Jodoh Si Mata Keranjang Jilid 21

DALAM perjalanan kernbali ke kota raja itulah Kui Hong memberi penjelasan kepada Cang Hui dan Cin Nio tentang dua orang yang selama ini dipercaya oleh keluarga Cang itu.

"Orang yang kalian kenal sebagai Liong Ki itu sebetulnya bernama Sim Ki Liong, dan dia sebenarnya adalah murid dari kakekku, akan tetapi sudah menyeleweng dan tidak diakui lagi bahkan menjadi musuh besarku. Dia seorang pengkhianat, curang dan licik, seorang yang berbahaya sekali karena dia pandai bersikap seperti seorang pendekar budiman. Dia pernah membantu gerakan pemberontak yang telah dihancurkan. Ia amat jahat dan palsu. Untunglah bahwa engkau dapat terlepas dari tangannya, Nona."

Mendadak Teng Cin Nio menangis. Gadis ini merasa betapa jantungnya seperti ditusuk-tusuk ketika mendengar ucapan Kui Hong. Dia sudah menjadi korban kejahatan Sim Ki Liong! Hanya Mayang seorang yang tahu akan peristiwa itu, dan hanya karena bujukan Mayang sampai hari ini dia masih hidup, karena aib itu membuat dia ingin bunuh diri saja.

"Enci Cin, mengapa engkau menangis?” tanya Cang Hui. "Sepatutnya kita bersyukur telah terbebas dari tangan dua orang manusia iblis itu.”

"Adik Hui, aku teringat akan Mayang. Kalau mereka itu begitu jahatnya, kenapa Mayang datang bersama mereka ke rumah keluarga Cang? Mengapa Mayang mau berdekatan dengan mereka, padahal kita tahu benar bahwa Mayang adalah seorang gadis yang amat baik?"

"Ah, hal itu memang perlu dijelaskan agar tidak salah sangka." kata Kui Hong. “Memang Nona benar kalau mengatakan bahwa Mayang adalah seorang gadis yang baik dan gagah perkasa. Bagaimana tidak akan demikian kalau dia merupakan adik dari Pendekar Mata Keranjang ini?"

“Aihhh, Hong-moi, mengapa engkau suka sekali menyebut mata keranjang? Engkau bisa membuat aku benar-benar merasa mata keranjang!”

"Memang kau mata keranjang, habis disuruh mengatakan apa? Akan tetapi aku sekarang tahu bahwa seluruh pria di dunia ini, bahkan seluruh makhluk jantan di dunia ini, semua mata keranjang! Hanya ada yang kadarnya kecil, ada yang besar, ada yang jujur seperti engkau, ada yang berpura-pura, ada yang kasar dan ada yang halus, ada yang mampu mengendalikan diri dan ada yang menjadi hamba nafsunya."

"Enci Kui Hong, kalau memang Mayang seorang pendekar wanita yang perkasa, kenapa dia ikut-ikutan menyelundup ke dalam keluarga Cang?" Kini Cin Nio mendesak karena dia merasa penasaran.

"Karena Mayang pernah terpikat dan jatuh cinta kepadanya, itulah sebabnya. Ketika aku akan membunuhnya dalam pertempuran menghancurkan pemberontak, Mayang mintakan ampun untuknya, karena Mayang berharap agar Ki Liong dapat sadar dari kesesatannya. Dan entah bagaimana Mayang dapat bergaul pula dengan Tok-ciang Bi Moli Su Bi Hwa, dan mau saja diajak menyusup ke dalam keluarga Cang. Hal itu tentu ada sebabnya dan nanti Mayang bisa menjelaskan kepada kita. Mungkin Mayang tidak tahu siapa sebetulnya iblis betina yang memakai nama Liong Bi itu. Namun kemudian agaknya dia mengetahui juga rahasia mereka dan karenanya ia menentang mereka yang dibantu pula oleh Hek-tok Sian-su, seorang datuk yang lihai."

"Kakek itu diakui guru oleh mereka, malah mereka mengajak kakek itu menghadap ayah!” kata Cang Hui terkejut.

"Sungguh berbahaya sekali. Untung sekarang rahasia mereka telah diketahui dan mereka tidak akan mungkin berani lagi muncul di rumah keluarga Cang," kata Kui Hong. "Hampir saja Mayang menjadi korban pada waktu dikeroyok oleh dua orang iblis itu, ketika aku dan kemudian Hay-koko ini muncul lalu membantu Mayang.”

"Aku yakin bahwa Mayang tentu mempunyai alasan yang kuat mengapa dia dapat datang bersama mereka menghadap ayah," kata Cang Hui. "Sekarang di manakah Mayang dan bagaimana keadaannya?"

"Dia menderita luka, akan tetapi agaknya tidak parah dan sekarang telah berada di rumah keluargamu, Siocia. Tadi dia dilindungi oleh kakaknya dan diantar ke sana."

Kereta telah tiba di pekarangan gedung tempat tinggal keluarga Cang. Tentu saja mereka disambut dengan penuh kegembiraan, bukan saja oleh Cang Sun, ibunya serta Mayang, bahkan semua pengawal merasa gembira dan lega karena tadi mereka tentu saja merasa khawatir dan tentu mereka akan mendapat hukuman berat dari Menteri Cang jika sampai terjadi sesuatu atas diri Cang Siocia.

********************

Sebelum mereka itu tiba, lebih dulu Mayang dan Cang Sun sudah bicara dari hati ke hati. Melihat tadi Mayang diantar oleh Hay Hay dalam keadaan luka-luka, tentu saja Cang Sun merasa amat khawatir dan cepat-cepat dia memanggil tabib yang pandai untuk mengobati luka-luka yang diderita Mayang. Akan tetapi luka-luka itu tidak berat sehingga tidak lama kemudian Mayang sudah diajak berbicara empat mata oleh Cang Sun, di ruangan sebelah dalam. Tak seorang pun pelayan diperbolehkan mendekat.

Sesudah duduk saling berhadapan berdua saja, Cang Sun mengamati wajah gadis yang dicintanya itu. Dengan nada suara khawatir dia mengajukan pertanyaan kepada Mayang apa yang sesungguhnya terjadi.

“Engkau tentu mengerti segalanya, Mayang, maka ceritakan mengapa Liong Ki dan Liong Bi melakukan perbuatan menculik Hui-moi dan Cin-moi.”

Mayang menundukkan mukanya sampai beberapa waktu lamanya. Kemudian, setelah dia mengangkat muka memandang, Cang Sun semakin khawatir. Wajah gadis itu agak pucat dan pandang matanya demikian sayu seolah minta dikasihani.

“Kongcu, sekarang saatnya aku menceritakan segalanya secara terus terang kepadamu. Sungguh tugas ini amat menakutkan hatiku, Kongcu, karena besar kemungkinan Kongcu akan membenciku sesudah mendengar keteranganku. Aku sudah melakukan kesalahan besar sekali di luar kesadaranku, dan kesalahan ini hampir saja mencelakakan keluarga Cang, bahkan kini kita masih belum tahu bagaimana nasib adik Hui dan adik Cin.” Suara Mayang terdengar gemetar penuh perasaan sesal.

“Mayang, ceritakanlah. Jangan khawatir, aku bukan anak kecil, aku telah dewasa dan aku bisa mempertimbangkan persoalan dengan adil. Apa lagi engkau tadi mengatakan bahwa kesalahan itu kau buat di luar kesadaranmu, itu saja sudah menghapus sebagian besar dari kesalahanmu, kalau memang ada. Ceritakanlah.”

Berceritalah Mayang. Semua dia ceritakan dari permulaan. Sejak dia menyelamatkan Sim Ki Liong sehingga pemuda itu tidak sampai dibunuh oleh Cia Kui Hong karena dia merasa kasihan kepada Ki Liong, karena dia pun membalas cinta pemuda itu dan mengharapkan pemuda itu akan dapat kembali ke jalan benar. Betapa dia bersama Ki Liong melakukan perjalanan lalu di tengah jalan bertemu dengan Su Bi Hwa yang tidak dikenalnya dan yang diakui sebagai seorang sahabat lama oleh Ki Liong.

“Aku sempat melihat perbuatan mereka terhadap Kongcu. Aku tegur mereka dan mereka menyatakan bahwa mereka melakukan itu agar bisa mendapat kedudukan dan pekerjaan yang baik, agar dipercaya oleh keluarga Kongcu. Mulai saat itu aku sudah merasa curiga dan tidak suka, tapi aku hanya menahan diri karena menyangka bahwa mereka memang ingin mencari kedudukan yang pantas. Mereka menggunakan nama palsu dan mengaku sebagai kakak beradik supaya tidak menimbulkan kecurigaan. Aku yang bodoh bisa saja mereka tipu sehingga aku sama sekali tidak menaruh prasangka buruk terhadap mereka, hanya curiga. Akan tetapi mereka membuat jasa, mereka nampaknya setia kepada ayah Kongcu, malah mereka pun merobohkan orang-orang jahat yang hendak membunuh ayah Kongcu. Baru kini aku mengerti bahwa para pembunuh itu tentulah kawan-kawan mereka sendiri karena Su Bi Hwa itu adalah seorang tokoh Pek-lian-kauw.”

Cang Sun terbelalak. "Orang Pek-lian-kauw? Betapa berbahayanya... !”

“Aku sama sekali tidak tahu karena sudah mereka kelabui, Kongcu. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa mereka bukan orang baik-baik, bahwa Sim Ki Liong tidak dapat kembali ke jalan benar, bahkan menjadi semakin jahat. Maka aku lalu mengambil keputusan untuk menentang mereka, untuk membongkar rahasia mereka. Tapi aku terjebak dan dikepung, dikeroyok dua oleh mereka. Mereka berusaha untuk membunuhku karena merasa bahwa rahasia busuk mereka sudah kuketahui sehingga mereka tidak aman lagi. Aku melawan mati-matian, akan tetapi karena mereka berdua memang sangat lihai, aku sudah terluka ketika muncul enci Kui Hong.”

Cang Sun mengangguk. “Syukurlah, tadi dia sempat ke sini dulu, lalu kami minta agar dia suka menolong Hui-moi dan Cin-moi. Jadi engkau sudah mengenal Kui Hong?”

"Mengenal enci Hong? Ahh, Cang-kongcu, bukan hanya kenal, akan tetapi kami adalah sahabat baik dan lebih dari itu, enci Hong adalah calon kakak iparku.”

"Ehh? Calon kakak iparmu?” Cang Sun menegas karena tidak mengerti.

“Dia akan berjodoh dengan kakakku."

"Siapakah kakakmu, Mayang?"

"Kongcu mengenal dia dengan baik. Dia adalah yang mengantarku ke sini tadi."

Sepasang mata Cang Sun terbelalak. "Tang-taihiap? Si Pendekar Mata Keranjang? Aihh, jadi engkau ini adiknya?”

“Adik seayah berlainan ibu, Kongcu."

Cang Sun mengangguk-angguk. Pemuda bangsawan ini telah mendengar banyak tentang diri Tang Hay, betapa Tang Hay adalah anak dari jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) Ang-hong-cu (Si Kumbang Merah) yang sangat jahat dan keji. Akan tetapi Tan Hay tidak menuruni watak jahat itu walau pun menuruni sifat mata keranjangnya, bahkan Ang-hong-cu roboh karena dikalahkan Tang Hay sendiri. Jadi Mayang ini pun anak dari mendiang Ang-hong-cu? Dia dapat menduga bahwa seperti juga para wanita lain, ibu Mayang tentu menjadi korban dari Si Kumbang Merah pula.

"Teruskan ceritamu, Mayang.”

Melihat betapa pemuda itu hanya terlihat kaget dan heran tetapi tidak marah kepadanya, Mayang berani melanjutkan. “Dengan bantuan enci Hong, kami berdua mampu mendesak kedua orang jahat itu. Akan tetapi agaknya mereka memang sudah membuat persiapan, karena segera muncul Hek-tok Sian-su...”

“Pendeta yang mereka perkenalkan sebagai guru mereka itu?"

"Sama sekali bukan guru mereka, Kongcu. Hek-tok Sian-su itu lihai bukan main sehingga kemuculannya membuat enci Hong dan aku kembali terancam. Akan tetapi Tuhan tidak membiarkan orang-orang jahat merajalela terus. Muncul kakakku Tang Hay. Setelah kami melawan, diperkuat oleh Hay-koko, Sim Ki Liong dan Su Bi Hwa yang licik dan pengecut itu Iantas melarikan diri. Aku mengkhawatirkan keselamatanmu, Kongcu, maka aku minta enci Hong melakukan pengejaran ke sini...”

"Keselamatanku?" Cang Sun bertanya heran.

"Kongcu, sejak mereka tinggal di sini, Su Bi Hwa itu berusaha untuk memikatmu dan Sim Ki Liong berusaha memikat adik Cang Hui. Tentu mereka bermaksud agar mereka dapat menjadi menantu ayahmu. Aku mengkhawatirkan keselamatanmu, Kongcu, dan juga adik Hui. Karena Kongcu sedang tidak berada di rumah, maka tadi yang diculik adalah adik Hui dan adik Cin."

"Hemm, nona Cia Kui Hong datang ke sini dan kami minta dia pergi mengejar dua orang adikku yang diculik itu. Lalu bagaimana lanjutannya dengan pertempuran setelah nona Kui Hong pergi melakukan pengejaran?"

"Kakakku dapat mendesak dan mengalahkan Hek-tok Sian-su. Kakek itu lantas melarikan diri dan sisa orang-orang Pek-liankauw yang megeroyok juga melarikan diri. Hay-koko lalu membawa aku ke sini dan sesudah kini dia dan enci Hong yang melakukan pengejaran, aku yakin sekali bahwa adik Hui dan adik Cin akan dapat diselamatkan."

Sesudah gadis ini berhenti bercerita, Cang Sun mengangguk-angguk. "Ceritamu sungguh menarik sekali, Mayang.”

"Menarik? Apakah Kongcu... tidak... tidak marah dan benci kepadaku setelah mendengar ceritaku tadi?" Mayang memandang dengan muka terangkat. Sepasang mata sipit dan jeli itu memandang penuh selidik, mulut yang kecil itu sedikit terbuka penuh ketegangan dan alisnya berkerut mengandung kegelisahan.

Cang Sun tersenyum dan menggeleng kepalanya perlahan. "Kenapa harus membencimu, Mayang? Tidak, aku tidak membencimu, tidak marah kepadamu."

"Tapi... tapi aku... aku sudah menipumu, tidak berterus terang, bahkan aku seperti sudah melindungi dua orang penjahat keji yang membahayakan keluarga Cang."

Kembali Cang Sun menggeleng kepalanya, "Engkau melakukan hal itu tanpa kau sadari, Mayang. Dan kejujuranmu bahkan mengagumkan hatiku. Engkau sungguh polos, engkau selalu mempunyai niat baik. Aku tidak membencimu, bahkan semakin sayang kepadamu, Mayang.”

Mayang menelan isaknya, seperti tak percaya pada pendengarannya sendiri. Tadinya dia membayangkan bahwa Cang Sun tentu akan marah kepadanya, akan membencinya dan cintanya akan hilang, seperti cintanya terhadap Liong Ki yang bukan hanya lenyap, malah kini berubah menjadi kebencian setelah dia melihat Liong Ki tidak kembali ke jalan benar malah menjadi amat jahat.

Adakah cinta kasih di antara manusia yang tanpa syarat, tanpa pamrih? Agaknya cinta kasih tanpa syarat dan tanpa pamrih tidak akan mungkin dapat ditemui di antara manusia yang selalu menjadi permainan nafsu daya rendah. Dan apa pun yang dikemudikan nafsu pasti selalu mengandung pamrih demi kesenangan dan pemuasan nafsu itu sendiri, dan manusia menjadi alat, menjadi hamba nafsu.

"Tapi... tapi, Kongcu...” saking herannya Mayang berkata gagap.

Cang Sun memegang dua tangan gadis itu dan menggenggamnya. "Sudahlah, Mayang. Aku tetap cinta padamu, dan agaknya sekarang tiba saatnya aku mendapatkan jawaban dan kepastian darimu. Maukah engkau menjadi isteriku, Mayang?"

Inilah saat yang dinanti-nanti Mayang sejak dia mulai menanggalkan cintanya terhadap Ki Liong, sejak dia mendengar pengakuan cinta dari Cang Su. Akan tetapi dia membutuhkan kekuatan sehingga dia pun membalas genggaman kedua tangan pemuda bangsawan itu sebelum menjawab. Mayang mengangkat muka dan mereka saling pandang.

"Kongcu... orang sehina dan serendah aku ini tentu saja merasa memperoleh anugerah besar sekali mendengar pinanganmu. Akan tetapi maafkan aku, Kongcu. Terpaksa sekali harus kukatakan bahwa aku hanya dapat menerima pinanganmu untuk menjadi isterimu kalau Kongcu suka memenuhi sebuah permintaanku."

Cang Su mengamati wajah gadis itu seperti mengamati sesuatu yang lucu. "Ehh? Engkau memiliki syarat, Mayang? Sudah sepantasnya kalau seorang gadis pilihan seperti engkau mengajukan syarat dalam perjodohan. Nah, katakan, apakah syarat itu? Mudah-mudahan tidak terlalu sulit bagiku untuk memenuhinya."

"Syarat itu hanya satu, Kongcu, yaitu aku baru mau menjadi isterimu kalau engkau suka menikah dengan adik Teng Cin Nio...”

"Apa...?!" Cang Sun demikian terkejut sehingga dia melepaskan kedua tangan itu, lantas bangkit berdiri dan memandang dengan mata terbelalak dan muka berubah kemerahan.

"Kau... kau... sudah gilakah engkau, Mayang? Aku meminangmu untuk menjadi isteriku, tetapi engkau mengajukan syarat agar aku menikah dengan aku Cin Nio? Tidak kelirukah pendengaranku?"

"Benar, Kongcu. Engkau tidak keliru, memang itulah syaratku. Aku mau menjadi isterimu kalau engkau menikah dengan adik Cin Nio."

"Akan tetapi apa artinya semua ini? Kenapa harus begini dan apa sebabnya maka engkau mengajukan syarat yang amat aneh ini? Aku hanya cinta kepadamu, Mayang."

"Dan aku pun... cinta padamu, Kongcu. Juga adik Cin Nio amat mencitamu."

"Tetapi itu bukan alasan sehingga aku harus menikahinya, Mayang. Engkau tidak adil dan amat aneh!"

"Memang bukan itu alasannya. Akan tetapi kalau Kongcu tidak menikah dengan adik Cin, mungkin dia akan bunuh diri dan kalau hal itu terjadi, maka akulah penyebabnya, seolah akulah yang membunuhnya."

Cang Sun terbelalak. "Apa artinya semua ini, Mayang? Ceritakanlah yang jelas agar aku dapat mengerti yang kau maksudkan dengan permintaan yang aneh dan tidak masuk akal ini?"

Mayang lalu menceritakan apa yang sudah terjadi, musibah yang menimpa diri Teng Cin Nio yang diperkosa oleh Sim Ki Liong karena gadis itu tidur di dalam kamarnya.

"Sebenarnya jahanam itu bermaksud untuk memperkosaku, Kongcu. Mungkin makanan kami bertiga, yaitu adik Hui, adik Cin dan aku, telah diberi obat bius sehingga aku merasa mengantuk sekali sesudah makan minum itu. Adik Cin lalu menyuruh aku tidur di tempat tidurnya, dan dia tidak tega membangunkan aku, maka malam itu dia sendiri lalu tidur di kamarku. Maka mala petaka yang mestinya menimpa diriku, berbalik menimpa dirinya."

"Keparat si Ki Liong itu!" Cang Sun mengepal tinju dengan marah.

"Sesudah terjadi peristiwa itu adik Cin berusaha membunuh diri, akan tetapi aku berhasil mencegah dan membujuknya. Nah, itulah yang terjadi dan menjadi penyebab kenapa aku mengajukan syarat agar engkau suka menikah dengan adik Cin, Kongcu. Pertama, untuk menebus penyesalan hatiku bahwa dia menjadi korban karena aku, ke dua untuk rnencuci aib yang menimpa dirinya agar dia tidak melakukan kenekatan membunuh diri karena jika hal itu sampai terjadi, selama hidupku aku akan merasa menyesal dan merasa bersalah.”

Cang Sun mengangguk-angguk, termenung. Sungguh kasihan sekali Cin Nio pikirnya. Dia pun tahu bahwa Cin Nio jatuh cinta kepadanya. Hal ini mudah saja dilihat dari sikapnya, suaranya, dan terutama sekali pandang matanya kalau berhadapan dengan dia. Dia tahu pula bahwa ayah dan ibunya mengharapkan agar dia menikah degan Cin Nio.

Akan tetapi ketika itu hati dan pikirannya masih dipenuhi dengan bayangan Cia Kui Hong. Kemudian muncul Mayang dan dia jatuh cinta kepada gadis peranakan Tibet itu. Dan kini, Mayang hanya mau menjadi isterinya apa bila dia menikahi Cin Nio. Baru sekarang ini dia mendengar ada seorang gadis yang minta agar dimadu!

"Bagaimana, Kongcu? Kuharap engkau suka memberi keputusan sekarang."

"Tapi dia... ehh, mereka... belum kembali, mereka masih berada dalam tangan penculik...”

"Kongcu, aku percaya sepenuhnya kepada kakakku Tang Hay dan kepada enci Kui Hong. Mereka berdua pasti akan berhasil menyelamatkan adik Hui dan adik Cin. Sebelum adik Cin pulang, aku menghendaki agar engkau sudah dapat mengambil keputusan agar nanti kalau dia pulang Kongcu langsung melamarnya. Kalau begitu, barulah aku akan menerima pinanganmu dengan sepenuh hatiku."

Cang Sun kini menggeleng-gelengkan kepala dan menarik napas panjang. "Selama hidup belum pernah aku mendengar hal yang seaneh ini, Mayang. Engkau seorang gadis yang luar biasa aneh akan tetapi juga baik budi. Baiklah, Mayang, jika itu yang kau kehendaki. Aku akan menikah dengan engkau dan Cin-moi. Akan kuminta kepada ayah ibuku supaya aku menikah dengan kalian dalam waktu yang sama.”

"Dan begitu adik Cin pulang, engkau akan langsung melamarnya supaya hatiku tenteram dan dia tidak melakukan hal yang bukan-bukan?"

“Aku akan langsung rnelamarnya, akan tetapi dengan satu syarat”

"Ehh? Engkau mengajukan syarat pula? Apa syaratmu Kongcu?"

“Engkau harus menemaniku, atau setidaknya engkau harus hadir dan menjadi saksi pada waktu aku melamarnya." Berkata demikian, Cang Sun kembali memegang kedua tangan Mayang.

“Baik, aku akan menghadirinya...” kata Mayang dan dia pun tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena dengan penuh kebahagiaan Cang Sun sudah mendekapnya.

Pastilah penuh kebahagiaan karena bisa mendapat dua isteri sekaligus, cantik-cantik lagi. Pendekar Mata Keranjang juga putus!

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Kedatangan kereta yang membawa Cang Hui, Cin Nio, Kui Hong dan Hay Hay disambut penuh kegembiraan. Mayang segera lari menyambut kakaknya dan dengan sikap manja dia merangkul Hay Hay.

"Hay-koko, aku meyakinkan Cang-kongcu bahwa engkau dan enci Hong sudah pasti akan mampu menyelamatkan adik Hui dan adik Cin."

"Kau anak bengal! Bagaimana engkau bisa sampai tertipu dan diperalat manusia-manusia macam Ki Liong dan Tok-ciang Bi Moli?" tegur Hay Hay kepada adiknya.

Mayang menoleh dan tidak menjawab karena dia melihat Cin Nio yang turun dari kereta bersama Cang Hui kini berlari ke dalam. Ia melepaskan rangkulannya dari leher Hay Hay, menoleh ke arah Cang Sun dan memberi isyarat dengan pandang matanya, kemudian dia berlari mengejar Cin Nio.

Ketika Mayang memasuki kamar, dia mendapatkan Cin Nio sedang rebah menelungkup di pembaringannya sambil menangis tersedu-sedu.

“Adik Cin...!” Mayang menghampiri, lalu duduk di tepi pembaringan.

Cin Nio mengangkat muka menoleh dan ketika melihat Mayang, dia segera bangkit duduk lalu merangkul Mayang sambil menangis terisak-isak. “Mayang... ah, Mayang... aku... aku tidak mungkin dapat hidup terus...”

“Hushh, adik Cin. Ceritakan dulu apa yang terjadi. Tadi aku belum sempat mendengar dari Hay-koko atau enci Kui Hong. Engkau dan adik Hui diselamatkan oleh mereka, bukan? Lalu bagaimana dengan mereka, dengan kedua orang iblis busuk itu?”

"Mereka takut kepada kakakmu dan Cia-lihiap, maka mereka menggunakan kami berdua sebagai sandera dan akhirnya mereka menukar nyawa mereka dengan kami berdua. Cia-lihiap dan kakakmu terpaksa melepaskan mereka dan sebagai gantinya, kami berdua pun dibebaskan. Mereka sudah berhasil lolos Mayang, kalau aku tidak mampu melihat musuh besar itu binasa, bagaimana mungkin aku dapat hidup terus?” Cin Nio menangis lagi.

“Adik Cin, ingat baik-baik. Tidak ada orang lain yang mengetahui peristiwa itu kecuali aku dan engkau. Karena tidak ada orang yang tahu, maka namamu takkan tercemar. Engkau tidak boleh berputus asa. Percayalah, aku akan minta kepada kakakku, juga kepada enci Hong yang menjadi calon kakak iparku agar mencari jahanam itu kemudian menangkap dia. Aku sendiri yang akan membunuhnya untuk membalaskan sakit hatimu."

"Tetapi, Mayang, bagaimana aku dapat berlahan untuk hidup terus sesudah aku ternoda? Akhirnya akan ada yang tahu dan aku tidak akan sanggup menahan derita karena malu!"

Mayang maklum apa yang dimaksudkan Cin Nio. "Adik Cin, engkau hanya mau menikah dengan pria yang kau cinta bukan? Dan engkau mencinta Cang Kongcu, bukan?"

Mendengar ucapan ini, Cin Nio menjerit, akan tetapi jerit itu tidak keluar dari kamar karena dia mendekap mulutnya sendiri. Ia sesenggukan dan memandang wajah Mayang dengan mata merah dan muka basah air mata.

"Mayang, kenapa engkau berkata begitu? Ucapanmu seperti pedang beracun menembus jantungku. Mayang, kau sangka aku ini orang macam apa? Aku menganggapmu seperti saudaraku sendiri. Sun-ko hanya mencinta nona Cia Kui Hong, kemudian engkau muncul dan karena cintanya terhadap Cia-lihiap tak terbalas, dia jatuh cinta kepadamu, Dia tidak cinta kepadaku, Mayang. Lagi pula, bagaimana aku bisa mengharapkan berjodoh dengan dia sesudah keadaanku seperti sekarang ini? Dulu sebelum mala petaka menimpa diriku pun, dia tidak cinta padaku, apa lagi sekarang..."

Sebelum Mayang menjawab, terdengar ketukan pada pintu dan daun pintu didorong dari luar, kemudian nampak Cang Sun masuk ke dalam kamar itu. Melihat siapa yang datang, Cin Nio terbelalak dan cepat dia bangkit duduk sambil mengusap air matanya.

"Sun-ko…" katanya heran dan juga kaget melihat munculnya pemuda yang tak disangka-sangkanya itu.

"Cin-moi, siapa bilang aku tidak cinta kepadamu? Cin-moi, biarlah aku membuktikan tidak benarnya pendapatmu itu dengan meminangmu sekarang juga, Cin-moi, maukah engkau menjadi isteriku?"

Tentu saja Cin Nio terbelalak, mukanya mendadak menjadi merah, lalu pucat, dan merah kembali. Sampai lama dia tak dapat mengeluarkan kata-kata, hanya memandang kepada Cang Sun seperti orang melihat setan di tengah hari.

"Cin-moi, apa jawabanmu? Maukah engkau menjadi isteriku?" Cang Sun mengulang dan kini dia melihat betapa Cin Nio menitikkan air mata. Hatinya merasa terharu bukan main. Mayang memang benar sekali dan keputusannya yang aneh itu memang tepat, mungkin merupakan satu-satunya cara untuk menyelamatkan kehidupan adik misannya ini.

"Sun-ko... jangan…. jangan bergurau...” akhirnya Cin Nio dapat berkata, namun suaranya gemetar dan tubuhnya menggigil.

"Bergurau? Cin-moi, kau pandanglah aku. Apakah aku biasa bergurau dalam urusan yang begini penting? Mari kita menghadap ayah dan ibu agar kita semua dapat membicarakan urusan perjodohan kita." Cang Sun lalu melangkah maju hendak memegang kedua tangan gadis itu.

"Tidaaaak...! Jangan menyentuh diriku, Sun-ko….! Tidak, aku... aku tidak bisa... aku tidak mungkin menjadi isterimu...!” Dia menjerit, kemudian melempar tubuhnya kembali ke atas pembaringan, lalu memeluk bantal dan menangis tersedu-sedu.

Cang Sun saling pandang dengan Mayang. Cang Sun menggerakkan kedua pundaknya menunjukkan bahwa dia tidak berdaya membujuk, sedangkan Mayang mengangguk lalu dia menghampiri pembaringan dan menyentuh pundak yang terguncang akibat menangis itu dengan lembut.

“Adik Cin, hentikan tangismu dan jangan berduka. Bukankah pinangan Cang Kongcu tadi sepatutnya kau sambut dengan perasaan bahagia, bukan dengan tangis duka?”

Mendengar ucapan Mayang, Cin Nio bangkit duduk dan memandang kepada gadis Tibet itu. Sambil terisak-isak ia berkata. “Mayang, bagaimana engkau dapat berkata demikian? Mayang, bagaimana engkau tega berkata demikian…? Bagaimana mungkin aku… aku…” Dia pun menangis lagi dan kini menubruk dan merangkul Mayang.

Mayang mendekap Cin Nio dan mengelus rambutnya sambil berkedip kepada Cang Sun. Pemuda itu menghampiri dan setelah dekat dia pun berkata. “Cin-moi, hentikan tangismu itu. Aku sudah tahu peristiwa yang menimpa dirimu dan menurut pendapatku, engkau tak bersalah, Cin Moi.”

Isak itu tiba-tiba terhenti. Dengan muka pucat Cin Nio yang kini mengangkat mukanya itu memandang pada Cang Sun melalui genangan air matanya. “Apa…? Engkau sudah tahu bahwa aku... aku… dan engkau tadi masih….?”

Cang Sun mengangguk. “Benar, aku sudah tahu akan malapetaka yang menimpa dirimu, akan tetapi karena engkau tak bersalah, aku pun tidak akan mengingat hal itu lagi dan aku tadi meminangmu untuk menjadi isteriku. Bagaimana jawabanmu?”

Dua mata itu masih terbelalak, memandang kepada Cang Sun kemudian kepada Mayang, penuh keheranan dan tidak percaya. “Sun-ko, engkau tahu bahwa aku telah ternoda akan tetapi engkau tetap hendak meminangku, padahal engkau... dan Mayang... kalian berdua saling mencinta, bukan….? Apa artinya ini?”

Mayang memegang kedua tangan Cin Nio dan mereka saling pandang. “Adik Cin, dengar baik-baik. Peristiwa yang menimpa dirimu itu hanya diketahui oleh kita bertiga dan Cang Kongcu tidak menyalahkanmu. Dia cinta kepadamu, adik Cin, juga mencintaku, dan kita berdua juga mencintanya, bukan? Nah, sekarang dia hendak memperisteri kita berdua. Maukah engkau menjadi maduku, adik Cin?”

Sejenak Cin Nio memandang nanar, akan tetapi segera pengertiannya menembus semua kekagetan dan keheranannya. Dia pun mengerti bahwa semua ini adalah usaha Mayang! Dia sendiri memang mencinta Cang Sun, maka kalau Cang Sun mau melupakan semua peristiwa itu, tidak menyalahkannya dan mencintanya, tentu saja dengan sepenuh hati dia mau menerima pinangan itu.

“Mayang...!” Dia menjerit lemah dan terkulai dalam rangkulan Mayang. Pingsan!

********************

Cang Hui sedang sibuk menceritakan pengalamannya yang menegangkan kepada ibunya, didengarkan pula oleh para pelayan. Kesempatan ini digunakan Hay Hay untuk mengajak Kui Hong bicara. Kui Hong juga ingin bicara banyak dengan pemuda itu, maka dialah yang mengajak Hay Hay memasuki taman di sebelah kiri istana keluarga Cang. Dia memang sudah hafal akan keadaan di tempat itu. Mereka duduk di bangku dekat kolam ikan yang terlindung oleh semak-semak dan bunga-bunga yang indah.

“Hong-moi, ketahui bahwa aku membawa tugas yang amat penting untuk pemerintah, dan ada sesuatu yang harus segera kusampaikan kepada Menteri Cang atau Menteri Yang. Karena Menteri Cang sedang tidak berada di rumah, maka aku harus cepat menghadap Menteri Yang Ting Hoo. Akan tetapi, sebelum pergi ke sana aku ingin mendengar dahulu apa yang hendak kau bicarakan denganku. Aku merasa seperti sedang bermimpi ketika melihatmu, Hong-moi."

Kui Hong menatap pria yang dicintanya itu. Agak kurus dan pandang matanya agak sayu sungguh pun sikapnya masih gembira seperti biasa, pikirnya. Hatinya terharu karena dia maklum bahwa kalau perpisahan di antara mereka pernah membuat dia jatuh sakit, tentu bagi pemuda ini lebih menderita lagi. Pemuda ini telah ditolak oleh ayah ibunya!

“Hay-ko, ada dua buah pertanyaan saja yang hendak kutanyakan kepadamu, dan kuharap engkau suka menjawab sejujurnya dan setulus hatimu."

Hay Hay juga menatap wajah gadis itu, tanpa pernah berkedip dan penuh kasih sayang. Sesudah kini berhadapan, barulah dia benar-benar menyadari bahwa selama ini dia amat mencinta Kui Hong dan betapa selama ini dia merindukan Kui Hong, akan tetapi perasaan itu dia tutup-tutupi dengan wataknya yang gembira.

"Hong-moi, engkau pasti tahu bahwa terhadapmu aku selalu akan bersikap jujur dan tulus. Tanyakanlah, dan aku akan menjawab sesuai dengan suara hatiku."

"Pertanyaanku yang pertama, apakah engkau suka memaafkan ayah ibuku yang pernah menyakiti hatimu dengan penolakan mereka terhadap dirimu dahulu tu?" Suara gadis itu terdengar gemetar, tanda bahwa hatinya dicengkeram penyesalan.

Mendengar pertanyaan ini Hay Hay terbelalak, lalu mulut dan matanya tertawa. Kui Hong melihat bahwa tawa itu tidak dibuat-buat, melainkan wajar sehingga dia pun merasa lega. Bukan tawa yang mengandung ejekan, sama sekali tidak sinis.

“Ha-ha-ha. pertanyaanmu ini sungguh aneh sekali, Hong-moi. Kenapa harus kumaafkan? Ayah ibumu adalah orang-orang bijaksana yang hanya mengatakan hal-hal yang benar. Tidak ada yang perlu dimaafkan karena pendapat mereka memang tepat. Engkau adalah puteri keluarga ketua Cin-ling-pai yang di dunia kang-ouw namanya terkenal bersih dan gagah perkasa, sedangkan aku hanyalah putera seorang jai-hwa-cat yang tersohor jahat. Mereka benar dan kalau menjadi mereka, aku sendiri pun akan berpendapat dan bersikap yang sama."

Kui Hong memandang wajah laki-laki itu dengan penuh selidik. Bukan ucapan ejekan atau sindiran, tetapi sejujurnya. "Bagaimana pun juga penolakan mereka itu telah memisahkan kita dan tentu telah menghancurkan hatimu atau mungkin bagimu perpisahan denganku itu tidak berarti apa-apa?"

"Hong-moi... !” Mengapa engkau berkata demikian? Hampir mati aku karena duka, nyaris gila karena merana. Akan tetapi aku menyadari keadaan diriku dan aku dapat menerima keadaan, rnenerima kenyataan, betapa pahit pun."

"Nah, itulah yang hendak kutanyakan kepadamu. Ayah ibuku telah menyebabkan engkau menderita, karena itu aku bertanya apakah engkau suka memaafkan mereka? Jawablah, Hay-ko, jawablah agar hatiku lega, apakah engkau mau memaafkan ayah dan ibuku atas penolakan mereka terhadap dirimu dahulu itu?"

Di dalam suara gadis itu terkandung himbauan dan permohonan yang membuat suara itu menggetar sehingga hati Hay Hay tidak tega untuk menolak permintaannya. Maka dia pun mengangguk dengan kesungguhan hati.

“Tentu saja, Hong-moi. Kalau memang dikehendaki, aku selalu siap sedia untuk memberi maaf sampai seribu kali kepada ayah ibumu."

Kui Hong menghela napas panjang. Hatinya terasa lega dan senang bukan main. "Aihhh, Hay-ko, jawabanmu tadi sudah menyingkirkan beban berat yang selama ini menghimpit perasaan hatiku. Percayalah, Hay-ko, ketika engkau pergi meninggalkan aku, penderitaan batin yang kurasakan tidak kalah berat dibandingkan dengan penderitaanmu. Meski sudah kucoba untuk melupakannya dengan bekerja untuk Cin-ling-pai, akan tetapi tetap saja aku merana, hampir gila, bahkan hampir mati karena sakit."

"Hong-moi...!” Hay Hay memandang dengan sepasang alis berkerut dan sinar mata penuh sesal. "Kalau begitu, aku telah berdosa kepadamu. Kau maafkanlah aku, Hong-moi.”

Kui Hong tersenyum, "Yang patut meminta maaf adalah kami sekeluarga, Hay-ko, bukan engkau. Akan tetapi sudahlah, mengenai maaf memaafkan ini aku percaya bahwa engkau suka memaafkan kami dengan setulus hatimu. Sekarang ada pertanyaanku yang ke dua, kuharap pertanyaan ini juga kau jawab dengan sejujurnya."

“Tanyalah, Hong-moi, jangan membuatku tegang menanti pertanyaanmu. Tentu saja aku selalu bersikap jujur kepadamu."

"Nah, jawablah, Hay-koko. Apakah engkau masih cinta padaku?"

Mendengar pertanyaan ini, kembali sepasang mata Hay Hay terbelalak, kemudian alisnya berkerut dan matanya memandang dengan penuh penasaran. "Ya Tuhan, Masih perlukah engkau bertanya seperti ini, Hong-moi? Apakah engkau masih belum percaya bahwa aku mencintamu sampai aku mati kelak? Hong-moi, apa kau sangka cintaku kepadamu dapat berubah-ubah seperti awan di langit? Apa pun yang terjadi aku tetap cinta padamu, Hong-moi, dahulu, sekarang, kelak dan selamanya. Perlukah aku bersumpah? Tetapi mengapa pula engkau menanyakan hal itu?”

Ucapan pemuda itu terdengar bagaikan musik yang amat merdu dalam telinga Kui Hong, membuatnya tersenyum manis dan kedua pipinya menjadi kemerahan, "Aku menanyakan hal itu bukan karena meragukanmu, Hay-ko, tetapi agar aku merasa yakin karena aku... aku... selalu cinta padamu dan... aku mengharapkan untuk menjadi isterimu, yaitu… kalau engkau sudi melamarku...”

“Hong-moi...! Tidak mimpikah ini? Dan bagaimana nanti ayah ibumu?”

"Ayah dan ibu telah menyetujui, Hay-ko, mereka telah menyadari kesalahan mereka, dan mereka akan menerima dengan hati tulus kalau engkau datang meminangku."

"Hong-moi! Ya Tuhan, Hong-moi...!" Hay Hay bersorak, menerjang ke depan, menangkap pinggang gadis itu dan melontarkannya ke atas!

Seperti sebuah boneka saja tubuh Kui Hong terlempar ke angkasa dan ketika turun, Hay Hay menyambut dengan kedua lengan, merangkul, mendekap dan keduanya tenggelam dalam pelukan mesra yang membuat mereka sukar bernafas.

Sesudah waktu yang entah berapa lamanya lewat, terdengar bisikan Kui Hong dari dalam dekapan Hay Hay. "Hay-ko, tugasmu...”

Hay Hay melepaskan pelukannya. Dia memegang kedua pipi Kui Hong seperti mengamati sebuah benda mustika yang amat berharga, lalu menciumnya dengan lembut seperti takut kalau-kalau mustika itu akan rusak oleh ciumannya, kemudian dia pun tertawa.

"Engkau benar, aku hampir lupa. Mari, Hong-moi, mari kita pergi menemui Menteri Yang. Urusan ini penting sekali dan nanti di perjalanan akan kuceritakan semua kepadamu.”

Mereka bergandengan tangan meninggalkan taman dan memasuki istana untuk berpamit. Di ruangan tengah mereka mendapatkan suasana yang sangat membahagiakan. Dengan wajah berseri-seri, Cang Hui dan ibunya memberi tahu kepada mereka bahwa Cang Sun telah bertunangan dengan Mayang dan Cin Nio. Sekaligus bertunangan dengan dua orang gadis itu. Hay Hay terbelalak ketika ibu Cang Sun berkata kepadannya.

"Tang-taihiap, karena engkau adalah kakaknya Mayang, maka sebelum ayah Cang Sun pulang biarlah aku mewakili keluargaku mengajukan pinangan kepadamu sebagai wali dari Mayang. Kami melamar Mayang untuk dijodohkan dengan putera kami, Cang Sun.”

Hay Hay cepat memberi hormat untuk membalas nyonya bangsawan itu, dan dia berkata dengan suara gugup, "Ehh... maaf Cang-hujin (Nyonya Cang), saya... eh, saya tidak tahu bagaimana... heii, Mayang, bagaimana ini?"

Tentu saja Hay Hay menjadi kikuk dan bingung ketika tiba-tiba saja dia menjadi wali dan harus menerima pinangan orang atas diri Mayang. Mayang cepat menghampiri kakaknya, lalu merangkul pundak Hay Hay dengan sikap manja.

"Koko, apakah engkau hendak mengatakan bahwa engkau tidak setuju kalau aku menjadi isteri kanda Cang Sun?"

Ditodong dengan pertanyaan seperti itu, Hay Hay ingin menjewer telinga adiknya. "Hushh, jangan sembarangan bicara. Tentu saja aku setuju sepenuhnya. Akan tetapi, bagaimana aku dapat memutuskan? Seharushya engkau bertanya kepada ibumu, bukan kepadaku."

"Hay-ko, ibuku jauh dan waliku yang terdekat hanya engkau. Nah, engkaulah yang harus menjawab. Apakah engkau setuju dengan pinangan keluarga Cang atas diriku?"

Hay Hay mendekatkan mukanya kepada muka adiknya, kemudian dia berbisik, "Mengapa bertunangan dengan dua orang gadis sekaligus?"

Mayang terseyum manis. "Hal itu sudah menjadi keinginan kami bertiga. Engkau tak perlu ikut mencampuri, Hay-koko. Sekarang katakan saja bahwa engkau setuju dan menerima pinangan itu, habis perkara!”

Hay Hay mengangguk-angguk, lalu menghampiri nyonya Cang dan berkata dengan sikap hormat. "Saya sebagai wali adik saya Mayang merasa setuju dan menerima dengan baik pinangan keluarga Cang."

Tentu saja nyonya Cang, Cang Sun dan Cang Hui menjadi gembira sekali.

"Tang-taihiap,” kini Cang Sun yang berbicara dengan sikapnya yang lembut dan tenang. "Tentu saja kami akan mengirim utusan kepada ibu Mayang untuk mengajukan pinangan resmi, akan tetapi sementara ini persetujuan Taihiap amat menggembirakan hati kami."

"Peristiwa menggembirakan ini patut dirayakan. Mari kita semua masuk ke dalam untuk merayakan pertunangan ini," kata Nyoya, Cang.

Hay Hay cepat-cepat memberi hormat. "Harap memaafkan kami. Terus terang saja, saya mempunyai urusan yang amat penting yang harus saya sampaikan kepada Menteri Cang atau Menteri Yang. Karena saat ini Menteri Cang kebetulan sedang tidak berada di rumah, maka terpaksa saya akan menghadap Menteri Yang untuk menyampaikan sesuatu yang teramat penting bagi keamanan negara. Nanti sesudah semua urusan selesai, baru saya akan kembali ke sini ikut bergembira."

"Saya pun akan ikut dan membantu Hay-koko," kata Kui Hong dengan wajah berseri.

Mayang cepat memegang tangan Kui Hong, lalu menoleh kepada kakaknya, "Hay-ko, aku adikmu telah bertunangan dan akan menikah, akan tetapi engkau yang menjadi kakakku, kapan engkau akan menikah dengan enci Hong?"

Hay Hay dan Kui Hong saling pandang kemudian mereka tersenyum, dan Kui Hong yang mewakiii Hay Hay, merangkul Mayang dan berkata, "Engkau tunggulah saja, Mayang, tak lama lagi kami pun akan menikah."

Karena mempunyai tugas yang penting sekali, Hay Hay dan Kui Hong Ialu meninggalkan keluarga yang berbahagia itu untuk menghadap Menteri Yang Ting Hoo. Dalam perjalanan ini Hay Hay mengomel.

"Enak benar Cang Kongcu, sekaligus mendapatkan jodoh dua orang gadis cantik."

Tiba-tiba saja Kui Hong menghentikan langkahnya. Ketika Hay Hay juga ikut berhenti dan menengok, dia berhadapan dengan gadis yang mukanya kemerahan, matanya berapi dan kedua tangannya bertolak pinggang.

"Apa yang kau bilang tadi, Hay-ko? Jadi kau anggap Cang Kongcu senang dan enak, ya? Sekaligus mendapatkan jodoh dua orang gadis cantik? Engkau rnerasa iri? Boleh kau cari seorang gadis lain lagi dan aku akan menghadapi kalian dengan pedang!”

Hay Hay terbelalak. Dia tahu bahwa sekali Kui Hong cemburu dan marah, mengira dia iri hati pada Cang Sun dan ingin pula mengawini dua orang gadis seperti pemuda bangsawan itu. Dan baru sekarang dia melihat Kui Hong, calon isterinya itu, berdiri bertolak pinggang dan marah seperti itu.

Tiba-tiba dia pun membayangkan Cang Sun berdiri menghadapi dua orang isteri di kanan kiri, dua orang isteri yang berdiri bertolak pinggang dan marah-marah kepadanya, apa lagi Mayang adiknya yang galak itu. Membayangkan ini, Hay Hay lalu tertawa bergelak.

"Hemmm, engkau malah mentertawaiku?" Kui Hong membentak dan membanting-banting kaki kanannya.

Hay Hay semakin gembira. Gerakan membanting kaki kanan ini sungguh ciri khas dari Kui Hong apa bila sedang marah. Karena dia tahu benar bahwa kekasihnya sudah marah, dia lalu menghentikan tawanya.

"Aku menertawakan Cang Sun, bukan mentertawakan engkau, Hong-moi. Sekarang aku sadar bahwa keadaannya ini sama sekali tidak menyenangkan, karena kalau kedua orang isterinya itu marah-marah pada saat yang bersamaan, aduhh…, celaka tiga belaslah dia!" Hay Hay tertawa lagi. "Apa lagi Mayang yang galaknya tidak alang kepalang, aku tertawa membayangkan bagaimana dia akan melindungi dirinya dari dua ekor harimau betina yang marah-marah."

Mau tak mau Kui Hong tersenyum juga mendengar ucapan kekasihnya. "Sudahlah, tidak perlu kita membicarakan orang lain. Biar pun Cang Sun seorang pemuda bangsawan, aku mengenal dia sebagai seorang pemuda yang baik, tidak mata keranjang seperti engkau. Betapa pun anehnya Mayang, jika dia sampai bersedia dimadu dengan Cin Nio, jelas ada apa-apanya di balik semua itu yang hanya diketahui mereka bertiga. Bukan urusan kita. Nah, kini ceritakan tugas penting apakah yang sedang kau laksanakan, dan apa perlunya kita menghadap Menteri Yang."

Hay Hay kemudian menceritakan dengan singkat tetapi jelas tentang mendiang Yu Siucai, sasterawan tua yang menulis laporan yang sangat penting tentang keadaan di kota Cang-cow, tentang persekutuan yang dilakukan orang-orang Portugis dengan para pejabat tinggi di kota Cang-cow, juga dengan para bajak laut Jepang dan pemberontak Pek-lian-kauw. Betapa orang-orang Portugis di sana telah membuat benteng yang diperkuat meriam, dan betapa pejabat-pejabat yang bersekongkol dengan orang Portugis itu telah menculik dan membunuh banyak pejabat yang setia kepada pemerintah.

"Aihh, begitu hebatkah?" Kui Hong sangat kaget mendengar ini.

"Bahkan kepala daerah dan wakilnya di kota Cang-cow sudah tunduk kepada orang-orang Portugis," kata Hay Hay. “Pada sepanjang perjalanan banyak orang-orang kang-ouw yang menghadangku dan mencoba merampas gulungan kertas laporan dari Yu Siucai. Itu saja membuktikan bahwa persekutuan itu telah meluas dan agaknya banyak orang kang-ouw yang ikut terlibat."

"Ahh, kalau begitu kita harus cepat menghadap Menteri Yang. Urusan ini teramat penting dan tidak boleh ditunda lebih lama lagi," kata Kui Hong dan mereka lalu bergegas pergi ke istana Menteri Yang Ting Hoo, yang merupakan orang ke dua setelah Menteri Cang Ku Ceng yang terkenal sebagai menteri yang setia, jujur, pandai dan mereka berdualah yang berdiri di belakang kaisar, mengatur pemerintahan sehingga Kerajaan Beng pada waktu itu menjadi semakin berkembang.

Menteri Yang Ting Hoo menerima mereka dengan ramah karena pejabat tinggi ini sudah lama mengenal nama mereka sebagai pendekar-pendekar yang berjasa terhadap negara. Hay Hay dan Kui Hong dipersilakan duduk di ruangan tamu dan ketika menteri yang tinggi kurus berjenggot panjang, bermata sipit serta wajahnya membayangkan keramahan dan kesabaran itu muncul, mereka berdua cepat-cepat memberi hormat.

Menteri Yang Ting Hoo berusia kurang lebih lima puluh empat tahun, masih lebih muda kalau dibandingkan Menteri Cang Ku Ceng dan biar pun matanya sipit, namun sepasang mata itu mempunyai sinar kilat yang membayangkan kecerdikannya. Sesudah memasuki ruang tamu dan membalas penghormatan dua orang tamunya, pembesar itu lalu memberi isyarat kepada para penjaga untuk meninggalkan ruangan itu.

Melihat dua orang tamunya kelihatan heran melihat dia menyuruh semua pengawal pergi, pembesar itu lalu tersenyum dan mengelus jenggotnya. "Kami telah mengenal baik nama besar ji-wi yang gagah perkasa. Kalau saat ini ji-wi berkunjung dan minta bertemu dengan kami, maka jelas bahwa ji-wi tentu membawa berita yang teramat penting. Oleh karena itu, sebaiknya kalau tidak ada orang lain yang mendengar supaya ji-wi dapat lebih leluasa menyampaikannya kepada kami."

Hay Hay dan Kui Hong bertukar pandang. Betapa cerdik dan bijaksananya pembesar ini dapat dilihat dari sikapnya itu.

“Tepat sekali dugaan paduka, Taijin," kata Hay Hay sambil mengeluarkan gulungan kertas bernoda darah itu. "Saya ingin menghaturkan surat laporan yang amat penting ini."

Melihat gulungan kertas itu, Menteri Yang berseru, "Aihh, jadi benarkah berita yang kami dapat bahwa ada surat laporan rahasia yang ditulis oleh seorang siucai tua dari Cang-cow yang diperebutkan oleh orang-orang kang-ouw? Inikah surat itu?"

Kembali Hay Hay dan Kui Hong kagum. Kiranya pembesar bijaksana ini telah mendengar pula tentang surat laporan itu!

"Memang benar sekali, Taijin. Penulis laporan adalah mendiang Yu Siucai dan kebetulan dia serahkan kepada saya sebelum dia meninggal dunia. Ketika saya membawanya ke kota raja untuk menyerahkannya kepada paduka atau kepada Cang-taijin seperti dipesan oleh Yu Siucai, banyak orang hendak merampasnya.”

"Menteri Cang sedang bertugas ke luar kota raja, jadi ji-wi (anda berdua) membawanya kepada kami?”

"Menurut pesan mendiang Yu Siucai, laporan ini harus saya berikan kepada Menteri Cang atau kepada paduka."

Menteri itu menerima gulungan surat laporan, lalu membacanya. Alisnya berkerut dan dia memegang surat yang sudah dia buka gulungannya itu dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya kini dikepal.

"Ahh, keparat! Memang mereka selalu membuat kekacauan, orang-orang Portugis biadab itu! Sekarang juga kami akan mengirim pasukan besar untuk menghajar dan membasmi para pemberontak di Cang-cow!" katanya, lantas dia pun memberi isyarat memanggil para pengawal.

Sebentar saja mereka bermunculan dari segala penjuru sehingga Hay Hay dan Kui Hong maklum bahwa setiap saat pembesar itu terlindung ketat, walau pun nampaknya seorang diri saja. Yang-taijin segera memerintahkan kepala penjaga untuk memanggil para perwira pasukan pengawal untuk pergi mengundang panglima pasukan keamanan.

Melihat kesibukan itu, Hay Hay dan Kui Hong lalu menawarkan tenaga untuk membantu. Menteri Yang mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya.

"Taihiap dan Lihiap, urusannya sekarang adalah urusan ketentaraan. Kami akan mengirim pasukan untuk menghancurkan pemberontak itu. Apa bila ji-wi ingin membantu, ji-wi dapat menjadi penyelidik ke Cang-cow, kemudian kalau ada hal-hal penting yang perlu diketahui oleh panglima pasukan, maka ji-wi bisa menghubungi dia. Jasa jiwi akan kami catat untuk menambah jasa-jasa yang pernah ji-wi berikan kepada pemerintah ketika ji-wi membantu Menteri Cang.”

Mereka menyatakan kesanggupan mereka, kemudian meninggalkan istana itu. Mereka kembali ke istana keluarga Menteri Cang karena sebelum meninggalkan kota raja mereka ingin pamit dulu dari keluarga yang mereka kenal baik itu.

Sesudah mendengar keterangan Hay Hay bahwa dia bersama Kui Hong hendak pergi ke Cang-cow untuk membantu pemerintah membasmi kaum pemberontak, Mayang langsung menyatakan hendak ikut pergi.

"Hay-koko, aku harus ikut denganmu dan enci Hong untuk membantu pemerintah dalam membasmi para pemberontak!"

Mendengar ini, Cang Sun mengerutkan alisnya. "Mayang, untuk membasmi pemberontak sudah ada pasukan besar yang akan melakukannya. ini bukan merupakan tugasmu, dan kalau engkau pergi, engkau hanya akan membuat kami di rumah merasa khawatir.”

Cin Nio segera memegang tangan Mayang. "Kalau engkau pergi, aku pun harus ikut pergi bersama, Mayang."

"Ihhh, kalau kita berdua pergi, kasihan... tunangan kita, adik Cin!" semua orang tertawa mendengar ucapan Mayang yang tanpa sungkan-sungkan itu.

"Mayang, jangan seperti anak kecil lagi. Engkau tidak boleh pergi. Mulai sekarang engkau harus mentaati semua perintah Cang Kongcu. Mengenai pemberontak itu, memang akan ditanggulangi oleh Menteri Yang dan akan dikirim pasukan besar. Aku dan Hong-moi juga hanya akan membantu melakukan penyelidikan saja."

"Tetapi aku merasa benci sekali kepada Sim Ki Liong dan Su Bi Hwa. Kalau aku belum dapat membunuh dua jahanam itu, maka selama hidup aku akan merasa penasaran terus Hay-ko."

"Kalau begitu biarlah aku yang mewakilimu untuk mencari dan membasmi dua orang itu. Mereka memang merupakan dua orang yang berbahaya kalau dibiarkan hidup terus."

"Aku pun merasa berkewajiban untuk melenyapkan Sim Ki Liong karena dia hanya akan mengotori nama baik kakekku di pulau Teratai Merah," sambung Kui-Hong.

Mayang memandang kepada Cin Nio yang lalu berbalik memandangnya pula. Pertukaran pandang antara dua orang wanita itu sudah cukup bagi mereka. Mayang bertekad hendak membunuh Sim Ki Liong, terutama sekali untuk membalaskan dendam hati Cin Nio yang pernah diperkosa laki-laki jahat itu. Cang Sun yang merupakan orang ke tiga yang tahu akan peristiwa itu, segera berkata dengan suara tenang berwibawa.

"Mayang, engkau sudah mendapat janji kakakmu dan Cia-lihiap. Aku yakin bahwa mereka berdua akan dapat menghukum dua orang manusia iblis itu. Engkau dengan Cin-moi tidak perlu pergi sendiri. Kalian harus berada di sini, menanti sampai ayah pulang agar urusan perjodohan kita dapat dibicarakan."

Karena maklum bahwa Cang Sun dan Cin Nio tidak meghendaki dia pergi, maka Mayang juga tidak memaksakan kehendaknya. Setelah dia menjadi tunangan Cang Sun, gadis ini terpaksa harus mengendalikan diri, karena dia tidak lagi bebas seperti dahulu. Dia merasa terikat, akan tetapi betapa manisnya dan menyenangkan ikatan itu baginya! Dia merasa diperhatikan, dimanjakan, dipedulikan!

Pada hari itu juga berangkatlah Hay Hay dan Kui Hong meninggalkan kota raja, menuju ke kota Cang-cow. Cang Sun memberi mereka dua ekor kuda yang baik, dan mereka lalu melakukan perjalanan cepat melalui pintu gerbang sebelah selatan dari kota raja.

Pada suatu pagi, setelah melakukan perjalanan berhari-hari, mereka tiba di sebuah hutan di bukit kecil di sebelah barat kota Cang-cow, dan teringatlah Hay Hay kepada Sarah yang cantik manis. Tentu saja dia tidak pernah bercerita kepada Kui Hong tentang Sarah. Akan tetapi dia tidak akan pernah dapat melupakan gadis Portugis yang berambut kuning emas dan bermata biru indah itu.

Kini tentu Sarah sudah tidak lagi berada di Cang-cow dan dia merasa senang mengingat akan hal itu. Dia bersyukur karena kini Sarah tentu telah berlayar meninggalkan negeri ini bersama Aaron, pemuda kekasihnya dan mereka berdua tentu akan terhindar dari bahaya maut kalau pasukan pemerintah menyerbu Cang-cow.

Kui Hong mengajak Hay Hay beristirahat di bukit itu. Mereka sendiri tak begitu lelah, akan tetapi kuda tunggangan mereka sudah tampak letih. Mereka perlu dibiarkan mengaso dan makan rumput hijau tebal yang terdapat di bukit itu. Keduanya membiarkan kuda mereka terlepas makan rumput, dan mereka sendiri duduk berhadapan di atas rumput tebal.

Kui Hong bertanya tentang Cang-cow dan Hay Hay menceritakan apa yang dia ketahui. Antara lain dia bercerita bahwa kota itu menjadi pusat orang-orang Portugis yang memiliki pasukan kuat karena mereka semua mempunyai senjata api.

Tiba-tiba saja mereka berdua bangkit berdiri dan bersikap waspada. Pendengaran mereka yang amat tajam dapat menangkap gerakan orang. Tempat itu memang dikelililingi pohon-pohon dan semak belukar.

Kecurigaan mereka segera terbukti. Terdengar desir halus, kemudian jarum-jarum lembut menyambar dari kiri ke arah mereka! Dengan mudah pasangan pendekar yang tangguh ini memukul runtuh semua jarum itu dengan kibasan tangan mereka yang mendatangkan angin kuat.

“Kiranya siluman beracun dari Pek-lian-kauw yang datang! Hei pengecut curang, keluarlah kalau memang engkau ingin mampus!" bentak Kui Hong yang mengenal senjata rahasia itu.

Nampak bayangan berkelebat dan benar saja, Tok-ciang Bi-moli Su Bi Hwa telah berada di situ, tersenyum simpul dengan sikap genit memandang kepada Hay Hay. Baik Hay Hay mau pun Kui Hong maklum sepenuhnya bahwa wanita siluman ini tak akan berani banyak berlagak di depan mereka kalau saja dia tidak mengandalkan orang lain, maka keduanya bersikap waspada. Jika tidak memiliki andalan, mustahil Tok-ciang Bi-moli berani muncul memperlihatkan diri ke hadapan mereka. Hal ini sama saja dengan seekor ular mendekati pemukul.

Dugaan mereka memang tepat karena dari kanan kiri nampak bayangan beberapa orang berkelebat dan ternyata salah seorang di antara mereka, seperti yang telah mereka duga sebelumnya, adalah Sim Ki Liong! Melihat pemuda bekas murid kakeknya ini, Kui Hong tersenyum mengejek dan mendengus.

"Huhh, kiranya si anjing keparat, pengkhianat murtad pengecut busuk Sim Ki Liong masih berani mengantar nyawa. Sekali ini aku akan mencabut nyawamu!"

Sementara itu Hay Hay juga mengenal Hek-tok Sian-su, kakek berbahaya yang amat lihai dan yang pernah dia kalahkan walau pun dengan susah payah. Maka dia pun tersenyum dan menggerakkan kedua tangan ke depan dada.

"Ternyata Hek-tok Sian-su yang kembali menghadang kami. Apakah kini engkau hendak melanjutkan pertandingan tempo hari, Sian-su?" Dalam pertanyaan ini terkandung ejekan yang membuat wajah di gundul itu menjadi semakin hitam kehijauan dan seyuman yang selalu membayang di bibir, senyum mengejek, kini berubah menjadi senyum masam dan hambar.

Akan tetapi sekali ini dia tidak banyak cakap, melainkan memberi isyarat kepada Sim Ki Liong dan pemuda ini tanpa banyak bicara lagi sudah menerjang maju dan meski pun dia belum menguasai dengan sempurna, dia sudah menggunakan ilmu Hok-liong Sin-ciang, yaitu ilmu silat yang paling hebat dan menjadi andalan dari gurunya, yaitu Pendekar Sadis Ceng Thian Sin!

Ilmu ini memang hebat bukan main dan hanya terdiri dari delapan jurus saja. Tetapi hanya orang-orang yang telah mempunyai tenaga sakti yang mencapai tingkat tinggi sekali saja yang mampu memainkannya. Kalau Pendekar Sadis yang memainkanya, tentu saja akan jarang ada orang mampu menandinginya.

Dalam hal memainkan ilmu-ilmu tertinggi dari pulau Teratai Merah, Sim Ki Liong bahkan masih kalah setingkat kalau dibandingkan Cia Kui Hong. Semenjak Sim Ki Liong minggat dari pulau Teratai Merah dan mencuri pedang pusaka, Pendekar Sadis dan isterinya telah menurunkan ilmu-ilmu andalan mereka kepada Kui Hong agar gadis itu dapat mengatasi kepandaian Ki Liong.

Betapa pun juga, karena ilmu Hok-liong Sin-ciang memang sangat hebat, Hay Hay tidak berani memandang ringan, apa lagi pada waktu itu Hek Tok Siasu juga sudah bergerak menyerangnya. Hay Hay dikeroyok dua oleh Ki Liong dan Hek-tok Sian-su sehingga mau tak mau dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepadaiannya untuk menandingi mereka.

Sementara itu, Kui Hong sudah menerjang dan menyerang Tok-ciang Bi-moli Su Bi Hwa. Karena Kui Hong amat marah kepada iblis betina itu yang pernah nyaris menghancurkan Cin-ling-pai, bahkan pernah melawan ayah bunda dan kakeknya, maka begitu menyerang dia telah mempergunakan jurus ampuh dari Thai-kek Sin-kun dengan pengerahan tenaga Thian-te Sin-ciang.

Hebat bukan main serangan Kui Hong ini, dan dalam sekali serangan itu saja Su Bi Hwa terhuyung ke belakang dan tentu dia akan celaka kalau saja pada saat itu tidak ada dua orang tosu Pek-lian-kauw yang amat tangguh karena mereka adalah dua orang tosu Pek-lian-kauw tingkat dua.

Kui Hong merasa terkejut juga ketika meyambut serangan dua orang tosu Pek-lian-kauw itu karena serangan mereka sungguh tidak boleh dipandang ringan sama sekali! Tingkat kepandaian dua orang tosu ini tidak berada di sebelah bawah tingkat kepandaian Su Bi Hwa.

Memang tidak mengherankan kalau dua orang tosu Pek-lian-kauw ini lihai, karena mereka adalah Gin Hwa Cu dan Lian Hwa Cu, dua orang tosu yang merupakan saudara-saudara seperguruan dari mendiang Pek-lian Sam-kwi. Tingkat kepandaian masing-masing hanya sedikit lebih rendah dibandingkan Kui Hong, maka setelah sekarang mereka maju berdua, ditambah lagi dengan bantuan Su Bi Hwa, tentu saja Kui Hong menjadi kewalahan.

Kalau Kui Hong terdesak oleh tiga orang pengeroyoknya, begitu pula keadaan Hay Hay. Pemuda perkasa ini mendapatkan lawan tangguh pada diri Hek-tok Sian-su, dan karena kini Hek-tok Sian-su dibantu oleh Sim Ki Liong, dia pun menjadi terdesak.

Memang semua ini telah diatur oleh Sim Ki Liong dan Su Bi Hwa. Dua orang yang cerdik dan licik ini telah memperhitungkan bahwa dengan pengeroyokan seperti itu maka mereka akan dapat mengalahkan Hay Hay dan Kui Hong.

Dengan ilmu langkah ajaibnya Jiauw-pou Poan-san, Hay Hay masih dapat menghindarkan hujan serangan dari dua orang pengeroyoknya yang tangguh. Tapi tidak demikian dengan Kui Hong yang keadaannya jauh lebih gawat.

Gadis ini juga mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, namun karena tiga orang pengeroyoknya semua memiliki ilmu kepandaian tinggi, sejak semula dia sudah repot dan setelah lewat tiga puluhan jurus saja, dia hanya bisa memutar sepasang pedangnya untuk melindungi diri tanpa mampu membalas serangan lawan sama sekali. Hok-mo Siang-kiam (Sepasang Pedang Penakluk Iblis) yang dimainkannya itulah yang sampai sekian lamanya dapat menyelamatkannya sehingga tiga batang pedang lawan belum mampu menembus benteng sinar sepasang pedangnya.

Walau pun demikian, Kui Hong maklum benar bahwa kalau hal seperti itu berkelanjutan, maka akhirnya dia akan terancam bahaya. Tidak mungkin berkelahi hanya mengandalkan pertahanan saja, tanpa mampu membalas serangan lawan. Untung bagi Kui Hong bahwa ketika dia digembleng oleh kakek dan neneknya, dia sudah menguasai ilmu meringankan tubuh yang amat hebat.

Ginkang (ilmu meringankan tubuh) dari nenek Toan Kim Hong memang luar biasa sekali, bahkan lebih hebat dibanding ginkang suaminya, Si Pendekar Sadis. Karena itu, biar pun dia terdesak dan tidak mampu membalas serangan ketiga orang pengeroyoknya, sebegitu jauhnya Kui Hong juga belum pernah terkena senjata lawan.

Pada saat yang amat gawat bagi keselamatan Kui Hong dan Hay Hay, tiba-tiba terdengar bentakan suara wanita yang amat nyaring, "Adik Kui Hong, jangan khawatir, kami datang membantu!"

"Enci Bi Lian!" Kui Hong girang bukan main melihat munculnya Bi Lian, apa lagi gadis itu datang bersama Pek Han Siong!

Thanks for reading Jodoh Si Mata Keranjang Jilid 21 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »