Social Items

PADA sore hari itu, sesudah mandi Mayang berjalan-jalan seorang diri sambil melamun di taman bunga. Sebenarnya dia sudah merasa bosan harus menipu keluarga Cang dengan berpura-pura menjadi sabahat Liong Ki dan Liong Bi. Alangkah inginnya untuk membuka rahasia mereka itu kepada keluarga Cang, bahwa yang bernama Liong Ki itu sebenarnya bernama Sim Ki Liong, sedangkan Liong Bi sama sekali bukan adiknya, namun seorang wanita bernama Su Bi Hwa. Atau dia dapat meninggalkan mereka begitu saja.

Akan tetapi di situ ada Cang Hui dan Cin Nio yang disayangnya, dan ada pula... Can Sun! Berat rasanya meninggalkan mereka. Terlebih lagi Cang Taijin adalah seorang pembesar yang bijaksana, bersikap amat baik dan lembut kepadanya. Bersama keluarga Cang dia merasa seperti bersama keluarga sendiri.

Akan tetapi cintanya terhadap Sim Ki Liong sudah lenyap sama sekali. Kini dia semakin yakin bahwa ada hubungan gelap yang memisahkan dan Su Bi Hwa. Dia merasa seperti dipermainkan saja. Kalau dahulu dia merasa iba kepada Ki Liong, mengharapkan dia akan bertobat dan kembali ke jalan benar, menjadi pendekar, kini harapannya itu lenyap sama sekali. Sim Ki Liong agaknya tidak akan mau kembali ke jalan benar.

Teringat dia akan usaha Liong Bi untuk memikat Cang Sun seperti diceritakan Cang Hui, sedangkan dia juga pernah melihat sendiri betapa Liong Ki berusaha memikat Cang Hui. Sering kali dia termenung memikirkan dua peristiwa mencurigakan itu.

Kini dia seperti menyadari apa artinya semua itu.. Agaknya Liong Ki sudah bersekongkol dengan Liong Bi. Sejak pertama mereka sudah menggunakan siasat agar dapat diterima bekerja pada keluarga Cang itu, dengan jalan Liong Ki berkedok menculik Cang Sun lalu muncul Liong Bi menolongnya. Dan kini nampak jelas bahwa mereka mempunyai cita-cita yang lebih besar lagi.

Agaknya kedua orang itu sengaja hendak memikat putera dan puteri Menteri Cang. Kalau mereka dapat menjadi menantu Menteri Cang, berarti kedudukan mereka meningkat dan menjadi kuat! Tidak, mereka tidak boleh berbuat seperti itu. Mereka tidak boleh dibiarkan saja, dan dia yang akan menentang. Kalau memang putera dan puteri Menteri Cang jatuh cinta kepada mereka, tentu saja dia tak akan mencampuri. Akan tetapi kalau Liong Ki dan Liong Bi mempergunakan daya pikat dan menggunakan sihir, apa lagi kekerasan, maka dia harus melindungi keluarga Cang.

Mayang tenggelam dalam lamunan sampai-sampai dia tidak menyadari bahwa senja telah lewat. Kini lampu-lampu telah dinyalakan oleh para petugas, malah beberapa buah lampu tiang di dalam taman juga sudah dinyalakan. Malam mulai tiba, menyelimuti bumi dengan sayap hitamnya. Semakin gelap semakin asyik pula Mayang melamun, mengenang masa lalunya sejak dia kecil sampai sekarang.

Tiba-tiba teguran lembut menyentaknya bangun dari dalam lamunan. "Mayang, engkau di sini...?"

Dia cepat bangkit kemudian membalikkan tubuh. Kiranya dia sudah berhadapan dengan penegurnya tadi, yaitu Cang Sun. Wajah Mayang menjadi kemerahan karena lamunannya tadi justru baru tiba pada diri Cang Sun. Dalam lamunan tadi dia membayangkan semua pengalamannya yang menyangkut perasaan cintanya.

Pertama kepada Hay Hay yang gagal karena pemuda itu ternyata kakaknya sendiri, ke dua cintanya kepada Sim Ki Liong yang kini pun gagal dan putus karena ternyata pemuda itu tidak berubah menjadi orang baik-baik, dan ke tiga dia sedang melamunkan Cang Sun yang dihormati dan dikagumi biar pun pemuda bangsawan itu tidak pandai silat. Dan tiba-tiba orangnya muncul, seperti menjawab lamunannya saja. Tentu kemunculan tiba-tiba ini membuatnya kaget dan juga tersipu.

"Ahh, kiranya Cang-kongcu (tuan muda Cang)..." katanya sambil tersenyum, sudah dapat memulihkan dan menenangkan hatinya.

Melihat gadis itu memberi hormat kemudian hendak melangkah pergi meninggalkannya, Cang Sun berkata lembut. "Mayang, jangan pergi, aku ingin bicara denganmu."

Mayang menahan langkahnya dan memandang kepada pemuda itu dengan mata penuh pertanyaan. Lampu taman yang muram membuat mereka seperti baying-bayang, namun dalam jarak dekat mereka dapat saling memandang dengan cukup jelas. Mayang melihat betapa wajah pemuda itu sangat bersungguh-sungguh, seolah ada urusan penting sekali yang hendak dibicarakan dengannya.

"Ada urusan apakah, Kongcu?" tanyanya sambil melangkah maju mendekat.

"Duduklah, Mayang, agar kita dapat bicara dengan santai."

Mayang mengangguk, lalu duduk di atas bangku. Pemuda itu pun duduk di atas bangku lain, berhadapan dengannya dalam jarak tiga meter. Angin malam bersilir sejuk, dan bulan mulai muncul di timur, melumasi puncak-puncak pohon dengan emas.

"Nah, katakan, ada urusan apa, Cang-kongcu?" tanya pula Mayang, kini jantungnya agak berdebar karena selama dia berada di istana keluarga Menteri Cang, baru sekali inilah dia duduk berdua saja dengan pemuda itu.

"Mayang, sebelumnya aku minta maaf kalau urusan yang hendak kubicarakan ini ternyata tidak berkenan di hatimu, apa lagi kalau sampai menyinggungmu. Maukah engkau berjanji sebelumnya bahwa engkau akan memaafkan aku?"

Gadis itu terbelalak namun matanya tetap sipit lucu dan mulutnya tersenyum ramah, lalu mengangguk. "Tentu saja, Kongcu."

"Dan maukah engkau berjanji akan menjawab semua pertanyaanku dengan terus terang, apa adanya?"

Mayang kembali mencoba melebarkan matanya yang sipit. "Aihh, ada apa sih, Kongcu? Engkau membuat aku tegang. Tentu saja aku akan menjawab sejujurnya."

"Mayang, kemarin aku mendengar dari adikku Cang Hui bahwa engkau tidak bertunangan dengan Liong Ki. Benarkah apa yang dikatakan adikku itu?"

Mayang merasa betapa jantungnya berdebar tegang. Kenapa pemuda ini menanyakan hal itu? Tapi dia sudah berjanji akan menjawab dengan jujur dan memaafkan jika tersinggung, maka dia pun mengangguk.

"Benar, Kongcu."

Wajah pemuda itu nampak cerah dan bersemangat sesudah dia mendengar jawaban ini. "Kalau begitu benar! Sungguh tidak kusangka sama sekali, Mayang. Tadinya aku mengira bahwa engkau benar-benar tunangan dan calon isteri Liong Ki!"

"Kami hanya sahabat, Kongcu. Kami akrab sebagai sahabat."

"Sekarang pertanyaanku yang ke dua, harap kau jawab dengan sejujurnya, Mayang. Biar pun ternyata kalian tidak bertunangan, tetapi apakah kalian saling mencinta? Maksudku, apakah engkau cinta kepada Liong Ki?"

Mayang mengerutkan alisnya dan menatap tajam wajah pemuda itu. 鈥淜ongcu, aku sudah berjanji akan memaafkan semua ketersinggungan dan menjawab sejujurnya, akan tetapi setidaknya aku ingin sekali tahu mengapa Kongcu hendak mengetahui rahasia pribadiku, hal-hal yang menyangkut perasaan hatiku? Apa hubungan semua itu dengan Kongcu?"

"Hubungannya erat sekali, Mayang. Jawablah dulu sejujurnya, baru nanti akan kujelaskan kepadamu kenapa aku mengajukan semua pertanyaanku ini. Nah, kuulangi pertanyaanku, apakah engkau mencinta Liong Ki?"

Mayang menguatkan perasaan hatinya. "Kongcu minta supaya aku menjawab sejujurnya. Apa bila aku mengatakan tidak mencintanya, maka jawaban itu bohong, akan tetapi kalau aku mengatakan mencintanya, itu pun tidak benar. Sesungguhnya begini, Kongcu. Pernah aku tertarik dan suka padanya, bahkan mencintanya dan mau berkorban untuknya, akan tetapi akhir-akhir ini cintaku terhadap dirinya pudar dan luntur. Nah, itulah jawabanku yang sesungguhnya. Saat ini aku tidak berbohong kalau kukatakan bahwa aku tidak cinta lagi kepadanya."

Cang Sun mengerutkan alisnya. "Ehh? Apakah cinta bisa berubah-ubah, apakah dari cinta akan timbul benci? Mengapa begitu, Mayang? Ataukah engkau tidak dapat dan tidak mau memberi penjelasan mengapa cintamu terhadap Liong Ki berubah?"

"Kongcu, cinta tak mungkin bertepuk sebelah tangan. Tadinya aku menyangka bahwa dia betul-betul mencinta diriku, akan tetapi setelah aku mengetahui dengan penuh keyakinan bahwa dia hanya mempunyai cinta nafsu birahi belaka, aku sadar bahwa dia bukanlah pria yang kudambakan menjadi jodohku. Nah, hanya itulah yang dapat kukatakan kepadamu, Kongcu, dan semua jawabanku itu adalah sejujurnya seperti yang kujanjikan tadi."

Sepasang mata pemuda itu bersinar girang mendengar jawaban Mayang, lalu dia berkata. "Sekarang tiba giliranku untuk menjelaskan mengapa aku ingin sekali mengetahui urusan pribadimu. Begini, Mayang, orang tuaku selalu mendesak aku untuk menikah, akan tetapi aku belum bisa mentaati perintah mereka karena aku belum mendapatkan seorang gadis yang kuanggap cocok untuk menjadi sisihanku, belum ada gadis yang kucinta... "

"Aku mendengar dari adik Cang Hui bahwa engkau sangat mencinta enci Cia Kui Hong, Kongcu." Mayang memotong.

Cang Sun tidak terkejut atau heran mendengar ini. Dari Cang Hui dia sudah tahu bahwa pergaulan antara adiknya dan Mayang amatlah eratnya sehingga mungkin saja Cang Hui menceritakan segala tentang dirinya.

"Memang benar, Mayang. Akan tetapi seperti yang kau katakan tadi, cinta tidak mungkin bertepuk sebelah tangan. Aku mencintanya, akan tetapi dia tidak membalas cintaku, dan dengan terus terang dia mengakui bahwa dia mencinta pemuda lain. Aku memaklumi dan mencoba untuk melupakannya, akan tetapi sia-sia saja. Setiap kali ayah dan ibu hendak menjodohkan aku dengan seorang gadis, aku selalu menolak karena aku teringat kepada Kui Hong, biar pun aku sudah tidak mengharapkannya lagi. Kemudian muncullah engkau, Mayang. Aku seolah melihat Kui Hong di dalam dirimu, seolah menemukan pengganti Kui Hong. Aku langsung jatuh cinta padamu, Mayang. Akan tetapi ketika mendengar bahwa engkau adalah tunangan Liong Ki, tentu saja aku mundur dengan penuh kekecewaan dan kepahitan. Kemudian kemarin aku mendengar dari Cang Hui bahwa ternyata engkau tidak bertunangan dengan Liong Ki, maka semangat serta harapanku hidup kembali, Mayang, dan kini aku sengaja menemuimu untuk berbicara sejujurnya. Mayang, aku cinta padamu. Mungkinkah hatiku dan hatimu yang keduanya merupakan korban cinta yang gagal dapat dipersatukan, kita saling menghibur, saling mengobati dan saling mengisi?"

Mayang tertegun, mukanya menunduk dan jantungnya berdebar. Tak disangkanya sama sekali bahwa Cang Sun akan membuat pengakuan cinta yang demikian terbuka dan jujur. Di dasar hatinya dia merasa bangga dan senang karena dia sendiri memang mengagumi pemuda ini. Akan tetapi, bagaimana mungkin dia dapat membalas cinta Cang Sun?

Banyak hal mengenai dirinya yang belum diketahui pemuda bangsawan itu. Pertama, dia adalah anak Ang-hong-cu, seorang penjahat besar yang amat terkenal. Ke dua, dia hidup sebatang kara, seorang gadis miskin dengan seorang ibu yang janda dan tinggal jauh di puncak Awan Kelabu, di pegunungan Ning-jing-san dekat perbatasan Tibet. Yang ke tiga, dan hal ini merupakan hal yang paling gawat, dia memasuki istana keluarga Menteri Cang dengan cara yang curang dan rendah, betapa Liong Ki dan Liong Bi bersiasat menolong Cang Sun sehingga mereka diterima bekerja di sana dan dia terbawa masuk. Semua ini harus dia ceritakan kepada Cang Sun! Sebelum pemuda itu mengetahui segala hal ini dan mau memaafkannya, bagaimana mungkin dia berani menerima uluran cintanya?

"Mayang, mengapa engkau diam saja dan hanya menunduk? Pandanglah aku, jawablah. Aku sudah bersikap sejujurnya kepadamu, dan kuharap engkau juga bersikap jujur. Aku telah siap andai kata aku harus menderita gagal cinta untuk ke dua dan terakhir kali. Jika engkau memang tidak ada perasaan cinta kepadaku dan tidak dapat menerima cintaku, katakan saja terus terang, aku tidak akan menyalahkanmu. Engkau seorang gadis yang gagah perkasa dan berilmu tinggi, sedangkan aku hanya seorang pemuda yang lemah..."

"Kongcu, jangan berkata demikian," Mayang memotong cepat, lalu mengangkat muka dan memandang, dan suaranya agak gemetar, "biar pun engkau seorang pemuda sastrawan yang tidak pernah belajar ilmu silat, namun aku kagum kepadamu, aku menghormatimu dan aku suka padamu. Akan tetapi tentang cinta, bagaimana seorang gadis seperti aku ini berani? Seperti seekor burung gagak dengan seekor burung dewata. Kongcu, berilah aku waktu beberapa hari. Pernyataan Kongcu ini terlalu tiba-tiba bagiku, tak tersangka-sangka sehingga membuat aku bingung..."

Cang Sun mengangguk dan tersenyum, lalu bangkit berdiri. "Baiklah, Mayang. Aku juga mengerti bahwa sebagai seorang gadis, tidaklah semudah itu kau mengaku tentang cinta. Gunakan waktumu untuk berpikir dan mengambil keputusan, aku tidak tergesa-gesa. Dan kalau engkau merasa sungkan untuk menyampaikannya kepadaku, boleh kau sampaikan lewat adikku Hui-moi, karena engkau lebih akrab dengannya. Nah, sekarang aku harus pergi. Tidak baik bagimu kalau terlihat orang lain kita berdua saja di sini."

Pemuda itu meninggalkan taman dan Mayang terus mengikuti langkahnya yang tegap dari belakang. Jantungnya berdebar keras. Dia mencintaku! Cang Sun mencintaku! Demikian hati itu bersorak. Akan tetapi, ia merasa rendah diri, juga merasa khawatir sekali.

Bagaimana kalau kelak Cang Sun mengetahui siapa dirinya lalu memutuskan cintanya? Mengapa tidak tadi saja dia berterus terang? Akan tetapi sekali berterus terang maka dia harus membongkar semua rahasia Liong Ki dan Liong Bi dan tentu terjadi kegemparan. Dan rasanya terlalu berat baginya kalau perasaan bahagia karena pengakuan cinta Cang Sun ini dihancurkan oleh kenyataan tentang dirinya yang membuat Cang Sun menjauhkan diri. Mengerikan jika sampai terjadi demikian. Maka biarlah untuk sementara waktu ini dia menikmati perasaan ini, perasaan bahwa dia dicinta oleh Cang Sun, pemuda yang diam-diam dikaguminya itu.

Malam itu di kamarnya Mayang tidak dapat tidur pulas sampai jauh malam, hanya rebah telentang sambil melamun. Setelah akhirnya pulas, dia bermimpi indah, bersama Cang Sun dia berlayar mengarungi samudera luas, hanya berdua saja dan segala kebahagiaan menyelimuti mereka berdua.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Menteri Cang memanggil Liong Ki, Liong Bi dan juga Mayang menghadap. "Hari ini kami hendak melaksanakan tugas perjalanan ke utara yang akan memakan waktu kurang lebih satu bulan. Oleh karena itu keselamatan seluruh keluarga kami di sini kami serahkan perlindungannya kepada kalian bertiga." Demikian pesan pembesar itu yang disanggupi oleh tiga orang pembantunya.

Kepergian Menteri Cang membuat Mayang lebih waspada mengamati gerak-gerik Liong Ki dan Liong Bi, juga Hek-tok Sian-su yang tinggal di kamar Liong Ki. Akan tetapi mereka bertiga itu tidak memperlihatkan sikap mencurigakan sehingga hatinya merasa lega. Dia pun memesan kepada Cang Hui dan Cin Nio untuk berhati-hati menjaga diri.

Mayang belum berani menceritakan kepada Cang Hui mengenai pernyataan Cang Sun kepadanya. Apa lagi Cin Nio. Dia bahkan merasa kasihan sekali terhadap Cin Nio. Cang Hui pernah bercerita kepadanya betapa Cin Nio mencinta Cang Sun dan berharap menjadi jodoh Cang Sun seperti yang diharapkan orang tua pemuda itu, namun Cang Sun tidak membalas cintanya. Cinta Cang Sun tadinya hanya pada Cia Kui Hong, namun kemudian berpindah kepadanya karena Kui Hong tidak membalas perasaannya itu. Cin Nio adalah seorang gadis yang baik, sehingga Mayang merasa kasihan dan tidak sampai hati untuk menceritakan tentang Cang Sun.

Malam itu adalah malam keempat semenjak Menteri Cang meninggalkan istananya. Cang Hui dan Cin Nio mengundang Mayang untuk makan malam di kamar mereka. Dua orang gadis bangsawan ini memang tidur sekamar, di dalam sebuah kamar besar dengan dua buah tempat tidur mereka. Makan malam dihidangkan di kamar itu oleh para pelayan yang dipimpin oleh Pek Lan, seorang pelayan kepercayaan Cang Hui.

Tiga orang gadis itu makan minum dengan gembira di dalam kamar itu, dilayani oleh Pek Lan yang menuangkan anggur dalam cawan mereka. Mereka merasa letih karena sudah beberapa malam ini mereka kurang tidur, dan kini mereka menghibur diri dengan minum anggur yang keras namun lembut. Sesudah makan dan minum beberapa cawan anggur, pipi mereka menjadi kemerahan dan sikap mereka pun lebih lincah.

"Mayang, mari kau terima pemberian selamat dariku dengan secawan anggur!" kata Cang Hui sambil memberi isyarat kepada Pek Lan yang dengan sigap segera mengisi kembali cawan mereka dengan anggur dari sebuah guci arak.

"Aihh, adik Hui, pemberian selamat untuk apa?" Mayang bertanya sambil tersenyum akan tetapi juga memandang heran.

Cang Hui yang sudah dipengaruhi hawa minuman keras tertawa. "Hi-hik-hik, ini namanya kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu! Mayang, aku sudah mendengar semua dari Sun-ko tentang kalian, hi-hik..."

Panas rasa kedua pipi Mayang mendengar ini, maka dia pun mengerling ke arah Cin Nio lantas mencela, "Ihh, adik Hui mengapa bicara urusan itu..."

Dia merasa tak enak sekali terhadap Cin Nio. Dia mengerling dan melihat betapa Cin Nio tersipu, akan tetapi dengan gagah gadis itu mengangkat cawan araknya dan berkata.

"Mayang, aku pun merasa senang sekali mendengar itu dan aku pun ingin mengucapkan selamat!"

Akan tetapi Mayang menggelengkan kepala dan menghela napas panjang. "Terima kasih atas kebaikan kalian, akan tetapi sungguh aku sendiri belum dapat mengambil keputusan dalam hal itu. Nah, mari kita minum untuk kesehatan kita bertiga!"

Setelah selesai makan mereka minum banyak dan Mayang nampak mengantuk dan lelah sekali. Beberapa kali dia harus menyembunyikan kantuknya dan menguap di balik telapak tangan.

"Mayang, kalau engkau mengantuk sekali, rebahlah dulu di pembaringanku," kata Cin Nio. Mayang bangkit.

"Sebaiknya aku kembali ke kamarku saja..." Akan tetapi ketika bangkit berdiri tubuhnya terhuyung dan cepat Cin Nio merangkulnya lalu membimbingnya ke pembaringannya.

"Engkau nampak pusing, tidurlah dulu di sini." Mayang tidak membantah karena memang dia merasa betapa kepalanya berat dan matanya sukar dibuka lagi, demikian hebat rasa kantuk menguasainya. Begitu dia merebahkan diri, tanpa membuka sepatu dan baju luar, dia pun langsung tertidur pulas!

Cin Nio dan Cang Hui saling pandang. Mereka juga merasa sangat lelah dan mengantuk, dan mereka tadi juga minum banyak anggur. Akan tetapi mereka tidaklah selelah Mayang. Mereka lalu memerintahkan Pek Lan agar memanggil pembantu dan membersihkan meja makan. Setelah para pelayan pergi, Cang Hui berkata,

"Kasihan sekali Mayang, tentu selama beberapa malam ini dia tidak pernah mengaso dan kini tertidur saking kelelahan."

"Sebaiknya malam ini biarkan dia tidur di tempatku, dan aku yang akan tidur di kamarnya. Kasihan kalau dia harus dibangunkan dan disuruh pindah kamar," kata Cin Nio dan Cang Hui mengangguk setuju.

Cin Nio membawa pedangnya dan dia pun meninggalkan kamar besar menuju ke kamar Mayang di sebelah belakang. Dia membuka pintu kamar yang hanya dirapatkan saja, lalu mengunci pintu dan memeriksa keadaan dalam kamar. Kemudian dia melepaskan sepatu dan pakaian luar, meniup padam lampu penerangan dan merebahkan diri di tempat tidur Mayang karena dia pun merasa lelah dan mengantuk akibat minum anggur terlalu banyak. Pedangnya dia letakkan di bawah bantal untuk persiapan.

Jauh lewat tengah malam nampak sesosok bayangan hitam yang mukanya tertutup oleh kain hitam, menyelinap ke dalam kamar Mayang, dengan mudah mencokel daun jendela lalu bayangan itu menyelinap masuk dan menutupkan kembali daun jendela. Gerakannya demikian gesit dan ringan, dan tidak terdengar apa-apa lagi dari dalam kamar itu sejak dia menyelinap masuk sehingga petugas-petugas yang melakukan ronda malam tidak melihat atau mendengar sesuatu.

Menjelang pagi daun pintu kamar itu dibuka dari dalam. Bayangan hitam itu menyelinap keluar dan setelah menutupkan kembali daun pintu kamar, dengan beberapa kali loncatan saja dia pun segera lenyap di kegelapan. Kini, kalau ada orang menempelkan telinganya di daun pintu, tentu dia akan mendengar lapat-lapat suara orang menangis sesenggukkan dari dalam kamar itu.

Mayang membuka matanya, terkejut dan heran melihat dirinya rebah di atas pembaringan dalam kamar Cang Hui dan Cin Nio. Cepat dia bangkit duduk dan melihat Cang Hui juga agaknya baru saja terbangun. Ia meloncat turun dan menghampiri pembaringan gadis itu.

"Apakah yang terjadi? Kenapa aku tidur di sini?" tanyanya sambil menekan-nekan kedua pelipis kepalanya karena masih terasa agak pening.

"Tidak apa-apa, Mayang. Hanya semalam engkau terlalu lelah atau terlalu banyak minum sehingga ketika rebahan di situ engkau terus pulas dan kami biarkan sampai pagi ini."

Hemm, tak mungkin dia tertidur pulas karena kelelahan atau hanya karena minum anggur! Mayang menjadi curiga sekali dan menoleh ke kanan kiri. "Mana adik Cin Nio?" tanyanya.

"Melihat engkau pulas di pembaringannya maka dia tidak tega untuk menggugahmu, dan dia pun membiarkan engkau tidur di pembaringannya, sedangkan dia sendiri pergi tidur di kamarmu."

Mayang terbelalak, mukanya berubah pucat. Dia sudah curiga. Tidak mungkin rasanya dia mabuk hanya karena minum anggur, juga tidak mungkin dia sedemikian lelahnya sampai tidur semalam suntuk tanpa bangun sebentar pun. Pasti ada hal yang tak beres, pikirnya. Dan kini Cin Nio tidur di kamarnya!

"Celaka...!" katanya dan sekali berkelebat dia sudah berlari keluar dari kamar itu, menuju ke kamarnya.

Hari masih pagi sekali, lampu-lampu penerangan masih belum dipadamkan karena di luar masih gelap. Dia tiba di depan kamarnya, lantas membuka daun pintu yang ternyata tidak terkunci dari dalam. Jantungnya berdebar penuh ketegangan.

Kamar itu agak gelap, remang-remang saja mendapat penerangan dari lampu luar kamar. Mayang menahan jeritnya ketika ia melihat tubuh yang tergantung di sudut kamar. Tubuh Cin Nio! Lehernya terikat kain ikat pinggang dan tubuh itu tergantung pada tiang. Sekali melompat Mayang sudah menyambar pedang Cin Nio yang berada di atas pembaringan, lalu melompat ke atas. Tangan kanannya memondong tubuh yang tergantung, tangan kiri membabat ikat pinggang di atas kepala gadis itu. Dia lantas melompat turun lagi sambil memondong tubuh yang masih hangat itu.

Hatinya terasa lega ketika dia merebahkan tubuh itu dan melepaskan ikatan pada leher. Cin Nio masih bernapas, biar pun tinggal satu-satu! Cepat ia mengurut sekitar leher gadis itu, perlahan-lahan dan menotok beberapa jalan darah di tengkuk dan kedua pundak.

Gadis itu kini teregah-engah namun pernapasannya mulai pulih. Mayang membuka daun jendela sehingga lampu yang tergantung di luar jendela bisa menyorot ke dalam kamar. Mayang kembali menghampiri Cin Nio yang sudah siuman. Gadis ini membuka matanya, dan dia pun menangis terisak-isak ketika melihat Mayang duduk di tepi pembaringan.

Mayang sudah melihat keadaan gadis itu. Pakaiannya tidak karuan, hampir telanjang dan di atas tilam kasur yang putih bersih nampak noda darah. Biar pun dia masih gadis namun Mayang sudah cukup dewasa untuk dapat menduga apa yang telah terjadi atas diri gadis itu.

Cin Nio sudah diperkosa orang! Dan yang lebih jelas lagi, ada orang memasuki kamarnya dengan maksud hendak memperkosa dirinya, namun yang menjadi korban bukan dirinya melainkan Cin Nio yang kebetulan bertukar tempat tidur dengannya!

"Adik Cin, siapa yang melakukannya? Katakan, siapa yang melakukan ini kepadamu?" tanyanya lirih.

Tangis Cin Nio makin menjadi-jadi. Mayang memeluknya dan berbisik di dekat telinganya, "Adik Cin, demi Tuhan, akulah yang akan membalaskan penghinaan ini, aku bersumpah! Jahanam itu sebenarnya mengarah diriku, akan tetapi engkau menjadi korban. Sekarang hentikan tangismu itu, urusan ini hanya diketahui oleh kita berdua saja. Aku berjanji akan menutup rahasia ini, bahkan adik Hui juga tidak perlu tahu. Nah, jangan menangis lagi dan cepat bereskan pakaianmu, aku akan membersihkan pembaringan."

Cin Nio maklum bahwa itulah jalan satu-satunya kecuali bila dia membunuh diri. Biar dia mati membunuh diri sekali pun, dirinya tetap tak mungkin menjadi bersih, bahkan dengan membunuh diri maka semua orang tentu akan dapat menduga apa yang telah terjadi dan dia akan dibicarakan orang, namanya akan tercemar.

Dia harus mencuci aib ini dengan darah orang yang telah menodainya, sementara itu dia menanggung aib dengan diam-diam tak diketahui orang lain kecuali Mayang, gadis yang berjanji hendak membalas dendam ini. Maka dia lalu menghentikan tangisnya, masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri, merapikan kembali pakaiannya sedangkan Mayang cepat-cepat membersihkan tempat tidur itu dan menghilangkan bekas-bekas yang dapat mencurigakan hati orang lain.

Ketika Cang Hui tiba di situ dan mengetuk pintu kamar, semua telah beres dan Cang Hui disambut oleh Mayang dan Cin Nio yang sudah dalam keadaan rapi.

"Apakah yang telah terjadi? Cin Nio, mengapa engkau kelihatan pucat?" Cang Hui segera menegur.

"Ahh, tidak ada apa-apa, adik Hui, aku hanya salah duga. Karena terbangun di kamarmu, aku menyangka sudah terjadi hal-hal yang mencurigakan. Aku lalu menggedor kamar ini sehingga adik Cin menjadi terkejut karena disangkanya telah terjadi hal-hal yang hebat."

"Benar, aku kaget oleh kedatangan Mayang secara mendadak di pagi buta," kata Cin Nio yang sudah dapat bersikap wajar.

Ketika mendapat kesempatan berbicara empat mata saja dengan Cin Nio, Mayang minta keterangan dari gadis itu. "Sekarang ceritakan, apakah yang telah terjadi, dan siapa yang telah melakukan perbuatan terkutuk itu, adik Cin."

"Kamar itu gelap, aku terbangun dan tak mampu bergerak. Aku hampir pingsan karena menderita penghinaan itu, Mayang. Aku tidak dapat melihat muka orang itu, selain gelap juga mukanya tertutup kain hitam. Dia tidak mengeluarkan kata-kata apa pun. Aku sendiri tidak mampu mengeluarkan suara karena tertotok. Kemudian... kemudian... dia membuka daun pintu dan menyelinap keluar, seperti iblis saja gerakannya, cepat sekali, dan setelah aku mampu terbebas dari totokan, aku lalu lalu...lalu..." Cin Nio menutupi muka dengan kedua tangannya.

"Ssttt, tenangkan hatimu, enci Cin. Ingat, engkau harus dapat menyimpan rahasia ini dan kuatkan hatimu. Sekarang ini pikiranmu harus selalu dipusatkan untuk membalas dendam kepada orang itu sehingga peristiwa itu tak boleh kau bayangkan lagi, kehancuran hatimu tidak boleh kelihatan oleh orang lain. Untung aku tidak terlambat datang. Kalau terlambat, tentu semua orang akan mengetahui. Percayalah, engkau menjadi korban karena diriku, maka aku bersumpah akan membalaskan dendammu ini, adik Cin."

"Terima kasih, Mayang, akan tetapi kalau bisa... aku... aku ingin membunuhnya dengan dua tanganku sendiri!" Cin Nio meraba gagang pedang dan matanya mengeluarkan sinar penuh dendam.

Mayang mengangguk. "Mudah-mudahan aku akan dapat menangkapnya. Akan tetapi ada satu hal yang ingin aku mendapat penjelasan darimu. Apakah engkau benar-benar yakin bahwa jahanam itu bukan seorang yang berperut gendut?"

Cin Nio menundukkan wajahnya yang berubah merah padam kemudian pucat. Dia pun menggelengkan kepalanya, tidak tahu kenapa Mayang bertanya demikian, tetapi dia pun malu untuk bertanya.

Mayang mengangguk-angguk lagi dan mengepal tinjunya. Biar pun tadinya dia ragu-ragu, namun kini dia merasa bahwa tidak ada orang lain lagi yang patut dicurigai kecuali Sim Ki Liong atau Liong Ki! Bukankah Liong Ki pernah mencoba untuk merayunya, mengajaknya berbuat mesum? Dan pemuda itu memang pernah menjadi seorang sesat dan jahat! Kini agaknya dia bukan bertobat dan kembali ke jalan benar, melainkan kumat kembali. Meski pun belum ada bukti kuat, namun dia akan menyelidiki sampai tuntas!

Tadinya timbul juga dugaannya bahwa kakek gendut gundul yang diaku sebagai guru oleh Ki Liong itu yang melakukannya, namun keyakinan Cin Nio bahwa pemerkosanya itu tidak gendut membuat dugaannya kembali kepada Liong Ki. Akan tetapi tanpa bukti tentu saja dia tidak mungkin dapat menuduh pemuda itu begitu saja, dan bagaimana pun juga, tentu Liong Ki akan menyangkal. Lalu tiba-tiba matanya bersinar-sinar!

Kamarnya itu sangat gelap. Selain si pemerkosa, juga Cin Nio yang tertotok tidak pernah dapat mengeluarkan suara. Besar sekali kemungkinannya bahwa si pemerkosa pun tidak tahu bahwa yang diperkosa bukan dia melainkan Cin Nio!

Dia harus bisa mempergunakan akal untuk memancing, bersikap seolah-olah dialah yang diperkosa dan dia menerima perlakuan ini sebagai hal yang telah terlanjur! Dia akan pura-pura menuntut pertanggungan jawab, hanya untuk memancing pengakuan Liong Ki bahwa dialah pemerkosa itu.

"Adik Cin, harap kau tenangkan hatimu. Aku pasti tak akan mau sudah sebelum jahanam itu berhasil kutangkap dan kuseret ke depan kakimu. Hanya saja, hal ini harus dilakukan dengan diam-diam, tidak menimbulkan keributan supaya rahasia ini jangan sampai bocor. Kau setuju, bukan?"

Cin Nio mengangguk pasrah. Dalam keadaan semacam itu hanya Mayang satu-satunya orang yang dipercayanya, satu-satunya orang yang dapat diharapkannya.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Mayang tidak memberitahu dugaannya itu kepada Cin Nio. Hal itu bahkan akan berbahaya sekali. Dia belum mempunyai bukti, dan tentu siasatnya akan gagal kalau sampai Cin Nio mendengar kemudian langsung nekat menyerang Liong Ki. Liong Ki akan menyangkal dan tidak ada bukti atau saksi yang akan dapat membuka rahasianya. Juga tak mungkin dapat memancing pengakuan Liong Ki di dalam istana itu. Kalau sampai terjadi keributan, tentu semua orang akan mengetahuinya.

Besok pagi-pagi dia hendak mengajak Liong Ki keluar kota dan berbicara di tempat sunyi, untuk memancing pengakuan Liong Ki apakah benar pemuda itu adalah pemerkosa pada malam itu. Hatinya diliputi penuh ketegangan!

Bagaimana pun juga harus dia akui bahwa Liong Ki memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Sukarlah mengalahkan pemuda itu kalau dia hanya nekat mengandalkan kepandaiannya. Apa lagi kalau ada Liong Bi yang membantunya, lebih-lebih lagi kakek gendut yang diakui sebagai gurunya itu. Dia harus berhati-hati. Apa bila terpaksa, dia akan nekat mengamuk, kalau perlu dengan berkorban nyawa.

Karena gelisah memikirkan percakapannya dengan Liong Ki besok hari, pada malam itu Mayang merasa tegang dan untuk rnenghilangkan ketegangan hatinya, dia pun memasuki taman untuk mencari angin dan udara segar. Belum lama dia berada di situ pada saat dia mendengar langkah kaki dan muncullah Cang Sun!

Agaknya pemuda ini memang ingin memberi waktu baginya untuk berpikir dan mengambil keputusan. Buktinya sejak pengakuan cintanya itu satu minggu telah lewat dan Cang Sun tidak pernah menemuinya, seakan pemuda itu sengaja bersembunyi saja untuk memberi kesempatan kepadanya untuk berpikir.

"Mayang..."

"Ahh, Kongcu...!" Mayang berkata, agak gugup karena tadi dia sedang melamun dengan hati yang tegang. "Silakan, Kongcu...," katanya sambil bangkit berdiri, dengan tangannya mempersilakan pemuda itu duduk di atas bangku.

"Mayang, apakah waktu yang kuberikan kepadamu telah cukup untuk mempertimbangkan dan mengambil keputusan? Aku selalu menanti jawabanmu, Mayang."

Mayang menunduk. Ah, andai kata tidak terjadi peristiwa mala petaka yang menimpa diri Cin Nio, agaknya tidak akan sulit baginya untuk menjawab. Kini dia sudah tahu dari sikap Cin Nio bahwa dara itu merelakan dia menerima cinta kasih Cang Sun seperti yang dilihat dan didengar ketika dia dan kedua orang gadis bangsawan itu makan bersama malam itu.

Akan tetapi hatinya sedang risau, dan dia merasa bahwa kini bukan saatnya yang tepat untuk bicara tentang cinta. Kasihan Cin Nio yang menjadi korban karena dirinya! Dan Cin Nio juga tahu akan hal itu, bahwa karena dia tidur di kamar Mayang maka mala petaka itu menimpa dirinya. Dan gadis itu sepatah kata pun tidak pernah mengeluarkan penyesalan kepadanya.

Dia merasa seperti berhutang budi kepada Cin Nio. Kalau saja malam itu Cin Nio tidak kasihan melihatnya dan membiarkan dia tidur di pembaringan gadis itu, kemudian Cin Nio yang mengalah dan tidur di kamarnya, tentu mala petaka yang menimpa dirinya itu tidak akan terjadi.

"Kongcu, aku masih bingung sekali. Pernyataan Kongcu tadi merupakan hal yang terlalu besar bagiku sehingga bingung aku menghadapinya, sukar untuk mengambil keputusan."

Cang Sun mengerutkan kedua alisnya. 鈥淢ayang, aku sudah bersikap jujur dan aku hanya mengharapkan kejujuranmu pula. Katakan saja terus terang andai kata sedikit pun engkau tidak memliki perasaan sayang kepadaku dan karenanya tidak dapat membalas cintaku. Aku tidak akan marah, tidak akan menyesal kepadamu, hanya menyesali diri sendiri yang tiada untung. Aku tidak ingin engkau membalas cintaku hanya karena merasa berhutang budi, atau hanya karena kasihan. Sungguh, Mayang, aku menghendaki kejujuran dalam urusan cinta, karena hal ini menyangkut sisa kehidupan kita sampai akhir hayat."

Mayang merasa sangat terharu. Pemuda ini memang hebat. Meski pun tidak pernah mau mempelajari ilmu silat akan tetapi bijaksana dan wawasannya jauh serta mendalam, dan dia merasa yakin bahwa pemuda seperti ini akan menjadi suami yang baik, menjadi ayah yang bijaksana.

"Lama sekali tidak, Kongcu. Aku tidak akan bersikap tidak jujur dalam hal ini, akan tetapi, terus terang saja aku sedang menghadapi persoalan yang amat sulit dan yang tidak dapat kuceritakan kepada siapa pun juga, bahkan kepadamu pun belum saatnya kuceritakan. Percayalah kepadaku, Kongcu. Aku menanggapi pernyataanmu itu dengan setulus hatiku, dan sudah pasti akan datang saatnya di mana aku akan memberi jawaban keputusanku. Harap Kongcu bersabar sampai beberapa lama lagi. Aku harap Kongcu yakin bahwa aku tidak mempermainkan Kongcu, aku bersungguh-sungguh dalam hal ini. Maukah Kongcu memberi waktu lagi kepadaku dan sebelum aku memberi jawabanku, Kongcu tidak akan bertanya sesuatu?"

"Hemm, sampai kapan, Mayang? Sampai berapa lama? Aku seorang manusia biasa, dan menunggu merupakan pekerjaan yang amat berat."

"Maafkan aku, Kongcu. Tunggulah sampai aku menyelesaikan urusan pribadiku, mudah-mudahan tidak lama lagi. Kelak kalau sudah tiba saatnya aku memberi jawaban, semua persoalan ini akan kujelaskan kepadamu. Aku yakin bahwa engkau akan membenarkan sikapku sekarang ini, Kongcu."

Cang Sun lalu tersenyum. "Mayang, setidaknya aku merasa terhibur dengan penguluran waktumu ini. Andai kata engkau menolak, sudah pasti engkau tak akan mengulur waktu. Ini aku yakin. Jadi dengan mengulur waktu berarti aku masih mempunyai harapan. Begitu, bukan?"

Wajah Mayang berubah kemerahan dan dia pun tersenyum, lalu mengangguk. "Mudah-mudahan begitu, Kongcu."

"Ha-ha-ha, wajahmu menjadi merah seperti bunga mawar tersinar matahari pagi! Baiklah, aku tidak akan membuat engkau merasa canggung, Mayang, dan takkan mengganggumu lagi. Aku berjanji bahwa selama engkau belum memberikan sendiri jawabanmu kepadaku, aku tidak akan mengganggumu lagi dengan pertanyaan dan desakanku. Selamat malam, Mayang."

"Selamat malam, Cang-kongcu."

Setelah Cang Sun pergi meninggalkannya, Mayang makin termenung. Bermacam pikiran menggeluti pikirannya, membuat dia merasa pusing. Jelas dia akan merasa berbahagia kalau sampai dipersunting Cang Sun sebagai isterinya. Betapa akan mudahnya mencintai seorang pemuda seperti itu. Memang sejak pertama kali bertemu dia sudah merasa suka dan kagum, dan dua perasaan itu mempunyai garis lurus menuju ke arah cinta kasih. Apa lagi dengan adanya ulah Sim Ki Liong, pemuda yang tadinya telah menjatuhkan hatinya.

Kekecewaan dan penyesalan hatinya melihat ulah Sim Ki Liong seolah kini sudah hilang nyerinya, terobati oleh kasih sayang Cang Sun, walau hanya baru dapat ia nikmati melalui pandang mata pemuda itu, melalui tutur katanya dan pengakuan cintanya. Sebetulnya dia merasa berbahagia sekali. Baru saja kehilangan cintanya yang dikecewakan oleh Sim Ki Liong, dia telah memperoleh penggantinya yang jauh lebih baik.

Dan betapa menyedihkan nasib Cin Nio. Baru saja Cin Nio mengalami patah hati karena cintanya ditolak oleh Cang Sun, kini tertimpa mala petaka yang hampir saja membuat dia membunuh diri. Mayang menarik napas panjang dan melamun di dalam taman itu sampai malam.

Entah berapa jam dia berdiam di taman itu, melamun sambil memandang bulan sepotong yang sudah keluar dan cukup tinggi, membuat suasana di taman itu indah sekali. Akhirnya dengan malas-malasan dia bangkit berdiri untuk kembali ke kamarnya.

Akan tetapi, ketika dia berjalan perlahan-lahan menyelinap di antara pohon-pohon bunga, tiba-tiba dia melihat dua bayangan hitam berkelebat di luar taman. Sesosok bayangan lari menuju ke kamar Cang Hui dan Cin Nio, sedangkan sesosok lagi lari menuju ke kamar Cang Sun. Berdebar rasa jantung Mayang melihat dua bayangan itu. Tentu keselamatan Cang Sun dan dua orang gadis itu terancam!

Sejenak hati Mayang menjadi bimbang. Siapa yang harus ditolongnya lebih dahulu? Akan tetapi dalam keadaan yang gawat itu tiba-tiba menyelinap akal yang dianggapnya sangat baik untuk menggagalkan niat buruk dua sosok bayangan itu. Dia cepat berlari ke gudang penyimpanan jerami untuk ransum kuda di dekat kandang kuda dan dibakarnya setumpuk jerami yang berada di luar gudang. Karena jerami itu sudah kering benar, maka sebentar saja api sudah berkobar hebat.

"Kebakaran...! Ada kebakaran...!" Mayang berteriak-teriak sambil memukuli canang tanda bahaya yang tergantung di dekat kandang. Sebentar saja gegerlah ketika semua orang berlarian keluar.

Mayang sendiri sudah cepat berlari. Pertama-tama dia lari menuju ke kamar Cang Hui dan Cin Nio karena dia sangat mengkhawatirkan nasib dua orang gadis itu. Dia masih sempat melihat sesosok bayangan hitam melompat keluar melalui jendela kamar itu. Ia mencoba untuk mengejar, tapi bayangan itu dengan gesitnya sudah menghilang di balik wuwungan rumah.

Dia melompat memasuki kamar dan cepat menutup hidungnya karena tercium bau harum yang aneh. Tahulah dia bahwa kamar itu sudah dipenuhi asap pembius! Dia menyambar selimut, cepat dikebut-kebutkan untuk mengusir asap sambil membuka pintu kamar. Asap itu pun cepat terbang pergi melalui lubang jendela dan pintu. Ketika dia menghampiri dua orang gadis itu, dia melihat mereka telah tidur pulas atau pingsan, tentu terpengaruh asap pembius yang harum seperti dupa itu.

Ketika dia teringat akan Cang Sun, dia pun cepat meloncat keluar lagi dan lari ke kamar pemuda itu. Dia menarik napas lega melihat pemuda itu tertidur sambil duduk di kursinya, meletakkan kepala di atas meja. Agaknya tadi pemuda itu belum tidur ketika bayangan hitam meniupkan asap pembius ke dalam kamarnya sehingga ia tertidur di atas kursinya. Seperti juga di kamar dua orang gadis tadi, Mayang lalu mengusir asap melalui jendela dan pintu kamar.

Beberapa orang pengawal muncul dan langsung terbatuk-batuk ketika hendak memasuki kamar. Melihat Mayang mengebut-ngebutkan selimut mengusir asap yang baunya harum menyesakkan dada, mereka lalu bertanya apa yang telah terjadi.

"Lihiap, apakah yang terjadi?"

"Entah, ada kebakaran. Rupanya ada penjahat masuk dan melepas asap beracun untuk membius Cang-kongcu."

Tiba-tiba muncul Liong Ki dan Liong Bi. Mereka kelihatan terkejut dan tegang, dan ketika melihat Mayang di luar kamar Cang Sun, Liong Ki berkata, "Wah, di kamar nona Cang Hui dan nona Teng Cin Nio juga penuh asap, akan tetapi sudah kubersihkan bersama para pengawal."

Liong Bi juga berkata, " Api yang membakar gudang sudah dapat kami padamkan. Apa yang terjadi di sini, Mayang?"

Mayang berpura-pura bersikap biasa saja walau pun di dalam hatinya, keras dugaannya bahwa dua sosok bayangan hitam yang tadi memasuki kamar Cang Sun dan kamar dua orang gadis itu adalah dua orang yang kini bicara dengan sikap seperti orang yang ikut berjasa itu.

"Hemm, rupanya ada dua orang maling hina yang mencoba-coba untuk mencuri barang berharga di kamar Cang-kongcu dan kamar kedua orang nona itu," kata Mayang sambil memandang kepada mereka.

"Heran sekali, bagaimana gudang itu bisa terbakar tanpa ada yang mengetahuinya," kata Liong Bi. "Penjaga hanya mendengar suara gaduh kemudian melihat bahwa jerami di luar gudang itu sudah terbakar besar."

"Kalau begitu tentu ada orang ketiga yang membakarnya." kata pula Mayang.

Tentu saja dia tahu benar karena yang membakarnya adalah dia sendiri. Bagaimana pun juga hatinya lega bahwa siasatnya itu telah menyelamatkan Cang Sun, Cang Hui dan Cin Nio. Kalau ia tidak melakukan siasat membakar jerami itu, bagaimana mungkin dia dapat melindungi ketiganya.

"Omitohud... apakah yang terjadi sampai ribut begini?" terdengar suara orang dan tampak Hek-tok Sian-su menghampiri mereka, dan kakek gendut ini menggosok-gosok matanya seolah baru bangun dari tidurnya.

Mayang memandang kepada kakek itu. Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, dia dapat melihat betapa kulit yang hitam kehijauan itu tidak wajar, dan dia dapat menduga bahwa tentu kakek ini memiliki ilmu sesat yang amat berbahaya.

"Ada tiga penjahat besar yang menyusup masuk ke dalam istana keluarga Cang ini," kata Mayang sambil menatap tajam wajah kakek itu.

"Omitohud..., mana penjahatnya yang begitu berani...?"

"Kalau kita baru terbangun setelah semuanya selesai, tentu para penjahatnya telah lama menyingkir," kata Mayang dengan suara mengejek. Kemudian, setelah menyuruh seorang pengawal yang dipercayanya membangunkan Cang-kongcu dan memberi keterangan apa yang telah terjadi, Mayang menghampiri Liong Ki yang berdiri agak menyendiri, kemudian dia berbisik, "Besok pagi jam delapan aku menantimu di danau. Aku ingin bicara urusan penting antara kita."

Liong Ki memandang heran, akan tetapi Mayang tidak memberi kesempatan kepadanya untuk menjawab karena gadis itu segera melangkah pergi menuju kekamar Cang Hui dan Cin Nio.

Dua orang gadis itu pun sudah sadar dan dikerumuni para pelayan yang tadi terbangun dan ikut panik. Begitu melihat Mayang, kedua orang gadis itu lalu menyuruh pergi semua pelayan. Setelah mereka hanya bertiga saja di kamar itu, Cang Hui lalu bertanya kepada Mayang.

"Mayang, apakah yang terjadi? Menurut para pelayan, kamar ini tadi penuh asap pembius dan kami berdua pingsan, dan katanya di gudang terjadi kebakaran. Mereka mendengar katanya ada dua atau tiga orang penjahat menyelundup masuk ke istana. Juga katanya kamar Sun-ko dipenuhi asap pembius seperti kamar kami. Benarkah itu? Sesungguhnya apakah yang terjadi?"

Cin Nio tidak ikut bicara, akan tetapi pandang matanya kepada Mayang penuh arti, penuh pertanyaan apakah peristiwa malam ini ada hubungannya dengan mala petaka yang telah menimpa dirinya beberapa malam yang lalu.

"Memang benar, ada dua orang penjahat menyelinap masuk dan melepas asap pembius di kamar ini dan kamar Cang-kongcu. Akan tetapi untung bahwa mereka cepat ketahuan sehingga mereka melarikan diri."

Cang Hui mengerutkan alisnya. "Mayang, sebenarnya apakah yang terjadi? Siapa mereka dan apa mau mereka itu melepaskan asap pembius di kamarku dan kamar Sun-ko?"

"Adik Hui dan adik Cin, harap kalian tenang. Aku sedang menyelidikinya dan kuharapkan dalam waktu singkat akan dapat menemukan jawabannya. Mudah-mudahan dalam waktu dua atau tiga hari ini semua urusan akan dapat kubikin terang." Berkata demikian Mayang memandang kepada Cin Nio penuh arti.

Cin Nio mengerti bahwa Mayang hendak mengatakan urusan mala petaka yang menimpa dirinya juga akan dapat dibikin terang. Hal ini berarti bahwa tentu ada hubungannya antara peristiwa malam ini dengan mala petaka yang menimpa dirinya.

Pada saat itu pula terdengar suara Cang Sun yang sudah berdiri di pintu kamar adiknya. "Mayang, sebenarnya apakah yang sudah terjadi? Aku mendengar berita yang simpang siur dari para pengawal, katanya kamarku dipenuhi asap pembius dan aku telah tak sadar di atas kursiku. Aku ingin mendengar sendiri darimu, apa sebenarnya yang telah terjadi?"

Cang Hui mendekati kakaknya. "Sun-ko, ada penjahat yang menyusup ke dalam rumah kita. Mereka melepas asap pembius di kamarku dan kamarmu, tentu dengan niat buruk terhadap kita. Dan ada yang membakar jerami di dekat gudang. Untung Mayang segera datang mengusir asap itu dan berteriak-teriak sehingga para pengawal berdatangan. Dua penjahat itu kini telah melarikan diri."

"Mayang, apa artinya semua ini?" tanya Cang Sun sambil memandang kepada Mayang. Agaknya keterangan adiknya masih belum memuaskan hatinya dan dia ingin mendengar sendiri keterangan Mayang.

"Artinya bahwa ada penyerang gelap mengancam keluarga Cang, Kongcu, dan aku akan mencoba untuk membikin terang perkara ini."

Cang Sun menatap wajah gadis itu penuh selidik. "Apakah ini ada hubungannya dengan urusan pribadimu itu?"

Mayang mengangguk. "Sekarang belum saatnya aku bicara banyak, Kongcu. Bersabarlah beberapa hari lagi, pasti aku akan dapat membongkar semua urusan ini." Setelah berkata demikian, Mayang segera meninggalkan mereka, kembali ke kamarnya karena dia tidak ingin percakapannya tadi didengar orang lain.

********************

Pada hari-hari biasa danau di luar kota raja itu sepi saja. Apa lagi pada pagi hari itu, bukan waktunya orang berlibur. Para pemilik perahu yang biasanya menyewakan perahu pada para tamu di hari-hari yang ramai, pada hari sepi itu menggunakan perahu mereka untuk mencoba peruntungan mencari ikan di tengah danau.

Sejak awal sekali Mayang telah berada di tepi danau, memandang ke arah timur, ke arah kota raja. Akhirnya orang yang dinanti-nanti sejak pagi tadi muncul. Sim Ki Liong berjalan seorang diri menuju telaga dan dia segera dapat melihat Mayang karena gadis itu sengaja naik ke atas tepi danau yang menonjol tinggi.

Mayang melambaikan tangan dan Sim Ki Liong atau Liong Ki berlari menuju ke tempat itu. Tetapi setelah pemuda itu dekat, Mayang memberi isyarat agar Ki Liong mengikutinya dan dia pun berlari memasuki sebuah hutan yang berada di sebuah bukit kecil. Tempat itu sunyi dan tak nampak seorang pun manusia lain. Mayang ingin berbicara dengan Sim Ki Liong di tempat sepi agar jangan terdengar orang lain.

Diam-diam hatinya merasa tegang sekali karena kalau benar seperti yang disangkanya bahwa Sim Ki Liong pelaku pemerkosaan terhadap diri Cin Nio, maka hal itu merupakan kepastian baginya untuk bertindak, menganggap Ki Liong sebagai musuh. Mungkin akan terjadi bentrokan antara dia dan Ki Liong, dan dia sudah siap siaga untuk menghadapinya. Dan sekali ini dia pasti tidak akan tinggal diam.

Akan dibukanya rahasia Sim Ki Liong dan Su Bi Hwa kepada Menteri Cang agar kedua orang itu tidak lagi diterima sebagai pembantu, bahkan ditangkap karena dahulu mereka mengatur siasat menculik kemudian menolong Cang Sun. Ia harus membuat perhitungan dengan Sim Ki Liong yang telah mengkhianatinya, mengkhianati cintanya.

Setelah tiba di tempat terbuka di puncak bukit, dikelilingi hutan kecil, Mayang berhenti dan menunggu Sim Ki Liong yang mengejarnya. Kini mereka berdiri berhadapan, dalam jarak empat meter. Ki Liong tersenyum memandang kepada Mayang, senyum yang penuh arti.

"Mayang, engkau mengundangku datang ke sini, agaknya hendak bicara penting sekali. Ada urusan apakah, sayang?"

Kata-kata dan nada suaranya terasa oleh Mayang seperti sebatang pisau yang menusuk jantungnya, namun dia pura-pura tidak merasakannya, bahkan dia menekan perasaannya sehingga suaranya terdengar datar dan biasa tanpa emosi.

"Liong-ko, aku mengundangmu ke sini agar dapat bicara berdua denganmu. Aku hendak menuntut pertanggungan jawabmu terhadap diriku!"

Ki Liong tersenyum, lantas maju selangkah. "Tentu saja, Mayang. Pertanggungan jawab yang bagaimana yang kau maksudkan? Jelaskanlah, sayang."

Mayang mengerutkan alisnya dan mengambil sikap pura-pura marah. "Liong-ko, sesudah apa yang kau lakukan kepadaku beberapa malam yang lalu, kini engkau masih pura-pura bertanya pertanggungan jawab apa yang kumaksudkan?" Sesudah berkata demikian dia memandang penuh selidik, dan ini bukan lagi bersandiwara karena memang ia ingin sekali mengetahui reaksi dari pemuda itu ketika mendengar ucapannya ini.

Mendengar ucapan itu, Sim Ki liong tertawa. "Ha-ha-ha, kiranya itu yang kau maksudkan? Aihh..., Mayang, bukankah sudah lama sekali kita saling mencinta? Tentu saja aku akan mempertanggung jawabkan. Sudah berani berbuat tentu aku berani bertanggung jawab. Nah, katakan, apa yang harus kulakukan untukmu?"

Ki Liong bersikap menantang sambil tersenyum. Pandang matanya jelas membayangkan perasaan senang. Agaknya hatinya amat girang melihat Mayang tidak marah. Akan tetapi jawaban itu masih belum memuaskan atau belum meyakinkan hati gadis itu.

"Liong-ko, engkau sudah menodai seorang gadis dan sekarang masih bertanya apa yang harus kau lakukan? Begitu bodohkan engkau, atau memang tidak peduli akan nasibku?" Dia memancing lagi.

"Mayang, kekasihku. Semenjak dulu aku selalu mencintamu. Jangan katakan bahwa aku menodaimu, sayang. Malam itu aku hanya ingin membuktikan rasa cintaku padamu. Nah, malam itu kita telah menjadi suami isteri yang sah. Kini engkau menghendaki pernikahan, bukan? Sabarlah, Mayang, kalau sudah tiba saatnya, kita pasti akan menikah. Heh-heh-heh...!"

Akan tetapi, suara tawanya terhenti seketika ketika tiba-tiba saja terjadi perubahan dalam sikap Mayang. Sepasang mata itu mencorong laksana mengeluarkan api, lantas tangan Mayang sudah menyambar ke depan, meluncur seperti ular dan mematuk ke arah leher Ki Liong.

"Haiiiiittttt...!"

"Ahh... ahhh...!" Sim Ki Liong terkejut setengah mati. Biar pun dia amat lihai, akan tetapi datangnya serangan itu demikian tiba-tiba.

Tubuh Mayang menerjang dengan sangat cepatnya, karena pukulan yang dilancarkan itu adalah ilmu pukulan Hek-coa-tok-ciang (Tangan Beracun Ular Hitam) yang sangat ampuh. Tak ada kesempatan bagi Ki Liong untuk menangkis lagi, karena itu sambil mengeluarkan teriakan nyaring dia segera melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik sampai lima kali, baru dia dapat terlepas dari ancaman maut pukulan beruntun yang dilakukan Mayang kepadanya.

"Heiiii, Mayang! Ada apakah engkau ini? Gilakah engkau? Bukankah kita sudah menjadi suami isteri dan...?"

"Jahanam busuk! Kiranya benar engkau yang melakukannya! Keparat terkutuk! Sekarang aku jadi yakin bahwa yang berniat busuk terhadap Cang Hui dan Cang-kongcu tadi malam tentulah engkau dan komplotanmu, pelacur hina Su Bi Hwa itu! Sekarang terbuka semua kedokmu, jahanam! Aku pasti akan membuka rahasiamu kepada Menteri Cang!"

Wajah Sim Ki Liong berubah pucat mendengar ini. " Aih, Mayang, kenapa engkau berkata demikian? Ingat, engkau telah menjadi isteriku! Engkau sudah tidak gadis lagi. Jika bukan aku yang mengawinimu kelak, apakah engkau ingin menjadi seorang yang menderita aib selama hidupmu?"

"Sim Ki Liong, iblis busuk! Aku sudah buta dan bodoh menganggap seorang manusia iblis macam engkau akan bertobat dan kembali ke jalan benar. Kiranya engkau hanya menipu dan mempermainkan aku! Huh, jangan kau sangka bahwa akan mudah saja bagimu untuk menghinaku. Yang kau perkosa pada malam itu bukanlah aku!"

Sepasang mata Sim Ki Liong terbelalak. Dia memandang tidak percaya. "Bukan engkau? Tapi... tapi di kamarmu dan... kalau bukan engkau lalu siapa?"

Mayang tersenyum mengejek. "Tidak perlu engkau tahu siapa dia, karena saat ini pun aku akan mencabut nyawamu yang tak berharga itu!" Sambil berkata demikian Mayang telah melepaskan senjatanya yang ampuh, yaitu pecutnya yang panjang. Begitu dia mengayun pecutnya ke atas kepalanya, terdengar bunyi ledakan-ledakan kecil yang nyaring.

Pada saat itu pula muncullah Su Bi Hwa atau yang dikenal sebagai Liong Bi oleh keluarga Menteri Cang. "Hi-hi-hik, Liong-koko, sekarang engkau tahu rasa! Sudah semenjak dahulu kukatakan bahwa bocah ini berbahaya, sebaiknya dilenyapkan saja. Kalau tidak, dia tentu akan membikin ribut saja dan selalu menggagalkan semua rencana kita."

Ki Liong merasa lega melihat munculnya sekutu ini, akan tetapi juga merasa heran karena dia tidak menyangka. "Engkau pun di sini, Bi-moi?" tanyanya.

"Tentu saja! Aku tidak sebodoh engkau, Liong-ko. Aku sudah mencurigainya, maka aku telah membuat persiapan yang serba lengkap. Sekarang mari kita habiskan riwayat bocah ini agar tidak menjadi penghalang bagi kita."

Melihat munculnya Su Bi Hwa, Mayang menjadi bertambah marah. "Bagus, kau siluman betina. Memang aku pun sudah mengambil keputusan untuk membasmi siluman jahat macam engkau!"

Mayang lalu menggerakkan cambuknya dan menyerang kalang kabut. Cambuknya segera mengeluarkan suara bercuitan disusul ledakan-ledakan dan menyambar-nyambar dengan ganasnya ke arah kedua orang itu. Sim Ki Liong maklum akan kelihaian Mayang maka dia pun langsung mencabut pedangnya, demikian pula Su Bi Hwa. Mereka maju bersama dan mengeroyok Mayang dengan gerakan pedang mereka yang lihai.

Kalau hanya Su Bi Hwa seorang diri yang melawan Mayang, tentu dia akan kewalahan. Tetapi di situ ada Sim Ki Liong, murid Pendekar Sadis yang amat lihai. Baru menghadapi Sim Ki Liong seorang diri saja agaknya Mayang tidak akan mampu mengalahkannya. Kini Sim Ki Liong dibantu Su Bi Hwa, maka tentu saja sangat berat bagi Mayang untuk dapat menghadapi pengeroyokan mereka.

Akan tetapi gadis ini tak mengenal takut dan dia sudah nekat untuk melawan mati-matian. Gerakan pecut di tangannya sangat menggiriskan, setiap sambaran pecutnya merupakan sambaran maut yang mengarah nyawa lawan.

Berbeda dengan Su Bi Hwa yang, membalas serangan Mayang dengan serangan maut untuk membunuh pula, Sim Ki Liong masih agak ragu-ragu dalam serangan balasannya. Bagaimana pun juga Sim Ki Liong memang pernah tergila-gila kepada Mayang. Bahkan sampai kini belum ada wanita yang dapat menandingi daya tarik Mayang baginya.

Agaknya dia tidak tega kalau harus membunuh Mayang, dan agaknya akan membiarkan Bi Hwa saja yang membunuhnya. Karena itu gerakan pedangnya hanya untuk menangkis serangan Mayang dan mendesak gadis itu sehingga Su Bi Hwa yang nampak lebih ganas menghujankan serangan.

Jodoh Si Mata Keranjang Jilid 19

PADA sore hari itu, sesudah mandi Mayang berjalan-jalan seorang diri sambil melamun di taman bunga. Sebenarnya dia sudah merasa bosan harus menipu keluarga Cang dengan berpura-pura menjadi sabahat Liong Ki dan Liong Bi. Alangkah inginnya untuk membuka rahasia mereka itu kepada keluarga Cang, bahwa yang bernama Liong Ki itu sebenarnya bernama Sim Ki Liong, sedangkan Liong Bi sama sekali bukan adiknya, namun seorang wanita bernama Su Bi Hwa. Atau dia dapat meninggalkan mereka begitu saja.

Akan tetapi di situ ada Cang Hui dan Cin Nio yang disayangnya, dan ada pula... Can Sun! Berat rasanya meninggalkan mereka. Terlebih lagi Cang Taijin adalah seorang pembesar yang bijaksana, bersikap amat baik dan lembut kepadanya. Bersama keluarga Cang dia merasa seperti bersama keluarga sendiri.

Akan tetapi cintanya terhadap Sim Ki Liong sudah lenyap sama sekali. Kini dia semakin yakin bahwa ada hubungan gelap yang memisahkan dan Su Bi Hwa. Dia merasa seperti dipermainkan saja. Kalau dahulu dia merasa iba kepada Ki Liong, mengharapkan dia akan bertobat dan kembali ke jalan benar, menjadi pendekar, kini harapannya itu lenyap sama sekali. Sim Ki Liong agaknya tidak akan mau kembali ke jalan benar.

Teringat dia akan usaha Liong Bi untuk memikat Cang Sun seperti diceritakan Cang Hui, sedangkan dia juga pernah melihat sendiri betapa Liong Ki berusaha memikat Cang Hui. Sering kali dia termenung memikirkan dua peristiwa mencurigakan itu.

Kini dia seperti menyadari apa artinya semua itu.. Agaknya Liong Ki sudah bersekongkol dengan Liong Bi. Sejak pertama mereka sudah menggunakan siasat agar dapat diterima bekerja pada keluarga Cang itu, dengan jalan Liong Ki berkedok menculik Cang Sun lalu muncul Liong Bi menolongnya. Dan kini nampak jelas bahwa mereka mempunyai cita-cita yang lebih besar lagi.

Agaknya kedua orang itu sengaja hendak memikat putera dan puteri Menteri Cang. Kalau mereka dapat menjadi menantu Menteri Cang, berarti kedudukan mereka meningkat dan menjadi kuat! Tidak, mereka tidak boleh berbuat seperti itu. Mereka tidak boleh dibiarkan saja, dan dia yang akan menentang. Kalau memang putera dan puteri Menteri Cang jatuh cinta kepada mereka, tentu saja dia tak akan mencampuri. Akan tetapi kalau Liong Ki dan Liong Bi mempergunakan daya pikat dan menggunakan sihir, apa lagi kekerasan, maka dia harus melindungi keluarga Cang.

Mayang tenggelam dalam lamunan sampai-sampai dia tidak menyadari bahwa senja telah lewat. Kini lampu-lampu telah dinyalakan oleh para petugas, malah beberapa buah lampu tiang di dalam taman juga sudah dinyalakan. Malam mulai tiba, menyelimuti bumi dengan sayap hitamnya. Semakin gelap semakin asyik pula Mayang melamun, mengenang masa lalunya sejak dia kecil sampai sekarang.

Tiba-tiba teguran lembut menyentaknya bangun dari dalam lamunan. "Mayang, engkau di sini...?"

Dia cepat bangkit kemudian membalikkan tubuh. Kiranya dia sudah berhadapan dengan penegurnya tadi, yaitu Cang Sun. Wajah Mayang menjadi kemerahan karena lamunannya tadi justru baru tiba pada diri Cang Sun. Dalam lamunan tadi dia membayangkan semua pengalamannya yang menyangkut perasaan cintanya.

Pertama kepada Hay Hay yang gagal karena pemuda itu ternyata kakaknya sendiri, ke dua cintanya kepada Sim Ki Liong yang kini pun gagal dan putus karena ternyata pemuda itu tidak berubah menjadi orang baik-baik, dan ke tiga dia sedang melamunkan Cang Sun yang dihormati dan dikagumi biar pun pemuda bangsawan itu tidak pandai silat. Dan tiba-tiba orangnya muncul, seperti menjawab lamunannya saja. Tentu kemunculan tiba-tiba ini membuatnya kaget dan juga tersipu.

"Ahh, kiranya Cang-kongcu (tuan muda Cang)..." katanya sambil tersenyum, sudah dapat memulihkan dan menenangkan hatinya.

Melihat gadis itu memberi hormat kemudian hendak melangkah pergi meninggalkannya, Cang Sun berkata lembut. "Mayang, jangan pergi, aku ingin bicara denganmu."

Mayang menahan langkahnya dan memandang kepada pemuda itu dengan mata penuh pertanyaan. Lampu taman yang muram membuat mereka seperti baying-bayang, namun dalam jarak dekat mereka dapat saling memandang dengan cukup jelas. Mayang melihat betapa wajah pemuda itu sangat bersungguh-sungguh, seolah ada urusan penting sekali yang hendak dibicarakan dengannya.

"Ada urusan apakah, Kongcu?" tanyanya sambil melangkah maju mendekat.

"Duduklah, Mayang, agar kita dapat bicara dengan santai."

Mayang mengangguk, lalu duduk di atas bangku. Pemuda itu pun duduk di atas bangku lain, berhadapan dengannya dalam jarak tiga meter. Angin malam bersilir sejuk, dan bulan mulai muncul di timur, melumasi puncak-puncak pohon dengan emas.

"Nah, katakan, ada urusan apa, Cang-kongcu?" tanya pula Mayang, kini jantungnya agak berdebar karena selama dia berada di istana keluarga Menteri Cang, baru sekali inilah dia duduk berdua saja dengan pemuda itu.

"Mayang, sebelumnya aku minta maaf kalau urusan yang hendak kubicarakan ini ternyata tidak berkenan di hatimu, apa lagi kalau sampai menyinggungmu. Maukah engkau berjanji sebelumnya bahwa engkau akan memaafkan aku?"

Gadis itu terbelalak namun matanya tetap sipit lucu dan mulutnya tersenyum ramah, lalu mengangguk. "Tentu saja, Kongcu."

"Dan maukah engkau berjanji akan menjawab semua pertanyaanku dengan terus terang, apa adanya?"

Mayang kembali mencoba melebarkan matanya yang sipit. "Aihh, ada apa sih, Kongcu? Engkau membuat aku tegang. Tentu saja aku akan menjawab sejujurnya."

"Mayang, kemarin aku mendengar dari adikku Cang Hui bahwa engkau tidak bertunangan dengan Liong Ki. Benarkah apa yang dikatakan adikku itu?"

Mayang merasa betapa jantungnya berdebar tegang. Kenapa pemuda ini menanyakan hal itu? Tapi dia sudah berjanji akan menjawab dengan jujur dan memaafkan jika tersinggung, maka dia pun mengangguk.

"Benar, Kongcu."

Wajah pemuda itu nampak cerah dan bersemangat sesudah dia mendengar jawaban ini. "Kalau begitu benar! Sungguh tidak kusangka sama sekali, Mayang. Tadinya aku mengira bahwa engkau benar-benar tunangan dan calon isteri Liong Ki!"

"Kami hanya sahabat, Kongcu. Kami akrab sebagai sahabat."

"Sekarang pertanyaanku yang ke dua, harap kau jawab dengan sejujurnya, Mayang. Biar pun ternyata kalian tidak bertunangan, tetapi apakah kalian saling mencinta? Maksudku, apakah engkau cinta kepada Liong Ki?"

Mayang mengerutkan alisnya dan menatap tajam wajah pemuda itu. 鈥淜ongcu, aku sudah berjanji akan memaafkan semua ketersinggungan dan menjawab sejujurnya, akan tetapi setidaknya aku ingin sekali tahu mengapa Kongcu hendak mengetahui rahasia pribadiku, hal-hal yang menyangkut perasaan hatiku? Apa hubungan semua itu dengan Kongcu?"

"Hubungannya erat sekali, Mayang. Jawablah dulu sejujurnya, baru nanti akan kujelaskan kepadamu kenapa aku mengajukan semua pertanyaanku ini. Nah, kuulangi pertanyaanku, apakah engkau mencinta Liong Ki?"

Mayang menguatkan perasaan hatinya. "Kongcu minta supaya aku menjawab sejujurnya. Apa bila aku mengatakan tidak mencintanya, maka jawaban itu bohong, akan tetapi kalau aku mengatakan mencintanya, itu pun tidak benar. Sesungguhnya begini, Kongcu. Pernah aku tertarik dan suka padanya, bahkan mencintanya dan mau berkorban untuknya, akan tetapi akhir-akhir ini cintaku terhadap dirinya pudar dan luntur. Nah, itulah jawabanku yang sesungguhnya. Saat ini aku tidak berbohong kalau kukatakan bahwa aku tidak cinta lagi kepadanya."

Cang Sun mengerutkan alisnya. "Ehh? Apakah cinta bisa berubah-ubah, apakah dari cinta akan timbul benci? Mengapa begitu, Mayang? Ataukah engkau tidak dapat dan tidak mau memberi penjelasan mengapa cintamu terhadap Liong Ki berubah?"

"Kongcu, cinta tak mungkin bertepuk sebelah tangan. Tadinya aku menyangka bahwa dia betul-betul mencinta diriku, akan tetapi setelah aku mengetahui dengan penuh keyakinan bahwa dia hanya mempunyai cinta nafsu birahi belaka, aku sadar bahwa dia bukanlah pria yang kudambakan menjadi jodohku. Nah, hanya itulah yang dapat kukatakan kepadamu, Kongcu, dan semua jawabanku itu adalah sejujurnya seperti yang kujanjikan tadi."

Sepasang mata pemuda itu bersinar girang mendengar jawaban Mayang, lalu dia berkata. "Sekarang tiba giliranku untuk menjelaskan mengapa aku ingin sekali mengetahui urusan pribadimu. Begini, Mayang, orang tuaku selalu mendesak aku untuk menikah, akan tetapi aku belum bisa mentaati perintah mereka karena aku belum mendapatkan seorang gadis yang kuanggap cocok untuk menjadi sisihanku, belum ada gadis yang kucinta... "

"Aku mendengar dari adik Cang Hui bahwa engkau sangat mencinta enci Cia Kui Hong, Kongcu." Mayang memotong.

Cang Sun tidak terkejut atau heran mendengar ini. Dari Cang Hui dia sudah tahu bahwa pergaulan antara adiknya dan Mayang amatlah eratnya sehingga mungkin saja Cang Hui menceritakan segala tentang dirinya.

"Memang benar, Mayang. Akan tetapi seperti yang kau katakan tadi, cinta tidak mungkin bertepuk sebelah tangan. Aku mencintanya, akan tetapi dia tidak membalas cintaku, dan dengan terus terang dia mengakui bahwa dia mencinta pemuda lain. Aku memaklumi dan mencoba untuk melupakannya, akan tetapi sia-sia saja. Setiap kali ayah dan ibu hendak menjodohkan aku dengan seorang gadis, aku selalu menolak karena aku teringat kepada Kui Hong, biar pun aku sudah tidak mengharapkannya lagi. Kemudian muncullah engkau, Mayang. Aku seolah melihat Kui Hong di dalam dirimu, seolah menemukan pengganti Kui Hong. Aku langsung jatuh cinta padamu, Mayang. Akan tetapi ketika mendengar bahwa engkau adalah tunangan Liong Ki, tentu saja aku mundur dengan penuh kekecewaan dan kepahitan. Kemudian kemarin aku mendengar dari Cang Hui bahwa ternyata engkau tidak bertunangan dengan Liong Ki, maka semangat serta harapanku hidup kembali, Mayang, dan kini aku sengaja menemuimu untuk berbicara sejujurnya. Mayang, aku cinta padamu. Mungkinkah hatiku dan hatimu yang keduanya merupakan korban cinta yang gagal dapat dipersatukan, kita saling menghibur, saling mengobati dan saling mengisi?"

Mayang tertegun, mukanya menunduk dan jantungnya berdebar. Tak disangkanya sama sekali bahwa Cang Sun akan membuat pengakuan cinta yang demikian terbuka dan jujur. Di dasar hatinya dia merasa bangga dan senang karena dia sendiri memang mengagumi pemuda ini. Akan tetapi, bagaimana mungkin dia dapat membalas cinta Cang Sun?

Banyak hal mengenai dirinya yang belum diketahui pemuda bangsawan itu. Pertama, dia adalah anak Ang-hong-cu, seorang penjahat besar yang amat terkenal. Ke dua, dia hidup sebatang kara, seorang gadis miskin dengan seorang ibu yang janda dan tinggal jauh di puncak Awan Kelabu, di pegunungan Ning-jing-san dekat perbatasan Tibet. Yang ke tiga, dan hal ini merupakan hal yang paling gawat, dia memasuki istana keluarga Menteri Cang dengan cara yang curang dan rendah, betapa Liong Ki dan Liong Bi bersiasat menolong Cang Sun sehingga mereka diterima bekerja di sana dan dia terbawa masuk. Semua ini harus dia ceritakan kepada Cang Sun! Sebelum pemuda itu mengetahui segala hal ini dan mau memaafkannya, bagaimana mungkin dia berani menerima uluran cintanya?

"Mayang, mengapa engkau diam saja dan hanya menunduk? Pandanglah aku, jawablah. Aku sudah bersikap sejujurnya kepadamu, dan kuharap engkau juga bersikap jujur. Aku telah siap andai kata aku harus menderita gagal cinta untuk ke dua dan terakhir kali. Jika engkau memang tidak ada perasaan cinta kepadaku dan tidak dapat menerima cintaku, katakan saja terus terang, aku tidak akan menyalahkanmu. Engkau seorang gadis yang gagah perkasa dan berilmu tinggi, sedangkan aku hanya seorang pemuda yang lemah..."

"Kongcu, jangan berkata demikian," Mayang memotong cepat, lalu mengangkat muka dan memandang, dan suaranya agak gemetar, "biar pun engkau seorang pemuda sastrawan yang tidak pernah belajar ilmu silat, namun aku kagum kepadamu, aku menghormatimu dan aku suka padamu. Akan tetapi tentang cinta, bagaimana seorang gadis seperti aku ini berani? Seperti seekor burung gagak dengan seekor burung dewata. Kongcu, berilah aku waktu beberapa hari. Pernyataan Kongcu ini terlalu tiba-tiba bagiku, tak tersangka-sangka sehingga membuat aku bingung..."

Cang Sun mengangguk dan tersenyum, lalu bangkit berdiri. "Baiklah, Mayang. Aku juga mengerti bahwa sebagai seorang gadis, tidaklah semudah itu kau mengaku tentang cinta. Gunakan waktumu untuk berpikir dan mengambil keputusan, aku tidak tergesa-gesa. Dan kalau engkau merasa sungkan untuk menyampaikannya kepadaku, boleh kau sampaikan lewat adikku Hui-moi, karena engkau lebih akrab dengannya. Nah, sekarang aku harus pergi. Tidak baik bagimu kalau terlihat orang lain kita berdua saja di sini."

Pemuda itu meninggalkan taman dan Mayang terus mengikuti langkahnya yang tegap dari belakang. Jantungnya berdebar keras. Dia mencintaku! Cang Sun mencintaku! Demikian hati itu bersorak. Akan tetapi, ia merasa rendah diri, juga merasa khawatir sekali.

Bagaimana kalau kelak Cang Sun mengetahui siapa dirinya lalu memutuskan cintanya? Mengapa tidak tadi saja dia berterus terang? Akan tetapi sekali berterus terang maka dia harus membongkar semua rahasia Liong Ki dan Liong Bi dan tentu terjadi kegemparan. Dan rasanya terlalu berat baginya kalau perasaan bahagia karena pengakuan cinta Cang Sun ini dihancurkan oleh kenyataan tentang dirinya yang membuat Cang Sun menjauhkan diri. Mengerikan jika sampai terjadi demikian. Maka biarlah untuk sementara waktu ini dia menikmati perasaan ini, perasaan bahwa dia dicinta oleh Cang Sun, pemuda yang diam-diam dikaguminya itu.

Malam itu di kamarnya Mayang tidak dapat tidur pulas sampai jauh malam, hanya rebah telentang sambil melamun. Setelah akhirnya pulas, dia bermimpi indah, bersama Cang Sun dia berlayar mengarungi samudera luas, hanya berdua saja dan segala kebahagiaan menyelimuti mereka berdua.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Menteri Cang memanggil Liong Ki, Liong Bi dan juga Mayang menghadap. "Hari ini kami hendak melaksanakan tugas perjalanan ke utara yang akan memakan waktu kurang lebih satu bulan. Oleh karena itu keselamatan seluruh keluarga kami di sini kami serahkan perlindungannya kepada kalian bertiga." Demikian pesan pembesar itu yang disanggupi oleh tiga orang pembantunya.

Kepergian Menteri Cang membuat Mayang lebih waspada mengamati gerak-gerik Liong Ki dan Liong Bi, juga Hek-tok Sian-su yang tinggal di kamar Liong Ki. Akan tetapi mereka bertiga itu tidak memperlihatkan sikap mencurigakan sehingga hatinya merasa lega. Dia pun memesan kepada Cang Hui dan Cin Nio untuk berhati-hati menjaga diri.

Mayang belum berani menceritakan kepada Cang Hui mengenai pernyataan Cang Sun kepadanya. Apa lagi Cin Nio. Dia bahkan merasa kasihan sekali terhadap Cin Nio. Cang Hui pernah bercerita kepadanya betapa Cin Nio mencinta Cang Sun dan berharap menjadi jodoh Cang Sun seperti yang diharapkan orang tua pemuda itu, namun Cang Sun tidak membalas cintanya. Cinta Cang Sun tadinya hanya pada Cia Kui Hong, namun kemudian berpindah kepadanya karena Kui Hong tidak membalas perasaannya itu. Cin Nio adalah seorang gadis yang baik, sehingga Mayang merasa kasihan dan tidak sampai hati untuk menceritakan tentang Cang Sun.

Malam itu adalah malam keempat semenjak Menteri Cang meninggalkan istananya. Cang Hui dan Cin Nio mengundang Mayang untuk makan malam di kamar mereka. Dua orang gadis bangsawan ini memang tidur sekamar, di dalam sebuah kamar besar dengan dua buah tempat tidur mereka. Makan malam dihidangkan di kamar itu oleh para pelayan yang dipimpin oleh Pek Lan, seorang pelayan kepercayaan Cang Hui.

Tiga orang gadis itu makan minum dengan gembira di dalam kamar itu, dilayani oleh Pek Lan yang menuangkan anggur dalam cawan mereka. Mereka merasa letih karena sudah beberapa malam ini mereka kurang tidur, dan kini mereka menghibur diri dengan minum anggur yang keras namun lembut. Sesudah makan dan minum beberapa cawan anggur, pipi mereka menjadi kemerahan dan sikap mereka pun lebih lincah.

"Mayang, mari kau terima pemberian selamat dariku dengan secawan anggur!" kata Cang Hui sambil memberi isyarat kepada Pek Lan yang dengan sigap segera mengisi kembali cawan mereka dengan anggur dari sebuah guci arak.

"Aihh, adik Hui, pemberian selamat untuk apa?" Mayang bertanya sambil tersenyum akan tetapi juga memandang heran.

Cang Hui yang sudah dipengaruhi hawa minuman keras tertawa. "Hi-hik-hik, ini namanya kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu! Mayang, aku sudah mendengar semua dari Sun-ko tentang kalian, hi-hik..."

Panas rasa kedua pipi Mayang mendengar ini, maka dia pun mengerling ke arah Cin Nio lantas mencela, "Ihh, adik Hui mengapa bicara urusan itu..."

Dia merasa tak enak sekali terhadap Cin Nio. Dia mengerling dan melihat betapa Cin Nio tersipu, akan tetapi dengan gagah gadis itu mengangkat cawan araknya dan berkata.

"Mayang, aku pun merasa senang sekali mendengar itu dan aku pun ingin mengucapkan selamat!"

Akan tetapi Mayang menggelengkan kepala dan menghela napas panjang. "Terima kasih atas kebaikan kalian, akan tetapi sungguh aku sendiri belum dapat mengambil keputusan dalam hal itu. Nah, mari kita minum untuk kesehatan kita bertiga!"

Setelah selesai makan mereka minum banyak dan Mayang nampak mengantuk dan lelah sekali. Beberapa kali dia harus menyembunyikan kantuknya dan menguap di balik telapak tangan.

"Mayang, kalau engkau mengantuk sekali, rebahlah dulu di pembaringanku," kata Cin Nio. Mayang bangkit.

"Sebaiknya aku kembali ke kamarku saja..." Akan tetapi ketika bangkit berdiri tubuhnya terhuyung dan cepat Cin Nio merangkulnya lalu membimbingnya ke pembaringannya.

"Engkau nampak pusing, tidurlah dulu di sini." Mayang tidak membantah karena memang dia merasa betapa kepalanya berat dan matanya sukar dibuka lagi, demikian hebat rasa kantuk menguasainya. Begitu dia merebahkan diri, tanpa membuka sepatu dan baju luar, dia pun langsung tertidur pulas!

Cin Nio dan Cang Hui saling pandang. Mereka juga merasa sangat lelah dan mengantuk, dan mereka tadi juga minum banyak anggur. Akan tetapi mereka tidaklah selelah Mayang. Mereka lalu memerintahkan Pek Lan agar memanggil pembantu dan membersihkan meja makan. Setelah para pelayan pergi, Cang Hui berkata,

"Kasihan sekali Mayang, tentu selama beberapa malam ini dia tidak pernah mengaso dan kini tertidur saking kelelahan."

"Sebaiknya malam ini biarkan dia tidur di tempatku, dan aku yang akan tidur di kamarnya. Kasihan kalau dia harus dibangunkan dan disuruh pindah kamar," kata Cin Nio dan Cang Hui mengangguk setuju.

Cin Nio membawa pedangnya dan dia pun meninggalkan kamar besar menuju ke kamar Mayang di sebelah belakang. Dia membuka pintu kamar yang hanya dirapatkan saja, lalu mengunci pintu dan memeriksa keadaan dalam kamar. Kemudian dia melepaskan sepatu dan pakaian luar, meniup padam lampu penerangan dan merebahkan diri di tempat tidur Mayang karena dia pun merasa lelah dan mengantuk akibat minum anggur terlalu banyak. Pedangnya dia letakkan di bawah bantal untuk persiapan.

Jauh lewat tengah malam nampak sesosok bayangan hitam yang mukanya tertutup oleh kain hitam, menyelinap ke dalam kamar Mayang, dengan mudah mencokel daun jendela lalu bayangan itu menyelinap masuk dan menutupkan kembali daun jendela. Gerakannya demikian gesit dan ringan, dan tidak terdengar apa-apa lagi dari dalam kamar itu sejak dia menyelinap masuk sehingga petugas-petugas yang melakukan ronda malam tidak melihat atau mendengar sesuatu.

Menjelang pagi daun pintu kamar itu dibuka dari dalam. Bayangan hitam itu menyelinap keluar dan setelah menutupkan kembali daun pintu kamar, dengan beberapa kali loncatan saja dia pun segera lenyap di kegelapan. Kini, kalau ada orang menempelkan telinganya di daun pintu, tentu dia akan mendengar lapat-lapat suara orang menangis sesenggukkan dari dalam kamar itu.

Mayang membuka matanya, terkejut dan heran melihat dirinya rebah di atas pembaringan dalam kamar Cang Hui dan Cin Nio. Cepat dia bangkit duduk dan melihat Cang Hui juga agaknya baru saja terbangun. Ia meloncat turun dan menghampiri pembaringan gadis itu.

"Apakah yang terjadi? Kenapa aku tidur di sini?" tanyanya sambil menekan-nekan kedua pelipis kepalanya karena masih terasa agak pening.

"Tidak apa-apa, Mayang. Hanya semalam engkau terlalu lelah atau terlalu banyak minum sehingga ketika rebahan di situ engkau terus pulas dan kami biarkan sampai pagi ini."

Hemm, tak mungkin dia tertidur pulas karena kelelahan atau hanya karena minum anggur! Mayang menjadi curiga sekali dan menoleh ke kanan kiri. "Mana adik Cin Nio?" tanyanya.

"Melihat engkau pulas di pembaringannya maka dia tidak tega untuk menggugahmu, dan dia pun membiarkan engkau tidur di pembaringannya, sedangkan dia sendiri pergi tidur di kamarmu."

Mayang terbelalak, mukanya berubah pucat. Dia sudah curiga. Tidak mungkin rasanya dia mabuk hanya karena minum anggur, juga tidak mungkin dia sedemikian lelahnya sampai tidur semalam suntuk tanpa bangun sebentar pun. Pasti ada hal yang tak beres, pikirnya. Dan kini Cin Nio tidur di kamarnya!

"Celaka...!" katanya dan sekali berkelebat dia sudah berlari keluar dari kamar itu, menuju ke kamarnya.

Hari masih pagi sekali, lampu-lampu penerangan masih belum dipadamkan karena di luar masih gelap. Dia tiba di depan kamarnya, lantas membuka daun pintu yang ternyata tidak terkunci dari dalam. Jantungnya berdebar penuh ketegangan.

Kamar itu agak gelap, remang-remang saja mendapat penerangan dari lampu luar kamar. Mayang menahan jeritnya ketika ia melihat tubuh yang tergantung di sudut kamar. Tubuh Cin Nio! Lehernya terikat kain ikat pinggang dan tubuh itu tergantung pada tiang. Sekali melompat Mayang sudah menyambar pedang Cin Nio yang berada di atas pembaringan, lalu melompat ke atas. Tangan kanannya memondong tubuh yang tergantung, tangan kiri membabat ikat pinggang di atas kepala gadis itu. Dia lantas melompat turun lagi sambil memondong tubuh yang masih hangat itu.

Hatinya terasa lega ketika dia merebahkan tubuh itu dan melepaskan ikatan pada leher. Cin Nio masih bernapas, biar pun tinggal satu-satu! Cepat ia mengurut sekitar leher gadis itu, perlahan-lahan dan menotok beberapa jalan darah di tengkuk dan kedua pundak.

Gadis itu kini teregah-engah namun pernapasannya mulai pulih. Mayang membuka daun jendela sehingga lampu yang tergantung di luar jendela bisa menyorot ke dalam kamar. Mayang kembali menghampiri Cin Nio yang sudah siuman. Gadis ini membuka matanya, dan dia pun menangis terisak-isak ketika melihat Mayang duduk di tepi pembaringan.

Mayang sudah melihat keadaan gadis itu. Pakaiannya tidak karuan, hampir telanjang dan di atas tilam kasur yang putih bersih nampak noda darah. Biar pun dia masih gadis namun Mayang sudah cukup dewasa untuk dapat menduga apa yang telah terjadi atas diri gadis itu.

Cin Nio sudah diperkosa orang! Dan yang lebih jelas lagi, ada orang memasuki kamarnya dengan maksud hendak memperkosa dirinya, namun yang menjadi korban bukan dirinya melainkan Cin Nio yang kebetulan bertukar tempat tidur dengannya!

"Adik Cin, siapa yang melakukannya? Katakan, siapa yang melakukan ini kepadamu?" tanyanya lirih.

Tangis Cin Nio makin menjadi-jadi. Mayang memeluknya dan berbisik di dekat telinganya, "Adik Cin, demi Tuhan, akulah yang akan membalaskan penghinaan ini, aku bersumpah! Jahanam itu sebenarnya mengarah diriku, akan tetapi engkau menjadi korban. Sekarang hentikan tangismu itu, urusan ini hanya diketahui oleh kita berdua saja. Aku berjanji akan menutup rahasia ini, bahkan adik Hui juga tidak perlu tahu. Nah, jangan menangis lagi dan cepat bereskan pakaianmu, aku akan membersihkan pembaringan."

Cin Nio maklum bahwa itulah jalan satu-satunya kecuali bila dia membunuh diri. Biar dia mati membunuh diri sekali pun, dirinya tetap tak mungkin menjadi bersih, bahkan dengan membunuh diri maka semua orang tentu akan dapat menduga apa yang telah terjadi dan dia akan dibicarakan orang, namanya akan tercemar.

Dia harus mencuci aib ini dengan darah orang yang telah menodainya, sementara itu dia menanggung aib dengan diam-diam tak diketahui orang lain kecuali Mayang, gadis yang berjanji hendak membalas dendam ini. Maka dia lalu menghentikan tangisnya, masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri, merapikan kembali pakaiannya sedangkan Mayang cepat-cepat membersihkan tempat tidur itu dan menghilangkan bekas-bekas yang dapat mencurigakan hati orang lain.

Ketika Cang Hui tiba di situ dan mengetuk pintu kamar, semua telah beres dan Cang Hui disambut oleh Mayang dan Cin Nio yang sudah dalam keadaan rapi.

"Apakah yang telah terjadi? Cin Nio, mengapa engkau kelihatan pucat?" Cang Hui segera menegur.

"Ahh, tidak ada apa-apa, adik Hui, aku hanya salah duga. Karena terbangun di kamarmu, aku menyangka sudah terjadi hal-hal yang mencurigakan. Aku lalu menggedor kamar ini sehingga adik Cin menjadi terkejut karena disangkanya telah terjadi hal-hal yang hebat."

"Benar, aku kaget oleh kedatangan Mayang secara mendadak di pagi buta," kata Cin Nio yang sudah dapat bersikap wajar.

Ketika mendapat kesempatan berbicara empat mata saja dengan Cin Nio, Mayang minta keterangan dari gadis itu. "Sekarang ceritakan, apakah yang telah terjadi, dan siapa yang telah melakukan perbuatan terkutuk itu, adik Cin."

"Kamar itu gelap, aku terbangun dan tak mampu bergerak. Aku hampir pingsan karena menderita penghinaan itu, Mayang. Aku tidak dapat melihat muka orang itu, selain gelap juga mukanya tertutup kain hitam. Dia tidak mengeluarkan kata-kata apa pun. Aku sendiri tidak mampu mengeluarkan suara karena tertotok. Kemudian... kemudian... dia membuka daun pintu dan menyelinap keluar, seperti iblis saja gerakannya, cepat sekali, dan setelah aku mampu terbebas dari totokan, aku lalu lalu...lalu..." Cin Nio menutupi muka dengan kedua tangannya.

"Ssttt, tenangkan hatimu, enci Cin. Ingat, engkau harus dapat menyimpan rahasia ini dan kuatkan hatimu. Sekarang ini pikiranmu harus selalu dipusatkan untuk membalas dendam kepada orang itu sehingga peristiwa itu tak boleh kau bayangkan lagi, kehancuran hatimu tidak boleh kelihatan oleh orang lain. Untung aku tidak terlambat datang. Kalau terlambat, tentu semua orang akan mengetahui. Percayalah, engkau menjadi korban karena diriku, maka aku bersumpah akan membalaskan dendammu ini, adik Cin."

"Terima kasih, Mayang, akan tetapi kalau bisa... aku... aku ingin membunuhnya dengan dua tanganku sendiri!" Cin Nio meraba gagang pedang dan matanya mengeluarkan sinar penuh dendam.

Mayang mengangguk. "Mudah-mudahan aku akan dapat menangkapnya. Akan tetapi ada satu hal yang ingin aku mendapat penjelasan darimu. Apakah engkau benar-benar yakin bahwa jahanam itu bukan seorang yang berperut gendut?"

Cin Nio menundukkan wajahnya yang berubah merah padam kemudian pucat. Dia pun menggelengkan kepalanya, tidak tahu kenapa Mayang bertanya demikian, tetapi dia pun malu untuk bertanya.

Mayang mengangguk-angguk lagi dan mengepal tinjunya. Biar pun tadinya dia ragu-ragu, namun kini dia merasa bahwa tidak ada orang lain lagi yang patut dicurigai kecuali Sim Ki Liong atau Liong Ki! Bukankah Liong Ki pernah mencoba untuk merayunya, mengajaknya berbuat mesum? Dan pemuda itu memang pernah menjadi seorang sesat dan jahat! Kini agaknya dia bukan bertobat dan kembali ke jalan benar, melainkan kumat kembali. Meski pun belum ada bukti kuat, namun dia akan menyelidiki sampai tuntas!

Tadinya timbul juga dugaannya bahwa kakek gendut gundul yang diaku sebagai guru oleh Ki Liong itu yang melakukannya, namun keyakinan Cin Nio bahwa pemerkosanya itu tidak gendut membuat dugaannya kembali kepada Liong Ki. Akan tetapi tanpa bukti tentu saja dia tidak mungkin dapat menuduh pemuda itu begitu saja, dan bagaimana pun juga, tentu Liong Ki akan menyangkal. Lalu tiba-tiba matanya bersinar-sinar!

Kamarnya itu sangat gelap. Selain si pemerkosa, juga Cin Nio yang tertotok tidak pernah dapat mengeluarkan suara. Besar sekali kemungkinannya bahwa si pemerkosa pun tidak tahu bahwa yang diperkosa bukan dia melainkan Cin Nio!

Dia harus bisa mempergunakan akal untuk memancing, bersikap seolah-olah dialah yang diperkosa dan dia menerima perlakuan ini sebagai hal yang telah terlanjur! Dia akan pura-pura menuntut pertanggungan jawab, hanya untuk memancing pengakuan Liong Ki bahwa dialah pemerkosa itu.

"Adik Cin, harap kau tenangkan hatimu. Aku pasti tak akan mau sudah sebelum jahanam itu berhasil kutangkap dan kuseret ke depan kakimu. Hanya saja, hal ini harus dilakukan dengan diam-diam, tidak menimbulkan keributan supaya rahasia ini jangan sampai bocor. Kau setuju, bukan?"

Cin Nio mengangguk pasrah. Dalam keadaan semacam itu hanya Mayang satu-satunya orang yang dipercayanya, satu-satunya orang yang dapat diharapkannya.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Mayang tidak memberitahu dugaannya itu kepada Cin Nio. Hal itu bahkan akan berbahaya sekali. Dia belum mempunyai bukti, dan tentu siasatnya akan gagal kalau sampai Cin Nio mendengar kemudian langsung nekat menyerang Liong Ki. Liong Ki akan menyangkal dan tidak ada bukti atau saksi yang akan dapat membuka rahasianya. Juga tak mungkin dapat memancing pengakuan Liong Ki di dalam istana itu. Kalau sampai terjadi keributan, tentu semua orang akan mengetahuinya.

Besok pagi-pagi dia hendak mengajak Liong Ki keluar kota dan berbicara di tempat sunyi, untuk memancing pengakuan Liong Ki apakah benar pemuda itu adalah pemerkosa pada malam itu. Hatinya diliputi penuh ketegangan!

Bagaimana pun juga harus dia akui bahwa Liong Ki memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Sukarlah mengalahkan pemuda itu kalau dia hanya nekat mengandalkan kepandaiannya. Apa lagi kalau ada Liong Bi yang membantunya, lebih-lebih lagi kakek gendut yang diakui sebagai gurunya itu. Dia harus berhati-hati. Apa bila terpaksa, dia akan nekat mengamuk, kalau perlu dengan berkorban nyawa.

Karena gelisah memikirkan percakapannya dengan Liong Ki besok hari, pada malam itu Mayang merasa tegang dan untuk rnenghilangkan ketegangan hatinya, dia pun memasuki taman untuk mencari angin dan udara segar. Belum lama dia berada di situ pada saat dia mendengar langkah kaki dan muncullah Cang Sun!

Agaknya pemuda ini memang ingin memberi waktu baginya untuk berpikir dan mengambil keputusan. Buktinya sejak pengakuan cintanya itu satu minggu telah lewat dan Cang Sun tidak pernah menemuinya, seakan pemuda itu sengaja bersembunyi saja untuk memberi kesempatan kepadanya untuk berpikir.

"Mayang..."

"Ahh, Kongcu...!" Mayang berkata, agak gugup karena tadi dia sedang melamun dengan hati yang tegang. "Silakan, Kongcu...," katanya sambil bangkit berdiri, dengan tangannya mempersilakan pemuda itu duduk di atas bangku.

"Mayang, apakah waktu yang kuberikan kepadamu telah cukup untuk mempertimbangkan dan mengambil keputusan? Aku selalu menanti jawabanmu, Mayang."

Mayang menunduk. Ah, andai kata tidak terjadi peristiwa mala petaka yang menimpa diri Cin Nio, agaknya tidak akan sulit baginya untuk menjawab. Kini dia sudah tahu dari sikap Cin Nio bahwa dara itu merelakan dia menerima cinta kasih Cang Sun seperti yang dilihat dan didengar ketika dia dan kedua orang gadis bangsawan itu makan bersama malam itu.

Akan tetapi hatinya sedang risau, dan dia merasa bahwa kini bukan saatnya yang tepat untuk bicara tentang cinta. Kasihan Cin Nio yang menjadi korban karena dirinya! Dan Cin Nio juga tahu akan hal itu, bahwa karena dia tidur di kamar Mayang maka mala petaka itu menimpa dirinya. Dan gadis itu sepatah kata pun tidak pernah mengeluarkan penyesalan kepadanya.

Dia merasa seperti berhutang budi kepada Cin Nio. Kalau saja malam itu Cin Nio tidak kasihan melihatnya dan membiarkan dia tidur di pembaringan gadis itu, kemudian Cin Nio yang mengalah dan tidur di kamarnya, tentu mala petaka yang menimpa dirinya itu tidak akan terjadi.

"Kongcu, aku masih bingung sekali. Pernyataan Kongcu tadi merupakan hal yang terlalu besar bagiku sehingga bingung aku menghadapinya, sukar untuk mengambil keputusan."

Cang Sun mengerutkan kedua alisnya. 鈥淢ayang, aku sudah bersikap jujur dan aku hanya mengharapkan kejujuranmu pula. Katakan saja terus terang andai kata sedikit pun engkau tidak memliki perasaan sayang kepadaku dan karenanya tidak dapat membalas cintaku. Aku tidak akan marah, tidak akan menyesal kepadamu, hanya menyesali diri sendiri yang tiada untung. Aku tidak ingin engkau membalas cintaku hanya karena merasa berhutang budi, atau hanya karena kasihan. Sungguh, Mayang, aku menghendaki kejujuran dalam urusan cinta, karena hal ini menyangkut sisa kehidupan kita sampai akhir hayat."

Mayang merasa sangat terharu. Pemuda ini memang hebat. Meski pun tidak pernah mau mempelajari ilmu silat akan tetapi bijaksana dan wawasannya jauh serta mendalam, dan dia merasa yakin bahwa pemuda seperti ini akan menjadi suami yang baik, menjadi ayah yang bijaksana.

"Lama sekali tidak, Kongcu. Aku tidak akan bersikap tidak jujur dalam hal ini, akan tetapi, terus terang saja aku sedang menghadapi persoalan yang amat sulit dan yang tidak dapat kuceritakan kepada siapa pun juga, bahkan kepadamu pun belum saatnya kuceritakan. Percayalah kepadaku, Kongcu. Aku menanggapi pernyataanmu itu dengan setulus hatiku, dan sudah pasti akan datang saatnya di mana aku akan memberi jawaban keputusanku. Harap Kongcu bersabar sampai beberapa lama lagi. Aku harap Kongcu yakin bahwa aku tidak mempermainkan Kongcu, aku bersungguh-sungguh dalam hal ini. Maukah Kongcu memberi waktu lagi kepadaku dan sebelum aku memberi jawabanku, Kongcu tidak akan bertanya sesuatu?"

"Hemm, sampai kapan, Mayang? Sampai berapa lama? Aku seorang manusia biasa, dan menunggu merupakan pekerjaan yang amat berat."

"Maafkan aku, Kongcu. Tunggulah sampai aku menyelesaikan urusan pribadiku, mudah-mudahan tidak lama lagi. Kelak kalau sudah tiba saatnya aku memberi jawaban, semua persoalan ini akan kujelaskan kepadamu. Aku yakin bahwa engkau akan membenarkan sikapku sekarang ini, Kongcu."

Cang Sun lalu tersenyum. "Mayang, setidaknya aku merasa terhibur dengan penguluran waktumu ini. Andai kata engkau menolak, sudah pasti engkau tak akan mengulur waktu. Ini aku yakin. Jadi dengan mengulur waktu berarti aku masih mempunyai harapan. Begitu, bukan?"

Wajah Mayang berubah kemerahan dan dia pun tersenyum, lalu mengangguk. "Mudah-mudahan begitu, Kongcu."

"Ha-ha-ha, wajahmu menjadi merah seperti bunga mawar tersinar matahari pagi! Baiklah, aku tidak akan membuat engkau merasa canggung, Mayang, dan takkan mengganggumu lagi. Aku berjanji bahwa selama engkau belum memberikan sendiri jawabanmu kepadaku, aku tidak akan mengganggumu lagi dengan pertanyaan dan desakanku. Selamat malam, Mayang."

"Selamat malam, Cang-kongcu."

Setelah Cang Sun pergi meninggalkannya, Mayang makin termenung. Bermacam pikiran menggeluti pikirannya, membuat dia merasa pusing. Jelas dia akan merasa berbahagia kalau sampai dipersunting Cang Sun sebagai isterinya. Betapa akan mudahnya mencintai seorang pemuda seperti itu. Memang sejak pertama kali bertemu dia sudah merasa suka dan kagum, dan dua perasaan itu mempunyai garis lurus menuju ke arah cinta kasih. Apa lagi dengan adanya ulah Sim Ki Liong, pemuda yang tadinya telah menjatuhkan hatinya.

Kekecewaan dan penyesalan hatinya melihat ulah Sim Ki Liong seolah kini sudah hilang nyerinya, terobati oleh kasih sayang Cang Sun, walau hanya baru dapat ia nikmati melalui pandang mata pemuda itu, melalui tutur katanya dan pengakuan cintanya. Sebetulnya dia merasa berbahagia sekali. Baru saja kehilangan cintanya yang dikecewakan oleh Sim Ki Liong, dia telah memperoleh penggantinya yang jauh lebih baik.

Dan betapa menyedihkan nasib Cin Nio. Baru saja Cin Nio mengalami patah hati karena cintanya ditolak oleh Cang Sun, kini tertimpa mala petaka yang hampir saja membuat dia membunuh diri. Mayang menarik napas panjang dan melamun di dalam taman itu sampai malam.

Entah berapa jam dia berdiam di taman itu, melamun sambil memandang bulan sepotong yang sudah keluar dan cukup tinggi, membuat suasana di taman itu indah sekali. Akhirnya dengan malas-malasan dia bangkit berdiri untuk kembali ke kamarnya.

Akan tetapi, ketika dia berjalan perlahan-lahan menyelinap di antara pohon-pohon bunga, tiba-tiba dia melihat dua bayangan hitam berkelebat di luar taman. Sesosok bayangan lari menuju ke kamar Cang Hui dan Cin Nio, sedangkan sesosok lagi lari menuju ke kamar Cang Sun. Berdebar rasa jantung Mayang melihat dua bayangan itu. Tentu keselamatan Cang Sun dan dua orang gadis itu terancam!

Sejenak hati Mayang menjadi bimbang. Siapa yang harus ditolongnya lebih dahulu? Akan tetapi dalam keadaan yang gawat itu tiba-tiba menyelinap akal yang dianggapnya sangat baik untuk menggagalkan niat buruk dua sosok bayangan itu. Dia cepat berlari ke gudang penyimpanan jerami untuk ransum kuda di dekat kandang kuda dan dibakarnya setumpuk jerami yang berada di luar gudang. Karena jerami itu sudah kering benar, maka sebentar saja api sudah berkobar hebat.

"Kebakaran...! Ada kebakaran...!" Mayang berteriak-teriak sambil memukuli canang tanda bahaya yang tergantung di dekat kandang. Sebentar saja gegerlah ketika semua orang berlarian keluar.

Mayang sendiri sudah cepat berlari. Pertama-tama dia lari menuju ke kamar Cang Hui dan Cin Nio karena dia sangat mengkhawatirkan nasib dua orang gadis itu. Dia masih sempat melihat sesosok bayangan hitam melompat keluar melalui jendela kamar itu. Ia mencoba untuk mengejar, tapi bayangan itu dengan gesitnya sudah menghilang di balik wuwungan rumah.

Dia melompat memasuki kamar dan cepat menutup hidungnya karena tercium bau harum yang aneh. Tahulah dia bahwa kamar itu sudah dipenuhi asap pembius! Dia menyambar selimut, cepat dikebut-kebutkan untuk mengusir asap sambil membuka pintu kamar. Asap itu pun cepat terbang pergi melalui lubang jendela dan pintu. Ketika dia menghampiri dua orang gadis itu, dia melihat mereka telah tidur pulas atau pingsan, tentu terpengaruh asap pembius yang harum seperti dupa itu.

Ketika dia teringat akan Cang Sun, dia pun cepat meloncat keluar lagi dan lari ke kamar pemuda itu. Dia menarik napas lega melihat pemuda itu tertidur sambil duduk di kursinya, meletakkan kepala di atas meja. Agaknya tadi pemuda itu belum tidur ketika bayangan hitam meniupkan asap pembius ke dalam kamarnya sehingga ia tertidur di atas kursinya. Seperti juga di kamar dua orang gadis tadi, Mayang lalu mengusir asap melalui jendela dan pintu kamar.

Beberapa orang pengawal muncul dan langsung terbatuk-batuk ketika hendak memasuki kamar. Melihat Mayang mengebut-ngebutkan selimut mengusir asap yang baunya harum menyesakkan dada, mereka lalu bertanya apa yang telah terjadi.

"Lihiap, apakah yang terjadi?"

"Entah, ada kebakaran. Rupanya ada penjahat masuk dan melepas asap beracun untuk membius Cang-kongcu."

Tiba-tiba muncul Liong Ki dan Liong Bi. Mereka kelihatan terkejut dan tegang, dan ketika melihat Mayang di luar kamar Cang Sun, Liong Ki berkata, "Wah, di kamar nona Cang Hui dan nona Teng Cin Nio juga penuh asap, akan tetapi sudah kubersihkan bersama para pengawal."

Liong Bi juga berkata, " Api yang membakar gudang sudah dapat kami padamkan. Apa yang terjadi di sini, Mayang?"

Mayang berpura-pura bersikap biasa saja walau pun di dalam hatinya, keras dugaannya bahwa dua sosok bayangan hitam yang tadi memasuki kamar Cang Sun dan kamar dua orang gadis itu adalah dua orang yang kini bicara dengan sikap seperti orang yang ikut berjasa itu.

"Hemm, rupanya ada dua orang maling hina yang mencoba-coba untuk mencuri barang berharga di kamar Cang-kongcu dan kamar kedua orang nona itu," kata Mayang sambil memandang kepada mereka.

"Heran sekali, bagaimana gudang itu bisa terbakar tanpa ada yang mengetahuinya," kata Liong Bi. "Penjaga hanya mendengar suara gaduh kemudian melihat bahwa jerami di luar gudang itu sudah terbakar besar."

"Kalau begitu tentu ada orang ketiga yang membakarnya." kata pula Mayang.

Tentu saja dia tahu benar karena yang membakarnya adalah dia sendiri. Bagaimana pun juga hatinya lega bahwa siasatnya itu telah menyelamatkan Cang Sun, Cang Hui dan Cin Nio. Kalau ia tidak melakukan siasat membakar jerami itu, bagaimana mungkin dia dapat melindungi ketiganya.

"Omitohud... apakah yang terjadi sampai ribut begini?" terdengar suara orang dan tampak Hek-tok Sian-su menghampiri mereka, dan kakek gendut ini menggosok-gosok matanya seolah baru bangun dari tidurnya.

Mayang memandang kepada kakek itu. Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, dia dapat melihat betapa kulit yang hitam kehijauan itu tidak wajar, dan dia dapat menduga bahwa tentu kakek ini memiliki ilmu sesat yang amat berbahaya.

"Ada tiga penjahat besar yang menyusup masuk ke dalam istana keluarga Cang ini," kata Mayang sambil menatap tajam wajah kakek itu.

"Omitohud..., mana penjahatnya yang begitu berani...?"

"Kalau kita baru terbangun setelah semuanya selesai, tentu para penjahatnya telah lama menyingkir," kata Mayang dengan suara mengejek. Kemudian, setelah menyuruh seorang pengawal yang dipercayanya membangunkan Cang-kongcu dan memberi keterangan apa yang telah terjadi, Mayang menghampiri Liong Ki yang berdiri agak menyendiri, kemudian dia berbisik, "Besok pagi jam delapan aku menantimu di danau. Aku ingin bicara urusan penting antara kita."

Liong Ki memandang heran, akan tetapi Mayang tidak memberi kesempatan kepadanya untuk menjawab karena gadis itu segera melangkah pergi menuju kekamar Cang Hui dan Cin Nio.

Dua orang gadis itu pun sudah sadar dan dikerumuni para pelayan yang tadi terbangun dan ikut panik. Begitu melihat Mayang, kedua orang gadis itu lalu menyuruh pergi semua pelayan. Setelah mereka hanya bertiga saja di kamar itu, Cang Hui lalu bertanya kepada Mayang.

"Mayang, apakah yang terjadi? Menurut para pelayan, kamar ini tadi penuh asap pembius dan kami berdua pingsan, dan katanya di gudang terjadi kebakaran. Mereka mendengar katanya ada dua atau tiga orang penjahat menyelundup masuk ke istana. Juga katanya kamar Sun-ko dipenuhi asap pembius seperti kamar kami. Benarkah itu? Sesungguhnya apakah yang terjadi?"

Cin Nio tidak ikut bicara, akan tetapi pandang matanya kepada Mayang penuh arti, penuh pertanyaan apakah peristiwa malam ini ada hubungannya dengan mala petaka yang telah menimpa dirinya beberapa malam yang lalu.

"Memang benar, ada dua orang penjahat menyelinap masuk dan melepas asap pembius di kamar ini dan kamar Cang-kongcu. Akan tetapi untung bahwa mereka cepat ketahuan sehingga mereka melarikan diri."

Cang Hui mengerutkan alisnya. "Mayang, sebenarnya apakah yang terjadi? Siapa mereka dan apa mau mereka itu melepaskan asap pembius di kamarku dan kamar Sun-ko?"

"Adik Hui dan adik Cin, harap kalian tenang. Aku sedang menyelidikinya dan kuharapkan dalam waktu singkat akan dapat menemukan jawabannya. Mudah-mudahan dalam waktu dua atau tiga hari ini semua urusan akan dapat kubikin terang." Berkata demikian Mayang memandang kepada Cin Nio penuh arti.

Cin Nio mengerti bahwa Mayang hendak mengatakan urusan mala petaka yang menimpa dirinya juga akan dapat dibikin terang. Hal ini berarti bahwa tentu ada hubungannya antara peristiwa malam ini dengan mala petaka yang menimpa dirinya.

Pada saat itu pula terdengar suara Cang Sun yang sudah berdiri di pintu kamar adiknya. "Mayang, sebenarnya apakah yang sudah terjadi? Aku mendengar berita yang simpang siur dari para pengawal, katanya kamarku dipenuhi asap pembius dan aku telah tak sadar di atas kursiku. Aku ingin mendengar sendiri darimu, apa sebenarnya yang telah terjadi?"

Cang Hui mendekati kakaknya. "Sun-ko, ada penjahat yang menyusup ke dalam rumah kita. Mereka melepas asap pembius di kamarku dan kamarmu, tentu dengan niat buruk terhadap kita. Dan ada yang membakar jerami di dekat gudang. Untung Mayang segera datang mengusir asap itu dan berteriak-teriak sehingga para pengawal berdatangan. Dua penjahat itu kini telah melarikan diri."

"Mayang, apa artinya semua ini?" tanya Cang Sun sambil memandang kepada Mayang. Agaknya keterangan adiknya masih belum memuaskan hatinya dan dia ingin mendengar sendiri keterangan Mayang.

"Artinya bahwa ada penyerang gelap mengancam keluarga Cang, Kongcu, dan aku akan mencoba untuk membikin terang perkara ini."

Cang Sun menatap wajah gadis itu penuh selidik. "Apakah ini ada hubungannya dengan urusan pribadimu itu?"

Mayang mengangguk. "Sekarang belum saatnya aku bicara banyak, Kongcu. Bersabarlah beberapa hari lagi, pasti aku akan dapat membongkar semua urusan ini." Setelah berkata demikian, Mayang segera meninggalkan mereka, kembali ke kamarnya karena dia tidak ingin percakapannya tadi didengar orang lain.

********************

Pada hari-hari biasa danau di luar kota raja itu sepi saja. Apa lagi pada pagi hari itu, bukan waktunya orang berlibur. Para pemilik perahu yang biasanya menyewakan perahu pada para tamu di hari-hari yang ramai, pada hari sepi itu menggunakan perahu mereka untuk mencoba peruntungan mencari ikan di tengah danau.

Sejak awal sekali Mayang telah berada di tepi danau, memandang ke arah timur, ke arah kota raja. Akhirnya orang yang dinanti-nanti sejak pagi tadi muncul. Sim Ki Liong berjalan seorang diri menuju telaga dan dia segera dapat melihat Mayang karena gadis itu sengaja naik ke atas tepi danau yang menonjol tinggi.

Mayang melambaikan tangan dan Sim Ki Liong atau Liong Ki berlari menuju ke tempat itu. Tetapi setelah pemuda itu dekat, Mayang memberi isyarat agar Ki Liong mengikutinya dan dia pun berlari memasuki sebuah hutan yang berada di sebuah bukit kecil. Tempat itu sunyi dan tak nampak seorang pun manusia lain. Mayang ingin berbicara dengan Sim Ki Liong di tempat sepi agar jangan terdengar orang lain.

Diam-diam hatinya merasa tegang sekali karena kalau benar seperti yang disangkanya bahwa Sim Ki Liong pelaku pemerkosaan terhadap diri Cin Nio, maka hal itu merupakan kepastian baginya untuk bertindak, menganggap Ki Liong sebagai musuh. Mungkin akan terjadi bentrokan antara dia dan Ki Liong, dan dia sudah siap siaga untuk menghadapinya. Dan sekali ini dia pasti tidak akan tinggal diam.

Akan dibukanya rahasia Sim Ki Liong dan Su Bi Hwa kepada Menteri Cang agar kedua orang itu tidak lagi diterima sebagai pembantu, bahkan ditangkap karena dahulu mereka mengatur siasat menculik kemudian menolong Cang Sun. Ia harus membuat perhitungan dengan Sim Ki Liong yang telah mengkhianatinya, mengkhianati cintanya.

Setelah tiba di tempat terbuka di puncak bukit, dikelilingi hutan kecil, Mayang berhenti dan menunggu Sim Ki Liong yang mengejarnya. Kini mereka berdiri berhadapan, dalam jarak empat meter. Ki Liong tersenyum memandang kepada Mayang, senyum yang penuh arti.

"Mayang, engkau mengundangku datang ke sini, agaknya hendak bicara penting sekali. Ada urusan apakah, sayang?"

Kata-kata dan nada suaranya terasa oleh Mayang seperti sebatang pisau yang menusuk jantungnya, namun dia pura-pura tidak merasakannya, bahkan dia menekan perasaannya sehingga suaranya terdengar datar dan biasa tanpa emosi.

"Liong-ko, aku mengundangmu ke sini agar dapat bicara berdua denganmu. Aku hendak menuntut pertanggungan jawabmu terhadap diriku!"

Ki Liong tersenyum, lantas maju selangkah. "Tentu saja, Mayang. Pertanggungan jawab yang bagaimana yang kau maksudkan? Jelaskanlah, sayang."

Mayang mengerutkan alisnya dan mengambil sikap pura-pura marah. "Liong-ko, sesudah apa yang kau lakukan kepadaku beberapa malam yang lalu, kini engkau masih pura-pura bertanya pertanggungan jawab apa yang kumaksudkan?" Sesudah berkata demikian dia memandang penuh selidik, dan ini bukan lagi bersandiwara karena memang ia ingin sekali mengetahui reaksi dari pemuda itu ketika mendengar ucapannya ini.

Mendengar ucapan itu, Sim Ki liong tertawa. "Ha-ha-ha, kiranya itu yang kau maksudkan? Aihh..., Mayang, bukankah sudah lama sekali kita saling mencinta? Tentu saja aku akan mempertanggung jawabkan. Sudah berani berbuat tentu aku berani bertanggung jawab. Nah, katakan, apa yang harus kulakukan untukmu?"

Ki Liong bersikap menantang sambil tersenyum. Pandang matanya jelas membayangkan perasaan senang. Agaknya hatinya amat girang melihat Mayang tidak marah. Akan tetapi jawaban itu masih belum memuaskan atau belum meyakinkan hati gadis itu.

"Liong-ko, engkau sudah menodai seorang gadis dan sekarang masih bertanya apa yang harus kau lakukan? Begitu bodohkan engkau, atau memang tidak peduli akan nasibku?" Dia memancing lagi.

"Mayang, kekasihku. Semenjak dulu aku selalu mencintamu. Jangan katakan bahwa aku menodaimu, sayang. Malam itu aku hanya ingin membuktikan rasa cintaku padamu. Nah, malam itu kita telah menjadi suami isteri yang sah. Kini engkau menghendaki pernikahan, bukan? Sabarlah, Mayang, kalau sudah tiba saatnya, kita pasti akan menikah. Heh-heh-heh...!"

Akan tetapi, suara tawanya terhenti seketika ketika tiba-tiba saja terjadi perubahan dalam sikap Mayang. Sepasang mata itu mencorong laksana mengeluarkan api, lantas tangan Mayang sudah menyambar ke depan, meluncur seperti ular dan mematuk ke arah leher Ki Liong.

"Haiiiiittttt...!"

"Ahh... ahhh...!" Sim Ki Liong terkejut setengah mati. Biar pun dia amat lihai, akan tetapi datangnya serangan itu demikian tiba-tiba.

Tubuh Mayang menerjang dengan sangat cepatnya, karena pukulan yang dilancarkan itu adalah ilmu pukulan Hek-coa-tok-ciang (Tangan Beracun Ular Hitam) yang sangat ampuh. Tak ada kesempatan bagi Ki Liong untuk menangkis lagi, karena itu sambil mengeluarkan teriakan nyaring dia segera melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik sampai lima kali, baru dia dapat terlepas dari ancaman maut pukulan beruntun yang dilakukan Mayang kepadanya.

"Heiiii, Mayang! Ada apakah engkau ini? Gilakah engkau? Bukankah kita sudah menjadi suami isteri dan...?"

"Jahanam busuk! Kiranya benar engkau yang melakukannya! Keparat terkutuk! Sekarang aku jadi yakin bahwa yang berniat busuk terhadap Cang Hui dan Cang-kongcu tadi malam tentulah engkau dan komplotanmu, pelacur hina Su Bi Hwa itu! Sekarang terbuka semua kedokmu, jahanam! Aku pasti akan membuka rahasiamu kepada Menteri Cang!"

Wajah Sim Ki Liong berubah pucat mendengar ini. " Aih, Mayang, kenapa engkau berkata demikian? Ingat, engkau telah menjadi isteriku! Engkau sudah tidak gadis lagi. Jika bukan aku yang mengawinimu kelak, apakah engkau ingin menjadi seorang yang menderita aib selama hidupmu?"

"Sim Ki Liong, iblis busuk! Aku sudah buta dan bodoh menganggap seorang manusia iblis macam engkau akan bertobat dan kembali ke jalan benar. Kiranya engkau hanya menipu dan mempermainkan aku! Huh, jangan kau sangka bahwa akan mudah saja bagimu untuk menghinaku. Yang kau perkosa pada malam itu bukanlah aku!"

Sepasang mata Sim Ki Liong terbelalak. Dia memandang tidak percaya. "Bukan engkau? Tapi... tapi di kamarmu dan... kalau bukan engkau lalu siapa?"

Mayang tersenyum mengejek. "Tidak perlu engkau tahu siapa dia, karena saat ini pun aku akan mencabut nyawamu yang tak berharga itu!" Sambil berkata demikian Mayang telah melepaskan senjatanya yang ampuh, yaitu pecutnya yang panjang. Begitu dia mengayun pecutnya ke atas kepalanya, terdengar bunyi ledakan-ledakan kecil yang nyaring.

Pada saat itu pula muncullah Su Bi Hwa atau yang dikenal sebagai Liong Bi oleh keluarga Menteri Cang. "Hi-hi-hik, Liong-koko, sekarang engkau tahu rasa! Sudah semenjak dahulu kukatakan bahwa bocah ini berbahaya, sebaiknya dilenyapkan saja. Kalau tidak, dia tentu akan membikin ribut saja dan selalu menggagalkan semua rencana kita."

Ki Liong merasa lega melihat munculnya sekutu ini, akan tetapi juga merasa heran karena dia tidak menyangka. "Engkau pun di sini, Bi-moi?" tanyanya.

"Tentu saja! Aku tidak sebodoh engkau, Liong-ko. Aku sudah mencurigainya, maka aku telah membuat persiapan yang serba lengkap. Sekarang mari kita habiskan riwayat bocah ini agar tidak menjadi penghalang bagi kita."

Melihat munculnya Su Bi Hwa, Mayang menjadi bertambah marah. "Bagus, kau siluman betina. Memang aku pun sudah mengambil keputusan untuk membasmi siluman jahat macam engkau!"

Mayang lalu menggerakkan cambuknya dan menyerang kalang kabut. Cambuknya segera mengeluarkan suara bercuitan disusul ledakan-ledakan dan menyambar-nyambar dengan ganasnya ke arah kedua orang itu. Sim Ki Liong maklum akan kelihaian Mayang maka dia pun langsung mencabut pedangnya, demikian pula Su Bi Hwa. Mereka maju bersama dan mengeroyok Mayang dengan gerakan pedang mereka yang lihai.

Kalau hanya Su Bi Hwa seorang diri yang melawan Mayang, tentu dia akan kewalahan. Tetapi di situ ada Sim Ki Liong, murid Pendekar Sadis yang amat lihai. Baru menghadapi Sim Ki Liong seorang diri saja agaknya Mayang tidak akan mampu mengalahkannya. Kini Sim Ki Liong dibantu Su Bi Hwa, maka tentu saja sangat berat bagi Mayang untuk dapat menghadapi pengeroyokan mereka.

Akan tetapi gadis ini tak mengenal takut dan dia sudah nekat untuk melawan mati-matian. Gerakan pecut di tangannya sangat menggiriskan, setiap sambaran pecutnya merupakan sambaran maut yang mengarah nyawa lawan.

Berbeda dengan Su Bi Hwa yang, membalas serangan Mayang dengan serangan maut untuk membunuh pula, Sim Ki Liong masih agak ragu-ragu dalam serangan balasannya. Bagaimana pun juga Sim Ki Liong memang pernah tergila-gila kepada Mayang. Bahkan sampai kini belum ada wanita yang dapat menandingi daya tarik Mayang baginya.

Agaknya dia tidak tega kalau harus membunuh Mayang, dan agaknya akan membiarkan Bi Hwa saja yang membunuhnya. Karena itu gerakan pedangnya hanya untuk menangkis serangan Mayang dan mendesak gadis itu sehingga Su Bi Hwa yang nampak lebih ganas menghujankan serangan.