Social Items

LIMA orang ltu sama sekali tidak memperhatikan Hay Hay. Mata mereka semua ditujukan kepada Mayang dan mulut mereka tersenyum-senyum. Sikap mereka tidak kasar, bahkan tidak ada ucapan-ucapan tak sopan yang keluar dari mulut mereka yang tersenyum, akan tetapi pandang mata mereka itu amat dikenal oleh Mayang. Pandang mata laki-laki yang dibakar nafsu birahi kalau melihat wanita cantik!

Oleh pandang mata seperti itu saja, Mayang sudah merasa marah dan dia tahu dengan orang macam apa dia berhadapan. Segera dia teringat akan keterangan kakek di dusun tadi, tentang sekelompok orang yang menamakan diri mereka ho-han atau orang gagah berjiwa pahlawan yang menentang kejahatan akan tetapi mereka suka mengganggu para wanita.

"Apakah kalian berlima ini yang dinamakan orang-orang Ho-han-pang?" Mayang langsung saja berteriak dengan suara lantang dan membentak.

Lima orang pria muda itu saling pandang, kemudian mereka tertawa. Sikap mereka ketika tertawa juga tidak kasar, melainkan suara tawa orang-orang yang biasa bersopan-santun atau orang-orang terpelajar!

Seorang di antara mereka yang berkumis tipis mengajukan kudanya dan mewakili teman-temannya memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan di depan dada.

"Selamat sore, Nona. Maafkan kebodohan kami bahwa kami tidak mengenal Nona yang ternyata telah mengenal kami. Kami berlima memang orang-orang Ho-han-pang. Bolehkah kami mengetahui siapa nama nona dan hendak pergi ke manakah?"

Melihat sikap mereka yang sopan, bagaimana pun juga Mayang merasa tidak enak untuk bersikap kasar. Mulailah dia merasa ragu. Mereka ini harimau-harimau berkedok domba, ataukah keterangan kakek tadi yang tidak benar dan bersifat fitnah? Ia harus berhati-hati, jangan sampai nanti ditertawakan oleh Hay Hay yang nampaknya hanya berdiam diri saja di belakangnya itu.

"Aku tidak ingin berkenalan dengan kalian, tidak perlu memperkenalkan nama. Aku hanya ingin tahu kenapa kalian agaknya sengaja menghadang dan merintangi perjalanan kami? Minggirlah dan beri jalan kepada kami!"

Kembali si kumis tipis mewakili teman-temannya dan dengan sikap hormat dia menjawab, "Maatkan kami, Nona. Kami memang sengaja menghadang, tetapi bukan dengan maksud buruk melainkan memang telah menjadi tugas kami untuk menjaga keamanan di wilayah ini. Karena Nona adalah seorang yang asing dan belum kami kenal, maka sudah rnenjadi kewajiban kami untuk bertanya dan mengetahui siapa Nona dan temanmu itu. Ketahuilah bahwa keamanan di seluruh daerah kota raja menjadi tanggung jawab Ho-han-pang, oleh karena itu kami harus berhati-hati dan selalu menyelidiki semua pendatang yang belum kami kenal. Oleh karena itu, harap Nona dan teman Nona suka memperkenalkan diri dan memberi tahukan kami, dari mana Nona datang dan hendak ke mana Nona pergi.”

“Hemm, apakah sekarang Ho-han-pang sudah menggantikan pasukan pemerintah untuk menjaga keamanan? Bagaimana kalau kami tidak mau memperkenalkan diri. Apa yang hendak kalian lakukan?”

Kembali lima orang itu saling pandang, masih tersenyum dan kini pandang mata mereka bertambah kekaguman terhadap keberanian gadis jelita itu menantang mereka. Si kumis tipis kembali berkata,

“Nona, agaknya Nona belum mendengar tentang Ho-han-pang, maka Nona tidak percaya kepada kami. Ketahuilah bahwa ketua kami adalah Bengcu yang hendak mempersatukan seluruh kekuatan di dunia persilatan. Bengcu kami adalah seorang pendekar dan patriot yang berilmu tinggi, yang hendak menuntun semua tokoh kang-ouw untuk menjadi patriot pembela negara! Bengcu kami membawa kami ke jalan kebenaran dan siapa saja yang menentang kami tentu akan tergilas oleh kebenaran. Oleh karena itu, harap Nona suka memperkenalkan diri sehingga kami tidak akan memberi laporan buruk tentang diri Nona kepada ketua perkumpulan kami."

Empat orang temannya itu pun memberi hormat kepada Mayang dan berkata, "Maafkan kami, Nona."

Sikap mereka berlima itu demikian sopan dan menarik, disertai senyuman menghias pada wajah mereka yang rata-rata memang tampan dan gagah.

Mayang hendak bersikeras tidak mau memperkenalkan diri, tetapi tiba-tiba dia mendengar suara Hay Hay di belakangnya.

"Maafkan adikku ini, ngo-wi ho-han (lima orang gagah)! Terus terang saja, adikku enggan memperkenalkan diri karena maklumlah, sebagai gadis-gadis terhormat, betapa mungkin memperkenalkan diri begitu saja kepada lima orang pria muda?"

Mayang hendak menegur kakaknya dengan marah, akan tetapi dia bengong saat melihat betapa kelima orang laki-laki itu kini bersikap aneh sekali. Mereka berlima itu memandang kepada Hay Hay dengan sikap yang sangat aneh. Kini mereka berlagak dan pasang aksi, bahkan seorang di antara mereka berkata lirih,

"Aduhhh... bukan main jelitanya nona berbaju biru ini...”

Hanya sebentar saja Mayang terheran. Setelah dia memperhatikan, dia dapat merasakan getaran tak wajar yang keluar dari arah Hay Hay, maka tahulah dia bahwa kakaknya telah main-main lagi, menggunakan sihirnya untuk mempengaruhi lima orang itu yang agaknya melihat dia sebagai seorang wanita jelita! Maka kini Mayang diam saja, hanya tersenyum-senyum geli dan hendak melihat apa yang akan dilakukan Hay Hay terhadap lima orang anggota Ho-han-pang itu.

Si kumis tipis kini memandang kepada Hay Hay yang mengajukan kudanya. Jelas betapa sinar mata si kumis tipis itu terpesona dan penuh kagum.

"Duhai Nona yang cantik jelita dan manis budi! Terima kasih atas keramahanmu dan kami mohon sudi kiranya Nona memperkenalkan diri bersama adik Nona itu."

"Aku bernama Ma Hwa dan adikku ini bernama Ma Yang. Kami datang dari luar kota raja dan hendak melihat-lihat keindahan kota raja. Kalian sungguh sopan dan gagah, terutama engkau sungguh ganteng dengan kumis tipismu."

"Nona Ma Hwa dan nona Ma Yang. Ji-wi (kalian berdua) adalah gadis-gadis jelita dari luar kota yang hendak memasuki kota raja, maka biarlah kami yang mengawal kalian supaya jangan terdapat gangguan di dalam perjalanan."

“Ahhh, tidak perlu dikawal. Kami berani pergi berdua saja!" Mayang cepat berkata karena dia tidak ingin ditemani lima orang itu. Dia mendahului kakaknya karena takut kalau-kalau kakaknya itu akan menerima tawaran mereka.

"Kalau begitu, barang kali ada hal lain di mana kami dapat membantu ji-wi?” Si kumis tipis masih terus berusaha menawarkan jasa baiknya.

Sikap lima orang itu demikian sopan dan menarik, maka kini mengertilah Mayang kenapa banyak gadis yang terpikat dan mau menjadi isteri para anggota Ho-han-pang. Ternyata Ho-han-pang memiliki anggota pria-pria muda yang pandai berlagak.

"Jika sobat mau membantu kami, kami memang ingin mencari seorang perwira pengawal she Tang di kota raja..." Hay Hay yang dengan kekuatan sihirnya telah membuat mereka memandangnya sebagai seorang gadis cantik itu menatap dengan penuh perhatian, dan dia melihat betapa lima orang itu nampak kaget.

"Perwira she Tang...? Bagaimana rupa orang itu?"

Tentu saja Hay Hay tidak mampu menjelaskan karena sebenarnya dia sendiri pun belum pernah melihatnya. Dia hanya mendengar berita bahwa di kota raja ada seorang perwira muda she Tang yang membual bahwa dia adalah putera Ang-nong-cu.

Tentu saja Hay Hay tidak menganggapnya sebagai bualan belaka karena memang benar bahwa Ang-hong-cu adalah seorang she Tang! Kalau hanya membual, bagaimana nama keturunan itu bisa demikian tepat? Padahal tak ada seorang pun yang mengetahui bahwa Ang-hong-cu adalah seorang she Tang.

"Dia… dia seorang perwira pengawal yang masih muda," akhirnya Hay Hay hanya dapat menerangkan apa yang diketahuinya. Akan tetapi hal itu agaknya telah cukup karena lima orang itu nampak lega mendengar keterangan itu.

"Jangan khawatir, kami akan membantu ji-wi mencarinya. Kami akan menemui ji-wi siocia (nona berdua) di kota raja. Silakan melanjutkan perjalanan, Nona Ma Hwa dan Ma Yang.” Mereka lalu meminggirkan kuda mereka, membiarkan Hay Hay dan Mayang lewat.

Setelah melewati lima orang itu, Mayang menegur kakaknya. "Hay-ko, mengapa engkau memperkenalkan namaku dan kenapa pula engkau menyamar sebagai seorang wanita?"

"Mayang, orang yang kita cari ini lihai bukan main. Dia belum tahu namamu, akan tetapi dia sudah mengenal namaku, juga wajahku. Karena itu tidak ada salahnya kalau engkau memperkenalkan rupa dan namamu. Akan tetapi bagiku, lebih baik aku bersembunyi dan tidak sembarangan memperlihatkan diri."

"Koko, begitu takutkah engkau terhadap Ang-hong-cu?"

"Bukan takut, adikku, melainkan aku harus berhati-hati. Kalau dia tahu bahwa aku datang mencarinya di kota raja, dan kalau benar dia berada di sini, tentu dia akan melarikan diri lebih dahulu. Dia lihai bukan main, juga licik dan pandai menyamar. Kita tidak ada waktu main-main dengan Ho-han-pang, maka lebih baik kita segera melepaskan diri dari mereka karena kita memiliki tugas yang lebih penting. Sebaiknya kalau kita dapat masuk ke kota raja sebelum hari menjadi gelap sekali.”

Mereka lalu membalapkan kuda mereka. Setelah tiba di kota raja dan masuk melalui pintu gerbang tanpa menimbulkan kecurigaan, mereka lalu menyewa dua buah kamar di dalam sebuah rumah penginapan di kota raja. Mereka menyerahkan dua kuda mereka kepada pelayan untuk dipelihara dan diberi makan.

Tentu saja Hay Hay sama sekali tak pernah menyangka bahwa yang dinamakan Ho-han-pang adalah sebuah perkumpulan yang dipimpin oleh Ang-hong-cu sendiri! Tidak pernah mengira bahwa lima orang anggota Ho-han-pang itu adalah anak buah ayah kandungnya yang sedang dicari-carinya.

********************

Seperti yang telah diceritakan di bagian depan, sesudah keluar dari pekerjaannya sebagai perwira pasukan pengawal, dan telah membuat jasa-jasa, bukan hanya menangkap calon pembunuh kaisar, akan tetapi juga dia dianggap berjasa sudah membuat daerah kota raja menjadi aman, keluar dengan terhormat, Ang-hong-cu Tang Bun An lalu menghilang dan muncullah Han Lojin memimpin Ho-han-pang!

Usahanya untuk menjadi seorang bengcu atau pemimpin besar di dunia kangouw dengan mempersatukan atau lebih tepat lagi menaklukkan seluruh tokoh dunia kang-ouw lantas mengangkat diri sebagai bengcu atau semacam raja, mulai berkembang dengan baik. Hal ini berkat bantuan Sim Ki Liong, Tang Cun Sek dan Ji Sun Bi. Terutama sekali Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi yang memiliki banyak sekali hubungan dengan para tokoh kang-ouw, telah menarik banyak tokoh kang-ouw untuk mengakui Han Lojin sebagai bengcu!

Biar pun kini perkumpulan Ho-han-pang mulai berpengaruh, mulai diakui oleh para tokoh kang-ouw, namun Han Lojin tetap bersikap waspada. Dia selalu menyebar anak buahnya yang dipercaya untuk melakukan pengamatan di kota raja dan sekitarnya. Bila mana ada tokoh kang-ouw atau perkumpulan yang agaknya tidak mau tunduk, maka cukup dengan mengutus Sim Ki Liong, Tang Cun Sek atau Ji Sun Bi saja, mereka yang menentang itu pasti dapat ditundukkan. Tidak usah dia sendiri yang turun tangan!

Han Lojin bukan orang bodoh. Dia tahu pasti bahwa perkumpulannya akan semakin maju pesat selama didukung oleh pembesar-pembesar kota raja, terutama para pejabat tinggi. Karena itu dia pun selalu menjaga agar Ho-han-pang mendatangkan kesan baik.

Dia berpesan dengan ancaman keras kepada semua anak buahnya agar tidak melakukan perbuatan yang terlarang dan melanggar hukum. Tak boleh mencuri atau merampok, tak boleh bersikap kasar terhadap rakyat, bahkan harus selalu menentang kejahatan. Tentu saja mereka diberi jaminan yang cukup. Kalau ada yang melanggar maka Han Lojin tidak segan-segan untuk memberi hukuman dan menyiksanya sehingga semua anak buahnya menjadi takut dan taat.

Bahkan dia juga melarang keras anak buah Ho-han-pang untuk memperkosa wanita, hal yang biasanya suka dilakukannya sendiri. Mereka boleh saja memilih seorang gadis yang disukai sebagai isteri, akan tetapi harus dengan cara baik, tidak boleh memperkosa.

Dan Ji Sun Bi banyak membantu anak buah Ho-han-pang dalam hal menundukkan gadis yang mereka pilih. Banyak sudah para wanita yang berjatuhan dan terpaksa menjadi isteri salah seorang di antara anggota-anggota Ho-han-pang karena sudah ‘dijatuhkan’ dengan cara yang tidak wajar, walau pun bukan dengan kekerasan.

Ji Sun Bi mempunyai banyak akal untuk membantu para anak buah Ho-han-pang dalam menjatuhkan kaum wanita, baik dengan ramuan obat, dengan rayuan dan bermacam akal lagi. Beberapa orang gadis dengan suka rela bahkan menyerahkan diri kepada ‘pendekar’ yang menyelamatkannya dari ancaman perampok ganas yang hendak memperkosanya. Tentu saja semua itu hanya permainan saja, siasat yang diatur oleh Ji Sun Bi!

Demikianlah, Ho-han-pang segera dikenal oleh rakyat di kota raja dan sekitarnya sebagai perkumpulan orang-orang gagah yang menentang kejahatan, akan tetapi kenyataannya banyak pula gadis yang menyerahkan diri menjadi isteri dari para anggota Ho-han-pang itu.

Tentu saja Han Lojin sendiri belum dapat membebaskan diri dari kerakusannya terhadap wanita. Hanya beberapa bulan saja setelah menjadi bengcu, Ang-hong-cu sudah berhasil mengumpulkan banyak wanita muda yang cantik-cantik untuk dijadikan pelayan atau pun pembantu di rumahnya yang berdiri di dalam hutan pada puncak bukit.

Nampaknya saja belasan orang gadis cantik itu menjadi pelayan dan pembantu, padahal sebenarnya mereka dijadikan pemuas birahi Han Lojin yang tetap melakukannya karena rasa bencinya kepada para wanita sehingga ingin mempermainkan mereka. Maka dalam beberapa bulan saja sudah beberapa kali dia berganti pelayan.

Ada kalanya belum sampai satu bulan dia sudah mengeluarkan seorang gadis pelayan dari dalam rumahnya karena merasa bosan, lalu gadis itu dihadiahkan kepada seorang di antara para anak buahnya untuk diperisteri. Anak buah ini tentu saja menerima dengan kedua tangan terbuka karena ‘hadiah’ seorang gadis dari bengcu sudah dapat dipastikan amat cantik menarik!

Gadis itu sendiri pun tidak mempunyai pilihan lain kecuali menerima. Dia sudah ternoda, kalau dicampakkan begitu saja oleh bengcu, mereka tentu akan terlantar dan mereka juga tidak berani pulang ke rumah orang tua karena malu.

Tidak ada seorang pun di antara para pelayan ini yang diperkosa oleh Han Lojin. Semua dijatuhkan dengan bantuan siasat Ji Sun Bi! Dalam keadaan mabok atau lupa diri karena pengaruh ramuan obat, para gadis itu menyerahkan diri dengan suka rela kepada Bengcu dan mereka baru menyesal sesudah semuanya terlanjur sehingga hanya dapat menerima nasib!

Ketika Han Lojin menerima Sim Ki Liong sebagai pembantu, dia telah berjanji bahwa bila pengaruhnya telah mulai berkembang, maka akan mudah saja mencari orang-orang yang menjadi musuh besar pemuda perkasa itu, yaitu Siangkoan Ci Kang. Dan dia memegang teguh janjinya. Sesudah banyak tokoh kang-ouw mulai mengakui kedudukannya sebagai bengcu di dunia kang-ouw, Han Lojin lalu menyebar penyelidik ke seluruh penjuru untuk mencari keterangan tentang Siangkoan Ci Kang. Demikianlah, secara perlahan-lahan Han Lojin mulai memperkuat kedudukannya sebagai ketua Ho-han-pang, juga sebagai bengcu baru di dunia kang-ouw.

"Dua orang gadis Tibet katamu?" Han Lojin minta penjelasan pada waktu dia mendengar laporan anak buahnya, si kumis tipis bersama empat orang temannya.

"Benar sekali, Pangcu (ketua)," kata si kumis tipis.

Sebagai ketua perkumpulan itu, Han Lojin disebut Pangcu (ketua) oleh semua anak buah Ho-han-pang. Akan tetapi para pembantunya yang utama seperti Sim Ki Liong, Tang Cun Sek, Ji Sun Bi serta para tokoh kang-ouw yang mengakui kedudukan Han Lojin sebagai bengcu namun tidak menjadi anggota Ho-han-pang, menyebutnya Bengcu (pemimpin).

"Dua orang gadis peranakan Tibet yang cantik jelita bukan kepalang. Belum pernah kami bertemu dengan dua orang gadis secantik itu!”

"Benar, Pangcu. Terutama yang lebih tua, yang bernama Ma Hwa.”

“Yang lebih muda juga cantik jelita, Pangcu, namanya Ma Yang.”

Lima orang anggota Ho-han-pang ini termasuk anggota lama, bahkan telah menjadi anak buah sejak Han Lojin masih menjadi perwira Tang Bun An. Tentu saja mereka termasuk orang-orang kepercayaan sehingga mereka pun sudah tahu bahwa ketua mereka adalah seorang laki-laki yang suka mengumpulkan gadis cantik.

Akan tetapi Han Lojin bukanlah seorang laki-laki yang mudah tertarik wanita cantik kalau dia tidak melihat sendiri.

"Kau bilang tadi bahwa mereka datang ke kota raja untuk mencari perwira Tang?”

"Benar, Pangcu. Akan tetapi yang mereka cari adalah seorang perwira Tang yang masih muda. Mungkin yang mereka maksudkan adalah perwira Tang Gun yang dahulu dihukum buang itu," kata si kumis tipis yang juga tahu akan peristiwa penangkapan Tang Gun yang kemudian dihukum buang dan sampai kini tidak ada lagi kabar ceritanya.

Han Lojin mengerutkan alisnya, lantas menyuruh mereka mundur. Dia sendiri termenung. Kalau ada orang mencari Tang Gun, seperti dia dahulu, tentu karena tertarik mendengar bahwa Tang Gun membual sebagai putera Ang-hong-cu! Dan ini hanya berarti bahwa dua orang gadis cantik itu tentu dua di antara para pendekar wanita yang mencarinya!

Dia mengingat-ingat para pendekar wanita yang pernah ditemuinya ketika terjadi peristiwa pembasmian gerombolan pemberontak pimpinan Lam-hai Giam-lo. Di antara mereka itu, yang paling mengesankan hanya beberapa orang saja, yaitu Cia Kui Hong, Kok Hui Lian, Siangkoan Bi Lian, Pek Eng, dan Cia Ling. Dua yang terakhir itu, Pek Eng dan Cia Ling, tidak pernah dapat dia lupakan karena mereka menjadi korban perkosaannya.

Apa bila yang muncul adalah dua orang di antara mereka, dia tidak merasa heran karena para wanita pendekar itu memang memusuhinya. Akan tetapi jelas Kui Hong tidak masuk hitungan. Cia Kui Hong yang telah menjadi ketua Cin-ling-pai itu telah berjanji kepadanya dan dia merasa yakin bahwa gadis perkasa itu tidak akan melanggar janjinya sendiri.

Akan tetapi dua gadis yang kini mencari perwira Tang Gun itu agaknya juga bukan gadis-gadis pendekar lainnya itu. Menurut anak buahnya, dua orang gadis itu bernama Ma Hwa dan Ma Yang, dan mereka adalah dua orang gadis peranakan Tibet.

Karena merasa tidak enak dan penasaran, Han Lojin kemudian memanggil Sim Ki Liong, pembantu utamanya karena pemuda ini rnerupakan seorang yang berilmu tinggi. Bahkan dalam hal ilmu silat, dia sendiri tidak akan mudah dapat mengalahkan Sim Ki Liong yang telah menguasai ilmu-ilmu silat tinggi dari Pulau Teratai Merah itu.

Ki Liong sudah menjadi seorang pemuda lain sejak menjadi pembantu Han Lojin. Berkat ilmu penyamaran yang hebat dari Han Lojin, pemuda itu mengenakan kedok tipis, setipis kulit mukanya sehingga wajahnya telah berubah sama sekali. Kini dia tidak khawatir akan dikenal oleh para pendekar. Tang Cun Sek juga mengenakan kedok tipis yang merubah bentuk mukanya, seperti juga Ji Sun Bi.

Han Lojin tak ingin para pembantunya itu dikenal orang. Dia mengatakan bahwa samaran itu hanya untuk sementara saja. Kalau kedudukan Ho-han-pang sudah kuat benar, maka kelak tak ada halangannya bagi tiga orang pembantunya itu untuk memperlihatkan wajah mereka yang sebenarnya.

"Kau selidiki dua orang gadis itu," kata Han Lojin setelah menceritakan kepada Ki Liong tentang laporan lima anak buah Ho-han-pang tadi. "Selidiki yang jelas siapa mereka, dan mengapa pula mereka mencari perwira Tang. Kalau mereka itu mencurigakan dan dapat merugikan kita, jangan kau ragu. Tangkap atau bunuh saja mereka, akan tetapi lakukan dengan hati-hati agar jangan sampai menimbulkan kekacauan di kota raja. Mengertikah engkau?"

Ki Liong mengangguk dan tersenyum. "Itu urusan kecil saja, Bengcu. Apa sih artinya dua orang gadis Tibet? Malam ini juga pasti aku sudah mendapat keterangan lengkap tentang mereka, dan kalau perlu malam ini juga kutangkap mereka kemudian kuhadapkan kepada Bengcu."

"Bagus! Aku percaya akan kesanggupanmu, Ki Liong. Dan kau tahu, kalau bukan urusan penting, aku tak akan mengutusmu, cukup anak buah saja. Jadi, urusan ini penting sekali karena hatiku merasa tidak enak."

Sim Ki Liong lalu meninggalkan puncak bukit yang kini menjadi perkampungan besar dan pusat perkumpulan Ho-han-pang itu, lantas dia pun memasuki kota raja dan mulai dengan penyelidikannya. Karena Han Lojin memang sudah menugaskan banyak sekali penyelidik dan anak buahnya di kota raja, maka bukan pekerjaan sukar bagi Ki Liong untuk mencari tahu di mana adanya dua orang gadis Tibet itu.

Menurut para penyelidik, yaitu anak buah Ho-han-pang yang bertugas di kota raja, di sana tidak ada dua orang gadis Tibet, tetapi yang ada hanya seorang gadis Tibet saja bersama seorang pemuda yang mengaku sebagai kakaknya. Mereka menyewa dua buah kamar di rumah penginapan Hok Likoan.

Tentu saja Ki Liong merasa heran bukan main. Menurut keterangan Bengcu, lima orang anak buah Ho-han-pang itu melaporkan bahwa yang perlu diselidikinya adalah dua orang gadis Tibet yang cantik-cantik dan mereka bernama Ma Hwa dan Ma Yang. Bagaimana sekarang yang ada hanya seorang saja gadis Tibet bersama kakak laki-lakinya?

Dan menurut para penyelidik, gadis Tibet yang berada di rumah penginapan Hok Likoan itu serupa benar dengan seorang di antara dua orang gadis Tibet, yaitu yang muda. Ciri-cirinya yang menonjol adalah bertubuh tinggi ramping dengan kulit yang putih kemerahan, pinggulnya besar dan bulat, rambutnya panjang dikepang dua, wajahnya manis, matanya agak sipit, hidungnya mancung besar dan mulutnya kecil. Akan tetapi dara Tibet pertama, yang kabarnya lebih cantik jelita dibandingkan adiknya, tidak terlihat dan sebagai gantinya adalah seorang pemuda kakak gadis Tibet itu yang tampan.

Karena penasaran, maka malam hari itu juga Ki Liong mendatangi rumah penginapan itu. Kebetulan sekali ketika itu dua orang kakak beradik yang hendak diselidikinya itu sedang makan malam di rumah makan sebelah rumah penginapan itu. Begitu dia melihat pemuda yang mengaku kakak dari gadis Tibet, hampir saja Sim Ki Liong terpelanting jatuh saking kagetnya sesudah dia mengenal pemuda itu yang bukan lain adalah Hay Hay atau Tang Hay, pemuda yang amat ditakutinya karena dia tahu betapa saktinya pemuda itu.

Dia tahu bahwa Hay Hay bukan saja amat tinggi ilmu silatnya, akan tetapi juga memiliki ilmu sihir yang amat kuat. Kini mengertilah dia mengapa lima orang anggota Ho-han-pang itu melihat dua orang gadis Tibet. Tentu Hay Hay sudah menggunakan sihirnya sehingga lima orang itu melihat dia sebagai seornag gadis.

Sesudah dia merasa yakin bahwa pemuda itu benar Tang Hay, cepat Sim Ki Liong pergi meninggalkan tempat itu dengan jantung berdebar tegang. Bahkan tadi napasnya terasa sesak ketika dia bertemu pandang dengan Hay Hay, sungguh pun dia tahu bahwa tak ada seorang pun yang akan dapat mengenal wajahnya yang sudah berubah sama sekali oleh penyamaran yang dilakukan Han Lojin.

Dan memang Hay Hay sama sekali tidak mengenal Sim Ki Liong dengan wajah barunya itu. Kalau tadi dia sejenak memandang tajam adalah karena dia melihat pemuda tampan itu mengerling ke arah Mayang dan dia.

Dengan napas masih memburu, malam itu juga Ki Liong langsung menghadap Han Lojin. Tentu saja Han Lojin terkejut bukan main melihat pembantu utamanya itu kelihatan gugup dan seperti orang yang ketakutan! Juga sudah berani minta menghadap pada malam itu juga, tanda bahwa dia datang membawa berita yang teramat penting.

"Hayaaa…! Celaka, Bengcu..."

Han Lojin mengerutkan alisnya sambil memandang marah. "Ki Liong, mengapa engkau? Sungguh tak kusangka engkau dapat menjadi seorang penakut macam ini! Hayo katakan, mengapa engkau kelihatan begini ketakutan?"

Wajah Ki Liong menjadi merah. Dia baru menyadari bahwa sikapnya tadi memang sangat memalukan sekali.

"Maaf, Bengcu. Saya tidak takut, hanya….. ehh, terkejut sekali karena menemukan orang yang sama sekali tidak disangka-sangka. Karena terkejut itulah maka saya menjadi gugup dan ingin cepat-cepat memberi laporan kepada Bengcu."

Sekarang harga dirinya sudah kembali. Dia adalah seorang pemuda yang gagah perkasa, memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan murid dari Pendekar Sadis dan isterinya, majikan Pulau Teratai Merah yang amat terkenal di seluruh dunia kang-ouw. Tidak sepatutnya dia memperlihatkan sikap ketakutan seperti tadi.

"Katakanlah, Ki Liong, jangan seperti anak kecil. Siapa orang itu?"

Kini ada perasaan was-was di hati Han Lojin karena dia cukup mengenal kegagahan dan kelihaian Ki Liong. Kalau sampai seorang yang memiliki kelihaian seperti Ki Liong sampai begitu ketakutan, maka tentu orang yang ditakutinya itu benar-benar orang luar biasa.

"Dia adalah Hay Hay...”

Sepasang mata Han Lojin terbelalak dan dia merasa betapa jantungnya berdebar penuh ketegangan.

"Dia...? Dia... yang datang...?"

Sejenak kedua orang berdiam diri, tidak ada yang mengeluarkan suara karena keduanya melamun. Dan terbayanglah semua peristiwa yang pernah mereka alami, ketika Han Lojin bertanding melawan Hay Hay puteranya sendiri sampai dia terdesak hebat. Juga Ki Liong membayangkan ketika dia bertanding melawan Hay Hay sehingga hampir saja dia celaka, bahkan pedang pusaka yang dibawanya dari Pulau Teratai Merah, yaitu pedang pusaka Gin-hwa-kiam, akhir-akhir ini juga sudah dirampas oleh pemuda yang memiliki kesaktian hebat itu.

Akan tetapi Han Lojin segera dapat menguasai hatinya yang agak terguncang mendengar bahwa musuhnya nomor satu yang ditakutinya, juga merupakan putera kandungnya, kini telah datang ke kota raja dan sudah jelas niatnya. Tentu untuk mencari dia! Dia langsung teringat akan kedudukannya. Kalau tadinya dia merasa gentar, kini dia dapat menguasai hatinya, bahkan otaknya yang cerdik segera mengatur siasat untuk dapat menundukkan Tang Hay.

Kalau saja pemuda yang lihai itu, juga putera kandungnya sendiri itu, dapat membantu dia seperti halnya Tang Cun Sek, tentu kedudukannya akan menjadi bertambah kuat! Benar! Dia harus bisa membujuk atau bila perlu memaksa Tang Hay untuk membantu usahanya menjadi bengcu di seluruh dunia kang-ouw!

"Ki Liong, cepat kau pergi panggil Sun Bi dan Cun Sek ke sini!"

Ki Liong memandang Han Lojin. "Sekarang?"

"Ya, sekarang juga. Cepat, kutunggu di sini!"

Ki Liong segera pergi ke kamar kedua orang itu dan tidak lama kemudian dia bersama Ji Sun Bi dan Tang Cun Sek sudah berada di dalam ruangan duduk tadi di mana Han Lojin masih menanti dengan alis berkerut. Dua orang itu pun terkejut setengah mati mendengar dari Ki Liong bahwa Hay Hay sudah tiba di kota raja. Karena itu mereka bergegas datang sesudah mendengar bahwa Bengcu memanggil, dan kini keempat orang itu sudah duduk mengelilingi meja dan bicara dengan wajah serius.

Walau pun wajahnya membayangkan kecemasan, akan tetapi dengan suara tenang Han Lojin menggambarkan siasatnya untuk menghadapi Tang Hay atau Hay Hay. Sampai jauh malam baru mereka mengakhiri perundingan itu dan pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat karena besok mereka masing-masing memiliki tugas yang penting dan berat sebagai pelaksanaan siasat yang telah diatur oleh Han Lojin!

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Pagi-pagi sekali Hay Hay sudah mandi, kemudian keluar dari dalam kamarnya di rumah penginapan Hok Likoan. Ia melihat pintu kamar Mayang masih tertutup, maka dia pun tak mau mengganggu adiknya yang tentu lelah sesudah pada hari-hari yang lalu melakukan perjalanan jauh itu. Biarlah adiknya melepas lelah dan beristirahat.

Dia pagi-pagi bangun untuk mulai dengan penyelidikannya tentang perwira Tang, dan dia tidak akan menyelidik jauh-jauh. Pagi hari itu tentu dia akan dapat minta keterangan dari karyawan rumah penginapan itu secara santai, karena hari masih pagi dan sepi.

Dia melihat kesempatan yang baik sekali ketika melihat tukang kebun rumah penginapan itu menyapu pekarangan di luar bangunan. Tukang kebun itu sudah setengah tua, tentu sudah lama berada di kota raja. Maka dihampirinya tukang kebun yang sedang menyapu pekarangan itu.

"Selamat pagi, Paman," tegurnya.

Tukang kebun itu mengangkat mukanya dan memandang heran. Selama bertahun-tahun menjadi pegawai kasar dan yang dianggap rendah, yaitu menjadi tukang kebun, baru kali ini dia mendapat salam demikian akrabnya dari seorang tamu hotel!

"Selamat pagi, Kongcu!" jawabnya gembira.

“Sepagi ini sudah bekerja, Paman? Rajin amat?”

Tukang kebun itu menghentikan gerakan sapunya, lantas memandang sambil tersenyum. Seorang tuan muda yang amat ramah, pikirnya.

"Kalau kesiangan sedikit, para tamu akan berlalu lintas di sini dan selain sukar, juga akan mengganggu tamu."

Hay Hay melihat ada sebatang sapu bersandar di dinding luar. Diambilnya sapu itu dan dia pun mulai menyapu, membantu pekerjaan si tukang kebun.

"Ehh, jangan, Kongcu. Pakaianmu nanti kotor...!" kata si tukang kebun dengan heran.

"Aih, tidak mengapa, Paman. Aku ingin membantumu menyapu. Aku ingin engkau segera menyelesaikan pekerjaanmu ini sebab aku ingin mengajakmu bercakap-cakap sebentar."

Biar pun dia bukan tukang sapu dan tidak biasa menyapu pekarangan, akan tetapi berkat tenaganya yang besar serta kecekatan gerakannya, maka sebentar saja Hay Hay berhasil menyelesaikan pekerjaan itu. Si tukang kebun amat terheran-heran melihat seorang tamu, seorang tuan muda, dapat mengayun tangkai sapu demikian mahir dan cepatnya. Dengan hati girang dia pun melayani Hay Hay dan mengajaknya bercakap-cakap.

"Paman, aku hendak bertanya sedikit, aku harap Paman suka membantuku dan memberi keterangan sejujurnya."

"Pertanyaan apakah, Kongcu? Tentu saya akan menjawab sejujurnya."

"Begini, Paman. Aku ingin mencari keterangan mengenai seorang perwira di kota raja ini, seorang perwira she Tang yang mengaku sebagai putera Ang-hong-cu. Apakah engkau pernah engkau mendengar tentang Tang-ciangkun itu?”

Tukang kebun itu memandang kepada Hay Hay dengan wajah berkerut. Nama Ang-hong-cu merupakan nama yang asing baginya.

“Saya pernah mendengar tentang seorang perwira she Tang, namun entah dia itu putera siapa...”

"Tidak apa, Paman. Perwira she Tang yang Paman ketahui itu, di mana dia tinggal?"

Tukang kebun itu menggelengkan kepala. “Sekarang dia sudah mengundurkan diri, tidak menjadi perwira istana lagi. Entah ke mana perginya. Dia pernah berjasa besar terhadap Sribaginda Kaisar, demikian beritanya, lalu dia diangkat sebagai perwira pengawal. Akan tetapi sudah berbulan-bulan ini, mungkin sudah ada setahun, dia mengundurkan diri dan pergi entah ke mana. Begitulah yang saya dengar, Kongcu. Saya kurang memperhatikan urusan seperti itu, dan maaf kalau saya tidak dapat memberi keterangan secukupnya."

"Keteranganmu sudah cukup berharga, Paman," kata Hay Hay berbohong. Sebenarnya dia merasa kecewa sekali mendengar keterangan yang tidak lengkap itu. "Tetapi tahukah Paman siapa nama perwira itu dan berapa kira-kira usianya?"

"Saya sendiri tidak pernah melihatnya, hanya mendengar kabar saja bahwa dia setengah tua, lima puluh tahun lebih, dan namanya… namanya Tang... Bo An atau semacam itu."

Hay Hay merasa semakin kecewa. Kalau perwira itu benar-benar puteranya Ang-hong-cu, tentu usianya tidak lima puluh tahun lebih! Dan mana ada orang bernama Bo An (Tidak Selamat)? Mungkin Bu An atau Bun An.

Walau pun dia menduga bahwa tentu bukan perwira setengah tua itu yang dimaksudkan sebagai putera Ang-hong-cu, yang mengaku demikian dan merupakan satu-satunya jejak baginya untuk menyelidiki Ang-hong-cu, akan tetapi tak ada cara lain lagi baginya kecuali menyelidiki orang itu.

Memang perwira setengah tua itu telah mengundurkan diri! Akan tetapi siapa tahu masih ada orang di bekas tempat tinggalnya yang dapat bercerita lebih banyak, terutama sekali memberi tahu kepadanya di mana sekarang perwira itu tinggal. Bagaimana pun juga, she perwira setengah tua itu juga Tang, dan hal ini saja sudah menarik perhatiannya.

"Terima kasih sekali untuk semua keterangan tadi, Paman. Ada satu hal lagi, di manakah rumah perwira Tang itu?"

Tukang kebun itu memandang heran. "Tadi sudah saya katakan bahwa saya tidak tahu ke mana dia pergi dan tidak tahu di mana rumahnya sekarang, Kongcu."

"Maksudku bukan rumahnya yang sekarang, melainkan rumahnya dulu ketika dia masih menjadi perwira di kota raja ini."

"Ahh, kalau itu saya tahu. Siapa yang tidak tahu gedung perwira Tang yang amat terkenal itu?" Lalu dia memberi petunjuk di mana adanya bekas rumah perwira Tang.

Hay Hay mengucapkan terima kasih, lantas meninggalkan tukang kebun itu yang segera melanjutkan pekerjaannya. Dia tidak tahu betapa sesudah dia pergi, wajah ketololan dari tukang kebun itu langsung berubah. Matanya berkilat dan mulutnya terhias senyum, tanda seseorang yang merasa puas akan pelaksanaan tugasnya.

Melihat betapa daun pintu kamar Mayang masih tertutup, Hay Hay tak mau mengganggu adiknya. Biarlah Mayang tidur sampai sepuasnya. Pula, yang akan diselidikinya hanyalah bekas tempat tinggal seorang perwira Tang yang agaknya lain dari pada yang mengaku sebagai putera Ang-hong-cu.

Dia hendak melakukah penyelidikan ini sebagai iseng-iseng saja, sebagai jalan-jalan pagi selagi hawa udara masih sejuk dan bersih. Karena itu dia pun segera menggapai seorang pelayan rumah penginapan yang sedang mengepel lantai dengan kain basah, pekerjaan yang dilakukan setiap pagi sebelum para tamu bangun.

"Toako," kata Hay Hay kepada pelayan yang berusia sekitar tiga puluh tahun itu, "maukah engkau menyampaikan pesan untuk adikku perempuan di kamar itu kalau dia terbangun nanti dan mencari aku?"

Pelayan itu mengangguk-angguk. "Tentu saja, Kongcu. Sudah menjadi tugas kami untuk melayani setiap orang tamu.”

"Nah, kalau dia terbangun nanti, tolong katakan bahwa aku pergi berjalan-jalan mencari hawa pagi yang segar, dan agar dia menanti kembaliku untuk makan pagi bersama."

Pelayan itu mengangguk. "Baik, Kongcu. Akan saya sampaikan pesan Kongcu ini kepada Siocia."

Hay Hay mengeluarkan dua keping uang tembaga dan memberikannya kepada si pelayan yang menerimanya dengan ucapan terima kasih. Hay Hay lalu pergi meninggalkan rumah penginapan itu dan mengambil jalan ke arah bekas tempat tinggal Tang ciangkun melalui jalan raya yang masih sepi. Dia pun tidak tahu betapa pelayan yang tadi mencuci lantai itu berubah sikapnya, bahkan kemudian menyelinap masuk dan berbisik-bisik dengan tukang kebun tadi bersama beberapa orang pelayan lain.

Tidak sukar bagi Hay Hay untuk menemukan gedung yang megah itu karena dia sudah mendapat gambaran dari tukang kebun di rumah penginapan. Seperti juga rumah-rumah lain, pada pagi hari itu gedung ini masih terlihat sunyi. Di waktu sepagi itu hanya burung-burung dan orang-orang miskin saja yang sudah keluar dari sarang atau rumah mereka untuk mencari nafkah hidup sehari-hari. Orang-orang kaya, bangsawan, dan mereka yang malas baru akan bangun setelah matahari naik tinggi.

Orang-orang seperti ini tidak pernah dapat rnenikmati indahnya pagi hari, sejuknya hawa pagi, segarnya mandi pagi yang kemudian akan menyegarkan pula badan sepanjang hari. Orang yang terbiasa bangun pagi-pagi sekali, mandi air dingin, memulai kehidupan di hari itu dengan kegembiraan dan semangat yang timbul karena guyuran air dingin di pagi hari, badan dan batinnya akan selalu terasa segar selama sehari itu. Sebaliknya, orang yang terlalu banyak tidur, yang bangun terlampau siang, tidak akan kebagian suasana gembira dan penuh semangat di pagi hari itu, karena begitu bangun langsung diserang panasnya sinar matahari yang sudah naik tinggi sehingga menimbulkan kelesuan dan kemalasan di sepanjang hari itu. Karena itu bukan hanya omong kosong jika para budiman jaman dulu mengatakan bahwa siapa tidur tidak terlalu malam dan bangun pagi-pagi, akan banyak rejeki dan tubuh sehat hati bahagia! Setidaknya, yang jelas badan akan menjadi segar dan sehat!

Gedung bekas tempat tinggal perwira Tang masih kelihatan sepi, bahkan lampu gantung yang dipasang di luar rumah masih belum dipadamkan. Namun sepagi itu sudah nampak seorang berpakaian pelayan atau tukang kebun menyirami bunga-bunga di pekarangan depan, taman bunga yang terawat rapi. Ketika tukang kebun itu melihat seorang pemuda berdiri di pintu pagar dan memandang-mandang ke dalam, dia segera menghampiri dan menegur.

"Sahabat, siapakah engkau dan ada keperluan apa maka berdiri di sini mengamati rumah ini?" Sikapnya tidak bermusuhan, akan tetapi mengandung kecurigaan. Kebetulan sekali, pikir Hay Hay. Kesempatan baik baginya untuk mencari keterangan.

"Maaf, lopek," katanya sambil memandang kakek yang usianya tentu lebih dari lima puluh tahun tapi tubuhnya masih kokoh kuat, agaknya berkat terbiasa kerja keras. "Aku hanya mengagumi gedung yang megah ini. Bukankah ini rumah Tang-ciangkun?"

"Orang muda, jangan ngawur! Ini adalah rumah perwira Su, bukan perwira Tang!"

"Akan tetapi bukankah dahulu perwira Tang tinggal di rumah ini?" bantah Hay Hay dengan sikap seolah dia sudah mengenal benar perwira Tang.

"Semua orang juga sudah tahu, akan tetapi sudah setahun lebih rumah ini menjadi tempat tinggal Su-ciangkun."

"Dan ke manakah pindahnya Tang-ciangkun?"

"Mana aku tahu? Kabarnya dia mempunyai rumah peristirahatan di luar kota. Di luar kota raja sebelah utara ada bukit dan kabarnya di sanalah tempat tinggal barunya. Akan tetapi baru saja Tang-ciangkun lewat di jalan ini. Dia menunggang kuda di pagi hari, mungkin dia hendak pulang ke rumah peristirahatannya.”

"Ahh, benarkah?" Hay Hay bertanya penuh semangat.

"Baru saja dia lewat, kalau engkau cepat-cepat melakukan pengejaran, mungkin masih dapat melihatnya.”

"Terima kasih, lopek!" kata Hay Hay dan begitu dia berkelebat, dia pun lenyap dari depan kakek itu.

Tukang kebun itu tertegun, matanya terbelalak dan mulutnya ternganga. Lalu dia menarik napas panjang.

"Aihhh…., pantas saja Bengcu berpesan agar aku berhati-hati kalau bertemu pemuda itu. Kiranya dia memiliki kesaktian seperti setan, dapat menghilang!" Dan dia pun bergidik.

Hay Hay memang mengerahkan tenaga dan kepandaiannya untuk melakukan pengejaran. Apa bila dia dapat bertemu muka dengan perwira Tang ini, mungkin saja dia akan dapat mendengar tentang perwira Tang yang lain, yang kabarnya membual sebagai putera Ang-hong-cu itu.

Karena hari masih pagi dan sepi, maka dia dapat dengan leluasa berlari cepat menuju ke pintu gerbang utara, tidak peduli akan keheranan tukang kebun yang melihat dia seperti menghilang.

Untung bahwa sejak pagi pintu gerbang utara sudah dibuka karena ada saja orang-orang yang keluar dari pintu gerbang, yaitu orang-orang yang mempunyai keperluan keluar kota untuk berdagang atau untuk urusan lain. Ketika dia keluar dari pintu gerbang, dia melihat debu mengepul di depan, dan tahulah dia bahwa di depan sana ada orang menunggang kuda yang dibalapkan. Melihat ada dua orang petani memanggul cangkul sedang berjalan melenggang seenaknya dari depan, dia pun cepat bertanya kepada mereka.

"Sobat, tahukah kalian siapa penunggang kuda itu tadi?" tanya Hay Hay sambil menuding ke arah penunggang kuda yang tentu telah lebih dahulu berpapasan dengan mereka.

"Ahh, dia? Dia adalah Tang-ciangkun...," kata seorang di antara mereka.

Mendengar ini, dengan girang Hay Hay melompat kemudian berlari cepat seperti terbang meninggalkan dua orang petani itu sesudah mengucapkan terima kasih. Dua orang petani itu berdiri bengong memandang sebab selama hidup mereka belum pernah melihat orang berlari secepat itu. Hay Hay tidak tahu bahwa dua orang petani itu saling pandang sambil tersenyum, dan seorang di antara mereka menjulurkan lidah.

“Wuiii... lihai dan berbahaya sekali orang itu!"

Hay Hay mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengejar penunggang kuda di depan. Karena debu mengepul tebal dia tidak dapat melihat kuda berikut penunggangnya, akan tetapi debu itu yang menunjukkan ke mana penungang kuda itu pergi. Ketika penunggang kuda itu mendaki bukit dan sampai di lereng yang berhutan, debu pun menghilang karena jalan yang dilalui kini berumput.

Hay Hay terpaksa menghentikan larinya ketika dia tiba di luar hutan. Dia kehilangan jejak. Memang dapat saja dia melacak jejak kaki, akan tetapi hal itu akan memakan waktu lama dan tentu orang yang dikejarnya itu sudah pergi jauh. Dia tidak dapat terlalu lama pergi, karena Mayang akan menanti dan akan merasa khawatir.

Bagaimana pun juga dia sudah tahu ke arah mana Tang-ciangkun itu pergi. Kini dia akan kembali ke rumah penginapan lebih dulu, lalu mengajak Mayang untuk kembali ke tempat ini, mencari sampai berhasil menemukan bekas perwira Tang untuk menanyakan apakah bekas perwira itu mengenal Perwira Tang muda yang mengaku putera Ang-hong-cu. Dia lalu menuruni lereng bukit itu dan kembali ke kota raja.

Matahari sudah naik tinggi ketika Hay Hay tiba kembali di rumah penginapan Hok Likoan. Dia segera menghampiri kamar Mayang dan merasa heran ketika melihat pintu kamar itu masih tertutup. Begitu lelahkah adiknya itu sehingga sesiang itu belum juga bangun? Dia mengetuk daun pintu kamar itu sambil memanggil-manggil, akan tetapi tidak ada jawaban. Seorang pelayan losmen itu yang malam tadi menerima mereka, menghampirinya.

"Percuma diketuk, Kongcu. Siocia tidak berada di dalam kamar."

“Tidak berada di dalam kamarnya? Lalu ia ke mana?" tanya Hay Hay sambil memandang ke kanan kiri untuk melihat kalau-kalau adiknya berada di dekat situ.

“Entah ke mana, Kongcu. Tadi ia duduk di depan kamar, lalu datang seorang tamu, bicara dengan siocia kemudian mereka pergi tergesa-gesa meninggalkan rumah penginapan.”

“Apakah dia tidak meninggalkan pesan?"

“Siocia sendiri tidak meninggalkan pesan, akan tetapi baru saja sebelum Kongcu datang, tamu yang tadi mengajak siocia pergi, datang lagi dan menyerahkan sesampul surat agar saya berikan kepada Kongcu.”

“Apa? Cepat serahkan suratnya itu kepadaku!” Hay Hay berseru dan hatinya mulai terasa tidak nyaman.

Setelah pelayan itu menyerahkan sepucuk surat dalam sampul, Hay Hay cepat membuka sampulnya kemudian dibacanya kertas yang mengandung tulisan yang rapi dan indah itu. Singkat saja bunyinya, singkat namun membuat jantungnya berdebar penuh ketegangan.

Tang Hay,

Kalau ingin bicara tentang nona Mayang, silakan datang sendiri ke tempat kami.

Ho-han Pangcu.

Celaka, demikian teriak Hay Hay di dalam hatinya. Kini semuanya jelas baginya. Dia telah terjebak! Dia seperti seekor harimau yang dipancing keluar meninggalkan sarang. Orang sengaja memancingnya supaya menjauhi rumah penginapan itu dan sementara dia pergi jauh, Mayang juga keluar dan tentu sudah ditangkap. Betapa pun lihainya gadis itu, tentu dia dapat ditawan kalau dikeroyok, apa lagi kalau lawan-lawannya berkepandaian tinggi.

Dia lalu membayangkan kembali apa yang telah dialaminya sejak pagi tadi. Tukang kebun rumah penginapan itu! Dia yang pertama melempar umpan untuk memancingnya, dengan mengatakan di mana rumah Tang-ciangkun. Kemudian pelayan di gedung tempat tinggal Tang-ciangkun dulu memancingnya dengan memberi tahukan bahwa Tang-ciangkun baru saja lewat berkuda. Dan dua orang petani yang ditanyainya mengenai penunggang kuda yang lewat. Mereka semua memancing sehingga dia semakin jauh meninggalkan rumah penginapan, meninggalkan Mayang seorang diri.

Dia memandang keluar dan melihat seorang tukang kebun sedang mencabuti rumput di taman pekarangan. Orangnya masih muda, jelas bukan tukang yang dibantunya pagi tadi dan ditanyainya tentang perwira Tang.

"Diakah tukang kebun di rumah penginapan ini?" dia bertanya kepada pelayan itu sambil menunjuk ke arah orang yang bekerja di pekarangan. Pelayan itu memandang keluar, lalu mengangguk.

"Benar, Kongcu. Dia A Kiat tukang kebun kami."

"Selain dia apakah ada tukang kebun lain? Yang lebih tua?"

Pelayan itu menggelengkan kepalanya. "Tidak ada lagi, Kongcu."

Hemm, jelas bahwa orang tua pagi tadi adalah tukang kebun palsu, atau diselundupkan dan menyamar sebagai tukang kebun. Tentu dia adalah anggota Ho-han-pang.

"Sobat, tolong beritahukan, di mana adanya pusat perkumpulan Ho-han-pang?"

Pelayan itu tidak nampak heran. Nama Ho-han-pang sudah terkenal sekali di seluruh kota raja dan banyak sudah tamu-tamu yang menanyakan tempat itu. Banyak tokoh kang-ouw berkunjung ke sana.

“Kongcu keluar kota raja melalui pintu gerbang utara. Di luar kota terdapat sebuah bukit dan di sanalah pusat Ho-han-pang…”

Belum habis dia bicara, Hay Hay sudah berkelebat lenyap dari situ. Hay Hay sudah tahu di mana dia harus mencari Mayang. Kiranya penunggang kuda tadi adalah orang Ho-han-pang pula, dan tentu di sana pula sarang perkumpulan Ho-han-pang itu.

Akan tetapi dia masih menduga-duga dengan hati mengandung keheranan. Mengapa Ho-han-pang memusuhinya? Dan bagaimana pula mereka itu dapat mengenalnya, mengenal namanya?

********************

Apa yang sudah terjadi dengan Mayang? Pagi hari itu dia terbangun dan melihat betapa sudah ada sinar matahari pagi membayang pada tirai dan kaca jendela, dia lalu pergi ke kamar sebelah, kamar Hay Hay. Akan tetapi ternyata kakaknya tidak berada di kamarnya. Selagi dia termangu dan menduga-duga ke mana kakaknya pergi, tiba-tiba pelayan rumah penginapan datang menghampiri.

"Selamat pagi, Nona."

"Selamat pagi. Ehh, Paman, di mana kakakku?"

"Pagi-pagi sekali dia telah pergi, Nona. Dan ada seorang tamu yang sejak tadi menunggu Nona keluar dari kamar. Dia bilang ada urusan penting sekali."

"Tamu? Aku tidak mempunyai kenalan di sini...” Mayang berkata ragu.

"Entahlah, Nona. Tetapi dia bilang ada urusan yang penting sekali dan ada hubungannya dengan kakakmu..."

"Ahhh... ! Suruh dia masuk!" kata Mayang begitu mendengar bahwa tamu itu datang untuk bicara tentang Hay Hay.

Tamu itu seorang laki-laki yang usianya sudah lima puluh tahunan dan sikapnya lembut, wajahnya pun bukan wajah orang jahat dan agaknya boleh dipercaya. Begitu bertemu dia langsung mengangkat kedua tangannya dan berkata,

"Nona, saya datang membawa pesan dari kakakmu, akantetapi dia hanya menyuruh saya datang menemui Nona di sini dan mengatakan bahwa kakakmu sudah dapat menemukan jejak dan Nona diminta menyusulnya ke sana sekarang juga."

Mayang mengerutkan alisnya. "Hemm, bagaimana aku dapat percaya tentang kebenaran omonganmu? Kita tidak saling mengenal dan...”

"Nona, hal itu sudah saya katakan kepada Tang-taihiap kakakmu, akan tetapi dia hanya mengatakan bahwa dia bersama Nona sedang melakukan penyelidikan tentang seorang perwira she Tang di kota raja dan bahwa kini dia sudah mendapatkan jejaknya maka dia minta agar Nona secepatnya menyusul ke sana."

"Di mana dia?”

"Saya akan menjadi penunjuk jalan, nona. Di sebelah timur kota raja dan..."

"Baiklah, mari kita pergi! Paman pelayan, harap keluarkan dua ekor kuda kami. Lebih baik kita menunggang kuda agar lebih cepat," tambahnya kepada laki-laki setengah tua itu.

"Sebaiknya begitu, Nona. Kedua kakiku sudah lelah sekali setelah melakukan perjalanan cepat ke sini tadi."

Mereka lalu menunggang dua ekor kuda itu dan melarikan kuda ke luar kota raja melalui pintu gerbang sebelah timur. Begitu ke luar dari pintu gerbang, laki-laki itu mempercepat larinya kuda. Mayang mengikuti dari belakang dan ketika mereka tiba di kaki bukit yang sunyi, tiba-tiba pria itu menghentikan kudanya.

Mayang hendak bertanya, namun dari balik pohon-pohon dan semak-semak bermunculan belasan orang yang dipimpin oleh dua orang pemuda yang tampan dan gagah.

“Hemm, apa artinya ini?" Mayang bertanya dengan alis berkerut.

"Turunlah, Nona. Kita telah sampai dan Nona akan dapat bertemu dengan Tang Taihiap." kata pembawa berita itu.

Dia sudah meloncat turun, bahkan membantu Mayang memegangi kendali kuda. Gadis itu pun melompat turun dan dengan waspada pandangan matanya menyapu belasan orang yang nampaknya bersikap gagah, bukan seperti gerombolan penjahat itu.

Pembawa berita itu menuntun dua ekor kuda ke bawah sebatang pohon, ada pun belasan orang itu kini mengepung Mayang. Barulah Mayang merasa curiga. Melihat betapa kedua orang pemuda gagah itu berdiri di depan dan bersikap sebagai pimpinan, Mayang lantas menghadapi mereka dan mengamati dengan sinar mata tajam penuh selidik.

Mereka berdua lebih pantas menjadi pendekar dari pada penjahat. Yang seorang masih muda, paling banyak baru berusia dua puluh tiga tahun. Wajahnya tampan dengan tubuh sedang yang kokoh, sikapnya halus dan senyumnya sopan. Akan tetapi dalam pandang matanya terdapat sesuatu yang membuat Mayang merasa marah dan bulu tengkuknya meremang. Pandang mata pemuda tampan itu seakan-akan menggerayangi dan meraba-raba seluruh bagian tubuhnya. Lelaki yang ke dua lebih tua, usianya tiga puluh tahunan, tubuhnya tinggi besar dan gagah perkasa, kulit mukanya putih dan matanya mencorong, wajahnya juga tampan.

Yang membuat Mayang merasa semakin tidak enak adalah ketika dia melihat pembawa berita tadi, sesudah menambatkan dua ekor kuda di batang pohon, kini berdiri di belakang dua orang pemuda itu dan jelaslah bahwa pembawa berita itu ternyata merupakan anak buah mereka pula. Dia mulai merasa terjebak, seperti seekor kelinci yang dikepung oleh segerombolan serigala berkedok domba.

"Siapakah kalian? Mengapa mengepungku? Di mana adanya kakakku?” tanyanya dengan sikap siap siaga.

Ketika berangkat tadi dia telah membawa buntalan pakaiannya dan juga senjatanya yang sangat dia andalkan, yaitu sebatang cambuk penggembala. Sedikit pun dia tidak merasa takut dikepung belasan orang lelaki itu, akan tetapi dia khawatir bukan main memikirkan Hay Hay.

Dua orang pemuda yang memimpin serombongan orang itu bukan lain adalah Cun Sek dan Ki Liong. Inilah hasil siasat yang dilakukan Han Lojin, yang tadi malam dirundingkan dengan para pembantu utamanya itu.

Han Lojin menyebar anak buahnya menyusup ke rumah penginapan, menyamar sebagai tukang kebun. Tentu hal ini mudah saja dilakukan sebab boleh dikata semua perusahaan di kota raja pasti akan memenuhi permintaan Ho-han-pang yang sudah membuat nama baik dengan menciptakan suasana tenang dan tenteram di kota raja.

Tepat seperti yang diduga Hay Hay, setelah dia kehilangan adiknya dan menyadari bahwa si tukang kebun di rumah penginapan, pelayan di bekas rumah Tang Ciangkun, juga dua orang petani itu adalah orang-orang dari Ho-han-pang yang menyamar dan yang bertugas untuk melempar umpan memancing Hay Hay keluar dari kota raja agar menjauhi Mayang, Han Lojin sendiri lantas menunggang kuda dan membiarkan dirinya dikejar oleh Hay Hay. Maksudnya tentu saja hanya untuk memancing Hay Hay agar jauh meninggalkan Mayang seorang diri.

Setelah sampai di bukit di mana dia memimpin Ho-han-pang, sebuah bukit yang kini telah dilengkapi dengan berbagai jebakan dan perangkap berbahaya, dia menghilang ke dalam hutan. Menurut rencananya, kalau Hay Hay mengejar terus, pemuda itu akan menghadapi banyak jebakan berbahaya. Andai kata pemuda lihai itu sanggup melewati semua jebakan dengan selamat, maka dia akan berhadapan dengan Han Lojin, Ji Sun Bi beserta puluhan orang pembantunya dan akan dikeroyok!

Sementara itu Sim Ki Liong dan Tang Cun Sek bertugas untuk pergi menangkap Mayang! Untuk ini Sim Ki Liong menyuruh seorang anak buah untuk mengundang Mayang keluar kota raja dengan alasan dipanggil Tang Hay. Dan gadis yang masih kurang pengalaman itu masuk perangkap dengan amat mudahnya. Kini Mayang sudah berhadapan dengan Ki Liong dan Cun Sek, dalam keadaan terkepung.

Untuk beberapa lamanya pertanyaan Mayang itu tidak ada yang menjawab. Sim Ki Liong seperti terpesona, dan Cun Sek juga kagum. Ki Liong seketika jatuh cinta kepada gadis peranakan Tibet yang memiliki kecantikan yang khas itu. Akan tetapi tentu saja Ki Liong tidak berani menyimpang dari pada perintah yang sudah digariskan oleh Bengcu.

Dia dan kawan-kawannya hanya mendapat tugas menangkap gadis peranakan Tibet itu, tapi tidak boleh mengganggunya sama sekali. Menangkap dara peranakan Tibet itu hanya merupakan siasat Han Lojin untuk menundukkan Tang Hay dan memaksa puteranya agar menakluk dan membantunya! Maka gangguan terhadap Mayang tentu saja bisa merusak siasat yang sudah diatur sebaiknya demi keuntungan dirinya.

"Haiiii! Apakah kalian ini tuli atau gagu semuanya? Engkau yang datang membawa berita tentang kakakku. Di mana sekarang kakakku berada?" Mayang membentak dengan suara mengandung kemarahan dan sekarang dia sudah mengeluarkan sebatang pecut panjang, seperti yang biasa dipergunakan oleh para penggembala ternak.

Ki Liong saling pandang dengan Cun Sek kemudian keduanya tersenyum, merasa makin kagum karena sebagai orang-orang gagah, tentu saja mereka suka sekali melihat sikap gadis cantik yang demikian pemberani dan tabah. Sim Ki Liong yang memimpin pasukan kecil yang ditugaskan rnenangkap Mayang, cepat melangkah maju dan sambil tersenyum dia berkata,

"Nona manis, harap jangan marah dulu. Sepanjang yang kuketahui, yang namanya Tang Hay itu tidak mempunyai seorang adik perempuan. Bagaimana engkau tiba-tiba mengaku dia sebagai kakakmu? Sebenarnya kakak ataukah pacar?"

Sepasang mata yang agak sipit jeli itu sekarang mencorong karena hati Mayang menjadi panas akibat marah.

"Apakah dia itu kakakku, pacarku atau apaku pun, apa hubungannya dengan kamu orang bermulut lancang? Hayo lekas katakan di mana dia atau aku akan menghajar orang yang datang membawa berita palsu!"

Karena semua orang itu adalah orang-orang yang memiliki kepandaian silat dan tidak ada seorang pun dari mereka yang pernah mengenal Mayang, juga tidak pernah melihat gadis ini mengeluarkan kepandaian, maka mereka merasa kagum akan tetapi juga geli melihat seorang gadis yang baru berusia delapan belas tahun mengeluarkan ancaman seperti itu dan agaknya sama sekali tidak merasa gentar menghadapi pengepungan belasan orang gagah. Mereka merasa seperti melihat seorang anak kecil yang manja.

Memang Sim Ki Liong pernah melihat beberapa orang dara pendekar seperti Siangkoan Bi Lian, Cia Kui Hong, Pek Eng, Cia Ling, Kok Hui Lian dan beberapa orang lagi. Namun gadis-gadis seperti mereka itu tidak banyak yang memiliki ilmu yang amat tinggi. Apa lagi gadis di depannya ini seorang peranakan Tibet, dan bawaannya hanya sebatang cambuk penggembala! Maka dia pun tersenyum mengejek.

"Nona, pembawa berita itu adalah seorang anak buah Ho-han-pang yang gagah perkasa. Jangan kau samakan seperti seekor kambing yang bisa kau hajar dengan cambukmu itu."

Semua orang tertawa mendengar ini, juga lelaki setengah tua yang tadi membawa berita kini tersenyum mengejek. Dia pun tentu saja tidak takut kepada gadis Tibet itu, apa lagi di situ terdapat banyak temannya dan dua orang pimpinan Ho-han-pang yang amat lihai.

“Nona kecil, kalau aku tidak mengatakan di mana adanya kakakmu, habis engkau dapat berbuat apa? Ingin aku melihat bagaimana engkau akan menghajarku dengan cambuk itu, ha-ha-ha…!" Dan semua orang pun tertawa geli.

Sepasang mata Mayang bagaikan mengeluarkan kilat saking marahnya, namun sikapnya tetap tenang ketika dia melangkah maju.

"Baik, kalian lihat bagaimana aku menghajarnya!" Baru saja ucapannya itu habis, segera nampak sinar berkelebat dibarengi suara ledakan tiga kali.

"Tarr! Tarrr! Tarrrr!"

Ada sinar rnenyambar-nyambar ke arah pembawa berita tadi yang menjadi terkejut dan mencoba untuk mengelak. Akan tetapi sia-sia saja. Sinar yang menyambar itu terlampau cepat baginya, dan setelah tiga kali mukanya kena tersambar, dia terhuyung ke belakang, lantas menutupi muka dengan kedua tangan dan merintih-rintih. Sementara itu Mayang sudah menarik kembali cambuknya dan kini berdiri sambil tersenyum mengejek, sikapnya tenang sekali.

Sim Ki Liong melompat ke dekat pembawa berita yang menutupi mukanya dengan kedua tangan sambil mengaduh-aduh itu. Dia menangkap dan menarik dua tangan itu sehingga mukanya kini nampak dan semua orang mengeluarkan seruan tertahan.

Ternyata tiga kali ledakan pecut itu telah mengakibatkan wajah itu menderita hebat sekali. Lecutan pertama menyayat kulit muka hingga membuat guratan melintang, lecutan ke dua membuat guratan membujur, dua guratan silang yang mengeluarkan darah, dan lecutan ke tiga membuat bukit hidung itu hancur sehingga rata dengan pipi!

Kini berubahlah pandang mata semua orang terhadap gadis Tibet itu. Sim Ki Liong sendiri lalu melangkah maju menghadapi Mayang dan menatap wajah gadis yang sikapnya amat tenang itu dengan sinar mata kagum sekali, akan tetapi juga penasaran.

“Hemm, kiranya engkau mempunyai sedikit ilmu memainkan cambuk, Nona..."

"Tidak perlu banyak cakap lagi. Katakan di mana kakakku, jika tidak maka terpaksa aku akan menghajar kalian semua seperti sekumpulan kerbau tolol!" Mayang cepat memotong ucapan Sim Ki Liong.

Merah kedua telinga pemuda ini karena dia dimaki di depan banyak anak buah Ho-han-pang! Kesenangannya terhadap wanita cantik tidaklah sebesar keangkuhan dirinya, maka makian seorang gadis secantik Mayang pun membuat perutnya terasa panas sekali. Akan tetapi dia masih merasa terlampau tinggi untuk turun tangan sendiri menangkap seorang gadis remaja.

"Tangkap bocah ini akan tetapi jangan sampai melukainya. Kepung dan tangkap, lantas belenggu kaki tangannya!" bentak Sim Ki Liong memberi aba-aba.

Belasan orang anak buah Ho-han-pang itu seperti mendapat perintah yang benar-benar menyenangkan. Mereka itu dengan gembira bergerak maju mengepung ketat dan hendak berlomba agar dapat lebih dulu meringkus tubuh gadis yang denok manis itu.

Melihat betapa belasan orang yang mengepungnya itu sudah mulai bergerak dengan dua tangan dijulurkan hendak mencengkeram dan menangkapnya, dengan cepat Mayang lalu menggerakkan cambuknya. Ujung cambuk itu berputar-putar sehingga ujung itu bagaikan berubah menjadi belasan banyaknya, sambil terdengar suara meledak-ledak dan mencicit saking cepatnya cambuk itu bergerak.

Ujung cambuk itu mematuk, menyengat, melecut dan para pengeroyok itu jatuh bangun, mengaduh-aduh karena lecutan cambuk itu sungguh sangat nyeri. Di bagian tubuh mana saja ujung cambuk mematuk, tentu kulit menjadi pecah berdarah hingga terasa panas dan perih. Karena mereka tidak dibenarkan menggunakan senjata, tidak boleh melukai, hanya maju dengan tangan kosong, maka kini mereka menjadi gentar dan mereka pun mundur menjauhkan diri dari jangkauan cambuk yang panjang.

Marahlah Sim Ki Liong. Dia memberi tanda dengan mata kepada Cun Sek dan dua orang pemuda ini lalu meloncat ke depan dan menggerakkan tangan hendak menangkap lengan Mayang.

“Wuuuttt…!"

Mayang terkejut ketika merasa betapa ada angin pukulan yang sangat kuat, dan tangan pemuda tinggi besar itu dari samping menyambar ke arah pundaknya. Karena tangan itu mengandung tenaga yang sangat dahsyat, Mayang cepat menangkis dengan tangan kiri sambil menggerakkan cambuknya menghantam dari atas ke arah kepala lawan.

"Dukkk…! Tarrr...!"

Mayang mengeluarkan teriakan kecil ketika merasa tubuhnya tergetar dan terhuyung oleh pertemuan lengannya yang menangkis. Dia tidak menyadari bahwa pemuda tinggi besar itu adalah Tang Cun Sek, murid dari Cing-ling-pai yang sudah menguasai tenaga Thian-te Sin-ciang (Tenaga Sakti Langit Bumi).

Akan tetapi gadis ini lihai, dan meski pun pertemuan tenaga itu membuat dia terhuyung ke belakang, tetapi tetap saja cambuknya menyambar dan melecut ke arah kepala Tang Cun Sek yang tadi menyerangnya. Cun Sek terkejut, cepat miringkan kepalanya, namun ujung cambuk itu masih sempat mencium dan mencabik ujung pita rambutnya!

Dengan marah Cun Sek lalu menerjang dan kini dia menyerang dengan pukulan dari ilmu silat Thai-kek Sin-kun. Kembali Mayang terkejut, akan tetapi pukulan yang datangnya dari kanan kiri dengan dua tangan itu bisa dihindarkannya dengan meloncat jauh ke belakang, lalu cambuknya kembali menyambar dan kini ke arah leher Cun Sek. Cun Sek yang telah marah itu mengeluarkan kepandaiannya. Dia mengerahkan tenaga sinkang-nya ke lengan kiri, kemudian menangkis sinar cambuk yang menyambar.

"Prattt!"

Ujung cambuk mengenai lengan lantas melibat. Cun Sek sengaja membiarkan lengannya dilibat, lalu tangan kanannya menangkap cambuk itu dan menariknya. Mayang berusaha mempertahankan dan selagi keduanya mengerahkan tenaga saling tarik, saat itu segera dipergunakan oleh Sim Ki Liong untuk menyerang. Tangannya menotok ke arah tengkuk Mayang.

Gadis itu berusaha untuk mengelak, namun karena dia sedang mengadu tenaga dengan Cun Sek, gerakannya lambat hingga jari tangan yang kuat dan ampuh dari Ki Liong masih sempat mengenai jalan darah di pundaknya. Mayang mengeluh dan dia pun terpelanting roboh dengan tubuh lemas. Sim Ki Liong cepat-cepat meringkusnya dan dalam keadaan pingsan, Mayang dibawa pergi oleh rombongan orang Ho-han-pang itu.

Ketika Mayang siuman dan membuka matanya, dia segera teringat akan apa yang sudah menimpa dirinya. Cepat dia hendak bangkit, namun hanya untuk mendapatkan kenyataan bahwa kaki tangannya terbelenggu dan dia tak mampu bangkit. Ia menenangkan hatinya, lalu membuka mata untuk menyelidiki keadaannya.

Ia rebah telentang di atas sebuah pembaringan di dalam kamar yang luasnya kurang lebih lima kali tujuh meter. Sebuah kamar yang cukup mewah. Dinding serta langit-langit kamar dicat putih bersih, dimeriahkan oleh gantungan kain sutera beraneka warna. Pembaringan itu sendiri berkasur tebal, dengan tilam sutera merah dan kelambu kehijauan. Ada sebuah meja kecil bundar dengan empat buah bangku terukir indah berdiri di dekat pembaringan. Dia seorang diri saja di kamar itu.

Dia lalu mengingat-ingat. Dia dihadang serombongan orang Ho-han-pang yang amat lihai, terutama dua orang pemuda tampan yang memimpin rombongan itu. Dia dikeroyok dan kalah. Agaknya dia pingsan dan ditawan, lantas dibawa ke tempat ini. Dibelenggu di atas pembarigan!

Mayang mengerahkan tenaganya, mencoba melepaskan belenggu kaki tangannya. Akan tetapi tali pengikat kaki tangannya yang terbuat dari kulit itu ternyata kuat bukan kepalang. Pergelangan kaki dan tangannya sampai terasa pedih dan panas ketika ia mencoba untuk membebaskan diri. Akan tetapi dia berusaha terus.

Dia harus bisa membebaskan dirinya. Dia maklum bahaya apa yang mengancam dirinya. Kalau mereka itu memusuhinya dan ingin membunuhnya, tentu dia tidak akan ditangkap seperti ini. Kulit pergelangan tangan dan kakinya mulai lecet-lecet. Suara dibukanya pintu kamar membuat dia menghentikan usahanya dan dia pun menoleh ke arah pintu dengan muka berubah karena hatinya tegang dan khawatir.

Mayang melebarkan matanya yang sipit supaya dapat melihat dengan jelas orang yang memasuki kamarnya. Bukan seperti orang jahat, pikirnya. Juga bukan seorang di antara dua pemuda tampan yang telah menangkapnya.

Dia adalah seorang lelaki yang usianya lima puluh tahun lebih, dengan kumis dan jenggot yang terpelihara rapi sehingga wajahnya kelihatan ganteng dan berwibawa, juga jantan. Pakaiannya rapi dengan rompi dari sutera mahal, sepatunya hitam mengkilap, rambutnya juga disisir rapi dan meski pun sudah bercampur uban, namun menambah kejantanannya. Sepasang matanya bersinar-sinar tajam, mulutnya terhias senyum. Wajah seorang lelaki yang jantan dan matang, wajah lelaki yang menarik hingga menimbulkan rasa suka dan percaya. Dan ketika dia bicara, suaranya juga lembut dan dalam, suara yang berwibawa.

"Nona, percuma saja engkau mencoba untuk melepaskan diri. Tali belenggu itu terlampau kuat sehingga hanya akan membuat kulit lengan dan kakimu lecet-lecet."

Mayang memandang kepada laki-laki itu dengan kedua alis berkerut. "Siapakah engkau? Dan kenapa aku ditawan?"

Laki-laki itu tersenyum, kemudian menghampiri dan duduk di tepi pembaringan sehingga tubuhnya menyentuh tubuh Mayang. Gadis itu mencium bau harum cendana keluar dari orang itu!

"Nona, engkau manis sekali. Sebenarnya kami tidak mempunyai permusuhan denganmu. Aku adalah Ho-han Pangcu, juga Bengcu (pemimpin) dari dunia kang-ouw. Engkau kami tawan untuk mengundang kakakmu ke sini..."

"Hay-koko?"

"Benar, Tang Hay. Nasibmu akan ditentukan berdasarkan sikapnya. Bila dia mau berbaik dengan kami, tentu engkau akan segera dibebaskan, bahkan engkau juga dapat menjadi anggota kehormatan kami. Tapi, Nona, bagaimana engkau dapat menjadi adik Hay Hay? Setahuku dia tidak mempunyai seorang adik perempuan!"

Mayang mengerutkan kedua alisnya. Ternyata dia ditangkap untuk memancing Hay Hay! Kakaknya berada dalam bahaya. Dia tidak tahu siapa orang ini, akan tetapi tentu sangat lihai, maka tidak perlu dia menceritakan keadaan dirinya dan apa hubungannya dengan Hay Hay. Dia tidak boleh bersikap lancang, apa lagi kini kakaknya terancam bahaya.

"Kalau engkau tidak mau membebaskan aku, aku tidak sudi bicara lagi denganmu!” kata Mayang dan dia pun membuang muka.

Han Lojin tersenyum. Senang dia melihat gadis yang memiliki kecantikan khas ini. Selain wajahnya cantik manis, juga bentuk tubuhnya padat dan indah menggairahkan. Ditambah lagi sikap yang begitu tabah, pemberani dan penuh semangat! Seorang wanita pilihan dan jelas wanita seperti ini membangkitkan gairahnya.

"Hemm, tidak ada untungnya bagimu bersikap angkuh, Nona. Ketahuilah bahwa Ho-han-pang adalah perkumpulan para pahlawan, dan aku bukan orang jahat. Kalau kakakmu itu suka membantu perjuangan kami dalam mengamankan negara, maka dia akan menjadi pembantu utamaku. Engkau juga akan kuangkat menjadi kepala pelayan dan pengawal pribadiku."

"Aku tidak sudi! Dan Hay-ko tentu tak sudi pula menjadi pembantumu. Pergilah dan tidak usah merayu! Aku…. huhh, muak aku melihat mukamu!" Mayang sengaja bersikap kasar dan menghina agar lelaki itu marah dan kehilangan gairah yang membayang di matanya, dan meninggalkan dia sendiri.

Akan tetapi Mayang tidak tahu dengan laki-laki macam apa dia berhadapan. Makin galak dia, semakin berkobar pula gairah birahi Han Lojin. Pria setengah tua ini pada hakekatnya sangat membenci wanita yang disebabkan oleh dendam sakit hati. Dia tidak pernah dapat mencinta wanita. Yang ada hanya nafsu birahi dan nafsu menyiksa, mempermainkan.

Si Kumbang Merah Pengisap Kembang Jilid 27

LIMA orang ltu sama sekali tidak memperhatikan Hay Hay. Mata mereka semua ditujukan kepada Mayang dan mulut mereka tersenyum-senyum. Sikap mereka tidak kasar, bahkan tidak ada ucapan-ucapan tak sopan yang keluar dari mulut mereka yang tersenyum, akan tetapi pandang mata mereka itu amat dikenal oleh Mayang. Pandang mata laki-laki yang dibakar nafsu birahi kalau melihat wanita cantik!

Oleh pandang mata seperti itu saja, Mayang sudah merasa marah dan dia tahu dengan orang macam apa dia berhadapan. Segera dia teringat akan keterangan kakek di dusun tadi, tentang sekelompok orang yang menamakan diri mereka ho-han atau orang gagah berjiwa pahlawan yang menentang kejahatan akan tetapi mereka suka mengganggu para wanita.

"Apakah kalian berlima ini yang dinamakan orang-orang Ho-han-pang?" Mayang langsung saja berteriak dengan suara lantang dan membentak.

Lima orang pria muda itu saling pandang, kemudian mereka tertawa. Sikap mereka ketika tertawa juga tidak kasar, melainkan suara tawa orang-orang yang biasa bersopan-santun atau orang-orang terpelajar!

Seorang di antara mereka yang berkumis tipis mengajukan kudanya dan mewakili teman-temannya memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan di depan dada.

"Selamat sore, Nona. Maafkan kebodohan kami bahwa kami tidak mengenal Nona yang ternyata telah mengenal kami. Kami berlima memang orang-orang Ho-han-pang. Bolehkah kami mengetahui siapa nama nona dan hendak pergi ke manakah?"

Melihat sikap mereka yang sopan, bagaimana pun juga Mayang merasa tidak enak untuk bersikap kasar. Mulailah dia merasa ragu. Mereka ini harimau-harimau berkedok domba, ataukah keterangan kakek tadi yang tidak benar dan bersifat fitnah? Ia harus berhati-hati, jangan sampai nanti ditertawakan oleh Hay Hay yang nampaknya hanya berdiam diri saja di belakangnya itu.

"Aku tidak ingin berkenalan dengan kalian, tidak perlu memperkenalkan nama. Aku hanya ingin tahu kenapa kalian agaknya sengaja menghadang dan merintangi perjalanan kami? Minggirlah dan beri jalan kepada kami!"

Kembali si kumis tipis mewakili teman-temannya dan dengan sikap hormat dia menjawab, "Maatkan kami, Nona. Kami memang sengaja menghadang, tetapi bukan dengan maksud buruk melainkan memang telah menjadi tugas kami untuk menjaga keamanan di wilayah ini. Karena Nona adalah seorang yang asing dan belum kami kenal, maka sudah rnenjadi kewajiban kami untuk bertanya dan mengetahui siapa Nona dan temanmu itu. Ketahuilah bahwa keamanan di seluruh daerah kota raja menjadi tanggung jawab Ho-han-pang, oleh karena itu kami harus berhati-hati dan selalu menyelidiki semua pendatang yang belum kami kenal. Oleh karena itu, harap Nona dan teman Nona suka memperkenalkan diri dan memberi tahukan kami, dari mana Nona datang dan hendak ke mana Nona pergi.”

“Hemm, apakah sekarang Ho-han-pang sudah menggantikan pasukan pemerintah untuk menjaga keamanan? Bagaimana kalau kami tidak mau memperkenalkan diri. Apa yang hendak kalian lakukan?”

Kembali lima orang itu saling pandang, masih tersenyum dan kini pandang mata mereka bertambah kekaguman terhadap keberanian gadis jelita itu menantang mereka. Si kumis tipis kembali berkata,

“Nona, agaknya Nona belum mendengar tentang Ho-han-pang, maka Nona tidak percaya kepada kami. Ketahuilah bahwa ketua kami adalah Bengcu yang hendak mempersatukan seluruh kekuatan di dunia persilatan. Bengcu kami adalah seorang pendekar dan patriot yang berilmu tinggi, yang hendak menuntun semua tokoh kang-ouw untuk menjadi patriot pembela negara! Bengcu kami membawa kami ke jalan kebenaran dan siapa saja yang menentang kami tentu akan tergilas oleh kebenaran. Oleh karena itu, harap Nona suka memperkenalkan diri sehingga kami tidak akan memberi laporan buruk tentang diri Nona kepada ketua perkumpulan kami."

Empat orang temannya itu pun memberi hormat kepada Mayang dan berkata, "Maafkan kami, Nona."

Sikap mereka berlima itu demikian sopan dan menarik, disertai senyuman menghias pada wajah mereka yang rata-rata memang tampan dan gagah.

Mayang hendak bersikeras tidak mau memperkenalkan diri, tetapi tiba-tiba dia mendengar suara Hay Hay di belakangnya.

"Maafkan adikku ini, ngo-wi ho-han (lima orang gagah)! Terus terang saja, adikku enggan memperkenalkan diri karena maklumlah, sebagai gadis-gadis terhormat, betapa mungkin memperkenalkan diri begitu saja kepada lima orang pria muda?"

Mayang hendak menegur kakaknya dengan marah, akan tetapi dia bengong saat melihat betapa kelima orang laki-laki itu kini bersikap aneh sekali. Mereka berlima itu memandang kepada Hay Hay dengan sikap yang sangat aneh. Kini mereka berlagak dan pasang aksi, bahkan seorang di antara mereka berkata lirih,

"Aduhhh... bukan main jelitanya nona berbaju biru ini...”

Hanya sebentar saja Mayang terheran. Setelah dia memperhatikan, dia dapat merasakan getaran tak wajar yang keluar dari arah Hay Hay, maka tahulah dia bahwa kakaknya telah main-main lagi, menggunakan sihirnya untuk mempengaruhi lima orang itu yang agaknya melihat dia sebagai seorang wanita jelita! Maka kini Mayang diam saja, hanya tersenyum-senyum geli dan hendak melihat apa yang akan dilakukan Hay Hay terhadap lima orang anggota Ho-han-pang itu.

Si kumis tipis kini memandang kepada Hay Hay yang mengajukan kudanya. Jelas betapa sinar mata si kumis tipis itu terpesona dan penuh kagum.

"Duhai Nona yang cantik jelita dan manis budi! Terima kasih atas keramahanmu dan kami mohon sudi kiranya Nona memperkenalkan diri bersama adik Nona itu."

"Aku bernama Ma Hwa dan adikku ini bernama Ma Yang. Kami datang dari luar kota raja dan hendak melihat-lihat keindahan kota raja. Kalian sungguh sopan dan gagah, terutama engkau sungguh ganteng dengan kumis tipismu."

"Nona Ma Hwa dan nona Ma Yang. Ji-wi (kalian berdua) adalah gadis-gadis jelita dari luar kota yang hendak memasuki kota raja, maka biarlah kami yang mengawal kalian supaya jangan terdapat gangguan di dalam perjalanan."

“Ahhh, tidak perlu dikawal. Kami berani pergi berdua saja!" Mayang cepat berkata karena dia tidak ingin ditemani lima orang itu. Dia mendahului kakaknya karena takut kalau-kalau kakaknya itu akan menerima tawaran mereka.

"Kalau begitu, barang kali ada hal lain di mana kami dapat membantu ji-wi?” Si kumis tipis masih terus berusaha menawarkan jasa baiknya.

Sikap lima orang itu demikian sopan dan menarik, maka kini mengertilah Mayang kenapa banyak gadis yang terpikat dan mau menjadi isteri para anggota Ho-han-pang. Ternyata Ho-han-pang memiliki anggota pria-pria muda yang pandai berlagak.

"Jika sobat mau membantu kami, kami memang ingin mencari seorang perwira pengawal she Tang di kota raja..." Hay Hay yang dengan kekuatan sihirnya telah membuat mereka memandangnya sebagai seorang gadis cantik itu menatap dengan penuh perhatian, dan dia melihat betapa lima orang itu nampak kaget.

"Perwira she Tang...? Bagaimana rupa orang itu?"

Tentu saja Hay Hay tidak mampu menjelaskan karena sebenarnya dia sendiri pun belum pernah melihatnya. Dia hanya mendengar berita bahwa di kota raja ada seorang perwira muda she Tang yang membual bahwa dia adalah putera Ang-nong-cu.

Tentu saja Hay Hay tidak menganggapnya sebagai bualan belaka karena memang benar bahwa Ang-hong-cu adalah seorang she Tang! Kalau hanya membual, bagaimana nama keturunan itu bisa demikian tepat? Padahal tak ada seorang pun yang mengetahui bahwa Ang-hong-cu adalah seorang she Tang.

"Dia… dia seorang perwira pengawal yang masih muda," akhirnya Hay Hay hanya dapat menerangkan apa yang diketahuinya. Akan tetapi hal itu agaknya telah cukup karena lima orang itu nampak lega mendengar keterangan itu.

"Jangan khawatir, kami akan membantu ji-wi mencarinya. Kami akan menemui ji-wi siocia (nona berdua) di kota raja. Silakan melanjutkan perjalanan, Nona Ma Hwa dan Ma Yang.” Mereka lalu meminggirkan kuda mereka, membiarkan Hay Hay dan Mayang lewat.

Setelah melewati lima orang itu, Mayang menegur kakaknya. "Hay-ko, mengapa engkau memperkenalkan namaku dan kenapa pula engkau menyamar sebagai seorang wanita?"

"Mayang, orang yang kita cari ini lihai bukan main. Dia belum tahu namamu, akan tetapi dia sudah mengenal namaku, juga wajahku. Karena itu tidak ada salahnya kalau engkau memperkenalkan rupa dan namamu. Akan tetapi bagiku, lebih baik aku bersembunyi dan tidak sembarangan memperlihatkan diri."

"Koko, begitu takutkah engkau terhadap Ang-hong-cu?"

"Bukan takut, adikku, melainkan aku harus berhati-hati. Kalau dia tahu bahwa aku datang mencarinya di kota raja, dan kalau benar dia berada di sini, tentu dia akan melarikan diri lebih dahulu. Dia lihai bukan main, juga licik dan pandai menyamar. Kita tidak ada waktu main-main dengan Ho-han-pang, maka lebih baik kita segera melepaskan diri dari mereka karena kita memiliki tugas yang lebih penting. Sebaiknya kalau kita dapat masuk ke kota raja sebelum hari menjadi gelap sekali.”

Mereka lalu membalapkan kuda mereka. Setelah tiba di kota raja dan masuk melalui pintu gerbang tanpa menimbulkan kecurigaan, mereka lalu menyewa dua buah kamar di dalam sebuah rumah penginapan di kota raja. Mereka menyerahkan dua kuda mereka kepada pelayan untuk dipelihara dan diberi makan.

Tentu saja Hay Hay sama sekali tak pernah menyangka bahwa yang dinamakan Ho-han-pang adalah sebuah perkumpulan yang dipimpin oleh Ang-hong-cu sendiri! Tidak pernah mengira bahwa lima orang anggota Ho-han-pang itu adalah anak buah ayah kandungnya yang sedang dicari-carinya.

********************

Seperti yang telah diceritakan di bagian depan, sesudah keluar dari pekerjaannya sebagai perwira pasukan pengawal, dan telah membuat jasa-jasa, bukan hanya menangkap calon pembunuh kaisar, akan tetapi juga dia dianggap berjasa sudah membuat daerah kota raja menjadi aman, keluar dengan terhormat, Ang-hong-cu Tang Bun An lalu menghilang dan muncullah Han Lojin memimpin Ho-han-pang!

Usahanya untuk menjadi seorang bengcu atau pemimpin besar di dunia kangouw dengan mempersatukan atau lebih tepat lagi menaklukkan seluruh tokoh dunia kang-ouw lantas mengangkat diri sebagai bengcu atau semacam raja, mulai berkembang dengan baik. Hal ini berkat bantuan Sim Ki Liong, Tang Cun Sek dan Ji Sun Bi. Terutama sekali Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi yang memiliki banyak sekali hubungan dengan para tokoh kang-ouw, telah menarik banyak tokoh kang-ouw untuk mengakui Han Lojin sebagai bengcu!

Biar pun kini perkumpulan Ho-han-pang mulai berpengaruh, mulai diakui oleh para tokoh kang-ouw, namun Han Lojin tetap bersikap waspada. Dia selalu menyebar anak buahnya yang dipercaya untuk melakukan pengamatan di kota raja dan sekitarnya. Bila mana ada tokoh kang-ouw atau perkumpulan yang agaknya tidak mau tunduk, maka cukup dengan mengutus Sim Ki Liong, Tang Cun Sek atau Ji Sun Bi saja, mereka yang menentang itu pasti dapat ditundukkan. Tidak usah dia sendiri yang turun tangan!

Han Lojin bukan orang bodoh. Dia tahu pasti bahwa perkumpulannya akan semakin maju pesat selama didukung oleh pembesar-pembesar kota raja, terutama para pejabat tinggi. Karena itu dia pun selalu menjaga agar Ho-han-pang mendatangkan kesan baik.

Dia berpesan dengan ancaman keras kepada semua anak buahnya agar tidak melakukan perbuatan yang terlarang dan melanggar hukum. Tak boleh mencuri atau merampok, tak boleh bersikap kasar terhadap rakyat, bahkan harus selalu menentang kejahatan. Tentu saja mereka diberi jaminan yang cukup. Kalau ada yang melanggar maka Han Lojin tidak segan-segan untuk memberi hukuman dan menyiksanya sehingga semua anak buahnya menjadi takut dan taat.

Bahkan dia juga melarang keras anak buah Ho-han-pang untuk memperkosa wanita, hal yang biasanya suka dilakukannya sendiri. Mereka boleh saja memilih seorang gadis yang disukai sebagai isteri, akan tetapi harus dengan cara baik, tidak boleh memperkosa.

Dan Ji Sun Bi banyak membantu anak buah Ho-han-pang dalam hal menundukkan gadis yang mereka pilih. Banyak sudah para wanita yang berjatuhan dan terpaksa menjadi isteri salah seorang di antara anggota-anggota Ho-han-pang karena sudah ‘dijatuhkan’ dengan cara yang tidak wajar, walau pun bukan dengan kekerasan.

Ji Sun Bi mempunyai banyak akal untuk membantu para anak buah Ho-han-pang dalam menjatuhkan kaum wanita, baik dengan ramuan obat, dengan rayuan dan bermacam akal lagi. Beberapa orang gadis dengan suka rela bahkan menyerahkan diri kepada ‘pendekar’ yang menyelamatkannya dari ancaman perampok ganas yang hendak memperkosanya. Tentu saja semua itu hanya permainan saja, siasat yang diatur oleh Ji Sun Bi!

Demikianlah, Ho-han-pang segera dikenal oleh rakyat di kota raja dan sekitarnya sebagai perkumpulan orang-orang gagah yang menentang kejahatan, akan tetapi kenyataannya banyak pula gadis yang menyerahkan diri menjadi isteri dari para anggota Ho-han-pang itu.

Tentu saja Han Lojin sendiri belum dapat membebaskan diri dari kerakusannya terhadap wanita. Hanya beberapa bulan saja setelah menjadi bengcu, Ang-hong-cu sudah berhasil mengumpulkan banyak wanita muda yang cantik-cantik untuk dijadikan pelayan atau pun pembantu di rumahnya yang berdiri di dalam hutan pada puncak bukit.

Nampaknya saja belasan orang gadis cantik itu menjadi pelayan dan pembantu, padahal sebenarnya mereka dijadikan pemuas birahi Han Lojin yang tetap melakukannya karena rasa bencinya kepada para wanita sehingga ingin mempermainkan mereka. Maka dalam beberapa bulan saja sudah beberapa kali dia berganti pelayan.

Ada kalanya belum sampai satu bulan dia sudah mengeluarkan seorang gadis pelayan dari dalam rumahnya karena merasa bosan, lalu gadis itu dihadiahkan kepada seorang di antara para anak buahnya untuk diperisteri. Anak buah ini tentu saja menerima dengan kedua tangan terbuka karena ‘hadiah’ seorang gadis dari bengcu sudah dapat dipastikan amat cantik menarik!

Gadis itu sendiri pun tidak mempunyai pilihan lain kecuali menerima. Dia sudah ternoda, kalau dicampakkan begitu saja oleh bengcu, mereka tentu akan terlantar dan mereka juga tidak berani pulang ke rumah orang tua karena malu.

Tidak ada seorang pun di antara para pelayan ini yang diperkosa oleh Han Lojin. Semua dijatuhkan dengan bantuan siasat Ji Sun Bi! Dalam keadaan mabok atau lupa diri karena pengaruh ramuan obat, para gadis itu menyerahkan diri dengan suka rela kepada Bengcu dan mereka baru menyesal sesudah semuanya terlanjur sehingga hanya dapat menerima nasib!

Ketika Han Lojin menerima Sim Ki Liong sebagai pembantu, dia telah berjanji bahwa bila pengaruhnya telah mulai berkembang, maka akan mudah saja mencari orang-orang yang menjadi musuh besar pemuda perkasa itu, yaitu Siangkoan Ci Kang. Dan dia memegang teguh janjinya. Sesudah banyak tokoh kang-ouw mulai mengakui kedudukannya sebagai bengcu di dunia kang-ouw, Han Lojin lalu menyebar penyelidik ke seluruh penjuru untuk mencari keterangan tentang Siangkoan Ci Kang. Demikianlah, secara perlahan-lahan Han Lojin mulai memperkuat kedudukannya sebagai ketua Ho-han-pang, juga sebagai bengcu baru di dunia kang-ouw.

"Dua orang gadis Tibet katamu?" Han Lojin minta penjelasan pada waktu dia mendengar laporan anak buahnya, si kumis tipis bersama empat orang temannya.

"Benar sekali, Pangcu (ketua)," kata si kumis tipis.

Sebagai ketua perkumpulan itu, Han Lojin disebut Pangcu (ketua) oleh semua anak buah Ho-han-pang. Akan tetapi para pembantunya yang utama seperti Sim Ki Liong, Tang Cun Sek, Ji Sun Bi serta para tokoh kang-ouw yang mengakui kedudukan Han Lojin sebagai bengcu namun tidak menjadi anggota Ho-han-pang, menyebutnya Bengcu (pemimpin).

"Dua orang gadis peranakan Tibet yang cantik jelita bukan kepalang. Belum pernah kami bertemu dengan dua orang gadis secantik itu!”

"Benar, Pangcu. Terutama yang lebih tua, yang bernama Ma Hwa.”

“Yang lebih muda juga cantik jelita, Pangcu, namanya Ma Yang.”

Lima orang anggota Ho-han-pang ini termasuk anggota lama, bahkan telah menjadi anak buah sejak Han Lojin masih menjadi perwira Tang Bun An. Tentu saja mereka termasuk orang-orang kepercayaan sehingga mereka pun sudah tahu bahwa ketua mereka adalah seorang laki-laki yang suka mengumpulkan gadis cantik.

Akan tetapi Han Lojin bukanlah seorang laki-laki yang mudah tertarik wanita cantik kalau dia tidak melihat sendiri.

"Kau bilang tadi bahwa mereka datang ke kota raja untuk mencari perwira Tang?”

"Benar, Pangcu. Akan tetapi yang mereka cari adalah seorang perwira Tang yang masih muda. Mungkin yang mereka maksudkan adalah perwira Tang Gun yang dahulu dihukum buang itu," kata si kumis tipis yang juga tahu akan peristiwa penangkapan Tang Gun yang kemudian dihukum buang dan sampai kini tidak ada lagi kabar ceritanya.

Han Lojin mengerutkan alisnya, lantas menyuruh mereka mundur. Dia sendiri termenung. Kalau ada orang mencari Tang Gun, seperti dia dahulu, tentu karena tertarik mendengar bahwa Tang Gun membual sebagai putera Ang-hong-cu! Dan ini hanya berarti bahwa dua orang gadis cantik itu tentu dua di antara para pendekar wanita yang mencarinya!

Dia mengingat-ingat para pendekar wanita yang pernah ditemuinya ketika terjadi peristiwa pembasmian gerombolan pemberontak pimpinan Lam-hai Giam-lo. Di antara mereka itu, yang paling mengesankan hanya beberapa orang saja, yaitu Cia Kui Hong, Kok Hui Lian, Siangkoan Bi Lian, Pek Eng, dan Cia Ling. Dua yang terakhir itu, Pek Eng dan Cia Ling, tidak pernah dapat dia lupakan karena mereka menjadi korban perkosaannya.

Apa bila yang muncul adalah dua orang di antara mereka, dia tidak merasa heran karena para wanita pendekar itu memang memusuhinya. Akan tetapi jelas Kui Hong tidak masuk hitungan. Cia Kui Hong yang telah menjadi ketua Cin-ling-pai itu telah berjanji kepadanya dan dia merasa yakin bahwa gadis perkasa itu tidak akan melanggar janjinya sendiri.

Akan tetapi dua gadis yang kini mencari perwira Tang Gun itu agaknya juga bukan gadis-gadis pendekar lainnya itu. Menurut anak buahnya, dua orang gadis itu bernama Ma Hwa dan Ma Yang, dan mereka adalah dua orang gadis peranakan Tibet.

Karena merasa tidak enak dan penasaran, Han Lojin kemudian memanggil Sim Ki Liong, pembantu utamanya karena pemuda ini rnerupakan seorang yang berilmu tinggi. Bahkan dalam hal ilmu silat, dia sendiri tidak akan mudah dapat mengalahkan Sim Ki Liong yang telah menguasai ilmu-ilmu silat tinggi dari Pulau Teratai Merah itu.

Ki Liong sudah menjadi seorang pemuda lain sejak menjadi pembantu Han Lojin. Berkat ilmu penyamaran yang hebat dari Han Lojin, pemuda itu mengenakan kedok tipis, setipis kulit mukanya sehingga wajahnya telah berubah sama sekali. Kini dia tidak khawatir akan dikenal oleh para pendekar. Tang Cun Sek juga mengenakan kedok tipis yang merubah bentuk mukanya, seperti juga Ji Sun Bi.

Han Lojin tak ingin para pembantunya itu dikenal orang. Dia mengatakan bahwa samaran itu hanya untuk sementara saja. Kalau kedudukan Ho-han-pang sudah kuat benar, maka kelak tak ada halangannya bagi tiga orang pembantunya itu untuk memperlihatkan wajah mereka yang sebenarnya.

"Kau selidiki dua orang gadis itu," kata Han Lojin setelah menceritakan kepada Ki Liong tentang laporan lima anak buah Ho-han-pang tadi. "Selidiki yang jelas siapa mereka, dan mengapa pula mereka mencari perwira Tang. Kalau mereka itu mencurigakan dan dapat merugikan kita, jangan kau ragu. Tangkap atau bunuh saja mereka, akan tetapi lakukan dengan hati-hati agar jangan sampai menimbulkan kekacauan di kota raja. Mengertikah engkau?"

Ki Liong mengangguk dan tersenyum. "Itu urusan kecil saja, Bengcu. Apa sih artinya dua orang gadis Tibet? Malam ini juga pasti aku sudah mendapat keterangan lengkap tentang mereka, dan kalau perlu malam ini juga kutangkap mereka kemudian kuhadapkan kepada Bengcu."

"Bagus! Aku percaya akan kesanggupanmu, Ki Liong. Dan kau tahu, kalau bukan urusan penting, aku tak akan mengutusmu, cukup anak buah saja. Jadi, urusan ini penting sekali karena hatiku merasa tidak enak."

Sim Ki Liong lalu meninggalkan puncak bukit yang kini menjadi perkampungan besar dan pusat perkumpulan Ho-han-pang itu, lantas dia pun memasuki kota raja dan mulai dengan penyelidikannya. Karena Han Lojin memang sudah menugaskan banyak sekali penyelidik dan anak buahnya di kota raja, maka bukan pekerjaan sukar bagi Ki Liong untuk mencari tahu di mana adanya dua orang gadis Tibet itu.

Menurut para penyelidik, yaitu anak buah Ho-han-pang yang bertugas di kota raja, di sana tidak ada dua orang gadis Tibet, tetapi yang ada hanya seorang gadis Tibet saja bersama seorang pemuda yang mengaku sebagai kakaknya. Mereka menyewa dua buah kamar di rumah penginapan Hok Likoan.

Tentu saja Ki Liong merasa heran bukan main. Menurut keterangan Bengcu, lima orang anak buah Ho-han-pang itu melaporkan bahwa yang perlu diselidikinya adalah dua orang gadis Tibet yang cantik-cantik dan mereka bernama Ma Hwa dan Ma Yang. Bagaimana sekarang yang ada hanya seorang saja gadis Tibet bersama kakak laki-lakinya?

Dan menurut para penyelidik, gadis Tibet yang berada di rumah penginapan Hok Likoan itu serupa benar dengan seorang di antara dua orang gadis Tibet, yaitu yang muda. Ciri-cirinya yang menonjol adalah bertubuh tinggi ramping dengan kulit yang putih kemerahan, pinggulnya besar dan bulat, rambutnya panjang dikepang dua, wajahnya manis, matanya agak sipit, hidungnya mancung besar dan mulutnya kecil. Akan tetapi dara Tibet pertama, yang kabarnya lebih cantik jelita dibandingkan adiknya, tidak terlihat dan sebagai gantinya adalah seorang pemuda kakak gadis Tibet itu yang tampan.

Karena penasaran, maka malam hari itu juga Ki Liong mendatangi rumah penginapan itu. Kebetulan sekali ketika itu dua orang kakak beradik yang hendak diselidikinya itu sedang makan malam di rumah makan sebelah rumah penginapan itu. Begitu dia melihat pemuda yang mengaku kakak dari gadis Tibet, hampir saja Sim Ki Liong terpelanting jatuh saking kagetnya sesudah dia mengenal pemuda itu yang bukan lain adalah Hay Hay atau Tang Hay, pemuda yang amat ditakutinya karena dia tahu betapa saktinya pemuda itu.

Dia tahu bahwa Hay Hay bukan saja amat tinggi ilmu silatnya, akan tetapi juga memiliki ilmu sihir yang amat kuat. Kini mengertilah dia mengapa lima orang anggota Ho-han-pang itu melihat dua orang gadis Tibet. Tentu Hay Hay sudah menggunakan sihirnya sehingga lima orang itu melihat dia sebagai seornag gadis.

Sesudah dia merasa yakin bahwa pemuda itu benar Tang Hay, cepat Sim Ki Liong pergi meninggalkan tempat itu dengan jantung berdebar tegang. Bahkan tadi napasnya terasa sesak ketika dia bertemu pandang dengan Hay Hay, sungguh pun dia tahu bahwa tak ada seorang pun yang akan dapat mengenal wajahnya yang sudah berubah sama sekali oleh penyamaran yang dilakukan Han Lojin.

Dan memang Hay Hay sama sekali tidak mengenal Sim Ki Liong dengan wajah barunya itu. Kalau tadi dia sejenak memandang tajam adalah karena dia melihat pemuda tampan itu mengerling ke arah Mayang dan dia.

Dengan napas masih memburu, malam itu juga Ki Liong langsung menghadap Han Lojin. Tentu saja Han Lojin terkejut bukan main melihat pembantu utamanya itu kelihatan gugup dan seperti orang yang ketakutan! Juga sudah berani minta menghadap pada malam itu juga, tanda bahwa dia datang membawa berita yang teramat penting.

"Hayaaa…! Celaka, Bengcu..."

Han Lojin mengerutkan alisnya sambil memandang marah. "Ki Liong, mengapa engkau? Sungguh tak kusangka engkau dapat menjadi seorang penakut macam ini! Hayo katakan, mengapa engkau kelihatan begini ketakutan?"

Wajah Ki Liong menjadi merah. Dia baru menyadari bahwa sikapnya tadi memang sangat memalukan sekali.

"Maaf, Bengcu. Saya tidak takut, hanya….. ehh, terkejut sekali karena menemukan orang yang sama sekali tidak disangka-sangka. Karena terkejut itulah maka saya menjadi gugup dan ingin cepat-cepat memberi laporan kepada Bengcu."

Sekarang harga dirinya sudah kembali. Dia adalah seorang pemuda yang gagah perkasa, memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan murid dari Pendekar Sadis dan isterinya, majikan Pulau Teratai Merah yang amat terkenal di seluruh dunia kang-ouw. Tidak sepatutnya dia memperlihatkan sikap ketakutan seperti tadi.

"Katakanlah, Ki Liong, jangan seperti anak kecil. Siapa orang itu?"

Kini ada perasaan was-was di hati Han Lojin karena dia cukup mengenal kegagahan dan kelihaian Ki Liong. Kalau sampai seorang yang memiliki kelihaian seperti Ki Liong sampai begitu ketakutan, maka tentu orang yang ditakutinya itu benar-benar orang luar biasa.

"Dia adalah Hay Hay...”

Sepasang mata Han Lojin terbelalak dan dia merasa betapa jantungnya berdebar penuh ketegangan.

"Dia...? Dia... yang datang...?"

Sejenak kedua orang berdiam diri, tidak ada yang mengeluarkan suara karena keduanya melamun. Dan terbayanglah semua peristiwa yang pernah mereka alami, ketika Han Lojin bertanding melawan Hay Hay puteranya sendiri sampai dia terdesak hebat. Juga Ki Liong membayangkan ketika dia bertanding melawan Hay Hay sehingga hampir saja dia celaka, bahkan pedang pusaka yang dibawanya dari Pulau Teratai Merah, yaitu pedang pusaka Gin-hwa-kiam, akhir-akhir ini juga sudah dirampas oleh pemuda yang memiliki kesaktian hebat itu.

Akan tetapi Han Lojin segera dapat menguasai hatinya yang agak terguncang mendengar bahwa musuhnya nomor satu yang ditakutinya, juga merupakan putera kandungnya, kini telah datang ke kota raja dan sudah jelas niatnya. Tentu untuk mencari dia! Dia langsung teringat akan kedudukannya. Kalau tadinya dia merasa gentar, kini dia dapat menguasai hatinya, bahkan otaknya yang cerdik segera mengatur siasat untuk dapat menundukkan Tang Hay.

Kalau saja pemuda yang lihai itu, juga putera kandungnya sendiri itu, dapat membantu dia seperti halnya Tang Cun Sek, tentu kedudukannya akan menjadi bertambah kuat! Benar! Dia harus bisa membujuk atau bila perlu memaksa Tang Hay untuk membantu usahanya menjadi bengcu di seluruh dunia kang-ouw!

"Ki Liong, cepat kau pergi panggil Sun Bi dan Cun Sek ke sini!"

Ki Liong memandang Han Lojin. "Sekarang?"

"Ya, sekarang juga. Cepat, kutunggu di sini!"

Ki Liong segera pergi ke kamar kedua orang itu dan tidak lama kemudian dia bersama Ji Sun Bi dan Tang Cun Sek sudah berada di dalam ruangan duduk tadi di mana Han Lojin masih menanti dengan alis berkerut. Dua orang itu pun terkejut setengah mati mendengar dari Ki Liong bahwa Hay Hay sudah tiba di kota raja. Karena itu mereka bergegas datang sesudah mendengar bahwa Bengcu memanggil, dan kini keempat orang itu sudah duduk mengelilingi meja dan bicara dengan wajah serius.

Walau pun wajahnya membayangkan kecemasan, akan tetapi dengan suara tenang Han Lojin menggambarkan siasatnya untuk menghadapi Tang Hay atau Hay Hay. Sampai jauh malam baru mereka mengakhiri perundingan itu dan pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat karena besok mereka masing-masing memiliki tugas yang penting dan berat sebagai pelaksanaan siasat yang telah diatur oleh Han Lojin!

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Pagi-pagi sekali Hay Hay sudah mandi, kemudian keluar dari dalam kamarnya di rumah penginapan Hok Likoan. Ia melihat pintu kamar Mayang masih tertutup, maka dia pun tak mau mengganggu adiknya yang tentu lelah sesudah pada hari-hari yang lalu melakukan perjalanan jauh itu. Biarlah adiknya melepas lelah dan beristirahat.

Dia pagi-pagi bangun untuk mulai dengan penyelidikannya tentang perwira Tang, dan dia tidak akan menyelidik jauh-jauh. Pagi hari itu tentu dia akan dapat minta keterangan dari karyawan rumah penginapan itu secara santai, karena hari masih pagi dan sepi.

Dia melihat kesempatan yang baik sekali ketika melihat tukang kebun rumah penginapan itu menyapu pekarangan di luar bangunan. Tukang kebun itu sudah setengah tua, tentu sudah lama berada di kota raja. Maka dihampirinya tukang kebun yang sedang menyapu pekarangan itu.

"Selamat pagi, Paman," tegurnya.

Tukang kebun itu mengangkat mukanya dan memandang heran. Selama bertahun-tahun menjadi pegawai kasar dan yang dianggap rendah, yaitu menjadi tukang kebun, baru kali ini dia mendapat salam demikian akrabnya dari seorang tamu hotel!

"Selamat pagi, Kongcu!" jawabnya gembira.

“Sepagi ini sudah bekerja, Paman? Rajin amat?”

Tukang kebun itu menghentikan gerakan sapunya, lantas memandang sambil tersenyum. Seorang tuan muda yang amat ramah, pikirnya.

"Kalau kesiangan sedikit, para tamu akan berlalu lintas di sini dan selain sukar, juga akan mengganggu tamu."

Hay Hay melihat ada sebatang sapu bersandar di dinding luar. Diambilnya sapu itu dan dia pun mulai menyapu, membantu pekerjaan si tukang kebun.

"Ehh, jangan, Kongcu. Pakaianmu nanti kotor...!" kata si tukang kebun dengan heran.

"Aih, tidak mengapa, Paman. Aku ingin membantumu menyapu. Aku ingin engkau segera menyelesaikan pekerjaanmu ini sebab aku ingin mengajakmu bercakap-cakap sebentar."

Biar pun dia bukan tukang sapu dan tidak biasa menyapu pekarangan, akan tetapi berkat tenaganya yang besar serta kecekatan gerakannya, maka sebentar saja Hay Hay berhasil menyelesaikan pekerjaan itu. Si tukang kebun amat terheran-heran melihat seorang tamu, seorang tuan muda, dapat mengayun tangkai sapu demikian mahir dan cepatnya. Dengan hati girang dia pun melayani Hay Hay dan mengajaknya bercakap-cakap.

"Paman, aku hendak bertanya sedikit, aku harap Paman suka membantuku dan memberi keterangan sejujurnya."

"Pertanyaan apakah, Kongcu? Tentu saya akan menjawab sejujurnya."

"Begini, Paman. Aku ingin mencari keterangan mengenai seorang perwira di kota raja ini, seorang perwira she Tang yang mengaku sebagai putera Ang-hong-cu. Apakah engkau pernah engkau mendengar tentang Tang-ciangkun itu?”

Tukang kebun itu memandang kepada Hay Hay dengan wajah berkerut. Nama Ang-hong-cu merupakan nama yang asing baginya.

“Saya pernah mendengar tentang seorang perwira she Tang, namun entah dia itu putera siapa...”

"Tidak apa, Paman. Perwira she Tang yang Paman ketahui itu, di mana dia tinggal?"

Tukang kebun itu menggelengkan kepala. “Sekarang dia sudah mengundurkan diri, tidak menjadi perwira istana lagi. Entah ke mana perginya. Dia pernah berjasa besar terhadap Sribaginda Kaisar, demikian beritanya, lalu dia diangkat sebagai perwira pengawal. Akan tetapi sudah berbulan-bulan ini, mungkin sudah ada setahun, dia mengundurkan diri dan pergi entah ke mana. Begitulah yang saya dengar, Kongcu. Saya kurang memperhatikan urusan seperti itu, dan maaf kalau saya tidak dapat memberi keterangan secukupnya."

"Keteranganmu sudah cukup berharga, Paman," kata Hay Hay berbohong. Sebenarnya dia merasa kecewa sekali mendengar keterangan yang tidak lengkap itu. "Tetapi tahukah Paman siapa nama perwira itu dan berapa kira-kira usianya?"

"Saya sendiri tidak pernah melihatnya, hanya mendengar kabar saja bahwa dia setengah tua, lima puluh tahun lebih, dan namanya… namanya Tang... Bo An atau semacam itu."

Hay Hay merasa semakin kecewa. Kalau perwira itu benar-benar puteranya Ang-hong-cu, tentu usianya tidak lima puluh tahun lebih! Dan mana ada orang bernama Bo An (Tidak Selamat)? Mungkin Bu An atau Bun An.

Walau pun dia menduga bahwa tentu bukan perwira setengah tua itu yang dimaksudkan sebagai putera Ang-hong-cu, yang mengaku demikian dan merupakan satu-satunya jejak baginya untuk menyelidiki Ang-hong-cu, akan tetapi tak ada cara lain lagi baginya kecuali menyelidiki orang itu.

Memang perwira setengah tua itu telah mengundurkan diri! Akan tetapi siapa tahu masih ada orang di bekas tempat tinggalnya yang dapat bercerita lebih banyak, terutama sekali memberi tahu kepadanya di mana sekarang perwira itu tinggal. Bagaimana pun juga, she perwira setengah tua itu juga Tang, dan hal ini saja sudah menarik perhatiannya.

"Terima kasih sekali untuk semua keterangan tadi, Paman. Ada satu hal lagi, di manakah rumah perwira Tang itu?"

Tukang kebun itu memandang heran. "Tadi sudah saya katakan bahwa saya tidak tahu ke mana dia pergi dan tidak tahu di mana rumahnya sekarang, Kongcu."

"Maksudku bukan rumahnya yang sekarang, melainkan rumahnya dulu ketika dia masih menjadi perwira di kota raja ini."

"Ahh, kalau itu saya tahu. Siapa yang tidak tahu gedung perwira Tang yang amat terkenal itu?" Lalu dia memberi petunjuk di mana adanya bekas rumah perwira Tang.

Hay Hay mengucapkan terima kasih, lantas meninggalkan tukang kebun itu yang segera melanjutkan pekerjaannya. Dia tidak tahu betapa sesudah dia pergi, wajah ketololan dari tukang kebun itu langsung berubah. Matanya berkilat dan mulutnya terhias senyum, tanda seseorang yang merasa puas akan pelaksanaan tugasnya.

Melihat betapa daun pintu kamar Mayang masih tertutup, Hay Hay tak mau mengganggu adiknya. Biarlah Mayang tidur sampai sepuasnya. Pula, yang akan diselidikinya hanyalah bekas tempat tinggal seorang perwira Tang yang agaknya lain dari pada yang mengaku sebagai putera Ang-hong-cu.

Dia hendak melakukah penyelidikan ini sebagai iseng-iseng saja, sebagai jalan-jalan pagi selagi hawa udara masih sejuk dan bersih. Karena itu dia pun segera menggapai seorang pelayan rumah penginapan yang sedang mengepel lantai dengan kain basah, pekerjaan yang dilakukan setiap pagi sebelum para tamu bangun.

"Toako," kata Hay Hay kepada pelayan yang berusia sekitar tiga puluh tahun itu, "maukah engkau menyampaikan pesan untuk adikku perempuan di kamar itu kalau dia terbangun nanti dan mencari aku?"

Pelayan itu mengangguk-angguk. "Tentu saja, Kongcu. Sudah menjadi tugas kami untuk melayani setiap orang tamu.”

"Nah, kalau dia terbangun nanti, tolong katakan bahwa aku pergi berjalan-jalan mencari hawa pagi yang segar, dan agar dia menanti kembaliku untuk makan pagi bersama."

Pelayan itu mengangguk. "Baik, Kongcu. Akan saya sampaikan pesan Kongcu ini kepada Siocia."

Hay Hay mengeluarkan dua keping uang tembaga dan memberikannya kepada si pelayan yang menerimanya dengan ucapan terima kasih. Hay Hay lalu pergi meninggalkan rumah penginapan itu dan mengambil jalan ke arah bekas tempat tinggal Tang ciangkun melalui jalan raya yang masih sepi. Dia pun tidak tahu betapa pelayan yang tadi mencuci lantai itu berubah sikapnya, bahkan kemudian menyelinap masuk dan berbisik-bisik dengan tukang kebun tadi bersama beberapa orang pelayan lain.

Tidak sukar bagi Hay Hay untuk menemukan gedung yang megah itu karena dia sudah mendapat gambaran dari tukang kebun di rumah penginapan. Seperti juga rumah-rumah lain, pada pagi hari itu gedung ini masih terlihat sunyi. Di waktu sepagi itu hanya burung-burung dan orang-orang miskin saja yang sudah keluar dari sarang atau rumah mereka untuk mencari nafkah hidup sehari-hari. Orang-orang kaya, bangsawan, dan mereka yang malas baru akan bangun setelah matahari naik tinggi.

Orang-orang seperti ini tidak pernah dapat rnenikmati indahnya pagi hari, sejuknya hawa pagi, segarnya mandi pagi yang kemudian akan menyegarkan pula badan sepanjang hari. Orang yang terbiasa bangun pagi-pagi sekali, mandi air dingin, memulai kehidupan di hari itu dengan kegembiraan dan semangat yang timbul karena guyuran air dingin di pagi hari, badan dan batinnya akan selalu terasa segar selama sehari itu. Sebaliknya, orang yang terlalu banyak tidur, yang bangun terlampau siang, tidak akan kebagian suasana gembira dan penuh semangat di pagi hari itu, karena begitu bangun langsung diserang panasnya sinar matahari yang sudah naik tinggi sehingga menimbulkan kelesuan dan kemalasan di sepanjang hari itu. Karena itu bukan hanya omong kosong jika para budiman jaman dulu mengatakan bahwa siapa tidur tidak terlalu malam dan bangun pagi-pagi, akan banyak rejeki dan tubuh sehat hati bahagia! Setidaknya, yang jelas badan akan menjadi segar dan sehat!

Gedung bekas tempat tinggal perwira Tang masih kelihatan sepi, bahkan lampu gantung yang dipasang di luar rumah masih belum dipadamkan. Namun sepagi itu sudah nampak seorang berpakaian pelayan atau tukang kebun menyirami bunga-bunga di pekarangan depan, taman bunga yang terawat rapi. Ketika tukang kebun itu melihat seorang pemuda berdiri di pintu pagar dan memandang-mandang ke dalam, dia segera menghampiri dan menegur.

"Sahabat, siapakah engkau dan ada keperluan apa maka berdiri di sini mengamati rumah ini?" Sikapnya tidak bermusuhan, akan tetapi mengandung kecurigaan. Kebetulan sekali, pikir Hay Hay. Kesempatan baik baginya untuk mencari keterangan.

"Maaf, lopek," katanya sambil memandang kakek yang usianya tentu lebih dari lima puluh tahun tapi tubuhnya masih kokoh kuat, agaknya berkat terbiasa kerja keras. "Aku hanya mengagumi gedung yang megah ini. Bukankah ini rumah Tang-ciangkun?"

"Orang muda, jangan ngawur! Ini adalah rumah perwira Su, bukan perwira Tang!"

"Akan tetapi bukankah dahulu perwira Tang tinggal di rumah ini?" bantah Hay Hay dengan sikap seolah dia sudah mengenal benar perwira Tang.

"Semua orang juga sudah tahu, akan tetapi sudah setahun lebih rumah ini menjadi tempat tinggal Su-ciangkun."

"Dan ke manakah pindahnya Tang-ciangkun?"

"Mana aku tahu? Kabarnya dia mempunyai rumah peristirahatan di luar kota. Di luar kota raja sebelah utara ada bukit dan kabarnya di sanalah tempat tinggal barunya. Akan tetapi baru saja Tang-ciangkun lewat di jalan ini. Dia menunggang kuda di pagi hari, mungkin dia hendak pulang ke rumah peristirahatannya.”

"Ahh, benarkah?" Hay Hay bertanya penuh semangat.

"Baru saja dia lewat, kalau engkau cepat-cepat melakukan pengejaran, mungkin masih dapat melihatnya.”

"Terima kasih, lopek!" kata Hay Hay dan begitu dia berkelebat, dia pun lenyap dari depan kakek itu.

Tukang kebun itu tertegun, matanya terbelalak dan mulutnya ternganga. Lalu dia menarik napas panjang.

"Aihhh…., pantas saja Bengcu berpesan agar aku berhati-hati kalau bertemu pemuda itu. Kiranya dia memiliki kesaktian seperti setan, dapat menghilang!" Dan dia pun bergidik.

Hay Hay memang mengerahkan tenaga dan kepandaiannya untuk melakukan pengejaran. Apa bila dia dapat bertemu muka dengan perwira Tang ini, mungkin saja dia akan dapat mendengar tentang perwira Tang yang lain, yang kabarnya membual sebagai putera Ang-hong-cu itu.

Karena hari masih pagi dan sepi, maka dia dapat dengan leluasa berlari cepat menuju ke pintu gerbang utara, tidak peduli akan keheranan tukang kebun yang melihat dia seperti menghilang.

Untung bahwa sejak pagi pintu gerbang utara sudah dibuka karena ada saja orang-orang yang keluar dari pintu gerbang, yaitu orang-orang yang mempunyai keperluan keluar kota untuk berdagang atau untuk urusan lain. Ketika dia keluar dari pintu gerbang, dia melihat debu mengepul di depan, dan tahulah dia bahwa di depan sana ada orang menunggang kuda yang dibalapkan. Melihat ada dua orang petani memanggul cangkul sedang berjalan melenggang seenaknya dari depan, dia pun cepat bertanya kepada mereka.

"Sobat, tahukah kalian siapa penunggang kuda itu tadi?" tanya Hay Hay sambil menuding ke arah penunggang kuda yang tentu telah lebih dahulu berpapasan dengan mereka.

"Ahh, dia? Dia adalah Tang-ciangkun...," kata seorang di antara mereka.

Mendengar ini, dengan girang Hay Hay melompat kemudian berlari cepat seperti terbang meninggalkan dua orang petani itu sesudah mengucapkan terima kasih. Dua orang petani itu berdiri bengong memandang sebab selama hidup mereka belum pernah melihat orang berlari secepat itu. Hay Hay tidak tahu bahwa dua orang petani itu saling pandang sambil tersenyum, dan seorang di antara mereka menjulurkan lidah.

“Wuiii... lihai dan berbahaya sekali orang itu!"

Hay Hay mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengejar penunggang kuda di depan. Karena debu mengepul tebal dia tidak dapat melihat kuda berikut penunggangnya, akan tetapi debu itu yang menunjukkan ke mana penungang kuda itu pergi. Ketika penunggang kuda itu mendaki bukit dan sampai di lereng yang berhutan, debu pun menghilang karena jalan yang dilalui kini berumput.

Hay Hay terpaksa menghentikan larinya ketika dia tiba di luar hutan. Dia kehilangan jejak. Memang dapat saja dia melacak jejak kaki, akan tetapi hal itu akan memakan waktu lama dan tentu orang yang dikejarnya itu sudah pergi jauh. Dia tidak dapat terlalu lama pergi, karena Mayang akan menanti dan akan merasa khawatir.

Bagaimana pun juga dia sudah tahu ke arah mana Tang-ciangkun itu pergi. Kini dia akan kembali ke rumah penginapan lebih dulu, lalu mengajak Mayang untuk kembali ke tempat ini, mencari sampai berhasil menemukan bekas perwira Tang untuk menanyakan apakah bekas perwira itu mengenal Perwira Tang muda yang mengaku putera Ang-hong-cu. Dia lalu menuruni lereng bukit itu dan kembali ke kota raja.

Matahari sudah naik tinggi ketika Hay Hay tiba kembali di rumah penginapan Hok Likoan. Dia segera menghampiri kamar Mayang dan merasa heran ketika melihat pintu kamar itu masih tertutup. Begitu lelahkah adiknya itu sehingga sesiang itu belum juga bangun? Dia mengetuk daun pintu kamar itu sambil memanggil-manggil, akan tetapi tidak ada jawaban. Seorang pelayan losmen itu yang malam tadi menerima mereka, menghampirinya.

"Percuma diketuk, Kongcu. Siocia tidak berada di dalam kamar."

“Tidak berada di dalam kamarnya? Lalu ia ke mana?" tanya Hay Hay sambil memandang ke kanan kiri untuk melihat kalau-kalau adiknya berada di dekat situ.

“Entah ke mana, Kongcu. Tadi ia duduk di depan kamar, lalu datang seorang tamu, bicara dengan siocia kemudian mereka pergi tergesa-gesa meninggalkan rumah penginapan.”

“Apakah dia tidak meninggalkan pesan?"

“Siocia sendiri tidak meninggalkan pesan, akan tetapi baru saja sebelum Kongcu datang, tamu yang tadi mengajak siocia pergi, datang lagi dan menyerahkan sesampul surat agar saya berikan kepada Kongcu.”

“Apa? Cepat serahkan suratnya itu kepadaku!” Hay Hay berseru dan hatinya mulai terasa tidak nyaman.

Setelah pelayan itu menyerahkan sepucuk surat dalam sampul, Hay Hay cepat membuka sampulnya kemudian dibacanya kertas yang mengandung tulisan yang rapi dan indah itu. Singkat saja bunyinya, singkat namun membuat jantungnya berdebar penuh ketegangan.

Tang Hay,

Kalau ingin bicara tentang nona Mayang, silakan datang sendiri ke tempat kami.

Ho-han Pangcu.

Celaka, demikian teriak Hay Hay di dalam hatinya. Kini semuanya jelas baginya. Dia telah terjebak! Dia seperti seekor harimau yang dipancing keluar meninggalkan sarang. Orang sengaja memancingnya supaya menjauhi rumah penginapan itu dan sementara dia pergi jauh, Mayang juga keluar dan tentu sudah ditangkap. Betapa pun lihainya gadis itu, tentu dia dapat ditawan kalau dikeroyok, apa lagi kalau lawan-lawannya berkepandaian tinggi.

Dia lalu membayangkan kembali apa yang telah dialaminya sejak pagi tadi. Tukang kebun rumah penginapan itu! Dia yang pertama melempar umpan untuk memancingnya, dengan mengatakan di mana rumah Tang-ciangkun. Kemudian pelayan di gedung tempat tinggal Tang-ciangkun dulu memancingnya dengan memberi tahukan bahwa Tang-ciangkun baru saja lewat berkuda. Dan dua orang petani yang ditanyainya mengenai penunggang kuda yang lewat. Mereka semua memancing sehingga dia semakin jauh meninggalkan rumah penginapan, meninggalkan Mayang seorang diri.

Dia memandang keluar dan melihat seorang tukang kebun sedang mencabuti rumput di taman pekarangan. Orangnya masih muda, jelas bukan tukang yang dibantunya pagi tadi dan ditanyainya tentang perwira Tang.

"Diakah tukang kebun di rumah penginapan ini?" dia bertanya kepada pelayan itu sambil menunjuk ke arah orang yang bekerja di pekarangan. Pelayan itu memandang keluar, lalu mengangguk.

"Benar, Kongcu. Dia A Kiat tukang kebun kami."

"Selain dia apakah ada tukang kebun lain? Yang lebih tua?"

Pelayan itu menggelengkan kepalanya. "Tidak ada lagi, Kongcu."

Hemm, jelas bahwa orang tua pagi tadi adalah tukang kebun palsu, atau diselundupkan dan menyamar sebagai tukang kebun. Tentu dia adalah anggota Ho-han-pang.

"Sobat, tolong beritahukan, di mana adanya pusat perkumpulan Ho-han-pang?"

Pelayan itu tidak nampak heran. Nama Ho-han-pang sudah terkenal sekali di seluruh kota raja dan banyak sudah tamu-tamu yang menanyakan tempat itu. Banyak tokoh kang-ouw berkunjung ke sana.

“Kongcu keluar kota raja melalui pintu gerbang utara. Di luar kota terdapat sebuah bukit dan di sanalah pusat Ho-han-pang…”

Belum habis dia bicara, Hay Hay sudah berkelebat lenyap dari situ. Hay Hay sudah tahu di mana dia harus mencari Mayang. Kiranya penunggang kuda tadi adalah orang Ho-han-pang pula, dan tentu di sana pula sarang perkumpulan Ho-han-pang itu.

Akan tetapi dia masih menduga-duga dengan hati mengandung keheranan. Mengapa Ho-han-pang memusuhinya? Dan bagaimana pula mereka itu dapat mengenalnya, mengenal namanya?

********************

Apa yang sudah terjadi dengan Mayang? Pagi hari itu dia terbangun dan melihat betapa sudah ada sinar matahari pagi membayang pada tirai dan kaca jendela, dia lalu pergi ke kamar sebelah, kamar Hay Hay. Akan tetapi ternyata kakaknya tidak berada di kamarnya. Selagi dia termangu dan menduga-duga ke mana kakaknya pergi, tiba-tiba pelayan rumah penginapan datang menghampiri.

"Selamat pagi, Nona."

"Selamat pagi. Ehh, Paman, di mana kakakku?"

"Pagi-pagi sekali dia telah pergi, Nona. Dan ada seorang tamu yang sejak tadi menunggu Nona keluar dari kamar. Dia bilang ada urusan penting sekali."

"Tamu? Aku tidak mempunyai kenalan di sini...” Mayang berkata ragu.

"Entahlah, Nona. Tetapi dia bilang ada urusan yang penting sekali dan ada hubungannya dengan kakakmu..."

"Ahhh... ! Suruh dia masuk!" kata Mayang begitu mendengar bahwa tamu itu datang untuk bicara tentang Hay Hay.

Tamu itu seorang laki-laki yang usianya sudah lima puluh tahunan dan sikapnya lembut, wajahnya pun bukan wajah orang jahat dan agaknya boleh dipercaya. Begitu bertemu dia langsung mengangkat kedua tangannya dan berkata,

"Nona, saya datang membawa pesan dari kakakmu, akantetapi dia hanya menyuruh saya datang menemui Nona di sini dan mengatakan bahwa kakakmu sudah dapat menemukan jejak dan Nona diminta menyusulnya ke sana sekarang juga."

Mayang mengerutkan alisnya. "Hemm, bagaimana aku dapat percaya tentang kebenaran omonganmu? Kita tidak saling mengenal dan...”

"Nona, hal itu sudah saya katakan kepada Tang-taihiap kakakmu, akan tetapi dia hanya mengatakan bahwa dia bersama Nona sedang melakukan penyelidikan tentang seorang perwira she Tang di kota raja dan bahwa kini dia sudah mendapatkan jejaknya maka dia minta agar Nona secepatnya menyusul ke sana."

"Di mana dia?”

"Saya akan menjadi penunjuk jalan, nona. Di sebelah timur kota raja dan..."

"Baiklah, mari kita pergi! Paman pelayan, harap keluarkan dua ekor kuda kami. Lebih baik kita menunggang kuda agar lebih cepat," tambahnya kepada laki-laki setengah tua itu.

"Sebaiknya begitu, Nona. Kedua kakiku sudah lelah sekali setelah melakukan perjalanan cepat ke sini tadi."

Mereka lalu menunggang dua ekor kuda itu dan melarikan kuda ke luar kota raja melalui pintu gerbang sebelah timur. Begitu ke luar dari pintu gerbang, laki-laki itu mempercepat larinya kuda. Mayang mengikuti dari belakang dan ketika mereka tiba di kaki bukit yang sunyi, tiba-tiba pria itu menghentikan kudanya.

Mayang hendak bertanya, namun dari balik pohon-pohon dan semak-semak bermunculan belasan orang yang dipimpin oleh dua orang pemuda yang tampan dan gagah.

“Hemm, apa artinya ini?" Mayang bertanya dengan alis berkerut.

"Turunlah, Nona. Kita telah sampai dan Nona akan dapat bertemu dengan Tang Taihiap." kata pembawa berita itu.

Dia sudah meloncat turun, bahkan membantu Mayang memegangi kendali kuda. Gadis itu pun melompat turun dan dengan waspada pandangan matanya menyapu belasan orang yang nampaknya bersikap gagah, bukan seperti gerombolan penjahat itu.

Pembawa berita itu menuntun dua ekor kuda ke bawah sebatang pohon, ada pun belasan orang itu kini mengepung Mayang. Barulah Mayang merasa curiga. Melihat betapa kedua orang pemuda gagah itu berdiri di depan dan bersikap sebagai pimpinan, Mayang lantas menghadapi mereka dan mengamati dengan sinar mata tajam penuh selidik.

Mereka berdua lebih pantas menjadi pendekar dari pada penjahat. Yang seorang masih muda, paling banyak baru berusia dua puluh tiga tahun. Wajahnya tampan dengan tubuh sedang yang kokoh, sikapnya halus dan senyumnya sopan. Akan tetapi dalam pandang matanya terdapat sesuatu yang membuat Mayang merasa marah dan bulu tengkuknya meremang. Pandang mata pemuda tampan itu seakan-akan menggerayangi dan meraba-raba seluruh bagian tubuhnya. Lelaki yang ke dua lebih tua, usianya tiga puluh tahunan, tubuhnya tinggi besar dan gagah perkasa, kulit mukanya putih dan matanya mencorong, wajahnya juga tampan.

Yang membuat Mayang merasa semakin tidak enak adalah ketika dia melihat pembawa berita tadi, sesudah menambatkan dua ekor kuda di batang pohon, kini berdiri di belakang dua orang pemuda itu dan jelaslah bahwa pembawa berita itu ternyata merupakan anak buah mereka pula. Dia mulai merasa terjebak, seperti seekor kelinci yang dikepung oleh segerombolan serigala berkedok domba.

"Siapakah kalian? Mengapa mengepungku? Di mana adanya kakakku?” tanyanya dengan sikap siap siaga.

Ketika berangkat tadi dia telah membawa buntalan pakaiannya dan juga senjatanya yang sangat dia andalkan, yaitu sebatang cambuk penggembala. Sedikit pun dia tidak merasa takut dikepung belasan orang lelaki itu, akan tetapi dia khawatir bukan main memikirkan Hay Hay.

Dua orang pemuda yang memimpin serombongan orang itu bukan lain adalah Cun Sek dan Ki Liong. Inilah hasil siasat yang dilakukan Han Lojin, yang tadi malam dirundingkan dengan para pembantu utamanya itu.

Han Lojin menyebar anak buahnya menyusup ke rumah penginapan, menyamar sebagai tukang kebun. Tentu hal ini mudah saja dilakukan sebab boleh dikata semua perusahaan di kota raja pasti akan memenuhi permintaan Ho-han-pang yang sudah membuat nama baik dengan menciptakan suasana tenang dan tenteram di kota raja.

Tepat seperti yang diduga Hay Hay, setelah dia kehilangan adiknya dan menyadari bahwa si tukang kebun di rumah penginapan, pelayan di bekas rumah Tang Ciangkun, juga dua orang petani itu adalah orang-orang dari Ho-han-pang yang menyamar dan yang bertugas untuk melempar umpan memancing Hay Hay keluar dari kota raja agar menjauhi Mayang, Han Lojin sendiri lantas menunggang kuda dan membiarkan dirinya dikejar oleh Hay Hay. Maksudnya tentu saja hanya untuk memancing Hay Hay agar jauh meninggalkan Mayang seorang diri.

Setelah sampai di bukit di mana dia memimpin Ho-han-pang, sebuah bukit yang kini telah dilengkapi dengan berbagai jebakan dan perangkap berbahaya, dia menghilang ke dalam hutan. Menurut rencananya, kalau Hay Hay mengejar terus, pemuda itu akan menghadapi banyak jebakan berbahaya. Andai kata pemuda lihai itu sanggup melewati semua jebakan dengan selamat, maka dia akan berhadapan dengan Han Lojin, Ji Sun Bi beserta puluhan orang pembantunya dan akan dikeroyok!

Sementara itu Sim Ki Liong dan Tang Cun Sek bertugas untuk pergi menangkap Mayang! Untuk ini Sim Ki Liong menyuruh seorang anak buah untuk mengundang Mayang keluar kota raja dengan alasan dipanggil Tang Hay. Dan gadis yang masih kurang pengalaman itu masuk perangkap dengan amat mudahnya. Kini Mayang sudah berhadapan dengan Ki Liong dan Cun Sek, dalam keadaan terkepung.

Untuk beberapa lamanya pertanyaan Mayang itu tidak ada yang menjawab. Sim Ki Liong seperti terpesona, dan Cun Sek juga kagum. Ki Liong seketika jatuh cinta kepada gadis peranakan Tibet yang memiliki kecantikan yang khas itu. Akan tetapi tentu saja Ki Liong tidak berani menyimpang dari pada perintah yang sudah digariskan oleh Bengcu.

Dia dan kawan-kawannya hanya mendapat tugas menangkap gadis peranakan Tibet itu, tapi tidak boleh mengganggunya sama sekali. Menangkap dara peranakan Tibet itu hanya merupakan siasat Han Lojin untuk menundukkan Tang Hay dan memaksa puteranya agar menakluk dan membantunya! Maka gangguan terhadap Mayang tentu saja bisa merusak siasat yang sudah diatur sebaiknya demi keuntungan dirinya.

"Haiiii! Apakah kalian ini tuli atau gagu semuanya? Engkau yang datang membawa berita tentang kakakku. Di mana sekarang kakakku berada?" Mayang membentak dengan suara mengandung kemarahan dan sekarang dia sudah mengeluarkan sebatang pecut panjang, seperti yang biasa dipergunakan oleh para penggembala ternak.

Ki Liong saling pandang dengan Cun Sek kemudian keduanya tersenyum, merasa makin kagum karena sebagai orang-orang gagah, tentu saja mereka suka sekali melihat sikap gadis cantik yang demikian pemberani dan tabah. Sim Ki Liong yang memimpin pasukan kecil yang ditugaskan rnenangkap Mayang, cepat melangkah maju dan sambil tersenyum dia berkata,

"Nona manis, harap jangan marah dulu. Sepanjang yang kuketahui, yang namanya Tang Hay itu tidak mempunyai seorang adik perempuan. Bagaimana engkau tiba-tiba mengaku dia sebagai kakakmu? Sebenarnya kakak ataukah pacar?"

Sepasang mata yang agak sipit jeli itu sekarang mencorong karena hati Mayang menjadi panas akibat marah.

"Apakah dia itu kakakku, pacarku atau apaku pun, apa hubungannya dengan kamu orang bermulut lancang? Hayo lekas katakan di mana dia atau aku akan menghajar orang yang datang membawa berita palsu!"

Karena semua orang itu adalah orang-orang yang memiliki kepandaian silat dan tidak ada seorang pun dari mereka yang pernah mengenal Mayang, juga tidak pernah melihat gadis ini mengeluarkan kepandaian, maka mereka merasa kagum akan tetapi juga geli melihat seorang gadis yang baru berusia delapan belas tahun mengeluarkan ancaman seperti itu dan agaknya sama sekali tidak merasa gentar menghadapi pengepungan belasan orang gagah. Mereka merasa seperti melihat seorang anak kecil yang manja.

Memang Sim Ki Liong pernah melihat beberapa orang dara pendekar seperti Siangkoan Bi Lian, Cia Kui Hong, Pek Eng, Cia Ling, Kok Hui Lian dan beberapa orang lagi. Namun gadis-gadis seperti mereka itu tidak banyak yang memiliki ilmu yang amat tinggi. Apa lagi gadis di depannya ini seorang peranakan Tibet, dan bawaannya hanya sebatang cambuk penggembala! Maka dia pun tersenyum mengejek.

"Nona, pembawa berita itu adalah seorang anak buah Ho-han-pang yang gagah perkasa. Jangan kau samakan seperti seekor kambing yang bisa kau hajar dengan cambukmu itu."

Semua orang tertawa mendengar ini, juga lelaki setengah tua yang tadi membawa berita kini tersenyum mengejek. Dia pun tentu saja tidak takut kepada gadis Tibet itu, apa lagi di situ terdapat banyak temannya dan dua orang pimpinan Ho-han-pang yang amat lihai.

“Nona kecil, kalau aku tidak mengatakan di mana adanya kakakmu, habis engkau dapat berbuat apa? Ingin aku melihat bagaimana engkau akan menghajarku dengan cambuk itu, ha-ha-ha…!" Dan semua orang pun tertawa geli.

Sepasang mata Mayang bagaikan mengeluarkan kilat saking marahnya, namun sikapnya tetap tenang ketika dia melangkah maju.

"Baik, kalian lihat bagaimana aku menghajarnya!" Baru saja ucapannya itu habis, segera nampak sinar berkelebat dibarengi suara ledakan tiga kali.

"Tarr! Tarrr! Tarrrr!"

Ada sinar rnenyambar-nyambar ke arah pembawa berita tadi yang menjadi terkejut dan mencoba untuk mengelak. Akan tetapi sia-sia saja. Sinar yang menyambar itu terlampau cepat baginya, dan setelah tiga kali mukanya kena tersambar, dia terhuyung ke belakang, lantas menutupi muka dengan kedua tangan dan merintih-rintih. Sementara itu Mayang sudah menarik kembali cambuknya dan kini berdiri sambil tersenyum mengejek, sikapnya tenang sekali.

Sim Ki Liong melompat ke dekat pembawa berita yang menutupi mukanya dengan kedua tangan sambil mengaduh-aduh itu. Dia menangkap dan menarik dua tangan itu sehingga mukanya kini nampak dan semua orang mengeluarkan seruan tertahan.

Ternyata tiga kali ledakan pecut itu telah mengakibatkan wajah itu menderita hebat sekali. Lecutan pertama menyayat kulit muka hingga membuat guratan melintang, lecutan ke dua membuat guratan membujur, dua guratan silang yang mengeluarkan darah, dan lecutan ke tiga membuat bukit hidung itu hancur sehingga rata dengan pipi!

Kini berubahlah pandang mata semua orang terhadap gadis Tibet itu. Sim Ki Liong sendiri lalu melangkah maju menghadapi Mayang dan menatap wajah gadis yang sikapnya amat tenang itu dengan sinar mata kagum sekali, akan tetapi juga penasaran.

“Hemm, kiranya engkau mempunyai sedikit ilmu memainkan cambuk, Nona..."

"Tidak perlu banyak cakap lagi. Katakan di mana kakakku, jika tidak maka terpaksa aku akan menghajar kalian semua seperti sekumpulan kerbau tolol!" Mayang cepat memotong ucapan Sim Ki Liong.

Merah kedua telinga pemuda ini karena dia dimaki di depan banyak anak buah Ho-han-pang! Kesenangannya terhadap wanita cantik tidaklah sebesar keangkuhan dirinya, maka makian seorang gadis secantik Mayang pun membuat perutnya terasa panas sekali. Akan tetapi dia masih merasa terlampau tinggi untuk turun tangan sendiri menangkap seorang gadis remaja.

"Tangkap bocah ini akan tetapi jangan sampai melukainya. Kepung dan tangkap, lantas belenggu kaki tangannya!" bentak Sim Ki Liong memberi aba-aba.

Belasan orang anak buah Ho-han-pang itu seperti mendapat perintah yang benar-benar menyenangkan. Mereka itu dengan gembira bergerak maju mengepung ketat dan hendak berlomba agar dapat lebih dulu meringkus tubuh gadis yang denok manis itu.

Melihat betapa belasan orang yang mengepungnya itu sudah mulai bergerak dengan dua tangan dijulurkan hendak mencengkeram dan menangkapnya, dengan cepat Mayang lalu menggerakkan cambuknya. Ujung cambuk itu berputar-putar sehingga ujung itu bagaikan berubah menjadi belasan banyaknya, sambil terdengar suara meledak-ledak dan mencicit saking cepatnya cambuk itu bergerak.

Ujung cambuk itu mematuk, menyengat, melecut dan para pengeroyok itu jatuh bangun, mengaduh-aduh karena lecutan cambuk itu sungguh sangat nyeri. Di bagian tubuh mana saja ujung cambuk mematuk, tentu kulit menjadi pecah berdarah hingga terasa panas dan perih. Karena mereka tidak dibenarkan menggunakan senjata, tidak boleh melukai, hanya maju dengan tangan kosong, maka kini mereka menjadi gentar dan mereka pun mundur menjauhkan diri dari jangkauan cambuk yang panjang.

Marahlah Sim Ki Liong. Dia memberi tanda dengan mata kepada Cun Sek dan dua orang pemuda ini lalu meloncat ke depan dan menggerakkan tangan hendak menangkap lengan Mayang.

“Wuuuttt…!"

Mayang terkejut ketika merasa betapa ada angin pukulan yang sangat kuat, dan tangan pemuda tinggi besar itu dari samping menyambar ke arah pundaknya. Karena tangan itu mengandung tenaga yang sangat dahsyat, Mayang cepat menangkis dengan tangan kiri sambil menggerakkan cambuknya menghantam dari atas ke arah kepala lawan.

"Dukkk…! Tarrr...!"

Mayang mengeluarkan teriakan kecil ketika merasa tubuhnya tergetar dan terhuyung oleh pertemuan lengannya yang menangkis. Dia tidak menyadari bahwa pemuda tinggi besar itu adalah Tang Cun Sek, murid dari Cing-ling-pai yang sudah menguasai tenaga Thian-te Sin-ciang (Tenaga Sakti Langit Bumi).

Akan tetapi gadis ini lihai, dan meski pun pertemuan tenaga itu membuat dia terhuyung ke belakang, tetapi tetap saja cambuknya menyambar dan melecut ke arah kepala Tang Cun Sek yang tadi menyerangnya. Cun Sek terkejut, cepat miringkan kepalanya, namun ujung cambuk itu masih sempat mencium dan mencabik ujung pita rambutnya!

Dengan marah Cun Sek lalu menerjang dan kini dia menyerang dengan pukulan dari ilmu silat Thai-kek Sin-kun. Kembali Mayang terkejut, akan tetapi pukulan yang datangnya dari kanan kiri dengan dua tangan itu bisa dihindarkannya dengan meloncat jauh ke belakang, lalu cambuknya kembali menyambar dan kini ke arah leher Cun Sek. Cun Sek yang telah marah itu mengeluarkan kepandaiannya. Dia mengerahkan tenaga sinkang-nya ke lengan kiri, kemudian menangkis sinar cambuk yang menyambar.

"Prattt!"

Ujung cambuk mengenai lengan lantas melibat. Cun Sek sengaja membiarkan lengannya dilibat, lalu tangan kanannya menangkap cambuk itu dan menariknya. Mayang berusaha mempertahankan dan selagi keduanya mengerahkan tenaga saling tarik, saat itu segera dipergunakan oleh Sim Ki Liong untuk menyerang. Tangannya menotok ke arah tengkuk Mayang.

Gadis itu berusaha untuk mengelak, namun karena dia sedang mengadu tenaga dengan Cun Sek, gerakannya lambat hingga jari tangan yang kuat dan ampuh dari Ki Liong masih sempat mengenai jalan darah di pundaknya. Mayang mengeluh dan dia pun terpelanting roboh dengan tubuh lemas. Sim Ki Liong cepat-cepat meringkusnya dan dalam keadaan pingsan, Mayang dibawa pergi oleh rombongan orang Ho-han-pang itu.

Ketika Mayang siuman dan membuka matanya, dia segera teringat akan apa yang sudah menimpa dirinya. Cepat dia hendak bangkit, namun hanya untuk mendapatkan kenyataan bahwa kaki tangannya terbelenggu dan dia tak mampu bangkit. Ia menenangkan hatinya, lalu membuka mata untuk menyelidiki keadaannya.

Ia rebah telentang di atas sebuah pembaringan di dalam kamar yang luasnya kurang lebih lima kali tujuh meter. Sebuah kamar yang cukup mewah. Dinding serta langit-langit kamar dicat putih bersih, dimeriahkan oleh gantungan kain sutera beraneka warna. Pembaringan itu sendiri berkasur tebal, dengan tilam sutera merah dan kelambu kehijauan. Ada sebuah meja kecil bundar dengan empat buah bangku terukir indah berdiri di dekat pembaringan. Dia seorang diri saja di kamar itu.

Dia lalu mengingat-ingat. Dia dihadang serombongan orang Ho-han-pang yang amat lihai, terutama dua orang pemuda tampan yang memimpin rombongan itu. Dia dikeroyok dan kalah. Agaknya dia pingsan dan ditawan, lantas dibawa ke tempat ini. Dibelenggu di atas pembarigan!

Mayang mengerahkan tenaganya, mencoba melepaskan belenggu kaki tangannya. Akan tetapi tali pengikat kaki tangannya yang terbuat dari kulit itu ternyata kuat bukan kepalang. Pergelangan kaki dan tangannya sampai terasa pedih dan panas ketika ia mencoba untuk membebaskan diri. Akan tetapi dia berusaha terus.

Dia harus bisa membebaskan dirinya. Dia maklum bahaya apa yang mengancam dirinya. Kalau mereka itu memusuhinya dan ingin membunuhnya, tentu dia tidak akan ditangkap seperti ini. Kulit pergelangan tangan dan kakinya mulai lecet-lecet. Suara dibukanya pintu kamar membuat dia menghentikan usahanya dan dia pun menoleh ke arah pintu dengan muka berubah karena hatinya tegang dan khawatir.

Mayang melebarkan matanya yang sipit supaya dapat melihat dengan jelas orang yang memasuki kamarnya. Bukan seperti orang jahat, pikirnya. Juga bukan seorang di antara dua pemuda tampan yang telah menangkapnya.

Dia adalah seorang lelaki yang usianya lima puluh tahun lebih, dengan kumis dan jenggot yang terpelihara rapi sehingga wajahnya kelihatan ganteng dan berwibawa, juga jantan. Pakaiannya rapi dengan rompi dari sutera mahal, sepatunya hitam mengkilap, rambutnya juga disisir rapi dan meski pun sudah bercampur uban, namun menambah kejantanannya. Sepasang matanya bersinar-sinar tajam, mulutnya terhias senyum. Wajah seorang lelaki yang jantan dan matang, wajah lelaki yang menarik hingga menimbulkan rasa suka dan percaya. Dan ketika dia bicara, suaranya juga lembut dan dalam, suara yang berwibawa.

"Nona, percuma saja engkau mencoba untuk melepaskan diri. Tali belenggu itu terlampau kuat sehingga hanya akan membuat kulit lengan dan kakimu lecet-lecet."

Mayang memandang kepada laki-laki itu dengan kedua alis berkerut. "Siapakah engkau? Dan kenapa aku ditawan?"

Laki-laki itu tersenyum, kemudian menghampiri dan duduk di tepi pembaringan sehingga tubuhnya menyentuh tubuh Mayang. Gadis itu mencium bau harum cendana keluar dari orang itu!

"Nona, engkau manis sekali. Sebenarnya kami tidak mempunyai permusuhan denganmu. Aku adalah Ho-han Pangcu, juga Bengcu (pemimpin) dari dunia kang-ouw. Engkau kami tawan untuk mengundang kakakmu ke sini..."

"Hay-koko?"

"Benar, Tang Hay. Nasibmu akan ditentukan berdasarkan sikapnya. Bila dia mau berbaik dengan kami, tentu engkau akan segera dibebaskan, bahkan engkau juga dapat menjadi anggota kehormatan kami. Tapi, Nona, bagaimana engkau dapat menjadi adik Hay Hay? Setahuku dia tidak mempunyai seorang adik perempuan!"

Mayang mengerutkan kedua alisnya. Ternyata dia ditangkap untuk memancing Hay Hay! Kakaknya berada dalam bahaya. Dia tidak tahu siapa orang ini, akan tetapi tentu sangat lihai, maka tidak perlu dia menceritakan keadaan dirinya dan apa hubungannya dengan Hay Hay. Dia tidak boleh bersikap lancang, apa lagi kini kakaknya terancam bahaya.

"Kalau engkau tidak mau membebaskan aku, aku tidak sudi bicara lagi denganmu!” kata Mayang dan dia pun membuang muka.

Han Lojin tersenyum. Senang dia melihat gadis yang memiliki kecantikan khas ini. Selain wajahnya cantik manis, juga bentuk tubuhnya padat dan indah menggairahkan. Ditambah lagi sikap yang begitu tabah, pemberani dan penuh semangat! Seorang wanita pilihan dan jelas wanita seperti ini membangkitkan gairahnya.

"Hemm, tidak ada untungnya bagimu bersikap angkuh, Nona. Ketahuilah bahwa Ho-han-pang adalah perkumpulan para pahlawan, dan aku bukan orang jahat. Kalau kakakmu itu suka membantu perjuangan kami dalam mengamankan negara, maka dia akan menjadi pembantu utamaku. Engkau juga akan kuangkat menjadi kepala pelayan dan pengawal pribadiku."

"Aku tidak sudi! Dan Hay-ko tentu tak sudi pula menjadi pembantumu. Pergilah dan tidak usah merayu! Aku…. huhh, muak aku melihat mukamu!" Mayang sengaja bersikap kasar dan menghina agar lelaki itu marah dan kehilangan gairah yang membayang di matanya, dan meninggalkan dia sendiri.

Akan tetapi Mayang tidak tahu dengan laki-laki macam apa dia berhadapan. Makin galak dia, semakin berkobar pula gairah birahi Han Lojin. Pria setengah tua ini pada hakekatnya sangat membenci wanita yang disebabkan oleh dendam sakit hati. Dia tidak pernah dapat mencinta wanita. Yang ada hanya nafsu birahi dan nafsu menyiksa, mempermainkan.