Si Kumbang Merah Pengisap Kembang Jilid 29

TIBA-TIBA dia tersentak kaget, teringat betapa ketika mengeroyoknya, Tang Cun Sek tidak memegang Hong-cu-kiam, dan Sim Ki Liong juga tidak memegang Gin-hwa-kiam! Apakah hal itu sengaja mereka lakukan karena mereka menyamar dengan memakai kedok tipis, tidak mau mengeluarkan pedang-pedang pusaka itu agar dia tidak mengenal mereka?

"Lanjutkan ceritamu, Mayang."

"Aku ditawan di sini dan aku menantang Ho-han Pangcu di kamar ini. Ia membebaskanku kemudian kami berkelahi. Akan tetapi dia amat lihai, dia berhasil merobek bajuku dan dia melihat benda mainan ini!"

"Hemm, jadi dia tahu pula bahwa engkau puterinya?"

“Agaknya demikianlah, walau pun dia tidak membuat pengakuan. Buktinya dia mengenal nama ibuku, Souli, dan dia mengenal pula subo-ku."

"Siapakah subo-mu?"

"Kim-mo Sian-kouw."

"Hemm, lalu apa yang dilakukan terhadap dirimu?"

"Dia tidak mengaku siapa dirinya, hanya mengatakan bahwa aku ditahan di sini dan baru akan dibebaskan bila Hay-ko mau menyerah dan mau membantu Ho-han-pang. Aku pun menanti saja di sini, diberi makan minum dan semua keperluan dicukupi, bahkan pakaian lengkap tersedia di sini. Mereka tidak pernah menggangguku, tetapi hatiku selalu khawatir akan nasib Hay-ko sampai engkau masuk tadi, Enci. Tetapi sekarang hatiku lebih tenang, sesudah mengetahui bahwa engkau juga musuh mereka dan agaknya engkau lihai. Kita dapat bekerja sama melawan mereka, enci!"

Hati Kui Hong juga merasa lega. Gadis ini tentu mempunyai ilmu kepandaian yang cukup baik, sebab bila tidak demikian, tidak nanti Hay Hay mengajaknya mencari Ang-hong-cu. Dia sendiri belum pernah mendengar nama gadis ini atau ibunya, akan tetapi dia pernah mendengar nama guru gadis ini, Kim-mo Sian-kouw. Neneknya pernah bercerita bahwa di daerah Tibet selain terdapat banyak pendeta Lama yang sakti juga terdapat seorang tokoh wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan berjuluk Kim-mo Sian-kouw.

"Tentu saja, adikku. Ketahuilah, namaku Cia Kui Hong…..”

"Wah, kiranya engkau ini enci Kui Hong!" Mayang berseru dengan gembira sekali.

Kui Hong memandang kepada Mayang dengan alis berkerut. "Engkau sudah mengetahui namaku?"

"Tentu saja! Engkau merupakan sahabat terbaik dari kakakku, bagaimana aku tidak tahu? Hay-ko banyak bercerita tentang dirimu, kata Hay-ko engkaulah sahabatnya yang paling dikaguminya dan yang paling baik."

"Ahh? Dia berkata demikian?" Wajah Kui Hong seketika berubah merah sekali sampai ke leher dan telinganya dan hal ini tidak dilewatkan oleh pandangan mata Mayang. "Apa lagi yang dikatakannya tentang diriku?"

Mayang kemudian mengingat-ingat. Atas pertanyaan dan desakannya, memang Hay Hay banyak bercerita tentang pengalamannya yang lampau dan tentang para pendekar wanita yang pernah ditemuinya, juga yang pernah bekerja sama dengannya dalam menghadapi tokoh-tokoh sesat.

"Dia bilang bahwa Enci merupakan seorang pendekar wanita yang cantik jelita dan manis budi, juga berkepandaian tinggi sekali…"

“Ihhh! Engkau perayu seperti kakakmu!" kata Kui Hong tertawa.

"Tidak, Enci. Dia bukan memuji kosong sebagai rayuan. Memang engkau cantik jelita dan manis budi, dan tentu kepandaianmu tinggi sekali…"

"Sudah, cukuplah. Lanjutkan ceritamu, adik Mayang," kata Kui Hong, akan tetapi bibirnya tersenyum manis dan hatinya terasa girang bukan main. Hay Hay masih ingat kepadanya! Bukan hanya ingat, akan tetapi bahkan memuji-mujinya!

"Hay-koko mengatakan bahwa Enci adalah puteri ketua Cin-ling-pai yang terkenal sebagai perkumpulan para pendekar yang gagah perkasa, juga Enci adalah cucu Pendekar Sadis yang namanya menggemparkan dunia persilatan!"

"Cukup tentang diriku. Ceritakan bagaimana engkau sampai terjebak di sini dan kakakmu itu belum juga datang menolongmu."

Wajah Mayang kelihatan berduka. "Entahlah, enci Hong. Aku tidak tahu di mana adanya kakakku, tetapi aku khawatir sekali kalau sampai dia pun terperangkap oleh jahanam..."

“Dia ayah kandungmu!"

"Tidak peduli! Dia jahat! Dia telah meninggalkan ibu ketika ibu mengandung, membuat ibu menderita hebat. Dan sekarang dia malah menawanku, menghinaku! Enci Hong, engkau yang seharusnya melanjutkan ceritamu tadi, tentang Ang-hong-cu, tentang kedatanganmu ke sini, tentang segalanya!"

Kui Hong teringat dan tersenyum. Tadi ceritanya terhenti karena dia tenggelam ke dalam kegembiraan mendengar Hay Hay memuji-mujinya dan masih ingat kepadanya.

"Aku mengenal Han Lojin sebagai Ang-hong-cu beberapa waktu yang lalu pada saat para pendekar membantu pemerintah membasmi pemberontakan yang dipimpin oleh Lam-hai Giam-lo. Han Lojin muncul dan dia pun membantu pemerintah. Di sanalah dia melakukan perbuatan-pebuatan jahat, memperkosa beberapa orang wanita dan di sana terdapat pula kakakmu Hay Hay. Ketika itulah kakakmu, aku dan yang lain-lainnya, mengetahui bahwa Han Lojin adalah Ang-hongcu, akan tetapi dia melarikan diri. Ketika aku tiba di kota raja, kebetulan aku bertemu dengan Tang Bun An yang menjadi perwira di istana, lantas aku mengetahui rahasianya, bahkan dialah Han Lojin dan juga Ang-hong-cu. Namun dengan liciknya dia menjebakku sehingga aku tertawan olehnya. Dan di situ aku melakukan suatu kebodohan yang membuat aku sangat menyesal. Aku telah berjanji takkan memusuhinya dan tak akan membuka rahasianya. Sebagai imbalannya dia membebaskan aku. Padahal sesungguhnya dia takut kepadaku, takut kepada Cin-ling-pai, takut pula kepada kakekku Pendekar Sadis. Sesudah bebas aku merasa sangat menyesal, merasa bahwa aku telah menjadi pelindungnya, menjadi sekutunya. Karena itu aku lalu datang menantangnya dan maklum bahwa dia tentu akan mempergunakan anak buahnya untuk mengeroyokku. Nah, kemudian aku dikeroyok dan ditawan, lalu dimasukkan ke sini."

Mayang memandang heran. "Enci Hong! Engkau telah bebas akan tetapi engkau sengaja membiarkan dirimu ditangkap dan terancam maut?"

Kui Hong tersenyum, kemudian mengangguk. "Bukan hanya ancaman maut, malah lebih mengerikan lagi. Mungkin aku akan disiksa, dihina, lalu dibunuh. Akan tetapi bagiku lebih baik mati dalam menentang kejahatan dari pada hidup menjadi sekutu orang jahat!"

"Hebat! Engkau hebat, enci Hong. Memang pantas sekali kalau kakakku kagum padamu. Engkau seorang pendekar wanita yang hebat! Akan tetapi jangan khawatir, Enci. Kini kita bersatu. Kita berdua dapat melawan mereka! Dan masih ada kakakku pula, dia pasti akan menolong kita. Ia mempunyai sebuah hadiah untukmu, hal itu pernah dia katakan sendiri kepadaku."

"Hadiah? Untukku? Hadiah apakah itu, Mayang?"

"Sebatang pedang pusaka, Enci."

"Pedang pusaka? Aku sudah memiliki Hok-mo Siangkiam... ahh, tetapi si keparat itu telah menyitanya!" katanya dengan wajah menyesal sekali.

"Jangan khawatir, Enci. Pedang pusaka itu hebat, aku telah melihatnya, dan kata Hay-ko, pedang itu memang milikmu, milik Cin-ling-pai. Namanya Hong-cu-kiam."

"Hong-cu-kiam?"

Sepasang mata yang tajam itu terbelalak. Pedang pusaka itu dilarikan Tang Cun Sek dan kini telah berada di tangan Hay Hay? Pantas saja Cun Sek tidak mempergunakan pedang pusaka itu. Dan bagaimana dengan Gin-hwa-kiam yang tadinya dilarikan Ki Liong?

"Ah, memang benar itu pusaka Cin-ling-pai yang dilarikan orang. Dan... barangkali engkau tahu tentang pedang pusaka Gin-hwa-kiam?”

"Gin-hwa-kiam? Bukankah itu pedang pusaka yang kulihat dipergunakan oleh pendekar Pek Han Siong?"

"Sudah berada di tangan Pek Han Siong? Bagus!" Kui Hong girang bukan main. Kiranya Hay Hay dan Han Siong sudah dapat merampas kembali kedua pedang pusaka itu! "Gin-hwa-kiam adalah pedang Pulau Teratai Merah yang juga dilarikan orang. Aihh…, adikku, engkau menceritakan berita yang sangat menggembirakan. Sekarang marilah kita periksa tempat ini, kalau-kalau ada jalan untuk melarikan diri dari sini."

"Coba periksalah, Enci. Aku sudah lelah memeriksa namun tidak dapat menemukan jalan keluar. Ruangan ini adalah ruangan di bawah tanah dan jalan satu-satunya adalah pintu itu, tetapi pintu itu terbuat dari besi yang tebal dan kokoh kuat. Membukanya pun dengan alat rahasia. Sedangkan lubang angin dan sinar di atas itu, selain terlalu tinggi juga diberi terali besi yang kokoh pula."

Tetapi Kui Hong merasa tidak puas kalau belum memeriksa sendiri. Dia lalu mengadakan pemeriksaan dengan sangat teliti. Namun ternyata benar seperti yang dikatakan Mayang tadi. Tempat itu sangat rapat dan tidak ada jalan keluar kecuali melalui pintu yang amat kokoh itu. Satu-satunya jalan hanyalah menanti sampai ada yang membuka pintu itu lalu menerjang keluar!

Karena itu, ketika ada orang yang mendorong makanan dan minuman melalui lubang di bagian bawah pintu, dua orang gadis itu pun makan minum dengan cukup untuk membuat tubuh mereka tetap kuat. Kui Hong yang mengenal kelicikan lawan tadinya merasa ragu untuk makan dan minum. Dia tidak takut menghadapi racun karena dia dapat mengetahui kalau makanan atau minuman itu dicampur racun, tetapi yang dikhawatirkan adalah kalau ada kekuatan sihir terkandung dalam makanan dan minuman itu yang akan menundukkan mereka. Ketika dia menyatakan hal ini, Mayang pun tersenyum.

"Kalau terhadap serangan sihir, jangan takut, Enci. Secara khusus aku sudah melatih diri untuk menolak segala kekuatan sihir."

"Ehh! Engkau pandai sihir seperti Hay Hay dan Han Siong?" Kui Hong memandang gadis Tibet itu.

Mayang tersenyum. Bukan main manisnya gadis Tibet itu bila mana tersenyum. Mulutnya yang kecil itu mekar bagaikan setangkai bunga yang merah merekah. Dia tidak menutupi keindahan itu dengan tangannya seperti biasanya gadis Han yang sopan-sopan.

Kui Hong memandang kagum. Memang ada persamaan antara Mayang dengan Hay Hay. Mungkin dalam bentuk mulut dan hidungnya itulah, juga kecerahan wajah itu bila sedang tersenyum.

"Tidak, Enci. Akan tetapi biar Hay-ko sendiri pun tak akan mampu menguasai aku dengan kekuatan sihirnya! Subo telah mengajarkan aku latihan untuk memperoleh kekuatan batin yang bisa menolak segala macam kekuatan sihir yang bagaimana kuat pun. Oleh karena itu jangan khawatir, aku mampu menolaknya."

Kui Hong memandang kagum. Mereka lalu makan minum dengan gembira sehingga Kui Hong pun lupa bahwa dia sedang berada dalam tahanan musuh, bukan di dalam kamar hotel mewah sedang bersenang-senang dengan seorang sahabat yang menyenangkan sekali. Setelah makan dan beristirahat sejenak, Kui Hong lalu bangkit.

"Adik Mayang, kini bersiaplah. Kita akan mengadu kepandaian silat. Kamar ini cukup lebar sehingga leluasa bagi kita untuk bertanding silat di sini."

"Ehhh?!" Mayang memandang wajah Kui Hong dengan kaget, akan tetapi melihat wajah yang cantik itu tetap cerah dan mulutnya tersenyum, Mayang pun segera mengerti.

"Maksudmu, kita berlatih silat, enci Hong?'

Kui Hong mengangguk. "Kita harus selalu siap, oleh sebab itu kita perlu berlatih, terutama untuk mengenal kepandaian masing-masing sehingga mudah bagi kita untuk menentukan langkah selanjutnya. Jangan sungkan dan jangan main-main, adikku. Seranglah aku dan keluarkan semua kepandaianmu agar aku dapat menilai sampai di mana tingkatmu."

"Baik, enci Hong, akan tetapi jangan mentertawakan aku!"

"Aihh, engkau terlalu merendahkan dirimu, Mayang. Aku pernah mendengar nama besar subo-mu, maka aku tahu bahwa engkau pasti mempunyai ilmu silat yang hebat. Nah, mari kita main-main sebentar!"

"Baik, enci Hong. Kau jaga baik-baik seranganku!"

Setelah melihat bahwa Kui Hong sudah memasang kuda-kuda, Mayang kemudian mulai menyerang. Karena dia pun sudah dapat menduga akan kelihaian Kui Hong, maka begitu menyerang dia segera memainkan ilmu silat Kim-lian-kun (Ilmu Silat Teratai Emas) yang sangat ampuh, yaitu ilmu silat andalan dari Kim-mo Sian-kouw. Gerakannya sangat cepat dan mengandung tenaga yang dahsyat sehingga dari tangannya keluar angin berdesir.

"Bagus!" Kui Hong berseru sambil mengelak dan membalas serangan Mayang.

Dia pun tidak main-main karena dari gerakan pertama itu saja tahulah dia bahwa Mayang sungguh lihai dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Kui Hong sudah mempelajari banyak macam ilmu silat, tapi belum pernah dia melihat ilmu silat seperti yang dimainkan oleh Mayang, maka dia pun bersikap hati-hati sekali.

Serang menyerang terjadi di dalam kamar yang luas itu hingga terdengar angin berkesiur setiap kali mereka menggerakkan tangan. Dan bila sesekali terjadi adu lengan, keduanya tergetar dan mundur dua langkah, saling pandang dengan kagum. Makin lama serangan Mayang semakin hebat dan Kui Hong kagum bukan main.

Ilmu silat gadis Tibet itu memang tangguh sekali, maka terpaksa dia harus mengerahkan ilmu ginkang (meringankan tubuh) Bu-eng Hui-teng (Lari Terbang Tanpa Bayangan) yang dipelajarinya dari Ceng Sui Cin, ibunya. Dengan ilmu ini tubuhnya menjadi ringan laksana kapas sehingga Mayang terkejut dan kagum bukan main. Lawannya itu seolah-olah dapat terbang dan tak pernah dapat disentuh oleh tangannya yang menyerang.

Kui Hong lalu menilai ilmu yang dimiliki Mayang, juga kekuatan kedua tangannya. Harus diakuinya bahwa tingkat kepandaian Mayang sudah cukup tinggi, tak kalah dibandingkan para pendekar wanita lainnya. Apa bila tidak memperoleh gemblengan dari kakeknya dan neneknya di Pulau Teratai Merah, dia sendiri tentu akan mengalami kesulitan untuk dapat mengalahkan Mayang!

Sampai lima puluh jurus lebih mereka berlatih dan kalau Kui Hong menghendaki, biar pun tidak terlalu mudah tapi dia akan mampu mengalahkan Mayang. Bagaimana pun lihainya gadis Tibet itu, Kui Hong masih menang tingkat, menang cepat dan tenaganya lebih kuat. Akan tetapi Kui Hong tidak mau mengecilkan hati Mayang. Dia sudah merasa cukup puas melihat kenyataan bahwa Mayang memang lihai sehingga bisa diandalkan untuk menjadi kawan dalam menghadapi Ang-hong-cu beserta anak-anak buahnya.

"Cukup, Mayang!" katanya sambil melompat ke belakang. "Engkau lihai sekali!"

"Ihhh, enci Kui Hong, jangan memuji! Kalau engkau mau, tentu sudah sejak tadi engkau dapat merobohkan aku. Ilmu aneh apakah itu yang tadi membuat tubuhmu begitu ringan seperti kapas terbang saja? Semua seranganku tidak ada gunanya!"

"Itu adalah Bu-eng Hui-teng yang kupelajari dari ibuku, Mayang. Sudahlah, sekarang kita beristirahat. Engkau cukup tangguh dan kurasa kita berdua akan mampu menjaga diri bila mereka muncul," kata Kui Hong sambil mengusap peluh dari lehernya, seperti yang juga dilakukan oleh Mayang. "Sekarang mari menghimpun tenaga dan memulihkan kelenturan otot-otot, mengatur pernapasan," kata Kui Hong yang ingin agar keduanya berada dalam keadaan yang siap benar untuk memberontak kalau sewaktu-waktu pintu besi itu dibuka. Mayang mengangguk dan keduanya lantas duduk bersila di atas pembaringan, mengatur pernapasan.

********************

Sebagai seorang pelarian, tentu saja Tang Gun tidak berani begitu saja memasuki kota raja. Kalau ada orang yang mengenalnya, tentu akan terjadi geger. Pasukan pemerintah pasti akan mengejar dan menangkapnya.

Meski pun di sampingnya ada sumoi-nya, Siangkoan Bi Lian yang lihai sekali, namun jika pasukan pemerintah mengepungnya, tentu mereka berdua tidak akan mampu melawan, bahkan sulit untuk dapat meloloskan diri dari kota raja. Oleh karena itu, ketika memasuki pintu gerbang kota raja, Tang Gun menyamar sebagai seorang lelaki setengah tua yang rambutnya sudah penuh uban, dengan kumis dan jenggot palsu. Siangkoan Bi Lian yang berjalan di sampingnya mengaku sebagai puterinya. Penyamaran itu cukup baik sehingga tak seorang pun mengenalnya.

Mereka masuk ke kota raja sesudah hari menjelang senja. Cuaca sudah mulai redup dan remang-remang. Tang Gun langsung mengajak sumoi-nya mencari seorang bekas anak buahnya yang dipercaya benar, karena mereka harus lebih dahulu menyelidiki di mana adanya Tang Bun An yang mereka cari-cari itu.

Bekas anak buahnya itu bernama Gu Kiat, dan sebagai seorang prajurit pengawal istana tentu dia tahu akan segalanya mengenai Tang Bun An yang kabarnya menjadi perwira itu. Dahulu Tang Gun pernah menyelamatkan Gu Kiat, maka dia merasa yakin bahwa Gu Kiat yang hidup sebatang kara tanpa keluarga itu pasti akan suka membantunya.

Gu Kiat kebetulan sedang duduk di ruangan depan rumahnya ketika Tang Gun atau yang kini dikenal sebagai Tan Hok Seng tiba. Dia cepat-cepat keluar dari pintu rumahnya dan memandang heran pada pria dan wanita yang tidak dikenalnya itu. Apa lagi ketika melihat betapa wanita muda itu amat cantik, maka keheranannya bertambah.

"Paman hendak mencari siapakah?" tanya Gu Kiat sambil melirik ke arah wajah Bi Lian yang nampak cantik sekali tertimpa sinar lampu gantung di depan rumah itu.

Hok Seng membalas penghormatan tuan rumah dan berkata, "Saya mempunyai urusan penting sekali untuk disampaikan kepada saudara Gu Kiat."

"Saya sendiri yang bernama Gu Kiat."

Hok Seng berkata kepada Bi Lian, "Anakku, engkau tunggu sebentar di sini, aku hendak bicara empat mata dengan saudara ini." Bi Lian mengangguk dan Hok Seng lalu berkata kepada Gu Kiat yang masih memandang keheranan itu. "Saudara Gu Kiat, dapatkah kita bicara empat mata di dalam? Apa yang akan saya bicarakan ini sangat penting dan tidak boleh diketahui orang lain."

"Tapi... tapi..., siapakah Paman?" Gu Kiat bertanya ragu.

Hok Seng berbisik, "Aku Tan Hok Seng dan aku ingin bicara mengenai guci emas istana. Mari kita bicara empat mata di dalam."

Gu Kiat nampak kaget bukan kepalang, matanya terbelalak dan mukanya berubah pucat ketika dia memandang kepada Hok Seng. Bi Lian tidak mengerti, hanya mengira bahwa kini orang itu sudah mengenal Hok Seng yang menyamar. Padahal Gu Kiat terkejut sekali karena mendengar bisikan tentang guci emas istana tadi.

Dulu, sebagai prajurit pengawal dia pernah mencuri guci emas istana dan perbuatannya itu ketahuan oleh pengawal lain. Kalau tidak ada Tang Gun yang menyelamatkannya, dia tentu sudah ditangkap dan dijatuhi hukuman berat. Tidak mengherankan kini dia terkejut setengah mati mendengar laki-laki setengah tua yang tidak dikenalnya itu berbisik tentang guci emas istana! Karena itu, mendengar permintaan orang itu untuk bicara empat mata di dalam, dia pun mengangguk lantas memberi isyarat kepada orang itu untuk memasuki rumahnya.

Bi Lian tidak turut masuk, melainkan duduk menunggu di atas bangku di ruangan depan itu. Biarlah suheng-nya yang melakukan penyelidikan di mana adanya Tang Bun An yang telah melempar fitnah kepada suheng-nya itu. Nanti bila telah berhadapan dengan musuh itu, barulah dia yang akan menandinginya.

Setelah berada di dalam ruangan sebelah dalam, hanya berdua saja dengan Gu Kiat, Hok Seng kemudian berkata lirih, "Gu Kiat, pandanglah baik-baik. Aku adalah Tang Gun yang sedang menyamar!"

Gu Kiat memandang tajam dan dia segera mengenal bekas atasannya itu, mengenal dari suara dan pandang matanya. "Tang-ciangkun....!" katanya terkejut dan heran. Selama ini dia menyangka bahwa bekas komandannya ini telah tewas.

"Ahhh, jangan menyebut aku ciangkun lagi, aku sudah bukan seorang perwira."

"Tapi... tapi... apakah kehendak Tang-kongcu, (tuan muda Tang) mendatangi saya?" jelas bahwa Gu Kiat ketakutan karena tentu saja dia akan celaka kalau sampai diketahui orang bahwa dia kedatangan tamu bekas perwira yang menjadi orang hukuman dan pelarian ini.

"Dengarkan baik-baik, Gu Kiat. Aku pernah menolongmu, dan sekarang saatnya engkau membalas budi itu dan balik menolongku. Pertama, lupakan bahwa namaku adalah Tang Gun. Kini namaku adalah Tan Hok Seng, maka engkau harus menyebutku Tan-kongcu. Mengerti?"

Diingatkan akan ‘budi’ itu, Gu Kiat mengangguk patuh. "Saya mengerti," katanya lirih.

"Dan ke dua, aku ingin mendengar tentang diri Tang Bun An. Nah, ceritakan tentang dia!"

Di dalam hatinya Gu Kiat tersenyum. Akan tetapi wajahnya tidak membayangkan apa pun ketika dia menjawab. "Ahh, dia? Setelah engkau pergi, dia lalu diangkat menjadi seorang perwira tinggi pasukan pengawal di istana."

"Hemm, sudah kuduga. Di mana sekarang dia tinggal?"

Gu Kiat menggeleng kepalanya. "Bagaimana saya bisa tahu? Sekarang dia telah berhenti menjadi perwira."

"Berhenti?"

"Dia mengundurkan diri dan sejak itu, saya tidak tahu lagi di mana dia berada."

Tentu saja Hok Seng kecewa bukan main mendengar berita ini. Musuh besarnya itu telah lolos, dan tidak lagi berada di kota raja!

"Akan tetapi saya dapat membantumu, Kongcu. Di antara kawan-kawan yang dulu pernah menjadi anak buahnya, tentu ada yang tahu di mana adanya bekas perwira itu."

Wajah yang tadinya dibayangi kekecewaan itu menjadi cerah kembali. "Ahh, bagus sekali! Terima kasih dan ternyata engkau seorang yang mengenal budi, Gu Kiat. Kapan engkau akan melakukan penyelidikan itu? Lebih cepat lebih baik!"

"Memang sebaiknya begitu, Kongcu. Malam ini juga saya akan pergi menyelidiki di antara kawan-kawan. Dan sebaiknya kalau Kongcu dan ehh… siapakah nona yang menunggu di depan itu?"

"Dia sumoi-ku."

"Sebaiknya Kongcu dan nona bersembunyi saja di rumah saya ini. Amat berbahaya kalau bermalam di luaran. Kongcu berdua mengaso dan bermalam di sini saja, sedangkan saya akan pergi melakukan penyelidikan. Mudah-mudahahan saja malam ini juga saya sudah bisa mendapatkan keterangan."

Hok Seng menjadi girang bukan kepalang. Dia memesan kepada bekas anak buahnya itu agar tidak keliru menyebut namanya karena semenjak menjadi pelarian dia telah berganti nama, bahkan sumoi-nya sendiri pun mengenalnya sebagai Tan Hok Seng. Sesudah itu barulah mereka keluar dan mempersilakan Siangkoan Bi Lian masuk ke dalam. Sesudah mereka berada di ruangan dalam, Hok Seng memperkenalkan sumoi-nya kepada Gu Kiat.

"Gu Kiat, ini sumoi-ku Siangkoan Bi Lian. Sumoi, saudara Gu Kiat ini dulu pernah menjadi anak buahku yang setia. Sekarang dia suka membantu kita dan malam ini juga dia akan melakukan penyelidikan tentang perwira itu. Malam ini kita tinggal di sini, lebih aman."

Bi Lian mengerutkan alisnya dan dia menatap tajam wajah tuan rumah.

"Kenapa harus menyelidiki lagi? Kita dapat menyelidiki sendiri asalkan diberi tahu di mana tinggalnya.”

"Aihhh, engkau belum tahu, Sumoi. Orang yang kita cari itu ternyata sudah tidak menjadi perwira lagi, dan Gu Kiat ini tidak tahu ke mana dia pergi. Oleh karena itu, malam ini juga dia hendak mencari keterangan dari kawan-kawannya yang dahulu pernah menjadi anak buah perwira tua itu."

"Hemm, begitukah?" Bi Lian merasa kecewa mendengar berita itu.

"Harap Tan-kongcu dan Siangkoan-siocia (nona Siangkoan) tenangkan hati. Jji-wi (kalian) malam ini tinggal di sini, agar lebih aman dari pada kalau tinggal di luar. Dan percayalah, malam ini tentu saya sudah mendapatkan berita tentang perwira itu. Pakailah dua kamar di depan kamar saya, itu memang kamar untuk tamu. Apa bila ji-wi membutuhkan makan minum, di dapur masih ada persediaan lengkap untuk masak dan membuat air teh. Juga masih ada arak di dalam almari. Silakan, harap ji-wi tidak sungkan."

Hok Seng merasa girang sekali. "Saudara Gu Kiat, terima kasih. Ternyata engkau adalah seorang sahabat yang baik sekali."

"Sekarang saya harus berangkat sebelum kawan-kawan tidur semua. Kalau penyelidikan saya telah berhasil, tentu malam ini juga saya pulang, atau paling lambat besok pagi-pagi. Harap ji-wi tinggal dengan tenang saja.”

Dua orang muda itu mengucapkan terima kasih dan Gu Kiat lantas meninggalkan mereka. Karena keduanya merasa lapar tetapi mereka tidak berani pergi ke rumah makan, mereka kemudian memeriksa dapur dan dengan girang mereka mendapatkan bahan-bahan untuk dimasak. Maka mereka segera sibuk membuat masakan untuk makan malam mereka dari bahan-bahan yang ada.

"Ah, di mana-mana orang baik pasti menemukan penolong," kata Hok Seng ketika mereka berdua menghadapi meja dengan makanan dan minuman sederhana. "Tak kukira bahwa Gu Kiat demikian mengenal budi, masih ingat tentang banyak pertolongan yang kuberikan kepadanya ketika aku masih menjadi komandannya."

Bi Lian hanya tersenyum, lantas berkata lembut, "Bagaimana pun juga kita harus berhati-hati, Suheng. Di dunia ini lebih banyak terdapat orang busuk dari pada yang baik. Jangan tergesa-gesa menilai orang apa bila belum terbukti,."

"Aku yakin bahwa dia orang baik, sumoi. Apa lagi karena dia berhutang budi kepaddku. Kalau tidak ada aku yang menolongnya, mungkin dahulu dia telah dihukum mati!"

"Ehh? Perbuatan apa yang telah dia lakukan, Suheng?"

"Ketika itu dia menjadi anak buah pasukanku, pasukan pegawal istana. Sering kali aku mengganti regu penjaga sebelah dalam istana secara bergiliran. Pada waktu dia bertugas di dalam, dia telah mencuri sebuah guci emas. Perbuatannya itu ketahuan oleh pengawal lainnya. Tentu saja pengawal yang lain itu hendak melaporkan perbuatannya itu dan kalau sampai dilaporkan lantas didengar oleh kaisar, tentu dia sudah dihukum mati. Dosa besar bila mencuri barang istana, apa lagi dia bertugas sebagai seorang prajurit pengawal. Aku kasihan kepadanya, lalu aku melarang pengawal yang lain itu melapor, dan menyuruh Gu Kiat mengembalikan guci itu ke tempatnya semula. Maka selamatlah dia dan agaknya dia masih ingat akan budi itu dan sekarang berkesempatan untuk membalas kepadaku."

Bi Lian diam saja. Dia sendiri tidak begitu peduli tentang budi dan sebagainya. Sejak kecil dia sudah menjadi murid Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi, dua datuk sesat yang sangat jahat. Meski pun pada dasarnya dia memiliki watak yang gagah perkasa, bahkan pantang melakukan kejahatan dan menuruti nafsu ingin menyenangkan diri sendiri, tapi kehidupan dalam lingkungan dunia sesat membuat dia bersikap keras, bahkan ganas dan tak peduli. Malah dia sempat mendapat julukan Tiat-sim Sian-li (Dewi Berhati Besi) karena kekerasan hatinya ini.

Namun sesudah dia kembali berkumpul dengan ayah ibunya, dia menerima gemblengan ilmu dan juga keteguhan batin dari ayah dan ibunya yang sakti. Bahkan orang tuanya juga menceritakan secara terus terang bahwa dia merupakan keturunan dari para datuk sesat yang pernah menggemparkan dunia persilatan dengan kesaktian dan kejahatan mereka. Oleh karena itu dia harus selalu ingat akan hal ini dan menunjukkan kepada dunia bahwa biar pun keturunan datuk sesat, namun dia dapat bertindak sebagai seorang pendekar!

Kakek dalamnya, yaitu ayah dari ayahnya, adalah Siangkoan Lojin yang terkenal dengan julukan Si Iblis Buta! Dan kakek luarnya, ayah dari ibunya, lebih hebat lagi karena kakek itu adalah mendiang Raja Iblis! Raja Iblis dan isterinya, Ratu Iblis, benar-benar pernah merajai dunia sesat. Dan ayah ibunya, Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu, pernah pula menjadi orang-orang terhukum di kuil Siauw-lim-si sesudah dianggap berdosa oleh ketua kuil. Mereka berdua bersedia menerima hukuman ini untuk menebus dosa orang-orang tua mereka!

Perbuatan yang dianggap baik oleh pelakunya, apa lagi oleh pelakunya dianggap sebagai budi, bukanlah perbuatan baik lagi, akan tetapi sebuah cara untuk memperoleh sesuatu. Kalau kita menolong orang lalu kita menganggap bahwa pertolongan yang kita berikan itu sebagai budi, bukankah itu sama saja dengan menghutangkan sesuatu yang kelak akan ditagih dan diharuskan membayar kembali berikut bunganya?

Baik buruk hanya penilaian, dan penilaian selalu didasari pada kepentingan pribadi. Kalau segala sesuatu yang kita lakukan didasari cinta kasih, maka tidak ada pamrih lain, tidak ada lagi yang dinamakan budi mau pun dendam! Budi mau pun dendam hanyalah ikatan, perhitungan untung rugi dari hati akal pikiran yang bergelimang nafsu.

Penyesalan tak ada gunanya! Semua perbuatan yang dilakukan melalui pemikiran selalu ditunggangi oleh nafsu pementingan diri sendiri karena pikiran adalah si-aku yang sudah bergelimang nafsu. Yang penting adalah kewaspadaan, pengamatan terhadap diri sendiri lahir batin. Pengamatan sepenuhnya tanpa si-aku yang mengamati ini akan menimbulkan kesadaran.

Tidak mungkin kita mengubah sifat dan watak kita melalui pemikiran, karena pemikiran tidak mungkin dapat terepas dari pengaruh nafsu daya rendah. Setiap orang mudah saja menyadari dan mengetahui bahwa perbuatannya tidak benar. Namun setiap kali pikiran berniat mengubahnya, semua perbuatan itu malah akan diulang dan pikiran yang berniat mengubah tadi pun menipis dan lenyap.

Tidak mungkin pikiran mampu mencuci kekotoran perbuatan karena perbuatan itu justru sudah dikendalikan oleh pikiran, dan pikiran itu bergelimang nafsu. Bagaimana mungkin mencuci bersih sesuatu yang kotor dengan menggunakan air yang kotor pula?

Hanya kekuatan Tuhan yang dapat membersihkan batin, yaitu hati dan akal pikiran! Kita yang merasa bergelimang kekotoran, yang telah dikuasai oleh nafsu daya rendah, hanya tinggal menyerah saja kepada kekuasaan Tuhan! Biar kekuasaan Tuhan yang mencuci kotoran itu, biarkan kekuasaan Tuhan yang membimbing dan membersihkan batin kita. Kalau batin sudah bersih, maka terbukalah jendela dan pintu batin kita untuk menerima masuknya sinar cinta kasih. Jika sudah begitu maka setiap perbuatan kita diterangi oleh sinar cinta kasih.

Lantas ke mana perginya nafsu daya rendah? Tidak pergi! Masih ada dan masih penting bagi kehidupan kita. Akan tetapi nafsu daya rendah tak lagi menjadi majikan, melainkan menjadi alat, menjadi pelayan untuk kepentingan hidup di dunia ini. Bukan lagi menjadi liar, karena bila nafsu daya rendah yang memegang kemudi, maka kita akan disesatkan ke arah pengejaran kesenangan nafsu sehingga menghalalkan segala cara, melakukan segala yang sifatnya merusak dan yang pada umumnya disebut jahat.

Malam itu tidak terjadi sesuatu. Bi Lian dan Hok Seng menunggu di kamarnya masing-masing, namun tuan rumah tidak kunjung pulang. Baru pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, ketika mereka berdua sudah menyiram tubuh dengan air dingin dan sudah duduk di luar, muncullah Gu Kiat!

"Bagaimana, saudara Gu Kiat? Berhasilkah?" Hok Seng langsung menyambutnya dengan pertanyaan yang ingin tahu sekali.

Gu Kiat tersenyum, menarik napas panjang lalu duduk di depan mereka. "Tiada seorang pun tahu ke mana pindah atau perginya bekas perwira itu. Ketika saya sudah putus asa dan menjelang pagi tadi berjalan pulang, di tengah jalan saya bertemu atau dihadang oleh seorang bertopeng hitam....”

"Topeng hitam...?" Tang Gun berseru kaget.

“Ya, orang itu mengenakan kedok hitam. Ia muncul secara tiba-tiba dan bertanya kenapa saya mencari bekas perwira Tang Bun An. Karena sikapnya menyeramkan, terpaksa saya berterus terang mengatakan bahwa Kongcu yang mencarinya. Si kedok itu lalu menyuruh saya memberi tahukan Kongcu bahwa dia yang akan dapat menunjukkan kepada Kongcu di mana adanya bekas perwira itu."

"Tapi... tapi... siapa dia?” Tang Gun bertanya, suaranya menunjukkan ketegangan hatinya dan Bi Lian hanya mendengarkan saja dengan sikap tenang.

“Tadi saya juga bertanya demikian, Kongcu. Sesudah saya bertanya siapa dia, dia hanya mengatakan bahwa dia pernah memberi sekantung emas kepada Kongcu dan Kongcu tentu mengenalnya!"

“Pendekar itu...!” Tang Gun menoleh kepada Bi Lian. “Sumoi, tentu dia adalah pendekar yang menolongku itu!”

"Mungkin saja," kata Bi Lian. "Akan tetapi bagaimana selanjutnya pertemuanmu dengan si kedok hitam itu?" tanyanya kepada Gu Kiat yang terputus ceritanya tadi.

"Oh, ya! Bagaimana selanjutnya, Gu Kiat? Apa yang dipesankan oleh pendekar berkedok hitam itu?" tanya Tan Gun.

"Pesannya aneh sekali, kongcu. Dia bilang bahwa kalau Kongcu hendak mencari perwira Tang, Kongcu harus menemuinya di kuil tua kosong yang berada di sebelah timur pintu gerbang kota. Dan dia pesan agar kongcu datang seorang diri, tidak boleh ditemani siapa pun. Kalau Kongcu tidak sendirian, maka dia tidak akan menemui Kongcu dan tidak mau membantu lagi."

"Hemm, orang itu penuh rahasia. Juga mencurigakan!" kata Bi Lian sambil mengerutkan alisnya.

"Tapi dia... dia pernah menolongku, Sumoi! Tak mungkin sekarang dia hendak menjebak atau mencelakakan aku. Gu Kiat, kapan aku harus rnenemuinya."

“Sekarang juga, Kongcu. Dia bilang jangan terlalu siang karena dia tidak mungkin dapat menanti terlalu lama."

"Sumoi, kalau begitu aku akan pergi sekarang juga. Kau tunggulah di sini, sumoi. Aku tak akan lama dan akan segera kembali setelah mendapatkan keterangan."

Bi Lian mengerutkan alisnya, akan tetapi dia lantas berkata. "Baiklah, Suheng. Akan tetapi berhati-hatilah. Aku masih curiga akan sikap aneh orang itu.”

“Dia bermaksud baik, Sumoi, hal ini aku yakin. Nah, aku pergi dulu. Kau tunggulah di sini."

Tang Gun atau Tan Hok Seng lantas pergi dan Bi Lian diam-diam memperhatikan sikap tuan rumah, akan tetapi Gu Kiat kelihatan biasa saja. Sesudah Hok Seng pergi, dia minta maaf kepada Bi Lian untuk beristirahat di dalam kamarnya karena semalam suntuk tadi dia tidak tidur. Tak lama kemudian Bi Lian mendengar dengkurnya dari dalam kamar dan dia pun tidak mempunyai alasan untuk mencurigai Gu Kiat.

Akan tetapi hatinya tetap saja merasa tidak enak. Ingin dia membayangi suheng-nya dan melihat sendiri siapa sebenarnya orang yang berkedok itu. Akan tetapi dia pun tidak ingin menggagalkan usaha suheng-nya mencari orang yang melakukan fitnah itu. Pula, kalau si kedok hitam itu berniat jahat, tentu dahulu tidak menolong Hok Seng. Dengan pikiran ini hatinya menjadi lega dan dia menanti saja di situ.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Sementara itu dengan cepat Hok Seng berjalan keluar kota melalui pintu gerbang timur. Dia masih menyamar sebagai seorang setengah tua sehingga dia dapat keluar dari pintu gerbang dengan mudah. Dia sudah lama tinggal di kota raja dan tahu kuil tua mana yang dimaksudkan itu.

Di luar pintu gerbang timur terdapat sebuah bukit kecil dan di puncak bukit itulah adanya kuil tua yang sudah lama tak pernah dipergunakan lagi. Ke sanalah dia pergi dan setelah berada di tempat yang sepi, dia mengerahkan tenaga dan berlari cepat mendaki bukit.

Kuil tua itu sunyi sekali. Sepagi itu belum ada anak-anak penggembala menggiring ternak mereka ke bukit yang banyak padang rumputnya itu. Tidak nampak kehidupan di dalam atau di luar kuil, keadaan sunyi saja. Pagi itu langit amat cerah, sinar matahari pagi mulai mengusir kegelapan malam, seakan mempersiapkan kebersihan bagi kemunculan sang matahari.

Tanpa ragu lagi Tang Gun memasuki kuil, menoleh ke kanan kiri. Kosong saja di bagian depan kuil itu. Selagi dia tidak tahu harus mencari di mana dan baru saja hendak berseru memanggil, tiba-tiba terdengar suara orang.

"Aku di sini!"

Suara itu datangnya dari belakang. Tang Gun segera menuju ke belakang dan di ruangan yang luas itu karena dindingnya telah runtuh sehingga bagian belakang itu terbuka, berdiri seorang laki-laki bertubuh tegap dan mengenakan kedok hitam, di tengah ruangan sambil bertolak pinggang.

Tang Gun segera mengenal si kedok hitam yang dulu pernah menolongnya, maka cepat dia maju menghadapi orang itu dan memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada dan tubuhnya agak membungkuk dengan sikap hormat.

"Selamat berjumpa, Taihiap (pendekar besar)!" katanya.

Si kedok hitam itu diam saja, akan tetapi sepasang matanya yang mencorong bersinar dari balik kedok, mengamati wajah Tang Gun.

"Hemm, engkau Tang Gun yang sedang menyamar sebagai orang tua?" suara itu dalam dan berwibawa.

"Maaf, Taihiap. Terpaksa saya menyamar karena khawatir kalau kehadiran saya di kota raja diketahui orang. Saya Tang Gun yang dahulu pernah menerima pertolongan Taihiap dan sampai sekarang saya tidak pernah melupakan budi itu."

"Tang Gun, untuk apa engkau menyelidiki di mana tinggalnya Tang Bun An? Apa yang kau inginkan dari orang itu?"

"Ahh, tentu Taihiap mengerti. Orang itulah yang telah mencelakakan saya, yang membuat saya dihukum. Karena itu saya hendak mencarinya untuk membalas dendam kepadanya. Mohon bantuan Taihiap untuk memberi tahu di mana saya dapat menemukan dia!"

"Hemmm, dahulu kepandaianmu kalah jauh olehnya. Bagaimana sekarang engkau akan melawannya? Engkau akan kalah lagi!"

"Sekali ini saya tidak takut! Ada sumoi Siangkoan Bi Lian yang akan membantu saya dan dia lihai sekali." Kemudian Tang Gun mendapat pikiran yang baik sekali. "Dan juga ada Taihiap di sini. Taihiap sudah menolong saya, mohon sekali ini suka pula membantu saya menghadapi Tang Bun An yang jahat itu."

"Tang Gun, engkau memang orang tolol!" Tiba-tiba orang berkedok hitam itu membentak. Tentu saja bekas perwira itu terkejut sekali dan terbelalak heran melihat nada suara yang marah itu. "Engkau memang layak dipukul!"

"Eh... maaf... apa kesalahan saya yang membuat Taihiap tiba-tiba menjadi marah kepada saya?"

"Anak bodoh! Kalau tidak ada Tang Bun An, engkau sekarang tentu sudah mampus!"

"Ehh? Apa artinya ucapan Taihiap itu? Dia telah menangkap saya dan menyeret saya ke depan Sribaginda Kaisar sehingga saya dijatuhi hukuman berat..."

"Bayangkan saja kalau bukan Tang Bun An yang menangkapmu, tapi pasukan keamanan yang menangkapmu. Kau kira akan mampu menyembunyikan diri bersama kekasihmu itu begitu saja? Kau sangka akan mampu melawan kalau para jagoan istana mencarimu dan menemukanmu di kota Yu-sian? Dia sengaja menangkapmu justru untuk menyelamatkan nyawamu!"

Dari heran Tang Gun menjadi penasaran dan tidak percaya. "Taihiap, bagaimana Taihiap bisa mengatakan bahwa dia bermaksud menyelamatkan saya? Saya telah dihukum berat, hukum buang dan sekiranya tidak ada Taihiap yang menolong saya, tentu sekarang saya sudah mati."

"Hemm, jadi engkau mengakui bahwa aku yang dahulu menyelamatkanmu, menolongmu dan membebaskanmu dari tangan para pengawalmu ke tempat pembuangan?"

"Bukan hanya menyelamatkan nyawa saya, tetapi Taihiap juga sudah memberi sekantung emas sehingga saya dapat hidup pantas. Untuk budi itu, saya tidak akan melupakannya selama hidup."

"Tidak usah berterima kasih kepada aku si kedok hitam, tetapi berterima kasihlah kepada penyelamatmu yang sebenarnya, yaitu Tang Bun An!" ,

"Ehhh... tetapi maaf... saya belum dapat menerimanya sebagai penyelamat saya, Taihiap. Dia... dia..."

"Tang Gun! Apakah engkau tidak percaya kepadaku?"

"Percaya... percaya... akan tetapi..."

"Kau lihat, siapa aku!" Berkata demikian, si kedok hitam membuka kedoknya.

Tang Gun terbelalak, wajahnya berubah pucat dan sejenak dia tak mampu bicara, hanya melongo memandang kepada wajah yang tadi bersembunyi di balik kedok hitam. Wajah Tang Bun An!

Akhirnya Tang Gun dapat menekan guncangan perasaannya dan dia pun berkata gugup, "Tapi... tapi... kenapa Taihiap..."

"Sebut aku Bengcu! Aku adalah pangcu dari Ho-han-pang, juga bengcu dari dunia kang-ouw!" Suara Tang Bun An atau Han Lojin terdengar penuh wibawa.

"Ahhh!" kembali Tang Gun terkejut dan memberi hormat. "Kiranya Bengcu sendiri. Tapi... apa artinya semua ini? Engkau menangkap saya, kemudian menyerahkan kepada kaisar untuk dihukum. Kemudian, Bengcu pula yang menyelamatkan saya, membunuh pengawal yang membawa saya ke tempat pembuangan, bahkan memberi emas kepada saya. Apa artinya perbuatan bengcu itu?"

"Bukan lain untuk menyelamatkanmu, anak bodoh. Engkau telah memperoleh kedudukan yang baik tetapi engkau menyalah gunakannya, hanya karena engkau tergila-gila kepada seorang selir! Huhh, tolol! Boleh saja bermain-main dengan semua selir, akan tetapi tidak terikat seperti itu, sampai tergila-gila kemudian membawanya lari dari istana. Kalau tidak aku yang mendahului para jagoan istana menangkapmu, lalu membebaskanmu, apa kau kira sekarang engkau masih hidup?”

"Untuk itu sekali lagi saya menghaturkan terima kasih dan saya tak akan melupakan budi kebaikan Taihiap kepada saya. Akan tetapi, jika boleh saya mengetahui, kenapa Taihiap bersusah payah untuk melakukan semua itu kepada saya?"

"Hemm, Tang Gun. Sebelum ditangkap engkau selalu membual di kota raja bahwa engkau adalah putera dari Ang-hong-cu. Benarkah itu?"

"Memang benar, Bengcu, akan tetapi itu bukan hanya kosong saja. Memang sebenarnya saya adalah putera kandung Ang-hong-cu yang terkenal itu," kata Tang Gun dengan nada suara bangga.

"Hemmm, siapa mau percaya akan hal itu? Apa buktinya bahwa engkau memang putera Ang-hong-cu?"

"Inilah buktinya, Bengcu." Tang Gun mengeluarkan sebuah benda yang bukan lain adalah perhiasan berbentuk seekor kumbang merah. "Saya menerima benda ini dari ibu saya, dan ibu saya yang menceritakan bahwa ayah kandung saya yang memberikan benda ini kepada ibu."

"Katakan, siapa nama ibumu dan dari mana dia datang, di mana tempat tinggalnya ketika dia masih gadis."

"Ibu bernama Teng Kim dan tinggal di dusun An-lok, akan tetapi sekarang ikut paman di kota Tai-goan karena melarikan diri dari kota raja sesudah saya ditangkap."

"Teng Kim... Kim...? Begitu banyak wanita yang memakai nama Kim! Hemm, nanti dulu... bukankah pada leher di bawah telinga kanan ibumu ada sebuah tahi lalat? Tubuh ibumu tinggi semampai dan wataknya ramah gembira?"

Tang Gun memandang dengan mata terbelalak. "Bagaimana... Bengcu dapat mengetahui hal itu...? Benar sekali apa yang Bengcu katakan tadi!"

"Tang Gun, demikian bodohkah engkau? Bukankah engkau sudah tahu bahwa aku telah menyelamatkanmu dan engkau tentu tahu pula bahwa aku bernama Tang Bun An? Dan engkau masih tidak mengerti juga? Aku tahu segalanya tentang ibumu, dan benda yang kau perlihatkan tadi adalah milikku, pemberianku kepada ibumu."

"Ahh... ohhh... jadi... jadi... engkau ini ayahku? Ang-hong-cu?" Tang Gun masih terbelalak dan ketika Han Lojin tersenyum sambil mengangguk-angguk, dia cepat menjatuhkan diri berlutut di depan kaki ayahnya.

"Ayah...!" Tang Gun berseru, gembira dan juga terharu bercampur bangga.

"Bangkitlah dan duduklah! Aku tidak suka melihat kecengengan, apa lagi kalau dilakukan oleh anakku! Nah, Tang Gun, sekarang engkau sudah tahu bahwa aku adalah Ang-hong-cu Tang Bun An. Akan tetapi, karena orang lain tidak tahu bahwa aku Ang-hong-cu, dan sekarang aku sudah menjadi bengcu dan juga pangcu dari Ho-han-pang, maka engkau tidak boleh menyebut ayah, harus menyebut bengcu kepadaku. Mengerti?"

"Baik, Ayah... ehh, Bengcu."

"Hati-hati, jangan sampai keliru menyebutku, apa lagi di hadapan orang lain. Aku belum ingin dikenal sebagai Ang-hong-cu!"

"Baik, Bengcu. Setelah sekarang kita berhadapan, saya ingin mengajukan permohonan."

"Hemm, katakan, apa yang kau kehendaki?"

"Saya ingin... membantu Bengcu, ingin dekat Bengcu dan mendapat petunjuk Bengcu."

Han Lojin tersenyum girang. Memang itulah yang dikehendakinya. Tidak ada pembantu yang lebih setia dari pada anak sendiri. "Itu baik sekali, Tang Gun. Memang kami sedang membutuhkan banyak pembantu yang pandai. Engkau boleh ikut bersamaku, akan tetapi sebelumnya engkau harus mengetahui bahwa Ho-han-pang dipimpin oleh Han Lojin, yaitu namaku sebagai bengcu."

Han Lojin menarik topeng tipisnya dan dalam beberapa detik saja wajahnya telah berubah menjadi seorang pria setengah tua gagah yang berkumis dan berjenggot rapi. "Aku adalah Han Lojin, pangcu dari Ho-han-pang, juga bengcu dari dunia kang-ouw. Mari engkau ikut denganku, kuperkenalkan kepada para pembantuku yang lain."

"Akan tetapi, Bengcu. Bagaimana dengan sumoi? Pasti dia akan menanti-nanti dan tentu menjadi curiga kalau saya tidak segera kembali. Kami pergi bersama ketika kami hendak melakukan penyelidikan terhadap orang yang tadinya saya anggap sebagai musuh, yaitu perwira Tang Bun An. Bagaimana baiknya sekarang menghadapi sumoi?"

"Siapakah sumoi-mu itu? Para penyelidikku hanya melaporkan bahwa engkau menyamar sebagai seorang tua muncul bersama seorang gadis cantik. Penyamaranmu terlalu kasar sehingga anak buahku mengetahuinya dan melaporkan kepadaku."

"Sumoi adalah puteri dari suhu dan subo, Bengcu."

"Dia lihai dan tenaganya boleh diandalkan?"

"Tentu saja, Bengcu! Dia lebih lihai dari pada saya, jauh lebih lihai. Saya kira agak sukar untuk menemukan orang yang akan mampu menandingi sumoi," kata Tang Gun dengan nada suara bangga namun sungguh-sungguh.

"Hemmm, begitukah? Akan tetapi aku belum tahu sampai di mana tingkat kepandaianmu. Nah, sambutlah ini!" Tiba-tiba saja Han Lojin menyerang Tang Gun.

Pemuda ini tahu bahwa dirinya hendak diuji, maka dia pun segera mengelak ke belakang dengan lompatan jungkir balik. Sesudah menjadi murid ayah dan ibu Bi Lian, pemuda ini memang mendapat kemajuan yang pesat sekali dan kini dia jauh lebih lihai dibandingkan dahulu ketika masih menjadi perwira pengawal.

Melihat gerakan yang lincah ini, Han Lojin menjadi gembira dan dia pun menyerang terus dengan jurus-jurus ampuh. Tang Gun juga ingin menunjukkan kehebatannya, maka begitu menghadapi serangan ayah kandungnya itu, dia pun sudah memainkan ilmu silat Kim-ke Sin-kun yang hebat!

Kembali Han Lojin terkejut dan juga semakin gembira. Dia mendesak terus, mengerahkan tenaganya namun sampai lima puluh jurus puteranya itu masih mampu mempertahankan diri. Kalau dia mau, tentu akhirnya dia dapat juga merobohkan Tang Gun. Akan tetapi dia tidak menghendaki itu.

"Cukup!" serunya sambil melompat mundur.

Tadi Tang Gun sudah terdesak hebat sekali, maka legalah hatinya saat melihat Han Lojin menghentikan serangannya. Han Lojin menilai kepandaian Tang Gun telah lumayan. Biar pun belum sehebat ilmu kepandaian tiga orang pembantu utamanya, namun hanya sedikit selisihnya kalau dibandingkan tingkat kepandaian Ji Sun Bi.

"Dan tadi kau bilang kepandaian sumoi-mu lebih tinggi dari pada kepandaianmu?"

"Jauh lebih tinggi, Bengcu. Saya tak akan mampu bertahan selama lima puluh jurus kalau dia menyerang saya."

"Hemmm...,” Han Lojin tertarik sekali. "Siapa nama sumoi-mu itu?"

"Namanya Siangkoan Bi Lian."

"Siangkoan... Bi Lian... ahh, rasanya nama itu tak asing bagiku. Hemm, tentu aku sudah pernah bertemu dengannya, atau setidaknya pernah mendengar namanya. O ya, apakah dia pernah bersama-sama para pendekar membasmi pemberontakan Lam-hai Giam-lo dan membantu pemerintah?"

"Benar, Bengcu. Pernah sumoi bercerita bahwa dia dengan para pendekar lainnya pernah membantu pemerintah membasmi pemberontakan yang dipimpin Lam-hai Giam-lo."

Han Lojin mengangguk-angguk. Dia masih belum ingat benar yang mana di antara para pendekar wanita itu yang dimaksudkan oleh Tang Gun. Tetapi jelas bahwa gadis bernama Siangkoan Bi Lian itu tentu lihai sekali, sangat berbahaya bila menjadi lawan, akan tetapi amat menguntungkan jika menjadi kawan atau pembantu. Dan seperti juga Cia Kui Hong, gadis itu tentu mengenalnya sebagai Han Lojin dan juga sebagai Ang-hong-cu. lni sangat berbahaya!

"Tang Gun, benarkah pernyataanmu tadi bahwa engkau hendak membantuku dengan hati tulus? Dengan penuh kesetiaan?"

"Bengcu adalah penolong saya, bahkan Bengcu adalah ayah kandung saya. Sudah tentu saja saya suka membantu dengan setia, kalau perlu dengan berkorban nyawa! Saya mau bersumpah...”

"Tak perlu bersumpah. Aku baru percaya kepadamu kalau ada bukti yang nyata, melalui perbuatan."

"Saya selalu siap melaksanakan semua perintah Bengcu!"

"Nah, sekarang dengar baik-baik. Aku ingin agar bukan hanya engkau saja yang menjadi pembantuku, akan tetapi juga sumoi-mu yang amat lihai itu. Bagaimana pendapatmu?"

"Itu bagus sekali, Bengcu, dan saya akan gembira bukan main kalau sampai sumoi suka pula membantumu. Akan tetapi saya kira tak akan mudah membujuknya, Bengcu. Sumoi berwatak sukar didekati, keras dan galak, tidak mau tunduk kepada siapa pun juga..."

"Hemm, sudah kuduga."

"Saking keras sikapnya terhadap para penjahat, dunia kang-ouw bahkan sudah menjuluki sumoi dengan sebutan Tiat-sim Sian-li (Bidadari Berhati Besi). Saya akan mencoba untuk membujuknya, Bengcu, akan tetapi saya khawatir dia akan menolak keras."

"Hemmm, orang seperti dia itu sangat baik kalau dapat ditarik menjadi kawan, tetapi akan membahayakan kita bila gagal dan dia menjadi lawan. Jika dia menolak, maka kita harus menggunakan muslihat agar dia tunduk dan menyerah!"

Tang Gun memandang kepada Han Lojin dengan mata terbelalak khawatir.

"Bengcu...! Harap jangan ganggu sumoi..."

Han Lojin mengerutkan alisnya, menatap tajam wajah puteranya itu.

"Hemmm...? Rupanya engkau jatuh cinta kepada sumoi-mu itu?"

Tang Gun mengangguk lesu. "Saya sudah tergila-gila kepadanya, Bengcu."

"Dan dia pun cinta kepadamu?"

"Saya tidak tahu, Bengcu."

"Kenapa engkau tidak mengaku terus terang dan melihat bagaimana tanggapannya?"

"Saya tidak berani. Dia galak dan keras, saya takut dia marah."

"Hemm, kalau begitu bagus, Tang Gun. Engkau bujuk dia supaya suka membantuku. Kita lihat saja. Jika dia menolak, maka kita tangkap gadis itu dan aku mempunyai akal agar dia menurut dan suka menjadi isterimu. Kalian akan kunikahkan di tempat kita."

Tentu saja Tang Gun menjadi gembira sekali mendengar janji itu. "Saya akan melakukan segala perintah Bengcu dengan senang hati. Apa yang harus saya lakukan sekarang?"

"Katakan kepada sumoi-mu bahwa aku, ketua Ho-han-pang, menunggu kunjungan kalian di markas Ho-han-pang, dan akan kutunjukkan di mana adanya orang yang kalian cari itu. Usahakan agar jangan sampai dia curiga. Kutunggu kunjungan kalian hari ini juga, siang atau sore hari ini di markas kami." Han Lojin lantas membuat gambaran dan petunjuk di mana adanya markas Ho-han-pang yang berada di bukit luar kota.

"Satu hal lagi," kata Han Lojin ketika mereka hendak berpisah dan meninggalkan kuil tua yang kosong itu. "Nama sumoi-mu itu Siangkoan Bi Lian. Dia bermarga Siangkoan, apa ada hubungannya dengan orang yang namanya Siangkoan Ci Kang?"

"Itu nama suhu!" seru Tang Gun.

"Ahhh...?" Kini Han Lojin terbelalak. Dia teringat akan musuh besar pembantunya, Sim Ki Liong, yang sedang dicari-cari. "Kiranya engkau kini menjadi murid Siangkoan Ci Kang? Dan sumoi-mu itu puteri Siangkoan Ci Kang?"

"Bengcu sudah mengenal suhu? Subo juga seorang yang sangat lihai, tidak kalah lihainya dibandingkan suhu. Menurut keterangan sumoi, subo bernama Toan Hui Cu dan dia puteri tunggal mendiang Raja dan Ratu Iblis yang kabarnya dulu pernah menggemparkan dunia persilatan," kata pula Tang Gun dengan bangga meski pun dia merasa menyesal kenapa baru sekarang dia menjadi murid suhu dan subo-nya sehingga belum banyak ilmu yang diserapnya. Dan dia semakin bangga setelah melihat sikap bengcu itu seperti orang yang terkejut dan agak gentar.

Memang bukan main kagetnya hati Han Lojin mendengar bahwa yang dimusuhi oleh Sim Ki Liong itu adalah seorang sakti yang memiliki seorang isteri yang sakti pula. Tentu saja dia pernah pula mendengar nama besar Raja dan Ratu Iblis! Akan tetapi dia harus dapat menyenangkan hati Sim Ki Liong yang merupakan pembantu paling lihai, sambil dia harus meyakinkan hati Tang Gun ini agar tidak memihak guru-gurunya.

"Aku tidak mengenal mereka secara pribadi, namun aku pernah mendengar nama besar mereka," jawabnya. "Tang Gun, sekarang engkau pergilah menjemput sumoi-mu dan ajak dia ke markas kita. Aku menunggu di sana."

"Baik, Bengcu."

Tang Gun lalu meninggalkan kuil itu dengan hati girang bukan main. Tidak saja dia dapat menemukan ayah kandungnya, akan tetapi dia bahkan sudah diterima sebagai pembantu ayahnya yang kini menjadi seorang pangcu (ketua perkumpulan) sekaligus juga menjadi bengcu (pemimpin rakyat)! Dan ayahnya juga sudah menjanjikan bahwa dengan bantuan ayahnya dia akan dapat memperisteri Siangkoan Bi Lian!

********************

"Han Lojin?" Siangkoan Bi Lian memandang kepada Tang Gun dengan mata terbelalak. "Kau katakan tadi bahwa Han Lojin yang kau temui di sana?"

Melihat sumoi-nya kelihatan terkejut ketika mendengar disebutnya nama Han Lojin, Tang Gun lalu bersikap hati-hati. "Sumoi, apakah engkau pernah mendengar nama Han Lojin? Dialah yang dulu menyelamatkan aku, dialah pendekar yang memakai kedok hitam, yang telah membebaskan aku dari hukuman pengasingan dan memberi bekal uang kepadaku."

Mendengar ini Bi Lian menjadi semakin terkejut dan heran. "Aihh, ternyata dia? Ternyata Ang-hong-cu yang telah menolongmu....”

“Ang-hong-cu...?” Tang Gun berseru kaget, bukan pura-pura karena dia memang terkejut bukan main mendengar sumoi-nya sudah mengetahui bahwa Han Lojin adalah Ang-hong-cu! “Sumoi, Han Lojin ini adalah seorang pangcu yang terhormat dari Ho-han-pang! Malah dia juga diakui sebagai seorang bengcu.”

Bi Lian mengerutkan alisnya. Dia mengenang kembali pengalamannya ketika dia bersama Pek Han Siong, Hay Hay dan para pendekar lain membantu pemerintah untuk membasmi gerombolan pemberontak yang dipimpin Lam-hai Giam-lo. Pada saat itu muncul Han Lojin yang juga berjasa membantu pemerintah dalam menumpas pemberontak itu. Kemudian ternyata bahwa Han Lojin adalah ayah kandung Hay Hay, bahwa Han Lojin adalah Ang-hong-cu, kumbang merah penghisap kembang yang jahat itu, jai-hwa-cat (penjahat cabul pemetik bunga) yang pernah menggemparkan dunia persilatan.

Tidaklah aneh kalau sekarang Han Lojin muncul sebagai ketua perkumpulan para ho-han (patriot). Namun dalam pandangannya, bagaimana pun juga Ang-hong-cu adalah seorang penjahat cabul yang tak pantas dibiarkan hidup! Terlebih lagi penjahat cabul itu juga telah memperkosa atau menodai kehormatan Pek Eng, adik kandung Pek Han Siong, suheng-nya dan bekas tunangannya.

Semua pendekar yang saat itu membantu penumpasan pemberontak tetap menganggap Ang-hong-cu jahat sungguh pun berjiwa patriot, dan mereka semua tentu saja menentang dan memusuhinya. Apa lagi dia sendiri yang sepatutnya membalaskan penghinaan yang dilakukan penjahat itu atas diri Pek Eng adik Pek Han Siong, dan Cia Ling.

"Hemm, begitukah, Suheng? Lalu mengapa pula sekarang Suheng hendak mengajak aku menemuinya?"

"Sumoi, dia mengundangku ke markas Ho-han-pang dan dia berjanji akan memberi tahu kepadaku di mana adanya Tang Bun An yang kucari itu."

"Lalu mengapa aku harus ikut serta denganmu?"

"Mengapa tidak, Sumoi? Bukankah engkau pergi bersamaku untuk membantuku? Selain aku ingin memperkenalkan engkau dengan penolongku itu, juga aku tetap mengharapkan bantuanmu kalau-kalau aku bertemu dengan musuhku dan berkelahi dengan dia."

"Baiklah, Suheng. Akan tetapi kalau kemudian ternyata olehku bahwa penolongmu adalah Ang-hong-cu yang jahat itu, jangan salahkan aku kalau aku menentangnya dan berusaha untuk membunuhnya. Penjahat keji itu harus dibasmi, kalau tidak tentu akan berjatuhan lagi korban di antara para wanita muda yang dipermainkannya!"

Tang Gun bergidik mendengar ancaman yang terkandung di dalam ucapan itu hingga dia merasa tegang. Akan tetapi bagaimana pun juga dia harus mentaati Han Lojin, bukan saja karena telah menjadi pembantunya, akan tetapi terutama sekali karena Han Lojin adalah ayahnya.

Mereka kemudian berangkat menuju ke bukit di luar pintu gerbang kota, di mana markas Ho-han-pang berdiri. Bi Lian yang tetap mencurigai Han Lojin dengan diam-diam sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi bahaya, atau kalau perlu turun tangan membunuh jai-hwa-cat yang dibencinya itu. Bukan saja karena Han Lojin sudah menodai Pek Eng dan Cia Ling, dua orang gadis pendekar yang dikagumi dan disukanya, akan tetapi juga karena Han Lojin telah membuat Hay Hay terkena fitnah.

Dahulu, semua orang juga termasuk dia sendiri telah menuduh Hay Hay yang melakukan semua perkosaan atau perbuatan busuk itu, karena Han Lojin memberi kesan ke arah itu. Jai-hwa-cat itu melakukan perbuatan terkutuk dan menjerumuskan Hay Hay yang menjadi sasaran pula dari kemarahan para pendekar karena dia disangka menjadi pelakunya.

********************

Sementara itu Han Lojin juga sudah membuat persiapan. Dia mengumpulkan tiga orang pembantu utamanya, yaitu Sim Ki Liong, Tang Cun Sek dan Ji Sun Bi. Cun Sek belum mengenal Siangkoan Bi Lian, akan tetapi Sim Ki Liong dan Ji Sun Bi terkejut sekali ketika mendengar keterangan Han Lojin bahwa gadis perkasa itu akan datang berkunjung.

Terutama sekali Sim Ki Liong. Tentu saja dia merasa tegang bukan main saat mendengar bahwa gadis yang pernah menjadi musuhnya dalam pemberontakan yang dipimpin Lam-hai Giam-lo di mana dia menjadi pembantu utama, kini akan muncul di hadapannya. Apa lagi ketika Han Lojin mengatakan bahwa gadis perkasa itu adalah puteri musuh besarnya, yaitu Siangkoan Ci Kang! Kalau dia belum sempat membalaskan sakit hati orang tuanya kepada Siangkoan Ci Kang, biarlah dia akan lebih dulu membalasnya lewat puteri musuh besarnya itu.

Agaknya Han Lojin dapat menduga isi hati pembantunya, maka dia pun berkata dengan suara penuh wibawa. "Siangkoan Bi Lian akan datang dibawa suheng-nya yang bernama Tang Gun. Mereka akan kutarik sebagai pembantuku. Tang Gun sudah menyatakan suka menjadi pembantuku dan bekerja sama dengan kalian, namun kita harus dapat membujuk Siangkoan Bi Lian dahulu agar suka pula membantu kita. Kalau dia tidak mau membantu, maka terpaksa harus menggunakan kekerasan..."

"Jangan khawatir, Bengcu! Sayalah yang akan memaksanya!" kata Sim Ki Liong sambil mengepal tinju dan dengan hati panas karena dendam.

"Ki Liong, aku tidak menghendaki engkau mengganggu gadis itu! Syukurlah bila dia mau membantuku,. Andai kata tidak, aku akan menangkapnya dan kalian hanya membantuku. Aku tidak ingin mengganggu atau membunuh, melainkan hendak menundukkannya agar dia suka membantuku, seperti halnya dua orang gadis yang kini sudah menjadi tawanan kita. Kita lihat saja bagaimana sikapnya nanti. Kita harus menggunakan akal jika dia tetap berkeras tidak mau membantu tetapi malah mengambil sikap bermusuhan."

Han Lojin lalu mengatur siasat dan para pembantunya tentu saja tidak berani membantah. Bahkan Sim Ki Liong hanya mengangguk setuju, sungguh pun hatinya masih dibakar oleh dendam. Gadis itu adalah puteri musuh besarnya, malah gadis itu pernah pula membantu pemerintah membasmi pemberontakan Lam-hai Giam-lo di mana dia mengambil bagian sehingga berarti menggagalkan cita-citanya pula. Dan sekarang Han Lojin hendak menarik gadis itu sebagai pembantu, bekerja sama dengan dia.

Demikianlah, ketika Tang Gun dan Bi Lian tiba di pintu gerbang markas perkumpulan Ho-han-pang, keadaan di situ terlihat tenang saja. Para anggota Ho-han-pang yang bertugas jaga sudah diatur sebelumnya sehingga mereka itu menyambut kedatangan pemuda dan gadis itu dengan sikap ramah dan hormat.

"Kami hendak bertemu dengan Ho-han Pangcu," kata Tang Gun kepada beberapa orang pria muda yang berjaga di pintu gerbang masuk. Mereka itu nampak gagah dan tampan.

"Apakah ji-wi (anda berdua) adalah saudara Tan Hok Seng dan nona Siangkoan Bi Lian?" tanya kepala jaga.

"Benar," kata Tang Gun.

"Ahhh, selamat datang di Ho-han-pang. Memang Pangcu sudah memesan kepada kami bahwa ji-wi akan datang berkunjung. Mari, silakan masuk, saya akan mengantarkan ji-wi ke ruang tamu."

Mereka berdua lalu mengikuti pemuda tinggi besar itu dan diam-diam Bi Lian siap siaga. Bagaimana pun juga dia tetap curiga dan harus berhati-hati, kalau ternyata benar bahwa ketua Ho-han-pang adalah Han Lojin alias Ang-hong-cu. Tidak mungkin dia dapat percaya begitu saja terhadap seorang seperti Ang-hong-cu!

Mereka dibawa masuk ke sebuah ruangan yang luas. Ruangan tamu ini besar dan hanya terisi belasan buah bangku yang dikelilingi sebuah meja bundar yang besar. Selebihnya kosong sehingga leluasa berlatih silat, bahkan untuk bertanding sekali pun. Dengan amat hati-hati Bi Lian memasuki ruangan itu.

Kepala jaga lantas mempersilakan mereka duduk dan menunggu. "Harap ji-wi menunggu sebentar. Pangcu tentu akan datang menyambut ji-wi di sini karena kedatangan ji-wi telah dilaporkan." Kepala penjaga itu lalu pergi meninggalkan ruangan itu.

Bi Lian mempelajari ruangan itu dengan pandang matanya. Selain pintu besar di depan, terdapat pula dua buah pintu di belakang dan di kiri yang entah menembus ke mana. Jadi kalau pihak tuan rumah menghendaki, kini dia sudah terkepung di ruangan itu.

Tetapi dia bersikap tenang dan sama sekali tidak merasa gentar. Juga dia melihat betapa suheng-nya berusaha untuk bersikap tenang, namun dari pandang mata suhengnya dia tahu bahwa suheng-nya itu merasa gelisah dan matanya tak tenang memandang ke sana-sini.

Thanks for reading Si Kumbang Merah Pengisap Kembang Jilid 29 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »