Social Items

GADIS itu cepat bangkit duduk, menarik baju yang terobek dan mengikatkan kemeja robek itu sedapatnya asal bisa menutupi dadanya, lalu matanya memandang ke arah Hay Hay, sekarang dengan pandang mata bersyukur dan juga penuh kagum. Tidak dikiranya bahwa pemuda yang tubuhnya sedang itu, yang nampaknya tidak begitu kuat, ternyata mampu merobohkan si jangkung dengan sedemikian mudahnya.

Dia pun tahu bahwa orang ini tentu seorang pendekar seperti yang pernah didengarnya dalam cerita tentang para pendekar yang memiliki ilmu berkelahi tangguh sekali walau pun pendekar itu tampak bertubuh lemah. Dia pun pernah melihat pertunjukan dan permainan silat, maka dia bisa menduga bahwa tentu si caping lebar ini adalah seorang pendekar ahli silat.

Pada saat itu, si jangkung yang merasa penasaran sudah menubruk lagi dari belakang. Hay Hay tidak menangkis, melainkan meloncat ke samping untuk mengelak, dan ketika Ji Tang membalikkan tangan untuk mencengkeram ke arah lambungnya, Hay Hay langsung memapaki tangan yang terbuka membentuk cakar itu dengan totokan jari telunjuknya.

"Tukkk!”

“Aughhh...!"

Ji Tang berteriak kesakitan. Telapak tangan yang ditusuk jari telunjuk itu terasa panas dan nyeri, bahkan terasa menusuk-nusuk sampai ke jantung. Dan sebelum dia tahu apa yang terjadi, tubuhnya telah terjengkang roboh ketika dadanya didorong ujung sepatu Hay Hay. Tubuhnya yang terjatuh itu lantas menggelinding ke dekat dipan. Melihat ini Sarah segera memapakinya dengan tendangan sepatunya yang keras.

"Crottt…!"

Ujung sepatu itu tepat mengenai hidung Ji Tang dan bukit hidung itu pun patah, kulitnya pecah dan darah pun mengucur! Hay Hay cepat menyambar tangan Sarah dan ditariknya ke belakang ketika kaki Ji Tang menyambar ke arah perut gadis itu.

"Terima kasih!" Sarah berkata, maklum bahwa jika tangannya tidak ditarik tentu perutnya sudah terkena tendangan yang amat keras itu.

Kini Ji Tang melompat bangun, tangan kirinya menggosok hidung yang berdarah sehingga darahnya malah melumuri mukanya, kemudian dia pun telah mencabut sepasang pedang pendeknya, senjata yang amat diandalkannya.

Hay Hay menudingkan telunjuknya ke arah Ji Tang, lantas berkata dengan suara lantang, "Heii, pedang di kedua tanganmu itu saling bermusuhan. Coba hendak kulihat, yang mana di antara mereka yang lebih unggul?"

"Ehhh?! Apa...? Bagaimana...?" Ji Tang merasa bingung.

Akan tetapi segera terjadi hal yang sangat aneh. Sekarang Ji Tang menggerakkan kedua pedangnya dan kedua pedang itu seperti bertempur sendiri, digerakkan kedua tangannya sehingga terdengar suara berdentangan. Hay Hay memandang dengan kekuatan sihirnya, kemudian dia cepat memegang tangan Sarah dan berbisik,

"Hayo kita cepat pergi!" Dia menghampiri daun pintu dan diketuknya daun pintu besi itu.

"Buka pintu! Buka...!"

Para penjaga di luar yang masih terheran-heran kini membuka daun pintu itu Begitu Hay Hay menyapu mereka dengan pandang matanya, mereka melihat Ji Tang menggandeng tawanan wanita kulit putih itu keluar. Karena tadi Ji Tang telah bersikap keras, maka para penjaga itu tidak ada yang berani menegur sehingga dengan mudah saja Hay Hay dapat membawa Sarah lari dan menghilang di dalam kegelapan malam.

Pada saat Hay Hay dan Sarah telah lenyap ditelan kegelapan, penjaga yang tadi melapor sudah datang beriari-lari, diikuti empat orang pimpinan gerombolan itu. Mereka berempat sangat marah dan juga tidak percaya bahwa Ji Tang sudah menjadi dua orang yang kata penjaga itu keduanya memasuki tempat tahanan di mana gadis kulit putih itu ditawan.

Pada waktu mereka tiba di depan goa yang pintunya sudah terbuka, mereka melihat para penjaga sedang berdiri memandang ke dalam dengan bengong. Melihat ini empat orang pimpinan itu berlompatan dan mereka pun berada di pintu goa dan memandang ke dalam. Mereka terbelalak bengong, terheran-heran sekali melihat rekan mereka, Ji Tang, sedang memainkan sepasang pedang yang saling serang seperti seorang dalang wayang boneka memainkan dua peran yang sedang berkelahi! Pemimpin gerombolan yang tinggi besar hitam itu lalu meloncat ke dekat Ji Tang, menepuk pundaknya dan membentak nyaring.

"Ji Tang, apa yang kau lakukan ini?!"

Ji Tang terkejut sekali, dua batang pedangnya terlepas dan jatuh berkerontangan di atas lantai, lalu memandang ke sekeliling seperti orang yang baru terjaga dari tidurnya.

"Apa... apakah yang terjadi? Di mana keparat bercaping itu dan mana... mana tawanan kita...?" Ji Tang memandang kepada para penjaga yang berkerumun di depan goa. "Heii, kalian para penjaga! Ke mana perginya tawanan kita?"

Para penjaga menjadi panik dan takut. "Toako, tadi kami melihat Toako Ji Tang mengajak tawanan itu keluar dari sini!"

"Gila kalian! Aku masih di dalam sini!" teriak Ji Tang bingung.

"Sungguh mati, kami melihat Ji-toako tadi keluar menggandeng tawanan itu dan menuju ke sana." Seorang penjaga menunjuk keluar goa, ke arah kiri.

Raksasa hitam itu membentak. "Cukup semua ini! Keterangan boleh diberikan nanti. Tapi sekarang semuanya harus cepat pergi mencari dan menangkap kembali wanita kulit putih itu!"

Obor-obor cepat dipasang dan gegerlah perkampungan gerombolan itu. Suasana menjadi ramai sekali. Semua orang melakukan pengejaran dan pencarian ke sana ke mari, akan tetapi semua usaha mereka sia-sia. Tawanan itu lenyap tanpa meninggalkan bekas sama sekali, bersama pria yang menurut keterangan Ji Tang adalah seorang pemuda bercaping lebar akan tetapi menurut para penjaga adalah Ji Tang sendiri!

Lima orang pemimpin itu mengadakan perundingan sambil mendengarkan keterangan Ji Tang yang sangat aneh. Juga keterangan para penjaga yang mengatakan bahwa mereka melihat Ji Tang dua kali memasuki goa, kemudian melihat Ji Tang keluar dan membawa tawanan wanita itu, akan tetapi di dalam goa terdapat Ji Tang pula yang sedang bermain-main dengan sepasang pedangnya seperti orang gila!

"Tentu ada orang lain yang menyamar sebagai engkau, Sam-te (adik ke tiga)," si raksasa hitam berkata. "Dan orang itulah yang melarikan tawanan kita. Tapi anehnya, bagaimana mereka itu dapat melarikan diri demikian cepat, dan di malam gelap pula?"

"Lebih aneh lagi, orang itu dapat menyamar sebagai aku, padahal ketika memasuki goa, jelas kulihat dia tidak menyamar, akan tetapi mengenakan caping lebar. Dan betapa aku seperti orang tak sadar bermain-main dengan sepasang pedangku. Aih, jangan-jangan dia itu bukan manusia, Toako. Dua kali aku menyerangnya, dua kali pula aku roboh secara aneh. Hihh, dia tentu iblis sendiri yang mengganggu kita. Ataukah..., jangan-jangan wanita kulit putih itu mempunyai peliharaan setan!"

Semua orang langsung bergidik ngeri mendengar ini. Bukan tidak mungkin, pikir mereka. Mereka tidak mengenal benar akan kebudayaan dan kepandaian orang kulit putih. Mereka adalah orang-orang sederhana yang percaya akan takhyul. Melihat semua keanehan ini, serta lenyapnya tawanan tanpa meninggalkan jejak, mereka yakin bahwa tentu ada setan yang menolong wanita itu!

Sebagai orang-orang yang percaya takhyul, mereka segera melakukan sembahyang, baik di hadapan peti-peti mati di goa besar mau pun di beberapa tempat lainnya yang mereka anggap keramat untuk mohon agar iblis dan setan tidak lagi mengganggu mereka.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Ke manakah perginya Hay Hay dan Sarah? Saat Hay Hay berhasil menarik tangan Sarah menyelinap di dalam kegelapan, dia pun bingung ke mana harus melarikan diri. Malam itu gelap sekali sehingga tak mungkin menggunakan ilmu berlari cepat di tempat yang penuh batu dan gelap itu, apa lagi dia tidak mengenal daerah itu, ditambah dia harus melindungi seorang wanita kulit putih.

"Sobat, ke mana kita dapat pergi...?" Sarah juga merasa khawatir sekali karena ketika dia melihat goa, banyak orang berlarian ke arah goa tadi dan terdengar mereka itu ribut-ribut. Kepergiannya telah diketahui orang dan tentu banyak orang akan mencarinya. Bagaimana penolongnya ini akan mampu menghadapi puluhan orang seperti itu?

"Sstttt, mari nona!" kata Hay Hay dan dia pun sudah tahu ke mana dia harus membawa wanita itu bersembunyi. Goa tempat berkabung, di mana tiga buah peti itu berjajar!

Para penjaga di goa itu sudah meninggalkan tempat penjagaan mereka karena mereka pun mendengar ribut-ribut itu lalu mereka cepat berlarian menuju ke goa tempat tawanan. Yang tinggal di goa tempat berkabung tinggal keluarga tiga orang anggota perampok yang tewas oleh peluru pistol Kapten Gansalo, terdiri dari isteri-isteri mereka beserta anak-anak mereka. Tempat itu diterangi tiga buah lampu gantung dan lilin-lilin bernyala di atas meja sembahyang.

Tiba-tiba tiga buah lentera gantung itu padam! Dan berturut-turut, semua lilin di atas meja sembahyang juga ikut padam! Suasana menjadi gelap gulita, maka sibuklah mereka yang berkabung. Ada yang segera mencoba untuk menyalakan lilin dan lampu, ada pula yang menangis dan mereka semua merasa ketakutan karena padamnya semua lampu dan lilin merupakan hal yang aneh dan juga menakutkan, apa lagi di sana terdapat tiga buah peti mati berisi mayat.

Sebagian besar orang sering menghubungkan kematian dengan iblis dan setan sehingga menimbulkan perasaan ngeri, seram dan takut! Rasa takut timbul karena tidak mengerti, tidak mengenal apa dan bagaimana kematian itu, juga kita tidak mengenal dan tidak tahu apa yang disebut setan dan iblis itu. Oleh karena keduanya merupakan hal yang asing dan tidak kita kenal, maka muncullah dugaan yang macam-macam, khayalan yang aneh-aneh dan timbullah rasa takut.

Membayangkan orang mati hidup kembaIi, kita merasa takut karena menghubungkannya dengan setan dan iblis. Coba kita membayangkan seekor semut yang sudah mati hidup kembali, tidak ada di antara kita yang akan merasa takut, sebab semut tidak merupakan ancaman bagi keselamatan kita. Berbeda dengan manusia mati yang hidup kembali, kita membayangkan betapa mayat hidup itu menjadi setan dan akan mencekik kita!

Tak ada seorang pun di antara para keluarga si mati yang berkabung di situ tahu betapa dalam kegelapan tadi ada dua sosok bayangan menyelinap masuk ke dalam goa, terus ke dalam dan lenyap di dalam kegelapan goa sebelah dalam di mana terdapat empat buah ruangan kamar yang dipergunakan untuk menyimpan senjata alat berlatih silat di ruangan besar goa itu. Juga tidak ada yang tahu bahwa yang memadamkan lentera dan lilin tadi adalah Hay Hay.

Setelah lentera gantung dan semua lilin sudah dinyalakan kembali, para anggota keluarga itu sibuk menyembahyangi tiga peti mati. Mereka takut kalau-kalau arwah tiga orang itulah yang tadi penasaran lantas ‘mengamuk’ memadamkan semua penerangan. Asap hio yang mereka pergunakan untuk sembahyang memenuhi tempat itu, membentuk tirai asap putih yang hanya perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit keluar dari goa.

Di sana terdapat belasan orang keluarga dari tiga orang yang mati. Tiba-tiba semua orang terkejut dan cepat mereka menjatuhkan diri berlutut ketika terdengar suara dari belakang tiga buah peti mati itu. Suara itu besar dan dalam, bergema dan terdengar oleh mereka seperti bukan suara manusia!

"Kalian semua keluarlah... lekaslah keluar... kami ingin tenang... keluarlah atau kami akan mengajak kalian mati...!"

Dapat dibayangkan betapa kaget dan takutnya semua orang yang berada di situ. Biar pun ketiga buah peti mati itu berisi jenazah kepala keluarga mereka, suami dan ayah mereka yang kematiannya mereka tangisi dan mereka kabungi, akan tetapi begitu ada suara dari si mati, mereka pun menjadi ketakutan!

Memang aneh. Keluarga yang ditinggal akan menangisi kematian seseorang yang dicinta, berduka dan kecewa karena orang yang dikasihi meninggalkan mereka, akan tetapi begitu yang ditangisi itu, yang dianggap sudah mati, dapat bersuara atau hidup kembali, mereka yang berkabung itu akan lari cerai-berai ketakutan!

Sambil menjerit-jerit, mereka yang berkabung itu berhamburan keluar dari dalam ruangan goa yang besar itu. Sarah yang menyaksikan semua itu tidak menahan suara ketawanya. Sesudah Hay Hay memberi isyarat, baru dia membungkam mulut sendiri dengan tangan, agar suara tidak keluar dari mulutnya. Gadis ini merasa geli bukan main melihat betapa Hay Hay mempermainkan mereka yang berada di situ sehingga mereka itu lari tunggang langgang, jatuh bangun dan mungkin juga ada yang sampai terkencing-kencing.

Setelah suara tawanya mereda, Sarah menjatuhkan diri duduk di dalam sebuah di antara kamar-kamar itu, bersandar kepada dinding batu. Lantai kamar itu kering dan bersih, dan di sudut terdapat rak senjata. Hay Hay juga duduk bersandar dinding, berhadapan dengan gadis itu dalam jarak tiga meter. Mereka saling pandang dan diam-diam keduanya saling mengagumi.

Hay Hay telah menanggalkan capingnya yang kini tergantung di punggung. Baru sekarang Sarah bisa melihat wajah penolongnya secara jelas. Muka yang cerah, tampan dan dihias senyum nakal.

Hay Hay juga memandang kagum. Ternyata gadis ini nampak masih muda sekali, bahkan wajahnya masih kekanak-kanakan. Akan tetapi bila dia teringat betapa tadi di dalam goa, gadis bule ini berani menentang seorang pemimpin perampok ganas dan melawan secara mati-matian, bahkan ketika sudah bebas dari totokan, mampu menendang remuk hidung kepala perampok jangkung, sungguh dia merasa kagum bukan main. Dara ini benar-benar memiliki watak seorang pendekar wanita!

"Mengapa engkau tertawa, Nona? Jangan keras-keras kalau tertawa, nanti terdengar oleh mereka dan kita bisa celaka," kata Hay Hay memancing bicara.

Dara itu tersenyum nakal sehingga jantung Hay Hay berdebar. Biar pun penerangan yang memasuki kamar itu tidak terlampau kuat, akan tetapi dia dapat melihat wajah itu dengan jelas. Ketika gadis itu tersenyum, nampak deretan gigi putih yang rapi dan amat kuat, dan senyum itu seperti mengandung madu, begitu manisnya. Ada lesung pipi yang amat jelas dan lekuk dagu yang mempesonakan.

"Aku tidak takut karena di sini ada engkau," kata Sarah. "Aku tahu siapa engkau."

Hay Hay terbelalak, memandang wajah cantik itu penuh selidik. Benarkah gadis asing ini mengetahui siapa dia?

"Ehh? Engkau tahu siapa aku? Nah, katakan siapa aku."

"Engkau tentu seorang pendekar, ahli silat dan juga engkau seorang tukang sulap."

"Tukang sulap? Apa maksudmu?"

"Tadi engkau membuat jahanam jangkung itu menari-nari dengan dua pedangnya seperti orang gila, kemudian engkau juga dapat membawa aku keluar dari goa itu tanpa ada yang menghalangi, dan di sini engkau membuat semua orang lari tunggang langgang sesudah secara aneh engkau memadamkan semua penerangan. Sobat, engkau telah menolongku, sungguh aku berhutang budi besar kepadamu. Siapakah namamu?"

"Sebut aku Hay Hay, dan engkau siapa, Nona? Bagaimana pula engkau sampai tertawan oleh para perampok itu?"

"Panjang ceritanya, akan tetapi apakah kita hanya akan membuang-buang waktu dengan bercakap-cakap di tempat ini? Bukankah kita harus cepat-cepat meloloskan diri dari sini, Hay Hay?"

Hay Hay tersenyum. Dia semakin kagum dan suka kepada dara kulit putih ini. Demikian bebas terbuka dan ramah sehingga dengan akrab menyebut namanya begitu saja tanpa canggung-canggung, seolah-olah mereka telah lama sekali menjadi sahabat karib.

"Tak mungkin kita pergi sekarang. Di luar amat gelap dan aku tidak mengenal jalan. Juga mereka akan menghadang. Jumlah mereka sangat banyak. Besok aku akan mencari akal dan jangan khawatir, aku akan menyelamatkanmu bebas dari tempat ini."

Sarah menarik napas lega. "Aku percaya padamu, Hay Hay. Namaku Sarah, lengkapnya Sarah Armando. Ayahku adalah Kapten Armando, komandan benteng Portugis di Cang-cow."

“Ahhh...!”

"Engkau mengenal ayahku?"

"Tidak, aku bukan orang Cang-cow, tadi aku hanya terkejut dan heran mendengar engkau adalah puteri seorang komandan. Lalu bagaimana engkau bisa tertawan oleh gerombolan penjahat itu?"

"Aku marah kepada ayah..." Sarah berkata dengan mulut cemberut. Bibirnya yang merah segar itu meruncing dan nampak lucu bagi Hay Hay sehingga dia tertawa. Dara ini seperti seorang anak kecil yang merajuk saja.

"Hemm, Sarah, engkau marah kepada ayahmu, lalu kenapa tertawan penjahat?"

"Ayah sudah berjanji untuk mengajakku berkuda pagi tadi, tetapi dia berhalangan karena harus menghadiri pelaksanaan hukuman mati terhadap pemberontak. Ayah lalu menyuruh Kapten Gonsalo mewakilinya untuk mengantarku berkuda di perbukitan. Kapten Gonsalo adalah wakil atau pembantu utama ayah. Karena itu hatiku jengkel sekali."

"Aihh, mengapa begitu? Bukankah engkau sudah dapat pergi berkuda diantar oleh Kapten Gonsalo itu?"

"Ya, akan tetapi aku tidak suka kepada Kapten Gonsalo."

"Hemm, lalu apa yang terjadi?"

"Kami berkuda di perbukitan. Karena masih marah aku lalu membalapkan kuda ke atas perbukitan yang penuh hutan. Kapten Gonsalo hendak melarang, akan tetapi aku nekat dan dia pun mengejarku. Setiba kami di tengah hutan, tiba-tiba muncul banyak perampok. Kapten Gonsalo menyerang mereka dengan pistolnya dan dia berhasil merobohkan tujuh orang perampok. Sesudah peluru pistolnya habis dia lalu mengamuk dengan pedangnya, dikeroyok oleh banyak perampok."

Hay Hay mengangguk-angguk. "Hebat juga Kapten Gonsalo itu, Sarah."

"Dia memang seorang jagoan. Jago tembak, jago bermain pedang dan jago tinju. Kapten muda berusia tiga puluhan tahun itu di benteng kami tidak ada yang berani melawannya."

"Hemm, dia gagah. Sungguh aneh bila engkau tidak menyukainya. Apakah dia kasar dan kurang ajar?"

"Dia tampan dan gagah, keras akan tetapi terhadap aku dia amat sopan. Tetapi pandang matanya membuat aku tidak suka padanya."

"Pandang matanya?"

"Matanya itu kalau memandang kepadaku mengingatkan aku akan mata seekor harimau atau serigala kelaparan!"

Mendengar ini Hay Hay tertawa, tetapi menahan suara tawanya agar jangan bergelak. Dia mengerti sekarang. Kiranya seorang kapten muda yang tampan dan gagah perkasa jatuh cinta kepada dara jelita ini, akan tetapi agaknya sang dara ini tidak membalas cintanya itu. Payah kalau cinta bertepuk tangan sebelah!

"Lalu bagaimana, Sarah? Teruskan ceritamu."

"Kapten Gonsalo mengamuk, akan tetapi selanjutnya aku tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan dia. Ketika aku bersiap-siap untuk membantunya dan mencabut pistolku, tiba-tiba saja ada orang yang menyerangku dari belakang dan tahu-tahu aku sudah tidak mampu menggerakkan kaki tanganku yang menjadi lemas dan lumpuh. Aku ditawan oleh seorang lelaki tinggi kurus dan aku dilarikan olehnya di atas kuda, dibawa ke sini dan dihadapkan kepada pimpinan penjahat. Lalu aku ditawan di dalam goa itu sampai muncui si jahanam busuk jangkung itu. Ohh…, betapa inginku menembakkan pistolku sampai habis peluruku ke dalam kepalanya!"

"Jadi, mayat-mayat dalam peti mati ini adalah korban peluru senjata api Kapten Gonsalo? Dan bagaimana dengan dia?"

"Benar, tujuh orang roboh akibat tembakannya dan dia memang kuat sehingga masih ada beberapa orang lagi roboh oleh pedang dan tinjunya. Mungkin tiga orang di antara mereka tewas. Aku sendiri tidak tahu bagaimana dengan nasib Kapten Gonsalo. Tetapi dia adalah seorang yang kuat dan cerdik sekali, kurasa tidak mudah bagi penjahat-penjahat itu untuk menangkapnya."

Hay Hay mengangguk-angguk kemudian dia pun berpikir keras. Kebetulan sekali dia bisa bertemu puteri komandan benteng Portugis, bahkan menyelamatkannya. Hal ini membuka kesempatan baginya untuk menyelidiki keadaan orang-orang Portugis yang di dalam surat laporan Yu Siucai dikatakan sebagai sekutu para pejabat di kota Cang-cow yang hendak melakukan pemberontakan, di samping para bajak laut Jepang dan orang-orang Pek-lian-kauw. Kalau melihat dara ini, dan mendengar ceritanya tentang Kapten Gonsalo, agaknya bangsa Portugis ini adalah bangsa yang gagah perkasa!

"Heii, mengapa engkau malah melamun, Hay Hay? Sekarang tiba giliranmu menceritakan keadaan dirimu, siapa engkau sesungguhnya dan bagaimana engkau dapat datang ke sini dan menyelamatkan aku."

Hay Hay sadar dari lamunannya. Dia akan menggunakan kesempatan ini untuk mendekati Sarah dan memancing keterangan apa saja yang dapat dia peroleh dari puteri komandan ini.

"Aku? Sudah kukatakan bahwa namaku Hay Hay dan aku adalah seorang perantau yang sedang berusaha mencari pekerjaan yang layak di Cang-cow. Ketika tadi aku lewat di bukit sana, aku melihat engkau dilarikan si tinggi kurus ke bukit berbatu ini. Aku merasa curiga dan aku paling tidak suka melihat wanita diperhina, maka aku lalu membayanginya dan berhasil menyelundup ke tempat ini. Begitu mendapat kesempatan aku lantas masuk ke goa di mana engkau ditawan dan kebetulan saja aku dapat menghindarkan engkau dari penghinaan. yang akan dilakukan si jangkung itu."

"Jahanam busuk dia!" kata Sarah sambil mengepalkan tinjunya. "Andai kata engkau tidak segera muncul, Hay Hay, maka sudah pasti aku akan menjadi korban kebiadabannya dan aku akan diperkosanya. Dan sisa hidupku akan kupergunakan untuk membalas dendam kepadanya, entah dengan cara bagaimana pun juga!”

Hay Hay bergidik. Gadis muda yang jelita ini mempunyai kekerasan hati yang luar biasa. "Sarah, kukira para pemimpin perampok menawanmu dengan maksud untuk menjadikan engkau sebagai sandera. Mereka akan minta uang tebusan yang besar jumlahnya. Hanya si jangkung tadi sajalah yang hendak berbuat tidak senonoh dan kukira dia melakukannya di luar tahu para rekannya, yaitu empat orang pimpinan yang lainnya. Tapi kulihat engkau sama sekali tidak takut menghadapi orang-orang buas itu."

"Hemm, kenapa harus takut? Baik Kapten Gonsalo sudah tewas atau mampu meloloskan diri, aku yakin bahwa ayahku tentu akan memimpin pasukan untuk mencariku, dan kalau pasukan ayah dapat tiba di tempat ini, tentu seluruh perampok itu akan dibasmi habis!"

"Sarah, sungguh aku merasa kagum sekali kepadamu." Hay Hay mengamati wajah yang jelita itu. Sarah balas memandang dan alisnya berkerut, pandang matanya berubah heran dan menyelidik.

"Hay Hay, engkau seorang diri berani masuk ke tempat berbahaya ini dan menolongku. Sepantasnya akulah yang kagum kepadamu atas keberanian, kegagahan dan kemuliaan hatimu, bukan engkau yang mengagumiku. Mengapa engkau mengatakan kagum sekali kepadaku?"

Hay Hay tersenyum. Ia tidak sekedar merayu. Ia memang kagum kepada gadis kulit putih ini, kagum akan kecantikannya, kagum akan keberaniannya.

"Mengapa? Sikapmu demikian gagah berani, sedikit pun engkau tidak penakut dan tidak cengeng seperti kebanyakan wanita. Dan engkau begini cantik jelita dan manis. Selama hidupku belum pernah aku bertemu dengan seorang dara sejelita engkau, Sarah. Rambut di kepalamu bagai mahkota emas, seolah-olah mengeluarkan cahaya. Wajahmu pun amat manis, terutama sekali sepasang matamu. Seperti dua buah bintang kejora dan warnanya demikian penuh rahasia, kebiruan laksana lautan yang dalam. Bentuk dahimu, hidungmu, pipimu, dagumu dan terutama bibirmu! Bukan main, agaknya seperti engkau inilah wajah bidadari di dalam dongeng. Dan bentuk tubuhmu! Engkau wanita dengan kecantikan yang sempurna, Sarah, dan aku kagum bukan main."

Kerut di alis itu semakin mendalam dan kini sepasang mata itu menyinarkan kemarahan, "Hay Hay, kelirukah penilaianku kepada dirimu? Tadi aku menilai engkau sebagai seorang pendekar, seorang yang gagah perkasa dan berbudi mulia! Apakah engkau kiranya hanya seorang laki-laki mata keranjang dan kurang ajar?"

"Hemmm, kenapa engkau menganggap aku mata keranjang dan kurang ajar, Sarah?"

"Engkau mencoba untuk merayu aku, ya? Hay Hay, biar pun kuakui bahwa engkau telah menolongku, akan tetapi jangan kira bahwa sesudah menolongku engkau dapat berbuat sesuka hatimu, dapat merayu dan menggodaku!"

"Wah, sungguh sayang, Sarah. Pujianku kepadamu tetap. Engkau cantik jelita dan gagah perkasa, akan tetapi sekarang setelah engkau berbicara seperti itu, sayang sekali harus kukatakan bahwa engkau berprasangka buruk dan karenanya bodoh sekali!"

Bagaimana pun juga, Sarah tetap seorang wanita. Tidak ada wanita yang tidak haus akan pujian. Baik pujian itu sejujurnya atau pun hanya rayuan, tetap saja segala macam bentuk pujian membesarkan hati seorang wanita dan mengangkat harga dirinya. Walau pun tadi marah-marah, tetap saja di sudut hatinya Sarah merasa senang dan bangga mendengar pujian pria yang dikaguminya, yang telah menyelamatkannya dari ancaman bahaya yang amat hebat. Kini, mendengar pemuda itu mengatakan dia berprasangka buruk dan bodoh, tentu saja dia menjadi kecewa sekali.

"Hay Hay....!"

“Ssttt..., jangan berteriak...”

Sarah teringat, "Hay Hay," katanya, kini lirih. "Engkau sombong! Engkau mengatakan aku berprasangka buruk dan bodoh? Betapa sombongnya engkau!"

Hay Hay tersenyum. "Nah, itulah bukti kebodohanmu. Ketika tadi aku memujimu, engkau marah-marah dan menganggap aku merayu dan menggoda, mata keranjang. Ketika aku mengatakan engkau berprasangka buruk dan bodoh, engkau mengatakan aku sombong."

"Tentu saja! Engkau seorang laki-laki dan baru saja menolongku, tetapi sekarang engkau memuji-muji kecantikanku dengan kata-kata yang muluk. Bukankah itu namanya rayuan gombal?"

"Sarah, rayuan hanya dikeluarkan oleh orang yang ingin menjilat dan menyenangkan dia yang dirayunya, dengan pamrih tertentu. Tapi aku sama sekali tidak merayumu. Kau lihat, aku mempunyai sepasang mata yang sehat dan tidak cacat, bukan?"

Sarah memandang heran. "Tentu saja, walau pun bentuk matamu agak sipit tapi sinarnya mencorong seperti mata naga."

"Ehh, engkau sudah melihat mata naga?"

"Dalam dongeng yang pernah kubaca. Nah, ada apa dengan matamu?"

"Aku mempunyai sepasang mata yang sehat. Aku melihat engkau dan pandang mataku melihat betapa cantik jelitanya wajahmu. Aku mengatakannya dengan terus terang karena memang aku menyukai keindahan. Aku menggambarkan kecantikanmu seperti kalau aku melihat setangkai bunga yang indah dan mengaguminya. Apakah ini yang kau namakan mata keranjang dan merayu? Aku hanya mengemukakan pendapat secara jujur. Engkau memang cantik jelita dalam pandanganku. Apakah aku harus mengatakan bahwa engkau buruk? Apakah kejujuranku ini kau anggap sebagai rayuan gombal?"

Kini pandang mata gadis itu menjadi terbelalak. Agaknya dia bingung. Belum pernah dia mendengar pendapat seorang pria seperti yang baru saja didengarnya.

"Engkau ini aneh, Hay Hay! Benarkah pujianmu tadi bukan rayuan melainkan pernyataan yang jujur? Apakah di balik pujianmu itu tidak ada suatu pamrih, suatu dorongan birahi? Apakah engkau tidak ingin menyentuhku, memeluk dan menciumku?"

Tiba-tiba Hay Hay merasa betapa mukanya panas sekali dan dia tahu bahwa tentu kulit mukanya berubah merah. Untung bahwa sinar penerangan yang memasuki kamar batu itu juga kemerahan sehingga perubahan warna di wajahnya takkan nampak. Dia menjadi salah tingkah mendengar pertanyaan-pertanyaan itu.

Dia harus bersikap sejujurnya. Gadis ini berbeda dengan gadis-gadis bangsanya. Begitu terbuka dan agaknya tidak pantang berbicara tentang birahi. Dia harus menghela napas panjang beberapa kali untuk mengumpulkan keberaniannya sebelum bicara.

"Kau ingin aku jujur, bukan? Jangan marah kalau jawabanku yang jujur akan menyinggung perasaan hatimu."

"Kalau engkau tidak jujur dan membohongiku, barulah aku akan tersinggung, Hay Hay."

"Baiklah, Sarah. Terus terang saja, jika engkau bertanya kepadaku apakah aku tidak ingin menyentuhmu, memeluk dan menciumi, jawabnya sama dengan kalau engkau bertanya kepadaku apakah aku tak ingin menyentuh, meraba dan mencium setangkai bunga yang indah mengharum? Aku akan berbohong jika aku mengatakan tidak, Sarah. Engkau begini cantik jelita seperti setangkai bunga, akan tetapi hal itu tidak berarti bahwa aku memiliki niat yang tidak senonoh padamu. Aku menyayangi keindahan. Aku akan menyentuh dan mencium setangkai bunga karena mengaguminya, akan tetapi aku tak akan memetiknya dan merusaknya. Engkau mengerti?"

Hay Hay menduga bahwa gadis itu tentu akan tersinggung dan marah. Akan tetapi dara itu sama sekali tidak marah, bahkan tersenyum manis sekali!

“Aku mengerti, Hay Hay, dan aku makin kagum kepadamu. Engkau jujur dan jantan. Nah, kalau memang engkau ingin menyentuh, memeluk dan menciumku, mengapa hal itu tidak kau lakukan?”

"Ehhh...!" Hay Hay terbelalak mengamati wajah gadis itu. Mengejekkah gadis itu?

"Mengapa, Hay Hay? Bukankah engkau ingin memeluk dan menciumku? Aku akan girang sekali kalau kau lakukan itu. Ataukah ucapanmu itu hanya basa-basi belaka dan engkau tidak berani melakukan apa yang kau katakan?"

"Aku takut engkau akan marah kalau kulakukan itu, Sarah."

"Mengapa harus marah? Kalau memang engkau jujur, aku tidak akan marah bahkan aku akan merasa bangga dan girang sekali. Atau engkau hanya pura-pura jujur saja?"

Bukan main! Hay Hay tercengang. Belum pernah dia berjumpa seorang gadis seperti ini. Jika dia tidak yakin akan kejujuran Sarah, tidak yakin akan kesucian hatinya dan melihat sendiri betapa secara mati-matian Sarah mempertahankan kehormatannya, bahkan akan membalas dendam secara mengerikan bila sampai kehormatannya dicemarkan, tentu dia akan mengira gadis ini murahan! Begitu saja menantang seorang laki-laki untuk memeluk dan menciumnya untuk menimbulkan kekagumannya dan kejujurannya!

Akan tetapi Hay Hay tahu pasti bahwa menghadapi gadis seperti ini, dia pun harus berani membuktikan kejujurannya. Apa lagi, bukti itu akan amat menyenangkan!

"Kalau begitu, maafkan aku!" katanya dan dia pun bangkit, menghampiri Sarah, duduk di dekatnya dan dia pun merangkul dengan perasaan sayang, kemudian dengan lembut dia mencium dahi yang kulitnya putih seperti susu itu. Ciuman yang hangat dan mesra.

Dalam sentuhan antara hidung dan bibir Hay Hay dengan kulit dahi yang halus dan harum aneh oleh bedak dan keringat itu terkandung perasaan sayang dan kagum dari hati Hay Hay, mendatangkan kehangatan pada hidung dan bibirnya. Kedua lengannya merangkul pundak dan leher dengan lembut namun kuat, seolah dia hendak melindungi wanita asing yang membuatnya kagum ini.

Pada waktu Hay Hay mendekatkan mukanya tadi, Sarah telah memejamkan mata sambil membuka bibir untuk menanti ciuman hangat. Ia masih memejamkan mata ketika ciuman itu mendarat ke dahinya dan dia pun teringat pada ayahnya yang biasanya juga mencium dahinya dengan kasih sayang. Dia membiarkan dirinya dipeluk ketat, dan dengan pasrah membiarkan pemuda pribumi itu sejenak menempelkan bibir dan hidung di dahinya.

Hay Hay menarik kembali mukanya dan melepaskan rangkulannya dengan lembut, lantas memandang wajah ayu yang masih memejamkan mata. Dulu, kalau dia mencium seorang dara maka dara itu akan tersipu malu lalu membuang muka ke samping atau menunduk. Tetapi Sarah masih tetap tengadah, memejamkan mata dan mulutnya tersenyum dengan bibir setengah terbuka. Sama sekali tidak nampak canggung atau malu-malu.

Perlahan-lahan Sarah membuka mata memandang. Dua pasang mata bertemu pandang, bertaut sejenak dan pesona itu langsung pecah ketika Sarah tertawa! Tawanya juga lepas biar pun suaranya hanya lirih karena ditahan. Deretan giginya yang rapi dan putih hampir nampak semua ketika sepasang bibir yang merah itu merekah.

Hay Hay mengerutkan alisnya, wajahnya terasa panas sekali. Dia merasa diejek! Apanya yang salah pada ciumannya? Kenapa Sarah menertawakannya? Tawa itu jelas tawa yang mengandung arti, seperti orang melihat sesuatu yang amat lucu.

"Sstt, jangan keras-keras tertawa, Sarah. Katakan, kenapa engkau menertawakan aku?"

Sarah berhenti tertawa dan memegang lengan Hay Hay. "Tentu saja aku tertawa karena engkau lucu. Engkau mengingatkan aku kepada ayahku," katanya sambil menahan tawa dengan senyum lebar. Kerut di antara alis Hay Hay masih belum lenyap.

"Hemm, sudah begitu tuakah aku? Kenapa aku mengingatkan engkau kepada ayahmu? Usiaku baru dua puluh lima tahun!"

Mendengar ucapan ini Sarah kelihatan semakin geli dan kini kedua tangannya memegang kedua tangan Hay Hay, matanya menatap dengan terbuka dan bibirnya menahan senyum geli.

"Tentu saja engkau mengingatkan aku kepada ayahku karena engkau menciumku seperti kalau ayah menciumku. Tetapi engkau bukan ayahku. Aha! Engkau sungguh sama sekali tidak pandai mencium, Hay Hay."

Kini Hay Hay yang tersipu. Gadis ini segalanya demikian terus terang, begitu polos dan wajar. Segala yang ada di dalam hati dan pikirannya ceplas-ceplos saja dikatakan melalui mulutnya tanpa ada rikuh, tanpa khawatir menyinggung perasaan orang karena memang tidak ada niat sama sekali untuk menyinggung. Biar pun tersipu, Hay Hay tersenyum dan semakin kagum.

"Maafkan aku, Sarah. Terus terang saja, aku memang bukan ahli dalam hal itu, mungkin kurang pengalaman karena jarang memperoleh kesempatan. Nah, kau beritahu padaku, bagaimana sih seharusnya mencium seorang gadis seperti engkau ini?"

Tentu saja Sarah merasa heran dan geli. Seorang pemuda yang usianya sudah dua puluh lima tahun bertanya kepadanya mengenai cara mencium seorang gadis! Hal ini terdengar janggal dan aneh baginya, tentu saja karena bangsanya sudah pandai berpacaran sejak usia di bawah dua puluh tahun! Melihat cara Hay Hay menciumnya tadi, ia percaya bahwa Hay Hay tidak berpura-pura.

"Ada tiga cara mencium, Hay Hay. Pertama, ciuman sayang orang tua kepada anaknya, yaitu ciuman di dahi seperti yang kau lakukan tadi. Kedua, ciuman sayang antara saudara atau sahabat baik, di pipi kanan atau kiri atau keduanya. Dan ke tiga adalah ciuman tanda cinta seseorang terhadap kekasihnya, yaitu ciuman bibir dengan bibir. Sekarang engkau sudah tahu, nah, perbaikilah ciumanmu yang salah tadi." Setelah berkata demikian, gadis itu dengan sikap manja kemudian menengadahkan wajahnya yang cantik, dengan mata terpejam dan bibir sedikit terbuka.

Melihat wajah yang sangat dekat itu, hidung yang mancung dan bibir yang menggairahkan serta menantang itu, ingin sekali Hay Hay mengecup bibir itu. Akan tetapi dia tidak berani melakukannya. Biar pun berwatak aneh dan bebas, dia tahu bahwa Sarah adalah seorang gadis yang terhormat, seorang gadis yang memiliki harga diri yang tinggi. Dia tidak ingin menyinggung hati gadis yang mendatangkan perasaan kagum di hatinya itu.

Maka dia pun mendekatkan mukanya, kemudian mencium gadis itu pada kedua pipinya, dengan hidung dan bibirnya. Ciuman yang mengandung perasaan sayang dan kagum. Dan dia merasa betapa gadis itu pun tanpa canggung-canggung membalas ciumannya.

Sesudah Hay Hay melepaskan rangkulannya dan menatap wajah Sarah, mereka saling pandang dan gadis itu tersenyum. Dan Hay Hay merasa betapa terjadi perubahan dalam suasana dan hubungan mereka. Terasa akrab sekali dan seolah-olah kini mereka sudah menjadi sahabat baik sejak bertahun-tahun. Lenyaplah perasaan asing di antara mereka.

"Nah, sekarang kita telah benar-benar menjadi sahabat baik, Hay Hay. Dan aku berterima kasih sekali kepadamu, karena selain engkau sudah menolongku, juga ternyata engkau seorang gentlemen sejati."

"Gentlemen? Apa itu?"

Sarah tersenyum lebar. "Jika menggunakan bahasamu, gentlemen adalah seorang jantan, seorang ksatria, seorang lelaki sejati yang dapat dipercaya, yang gagah perkasa, lembut hati. Pendeknya, seorang lelaki pilihan, begitulah!"

"Dan engkau adalah seorang gadis yang cantik jelita, gagah perkasa, berbudi baik, tetapi terus terang saja, juga begitu amat aneh. Selama hidupku belum pernah aku bertemu dan bersahabat dengan gadis yang hebat seperti engkau ini."

Gadis itu memandang dengan wajah berseri gembira. "Dan aku pun tak pernah bermimpi akan dapat berkenalan dengan seorang pendekar seperti engkau. Tadinya kukira bahwa semua orang pribumi..." Sarah menghentikan ucapannya dan menatap wajah pemuda itu dengan ragu. Bagaimana pun juga dara ini tidak ingin apa bila ucapannya akan membuat sakit hati orang yang dikagumi ini.

"Kau kira semua orang pribumi itu bagaimana, Sarah? Lanjutkanlah dan jangan ragu. Aku pun mengagumi kejujuranmu."

"Baik, aku akan berterus terang saja. Akibat terpengaruh oleh pendapat bangsaku, seperti juga mereka tadinya aku menyangka bahwa semua orang pribumi di sini kasar, sombong, kotor dan jahat, tidak dapat dipercaya. Sesudah aku bertemu dan berkenalan denganmu, sekarang aku melihat bahwa pendapat itulah yang sombong!"

Hay Hay tersenyum dan sikapnya membuat Sarah merasa lega karena pemuda itu tidak tersinggung seperti yang dikhawatirkannya tadi.

"Sarah, apakah engkau belum melihat kenyataan bahwa manusia ini, dari bangsa apa pun juga, dari mana pun juga, hanyalah makhluk yang lemah dan banyak di antara manusia terlalu sering melakukan kesalahan. Manusia hanya berbeda pada lahirnya saja, berbeda warna kulit, mata, rambut dan kebudayaan karena pengaruh alam lingkungannya, namun jiwanya datang dari satu sumber. Tidak ada satu bangsa yang orangnya baik semua atau jahat semua. Kalau ada yang buruk, pasti ada yang baik dan demikian sebaliknya, karena baik dan buruk memang sudah merupakan pasangan yang tak bisa terpisahkan. Di antara bangsaku terdapat banyak orang jahat, kurasa tidak ada bedanya dengan bangsamu. Dan kalau di antara bangsamu terdapat banyak orang baik, demikian pula dengan bangsaku. Jahat tidaknya seseorang bukan tergantung dari bangsanya, agamanya, atau keadaan lahiriahnya. Bukankah demikian, Sarah?"

"Ya Tuhan! Di samping kegagahanmu, ketampanan, keramahan dan semua kebaikanmu, kiranya engkau masih mempunyai kehebatan lain. Engkau seorang filsuf yang bijaksana!" Sarah berseru kaget, heran dan kagum sehingga lupa untuk melunakkan suaranya.

"Stttt, jangan berteriak-teriak, Sarah...," kata Hay Hay. Dia memberi isyarat kepada gadis itu supaya tidak mengeluarkan suara lagi sambil membuat gerakan menunjuk ke arah luar ruangan itu.

Sarah memandang keluar dan mereka pun cepat menyelinap ke belakang peti-peti mati sambil mengintai keluar. Terdengar suara banyak orang di luar goa. Tahulah Sarah bahwa orang-orang yang tadi lari ketakutan, kini sudah datang kembali dan agaknya disertai para pimpinan gerombolan itu.

"Heii, iblis mana yang bermain-main dengan kami? Iblis jahat, ini aku Ma Kiu telah datang. Kini keluarlah dan jangan membikin takut keluarga mereka yang mati!" Terdengar teriakan raksasa hitam yang menjadi orang pertama dari lima pemimpin gerombolan.

Mendadak dari dalam goa itu terdengar suara tawa yang mengerikan. Ketawa perempuan yang terkekeh-kekeh, kedengarannya aneh dan menyeramkan sekali karena datangnya dari peti-peti mati itu! Semua orang yang berada di luar goa hanya berani memandang ke dalam, ke arah tiga buah peti mati yang tertutup kabut asap tipis dari hio-hio yang masih terbakar.

"Siluman betina...” mereka berbisik-bisik ketika mendengar suara tawa wanita itu.

Namun mereka tidak lari tunggang-langgang karena lima orang pemimpin berada di situ. Dan Ma Kiu raksasa hitam itu pun nampak tidak takut. Hal ini karena dia datang bersama empat orang saudaranya dan di sana berkumpul pula puluhan orang anak buahnya. Andai kata dia harus memasuki goa itu sendirian saja, tentu sejak tadi dia sudah lari ketakutan!

Biasanya Ma Kiu sangat galak, pemberani dan tidak takut menghadapi lawan yang mana pun juga, juga biasa membunuh orang dengan kejam dan dengan darah dingin. Namun semua kegalakannya dan kegagahannya langsung terbang entah ke mana bila dia harus menghadapi setan dan iblis.

"Roh jahat yang berada di dalam goa! Keluarlah memperlihatkan diri jika memang berani, atau segera pergilah dari sini, jangan mengganggu kami lagi!" dengan suara yang digalak-galakkan Ma Kiu berteriak lantang.

Melihat lagak Ma Kiu, timbul keberanian di dalam hati orang-orang yang berkumpul di situ. Seperti juga Ma Kiu yang sudah mengamang-amangkan goloknya, mereka lalu mencabut senjata masing-masing dan mulailah mereka berteriak-teriak.

"Siluman betina, pergilah dari sini!"

"Iblis, jangan ganggu kami!"

Seperti rasa takut yang mudah menular, maka keberanian juga sangat mudah menular. Orang yang tadinya ketakutan, sesudah melihat semua orang berlagak berani, maka rasa takutnya akan lenyap dan timbullah keberaniannya. Kini mereka mengamangkan senjata dan berteriak-teriak sehingga suasana gaduh sekali. Juga di depan goa itu menjadi terang benderang karena banyak obor bernyala.

Melihat ini, hati Sarah menjadi gentar juga. Bagaimana mungkin Hay Hay akan sanggup melawan orang yang sebanyak itu? Ia pun memegang lengan kiri Hay Hay dengan kedua tangannya.

Tadi dia telah mengeluarkan suara tawa seperti yang diminta Hay Hay, yang membisikkan agar dia mencoba tertawa seperti setan untuk menakut-nakuti mereka. Dan dia pun tadi tertawa seperti sedang main-main saja, seperti seorang anak kecil sedang menakut-nakuti anak-anak lain, dan dia pun gembira sekali. Akan tetapi kini dia mulai ketakutan sesudah melihat orang-orang itu mencabut senjata dan siap menyerbu.

Meski mulut gadis itu tidak mengeluarkan perasaan takutnya, akan tetapi ketika merasa betapa kedua tangan Sarah yang memegang lengannya terasa dingin dan gemetar, maka tahulah Hay Hay bahwa gadis pemberani ini mengenal juga perasaan ngeri dan gentar.

"Tenanglah, aku tanggung mereka tidak akan dapat mengganggumu, Sarah. Sekarang, kau lihat baik-baik apa yang akan kulakukan kepada mereka!" kata Hay Hay.

Dia lalu mengangkat ujung peti mati yang berada di tengah-tengah, mendorong ujung peti itu ke atas sehingga peti itu bangkit berdiri, seolah-olah mayat yang berada di dalam peti kini hidup kembali dan bangkit bersama petinya! Kemudian Hay Hay mengeluarkan suara menggereng yang membuat seluruh goa itu tergetar, disusul kata-katanya dengan suara yang terdengar parau dan menyeramkan.

"Hemmm, kalian berani mengganggu kami? Akan kami cabut nyawa kalian satu demi satu kalau tidak segera pergi meninggalkan kami. Kami ingin tenang, mengerti?"

Suara itu bergema sehingga menyeramkan sekali. Apa lagi ketika dengan tangan kirinya Hay Hay rnenggoyang-goyang peti di sebelah kiri sedangkan tangan kanan masih tetap menahan peti tengah agar berdiri. Ditambah lagi peti yang kanan mulai bergoyang-goyang pula karena Sarah sudah ikut membantu Hay Hay dan mengguncang peti itu dengan dua tangannya sambil mengerahkan seluruh tenaganya.

Orang-orang yang berada di depan goa terbelalak. Siapa orangnya yang tidak akan takut melihat peti mati bisa bangkit berdiri dan yang dua buah lagi bergoyang-goyang. Agaknya tiga rnayat itu benar-benar telah hidup kernbali!

Raksasa Hitam Ma Kiu terbelalak. Wajahnya pucat, seluruh bulu di tubuhnya meremang, dan tengkuknya terasa dingin bagai ditempeli es. Di kanan kirinya, orang rnenahan napas, ada yang rnenggigil, bahkan ada yang terkulai lemas karena pingsan saking takutnya.

Ma Kiu dan empat orang saudaranya yang biasanya sangat kejam dan dapat mernbantai banyak orang tanpa berkedip, kini melihat mayat-mayat dalam peti hidup kembali, menjadi gemetar ketakutan dan nyali mereka segera terbang entah ke mana. Apa lagi mendengar kata-kata yang diucapkan dengan suara menyeramkan tadi. Mereka tidak dapat menahan rasa takut mereka lagi dan Ma Kiu yang lebih dulu membalikkan tubuh lantas melangkah pergi dari situ dengan langkah lebar. Dia malu untuk lari, akan tetapi langkahnya lebar dan amat cepat hingga melebihi lari cepatnya!

Empat orang saudaranya mengikuti jejaknya dan gegerlah semua anak buahnya, berebut melarikan diri. Mereka saling tabrak dan melarikan diri cerai-berai, tunggang-langgang dan jatuh bangun. Ada yang menyeret kawan yang jatuh pingsan dan terdengar pula tangis di sana-sini sehingga membuat suasana menjadi semakin menyeramkan.

Melihat tingkah puluhan orang itu, Sarah tidak mampu menahan geli hatinya dan dia pun tertawa terkekeh-kekeh, bukan lagi tawa buatan melainkan tertawa yang bebas dan wajar. Tetapi bagi orang-orang yang sudah hampir gila oleh rasa takut itu, suara tawa yang wajar ini, suara tawa seorang wanita yang merdu, membuat mereka semakin menjerit-jerit, lari terkencing-kencing seolah-olah suara tawa itu mengejar mereka dan yang tertawa berada di dekat tengkuk mereka!

Melihat Saran tertawa geli sampai terpingkal-pingkal, Hay Hay ikut pula. Setelah tawanya mereda Sarah mengusap beberapa butir air mata yang tadi ikut terloncat keluar ketika dia tertawa, lalu matanya mencari-cari wajah pemuda itu di dalam keremangan cuaca karena cuaca menjadi gelap sesudah semua orang melarikan diri sehingga tidak ada lagi cahaya obor-obor yang bersinar dari luar.

"Hay Hay..." katanya, dalam suaranya terkandung keheranan dan keraguan sehingga Hay Hay balas memandang dengan sinar mata menyelidik.

"Ada apakah, Sarah?"

"Katakan sebenarnya kepadaku. Apakah engkau benar-benar seorang... manusia biasa?”

Kini Hay Hay yang membelalakkan kedua matanya, kemudian dia tertawa. "Ha-ha-ha-ha, apakah engkau sudah ketularan mereka tadi, mengira bahwa aku ini siluman, setan atau iblis, Sarah?"

“Aku bukan orang picik yang percaya takhyul, Hay Hay. Akan tetapi aku melihat engkau melakukan hal-hal yang tidak lajim dapat dilakukan manusia biasa. Peti ini sangat berat. Aku mengguncang dengan sekuat tenaga pun hanya dapat membuatnya bergerak-gerak. Padahal, biar pun aku wanita tetapi tenagaku tidak kalah dibandingkan pria biasa. Tetapi hanya dengan sebelah tangan, mudah saja engkau mendorongnya sampai bangkit berdiri dan tanganmu sebelah lagi mengguncang peti yang lain. Dan tadi engkau mengeluarkan gerengan yang membuat seluruh goa tergetar, bahkan aku merasa jantungku terguncang dan bulu tengkukku meremang. Seorang manusia biasa tidak mungkin dapat melakukan hal itu."

Hay Hay tersenyum. "Sarah, aku mendengar bahwa pada diri siluman terdapat tiga tanda. Pertama, dia tidak mempunyai lekuk bibir di bawah hidungnya. Ke dua, dia tidak memiliki tumit, dan yang ke tiga, kalau dia berdiri, kedua telapak kakinya tidak menyentuh tanah. Nah, sekarang lihatlah aku," Hay Hay meraba bawah hidungnya. "Di sini terdapat lekukan biasa, dan lihat kakiku." Dia bangkit berdiri dan memperlihatkan kakinya. "Kedua tumitku masih utuh dan kalau aku berdiri, lihat kaki kananku ini, menyentuh tanah ataukah tidak?" Hay Hay sengaja mengangkat sedikit kaki kanannya sehingga tidak menyentuh tanah.

Sarah mengikuti semua ucapan Hay Hay, Ia tadi memperhatikan bawah hidung, lalu tumit kaki dan ketika dia memandang ke arah kaki kanan yang tidak menyentuh tanah, dia pun terbelalak, akan tetapi ketika melirik ke arah kaki kiri Hay Hay yang tentu saja berpijak di atas tanah, dia pun tertawa dan tahu bahwa pemuda itu sengaja mempermainkan dia.

"Hemm, engkau memang bukan manusia biasa, Hay Hay. Engkau seorang manusia yang luar biasa, engkau adalah seorang pendekar yang tidak saja gagah perkasa, akan tetapi juga jujur, baik budi, jenaka dan... mata keranjang!”

"Aihh, mengapa ujungnya menjadi tidak enak? Engkau ini memuji, merayu atau mencela, Sarah?"

"Bukan merayu bukan mencela, melainkan berbicara sejujurnya seperti engkau. Ahh, aku amat lelah dan mengantuk sekali." Sarah merebahkan diri begitu saja, miring di belakang peti mati.

"Tidurlah, Sarah, biar aku yang akan menjagamu."

"Bagaimana aku dapat tidur bersama orang-orang mati begini, Hay Hay? Aku hanya ingin merebahkan diri, akan tetapi tempat ini agak kotor, ihh...!" Dia lalu bangkit dan mengebut-ngebutkan bajunya. Lantai itu memang tidak bersih, terdapat banyak debu dan abu hio di situ.

"Kalau kau mau, rebahlah di sini, Sarah." kata Hay Hay menepuk kedua pahanya.

Dia bicara setengah main-main, akan tetapi diam-diam dia terkejut karena tanpa banyak bicara lagi Sarah lalu merebahkan diri di atas pangkuannya dan menyandarkan kepala di dadanya! Hay Hay bersikap biasa saja dan merangkul pinggang itu, seperti seorang ayah memangku anaknya.

"Sarah, aku heran sekali kenapa engkau tidak suka kepada Kapten Gonsalo itu. Menurut keteranganmu dia adalah seorang kapten pembantu ayahmu yang tampan dan mendengar ceritamu tadi, dia cukup gagah dan pemberani, bahkan sangat mencintaimu. Pandangan matanya kepadamu itu adalah tanda bahwa dia mencintamu, Sarah. Bukankah dia akan menjadi pasanganmu yang cocok dan baik sekali?" Hay Hay setengah memaksa diri untuk bercakap-cakap karena kelembutan tubuh yang dipangkunya itu, kehangatannya, dan keharuman rambut yang berada di dadanya telah membuat dia tidak tenang. Dengan percakapan, tentu perhatiannya akan terpecah.

Mendengar pertanyaan itu Sarah pun menarik napas panjang. "Dia memang tampan dan gagah, bahkan aku tahu bahwa dia menjadi rebutan para gadis bangsa kami. Dia berjasa besar setelah berhasil menghadap kaisar bangsamu dan diterima dengan baik pada waktu mewakili bangsa kami menyerahkan hadiah kepada kaisar. Namanya menjadi terkenal dan dia dipuji-puji. Akan tetapi, aku... aku tidak mencintanya, Hay Hay."

Hay Hay mengerutkan sepasang alisnya. Ada kejanggalan di sini, pikirnya. Jika memang Kapten Gonsalo itu demikian tampan dan gagah, menjadi rebutan para gadis bangsanya, mengapa Sarah tidak tertarik kepadanya? Tentu jawabnya hanya satu, yaitu bahwa Sarah mencintai pria lain! Seorang dara yang ‘panas’ semacam Sarah ini rasanya tidak mungkin kalau tidak mempunyai seorang kekasih.

"Sarah, aku yakin bahwa engkau tentu sudah mempunyai pilihan hati sendiri, mempunyai seorang kekasih."

Tubuh yang bersandar di dada itu bergerak, lantas membalik ketika Sarah menengok ke arah Hay Hay dengan matanya yang biru itu terbelalak. Indah sekali.

"Heiii, bagaimana engkau bisa tahu, Hay Hay?"

Hay Hay tersenyum untuk menangkis serangan keindahan mata yang menembus jantung itu. "Bukankah engkau sendiri yang mengatakan bahwa aku bukan manusia biasa? Nah, katakanlah terus terang. Engkau sudah mempunyai seorang kekasih, bukan?"

Sarah menghela napas dan bersandar kembali. "Benar, namanya Aaron. Dia berusia dua puluh lima tahun. Kami saling mencinta...”

“Lalu kenapa bukan dia yang mengantar engkau berkuda, akan tetapi Kapten Gonsalo?"

"Ahh, bagaimana mungkin? Dia hanya seorang prajurit biasa saja. Karena itu ayah tidak menyetujui hubungan kami. Padahal aku tahu dan yakin benar, Aaron tak kalah gagahnya jika dibandingkan dengan Kapten Gonsalo. Dia hanya kalah pendidikan sekolah, maka dia hanya prajurit biasa, tidak seperti Gonsalo. Hay Hay, aku sungguh sedih kalau mengingat Aaron. Hanya karena cintanya kepadaku maka dia masih bertahan menjadi prajurit, sejak dulu pangkatnya tidak dinaikkan oleh ayah, walau pun jasanya sudah banyak sekali. Kalau dia tidak ingat padaku, tentu dia sudah berhenti menjadi prajurit. Aku menyesal sekali..."

Tubuh di pangkuannya itu terguncang. Sarah menangis! Betapa anehnya, pikir Hay Hay. Seorang wanita berhati singa dapat juga menangis! Cinta memang bisa membuat orang bersikap aneh, bisa menghancur luluhkan hati yang sekeras baja, juga bisa mengeraskan hati yang tadinya lemah. Dia membiarkan Sarah menangis. Setelah agak reda barulah dia menggunakan tangan untuk mengusap air mata dari pipi gadis itu.

"Sarah, benarkah engkau ini Sarah yang tadi begitu berani menghadapi penjahat, bukan seorang anak perempuan yang cengeng?" Hay Hay sengaja berkelakar.

Sarah membalikkan mukanya, menghapus air mata dari mukanya ke baju Hay Hay! Lalu dia membalik dan bersandar lagi. "Hay Hay, jangan mengejek. Engkau tidak merasakan betapa duka dan perihnya hatiku kalau teringat kepada Aaron. Aku kasihan kepadanya."

“Bagus, kasihan memang menjadi bunganya cinta. Akan tetapi mengapa berduka, Sarah? Hidup ini memang merupakan perjuangan. Hidup berarti siap menghadapi segala macam bentuk tantangan. Setiap kesukaran dalam hidup adalah tantangan yang harus kita hadapi dengan tabah, yang harus diperjuangkan agar kita bisa mengatasinya, memenangkannya. Justru perjuangan menghadapi dan mengatasi setiap tantangan itulah seninya kehidupan! Tanpa adanya tantangan berupa segala bentuk kesulitan, alangkah akan hampanya hidup ini, tiada gairah lagi. Jadi jangan melarikan diri ke dalam kesedihan dan menenggelamkan diri ke dalam lautan air mata. Bangkitlah dan hadapilah kesukaran itu dengan tabah, juga berusaha sekuatnya untuk mengatasinya. Itu baru pantas bagimu, Sarah."

Sarah menarik napas panjang. "Luar biasa! Engkau memang seorang pemuda aneh yang luar biasa, Hay Hay. Hemm, andai kata di sana tidak ada Aaron, betapa akan mudahnya bagiku untuk jatuh cinta kepadamu."

"Heii, benarkah itu? Bukankah tadi engkau mengatakan aku mata keranjang?"

Sarah menjebikan bibirnya yang merah basah. "Hemm, laki-laki manakah di dunia ini yang tidak mata keranjang? Tentu saja mata keranjang dalam arti kata suka sekali pada wanita cantik, mudah tertarik dan senang menikmati keindahan seorang wanita melalui pandang matanya. Semua laki-laki adalah mata keranjang dan dia akan mengakui hal ini kalau dia berwatak jujur. Hanya bedanya ada yang berterus terang seperti engkau, bahkan engkau memperlihatkannya tanpa tedeng aling-aling lagi, mengakui terus terang sehingga kalau wanita kurang kuat batinnya, ia akan mudah saja bertekuk lutut terhadap pujian dan kata-katamu yang bermadu. Ada pula yang pura-pura menunduk akan tetapi matanya melirik ganas. Yang model inilah yang sangat berbahaya, seperti seekor kucing yang diam-diam melirik tikus, tanpa bergerak, tahu-tahu menubruk saja! Untung batinmu bersih dan tidak menjadi hamba nafsu, Hay Hay. Bila engkau seperti itu, alangkah banyaknya wanita yang akan menjadi korbanmu. Tentu engkau akan menjadi seorang perusak wanita nomor satu, banyak wanita akan hancur binasa dalam pelukanmu akan tetapi dengan mulut tersenyum karena mabuk oleh rayuanmu."

Hay Hay mengerutkan alisnya. Apa yang digambarkan oleh gadis bule itu persis keadaan mendiang ayahnya. Ayahnya adalah Ang-hong-cu (Si Kumbang Merah), seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang terkenal. Entah berapa puluh atau ratus wanita yang sudah menjadi korbannya, termasuk di antaranya adalah ibu kandungnya!

Ayahnya dahulu tampan, perayu dan sering menjatuhkan wanita dengan ketampanannya, rayuannya, kepandaiannya, bahkan tidak segan-segan memperkosa! Dan kesukaan yang agak keterlaluan pada hatinya terhadap wanita agaknya merupakan warisan dari ayahnya. Untungnya, seperti yang dikatakan Sarah, dia tidak punya niat jahat, tidak menjadi hamba nafsu sehingga dia mampu mengendalikan nafsunya. Dia tidak tega merusak wanita, tidak tega menyengsarakan dan mematahkan hatinya, apa lagi memperkosanya.

"Sudahlah, Sarah, sekarang tidurlah dahulu. Engkau perlu beristirahat karena besok pagi-pagi sekali, setelah di luar tidak segelap ini, kita harus cepat meninggalkan tempat ini dan pelarian itu tentu membutuhkan tenaga."

"Baik, Hay Hay, aku memang sudah mengantuk sekali. Biarlah kubersihkan dulu lantai ini agar dapat tidur enak..."

"Lantainya kotor, tidur sajalah di sini, Sarah."

"Hemm, engkau tentu akan lelah sekali kalau kusandari sampai pagi."

"Tidak, engkau ringan sekali bagiku."

"Terima kasih, Hay Hay, engkau memang baik sekali. Bahkan aku merasa engkau seperti kakakku sendiri," kata Sarah, lalu dia pun menyandarkan kembali kepalanya di dada Hay Hay dan tak lama kemudian napasnya sudah menjadi lembut dan panjang, tanda bahwa dia telah jatuh pulas.

Hay Hay merangkulnya dan dia segera memejamkan matanya ketika dia melihat wajah di dadanya itu. Dia dapat merasakan timbulnya birahi, yang timbul dari pandangan mata lalu dikembangkan di dalam benak.

Pikiran membayangkan hal-hal yang menggairahkan dan nafsu birahi pun mulai bangkit. Kalau nafsu ini dikipasi dengan bayangan di dalam pikirannya, maka nafsu itu tentu akan semakin berkobar. Sesudah dia memejamkan mata dan mengosongkan pikiran, hal yang sudah dilatihnya semenjak dia masih remaja dan mempelajari ilmu dari See-thian Lama, kemudian dilanjutkan dari Ciu-sian Sin-kai, Pek-mau San-jin, kemudian Song Lojin, maka seketika pikirannya menjadi tenang dan bagaikan air yang diam, pikiran menjadi jernih dan bayangan yang menimbulkan nafsu birahi pun lenyap.

Nafsu merupakan pelengkap dalam kehidupan manusia, bahkan pendorong. Manusia tak akan hidup tanpa adanya nafsu, dan kenikmatan hidup bisa datang karena adanya nafsu. Keindahan melalui pandangan mata, kemerduan melalui pendengaran telinga, keharuman melalui penciuman hidung, dan semua kenikmatan yang bisa kita rasakan melalui panca indera, melalui semua anggota tubuh, melalui hati dan akal pikiran, semua itu dapat kita nikmati karena adanya nafsu.

Nafsu adalah anugerah bagi manusia hidup di dunia ini, merupakan berkah dan bekal hidup. Seperti juga anggota badan, hati dan pikiran, nafsu merupakan perkakas atau alat yang bertugas mengabdi dan membantu manusia. Berkat bekerjanya akal yang didorong nafsu, manusia dapat menemukan segala kekuatan dan sarana yang ada di dunia ini.

Kemajuan lahiriah yang ada sekarang, semua berkat bekerjanya nafsu melalui hati akal pikiran. Dan semua hasil pekerjaan nafsu ditujukan untuk kesejahteraan hidup manusia, untuk kenikmatan hidup manusia di dunia, yaitu yang lajim disebut materi atau benda.

Namun, nafsu yang amat berguna bagi kehidupan kita ini, juga amat berbahaya karena kalau manusia dikuasainya, maka manusia akan diseretnya menjadi hamba nafsu yang hidupnya hanya mengejar kenikmatan dan kesenangan duniawi saja. Akibatnya, segala cara dilakukan manusia demi meraih kesenangan yang menjadi tujuan semua nafsu dan terjadilah perbuatan-perbuatan yang dinamakan jahat, yaitu merugikan orang lain.

Kalau kita tidak waspada dan selalu ingat pada Sang Maha Pencipta, yang menciptakan kita, yang menguasai seluruh diri kita luar dalam, yang mengatur segala yang terlihat dan tak terlihat, maka kita akan mudah menjadi korban kekuatan nafsu. Segala kebutuhan hidup kita dilengkapi dengan nafsu yang bisa menimbulkan kenikmatan dalam memenuhi kebutuhan hidup itu.

Kita lapar butuh makan supaya bertahan hidup, dan di dalam makan itu kita dianugerahi nafsu yang mendatangkan kelezatan dalam mengisi perut yang pada dasarnya dilakukan untuk mempertahankan hidup. Kita mengantuk butuh tidur, dan di dalam tidur pun kita dianugerahi kenikmatan. Jika haus butuh minum dan dalam minum pun ada kenikmatan yang didorong oleh nafsu.

Tiada kebutuhan yang tidak disertai kenikmatan dalam memenuhinya. Puji Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Demikian besarnya Tuhan melimpahkan cinta kasih kepada segala cintaan-Nya. Akan tetapi, kalau nafsu merajalela dan kita yang diperhamba, apa akibatnya?

Kita melupakan kebutuhan inti dari kehidupan ini, yang kita kejar hanyalah kenikmatan dan kesenangan, hanya kebutuhan nafsu semata. Kita makan bukan lagi untuk sekedar mempertahankan hidup dan menghilangkan lapar, tapi lebih condong untuk memuaskan nafsu yang mengejar keenakan sehingga sering kali dapat dilihat buktinya betapa dalam keadaan lapar sekali pun, jika lauknya tak menyenangkan mulut kita, kita makan sedikit saja, tidak peduli bahwa mulut kita membutuhkan lebih banyak. Sebaliknya, meski perut sudah kekenyangan, jika yang kita makan itu kita rasakan enak dan memuaskan nafsu, kita makan terlalu banyak sampai akhirnya menderita sakit perut!

Demikian pula dengan semua kebutuhan hidup, termasuk haus, kantuk, dan kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya, termasuk pula nafsu sex. Nafsu sex ini mutlak penting dengan perkembang biakan manusia. Tanpa adanya nafsu ini, orang tidak akan suka melakukan hubungan dan akibatnya, manusia akan punah seperti yang terjadi pada banyak makhluk lain yang dahulu juga menjadi penghuni bumi namun kini tidak ada lagi sama sekali.


Teringat akan semua itu, Hay Hay menghela napas panjang. Mendiang ayah kandungnya, jai-hwa-cat Ang-hong-cu, merupakan contoh dari sekian banyaknya laki-laki yang menjadi hamba nafsu birahinya. Demi memuaskan nafsunya itu, dia tidak segan-segan mengejar dan melampiaskannya dengan segala macam cara, tidak peduli lagi apakah cara itu baik atau buruk, melanggar hukum ataukah tidak.

"Semoga Tuhan akan selalu membimbingku sehingga aku takkan mabuk oleh nafsu dan kehilangan kewaspadaan," pikirnya, lantas dengan lembut tangan kirinya mengelus kepala yang berambut kuning emas itu.

Jodoh Si Mata Keranjang Jilid 16

GADIS itu cepat bangkit duduk, menarik baju yang terobek dan mengikatkan kemeja robek itu sedapatnya asal bisa menutupi dadanya, lalu matanya memandang ke arah Hay Hay, sekarang dengan pandang mata bersyukur dan juga penuh kagum. Tidak dikiranya bahwa pemuda yang tubuhnya sedang itu, yang nampaknya tidak begitu kuat, ternyata mampu merobohkan si jangkung dengan sedemikian mudahnya.

Dia pun tahu bahwa orang ini tentu seorang pendekar seperti yang pernah didengarnya dalam cerita tentang para pendekar yang memiliki ilmu berkelahi tangguh sekali walau pun pendekar itu tampak bertubuh lemah. Dia pun pernah melihat pertunjukan dan permainan silat, maka dia bisa menduga bahwa tentu si caping lebar ini adalah seorang pendekar ahli silat.

Pada saat itu, si jangkung yang merasa penasaran sudah menubruk lagi dari belakang. Hay Hay tidak menangkis, melainkan meloncat ke samping untuk mengelak, dan ketika Ji Tang membalikkan tangan untuk mencengkeram ke arah lambungnya, Hay Hay langsung memapaki tangan yang terbuka membentuk cakar itu dengan totokan jari telunjuknya.

"Tukkk!”

“Aughhh...!"

Ji Tang berteriak kesakitan. Telapak tangan yang ditusuk jari telunjuk itu terasa panas dan nyeri, bahkan terasa menusuk-nusuk sampai ke jantung. Dan sebelum dia tahu apa yang terjadi, tubuhnya telah terjengkang roboh ketika dadanya didorong ujung sepatu Hay Hay. Tubuhnya yang terjatuh itu lantas menggelinding ke dekat dipan. Melihat ini Sarah segera memapakinya dengan tendangan sepatunya yang keras.

"Crottt…!"

Ujung sepatu itu tepat mengenai hidung Ji Tang dan bukit hidung itu pun patah, kulitnya pecah dan darah pun mengucur! Hay Hay cepat menyambar tangan Sarah dan ditariknya ke belakang ketika kaki Ji Tang menyambar ke arah perut gadis itu.

"Terima kasih!" Sarah berkata, maklum bahwa jika tangannya tidak ditarik tentu perutnya sudah terkena tendangan yang amat keras itu.

Kini Ji Tang melompat bangun, tangan kirinya menggosok hidung yang berdarah sehingga darahnya malah melumuri mukanya, kemudian dia pun telah mencabut sepasang pedang pendeknya, senjata yang amat diandalkannya.

Hay Hay menudingkan telunjuknya ke arah Ji Tang, lantas berkata dengan suara lantang, "Heii, pedang di kedua tanganmu itu saling bermusuhan. Coba hendak kulihat, yang mana di antara mereka yang lebih unggul?"

"Ehhh?! Apa...? Bagaimana...?" Ji Tang merasa bingung.

Akan tetapi segera terjadi hal yang sangat aneh. Sekarang Ji Tang menggerakkan kedua pedangnya dan kedua pedang itu seperti bertempur sendiri, digerakkan kedua tangannya sehingga terdengar suara berdentangan. Hay Hay memandang dengan kekuatan sihirnya, kemudian dia cepat memegang tangan Sarah dan berbisik,

"Hayo kita cepat pergi!" Dia menghampiri daun pintu dan diketuknya daun pintu besi itu.

"Buka pintu! Buka...!"

Para penjaga di luar yang masih terheran-heran kini membuka daun pintu itu Begitu Hay Hay menyapu mereka dengan pandang matanya, mereka melihat Ji Tang menggandeng tawanan wanita kulit putih itu keluar. Karena tadi Ji Tang telah bersikap keras, maka para penjaga itu tidak ada yang berani menegur sehingga dengan mudah saja Hay Hay dapat membawa Sarah lari dan menghilang di dalam kegelapan malam.

Pada saat Hay Hay dan Sarah telah lenyap ditelan kegelapan, penjaga yang tadi melapor sudah datang beriari-lari, diikuti empat orang pimpinan gerombolan itu. Mereka berempat sangat marah dan juga tidak percaya bahwa Ji Tang sudah menjadi dua orang yang kata penjaga itu keduanya memasuki tempat tahanan di mana gadis kulit putih itu ditawan.

Pada waktu mereka tiba di depan goa yang pintunya sudah terbuka, mereka melihat para penjaga sedang berdiri memandang ke dalam dengan bengong. Melihat ini empat orang pimpinan itu berlompatan dan mereka pun berada di pintu goa dan memandang ke dalam. Mereka terbelalak bengong, terheran-heran sekali melihat rekan mereka, Ji Tang, sedang memainkan sepasang pedang yang saling serang seperti seorang dalang wayang boneka memainkan dua peran yang sedang berkelahi! Pemimpin gerombolan yang tinggi besar hitam itu lalu meloncat ke dekat Ji Tang, menepuk pundaknya dan membentak nyaring.

"Ji Tang, apa yang kau lakukan ini?!"

Ji Tang terkejut sekali, dua batang pedangnya terlepas dan jatuh berkerontangan di atas lantai, lalu memandang ke sekeliling seperti orang yang baru terjaga dari tidurnya.

"Apa... apakah yang terjadi? Di mana keparat bercaping itu dan mana... mana tawanan kita...?" Ji Tang memandang kepada para penjaga yang berkerumun di depan goa. "Heii, kalian para penjaga! Ke mana perginya tawanan kita?"

Para penjaga menjadi panik dan takut. "Toako, tadi kami melihat Toako Ji Tang mengajak tawanan itu keluar dari sini!"

"Gila kalian! Aku masih di dalam sini!" teriak Ji Tang bingung.

"Sungguh mati, kami melihat Ji-toako tadi keluar menggandeng tawanan itu dan menuju ke sana." Seorang penjaga menunjuk keluar goa, ke arah kiri.

Raksasa hitam itu membentak. "Cukup semua ini! Keterangan boleh diberikan nanti. Tapi sekarang semuanya harus cepat pergi mencari dan menangkap kembali wanita kulit putih itu!"

Obor-obor cepat dipasang dan gegerlah perkampungan gerombolan itu. Suasana menjadi ramai sekali. Semua orang melakukan pengejaran dan pencarian ke sana ke mari, akan tetapi semua usaha mereka sia-sia. Tawanan itu lenyap tanpa meninggalkan bekas sama sekali, bersama pria yang menurut keterangan Ji Tang adalah seorang pemuda bercaping lebar akan tetapi menurut para penjaga adalah Ji Tang sendiri!

Lima orang pemimpin itu mengadakan perundingan sambil mendengarkan keterangan Ji Tang yang sangat aneh. Juga keterangan para penjaga yang mengatakan bahwa mereka melihat Ji Tang dua kali memasuki goa, kemudian melihat Ji Tang keluar dan membawa tawanan wanita itu, akan tetapi di dalam goa terdapat Ji Tang pula yang sedang bermain-main dengan sepasang pedangnya seperti orang gila!

"Tentu ada orang lain yang menyamar sebagai engkau, Sam-te (adik ke tiga)," si raksasa hitam berkata. "Dan orang itulah yang melarikan tawanan kita. Tapi anehnya, bagaimana mereka itu dapat melarikan diri demikian cepat, dan di malam gelap pula?"

"Lebih aneh lagi, orang itu dapat menyamar sebagai aku, padahal ketika memasuki goa, jelas kulihat dia tidak menyamar, akan tetapi mengenakan caping lebar. Dan betapa aku seperti orang tak sadar bermain-main dengan sepasang pedangku. Aih, jangan-jangan dia itu bukan manusia, Toako. Dua kali aku menyerangnya, dua kali pula aku roboh secara aneh. Hihh, dia tentu iblis sendiri yang mengganggu kita. Ataukah..., jangan-jangan wanita kulit putih itu mempunyai peliharaan setan!"

Semua orang langsung bergidik ngeri mendengar ini. Bukan tidak mungkin, pikir mereka. Mereka tidak mengenal benar akan kebudayaan dan kepandaian orang kulit putih. Mereka adalah orang-orang sederhana yang percaya akan takhyul. Melihat semua keanehan ini, serta lenyapnya tawanan tanpa meninggalkan jejak, mereka yakin bahwa tentu ada setan yang menolong wanita itu!

Sebagai orang-orang yang percaya takhyul, mereka segera melakukan sembahyang, baik di hadapan peti-peti mati di goa besar mau pun di beberapa tempat lainnya yang mereka anggap keramat untuk mohon agar iblis dan setan tidak lagi mengganggu mereka.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Ke manakah perginya Hay Hay dan Sarah? Saat Hay Hay berhasil menarik tangan Sarah menyelinap di dalam kegelapan, dia pun bingung ke mana harus melarikan diri. Malam itu gelap sekali sehingga tak mungkin menggunakan ilmu berlari cepat di tempat yang penuh batu dan gelap itu, apa lagi dia tidak mengenal daerah itu, ditambah dia harus melindungi seorang wanita kulit putih.

"Sobat, ke mana kita dapat pergi...?" Sarah juga merasa khawatir sekali karena ketika dia melihat goa, banyak orang berlarian ke arah goa tadi dan terdengar mereka itu ribut-ribut. Kepergiannya telah diketahui orang dan tentu banyak orang akan mencarinya. Bagaimana penolongnya ini akan mampu menghadapi puluhan orang seperti itu?

"Sstttt, mari nona!" kata Hay Hay dan dia pun sudah tahu ke mana dia harus membawa wanita itu bersembunyi. Goa tempat berkabung, di mana tiga buah peti itu berjajar!

Para penjaga di goa itu sudah meninggalkan tempat penjagaan mereka karena mereka pun mendengar ribut-ribut itu lalu mereka cepat berlarian menuju ke goa tempat tawanan. Yang tinggal di goa tempat berkabung tinggal keluarga tiga orang anggota perampok yang tewas oleh peluru pistol Kapten Gansalo, terdiri dari isteri-isteri mereka beserta anak-anak mereka. Tempat itu diterangi tiga buah lampu gantung dan lilin-lilin bernyala di atas meja sembahyang.

Tiba-tiba tiga buah lentera gantung itu padam! Dan berturut-turut, semua lilin di atas meja sembahyang juga ikut padam! Suasana menjadi gelap gulita, maka sibuklah mereka yang berkabung. Ada yang segera mencoba untuk menyalakan lilin dan lampu, ada pula yang menangis dan mereka semua merasa ketakutan karena padamnya semua lampu dan lilin merupakan hal yang aneh dan juga menakutkan, apa lagi di sana terdapat tiga buah peti mati berisi mayat.

Sebagian besar orang sering menghubungkan kematian dengan iblis dan setan sehingga menimbulkan perasaan ngeri, seram dan takut! Rasa takut timbul karena tidak mengerti, tidak mengenal apa dan bagaimana kematian itu, juga kita tidak mengenal dan tidak tahu apa yang disebut setan dan iblis itu. Oleh karena keduanya merupakan hal yang asing dan tidak kita kenal, maka muncullah dugaan yang macam-macam, khayalan yang aneh-aneh dan timbullah rasa takut.

Membayangkan orang mati hidup kembaIi, kita merasa takut karena menghubungkannya dengan setan dan iblis. Coba kita membayangkan seekor semut yang sudah mati hidup kembali, tidak ada di antara kita yang akan merasa takut, sebab semut tidak merupakan ancaman bagi keselamatan kita. Berbeda dengan manusia mati yang hidup kembali, kita membayangkan betapa mayat hidup itu menjadi setan dan akan mencekik kita!

Tak ada seorang pun di antara para keluarga si mati yang berkabung di situ tahu betapa dalam kegelapan tadi ada dua sosok bayangan menyelinap masuk ke dalam goa, terus ke dalam dan lenyap di dalam kegelapan goa sebelah dalam di mana terdapat empat buah ruangan kamar yang dipergunakan untuk menyimpan senjata alat berlatih silat di ruangan besar goa itu. Juga tidak ada yang tahu bahwa yang memadamkan lentera dan lilin tadi adalah Hay Hay.

Setelah lentera gantung dan semua lilin sudah dinyalakan kembali, para anggota keluarga itu sibuk menyembahyangi tiga peti mati. Mereka takut kalau-kalau arwah tiga orang itulah yang tadi penasaran lantas ‘mengamuk’ memadamkan semua penerangan. Asap hio yang mereka pergunakan untuk sembahyang memenuhi tempat itu, membentuk tirai asap putih yang hanya perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit keluar dari goa.

Di sana terdapat belasan orang keluarga dari tiga orang yang mati. Tiba-tiba semua orang terkejut dan cepat mereka menjatuhkan diri berlutut ketika terdengar suara dari belakang tiga buah peti mati itu. Suara itu besar dan dalam, bergema dan terdengar oleh mereka seperti bukan suara manusia!

"Kalian semua keluarlah... lekaslah keluar... kami ingin tenang... keluarlah atau kami akan mengajak kalian mati...!"

Dapat dibayangkan betapa kaget dan takutnya semua orang yang berada di situ. Biar pun ketiga buah peti mati itu berisi jenazah kepala keluarga mereka, suami dan ayah mereka yang kematiannya mereka tangisi dan mereka kabungi, akan tetapi begitu ada suara dari si mati, mereka pun menjadi ketakutan!

Memang aneh. Keluarga yang ditinggal akan menangisi kematian seseorang yang dicinta, berduka dan kecewa karena orang yang dikasihi meninggalkan mereka, akan tetapi begitu yang ditangisi itu, yang dianggap sudah mati, dapat bersuara atau hidup kembali, mereka yang berkabung itu akan lari cerai-berai ketakutan!

Sambil menjerit-jerit, mereka yang berkabung itu berhamburan keluar dari dalam ruangan goa yang besar itu. Sarah yang menyaksikan semua itu tidak menahan suara ketawanya. Sesudah Hay Hay memberi isyarat, baru dia membungkam mulut sendiri dengan tangan, agar suara tidak keluar dari mulutnya. Gadis ini merasa geli bukan main melihat betapa Hay Hay mempermainkan mereka yang berada di situ sehingga mereka itu lari tunggang langgang, jatuh bangun dan mungkin juga ada yang sampai terkencing-kencing.

Setelah suara tawanya mereda, Sarah menjatuhkan diri duduk di dalam sebuah di antara kamar-kamar itu, bersandar kepada dinding batu. Lantai kamar itu kering dan bersih, dan di sudut terdapat rak senjata. Hay Hay juga duduk bersandar dinding, berhadapan dengan gadis itu dalam jarak tiga meter. Mereka saling pandang dan diam-diam keduanya saling mengagumi.

Hay Hay telah menanggalkan capingnya yang kini tergantung di punggung. Baru sekarang Sarah bisa melihat wajah penolongnya secara jelas. Muka yang cerah, tampan dan dihias senyum nakal.

Hay Hay juga memandang kagum. Ternyata gadis ini nampak masih muda sekali, bahkan wajahnya masih kekanak-kanakan. Akan tetapi bila dia teringat betapa tadi di dalam goa, gadis bule ini berani menentang seorang pemimpin perampok ganas dan melawan secara mati-matian, bahkan ketika sudah bebas dari totokan, mampu menendang remuk hidung kepala perampok jangkung, sungguh dia merasa kagum bukan main. Dara ini benar-benar memiliki watak seorang pendekar wanita!

"Mengapa engkau tertawa, Nona? Jangan keras-keras kalau tertawa, nanti terdengar oleh mereka dan kita bisa celaka," kata Hay Hay memancing bicara.

Dara itu tersenyum nakal sehingga jantung Hay Hay berdebar. Biar pun penerangan yang memasuki kamar itu tidak terlampau kuat, akan tetapi dia dapat melihat wajah itu dengan jelas. Ketika gadis itu tersenyum, nampak deretan gigi putih yang rapi dan amat kuat, dan senyum itu seperti mengandung madu, begitu manisnya. Ada lesung pipi yang amat jelas dan lekuk dagu yang mempesonakan.

"Aku tidak takut karena di sini ada engkau," kata Sarah. "Aku tahu siapa engkau."

Hay Hay terbelalak, memandang wajah cantik itu penuh selidik. Benarkah gadis asing ini mengetahui siapa dia?

"Ehh? Engkau tahu siapa aku? Nah, katakan siapa aku."

"Engkau tentu seorang pendekar, ahli silat dan juga engkau seorang tukang sulap."

"Tukang sulap? Apa maksudmu?"

"Tadi engkau membuat jahanam jangkung itu menari-nari dengan dua pedangnya seperti orang gila, kemudian engkau juga dapat membawa aku keluar dari goa itu tanpa ada yang menghalangi, dan di sini engkau membuat semua orang lari tunggang langgang sesudah secara aneh engkau memadamkan semua penerangan. Sobat, engkau telah menolongku, sungguh aku berhutang budi besar kepadamu. Siapakah namamu?"

"Sebut aku Hay Hay, dan engkau siapa, Nona? Bagaimana pula engkau sampai tertawan oleh para perampok itu?"

"Panjang ceritanya, akan tetapi apakah kita hanya akan membuang-buang waktu dengan bercakap-cakap di tempat ini? Bukankah kita harus cepat-cepat meloloskan diri dari sini, Hay Hay?"

Hay Hay tersenyum. Dia semakin kagum dan suka kepada dara kulit putih ini. Demikian bebas terbuka dan ramah sehingga dengan akrab menyebut namanya begitu saja tanpa canggung-canggung, seolah-olah mereka telah lama sekali menjadi sahabat karib.

"Tak mungkin kita pergi sekarang. Di luar amat gelap dan aku tidak mengenal jalan. Juga mereka akan menghadang. Jumlah mereka sangat banyak. Besok aku akan mencari akal dan jangan khawatir, aku akan menyelamatkanmu bebas dari tempat ini."

Sarah menarik napas lega. "Aku percaya padamu, Hay Hay. Namaku Sarah, lengkapnya Sarah Armando. Ayahku adalah Kapten Armando, komandan benteng Portugis di Cang-cow."

“Ahhh...!”

"Engkau mengenal ayahku?"

"Tidak, aku bukan orang Cang-cow, tadi aku hanya terkejut dan heran mendengar engkau adalah puteri seorang komandan. Lalu bagaimana engkau bisa tertawan oleh gerombolan penjahat itu?"

"Aku marah kepada ayah..." Sarah berkata dengan mulut cemberut. Bibirnya yang merah segar itu meruncing dan nampak lucu bagi Hay Hay sehingga dia tertawa. Dara ini seperti seorang anak kecil yang merajuk saja.

"Hemm, Sarah, engkau marah kepada ayahmu, lalu kenapa tertawan penjahat?"

"Ayah sudah berjanji untuk mengajakku berkuda pagi tadi, tetapi dia berhalangan karena harus menghadiri pelaksanaan hukuman mati terhadap pemberontak. Ayah lalu menyuruh Kapten Gonsalo mewakilinya untuk mengantarku berkuda di perbukitan. Kapten Gonsalo adalah wakil atau pembantu utama ayah. Karena itu hatiku jengkel sekali."

"Aihh, mengapa begitu? Bukankah engkau sudah dapat pergi berkuda diantar oleh Kapten Gonsalo itu?"

"Ya, akan tetapi aku tidak suka kepada Kapten Gonsalo."

"Hemm, lalu apa yang terjadi?"

"Kami berkuda di perbukitan. Karena masih marah aku lalu membalapkan kuda ke atas perbukitan yang penuh hutan. Kapten Gonsalo hendak melarang, akan tetapi aku nekat dan dia pun mengejarku. Setiba kami di tengah hutan, tiba-tiba muncul banyak perampok. Kapten Gonsalo menyerang mereka dengan pistolnya dan dia berhasil merobohkan tujuh orang perampok. Sesudah peluru pistolnya habis dia lalu mengamuk dengan pedangnya, dikeroyok oleh banyak perampok."

Hay Hay mengangguk-angguk. "Hebat juga Kapten Gonsalo itu, Sarah."

"Dia memang seorang jagoan. Jago tembak, jago bermain pedang dan jago tinju. Kapten muda berusia tiga puluhan tahun itu di benteng kami tidak ada yang berani melawannya."

"Hemm, dia gagah. Sungguh aneh bila engkau tidak menyukainya. Apakah dia kasar dan kurang ajar?"

"Dia tampan dan gagah, keras akan tetapi terhadap aku dia amat sopan. Tetapi pandang matanya membuat aku tidak suka padanya."

"Pandang matanya?"

"Matanya itu kalau memandang kepadaku mengingatkan aku akan mata seekor harimau atau serigala kelaparan!"

Mendengar ini Hay Hay tertawa, tetapi menahan suara tawanya agar jangan bergelak. Dia mengerti sekarang. Kiranya seorang kapten muda yang tampan dan gagah perkasa jatuh cinta kepada dara jelita ini, akan tetapi agaknya sang dara ini tidak membalas cintanya itu. Payah kalau cinta bertepuk tangan sebelah!

"Lalu bagaimana, Sarah? Teruskan ceritamu."

"Kapten Gonsalo mengamuk, akan tetapi selanjutnya aku tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan dia. Ketika aku bersiap-siap untuk membantunya dan mencabut pistolku, tiba-tiba saja ada orang yang menyerangku dari belakang dan tahu-tahu aku sudah tidak mampu menggerakkan kaki tanganku yang menjadi lemas dan lumpuh. Aku ditawan oleh seorang lelaki tinggi kurus dan aku dilarikan olehnya di atas kuda, dibawa ke sini dan dihadapkan kepada pimpinan penjahat. Lalu aku ditawan di dalam goa itu sampai muncui si jahanam busuk jangkung itu. Ohh…, betapa inginku menembakkan pistolku sampai habis peluruku ke dalam kepalanya!"

"Jadi, mayat-mayat dalam peti mati ini adalah korban peluru senjata api Kapten Gonsalo? Dan bagaimana dengan dia?"

"Benar, tujuh orang roboh akibat tembakannya dan dia memang kuat sehingga masih ada beberapa orang lagi roboh oleh pedang dan tinjunya. Mungkin tiga orang di antara mereka tewas. Aku sendiri tidak tahu bagaimana dengan nasib Kapten Gonsalo. Tetapi dia adalah seorang yang kuat dan cerdik sekali, kurasa tidak mudah bagi penjahat-penjahat itu untuk menangkapnya."

Hay Hay mengangguk-angguk kemudian dia pun berpikir keras. Kebetulan sekali dia bisa bertemu puteri komandan benteng Portugis, bahkan menyelamatkannya. Hal ini membuka kesempatan baginya untuk menyelidiki keadaan orang-orang Portugis yang di dalam surat laporan Yu Siucai dikatakan sebagai sekutu para pejabat di kota Cang-cow yang hendak melakukan pemberontakan, di samping para bajak laut Jepang dan orang-orang Pek-lian-kauw. Kalau melihat dara ini, dan mendengar ceritanya tentang Kapten Gonsalo, agaknya bangsa Portugis ini adalah bangsa yang gagah perkasa!

"Heii, mengapa engkau malah melamun, Hay Hay? Sekarang tiba giliranmu menceritakan keadaan dirimu, siapa engkau sesungguhnya dan bagaimana engkau dapat datang ke sini dan menyelamatkan aku."

Hay Hay sadar dari lamunannya. Dia akan menggunakan kesempatan ini untuk mendekati Sarah dan memancing keterangan apa saja yang dapat dia peroleh dari puteri komandan ini.

"Aku? Sudah kukatakan bahwa namaku Hay Hay dan aku adalah seorang perantau yang sedang berusaha mencari pekerjaan yang layak di Cang-cow. Ketika tadi aku lewat di bukit sana, aku melihat engkau dilarikan si tinggi kurus ke bukit berbatu ini. Aku merasa curiga dan aku paling tidak suka melihat wanita diperhina, maka aku lalu membayanginya dan berhasil menyelundup ke tempat ini. Begitu mendapat kesempatan aku lantas masuk ke goa di mana engkau ditawan dan kebetulan saja aku dapat menghindarkan engkau dari penghinaan. yang akan dilakukan si jangkung itu."

"Jahanam busuk dia!" kata Sarah sambil mengepalkan tinjunya. "Andai kata engkau tidak segera muncul, Hay Hay, maka sudah pasti aku akan menjadi korban kebiadabannya dan aku akan diperkosanya. Dan sisa hidupku akan kupergunakan untuk membalas dendam kepadanya, entah dengan cara bagaimana pun juga!”

Hay Hay bergidik. Gadis muda yang jelita ini mempunyai kekerasan hati yang luar biasa. "Sarah, kukira para pemimpin perampok menawanmu dengan maksud untuk menjadikan engkau sebagai sandera. Mereka akan minta uang tebusan yang besar jumlahnya. Hanya si jangkung tadi sajalah yang hendak berbuat tidak senonoh dan kukira dia melakukannya di luar tahu para rekannya, yaitu empat orang pimpinan yang lainnya. Tapi kulihat engkau sama sekali tidak takut menghadapi orang-orang buas itu."

"Hemm, kenapa harus takut? Baik Kapten Gonsalo sudah tewas atau mampu meloloskan diri, aku yakin bahwa ayahku tentu akan memimpin pasukan untuk mencariku, dan kalau pasukan ayah dapat tiba di tempat ini, tentu seluruh perampok itu akan dibasmi habis!"

"Sarah, sungguh aku merasa kagum sekali kepadamu." Hay Hay mengamati wajah yang jelita itu. Sarah balas memandang dan alisnya berkerut, pandang matanya berubah heran dan menyelidik.

"Hay Hay, engkau seorang diri berani masuk ke tempat berbahaya ini dan menolongku. Sepantasnya akulah yang kagum kepadamu atas keberanian, kegagahan dan kemuliaan hatimu, bukan engkau yang mengagumiku. Mengapa engkau mengatakan kagum sekali kepadaku?"

Hay Hay tersenyum. Ia tidak sekedar merayu. Ia memang kagum kepada gadis kulit putih ini, kagum akan kecantikannya, kagum akan keberaniannya.

"Mengapa? Sikapmu demikian gagah berani, sedikit pun engkau tidak penakut dan tidak cengeng seperti kebanyakan wanita. Dan engkau begini cantik jelita dan manis. Selama hidupku belum pernah aku bertemu dengan seorang dara sejelita engkau, Sarah. Rambut di kepalamu bagai mahkota emas, seolah-olah mengeluarkan cahaya. Wajahmu pun amat manis, terutama sekali sepasang matamu. Seperti dua buah bintang kejora dan warnanya demikian penuh rahasia, kebiruan laksana lautan yang dalam. Bentuk dahimu, hidungmu, pipimu, dagumu dan terutama bibirmu! Bukan main, agaknya seperti engkau inilah wajah bidadari di dalam dongeng. Dan bentuk tubuhmu! Engkau wanita dengan kecantikan yang sempurna, Sarah, dan aku kagum bukan main."

Kerut di alis itu semakin mendalam dan kini sepasang mata itu menyinarkan kemarahan, "Hay Hay, kelirukah penilaianku kepada dirimu? Tadi aku menilai engkau sebagai seorang pendekar, seorang yang gagah perkasa dan berbudi mulia! Apakah engkau kiranya hanya seorang laki-laki mata keranjang dan kurang ajar?"

"Hemmm, kenapa engkau menganggap aku mata keranjang dan kurang ajar, Sarah?"

"Engkau mencoba untuk merayu aku, ya? Hay Hay, biar pun kuakui bahwa engkau telah menolongku, akan tetapi jangan kira bahwa sesudah menolongku engkau dapat berbuat sesuka hatimu, dapat merayu dan menggodaku!"

"Wah, sungguh sayang, Sarah. Pujianku kepadamu tetap. Engkau cantik jelita dan gagah perkasa, akan tetapi sekarang setelah engkau berbicara seperti itu, sayang sekali harus kukatakan bahwa engkau berprasangka buruk dan karenanya bodoh sekali!"

Bagaimana pun juga, Sarah tetap seorang wanita. Tidak ada wanita yang tidak haus akan pujian. Baik pujian itu sejujurnya atau pun hanya rayuan, tetap saja segala macam bentuk pujian membesarkan hati seorang wanita dan mengangkat harga dirinya. Walau pun tadi marah-marah, tetap saja di sudut hatinya Sarah merasa senang dan bangga mendengar pujian pria yang dikaguminya, yang telah menyelamatkannya dari ancaman bahaya yang amat hebat. Kini, mendengar pemuda itu mengatakan dia berprasangka buruk dan bodoh, tentu saja dia menjadi kecewa sekali.

"Hay Hay....!"

“Ssttt..., jangan berteriak...”

Sarah teringat, "Hay Hay," katanya, kini lirih. "Engkau sombong! Engkau mengatakan aku berprasangka buruk dan bodoh? Betapa sombongnya engkau!"

Hay Hay tersenyum. "Nah, itulah bukti kebodohanmu. Ketika tadi aku memujimu, engkau marah-marah dan menganggap aku merayu dan menggoda, mata keranjang. Ketika aku mengatakan engkau berprasangka buruk dan bodoh, engkau mengatakan aku sombong."

"Tentu saja! Engkau seorang laki-laki dan baru saja menolongku, tetapi sekarang engkau memuji-muji kecantikanku dengan kata-kata yang muluk. Bukankah itu namanya rayuan gombal?"

"Sarah, rayuan hanya dikeluarkan oleh orang yang ingin menjilat dan menyenangkan dia yang dirayunya, dengan pamrih tertentu. Tapi aku sama sekali tidak merayumu. Kau lihat, aku mempunyai sepasang mata yang sehat dan tidak cacat, bukan?"

Sarah memandang heran. "Tentu saja, walau pun bentuk matamu agak sipit tapi sinarnya mencorong seperti mata naga."

"Ehh, engkau sudah melihat mata naga?"

"Dalam dongeng yang pernah kubaca. Nah, ada apa dengan matamu?"

"Aku mempunyai sepasang mata yang sehat. Aku melihat engkau dan pandang mataku melihat betapa cantik jelitanya wajahmu. Aku mengatakannya dengan terus terang karena memang aku menyukai keindahan. Aku menggambarkan kecantikanmu seperti kalau aku melihat setangkai bunga yang indah dan mengaguminya. Apakah ini yang kau namakan mata keranjang dan merayu? Aku hanya mengemukakan pendapat secara jujur. Engkau memang cantik jelita dalam pandanganku. Apakah aku harus mengatakan bahwa engkau buruk? Apakah kejujuranku ini kau anggap sebagai rayuan gombal?"

Kini pandang mata gadis itu menjadi terbelalak. Agaknya dia bingung. Belum pernah dia mendengar pendapat seorang pria seperti yang baru saja didengarnya.

"Engkau ini aneh, Hay Hay! Benarkah pujianmu tadi bukan rayuan melainkan pernyataan yang jujur? Apakah di balik pujianmu itu tidak ada suatu pamrih, suatu dorongan birahi? Apakah engkau tidak ingin menyentuhku, memeluk dan menciumku?"

Tiba-tiba Hay Hay merasa betapa mukanya panas sekali dan dia tahu bahwa tentu kulit mukanya berubah merah. Untung bahwa sinar penerangan yang memasuki kamar batu itu juga kemerahan sehingga perubahan warna di wajahnya takkan nampak. Dia menjadi salah tingkah mendengar pertanyaan-pertanyaan itu.

Dia harus bersikap sejujurnya. Gadis ini berbeda dengan gadis-gadis bangsanya. Begitu terbuka dan agaknya tidak pantang berbicara tentang birahi. Dia harus menghela napas panjang beberapa kali untuk mengumpulkan keberaniannya sebelum bicara.

"Kau ingin aku jujur, bukan? Jangan marah kalau jawabanku yang jujur akan menyinggung perasaan hatimu."

"Kalau engkau tidak jujur dan membohongiku, barulah aku akan tersinggung, Hay Hay."

"Baiklah, Sarah. Terus terang saja, jika engkau bertanya kepadaku apakah aku tidak ingin menyentuhmu, memeluk dan menciumi, jawabnya sama dengan kalau engkau bertanya kepadaku apakah aku tak ingin menyentuh, meraba dan mencium setangkai bunga yang indah mengharum? Aku akan berbohong jika aku mengatakan tidak, Sarah. Engkau begini cantik jelita seperti setangkai bunga, akan tetapi hal itu tidak berarti bahwa aku memiliki niat yang tidak senonoh padamu. Aku menyayangi keindahan. Aku akan menyentuh dan mencium setangkai bunga karena mengaguminya, akan tetapi aku tak akan memetiknya dan merusaknya. Engkau mengerti?"

Hay Hay menduga bahwa gadis itu tentu akan tersinggung dan marah. Akan tetapi dara itu sama sekali tidak marah, bahkan tersenyum manis sekali!

“Aku mengerti, Hay Hay, dan aku makin kagum kepadamu. Engkau jujur dan jantan. Nah, kalau memang engkau ingin menyentuh, memeluk dan menciumku, mengapa hal itu tidak kau lakukan?”

"Ehhh...!" Hay Hay terbelalak mengamati wajah gadis itu. Mengejekkah gadis itu?

"Mengapa, Hay Hay? Bukankah engkau ingin memeluk dan menciumku? Aku akan girang sekali kalau kau lakukan itu. Ataukah ucapanmu itu hanya basa-basi belaka dan engkau tidak berani melakukan apa yang kau katakan?"

"Aku takut engkau akan marah kalau kulakukan itu, Sarah."

"Mengapa harus marah? Kalau memang engkau jujur, aku tidak akan marah bahkan aku akan merasa bangga dan girang sekali. Atau engkau hanya pura-pura jujur saja?"

Bukan main! Hay Hay tercengang. Belum pernah dia berjumpa seorang gadis seperti ini. Jika dia tidak yakin akan kejujuran Sarah, tidak yakin akan kesucian hatinya dan melihat sendiri betapa secara mati-matian Sarah mempertahankan kehormatannya, bahkan akan membalas dendam secara mengerikan bila sampai kehormatannya dicemarkan, tentu dia akan mengira gadis ini murahan! Begitu saja menantang seorang laki-laki untuk memeluk dan menciumnya untuk menimbulkan kekagumannya dan kejujurannya!

Akan tetapi Hay Hay tahu pasti bahwa menghadapi gadis seperti ini, dia pun harus berani membuktikan kejujurannya. Apa lagi, bukti itu akan amat menyenangkan!

"Kalau begitu, maafkan aku!" katanya dan dia pun bangkit, menghampiri Sarah, duduk di dekatnya dan dia pun merangkul dengan perasaan sayang, kemudian dengan lembut dia mencium dahi yang kulitnya putih seperti susu itu. Ciuman yang hangat dan mesra.

Dalam sentuhan antara hidung dan bibir Hay Hay dengan kulit dahi yang halus dan harum aneh oleh bedak dan keringat itu terkandung perasaan sayang dan kagum dari hati Hay Hay, mendatangkan kehangatan pada hidung dan bibirnya. Kedua lengannya merangkul pundak dan leher dengan lembut namun kuat, seolah dia hendak melindungi wanita asing yang membuatnya kagum ini.

Pada waktu Hay Hay mendekatkan mukanya tadi, Sarah telah memejamkan mata sambil membuka bibir untuk menanti ciuman hangat. Ia masih memejamkan mata ketika ciuman itu mendarat ke dahinya dan dia pun teringat pada ayahnya yang biasanya juga mencium dahinya dengan kasih sayang. Dia membiarkan dirinya dipeluk ketat, dan dengan pasrah membiarkan pemuda pribumi itu sejenak menempelkan bibir dan hidung di dahinya.

Hay Hay menarik kembali mukanya dan melepaskan rangkulannya dengan lembut, lantas memandang wajah ayu yang masih memejamkan mata. Dulu, kalau dia mencium seorang dara maka dara itu akan tersipu malu lalu membuang muka ke samping atau menunduk. Tetapi Sarah masih tetap tengadah, memejamkan mata dan mulutnya tersenyum dengan bibir setengah terbuka. Sama sekali tidak nampak canggung atau malu-malu.

Perlahan-lahan Sarah membuka mata memandang. Dua pasang mata bertemu pandang, bertaut sejenak dan pesona itu langsung pecah ketika Sarah tertawa! Tawanya juga lepas biar pun suaranya hanya lirih karena ditahan. Deretan giginya yang rapi dan putih hampir nampak semua ketika sepasang bibir yang merah itu merekah.

Hay Hay mengerutkan alisnya, wajahnya terasa panas sekali. Dia merasa diejek! Apanya yang salah pada ciumannya? Kenapa Sarah menertawakannya? Tawa itu jelas tawa yang mengandung arti, seperti orang melihat sesuatu yang amat lucu.

"Sstt, jangan keras-keras tertawa, Sarah. Katakan, kenapa engkau menertawakan aku?"

Sarah berhenti tertawa dan memegang lengan Hay Hay. "Tentu saja aku tertawa karena engkau lucu. Engkau mengingatkan aku kepada ayahku," katanya sambil menahan tawa dengan senyum lebar. Kerut di antara alis Hay Hay masih belum lenyap.

"Hemm, sudah begitu tuakah aku? Kenapa aku mengingatkan engkau kepada ayahmu? Usiaku baru dua puluh lima tahun!"

Mendengar ucapan ini Sarah kelihatan semakin geli dan kini kedua tangannya memegang kedua tangan Hay Hay, matanya menatap dengan terbuka dan bibirnya menahan senyum geli.

"Tentu saja engkau mengingatkan aku kepada ayahku karena engkau menciumku seperti kalau ayah menciumku. Tetapi engkau bukan ayahku. Aha! Engkau sungguh sama sekali tidak pandai mencium, Hay Hay."

Kini Hay Hay yang tersipu. Gadis ini segalanya demikian terus terang, begitu polos dan wajar. Segala yang ada di dalam hati dan pikirannya ceplas-ceplos saja dikatakan melalui mulutnya tanpa ada rikuh, tanpa khawatir menyinggung perasaan orang karena memang tidak ada niat sama sekali untuk menyinggung. Biar pun tersipu, Hay Hay tersenyum dan semakin kagum.

"Maafkan aku, Sarah. Terus terang saja, aku memang bukan ahli dalam hal itu, mungkin kurang pengalaman karena jarang memperoleh kesempatan. Nah, kau beritahu padaku, bagaimana sih seharusnya mencium seorang gadis seperti engkau ini?"

Tentu saja Sarah merasa heran dan geli. Seorang pemuda yang usianya sudah dua puluh lima tahun bertanya kepadanya mengenai cara mencium seorang gadis! Hal ini terdengar janggal dan aneh baginya, tentu saja karena bangsanya sudah pandai berpacaran sejak usia di bawah dua puluh tahun! Melihat cara Hay Hay menciumnya tadi, ia percaya bahwa Hay Hay tidak berpura-pura.

"Ada tiga cara mencium, Hay Hay. Pertama, ciuman sayang orang tua kepada anaknya, yaitu ciuman di dahi seperti yang kau lakukan tadi. Kedua, ciuman sayang antara saudara atau sahabat baik, di pipi kanan atau kiri atau keduanya. Dan ke tiga adalah ciuman tanda cinta seseorang terhadap kekasihnya, yaitu ciuman bibir dengan bibir. Sekarang engkau sudah tahu, nah, perbaikilah ciumanmu yang salah tadi." Setelah berkata demikian, gadis itu dengan sikap manja kemudian menengadahkan wajahnya yang cantik, dengan mata terpejam dan bibir sedikit terbuka.

Melihat wajah yang sangat dekat itu, hidung yang mancung dan bibir yang menggairahkan serta menantang itu, ingin sekali Hay Hay mengecup bibir itu. Akan tetapi dia tidak berani melakukannya. Biar pun berwatak aneh dan bebas, dia tahu bahwa Sarah adalah seorang gadis yang terhormat, seorang gadis yang memiliki harga diri yang tinggi. Dia tidak ingin menyinggung hati gadis yang mendatangkan perasaan kagum di hatinya itu.

Maka dia pun mendekatkan mukanya, kemudian mencium gadis itu pada kedua pipinya, dengan hidung dan bibirnya. Ciuman yang mengandung perasaan sayang dan kagum. Dan dia merasa betapa gadis itu pun tanpa canggung-canggung membalas ciumannya.

Sesudah Hay Hay melepaskan rangkulannya dan menatap wajah Sarah, mereka saling pandang dan gadis itu tersenyum. Dan Hay Hay merasa betapa terjadi perubahan dalam suasana dan hubungan mereka. Terasa akrab sekali dan seolah-olah kini mereka sudah menjadi sahabat baik sejak bertahun-tahun. Lenyaplah perasaan asing di antara mereka.

"Nah, sekarang kita telah benar-benar menjadi sahabat baik, Hay Hay. Dan aku berterima kasih sekali kepadamu, karena selain engkau sudah menolongku, juga ternyata engkau seorang gentlemen sejati."

"Gentlemen? Apa itu?"

Sarah tersenyum lebar. "Jika menggunakan bahasamu, gentlemen adalah seorang jantan, seorang ksatria, seorang lelaki sejati yang dapat dipercaya, yang gagah perkasa, lembut hati. Pendeknya, seorang lelaki pilihan, begitulah!"

"Dan engkau adalah seorang gadis yang cantik jelita, gagah perkasa, berbudi baik, tetapi terus terang saja, juga begitu amat aneh. Selama hidupku belum pernah aku bertemu dan bersahabat dengan gadis yang hebat seperti engkau ini."

Gadis itu memandang dengan wajah berseri gembira. "Dan aku pun tak pernah bermimpi akan dapat berkenalan dengan seorang pendekar seperti engkau. Tadinya kukira bahwa semua orang pribumi..." Sarah menghentikan ucapannya dan menatap wajah pemuda itu dengan ragu. Bagaimana pun juga dara ini tidak ingin apa bila ucapannya akan membuat sakit hati orang yang dikagumi ini.

"Kau kira semua orang pribumi itu bagaimana, Sarah? Lanjutkanlah dan jangan ragu. Aku pun mengagumi kejujuranmu."

"Baik, aku akan berterus terang saja. Akibat terpengaruh oleh pendapat bangsaku, seperti juga mereka tadinya aku menyangka bahwa semua orang pribumi di sini kasar, sombong, kotor dan jahat, tidak dapat dipercaya. Sesudah aku bertemu dan berkenalan denganmu, sekarang aku melihat bahwa pendapat itulah yang sombong!"

Hay Hay tersenyum dan sikapnya membuat Sarah merasa lega karena pemuda itu tidak tersinggung seperti yang dikhawatirkannya tadi.

"Sarah, apakah engkau belum melihat kenyataan bahwa manusia ini, dari bangsa apa pun juga, dari mana pun juga, hanyalah makhluk yang lemah dan banyak di antara manusia terlalu sering melakukan kesalahan. Manusia hanya berbeda pada lahirnya saja, berbeda warna kulit, mata, rambut dan kebudayaan karena pengaruh alam lingkungannya, namun jiwanya datang dari satu sumber. Tidak ada satu bangsa yang orangnya baik semua atau jahat semua. Kalau ada yang buruk, pasti ada yang baik dan demikian sebaliknya, karena baik dan buruk memang sudah merupakan pasangan yang tak bisa terpisahkan. Di antara bangsaku terdapat banyak orang jahat, kurasa tidak ada bedanya dengan bangsamu. Dan kalau di antara bangsamu terdapat banyak orang baik, demikian pula dengan bangsaku. Jahat tidaknya seseorang bukan tergantung dari bangsanya, agamanya, atau keadaan lahiriahnya. Bukankah demikian, Sarah?"

"Ya Tuhan! Di samping kegagahanmu, ketampanan, keramahan dan semua kebaikanmu, kiranya engkau masih mempunyai kehebatan lain. Engkau seorang filsuf yang bijaksana!" Sarah berseru kaget, heran dan kagum sehingga lupa untuk melunakkan suaranya.

"Stttt, jangan berteriak-teriak, Sarah...," kata Hay Hay. Dia memberi isyarat kepada gadis itu supaya tidak mengeluarkan suara lagi sambil membuat gerakan menunjuk ke arah luar ruangan itu.

Sarah memandang keluar dan mereka pun cepat menyelinap ke belakang peti-peti mati sambil mengintai keluar. Terdengar suara banyak orang di luar goa. Tahulah Sarah bahwa orang-orang yang tadi lari ketakutan, kini sudah datang kembali dan agaknya disertai para pimpinan gerombolan itu.

"Heii, iblis mana yang bermain-main dengan kami? Iblis jahat, ini aku Ma Kiu telah datang. Kini keluarlah dan jangan membikin takut keluarga mereka yang mati!" Terdengar teriakan raksasa hitam yang menjadi orang pertama dari lima pemimpin gerombolan.

Mendadak dari dalam goa itu terdengar suara tawa yang mengerikan. Ketawa perempuan yang terkekeh-kekeh, kedengarannya aneh dan menyeramkan sekali karena datangnya dari peti-peti mati itu! Semua orang yang berada di luar goa hanya berani memandang ke dalam, ke arah tiga buah peti mati yang tertutup kabut asap tipis dari hio-hio yang masih terbakar.

"Siluman betina...” mereka berbisik-bisik ketika mendengar suara tawa wanita itu.

Namun mereka tidak lari tunggang-langgang karena lima orang pemimpin berada di situ. Dan Ma Kiu raksasa hitam itu pun nampak tidak takut. Hal ini karena dia datang bersama empat orang saudaranya dan di sana berkumpul pula puluhan orang anak buahnya. Andai kata dia harus memasuki goa itu sendirian saja, tentu sejak tadi dia sudah lari ketakutan!

Biasanya Ma Kiu sangat galak, pemberani dan tidak takut menghadapi lawan yang mana pun juga, juga biasa membunuh orang dengan kejam dan dengan darah dingin. Namun semua kegalakannya dan kegagahannya langsung terbang entah ke mana bila dia harus menghadapi setan dan iblis.

"Roh jahat yang berada di dalam goa! Keluarlah memperlihatkan diri jika memang berani, atau segera pergilah dari sini, jangan mengganggu kami lagi!" dengan suara yang digalak-galakkan Ma Kiu berteriak lantang.

Melihat lagak Ma Kiu, timbul keberanian di dalam hati orang-orang yang berkumpul di situ. Seperti juga Ma Kiu yang sudah mengamang-amangkan goloknya, mereka lalu mencabut senjata masing-masing dan mulailah mereka berteriak-teriak.

"Siluman betina, pergilah dari sini!"

"Iblis, jangan ganggu kami!"

Seperti rasa takut yang mudah menular, maka keberanian juga sangat mudah menular. Orang yang tadinya ketakutan, sesudah melihat semua orang berlagak berani, maka rasa takutnya akan lenyap dan timbullah keberaniannya. Kini mereka mengamangkan senjata dan berteriak-teriak sehingga suasana gaduh sekali. Juga di depan goa itu menjadi terang benderang karena banyak obor bernyala.

Melihat ini, hati Sarah menjadi gentar juga. Bagaimana mungkin Hay Hay akan sanggup melawan orang yang sebanyak itu? Ia pun memegang lengan kiri Hay Hay dengan kedua tangannya.

Tadi dia telah mengeluarkan suara tawa seperti yang diminta Hay Hay, yang membisikkan agar dia mencoba tertawa seperti setan untuk menakut-nakuti mereka. Dan dia pun tadi tertawa seperti sedang main-main saja, seperti seorang anak kecil sedang menakut-nakuti anak-anak lain, dan dia pun gembira sekali. Akan tetapi kini dia mulai ketakutan sesudah melihat orang-orang itu mencabut senjata dan siap menyerbu.

Meski mulut gadis itu tidak mengeluarkan perasaan takutnya, akan tetapi ketika merasa betapa kedua tangan Sarah yang memegang lengannya terasa dingin dan gemetar, maka tahulah Hay Hay bahwa gadis pemberani ini mengenal juga perasaan ngeri dan gentar.

"Tenanglah, aku tanggung mereka tidak akan dapat mengganggumu, Sarah. Sekarang, kau lihat baik-baik apa yang akan kulakukan kepada mereka!" kata Hay Hay.

Dia lalu mengangkat ujung peti mati yang berada di tengah-tengah, mendorong ujung peti itu ke atas sehingga peti itu bangkit berdiri, seolah-olah mayat yang berada di dalam peti kini hidup kembali dan bangkit bersama petinya! Kemudian Hay Hay mengeluarkan suara menggereng yang membuat seluruh goa itu tergetar, disusul kata-katanya dengan suara yang terdengar parau dan menyeramkan.

"Hemmm, kalian berani mengganggu kami? Akan kami cabut nyawa kalian satu demi satu kalau tidak segera pergi meninggalkan kami. Kami ingin tenang, mengerti?"

Suara itu bergema sehingga menyeramkan sekali. Apa lagi ketika dengan tangan kirinya Hay Hay rnenggoyang-goyang peti di sebelah kiri sedangkan tangan kanan masih tetap menahan peti tengah agar berdiri. Ditambah lagi peti yang kanan mulai bergoyang-goyang pula karena Sarah sudah ikut membantu Hay Hay dan mengguncang peti itu dengan dua tangannya sambil mengerahkan seluruh tenaganya.

Orang-orang yang berada di depan goa terbelalak. Siapa orangnya yang tidak akan takut melihat peti mati bisa bangkit berdiri dan yang dua buah lagi bergoyang-goyang. Agaknya tiga rnayat itu benar-benar telah hidup kernbali!

Raksasa Hitam Ma Kiu terbelalak. Wajahnya pucat, seluruh bulu di tubuhnya meremang, dan tengkuknya terasa dingin bagai ditempeli es. Di kanan kirinya, orang rnenahan napas, ada yang rnenggigil, bahkan ada yang terkulai lemas karena pingsan saking takutnya.

Ma Kiu dan empat orang saudaranya yang biasanya sangat kejam dan dapat mernbantai banyak orang tanpa berkedip, kini melihat mayat-mayat dalam peti hidup kembali, menjadi gemetar ketakutan dan nyali mereka segera terbang entah ke mana. Apa lagi mendengar kata-kata yang diucapkan dengan suara menyeramkan tadi. Mereka tidak dapat menahan rasa takut mereka lagi dan Ma Kiu yang lebih dulu membalikkan tubuh lantas melangkah pergi dari situ dengan langkah lebar. Dia malu untuk lari, akan tetapi langkahnya lebar dan amat cepat hingga melebihi lari cepatnya!

Empat orang saudaranya mengikuti jejaknya dan gegerlah semua anak buahnya, berebut melarikan diri. Mereka saling tabrak dan melarikan diri cerai-berai, tunggang-langgang dan jatuh bangun. Ada yang menyeret kawan yang jatuh pingsan dan terdengar pula tangis di sana-sini sehingga membuat suasana menjadi semakin menyeramkan.

Melihat tingkah puluhan orang itu, Sarah tidak mampu menahan geli hatinya dan dia pun tertawa terkekeh-kekeh, bukan lagi tawa buatan melainkan tertawa yang bebas dan wajar. Tetapi bagi orang-orang yang sudah hampir gila oleh rasa takut itu, suara tawa yang wajar ini, suara tawa seorang wanita yang merdu, membuat mereka semakin menjerit-jerit, lari terkencing-kencing seolah-olah suara tawa itu mengejar mereka dan yang tertawa berada di dekat tengkuk mereka!

Melihat Saran tertawa geli sampai terpingkal-pingkal, Hay Hay ikut pula. Setelah tawanya mereda Sarah mengusap beberapa butir air mata yang tadi ikut terloncat keluar ketika dia tertawa, lalu matanya mencari-cari wajah pemuda itu di dalam keremangan cuaca karena cuaca menjadi gelap sesudah semua orang melarikan diri sehingga tidak ada lagi cahaya obor-obor yang bersinar dari luar.

"Hay Hay..." katanya, dalam suaranya terkandung keheranan dan keraguan sehingga Hay Hay balas memandang dengan sinar mata menyelidik.

"Ada apakah, Sarah?"

"Katakan sebenarnya kepadaku. Apakah engkau benar-benar seorang... manusia biasa?”

Kini Hay Hay yang membelalakkan kedua matanya, kemudian dia tertawa. "Ha-ha-ha-ha, apakah engkau sudah ketularan mereka tadi, mengira bahwa aku ini siluman, setan atau iblis, Sarah?"

“Aku bukan orang picik yang percaya takhyul, Hay Hay. Akan tetapi aku melihat engkau melakukan hal-hal yang tidak lajim dapat dilakukan manusia biasa. Peti ini sangat berat. Aku mengguncang dengan sekuat tenaga pun hanya dapat membuatnya bergerak-gerak. Padahal, biar pun aku wanita tetapi tenagaku tidak kalah dibandingkan pria biasa. Tetapi hanya dengan sebelah tangan, mudah saja engkau mendorongnya sampai bangkit berdiri dan tanganmu sebelah lagi mengguncang peti yang lain. Dan tadi engkau mengeluarkan gerengan yang membuat seluruh goa tergetar, bahkan aku merasa jantungku terguncang dan bulu tengkukku meremang. Seorang manusia biasa tidak mungkin dapat melakukan hal itu."

Hay Hay tersenyum. "Sarah, aku mendengar bahwa pada diri siluman terdapat tiga tanda. Pertama, dia tidak mempunyai lekuk bibir di bawah hidungnya. Ke dua, dia tidak memiliki tumit, dan yang ke tiga, kalau dia berdiri, kedua telapak kakinya tidak menyentuh tanah. Nah, sekarang lihatlah aku," Hay Hay meraba bawah hidungnya. "Di sini terdapat lekukan biasa, dan lihat kakiku." Dia bangkit berdiri dan memperlihatkan kakinya. "Kedua tumitku masih utuh dan kalau aku berdiri, lihat kaki kananku ini, menyentuh tanah ataukah tidak?" Hay Hay sengaja mengangkat sedikit kaki kanannya sehingga tidak menyentuh tanah.

Sarah mengikuti semua ucapan Hay Hay, Ia tadi memperhatikan bawah hidung, lalu tumit kaki dan ketika dia memandang ke arah kaki kanan yang tidak menyentuh tanah, dia pun terbelalak, akan tetapi ketika melirik ke arah kaki kiri Hay Hay yang tentu saja berpijak di atas tanah, dia pun tertawa dan tahu bahwa pemuda itu sengaja mempermainkan dia.

"Hemm, engkau memang bukan manusia biasa, Hay Hay. Engkau seorang manusia yang luar biasa, engkau adalah seorang pendekar yang tidak saja gagah perkasa, akan tetapi juga jujur, baik budi, jenaka dan... mata keranjang!”

"Aihh, mengapa ujungnya menjadi tidak enak? Engkau ini memuji, merayu atau mencela, Sarah?"

"Bukan merayu bukan mencela, melainkan berbicara sejujurnya seperti engkau. Ahh, aku amat lelah dan mengantuk sekali." Sarah merebahkan diri begitu saja, miring di belakang peti mati.

"Tidurlah, Sarah, biar aku yang akan menjagamu."

"Bagaimana aku dapat tidur bersama orang-orang mati begini, Hay Hay? Aku hanya ingin merebahkan diri, akan tetapi tempat ini agak kotor, ihh...!" Dia lalu bangkit dan mengebut-ngebutkan bajunya. Lantai itu memang tidak bersih, terdapat banyak debu dan abu hio di situ.

"Kalau kau mau, rebahlah di sini, Sarah." kata Hay Hay menepuk kedua pahanya.

Dia bicara setengah main-main, akan tetapi diam-diam dia terkejut karena tanpa banyak bicara lagi Sarah lalu merebahkan diri di atas pangkuannya dan menyandarkan kepala di dadanya! Hay Hay bersikap biasa saja dan merangkul pinggang itu, seperti seorang ayah memangku anaknya.

"Sarah, aku heran sekali kenapa engkau tidak suka kepada Kapten Gonsalo itu. Menurut keteranganmu dia adalah seorang kapten pembantu ayahmu yang tampan dan mendengar ceritamu tadi, dia cukup gagah dan pemberani, bahkan sangat mencintaimu. Pandangan matanya kepadamu itu adalah tanda bahwa dia mencintamu, Sarah. Bukankah dia akan menjadi pasanganmu yang cocok dan baik sekali?" Hay Hay setengah memaksa diri untuk bercakap-cakap karena kelembutan tubuh yang dipangkunya itu, kehangatannya, dan keharuman rambut yang berada di dadanya telah membuat dia tidak tenang. Dengan percakapan, tentu perhatiannya akan terpecah.

Mendengar pertanyaan itu Sarah pun menarik napas panjang. "Dia memang tampan dan gagah, bahkan aku tahu bahwa dia menjadi rebutan para gadis bangsa kami. Dia berjasa besar setelah berhasil menghadap kaisar bangsamu dan diterima dengan baik pada waktu mewakili bangsa kami menyerahkan hadiah kepada kaisar. Namanya menjadi terkenal dan dia dipuji-puji. Akan tetapi, aku... aku tidak mencintanya, Hay Hay."

Hay Hay mengerutkan sepasang alisnya. Ada kejanggalan di sini, pikirnya. Jika memang Kapten Gonsalo itu demikian tampan dan gagah, menjadi rebutan para gadis bangsanya, mengapa Sarah tidak tertarik kepadanya? Tentu jawabnya hanya satu, yaitu bahwa Sarah mencintai pria lain! Seorang dara yang ‘panas’ semacam Sarah ini rasanya tidak mungkin kalau tidak mempunyai seorang kekasih.

"Sarah, aku yakin bahwa engkau tentu sudah mempunyai pilihan hati sendiri, mempunyai seorang kekasih."

Tubuh yang bersandar di dada itu bergerak, lantas membalik ketika Sarah menengok ke arah Hay Hay dengan matanya yang biru itu terbelalak. Indah sekali.

"Heiii, bagaimana engkau bisa tahu, Hay Hay?"

Hay Hay tersenyum untuk menangkis serangan keindahan mata yang menembus jantung itu. "Bukankah engkau sendiri yang mengatakan bahwa aku bukan manusia biasa? Nah, katakanlah terus terang. Engkau sudah mempunyai seorang kekasih, bukan?"

Sarah menghela napas dan bersandar kembali. "Benar, namanya Aaron. Dia berusia dua puluh lima tahun. Kami saling mencinta...”

“Lalu kenapa bukan dia yang mengantar engkau berkuda, akan tetapi Kapten Gonsalo?"

"Ahh, bagaimana mungkin? Dia hanya seorang prajurit biasa saja. Karena itu ayah tidak menyetujui hubungan kami. Padahal aku tahu dan yakin benar, Aaron tak kalah gagahnya jika dibandingkan dengan Kapten Gonsalo. Dia hanya kalah pendidikan sekolah, maka dia hanya prajurit biasa, tidak seperti Gonsalo. Hay Hay, aku sungguh sedih kalau mengingat Aaron. Hanya karena cintanya kepadaku maka dia masih bertahan menjadi prajurit, sejak dulu pangkatnya tidak dinaikkan oleh ayah, walau pun jasanya sudah banyak sekali. Kalau dia tidak ingat padaku, tentu dia sudah berhenti menjadi prajurit. Aku menyesal sekali..."

Tubuh di pangkuannya itu terguncang. Sarah menangis! Betapa anehnya, pikir Hay Hay. Seorang wanita berhati singa dapat juga menangis! Cinta memang bisa membuat orang bersikap aneh, bisa menghancur luluhkan hati yang sekeras baja, juga bisa mengeraskan hati yang tadinya lemah. Dia membiarkan Sarah menangis. Setelah agak reda barulah dia menggunakan tangan untuk mengusap air mata dari pipi gadis itu.

"Sarah, benarkah engkau ini Sarah yang tadi begitu berani menghadapi penjahat, bukan seorang anak perempuan yang cengeng?" Hay Hay sengaja berkelakar.

Sarah membalikkan mukanya, menghapus air mata dari mukanya ke baju Hay Hay! Lalu dia membalik dan bersandar lagi. "Hay Hay, jangan mengejek. Engkau tidak merasakan betapa duka dan perihnya hatiku kalau teringat kepada Aaron. Aku kasihan kepadanya."

“Bagus, kasihan memang menjadi bunganya cinta. Akan tetapi mengapa berduka, Sarah? Hidup ini memang merupakan perjuangan. Hidup berarti siap menghadapi segala macam bentuk tantangan. Setiap kesukaran dalam hidup adalah tantangan yang harus kita hadapi dengan tabah, yang harus diperjuangkan agar kita bisa mengatasinya, memenangkannya. Justru perjuangan menghadapi dan mengatasi setiap tantangan itulah seninya kehidupan! Tanpa adanya tantangan berupa segala bentuk kesulitan, alangkah akan hampanya hidup ini, tiada gairah lagi. Jadi jangan melarikan diri ke dalam kesedihan dan menenggelamkan diri ke dalam lautan air mata. Bangkitlah dan hadapilah kesukaran itu dengan tabah, juga berusaha sekuatnya untuk mengatasinya. Itu baru pantas bagimu, Sarah."

Sarah menarik napas panjang. "Luar biasa! Engkau memang seorang pemuda aneh yang luar biasa, Hay Hay. Hemm, andai kata di sana tidak ada Aaron, betapa akan mudahnya bagiku untuk jatuh cinta kepadamu."

"Heii, benarkah itu? Bukankah tadi engkau mengatakan aku mata keranjang?"

Sarah menjebikan bibirnya yang merah basah. "Hemm, laki-laki manakah di dunia ini yang tidak mata keranjang? Tentu saja mata keranjang dalam arti kata suka sekali pada wanita cantik, mudah tertarik dan senang menikmati keindahan seorang wanita melalui pandang matanya. Semua laki-laki adalah mata keranjang dan dia akan mengakui hal ini kalau dia berwatak jujur. Hanya bedanya ada yang berterus terang seperti engkau, bahkan engkau memperlihatkannya tanpa tedeng aling-aling lagi, mengakui terus terang sehingga kalau wanita kurang kuat batinnya, ia akan mudah saja bertekuk lutut terhadap pujian dan kata-katamu yang bermadu. Ada pula yang pura-pura menunduk akan tetapi matanya melirik ganas. Yang model inilah yang sangat berbahaya, seperti seekor kucing yang diam-diam melirik tikus, tanpa bergerak, tahu-tahu menubruk saja! Untung batinmu bersih dan tidak menjadi hamba nafsu, Hay Hay. Bila engkau seperti itu, alangkah banyaknya wanita yang akan menjadi korbanmu. Tentu engkau akan menjadi seorang perusak wanita nomor satu, banyak wanita akan hancur binasa dalam pelukanmu akan tetapi dengan mulut tersenyum karena mabuk oleh rayuanmu."

Hay Hay mengerutkan alisnya. Apa yang digambarkan oleh gadis bule itu persis keadaan mendiang ayahnya. Ayahnya adalah Ang-hong-cu (Si Kumbang Merah), seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang terkenal. Entah berapa puluh atau ratus wanita yang sudah menjadi korbannya, termasuk di antaranya adalah ibu kandungnya!

Ayahnya dahulu tampan, perayu dan sering menjatuhkan wanita dengan ketampanannya, rayuannya, kepandaiannya, bahkan tidak segan-segan memperkosa! Dan kesukaan yang agak keterlaluan pada hatinya terhadap wanita agaknya merupakan warisan dari ayahnya. Untungnya, seperti yang dikatakan Sarah, dia tidak punya niat jahat, tidak menjadi hamba nafsu sehingga dia mampu mengendalikan nafsunya. Dia tidak tega merusak wanita, tidak tega menyengsarakan dan mematahkan hatinya, apa lagi memperkosanya.

"Sudahlah, Sarah, sekarang tidurlah dahulu. Engkau perlu beristirahat karena besok pagi-pagi sekali, setelah di luar tidak segelap ini, kita harus cepat meninggalkan tempat ini dan pelarian itu tentu membutuhkan tenaga."

"Baik, Hay Hay, aku memang sudah mengantuk sekali. Biarlah kubersihkan dulu lantai ini agar dapat tidur enak..."

"Lantainya kotor, tidur sajalah di sini, Sarah."

"Hemm, engkau tentu akan lelah sekali kalau kusandari sampai pagi."

"Tidak, engkau ringan sekali bagiku."

"Terima kasih, Hay Hay, engkau memang baik sekali. Bahkan aku merasa engkau seperti kakakku sendiri," kata Sarah, lalu dia pun menyandarkan kembali kepalanya di dada Hay Hay dan tak lama kemudian napasnya sudah menjadi lembut dan panjang, tanda bahwa dia telah jatuh pulas.

Hay Hay merangkulnya dan dia segera memejamkan matanya ketika dia melihat wajah di dadanya itu. Dia dapat merasakan timbulnya birahi, yang timbul dari pandangan mata lalu dikembangkan di dalam benak.

Pikiran membayangkan hal-hal yang menggairahkan dan nafsu birahi pun mulai bangkit. Kalau nafsu ini dikipasi dengan bayangan di dalam pikirannya, maka nafsu itu tentu akan semakin berkobar. Sesudah dia memejamkan mata dan mengosongkan pikiran, hal yang sudah dilatihnya semenjak dia masih remaja dan mempelajari ilmu dari See-thian Lama, kemudian dilanjutkan dari Ciu-sian Sin-kai, Pek-mau San-jin, kemudian Song Lojin, maka seketika pikirannya menjadi tenang dan bagaikan air yang diam, pikiran menjadi jernih dan bayangan yang menimbulkan nafsu birahi pun lenyap.

Nafsu merupakan pelengkap dalam kehidupan manusia, bahkan pendorong. Manusia tak akan hidup tanpa adanya nafsu, dan kenikmatan hidup bisa datang karena adanya nafsu. Keindahan melalui pandangan mata, kemerduan melalui pendengaran telinga, keharuman melalui penciuman hidung, dan semua kenikmatan yang bisa kita rasakan melalui panca indera, melalui semua anggota tubuh, melalui hati dan akal pikiran, semua itu dapat kita nikmati karena adanya nafsu.

Nafsu adalah anugerah bagi manusia hidup di dunia ini, merupakan berkah dan bekal hidup. Seperti juga anggota badan, hati dan pikiran, nafsu merupakan perkakas atau alat yang bertugas mengabdi dan membantu manusia. Berkat bekerjanya akal yang didorong nafsu, manusia dapat menemukan segala kekuatan dan sarana yang ada di dunia ini.

Kemajuan lahiriah yang ada sekarang, semua berkat bekerjanya nafsu melalui hati akal pikiran. Dan semua hasil pekerjaan nafsu ditujukan untuk kesejahteraan hidup manusia, untuk kenikmatan hidup manusia di dunia, yaitu yang lajim disebut materi atau benda.

Namun, nafsu yang amat berguna bagi kehidupan kita ini, juga amat berbahaya karena kalau manusia dikuasainya, maka manusia akan diseretnya menjadi hamba nafsu yang hidupnya hanya mengejar kenikmatan dan kesenangan duniawi saja. Akibatnya, segala cara dilakukan manusia demi meraih kesenangan yang menjadi tujuan semua nafsu dan terjadilah perbuatan-perbuatan yang dinamakan jahat, yaitu merugikan orang lain.

Kalau kita tidak waspada dan selalu ingat pada Sang Maha Pencipta, yang menciptakan kita, yang menguasai seluruh diri kita luar dalam, yang mengatur segala yang terlihat dan tak terlihat, maka kita akan mudah menjadi korban kekuatan nafsu. Segala kebutuhan hidup kita dilengkapi dengan nafsu yang bisa menimbulkan kenikmatan dalam memenuhi kebutuhan hidup itu.

Kita lapar butuh makan supaya bertahan hidup, dan di dalam makan itu kita dianugerahi nafsu yang mendatangkan kelezatan dalam mengisi perut yang pada dasarnya dilakukan untuk mempertahankan hidup. Kita mengantuk butuh tidur, dan di dalam tidur pun kita dianugerahi kenikmatan. Jika haus butuh minum dan dalam minum pun ada kenikmatan yang didorong oleh nafsu.

Tiada kebutuhan yang tidak disertai kenikmatan dalam memenuhinya. Puji Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Demikian besarnya Tuhan melimpahkan cinta kasih kepada segala cintaan-Nya. Akan tetapi, kalau nafsu merajalela dan kita yang diperhamba, apa akibatnya?

Kita melupakan kebutuhan inti dari kehidupan ini, yang kita kejar hanyalah kenikmatan dan kesenangan, hanya kebutuhan nafsu semata. Kita makan bukan lagi untuk sekedar mempertahankan hidup dan menghilangkan lapar, tapi lebih condong untuk memuaskan nafsu yang mengejar keenakan sehingga sering kali dapat dilihat buktinya betapa dalam keadaan lapar sekali pun, jika lauknya tak menyenangkan mulut kita, kita makan sedikit saja, tidak peduli bahwa mulut kita membutuhkan lebih banyak. Sebaliknya, meski perut sudah kekenyangan, jika yang kita makan itu kita rasakan enak dan memuaskan nafsu, kita makan terlalu banyak sampai akhirnya menderita sakit perut!

Demikian pula dengan semua kebutuhan hidup, termasuk haus, kantuk, dan kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya, termasuk pula nafsu sex. Nafsu sex ini mutlak penting dengan perkembang biakan manusia. Tanpa adanya nafsu ini, orang tidak akan suka melakukan hubungan dan akibatnya, manusia akan punah seperti yang terjadi pada banyak makhluk lain yang dahulu juga menjadi penghuni bumi namun kini tidak ada lagi sama sekali.


Teringat akan semua itu, Hay Hay menghela napas panjang. Mendiang ayah kandungnya, jai-hwa-cat Ang-hong-cu, merupakan contoh dari sekian banyaknya laki-laki yang menjadi hamba nafsu birahinya. Demi memuaskan nafsunya itu, dia tidak segan-segan mengejar dan melampiaskannya dengan segala macam cara, tidak peduli lagi apakah cara itu baik atau buruk, melanggar hukum ataukah tidak.

"Semoga Tuhan akan selalu membimbingku sehingga aku takkan mabuk oleh nafsu dan kehilangan kewaspadaan," pikirnya, lantas dengan lembut tangan kirinya mengelus kepala yang berambut kuning emas itu.