Social Items

IA menghela napas panjang lalu keluar dari kamar ayahnya, menuju ke ruang makan dan menanti di atas kursi menghadapi meja makan yang besar itu dengan muka cemberut. Ia sudah siap dengan pakaian untuk berkuda. Kemeja dengan lengan panjang yang digulung sampai ke bawah siku dengan leher baju terbuka. Lehernya dikalungi sapu tangan sutera merah yang nampak kontras dengan kemejanya yang putih. Celana panjangnya abu-abu, dengan sepatu boot dari kulit menutupi kaki sampai ke bawah lutut, menutupi pula celana panjangnya bagian bawah. Pinggang yang ramping itu diikat sabuk kulit dan dia pun telah siap dengan sebatang cambuk kuda dari bulu halus.

Cantik jelita dan manis sekali gadis itu ketika mematut diri di depan cermin di dekat meja makan sambil memakai topinya yang berwarna hijau dan terhias bulu burung. Rambutnya yang kuning keemasan berombak menutupi tengkuk serta punggungnya, sampai ke atas pinggang dan di dekat tengkuk diikat pula dengan tali sutera merah.

Tak lama kemudian Kapten Armando memasuki ruang makan, telah siap dengan pakaian dinasnya, pakaian kapten yang membuatnya nampak lebih muda dan gagah. Akan tetapi laki-laki setengah tua itu memandang kepada puterinya yang sudah mengenakan pakaian lengkap berikut topi itu dengan kagum dan terpesona. Puterinya ini selalu mengingatkan dia kepada isterinya yang sudah bercerai darinya dan kini berada di negaranya sendiri.

"Sarah, engkau cantik sekali!"

Biar pun kecewa, Sarah tersenyum ketika mendengar pujian ayahnya. Dia bangkit berdiri, kemudian menghampiri ayahnya dan mencium pipi ayahnya dengan sikap manja. "Ayah, aku maafkan Ayah yang tadi mengecewakan hatiku. Baiklah, aku akan pergi berkuda di perbukitan, dikawal oleh Kapten Gonsalo."

Kapten Armando menjadi girang sekali. Dia merangkul puterinya, mendekap kepala yang sangat disayangnya itu ke dada dan mengecup pipi anaknya sampai mengeluarkan bunyi nyaring.

"Ha-ha-ha-ha, engkau memang anakku yang manis. Engkau berdarah Armando yang jujur dan keras akan tetapi tegas! Ha-ha-ha, aku gembira sekali, Sarah. Pergilah, sayang, akan tetapi marilah kita sarapan dulu."

Ayah dan anak itu lalu sarapan bersama. Mereka nampak gembira sekali, apa lagi Kapten Armando yang makan dengan lahap sekali sambil dilayani oleh puterinya. Ketika itu pula terdengar pelayan mengetuk pintu ruangan makan, memberi tahu bahwa Kapten Gonsalo sudah tiba di ruangan depan.

"Suruh dia menunggu sebentar!" kata Sarah mendahului ayahnya. Pelayan itu memberi hormat kemudian pergi lagi.

"Aihh, Sarah sayang, mengapa engkau tidak mengundang Gonsalo ikut sarapan bersama kita?" tegur Kapten Armando, akan tetapi kata-katanya lembut dan manis sehingga bukan merupakan teguran melainkan lebih pantas pertanyaan.

Sarah tersenyum. Kelincahannya sudah kembali, ada pun kekecewaan yang tadi meliputi hatinya kini sama sekali sudah tidak ada bekasnya lagi.

"Ayah, aku ingin makan pagi bersama Ayah saja, tidak diganggu siapa pun juga sehingga selera makan kita tidak berkurang karenanya. Ayah, tambah lagi rotinya?"

Kapten Armando tersenyum sambil mengangguk-angguk. Dia tak ingin merusak suasana yang akrab dan membahagiakan ini dengan kehadiran Gonsalo. Bagaimana pun juga dia akan memberi kebebasan sepenuhnya bagi puterinya untuk memilih sendiri kekasih dan calon suaminya. Dia ingin puterinya bahagia, dan kebahagiaan perjodohan hanya mungkin terjadi kalau puterinya itu memilih sendiri jodohnya.

Setelah selesai makan mereka berdua keluar dan menuju ke ruangan tamu di depan. Di situ Gonsalo sedang menanti dan pemuda ini duduk di sebuah kursi tamu yang nyaman. Wajahnya tetap riang dan cerah walau pun di dalam hatinya dia kecewa mengapa Sarah dan ayahnya tidak mengundang dia makan pagi bersama, meski hanya untuk basa-basi saja. Dari pelayan tadi dia tahu bahwa ayah dan anak itu sedang sarapan di ruang makan. Akan tetapi perasaan kecewa itu sengaja disembunyikan di balik senyum yang ramah dan wajah yang cerah.

"Selamat pagi, Kapten Armando! Selamat pagi Sarah!" ia memberi salam dengan ramah. "Lihat, aku sudah siap. Kita berangkat sekarang, Sarah? Tadi aku sudah menyuruh untuk menyiapkan kudamu, sekarang sedang menanti di luar."

Kapten Armando menyambut salam itu sambil mengangguk-angguk. Di dalam hatinya dia merasa heran mengapa puterinya tidak senang kepada pemuda ini. Padahal menurut dia mata kapten muda itu bagus sekali, tajam dan penuh ketegasan.

"Selamat menikmati hari yang, cerah ini, Gonsalo. Sarah, jangan terlalu jauh dari daerah yang aman, dan Gonsalo, kalian jangan pulang terlalu larut. Berhati-hatilah, jaga baik-baik Sarah karena pelaksanaan hukuman terhadap pemberontak ini sedikit banyak pasti akan menimbulkan keguncangan. Aku serahkan keselamatan anakku di tanganmu."

Kapten Gonsalo memberi hormat secara militer. "Siap, Kapten! Saya akan menjaga dan melindungi Sarah dengan taruhan nyawaku sendiri!"

"Aku pergi dulu, Ayah!" Sarah sudah lari ke depan, agaknya tidak senang mendengarkan percakapan antara ayahnya dan Gonsalo, terutama mendengar janji Gonsalo yang muluk itu.

Tak lama kemudian Sarah dan Gonsalo telah menunggang kuda. Sarah segera melarikan kudanya keluar kota melalui pintu gerbang kota sebelah barat, dan Gonsalo mengikuti dari belakangnya. Sejak keluar dari benteng dan menjalankan kuda mereka di kota Cang-cow tadi, mereka menjadi tontonan yang mengagumkan.

Memang dua orang ini tampak serasi. Yang wanita cantik jelita, rambutnya seperti benang emas tertimpa cahaya matahari pagi, tubuhnya yang padat ramping itu duduk di atas sela kuda begitu lentur dan enaknya, tanda bahwa gadis ini memang ahli dalam menunggang kuda.

Gonsalo yang mengiringkan di belakangnya juga sangat menarik. Rambutnya kecoklatan, demikian pula warna matanya. Tubuhnya tinggi besar dan tegap, duduk dengan tegak di atas kudanya dengan sikap penuh wibawa. Pakaian kaptennya berkilauan dengan hiasan dari perak dan emas, di pinggangnya tergantung sebuah pistol hitam, di punggung kanan tergantung sebatang pedang, tangannya memegang cambuk kuda dan kepalanya tertutup topi tentara yang membuat wajahnya nampak semakin ganteng.

Begitu keluar dari pintu gerbang kota, Sarah segera membalapkan kudanya menuju bukit di depan. Melihat ini Gonsalo tersenyum, lantas dia pun mempercepat larinya kuda untuk mengejar. Diam-diam Sarah merasa mendongkol bukan main. Kapten Gonsalo ini benar-benar telah merusak kegembiraannya.

Kalau saja dia berkuda dengan ayahnya, tentu dia akan menjalankan kudanya perlahan-lahan, menikmati udara luar kota yang sejuk jernih, menikmati munculnya matahari pagi yang diantar kicau burung dan semilirnya angin perbukitan, menyamankan pandang mata dengan pemandangan yang indah, rumput-rumput hijau segar, pohon-pohon yang rimbun, bunga-bunga liar yang beraneka warna.

Namun sekarang dia tidak dapat menikmati semua itu. Dia melarikan kudanya, membalap tanpa mempedulikan segala keindahan di sepanjang perjalanan. Seolah dia bukan sedang berkuda untuk menikmati pagi hari dan pemandangan indah, melainkan sedang melarikan diri dengan kudanya, menjauhi sesuatu yang tidak menyenangkan. Akan tetapi yang tidak menyenangkan itu selalu mengikutinya dari belakang!

Selama berjam-jam Sarah terus-menerus membalapkan kudanya, naik turun bukit sampai Kapten Gonsalo menyusulnya dan berteriak,

"Sarah, berhenti dulu! Kudamu bisa kehabisan napas dan jatuh sakit!"

Mendengar seruan ini, Sarah teringat akan kuda yang disayangnya itu. Dia menghentikan kudanya dan benar saja. Kudanya nampak terengah-engah, mendengus-dengus dan dari hidung dan mulutnya keluar uap, tubuhnya berkeringat. Ia pun merasa kasihan sekali dan cepat meloncat turun dari atas punggung kudanya, melepaskan kendali dan membiarkan kudanya beristirahat sambil makan rumput segar.

Gonsalo meloncat turun dari kudanya yang juga kelelahan. Ia memandang kepada Sarah yang melangkah menjauhkan diri, menuju ke tepi jurang dari mana dia dapat memandang keindahan alam di bawah bukit. Gonsalo menarik napas panjang. Dia merasa heran sekali melihat dara ini tidak nampak gembira, bahkan seperti orang yang sedang marah. Rambut gadis itu terlihat awut-awutan karena tadi melarikan kuda dengan amat cepatnya. Dia lalu membuka topi, merapikan rambutnya dengan sisir, lalu mengenakan kembali topinya dan menghampiri Sarah.

"Sarah...," panggilnya ketika dia tiba di belakang gadis itu.

Sarah membalikkan tubuhnya. Sejenak dia mengamati kapten muda di depannya. Seperti biasanya, pakaian kapten ini serba rapi, bahkan biar pun mereka tadi membalapkan kuda, agaknya tidak ada sehelai rambut pun yang kusut. Demikian rapi dan teratur! Dan Sarah tidak menyukai ini. Seperti bukan manusia saja, seperti boneka!

"Ya, Kapten?" jawabnya sambil lalu dan kini matanya kembali memandang ke arah bawah bukit.

"Sarah, namaku Gonsalo!"

"Ya, ada apakah, Kapten Gonsalo?"

"Sarah, kita telah menjadi sahabat, bukan? Aku adalah pembantu ayahmu, sekaligus juga sahabatnya, berarti sahabatmu pula. Mengapa engkau masih menyebut aku kapten? Aku tidak suka kau sebut kapten, panggil namaku saja."

"Akan tetapi aku suka menyebut kapten!" kata Sarah berkeras, lalu kini dia membalik dan menentang pandang mata kapten itu dengan berani. "Engkau memang seorang kapten, bukan? Lihat pakaianmu, lihat topi, pistol dan pedangmu! Lihat sikapmu! Engkau adalah seorang kapten tulen, mengapa tidak kusebut kapten?"

"Tapi aku tidak suka resmi-resmian, terutama denganmu, Sarah."

"Akan tetapi aku suka, Kapten Gonsalo. Sudahlah, tak perlu berdebat, Kapten. Aku akan melanjutkan perjalanan."

Sarah memasang kembali kendali kudanya yang kini telah pulih kesegarannya, kemudian meloncat ke punggung kuda dan menjalankan kudanya. Kini dia tidak melarikan kudanya dengan cepat seperti tadi karena dia merasa kasihan kepada kuda kesayangannya itu.

Gonsalo juga menunggang kudanya dan mencoba menjalankan kuda itu di samping kuda Sarah. Akan tetapi setiap kali kuda Gonsalo tiba di samping kuda Sarah, dara itu segera mempercepat kudanya sehingga dia selalu berada di depan Gonsalo. Tentu saja hal ini membuat hati kapten itu menjadi semakin panas dan mendongkol.

"Sarah, kita sudah terlalu jauh, sebaiknya kembali saja. Ayahmu tadi telah berpesan agar kita tidak terlampau jauh," berulang kali Gonsalo meneriaki Sarah, akan tetapi dara itu tak peduli dan terus saja menjalankan kudanya ke bukit di depan.

Tiba-tiba terdengar teriakan ketakutan. "Setan...! Setan...!"

Seorang lelaki berusia empat puluhan tahun, dengan pakaian compang-camping dan yang tadi agaknya sedang menyabit rumput, kini bangkit berdiri, terbelalak memandang kepada Sarah, berteriak-teriak dan mengacung-acungkan sabitnya dengan sikap mengancam.

"Sarah, minggir!" Gonsalo berteriak.

Orang yang memegang sabit itu seperti hendak menyerang, dan kuda yang ditunggangi Sarah menjadi terkejut sekali karena orang itu berteriak-teriak. Kuda itu meringkik sambil mengangkat kedua kaki depan ke atas. Untung bahwa Sarah sudah terlatih baik sehingga tidak mudah terlempar dari punggung kudanya.

"Setan rambut emas...! Setan jahat, pergilah...!" orang itu terus berteriak-teriak ketakutan dan mengacungkan sabitnya lagi.

"Darrr...!" terdengar suara letusan dan orang itu pun terjungkal, merintih-rintih memegangi paha kirinya yang berlumuran darah.

"Kapten, kenapa engkau menembaknya?!" Sarah berseru kaget.

Dia pun cepat meloncat turun dari atas kudanya dan menghampiri orang yang tertembak itu. Orang itu memandang kepadanya dengan muka pucat dan mata terbelalak ketakutan. Sabitnya tadi entah terlempar ke mana ketika dia roboh.

"Setan... setan... jangan ganggu aku...! Pergilah...!" Orang itu berteriak lemah.

Sarah sudah pandai berbahasa daerah. Selama ini ia mempelajari bahasa pribumi dengan tekun. Ia berlutut di dekat orang itu. "Jangan takut, sobat. Aku bukan setan, aku manusia biasa. Biar kuperiksa lukamu...!" Dia pernah pula mempelajari ilmu pengobatan.

"Sarah, jangan dekati dia! Dia amat berbahaya!" teriak pula Gonsalo sambil meloncat dan mendekati, pistol revolver masih di tangannya.

"Kapten, engkau mundurlah dan jangan ikut campur!" Sarah membentak marah sehingga mengejutkan kapten itu.

"Jangan sentuh aku... kau setan... pergilah...!" orang itu kembali berteriak-teriak sehingga Sarah tidak berani menyentuhnya. Pada saat itu muncul tiga orang dusun dengan sikap takut-takut. Sarah cepat berkata kepada mereka.

"Jangan takut, temanmu ini terluka, aku ingin memeriksa dan mengobatinya."

Mendengar Sarah berbicara dengan lembut, tiga orang laki-laki itu lalu menghampiri dan ketika melihat orang yang compang-camping itu terluka pahanya, salah seorang di antara mereka lalu bertanya,

"Kenapa pahanya terluka ?"

Sarah menjadi bingung. "Dia tadi muncul secara tiba-tiba sehingga mengejutkan kami dan kuda kami. Temanku itu mengira dia hendak menyerang, maka dia menembak kakinya..." Sarah merasa menyesal sekali, "Maafkan kami..."

"Hemm, dia memang orang sinting," kata pula orang yang tertua dari mereka. "Dia belum pernah ke kota, belum pernah melihat seorang wanita asing seperti Nona." Tiga orang itu lalu membantu membangunkan orang terluka itu.

"Biar kuperiksa dan kuobati dia, aku dapat mengobatinya," kata Sarah.

"Tidak perlu, Nona. Kami bisa mengobatinya sendiri." Tiga orang itu lalu memapah orang terluka tadi dan membawanya pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Sarah berdiri mematung, merasa menyesal bukan main.

"Sudahlah, Sarah. Perlu apa memikirkan dia? Dia hanya seorang gila," kata Gonsalo.

Mendengar ini Sarah cepat membalik lalu menghadapi Gonsalo dengan sinar mata berapi. "Justru karena dia gila maka dosamu makin bertumpuk! Dia adalah orang gila yang tidak berdaya, tetapi engkau begitu saja menembaknya! Engkau curang dan kejam!" Sesudah menghardik itu Sarah lalu meloncat ke atas punggung kudanya dan melarikan kuda itu.

"Sarah, tunggu! Kau tidak adil! Hal itu kulakukan demi untuk melindungimu!" teriak Kapten Gonsalo. Akan tetapi Sarah telah membalapkan kudanya lagi, dikejar oleh kapten itu.

Sarah membalapkan kudanya menuju ke sebuah bukit yang nampak hijau di depan. Dara ini tidak peduli lagi ke mana dia menuju, pokoknya hendak menjauhi Gonsalo yang sangat dibencinya.

"Sarah! Jangan ke bukit itu! Di sana penuh hutan dan berbahaya!" teriak Gonsalo.

Akan tetapi Sarah tidak peduli, bahkan mendengar larangan itu dia semakin bersemangat membalapkan kudanya mendaki bukit. Gonsalo mengejar, namun kuda yang ditunggangi Sarah memang seekor kuda pilihan yang lebih baik, jauh lebih baik dari pada tunggangan Gonsalo. Dan gadis itu memang pandai sekali menunggang kuda, maka Gonsalo selalu tertinggal di belakang.

Benar saja peringatan Gonsalo tadi. Ketika sampai di lereng bukit, kuda Sarah memasuki sebuah hutan. Matahari sudah naik tinggi sehingga hutan itu tidak gelap lagi, sungguh pun memang merupakan hutan liar dengan pohon-pohon raksasa yang sudah tua. Sarah tidak peduli. Hatinya masih panas dan mendongkol.

Tiba-tiba dari semak-semak nampak banyak orang berlompatan keluar dari pohon-pohon. Sarah menahan kudanya agar tidak menabrak orang-orang yang menghadang di depan. Dia terbelalak ketika melihat bahwa dia sudah dikepung oleh belasan orang iaki-laki yang kelihatan bengis dan mereka semua memegang golok dengan sikap mengancam!

"Wah, ada bidadari rambut emas kesasar ke sini!"

"Aduh cantik sekali!"

"Tangkap saja, tentu uang tebusannya lumayan!"

"Sudah lama aku ingin mendapatkan seorang wanita kulit putih!"

Sikap mereka amat kasar dan kurang ajar. Sarah yang pernah mendengar cerita tentang keadaan di bagian dalam negeri asing ini, dapat menduga bahwa tentu mereka inilah yang dinamakan gerombolan perampok!

"Jangan bergerak! Semua angkat tangan atau akan kutembak mampus kalian!" tiba-tiba Kapten Gonsalo berteriak dengan suara lantang. Bahasa daerahnya tidak selancar Sarah, namun kata-katanya cukup jelas dan dapat dimengerti.

Para perampok itu memandang kepada Kapten Gonsalo yang sudah meloncat turun dari atas kudanya. Kapten ini menodongkan pistolnya ke arah mereka, sikapnya gagah dan matanya mencorong. Melihat bahwa musuh hanya seorang saja, biar pun dia memegang senjata api yang telah mereka kenal sebagai senjata rahasia yang amat menakutkan dan berbahaya, salah seorang di antara para perampok itu lalu membentak.

"Serbu, bunuh setan putih itu!" dan mereka pun berteriak-teriak sambil menerjang ke arah Gonsalo sambil mengayun-ayun golok mereka yang berkilauan saking tajamnya.

"Darr...! Darrr...! Darrrr...!"

Sampai tujuh kali senjata api di tangan Gonsalo meledak. Dia memang penembak mahir yang hebat. Peluru yang tinggal tujuh butir di pistolnya itu meledak, lantas robohlah tujuh orang perampok itu! Tetapi ledakan itu justru mendatangkaan lebih banyak lagi perampok.

Dengan pedang di tangan karena pistolnya telah kosong dan dia tidak keburu mengisinya dengan peluru baru lagi, kini Kapten Gonsalo dengan gagah berani menunggu datangnya serangan. Dia bukan saja penembak mahir, namun juga seorang ahli pedang yang hebat dan seorang petinju jagoan pula.

Sekarang dia dikeroyok oleh belasan orang. Pedangnya diputar cepat kemudan terdengar suara berdencingan ketika pedangnya bertemu dengan golok para pengeroyoknya. Tinju kirinya juga ikut bergerak dan seperti seekor harimau terluka Kapten Gonsalo mengamuk. Tinjunya merobohkan beberapa orang, demikian pula pedangnya.

Akan tetapi para pengeroyoknya adalah perampok-perampok ganas yang kiranya pandai silat pula. Pihak musuh terlalu banyak dan Kapten Gonsalo sudah menderita luka di paha dan pangkal lengan kirinya. Tahulah dia bahwa kalau dilanjutkan akhirnya dia akan roboh dan mati konyol. Apa lagi ketika dia mencari dengan pandang matanya namun tidak dapat menemukan Sarah.

Dara itu tidak terlihat lagi, entah ke mana. Apakah berhasil lari menyelamatkan diri? Atau tertawan musuh? Jantungnya berdebar-debar penuh kegelisahan ketika timbul dugaan ini. Celakalah kalau Sarah tertawan penjahat-penjahat ini!

Akan tetapi dia harus dapat menyelamatkan diri lebih dahulu kalau dia ingin mencari tahu tentang Sarah. Syukur kalau dia dapat menyelamatkan diri. Kalau tertawan pun dia harus dapat lolos lebih dahulu, kemudian baru berusaha menolong dara itu.

Kapten Gonsalo mencabut lagi pistolya dan membentak. "Angkat tangan atau kutembak kalian!"

Para pengeroyok sangat terkejut mendengar bentakan ini, ada yang cepat meloncat jauh ke belakang, ada pula yang menjatuhkan diri bertiarap. Kesempatan ini dipergunakan oleh Kapten Gonsalo untuk berlari ke arah kudanya, lantas meloncat ke punggung kuda terus melarikan diri. Dia tidak melihat kuda Sarah, sementara para perampok itu tidak berkuda, maka dengan mudah dia melarikan diri tanpa dapat dikejar oleh mereka.

Biar pun paha dan bahunya terluka sehingga terasa nyeri dan perih, dan hanya dapat dia balut dengan kain untuk menghentikan darah mengucur, namun kapten itu tidak mengenal lelah, terus mencari Sarah dan jejak kaki kudanya. Tetapi dia tidak berhasil menemukan Sarah meski pun dia telah berputar-putar di sekitar bukit itu!

Hari sudah menjelang sore, hatinya gelisah bukan main dan akhirnya terpaksa dia pulang seorang diri. Ia harus cepat melapor kepada Kapten Armando, lantas membawa pasukan dan menyerbu sarang perampok untuk menghancurkan mereka dan merampas kembali Sarah, andai kata dara itu benar mereka tawan. Kalau tidak demikian, dia akan membawa pasukan mencari dara itu sampai dapat. Tentu saja dia mengharapkan Sarah sudah dapat melarikan diri dan pulang lebih dahulu, walau pun kemungkinan ini tipis sekali karena dia tidak melihat jejak kuda dara itu.

Hari telah mulai gelap ketika Gonsalo memasuki pintu gerbang perbentengan Portugis. Di pintu gerbang saja dia sudah dihadang oleh Kapten Armando yang kelihatan gelisah dan marah.

"Gonsalo! Apa artinya ini? Engkau pulang selarut ini dan mana Sarah?"

Baru mendengar pertanyaan ini saja telah membuat semangat Gonsalo terbang melayang saking gelisahnya karena dia tahu bahwa Sarah, seperti yang dikhawatirkannya, ternyata belum pulang! Gadis ini lenyap. Entah ditawan perampok atau entah lari ke mana. Saking kelelahan, kesakitan dan kekhawatiran, Gonsalo tidak mampu menjawab malah tubuhnya lalu terkulai lemas, jatuh dari atas punggung kudanya seperti kain basah.

Ketika siuman Gonsalo sudah berada di dalam kamar, dirawat oleh seorang dokter. Juga nampak Kapten Armando yang sedang duduk di kamar itu dengan wajah gelisah. Begitu melihat bawahannya siuman, dia lalu menghampiri.

"Gonsalo, apa yang sudah terjadi? Engkau luka-luka dan pulang seorang diri. Di manakah Sarah? Apa yang terjadi?" Suara Kapten Armando penuh kegelisahan.

Gonsalo bangkit duduk, "Sarah tidak mau menuruti nasehatku. Dia malah melarikan kuda ke perbukitan yang penuh hutan itu, Kapten Armando. Kami dihadang perampok, banyak sekali jumlahnya. Aku sudah merobohkan beberapa orang dengan pistolku sampai semua pelurunya habis, lalu aku melawan dengan pedang dan tinjuku. Akan tetapi mereka terlalu banyak. Dalam keributan itu aku tidak lagi melihat Sarah. Aku hanya mengharapkan dia dapat melarikan diri, kembali ke benteng atau entah ke mana. Aku... aku terpaksa pulang untuk melapor dan mengambil bantuan pasukan."

"Celaka!'" Kapten Armando bangkit berdiri dan mukanya sebentar pucat sebentar merah. "Jangan-jangan dia ditawan perampok!"

"Aku akan mencarinya, Kapten. Aku bersumpah akan membawa Sarah pulang. Aku akan memimpin pasukan. Demi Tuhan, akan kutumpas habis perampok-perampok jahanam itu. Akan kucari sekarang juga!" Kapten Gonsalo turun dari pembaringan.

"Kita semua akan mencarinya. Sarah harus dapat ditemukan kembali! Ini adalah tanggung jawabmu, Gonsalo. Aku sendiri pun akan ikut mencari dan aku akan minta bantuan orang-orang Pek-lian-kauw. Mereka mengenal para pimpinan perampok di daerah ini. Awas, jika ada yang berani mengganggu anakku pasti akan kubasmi habis!" Kapten Armando marah bukan main.

Pada malam hari itu juga kedua orang perwira ini mengerahkan pasukan yang terdiri dari seratus orang bersenjata bedil. Sebelum berangkat, dengan diam-diam Kapten Armando sudah minta bantuan orang-orang Pek-lian-kauw yang menyanggupi dan mereka dengan caranya sendiri akan ikut menyelidiki dan menyelamatkan Sarah!

Tentu saja penduduk kota Cang-cow menjadi terheran-heran melihat pasukan Portugis itu malam-malam pergi meninggalkan kota. Akan tetapi kepala daerah sudah diberitahu oleh utusan Kapten Armando bahwa pasukan itu bertugas mencari puterinya yang hilang pada saat bertamasya di perbukitan.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Ke manakah perginya Sarah Armando? Ketika para perampok menghadangnya, Sarah terkejut bukan main. Dan ketika Gonsalo mengamuk dengan pistolnya, menembaki para perampok sampai ada tujuh orang yang roboh, juga melihat betapa kapten itu mengamuk dengan pedang serta tinjunya, diam-diam Sarah kagum bukan main. Kapten itu memang gagah parkasa.

Akan tetapi dia yang sudah meloncat turun dari kudanya karena kuda itu melonjak-lonjak, tidak dapat membantu dengan tembakan pistolnya. Dia sudah mencabut senjata api itu, akan tetapi para perampok itu mengepung dan mengeroyok Gonsalo sehingga sukarlah untuk menembakkan pistol tanpa membahayakan diri Gonsalo. Salah-salah tembakannya meleset dan mengenai kapten itu sendiri.

Selagi dia bingung, tiba-tiba tengkuknya ditotok orang dan dia pun roboh lemas. Pistolnya dirampas dan dia pun disambar oleh tangan yang kuat lalu dilarikan dari situ. Ia berusaha meronta, tetapi kaki tangannya tak dapat digerakkan, juga dia tidak mampu mengeluarkan suara.

"Kawan-kawan, aku hendak membawa tawanan ini lebih dahulu kepada pimpinan!" kata penawannya. "Kalian bunuh setan putih itu!" Dan penawannya itu, seorang laki-laki tinggi kurus yang ternyata kuat sekali, kemudian membawanya meloncat ke atas kudanya dan melarikan kuda itu dari tempat perkelahian.

Ternyata sarang perampok ini tidak berada di bukit yang penuh hutan itu karena si tinggi kurus itu menjalankan kudanya menuruni bukit sebelah selatan, menuju ke bukit batu-batu yang gundul dan gersang, juga jalannya sukar sekali sehingga kuda itu pun hanya dapat berjalan lambat.

Si tinggi kurus itu tidak tahu bahwa ada sepasang mata memandang dengan heran ketika dia membawa Sarah yang direbahkan menelungkup di atas punggung kuda, melintang di depannya, mendaki bukit berbatu-batu itu. Orang yang mengintainya itu bersembunyi di balik sebuah batu besar. Dia seorang pemuda berpakaian biru dengan caping lebar, Hay Hay!

Seperti yang kita ketahui, tanpa disengaja Hay Hay memperoleh atau dititipi surat laporan yang amat penting oleh mendiang Yu Siucai, surat yang mengungkapkan keadaan di kota Ceng-cow, tentang persekongkolan antara pejabat-pejabat Cang-cow dengan orang-orang Portugis, juga dengan para bajak laut Jepang dan orang-orang Pek-lian-kauw.

Karena ada usaha orang-orang lihai hendak merampas surat yang diterimanya sebagai pesan terakhir mendiang Yu Siucai, Hay Hay menjadi ingin tahu sekali sehingga dia pun membuka dan membaca surat itu. Ternyata berisi laporan tentang keadaan di Cang-cow yang memperlihatkan tanda-tanda akan timbul pemberontakan!

Namun Hay Hay merasa sangsi untuk segera membawa surat itu kepada Menteri Yang Ting Ho atau Menteri Cang Ku Ceng di kota raja seperti dipesankan kakek Yu Siucai itu. Urusan ini demikian penting! Bagaimana kalau laporan itu ternyata tidak benar? Dia dapat dituduh membawa laporan palsu, biar pun dia hanya menjadi utusan. Akan tetapi karena orang yang mengutusnya sudah tewas, tentu dialah yang akan bertanggung jawab!

Karena itulah maka dia tidak jadi pergi ke kota raja, melainkan membelok menuju ke kota Cang-cow. Dia ingin melakukan penyelidikan sendiri lebih dahulu sebelum menyampaikan laporan Yu Siucai itu. Kalau di kota Cang-cow memang benar terdapat persekutuan yang membahayakan keamanan, barulah dia akan mengantarkan laporan itu kepada seorang di antara kedua menteri yang bijaksana itu. Kalau tidak benar maka dia pun akan merobek-robek saja surat peninggalan orang yang sudah tidak ada di dunia ini.

Demikianlah, pada hari itu kebetulan sekali dia baru tiba di kaki bukit batu-batu besar itu dan ketika dia melihat seorang penunggang kuda datang dari depan, membawa seorahg wanita berambut keemasan yang menelungkup di atas punggung kuda, Hay Hay terkejut dan merasa heran. Dia cepat bersembunyi sambil mengintai.

Ketika penunggang kuda itu lewat pemuda ini pun menjadi bingung. Memang benar. Yang menelungkup dan melintang pada pungung kuda, di depan penunggang kuda itu, adalah seorang wanita kulit putih yang berambut kuning keemasan! Apa artinya semua ini? Dia tidak dapat turun tangan sembarangan saja sebelum mengetahui persoalannya.

Dia sudah mendengar bahwa di Cang-cow memang terdapat banyak orang kulit putih. Dia sendiri sudah beberapa kali melihat orang kulit putih berambut warna-warni dan matanya juga berwarna, keadaan yang membuat dia merasa heran dan juga ngeri. Mereka bukan seperti manusia, melainkan mirip hantu!

Bayangkan saja, kulitnya seperti tanpa darah, berbulu seperti monyet dan rambutnya ada yang kuning ada yang putih ada yang merah, matanya ada yang biru ada coklat! Tidak wajar! Apa lagi hidungnya. Seperti paruh burung dan pakaiannya juga aneh-aneh!

Tetapi dia belum pernah melihat wanita bangsa kulit putih itu. Dan mengapa pula wanita ini menjadi tawanan? Dia tidak dapat melihat wajah wanita itu karena menenungkup dan rambut yang kuning emas itu awut-awutan dan riap-riapan menutupi pipinya yang miring. Akan tetapi bila melihat bentuk tubuh yang terbungkus pakaian yang ketat dari celana dan kemeja itu, dia dapat menduga bahwa wanita itu tentulah seorang yang masih muda usia. Kulit lengan dari siku ke bawah yang tidak tertutup oleh lengan baju dan tergantung lemas di perut kuda itu nampak sangat mulus, dengan kuku jari tangan yang terpelihara rapi dan meruncing, dicat merah muda.

Biar pun dia tidak mau lancang mencampuri urusan si tinggi kurus yang menawan gadis kulit putih itu, namun hati Hay Hay tertarik sekali dan karena kunjungannya ke Cang-cow memang bertujuan melakukan penyelidikan terhadap persekongkolan yang dilakukan oleh orang-orang yang hendak memberontak, di antaranya orang kulit putih, maka tentu saja dia merasa curiga dan diam-diam dia pun membayangi kuda yang tidak dapat lari cepat mendaki bukit yang penuh batu itu.

Kuda itu berhenti sesudah tiba di lereng dekat puncak bukit itu, di mana terdapat banyak goa-goa di dinding batu. Hay Hay melihat banyak orang di sekitar lereng itu, dan goa-goa itu agaknya menjadi tempat tinggal mereka. Ada pula wanita dan kanak-kanak, dan para prianya nampak kekar dan kuat, dengan wajah bengis dan sikap kasar.

Dia dapat menduga bahwa tempat ini tentu merupakan sarang sebuah perkumpulan atau gerombolan, entah gerombolan apa. Adakah hubungannya dengan persekongkolan yang dilaporkan dalam surat Yu Siucai? Dia semakin tertarik dan ketika melihat si tinggi kurus memanggul tubuh wanita kulit putih itu memasuki goa yang paling besar di tempat itu, dia pun menggunakan kepandaiannya untuk menyelinap masuk.

Setelah memasuki goa, Hay Hay merasa terkejut dan kagum. Kiranya goa itu adalah goa alami yang dengan bantuan tangan manusia berubah menjadi ruangan-ruangan seperti di dalam rumah besar saja! Ada prabot rumah dan segala perlengkapan sehari-hari, bahkan dipasangi pintu dan tirai kain.

Keadaan di dalam goa memungkinkan Hay Hay untuk menyusup dan bersembunyi. Dan akhirnya dia dapat mengintai ke dalam sebuah ruangan di mana duduk lima orang yang dilihat dari sikapnya mudah diketahui bahwa mereka merupakan para pimpinan kelompok orang di perkampungan goa ini.

Si jangkung yang membawa wanita kulit putih tadi memasuki ruangan itu pula. Dia lantas menurunkan tawanannya dari pundak dan merebahkan wanita itu ke atas lantai. Kini Hay Hay dapat melihat wanita yang telentang itu dan dia pun terbelalak kagum, bahkan begitu terpesona sehingga dia tidak sadar bahwa matanya terbelalak, mulutnya ternganga, dan matanya tdak pernah berkedip.

Selama hidupnya belum pernah Hay Hay melihat wanita yang seperti itu! Demikian indah mempesona, demikian cantik jelita. Begitu menggairahkan akan tetapi juga mengerikan! Mengerikan karena tak pernah selamanya dia membayangkan seorang wanita seperti ini. Seperti bukan manusia saja!

Dia mengagumi rambut yang terurai lepas itu, yang laksana benang-benang sutera emas berkilauan. Wajah itu memiliki garis-garis yang sempurna, bagai setangkai bunga teratai. Dan tubuh itu! Pinggangnya demikian kecil langsing, dadanya menonjol, pinggulnya besar, kakinya panjang. Tubuh yang bukan saja indah bentuknya, akan tetapi juga memancarkan kesehatan yang sempurna.

Dan pada waktu wanita itu membuka kedua matanya, hampir saja Hay Hay mengeluarkan seruan saking kagumnya. Sepasang mata yang kebiruan, seperti dua buah batu permata saja, namun begitu hidup, lebar dan jeli, dengan bulu mata melengkung panjang sehingga membentuk garis tepi mata dan bayang-bayang. Sungguh indah sekali!

Lima pimpinan yang berada di situ nampak terkejut pula melihat pembantu mereka datang sambil membawa tawanan yang amat aneh ini. Mereka lalu bangkit berdiri dan seorang di antara mereka yang tinggi besar seperti raksasa berkulit hitam, berseru dengan suaranya yang menggeledek.

"Apauw! Apa artinya ini? Siapa perempuan bule ini dan mengapa pula kau menangkapnya dan membawanya ke sini?"

"Apauw, sekali ini engkau lancang. Betapa besar bahayanya menangkap seorang wanita kulit putih, tentu teman-temannya akan marah! Kalau mereka membawa pasukan dengan senjata api menyerbu ke sini, maka celakalah kita!" kata orang ke dua yang gendut.

Orang ke tiga, yang usianya paling muda, kira-kira tiga puluh tahun, tubuhnya tinggi kurus dengan muka yang tampan akan tetapi matanya kejam, tertawa. "Ha-ha-ha, bagus sekali, Apauw. Sudah lama aku ingin sekali mendapatkan seorang wanita kulit putih, dan hari ini engkau datang membawa seorang yang begini molek untukku!"

"Kita manfaatkan dia!" kata orang keempat yang telinga kirinya buntung. "Kita minta uang tebusan yang besar kepada keluarganya!"

Orang ke lima, yang kecil kurus dan nampak paling cerdik di antara mereka, mengangkat kedua tangannya ke atas. "Kawan-kawan, harap tenang dulu dan mendengarkan laporan Apauw, baru kita mengambil keputusan yang tepat. Nah, Apauw, ceritakan segalanya."

Apauw disuruh duduk di atas kursi dekat wanita yang rebah telentang tak dapat bergerak itu. Hay Hay yang terus mengintai semakin kagum ketika melihat betapa sepasang mata yang biru itu sama sekali tidak menunjukkan perasaan takut, bahkan yang tampak adalah perasaan marah. Seorang dara yang luar biasa, pikirnya. Dalam keadaan seperti itu gadis lain pasti akan ketakutan, bahkan menangis. Tapi wanita ini sama sekali tidak menangis, tidak takut, bahkan marah. Seperti seorang pendekar wanita saja!

"Saya dan kawan-kawan sedang berburu binatang di hutan bukit sebelah itu. Lalu tiba-tiba muncul dua orang penunggang kuda, yaitu wanita ini dan seorang lelaki muda kulit putih. Kami segera menghadang dan lelaki kulit putih itu lantas mempergunakan senjata apinya dan merobohkan tujuh orang kita..."

"Ahhh! Keparat sekali! Mengapa tidak kau tangkap laki-laki itu, malah wanita ini yang kau bawa ke mari?" bentak si tinggi kurus hitam.

"Maaf, Toako. Lelaki kulit putih itu memang tangguh. Setelah peluru pistolnya habis, saya mengerahkan teman-teman untuk mengeroyoknya, akan tetapi dia kemudian mengamuk dengan pedangnya. Dia kuat sekali. Maka saya pikir lebih baik wanita ini ditawan supaya dapat kita pergunakan sebagai sandera kalau kawan-kawannya datang menyerbu."

Orang kecil kurus tadi mengangguk-angguk. "Benar sekali perbuatan itu. Dengan adanya wanita ini sebagai tawanan, kita dapat mempergunakan dia sebagai sandera, juga dapat kita mintakan uang tebusan!"

"Akan tetapi, aku menginginkannya...!" kata yang termuda tadi.

"Itu soal nanti. Sekarang jangan ganggu dia, sebaiknya kita masukkan ke kamar tahanan dengan penjagaan ketat sambil menanti datangnya laporan tentang lelaki kulit putih yang dikeroyok itu." Kini si tinggi besar hitam itu yang mengambil keputusan dan empat orang yang lain tidak berani membantah perintah kepala mereka itu.

"Biar aku sendiri yang membawanya ke tempat tahanan," kata pula si kecil kurus dan dia pun membebaskan totokan yang membuat Sarah tidak mampu bergerak atau bersuara.

Begitu dapat bergerak, Sarah langsung bangkit berdiri. Sekarang Hay Hay yang berada di tempat sembunyinya menjadi semakin kagum. Gadis itu masih amat muda kalau melihat wajahnya, akan tetapi tubuhnya sudah dewasa dan selain cantik jelita, gadis itu pun amat pemberani. Begitu dapat bergerak dan bicara, dia segera bertolak pinggang dengan sikap angkuh dan suaranya terdengar lantang, cukup lancar dalam bahasa pribumi.

"Kalian ini semua lelaki pengecut, perampok-perampok busuk yang tidak tahu malu! Hayo kembalikan pistolku, dan akan kuledakkan kepala kalian satu demi satu!"

Si tinggi kurus yang tadi menawannya terpaksa mengeluarkan sebuah pistol yang tadinya akan diambilnya untuk diri sendiri, kemudian menyerahkannya kepada si raksasa hitam. "lnilah senjata apinya yang tadi saya rampas, Toako," katanya. Raksasa hitam menerima pistol dengan mulut menyeringai, nampaknya senang sekali memperoleh senjata api itu.

"Nona, menyerah sajalah. Engkau menjadi tawanan kami dan kami tak akan menyakitimu selama engkau menurut," kata pemimpin yang kecil kurus tadi sambil menghampiri. Dia menjulurkan tangan untuk memegang siku Sarah sambil berkata, "Mari ikut denganku."

Akan tetapi Sarah cepat menepiskan tangan itu, lalu mengayunkan tinju tangan kanannya menghantam ke arah muka orang. Tetapi lelaki kecil kurus itu ternyata lihai juga. Dengan tenang saja dia mengelak dan begitu sambaran tangan itu lewat, dia segera menangkap siku tangan Sarah dan sekali puntir, lengan itu ditekuk ke belakang tubuh gadis itu. Sarah menyeringai kesakitan.

"Nona, sudah kukatakan. Menyerah saja dan engkau tidak akan disakiti. Apakah engkau lebih suka kalau ditotok seperti tadi? Atau kaki tanganmu dirantai?"

Sarah seorang gadis cerdik. Dia tahu bahwa dia berada di tangan orang-orang yang tidak mengenal peri kemanusiaan, dan mereka itu pun pandai berkelahi. Akan percuma kalau dia nekat melawan. Akan merugikan saja. Tentu lebih enak dibiarkan bebas begini walau pun ditawan dari pada ditotok atau dibelenggu. Ia pun diam saja, hanya mengangguk dan menggigit bibir supaya tidak mengeluarkan maki-makian. Suaranya juga terdengar tenang ketika akhirnya dia berkata.

"Baik, aku menyerah. Akan tetapi ingat, kalau sampai aku diganggu, tentu ayahku akan datang dengan pasukan dan kalian semua akan dibantai seorang demi seorang. Ayahku adalah Kapten Armando, komandan benteng Portugis di Cang-cow!"

Semua orang terkejut mendengar ini, termasuk Hay Hay. Dalam surat laporan Yu Siucai disebut pula tentang orang Portugis di Ceng-cow sebagai anggota komplotan, dan kiranya ayah gadis yang ditawan itu adalah komandan dari benteng orang-orang Portugis! Semua pimpinan perampok itu pun terkejut dan mereka maklum bahwa mereka telah bermain api.

"Bagus sekali kalau begitu!" kata pemimpin kecil kurus yang cerdik itu, "Nona akan kami anggap sebagai seorang tamu kehormatan, asalkan Nona tidak mencoba untuk melarikan diri. Kami akan menghubungi ayahmu di Cang-cow dan tentu Nona akan kami bebaskan dengan baik-baik kalau mereka mau memenuhi permintaan kami."

Maklum bahwa dia sama sekali tidak berdaya, Sarah menurut saja ketika dia dibawa oleh si kurus kecil keluar dari dalam goa itu, kemudian diajak masuk ke sebuah goa lain yang ternyata merupakan sebuah tempat tahanan istimewa! Goa ini tidak begitu besar, namun lengkap dan pintunya terbuat dari pada besi yang ada jerujinya. Segala keperluan hidup berada di goa itu.

Setelah berpesan kepada anak buah untuk menjaga dan mengamati goa tahanan itu baik-baik dan bergantian siang malam, si kecil kurus lalu pergi meninggalkan Sarah. Agak lega rasa hati Sarah sesudah memeriksa tempat tahanan itu dan dia mendapatkan bahwa goa itu dilengkapi dengan tempat membersihkan diri, dengan air yang cukup banyak, juga ada sebuah dipan yang terbuat dari kayu yang bersih.

Dia lalu duduk di atas dipan itu dan melamun. Dia mengenang kembali kegagahan Kapten Gonsalo dan mulailah dia melihat betapa sikapnya terhadap Gonsalo selama ini sungguh tidak ramah. Bagaimana pun juga harus dia akui bahwa Gonsalo sudah memperlihatkan sikap yang gagah berani. Bahkan kini dia mengkhawatirkan nasib pembantu ayahnya itu. Pengeroyok demikian banyaknya dan ketika tertawan dan dibawa pergi, dia masih sempat melihat betapa Kapten Gonsalo mulai terdesak hebat walau dia mengamuk seperti seekor singa marah.

Dia mempelajari keadaan dirinya pada saat Itu. Dia tertawan gerombolan yang jahat dan juga kuat. Dia harus bersikap tenang. Yang terpenting dia harus dapat membawa diri agar jangan sampai diganggu, lantas diam-diam dia akan mencari kesempatan untuk melarikan diri. Andai kata hal itu tidak mungkin, dia akan menanti karena baik Kapten Gonsalo bisa meloloskan diri atau tidak, ayahnya pasti akan mencarinya, membawa pasukan mencari di seluruh perbukitan hingga dia dapat ditemukan dan dibebaskan. Bagaimana pun juga para pemimpin perampok itu sekarang sudah tahu bahwa dia adalah puteri komandan benteng Portugis, maka mereka pasti tidak akan berani mengganggunya.

Dengan hati lega Sarah menerima hidangan yang dimasukkan ke dalam kamar atau goa tahanan itu melalui lubang di pintu besi. Dia pun makan, kemudian membersihkan diri dan merebahkan diri di atas dipan. Karena hari itu ia melakukan perjalanan menunggang kuda yang cukup jauh dan melelahkan, maka sebelum malam tiba dia sudah jatuh pulas.

Sementara itu dari tempat sembunyinya Hay Hay melihat gadis itu dibawa keluar. Dia pun menyelinap keluar dan berhasil membayangi sehingga dia tahu di mana dara kulit putih itu ditawan. Dia sudah mengambil keputusan untuk menolong dan membebaskan gadis itu.

Bila terjadi pertempuran atau permusuhan wajar antara gerombolan ini dengan orang kulit putih, tentu dia takkan mau mencampuri urusan mereka, tidak akan berpihak. Akan tetapi sekali ini urusannya lain. Seorang gadis muda ditawan gerombolan. Tidak peduli gadis itu bangsa apa, golongan apa, dia harus menolongnya!

Hal ini ada hubungannya dengan sifat seorang pendekar yang selalu siap sedia menolong orang yang sedang dilanda mala petaka, dan menentang perbuatan yang mengandalkan kekuasaan dan kekerasan. Dan gerombolan itu menawan seorang gadis, maka dia harus menolong gadis itu.

Akan tetapi dia pun melihat betapa perkampungan perampok itu penuh dengan perampok-perampok yang jumlahnya lebih dari lima puluh orang. Agaknya akan sukar baginya untuk dapat menolong dan melarikan gadis itu dari kepungan lawan yang demikian banyaknya. Maka dia pun tetap bersembunyi, menanti datangnya malam gelap.

Dari tempat sembunyinya Hay Hay melihat rombongan perampok yang terdiri dari belasan orang memasuki perkampungan itu dengan membawa beberapa orang yang terluka. Di antara mereka yang luka-luka, tak kurang dari sebelas orang banyaknya, bahkan terdapat tiga orang yang tewas.

Ternyata mereka itu adalah gerombolan perampok yang tadi mengeroyok Gonsalo. Yang terluka adalah tujuh orang yang terkena tembakan, bahkan tiga di antara mereka tewas. Sedangkan empat orang yang lainnya adalah mereka yang terluka oleh pedang dan tinju kapten muda yang gagah perkasa itu. Hay Hay mendengar pula betapa laki-laki kulit putih yang tadinya bersama wanita tawanan itu ternyata berhasil meloloskan diri.

Agaknya para pimpinan perampok marah-marah melihat tiga orang anak buahnya tewas dan delapan orang lagi luka-luka, apa lagi setelah mendengar bahwa lelaki kulit putih yang menyebabkan anak buah mereka tewas dan luka-luka itu dapat meloloskan diri.

"Ini sudah keterlaluan!" bentak raksasa hitam yang menjadi pimpinan pertama. "Sekarang kita akan mempergunakan gadis kulit putih itu untuk membalas dendam. Tidak saja orang kulit putih harus membayar seribu tail perak kepada kita, tetapi pembunuh itu juga harus diserahkan kepada kita untuk ditukar dengan gadis itu! Sekarang kalian semua harus ikut menjaga agar gadis itu tidak dapat lolos, juga tidak ada yang boleh mengganggunya!"

Akan tetapi satu di antara nafsu yang membuat orang kadang suka menjadi nekat adalah nafsu birahi. Kalau orang sudah dicengkeram oleh nafsu ini, maka dia berani melakukan apa pun juga untuk memperoleh apa yang dia inginkan, untuk memuaskan nafsunya yang berkobar.

Demikian pula dengan Ji Tang, orang ke tiga dan yang termuda di antara kelima pimpinan perampok. Semenjak melihat Sarah nafsunya telah berkobar-kobar dan dia bertekat untuk mendapatkan gadis itu, biar pun hanya untuk sejenak. Dia harus dapat memiliki gadis itu sebelum gadis itu dibebaskan.

Lima orang pemimpin gerombolan itu adalah kakak-beradik seperguruan. Mereka berlima mempunyai kepandaian yang cukup hebat sehingga mereka diakui sebagai pemimpin oleh puluhan orang perampok, dan mereka dikenal dengan julukan Lima Harimau Cakar Besi!

Meski pun usianya paling muda, namun dalam urusan persaudaraan seperguruan Ji Tang merupakan orang ke tiga. Dia pun lihai, terutama sekali karena tenaganya yang besar dan dia pandai sekali memainkan sepasang golok pendek yang selalu terselip di pinggangnya. Akan tetapi dia memiliki suatu kelemahan, yaitu diperbudak oleh nafsu birahinya.

Kalau empat orang saudaranya haus akan kedudukan dan kekayaan, Ji Tang selalu haus akan wanita. Dialah orangnya yang selalu menculik wanita, bahkan anak buah yang ingin menyenangkan hatinya, jika berhasil menculik wanita cantik, selalu diberikan lebih dahulu kepada Ji Tang. Dan dia pun seorang pembosan. Entah berapa banyaknya wanita yang sesudah dia miliki untuk beberapa hari, minggu atau bulan, lantas dia campakkan dan dia berikan kepada anak buahnya untuk diperebutkan.

Malam itu sunyi sekali. Bukan saja sunyi karena malam itu amat gelap dan angin malam bertiup dingin, namun juga karena hati semua anggota gerombolan dicekam ketegangan. Mereka maklum bahwa gadis yang ditawan itu adalah puteri komandan benteng Portugis. Mereka semua siap siaga kalau-kalau akan terjadi penyerbuan pasukan orang asing kulit putih itu.

Tiga buah peti mati berada di ruangan dalam goa yang biasa digunakan untuk pertemuan atau latihan silat. Tempat ini pun dijaga dan tampak keluarga dari tiga orang anggota yang tewas tengah berkabung di situ. Lilin-lilin sembahyang bernyala di meja-meja sembahyang yang dipasang di depan tiga buah peti mati.

Walau pun semua anggota gerombolan itu bersiap siaga seperti yang diperintahkan oleh para pimpinan mereka, namun hanya sedikit saja yang nampak di luar goa. Bagi mereka malam terlalu dingin dan gelap untuk keluar dari dalam goa tempat tinggal mereka yang hangat. Mereka siap siaga di dalam goa masing-masing, dan hanya pasukan penjaga saja yang melakukan perondaan di luar goa.

"Berhenti! Siapa itu?!" bentak kepala rombongan peronda yang terdiri dari sepuluh orang ketika mereka melihat sesosok tubuh berjalan dan berpapasan dengan mereka.

"Aku! Kalian jaga baik-baik!" jawab orang itu. Cahaya lentera yang dibawa salah seorang di antara para peronda menimpa wajah orang itu dan sepuluh orang peronda itu menarik napas lega.

"Kiranya Ji-toako."

Orang itu memang Ji Tang. Dia melangkah dengan tenang menuju ke arah goa di mana Sarah ditahan. Para peronda melanjutkan perondaan mereka, merasa lebih aman karena seorang di antara para pimpinan mereka agaknya juga melakukan perondaan.

Kini Ji Tang sudah tiba di depan goa tempat tahanan dan kembali dia ditegur enam orang penjaga yang melakukan penjagaan di depan goa itu secara bergiliran. Akan tetapi enam orang penjaga ini juga merasa lega ketika mereka melihat siapa yang datang.

"Aku Ji Tang, hendak melihat keadaan tawanan. Buka pintunya!" perintah Ji Tang dengan suara tegas.

Enam orang penjaga itu saling pandang karena tadi Coa Gu, ketua pertama yang raksasa hitam itu, sudah memesan kepada mereka agar siapa saja tidak diperbolehkan memasuki goa itu.

"Akan tetapi, Ji-toako..."

"Diam! Aku yang datang dan kalian masih ribut? Bukakan pintunya kataku, ataukah harus kupukul dulu?"

"Maaf, Ji-toako... maaf..."

Enam orang itu ketakutan dan penjaga yang memegang kunci cepat-cepat mengeluarkan kuncinya lalu membuka pintu besi goa itu.

"Jaga baik-baik di sini dan jangan buka sebelum kupanggil dari dalam," kata Ji Tang yang segera memasuki goa dan menutupkan daun pintu dari dalam.

Penjaga itu langsung menguncinya kembali dari luar karena dengan pintu terkunci mereka merasa lebih aman. Mereka saling pandang sambil tersenyum membayangkan apa yang akan terjadi di dalam kamar tahanan itu.

Bagi mereka, bukan hal aneh melihat perbuatan ketua mereka yang nomor tiga ini. Hanya biasanya kejadian seperti itu mendatangkan tawa gembira sebab mereka menganggapnya lucu, tetapi sekali ini ada perasaan khawatir karena mereka sudah dipesan dengan tegas oleh ketua pertama bahwa siapa pun tidak boleh memasuki goa itu.

Mereka tahu betapa pentingnya wanita kulit putih yang menjadi tawanan mereka. Pintu itu berlapis, dan pintu sebelah dalam berjeruji, akan tetapi yang luar rapat sehingga mereka tidak akan dapat melihat atau mendengar sesuatu yang terjadi di dalam.

"Siapa...?!" Mereka berenam kembali bangkit dan membentak bayangan yang muncul di depan mereka.

"Bodoh, butakah kalian? Aku Ji Tang. Hayo cepat buka daun pintunya, aku mau masuk memeriksa tawanan!" bentak orang itu.

Enam orang penjaga itu berdiri melongo, memandang pada orang yang baru saja muncul. Mereka merasa betapa bulu tengkuk mereka meremang. Mereka menggosok-gosok mata, memandang lagi. Akan tetapi memang benar. Yang berdiri di depan mereka ini adalah Ji Tang, ketua mereka yang ke tiga. Yang tadi baru saja masuk!

"Tapi... tapi..., Ji-twako... tapi..." Si pemegang kunci berkata gagap, sebentar memandang kepada Ji Tang dan sebentar kepada pintu yang tertutup itu. "Tadi... bukankah baru saja Toako masuk...?"

"Kau mimpi! Bicara ngaco belo!" Ji Tang menggerakkan tangan kanannya menampar.

"Plakkk!" Penjaga itu ditamparnya dan terpelanting.

"Hayo cepat buka, atau kalian ingin kupukul sampai mampus?"

Kini enam orang itu yakin bahwa mereka tidak bermimpi, bahkan yakin bahwa yang berdiri di hadapan mereka ini adalah Ji Tang asli. Tapi siapa yang tadi masuk? Dengan tangan gemetar penjaga yang memegang kunci kemudian membuka daun pintu. Setelah Ji Tang menyelinap masuk, mereka cepat menutupkan dan mengunci lagi daun pintu itu.

"Aku pergi melapor... !" kata kepala jaga dan dia pun segera berlari ke dalam kegelapan malam untuk melaporkan peristiwa yang dianggapnya tidak masuk akal dan sangat aneh itu. Sementara itu kelima orang penjaga yang lain duduk berhimpitan di sudut depan goa, dan bagi mereka hawa udara terasa semakin dingin sehingga mereka agak menggigil.

********************

Sarah masih tidur pulas, sama sekali tidak tahu bahwa di bawah cahaya lentera yang tadi oleh penjaga dipasang di dalam goa itu, kini terdapat seorang lelaki bertubuh tinggi kurus yang menghampirinya, lalu berdiri di dekat dipan dan mengamati dirinya dengan pandang mata yang lahap. Orang itu menjilat-jilat bibirnya sendiri saat menatap ke arah tubuhnya, sikapnya semakin gelisah seperti seekor harimau kelaparan yang siap menerkam kelinci.

Sejak sore tadi Sarah sudah tidur lelap, cukup lama. Dan kini agaknya sinar mata orang yang menggerayangi tubuhnya itu dapat terasa olehnya, seperti menggugahnya. Dia lalu membuka kedua matanya dan begitu melihat laki-laki itu berdiri dekat sekali, dengan mata yang liar, dengan mulut setengah terbuka dari mana keluar napas terengah-engah, ia pun terkejut dan cepat bangkit duduk sambil menjauhkan diri.

"Siapa kau?! Mau apa kau?!" bentaknya.

Laki-laki itu tersenyum dan memang wajahnya cukup tampan. "Nona, aku Ji Tang, ketua ke tiga dari kelompok kami. Aku datang karena merasa kasihan kepadamu, Nona. Malam begini dingin dan engkau seorang diri saja. Aku ingin menemanimu, Nona."

"Tidak sudi! Cepat keluar kau! Aku tidak membutuhkan teman. Pergi kau dari sini!" Sarah menudingkan jari telunjuk kirinya ke pintu, sedangkan tangan kanannya dikepal. Di dalam pandangan Ji Tang yang sedang mabuk birahi, dalam keadaan seperti itu Sarah nampak semakin menggairahkan. Dia pun melangkah maju mendekati.

"Aihhh, jangan pura-pura, Nona. Aku mendengar bahwa wanita kulit putih memiliki gairah yang besar dan selalu ingin ditemani pria. Marilah, Nona. Engkau akan senang dan akan aman apa bila menjadi kekasihku. Tidak ada orang yang akan tahu..." Ji Tang yang sudah tidak tahan lagi, mengulurkan tangan hendak merangkul.

"Bangsat kau! Jahanan busuk!" Sarah memaki kemudian wanita itu menggerakkan tangan kanannya memukul. Namun dengan sekali sambut saja pergelangan tangan kanan Sarah sudah ditangkap oleh Ji Tang dan dia pun merangkul, lantas menarik tubuh Sarah, diraih dan hendak dicium.

Sarah meronta dan cepat memalingkan mukanya, kemudian kakinya menendang. Ji Tang menyumpah karena tulang keringnya terkena tendangan ujung sepatu Sarah yang keras. Dia gagal mencium bibir dara itu, sebaliknya tulang keringnya yang kena cium!

"Bretttt...!"

Kemeja itu robek lebar di bagian depan ketika Sarah meronta dan berusaha melepaskan diri dari rangkulan Ji Tang sehingga nampak baju dalamnya yang berwarna merah muda. Melihat tubuh yang molek itu terbayang jelas, nafsu birahi makin berkobar dalam kepala Ji Tang.

Namun tidak mudah menguasai gadis kulit putih itu. Bahkan untuk mendapatkan sebuah ciuman pun sangat sukar. Gadis itu meronta, memukul, mencakar dan menendang, tiada ubahnya seekor kucing hendak dimandikan.

Ji Tang menjadi marah. Dua kali dia menampar pipi Sarah, namun dara itu tidak menjadi takut, malah mengamuk semakin kuat. Akhirnya Ji Tang terpaksa menotoknya dan tubuh Sarah terkulai tanpa tenaga lagi. Ji Tang memondongnya dan merebahkannya telentang di atas dipan.

Pada waktu itulah Hay Hay memasuki goa itu. Tentu saja dialah yang tadi membuat para penjaga terkejut dan terheran-heran karena dalam pandangan mereka, pemuda ini adalah Ji Tang!

Tadi Hay Hay yang bersembunyi tak jauh dari mulut goa melihat munculnya Ji Tang yang kemudian memasuki goa tempat di mana gadis kulit putih itu ditahan. Dia hanya menduga bahwa pemimpin gerombolan yang bertubuh jangkung itu tentu mempunyai niat mesum. Tak lama kemudian dia lalu mempergunakan kekuatan sihirnya, menyamar atau mengaku sebagai Ji Tang dan berhasil memasuki goa itu. Begitu dia masuk, pintu goa lalu ditutup kembali dan dikunci dari luar.

Masuknya Hay Hay hanya terlihat oleh Sarah yang terlentang tidak berdaya. Akan tetapi munculnya pemuda ini tidak membuatnya girang karena Sarah menganggap bahwa yang muncul itu tentulah kawan si jangkung yang kurang ajar ini. Dia tahu bahaya apa yang mengancam dirinya. Hatinya mulai dicengkeram rasa takut dan ngeri, akan tetapi dia tidak sudi memperlihatkannya.

Ji Tang sendiri yang sedang diamuk oleh nafsu birahinya tidak melihat bahwa ada orang lain memasuki ruangan ini. Dia sudah tidak sabar lagi dan dia pun menerkam tubuh yang sudah telentang tak berdaya di depannya.

Terjadilah keanehan yang membuat Ji Tang dan juga Sarah terkejut dan terheran. Ketika Ji Tang menerkam ke tubuh Sarah yang terlentang di atas dipan, tiba-tiba saja tubuhnya terpelanting ke belakang dan dia pun jatuh terjengkang di atas lantai.

Tentu saja Ji Tang sangat terkejut dan mengira bahwa wanita kulit putih itu yang memiliki ilmu iblis. Akan tetapi karena dia tadi merasa tubuhnya seperti dibetot dari belakang, dia segera meloncat berdiri dan memutar tubuhnya. Barulah dia tahu bahwa di situ terdapat orang ke tiga, seorang pemuda yang sama sekali tidak dikenalnya. Dia mengingat-ingat untuk mengenal siapa pemuda itu.

Pemuda itu bertubuh sedang dan tegap, dadanya bidang, wajahnya tampan, mengenakan pakaian sederhana. Kepalanya tertutup oleh sebuah caping lebar dan dari bawah caping itu mengintai sepasang mata yang mencorong dan mulut yang tersenyum-senyum nakal. Dia tidak mengenal orang ini, bukan salah seorang di antara anak buah gerombolan yang dipimpinnya.

"Siapa kau?!" bentaknya marah.

Hay Hay masih tersenyum. "Siapa aku? Aku adalah orang yang paling tidak suka melihat seorang laki-laki mempergunakan paksaan dan memperkosa seorang gadis, biar gadis itu seorang wanita asing kulit putih sekali pun."

"Jahanam! Kau hendak melindungi seorang wanita bangsa biadab?"

Hay Hay tersenyum. Dia sudah mendengar bahwa sebagian besar dari bangsanya sendiri selalu menyebut bangsa asing sebagai bangsa biadab! Hal ini merupakan balas dendam karena Tionggoan pernah dijajah oleh Bangsa Mongol. Dan bangsa-bangsa di luar daerah kerajaan merupakan suku-suku bangsa yang sering memberontak. Karena itu muncullah sebutan bangsa biadab bagi bangsa asing.

Akan tetapi tentu saja tidak semua orang berpendapat begitu, sebab yang jelas dia sendiri tidak mau menyebut biadab kepada bangsa apa pun. Baginya, biadab tidaknya seseorang tidak ditentukan oleh suku atau bangsanya, namun oleh perbuatannya. Maka, mendengar ucapan atau pertanyaan yang sifatnya menuduh dari si jangkung itu, dia pun lalu tertawa.

"Ha-ha-ha, kalau mau berbicara mengenai kebiadaban, maka bagiku orang biadab adalah orang-orang yang melakukan perbuatan keji macam apa yang kau lakukan sekarang ini. Engkaulah yang biadab, sedangkan tentang wanita ini, aku belum melihat dia melakukan perbuatan yang tidak benar, maka aku tidak dapat mengatakan dia biadab."

Hay Hay menoleh ke arah Sarah yang masih telentang di atas dipan dengan baju kemeja yang robek lebar pada bagian depan. Dia melihat betapa gadis yang amat cantik jelita itu memandang kepadanya dengan mata birunya, pandang mata penuh dengan harapan dan permohonan.

Pada saat menoleh kepada gadis itu, tiba-tiba saja Ji Tang menyerang dengan dahsyat! Si jangkung yang curang ini menggunakan kesempatan selagi Hay Hay menengok untuk melayangkan pukulan maut ke arah kepala pemuda itu agar segera remuk.

"Awas, sobat!" Tiba-tiba terdengar Sarah berseru. Gadis ini melihat gerakan serangan itu, maka dengan kaget dia segera memperingatkan penolongnya, atau setidaknya pria yang mengeluarkan ucapan yang bernada membelanya dan mencela si jangkung.

Dengan tenang Hay Hay memalingkan mukanya, dan pada saat itu pukulan tangan kanan dari atas itu sudah menyambar ke arah kepalanya. Hay Hay cepat mengangkat lengan kiri menangkis dan pada saat itu pula, ketika lengannya beradu dengan lengan lawan, tangan kanannya sudah menyambar ke depan dan jari telunjuknya menusuk perut lawan.

"Hekkk...!"

Si jangkung yang perutnya tiba-tiba saja kena disodok jari, merasa napasnya terhenti dan perutnya mulas sehingga tanpa dapat dicegah lagi dia pun menekuk tubuhnya ke depan. Ketika mukanya menurun karena perutnya ditekuk itu, Hay Hay lalu menyambut mukanya dengan lutut kiri yang diangkat ke atas, tepat mengenai dagu lawan.

"Dukkk!"

Tubuh yang tadinya membungkuk itu tiba-tiba menjadi tegak kembali, bahkan condong ke belakang karena kepala itu tadi terpental ke atas pada saat tubuh bagian atas condong ke belakang. Hay Hay segera menggerakkan kaki menyapu ke arah kedua kaki lawan yang sudah kehilangan keseimbangan.

"Brukkk...!"

Tanpa dapat dihindarkan lagi, tubuh si jangkung terpelanting lantas dia terbanting ke atas lantai. Hay Hay tidak mempedulikannya, melainkan berjalan menghampiri dipan dan sekali menggerakkan tangan, totokan pada tubuh Sarah telah bebas!

Jodoh Si Mata Keranjang Jilid 15

IA menghela napas panjang lalu keluar dari kamar ayahnya, menuju ke ruang makan dan menanti di atas kursi menghadapi meja makan yang besar itu dengan muka cemberut. Ia sudah siap dengan pakaian untuk berkuda. Kemeja dengan lengan panjang yang digulung sampai ke bawah siku dengan leher baju terbuka. Lehernya dikalungi sapu tangan sutera merah yang nampak kontras dengan kemejanya yang putih. Celana panjangnya abu-abu, dengan sepatu boot dari kulit menutupi kaki sampai ke bawah lutut, menutupi pula celana panjangnya bagian bawah. Pinggang yang ramping itu diikat sabuk kulit dan dia pun telah siap dengan sebatang cambuk kuda dari bulu halus.

Cantik jelita dan manis sekali gadis itu ketika mematut diri di depan cermin di dekat meja makan sambil memakai topinya yang berwarna hijau dan terhias bulu burung. Rambutnya yang kuning keemasan berombak menutupi tengkuk serta punggungnya, sampai ke atas pinggang dan di dekat tengkuk diikat pula dengan tali sutera merah.

Tak lama kemudian Kapten Armando memasuki ruang makan, telah siap dengan pakaian dinasnya, pakaian kapten yang membuatnya nampak lebih muda dan gagah. Akan tetapi laki-laki setengah tua itu memandang kepada puterinya yang sudah mengenakan pakaian lengkap berikut topi itu dengan kagum dan terpesona. Puterinya ini selalu mengingatkan dia kepada isterinya yang sudah bercerai darinya dan kini berada di negaranya sendiri.

"Sarah, engkau cantik sekali!"

Biar pun kecewa, Sarah tersenyum ketika mendengar pujian ayahnya. Dia bangkit berdiri, kemudian menghampiri ayahnya dan mencium pipi ayahnya dengan sikap manja. "Ayah, aku maafkan Ayah yang tadi mengecewakan hatiku. Baiklah, aku akan pergi berkuda di perbukitan, dikawal oleh Kapten Gonsalo."

Kapten Armando menjadi girang sekali. Dia merangkul puterinya, mendekap kepala yang sangat disayangnya itu ke dada dan mengecup pipi anaknya sampai mengeluarkan bunyi nyaring.

"Ha-ha-ha-ha, engkau memang anakku yang manis. Engkau berdarah Armando yang jujur dan keras akan tetapi tegas! Ha-ha-ha, aku gembira sekali, Sarah. Pergilah, sayang, akan tetapi marilah kita sarapan dulu."

Ayah dan anak itu lalu sarapan bersama. Mereka nampak gembira sekali, apa lagi Kapten Armando yang makan dengan lahap sekali sambil dilayani oleh puterinya. Ketika itu pula terdengar pelayan mengetuk pintu ruangan makan, memberi tahu bahwa Kapten Gonsalo sudah tiba di ruangan depan.

"Suruh dia menunggu sebentar!" kata Sarah mendahului ayahnya. Pelayan itu memberi hormat kemudian pergi lagi.

"Aihh, Sarah sayang, mengapa engkau tidak mengundang Gonsalo ikut sarapan bersama kita?" tegur Kapten Armando, akan tetapi kata-katanya lembut dan manis sehingga bukan merupakan teguran melainkan lebih pantas pertanyaan.

Sarah tersenyum. Kelincahannya sudah kembali, ada pun kekecewaan yang tadi meliputi hatinya kini sama sekali sudah tidak ada bekasnya lagi.

"Ayah, aku ingin makan pagi bersama Ayah saja, tidak diganggu siapa pun juga sehingga selera makan kita tidak berkurang karenanya. Ayah, tambah lagi rotinya?"

Kapten Armando tersenyum sambil mengangguk-angguk. Dia tak ingin merusak suasana yang akrab dan membahagiakan ini dengan kehadiran Gonsalo. Bagaimana pun juga dia akan memberi kebebasan sepenuhnya bagi puterinya untuk memilih sendiri kekasih dan calon suaminya. Dia ingin puterinya bahagia, dan kebahagiaan perjodohan hanya mungkin terjadi kalau puterinya itu memilih sendiri jodohnya.

Setelah selesai makan mereka berdua keluar dan menuju ke ruangan tamu di depan. Di situ Gonsalo sedang menanti dan pemuda ini duduk di sebuah kursi tamu yang nyaman. Wajahnya tetap riang dan cerah walau pun di dalam hatinya dia kecewa mengapa Sarah dan ayahnya tidak mengundang dia makan pagi bersama, meski hanya untuk basa-basi saja. Dari pelayan tadi dia tahu bahwa ayah dan anak itu sedang sarapan di ruang makan. Akan tetapi perasaan kecewa itu sengaja disembunyikan di balik senyum yang ramah dan wajah yang cerah.

"Selamat pagi, Kapten Armando! Selamat pagi Sarah!" ia memberi salam dengan ramah. "Lihat, aku sudah siap. Kita berangkat sekarang, Sarah? Tadi aku sudah menyuruh untuk menyiapkan kudamu, sekarang sedang menanti di luar."

Kapten Armando menyambut salam itu sambil mengangguk-angguk. Di dalam hatinya dia merasa heran mengapa puterinya tidak senang kepada pemuda ini. Padahal menurut dia mata kapten muda itu bagus sekali, tajam dan penuh ketegasan.

"Selamat menikmati hari yang, cerah ini, Gonsalo. Sarah, jangan terlalu jauh dari daerah yang aman, dan Gonsalo, kalian jangan pulang terlalu larut. Berhati-hatilah, jaga baik-baik Sarah karena pelaksanaan hukuman terhadap pemberontak ini sedikit banyak pasti akan menimbulkan keguncangan. Aku serahkan keselamatan anakku di tanganmu."

Kapten Gonsalo memberi hormat secara militer. "Siap, Kapten! Saya akan menjaga dan melindungi Sarah dengan taruhan nyawaku sendiri!"

"Aku pergi dulu, Ayah!" Sarah sudah lari ke depan, agaknya tidak senang mendengarkan percakapan antara ayahnya dan Gonsalo, terutama mendengar janji Gonsalo yang muluk itu.

Tak lama kemudian Sarah dan Gonsalo telah menunggang kuda. Sarah segera melarikan kudanya keluar kota melalui pintu gerbang kota sebelah barat, dan Gonsalo mengikuti dari belakangnya. Sejak keluar dari benteng dan menjalankan kuda mereka di kota Cang-cow tadi, mereka menjadi tontonan yang mengagumkan.

Memang dua orang ini tampak serasi. Yang wanita cantik jelita, rambutnya seperti benang emas tertimpa cahaya matahari pagi, tubuhnya yang padat ramping itu duduk di atas sela kuda begitu lentur dan enaknya, tanda bahwa gadis ini memang ahli dalam menunggang kuda.

Gonsalo yang mengiringkan di belakangnya juga sangat menarik. Rambutnya kecoklatan, demikian pula warna matanya. Tubuhnya tinggi besar dan tegap, duduk dengan tegak di atas kudanya dengan sikap penuh wibawa. Pakaian kaptennya berkilauan dengan hiasan dari perak dan emas, di pinggangnya tergantung sebuah pistol hitam, di punggung kanan tergantung sebatang pedang, tangannya memegang cambuk kuda dan kepalanya tertutup topi tentara yang membuat wajahnya nampak semakin ganteng.

Begitu keluar dari pintu gerbang kota, Sarah segera membalapkan kudanya menuju bukit di depan. Melihat ini Gonsalo tersenyum, lantas dia pun mempercepat larinya kuda untuk mengejar. Diam-diam Sarah merasa mendongkol bukan main. Kapten Gonsalo ini benar-benar telah merusak kegembiraannya.

Kalau saja dia berkuda dengan ayahnya, tentu dia akan menjalankan kudanya perlahan-lahan, menikmati udara luar kota yang sejuk jernih, menikmati munculnya matahari pagi yang diantar kicau burung dan semilirnya angin perbukitan, menyamankan pandang mata dengan pemandangan yang indah, rumput-rumput hijau segar, pohon-pohon yang rimbun, bunga-bunga liar yang beraneka warna.

Namun sekarang dia tidak dapat menikmati semua itu. Dia melarikan kudanya, membalap tanpa mempedulikan segala keindahan di sepanjang perjalanan. Seolah dia bukan sedang berkuda untuk menikmati pagi hari dan pemandangan indah, melainkan sedang melarikan diri dengan kudanya, menjauhi sesuatu yang tidak menyenangkan. Akan tetapi yang tidak menyenangkan itu selalu mengikutinya dari belakang!

Selama berjam-jam Sarah terus-menerus membalapkan kudanya, naik turun bukit sampai Kapten Gonsalo menyusulnya dan berteriak,

"Sarah, berhenti dulu! Kudamu bisa kehabisan napas dan jatuh sakit!"

Mendengar seruan ini, Sarah teringat akan kuda yang disayangnya itu. Dia menghentikan kudanya dan benar saja. Kudanya nampak terengah-engah, mendengus-dengus dan dari hidung dan mulutnya keluar uap, tubuhnya berkeringat. Ia pun merasa kasihan sekali dan cepat meloncat turun dari atas punggung kudanya, melepaskan kendali dan membiarkan kudanya beristirahat sambil makan rumput segar.

Gonsalo meloncat turun dari kudanya yang juga kelelahan. Ia memandang kepada Sarah yang melangkah menjauhkan diri, menuju ke tepi jurang dari mana dia dapat memandang keindahan alam di bawah bukit. Gonsalo menarik napas panjang. Dia merasa heran sekali melihat dara ini tidak nampak gembira, bahkan seperti orang yang sedang marah. Rambut gadis itu terlihat awut-awutan karena tadi melarikan kuda dengan amat cepatnya. Dia lalu membuka topi, merapikan rambutnya dengan sisir, lalu mengenakan kembali topinya dan menghampiri Sarah.

"Sarah...," panggilnya ketika dia tiba di belakang gadis itu.

Sarah membalikkan tubuhnya. Sejenak dia mengamati kapten muda di depannya. Seperti biasanya, pakaian kapten ini serba rapi, bahkan biar pun mereka tadi membalapkan kuda, agaknya tidak ada sehelai rambut pun yang kusut. Demikian rapi dan teratur! Dan Sarah tidak menyukai ini. Seperti bukan manusia saja, seperti boneka!

"Ya, Kapten?" jawabnya sambil lalu dan kini matanya kembali memandang ke arah bawah bukit.

"Sarah, namaku Gonsalo!"

"Ya, ada apakah, Kapten Gonsalo?"

"Sarah, kita telah menjadi sahabat, bukan? Aku adalah pembantu ayahmu, sekaligus juga sahabatnya, berarti sahabatmu pula. Mengapa engkau masih menyebut aku kapten? Aku tidak suka kau sebut kapten, panggil namaku saja."

"Akan tetapi aku suka menyebut kapten!" kata Sarah berkeras, lalu kini dia membalik dan menentang pandang mata kapten itu dengan berani. "Engkau memang seorang kapten, bukan? Lihat pakaianmu, lihat topi, pistol dan pedangmu! Lihat sikapmu! Engkau adalah seorang kapten tulen, mengapa tidak kusebut kapten?"

"Tapi aku tidak suka resmi-resmian, terutama denganmu, Sarah."

"Akan tetapi aku suka, Kapten Gonsalo. Sudahlah, tak perlu berdebat, Kapten. Aku akan melanjutkan perjalanan."

Sarah memasang kembali kendali kudanya yang kini telah pulih kesegarannya, kemudian meloncat ke punggung kuda dan menjalankan kudanya. Kini dia tidak melarikan kudanya dengan cepat seperti tadi karena dia merasa kasihan kepada kuda kesayangannya itu.

Gonsalo juga menunggang kudanya dan mencoba menjalankan kuda itu di samping kuda Sarah. Akan tetapi setiap kali kuda Gonsalo tiba di samping kuda Sarah, dara itu segera mempercepat kudanya sehingga dia selalu berada di depan Gonsalo. Tentu saja hal ini membuat hati kapten itu menjadi semakin panas dan mendongkol.

"Sarah, kita sudah terlalu jauh, sebaiknya kembali saja. Ayahmu tadi telah berpesan agar kita tidak terlampau jauh," berulang kali Gonsalo meneriaki Sarah, akan tetapi dara itu tak peduli dan terus saja menjalankan kudanya ke bukit di depan.

Tiba-tiba terdengar teriakan ketakutan. "Setan...! Setan...!"

Seorang lelaki berusia empat puluhan tahun, dengan pakaian compang-camping dan yang tadi agaknya sedang menyabit rumput, kini bangkit berdiri, terbelalak memandang kepada Sarah, berteriak-teriak dan mengacung-acungkan sabitnya dengan sikap mengancam.

"Sarah, minggir!" Gonsalo berteriak.

Orang yang memegang sabit itu seperti hendak menyerang, dan kuda yang ditunggangi Sarah menjadi terkejut sekali karena orang itu berteriak-teriak. Kuda itu meringkik sambil mengangkat kedua kaki depan ke atas. Untung bahwa Sarah sudah terlatih baik sehingga tidak mudah terlempar dari punggung kudanya.

"Setan rambut emas...! Setan jahat, pergilah...!" orang itu terus berteriak-teriak ketakutan dan mengacungkan sabitnya lagi.

"Darrr...!" terdengar suara letusan dan orang itu pun terjungkal, merintih-rintih memegangi paha kirinya yang berlumuran darah.

"Kapten, kenapa engkau menembaknya?!" Sarah berseru kaget.

Dia pun cepat meloncat turun dari atas kudanya dan menghampiri orang yang tertembak itu. Orang itu memandang kepadanya dengan muka pucat dan mata terbelalak ketakutan. Sabitnya tadi entah terlempar ke mana ketika dia roboh.

"Setan... setan... jangan ganggu aku...! Pergilah...!" Orang itu berteriak lemah.

Sarah sudah pandai berbahasa daerah. Selama ini ia mempelajari bahasa pribumi dengan tekun. Ia berlutut di dekat orang itu. "Jangan takut, sobat. Aku bukan setan, aku manusia biasa. Biar kuperiksa lukamu...!" Dia pernah pula mempelajari ilmu pengobatan.

"Sarah, jangan dekati dia! Dia amat berbahaya!" teriak pula Gonsalo sambil meloncat dan mendekati, pistol revolver masih di tangannya.

"Kapten, engkau mundurlah dan jangan ikut campur!" Sarah membentak marah sehingga mengejutkan kapten itu.

"Jangan sentuh aku... kau setan... pergilah...!" orang itu kembali berteriak-teriak sehingga Sarah tidak berani menyentuhnya. Pada saat itu muncul tiga orang dusun dengan sikap takut-takut. Sarah cepat berkata kepada mereka.

"Jangan takut, temanmu ini terluka, aku ingin memeriksa dan mengobatinya."

Mendengar Sarah berbicara dengan lembut, tiga orang laki-laki itu lalu menghampiri dan ketika melihat orang yang compang-camping itu terluka pahanya, salah seorang di antara mereka lalu bertanya,

"Kenapa pahanya terluka ?"

Sarah menjadi bingung. "Dia tadi muncul secara tiba-tiba sehingga mengejutkan kami dan kuda kami. Temanku itu mengira dia hendak menyerang, maka dia menembak kakinya..." Sarah merasa menyesal sekali, "Maafkan kami..."

"Hemm, dia memang orang sinting," kata pula orang yang tertua dari mereka. "Dia belum pernah ke kota, belum pernah melihat seorang wanita asing seperti Nona." Tiga orang itu lalu membantu membangunkan orang terluka itu.

"Biar kuperiksa dan kuobati dia, aku dapat mengobatinya," kata Sarah.

"Tidak perlu, Nona. Kami bisa mengobatinya sendiri." Tiga orang itu lalu memapah orang terluka tadi dan membawanya pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Sarah berdiri mematung, merasa menyesal bukan main.

"Sudahlah, Sarah. Perlu apa memikirkan dia? Dia hanya seorang gila," kata Gonsalo.

Mendengar ini Sarah cepat membalik lalu menghadapi Gonsalo dengan sinar mata berapi. "Justru karena dia gila maka dosamu makin bertumpuk! Dia adalah orang gila yang tidak berdaya, tetapi engkau begitu saja menembaknya! Engkau curang dan kejam!" Sesudah menghardik itu Sarah lalu meloncat ke atas punggung kudanya dan melarikan kuda itu.

"Sarah, tunggu! Kau tidak adil! Hal itu kulakukan demi untuk melindungimu!" teriak Kapten Gonsalo. Akan tetapi Sarah telah membalapkan kudanya lagi, dikejar oleh kapten itu.

Sarah membalapkan kudanya menuju ke sebuah bukit yang nampak hijau di depan. Dara ini tidak peduli lagi ke mana dia menuju, pokoknya hendak menjauhi Gonsalo yang sangat dibencinya.

"Sarah! Jangan ke bukit itu! Di sana penuh hutan dan berbahaya!" teriak Gonsalo.

Akan tetapi Sarah tidak peduli, bahkan mendengar larangan itu dia semakin bersemangat membalapkan kudanya mendaki bukit. Gonsalo mengejar, namun kuda yang ditunggangi Sarah memang seekor kuda pilihan yang lebih baik, jauh lebih baik dari pada tunggangan Gonsalo. Dan gadis itu memang pandai sekali menunggang kuda, maka Gonsalo selalu tertinggal di belakang.

Benar saja peringatan Gonsalo tadi. Ketika sampai di lereng bukit, kuda Sarah memasuki sebuah hutan. Matahari sudah naik tinggi sehingga hutan itu tidak gelap lagi, sungguh pun memang merupakan hutan liar dengan pohon-pohon raksasa yang sudah tua. Sarah tidak peduli. Hatinya masih panas dan mendongkol.

Tiba-tiba dari semak-semak nampak banyak orang berlompatan keluar dari pohon-pohon. Sarah menahan kudanya agar tidak menabrak orang-orang yang menghadang di depan. Dia terbelalak ketika melihat bahwa dia sudah dikepung oleh belasan orang iaki-laki yang kelihatan bengis dan mereka semua memegang golok dengan sikap mengancam!

"Wah, ada bidadari rambut emas kesasar ke sini!"

"Aduh cantik sekali!"

"Tangkap saja, tentu uang tebusannya lumayan!"

"Sudah lama aku ingin mendapatkan seorang wanita kulit putih!"

Sikap mereka amat kasar dan kurang ajar. Sarah yang pernah mendengar cerita tentang keadaan di bagian dalam negeri asing ini, dapat menduga bahwa tentu mereka inilah yang dinamakan gerombolan perampok!

"Jangan bergerak! Semua angkat tangan atau akan kutembak mampus kalian!" tiba-tiba Kapten Gonsalo berteriak dengan suara lantang. Bahasa daerahnya tidak selancar Sarah, namun kata-katanya cukup jelas dan dapat dimengerti.

Para perampok itu memandang kepada Kapten Gonsalo yang sudah meloncat turun dari atas kudanya. Kapten ini menodongkan pistolnya ke arah mereka, sikapnya gagah dan matanya mencorong. Melihat bahwa musuh hanya seorang saja, biar pun dia memegang senjata api yang telah mereka kenal sebagai senjata rahasia yang amat menakutkan dan berbahaya, salah seorang di antara para perampok itu lalu membentak.

"Serbu, bunuh setan putih itu!" dan mereka pun berteriak-teriak sambil menerjang ke arah Gonsalo sambil mengayun-ayun golok mereka yang berkilauan saking tajamnya.

"Darr...! Darrr...! Darrrr...!"

Sampai tujuh kali senjata api di tangan Gonsalo meledak. Dia memang penembak mahir yang hebat. Peluru yang tinggal tujuh butir di pistolnya itu meledak, lantas robohlah tujuh orang perampok itu! Tetapi ledakan itu justru mendatangkaan lebih banyak lagi perampok.

Dengan pedang di tangan karena pistolnya telah kosong dan dia tidak keburu mengisinya dengan peluru baru lagi, kini Kapten Gonsalo dengan gagah berani menunggu datangnya serangan. Dia bukan saja penembak mahir, namun juga seorang ahli pedang yang hebat dan seorang petinju jagoan pula.

Sekarang dia dikeroyok oleh belasan orang. Pedangnya diputar cepat kemudan terdengar suara berdencingan ketika pedangnya bertemu dengan golok para pengeroyoknya. Tinju kirinya juga ikut bergerak dan seperti seekor harimau terluka Kapten Gonsalo mengamuk. Tinjunya merobohkan beberapa orang, demikian pula pedangnya.

Akan tetapi para pengeroyoknya adalah perampok-perampok ganas yang kiranya pandai silat pula. Pihak musuh terlalu banyak dan Kapten Gonsalo sudah menderita luka di paha dan pangkal lengan kirinya. Tahulah dia bahwa kalau dilanjutkan akhirnya dia akan roboh dan mati konyol. Apa lagi ketika dia mencari dengan pandang matanya namun tidak dapat menemukan Sarah.

Dara itu tidak terlihat lagi, entah ke mana. Apakah berhasil lari menyelamatkan diri? Atau tertawan musuh? Jantungnya berdebar-debar penuh kegelisahan ketika timbul dugaan ini. Celakalah kalau Sarah tertawan penjahat-penjahat ini!

Akan tetapi dia harus dapat menyelamatkan diri lebih dahulu kalau dia ingin mencari tahu tentang Sarah. Syukur kalau dia dapat menyelamatkan diri. Kalau tertawan pun dia harus dapat lolos lebih dahulu, kemudian baru berusaha menolong dara itu.

Kapten Gonsalo mencabut lagi pistolya dan membentak. "Angkat tangan atau kutembak kalian!"

Para pengeroyok sangat terkejut mendengar bentakan ini, ada yang cepat meloncat jauh ke belakang, ada pula yang menjatuhkan diri bertiarap. Kesempatan ini dipergunakan oleh Kapten Gonsalo untuk berlari ke arah kudanya, lantas meloncat ke punggung kuda terus melarikan diri. Dia tidak melihat kuda Sarah, sementara para perampok itu tidak berkuda, maka dengan mudah dia melarikan diri tanpa dapat dikejar oleh mereka.

Biar pun paha dan bahunya terluka sehingga terasa nyeri dan perih, dan hanya dapat dia balut dengan kain untuk menghentikan darah mengucur, namun kapten itu tidak mengenal lelah, terus mencari Sarah dan jejak kaki kudanya. Tetapi dia tidak berhasil menemukan Sarah meski pun dia telah berputar-putar di sekitar bukit itu!

Hari sudah menjelang sore, hatinya gelisah bukan main dan akhirnya terpaksa dia pulang seorang diri. Ia harus cepat melapor kepada Kapten Armando, lantas membawa pasukan dan menyerbu sarang perampok untuk menghancurkan mereka dan merampas kembali Sarah, andai kata dara itu benar mereka tawan. Kalau tidak demikian, dia akan membawa pasukan mencari dara itu sampai dapat. Tentu saja dia mengharapkan Sarah sudah dapat melarikan diri dan pulang lebih dahulu, walau pun kemungkinan ini tipis sekali karena dia tidak melihat jejak kuda dara itu.

Hari telah mulai gelap ketika Gonsalo memasuki pintu gerbang perbentengan Portugis. Di pintu gerbang saja dia sudah dihadang oleh Kapten Armando yang kelihatan gelisah dan marah.

"Gonsalo! Apa artinya ini? Engkau pulang selarut ini dan mana Sarah?"

Baru mendengar pertanyaan ini saja telah membuat semangat Gonsalo terbang melayang saking gelisahnya karena dia tahu bahwa Sarah, seperti yang dikhawatirkannya, ternyata belum pulang! Gadis ini lenyap. Entah ditawan perampok atau entah lari ke mana. Saking kelelahan, kesakitan dan kekhawatiran, Gonsalo tidak mampu menjawab malah tubuhnya lalu terkulai lemas, jatuh dari atas punggung kudanya seperti kain basah.

Ketika siuman Gonsalo sudah berada di dalam kamar, dirawat oleh seorang dokter. Juga nampak Kapten Armando yang sedang duduk di kamar itu dengan wajah gelisah. Begitu melihat bawahannya siuman, dia lalu menghampiri.

"Gonsalo, apa yang sudah terjadi? Engkau luka-luka dan pulang seorang diri. Di manakah Sarah? Apa yang terjadi?" Suara Kapten Armando penuh kegelisahan.

Gonsalo bangkit duduk, "Sarah tidak mau menuruti nasehatku. Dia malah melarikan kuda ke perbukitan yang penuh hutan itu, Kapten Armando. Kami dihadang perampok, banyak sekali jumlahnya. Aku sudah merobohkan beberapa orang dengan pistolku sampai semua pelurunya habis, lalu aku melawan dengan pedang dan tinjuku. Akan tetapi mereka terlalu banyak. Dalam keributan itu aku tidak lagi melihat Sarah. Aku hanya mengharapkan dia dapat melarikan diri, kembali ke benteng atau entah ke mana. Aku... aku terpaksa pulang untuk melapor dan mengambil bantuan pasukan."

"Celaka!'" Kapten Armando bangkit berdiri dan mukanya sebentar pucat sebentar merah. "Jangan-jangan dia ditawan perampok!"

"Aku akan mencarinya, Kapten. Aku bersumpah akan membawa Sarah pulang. Aku akan memimpin pasukan. Demi Tuhan, akan kutumpas habis perampok-perampok jahanam itu. Akan kucari sekarang juga!" Kapten Gonsalo turun dari pembaringan.

"Kita semua akan mencarinya. Sarah harus dapat ditemukan kembali! Ini adalah tanggung jawabmu, Gonsalo. Aku sendiri pun akan ikut mencari dan aku akan minta bantuan orang-orang Pek-lian-kauw. Mereka mengenal para pimpinan perampok di daerah ini. Awas, jika ada yang berani mengganggu anakku pasti akan kubasmi habis!" Kapten Armando marah bukan main.

Pada malam hari itu juga kedua orang perwira ini mengerahkan pasukan yang terdiri dari seratus orang bersenjata bedil. Sebelum berangkat, dengan diam-diam Kapten Armando sudah minta bantuan orang-orang Pek-lian-kauw yang menyanggupi dan mereka dengan caranya sendiri akan ikut menyelidiki dan menyelamatkan Sarah!

Tentu saja penduduk kota Cang-cow menjadi terheran-heran melihat pasukan Portugis itu malam-malam pergi meninggalkan kota. Akan tetapi kepala daerah sudah diberitahu oleh utusan Kapten Armando bahwa pasukan itu bertugas mencari puterinya yang hilang pada saat bertamasya di perbukitan.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Ke manakah perginya Sarah Armando? Ketika para perampok menghadangnya, Sarah terkejut bukan main. Dan ketika Gonsalo mengamuk dengan pistolnya, menembaki para perampok sampai ada tujuh orang yang roboh, juga melihat betapa kapten itu mengamuk dengan pedang serta tinjunya, diam-diam Sarah kagum bukan main. Kapten itu memang gagah parkasa.

Akan tetapi dia yang sudah meloncat turun dari kudanya karena kuda itu melonjak-lonjak, tidak dapat membantu dengan tembakan pistolnya. Dia sudah mencabut senjata api itu, akan tetapi para perampok itu mengepung dan mengeroyok Gonsalo sehingga sukarlah untuk menembakkan pistol tanpa membahayakan diri Gonsalo. Salah-salah tembakannya meleset dan mengenai kapten itu sendiri.

Selagi dia bingung, tiba-tiba tengkuknya ditotok orang dan dia pun roboh lemas. Pistolnya dirampas dan dia pun disambar oleh tangan yang kuat lalu dilarikan dari situ. Ia berusaha meronta, tetapi kaki tangannya tak dapat digerakkan, juga dia tidak mampu mengeluarkan suara.

"Kawan-kawan, aku hendak membawa tawanan ini lebih dahulu kepada pimpinan!" kata penawannya. "Kalian bunuh setan putih itu!" Dan penawannya itu, seorang laki-laki tinggi kurus yang ternyata kuat sekali, kemudian membawanya meloncat ke atas kudanya dan melarikan kuda itu dari tempat perkelahian.

Ternyata sarang perampok ini tidak berada di bukit yang penuh hutan itu karena si tinggi kurus itu menjalankan kudanya menuruni bukit sebelah selatan, menuju ke bukit batu-batu yang gundul dan gersang, juga jalannya sukar sekali sehingga kuda itu pun hanya dapat berjalan lambat.

Si tinggi kurus itu tidak tahu bahwa ada sepasang mata memandang dengan heran ketika dia membawa Sarah yang direbahkan menelungkup di atas punggung kuda, melintang di depannya, mendaki bukit berbatu-batu itu. Orang yang mengintainya itu bersembunyi di balik sebuah batu besar. Dia seorang pemuda berpakaian biru dengan caping lebar, Hay Hay!

Seperti yang kita ketahui, tanpa disengaja Hay Hay memperoleh atau dititipi surat laporan yang amat penting oleh mendiang Yu Siucai, surat yang mengungkapkan keadaan di kota Ceng-cow, tentang persekongkolan antara pejabat-pejabat Cang-cow dengan orang-orang Portugis, juga dengan para bajak laut Jepang dan orang-orang Pek-lian-kauw.

Karena ada usaha orang-orang lihai hendak merampas surat yang diterimanya sebagai pesan terakhir mendiang Yu Siucai, Hay Hay menjadi ingin tahu sekali sehingga dia pun membuka dan membaca surat itu. Ternyata berisi laporan tentang keadaan di Cang-cow yang memperlihatkan tanda-tanda akan timbul pemberontakan!

Namun Hay Hay merasa sangsi untuk segera membawa surat itu kepada Menteri Yang Ting Ho atau Menteri Cang Ku Ceng di kota raja seperti dipesankan kakek Yu Siucai itu. Urusan ini demikian penting! Bagaimana kalau laporan itu ternyata tidak benar? Dia dapat dituduh membawa laporan palsu, biar pun dia hanya menjadi utusan. Akan tetapi karena orang yang mengutusnya sudah tewas, tentu dialah yang akan bertanggung jawab!

Karena itulah maka dia tidak jadi pergi ke kota raja, melainkan membelok menuju ke kota Cang-cow. Dia ingin melakukan penyelidikan sendiri lebih dahulu sebelum menyampaikan laporan Yu Siucai itu. Kalau di kota Cang-cow memang benar terdapat persekutuan yang membahayakan keamanan, barulah dia akan mengantarkan laporan itu kepada seorang di antara kedua menteri yang bijaksana itu. Kalau tidak benar maka dia pun akan merobek-robek saja surat peninggalan orang yang sudah tidak ada di dunia ini.

Demikianlah, pada hari itu kebetulan sekali dia baru tiba di kaki bukit batu-batu besar itu dan ketika dia melihat seorang penunggang kuda datang dari depan, membawa seorahg wanita berambut keemasan yang menelungkup di atas punggung kuda, Hay Hay terkejut dan merasa heran. Dia cepat bersembunyi sambil mengintai.

Ketika penunggang kuda itu lewat pemuda ini pun menjadi bingung. Memang benar. Yang menelungkup dan melintang pada pungung kuda, di depan penunggang kuda itu, adalah seorang wanita kulit putih yang berambut kuning keemasan! Apa artinya semua ini? Dia tidak dapat turun tangan sembarangan saja sebelum mengetahui persoalannya.

Dia sudah mendengar bahwa di Cang-cow memang terdapat banyak orang kulit putih. Dia sendiri sudah beberapa kali melihat orang kulit putih berambut warna-warni dan matanya juga berwarna, keadaan yang membuat dia merasa heran dan juga ngeri. Mereka bukan seperti manusia, melainkan mirip hantu!

Bayangkan saja, kulitnya seperti tanpa darah, berbulu seperti monyet dan rambutnya ada yang kuning ada yang putih ada yang merah, matanya ada yang biru ada coklat! Tidak wajar! Apa lagi hidungnya. Seperti paruh burung dan pakaiannya juga aneh-aneh!

Tetapi dia belum pernah melihat wanita bangsa kulit putih itu. Dan mengapa pula wanita ini menjadi tawanan? Dia tidak dapat melihat wajah wanita itu karena menenungkup dan rambut yang kuning emas itu awut-awutan dan riap-riapan menutupi pipinya yang miring. Akan tetapi bila melihat bentuk tubuh yang terbungkus pakaian yang ketat dari celana dan kemeja itu, dia dapat menduga bahwa wanita itu tentulah seorang yang masih muda usia. Kulit lengan dari siku ke bawah yang tidak tertutup oleh lengan baju dan tergantung lemas di perut kuda itu nampak sangat mulus, dengan kuku jari tangan yang terpelihara rapi dan meruncing, dicat merah muda.

Biar pun dia tidak mau lancang mencampuri urusan si tinggi kurus yang menawan gadis kulit putih itu, namun hati Hay Hay tertarik sekali dan karena kunjungannya ke Cang-cow memang bertujuan melakukan penyelidikan terhadap persekongkolan yang dilakukan oleh orang-orang yang hendak memberontak, di antaranya orang kulit putih, maka tentu saja dia merasa curiga dan diam-diam dia pun membayangi kuda yang tidak dapat lari cepat mendaki bukit yang penuh batu itu.

Kuda itu berhenti sesudah tiba di lereng dekat puncak bukit itu, di mana terdapat banyak goa-goa di dinding batu. Hay Hay melihat banyak orang di sekitar lereng itu, dan goa-goa itu agaknya menjadi tempat tinggal mereka. Ada pula wanita dan kanak-kanak, dan para prianya nampak kekar dan kuat, dengan wajah bengis dan sikap kasar.

Dia dapat menduga bahwa tempat ini tentu merupakan sarang sebuah perkumpulan atau gerombolan, entah gerombolan apa. Adakah hubungannya dengan persekongkolan yang dilaporkan dalam surat Yu Siucai? Dia semakin tertarik dan ketika melihat si tinggi kurus memanggul tubuh wanita kulit putih itu memasuki goa yang paling besar di tempat itu, dia pun menggunakan kepandaiannya untuk menyelinap masuk.

Setelah memasuki goa, Hay Hay merasa terkejut dan kagum. Kiranya goa itu adalah goa alami yang dengan bantuan tangan manusia berubah menjadi ruangan-ruangan seperti di dalam rumah besar saja! Ada prabot rumah dan segala perlengkapan sehari-hari, bahkan dipasangi pintu dan tirai kain.

Keadaan di dalam goa memungkinkan Hay Hay untuk menyusup dan bersembunyi. Dan akhirnya dia dapat mengintai ke dalam sebuah ruangan di mana duduk lima orang yang dilihat dari sikapnya mudah diketahui bahwa mereka merupakan para pimpinan kelompok orang di perkampungan goa ini.

Si jangkung yang membawa wanita kulit putih tadi memasuki ruangan itu pula. Dia lantas menurunkan tawanannya dari pundak dan merebahkan wanita itu ke atas lantai. Kini Hay Hay dapat melihat wanita yang telentang itu dan dia pun terbelalak kagum, bahkan begitu terpesona sehingga dia tidak sadar bahwa matanya terbelalak, mulutnya ternganga, dan matanya tdak pernah berkedip.

Selama hidupnya belum pernah Hay Hay melihat wanita yang seperti itu! Demikian indah mempesona, demikian cantik jelita. Begitu menggairahkan akan tetapi juga mengerikan! Mengerikan karena tak pernah selamanya dia membayangkan seorang wanita seperti ini. Seperti bukan manusia saja!

Dia mengagumi rambut yang terurai lepas itu, yang laksana benang-benang sutera emas berkilauan. Wajah itu memiliki garis-garis yang sempurna, bagai setangkai bunga teratai. Dan tubuh itu! Pinggangnya demikian kecil langsing, dadanya menonjol, pinggulnya besar, kakinya panjang. Tubuh yang bukan saja indah bentuknya, akan tetapi juga memancarkan kesehatan yang sempurna.

Dan pada waktu wanita itu membuka kedua matanya, hampir saja Hay Hay mengeluarkan seruan saking kagumnya. Sepasang mata yang kebiruan, seperti dua buah batu permata saja, namun begitu hidup, lebar dan jeli, dengan bulu mata melengkung panjang sehingga membentuk garis tepi mata dan bayang-bayang. Sungguh indah sekali!

Lima pimpinan yang berada di situ nampak terkejut pula melihat pembantu mereka datang sambil membawa tawanan yang amat aneh ini. Mereka lalu bangkit berdiri dan seorang di antara mereka yang tinggi besar seperti raksasa berkulit hitam, berseru dengan suaranya yang menggeledek.

"Apauw! Apa artinya ini? Siapa perempuan bule ini dan mengapa pula kau menangkapnya dan membawanya ke sini?"

"Apauw, sekali ini engkau lancang. Betapa besar bahayanya menangkap seorang wanita kulit putih, tentu teman-temannya akan marah! Kalau mereka membawa pasukan dengan senjata api menyerbu ke sini, maka celakalah kita!" kata orang ke dua yang gendut.

Orang ke tiga, yang usianya paling muda, kira-kira tiga puluh tahun, tubuhnya tinggi kurus dengan muka yang tampan akan tetapi matanya kejam, tertawa. "Ha-ha-ha, bagus sekali, Apauw. Sudah lama aku ingin sekali mendapatkan seorang wanita kulit putih, dan hari ini engkau datang membawa seorang yang begini molek untukku!"

"Kita manfaatkan dia!" kata orang keempat yang telinga kirinya buntung. "Kita minta uang tebusan yang besar kepada keluarganya!"

Orang ke lima, yang kecil kurus dan nampak paling cerdik di antara mereka, mengangkat kedua tangannya ke atas. "Kawan-kawan, harap tenang dulu dan mendengarkan laporan Apauw, baru kita mengambil keputusan yang tepat. Nah, Apauw, ceritakan segalanya."

Apauw disuruh duduk di atas kursi dekat wanita yang rebah telentang tak dapat bergerak itu. Hay Hay yang terus mengintai semakin kagum ketika melihat betapa sepasang mata yang biru itu sama sekali tidak menunjukkan perasaan takut, bahkan yang tampak adalah perasaan marah. Seorang dara yang luar biasa, pikirnya. Dalam keadaan seperti itu gadis lain pasti akan ketakutan, bahkan menangis. Tapi wanita ini sama sekali tidak menangis, tidak takut, bahkan marah. Seperti seorang pendekar wanita saja!

"Saya dan kawan-kawan sedang berburu binatang di hutan bukit sebelah itu. Lalu tiba-tiba muncul dua orang penunggang kuda, yaitu wanita ini dan seorang lelaki muda kulit putih. Kami segera menghadang dan lelaki kulit putih itu lantas mempergunakan senjata apinya dan merobohkan tujuh orang kita..."

"Ahhh! Keparat sekali! Mengapa tidak kau tangkap laki-laki itu, malah wanita ini yang kau bawa ke mari?" bentak si tinggi kurus hitam.

"Maaf, Toako. Lelaki kulit putih itu memang tangguh. Setelah peluru pistolnya habis, saya mengerahkan teman-teman untuk mengeroyoknya, akan tetapi dia kemudian mengamuk dengan pedangnya. Dia kuat sekali. Maka saya pikir lebih baik wanita ini ditawan supaya dapat kita pergunakan sebagai sandera kalau kawan-kawannya datang menyerbu."

Orang kecil kurus tadi mengangguk-angguk. "Benar sekali perbuatan itu. Dengan adanya wanita ini sebagai tawanan, kita dapat mempergunakan dia sebagai sandera, juga dapat kita mintakan uang tebusan!"

"Akan tetapi, aku menginginkannya...!" kata yang termuda tadi.

"Itu soal nanti. Sekarang jangan ganggu dia, sebaiknya kita masukkan ke kamar tahanan dengan penjagaan ketat sambil menanti datangnya laporan tentang lelaki kulit putih yang dikeroyok itu." Kini si tinggi besar hitam itu yang mengambil keputusan dan empat orang yang lain tidak berani membantah perintah kepala mereka itu.

"Biar aku sendiri yang membawanya ke tempat tahanan," kata pula si kecil kurus dan dia pun membebaskan totokan yang membuat Sarah tidak mampu bergerak atau bersuara.

Begitu dapat bergerak, Sarah langsung bangkit berdiri. Sekarang Hay Hay yang berada di tempat sembunyinya menjadi semakin kagum. Gadis itu masih amat muda kalau melihat wajahnya, akan tetapi tubuhnya sudah dewasa dan selain cantik jelita, gadis itu pun amat pemberani. Begitu dapat bergerak dan bicara, dia segera bertolak pinggang dengan sikap angkuh dan suaranya terdengar lantang, cukup lancar dalam bahasa pribumi.

"Kalian ini semua lelaki pengecut, perampok-perampok busuk yang tidak tahu malu! Hayo kembalikan pistolku, dan akan kuledakkan kepala kalian satu demi satu!"

Si tinggi kurus yang tadi menawannya terpaksa mengeluarkan sebuah pistol yang tadinya akan diambilnya untuk diri sendiri, kemudian menyerahkannya kepada si raksasa hitam. "lnilah senjata apinya yang tadi saya rampas, Toako," katanya. Raksasa hitam menerima pistol dengan mulut menyeringai, nampaknya senang sekali memperoleh senjata api itu.

"Nona, menyerah sajalah. Engkau menjadi tawanan kami dan kami tak akan menyakitimu selama engkau menurut," kata pemimpin yang kecil kurus tadi sambil menghampiri. Dia menjulurkan tangan untuk memegang siku Sarah sambil berkata, "Mari ikut denganku."

Akan tetapi Sarah cepat menepiskan tangan itu, lalu mengayunkan tinju tangan kanannya menghantam ke arah muka orang. Tetapi lelaki kecil kurus itu ternyata lihai juga. Dengan tenang saja dia mengelak dan begitu sambaran tangan itu lewat, dia segera menangkap siku tangan Sarah dan sekali puntir, lengan itu ditekuk ke belakang tubuh gadis itu. Sarah menyeringai kesakitan.

"Nona, sudah kukatakan. Menyerah saja dan engkau tidak akan disakiti. Apakah engkau lebih suka kalau ditotok seperti tadi? Atau kaki tanganmu dirantai?"

Sarah seorang gadis cerdik. Dia tahu bahwa dia berada di tangan orang-orang yang tidak mengenal peri kemanusiaan, dan mereka itu pun pandai berkelahi. Akan percuma kalau dia nekat melawan. Akan merugikan saja. Tentu lebih enak dibiarkan bebas begini walau pun ditawan dari pada ditotok atau dibelenggu. Ia pun diam saja, hanya mengangguk dan menggigit bibir supaya tidak mengeluarkan maki-makian. Suaranya juga terdengar tenang ketika akhirnya dia berkata.

"Baik, aku menyerah. Akan tetapi ingat, kalau sampai aku diganggu, tentu ayahku akan datang dengan pasukan dan kalian semua akan dibantai seorang demi seorang. Ayahku adalah Kapten Armando, komandan benteng Portugis di Cang-cow!"

Semua orang terkejut mendengar ini, termasuk Hay Hay. Dalam surat laporan Yu Siucai disebut pula tentang orang Portugis di Ceng-cow sebagai anggota komplotan, dan kiranya ayah gadis yang ditawan itu adalah komandan dari benteng orang-orang Portugis! Semua pimpinan perampok itu pun terkejut dan mereka maklum bahwa mereka telah bermain api.

"Bagus sekali kalau begitu!" kata pemimpin kecil kurus yang cerdik itu, "Nona akan kami anggap sebagai seorang tamu kehormatan, asalkan Nona tidak mencoba untuk melarikan diri. Kami akan menghubungi ayahmu di Cang-cow dan tentu Nona akan kami bebaskan dengan baik-baik kalau mereka mau memenuhi permintaan kami."

Maklum bahwa dia sama sekali tidak berdaya, Sarah menurut saja ketika dia dibawa oleh si kurus kecil keluar dari dalam goa itu, kemudian diajak masuk ke sebuah goa lain yang ternyata merupakan sebuah tempat tahanan istimewa! Goa ini tidak begitu besar, namun lengkap dan pintunya terbuat dari pada besi yang ada jerujinya. Segala keperluan hidup berada di goa itu.

Setelah berpesan kepada anak buah untuk menjaga dan mengamati goa tahanan itu baik-baik dan bergantian siang malam, si kecil kurus lalu pergi meninggalkan Sarah. Agak lega rasa hati Sarah sesudah memeriksa tempat tahanan itu dan dia mendapatkan bahwa goa itu dilengkapi dengan tempat membersihkan diri, dengan air yang cukup banyak, juga ada sebuah dipan yang terbuat dari kayu yang bersih.

Dia lalu duduk di atas dipan itu dan melamun. Dia mengenang kembali kegagahan Kapten Gonsalo dan mulailah dia melihat betapa sikapnya terhadap Gonsalo selama ini sungguh tidak ramah. Bagaimana pun juga harus dia akui bahwa Gonsalo sudah memperlihatkan sikap yang gagah berani. Bahkan kini dia mengkhawatirkan nasib pembantu ayahnya itu. Pengeroyok demikian banyaknya dan ketika tertawan dan dibawa pergi, dia masih sempat melihat betapa Kapten Gonsalo mulai terdesak hebat walau dia mengamuk seperti seekor singa marah.

Dia mempelajari keadaan dirinya pada saat Itu. Dia tertawan gerombolan yang jahat dan juga kuat. Dia harus bersikap tenang. Yang terpenting dia harus dapat membawa diri agar jangan sampai diganggu, lantas diam-diam dia akan mencari kesempatan untuk melarikan diri. Andai kata hal itu tidak mungkin, dia akan menanti karena baik Kapten Gonsalo bisa meloloskan diri atau tidak, ayahnya pasti akan mencarinya, membawa pasukan mencari di seluruh perbukitan hingga dia dapat ditemukan dan dibebaskan. Bagaimana pun juga para pemimpin perampok itu sekarang sudah tahu bahwa dia adalah puteri komandan benteng Portugis, maka mereka pasti tidak akan berani mengganggunya.

Dengan hati lega Sarah menerima hidangan yang dimasukkan ke dalam kamar atau goa tahanan itu melalui lubang di pintu besi. Dia pun makan, kemudian membersihkan diri dan merebahkan diri di atas dipan. Karena hari itu ia melakukan perjalanan menunggang kuda yang cukup jauh dan melelahkan, maka sebelum malam tiba dia sudah jatuh pulas.

Sementara itu dari tempat sembunyinya Hay Hay melihat gadis itu dibawa keluar. Dia pun menyelinap keluar dan berhasil membayangi sehingga dia tahu di mana dara kulit putih itu ditawan. Dia sudah mengambil keputusan untuk menolong dan membebaskan gadis itu.

Bila terjadi pertempuran atau permusuhan wajar antara gerombolan ini dengan orang kulit putih, tentu dia takkan mau mencampuri urusan mereka, tidak akan berpihak. Akan tetapi sekali ini urusannya lain. Seorang gadis muda ditawan gerombolan. Tidak peduli gadis itu bangsa apa, golongan apa, dia harus menolongnya!

Hal ini ada hubungannya dengan sifat seorang pendekar yang selalu siap sedia menolong orang yang sedang dilanda mala petaka, dan menentang perbuatan yang mengandalkan kekuasaan dan kekerasan. Dan gerombolan itu menawan seorang gadis, maka dia harus menolong gadis itu.

Akan tetapi dia pun melihat betapa perkampungan perampok itu penuh dengan perampok-perampok yang jumlahnya lebih dari lima puluh orang. Agaknya akan sukar baginya untuk dapat menolong dan melarikan gadis itu dari kepungan lawan yang demikian banyaknya. Maka dia pun tetap bersembunyi, menanti datangnya malam gelap.

Dari tempat sembunyinya Hay Hay melihat rombongan perampok yang terdiri dari belasan orang memasuki perkampungan itu dengan membawa beberapa orang yang terluka. Di antara mereka yang luka-luka, tak kurang dari sebelas orang banyaknya, bahkan terdapat tiga orang yang tewas.

Ternyata mereka itu adalah gerombolan perampok yang tadi mengeroyok Gonsalo. Yang terluka adalah tujuh orang yang terkena tembakan, bahkan tiga di antara mereka tewas. Sedangkan empat orang yang lainnya adalah mereka yang terluka oleh pedang dan tinju kapten muda yang gagah perkasa itu. Hay Hay mendengar pula betapa laki-laki kulit putih yang tadinya bersama wanita tawanan itu ternyata berhasil meloloskan diri.

Agaknya para pimpinan perampok marah-marah melihat tiga orang anak buahnya tewas dan delapan orang lagi luka-luka, apa lagi setelah mendengar bahwa lelaki kulit putih yang menyebabkan anak buah mereka tewas dan luka-luka itu dapat meloloskan diri.

"Ini sudah keterlaluan!" bentak raksasa hitam yang menjadi pimpinan pertama. "Sekarang kita akan mempergunakan gadis kulit putih itu untuk membalas dendam. Tidak saja orang kulit putih harus membayar seribu tail perak kepada kita, tetapi pembunuh itu juga harus diserahkan kepada kita untuk ditukar dengan gadis itu! Sekarang kalian semua harus ikut menjaga agar gadis itu tidak dapat lolos, juga tidak ada yang boleh mengganggunya!"

Akan tetapi satu di antara nafsu yang membuat orang kadang suka menjadi nekat adalah nafsu birahi. Kalau orang sudah dicengkeram oleh nafsu ini, maka dia berani melakukan apa pun juga untuk memperoleh apa yang dia inginkan, untuk memuaskan nafsunya yang berkobar.

Demikian pula dengan Ji Tang, orang ke tiga dan yang termuda di antara kelima pimpinan perampok. Semenjak melihat Sarah nafsunya telah berkobar-kobar dan dia bertekat untuk mendapatkan gadis itu, biar pun hanya untuk sejenak. Dia harus dapat memiliki gadis itu sebelum gadis itu dibebaskan.

Lima orang pemimpin gerombolan itu adalah kakak-beradik seperguruan. Mereka berlima mempunyai kepandaian yang cukup hebat sehingga mereka diakui sebagai pemimpin oleh puluhan orang perampok, dan mereka dikenal dengan julukan Lima Harimau Cakar Besi!

Meski pun usianya paling muda, namun dalam urusan persaudaraan seperguruan Ji Tang merupakan orang ke tiga. Dia pun lihai, terutama sekali karena tenaganya yang besar dan dia pandai sekali memainkan sepasang golok pendek yang selalu terselip di pinggangnya. Akan tetapi dia memiliki suatu kelemahan, yaitu diperbudak oleh nafsu birahinya.

Kalau empat orang saudaranya haus akan kedudukan dan kekayaan, Ji Tang selalu haus akan wanita. Dialah orangnya yang selalu menculik wanita, bahkan anak buah yang ingin menyenangkan hatinya, jika berhasil menculik wanita cantik, selalu diberikan lebih dahulu kepada Ji Tang. Dan dia pun seorang pembosan. Entah berapa banyaknya wanita yang sesudah dia miliki untuk beberapa hari, minggu atau bulan, lantas dia campakkan dan dia berikan kepada anak buahnya untuk diperebutkan.

Malam itu sunyi sekali. Bukan saja sunyi karena malam itu amat gelap dan angin malam bertiup dingin, namun juga karena hati semua anggota gerombolan dicekam ketegangan. Mereka maklum bahwa gadis yang ditawan itu adalah puteri komandan benteng Portugis. Mereka semua siap siaga kalau-kalau akan terjadi penyerbuan pasukan orang asing kulit putih itu.

Tiga buah peti mati berada di ruangan dalam goa yang biasa digunakan untuk pertemuan atau latihan silat. Tempat ini pun dijaga dan tampak keluarga dari tiga orang anggota yang tewas tengah berkabung di situ. Lilin-lilin sembahyang bernyala di meja-meja sembahyang yang dipasang di depan tiga buah peti mati.

Walau pun semua anggota gerombolan itu bersiap siaga seperti yang diperintahkan oleh para pimpinan mereka, namun hanya sedikit saja yang nampak di luar goa. Bagi mereka malam terlalu dingin dan gelap untuk keluar dari dalam goa tempat tinggal mereka yang hangat. Mereka siap siaga di dalam goa masing-masing, dan hanya pasukan penjaga saja yang melakukan perondaan di luar goa.

"Berhenti! Siapa itu?!" bentak kepala rombongan peronda yang terdiri dari sepuluh orang ketika mereka melihat sesosok tubuh berjalan dan berpapasan dengan mereka.

"Aku! Kalian jaga baik-baik!" jawab orang itu. Cahaya lentera yang dibawa salah seorang di antara para peronda menimpa wajah orang itu dan sepuluh orang peronda itu menarik napas lega.

"Kiranya Ji-toako."

Orang itu memang Ji Tang. Dia melangkah dengan tenang menuju ke arah goa di mana Sarah ditahan. Para peronda melanjutkan perondaan mereka, merasa lebih aman karena seorang di antara para pimpinan mereka agaknya juga melakukan perondaan.

Kini Ji Tang sudah tiba di depan goa tempat tahanan dan kembali dia ditegur enam orang penjaga yang melakukan penjagaan di depan goa itu secara bergiliran. Akan tetapi enam orang penjaga ini juga merasa lega ketika mereka melihat siapa yang datang.

"Aku Ji Tang, hendak melihat keadaan tawanan. Buka pintunya!" perintah Ji Tang dengan suara tegas.

Enam orang penjaga itu saling pandang karena tadi Coa Gu, ketua pertama yang raksasa hitam itu, sudah memesan kepada mereka agar siapa saja tidak diperbolehkan memasuki goa itu.

"Akan tetapi, Ji-toako..."

"Diam! Aku yang datang dan kalian masih ribut? Bukakan pintunya kataku, ataukah harus kupukul dulu?"

"Maaf, Ji-toako... maaf..."

Enam orang itu ketakutan dan penjaga yang memegang kunci cepat-cepat mengeluarkan kuncinya lalu membuka pintu besi goa itu.

"Jaga baik-baik di sini dan jangan buka sebelum kupanggil dari dalam," kata Ji Tang yang segera memasuki goa dan menutupkan daun pintu dari dalam.

Penjaga itu langsung menguncinya kembali dari luar karena dengan pintu terkunci mereka merasa lebih aman. Mereka saling pandang sambil tersenyum membayangkan apa yang akan terjadi di dalam kamar tahanan itu.

Bagi mereka, bukan hal aneh melihat perbuatan ketua mereka yang nomor tiga ini. Hanya biasanya kejadian seperti itu mendatangkan tawa gembira sebab mereka menganggapnya lucu, tetapi sekali ini ada perasaan khawatir karena mereka sudah dipesan dengan tegas oleh ketua pertama bahwa siapa pun tidak boleh memasuki goa itu.

Mereka tahu betapa pentingnya wanita kulit putih yang menjadi tawanan mereka. Pintu itu berlapis, dan pintu sebelah dalam berjeruji, akan tetapi yang luar rapat sehingga mereka tidak akan dapat melihat atau mendengar sesuatu yang terjadi di dalam.

"Siapa...?!" Mereka berenam kembali bangkit dan membentak bayangan yang muncul di depan mereka.

"Bodoh, butakah kalian? Aku Ji Tang. Hayo cepat buka daun pintunya, aku mau masuk memeriksa tawanan!" bentak orang itu.

Enam orang penjaga itu berdiri melongo, memandang pada orang yang baru saja muncul. Mereka merasa betapa bulu tengkuk mereka meremang. Mereka menggosok-gosok mata, memandang lagi. Akan tetapi memang benar. Yang berdiri di depan mereka ini adalah Ji Tang, ketua mereka yang ke tiga. Yang tadi baru saja masuk!

"Tapi... tapi..., Ji-twako... tapi..." Si pemegang kunci berkata gagap, sebentar memandang kepada Ji Tang dan sebentar kepada pintu yang tertutup itu. "Tadi... bukankah baru saja Toako masuk...?"

"Kau mimpi! Bicara ngaco belo!" Ji Tang menggerakkan tangan kanannya menampar.

"Plakkk!" Penjaga itu ditamparnya dan terpelanting.

"Hayo cepat buka, atau kalian ingin kupukul sampai mampus?"

Kini enam orang itu yakin bahwa mereka tidak bermimpi, bahkan yakin bahwa yang berdiri di hadapan mereka ini adalah Ji Tang asli. Tapi siapa yang tadi masuk? Dengan tangan gemetar penjaga yang memegang kunci kemudian membuka daun pintu. Setelah Ji Tang menyelinap masuk, mereka cepat menutupkan dan mengunci lagi daun pintu itu.

"Aku pergi melapor... !" kata kepala jaga dan dia pun segera berlari ke dalam kegelapan malam untuk melaporkan peristiwa yang dianggapnya tidak masuk akal dan sangat aneh itu. Sementara itu kelima orang penjaga yang lain duduk berhimpitan di sudut depan goa, dan bagi mereka hawa udara terasa semakin dingin sehingga mereka agak menggigil.

********************

Sarah masih tidur pulas, sama sekali tidak tahu bahwa di bawah cahaya lentera yang tadi oleh penjaga dipasang di dalam goa itu, kini terdapat seorang lelaki bertubuh tinggi kurus yang menghampirinya, lalu berdiri di dekat dipan dan mengamati dirinya dengan pandang mata yang lahap. Orang itu menjilat-jilat bibirnya sendiri saat menatap ke arah tubuhnya, sikapnya semakin gelisah seperti seekor harimau kelaparan yang siap menerkam kelinci.

Sejak sore tadi Sarah sudah tidur lelap, cukup lama. Dan kini agaknya sinar mata orang yang menggerayangi tubuhnya itu dapat terasa olehnya, seperti menggugahnya. Dia lalu membuka kedua matanya dan begitu melihat laki-laki itu berdiri dekat sekali, dengan mata yang liar, dengan mulut setengah terbuka dari mana keluar napas terengah-engah, ia pun terkejut dan cepat bangkit duduk sambil menjauhkan diri.

"Siapa kau?! Mau apa kau?!" bentaknya.

Laki-laki itu tersenyum dan memang wajahnya cukup tampan. "Nona, aku Ji Tang, ketua ke tiga dari kelompok kami. Aku datang karena merasa kasihan kepadamu, Nona. Malam begini dingin dan engkau seorang diri saja. Aku ingin menemanimu, Nona."

"Tidak sudi! Cepat keluar kau! Aku tidak membutuhkan teman. Pergi kau dari sini!" Sarah menudingkan jari telunjuk kirinya ke pintu, sedangkan tangan kanannya dikepal. Di dalam pandangan Ji Tang yang sedang mabuk birahi, dalam keadaan seperti itu Sarah nampak semakin menggairahkan. Dia pun melangkah maju mendekati.

"Aihhh, jangan pura-pura, Nona. Aku mendengar bahwa wanita kulit putih memiliki gairah yang besar dan selalu ingin ditemani pria. Marilah, Nona. Engkau akan senang dan akan aman apa bila menjadi kekasihku. Tidak ada orang yang akan tahu..." Ji Tang yang sudah tidak tahan lagi, mengulurkan tangan hendak merangkul.

"Bangsat kau! Jahanan busuk!" Sarah memaki kemudian wanita itu menggerakkan tangan kanannya memukul. Namun dengan sekali sambut saja pergelangan tangan kanan Sarah sudah ditangkap oleh Ji Tang dan dia pun merangkul, lantas menarik tubuh Sarah, diraih dan hendak dicium.

Sarah meronta dan cepat memalingkan mukanya, kemudian kakinya menendang. Ji Tang menyumpah karena tulang keringnya terkena tendangan ujung sepatu Sarah yang keras. Dia gagal mencium bibir dara itu, sebaliknya tulang keringnya yang kena cium!

"Bretttt...!"

Kemeja itu robek lebar di bagian depan ketika Sarah meronta dan berusaha melepaskan diri dari rangkulan Ji Tang sehingga nampak baju dalamnya yang berwarna merah muda. Melihat tubuh yang molek itu terbayang jelas, nafsu birahi makin berkobar dalam kepala Ji Tang.

Namun tidak mudah menguasai gadis kulit putih itu. Bahkan untuk mendapatkan sebuah ciuman pun sangat sukar. Gadis itu meronta, memukul, mencakar dan menendang, tiada ubahnya seekor kucing hendak dimandikan.

Ji Tang menjadi marah. Dua kali dia menampar pipi Sarah, namun dara itu tidak menjadi takut, malah mengamuk semakin kuat. Akhirnya Ji Tang terpaksa menotoknya dan tubuh Sarah terkulai tanpa tenaga lagi. Ji Tang memondongnya dan merebahkannya telentang di atas dipan.

Pada waktu itulah Hay Hay memasuki goa itu. Tentu saja dialah yang tadi membuat para penjaga terkejut dan terheran-heran karena dalam pandangan mereka, pemuda ini adalah Ji Tang!

Tadi Hay Hay yang bersembunyi tak jauh dari mulut goa melihat munculnya Ji Tang yang kemudian memasuki goa tempat di mana gadis kulit putih itu ditahan. Dia hanya menduga bahwa pemimpin gerombolan yang bertubuh jangkung itu tentu mempunyai niat mesum. Tak lama kemudian dia lalu mempergunakan kekuatan sihirnya, menyamar atau mengaku sebagai Ji Tang dan berhasil memasuki goa itu. Begitu dia masuk, pintu goa lalu ditutup kembali dan dikunci dari luar.

Masuknya Hay Hay hanya terlihat oleh Sarah yang terlentang tidak berdaya. Akan tetapi munculnya pemuda ini tidak membuatnya girang karena Sarah menganggap bahwa yang muncul itu tentulah kawan si jangkung yang kurang ajar ini. Dia tahu bahaya apa yang mengancam dirinya. Hatinya mulai dicengkeram rasa takut dan ngeri, akan tetapi dia tidak sudi memperlihatkannya.

Ji Tang sendiri yang sedang diamuk oleh nafsu birahinya tidak melihat bahwa ada orang lain memasuki ruangan ini. Dia sudah tidak sabar lagi dan dia pun menerkam tubuh yang sudah telentang tak berdaya di depannya.

Terjadilah keanehan yang membuat Ji Tang dan juga Sarah terkejut dan terheran. Ketika Ji Tang menerkam ke tubuh Sarah yang terlentang di atas dipan, tiba-tiba saja tubuhnya terpelanting ke belakang dan dia pun jatuh terjengkang di atas lantai.

Tentu saja Ji Tang sangat terkejut dan mengira bahwa wanita kulit putih itu yang memiliki ilmu iblis. Akan tetapi karena dia tadi merasa tubuhnya seperti dibetot dari belakang, dia segera meloncat berdiri dan memutar tubuhnya. Barulah dia tahu bahwa di situ terdapat orang ke tiga, seorang pemuda yang sama sekali tidak dikenalnya. Dia mengingat-ingat untuk mengenal siapa pemuda itu.

Pemuda itu bertubuh sedang dan tegap, dadanya bidang, wajahnya tampan, mengenakan pakaian sederhana. Kepalanya tertutup oleh sebuah caping lebar dan dari bawah caping itu mengintai sepasang mata yang mencorong dan mulut yang tersenyum-senyum nakal. Dia tidak mengenal orang ini, bukan salah seorang di antara anak buah gerombolan yang dipimpinnya.

"Siapa kau?!" bentaknya marah.

Hay Hay masih tersenyum. "Siapa aku? Aku adalah orang yang paling tidak suka melihat seorang laki-laki mempergunakan paksaan dan memperkosa seorang gadis, biar gadis itu seorang wanita asing kulit putih sekali pun."

"Jahanam! Kau hendak melindungi seorang wanita bangsa biadab?"

Hay Hay tersenyum. Dia sudah mendengar bahwa sebagian besar dari bangsanya sendiri selalu menyebut bangsa asing sebagai bangsa biadab! Hal ini merupakan balas dendam karena Tionggoan pernah dijajah oleh Bangsa Mongol. Dan bangsa-bangsa di luar daerah kerajaan merupakan suku-suku bangsa yang sering memberontak. Karena itu muncullah sebutan bangsa biadab bagi bangsa asing.

Akan tetapi tentu saja tidak semua orang berpendapat begitu, sebab yang jelas dia sendiri tidak mau menyebut biadab kepada bangsa apa pun. Baginya, biadab tidaknya seseorang tidak ditentukan oleh suku atau bangsanya, namun oleh perbuatannya. Maka, mendengar ucapan atau pertanyaan yang sifatnya menuduh dari si jangkung itu, dia pun lalu tertawa.

"Ha-ha-ha, kalau mau berbicara mengenai kebiadaban, maka bagiku orang biadab adalah orang-orang yang melakukan perbuatan keji macam apa yang kau lakukan sekarang ini. Engkaulah yang biadab, sedangkan tentang wanita ini, aku belum melihat dia melakukan perbuatan yang tidak benar, maka aku tidak dapat mengatakan dia biadab."

Hay Hay menoleh ke arah Sarah yang masih telentang di atas dipan dengan baju kemeja yang robek lebar pada bagian depan. Dia melihat betapa gadis yang amat cantik jelita itu memandang kepadanya dengan mata birunya, pandang mata penuh dengan harapan dan permohonan.

Pada saat menoleh kepada gadis itu, tiba-tiba saja Ji Tang menyerang dengan dahsyat! Si jangkung yang curang ini menggunakan kesempatan selagi Hay Hay menengok untuk melayangkan pukulan maut ke arah kepala pemuda itu agar segera remuk.

"Awas, sobat!" Tiba-tiba terdengar Sarah berseru. Gadis ini melihat gerakan serangan itu, maka dengan kaget dia segera memperingatkan penolongnya, atau setidaknya pria yang mengeluarkan ucapan yang bernada membelanya dan mencela si jangkung.

Dengan tenang Hay Hay memalingkan mukanya, dan pada saat itu pukulan tangan kanan dari atas itu sudah menyambar ke arah kepalanya. Hay Hay cepat mengangkat lengan kiri menangkis dan pada saat itu pula, ketika lengannya beradu dengan lengan lawan, tangan kanannya sudah menyambar ke depan dan jari telunjuknya menusuk perut lawan.

"Hekkk...!"

Si jangkung yang perutnya tiba-tiba saja kena disodok jari, merasa napasnya terhenti dan perutnya mulas sehingga tanpa dapat dicegah lagi dia pun menekuk tubuhnya ke depan. Ketika mukanya menurun karena perutnya ditekuk itu, Hay Hay lalu menyambut mukanya dengan lutut kiri yang diangkat ke atas, tepat mengenai dagu lawan.

"Dukkk!"

Tubuh yang tadinya membungkuk itu tiba-tiba menjadi tegak kembali, bahkan condong ke belakang karena kepala itu tadi terpental ke atas pada saat tubuh bagian atas condong ke belakang. Hay Hay segera menggerakkan kaki menyapu ke arah kedua kaki lawan yang sudah kehilangan keseimbangan.

"Brukkk...!"

Tanpa dapat dihindarkan lagi, tubuh si jangkung terpelanting lantas dia terbanting ke atas lantai. Hay Hay tidak mempedulikannya, melainkan berjalan menghampiri dipan dan sekali menggerakkan tangan, totokan pada tubuh Sarah telah bebas!