Dia belum pernah melihat setan, akan tetapi pernah mendengar orang bercerita tentang setan yang seram-seram. Ketika mendengar suara bisik-bisik itu, jantungnya berdebar kemudian terbayanglah dalam ingatannya perihal setan seperti yang pernah didengarnya. Ahh, mustahil! Demikian dia mencela diri sendiri. Mana mungkin ada setan di tempat ini!

Tujuh orang pemuda itu berlarian mendaki puncak lalu mereka menyerahkan segulung tali yang panjang kepada Si Kong. Si Kong mengikatkan ujung tali pada batang pohon yang tumbuh di situ dan melemparkan gulungan tali itu ke dalam sumur. Lingkaran gulungan tali itu terbuka.

“Terima kasih atas bantuan kalian. Sekarang aku hendak turun ke dalam sumur ini.”

Sesudah Si Kong menuruni sumur dengan tali itu, tujuh orang pemuda dan kakek pemilik kedai itu tidak dapat menahan lagi rasa takut mereka. Mereka cepat meninggalkan sumur dan mengintai dari jarak jauh dengan hati tegang dan jantung berdebar.

Si Kong meninggalkan caping lebarnya di bibir sumur, akan tetapi dia membawa bambu pikulannya dan buntalan pakaiannya yang diikatkan di punggung. Tali itu ternyata panjang sekali dan setelah melewati batas antara bagian sumur yang mendapat cahaya matahari dengan yang gelap, dia menuruni tali itu dengan hati-hati.

Tidak lama kemudian tibalah dia di dasar sumur dan dia tersenyum sendiri ketika kakinya menyentuh sebuah jala. Ternyata ada sehelai jala dipasang di situ. Pantas batunya tidak mengeluarkan suara karena menimpa jala yang kuat dan lunak. Begitu dia menginjak jala itu, terdengar suara berkelinting di arah kiri. Dia meraba-raba ke bagian kiri dan mendapat kenyataan bahwa dinding sumur di bagian kiri itu kosong berlubang! Kalau begitu sumur itu bagian dasarnya mempunyai sebuah terowongan!

Suara berkelinting tadi segera disusul dengan suara orang bercakap-cakap dan tak lama kemudian nampak cahaya api di terowongan. Empat orang laki-laki datang dan seorang di antara mereka memegang sebuah lampu gantung yang cahayanya cukup terang.

Dalam penerangan cahaya lampu itu nampaklah oleh Si Kong bahwa terowongan itu garis tengahnya kurang lebih dua meter. Juga di pinggang empat orang itu nampak ada golok bergantung dan mereka membawa tali seakan hendak mengikat korban yang terjatuh ke dalam jala mereka. Tentu dia dikira seorang gadis manis yang menjadi korban disuguhkan kepada iblis penjaga sumur.

Tepat seperti dugaannya! Bukan iblis yang menuntut dikorbankannya dara-dara muda dan cantik, tapi segerombolan orang-orang jahat yang menipu penduduk dusun yang percaya akan takhyul!

Hati Si Kong menjadi panas bukan main. Entah sudah berapa banyak gadis dusun yang menjadi korban-korban iblis-iblis itu. Dia menyembunyikan mukanya di bawah lengan agar dari jauh mereka tak dapat melihat bahwa dia seorang pria. Setelah mereka menghampiri, dia mendengar dengan jelas kata-kata mereka.

“Wah, sudah datang lagi gadis manis untuk kita!”

“Engkau sudah mendapat bagian, aku yang belum.”

“Yang ini untukku, akan kuminta kepada Twako!”

Ketika mereka sudah tiba dekat, dalam jarak sekitar dua meter, Si Kong melompat keluar dari dalam jala sambil tangannya bergerak menotok tiga kali dan tiga orang itu roboh tak bisa berkutik lagi. Dia lalu mencengkeram pundak orang ke empat yang membawa lampu sehingga orang itu menyeringai karena pundaknya seperti dicengkeram jepitan baja saja.

“Jangan berteriak atau bergerak kalau tidak ingin mati!” Si Kong berbisik, dan dari pundak yang gemetaran itu tahulah Si Kong bahwa orang ini amat ketakutan.

“Hayo katakan berapa banyak kawan-kawanmu?”

Agaknya orang ketakutan itu hendak menggertak, maka dia segera menjawab, “Ada lima belas orang dan langsung dipimpin oleh Twako (Kakak Tertua) yang sangat lihai. Engkau berani masuk ke sini, berarti engkau akan mati tersiksa.”

Si Kong memperkuat cengkeraman tangannya hingga orang itu mengaduh-aduh. “Aduh… ampunkan saya…” dia meratap.

“Di mana gadis-gadis korban itu?”

“Di ruangan sana, dikumpulkan menjadi satu. Kalau ada yang dibutuhkan baru diambil dan dibawa...”

“Antarkan aku ke sana!”

Dia melepaskan cengkeramannya, lantas mendorong orang yang membawa lampu itu ke depan. Orang itu tadinya hendak lari, akan tetapi sesudah merasakan lagi cengkeraman pada pundaknya, dia pun maklum bahwa dia sudah tidak berdaya.

“Baik, akan kuantarkan. Akan tetapi lepaskan dulu pundakku... aduhh, sakit...!”

Si Kong mengendurkan cengkeramannya, lalu mendorong orang itu yang melangkah maju dengan terhuyung-huyung. Sesudah berjalan sejauh kurang lebih seratus meter dan jalan itu membelok ke kanan, nampak ruangan yang mendapatkan cahaya matahari. Orang itu menggantungkan lampu di tempat gantungan yang tersedia.

Si Kong lalu memperhatikan sekelilingnya. Agaknya terowongan itu sengaja dibuat orang. Bagian itu merupakan dasar sebuah sumur yang tidak begitu dalam, maka mendapatkan sinar matahari dari atas. Orang itu melangkah terus, sementara jalan mulai mendaki naik.

Orang itu berhenti di depan sebuah ruangan yang memakai jeruji besi pada pintunya. Si Kong melihat belasan orang gadis berada dalam ruangan itu, ada yang sedang menangis dan ada yang memandang kosong dan putus asa. Dia tertarik kepada seorang gadis yang dua tangannya diikat pada gelang-gelang yang tertanam di dinding itu. Dia terkejut sekali sesudah mendapat kenyataan bahwa gadis itu adalah Hui Lan, Tang Hui Lan! Akan tetapi gadis itu tidak melihatnya, melainkan menundukkan muka dengan sikap tenang sekali.

Dari depan terdengar suara orang. Si Kong cepat menotok tawanannya dan menyeretnya ke tempat gelap, lantas dia mengintai. Belasan orang mendatangi tempat itu, mengiringi seorang laki-laki tinggi besar yang mukanya penuh bekas penyakit cacar. Akan tetapi laki-laki bopeng (cacat mukanya) ini mempunyai mata yang mencorong penuh kekejaman dan agaknya dia menjadi kepala mereka semua karena belasan orang itu nampak tunduk dan hormat kepadanya.

“Sekali ini kami bersumpah, twako. Twako tentu akan senang sekali mendapatkan yang ini. Dia luar biasa cantik jelitanya, tidak seperti perawan-perawan gunung yang sederhana itu. Kami menemukan dia dalam keadaan pingsan di dalam jala. Melihat dia membawa pedang, kami lalu merampas pedang dan mengikat kedua tangannya pada gelang baja. Nah, itu dia, twako, agaknya sudah sadar. Aduh, cantiknya seperti puteri kaisar saja!”

Si tinggi besar muka bopeng itu hanya menggumam, akan tetapi setibanya di depan pintu berjeruji, dia berhenti kemudian dengan bengong memandang ke arah gadis yang diikat itu. Ternyata anak buahnya tidak berlebihan dalam keterangannya. Seorang gadis yang benar-benar luar biasa!

“Ha-ha, dia cantik dan membawa pedang? Berarti sedikit banyak tentu dia pandai bersilat. Dia pantas menjadi sisihanku, menjadi isteriku! Bukakan daun pintu ini! Aku sendiri yang akan melepaskan ikatan kedua tangannya yang mungil itu!”

Anak buahnya tertawa-tawa senang melihat pemimpin mereka puas, dan dua orang dari mereka segera membuka daun pintu yang dipasangi rantai yang dikunci itu. Begitu daun pintu dibuka, si bopeng itu segera melangkah masuk dan menghampiri Hui Lan. Si Kong melihat ini dan seluruh urat syarafnya sudah menegang, siap untuk menerjang apa bila si bopeng itu melakukan hal yang tidak sopan terhadap Hui Lan.

Si bopeng itu telah berdiri di depan Hui Lan dan dia tertawa bergelak. “Hebat, cantik jelita, kulitnya begitu putih mulus! Ha-ha-ha!" Sesudah tertawa dan memuji kecantikan tawanan itu, kedua tangannya yang besar bergerak hendak melepaskan tali pengikat kedua tangan Hui Lan.

Si Kong yang sedang mengintai itu tiba-tiba tersenyum. Dia melihat gadis itu mengangkat muka dan melihat betapa mata gadis itu mencorong seperti mata naga. Sekilas pandang saja tahulah Si Kong bahwa dara perkasa itu hanya pura-pura, padahal sudah siap siaga sejak meloncat ke dalam sumur!

Si Kong merasa kagum bukan main. Dia sendiri tentu akan berpikir dua kali kalau harus melompat begitu saja ke dalam sumur yang gelap itu dan belum tahu apa yang akan dia hadapi di dasar sumur.

Dugaannya benar. Begitu si bopeng menjulurkan kedua tangan untuk melepaskan ikatan tangan Hui Lan, kedua tangan gadis yang tadinya terikat tiba-tiba saja sudah lepas begitu saja, kemudian sekali tangan kiri si gadis itu memukul dengan tangan terbuka miring yang mengenai dada si bopeng, pemimpin gerombolan itu terjengkang dan terbanting ke atas lantai, mengaduh-aduh dan mulutnya mengeluarkan darah!

Melihat ini belasan orang anggota gerombolan itu menjadi terkejut dan marah. Akan tetapi sebelum mereka dapat berbuat sesuatu, terdengar Hui Lan membentak dengan suaranya yang nyaring penuh wibawa.

“Kalian hanya gerombolan anjing-anjing yang pandai menggonggong! Anjing-anjing yang pandai menggonggong!”

Si Kong menahan tawanya ketika belasan orang itu tiba-tiba saja menjatuhkan diri lantas merangkak dengan kaki tangan mereka seperti kawanan anjing. Mereka menggonggong dan menyalak riuh rendah sambil merangkak ke sana sini! Ternyata segerombolan orang itu telah terpengaruh oleh sihir yang dilepas Hui Lan.

“Adik Hui Lan...!” Si Kong melompat keluar dari tempat sembunyinya.

Hui Lan amat terkejut dan cepat mengangkat muka memandang. Dengan alis berkerut dia memandang Si Kong, menyangka bahwa ada anggota gerombolan itu yang tidak terkena sihirnya. Akan tetapi ketika dia sudah melihat jelas, dia segera mengenal pemuda itu dan memandang dengan penuh keheranan.

“Engkau… kakak Si Kong! Bagaimana engkau dapat berada di sini?” Pandangan matanya tiba-tiba saja berubah penuh kecurigaan. “Apakah engkau salah satu anggota gerombolan anjing-anjing ini?”

Si Kong tersenyum dan menggeleng kepalanya.“ Bagaimana aku dapat menjadi anggota gerombolan ini? Setelah mendengar keterangan orang dusun, aku lantas menuruni sumur untuk melakukan penyelidikan. Ternyata gadis yang tadi pagi meloncat ke dalam sumur ini adalah engkau, Lan-moi. Ahh, kekhawatiranku sia-sia belaka. Kalau engkau tentu tidak membutuhkan bantuan siapa pun!”

“Nanti saja kita bicara, Kong-ko. Mari bantu aku membawa gadis-gadis ini keluar dari sini dan menyeret anjing-anjing ini keluar agar dapat dihajar oleh penduduk dusun.”

“Baik, Lan-moi. Anjing-anjing itu sebaiknya dibuat tak berdaya,” kata Si Kong dan dia lalu memasuki ruangan tahanan itu.

Berkali-kali tangannya bergerak dan setiap gerakan tentu merobohkan seorang penjahat yang sedang merangkak dan menggonggong itu. Sebentar saja belasan orang itu sudah tertotok semua, termasuk si muka bopeng yang sudah menderita luka parah oleh pukulan tangan Hui Lan tadi.

Dengan penerangan dari lampu yang dibawa oleh seorang gadis yang sudah dibebaskan, Si Kong lalu menyeret belasan orang itu ke dasar sumur.

“Engkau naiklah dulu, Lan-moi. Sesudah berada di atas, segera panggil penduduk dusun agar mereka mengangkat naik gadis-gadis ini dan juga gerombolan ini!"

“Baik, Kong-ko!” Dengan sigap dan cepat sekali Hui Lan merayap naik dengan bergantung pada tali yang tadi dipakai Si Kong untuk turun ke dalam sumur.