Si Kumbang Merah Pengisap Kembang Jilid 31

Han Lojin mengangkat tangan memberi isyarat kepada para anak buahnya agar menahan senjata mereka. Kemudian dia melangkah maju sambil tersenyum, diikuti Ji Sun Bi yang memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata jeri bercampur kagum. Sejak dahulu Ji Sun Bi amat mengagumi Hay Hay, namun juga gentar karena beberapa kali dia selalu kalah dan tak berdaya kalau bertanding melawan pemuda ini. Han Lojin yang juga merasa kagum kepada Hay Hay, kagum dan suka, juga mengharapkan agar puteranya ini dapat membantunya, tersenyum ramah.

"Ahhh, ternyata engkau yang datang, Hay Hay!" katanya dengan ramah. "Kedatanganmu memang sudah kunanti-nanti. Mengapa engkau tidak datang secara biasa saja dari pintu depan, sebagai tamu yang kami hormati? Sama sekali kami tidak memiliki keinginan untuk menerimamu sebagai seorang lawan, Hay Hay."

Hay Hay menahan kemarahannya ketika berhadapan dengan orang yang sesungguhnya adalah ayahnya sendiri itu. "Ang-hong-cu, engkau manusia jahat dan curang! Hadapi aku kalau engkau memang jantan, dan engkau boleh mengeroyokku bersama kaki tanganmu. Akan tetapi mengapa engkau bertindak curang, menawan Mayang? Selain gadis itu tidak bersalah apa pun, juga engkau tahu bahwa dia adalah anak kandungmu sendiri, hasil dari perbuatanmu yang keji dan penuh dosa! Bebaskan Mayang sekarang juga, selanjutnya engkau boleh mengeroyokku bersama antek-antekmu ini!”

Biar pun dihina seperti itu di depan orang banyak, Han Lojin masih tersenyum. Di antara anak-anaknya, dia merasa bangga mempunyai anak seperti Hay Hay, satu-satunya anak yang gagah berani dan malah berani menentangnya. Juga memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sehingga dia sendiri merasa sukar untuk mengalahkannya, bahkan sudah membuat dia merasa jeri!

Han Lojin tertawa dan mengangkat kedua lengan ke atas. "Heiii, kalian semua lihatlah dan dengar baik-baik! Pemuda yang gagah perkasa ini adalah Tang Hay. Dia adalah puteraku, putera kandungku! Apa bila dia bersedia membantu kita, maka dia akan kuangkat menjadi wakilku, dan dialah yang akan memimpin Ho-han-pang!"

"Ang-hong-cu, tidak perlu banyak cakap lagi. Keluarkan Mayang, atau terpaksa aku akan menyerangmu dan memaksamu membebaskan Mayang serta dua orang gadis lain yang kau tawan!"

"Ha-ha-ha, anakku yang baik, anakku yang gagah perkasa. Mayang menjadi tamu, juga menjadi keluarga, karena dia adalah anakku pula. Ia adikmu berlainan ibu. Tentu saja aku tidak akan mengganggu selembar rambut anakku sendiri. Juga Siangkoan Bi Lian dan Cia Kui Hong, mereka menjadi tamuku dan tidak diganggu. Mereka semua dapat berkumpul kembali denganmu, asal engkau suka membantuku. Dengar, anakku yang baik. Hidup ini tidaklah lama. Apa artinya hidupmu kalau engkau tidak meraih kedudukan yang mulia?"

“Cukup! Aku tak sudi berbincang-bincang lagi denganmu! Bebaskan mereka bertiga, lalu kita berdua akan menyelesaikan urusan lama di antara kita tanpa menyangkut orang lain!"

Han Lojin mulai mengerutkan alisnya dan sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi. Saat itu Ji Sun Bi berkata, "Bengcu, untuk apa banyak bicara dengan bocah sombong ini? Mari kita tangkap dia. Aku mempunyai cara untuk menundukkannya, memaksanya dan menghilangkan ingatannya. Biarlah dia menjadi boneka hidup, kemudian kita pergunakan kepandaiannya untuk membantu Ho-han-pang!"

Han Lojin cepat memberi isyarat kepada para anggota Ho-han-pang yang sekarang telah mengepung tempat itu. "Kalian bersiap, jangan sampai dia dapat lolos dari sini! Hay Hay, engkau lihat! Sedikitnya lima puluh orang anggota Ho-han-pang mengepungmu. Melawan pun akan sia-sia saja. Engkau akan mati, juga tiga orang gadis itu tak akan tertolong lagi kalau engkau melawan. Menyerahlah dan mereka akan selamat!"

"Ang-hong-cu, engkau adalah iblis berujud manusia. Aku tak percaya padamu. Kehadiran perempuan ini, iblis betina Ji Sun Bi saja sudah membuktikan bahwa perkumpulanmu ini adalah perkumpulan jahat! Segera engkau bebaskan tiga orang gadis itu, atau aku akan mengamuk dan membunuh kalian semua!"

"Kepung dan tangkap dia!" Han Lojin berseru. "Di mana Cun Sek, Hok Seng, Ki Liong? Panggil mereka dan para pembantu lain!"

Pada saat itu pula terdengar suara orang tertawa. Suara ini semakin lama semakin keras dan sedemikian kuatnya sehingga banyak orang Ho-han-pang terhuyung dan menyeringai karena dada mereka terasa sakit, bahkan ada pula yang secara aneh turut tertawa! Han Lojin terkejut karena maklum bahwa di dalam suara ketawa itu terkandung khikang yang amat kuat, bahkan mengandung kekuatan sihir.

Hay Hay membelalakkan matanya dan tersenyum girang. "Bagus sekali! Engkau datang tepat pada waktunya, Han Siong!"

Yang muncul ini memang Pek Han Siong! Dia sedang melakukan penyelidikan dan begitu tiba, dia mendengar suara ribut-ribut dan melihat Hay Hay sudah dikepung banyak orang. Juga dia mengenal Han Lojin dan Ji Sun Bi. Terkejutlah Han Siong yang sama sekali tidak mengira bahwa Ang-hong-cu menjadi pimpinan Ho-han-pang, dan juga Ji Sun Bi menjadi pembantu Si Kumbang Merah.

"Jangan khawatir, Hay Hay. Mari kita basmi semua tikus busuk ini!” kata Han Siong yang sudah melayang turun dari atas wuwungan rumah di mana tadi dia bersembunyi.

Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Han Lojin ketika melihat munculnya Pek Han Siong, orang ke dua sesudah Hay Hay yang paling diseganinya karena dia tahu bahwa pemuda ini juga sukar ditandingi olehnya. Akan tetapi dia mengandalkan anak buahnya yang banyak dan pada saat itu, muncul pula Tang Gun dan Tang Cun Sek dari dalam.

"Mana Ki Liong?" tanya Han Lojin kepada Cun Sek.

"Entah ke mana dia pergi bersama gadis Tibet itu," kata Cun Sek. "Kami menyingkirkan dua orang tawanan wanita lainnya.”

Dia pun terkejut melihat munculnya Pek Han Siong dan Hay Hay. Tanpa banyak cakap lagi Tang Gun lantas mencabut pedang Kwan-im-kiam yang dirampasnya dari sumoi-nya, Siangkoan Bi Lian. Ada pun Tang Cun Sek juga sudah mencabut Hok-mo-kiam, sepasang pedang milik Cia Kui Hong yang telah dirampasnya.

Terkejutlah Han Siong ketika melihat pedang Kwan-im-kiam di tangan Tang Gun. "Kwan-im-kiam...!” serunya. Jika pedang pusaka itu berada di tangan orang yang tak dikenalnya ini, hal itu berarti bahwa Bi Lian berada di situ pula dan mungkin sudah menjadi tawanan sehingga pedangnya dapat dirampas!

"Siangkoan Bi Lian sudah menjadi tawanan mereka, Han Siong. Juga Cia Kui Hong dan Mayang!" kata Hay Hay yang melihat kekagetan sahabatnya.

Hay Hay mengenal Hok-mo Siang-kiam, sepasang pedang milik Kui Hong yang sekarang berada di tangan Tang Cun Sek. Dia pun segera menggerakkan tangannya dan nampak sinar kilat ketika Hong-cu-kiam tercabut dan berada di tangannya. Juga Han Siong sudah mencabut Gin-hwa-kiam sehingga nampak sinar putih berkilauan.

Dua pemuda itu kini sudah berdiri saling membelakangi, siap menghadapi pengeroyokan Han Lojin bersama para pembantunya dan banyak anak buahnya itu. Hay Hay dan Han Siong maklum bahwa mereka menghadapi lawan yang kuat dan jumlahnya banyak. Akan tetapi mereka sudah mengambil keputusan untuk melawan mati-matian, bukan saja untuk menyelamatkan diri sendiri, melainkan juga untuk dapat menyelamatkan tiga orang gadis yang menjadi tawanan di situ.

"Kepung! Tangkap atau bunuh saja mereka!" Kini Han Lojin mengeluarkan perintah bunuh karena sungguh bukan merupakan pekerjaan mudah untuk menangkap hidup-hidup dua orang pemuda perkasa itu, bahkan amat sukar.

Dia sendiri sudah mengeluarkan senjatanya yang luar biasa dan yang selama ini belum pernah dia perlihatkan atau pergunakan, yaitu sebatang rantai baja yang besar dengan dua macam senjata di kedua ujung rantai yang panjangnya dua meter itu. Ujung pertama merupakan sebatang pisau yang kedua sisinya tajam dan runcing, sedangkan ujung ke dua merupakan kaitan yang kokoh dan runcing. Begitu rantai baja itu diputar, terdengarlah suara mendengung bagai kumbang dan angin menyambar-nyambar, tanda bahwa senjata itu digerakkan oleh tenaga yang dahsyat.

Namun senjata seperti itu kurang leluasa digerakkan karena banyaknya teman atau anak buahnya yang mengepung dan mengeroyok, ada bahaya mengenai teman sendiri. Maka dia pun hanya ikut mengepung dan belum ikut menyerang.

Kini yang maju menyerang hanyalah Ji Sun Bi dengan sepasang pedangnya, Tang Cun Sek, Tang Gun dan lima orang pembantu lain yang kepandaiannya sudah lumayan, serta puluhan orang yang mengepung dan mengeroyok, dan terjadilah pertempuran yang hebat di mana Hay Hay dan Han Siong mengamuk bagaikan dua ekor naga sakti.

Han Lojin menoleh ke kanan kiri, mencari-cari dengan pandang matanya. Dia mendongkol sekali karena Sim Ki Liong, pembantu utamanya yang paling lihai, yang diharapkan akan mampu menandingi lawan, belum juga nampak.

Di manakah adanya Sim Ki Liong? Telah terjadi sesuatu yang aneh atas diri Sim Ki Liong. Hati Sim Ki Liong tergoncang hebat semenjak dia melihat Mayang, gadis peranakan Tibet yang menjadi tawanan. Dia telah jatuh cinta seperti yang belum pernah dialaminya! Bukan sekedar bangkit gairahnya, sama sekali bukan, melainkan benar-benar dia jatuh hati!

Karena itu, ketika mereka semua mengeluarkan Tan Hok Seng atau Tang Gun dari dalam kamar tahanan di mana pemuda ini ikut terbius ketika mereka melumpuhkan Bi Lian, dan diperkenalkan dengan pembantu baru ini, mereka bertiga, yaitu Sim Ki Liong, Tang Cun Sek dan Tang Gun, segera berkenalan.

Dari sikap dan percakapan mereka, ketiganya menyatakan cinta kepada tiga orang gadis yang menjadi tawanan. Sim Ki Liong lantas mengajukan usul kepada Cun Sek dan Tang Gun agar mereka bertiga menghadap Bengcu agar mereka dapat memiliki gadis masing-masing yang telah mereka pilih.

"Kalau kita tidak segera menghadap Bengcu dan menyatakan cinta kita terhadap mereka, tentu kita akan kehilangan! Aku yakin bahwa Bengcu tidak akan mau melepaskan mereka bertiga. Kita hanya akan gigit jari saja bila gadis yang kita cinta itu akhirnya nanti menjadi milik Bengcu semua!” demikian dia membujuk.

Cun Sek memang jatuh cinta kepada Kui Hong dan sejak dahulu sudah bangkit birahinya rnelihat Kui Hong. Juga Tang Gun sudah tergila-gila sekali pada Siangkoan Bi Lian yang menjadi sumoi-nya. Maka, sesudah mendengar ucapan Sim Ki Liong itu mereka langsung menyetujui.

Tentu saja kedua orang pemuda itu maklum sepenuhnya bagaimana watak ayah mereka! Ang-hong-cu pasti tidak akan begitu saja melepaskan tiga orang gadis cantik itu, seperti seekor kumbang merah yang selalu kehausan tidak akan melewatkan tiga tangkai bunga yang demikian segar mengharum.

Demikianlah, ketika mereka bertiga dibentak oleh Han Lojin sesudah mereka menyatakan cinta mereka terhadap tiga orang gadis tawanan itu, lantas mereka diperintahkan untuk memisah-misahkan tiga orang gadis itu, ketiganya tak berani membantah dan mereka lalu memasuki lorong tempat tahanan dalam tanah. Biar pun ketiganya memperlihatkan sikap yang sama-sama gembira walau pun permohonan mereka ditolak, namun isi hati mereka berbeda, jauh berbeda seperti bumi langit.

Jika Tang Gun dan Tang Cun Sek merasa bergembira karena mereka akan mendapatkan kesempatan berdua saja dengan gadis yang mereka cinta, dan mereka sudah mengambil keputusan hendak mendahului ayah mereka untuk terlebih dulu memperkosa gadis yang mereka cinta itu selagi mereka terbius, sebaliknya Sim Ki Liong merasa gembira karena dia mendapat kesempatan untuk menolong Mayang!

Ya, terjadi perubahan besar dalam diri atau batin Sim Ki Liong yang pernah menjadi murid Pendekar Sadis dan isterinya di Pulau Teratai Merah itu. Dia sungguh-sungguh jatuh cinta kepada Mayang! Dia merasa kasihan dan ingin menolong gadis itu, bukan sekedar ingin memuaskan gairah nafsunya seperti Tang Cun Sek dan Tang Gun.

Dengan mudah mereka membuat tiga orang gadis itu roboh terbius dalam kamar tahanan, kemudian mereka membuka pintu kamar itu dan otomatis mereka memondong gadis yang menjadi pilihan hati masing-masing. Melihat tiga orang pembantu utama ini, para penjaga tidak ada yang berani bertanya, bahkan mereka cepat-cepat keluar dari tempat itu ketika Ki Liong memerintahkan mereka pergi. Kemudian, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, tiga orang itu berpencaran, menuju ke kamar tahanan yang lebih kecil sambil memondong gadis pilihan masing-masing.

Kalau Tang Gun dan Tang Cun Sek yang memondong Bi Lian dan Kui Hong bermaksud membawa gadis mereka ke kamar kemudian menggaulinya dengan paksa selagi mereka masih terbius, sebaliknya Ki Liong membawa Mayang ke kamar paling sudut. Memang dia sudah mempersiapkan obat penawar bius.

Dia menutupkan pintu kamar itu, merebahkan Mayang di atas pembaringan, kemudian dia mempergunakan obat penawar bius yang diciumkan di depan hidung gadis itu. Tak lama kemudian Mayang mengeluh lirih sambil menggerakkan pelupuk matanya. Begitu dara itu membuka mata dan melihat Sim Ki Liong yang duduk di dekat pembaringan, dia meloncat dan siap menyerang.

"Tenanglah, Nona, dan jangan berisik," bisik Ki Liong. "Aku telah membawamu ke sini dan menyadarkanmu dari obat bius. Aku sedang menyelamatkanmu, hendak mengajakmu lari dari tempat ini...."

Mayang menghentikan gerakannya yang tadinya siap menerjang itu, lalu dia memandang Ki Liong dengan kedua alis berkerut dan sinar mata penuh kecurigaan. "Engkau? Hendak menolong aku? Bukankah engkau adalah seorang pembantu Ho-han Pangcu yang paling lihai? Namamu Sim Ki Liong, bukan? Tidak perlu kalian membujuk. Sampai mati aku tidak akan mau menyerah!”

“Ssstttt, nona Mayang. Aku bersungguh-sungguh. Engkau harus secepatnya lari dari sini. Aku akan mengawalmu dan aku yang akan menahan serta melindungimu kalau ada yang mengejarmu nanti. Bersiaplah..."

"Hemm, nanti dulu!" Mayang masih tetap merasa curiga. "Sim Ki Liong, jika engkau tidak berbohong, lantas apa artinya ini? Mengapa engkau mendadak mengkhianati pimpinanmu dan hendak menolong aku?” Dengan sinar mata tajam penuh selidik gadis itu mengamati wajah yang tampan itu, masih penuh kecurigaan.

"Nona, tak perlu berpanjang cerita. Waktu kita sedikit sekali. Selagi pangcu masih berada di taman, kita dapat melarikan diri. Kenapa aku menolongmu? Kenapa? Karena aku cinta padamu. Nah, aku telah berterus terang, percaya atau tidak terserah kepadamu. Aku tak ingin melihat engkau celaka!"

Mayang memandang bengong. Bagaimana dia bisa percaya? Secara tiba-tiba ada orang jatuh cinta begitu saja kepadanya! Tetapi harus diakuinya bahwa pemuda ini tampan dan gagah, juga berilmu tinggi.

"Tapi kau... kau jahat! Kau membantu Ang-hong-cu yang jahat!" tiba-tiba dia berkata. "Aku tidak sudi kau tolong!"

Pandang mata pemuda itu tiba-tiba saja nampak sedih dan wajahnya pucat. Dia merasa seperti ditampar. Baru sekarang dia merasa sedih karena ada orang mengatakan bahwa dia jahat! Ahh, betapa inginnya untuk menjadi seorang pendekar, bukan penjahat.

Semua cita-cita untuk hidup senang sekarang sama sekali tidak ada artinya dibandingkan dengan sambutan gadis ini terhadap cintanya. Apa pun rela dia korbankan demi cintanya. Pandang mata itu. Ahh, tidak dapat dia menahannya. Ingin dia menangis, ingin dia minta ampun kepada Mayang, ingin dia melihat Mayang tidak menganggapnya sebagai orang jahat.

"Nona, aku memang telah tersesat, akan tetapi setidaknya bantulah aku kembali ke jalan benar dengan membiarkan aku menolongmu. Lihat, senjata pecutmu telah kupersiapkan. Nah, terimalah senjatamu dan mari kuantar engkau pergi dari tempat ini. Cepat, sebelum terlambat. Percayalah, aku melakukan ini karena aku cinta kepadamu, karena aku ingin kembali ke jalan benar. Aku tidak mengharapkan balas jasa darimu...”

Mayang menerima senjatanya, lantas dia pun mengangguk. "Mari engkau tunjukkan jalan keluarnya...”

"Sssttt...!" Ki Liong memberi isyarat agar gadis itu tidak mengeluarkan suara karena pada saat itu dia mendengar suara gaduh yang lapat-lapat memasuki tempat itu melalui lorong bawah tanah. Dia mendengar suara orang berlari-lari masuk, kemudian disusul teriakan seorang anggota Ho-han-pang,

“Semua siap! Ada musuh datang mengacau! Pangcu memanggil semua anggota untuk menghadapi musuh!" Kemudian terdengar suara Tang Cun Sek dan Tang Gun berlarian keluar pula dari tempat itu.

"Mari kita keluar, cepat!" kata Sim Ki Liong dan dia menangkap lengan kiri Mayang, lalu diajaknya berlari keluar.

Mayang tidak menolak. Dia pun merasa tegang karena kini dia mendengar suara orang bertempur di luar sana. Mungkin kakaknya sudah datang untuk menolongnya!

"Tapi, bagaimana dengan enci Kui Hong dan enci Bi Lian?" tanyanya ragu.

"Mereka masih terbius, tidak cukup waktu untuk menyadarkan mereka, aku khawatir nanti terlambat. Engkau lari lebih dulu, nanti akan kuusahakan menolong mereka pula!" kata Ki Liong.

Dia melihat kesempatan baik. Selagi terjadi kekacauan di situ, maka akan lebih mudahlah baginya untuk menyelundupkan Mayang keluar. Asal tidak kepergok Han Lojin, orang lain tidak akan ada yang berani menghalangmya.

Sesudah mereka akhirnya tiba di luar bangunan itu, mereka melihat dua orang pemuda dikeroyok oleh puluhan orang. Ki Liong segera mengenal dua orang yang dikeroyok itu. Tang Hay dan Pek Han Siong, dua orang yang merupakan lawan paling lihai yang pernah dia hadapi.

"Ahh, itu Hay-koko dan Pek Taihiap! Aku harus membantu kakakku!" kata Mayang dan dia pun cepat menerjang orang-orang yang mengepung Hay Hay dan Han Siong itu dari luar. Sepak-terjangnya sangat menggiriskan, cambuknya meledak-ledak dan terdengar orang-orang berteriak kesakitan ketika cambuknya mendapat korban.

"Hay-ko..., aku datang membantumu!" teriak Mayang dengan penuh semangat.

“Mayang...! Hati-hati...!” Hay Hay berseru khawatir sekali karena maklum betapa lihainya pihak lawan.

Dia melihat betapa Ji Sun Bi dan beberapa orang tokoh Ho-han-pang menyambut adiknya itu. Dia khawatir sekali, akan tetapi juga tidak dapat membantu adiknya karena dia sendiri bersama Han Siong sejak tadi sibuk menghadapi pengeroyokan banyak orang.

Kalau hanya menghadapi Ji Sun Bi seorang saja, satu lawan satu, kiranya Mayang tidak akan mudah dikalahkan. Namun sekarang Ji Sun Bi dibantu oleh banyak orang sehingga Mayang repot juga menghadapi pengeroyokan itu.

"Tar-tarr-tarrr...!"

Cambuknya meledak-ledak, merobohkan dua orang pengeroyok akan tetapi pada lecutan ke tiga ujung cambuknya terbelit golok seorang pengeroyok lainnya. Sebelum dia sempat menarik kembali cambuknya, Ji Sun Bi telah menyerangnya dengan tusukan pedang dari kiri, mengarah lambungnya. Mayang menggeser tubuh ke kanan hingga pedang itu hanya lewat di samping tubuhnya, akan tetapi pada saat itu pedang ke dua di tangan kiri Ji Sun Bi membabat ke arah kaki Mayang!

"Tranggg....!" Pedang itu terpental dan hampir terlepas dari tangan Ji Sun Bi.

“Ihhh! Kau...?” Ji Sun Bi berseru marah ketika melihat bahwa yang menangkis pedangnya tadi untuk menolong Mayang adalah Sim Ki Liong!

Akan tetapi Ki Liong tidak menjawab, bahkan segera menyerangnya dengan pedang yang sudah dicabutnya dan dipergunakan untuk melindungi Mayang tadi. Ji Sun Bi terkejut dan marah sekali, cepat menangkis dengan pedang kanan.

“Trangggg...!"

Pedang Ji Sun Bi terlepas dari pegangannya sebab Ki Liong memang telah mengerahkan tenaga sepenuhnya, dan di saat berikutnya sebuah tendangan sudah membuat wanita itu terjengkang! Ji Sun Bi cepat bergulingan untuk menghindarkan diri dari serangan lanjutan, dan dia pun terkejut bukan main, di samping penasaran dan marah melihat Sim Ki Liong yang pernah menjadi pemimpinnya itu kini membalik!

"Tar-tarr-tarrr...!”

Cambuk di tangan Mayang meledak-ledak dan menyambar-nyambar ke arah tubuh Ji Sun Bi yang bergulingan itu. Ji Sun Bi memutar pedangnya untuk melindungi tubuh dan terus bergulingan ke arah anak buah Ho-han-pang. Karena banyak anggota Ho-han-pang yang membantunya membendung serangan Mayang, maka wanita itu dapat lolos dari cambuk Mayang. Akan tetapi dia telah kehilangan sebatang pedang dan pahanya terasa nyeri oleh tendangan Sim Ki Liong.

"Mayang...!” Hay Hay berseru girang melihat adiknya masih dalam keadaan selamat.

Akan tetapi dia terbelalak keheranan melihat Sim Ki Liong sedang dikeroyok oleh Ji Sun Bi serta beberapa anggota Ho-han-pang! Pemuda itu membantunya, atau lebih tepatnya membela dan membantu Mayang!

Hay Hay adalah seorang yang cukup cerdik untuk dapat menduga apa yang sudah terjadi dengan pemuda gemblengan Pulau Teratai Merah itu. Tak salah lagi. Tentu Sim Ki Liong sudah jatuh cinta kepada Mayang lalu dia membalik, menentang kejahatan demi cintanya kepada adiknya itu! Akan tetapi dia tidak sempat untuk berbicara lagi karena dia dikepung dan dikeroyok oleh banyak orang.

Pek Han Siong juga melihat Mayang dan merasa girang walau pun hatinya masih sangat khawatir karena dia tidak melihat dua orang gadis lainnya, terutama sekali Siangkoan Bi Lian. Akan tetapi seperti Hay Hay, dia pun sibuk menghadapi pengeroyokan para anggota Ho-han-pang.

Ternyata para anggota Ho-han-pang rata-rata mempunyai ilmu silat yang cukup tangguh sehingga pengeroyokan mereka yang begitu banyak itu telah membuat Hay Hay dan Han Siong kewalahan juga, walau pun mereka kini dibantu oleh Mayang dan Sim Ki Liong.

Di lain pihak Han Lojin juga merasa penasaran bukan main, apa lagi melihat Sim Ki Liong yang sekarang membantu pihak lawan. "Sim Ki Liong, manusia busuk pengkhianat hina!" Bentaknya ketika melihat betapa pemuda itu melindungi dan membela Mayang. "Engkau berani melawan kami?!"

“Han Lojin, demi cintaku yang murni, aku siap untuk membela Mayang dengan nyawaku!" kata Sim Ki Liong sambil mengamuk di samping Mayang.

Diam-diam Hay Hay tersenyum mendengar kata-kata itu. Memang cinta mampu merubah watak manusia, mampu menguasai manusia untuk melakukan apa saja, baik atau pun tidak baik menurut penilaian orang lain.

Diam-diam Han Lojin kagum bukan main kepada Hay Hay dan Pek Han Siong karena kedua orang ini sukar ditundukkan. Dan dia pun tahu betapa lihainya Sim Ki Liong, maka meski pun dia mengeroyok empat orang muda itu dengan banyak orang, namun agaknya banyak anak buahnya yang terluka atau tewas sebelum dia memperoleh kemenangan.

Di lain pihak, Hay Hay dan Han Siong yang belum berhasil membebaskan Bi Lian dan Kui Hong juga merasa bingung. Mereka tidak dapat menggunakan ilmu sihir mereka karena selain Han Lojin atau Ang-hong-cu mempunyai kekuatan batin yang cukup tangguh untuk melawan kekuatan sihir mereka, juga terlampau banyak orang yang mengeroyok mereka sehingga sukar untuk dapat menguasai mereka dengan kekuatan sihir. Terpaksa mereka berdua mengamuk dengan mengandalkan pedang pusaka di tangan mereka.

"Gunakan asap pembius!" Tiba-tiba saja terdengar perintah Han Lojin kepada para anak buahnya yang masih menganggur dan hanya mengepung tempat itu saja karena jumlah mereka terlalu banyak untuk dapat maju semua.

Mendengar perintah ini, Hay Hay dan Han Siong menjadi bingung juga. Sebelum mereka dapat melakukan sesuatu, terdengar ledakan-ledakan dan nampak asap putih mengepul memenuhi tempat itu. Para anggota Ho-han-pang sudah mengeluarkan sapu tangan dan menutupi mulut dan hidung dengan sapu tangan yang mengandung obat penawar racun pembius itu.

"Awas, tahan napas dan cepat menyingkir!" teriak Sim Ki Liong memperingatkan Hay Hay dan Han Siong. "Nona Mayang, kau pakai sapu tangan ini!" Ia meloncat ke dekat Mayang dan menyerahkan sehelai sapu tangan biru.

Mayang menerima sapu tangan itu lalu mengikatkannya di depan mulut dan hidungnya. Ada aroma harum aneh yang melindunginya dari asap pembius, dan Mayang masih dapat memutar cambuknya untuk melindungi diri dari pengeroyokan, juga untuk membalas.

Hay Hay dan Han Siong menahan napas, cepat melompat ke tempat yang tidak dipenuhi asap. Sim Ki Liong bergulingan sambil pedangnya menyambar-nyambar dari bawah, dan dia berhasil merobohkah tiga orang pengeroyok yang terbabat kakinya.

"Pengkhianat!" Terdengar bentakan nyaring.

Ketika itu Ki Liong sedang memutar pedang untuk menangkis hujan senjata para anggota Ho-han-pang dan Ji Sun Bi, maka pada waktu kaitan itu menyambar dengan dahsyatnya, dia kurang cepat dan tahu-tahu pundak kirinya sudah terkena kaitan yang berada di ujung rantai yang dimainkan oleh Han Lojin.

"Aduhh...!" Ki Liong berteriak karena merasa betapa pundaknya nyeri bukan main. Melihat ini Mayang cepat menyerang Han Lojin dengan cambukhya.

"Tarrrr...!"

Akan tetapi tangan kiri Han Lojin menangkap ujung cambuk dan menarik dengan tenaga yang amat kuat sehingga tubuh Mayang terhuyung ke depan.

"Lepaskan!" Tiba-tiba Hay Hay menerjang dari samping dengan tusukan pedang ke arah lengan kiri yang menangkap ujung cambuk.

Han Lojin terkejut bukan main, tidak mengira bahwa Hay Hay berani masuk lagi ke dalam medan pertempuran yang penuh asap pembius. Terpaksa dia melepaskan ujung cambuk Mayang, dan kesempatan itu digunakan oleh Ki Liong untuk mencabut keluar kaitan dari pundak kirinya. Dia bergulingan sampai jauh kemudian meloncat berdiri, pundak kirinya berdarah.

Pek Han Siong sendiri terpaksa harus berloncatan ke tempat yang bebas asap. Keadaan empat orang muda itu kini terancam karena mereka telah terdesak hebat. Pada saat yang amat berbahaya bagi mereka itu, tiba-tiba saja terdengar suara hiruk-pikuk dan muncullah puluhan orang prajurit!

Melihat kedatangan para prajurit ini, tentu saja orang-orang Ho-han-pang menjadi terkejut dan ketakutan. Bagaimana pun juga mereka merasa gentar kalau harus melawan prajurit pemerintah yang jumlahnya tentu ratusan, bahkan ribuan orang itu! Dan yang memimpin pasukan itu adalah seorang panglima tinggi bersama Menteri Cang Ku Ceng sendiri!

Bagaimana Menteri Cang dapat muncul pada saat yang amat tepat itu? Ketika Cia Kui Hong meninggalkan istana Menteri Cang Ku Ceng, gadis itu yang terikat janji dengan Han Lojin sehingga tidak berani membuka rahasia, hanya menganjurkan agar pembesar yang bijaksana itu melakukan penyelidikan dan bertanya kepada Hong-houw (permaisuri) lagi tentang rahasia laki-laki yang pernah mengacau di bagian puteri istana kaisar.

Setelah gadis itu pergi, Menteri Cang termenung dan akhirnya dia mengambil keputusan untuk menjumpai sang permaisuri. Dengan bijaksana dan halus dia membujuk permaisuri supaya bercerita demi keselamatan negara dan demi kehormatan istana kaisar. Akhirnya berceritalah permaisuri tentang petualangan bekas perwira Tang Bun An dan betapa dia sendiri tidak berdaya karena diancam oleh perwira itu setelah perhiasannya dicuri.

Mendengar ini Menteri Cang terkejut dan marah bukan main. Memang sejak dulu pun dia sudah menaruh curiga terhadap perwira itu, akan tetapi karena tidak ada bukti, maka dia pun tak mampu berbuat sesuatu. Kini, setelah mendengar keterangan Hong-houw sendiri, tentu saja dia tidak ragu-ragu lagi.

Orang yang sudah berani membuat kekacauan di istana, berbuat cabul, berani memaksa Hong-houw agar menyimpan rahasia, adalah orang yang jahat dan berbahaya sekali. Biar pun sekarang memimpin perkumpulan yang dinamakan Ho-han-pang, yang kelihatannya membantu pemerintah dan mengamankan keadaan, tapi kalau orang seperti itu dibiarkan bebas menyusun kekuatan, kelak tentu akan berbahaya sekali bagi keselamatan negara. Karena itu dia segera menghubungi panglima pasukan keamanan, mengerahkan pasukan dan dia pun ikut memimpin pasukan itu menyerbu Ho-han-pang.

Tentu saja Han Lojin terkejut bukan kepalang ketika melihat ada sejumlah besar pasukan datang menyerbu. Maka tahulah dia bahwa permainannya telah tamat, harapannya sudah hancur dan semua usahanya selama ini sia-sia belaka. Bahkan kini keselamatan dirinya sudah terancam pula.

Tiba-tiba dia melemparkan sebuah benda ke atas tanah. Benda itu meledak dan tempat itu penuh asap hitam. Karena khawatir kalau-kalau asap itu beracun pula, Hay Hay cepat melompat ke belakang sambil berseru kepada Han Siong dan Mayang agar menjauhkan diri dari asap.

"Asap ini hanya menggelapkan, tidak beracun. Halangi mereka melarikan diri!" terdengar Sim Ki Liong berseru. Akan tetapi, Hay Hay, Han Siong dan Mayang sudah berloncatan ke belakang.

Ketika asap telah mulai menipis, pasukan pemerintah menyerbu kembali sehingga terjadi pertempuran yang berat sebelah. Kalau tadi Hay Hay bersama Han Siong yang kemudian dibantu Mayang dan Sim Ki Liong menghadapi pengeroyokan puluhan orang banyaknya, kini puluhan orang Ho-han-pang harus menghadapi serbuan ratusan orang prajurit!

Sim Ki Liong sendiri yang tidak takut menghadapi asap itu. Dia tidak pernah melepaskan Ji Sun Bi dan biar pun wanita itu berusaha untuk melarikan diri, tetapi dia selalu dihadang oleh Ki Liong.

Ji Sun Bi menjadi marah dan nekat, lantas menggunakan pedangnya yang tinggal sebuah itu untuk menyerang Sim Ki Liong. Ki Liong menangkis dan Mayang yang melihat Ki Liong tidak lari dari asap, segera melompat maju lagi membantu pemuda itu mengeroyok Ji Sun Bi. Menghadapi Sim Ki Liong sendiri saja Ji Sun Bi sudah kewalahan, apa lagi sekarang di situ juga ada Mayang yang memutar cambuknya dengan dahsyat.

"Tar-tarr-tarrr....!” Cambuk itu meledak-ledak di atas kepala Ji Sun Bi.

Wanita ini menggerakkan pedangnya untuk melindungi kepala serta menangkis cambuk itu. Akan tetapi saat itu Sim Ki Liong telah menyerangnya dengan pedang yang menusuk dada. Terkejutlah Ji Sun Bi. Dia segera membuang diri ke samping untuk mengelak, akan tetapi kaki Sim Ki Liong sudah menyambar dan mengenai lambungnya. Dia mengeluh dan tubuhnya terpelanting.

Pada saat itu pula ujung cambuk di tangan Mayang menyambar dan mematuk ubuh-ubun kepalanya. Ji Sun Bi terkulai dan tewas seketika karena ubun-ubun kepalanya pecah oleh patukan ujung cambuk.

Sementara itu Pek Han Siong dan Hay Hay sibuk mengamuk sambil mencari Han Lojin, Tang Gun dan Tang Cun Sek. Namun tiga orang itu telah menghilang di balik asap tebal tadi. Ketika melihat betapa Mayang dan Ki Liong sudah berhasil merobohkan Ji Sun Bi, Hay Hay meloncat ke dekat Ki Liong.

"Ke mana larinya mereka?"

Sim Ki Liong maklum siapa yang dimaksudkan Hay Hay. "Ada jalan rahasia menuju ke lorong bawah tanah. Mari!"

Ki Liong mendahului mereka memasuki sebuah ruang yang nampaknya seperti ruangan sembahyang di mana terdapat sebuah meja sembahyang besar, lengkap dengan hio yang masih berasap dan lilin bernyala. Di samping meja terdapat sebuah singa batu yang indah ukirannya. Ki Liong memegang kepala singa batu ini, kemudian mengerahkan tenaga dan memutar singa itu. Terdengar suara keras kemudian meja sembahyang itu pun bergeser, membalik dan nampaklah sebuah lubang di mana terdapat tangga menurun.

"Lorong ini menuju ke tempat tahanan bawah tanah. Mari kutunjukkan!" Dia pun langsung mendahului masuk, diikuti Mayang, kemudian Hay Hay dan Han Siong.

Dan benar saja, lorong itu membawa mereka ke tempat tahanan bawah tanah. Masih ada beberapa orang anak buah Ho-han-pang di situ. Mereka segera roboh oleh amukan Sim Ki Liong dan Mayang. Akan tetapi semua kamar tahanan telah kosong. Cia Kui Hong dan Siangkoan Bi Lian telah lenyap dari tempat tahanan itu.

"Ah, tentu mereka telah dilarikan oleh Ang-hong-cu dan dua orang pembantunya itu!" kata Hay Hay.

"Dua orang pembantu itu adalah Tang Gun dan Tang Cun Sek, mereka adalah dua orang putera Han Lojin...,” kata Sim Ki Liong.

"Ahhh...!" Hay Hay memandang pada Ki Liong dengan sinar mata penuh selidik. "Sim Ki Liong, jika benar engkau telah menyadari diri dan insyaf, hendak merubah jalan hidupmu, lekas katakan ke mana mereka itu pergi!”

Sim Ki Liong memandang kepada Mayang dan menarik napas panjang. Dia benar-benar merasa malu sekali kepada Mayang dan merasa menyesal mengapa dia mempunyai latar belakang yang hitam. Sukar mengharapkan balasan cinta kasih dari Mayang. Akan tetapi cinta kasihnya terhadap gadis itu telah mengubah pandangan hidupnya, menyadarkannya bahwa dunia hitam, jalan sesat bukanlah jalan yang baik dan tidak menuju kebahagian.

“Aku tidak dapat memastikan ke mana mereka pergi. Akan tetapi ada jalan keluar rahasia dari lorong ini, menuju ke belakang perumahan Ho-han-pang menembus gunung. Ini pun belum pernah kulalui sendiri, hanya menurut keterangan Han Lojin. Mari...!”

Kembali Sim Ki Liong menjadi petunjuk jalan, dan di sudut ruang tahanan paling belakang dia menggerakkan batu-batu tertentu yang menyembunyikan alat-alat rahasia di dinding. Terdengar suara berderit lalu dinding itu pun bergerak, dan akhirnya muncul sebuah pintu kecil.

"Mayang, Ki Liong, kalian kembalilah ke depan. Biar aku bersama Han Siong saja yang melakukan pengejaran. Katakan kepada Menteri Cang bahwa kami melakukan pengejaran terhadap Han Lojin dan kami akan berusaha menangkapnya!"

Setelah berkata demikian, Hay Hay dan Han Siong memasuki pintu rahasia itu melakukan pengejaran. Mayang ragu-ragu, akan tetapi Ki Liong menyentuh lengannya.

"Kakakmu berkata benar. Terlalu berbahaya bagimu untuk ikut mengejar, dan mungkin di luar sana masih membutuhkan bantuan kita. Marilah, kita taati pesan kakakmu."

Keduanya lalu keluar dari lorong bawah tanah itu. Di luar masih terjadi pertempuran dan mereka pun segera terjun ke dalam pertempuran untuk membantu pasukan pemerintah. Para anak buah Ho-han-pang melawan mati-matian, tetapi pertempuran itu berjalan berat sebelah dan tidak lama kemudian seluruh anak buah Ho-han-pang sudah dapat digulung, ada yang tewas, terluka atau tertangkap.

Menteri Cang Ku Ceng yang menerima laporan dari perwira pasukan bahwa Mayang dan Sim Ki Liong tadi membantu pasukan pemerintah membasmi gerombolan Ho-han-pang, menerima mereka dengan ramah. Apa lagi ketika mendengar bahwa Mayang adalah adik Hay Hay dan Sim Ki Liong masih saudara seperguruan dengan Cia Kui Hong, pembesar itu menjadi kagum. Dia lalu bertanya bagaimana keadaan Cia Kui Hong dan Hay Hay.

"Taijin, tadinya saya sendiri, enci Kui Hong dan enci Siangkoan Bi Lian ditawan oleh ketua Ho-han-pang. Sekarang kedua orang enci itu agaknya dilarikan oleh ketua Ho-han-pang dan para pembantunya, akan tetapi kakakku Hay Hay dan Pek Han Siong Taihiap sedang melakukan pengejaran. Bahkan sekarang saya bersama Sim Ki Liong hendak melakukan pengejaran pula untuk membantu mereka."

"Bagus sekali! Kami harapkan agar mereka yang menjadi pengacau di kota raja itu dapat ditangkap."

Mayang dan Ki Liong kemudian segera pergi untuk melakukan pengejaran terhadap Han Lojln, mengikuti jejak Hay Hay dan Han Siong melalui terowongan rahasia yang menjadi jalan keluar lewat pintu belakang.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Dengan bantuan kedua orang puteranya, Tang Cun Sek dan Tang Gun, Han Lojin atau Ang-hong-cu Tang Bun An memang sudah berhasil melarikan diri setelah dia meledakkan alat peledak yang menimbulkan asap tebal. Mereka bertiga cepat-cepat memasuki lorong bawah tanah.

Kedua orang pemuda itu disuruh memanggul Cia Kui Hong dan Siangkoan Bi Lian yang masih pingsan terbius, maka dengan sendirinya dua orang pemuda itu memondong gadis pilihan masing-masing. Cun Sek memondong Kui Hong, ada pun Tang Gun memondong Bi Lian.

Mereka melarikan diri melalui lorong rahasia dan berhasil keluar dari belakang, kemudian Han Lojin memimpin mereka melarikan diri ke sebuah bukit. Mereka tiba di puncak bukit di mana terdapat sebuah gubuk atau pondok yang memang dipersiapkan oleh Han Lojin di tempat itu.

Pondok itu mempunyai dua buah kamar. Setelah dua orang gadis yang masih pingsan itu direbahkan di atas dipan kayu, Ang-hong-cu Tang Bun An atau Han Lojin lalu menyuruh dua orang puteranya keluar untuk diajak bicara di luar pondok.

"Hemm, semua usaha kita telah gagal. Entah siapa yang membocorkan rahasiaku hingga pasukan pemerintah menyerbu. Ho-han-pang telah hancur, akan tetapi masih untung kita bertiga dapat menyelamatkan diri ke sini."

"Tapi, Ayah...," kata Tang Cun Sek, kini menyebut ayah dan agaknya hal ini tidak ditolak oleh Ang-hong-cu, "mengapa kita berhenti di sini? Tempat ini tidak terlalu jauh dari markas Ho-han-pang. Bagaimana kalau mereka mengejar ke sinii"

"Benar sekali," kata pula Tang Gun. "Sebaiknya kalau kita berlari terus sehingga mereka kehilangan jejak kita."

Si Kumbang Merah tersenyum. "Jangan kalian khawatir. Tak akan ada seorang pun yang mengejar ke sini. Hanya mereka yang tahu tentang jalan rahasia itulah yang dapat ke sini, sedangkan dari jalan lain, puncak bukit ini hampir tak mungkin didatangi karena dikurung oleh jurang-jurang yang sangat dalam. Takkan ada yang menyangka bahwa kita berada di sini kalau mereka itu datang dari jurusan lain. Jalan menuju ke bukit ini hanyalah melalui terowongan rahasia itu. Hal ini sudah kuselidiki lebih dulu."

Mendengar ini, dua orang pemuda itu merasa lega. "Tetapi... Sim Ki Liong si jahanam itu? Bagaimana kalau dia menjadi petunjuk jalan?" tanya pula Cun Sek dengan mendongkol ketika teringat akan sikap Sim Ki Liong yang berbalik memusuhi ayahnya.

Si Kumbang Merah mengepal tinju. Dia pun marah sekali kalau teringat akan peristiwa itu. "Si pengkhianat keparat!" katanya lirih. "Kepala pengkhianat itu pasti akan kuhancurkan kelak! Jangan khawatir, dia sendiri pun tidak pernah memasuki lorong terowongan rahasia itu. Tidak ada yang tahu kecuali aku sendiri. Kita aman di sini."

"Kalau begitu, sekarang tibalah saatnya Ayah membuktikan bahwa Ayah adalah seorang yang dapat menghargai jasa kami, dan juga seorang ayah yang baik. Kami berdua mohon agar Ayah suka mengijinkan kami memperisteri dua orang gadis yang kami cintai itu. Aku ingin memperisteri Cia Kui Hong, dan adik Tang Gun ini ingin memperisteri Siangkoan Bi Lian."

"Benar sekali apa yang dikatakan oleh koko Cun Sek, Ayah. Sudah semenjak dahulu aku mencinta sumoi Siangkoan Bi Lian, dan sekaranglah saatnya Ayah memperkenankan aku memperisteri sumoi. Kuharap Ayah tidak keberatan sehingga tak sia-sia sejak dahulu aku merindukan Ayah bahkan kemudian membantu Ayah dengan setia."

Sepasang mata itu mencorong seperti berapi, akan tetapi hanya sebentar saja, kemudian Ang-hong-cu tertawa bergelak sambil mengelus jenggotnya yang rapi.

"Ha-ha-ha! Ini namanya tidak punya anak susah, punya anak juga susah. Dengan adanya kalian sebagai anak-anakku, kalian rewel dan membikin pusing saja! Sebelum ada orang yang mengaku anakku, setiap ada gadis terjatuh ke dalam tanganku akan kumiliki sendiri tanpa ada yang mengganggu. Sekarang aku telah menawan dua orang gadis pilihan, tapi kalian ribut hendak merenggut mereka dari tanganku. Apa bila permintaan kalian kuturuti, lalu untuk aku sendiri apa?"

Dua orang muda itu saling pandang dengan alis berkerut, akan tetapi mereka tidak berani membantah.

"Sekarang begini saja. Karena di sini hanya ada dua orang gadis, maka biar yang seorang akan kuberikan kepada kalian dan yang satunya lagi untukku. Nah, sekarang kalian boleh bertanding mengadu kepandaian. Siapa yang menang boleh memilih seorang di antara dua orang gadis itu. Yang kalah tak usah banyak rewel lagi, dan gadis ke dua untuk aku. Nah, mulailah!”

Kembali dua orang muda itu saling pandang dengan alis berkerut, akan tetapi kini sinar mata mereka saling bertentangan. Tang Cun Sek lalu tersenyum menghadapi adik tirinya.

"Gun-te (adik Gun), engkau adalah adikku, maka sudah sepatutnya jika sekali ini engkau mengalah. Biar aku dulu yang menikah, kelak tentu aku akan membantumu mencarikan seorang isteri."

"Tidak bisa begitu, Toako!" bantah Tang Gun dengan alis berkerut. "Aku mencinta sumoi Siangkoan Bi Lian, maka aku akan mempertahankannya dengan taruhan nyawa. Engkau sajalah yang mengalah terhadap adikmu ini, Toako, dan aku tak akan pernah melupakan budimu ini."

"Mengalah dan melepaskan Cia Kui Hong? Tidak mungkin, Gun-te!"

“Aku pun tidak mungkin dapat mengalah!"

“Hemm, mengapa kalian berdua begitu cerewet seperti perempuan-perempuan tua yang bawel? Hayo cepat mulai! Jangan sampai aku kehabisan sabar, nanti kedua-duanya akan kumiliki sendiri!”

Mendengar ucapan ayah mereka itu, Tang Cun Sek dan Tang Gun segera melompat ke bawah pohon. Tang Gun sudah mencabut pedang Kwan-im-kiam, sedangkan Tang Cun Sek mencabut sepasang Hok-mo Siang-kiam, yaitu pedang-pedang yang mereka rampas dari Bi Lian dan Kui Hong.

"Tak boleh mempergunakan senjata. Serahkan dulu pedang-pedang itu kepadaku!" Seru Ang-hong-cu. "Maksudku hanya untuk mengadu kepandaian, bukan mengadu nyawa!"

Dua orang pemuda itu tidak berani membantah, maka mereka lalu melemparkan senjata itu kepada Ang-hong-cu yang menyambutnya dengan cekatan. Dia tak ingin pertarungan itu menyebabkan kematian dua orang puteranya karena dia masih membutuhkan bantuan mereka. Tapi di dalam hatinya tentu saja dia pun tidak rela menyerahkan dua orang gadis tawanan itu kepada mereka.

Dua orang dara itu amat lihai dan terlalu berbahaya. Harus dia sendiri yang menundukkan mereka atau membunuh mereka apa bila mereka berkeras. Dia tahu dengan pasti bahwa mereka itu tidak akan mau secara suka rela menjadi isteri kedua orang puteranya ini, dan kalau menggunakan paksaan tentu mereka semakin tidak suka membantunya. Maka dia sendiri yang akan ‘menangani’ mereka.

Kini Tang Cun Sek dan Tang Gun telah saling berhadapan seperti dua orang jagoan yang hendak mengadu ilmu. Karena maklum bahwa kakak tirinya itu sangat lihai, maka Tang Gun tidak mau membuang waktu lagi.

"Lihat serangan!" bentaknya.

Dia pun telah menggerakkan tubuhnya, menyerang dengan pukulan yang disertai loncatan seperti seekor ayam menerjang lawan. Karena maklum akan kelihaian lawan, maka begitu menyerang Tang Gun sudah mempergunakan Ilmu Kim-ke Sin-kun yang dipelajarinya dari suhu dan subo-nya!

Tang Cun Sek terkejut bukan kepalang melihat serangan yang dahsyat ini,. Dia pun cepat melempar tubuh ke belakang sambil berjungkir balik sehingga terhindar dari serangan adik tirinya, kemudian membalas dengan memainkan ilmu silat andalan dari Cin-ling-pai, yaitu Thai-kek Sin-kun dengan pengerahan tenaga Thian-te Sin-ciang!

Tang Gun yang tidak berani menyambut, segera mengelak dengan loncatan ke samping, membalik dan menyerang lagi. Gerakannya lincah laksana seekor ayam jantan berkelahi, berloncatan ke sana-sini untuk mengelak, sepasang lengannya seperti sayap ayam yang menyambar dari kanan kiri, ada pun kakinya menendang-nendang dengan gerakan yang sukar diduga.

Terjadilah pertandingan yang sangat menarik. Sebenarnya ilmu silat yang dipelajari Tang Gun dari suhu dan subo-nya, yaitu Kim-ke Sin-kun, merupakan ilmu silat tinggi yang sukar dikalahkan. Tetapi sayangnya Tang Gun belum lama mempelajarinya sehingga dia belum dapat menguasai benar ilmu itu. Andai kata dia telah menguasai sepenuhnya, maka akan sukarlah bagi Tang Cun Sek untuk dapat mengalahkannya.

Di lain pihak, Tang Cun Sek adalah murid Cin-ling-pai yang tadinya sangat dikasihi kakek Cia Kong Liang, malah kakek itu sendiri yang menggemblengnya sehingga dia menguasai ilmu-ilmu simpanan dari Cin-ling-pai dengan baik sekali. Oleh karena itu, tentu saja tingkat kepandaian dan tenaganya masih menang setingkat dibandingkan Tang Gun dan setelah lewat tiga puluh jurus, nampaklah betapa Tang Gun mulai terdesak hebat dan pemuda ini hanya mampu mengelak atau menangkis saja, tidak diberi kesempatan untuk membalas lagi.

"Hyaaattttt…!"

Satu tamparan dengan tenaga Thian-te Sin-ciang dari Tang Cun Sek menyentuh pundak Tang Gun. Biar pun yang terkena tamparan hanya pundak, namun rasa nyerinya sampai menembus ke jantung. Tang Gun terpelanting dan sebelum dia mampu bangkit kembali, Tang Cun Sek sudah menyusulkan serangan totokan sehingga Tang Gun langsung roboh lemas tak sadarkan diri lagi.

"Bagus, coba kau lawan aku!" Tiba-tiba saja Ang-hong-cu Tang Bun An sudah menyerang Cun Sek dengan hebatnya.

Cun Sek sama sekali tak menyangka bahwa ayahnya akan menyerangnya, maka saking kaget dan herannya, dia tidak sempat menghindarkan diri lagi sehingga dua buah totokan mengenai pundak dan dadanya. Pemuda ini mengeluh lalu roboh tak sadar diri lagi dalam keadaan tertotok.

Ang-hong-cu tertawa. “Ha-ha-ha-ha, kalian anak-anak nakal! Ayah mana yang tidak ingin menyenangkan anaknya? Akan tetapi kalian juga harus menjadi anak-anak yang berbakti. Jangan khawatir, anak-anakku. Aku akan memberikan dua orang gadis itu kepada kalian, tetapi aku adalah Si Kumbang Merah penghisap kembang. Aku harus menghisap madu mereka dulu, baru akan kuserahkan mereka kepada kalian, ha-ha-ha-ha!” sambil tertawa-tawa Si Kumbang Merah mencengkeram punggung baju dua orang pemuda yang pingsan itu, mengangkat mereka seperti orang menjinjing dua ekor ayam saja lantas menurunkan tubuh mereka di atas lantai dalam pondok. Kemudian dia menutupkan daun pintu pondok dan keluar lagi.

Si Kumbang Merah ini memang suka akan segala yang indah-indah. Bukan hanya wanita cantik, tetapi dia suka pula akan kembang-kembang yang indah dan harum. Di sekeliling pondok di puncak bukit itu pun penuh dengan tanaman bunga beraneka ragam dan warna.

Sambil melamun dan menikmati keindahan alam, dia duduk di tengah-tengah taman yang dibuatnya sendiri itu. Saat itu musim semi telah lewat dan musim bunga membuat semua tanaman di situ tengah berbunga. Bunga-bunga ini menarik kumbang dan kupu-kupu yang beterbangan di sekitar tempat itu, hinggap dari satu ke lain bunga untuk menghisap madu.

Dengan amat asyiknya Ang-hong-cu Tang Bun An memandang kupu-kupu yang bermain-main di antara bunga-bunga itu. Ketika nampak seekor kumbang merah terbang dengan cepat, mendahului kupu-kupu yang banyak itu lantas hinggap di kembang-kembang yang masih penuh madunya, dia pun memandang dengan hati tertarik.

Pandang matanya jelas membayangkan kegembiraan dan kebanggaan. Melihat kumbang merah menghisap madu kembang-kembang itu, dia pun teringat akan semua pengalaman hidupnya. Sejak muda dia pun telah menghisap madu gadis-gadis muda yang cantik, tak terhitung banyaknya. Si Kumbang Merah ini sama sekali tidak tahu betapa pada saat dia melamun itu, dua orang yang ditakutinya tengah melakukan pengejaran lewat terowongan rahasia!

Akhirnya Hay Hay dan Han Siong sampai di ujung lorong rahasia di bawah tanah itu dan mereka merasa kagum melihat bahwa terowongan itu menembus ke sebuah lereng bukit yang dikepung jurang. Jalan satu-satunya menuju bukit itu hanyalah melalui terowongan rahasia tadi! Maka mereka pun tidak merasa ragu lagi. Sudah pasti Si Kumbang Merah yang mereka kejar itu berada di bukit ini. Mereka pun lalu mendaki bukit itu dengan cepat namun hati-hati sekali karena maklum betapa licik dan berbahayanya lawan yang mereka kejar.

Begitu tiba di puncak, mereka dapat melihat sebuah pondok berdiri di sana. Nampaknya sunyi saja di sekitar tempat itu. Pondok itu seperti tidak ada penghuninya dan di sekeliling pondok terdapat taman bunga yang sangat indah karena pada waktu itu hampir semua tanaman sedang berbunga. Dari tempat mereka mengintai saja sudah kelihatan banyak kupu-kupu beterbangan di antara bunga-bunga.

"Sebaiknya kita berpencar agar tidak terjebak berbarengan. Engkau menuju pondok lewat depan dan aku lewat belakang, Han Siong. Akan tetapi berhati-hatilah engkau, orang itu penuh dengan tipu muslihat."

Han Siong mengangguk dan mereka kemudian berpencar. Hay Hay menyelinap di antara pohon-pohon, mengambil jalan memutar menuju ke arah belakang pondok itu, sedangkan Han Siong berindap-indap menghampiri pondok dari arah depan.

Jantung dalam dada Hay Hay berdebar tegang ketika dia melihat Ang-hong-cu Tang Bun An duduk seorang diri di belakang pondok, di dalam taman bunga, dikelilingi bunga-bunga beraneka ragam dan warna! Orang yang dicari-carinya kini berada di tengah taman itu, seorang diri!

Dia tidak ragu lagi walau pun orang itu kini tidak berjenggot dan tak berkumis. Wajahnya bersih dan tampan, tapi itulah wajah Han Lojin! Seorang lelaki yang usianya kurang lebih lima puluh lima tahun, tampan dan gagah, dengan sinar mata penuh semangat, wajahnya berseri, mulutnya tersenyum dan hidungnya mancung.

Dia yakin bahwa itulah wajah Ang-hong-cu yang sebenarnya! Wajah Han Lojin hanyalah satu di antara wajah samarannya saja, walau pun wajah Han Lojin tidak berubah, hanya ditambah kumis dan jenggot.

Hay Hay menjadi marah membayangkan nasib para gadis yang pernah menjadi korban orang ini, terutama sekali Pek Eng dan Cia Ling. Dia sudah hampir melompat keluar tetapi dia langsung menahan diri karena melihat pria itu tertawa-tawa seorang diri seperti orang yang otaknya miring.

Ang-hong-cu bangkit berdiri sambil tertawa-tawa, lantas memetik setangkai mawar merah yang baru mekar dan semerbak mengharum. Diciumnya mawar itu dengan kedua mata terpejam, nampaknya dia amat menikmati keharuman mawar itu. Kemudian dia membuka mata, menatap bunga mawar yang tadi diciuminya itu, dan jari-jari tangannya memereteli kelopak bunga itu satu demi satu, menaburkannya ke atas tanah, kemudian membuang tangkainya. Dipetiknya bunga lain, lantas diciuminya seperti tadi, penuh kasih sayang dan kemesraan seolah-olah keharuman bunga itu hendak dihisapnya habis, namun tidak lama kemudian kembali jari-jari tangannya memereteli sampai habis.

Hay Hay yang sedang mengintai, memandang dengan mata terbelalak dan dia menahan napas seperti terpesona. Dia melihat bunga-bunga itu bagaikan gadis-gadis yang menjadi korban Si Kumbang Merah, dihisap keharumannya lalu dirusak dan dicampakkan begitu saja setelah keharumannya dihisap!

Sesudah menghabiskan belasan batang kembang, Si Kumbang Merah lantas menangkap seekor kupu-kupu bersayap kuning kebiruan yang indah sekali. Diamatinya kupu-kupu itu. Wajahnya berseri, pandang matanya mengagumi keindahan sayap kupu-kupu, kemudian jari tangan yang kejam itu memereteli sayap kupu-kupu.

Kupu-kupu itu meronta-ronta sampai akhirnya semua sayapnya putus dan habis, hanya tinggal tubuhnya menggeliat-geliat serta meronta-ronta di atas tanah. Si Kumbang Merah memandang ke arah sisa tubuh kupu-kupu itu, ke arah kelopak bunga yang bertebaran di depan kakinya, kemudian dia pun tertawa-tawa.

"Manusia berwatak iblis!"

Si Kumbang Merah terkejut mendengar seruan ini dan dia cepat membalikkan tubuhnya. Matanya terbelalak penuh keheranan ketika dia melihat bahwa orang yang menegurnya itu adalah Hay Hay!

"Kau...?!" serunya kaget karena sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa puteranya yang paling disegani ini dapat menyusulnya ke situ.

"Ang-hong-cu, engkau memang manusia iblis! Engkau memperlakukan para wanita yang tidak berdosa seperti kembang-kembang itu, seperti kupu-kupu itu. Engkau memperkosa, mempermainkan wanita sesuka hatimu, kemudian engkau campakkan mereka secara kejam! Engkau tidak patut hidup dipermukaan bumi, dan engkau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu yang busuk!"

"Hemmm, orang muda. Lupakah engkau bahwa engkau she Tang, bahwa engkau adalah putera Ang-hong-cu, puteraku? Engkau, seorang pendekar gagah perkasa dan budiman, apakah engkau hendak menjadi seorang anak yang durhaka, pengkhianat, membuat dosa menentang ayah kandung sendiri? Seorang pendekar harus berbakti kepada ayahnya!"

"Ang-hong-cu, engkau seorang penjahat besar, jadi tak perlu lagi memberi wejangan dan berkhotbah di hadapanku. Seorang gagah selalu membela kebenaran dan keadilan, dan hubungan keluarga tidak masuk hitungan dalam membela kebenaran dan keadilan! Biar ayah sendiri harus kutentang kalau jahat dan melanggar kebenaran dan keadilan!"

"Ha-ha-ha, Hay Hay anakku yang ganteng dan gagah! Coba katakan, kesalahan apa yang telah kulakukan? Kebenaran dan keadilan yang bagaimana yang telah kulanggar? Jangan melemparkan fitnah kepada ayah kandung sendiri!"

"Hemm, Ang-hong-cu, sejak kapan engkau mengakui aku sebagai anakmu? Ibuku sendiri kau perkosa, kau permainkan, kemudian kau campakkan begitu saja sampai dia bunuh diri. Dan masih banyak sekali wanita-wanita yang sudah kau rusak hidupnya, gadis-gadis yang tidak berdosa, bahkan pendekar-pendekar wanita! Engkau manusia berwatak iblis!"

"Ha-ha-ha-ha, kau maksudkan wanita-wanita itu? Hay Hay, engkau anak kecil tahu apa? Wanita itu seperti bunga, indah dan harum, sudah sepatutnya dikagumi dan dinikmati, dan seorang laki-laki seperti engkau sungguh tolol apa bila sampai terjatuh oleh rayuan wanita dan bertekuk lutut kepadanya. Akhirnya engkau sendiri yang akan menderita, yang akan dikhianati cintamu, ditinggal menyeleweng dengan pria lain!"

"Tidak semua wanita seperti itu!"

"Tidak semua wanita? Ha-ha-ha, engkau memang masih hijau. Karena pengalaman maka aku tahu benar akan hal itu. Dari pada hatiku disakiti oleh wanita, dari pada dipermainkan oleh wanita, lebih baik aku yang mempermainkan mereka."

"Engkau memang jahat dan keji!"

"Dan engkau sungguh mengecewakan hatiku. Engkau gagah perkasa dan tampan, juga pandai menundukkan hati wanita, tapi engkau lemah, engkau munafik, engkau pura-pura alim!"

"Cukup! Aku tidak mau banyak bicara lagi denganmu!" Hay Hay membentak dengan hati panas dan sebal.

"Habis engkau mau apa, Hay Hay?"

"Aku akan menangkapmu! Ang-hong-cu, menyerahlah. Engkau harus bertanggung jawab atas semua perbuatanmu!”

"Menyerah? Kepada anakku sendiri? Ha-ha-ha, anak baik, jangan dikira bahwa ayahmu ini selemah itu! Kalau aku tidak mau menyerah, habis engkau mau apa?"

"Terpaksa aku akan menggunakan kekerasan untuk menangkapmu!"

“Anak durhaka, engkau perlu dihajar. Majulah!" Tentu saja ini hanya merupakan gertakan yang membual karena sesungguhnya di sudut hatinya Ang-hong-cu Tang Bun An merasa jeri terhadap Hay Hay. Dulu dia pernah menjadi pecundang sesudah dikalahkan anaknya sendiri itu.

Karena maklum akan kehebatan Hay Hay, maka Si Kumbang Merah telah mengeluarkan senjatanya yang ampuh, yaitu rantai baja dengan dua ujungnya dipasangi sebuah pisau dan sebuah kaitan. Diputarnya rantai itu sehingga terdengar suara mendesing-desing dan nampak gulungan sinar putih gemerlapan.

Hay Hay juga sudah melepaskan pedang Hong-cu-kiam yang dapat digulung dan dipakai sebagai sabuk itu. Begitu pedang itu digerakkan, nampak sinar emas bergulung-gulung.

"Trangg! Cringgg...!”

Ketika pisau dan kaitan itu menyambar dahsyat secara beruntun, Hay Hay menyambut dengan tangkisan pedang Hong-cu-kiam sambil mengerahkan tenaganya dengan maksud hendak membabat putus senjata lawan dengan pedang pusaka dari Cin-ling-pai itu. Pisau dan kaitan membalik, akan tetapi tidak sampai rusak. Hal ini menunjukkan bahwa senjata di tangan Si Kumbang Merah itu pun terbuat dari baja yang kuat.

Ayah dan anak itu segera bertanding dengan seru. Keduanya bertanding dengan hati-hati dan mengeluarkan semua ilmu simpanan mereka karena maklum bahwa lawan tak boleh dipandang ringan, harus dihadapi dengan pengerahan tenaga sepenuhnya.

********************

Kita tinggalkan dahulu ayah dan anak yang sedang bertanding dengan hebatnya itu, dan marilah kita menengok keadaan di dalam pondok. Karena tenggelam ke dalam lamunan ketika berada di taman tadi, Ang-hong-cu Tang Bun An lupa dengan keadaan dua orang puteranya yang sudah ditotok dan ditinggalkan di dalam pondok tadi. Selain lengah, juga dia memandang ringan mereka, mengira bahwa kedua orang pemuda yang sudah diberi pelajaran itu tentu tidak akan berani bertingkah lagi.

Mula-mula Cun Sek yang terbebas dari totokan. Begitu dapat bergerak dia pun mengomel panjang pendek. "Ayah jahat, tega dia menipu anak-anaknya sendiri....!" omelnya dan dia lantas membebaskan totokan pada diri Tang Gun. Tang Gun yang sudah dapat bergerak segera hendak menyerangnya.

"Jangan salah paham, Gun-te! Kita berdua telah ditipu oleh tua bangka itu. Kalau tadi kita maju bersama tentu dia merasa berat, maka dia mengadu kita. Setelah engkau roboh, dia juga menotokku!"

"Ehh?! Kenapa begitu?"

"Hemm, tidak salah lagi. Tentu dua orang gadis kita hendak dikuasainya sendiri."

Tang Gun mengepal tinjunya. "Hemmm, tadinya aku sudah rnelupakan apa yang telah dia lakukan terhadap ibuku. Aku hendak menganggap dia ayahku yang sejati dan aku mau berbakti kepadanya. Tidak tahunya dia... dia...”

“Sama dengan aku, Gun-te. Dia orang yang sangat jahat dan curang, bahkan tega sekali mencurangi anak-anaknya sendiri. Mari kita lihat apakah dua orang gadis kita masih ada."

Mereka berdua memasuki dua kamar itu dan legalah hati mereka setelah mereka melihat bahwa Kui Hong dan Bi Lian masih rebah terlentang di atas pembaringan dalam keadaan tertotok. Mereka menambahkan lagi totokan agar dua orang gadis itu tidak dapat bergerak dalam waktu yang cukup lama.

"Kalau begitu, mari kita cari dia dan kita keroyok dia!" seru Tang Gun dengan marah.

"Nanti dulu, Gun-te...” Cun Sek mengusap-usap dagunya sambil memandang pada tubuh Bi Lian. "Memang belum tentu kita kalah melawan dia, akan tetapi seandainya kita kalah tentu usaha kita sia-sia belaka. Dua orang gadis kita tentu akan dirampasnya. Karena itu sebaiknya kalau kita memiliki dulu kekasih kita masing-masing, sesudah itu baru kita pergi mencarinya. Dengan demikian, andai kata kita kalah sekali pun, dua orang gadis itu telah menjadi milik kita!"

"Ahhh, benar sekali.... engkau benar, toako!" kata Tang Gun dan dia pun segera berlari ke dalam kamar sebelah di mana tubuh Siangkoan Bi Lian masih tergeletak dalam keadaan yang sama dengan Kui Hong, yaitu tak mampu bergerak dan lemas tertotok.

Dua orang gadis yang tak mampu bergerak akibat tubuh mereka lemas tertotok itu hanya bisa memandang dengan mata mendelik penuh kemarahan saja ketika dua orang pemuda itu menghampiri mereka di atas pembaringan masing- masing.

Tang Gun memasuki kamar di mana Bi Lian rebah terlentang dan menutupkan daun pintu kamar itu. Dengan napas memburu dan wajah merah dia lalu duduk di tepi pembaringan Bi Lian. Gadis itu memandang kepadanya dengan mata mendelik penuh kebencian.

"Sumoi, kenapa engkau memandangku seperti itu? Aih, Sumoi, semua ini kulakukan demi cintaku kepadamu. Aku sayang padamu, Sumoi, aku cinta padamu..."

Bi Lian membuang muka. Beberapa kali dia mencoba untuk mengerahkan tenaganya, tapi sia-sia saja. Totokan pertama saja belum lenyap pengaruhnya dan tadi Tang Gun sudah menotoknya lagi. Ia membenci orang yang pernah diterima ayah ibunya menjadi suheng-nya ini. Kalau saja dia mampu bergerak, tentu orang ini segera dibunuhnya, dipenggalnya kepalanya, ditembusinya jantungnya dengan pedang.

"Sumoi, engkau akan menjadi korban Si Kumbang Merah. Oleh karena itu, demi cintaku padamu dan untuk menyelamatkanmu, maka terpaksa aku akan menggaulimu. Terpaksa, Sumoi, agar engkau lebih dahulu menjadi milikku sehingga Si Kumbang Merah tidak akan menjamahmu lagi dan engkau akan menjadi… isteriku, Bi Lian."

Bi Lian bukan hanya tertotok yang membuat dia tidak mampu bergerak, bahkan dia tidak mampu bersuara. Dapat dibayangankan betapa sakit rasa hatinya ketika Tang Gun mulai merangkulnya, menindih tubuhnya, memeluk dan menciumi mukanya, pipinya, hidung dan bibirnya tanpa dia mampu mengelak. Dan perasaan hatinya bagaikan disayat-sayat ketika dia melihat dan merasa betapa tangan pemuda itu mulai menggerayangi tubuhnya dan membuka pakaiannya. Bi Lian memejamkan matanya dan air mata mulai menitik keluar dari pelupuk matanya, tanpa dapat ditahannya.

Siangkoan Bi Lian adalah seorang gadis yang berhati tabah, pemberani, bahkan galak dan keras sehingga dia pernah mendapat julukan Tiat-sim Sian-li (Dewi Berhati Besi) di dunia kang-ouw. Bahkan menangis pun seperti pantangan baginya. Jarang sekali dia menangis. Akan tetapi sekali ini dia tidak mampu menahan air matanya ketika menghadapi ancaman bahaya yang baginya lebih mengerikan dari pada maut. Dia akan diperkosa orang, akan diperhina orang tanpa mampu mengelak, tanpa mampu membela diri, bahkan tak mampu bersuara untuk memaki!

“Jangan menangis, isteriku. Aku sayang padamu, aku tidak akan menyakitimu, sayang...” kata Tang Gun ketika melihat air mata mengalir keluar dari kedua mata itu, lalu dia pun mengecup pipi yang basah air mata itu dengan nafsu yang makin menggelora.

Semakin deras air mata mengalir dari kedua mata Bi Lian. Kubunuh kau, kubunuh kau...! Kalimat ini berulang-ulang diucapkan di dalam hati. Dia tidak berani membuka mata dan akan menerima aib yang akan menimpa dirinya itu untuk mempertebal rasa dendam dan bencinya.

“Brakkkk…!"

Pada saat terakhir yang amat gawat bagi kehormatan Siangkoan Bi Lian itu, tiba-tiba pintu kamar itu jebol ditendang orang dari luar. Sesosok bayangan menyambar cepat ke arah Tang Gun yang sudah siap menanggalkan pakaian dari tubuhnya sendiri.

Thanks for reading Si Kumbang Merah Pengisap Kembang Jilid 31 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »