Pendekar Kelana Jilid 08

Si Kong menghampiri pembaringan itu. Dia tidak mengenal wanita yang kurus kering itu. Dulu, sepuluh tahun yang lalu, enci-nya adalah seorang gadis remaja berusia enam belas tahun yang cantik manis, sedangkan yang menggeletak di sana adalah seorang wanita yang nampak tua dan kurus kering, rambutnya awut-awutan dan tubuhnya kurus sekali.

“Apakah engkau Si Kiok Hwa?” tanyanya ragu.

Sejenak wanita itu memandang Si Kong, lalu berkata lemah. “Benar, aku Si Kiok Hwa... dan engkau siapa, orang muda?”

“Enci Kiok Hwa! Aku Si Kong, adikmu!”

“Si Kong...? Ya Tuhan, terima kasih atas pertemuan ini...!”

Si Kong duduk di tepi pembaringan kemudian memegang tangan enci-nya. Terkejutlah dia ketika memeriksa nadi tangan enci-nya. Detak jantungnya begitu lemah dan tidak tetap, napasnya terengah-engah dan tahulah dia bahwa enci-nya menderita tekanan batin yang luar biasa sehingga kini tubuhnya tidak kuat bertahan dan jatuh sakit yang teramat berat. Baru memeriksa nadi, mulut dan pernapasan enci-nya saja tahulah Si Kong bahwa enci-nya sukar diselamatkan. Enci-nya itu seolah telah berada di ambang kematian.

“Enci, kenapa engkau sampai menderita seperti ini? Bukankah dulu engkau menjadi selir Lui Wan-gwe?”

Dengan suara terputus-putus dan napas terengah-engah wanita itu kemudian menuturkan pengalamannya yang pahit. Ternyata dia hanya menjadi barang permainan Lui Wan-gwe saja. Sesudah lima tahun kakek yang kaya raya itu bosan dengannya, lalu menyerahkan kepada Lo Sam untuk menjadi istrinya.

Mula-mula ia memang merasa bahagia karena Lo Sam menjadi suaminya. Akan tetapi Lo Sam adalah seorang penjudi dan suka hidup royal. Ketika ia masih menerima sumbangan dari Lui Wan-gwe, hidup mereka memang tidak kekurangan. Namun tiga tahun kemudian Liu Wan-gwe menghentikan bantuannya dan mulailah penderitaan menimpa diri Kiok Hwa.

Mula-mula semua perhiasannya dijual Lo Sam untuk modal berjudi, lalu perabot-perabot rumah tangga. Akhirnya, ketika tidak ada lagi yang harus dijual untuk mendapatkan uang, Lo Sam lalu menjual isterinya!

“Dia memaksa untuk menjadi pelacur... betapa hancur hatiku... akan tetapi dia memaksa dan kalau aku tidak mau dia menyiksaku. Aku terpaksa... menjadi pelacur... dan semua uang penghasilanku diambil oleh Lo Sam. Selama hampir tiga tahun aku menjadi pelacur, dan akhirnya sebulan yang lalu aku jatuh sakit dan tidak dapat bekerja sebagai… pelacur. Akan tetapi dia... dia…” Wanita itu menuding kepada Lo Sam yang masih berdiri seperti patung. “Dia tidak mau merawatku... bahkan memujikan agar aku lekas mati...” Kiok Hwa menangis, akan tetapi tidak ada air mata yang keluar. Agaknya air matanya sudah habis terkuras selama ini.

Si Kong menjadi marah bukan kepalang. Dia meninggalkan enci-nya dan menghampiri Lo Sam. Dengan sekali totok Lo Sam dapat bergerak kembali.

Tadi dalam keadaan tertotok Lo Sam mendengar semua cerita isterinya, dan dia menjadi takut setengah mati ketika mengetahui bahwa pemuda yang lihai itu adalah adik isterinya! Maka begitu bebas dari totokan, dia segera lari untuk meninggalkan pemuda itu. Namun sekali menggerakkan kaki, Si Kong telah dapat mengejarnya dan menjambak rambutnya, menyeretnya kembali ke dalam kamar. Ketika jambakan rambutnya dilepaskan, Lo Sam segera menjatuhkan diri berlutut di depan Si Kong.

“Ampunkan saya... ahh, ampunkan saya...”

“Keparat busuk!” Si Kong memaki lantas tangannya dua kali bergerak.

“Krakk…! Krakk…!”

Terdengar suara dua kali dan kedua tangan Lo Sam sudah dipatahkan tulangnya di atas siku. Lo Sam mengaduh-aduh, sementara dua lengannya tergantung tak berdaya karena tulangnya sudah patah.

“Si Kong...!” terdengar Kiok Hwa berkata lirih. “Jangan Si Kong... dia mempunyai banyak teman, engkau akan dikeroyoknya...”

“Jangan khawatir, enci. Kalau dia memanggil teman-temannya maka aku akan menghajar mereka semua! Lo Sam, berdirilah saja di sana! Awas, kalau engkau melarikan diri maka aku tidak akan mengampunimu lagi!”

“Ba... baik... taihiap...!” kata Lo Sam tergagap saking takutnya.

“Si Kong...,” wanita itu mengeluh panjang dan Si Kong segera menghampirinya lalu duduk di tepi pembaringan.

“Ada apa enci?”

“Aku... aku...” Si Kong segera menotok beberapa jalan darah untuk memulihkan kekuatan enci-nya yang sudah terengah-engah itu.

“Si Kong... kalau aku mati... kuburkanlah aku... di dekat makam... ayah dan ibu...”

“Enci...!” Si Kong merangkulnya sambil menangis.

Si Kong tidak dapat menahan kesedihannya lagi melihat keadaan enci-nya, satu-satunya keluarganya yang masih hidup tapi sekarang berada di ambang kematian tanpa dia dapat menolongnya. Dia hanya dapat menolong agar enci-nya tidak terlalu menderita kenyerian, akan tetapi tidak mampu mengobatinya sampai sembuh. Keadaan enci-nya sudah sangat parah. Paru-parunya juga sudah terluka digerogoti penyakit.

“Enci tenangkanlah hatimu dan mengasolah. Aku akan membalaskan sakit hatimu kepada semua orang yang telah membuatmu sengsara seperti ini. Aku pergi sebentar, enci.”

Dia lalu membantu enci-nya menelan sebutir pil yang dibuatnya sendiri dari akar-akaran. Khasiat pil ini adalah untuk menguatkan badan dan melancarkan jalan darah. Sesudah itu dia merebahkan lagi enci-nya, menyelimutinya agar enci-nya dapat tidur dengan tenang.

“Hayo kau ikut aku!” katanya kepada Lo Sam sambil menyeret tangan orang yang usianya sudah empat puluh tahun itu.

“Ke... ke mana..., taihiap?”

“Tidak perlu bertanya, kau ikut saja!” kata Si Kong dan menyeretnya keluar dari rumah itu.

Orang-orang yang tinggal di gang itu terheran-heran melihat Lo Sam didorong-dorong oleh seorang pemuda agar melangkah maju, ada pun kedua lengan Lo Sam tergantung lemas. Tetapi tidak ada seorang pun yang bertanya. Mereka sudah mengenal Lo Sam itu orang macam apa. Penjudi, pemabok dan pembuat kerusuhan, apa lagi kalau bersama teman-temannya.

Setelah mereka tiba di jalan besar, Si Kong mendorong pundaknya. “Kita pergi ke rumah Lui-wangwe!”

Muka Lo Sam menjadi pucat, akan tetapi tidak berani membantah. Sebelum tiba di rumah hartawan Lui, tiba-tiba ada empat orang pemuda yang berpapasan dengan mereka.

“Heii, Lo Sam. Engkau mengapa?” tanya mereka.

Semangat Lo Sam segera timbul kembali ketika melihat bahwa mereka itu adalah kawan-kawannya. “Kawan-kawan, tolonglah aku. Aku dipaksa oleh pemuda ini!” teriaknya.

Empat orang itu cepat maju dan mengepung Si Kong. Mereka berempat sudah mencabut senjata yang tadinya terselip di pinggang, yaitu sebilah pisau belati panjang yang tajam berkilauan. Mereka menyerang dengan ganasnya, menusukkan pisau-pisau itu ke arah Si Kong. Akan tetapi pemuda itu tiba-tiba saja lenyap dari kepungan mereka dan ternyata Si Kong memang meninggalkan mereka untuk mengejar Lo sam yang berusaha melarikan diri.

Lo Sam yang melihat empat orang kawannya sudah mengepung Si Kong, menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Namun tiba-tiba ada bayangan orang di depannya. Ketika dia melihat, alangkah kagetnya melihat Si Kong sudah menghadang di depannya!

Si Kong lalu menggerakkan jari tangannya menotok Lo Sam, membuat Lo Sam kembali tak dapat bergerak seperti patung. Setelah itu barulah Si Kong menghadapi empat orang pemuda berandalan itu.

Empat orang itu cepat mengejar dan kembali mengepung, lalu mereka menyerang dengan tusukan belati mereka. Si Kong menggerakkan kaki tangan, maka empat orang itu segera berpelantingan. Dalam waktu sekejap saja Si Kong telah menampar dan menendang dua orang lagi sehingga mereka terpelanting roboh lantas menyeringai kesakitan, tidak dapat segera bangkit lagi.

Si Kong tidak mempedulikan mereka. Ia menghampiri Lo Sam, membebaskan totokannya kemudian menyeret lengan yang sudah lumpuh itu sehingga terpaksa Lo Sam melangkah dengan muka pucat dan mulut menyeringai kesakitan.

Sesudah tiba di pekarangan rumah besar milik Hartatawan Lui, Si Kong menyeret Lo Sam memasuki pekarangan. Akan tetapi tiba-tiba dari dalam rumah itu keluar seorang laki-laki yang usianya sekitar lima puluh tahun. Dia memegang sebuah kampak yang mengerikan karena kampak itu amat besar dan nampak berat, juga berkilauan saking tajamnya.

Melihat ini Si Kong segera menendang Lo Sam sehingga tubuh Lo Sam terlempar dan dia hanya mengaduh-aduh, tidak mampu bangkit lagi karena kedua tangannya sudah lumpuh dan kaki kirinya yang terkena tendangan pada pahanya itu juga nyeri luar biasa.

Si Kong melangkah maju, disambut oleh laki-laki yang memegang kampak itu. Lelaki itu bertubuh tinggi tegap. Dia memegang sebuah kampak besar dan menumpangkan kampak itu di atas pundak kanannya.

“Hei, orang muda pengacau, ternyata engkau berani datang lagi! Semenjak tadi aku telah menunggumu. Katakan siapa namamu agar jangan sampai engkau mati tanpa nama.”

Si Kong mengerutkan kedua alisnya. Tahulah dia bahwa Hartawan Lui agaknya sengaja memanggil tukang pukul atau jagoan ini untuk melawannya.

“Sobat, kalau boleh kunasehatkan, janganlah mencampuri urusanku dengan Lui Wan-gwe dan pulanglah ke rumahmu sendiri. Aku tidak ingin bermusuhan dengan siapa pun juga!”

Orang itu tertawa. “Ha-ha-ha, pemuda sombong. Ketahuilah bahwa aku Gin-to-kwi adalah pelindung Hartawan Lui. Engkau berani datang mengganggunya, berarti engkau sudah bosan hidup!”

Si Kong memandang penuh perhatian dan melihat bahwa di belakang orang itu terdapat sebatang golok menempel di punggung. Agaknya orang ini ahli bermain golok, akan tetapi untuk menakut-nakuti lawan, dia sengaja membawa kampak yang besar itu.

“Gin-to-kwi, kalau engkau tidak mau pergi, terpaksa aku akan menghajarmu pula!”

Sepasang mata itu melotot. Belum pernah ada orang yang berani menantangnya selama ini, akan tetapi pemuda ini berani berkata hendak menghajarnya! Kemarahannya membuat mukanya menjadi kemerahan, dan dia segera mengayun kampaknya untuk memamerkan kekuatannya. Kampak itu diputar di atas kepalanya, kemudian dia berseru, “Orang muda, mampuslah engkau!”

Orang itu menyerang dengan kampaknya, dihantamkan ke arah Si Kong. Kalau serangan ini mengenai sasarannya maka kepala Si Kong tentu akan terpisah dari tubuhnya seperti penjahat yang kepalanya dipancung oleh seorang algojo.

Akan tetapi dengan mudah saja Si Kong menundukkan kepala sambil sedikit menekuk lututnya sehingga kampak itu berdesing lewat di atas kepalanya. Saat itu dipergunakan oleh Si Kong untuk mengayun kaki kanan, menendang ke arah perut Gin-to-kwi.

“Dukkk!”

Gin-to-kwi menangkis dengan tangan kirinya. Ternyata jagoan ini mempunyai kepandaian yang lumayan juga. Tidak mengherankan kalau dia menjadi jagoan nomor satu di dusun Ki-ceng. Dia tak mempedulikan rasa nyeri pada tangannya yang menangkis dan kampak itu sudah menyambar lagi, kini menghantam ke arah dada Si Kong.

Kembali Si Kong mengelak ke samping dengan menggeser kaki. Kampak itu membuat gerakan memutar ke atas dengan cepatnya dan menyerang lagi ke arah kepala Si Kong! Si Kong maklum benar akan bahayanya senjata berat ini, maka setelah mengelak dengan mendoyongkan tubuh ke belakang dia segera balas menyerang dengan cepat luar biasa karena dia menggunakan ilmu Yan-cu Hui-kuin (Silat Burung Walet Terbang).

Orang bertubuh tinggi besar itu terkejut sekali, akan tetapi dia tidak dapat mengelak atau menangkis lagi ketika tangan Si Kong menampar dan tepat mengenai belakang sikunya. Seluruh lengannya terasa lumpuh sehingga kampak itu terlepas dari tangannya.

Dia cepat meloncat ke belakang dan menggerak-gerakkan tangan kanan untuk mengusir kelumpuhan itu. Ketika lengannya sudah pulih kembali, dia kemudian mencabut golok dari punggungnya. Sinar terang menyilaukan mata menyambar ketika golok dicabut. Agaknya senjata itu terbuat dari perak murni dan tajam bukan main.

“Bocah setan, sekarang bersiaplah untuk mampus!” Bentak Gin-to-kwi sambil memutar goloknya dan menyerang.

Bagi Si Kong, gerakan lawan itu tidak terlalu cepat seperti nampaknya. Dia mengelak ke sana sini dan mencari kesempatan. Ketika melihat lowongan pada saat golok menyambar lehernya, dia lalu masuk menotok dada kanan lawan.

“Tukkk!”

Golok itu terlepas dari tangannya dan sebelum Gin-to-kwi dapat berbuat sesuatu, sebuah tendangan sudah membuat tubuhnya terlempar ke belakang! Dia mencoba untuk bangkit, akan tetapi roboh lagi. Si Kong sudah tidak mempedulikan dia lagi, menghampiri Lo Sam dan membebaskan totokannya lalu menyeretnya memasuki rumah gedung tempat tinggal Lui Wan-gwe itu.

“Hartawan Lui, keluarlah! Aku mau bicara!” teriak Si Kong ke sebelah dalam. Tidak lama kemudian Hartawan Lui keluar dengan dipapah oleh dua orang gadis cantik.

Si Kong mendorong Lo Sam sehingga orang ini jatuh berlutut.

“Nah, Hartawan Lui, inilah Lo Sam yang telah mengawini enci-ku. Menurut keteranganmu tadi, enci-ku keluar dari rumah ini dan menikah dengan Lo Sam. Akan tetapi sebenarnya tidak demikian. Hayo Lo Sam, sekarang akuilah terus terang bagaimana engkau sampai dapat menikah dengan enci Kiok Hwa yang tadinya menjadi selir Hartawan Lui!”

Lo Sam sudah mati kutu. Dia tidak berani lagi berbohong, sungguh pun dia takut kepada Hartawan Lui akan tetapi dia lebih takut kepada Si Kong.

“Pada suatu hari saya dipanggil Hartawan Lui dan diberi hadiah seorang selirnya dan juga uang.”

“Nah, kau dengar sendiri, Lui-wangwe? Dahulu engkau mengambil enci Kiok Hwa menjadi selirmu, mengandalkan kekayaanmu dan mengambil kesempatan selagi ayahku terdesak oleh kemiskinannya. Akan tetapi sesudah lewat lima tahun engkau merasa bosan, lantas memberikan enci-ku kepada jahanam ini seolah enci-ku sebuah benda yang tidak terpakai lagi. Jahanam Lo Sam ini telah menyiksa enci-ku dan memaksanya menjadi pelacur, akan tetapi kesengsaraan yang diderita enci-ku itu bermula dari tindakanmu yang memberikan dia kepada Lo Sam. Engkau harus bertanggung jawab untuk itu!”

Kakek hartawan itu gemetar seluruh tubuhnya. “Aku menyesal telah melakukan itu. Harap engkau suka mengampuni aku. Kalau engkau menginginkan uang, sebut saja jumlahnya, tentu aku akan memberikannya untukmu.”

“Aku tidak butuh uangmu! Akan tetapi engkau harus membebaskan semua tanah, sawah serta ladang yang kau sita dari penduduk miskin karena mereka tidak mampu membayar hutang mereka kepadamu. Engkau juga harus membebaskan semua hutang penduduk miskin di dusun ini, mulai hari ini tidak ada seorang pun yang meminjam uang kepadamu, semua telah lunas. Mengerti?!”

“Ba... baik...!” kata hartawan itu.

“Awas engkau! Jika dalam beberapa hari ini engkau masih belum mengembalikan sawah ladang kepada mereka, aku akan datang lagi ke sini dan membunuhmu seperti anjing ini!” Si Kong menggerakkan tangannya ke arah kepala Lo Sam. Orang yang kejam ini segera terpelanting roboh dan tak dapat bergerak lagi karena kepalanya sudah retak dan jiwanya sudah melayang meninggalkan raganya.

Hartawan Lui makin ketakutan. Mukanya pucat sekali sehingga dia tentu akan roboh kalau tidak dipapah dua orang gadis itu,. Lututnya sudah menggigil.

“Dan ingat, jangan memanggil jagoan seperti yang menggeletak di luar itu atau aku akan membunuhmu dan membakar rumah ini!”

“Baik... akan kuturuti permintaanmu...,” kata Hartawan Lui.

Setelah mengeluarkan ancaman itu, Si Kong lalu keluar dari rumah itu. Para penjaga tidak ada yang kelihatan karena mereka semua telah bersembunyi ketakutan. Si Kong kembali ke rumah Lo Sam untuk melihat enci-nya, namun Kiok Hwa telah meninggal dunia ketika dia memasuki kamar itu.

Si Kong memeluk tubuh enci-nya dan dia merasa kasihan sekali. Enci-nya menjadi korban karena kemiskinan orang tua mereka. Apa bila ayahnya tidak semiskin itu, tentu enci-nya tidak sampai diserahkan kepada Hartawan Lui.

Para tetangga datang melayat ketika mendengar bahwa Si Kiok Hwa meninggal dunia. Si Kong mengurus jenazah enci-nya dan menguburnya di dekat kuburan ibu dan ayahnya. Setelah penguburan selesai dia berkata kepada para tetangga itu.

“Apa bila di antara kalian ada yang mengggadaikan tanah kepada Hartawan Lui atau yang lain-lain, mulai sekarang boleh memiliki tanah itu kembali. Garaplah sawah ladang kalian baik-baik dan jangan sekali-kali menggadaikannya. Jika kalian butuh uang, mintalah saja kepada para hartawan di sini, mereka pasti akan menolong kalian.”

Ucapan Si Kong itu segera disambut dengan sikap bermacam-macam oleh mereka. Ada yang berjingkrak kegirangan, ada pula yang tidak percaya dan ada yang ragu-ragu.

Si Kong tidak berhenti sampai di situ saja. Dia lalu mengunjungi semua tuan tanah dan hartawan yang tinggal di Ki-ceng. Tentu saja dia mendapat perlawanan dari tukang-tukang pukul para hartawan. Akan tetapi semua tukang pukul dia robohkan dan semua hartawan itu diancamnya untuk membebaskan semua hutang dan mengembalikan sawah ladang, dan selanjutnya harus bermurah hati bila rakyat dusun itu sedang menderita kekurangan pangan.

Si Kong tinggal di dusun itu sampai sebulan lamanya. Sesudah dia melihat bahwa semua ancamannya dipenuhi oleh para hartawan sehingga seluruh penduduk dusun yang miskin menjadi gembira luar biasa, baru Si Kong meninggalkan dusun itu. Penduduk yang tahu akan kepergian Si Kong, berbondong-bondong mengantarkan pemuda itu sampai keluar dari dari dusun.

Dan semenjak hari itu, seluruh penduduk dusun hidup dengan aman dan tenteram. Para hartawan tidak perlu lagi memelihara tukang pukul karena rakyat miskin yang mengenal budi itu akan menjaga keselamatan mereka dari gangguan perampok. Juga tidak ada lagi kekurangan pangan, karena para hartawan mau membagi-bagikan beras apabila musim panas yang panjang datang. Dan tidak ada lagi pencurian atau perampokan, karena selain penduduk melakukan penjagaan, juga tak ada lagi keadaan yang memaksa mereka untuk mencuri.

Dusun Ki-ceng menjadi dusun teladan. Penduduknya hidup tenteram dan sebentar saja dusun itu berkembang menjadi besar. Bahkan banyak orang berdatangan untuk menjadi penghuni dusun Ki-ceng. Para hartawan juga tidak akan kehabisan hartanya akibat suka membagi-bagi beras kepada penduduk miskin, karena ketika sedang musim panen para penduduk miskin yang banyak menerima bantuan itu secara bergotong royong membantu tanpa menuntut upah.

Memang demikianlah. Kalau yang memiliki kelebihan memberi kepada yang kekurangan, baik kelebihan harta atau ilmu pengetahuan, maka akan ada pemerataan penghasilan di antara penduduk, tidak ada lagi bahaya kelaparan dan tidak ada lagi rasa iri dan dendam. Tanpa dia sadari Si Kong telah menolong rakyat di dusun tempat asalnya dan mengubah dusun yang biasanya dilanda kelaparan itu menjadi dusun yang maju dan makmur.

Kini Si Kong melakukan perjalanan tanpa tujuan tertentu. Dia telah kembali ke dusunnya, bahkan kehilangan keluarga satu-satunya, yaitu enci-nya. Sesudah menguburkan jenazah enci-nya, habislah kaitannya dengan dusun Ki-ceng.

Kemudian, ketika pada suatu siang yang panas dia mengaso di bawah sebatang pohon rindang dan membuka buntalannya, dia melihat kantung kain kecil yang berisi perhiasan wanita, yaitu sepasang gelang emas bertabur permata yang indah sekali. Dia pun teringat akan pemberi sepasang gelang itu, seorang gadis yang cantik jelita dan mempunyai ilmu pedang yang lihai. Namanya Tan Kiok Nio. Membayangkan wajah gadis itu, jantungnya berdebar. Gadis yang hebat, pikirnya.

Dia lalu mengenang kembali semua pengalamannya dan dia mendapat kenyataan bahwa dia pun teringat akan Tong Kim Lan, puteri si Huncwe Maut Tong Li Koan. Gadis itu pun sering kali muncul dalam ingatannya. Kemudian dia teringat pula kepada Tang Hui Lan, puteri suami isteri pendekar besar, cucu gurunya Ceng Lojin.

Kalau dibandingkan dua orang gadis itu, Hui Lan menang segala-galanya. Kecantikannya, kepandaiannya. Dia merasa yakin bahwa Hui Lan tentu mempunyai ilmu kepandaian yang hebat sekali.

Kemudian dia teringat kepada Gu Mei Cin, yang ditolongnya dari tangan si jahat Ouwyang Kwi. Lalu dia pun teringat dan membayangkan wajah gadis lain yang tak kalah cantiknya dari yang lain, bahkan dia memiliki ilmu kepandaian yang paling hebat. Entah siapa yang lebih unggul ilmunya antara gadis yang bernama Pek Bwe Hwa itu dengan Tang Hui Lan. Satu demi satu wajah kelima gadis itu bermunculan dan hatinya merasa gelisah sendiri.

“Ihh! Tak tahu malu. Kenapa mengenang gadis-gadis itu?” celanya kepada diri sendiri.

Cepat dia menyimpan kembali kedua gelang emas berhias permata itu ke dalam kantung kain, lantas mengambil roti kering yang tadi dibelinya di dusun terakhir yang dilewatinya. Makan sepotong roti kering dan ikan kering membuat leher terasa haus bukan main. Akan tetapi tempat airnya telah penuh diisi air teh di warung dusun tadi, maka dia dapat makan dan minum sambil melepaskan lelah.

Selagi dia makan minum, nampak seorang laki-laki setengah tua datang sambil memikul ubi. Agaknya dia seorang petani yang baru saja panen ubi dan kini membawa ubi dalam pikulannya.

Melihat seorang pemuda beristirahat di bawah pohon besar yang berdaun lebat sehingga memberi keteduhan di bawahnya, lelaki berusia hampir lima puluh tahun itu pun berbelok meninggalkan jalan dan menuju ke pohon itu. Dia menurunkan pikulannya dan menyeka keringat dengan bajunya, bahkan dia lantas menanggalkan baju atasnya karena merasa gerah bukan main.

“Selamat siang, paman,” kata Si Kong ramah. “Kalau paman mau, silakan makan minum bersamaku. Akan tetapi aku hanya mempunyai roti kering dan teh dingin!”

“Roti kering dan teh dingin sudah merupakan hidangan lezat di siang hari panas seperti ini,” kata orang itu. Dia lalu duduk dekat Si Kong, di atas hamparan rumput hijau.

Sambil tersenyum Si Kong mengulurkan tangannya, memberi roti dan ikan kering kepada orang itu yang menerimanya dengan pandang mata berterima kasih. Mereka lalu makan minum bersama sambil bercakap-cakap santai.

“Paman hendak menjual ubi ke kota?”

“Benar, kongcu.”

“Aihh, jangan menyebut aku kongcu, paman. Aku hanya seorang perantau miskin, bukan pemuda bangsawan bukan pula pemuda hartawan. Namaku Si Kong dan paman boleh menyebutku dengan nama itu saja.”

Petani itu tersenyum sambil memandang kepada Si Kong dengan matanya yang ramah. Kulit muka petani itu sudah penuh keriput biar pun usianya baru lima puluh tahun, namun wajah keriput itu masih nampak segar dan tubuhnya masih nampak kuat.

“Baiklah, Akong, dan terima kasih atas keramahanmu mengundangku makan. Roti kering dan ikan kering itu lezat sekali!”

“Setiap makanan akan lezat kalau dimakan selagi perut merasa lapar, bukankah begitu, paman?”

“Kau benar dan perutku memang sedang lapar.”

“Apakah paman mempunyai anak isteri?”

“Aku mempunyai isteri dan dua orang anak.”

“Apakah hidup paman kekurangan?”

“Ah, tidak. Kedua anakku membantu di ladang. Setiap hari kami bisa makan dan ubi sisa makanan kami ini dapat kujual ke kota lalu uangnya dapat kupakai membeli pakaian atau keperluan lain. Tidak, aku tidak kekurangan dan keluargaku tidak pernah kelaparan. Kami memiliki sebidang sawah dan juga mempunyai sebuah rumah yang meski pun tidak bagus namun cukup menyenangkan bagi kami.”

Si Kong memandang kagum. Di depannya duduk seorang setengah tua yang sederhana dan miskin, memikul ubi yang berat untuk di jual dengan harga yang murah, namun kakek ini tidak merasa kekurangan. Agaknya orang seprti kakek inilah yang dapat disebut orang yang berbahagia hidupnya.

Mereka telah selesai makan, namun kakek yang sudah melakukan perjalanan cukup jauh itu agaknya hendak mengaso sejenak di tempat yang teduh itu.

“Paman, engkau tentu seorang yang berbahagia hidupnya.”

“Bahagia? Apakah itu? Aku tidak merasa berbahagia, tetapi juga tidak merasa sengsara. Aku sekeluargaku cukup makan, dapat bertukar pakaian setiap hari, dan memiliki rumah sebagai tempat tinggal kami, juga dapat bekerja di ladang setiap hari.”

“Kalau begitu engkau pasti berbahagia,” kata Si Kong sambil mengangguk-angguk.

“Aku tidak tahu, Akong. Apa sih bahagia itu? Yang jelas aku tidak membutuhkan bahagia, asalkan keluargaku semua sehat dan tidak ada halangan sesuatu.”

“Paman tentu tidak mengenal kesusahan dan kekecewaan.”

“Ahh, siapa bilang? Kalau ubi yang kupikul ini tidak laku atau hanya laku sedikit saja, aku tentu kecewa dan susah. Kalau anak-anakku tidak mentaati kata-kataku, aku pun marah dan kesal. Aku masih bisa susah dan kecewa, Akong.”

Si Kong tertegun dan memandang pada wajah penuh keriput itu. Benar, orang ini masih mengenal susah dan kecewa. Kalau begitu dia bukan orang yang bahagia.

“Kalau begitu engkau juga tidak berbahagia seperti halnya diriku, paman.”

“Aku tidak tahu. Yang jelas, kadang-kadang aku merasa senang tapi kadang-kadang juga merasa susah, kadang-kadang merasa puas tapi sering merasa kecewa juga. Bukankah kehidupan ini terisi kesenangan dan kesusahan, Akong? Wah, matahari sudah naik tinggi, aku tidak boleh kesiangan sampai di kota karena ubiku tentu takkan laku lagi. Tengkulak-tengkulak pasti sudah pulang sehingga terpaksa ubi kujual murah, membuat aku merasa kecewa dan susah.” Kakek itu lalu memikul lagi ubinya dan pergi meninggalkan Si Kong.

Setelah kakek itu pergi, Si Kong lalu termenung. Kakek itu bukan orang yang berbahagia, pikirnya. Lalu apakah kebahagiaan itu. Baru sekarang timbul pertanyaan ini. Sayang dia dahulu tak pernah membicarakan perihal bahagia ini dengan guru-gurunya. Sekarang dia menghadapi pertanyaan itu seperti menghadapi teka-teki. Dia sama sekali tidak tahu apa yang dimaksudkan bahagia itu dan ke mana harus mencari bahagia.

Seperti juga Si Kong, semua orang di dunia ini mendambakan kebahagiaan, akan tetapi agaknya jarang ada orang yang berhasil menemukan kebahagiaan. Yang dirasakan orang hanyalah kesenangan, maka mau tak mau kita pasti akan berhadapan dengan kesusahan pula.

Senang dan susah, puas dan kecewa, gembira dan sedih, berhutang budi dan dendam, semuanya itu menjadi isi kehidupan, yang satu tak terpisah jauh dari yang lain sehingga manusia dipermainkan oleh perasaannya sendiri. Kesenangan memang mudah dicari dan ditemukan, dan walau pun tidak dikehendaki, kesusahan akan menyusul kesenangan itu, silih berganti.

Apakah kebahagaiaan itu? Ke mana mencarinya? Orang mencari kebahagiaan dengan berbagai cara. Melalui agama, melalui pengetahuan, melalui pertapaan dan penyiksaan diri, tetapi amatlah sukar menemukan orang yang telah mendapatkan kebahagiaan yang dicari-cari itu. Tetap saja mereka menjadi permainan susah dan senang.

Kalau kita renungkan secara mendalam, kita dapat bersama-sama menyelidiki mengenai kebahagiaan itu. Kebahagiaan berada di atas susah dan senang. Bahkan pada waktu mengalami kesusahan, kita masih berbahagia. Bahagia tidak disentuh dan tidak diubah oleh susah senang yang hanya lewat seperti lewatnya segumpal awan di angkasa yang cepat lewat kemudian lenyap. Kebahagiaan tidak mungkin dapat ditemukan dengan jalan mencarinya. Kebahagiaan tak dapat dicari. Makin didambakan dan dicari maka semakin menjauhlah dia.

Dari pada bersusah payah mencari kebahagiaan, lebih baik kalau orang meneliti ketidak-bahagiaan. Ketidak-bahagiaan ini dapat terasa oleh setiap orang. Merasa tidak bahagia! Kita lalu meneliti dan mengamati diri sendiri, apa yang menyebabkan kita tidak bahagia? Kalau sebab adanya ketidak-bahagiaan ini sudah tidak ada lagi, kita tidak membutuhkan bahagia. Kenapa? Karena kita sudah berbahagia! Berarti bahwa kebahagiaan itu sudah ada dan selalu ada dalam diri kita.

Seperti halnya kesehatan. Kesehatan itu sudah ada pada kita. Akan tetapi biasanya kita tidak merasakan adanya kesehatan ini, tidak dapat menikmati. Apa bila kita jatuh sakit, barulah kita mendambakan kesehatan.

Demikian pula kebahagiaan. Selalu terutup oleh ulahnya nafsu, senang susah, gembira sedih, dan segala macam perasaan yang didorong oleh nafsu. Karena kita menjadi budak nafsu kita sendiri, maka kebahagiaan itu tertutup dan tidak pernah dapat dirasakan. Yang bisa dirasakan hanya kesenangan dan kesenangan ini pun ulah nafsu. Nafsu mendorong kita agar selalu mengejar kesenangan.

Orang yang tidak lagi menjadi budak nafsu, melainkan menjadi majikan nafsu, mungkin sekali akan dapat merasakan kebahagiaan itu. Nafsu tidak lagi menyeret kita ke dalam perbuatan yang hanya mengejar kesenangan sehingga kita halalkan segala macam cara untuk mencapai kesenangan.

Nafsu merupakan peserta hidup yang sangat penting dan berguna, kalau saja kita yang mengendalikannya. Akan tetapi kalau nafsu menguasai kita, maka mala petakalah yang akan menimpa diri kita. Tanpa nafsu kita tidak akan dapat hidup di dunia ini. Nafsu yang mendorong kita untuk hidup layak sebagai manusia. Akan tetapi kita akan hidup sesat apa bila nafsu menjadi majikan.

Nafsu bagaikan api. Kalau kita dapat menguasainya maka api itu sangat berguna bagi kehidupan kita. Akan tetapi jika terjadi sebaliknya, api yang mengamuk menguasai kita, api itu akan membakar segala yang ada!

Lalu bagaimana caranya untuk menguasai dan mengendalikan nafsu yang begitu kuat? Diri kita sudah menjadi gudang nafsu, maka akan sia-sialah apa bila kita berusaha untuk menundukkan nafsu. Pikiran yang ingin menguasai nafsu itu sendiri sudah bergelimang dengan nafsu.

Ilmu pengetahuan juga tidak dapat digunakan untuk menguasai nafsu. Lalu bagaimana? Satu-satunya jalan untuk menguasai nafsu hanyalah MENYERAH kepada KEKUASAAN TUHAN! Siapa lagi yang mampu menundukkan nafsu selain YANG MAHA PENCIPTA? Hanya Tuhanlah yang mampu menundukkan nafsu. Kalau kita menyerahkan diri dengan penuh keimanan, tawakal serta kepasrahan yang ikhlas, maka kekuasaan Tuhan akan bekerja di dalam diri kita!


********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Si Kong bangkit berdiri, dan membawa buntalan pakaiannya dengan memanggul tongkat bambu. Dia melakukan perjalanan ke barat dengan melangkahkan kaki seenaknya karena dia tidak tergesa-gesa, bahkan tidak mempunyai tujuan.

Kembali dia teringat kepada Tan Kiok Nio, gadis jelita yang minta tolong kepadanya untuk mencari tahu di mana adanya seorang kakek berusia enam puluh tahun yang mukanya pucat dan berpakaian serba merah. Kakek itu sudah membunuh orang tua Kiok Nio.

Biar pun amat sukar mencari orang yang tidak diketahui di mana tempat tinggalnya, akan tetapi kalau kebetulan dia bertemu dengan kakek itu, tentu dia akan mengenalnya. Sukar dicari orang tua yang memakai pakaian serba merah!

Pada suatu hari tibalah dia di tempat yang sunyi sepi dan di depannya menjulang tinggi sebuah bukit yang penuh dengan pohon-pohon besar. Matahari sudah naik tinggi dan Si Kong merasa betapa perutnya lapar sekali. Semenjak kemarin sore dia belum makan apa pun kecuali minum air jernih yang menjadi bekalnya. Melihat hutan di bukit itu, timbullah niatnya untuk berburu binatang yang dagingnya dapat dimakan. Tidak nampak dusun di sekitar tempat itu di mana dia dapat membeli makanan.

Dengan membawa beberapa potong batu yang runcing dia memasuki hutan itu. Sesudah berkeliaran di dalam hutan mencari-cari, akhirnya dia meloncat naik ke atas pohon besar untuk melihat kalau-kalau di dekat situ terdapat binatang buruan. Usahanya berhasil. Dari atas pohon itu dia melihat anak sungai yang berliku-liku dan tidak jauh dari sana terdapat beberapa ekor kijang sedang minum air.

Dengan hati-hati Si Kong turun dari atas pohon dan berindap-indap mendekati sekawanan kijang itu, menyusup-nyusup di antara semak belukar dan batang-batang pohon. Sesudah jarak antara dia dan kijang-kijang itu tidak begitu jauh lagi, Si Kong lantas menggenggam sepotong batu. Ia mengambil jarak dan matanya dengan tajam membidik, lalu tangannya bergerak dan batu itu meluncur ke arah seekor kijang muda yang gemuk.

“Wuuutt...! Tarr…!”

Batu itu bertumbukan dengan batu lain yang meluncur dari samping sehingga dua batu itu runtuh. Kijang-kijang itu terkejut oleh bunyi kedua batu yang bertumbukan itu dan mereka segera berloncatan cepat sekali menghilang di balik semak-semak belukar.

Si Kong mengerutkan kedua alisnya dan dia menjadi marah sekali. Jelas ada orang yang sudah menimpuk batunya sehingga niatnya merobohkan seekor kijang menjadi gagal. Dia meloncat keluar dari balik semak-semak, dan pada waktu yang sama dari balik sebatang pohon besar melompat keluar pula seorang pemuda remaja yang dilihat dari pakaiannya yang kusut penuh tambalan itu dapat diduga bahwa dia seorang pengemis.

Di punggungnya tergendong sebuah buntalan kain kuning. Bajunya yang penuh tambalan itu terlampau besar hingga kedodoran dan kepanjangan sampai lutut. Namun wajah yang kotor terkena tanah dan debu itu kelihatan tampan juga. Sebelum Si Kong menegurnya, pengemis muda itu lebih dahulu menudingkan jari telunjuknya ke arah hidung Si Kong dan membentak nyaring.

“Engkau manusia kejam yang tidak mengenal peri kebinatangan! Kijang-kijang itu sedang santai melepas dahaga, kenapa engkau hendak membunuhnya? Engkau lebih kejam dari pada binatang buas!”

Kemarahan Si Kong lenyap sudah. Melihat seorang pengemis muda yang hidupnya tentu serba kekurangan dan sengsara, hatinya sudah merasa kasihan dan dia telah memaafkan perbuatan pengemis muda remaja itu. Akan tetapi dia penasaran juga ketika dikatakan lebih kejam dari binatang buas.

“Adik kecil…”

“Aku bukan anak kecil!” pengemis itu membantah.

Si Kong tersenyum. Seorang pemuda remaja yang nakal, pikirnya, lantas dia pun berkata, “Adik yang baik, kenapa engkau mengatakan bahwa aku lebih kejam dari binatang buas? Kalau aku menjadi harimau, tentu kijang tadi sudah kuterkam!”

“Harimau lain! Memang makanannya daging binatang dan ia hanya membunuh korbannya kalau perutnya lapar dan dia ingin makan.”

Si Kong mengelus perutnya. “Aku juga lapar.”

“Tapi engkau tentu suka makan makanan lain. Harimau tidak suka makan roti, tidak suka minum arak, tidak suka makan nasi. Sebaliknya engkau, aku yakin engkau suka makan roti dan minum arak!”

“Akan tetapi aku tidak mempunyai pilihan lain. Di sini yang ada hanya kijang itu, tidak ada roti dan arak!”

Pengemis muda itu menurunkan buntalannya dari punggung, lalu membuka buntalan dan di antara pakaian yang tambal-tambalan terdapat pula sebungkus roti bakpau yang isinya cukup banyak untuk dimakan dua orang! Dan ada seguci arak pula.

“Aku tidak tega melihat kijang itu dibunuh. Binatang itu demikian indah, kalau engkau tadi membunuhnya, tentu ada orang tua serta sanak saudaranya yang kehilangan, terutama pacarnya. Maka aku menghalangimu dan kalau engkau memang lapar, sama dengan aku, maka mari kita makan bakpau ini.” Dia lalu duduk bersila di atas rumput.

Si Kong memandang dengan bengong. Bocah ini memang agak nakal, akan tetapi kata-katanya demikian tepat sehingga sukar untuk dibantah, seperti kata-kata seorang pendeta yang pantang makan daging saja. Dia pun mengangguk, kemudian duduk di hadapannya dan mengambil sepotong bakpau lalu menggigitnya. Lezat sekali bakpau itu, tentu bukan bakpau murahan. Akan tetapi ketika lidahnya merasakan daging di dalam bakpau, dia pun mengerutkan alisnya.

“Adik, engkau tadi mencela aku yang hendak makan daging kijang! Namun engkau sendiri sekarang makan daging yang berada di dalam bakpau. Kalau begitu engkau seorang yang munafik!”

“Apa kau bilang? Aku munafik? Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa aku tidak suka daging?”

”Kau tadi melarangku...”

“Tentu saja karena aku membawa bekal bakpau yang cukup banyak. Kalau ada bakpau, kenapa harus membunuh kijang lagi? Yang kumakan ini daging ayam, itu pun bukan aku yang menyembelih, melainkan orang yang memeliharanya.”

Si Kong tersenyum. Percuma saja berdebat dengan anak kecil yang mau menang sendiri. Dia lalu makan lagi dan tanpa perlu makan waktu lama, bungkusan bakpau itu telah habis mereka makan!

“Ini minumnya! Bukan arak keras, melainkan anggur yang sedap dan tidak memabokkan. Aku paling muak melihat orang mabok!”

Bocah ini nakal, pandai bicara dan mau menang sendiri, akan tetapi hatinya amat polos dan baik.

“Engkau minumlah dulu, baru aku. Engkau pemiliknya, berhak minum lebih dulu karena di sini tidak ada cawan.”

Kembali bocah itu mengerutkan alisnya, “Kau tidak percaya padaku dan kau kira arak ini mengandung racun? Hemmm, kalau aku ingin meracunimu, sekarang juga engkau sudah menggeletak tanpa nyawa. Aku dapat menaruh racun itu di dalam bakpau tadi!”

“Wah, jangan salah sangka, sobat. Aku sama sekali bukannya takut kalau di dalam arak itu ada racunnya. Akan tetapi karena kita harus minum begitu saja dari mulut guci, maka sebaiknya engkau dulu yang minum, baru aku.”

“Aturan mana itu? Aku tuan rumah dan engkau tamuku. Tentu saja engkau yang harus minum lebih dahulu. Apa bila engkau menolak, itu berarti engkau tidak percaya dan tidak menghargai suguhanku.”

Kembali Si Kong merasa kalah kalau dia harus berdebat melawan pengemis muda yang bicaranya seperti seorang pengacara ini. Terpaksa dia menerima guci itu dan minum dari mulut guci, menjaga agar bibirnya tidak menyentuh mulut guci.

Anggur itu memang nikmat sekali, manis dan sedap. Karena isinya masih penuh, dia pun minum sepuasnya. Lalu dia mengembalikan guci itu kepada pemiliknya. Pengemis muda itu pun menuangkan anggur dari guci ke mulutnya dan menempelkan bibirnya pada mulut guci.

Si Kong memandang wajah pengemis itu. Wajah itu masih kekanak-kanakan, akan tetapi sesudah dipandang dengan teliti, dia harus mengakui bahwa wajah pengemis itu tampan sekali. Giginya berderet putih bagaikan mutiara. Akan tetapi wajah berlepotan lumpur dan debu. Teringatlah dia akan peristiwa tadi.

Sambitan batu yang dilontarkan kepada kijang tadi mengandung tenaga yang kuat, yang diaturnya agar dapat membunuh kijang itu dengan sekali sambit. Namun pemuda remaja ini mampu meruntuhkannya dengan sambitan batu lain. Ini membuktikan bahwa pemuda jembel ini memiliki ilmu kepandaian yang tidak rendah.

“Adik yang baik, siapakah namamu dan di mana tempat tinggalmu?”

Pengemis muda itu menatap tajam wajah Si Kong, agaknya sedang mempertimbangkan pertanyaan itu. Kemudian dia berkata, “Katakan dulu siapa engkau dan ada urusan apa engkau datang ke tempat ini?”

Si Kong tersenyum. “Ditanya belum menjawab bahkan berbalik mengajukan pertanyaan.”

“Sebagai tamu tentu saja engkau harus memperkenalkan diri lebih dulu. Jika engkau tidak bertanya siapa namaku, aku pun tidak akan menanyakan namamu.”

Dasar pokrol, pikir Si Kong. Akan tetapi pengemis muda ini sudah menjamunya dengan bakpau dan anggur, maka dia pun mengalah. “Namaku Si Kong, tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap. Aku seorang yatim piatu yang hidup sebatang kara dan aku berkelana ke mana saja hati dan kakiku membawaku. Kebetulan saja aku lewat di sini dan perutku tengah keroncongan. Karena melihat di sekitar tempat ini tidak ada dusun, maka terpaksa aku harus berburu binatang untuk memberi makan perutku yang lapar. Nah sudah jelas, bukan? Sekarang giliranmu berderita tentang dirimu.”

“Aku... ehh, namaku Siangkoan Ji. Aku juga berkelana seorang diri saja. Kalau tidak ada orang lain menaruh iba, aku mendatangi rumah hartawan yang kikir lalu kuambil emasnya barang sekantung. Lihat, inilah sisa emas sekantung. Sudah kubagi-bagikan kepada para petani miskin dan sisanya tidak berapa lagi, akan tetapi cukup untuk kubelikan makanan kalau lapar. Tidak akan habis sebulan.”

Si Kong mengerutkan alisnya. “Ji-te, mengemis adalah pekerjaan yang memalukan, dan mencuri merupakan perbuatan yang jahat. Mengapa engkau mengemis dan mencuri?”

“Aku mengemis untuk makan. Aku mencuri untuk menolong para petani miskin di dusun-dusun. Kenapa di bilang jahat? Habis, kalau aku tidak boleh mengemis atau mencuri, lalu aku harus makan apa? Aku tidak suka makan batu dan minum air comberan!” Pemuda itu membantah kemudian bersungut-sungut.

“Engkau bisa bekerja, Ji-te (adik Ji), seperti aku. Aku pun suka bekerja kalau kehabisan bekal. Gajinya kutabung, kalau sudah cukup aku melanjutkan pengembaraanku. Engkau pun dapat bekerja, Ji-te.”

Pengemis muda itu tampaknya senang di sebut Ji-te, sebutan yang akrab sekali. Pemuda tegap di hadapannya ini tidak keberatan untuk bersahabat dengan pengemis, tidak seperti pemuda-pemuda lain yang jijik melihatnya dan mengusirnya kalau dia mendekati mereka.

“Aku tidak biasa bekerja, Kong-ko. Aku tidak bisa bekerja apa-apa. Mana aku kuat kalau diharuskan bekerja kasar seperti mengangkuti barang sekarung atau balok yang besar?”

“Ji-te, tidak perlu bersembunyi di depanku. Aku tahu benar bahwa engkau memiliki tenaga yang besar dan engkau tentu seorang ahli silat yang lihai.”

Pengemis itu membelalakkan matanya. “Ehh, bagaimana engkau bisa mengetahuinya?”

“Mudah saja. Pada waktu aku menyambitkan batu ke arah kijang tadi, ada batu lain yang menghancurkan batuku. Tentu engkau yang menyambitkan batu itu, bukan? Nah, untuk menyambit batuku begitu tepat sampai dapat menghancurkan, engkau pasti mempunyai kepandaian tinggi dan tenaga yang kuat.”

“Wah, ternyata engkau cerdik juga, Kong-ko. Akan tetapi tenagaku hanya untuk membela diri, bukan untuk mengangkut barang berat dan mencari uang. Ehh, dan engkau sendiri, bukankah selain bekerja berat engkau juga suka mencuri barang para hartawan kikir?”

“Tidak, aku tidak pernah mencuri!”

“Hemm, kalau begitu dari mana engkau memperoleh sepasang gelang permata itu?”

Si Kong terkejut dan heran sekali. Bagaimana bocah ini bisa tahu bahwa dia menyimpan sepasang gelang emas di dalam buntalannya? Dia segera meraih buntalan itu yang tadi diletakkan di atas tanah, dekat pengemis muda itu duduk. Ketika memeriksanya, ternyata buntalan gelang itu telah lenyap! Si Kong menjadi semakin bingung.

Pengemis muda itu tertawa. “Ha-ha, apakah ini yang kau cari, Kong-ko?” Dia mengangkat kantung kain berisi sepasang gelang itu ke atas sambil meloncat berdiri.

“Jadi engkau yang telah mencopetnya! Kembalikan!” Tangan Si Kong meraih, akan tetapi Siangkoan Ji menarik tangannya sehingga sambaran tangan Si Kong itu luput.

“Ha, engkau memiliki sepasang gelang yang berharga mahal, akan tetapi engkau bekerja sebagai kuli kasar, bukankah itu pelit namanya? Ataukah, sepasang gelang ini pemberian pacarmu sebagai tanda mata?” Siangkoan Ji menggoda.

Si Kong cepat meloncat berdiri. “Ji-te, harap jangan main-main. Sepasang gelang itu milik seorang gadis yang dititipkan kepadaku, bukan dari pacarku karena aku tidak mempunyai pacar. Kembalikan padaku!”

“Kalau bukan dari pacarmu, bahkan lebih gawat lagi. Kalau pacarmu mengetahui engkau membawa gelang milik gadis lain tentu dia akan merasa cemburu sekali. Sebaiknya aku yang membawa agar engkau tidak dimarahi pacarmu.”

“Ji-te, jangan main-main! Kembalikan gelang itu kepadaku, cepat!”

“Ha, bukan kebiasaanku untuk memberikan barang yang sudah kuambil. Apa bila engkau mampu, ambillah sendiri dari tanganku!” Pengemis muda itu tertawa-tawa mengejek.

Si Kong menjadi marah. Dia melompat ke depan kemudian menjulurkan tangannya untuk merampas sepasang gelang yang berada di tangan kanan Siangkoan Ji. Namun ternyata pengemis muda itu memiliki gerakan yang cepat sekali. Dia sudah melompat ke samping sehingga sambaran Si Kong menjadi luput.

“Ji-te, kembalikan atau terpaksa aku menggunakan kekerasan!”

“Ha, memang itulah yang kukehendaki. Aku ingin tahu apakah dengan mempergunakan kekerasan engkau akan mampu merampas gelang ini.”

Si Kong kembali meloncat dan menyergap, akan tetapi dengan amat lincahnya pengemis muda itu mengelak ke sana-sini sambil berloncatan. Si Kong menjadi semakin penasaran dan kini dia menjulurkan tangan untuk menangkap pergelangan tangan kanan Siangkoan Ji. Dia sudah menyentuh pergelangan tangan itu, akan tetapi tiba-tiba pengemis muda itu menendang ke arah dadanya.

Karena tendangan itu sangat cepat dan mengandung tenaga sinkang yang kuat, terpaksa Si Kong melepaskan pegangannya pada pergelangan tangan dan mengelak ke belakang. Sekarang Si Kong maju sambil menyerang dengan memainkan ilmu Yan-cu Hui-kun (Silat Burung Walet Terbang). Gerakannya cepat bukan kepalang seperti seekor burung walet di udara.

Pengemis muda itu mengeluarkan seruan kaget dan dia pun menggunakan ginkang yang hebat untuk dapat mempertahankan sepasang gelang di tangan kanannya, malah kini dia pun balas menyerang sehingga kedua orang muda itu kini saling serang dengan serunya.

Si Kong mendapat kenyataan bahwa pemuda pengemis ini tidak saja bisa bergerak cepat, akan tetapi juga ilmu silatnya cukup tangguh! Pantas dia berani mengembara dalam usia yang demikian muda. Kiranya dia memang dapat membela diri dengan kuat dan agaknya para penjahat akan sukar mengalahkan pemuda pengemis ini.

Meski pun dia telah mengerahkan ilmu silat Yan-cu Hui-kun, ternyata pemuda itu mampu menandinginya sehingga sampai tiga puluh jurus dia belum dapat merampas gelang atau merobohkannya! Tidak ada jalan lain bagi Si Kong kecuali menggunakan Thi-khi I-beng.

Sebetulnya dia sudah dipesan oleh Ceng Lojin supaya tidak sembarangan menggunakan Thi-khi I-beng. Akan tetapi pemuda pengemis itu terlalu cepat gerakannya, dan kalau dia menggunakan Hok-liong Sin-ciang maka dia khawatir akan melukainya. Hal ini tidak ingin dia lakukan. Dia harus merampas kembali gelang emas permata itu, akan tetapi tak mau membuat pemuda pengemis itu cedera atau terluka dalam tubuhnya. Satu-satunya jalan untuk merampas sepasang gelang itu tanpa melukainya hanyalah dengan menggunakan Thi-khi I-beng.

Ketika tangan kiri pemuda pengemis itu menyambar dan menghantam ke arah dadanya, Si Kong menerimannya dengan dada tanpa mengelak sedikit pun.

“Plakk!”

Tangan pemuda remaja itu mengenai dadanya dan melekat, kemudian Si Kong menyedot tenaga sinkang pemuda itu. Pemuda itu terkejut setengah mati dan berusaha melepaskan tangannya yang tersedot dan melekat di dada itu. Dengan mudah Si Kong lalu merampas sepasang gelang di tangan kanan pemuda itu, lalu melepaskan tenaga Thi-khi I-beng dan melompat mundur.

Pengemis muda itu memandang kepadanya dengan mata terbelalak. “Kong-ko, engkau menggunakan ilmu setan apakah?” tegurnya setengah bertanya.

Si Kong tersenyum. “Ilmu itu namanya ilmu merampas gelang.” Dengan tenang Si Kong segera menyimpan kembali buntalan sepasang gelang itu ke dalam buntalan pakaian, lalu memanggul tongkat bambunya di ujung mana buntalan pakaian itu tergantung.

“Kong-ko, ternyata engkau mempunyai ilmu kepandaian tinggi. Dalam perkelahian tangan kosong aku mengaku kalah, akan tetapi kalau saja aku mempunyai sebatang pedang, aku yakin dapat mengalahkanmu.”

“Syukurlah bahwa engkau tidak mempunyai sebatang pedang, Ji-te. Karena aku tak mau berkelahi denganmu. Engkau pun lihai sekali. Gurumu tentu seorang tokoh besar dalam perkumpulan pengemis. Akan tetapi kenapa seorang pemuda yang demikian lihai seperti engkau berkeliaran di sini dan berpakaian pengemis?”

“Aku hendak menonton keramaian di bukit depan itu,” dia menuding ke arah bukit yang tampak menjulang di depan mereka, lalu tiba-tiba saja pengemis itu berseru, “Hei, jangan-jangan engkau salah seorang di antara mereka!”

“Mereka siapa?”

“Mereka yang hendak bertanding di sini untuk meperebutkan Pek-lui-kiam.”

Diam-diam Si Kong terkejut. “Aku bukan anggota dari partai mana pun juga dan aku tidak hendak bertanding di bukit itu. Apakah seorang di antara mereka telah menguasai pedang Pek-lui-kiam yang kabarnya diperebutkan orang-orang persilatan itu?”

“Aku sendiri tidak tahu. Mungkin juga begitu. Aku hanya mendengar bahwa besok pagi-pagi datuk-datuk besar akan mengadakan pertemuan di sana untuk memperebutkan Pek-lui-kiam. Kalau engkau bukan seorang di antara mereka, marilah kita menonton, Kong-ko! Tentu akan ada pertunjukan menarik di sana!”

Si Kong mengangguk. Tanpa diminta pun dia tentu akan pergi ke sana kalau pedang Pek-lui-kiam yang diperebutkan. Dia sendiri telah menyanggupi permintaan Tan Kiok Nio untuk mencari kakek berjubah merah yang membunuh orang tua gadis itu dan merampas Pek-lui-kiam.

“Baik, aku akan ikut denganmu,” jawabnya.

“Akan tetapi engkau harus bersembunyi, Kong-ko, dan tak boleh sembarangan keluar dari tempat persembunyianmu. Mereka adalah para datuk yang tidak segan membunuhmu!”

“Jangan khawatir, Ji-te, aku akan menuruti nasehatmu,” jawab Si Kong sambil tersenyum.

“Kita melewatkan malam di dalam hutan di kaki bukit itu, dan besok pagi-pagi barulah kita mendaki bukit.”

Si Kong hanya menurut saja dan pemuda jembel itu menjadi penunjuk jalan. Agaknya dia sudah hafal benar dengan keadaan di situ dan setelah tiba di kaki bukit, dia mengajak Si Kong memasuki sebuah hutan.

“Di sana ada bekas kuil kecil yang sudah tidak dipergunakan lagi. Kita melewatkan malam di sana,” kata Siangkoan Ji.

Benar saja, setelah sampai di tengah hutan itu, Si Kong melihat sebuah bangunan yang sudah bobrok saking tuanya dan tidak terawat. Dindingnya sudah menjadi hijau oleh lumut dan atapnya juga banyak yang pecah. Pada waktu hujan tentu kuil ini kebocoran di mana-mana.

Mereka memasuki kuil kecil itu. Di ruangan tengah terdapat sebuah arca batu yang juga sudah penuh lumut sehingga sukar dikenal lagi arca siapakah itu. Akan tetapi Siangkoan Ji memberi hormat kepada arca itu dan perbuatannya ini lantas diikuti oleh Si Kong. Yang dibuatkan arca tentu sebangsa dewa atau orang suci budiman yang patut dihormati.

Di sudut ruangan belakang terdapat lantai yang bersih. Agaknya sudut itu sering dipakai oleh para pemburu binatang untuk mengaso sehingga lantainya bersih sekali.

“Nah, kita akan melewatkan malam di sini, Kong-ko.”

“Baiklah, aku mau pergi keluar sebentar.”

“Mau ke mana, Kong-ko?”

“Untuk mencari kayu bakar.”

“Untuk apa?”

“Ji-te, malam nanti hawanya tentu sangat dingin dan nyamuknya banyak sekali. Membuat api unggun bisa mengusir nyamuk dan melawan hawa dingin. “ Si Kong lalu menunjuk ke arah kanan di mana terdapat abu dan arang. “Mereka yang pernah bermalam di sini juga membuat api unggun.”

“Untuk mengusir nyamuk aku tidak membutuhkan api unggun, dan untuk menahan udara dingin aku pun kuat. Akan tetapi kalau engkau memang membutuhkannya, silahkan saja mencari kayu bakar.”

Si Kong tersenyum. “Aku ingin sekali melihat bagaimana caranya engkau akan mengatasi kegelapan yang pekat malam ini tanpa api unggun.”

“Malam nanti aku tidur, terang atau gelap sama saja bagiku,” jawab Siangkoan Ji sambil tersenyum pula. Si Kong lalu keluar dari situ dan mengumpulkan kayu-kayu kering yang kiranya cukup untuk membuat api unggun semalam suntuk.

Ketika Si Kong memasuki kuil itu sambil memanggul sebongkok kayu kering, dia melihat Siangkoan Ji sedang mengoleskan bagian tubuhnya yang tidak tertutup pakaian dengan semacam minyak dari botol kecil. Kedua tangan sampai ke siku lalu kaki bagian atas yang tidak tertutup sepatu, dan terutama muka dan lehernya.

“Apa itu, Ji-te?”

“Inilah obat istimewa penolak serangga macam serangga dan nyamuk. Kalau ada nyamuk berani hinggap di kulitku, maka binatang itu akan tewas seketika!”

Si Kong menurunkan kayu bakar dan memeriksa botol minyak itu, dibukanya kemudian diciumnya. “Ahh, ini racun hebat dan berbahaya!” katanya sambil mengembalikan botol itu kepada pemiliknya.

Siangkoan Ji tertawa. “Tidak berbahaya bagi manusia, asalkan jangan diminum. Tapi bagi nyamuk merupakan cairan maut, baru menciumnya saja sudah bisa membunuh binatang itu.”

“Dari mana engkau memperoleh racun itu, Ji-te?”

“Aku membuatnya sendiri,” kata Siangkoan Ji bangga.

Si Kong mengerutkan alisnya. Pemuda remaja ini penuh rahasia. Di samping ilmu silatnya tinggi, juga agaknya dia ahli racun. Akan tetapi dia diam saja.

Sesudah hari mulai gelap, apa yang dikhawatirkan Si Kong tadi langsung terbukti. Banyak sekali nyamuk yang datang ke tempat itu! Akan tetapi Siangkoan Ji enak-enak saja dan Si Kong melihat sendiri pemuda itu menjulurkan tangan agar digigit nyamuk. Beberapa ekor nyamuk menyerang tangan itu dan nyamuk-nyamuk itu langsung berjatuhan, mati!

Dia sendiri langsung menjadi korban gigitan nyamuk, maka cepat-cepat dia membuat api unggun barulah nyamuk-nyamuk itu terbang pergi. Dan bersama gelapnya malam, datang hawa dingin. Akan tetapi api unggun itu mendatangkan kehangatan.

Siangkoan Ji menggunakan daun-daun pohon untuk menyapu lantai, lalu dia merebahkan diri. “Aku mau tidur di sini, Kong-ko. Kalau engkau mau tidur, carilah tempat sendiri.”

“Kau tidurlah, Ji-te. Aku akan menjaga api unggun supaya tidak sampai padam.” Dia lalu duduk bersila di dekat api unggun.

Tak lama kemudian Siangkoan Ji sudah tidur pulas. Si Kong dapat mengetahui hal ini dari pernapasannya yang lembut dan panjang. Dia sendiri lalu memejamkan mata akan tetapi tidak tidur, hanya mengendurkan seluruh urat syarafnya untuk beristirahat.

Lewat tengah malam, tiba-tiba Si Kong mendengar suara orang berbicara di luar kuil. Dia segera waspada dan cepat bangkit berdiri, kemudian berindap-indap keluar dari kuil untuk melihat siapa yang bicara itu. Karena di luar gelap, dia hanya melihat dua bayangan orang sedang bicara. Mereka memegang sebatang golok dan menghampiri kuil dengan langkah perlahan.

“Tentu di dalam ada orang. Api unggun itu pasti ada yang membuatnya,” terdengar suara yg parau.

“Siapa pun dia tetap harus kita periksa. Kalau dia adalah musuh, maka sekarang juga kita bereskan,” jawab suara yang tinggi.

“Akan tetapi, apakah tidak lebih baik kalau kita memberi tahu teman-teman, siapa tahu di dalam ada orang lihai?”

“Ahh, selihai-lihainya mana mungkin mampu menandingi kita berdua. Kalau diberi tahukan kepada teman-teman, kita yang rugi. Siapa tahu orang itu membawa barang berharga!”

“Dan mungkin saja ada wanitanya yang cantik!” si suara parau tertawa perlahan.

“Sssttt, jangan keras-keras, nanti mengejutkan orang dan kalau orang itu lari melalui pintu belakang, akan sulitlah menemukan dia dalam gelap begini.”

Si Kong sudah hendak keluar menjumpai dua orang itu, akan tetapi tiba-tiba dua orang itu menjerit.

“Aduhhh...!”

“Ahhh...! Lari, hayo kita lari!” Lalu terdengar suara dua orang itu melarikan diri.

Tentu saja Si Kong menjadi heran sekali dan cepat dia menengok ke belakang. Ternyata Siangkoan Ji sudah tidak berada di tempat dia tertidur tadi. Lalu tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan pemuda pengemis itu tahu-tahu sudah duduk di tempatnya.

“Ji-te, kenapa kau lakukan itu?” Si Kong menegur karena dia sudah dapat menduga tentu Siangkoan Ji yang menyebabkan dua orang tadi mengaduh dan melarikan diri.

“Aku melakukan apa?” Pemuda remaja itu berbalik bertanya.

“Engkau yang menyebabkan kedua orang itu mengaduh dan melarikan diri, bukan?”

“Apakah engkau lebih senang melihat mereka masuk lantas menyerang kita dengan golok mereka?”

“Hemm, tadi engkau tidur pulas, bagaimana dapat mengetahui kedatangan mereka?”

“Telingaku peka sekali, Kong-ko. Sedikit suara saja sudah cukup membangunkan aku.”

“Apa yang kau lakukan tadi sehingga mereka mengaduh?”

“Ha-ha-ha, apakah engkau tidak bisa menduganya? Aku menimpuk mereka dengan batu-batu. Ah, mereka lari ketakutan, tentu mengira ada setan mengganggu mereka!” pemuda itu tertawa senang.

Thanks for reading Pendekar Kelana Jilid 08 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »