Pedang Ular Merah Jilid 03

PEDANG ULAR MERAH JILID 03

Pemuda murid Hek Sin-mo ini sudah membuktikan kepandaiannya dan kalau saja ia bisa mendapat bantuan pemuda ini, alangkah baiknya!

"Kalau begitu, marilah kita berangkat, taihiap. Kota Hun-leng tidak berapa jauh lagi dari sini."

Demikianlah Eng Eng lalu mengikuti Ting Kwan Ek menuju ke Hun-leng. Sampai pada saat itu, Eng Eng belum memberitahukan namanya dan Ting piauwsu juga tidak berani mendesaknya, takut kalau kalau pemuda aneh ini menjadi marah dan membatalkan niatnya mengunjungi Hun-leng.

Pek eng-to Ouw Tang Sin si golok garuda putih adalah seorang berusia kurang lebih empat puluh lima tahun. Biarpun ia sudah termasuk golongan tua, namun melihat potongan tubuhnya yang kekar kuat dan mukanya yang gagah, ia masih nampak muda dan terhitung tampan menarik.

Ouw Tang Sin yang kini lebih terkenal dengan sebutan Ouw piauwsu setelah mengepalal Pek eng Piauwkiok, sesungguhnya adalah seorang ahli silat yang mempunyai jiwa gagah dan budiman. Akan tetapi ia mempunyai cacat batin, yakni bersifat mata keranjang, lstrinya masih muda berusia dua puluh lima tahun dan cantik pula. Akan tetapi agaknya Ouw-piauwsu masih belum puas dan masih selalu main-main di Iuar sungguhpun ia tidak mau melakukan gangguan mengandaIkan kepandaiannya.

Betapapun juga ia kini mempunyai banyak uang, wajahnya tampan, namanya terkenal. maka mudahlah baginya untuk mencari kekasih di luar. Hal ini membuat istrinya selalu menaruh hati cemburu. Ouw Tang Sin tinggal di rumah yang besar dan di situ ia membuka kantor piauwkiok. Juga Ting Kwan Ek, sutenya, setelah bekerja membantunya lalu pindah bersama isteri dan dua orang anaknya di rumah itu pula, menempati bangunan sebelah kiri.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, setelah Ting-piauwsu datang membantu, Ouw plauwsu menjadi malas dan jarang sekali menguruskan piauwkiok, cukup ia serahkan kepada sutenya saja. la Iebih senang pergi main-main dengan kawan-kawannya bermain judi atau mencari kekasih baru di lain kota!

Selain Ouw piauwsu dan Ting piauwsu berdua yang mengepalai perusahaan ekspedisi ini, disitu terdapat juga pembantu yang jum-lahnya sampai dua puluh orang. Barang-barang yang dipercayakan kepada Pek eng Piauwkiok amat banyak dan barang barang ini harus dikirimkan ke banyak tempat. Untuk mengirimkan barang-barang kecil yang begitu berharga, cukup dilakukan oleh para pembantu.

Serombongan diantar oleh sedikitnya lima orang piauwsu dan cukup ditancapi bendera garuda Putih tanda bahwa barang-barang itu dilindungi oleh Pek-eng Piauwkiok. Untuk benda-benda kiriman yang berharga, maka barulah Ting piauwsu turun tangan sendiri untuk mengawal barang itu. Dua puluh orang pembantu ini boleh juga disebut murid-murid dari Ouw piauwsu karena biarpun ketika masuk bekerja di situ mereka telah memiliki kepandaian silat yang sudah diuji oleh Ouw piauwsu, namun mereka masih mendapat latihan-latihan ilmu golok Pek eng to yang Iihai!

Oleh karena pengaruh Pek-eng Piauw-kiok masih besar dan namanya makin terkenal, maka sampai bertahun-tahun belum pernah kiriman barang yang mereka kawal itu diganggu oleh penjahat. Perampok-perampok akan berpikir masak-masak dahulu sebelum berani meraba kumis harimau, yakni sebelum mengganggu barang yang dilindungl oleh Pek-eng Piauwkiok.

Pada hari itu kebetulan Ouw Tang Sin berada di rumah. Ketika ia melihat Ting Kwan Ek datang bersama seorang pemuda yang tampan dan bermuka putih, ia merasa heran, lain bangun menyambut.

"Bagaimana, sute? Tidak ada gangguankah di jalan dan apakah patung itu sudah kau bawa dengan aman!" tanyanya tanpa memperdulikan Eng Eng karena disangkanya bahwa pemuda itu tentu seorang langganan saja.

"Aman? Ah, suheng, hampir saja celaka. Jangankan patung itu, bahkan nyawaku sendiri hampir saja melayang dalam tangan Ban Yang Tojin."

Ouw Tang Sin menjadi pucat. "Apa? Orang kedua dari Thian-te Sam-kui itu turun tangan kepadamu? Dan bagaimana selanjutnya?"

Ting piauwsu lalu menggerakkan tangannya dan Eng Eng yang mendengarkan percakapan itu dengan sikap tidak mengacuhkan.

"kalau tidak ada In-kong (tuan penolong) yang gagah perkasa ini tentu sutemu sekarang hanya tinggal nama saja dan nama besar Pek-eng Piauwkiok kita akan hancur!"

Baru sekarang Ouw Tang Sin menengok dan memandang kepada Eng Eng. Ia merasa heran dan masih belum mengerti akan maksud ucapan sutenya. Dengan cara bagaimanakah seorang pemuda lemah seperti ini menolong nyawa sutenya?

"Apa maksudmu, sute? Bagaimanakah kong-cu (tuan muda) ini dapat menolongmu?"

Ting piauwsu dapat mengerti mengapa suhengnya menjadi heran, dan dengan senyum bangga ia berkata, "Tentu saja dengan mengalahkan Ban Yang Tojin!"

Kini benar-benar Ouw Tang Sin melongo. "Apa? Ban Yang Tojin kalah dengannya...? Sute, jangan kau main-main!"

Ting piauwsu tertawa dan sambil menjura ia berkata kepada Eng Eng. "Taihiap, perkenalkanlah. Ini adalah suhengku yang bernama Ouw Tang Sin, kepala dari Pek-eng Piauwkiok. Dan suheng, kongcu ini adalah..."

Sampai di sini Ting Kwan Ek nampak bingung karena sesungguhnya ia belum tahu siapa nama penolongnya yang muda ini! Eng Eng tersenyum, mengangguk kepada Quw Tang Sin dan berkata,

"Suhu menyebutku Eng Eng dan kalau tidak salah namaku adalah Suma Eng."

Tentu saja Ouw Tang Sin dan Ting Kwan Ek saling pandang dengan heran. Di mana ada orang memperkenalkan namanya dengan tambahan kata-kata kalau tidak salah? Bagaimana orang bisa merasa ragu-ragu atas namanya sendiri? Dan pula, nama Eng Eng lebih patut dipergunakan oleh seorang wanita!

Setelah untuk sejenak berdiri melenggong, akhirnya Ting piauwsu ingat masih saja berdiri berhadapan maka buru-buru ia lalu mempersilakan Eng Eng duduk. Dengan tidak sabar Ouw Tang Sin lalu bertanya kepada sutenya tentang peristiwa yang terjadi. Ketika Ting piauwsu menceritakan betapa ia hampir terbunuh kemudian betapa Suma Eng mengalahkan Ban Yang Tojin, Ouw Tang Sin merasa sukar sekali untuk dapat percaya omongan adik seperguruannya.

Pada saat itu, muncullah dua orang wanita dan dua orang anak kecil. Mereka ini adalah nyonya Ting, nyonya Ouw, dan kedua orang anak dari Ting piauwsu. Nyonya Ting adalah seorang wanita yang berwajah sabar dan manis budi, nyonya Ouw juga berwajah cantik, akan tetapi dalam pandangan Eng Eng adalah seorang wanita muda yang cantik dan genit. Sepasang mata nyonya Ouw yang bening itu mengerling kepadanya dengan genitnya.

Sebagai seorang wanita, tentu saja Eng Eng lebih senang berkenalan dengan wanita pula, maka ketika ia diperkenalkan, ia lalu bangkit berdiri, menghampiri mereka dan ia lalu memegang tangan nyonya Ting dan nyonya Ouw sambil berkata,

"Cici, aku girang sekali dapat berkenalan dengan kalian!" Eng Eng masih ingat bahwa terhadap seorang wanita yang lebih tua, harus menyebut cici!

Bukan main kagetnya semua orang melihat perbuatan ini. Ting Kwan Ek, Ouw Tang Sin sampai melompat bangun dari tempat duduk mereka dengan mata terbelalak. Sedangkan kedua orang nyonya muda itu tersipu-sipu dan muka mereka menjadi merah sekali. Nyonya Ting memandang marah, akan tetapi nyonya Ouw memandang wajah yang tampan itu dengan senyum di bibir dan kembali kerling matanya menyambar ganas!

Akan tetapi Eng Eng tidak memperdulikan ini semua karena ia merasa tidak tahu akan perasaan hati mereka. Ia lalu melihat anak bungsu dari keluarga Ting, seorang anak perempuan berusia lima tahun. Sambil tersenyum Eng Eng lalu berjongkok, mencium anak ini dan menggendongnya dan menimang-nimangnya.

"Adik yang manis? Mari bermain-main dengan cici."

Empat orang yang tadinya melongo itu kini saling pandang dan meledaklah suara ketawa mereka. Eng Eng menjadi terheran dan cepat memandang, lalu bertanya,

"Eh... eh, apakah yabg kalian ketawakan?"

Nyonya Ting lalu memegang tangannya dan berkata, "Sesungguhnya, bukankah kau seorang perempuan?"

"Eh, cici, kau ini aneh benar. Siapa bilang bahwa aku adalah seorang laki laki!"

Ting piauwsu memukul-mukul kepalanya sendiri sambil tertawa geli, lalu berkata, "Sungguh lucu dan sungguh bodoh aku ini. Mengapa mataku seperti buta, tidak tahu bahwa kau adalah seorang lihiap (pendekar wanita)? akan tetapi, mengapa kau diam saja dan tidak mau menyangkal ketika aku menyebutmu-taihiap? Ah, nona, kau benar-benar telah mempermainkan aku!"

"Siapa yang mempermainkan orang? Dan mengapa kau mengira bahwa aku seorang laki-laki?" tanya Eng Eng sambil menurunkan anak perempuan itu dari gendongan.

"Pakaianmu... siapa yang mengira bahwa kau seorang wanita??"

"Mengapa pula pakaianku? Aku memang sudah seringkali mengenakan pakaian seperti ini," jawab Eng Eng.

Tiba tiba teringatlah Ting Kwan Ek bahwa gadis perkasa ini adalah murid dari Hek Sin-mo yang miring otaknya, maka kembali timbul dugaannya kalau-kalau gadis ini juga gila seperti gurunya! Ia berkata kepada suhengnya.

"Suheng, Suma lihiap ini adalah murid tunggal dari Hek Sin-mo!"

Ouw piauwsu tercengang mendengar ini dan iapun timbul dugaan seperti yang dipikirkan oleh sutenya, Ting piauwsu tentu saja tidak mau menyatakan keinginannya mendapat bantuan dari Eng Eng di depan gadis itu, maka ia lalu berkata kepada istrinya.

"Suma lihiap tentu lelah, kau antarkanlah dia ke kamarnya, agar supaya dia bisa beristirahat." Diam-diam ia mengejapkan matanya kepada istrinya itu.

Eng Eng tidak membantah karena ia Iebih senang bercakap-cakap dengan nyonya Ting yang nampak manis budi itu, sedangkan nyonya Ouw yang bernama Lo Kim Bwe itu semenjak tadi memandang dengan muka merah dan terheran-heran. Setelah Eng Eng masuk ke dalam bersama Ting hujin ( Nyonya Ting ) OuW Tang Sin menghela napas dan berkata,

"Sute, sungguh sukar untuk percaya bahwa dia bisa mengalahkan Ban Yang Tojin. Dan dia seorang wanita pula!"

"Akupun heran sekali, suheng. Baru sekarang aku tahu bahwa dia adalah seorang wanita! Sikapnya benar-benar aneh sekali, jangan-jangan dia..." Ting Kwan Ek lalu menunjuk ke arah keningnya sendiri.

"Gurunya terkenal sebagai seorang sakti yang berotak miring." kata Ouw piauwsu yang duduk kembali.

Lo Kim Bwe lalu menyuruh pelayan mengeluarkan minuman untuk mereka berdua, kemudian nyonya muda yang cantik dan genit ini lalu masuk ke ruang dalam untuk ikut bercakap-cakap dengan tamu mereka yang aneh itu.

"Suheng! Betapapun juga, dia benar-benar berkepandaian tinggi." la lalu menceritakan tentang jalannya pertempuran antara Eng Eng dan Ban Yang Tojin sehingga Ouw piauwsu merasa makin terheran-heran.

"Celaka, kau telah menanam bibit permusuhan dengan Thian te Sam kui, bagaimana kalau mereka datang mengganggu kita?"

"Akupun mengkhawatirkan haI ini, suheng. Oleh karena itulah maka aku rnembujuk murid Hek Sin-mo itu untuk suka datang ke sini. Agaknya dia tidak waras otaknya atau memang aneh adatnya. Kalau kita bisa mengikatnya disini kita boleh mempunyai pembantu yang boleh dipercaya."

Ouw Tang Sin mengangguk-angguk menyatakan setuju atas siasat sutenya itu, namun dengan perlahan ia berkata, "Aku masih ragu-ragu dan biarlah aku mencari kesempatan untuk menguji kepandaiannya. Dalam menghadapi Thian-te Sam kui, kita harus berhati-hati. Kau sudah tahu akan keganasan mereka, sute."

"Tentu, suheng. Akan kubujuk agar supaya Suma Eng suka melayani kau menguji kepandaian dan sementara itu lebih baik kita jangan menerima pengiriman barang-barang berharga dan untuk sementara waktu, aku tidak akan pergi dari Hun-leng sehingga sewaktu-waktu datang bahaya, kita bisa menghadapinya bersama-sama."

Sementara itu, setelah berada di dalam kamar bersama nyonya Ting, Eng Eng lalu melepaskan ikat kepala dan buntalannya, kemudian atas permintaan nyonya Ting, ia menceritakan semua pengalamannya semenjak kecil dan hidup di dalam hutan bersama suhunya. Nyonya Ting yang baik hati merasa sangat terharu dan tahulah ia kini bahwa Eng Eng sama sekali bukannya berotak miring, akan tetapi adatnya yang aneh timbul oleh karena ia tidak mengetahui tata susila kehidupan masyarakat ramai.

la minta agar supaya Eng Eng berganti pakaian dan setelah buntalan dibuka, ia melihat bahwa di antara pakaian dara perkasa itu terdapat beberapa stel pakaian wanita yang cukup Indah, hasil curian Hek Sin-mo.

"Adik Eng Eng yang baik, sesungguhnya seorang wanita harus mengenakan pakaian wanita pula, karena pakaian yang kau pakai tadi adalah pakaian untuk laki-laki. Kecuali kalau memang kau hendak menyamar agar memudahkan perantauanmu, tiada halangan kau mengenakan pakaian laki-laki..."

Sambil tertawa-tawa karena tidak mengerti betul Eng Eng lalu mengenakan pakaian wanita dibantu oleh Ting Hujin yang baik hati dan ramah tamah. Setelah ia mengenakan pakaian itu, Ting hujin sendiri memandang kagum dan beberapa kali mengeluarkan ucapan memuji. Memang kecantikan yang dimiliki oleh Eng Eng adalah kecantikan yang wajar, kecantikan yang sama sekali tidak tersentuh oleh bantuan Iuar berupa bedak ataupun yanci.

Bahkan gadis ini tidak pernah menyisir rambutnya akan tetapi oleh karena selama tinggaI di dalam hutan ia selalu mandi dan mencuci rambutnya dengan semacam daun yang berbusa, rambutnya bersih, hitam dan halus. Kini nyonya Ting yang merasa kagum meIihat kecantikannya dan sayang melihat kemurnian dan ketulusannya, lalu menghias gadis itu seperti menghias seorang calon pengantin.

Makin bertambah kemolekan Eng Eng dan ketika nyonya Ouw masuk ke dalam kamar kecantikan nyonya muda yang banyak dibantu oleh hiasan ini nampaknya muram dan tidak berarti! la berdiri dengan mata terbelalak heran dan kagum.

"Aduh hampir aku tak dapat percaya bahwa pemuda tampan tadi kini telah menjadi seorang gadis cantik jelita" katanya.

Sambil tersenyum-senyum ia menghampiri, Eng Eng meras tidak enak dan entah mengapa, ia tidak suka kepada nyonya muda yang berbedak tebal, bermata genit dan berbau harum menyolok di hidung karena memakai wangi-wangian ini.

Demikianlah, semenjak hari itu Eng Eng menjadi murid nyonya Ting, menerima pelajaran tentang tata susila dan kesopanan seorang wanita. Baru sekarang terbuka matanya terhadap kehidupan manusia di dunia ramai. Karena menganggap bahwa Eng Eng sudah cukup dewasa untuk mempelajari kesopanan dan batas persoalan laki-laki dan wanita. Nyonya Ting lalu memberi keterangan tentang segala macam hal itu.

Berbeda dengan nyonya Ouw yang pandai ilmu silat, Nyonya Ting ini adalah seorang terpelajar dan dengan halus ia memberi pelajaran kepada Eng Eng tentang prikemanusiaan dan sopan-santun. Bahkan ia hendak memberi pelajaran ilmu membaca kepada Eng Eng akan tetapi Eng Eng tidak suka dan tidak sabar mempelajarinya.

Eng Eng merasa suka tinggal di samping nyonya Ting yang manis budi. Ia suka pula kepada kedua anak kecil putera dan puteri Ting-piauwsu dan memberi pelajaran dasar-dasar ilmu silat kepada mereka. Perhubungannya terhadap Ting piauwsu dan Ouw piauwsu tetap baik dan terbuka. Biarpun ia kini telah mendengar dari nyonya Ting tentang kekurang-ajaran laki-laki terhadap wanita, namun kebebasannya masih belum dapat dikekang dan ia bergaul dengan kedua orang kepala piauwkiok dengan ramah dan terbuka. la tidak merasa sungkan untuk makan bersama-sama mereka, untuk duduk mengobrol sampai jauh malam!

Tentu saja kecantikan gadis ini dan keramahan serta kejenakaannya memabokkan kepala Ouw-piauwsu yang terkenal mata keranjang! Hatinya berdebar-debar keras apabila ia bercakap-cakap dengan Eng Eng dan gadis ini mengobral senyumnya yang manis, sungguhpun senyum itu bersih dan jujur.

Kalau dulu nyonya Ouw, yakni Lo Kim Bwe tergila-gila kepada Eng Eng ketika dara pendekar ini datang sebagai seorang pemuda, kini rasa cintanya ini berobah kebencian yang hebat berdasarkan cemburu terhadap Eng Eng yang ramah tamah dan manis budi terhadap laki-laki yang manapun, juga membuat hati Lo Kim Bwe menjadi panas dan ia menyangka bahwa suaminya bermain gila dengan Eng Eng!

Kim Bwe adalah puteri seorang perampok besar. Lima tahun yang lalu ketika Ouw Tang Sin sedang mengantarkan barang berharga ke kota raja, di tengah hutan ia diganggu oleh kawanan perampok yang dikepalai oleh Lo Beng Tat, perampok yang telah terkenal karena ilmu silatnya yang tinggi. Lo Beng Tat mempunyai banyak sekali anak buah sedikitnya ada lima puluh orang perampok yang menjadi kaki tangannya.

Ouw Tang Sin tentu saja tidak mau menyerah dan dibantu oleh anak buahnya, ia melakukan perlawanan hebat sehingga banyak sekali perampok yang tewas oleh amukannya. Akan tetapi ia harus menyerah karena tidak saja kepala perampok she Lo itu tangguh sekali, juga ia dikeroyok oleh banyak orang. Enam orang kawannya tewas dalam pertempuran itu dan ia sendiri kena ditawan oleh Lo Beng Tat.

Lo Beng Tat merasa kagum melihat kegagahan Ouw piauwsu. Perampok ini mempunyai dua orang anak, yakni yang sulung seorang laki-laki bernama Lo Houw yang memiliki kegagahan seperti ayahnya. Anak kedua yang bungsu, bernama Lo Kim Bwe yang cantik jelita dan juga pandai ilmu silat pula. Melihat kegagahan Ouw piauwsu timbul niatan untuk mengambil mantu piauwsu ini.

Dengan perantaraan seorang perampok tua kepala rampok itu menyampaikan kehendaknya kepada Ouw Tang Sin. Tentu saja Ouw piauwsu tidak sudi menerima pinangan ini. Ia memang belum menikah sungguhpun usianya telah tiga puluh tahun lebih, akan tetapi siapa mau dipunggut mantu seorang kepala rampok? Dan pula, seorang perampok yang hidup seperti orang liar di dalam hutan mana bisa mempunyai seorang anak gadis yang patut dan cantik?

Akan tetapi, ketika ia melihat Kim Bwe, puteri kepala rampok itu, ia menjadi melongo! Gadis yang berusia dua puluh tahun itu benar-benar cantik jelita seperti puteri bangsawan, matanya kocak dan pinggangnya ramping. Ditambah oleh gaya Kim Bwe yang memang genit menarik, hati Ouw piauwsu yang mata keranjang ini dengan mudah jatuh terpikat. Akhirnya ia menerima juga dan dikawinkanlah mereka di dalam hutan itu!

Tak lama kemudian, Ouw piauwsu lalu mengajak istrinya pulang ke Hun-leng dan melanjutkan pekerjaannya. Dua bulan kemudian semenjak Eng Eng tinggal di rumah Pek-eng Piauwkiok, Baik Ouw-piauwsu maupun Ting piauwsu selama dua bulan itu tidak berani meninggalkan rumah, takut kalau datang gangguan dari Ban Yang Tojin dan kawan-kawannya. Antaran barang-barang dilakukan oleh anak buah mereka saja.

Pada suatu bari, Ouw piauwsu dan Ting piauwsu bercakap-cakap dengan Eng Eng yang kini mengenakan pakaian wanita yang ringkas dan mencetak tubuhnya sehingga tidak saja ia nampak manis molek, akan tetapi juga nampak gagah sekali.

"Suma lihiap, kau tentu sudah maklum bahwa keadaan kami dan perusahaan kami berada dalam bahaya dan ancaman. Ban Yang Tojin yang dulu pernah kau kalahkan." kata Ting Kwan Ek kepada Eng Eng.

"Ting twako, mengapa orang macam Ban Yang Tojin saja harus ditakuti? Kalau dia memang penasaran, biarkan ia datang ke sini untuk mencari penyakit!" jawab Eng Eng.

Memang, atas permintaan Ting hujin, Eng Eng selanjutnya menyebut twako (kakak) kepada Ting-piauwsu. Akan tetapi kepada Ouw Tang Sin ia tidak mau menyebut kakak, dan bahkan menyebut Ouw piauwsu saja! Entah mengapa mungkin perasaan wanitanya yang halus, sungguh ia sendiri tidak tahu mengapa ia merasa kurang suka kepada Ouw Tang Sin dan isterinya.

Namun, ia selalu ingat akan pelajaran yang diterimanya dari Ting hujin bahwa seorang wanita harus dapat menyimpan perasaan hatinya dan jangan memperlihatkan apa yang dipikir dan dirasainya kepada orang lain. Oleh karena ini ia dapat menekan perasaan tidak sukanya dan bersikap biasa terhadap Ouw Piauwsu dan nyonyanya.

"Nona, kau tidak tahu..." kata Ouw Tang Sin mendengar gadis itu memandang rendah Ban Yang Tin. "Ban Yang Tojin hanyalah orang kedua dari tiga iblis yang terkenal dengan nama Thian-te Sam-kui. Kita telah menyakiti hati Ban Yang Tojin dan aku merasa kuatir kalau-kalau Ban Yang Tojin akan datang mengganggu kita bersama dua orang saudaranya yang lebih lihai lagi, yaitu Ban Im Hosiang dan Ban Hwa Yang. Kalau sampai mereka bertiga datang, mereka ini sama sekaIi tidak boleh dipandang rendah!"

"Suma lihiap...!" Ting piauwsu menyambung, "Sesungguhnya kami merasa amat bersyukur dengan adanya kau di sini, karena dengan kepandaianmu kami merasa aman dan mengandalkan bantuanmu yang amat berharga untuk menghadapi iblis-iblis jahat itu. Aku sendiri telah menyaksikan kepandaianmu, akan tetapi suheng belum pernah menyaksikannya. Maka, apabila kau tidak berkeberatan, marilah kau layani suheng main-main sebentar agar pengetahuan kami yang rendah mendapat tambahan dan kita dapat mengukur pula sampai dimana kekuatan kita untuk menghadapi mereka."

Seandainya dua bulan yang lalu, Ting Kwan Ek bicara seperti ini mungkin Eng Eng tidak akan mengerti betul maksudnya akan tetapi Eng Eng telah mendapat keterangan yang jelas setiap harinya oleh nyonya Ting tentang keadaan di dunia ramai dan ditambah oleh kecerdikannya, maka tahulah dia bahwa orang she Ouw itu masih belum percaya kepadanya. Ia tersenyum dan bangkit berdiri, lalu berkata,

"Baiklah akupun ingin sekali menyaksikan kehebatan Pek-eng To-hwat seperti yang pernah kudengar dari cici!" Ia selalu menyebut Ting hujin dengan panggilan cici atau kakak perempuan.

Ouw Tang Sin tersenyum puas, dan ia memang sudah bersiap untuk melakukan pibu ini. Pakaian yang dipakainya ringkas dan pendek sedangkan goloknya memang selama ini tak pernah berpisah dari pinggangnya dalam persiapannya menjaga datangnya musuh tangguh. Ia lalu melompat berdiri di tengah lapangan lian bu thia (ruang belajar silat) yang berada di tengah ruangan besar itu sambil mencabut goloknya.

"Bagus, nona. Silakan kau maju memperbaiki sedikit kepandaian!"

Pada saat itu, Lo Kim Bwe muncul dari pintu dalam dan nyonya muda yang juga pandai silat ini lalu menonton dengan hati tertarik. Lo Kim Bwe sendiri memliiki ilmu silat siang-to (sepasang golok) yang cukup lihai, maka kini melihat suaminya hendak mengadu kepandaian dengan nona Suma Eng yang diam-diam dibenci dan dicemburuinya, ia memperhatikan dengan mata tajam. Seperti juga suaminya, nyonya yang pandai ilmu silat inipun telah bersiap untuk menjaga kedatangan musuh-musuh yang tangguh. Bahkan ia telah memberi kabar kepada ayah dan kakaknya untuk datang melakukan penjagaan.

Eng Eng menghampiri Ouw Tang Sin yang sudah memasang kuda-kuda dengan gagahnya, sepasang kaki, dipentang teguh dan goloknya melintang di depan dada. Dengan secara sembarangan saja Eng Eng lalu berdiri dekat dengan piauwsu itu, lalu berkata,

"Nah, kau maju dan seranglah, Ouw piauwsu, Masih menanti apalagi?"

"Mana senjatamu, nona? Keluarkanlah senjatamu agar mataku terbuka dan menyaksikan kelihaianmu."

"Aku tidak biasa menggunakan senjata kalau tidak terpaksa, demikianlah pesan suhuku. Hayo kau seranglah, kalau kiranya aku tidak tahan menghadapi golokmu, tanpa kau minta aku akan mengeluarkan senjata."

Diam-diam Ouw Tang Sin merasa mendongkol juga karena ucapan ini bersifat memandangnya rendah sekali. la lalu majukan kakinya dan menggerakkan tangan kirinya, kemudian berseru,

"Nona, awas golok!" berbareng dengan ucapannya ini, ia menyerang dengan goloknya, menggunakan gerak tipu Pek-eng Tho-sim (Garuda Putih Mencuri Hati).

Dengan gerakan yang cepat sekali goloknya berkelebat menyambar ke arah dada Eng Eng yang masih berdiri dengan tenang, seakan-akan tidak memperdulikan berkelebatnya golok yang menyilaukan mata. Melihat betapa Eng Eng sama sekali tidak mengelak sedangkan goloknya sudah mendekati dada, Ouw-piauwsu menjadi terkejut sekali dan cepat ia menahan serangannya. Orang yang dapat menahan gerakan golok yang cepat itu secara tiba-tiba sudah menunjukkan bahwa ilmu silatnya cukup baik dan tenaganya sudah sempurna, karena ia dapat menguasai tenaga dalam goloknya. Tentu saja Ouw piauwsu tidak tega untuk melukai dada nona cantik yang menarik hatinya itu.

"Ah, nona, mengapa kau tidak mengelak?" tanyanya heran sambil menahan serangannya.

Suma Eng tersenyum mengejek, "Mengapa harus mengelak? Golokmu masih jauh dan tidak dielak juga ternyata kau tarik kembali. Mengapa aku harus bersusah payah mengelak?"

"Kalau diteruskan bukankah kau akan terluka berat?" tanya pula Ouw piauwsu dengan mendongkol juga, merasa dipermainkan.

"Walau kau teruskan seranganmu, tak usah kau suruh tentu akan kuhindarkan bahaya itu..."

"Kau tabah sekali, nona. Nah awaslah seranganku ini!"

Kini Ouw Tang Sin tidak berlaku sungkan lagi dan ia mulai menyerang dengan gerak tipu Garuda Putih Menyambar Air. Goloknya mula-mula diangkat ke atas dan agaknya hendak membabat pinggang akan tetapi tiba-tiba goloknya meluncur ke bawah dan membabat pergelangan kaKi orang!

Eng Eng seperti juga tadi, berdiri dengan sembarangan saja dan ketika golok itu hampir membabat kakinya ia tidak melompat, melainkan mengangkat kaki kirinya dan memapaki golok itu dari atas! Memang luar biasa sekali cara menyambut golok dengan kaki ini. Dengan gerakan yang melebihi cepatnya sambaran golok, kaki yang diangkatnya ini menginjak dengan tiba-tiba dan kalau sambaran golok dilanjutkan golok itu tentu akan kena diinjak-injak sebelum mengenai sasaran.

Ouw Tang Sin terkejut dan juga heran. Tentu saja ia tidak mau membiarkan goloknya terinjak, karena hal ini berarti merupakan penghinaan baginya. Ia menarik kembali goloknya dan ia membacok bertubi-tubi sambil mengeluarkan gerak tipu Garuda Putih Bermain di Awan, sebuah cabang dari ilmu golok Pek-eng To-hwat yang lihai.

Goloknya menyambar-nyambar dengan cepat sekali, berobah menjadi seguluug sinar putih yang lebar dan mendatangkan angin membuat rambut Eng Eng berkibar-kibar. Diam-diam Eng Eng memuji dan maklum bahwa ilmu kepandaian Ouw piauwsu masih lebih tinggi setingkat dari pada ilmu silat Ting Kwan Ek. Akan tetapi hasil serangan-serangan dari Ouw Tang Sin, ini tidak ada sama sekali bahkan akibatnya membuat Ting Kwan Ek dan juga Lo Kim Bwe menjadi bengong saking herannya.

Mereka hanya melihat tubuh Eng Eng bergerak dengan aneh seperti orang menari-nari melenggok ke kanan kiri, kadang-kadang melompat atau menyampok dengan tangannya. Akan tetapi biarpun gerakan tubuh ini nampak aneh dan tidak teratur sama sekali, namun sedikitpun golok di tangan Ouw piauwsu tak pernah mengenai sasaran. Beberapa kali punggung golok itu terkena sampokan tangan Eng Eng dan Ouw piauwsu merasa betapa tangannya tergetar secara aneh!

Cersil karya Kho Ping Hoo Serial Jago Pedang Tak Bernama

Sebetulnya Eng Eng sedang menghadapi Ouw Tang Sin dengan ilmu silat tangan kosong yang disebut Kwan-im Jip-pek-to (Dewi Kwan Im Menyambut atau Masuk Dalam Ratusan Golok) dan mempergunakan ginkang yang sudah sempurna itu untuk menghindarkan diri dari sambaran golok. Akan tetapi oleh karena ilmu silat ini hanya sebagai dasarnya saja, sedangkan gerakannya dilakukan dengan bebas, maka nampaknya tidak karuan dan membingungkan lawan.

Betapapun juga, tidak mudah bagi Eng Eng untuk membalas dengan serangannya. Gerakan golok lawan benar-benar cepat dan bertubi-tubi sehingga ia hanya dapat mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk mengelak dan menjaga diri saja. Ouw Tang Sin adalah seorang ahli silat kawakan yang sudah banyak mengalami pertempuran-pertempuran besar dan ilmu silat serta tenaganya termasuk tingkat tinggi.

Sampai lima puluh jurus lebih Ouw Tang Sin menyerang, namun sedikit juga belum pernah dapat menyerempet ujung baju dara perkasa itu! Diam-diam Ouw Tang Sin terkejut dan tunduk betul. Kini ia tidak ragu-ragu lagi dan mulai percaya akan penuturan sutenya. Siapakah orangnya yang dapat menghadapi goloknya dengan tangan kosong sampai lima puluh jurus tanpa terdesak sama sekali!

Ia mengalami hal yang aneh dalam pertempuran menghadapi Eng Eng ini. Sebagian besar dari serangannya gagal di tengah jalan, bahkan gagal sebelum serangan itu dilancarkan. Beberapa kali, baru saja goloknya hendak digerakkan untuk menyerang, agaknya nona itu sudah maklum dan dapat menduga sehingga selalu mendahuluinya dengan pemasangan kaki atau tangan ke arah jalan darah pada nadi tangannya yang memegang golok. Dangan demikian, apabila serangan ia teruskan, sebelum goloknya mengenai tubuh lawan, terlebih dulu nadinya akan terkena tiamhwat (ilmu totokan) gadis yang sangat lihai itu.

Eng Eng merasa gemas juga melihat betapa Ouw piauwsu belum juga mau mengaku kalah. Menurut patut, setelah dilawan dengan tangan kosong sampai lima puluh jurus tanpa bisa mendapat kemenangan, piauwsu itu sudah harus mengaku kalah. Agaknya orang ini perlu diberi bukti, katanya dalam hati.

Memang Ouw Tang Sin belum merasa puas dan pula ia telah jatuh hati terhadap gadis cantik jelita yang pandai sekali ini. Berpibu melawan Eng Eng dianggapnya sebagai suatu kesempatan yang baik sekali untuk berdekatan dengan gadis itu. Selain demikian, iapun hendak mendesak gadis itu sekuatnya agar supaya gadis ini memperlihatkan kepandaiannya yang terlihai, karena dengan jalan ini akan lebih tebal kepercayaannya untuk mengandalkan bantuan Eng Eng menghadapi Thian-te Sam-kui yang tangguh.

Demikianlah dengan membuta dengan kenyataan bahwa gadis itu berlaku murah dan mengalah terhadapnya. Ouw Tang Sin memutar goloknya makin cepat lagi, mengeluarkan gerak tipu simpanan dari ilmu golok Pek-eng-to-hwat.

Tiba-tiba ia merasa terkejut dan silau matanya karena entah dengan gerakan bagaimana, tahu-tahu gadis itu telah memegang sebatang pedang yang ketika digerakkan mengeluarkan sinar yang menyilaukan mata! Ketika melihat sinar pedang bergulung mengarah lehernya, Ouw Tang Sin cepat menangkis dengan goloknya, akan tetapi bagaikan mempunyai mata, pedang itu dapat mengelak dari benturan dan kini menerobos ke bawah hendak menusuk perutnya!

Ouw Tang Sin terkejut sekali karena gerakan serangan ini seperti serangan sungguh-sungguh dan agaknya perutnya akan tertembus pedang kalau ia tidak cepat bertindak. Untuk mengelak tidak ada waktu lagi, maka ia cepat menyabetkan goloknya ke bawah, ke arah pergelangan tangan lawan! Pikirnya, kalau gadis ini melanjutkan serangannya, tentu pergelangan tangannya akan terbabat putus oleh goloknya!

"Tranggg...!"

Bunga api menyambar dan Ouw Tang Sin cepat melepaskan gagang goloknya. Ketika ia membacok ke bawah tadi, ia telah menggunakan tenaga, maka ketika ditimpa dari atas, tenaga bacokan ke bawah menjadi berlipat kekuatannya sehingga tangannya terasa panas dan sakit.

Setelah goloknya terlepas dan ia melihat ke bawah ternyata bahwa goloknya telah dapat dipatahkan menjadi dua oleh pedang yang luar biasa dan yang bersinar kemerah-merahan itu. Akan tetapi, ketika ia memandang kepada Eng Eng dengan senyum kagum gadis itu sudah bertangan kosong lagi, entah kapan ia menyimpan pedangnya yang luar biasa tadi.

"Hebat, hebat!" Seru Ouw Tang Sin sambil menjura. "Setelah kau bersenjata, dalam tiga jurus saja kau berhasil mengalahkan aku! Ah, nona Suma Eng, kini aku tidak ragu-ragu lagi dan terimalah hormat serta kagumku. Kau benar-benar lihai!"

Eng Eng tidak melayani pujian ini, hanya tersenyum dan dengan tenang duduk kembali ke atas bangku.

"Baru kali ini aku melihat pedangmu yang hebat, lihiap." Kata Ting Kwan Ek dengan girang. "Pedangmu bersinar merah dan dapat kau lilitkan seperti ikat pinggang, benar-benar luar biasa. Pedang apakah gerangan pusakamu itu, Suma lihiap? "

Eng Eng tersenyum puas dan girang mendengar orang memuji pedangnya. "Pedangku ini oleh suhu diberi nama Ang-coa-kiam (Pedang Ular Merah) dan jarang sekali kupergunakan kalau tidak perlu."

Mendengar nama pedang ini, Ouw Tang Sin dan Ting Kwan Ek saling pandang dengan heran.

"Nona Suma Eng, pedang Ang-coa-kiam adalah pusaka milik Kim liong-pai di Liong san. Bagaimana bisa terjatuh di dalam tanganmu?" Ouw Tang Sin berseru.

Tentu saja Eng Eng tidak tahu apakah yang disebut Kim liong-pai (Partai Naga Emas) dan di mana letaknya bukit Liong-san, maka ia hanya memandang sambil mengerutkan alis karena Ouw piauwsu menyatakan bahwa pedang itu milik orang lain.

Ting Kwan Ek yang lebih cerdik lalu memandang kepada suhengnya dengan sinar mata mencela, kemudian ia buru-buru berkata kepada Eng Eng.

"Suma lihiap, tentu saja pedangmu itu bukan milik orang lain. Hanya saja memang betul bahwa Kim-liong-pai memiliki sebuah pedang pusaka yang namanya juga Ang-coa-kiam. Bolehkah kami melihat pedangmu itu sebentar saja? Kami pernah melihat Ang Coa Kiam dari Kim-liong-pai maka dapat kami mengenal pedang itu."

Eng Eng mengeluarkan pedangnya dan memberikan senjata itu kepada Ting Kwan Ek. Dengan kagum kedua orang piauwsu itu bergantian memeriksa pedang yang luar biasa itu dan Ouw piauwsu segera berkata,

"Ah, bukan? Pedang ini bukan pedang pusaka dari Kim-liong-pai! Pedang Ang Coa Kiam yang menjadi pedang pusaka Kim-liong-pai berbentuk seekor ular merah yang runcing ekornya dan kepalanya menjadi gagang. Pedang ini sama sekali tidak berbentuk ular, hanya warnanya yang agak sama dengan Ang Coa Kiam dari Kim-liong-pai!"

Ting Kwan Ek mengangguk-angguk dan mengembalikan pedang itu kepada Eng Eng. "Memang bukan, akan tetapi kurasa belum tentu Kalah ampuhnya dengan Ang-coa-kiam dan Kim-Liong-pai."

"Jangan bilang demikian, sute. Ang-coa- kiam dari Kim-Liong-pai luar biasa sekali dan telah terkenal di empat penjuru dunia. Apa lagi kalau dimainkan oleh anggota Kim liong-pai yang memiliki ilmu pedang Ang coa-kiam-sut," kata Ouw-piauwsu.

Ting piauwsu tidak menjawab, hanya di dalam hatinya ia menyesal mengapa suhengnya sebodoh itu, karena ucapan ini sama artinya dengan merendahkan nilai pedang dara perkasa itu. Akan tetapi, karena belum lama terjun dalam dunia ramai, Eng Eng tidak merasa demikian, hanya di dalam hati ia ingin sekali mencoba kelihaian perkumpulan Kim liong-pai dengan pedangnya yang bernama Ang coa-kiam itu.

Pada saat itu, dari luar mendatangi dua orang laki-laki yang seorang sudah tua akan tetapi bertubuh tinggi besar, bermuka penuh cambang bauk dan sikapnya kasar sekali, pakaiannya menunjukkan bahwa ia adalah seorang ahli silat, dan di pinggangnya tergantung sepasang golok yang lebar dan berat. Orang kedua masih muda, berusia paling banyak dua puluh lima tahun, juga bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam.

"Cihu, Kami datang?" seru orang muda itu sambil tertawa menyeringai dan matanya tajam mengerling ke arah Eng Eng.

"Ayah! Adik Houw...!"

Lo Kim Bwe yang masih duduk di situ segera melompat berdiri dan dengan wajah girang menyambut kedatangan kedua orang ini. Ouw Tang Sin juga cepat berdiri menyambut dengan muka berseri-seri, sedangkan Ting piauwsu juga berdiri dan memberi hormat kepada orang tua yang baru datang.

Orang tua tinggi besar yang bersikap gagah dan galak seperti Thio Hui tokoh perkasa di jaman Sam-kok ini bukan lain adalah ayah dari nyonya Ouw Tang Sin yang bernama Lo Beng Tat. Adapun pemuda yang tinggi besar bermuka hitam itu adalah adik dari Lo Kim Bwe dan bernama Lo Houw, Kedua orang ini sengaja datang atas undangan Lo Kim Bwe guna membantu dan memperkuat kedudukan Ouw Tang Sin yang mengkhawatirkan datangnya gangguan dari Thian-te Sam-kui.

Ketika mereka berdua ini diperkenalkan kepada Eng Eng, Lo Houw memandang dengan sepasang mata yang lebar. Pandangan ini mengandung kekaguman dan juga kurang ajar sekali sehingga Eng Eng menjadi merah mukanya. Perasaan wanitanya membuatnya merasa malu dan jengah, ia tidak berani menentang pandangan mata orang yang kurang ajar ini.

"Nona Suma Eng, sungguh aku merasa beruntung dan girang sekali mendapat kesempatan bertemu dan berkenalan dengan kau." kata Lo Houw yang pemberani dan sudah biasa menghadapi wanita ini, kemudian ia berpaling kepada Ouw Tang Sin dan bertanya,

"Cihu (kakak ipar)! mengapa kau tidak dulu- dulu memberi kabar bahwa ada nona Suma Eng di rumahmu? Kau harus menceritakan padaku bagaimana nona itu bisa berada di sini. Siapakah ia dan darimana datangnya dan untuk berapa lama ia tinggal di sini?"

Ting Kwan Ek mengerutkan keningnya dan hatinya mendongkol sekali. Diam-diam ia takut kalau Eng Eng menjadi marah, akan tetapi ketika ia mengerling ke arah nona itu, ia melihat Eng Eng menahan senyum dan gadis ini tanpa berkata sesuatu apapun lalu pergi dari situ, kembali ke kamar yang berada dekat kamar Ting hujin.

Eng Eng merasa mendongkol sekali, akan tetapi melihat muka kedua orang piauwsu yang menjadi tuan rumah, ia dapat menekan kemarahannya. Kalau tidak melihat muka kedua orang tuan rumah, tentu ia sudah memberi hajaran kepada laki-laki kasar dan kurang ajar itu. Setelah mendengar keterangan dan pelajaran tentang sopan santun, Eng Eng dapat merasa bahwa orang tinggi besar bermuka hitam memang kurang ajar dan tidak sopan.

Melihat muka Eng Eng yang menjadi merah dan matanya menyinarkan kemarahan, Ting hujin lalu bertanya, "Ah, adik Eng! kau kenapakah? Tidak seperti biasa, kegembiraan yang biasa lenyap sama sekali dari wajahmu, terganti oleh cahaya kemarahan. Ada terjadi apakah gerangan?"

Di antara serumah itu hanya nyonya Ting yang ramah tamah dan manis budi ini saja yang membuat Eng Eng merasa suka tinggal di rumah itu. Ia telah menganggap nyonya muda ini seperti kakaknya sendiri, dan tidak pernah merahasiakan perasaannya Nyonya Ting juga merasa amat sayang dan kasihan kepada nona yang bernasib malang yang sama sekali masih hijau dan gelap akan keadaan kehidupan dunia ramai.

"Cici, kalau kau tidak berada lagi di dalam rumah ini, aku sebetulnya sudah tidak suka lagi tinggal di sini. Hanya kau seorang yang kupercaya dan kusayangi, dan hanya Ting twako yang kuhormati karena iapun menghormati kepadaku. Akan tetapi yang lain-lain... dan terutama sekali dua orang yang baru datang itu! Yang muda sungguh mempunyai mata kurang ajar sekali."

"Hush, jangan keras-keras, adik Eng! Mereka itu adalah keluarga dari Kim Bwe! Mereka itu datang atas undangan nyonya Ouw untuk memperkuat kedudukan kita dan kepandaian mereka cukup tinggi. Yang tua adalah ayah dari Kim Bwe bernama Lo Beng Tat, sedangkan yang muda bernama Lo Houw adik dari Kim Bwe."

"Perduli apa!" Eng Eng mencela. "Siapapun juga adanya orang itu, tidak patut ia memandangku seperti orang kelaparan!"

Nyonya Ting tersenyum geli. "Salahmu sendiri adik Eng mengapa engkau mempunyai wajah demikian cantik jelita dan tubuhmu demikian molek dan ramping?"

Eng Eng memandang kepada nyonya Ting sambil cemberut. "Cici, apakah engkau juga hendak menggodaku?"

Nyonya muda itu tertawa, "Sudahlah, adik Eng." Ia menghibur, "Bersikaplah sabar, Kalau dia tidak melakukan atau mengeluarkan ucapan yang menghina, perlu apa kau harus marah-marah? Anggap saja ia seperti patung, habis perkara! Mereka belum mendengar tentang kelihaianmu, maka mereka berani bersikap kurang ajar."

Akan tetapi, pada waktu itu, di luar terjadi pembicaraan yang amat menarik perhatian, Ting Kwan Ek dan Ouw Tang Sin menceritakan kepada kedua orang tamu itu bahwa Eng Eng adalah seorang dara perkasa yang berkepandaian tinggi dan yang mereka harapkan untuk dapat menghadapi Thian-te Sam-kui.

"Ah, cihu, jangan kau main-main!" kata Lo Houw sambil tersenyum menyeringai. "Thian-te Sam-kui adalah tokoh-tokoh kang-ouw yang amat dahsyat dan menakutkan. Terus terang saja, ketika aku mendengar bahwa kau bermusuhan dengan Thian-te Sam-kui, aku merasa terkejut dan seram. Kalau saja musuh itu orang-orang lain, aku tidak takut menghadapinya. Akan tetapi Thian-te Sam-kui...? Hm, sungguh harus kunyatakan bahwa Ting-piauwsu kurang hati-hati sehingga bisa bentrok, dengan mereka!"

Ting piauwsu merasa mendongkol sekali, akan tetapi Lo Beng Tat yang sudah tua dan berpengalaman, lalu mencela puteranya.

"Tak perlu hal ini dibicarakan lagi. Yang terpenting sekarang kita harus dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi mereka itu. Kalau nona tadi memang berkepandaian tinggi dan mau membantu, alangkah baiknya, karena makin banyak kawan makin baik. Kalau kiranya perlu dapat juga aku mencari kawan yang akan membantu kita.

"Kurasa dengan kita berdua dan dibantu oleh cihu dan Ting piauwsu, kita akan cukup menghadapi mereka!" kata Lo Houw yang selalu menyombongkan kepandaiannya sendiri. "Adapun nona itu... hm, dia memang cantik jelita seperti bidadari dan nampak gagah, akan tetapi kepandaiannya? Aku masih meragukannya!"

"Houw te (adik Houw), jangan kau memandang rendah." kata Ouw piauwsu, "Aku sendiri sudah mencoba kepandaiannya dan ternyata golokku tidak berdaya terhadap dia!"

Kata-kata ini mencengangkan Lo Beng Tat dan Lo Houw karena mereka ini sudah tahu akan kepandaian Ouw Tang Sin. Agaknya mereka tidak dapat mempercayai ucapan ini. Akan tetapi belum ada orang membuka mulut, tiba- tiba Kim Bwe berkata dengan muka berseri,

"Aku sudah memikirkan hal ini berhari-hari dan sekarang setelah adik Houw datang, makin kuatlah kehendak hatiku ini. Ayah, bagaimana kalau adik Houw dijodohkan dengan nona Suma Eng? Selain ia cantik dan gagah sehingga cocok untuk menjadi isteri adik Houw, juga ikatan ini akan membuat dia lebih bersungguh-sungguh membela kita..."

Serta merta Lo Houw menyatakan setujunya. Ia tertawa lalu berdiri dan menjura kepada kakak perempuannya dengan sikap lucu yang dibuat-buat sambil berkata,

"Enci Kim Bwe, tidak percuma aku mempunyai saudara tua seperti kau ini! Terima kasih, enci yang baik, terima kasih! Kalau memang hal ini dapat berhasil, selama hidupku aku akan menjadi adikmu yang berbakti..."

Akan tetapi Ting Kwan Ek dan Ouw Tang Sin mengerutkan kening, dan di dalam hati masing-masing, kedua orang ini tidak setuju dengan usul ini. Ting Kwan Ek tidak setuju oleh karena dalam pandangannya Lo Houw tidak pantas menjadi suami Eng Eng. Sedangkan Ouw Tang Sin yang sudah tergila-gila kepada Eng Eng, tentu saja tidak senang mendengar gadis ini hendak dijodohkan dengan lain orang! Akan tetapi tentu saja mereka tidak berani menyatakan ketidak-setujuan mereka karena merasa tidak berhak.

Lo Beng Tat berpikir sebentar, kemudian tertawa girang. "Bagus, Kim Bwe, memang bagus sekali pikiranmu ini. Akupun tidak keberatan mempunyai seorang nyonya mantu secantik dia."

Kim Bwe merasa girang sekali. Dia memang sengaja hendak merangkap perjodohan ini agar supaya hatinya terlepas dari pada cemburu terhadap Eng Eng dan suaminya.

"Adik Ting," katanya kepada Ting piauwsu "Karena kau dan isterimu lebih dekat hubungannya dengan Eng Eng, maka kuharap kau suka menyuruh isterimu menjadi perantara dan wakil nona itu untuk menerima pinangan ini dan membicarakannya dengan nona Suma Eng."

Ting Kwan Ek merasa tidak enak sekali.akan tetapi sambil tersenyum ia menjawab. "Kami tentu saja tidak berhak sama sekali untuk memutuskan hal ini dan tak dapat kami memaksa kepada nona Suma Eng untuk menerima atau menolaknya. Segala keputusan tergantung kepada pikiran nona itu sendiri. Akan tetapi tentu saja isteriku tidak akan merasa keberatan untuk menyampaikan pinangan ini."

Setelah berkata demikian, ia lalu masuk ke dalam ruangan sebelah kiri. Melihat kedatangan Ting piauwsu, Eng Eng lalu masuk ke dalam kamarnya sendiri dengan hati masih mendongkol dan gemas kepada muka hitam yang dianggapnya menjemukan itu. Ketika Ting Kwan Ek memberitahukan kepada isterinya tentang usul pinangan itu, isterinya mengerutkan keningnya dan berkata sambil menarik napas panjang,

"Ah, benar-benar mencari perkara dan kesulitan! Baru saja Eng Eng telah datang dan menuturkan dengan marah betapa Lo Houw bersikap tidak menyenangkan. Gadis itu agaknya amat benci melihat muka dan pandangan mata Lo Houw yang dianggapnya kurang ajar." la lalu menuturkan kepada suaminya tentang percakapan antara dia dan Eng Eng tadi.

"Ah, sukar sekali kalau begitu Akan tetapi isteriku, betapapun juga, kau harus menyampaikan pinangan ini kepada Suma lihiap. Diterima atau tidak, bukanlah urusan kita. Suheng telah menyerahkan urusan ini kepada kita untuk disampaikan kepada yang bersangkutan, mau tidak mau kita harus melakukan. Kau yang pandai saja bicara agar Suma lihiap tidak menjadi marah."

"Baiklah, akan kucoba." Kata isterinya dengan hati rusuh karena ia dapat menduga dengan penuh keyakinan bahwa Eng Eng pasti akan marah mendengar pinangan ini, ia maklum bahwa gadis itu masih belum tahu betul tentang tata susila kehidupan dan masih kasar, apalagi tentang jodoh dan pinangan, dalam hal ini benar-benar Eng Eng masih belum mengerti.

Benar saja, betapapun hati-hatinya menyampaikan pinangan itu kepada Eng Eng di dalam kamar gadis ini, Eng Eng menyambut dengan mata memancarkan cahaya berapi dan mukanya menjadi merah sekali.

"Apa?" teriaknya keras sehingga terdengar sampai di luar kamar. "Si muka hitam yang kurang ajar itu minta aku menjadi isterinya? Minta aku menjadi seperti cici terhadap Ting twako? Gila! Dia gila, kurang ajar dan berani mati! Akan kutampar mukanya yang hitam untuk kelancangannya itu!"

Eng Eng marah sekali. Tanpa ia ketahui sebabnya, mendengar bahwa ia diminta menjadi isterinya si muka hitam menimbulkan perasaan malu, jengah, terhina dan yang bergabung menjadi perasaan hebat. Ia hendak melompat keluar dan memberi hajaran kepada si muka hitam, akan tetapi nyonya Ting cepat mencegahnya dan berkata,

"Adik Eng, jangan kau marah. Urusan ini dapat dibereskan dengan amat mudah. Kalau kau tidak setuju, kau berhak menolak dan habis perkara! Mengapa mesti marah-marah?"

"Tidak! Aku harus memberi hajaran kepada monyet hitam itu, agar supaya ia dapat tahu siapa aku dan tidak berani kurang ajar lagi!"

Sambil berkata demikian, ia melompat keluar dari kamarnya. Akan tetapi, alangkah heran dan kagetnya ketika melihat bahwa di luar kamarnya telah berdiri Lo Houw si muka hitam itu sendiri! Pemuda ini nampaknya marah akan tetapi melihat Eng Eng, kemarahannya itu mereda dan kembali mulutnya menyeringai membuat mukanya yang sudah hitam itu semakin tambah memburuk.

"Nona yang manis! Aku tidak merasa sakit hati melihat kemarahanmu, karena sudah biasanya seorang gadis menjadi marah kalau dilamar orang. Kemarahan yang timbul karena malu-malu. Betul tidak?"

"Monyet hitam, kalau kau tidak lekas menutup mulut dan pergi dari sini, akan kuhancurkan kepalamu!" Bentak Eng Eng dengan alis berdiri.

"Aduh galaknya!" Lo Houw mengejek seakan-akan melihat seorang anak kecil yang sedang marah. "Kau belum tahu siapa aku, nona. Aku Lo Houw dijuluki orang Si Ruyung Maut, dan kalau baru menghadapi keroyokan sepuluh orang saja, aku takkan mudah menyerah. Apa lagi seorang nona manis seperti engkau ini! Ha ha ha! makin marah kau menjadi makin cantik saja!"

Eng Eng tak dapat menahan kesabarannya lagi dan hendak menerjang, akan tetapi nyonya Ting yang sudah keluar pula, segera menubruk dan membujuk.

"Eng Eng jangan...! Jangan kau berkelahi didalam rumah, hal ini amat tidak baik. Bersabarlah kau, adikku."

Kemudian ia berpaling kepada Lo Houw dan berkata dengan suara kaku, "Adik Lo Houw, kuharap kau suka berlaku sopan dan jangan mengganggu tamu kita."

Dengan muka berubah gelap karena malu, Lo Houw hendak mengundurkan diri akan tetapi Eng Eng sudah memberontak dari pelukan nyonya Ting dan berkata keras,

"Aku tidak sudi mengalah begitu saja! Aku bukan tamu lagi! Hei, monyet hitam, kalau kau memang gagah, keluarlah dan mari kita membuat perhitungan di luar!"

Sambil berkata demikian. Eng Eng lalu berlari Keluar dari rumah itu dan berdiri di halaman depan, menanti datangnya seorang yang dibencinya.

Mendengar suara ribut-ribut ini, semua orang keluar pula dan kebetulan sekali ketika Eng Eng keluar dari rumah itu, ia bertemu dengan Lo Beng Tat dan Ouw Tang Sin yang masih berada di ruang depan, Ouw Tang Sin menjadi bingung mendengar dan melihat kemarahan Eng Eng, akan tetapi Lo Beng Tat yang berwatak kasar, menjadi marah sekali mendengar betapa puteranya dimaki-maki oleh Eng Eng. Ia bangkit berdiri dan sekali ayun tubuhnya, ia telah berdiri di depan gadis itu.

"Nona Suma!" Bentaknya sambil menudingkan jari telunjuknya ke arah muka Eng Eng, "Karena mendengar kata-kata anak perempuan dan mantuku bahwa kau adalah seorang gadis baik-baik aku dengan sesungguh hati mengajukan pinangan padamu untuk puteraku. Apakah salahnya hal ini? Mengapa kau menjadi marah marah tanpa sebab? Misalnya kau tidak setuju, kau boleh menolak dengan sopan dan baik-baik, tidak menjadi marah-marah seperti gadis gila!"

"Bangsat tua bangka, apa kau kira aku takut kepadamu? Jangan banyak membuka mulutmu yang kotor!"

Eng Eng membalas dengan makian, karena ucapan Lo Beng Tat ini bagaikan minyak yang menambah berkobarnya api kemarahan dalam hatinya.

Lo Beng Tat adalah seorang kepala rampok yang ganas, kasar dan tak kenal takut. Ia terkenal dengan ilmu golok kembar dan juga memiliki tenaga yang besar sekali. Tingkat kepandaiannya, apabila dibandingkan dengan Ouw Tang Sin mantunya mungkin masih menang setingkat terutama sekali dalam tenaga karena sesungguhnya raksasa tua ini tenaganya amat mengejutkan orang.

Kini mendengar makian seorang gadis muda kepadanya, tentu saja ia menjadi marah sekali. Sekali ia menggerakkan tangan kanan, sepasang golok telah tercabut yang segera dipegang olen kedua tangannya. Golok ini lebar dan tajam sekali berkilauan menyilaukan mata.

"Kau mencari mampus!" teriak Lo Beng Tat yang segera menyerang dengan sepasang goloknya. la memutar sepasang goloknya bagaikan kitiran cepatnya, golok kanan mengancam kepala, sedangkan golok kiri diputar menyerang pinggang lawan!

"Bagus, tua bangka, perlihatkanlah keburukan ilmu silatmu!" Eng Eng mengejek dan begitu tubuhnya berkelebat, ia telah dapat mengelak dari serangan dua batang golok itu.

Thanks for reading Pedang Ular Merah Jilid 03 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »